• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI PENCETUS KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK DI SUMATERA UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI PENCETUS KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK DI SUMATERA UTARA"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

OLEH

SOFIA IKA RAMADHANI SINAGA NIM: 160501130

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)

UTARA

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor sosial ekonomi pencetus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sumatera Utara. Serta pengaruh variabel pendidikan terhadap kekerasan perempuan dan anak melalui kemiskinan dan variabel pengangguran terhadap kekerasan perempuan dan anak melalui kemiskinan.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang berupa data time series dengan periode pengamatan 2016-2019 yang bersumber dari Badan Pusat Statistik. Metode analisis yang digunakan adalah analisis jalur (Path Analysis) dengan menggunakan software SPSS versi 23.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara. Pendidikan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kekerasan perempuan dan anak di Sumatera Utara.

Penggguran terbuka berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara. Pengangguran terbuka berpengaruh positif dan signifikan terhadap kekerasan perempuan dan anak di Sumatera Utara. Pengaruh langsung variabel pendidikan terhadap kekerasan perempuan dan anak lebih besar dari pengaruh tidak langsung variabel pendidikan terhadap kekerasan perempuan dan anak melalui variabel kemiskinan di Sumatera Utara. Pengaruh tidak langsung variabel pengangguran terbuka terhadap kekerasan perempuan dan anak melalui kemiskinan lebih besar dari pengaruh langsung variabel pngangguran terbuka terhadap kekerasan perempuan dan anak di Sumatera Utara.

Kata Kunci: Tingkat Pendidikan, Pengangguran Terbuka, Kemiskinan, Kekerasan Perempuan Dan Anak.

(6)

This study aims to analyze the socio-economic factors that trigger violence against women and children in North Sumatra. As well as the influence of the education variable on violence against women and children through poverty and the unemployment variable on violence against women and children through poverty.

This research is a quantitative research. The type of data used is secondary data in the form of time series data with the 2016-2019 observation period sourced from the Central Statistics Agency. The analysis method used is path analysis using SPSS version 23 software.

The results of this study indicate that education has a negative and significant effect on poverty in North Sumatra. Education has a negative and significant effect on violence against women and children in North Sumatra. Open unemployment has a positive and significant effect on poverty in North Sumatra.

Open unemployment has a positive and significant effect on violence against women and children in North Sumatra. The direct effect of the education variable on violence against women and children is greater than the indirect effect of the education variable on violence against women and children through the poverty variable in North Sumatra. The indirect effect of the open unemployment variable on violence against women and children through poverty is greater than the direct effect of the open unemployment variable on violence against women and children in North Sumatra.

Keywords: Education Level, Open Unemployment, Poverty, Violence against Women and Children.

(7)

Pencetus Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak Di Sumatera Utara”.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Dalam proses penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat dukungan, bantuan, dan masukan dari berbagai pihak baik langsung maupun tidak langsung.

Skripsi ini juga tak luput dari kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan karena keterbatasan dari penulis.

Pada kesempatan ini penulis hendak mengucapkan terima kasih kepada :

1. Kedua orang tua saya ayahanda tersayang Fery Herlendra Sinaga dan ibunda tercinta Utami Anita atas segala doa dan dukungannya dalam bentuk motivasi maupun materil selama proses perkuliahan yang selalu diberikan dan tak kenal lelah selama ini sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

2. Terimakasih untuk adik saya Muhammad Aji Syahputra Sinaga yang sudah memotivasi, memberi masukan dan mendoakan penulis selama proses penulisan skripsi.

3. Bapak Prof. Dr. Ramli SE,MSi selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Drs. Coki Ahmad Syahwier HSB, MP selaku ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

5. Ibu Inggrita Gusti Sari Nasution, SE.,M.Si selaku Sekretaris Program Studi Ekonomi Pembangunan.

6. Ibu Dra. Raina Linda Sari, M.Si. selaku Dosen Pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan fikiran untuk mengarahkan saya dalam penyusunan skripsi ini dari awal penulisan hingga selesainya skripsi ini.

