• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIKAP PETANI TERHADAP PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) DI KOTA SALATIGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SIKAP PETANI TERHADAP PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) DI KOTA SALATIGA"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

SIKAP PETANI TERHADAP

PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN

(PUAP) DI KOTA SALATIGA

SKRIPSI

Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana Pertanian

di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret

Jurusan / Program Studi

Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian

Oleh :

DARMAWAN BASKORO WIBISONO H0405026

Dosen Pembimbing :

1. Ir. Sugihardjo, MS 2. Dra. Suminah, MSi

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

commit to user

ii

SIKAP PETANI TERHADAP PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) DI KOTA SALATIGA

Yang dipersiapkan dan disusun oleh

Darmawan Baskoro Wibisono

H0405026

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji

Pada tanggal :

Dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Susunan Tim Penguji

Ketua Anggota I Anggota II

Surakarta,

Mengetahui

Universitas Sebelas Maret Fakultas Pertanian

Dekan

Prof. Dr. Ir. Suntoro, MS NIP. 19551217 198203 1 003

Ir. Sutarto, MSi NIP. 19530405 198303 1 002 Dra. Suminah, MSi

NIP. 1966100 200 003 2 001 Ir. Sugihardjo, MS

(3)

commit to user

iii

Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT, sehingga Penulis dapat

menyelesaikan Skripsi dengan Judul ”SIKAP PETANI TERHADAP

PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) DI KOTA SALATIGA”.

Penyelesaian Skripsi ini tidak terlepas dari partisipasi berbagai pihak sejak

awal penelitian hingga akhir penulisan Skripsi. Oleh karena itu, Penulis ingin

mengucapkan terimakasih kepada :

1. Prof. Dr. Ir. Suntoro, MS, selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas

Sebelas Maret Surakarta.

2. Dr. Ir. Kusnandar, MSi, selaku Ketua Program Studi Penyuluhan dan

Komunikasi Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Dwiningtyas Padmaningrum, S.P, M.Si selaku Ketua Komisi Sarjana

Jurusan/Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Fakultas

Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Ir. Sugihardjo, MS selaku Pembimbing Akademik dan Pembimbing Utama

Skripsi yang telah memberikan bimbingan dan ilmunya kepada penulis dalam

penyelesaian skripsi ini.

5. Dra. Suminah, MSi selaku Pendamping Skripsi yang telah banyak

memberikan bimbingan, ilmu dan berbagai masukan selama studi Peneliti di

Fakultas Pertanian UNS dan dalam penyelesaian skripsi ini.

6. Ir. Sutarto MSi, selaku Dosen Tamu Penguji Skripsi yang telah memberikan

masukan dan saran kepada Peneliti dalam perbaikan skripsi ini.

7. Bapak Ketut dan seluruh karyawan Jurusan/Program Studi Penyuluhan dan

Komunikasi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta

atas kemudahan dalam menyelesaikan administrasi penulisan skripsi.

8. Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Kota Salatiga yang telah

mempermudah perizinan pengumpulan data

9. Kepala Dinas Pertanian Kota Salatiga yang telah memberikan ijin penelitian

(4)

commit to user

iv

Salatiga serta pengurus dan anggota Kelompok Tani Ngudi Raharjo dan Prima

Agung di Kota Salatiga.

11.Bapak, ibu, kakak dan adikku tercinta yang telah memberikan dukungan moral

dan spritual dalam penyelesaian skripsi ini.

12.Kawan – kawan seperjuangan (Cuk, Danang, Fajar , Punto, Zuhud, Arif dan

Arie) dan kawan-kawan Jurusan PKP 2005 yang telah memberikan motivasi

dan do’anya.

13.Semua pihak yang belum Penulis sebutkan satu persatu yang telah

memberikan bantuannya dalam Penyelesaian skripsi ini.

Penulis sangat menyadari bahwa isi skripsi ini masih jauh dari kata

sempurna. Maka dari itu, Penulis menerima kritik dan saran yang membangun

dari semua pihak. Semoga Skripsi ini dapat berguna bagi penulis khususnya dan

pembaca pada umumnya. Amin.

Surakarta, Januari

2010

(5)

commit to user

v

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

RINGKASAN ... xi

SUMMARY ... xii

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 2

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Kegunaan Penelitian ... 4

II. LANDASAN TEORI ... 5

A. Tinjauan Pustaka ... 5

B. Kerangka Berpikir ... 23

C. Hipotesis ... 27

D. Pembatasan Masalah ... 27

E. Definisi Operasional ... 27

F. Pengukuran Variabel ... 31

III. METODE PENELITIAN ... 35

A. Metode Dasar Penelitian ... 35

B. Metode Penentuan Lokasi ... 35

C. Populasi dan Teknik Sampling ... 36

D. Jenis dan Sumber Data ... 37

E. Teknik Pengumpulan Data ... 38

(6)

commit to user

vi

A. Keadaan Alam ... 41

B. Keadaan Penduduk... 43

C. Keadaan Pertanian ... 46

D. Keadaan Sarana Perekonomian... 47

E. Keadaan Gabungan Kelompok Tani ... 47

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 54

A. Identitas Responden ... 54

B. Faktor-faktor Pembentuk Sikap ... 55

C. Sikap Petani Terhadap Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) ... 65

D. Hubungan Antara Faktor-faktor Pembentuk Sikap Dengan Sikap Petani Terhadap Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) Di Salatiga... 74

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 81

A. Kesimpulan ... 81

B. Saran ... 81

DAFTAR PUSTAKA ... 83

(7)

commit to user

vii

Tabel 3.1 Indek Potensi Lokasi Sektor Pertanian Karisedenan Semarang

Tahun 2007 ... 36

Tabel 3.2 Distribusi Jumlah Petani Penerima Dana Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan Tahun Anggaran 2008 ... 36

Tabel 3.3 Distribusi Jumlah Responden Petani Yang Mengikuti Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan Tahun Anggaran 2008... 37

Tabel 4.1 Luas Kota Salatiga Menurut Penggunaan Tanah ... 42

Tabel 4.2 Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kota Salatiga Tahun 2008 ... 43

Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Kota Salatiga Menurut Umur Tahun 2008 ... 44

Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Kota Salatiga Menurut Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Pada Tahun 2008 ... 45

Tabel 4.5 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kota Salatiga 2008... 46

Tabel 4.6 Komoditas Pertanian di Kota Salatiga Tahun 2008 ... 46

Tabel 4.7 SaranaEkonomidiKota Salatiga tahun 2008 ... 47

Tabel 5.1 Identitas Responden ... 53

Tabel 5.2 Distribusi Umur ... 54

Tabel 5.3 Distribusi Pengalaman Pribadi Petani... 55

Tabel 5.4 Distribusi Tingkat Pendidikan Formal Yang Ditempuh Oleh Responden Yang Mengikuti Program PUAP ... 56

Tabel 5.5 Distribusi Tingkat Pendidikan Non Formal Yang Diikuti Oleh Responden Yang Mengikuti Progam PUAP ... 57

Tabel 5.6 Distribusi Pengaruh Orang Lain Yang Dianggap Penting Berdasarkan Pengaruh Yang Diberikan Kepada Responden Terhadap Program PUAP ... 60

Tabel 5.7 Distribusi Media Massa Berdasarkan Pengaruh Yang Diberikan Kepada Responden Terhadap Program PUAP ... 63

Tabel 5.8 Distribusi Kognisi Pada Tujuan PUAP ... 65

Tabel 5.9 Distribusi Kognisi Pada Pelaksanaan Program ... 66

Tabel 5.10 Distribusi Kognisi Pada Hasil Program ... 67

Tabel 5.11 Distribusi Afeksi Pada Tujuan Program ... 68

(8)

commit to user

viii

Tabel 5.14 Distribusi Afeksi Pada Hasil Program ... 70

Tabel 5.15 Distribusi Konasi Pada Tujuan Program ... 71

Tabel 5.16 Distribusi Konasi Pada Pelaksanaan Program ... 72

Tabel 5.17 Distribusi Konasi Pada Hasil Program ... 73

(9)

commit to user

ix

Gambar 2.1 Skema Kerangka Berpikir Hubungan Antara Faktor Pembentuk Sikap Dengan Sikap Petani Terhadap Program PUAP ... ... 26

Gambar 4.1 Susunan Kepengurusan Gapoktan Ngudi Raharjo... ... 48

(10)

commit to user

x

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian... ... 86

Lampiran 2. Identitas Responden... ... 101

Lampiran 3. Analisis Distribusi Frekuensi ... ... 102

Lampiran 4. Perhitungan thitung... ... 115

Lampiran 5. Data Hubungan Faktor Pembentuk Sikap Dengan Sikap Petani. 117 Lampiran 6 Uji Hipotesis Hubungan Antara Faktor Pembentuk Sikap Dengan Sikap Petani Terhadap program Pengembangan Usaha agribisnis Perdesaan (PUAP) ... 119

Lampiran 7. Peta Kota Salatiga... 120

Lampiran 8. Foto Penelitian... 121

(11)

commit to user

xi

Darmawan Baskoro Wibisono. H0405026. ”SIKAP PETANI

TERHADAP PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS

PERDESAAN (PUAP) DI KOTA SALATIGA”. Fakultas Pertanian Universitas

Sebelas Maret Surakarta. Pembimbing Ir. Sugihardjo, MS dan Dra. Suminah,

MSi.

Pada dasarnya PUAP merupakan langkah terobosan dari Departemen Pertanian untuk penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja di pedesaan. Program ini sangatlah perlu diberikan oleh masyarakat. Akan tetapi untuk mengetahui sikap petani terhadap program PUAP dan faktor apa saja yang mempengaruhinya diperlukan kajian mengenai sikap petani terhadap program PUAP.

Penelitian ini bertujuan mengkaji sikap petani terhadap PUAP di Salatiga, mengkaji faktor-faktor pembentuk sikap petani terhadap PUAP di Salatiga dan mengkaji hubungan antara faktor-faktor pembentuk sikap dengan sikap petani terhadap PUAP di Salatiga.

Metode dasar penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik survey. Lokasi penelitian secara sengaja di Salatiga. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani yang tergabung dalam Gapoktan Prima Agung dan Gapoktan Ngudi Raharjo yang mengikuti PUAP pada tahun anggaran 2008 yang ada di Salatiga. Pengambilan sampel yaitu metode proporsional random sampling. Menganalisis ada tidaknya hubungan antara variabel faktor pembentuk sikap dan sikap petani terhadap program PUAP digunakan uji korelasi Rank Spearman (rs).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas umur responden dalam kategori produktif (37,5%), pengalaman pribadi tergolong cukup berpengalaman terhadap program sejenis PUAP (50%), pendidikan formal tergolong rendah yaitu SLTA (40%), pendidikan non formal meliputi pelatihan dan penyuluhan tergolong

tinggi (40%), pengaruh orang lain yang dianggap penting tergolong rendah (35%), media massa yang diakses petani tergolong sangat rendah (32, 5%),

kognisi terhadap tujuan program PUAP tergolong sangat baik (70%), kognisi terhadap pelaksanaan program PUAP tergolong sangat baik (50%), kognisi terhadap hasil program PUAP tergolong baik (65%), afeksi terhadap tujuan program PUAP tergolong baik (60%), afeksi terhadap pelaksanaan program PUAP tergolong baik (52,5%), afeksi terhadap hasil program PUAP tergolong baik (50%), konasi terhadap tujuan program PUAP tergolong baik (47,5%), konasi terhadap pelaksanaan program PUAP tergolong baik (42,5%) dan konasi terhadap hasil program PUAP tergolong baik (52,5%).

(12)

commit to user

xii

Darmawan Baskoro Wibisono. H0405026.”FARMERS ATTITUDES TOWARDS RURAL AGRIBUSINESS DEVELOPMENT PROGRAM (PUAP) IN SALATIGA”. Agricultural Faculty of Sebelas Maret University of Surakarta. Adviser: Ir, Sugihardjo, MS and Dra. Suminah,. MSi

Basically, PUAP is a breakthrough way of Agricultural Department to overcome poverty and to create working field in village. This program was necessary given to the society. However, to acknowledge the farmer attitude to PUAP Program and the factors influencing, it is necessary to observe about the farmer’s attitude to PUAP Program.

The reserach was aimed to observe the farmer’s attitude to PUAP in Salatiga, observe the factors that forming the farmer’s attitude to PUAP Program in Salatiga and to observe correlation of those factors to the farmer’s attitude to PUAP in Salatiga.

The research method used was descriptive methode with survey technique. The research was located in Salatiga. Population of this research was the farmers that joining in Gapoktan Prima Agung and Gapoktan Ngudi Raharjo which is participating to PUAP in 2008 that establised in Salatiga. Sample was taken by proportional methode of random sampling. Correlation between the factor forming attitude and farmer’s attitude to PUAP Program was analyzed by Correlation test Rank Sprearman (rs).

The result of the research showed that in major respondent’s age in productive category (37,5%), personal experience was grouped more ecperiencing in program such as PUAP (50%), formal education was low that ia high school (40%), nonformal education including training and instruction was high (40%), one important influence was low (35%), accessable mass media was very low (32,5%),cognition to the objective of PUAP Program was good (70%) cognition of the execution of PUAP Program was very good (50%), cognition of the result of PUAP Program was good (65%), affection to the objective of PUAP Program was good (60%), affection to the execution of PUAP Program was good (52,5%), affection of the result of PUAP Program was good (50%), connation to the objective of PUAP Program was good (47,5%), connation to the execution of PUAP Program was good (42,5%) and connation of the result of PUAP Program was good (52,5%).

(13)

commit to user

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya

bermata pencaharian sebagai petani yang bertempat tinggal di perdesaan.

Maka sektor pertanian memiliki peranan yang sangat besar dalam memberikan

sumbangan bagi pendapatan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik

(BPS) pada tahun 2007 jumlah penduduk miskin tercatat 37,2 juta jiwa.

Sekitar 63,4 persen dari jumlah tersebut berada di perdesaan dengan mata

pencaharian utama di sektor pertanian dan 80 persen berada pada skala usaha

mikro yang memiliki luas lahan lebih kecil dari 0,3 hektar

(Departemen Pertanian, 2008).

Kemiskinan di perdesaan merupakan masalah pokok nasional yang

penanggulangannya tidak dapat ditunda dan harus menjadi prioritas utama

dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial. Oleh karena itu

pembangunan ekonomi nasional berbasis pertanian dan pedesaan secara

langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada pengurangan

penduduk miskin (Anonim, 2009).

Di pedesaan sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai

petani. Permasalahan mendasar yang dihadapi petani adalah kurangnya akses

sumber permodalan, pasar dan teknologi, serta organisasi tani yang masih

lemah. Untuk mengatasi dan menyelesaikan permasalahan tersebut,

pemerintah menetapkan Program Jangka Menengah (2005-2009) yang fokus

pada pembangunan pertanian perdesaan. Salah satunya ditempuh melalui

pendekatan mengembangkan usaha agrbisnis dan memperkuat kelembagaan

pertanian di perdesaan.

Program pemerintah yang berbasis agribisnis pedesaan, yaitu

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP). Program ini merupakan

langkah terobosan dari Departemen Pertanian untuk penanggulangan

kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja di pedesaan, sekaligus mengurangi

kesenjangan pembangunan antar wilayah pusat dan daerah serta antar

(14)

commit to user

pelaksanaannya akan dilakukan secara terintegrasi dengan Program Nasional

Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-M).

Gabungan Kelompok Tani (gapoktan) merupakan kelembagaan tani

pelaksana PUAP untuk penyaluran bantuan modal usaha bagi anggota. Untuk

mencapai hasil yang maksimal dalam pelaksanaan PUAP, gapoktan

didampingi oleh tenaga Penyuluh Pendamping dan Penyelia Mitra Tani.

Gapoktan PUAP diharapkan dapat menjadi kelembagaan ekonomi yang

dimiliki dan dikelola petani.

Sehubungan dengan itu, peran petani dalam Pengembangan Usaha

Agribisnis Pedesaan adalah sebagai penerima akhir dari modal PUAP. Dimana

petani diberikan modal untuk mengembangkan kegiatan usahataninya.

Sehingga disini petani dituntut petani dituntut kemampuan manajer

usahataninya. Kemampuan manajer disini dimaksud adalah kemampuan

mengelola usaha tani dari perencanaan, pelaksanaan, hasil sampai pada tahap

evaluasi.

Dampak dari adanya dana PUAP salah satunya dirasakan di Gapoktan

Manunggal (Desa Kajangkoso, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah), yaitu

dapat membuat peluang usaha pertanian baru yang lebih menguntungkan.