7. Bapak Dr. Rujiman, M.A. selaku dosen Penguji I saya yang telah memberikan saran dalam penulisan skripsi ini.

8. Ibu Inggrita Gusti Sari, M.Si. delaku dosen penguji II saya yang telah memberikan saran dalam penulisan skripsi ini.

9. Kepada seluruh Dosen dan Karyawan Program Studi Ekonomi Pembangunan atas bantuan dan bimbingan nya selama saya kuliah disini.

(8)

senang, dan selalu memotivasi untuk menyelesaikan skripsi ini.

12. Teman-teman seperjuangan saya Ayu Rizki Ramadhani dan Rizki Nurulhasana, terimakasih sudah memberi canda tawa selama dalam perkuliahan.

13. Kepada seluruh teman-teman Ekonomi Pembangunan terkhususnya Stambuk 2016.

14. Dan terakhir terima kasih buat semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang sudah memberikan doa dan dukungan untuk menyelesaikan skripsi ini.

Akhir kata, dengan segala kerendahan hati, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan, dan dapat dijadikan referensi bagi penelitian selanjutnya. Penulis juga menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna dan banyak keterbatasan, sehingga penulis tak lupa mengharapkan saran dan kritik atas skripsi ini.

(9)

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori ... 9

2.1.1 Pengertian Kekeras Terhadap Perempuan dan Anak ... 9

2.1.2 Bentuk-Bentuk Kekerasan ... 15

2.2 Pengertian Sosial Ekonomi ... 18

2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Kekerasan ... 19

2.3.1 Pendidikan ... 19

2.3.2 Pengangguran ... 20

2.3.3 Kemiskinan ... 21

2.4 Hubungan Antar Variabel ... 22

2.4 Penelitian Terdahulu ... 29

2.5 Kerangka Pemikiran Penelitian ... 30

2.6 Hipotesis Penelitian ... 31

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 32

3.2 Ruang Lingkup Penelitian ... 32

3.3 Jenis Variabel Peneltian ... 32

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 33

3.5 Definisi Operasional... 34

3.6 Teknik Analisis Data ... 34

3.6.1 Diagram Jalur dan Persamaan Struktural ... 37

3.6.2 Koefisien Jalur ... 41

3.7 Uji Asumsi Klasik ... 41

3.7.1 Uji Normalitas Data ... 41

3.7.2 Uji Multikolinieritas ... 42

3.7.3 Uji Heteroskedastisitas ... 42

(10)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian ... 45

4.1.1 Gambaran Umum Provinsi Sumatera Utara ... 45

4.1.1.1 Kondisi Geografis ... 45

4.1.1.2 Kondisi Iklim ... 46

4.1.1.3 Kependudukan ... 47

4.1.2 Perkembangan Pendidikan ... 49

4.1.3 Perkembangan Pengangguran Terbuka ... 50

4.1.4 Perkembangan Kemiskinan ... 50

4.1.5 Perkembangan Kekerasan Perempuan dan Anak ... 51

4.1.6 Pengujian Asumsi Klasik ... 51

4.1.6.1 Uji Normalitas Data ... 51

4.1.6.2 Uji Multikolinearitas ... 55

4.1.6.3 Uji Autokorelasi ... 56

4.1.6.4 Uji Heteroskedastisitas ... 58

4.1.7 Pengujian Sub Struktural Pertama (X1 dan X2 – Y) .. 60

4.1.8 Pengujian Sub Struktural Kedua (X1, X2 dan Y – Z) 60 4.1.9 Uji Signifikan Simultan (Uji F) ... 62

4.1.10 Koefisien Determinasi ... 63

4.1.11 Analisis Jalur ... 64

4.2 Pembahasan ... 67

4.2.1 Pengaruh (X1), (X2) dan (Y) Terhadap (Z) ... 67

4.2.2 Pengaruh Tidak Langsung Pendidikan dan Pengangguran Terbuka Terhadap Kekerasan Perempuan Dan Anak ... 70

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 71

5.2 Saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 74 DAFTAR LAMPIRAN

(11)