Sebelumnya karena keterbatasan modal, sebagian besar petani mengusahakan

padi dan palawija/jagung. Setelah mendapat dana PUAP, petani banyak

beralih ke budidaya cabai karena lebih menguntungkan

(Sinaraya dan Agustin, 2009). Sikap petani tersebut mau beralih karena

dipengaruhi faktor-faktor pembentuk sikap apa saja sehingga perlu dikaji

penelitian yang berjudul “Sikap Petani Terhadap Program Pengembangan

Usaha Perdesaan Di Kota Salatiga”.

B. Perumusan Masalah

Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di Salatiga

dilaksanakan sejak 28 Desember 2008. Program ini digulirkan pemerintah

dalam bentuk peminjaman modal lunak yang diharapkan mampu mengatasi

(15)

commit to user

dibidang pertanian semakin terpuruk keadaannya dengan adanya krisis global.

Secara tidak langsung berdampak pada peningkatan biaya produksi.

Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) diharapkan

mampu mengatasi permasalahan permodalan di kalangan petani. Beberapa

diantara dari permasalahan permodalan yang dihadapi petani berhubungan

dengan biaya input pertanian yang mahal, seperti pupuk. Hal ini dikarenakan

semakin berkurangnya kesuburan tanah yang ada. Jika permasalahan

permodalan yang dihadapi dapat terpecahkan. Maka secara tidak langsung

program tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarganya

ditengah krisis global dan persaingan bebas.

Kredit program PUAP tidak terlepas dari berbagai penyimpangan.

Penyimpangan tersebut terdapat pada pelaksanaannya, yaitu terjadi kredit

macet. Kredit macet disebabkan karena sikap petani tidak mau membayar

pada waktu yang telah disepakati sebelumnya. Jika sikap petani seperti itu,

maka faktor pembentuk sikap apa yang mempengaruhinya. Faktor pembentuk

sikap yang ada, antara lain: faktor umur, pengalaman pribadi serta pendidikan

baik formal maupun nonformal, pengaruh orang lain yang dianggap penting,

dan media massa. Padahal sikap sosial itu terbentuk dari adanya interaksi

sosial yang dialami oleh individu. Dalam interkasi sosial, individu bereaksi

membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai obyek psikologis yang

dihadapinya.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dijelaskan beberapa

permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu :

1. Bagaimana sikap petani terhadap Program Pengembangan Usaha

Agribisnis Perdesaan (PUAP) di Kota Salatiga?

2. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi pembentukan sikap petani

berkaitan dengan sikap petani terhadap Program Pengembangan Usaha

Agribisnis Perdesaan (PUAP) di Kota Salatiga?

3. Adakah hubungan yang signifikan antara faktor-faktor yang

(16)

Salatiga?

C. Tujuan Penelitian

Dari perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat

dijelaskan bahwa tujuan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Mengkaji sikap petani terhadap program Pengembangan Usaha Agribisnis

Perdesaan (PUAP) di Kota Salatiga.

2. Mengkaji faktor-faktor pembentuk sikap petani terhadap program

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di Kota Salatiga.

3. Mengkaji hubungan antara faktor-faktor pembentuk sikap dengan sikap

petani terhadap program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan

(PUAP) di Kota Salatiga.

D. Kegunaan Penelitian

Kegunaan dari penelitian ini adalah :

1. Bagi peneliti, penelitian ini merupakan proses belajar yang harus ditempuh

sehingga dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dan merupakan

salah satu syarat kelulusan untuk memperoleh gelar sarjana pertanian di

Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

2. Bagi petani, sebagai sumber informasi mengenai program Pengembangan

Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP).

3. Bagi pemerintah, digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah

khususnya Departemen Pertanian dalam rangka peningkatan pembangunan

pertanian dan keberlanjutan proyek..

4. Bagi peneliti lain, dapat dijadikan sumber informasi dalam melakukan

penelitian yang sejenis ataupun untuk pengembangan penelitian

(17)

II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Pembangunan Pertanian

Istilah “pembangunan” yang digunakan dalam bahasa Indonesia,

sering terjemahan dari kata development, growth, change, modernization

bahkan progress. Maka pengertian yang melekat dalam istilah pembangunan

sebenarnya mencakup banyak aspek yang harus didekati dari berbagai sudut

pandang lintas disiplin yang mencakup: ekonomi, politik, maupun sosial

budaya (Raharjo dalam Mardikanto, 1993).

Pembangunan menurut Kindeleberger dalam Mardikanto (1982),

pembangunan tidak terlepas dari kata development dan growth. Growth

menunjuk pada gejala kenaikan hasil atau peningkatan efiensi hasil diukur

dengan suatu masukan. Sedangkan development memiliki arti lebih dari

sekedar kata growth, tetapi disertai dengan perubahan-perubahan yang terjadi

pada bidang teknis dan kelembagaan produksi maupun distribusi dalam

komposisi hasil produk nasional maupun alokasi faktor-faktor masukan pada

setiap sektor serta perubahan-perubahan dalam kemampuan fungsional suatu

masyarakat.

Hakikat pembangunan adalah upaya sadar dan terencana untuk

memperbaiki kesejahteraan atau kualitas hidup manusia dari bangsa yang

sedang membangun tersebut (Mardikanto, 1994). Pembangunan sebagai

transformasi dari ketergantungan menuju kemandirian. Kemandirian adalah

kewaspadaan yang dicapai melalui aktivitas, swakarsa, kreativitas dan

kesadaran menolong dirinya sendiri serta menolak ketergantungannya.

Pertanian adalah mata pencahariaan dan lapangan kerja pokok

penduduk pedesaan sehingga dalam pembangunan pedesaan, perhatian utama

tetap harus ditujukan pada pembangunan pertanian sebagian sektor kegiatan

(18)

Pembangunan pertanian dapat diartikan sebagai suatu proses yang

ditujukan untuk selalu menambah produksi pertanian untuk tiap-tiap

konsumen, yang sekaligus mempertinggi pendapatan dan produktivitas usaha

tiap-tiap petani dengan jalan menambah modal dan skill untuk memperbesar

turut campur tangannya manusia di dalam perkembangan tumbuh-tumbuhan

dan hewan (Hadisapoetra, 1973).

Pembangunan pertanian tidak dapat terlaksana hanya oleh petani saja.

Untuk melakukan pembangunan pertanian lebih lanjut, makin lama petani

makin tergantung pada pihak-pihak di luar lingkungan desa, seperti pupuk,

bibit unggul, saluran pengairan, obat-obatan, alat-alat, dan lain-lain yang

dibeli dari luar, demikian pula hasilnya harus dijual ke pasar, pengetahuan

dari sekolah atau fakultas, dinas penyuluhan, dan sebagainya. Dengan

demikian pertanian dapat maju apabila terdapat interaksi yang positif antara

bidang pertanian dengan bidang-bidang lainnya (Hadisapoetra, 1973).

Agriculture is the production of food and goods through

farming. Agriculture was the key development that led to the rise of human civilization, with the husbandry of domesticated animals and plants (i.e. crops) creating food surpluses that enabled the development of more densely populated and stratified societies. The study of agriculture is known as agricultural science. Central to human society, agriculture is also observed in certain species of ant and termite.”

Pertanian adalah produksi makanan dan barang melalui usahatani.

Pertanian adalah kunci dari perkembangan yang memunculkan peradaban

manusia, dengan binatang peliharaan peternakan dan tumbuhan menciptakan

surplus makanan yang memungkinkan pengembangan masyarakat yang lebih

padat penduduknya dan bertingkat. Studi tentang pertanian dikenal sebagai

ilmu pertanian. (Wikipedia, 2010).

Salah satu tolak ukur pembangunan pertanian adalah tercapainya

(19)

pendapatan, jumlah dan ragam serta mutu konsumsi masyarakat terus

bertambah baik konsumsi bahan pokok maupun konsumsi terhadap

barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh non sektor pertanian. Tetapi

kenyataannya, keberhasilan pembangunan pertanian tidak selalu dapat

menciptakan perluasan lapangan kerja dan kesempatan kerja terutama bagi

angkatan kerja baru di pedesaan (Mardikanto, 2009).

Soedarsono dalam Mardikanto (1982), menegaskan “modernisasi

usahatani” merupakan landasan bagi pembangunan pertanian. Modernisasi

usahatani adalah usahatani yang sangat fleksibel, sangat dinamis dan

produktivitasnya selalu terus meningkat, tidak terbatas pada satu komoditi

tertentu, sehingga usahataninya merupakan satu proses produksi yang dapat

dilaksanakan seluas mungkin dan memberikan manfaat atau pendapatan

sebesar-besarnya.

Pentingnya pembangunan pertanian di negara-negara berkembang

yang diutarakan Mardikanto (1993), dikarenakan:

a. Sebagian besar penduduk di negara berkembang yaitu negara-negara

dunia ketiga masih hidup di sektor pertanian.

b. Negara-negara dunia ketiga, pada umumnya masih menghadapi masalah

pangan baik masa sekarang ataupun masa yang akan datang.

c. Negara-negara dunia ketiga tidak dapat mengejar ketertinggalannya untuk

dapat bersaing dengan negara maju untuk menghasilkan produk industri di

pasar internasional.

d. Ketegasan sektor pertanian dalam menghadapi gejolak perekonomian

dunia dibandingkan dengan sektor lainnya.

e. Besarnya sumbangan sektor pertanian bagi pembangunan sektor industri.

Tingginya jumlah penduduk miskin di negara-negara sedang

berkembang termasuk di Indonesia dikarenakan rendahnya produktivitas dari

penduduk itu sendiri. Adanya peningkatan produktivitas petani diharapkan

(20)

pokok serta peningkatan kesejahteraan petani dan keluarganya. Tetapi

kenyataan dilapang, peningkatan produktivitas mengalami kesulitan karena

kompleksnya permasalahan yang dihadapi. Rendahnya produktivitas dapat

disebabkan oleh berbagai faktor seperti pengangguran, rendahnya

pendidikan, rendahnya keterampilan dan rendahnya kesehatan. Bahkan

kemiskinan dapat diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya

(Kartasasmita, 1995).

Rendahnya produktivitas penduduk terutama petani di negara

berkembang termasuk di Indonesia disebabkan kurangnya akses terhadap

sumber permodalan, pasar, teknologi, organisasi tani yang lemah dan

penggunaan input pertanian modern yang terbatas. Ketidakmampuan petani

untuk memenuhi syarat bertani yang baik disebabkan kurangnya modal untuk

pembiayaan kegiatan usaha tani. Petani tetap membutuhkan kredit usaha tani

terutama petani yang memiliki lahan sempit dan petani penggarap

(Sudaryanto, 2002).

“Agriculture development should be such that

Agriculture development brings about a revolution in the agriculture industry to give birth to an agriculture which is profit giving and at the same time eco friendly.

Pengembangan Pertanian harus seperti pembangunan yang membawa

sebuah revolusi dalam industri pertanian dan untuk melahirkan suatu

pertanian yang memberikan keuntungan pada saat yang sama juga ramah

lingkungan (Stanley, 2010).

2. Agribisnis

Agribisnis sering diartikan secara sempit yaitu perdagangan atau

pemasaran hasil pertanian. Sebenarnya agribisnis memiliki konsep yang luas

mulai dari proses produksi, pengolahan hasil, pemasaran dan aktivitas lain.

Seperti yang diungkapkan Soekartawi (2003), agribisnis merupakan suatu

kesatuan kegiatan usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata

(21)

dengan pertanian dalam arti luas. Yang dimaksud dengan “ada hubungannya

dengan pertanain dalam arti luas” adalah kegiatan usaha yang menunjang

kegiatan pertanian dan kegiatan usaha lain yang ditunjang oleh kegiatan

pertanian.

A. Soeharjo (1987) dalam Hernanto (1993) mengartikan agribisnis

mencakup semua kegiatan mulai dari pengadaan sarana produksi pertanian

sampai dengan tataniaga produk pertanian yang dihasilkan usahatani atau

hasil olahannya. Davis dan Golberg (1957) dalam Hernanto (1993)

menyatakan bahwa agribisnis terdiri dari beberapa subsistem yang saling

berkaitan:

a. Subsistem pembuatan dan penyaluran berbagai sarana produksi seperti

bibit, mesin pertanian bahan bakar dan lain-lain. Pelaku kegiatan ini

adalah perusahaan swasta, koperasi, lembaga pemerintah, bank atau

pemerintah.

b. Subsistem kegiatan produksi dalam usahatani yang menghasilkan berbagai

macam produk pertanian. Usahatani ini mencakup semua bentuk

organisasi produksi mulai dari skala kecil sampai skala besar.

Subsistem pengumpul, pengolahan, penyimpanan dan penyaluran

produk pertanian yang dihasilkan usahatani atau hasil olahannya ke

konsumen.

Menurut Sjarkowi (1992), agribisnis adalah setiap usaha yang berkaitan

dengan kegiatan produksi pertanian yaitu meliputi usaha produksi dan

pemasaran hasil pertanian. Agribisnis memiliki tiga sektor yaitu:

a. Sektor input yaitu kebutuhan yang dibutuhkan oleh petani untuk kegiatan

produksi yaitu bibit atau benih unggul, pakan ternak, pestisida, alat mesin

pertanian dan pupuk.

b. Sektor produksi yaitu sektor yang berkaitan dengan budidaya.

c. Sektor output yaitu hasil produksi dan hasil pengolahan hasil pertanian

(22)

Pembangunan pertanian tidak hanya semata peningkatan produksi, tetapi

harus berdasarkan pada pola agribisnis. Menurut Saragih (1998), sektor

agribisnis terdiri dari:

a. Subsektor hulu yaitu kegiatan ekonomi yang menghasilkan sarana

produksi input bagi pertanian primer.

b. Subsektor pertanian primer yaitu kegiatan usahatani yang menggunakan

sarana produksi untuk menghasilkan produk pertanian primer.

c. Subsektor agribisnis hilir yaitu kegiatan ekonomi yang mengolah hasil

hasil pertanian primer menjadi produk olahan beserta kegiatan

perdagangannya.

3. Sikap

a. Pengertian Sikap

Pengertian sikap itu dapat diterjemahkan dengan sikap terhadap

obyek tertentu, yang dapat merupakan sikap pandangan atau sikap

perasaan. Tetapi sikap tersebut disertai oleh kecenderungan untuk

bertindak sesuai dengan sikapnya terhadap obyek tadi itu. Jadi sikap itu

tepat diterjemahkan sebagai sikap dan kesediaan bereaksi terhadap suatu

hal. Sikap senantiasa terarahkan terhadap suatu hal, suatu obyek. Tidak

ada sikap tanpa ada obyeknya (Gerungan, 2004).

Dalam studi kepustakaan mengenai sikap diuraikan bahwa sikap

merupakan produk dari proses sosialisasi dimana seseorang bereaksi

sesuai dengan rangsangan yang diterimanya. Jika sikap mengarah pada

obyek tertentu, berarti bahwa penyesuaian diri terhadap obyek tersebut

dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kesedian untuk bereaksi dari orang

tersebut terhadap obyek ( Mar’at, 1981).

Sedangkan Gerungan (2004) menyatakan ciri-ciri sikap sebagai

(23)

1) Sikap bukan dibawa orang sejak ia dilahirkan, melainkan dibentuk

atau dipelajarinya sepanjang perkembangan orang itu dalam

hubungannya dengan obyeknya.

2) Sikap itu dapat berubah-ubah karena sikap dapat dipelajari orang atau

sebaliknya, sikap-sikap itu dapat berubah pada orang-orang bila

terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu.

3) Sikap itu tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mengandung relasi

tertentu terhadap suatu obyek. Dengan kata lain, sikap itu terbentuk,

dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu obyek

tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.

4) Obyek sikap itu dapat merupakan satu hal tertentu, tetapi dapat juga

merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut. Jadi sikap itu dapat

berkenaan dengan satu obyek saja, tetapi juga berkenaan sederetan

obyek-obyek serupa.

5) Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan. Sifat

inilah yang membeda-bedakan sikap dari kecakapan atau

pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang.

“A mental position consisting of a feeling, emotion, or opinion evolved in response to an external situation. An attitude can be momentary or can develop into a habitual position that has a long-term influence on an individual's behavior. Attempts can be made to modify attitudes that have a negative effect in the workplace, for example, through education and training”.

Posisi suatu mental yang terdiri dari perasaan, emosi, atau opini

yang berkembang sebagai respon terhadap situasi eksternal. Sikap dapat

sesaat atau bisa berkembang menjadi suatu kebiasaan yang memiliki

pengaruh jangka panjang terhadap perilaku individu. Upaya dapat

dilakukan untuk mengubah sikap yang mempunyai efek negatif di tempat

kerja, misalnya, melalui pendidikan dan pelatihan. (BNET Business

(24)

2. Komponen Sikap

Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap obyek di

lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek tersebut.

Dengan melihat adanya satu kesatuan dan hubungan atau keseimbangan

dari sikap dan tingkah laku, maka sikap sebagai suatu sistem atau interaksi

antar komponen. Komponen-komponen sikap meliputi :

a. Komponen kognisi yang berhubungan dengan belief, ide dan konsep

b. Komponen afeksi yang menyangkut kehidupan emosional seseorang

c. Komponen konasi yang merupakan kecenderungan bertingkah laku

Karakteristik sikap senantiasa mengikutsertakan segi evaluasi yang

berasal dari komponen afeksi. Sikap relatif konstan dan agak sukar

berubah dan dapat mengakibatkan terjadinya perubahan dalam sikap

melalui proses tertentu. Komponen afeksi memiliki penilaian emosional

yang bersifat positif atau negatif. Sehingga terjadilah kecenderungan

untuk bertingkah laku hati-hati. Komponen afeksi yang memiliki sistem

evaluasi emosional mengakibatkan timbulnya perasaan senang atau tidak

senang, takut atau tidak takut. Dengan sendirinya proses evalusi ini

terdapat suatu valensi positif atau negatif (Mar’at, 1981).

“Attitudes structure can be described in terms of three component.: Affective component: this involves a person’s feelings / emotions about the attitude object. For example: “I am scared of spiders”. Behavioural (or conative) component: the way the attitude we have influences how we act or behave. For example: “I will avoid spiders and scream if I see one”. Cognitive component: this involves a person’s belief / knowledge about an attitude object. For example: “I believe spiders are dangerous”.This model is known as the ABC model of attitudes. The three components are usually linked. However, there is evidence that the cognitive and affective components of behaviour do not always match with behaviour.”

Struktur sikap dapat digambarkan dalam tiga komponen :komponen

(25)

Misalnya: "Saya takut laba-laba". Komponen Perilaku (atau konatif):

bagaimana sikap kita telah mempengaruhi kita dalam bertindak atau

berperilaku. Sebagai contoh: "Aku akan menghindari laba-laba dan

berteriak bila saya melihatnya". Komponen kognitif : ini melibatkan

keyakinan seseorang / pengetahuan tentang suatu obyek sikap. Misalnya:

"Saya percaya bahwa laba-laba berbahaya. Model ini dikenal sebagai

model ABC. Ketiga komponen biasanya dihubungkan. Namun, ada bukti

bahwa komponen kognitif dan afektif tidak selalu sesuai dengan perilaku

(LaPiere, 1934).

“If attitudes are stable memory structures, the response process might involve such steps as identifying the relevant attitudes, retrieving some or all of its contents from memory and integrating what is retrieved into an overall judgment Both the present approach stressing the enduring elements of attitudes, and the literature that doubts whether attitudes typically consist of stable, enduring evaluative responses, share one important element: that overall attitudinal judgments are not necessarily stored in memory, but important features of the attitude-object (i.e. attributes and feelings associated with the object) are more likely to be stored. Basically, the literature stressing the constructionist nature of attitudes assumes that, when an evaluative attitudinal response is required, people retrieve relevant information and integrate it to form a coherent evaluative judgment”

Jika sikap adalah struktur memori yang stabil, proses respon

mungkin melibatkan proses mengidentifikasi langkah-langkah sebagai

sikap yang relevan, mengambil sebagian atau seluruh isi dari memori dan

mengintegrasikan apa yang akan diambil ke dalam penilaian secara

keseluruhan dengan baik. Pendekatan ini menekankan unsur dari sikap,

dan yang meragukan, apakah sikap biasanya terdiri dari kestabilan,

tanggapan evaluatif, berbagai satu unsur penting: bahwa penilaian sikap

secara keseluruhan belum tentu disimpan dalam memori, namun penting

(26)

lebih mungkin untuk disimpan. Pada dasarnya, hal ini menekankan sifat

konstruksionis sikap yang mengasumsikan bahwa, bila respon sikap

evaluatif diperlukan, orang-orang mengambil informasi yang relevan dan

mengintegrasikannya untuk membentuk penilaian evaluatif yang koheren.

(Harreveld,2000).

3. Pembentukan Sikap

Menurut Azwar (1991), sikap sosial terbentuk dari adanya interaksi

sosial yang dialami oleh individu. Dalam interkasi sosial, individu

bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai obyek

psikologis yang dihadapinya. Diantara berbagai faktor yang

mempengaruhi pembentukan sikap adalah :

a. Pengalaman Pribadi

Sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi

terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Dalam

situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan lebih mendalam

dan lebih lama berbekas. Lebih lanjut Mardikanto (1996)

menyatakan bahwa pengalaman dalam melakukan kegiatan bertani

tercermin dari kebiasaan-kebiasaan yang mereka (petani) terapkan

dalam kegiatan bertani dan merupakan hasil belajar dari

pengalamannya.

Apa yang kita alami akan membentuk dan mempengaruhi

penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi

salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat menjadi dasar

pembentukan sikap pengalaman pribadi harus melalui kesan yang

kuat (Azwar, 1991).

Orang juga merasa bahwa pengalaman-pengalaman pribadi

memberikan pengertian yang lengkap tentang kodrat manusia.

Memang betul bahwa pengalaman itu bisa memberikan pengertian

(27)

lengkap. Pengalaman kita sendiri menunjukkan bahwa mereka yang

merasa bisa memahami orang lain dengan bai, itu sebenarnya tidak

mengerti apa-apa, baik orang lain maupun dirinya sendiri. Seringkali

ada hubungan ironis antara pendapat dan tabiatnya sendiri.

Seringkali terjadi bahwa apa yang diyakininya benar tentang diri

orang lain biasanya juga benar tentang dirinya sendiri (Mahmud,

1990).

Pengalaman menunjukkan bahwa interaksi mengakibatkan dan

menghasilkan adanya penyesuaian diri yang timbal balik serta

penyesuaian kecakapan dengan situasi baru. Bahwa proses interaksi

seringkali melibatkan perasaan dalam tingkat ”strong emotions”.

Bahwa kata-kata yang diucapkan dalam suatu komunikasi

sebenarnya hanyalah mencerminkan perasaan, sikap seseorang dan

tidak lebih dari itu (Susanto, 1974).

b. Pengaruh Orang Lain Yang Dianggap Penting

Seseorang yang dianggap penting akan banyak mempengaruhi

pembentukan sikap. Diantara orang yang biasanya dianggap penting

bagi individu adalah orang tua, orang yang berstatus sosial lebih

tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau

suami. Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap

yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap

penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan

untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan

orang yang dianggap penting tersebut. Mardikanto (1996)

menyatakan bahwa tokoh-tokoh informal (tokoh keagamaan, tokoh

adat, politikus dan guru) merupakan tokoh yang dianggap

berpengaruh karena memiliki katau wibawa untuk menumbuhkan

(28)

Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara

komponen sosial yang dapat mempengaruhi sikap kita. Seseorang

yang kita anggap penting bagi kita, seseorang yang kita harapkan

persetujuannya bagi setiap gerak tindak dan pendapat kita, seseorang

yang tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang berarti khusus

bagi kita, akan banyak mempenagruhi pembentukan sikap kita

terhadap sesuatu (Azwar, 1991).

Pilihan terhadap pengaruh dari luar itu biasanya disesuaikan

dengan motif dan sikap di dalam diri manusia, terutana yang menjadi

minat perhatiannya. Lingkungan yang terdekat dengan kehidupan

dengan kehidupan sehari-hari banyak memiliki peranan (Ahmadi,

1999).

c. Media Massa

Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti

televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai

pengaruh dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Dalam

penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa

membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat

mengarahkan opini seseorang (Azwar, 1991).

Peran media massa dalam pembangunan nasional adalah sebagai

agen pembaharu (agent of social change). Letak peranannya adalah

dalam hal membantu mempercepat proses pengalihan masyarakat

yang tradisional menjadi masyarakat modern. Khususnya peralihan

dari kebiasaan-kebiasaan yang menghambat pembangunan ke arah

sikap baru yang tanggap terhadap pembaharuan demi pembangunan

(Depari, 1995).

Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti

televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai

(29)

Walaupun pengaruh media massa tidaklah sebesar pengaruh

interaksi individual secara langsung, namun dalam proses

pembentukan dan perubahan sikap, peranan media massa tidak kecil

artinya. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan

landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.

Hal ini seringkali berpengaruh terhadap sikap pembaca atau

pendengarnya, sehingga dengan hanya menerima berita-berita yang

sudah dimasuki unsur-unsur subyektif itu, terbentuklah sikap.

Sampai saat ini, sudah banyak media atau bentuk komunikasi

yang sengaja dipasarkan ke pelosok-pelosok pedesaan. Dimulai dari

yang khusus ditujukan bagi individu, kelompok ataupun yang

sifatnya massal. Semua itu, akan disesuaikan dengan kebutuhan dan

kepentingan masyarakat desa di masing-masing tempat. Program

Koran Masuk Desa (KMD) ataupun siaran pedesaan melalui radio

sebagai salah satu alternatif pemerintah yang betul-betul berguna

dalam rangka mendukung tercapainya tujuan pembangunan

(Sastraatmadja, 1993).

d. Lembaga Pendidikan

Lembaga pendidikan sebagai sistem mempunyai pengaruh dalam

pembentukan sikap. Hal ini dikarenakan keduanya meletakkan dasar

pengertian dan konsep moral dalam diri individu (Azwar, 1991).

Sistem pendidikan, yakni sekolah adalah lembaga sosial yang

turut menyumbang dalam proses sosialisasi individu agar menjadi

anggota masyarakat seperti yang diharapkan. Sekolah selalu saling

berhubungan dengan masyarakat. Melalui pendidikan terbentuklah

kepribadian seseorang. Boleh dikatakan hampir seluruh kelakukan

individu bertalian dengan atau dipengaruhi oleh orang lain. Maka

karena itu kepribadian pada hakikatnya gejala sosial (Nasution,

(30)

Lembaga pendidikan sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh

dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar

pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Hal ini

dikarenakan konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan

sikap kepercayaan maka pada gilirannya kemudian konsep tersebut

ikut berperan dalam menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal.

Seperti diketahui, lembaga pendidikan sifatnya

bermacam-macam diantaranya bersifat formal, informal dan non formal.

Pendidikan formal, dapat dilihat dari pendidikan yang pernah

dialami (dalam hal ini petani) melalui sekolah-sekolah, dari jenjang

tertinggi dari suatu tingkatan pendidikan formal yang tersedia

(Mardikanto, 1993).

Pendidikan non formal mengandung pengertian yang berbeda

dengan pendidikan informal (seperti kursus-kursus dan sebagainya)

atau formal. Ciri-ciri pendidikan non formal : pertama, pendidikan

non formal tidak mengenal batas umur bagi petani yang akan

mengikuti pendidikan penyuluhan; kedua, pendidkan non formal

tidak mengenal kurikulum tertentu yang harus diselesaikan dan tidak

ditentukan kapan batas waktu selesainya pendidikan; ketiga,

pendidikan non formal tidak mengenal ruangan tertentu, artinya

setiap pendidikan pertanian tidak harus menggunakan ruangan kelas;

kelima, pendidikan non formal tidak mengenal waktu. Berdasarkan

kelima ciri yang telah dikemukakan di atas bentuk pendidikan yang

saat ini tepat untuk dilaksanakan bagi petani pedesaan adalah

penyuluhan pertanian sebagai salah satu bentuk pendidikan non

formal dibandingkan dengan pendidikan formal atau informal

(31)

f. Umur

Umur seseorang akan menentukan bagaimana sikap seseorang.

Pada umumnya orang muda sikapnya radikal daripada sikap orang

yang telah tua, masalah umur akan berpengaruh pada sikap

seseorang (Walgito, 2005).

4. Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP)

a. Arti PUAP

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) pada

intinya merupakan upaya untuk memberdayakan masyarakat agar

mampu menolong dirinya sendiri melalui peningkatan kemampuan

untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang usaha agribisnis di

pedesaan. Salah satu entry point yang dilakukan dalam PUAP adalah

memberikan bantuan penguatan modal usaha agribisnis sebesar 100

juta rupaih per desa yang akan diberikan kepada masyarakat melalui

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).

Lokasi PUAP tahun 2008 baik yang bersumber dari anggaran

APBN maupun APBN-P sebanyak 11.000 desa dari 33 provinsi di

Indonesia. Sedangkan lokasi PUAP di Provinsi Jawa Tengah sebanyak

(1) APBN : 987 desa dari 29 kabupaten dan 1 kota; dan (2) APBN-P :

132 desa dari 13 kabupaten dan 2 kota. Belajar dari pengalaman, salah

satu faktor kunci keberhasilan program yang sudah diidentifikasi

adalah melakukan pembinaan, pendampingan dan penyeliaan yang

sistematis dan intensif (Badan Litbang Pertanian, 2007).

b. Tujuan

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) bertujuan

untuk : (1) mengurangi kemiskinan dan pengangguran melalui

penumbuhan dan pengembangan kegiatan usaha agribisnis di pedesaan

sesuai dengan potensi wilayah; (2) meningkatkan kemampuan pelaku

(32)

Tani; (3) memberdayakan kelembagaan petani dan ekonomi pedesaan

untuk pengembangan kegiatan usaha agribisnis: (4) meningkatkan

fungsi kelembagaan ekonomi petani menjadi jejaring atau mitra

lembaga keuangan dalam rangka akses ke permodalan ( Anton, 2008).

c. Sasaran

Sasaran PUAP yaitu sebagai berikut: berkembangnya usaha

agribisnis di 10.000 desa miskin/tertinggal sesuai dengan potensi

pertanian desa;, berkembangnya 10.000 gapoktan yang dimiliki dan

dikelola oleh petani, meningkatnya kesejahteraan rumah tangga tani

miskin, petani/peternak (pemilik dan atau penggarap) skala kecil,

buruh tani; dan berkembangnya usaha pelaku agribisnis yang

mempunyai usaha harian, mingguan, maupun musiman (

Anton, 2008).

d. Pelaksanaan

Program PUAP agar berjalan dengan berhasil dan

berkesinambungan maka pemerintah mengadakan kegiatan pembinaan

dan pengendalian.

1) Pembinaan

Tim Pusat melakukan pembinaan terhadap sumber daya

manusia ditingkat provinsi dan kabupaten dalam bentuk pelatihan.

Disamping itu, tim pusat berkoordinasi dengan Tim PNPM

Mandiri melakukan sosialisasi program dan supervisi pelaksanaan

PUAP ditingkat provinsi dan kabupaten.

Pembinaan pelaksanaan PUAP oleh Tim Pembina Provinsi

kepada tim teknis kabupaten difokuskan kepada:

a.) Peningkatan kualitas SDM yang menangani BLM PUAP

ditingkat kabupaten.

b.) Koordinasi dan pengendalian.

(33)

Pembinaan pelaksanaan PUAP oleh Tim Teknis Kabupaten

kepada Tim Teknis Kecamatan dilakukan dalam bentuk pelatihan

dan apresiasi peningkatan pemahaman terhadap pelaksanaan

PUAP.

2) Pengendalian

Pemerintah dalam mengendalikan program PUAP maka

pemerintah menyerahkan kepada Departemen Pertanian untuk

mengendalikan kegiatan tersebut. Departemen Pertanian

mengembangkan operation room sebagai Pusat pengendali PUAP

berbasis elektronik yang dikelola oleh Pusat Data dan Informasi

Pertanian (Pusdatin). Pusdatin sebagai pengelola operation room

bertanggungjawab mengembangkan dan mengelola data base

PUAP yang mencakup data base gapoktan, penyuluh pendamping,

penyelia mitra tani dan usaha agrbisnis gapoktan. Disamping itu,

Pusdatin bertugas mempersiapkan bahan laporan perkembangan

pelaksanaan PUAP.

Tim Pusat PUAP melakukan pengendalian terhadap

pelaksanaan PUAP melalui pertemuan regular dan kunjungan

lapangan ke provinsi dan kabupaten. Hal ini untuk menjamin

pelaksanaan PUAP sesuai dengan kebijakan umum Menteri

Pertanian dan menyelesaikan permasalahan yang terjadi di

lapangan.

Pengendalian pelaksanaan PUAP di tingkat provinsi,

Gubernur diharapkan dapat membentuk operation room yang

dikelola oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). BPTP

sebagai sekretariat Tim pembina PUAP provinsi dapat

memanfaatkan data base PUAP yang dikembangkan Departemen

Pertanian sebagai bahan dalam penyusunan laporan Tim Pembina

(34)

Tim Pembina PUAP Provinsi melakukan pengendalian

terhadap pelaksanaan PUAP melalui pertemuan regular dan

kunjungan lapangan kabupaten dan kecamatan. Hal ini untuk

menjamin pelaksanaan PUAP sesuai dengan kebijakan teknis

Gubernur serta menyelesaikan permasalahan yang terjadi di

lapangan.

Tim Teknis PUAP Kabupaten melakukan pengendalian

terhadap pelaksanan PUAP melalui pertemuan regular dan

kunjungan lapangan ke kecamatan dan desa untuk menjamin

pelaksanaan PUAP sesuai dengan kebijakan teknis

Bupati/Walikota serta menyelesaikan permasalahan yang terjadi di

lapangan.

Pengendalian pelaksanaan PUAP di tingkat kabupaten,

Bupati/Walikota diharapkan dapat membentuk operation room

yang dikelola oleh Sekretariat PUAP kabupaten/kota dengan

memanfaatkan perangkat keras dan lunak komputer yang

disiapkan oleh Departemen Pertanian.. Tim teknis kabupaten/kota

dapat menugaskan Penyelia Mitra Tani untuk menyiapkan bahan

laporan.

Tim Teknis PUAP Kabupaten/Kota melakukan

pengendalian terhadap pelaksanaan PUAP melalui pertemuan

regular dan kunjungan lapangan ke kecamatan dan desa. Hal ini

untuk menjamin pelaksanaan PUAP sesuai dengan kebijakan

teknis Bupati/Walikota.

Tim Teknis PUAP Kecamatan melakukan pengendalian

terhadap pelaksanaan PUAP melalui pertemuan regular dan

kunjungan lapangan ke desa dan gapoktan. Hal ini untuk menjamin

pelaksanaan PUAP sesuai dengan kebijakan teknis

(35)

e. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan output antara lain :

1) Tersalurkan BLM-PUAP kepada petani, buruh tani dan rumah

tangga tani miskin dalam melakukan usaha produktif pertanian.

2) Terlaksananya fasilitas penguatan kapasitas dan kemampuan

sumber daya manusia pengelola gapoktan, penyuluh pendamping

dan Penyelia Mitra Tani.

Indikator keberhasilan outcome antara lain :

1) Meningkatnya kemampuan gapoktan dalam memfasilitasi dan

mengelola bantuan modal usaha untuk petani anggota baik

pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani.

2) Meningkatnya jumlah petani, buruh tani dan rumah tangga tani

yang mendapatkan bantuan modal usaha.

3) Meningkatnya aktivitas kegiatan agribisnis (budidya dan hilir) di

pedesaan.

4) Meningkatnya pendapatan petani (pemilik atau penggarap, buruh

tani dan rumah tangga tani) dalam berusaha tani sesuai dengan

potensi daerah.

Sedangkan indikator benefit dan impact antara lain :

1) Berkembangnya usaha agribisnis dan usaha ekonomi rumah tangga

tani di lokasi desa PUAP.

2) Berfungsi gapoktan sebagai lembaga ekonomi yang dimiliki dan

dikelola oleh petani.

3) Berkurangnya jumlah petani miskin dan pengangguran di pedesaan

(36)

A. Kerangka Berpikir

Dalam kegiatan usaha tani, petani menghadapi beberapa permasalahan

diantaranya; kurangnya akses kepada sumber permodalan, pasar dan teknologi,

serta organisasi tani yang masih lemah. Untuk mengatasi dan menyelesaikan

permasalahan tersebut pemerintah menetapkan Program Jangka Menengah

(2005-2009) yang fokus pada pembangunan pertanian perdesaan. Salah satunya

ditempuh melalui pendekatan mengembangkan usaha agrbisnis dan memperkuat

kelembagaan pertanian di perdesaan. Program yang dicanangkan pemerintah

yaitu Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP).

Sebelum program PUAP bisa dilaksanakan, perlu diketahui kecenderungan

sikap petani terhadap program tersebut. Sikap petani terbentuk dari adanya

interaksi sosial yang dialaminya. Dalam interaksinya, petani bereaksi membentuk

pola sikap tertentu terhadap obyek psikologis yang dihadapi. Sebagai salah satu

obyek dari Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP), petani

akan memberikan respon evaluatif artinya petani akan memberikan reaksi sebagai

sikap yang timbul karena proses evaluasi dalam diri individu yang memberi

kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik atau buruk, positif atau

negatif, menyenangkan atau tidak menyenangkan yang kemudian mengkristal

sebagai potensi reaksi sikap terhadap obyek sikap.

Sikap petani terhadap Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan

(PUAP) didefinisikan sebagai kecenderungan petani untuk memberikan respon

terhadap program tersebut. Sikap petani terhadap PUAP ini diukur berdasarkan 3

komponen sikap terhadap program PUAP, yaitu : kognisi (pengetahuan petani

tentang tujuan, pelaksanaan dan hasil dari program PUAP), afeksi (tangapan

petani terhadap tujuan, pelaksanan dan hasil dari program PUAP), dan konasi

(kecenderungan bertindak petani terhadap tujuan, pelaksanaan dan hasil dari

program PUAP).

Sedangkan dalam pembentukan sikap petani terhadap program PUAP

(37)

pengalaman pribadi, pendidikan baik formal maupun nonformal, pengaruh orang

lain yang dianggap penting, dan media massa.

Umur menentukan pembentukan sikap petani terhadap PUAP. Biasanya

umur yang lebih muda memiliki sikap lebih radikal dibandingkan umur yang

lebih tua. Dimana sikap radikal ini sulit menerima adanya program. Sedangkan

orang yang lebih tua itu memiliki sikap moderat. Dimana mereka akan lebih

mudah menerima suatu program (Walgito, 2005).

Pengalaman pribadi berupa pengalaman terhadap program sejenis PUAP

yang ada sebelumnya. Dimana akan menimbulkan pengaruh terhadap

pembentukan sikap pada program PUAP. Pembentukan sikap yang dimaksud bisa

saja berupa sikap positif karena pengalaman sebelumnya terhadap program

sejenis dirasa program ini menguntungkan. Bila sikapnya negatif karena

pengalamannya terhadap program sejenis sangat mengecewakan.

Pendidikan formal yang didapat akan berpengaruh terhadap pembentukan

sikap pada program PUAP. Pendidikan formal semakin tinggi, maka

pengetahuaan tentang tujuan, pelaksanaan dan hasil program PUAP semakin

tinggi. Pendidikan formal yang dicapai berhubungan dengan pemikiran yang maju

terhadap penerimaan program. Oleh karena itu, bila program itu menguntungkan

maka secara tidak langsung program itu dapat diterima.

Bila pendidikan non formal semakin tinggi, maka akan semakin cepat

pembentukan sikap pada program PUAP. Hal ini berhubungan dengan program

PUAP yaitu keikutsertaan terhadap penyuluhan-penyuluhan pertanian dan

pelatihan yang mempunyai nilai dalam mengembangkan potensi petani dengan

usahataninya sehingga dapat membentuk sikap dalam pencapaian program PUAP

itu sendiri.

Pengaruh orang lain dianggap penting akan berpengaruh terhadap

pembentukan sikap pada program PUAP. Adanya pengaruh orang lain dianggap

(38)

bersifat persuasif. Sehingga petani lebih cepat menerima PUAP itu sendiri.

Kemudian membentuk sikap dalam pencapaian program PUAP itu sendiri.

Media massa berhubungan dengan media yang memberikan informasi

kepada petani mengenai PUAP. Sehingga petani dapat tahu secara garis besar

tentang PUAP. Hal ini dapat mempengaruhi dalam pembentukan sikap terhadap

PUAP itu sendiri. Dimana petani akan membentuk sikap negatif atau sikap positif

terhadap PUAP.

Untuk mengetahui bagaimana hubungan antar variabel dapat digambarkan

(39)

Ket : Variabel yang tidak diteliti Variabel yang diteliti

Gambar 1. Skema Kerangka Berpikir Hubungan Antara Faktor Pembentuk Sikap Dengan Sikap Petani Terhadap Program PUAP.

Faktor-faktor pembentuk sikap

1) umur

2) pengalaman pribadi 3) pendidikan

a. pendidikan formal b. pendidikan non

formal

4) pengaruh orang lain yang dianggap penting

(40)

C. Hipotesis

Berdasarkan alur kerangka berpikir yang telah digambarkan di atas maka

dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :

Diduga ada hubungan signifikan antara faktor-faktor pembentuk sikap dengan

sikap petani terhadap program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan.

D. Pembatasan Masalah

1. Penelitian ini dibatasi pada pelaksanaan program Pengembangan Usaha

Agribisnis Perdesaan pada tanggal 13 oktober 2008 yang mendapat sumber

dana dari APBN-P 2008 nomor : 115/ SM 730 / J / 10 / 2008.

2. Petani yang dimaksud adalah seluruh petani yang tergabung dalam

Gapoktan Prima Agung dan Ngudi Raharjo yang mengikuti program

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan pada tahun anggaran 2008 yang

ada di Kota Salatiga.

3. Faktor-faktor pembentuk sikap yang diamati dalam penelitian ini dibatasi

pada umur, pengalaman pribadi, pendidikan baik formal maupun nonformal,

pengaruh orang lain yang dianggap penting, dan media massa.

4. Walaupun dimungkinkan ada hubungan timbal balik antara faktor

pembentuk sikap yang diteliti dengan sikap petani terhadap program

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan. Namun dalam penelitian ini

hanya mempelajari hubungan searah antara faktor pembentuk sikap dengan

sikap petani terhadap Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan.

E. Definisi Operasional

1. Faktor-faktor pembentuk sikap yaitu merupakan faktor yang ada dalam diri

individu (yang dalam hal ini petani) yang turut mempengaruhi pola

perilakunya sehingga dapat membentuk sikap petani terhadap program

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP).

a. Umur merupakan satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan hidup

petani yang bersangkutan mulai dari lahir sampai pada saat dilakukan

(41)

b. Pengalaman pribadi merupakan pengalaman petani yang berkaitan dengan

program sejenis PUAP (KUT dan lainnya) yang meliputi lamanya petani

menjadi bagian dari kegiatan sejenisnya yang diukur dengan tahun.

c. Pendidikan merupakan lembaga pendidikan sebagai sistem mempunyai

pengaruh dalam pembentukan sikap dalam kegiatan Pengembangan Usaha

Agribisnis Perdesaan (PUAP).

1) Pendidikan formal adalah tingkat pendidikan yang pernah ditempuh

oleh petani di bangku sekolah yang diukur dengan jenjang

pendidikannya.

2) Pendidikan non formal adalah pendidikan yang pernah di peroleh

petani di luar pendidikan formal (pelatihan maupun penyuluhan)

dibidang pertanian yang diukur dengan frekuensi petani mengikuti

kegiatan di luar pendidikan formal.

d. Pengaruh orang lain yang dianggap penting merupakan saran, ajakan,

bujukan atau bahkan perintah dari orang yang dianggap penting (PPL,

Aparat Desa, Ketua Gapoktan, Penyelia Mitra Petani dan petani lain) yang

berkaitan dengan pengembangan usaha agribisnis pedesaan yang diukur

dengan banyaknya orang yang dianggap penting mempengaruhi petani.

e. Media massa merupakan media yang dipergunakan untuk memberikan

informasi terkait dengan Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan

(PUAP) baik berupa media cetak maupun media elektronik yang diukur

dengan intensitas petani menggunakan media massa.

2. Sikap petani terhadap program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan

(PUAP) diartikan sebagai tanggapan atau respon evaluatif petani terhadap

segala bentuk kegiatan dalam program Pengembangan Usaha Agribisnis

Perdesaan berupa pernyataan negatif dan pernyataan positif, baik atau buruk

yang dilihat dari tiga komponen yaitu komponen kognisi, afeksi dan konasi.

a. Komponen kognisi dilihat dari pengetahuan petani tentang : (1) tujuan

(42)

1. Tujuan program merupakan pengetahuan petani terhadap tujuan

program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan yang diukur

dengan pernyataan-pernyataan petani terhadap tujuan PUAP.

2. Pelaksanaan program merupakan pengetahuan responden terhadap

pelaksanaan baik dalam program PUAP yang diukur dengan

pernyataan-pernyataan petani terhadap pelaksanaan PUAP.

3. Hasil program merupakan pengetahuan responden terhadap hasil dari

program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang

diukur dengan pernyataan-pernyataan petani terhadap hasil PUAP.

b. Komponen afeksi adalah tanggapan petani yang diungkapkan dengan

pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan program Pengembangan

Usaha Agribisnis Perdesaan baik berupa pernyataan positif atau negatif

tentang : (1) tujuan PUAP, (2) pelaksanaan PUAP, (3) hasil PUAP

1) Tujuan program merupakan tanggapan petani terhadap tujuan program

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang diukur

dengan pernyataan-pernyataan terhadap tujuan PUAP.

2) Pelaksanaan program merupakan tanggapan petani terhadap

pelaksanaan program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan

(PUAP) yang diukur dengan pernyataan-pernyataan terhadap

pelaksanaan PUAP.

3) Hasil program merupakan tanggapan petani terhadap hasil dari

program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang

diukur dengan pernyataan-pernyataan terhadap hasil PUAP.

c. Komponen konasi merupakan kecenderungan bertindak dari responden

terhadap program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan, yaitu : (1)

tujuan PUAP, (2) pelaksanaan PUAP, (3) hasil PUAP

1) Tujuan program merupakan tindakan petani terhadap tujuan program

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang diukur

(43)

2) Pelaksanaan program merupakan tindakan petani terhadap pelaksanaan

Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang

diukur dengan pernyataan-pernyataan petani terhadap pelaksanaan

PUAP.

3) Hasil program merupakan tindakan petani terhadap hasil dari program

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang diukur

dengan pernyataan-pernyataan petani terhadap hasil PUAP.

Skor untuk 3 komponen sikap (kognisi, afeksi dan konasi) untuk

pernyataan positif ini adalah :

Sangat setuju : 5

Setuju : 4

Ragu-ragu : 3

Tidak setuju : 2

Sangat tidak setuju : 1

Sedangkan untuk pernyataan negatif skornya adalah :

Sangat tidak setuju : 5

Tidak setuju : 4

Ragu-ragu : 3

Setuju : 2

Sangat setuju : 1

2. Pengukuran Variabel

a. variabel faktor pembentuk sikap

Variabel Indikator kategori Skor

1) Umur Umur petani

saat penelitian dilakukan

- >64

- 54 - 64 Tahun - 43 - 53Tahun - 32 - 42 Tahun - 21 - 31 Tahun

(44)
(45)

gapoktan) Frekuensi tokoh

b. sikap petani terhadap program PUAP

Variabel Indikator Kategori Skor

- Sangat tidak setuju

(46)

3) Hasil

- Sangat tidak setuju

5

- Sangat tidak setuju

Gambar

Gambar 1.   Skema Kerangka Berpikir Hubungan Antara Faktor Pembentuk Sikap
gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta,
Tabel 2.  Distribusi Jumlah Petani Penerima Dana Program Pengembangan Usaha
Tabel 3. Distribusi Jumlah Responden Petani Yang Mengikuti Program
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian diperoleh perkembangan program PUAP dari segi jumlah anggota dan perkembangan dana pada Gapoktan I sedangkan pada Gapoktan II hanya dari segi jumlah

Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Penerima PUAP (Umur, Pendidikan, Lama Berusahatani, Frekuensi Mengikuti Penyuluhan, Luas Lahan, Jumlah Tanggungan, Produksi

dapat meningkatkan pendapatan petani dibanding dengan sebelum adanya PUAP dan mengurangi beban petani untuk mendapatkan modal Mampu mengurangi beban petani dengan

Untuk mengetahui bagaimana sikap petani terhadap program PUAP di

Sikap kognitif merupakan kecenderungan pengetahuan petani tentang petani Gapoktan Makaryowono tentang keseluruhan kegiatan program PUAP yang terdiri dari beberapa indikator

Tesis saya yang berjudul “Implementasi Pemberdayaan Petani melalui Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP), (Suatu Studi di Kota Batu Jawa Timur)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dampak Program PUAP terhadap produksi padi dan pendapatan riil petani di Desa Jati (penerima Program PUAP) dan Desa Jamali

Dengan bantuan dana yang diberikan oleh Pengembangan usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP ), petani menjadi lebih mandiri dalam usaha taninya karena lebih mudah dalam