3.2 Uji Dw (Durbin-Watson) ... 44

4.1 Luas Wilayah di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2020 ... 47

4.2 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2020 ... 49

4.3 Perkembangan Pendidikan di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2016 sampai 2019... 49

4.4 Perkembangan Pengangguran Terbuka di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2016 sampai 2019 ... 50

4.5 Perkembangan Kemiskinan di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2016 sampai 2019... 51

4.6 Perkembangan Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2016 sampai 2019 ... 51

4.7 Uji Normalitas One Sample Kolmogorov Smirnov Test Pengujian Sub Struktural Pertama (X1 dan X2 – Y) ... 54

4.8 Uji Normalitas One Sample Kolmogorov Smirnov Test Pengujian Sub Struktural Kedua (X1, X2 dan Y – Z) ... 55

4.9 Uji Multikolinieritas Pengujian Sub Struktural Pertama (X1 dan X2 – Y) ... 55

4.10 Uji Multikolinieritas Pengujian Sub Struktural Kedua (X1, X2 dan Y – Z) ... 56

4.11 Uji Autokorelasi Pengujian Sub Struktural Pertama (X1 dan X2 – Y) ... 57

4.12 Uji Autokorelasi Pengujian Sub Struktural Kedua (X1, X2 dan Y – Z) ... 57

4.13 Pengujian Sub Struktural Pertama (X1 dan X2 – Y) ... 60

4.14 Pengujian Sub Struktural Kedua (X1, X2 dan Y – Z) ... 61

4.15 Uji Simultan Pengujian Sub Struktural Pertama (X1 dan X2 – Y) ... 62

4.16 Uji Simultan Pengujian Sub Struktural Kedua (X1, X2 dan Y – Z) ... 62

4.17 Koefisien Determinasi Pengujian Sub Struktural Pertama (X1 dan X2 – Y) ... 63

4.18 Koefisien Determinasi Pengujian Sub Struktural Kedua (X1, X2 dan Y – Z) ... 64

4.19 Analisis Jalur Persamaan I ... 64

4.20 Analisis Jalur Persamaan II ... 65

4.21 Direct Effect, Indirect Effect Dan Total Effect ... 66

(12)

Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2018 ... 3 1.2 Jumlah Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Menurut Tingkat Pendidikan di Provinsi Sumatera Utara

Tahun 2018 ... 5 2.1 Kerangka Pemikiran ... 31 4.1 Histogram Uji Normalitas Pengujian Sub Struktural Pertama

(X1 dan X2 – Y) ... 52 4.2 Histogram Uji Normalitas Pengujian Sub Struktural Kedua

(X1, X2 dan Y – Z) ... 52 4.3 PP Plot Uji Normalitas Pengujian Sub Struktural Pertama

(X1 dan X2 – Y) ... 53 4.4 PP Plot Uji Normalitas Pengujian Sub Struktural Kedua

(X1, X2 dan Y – Z) ... 53 4.5 Gambar 4.5 Scatterplot Uji Heteroskedastisitas Pengujian Sub

Struktural Pertama (X1 dan X2 – Y) ... 58 4.6 Gambar 4.6 Scatterplot Uji Heteroskedastisitas Pengujian Sub

Struktural Kedua (X1, X2 dan Y – Z) ... 59 4.7 Analisis Jalur ... 66

(13)

1 REKAPITULASI DATA

2 UJI NORMALITAS

3 UJI MULTIKOLINIERITAS

4 UJI HETEROKEDASTISITAS

5 UJI AUTOKORELASI

6 UJI R2

7 UJI F

8 UJI T

(14)

Perempuan maupun laki-laki merupakan dua makhluk hidup yang diciptakan Tuhan dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dimana masyarakat pada umumnya mengkonstruksikan bahwa laki-laki adalah makhluk yang di anggap kuat dan perempuan di anggap lemah dalam segi fisik. Untuk itu perempuan yang di anggap bahwa mereka perlu adanya perlindungan. Namun, dengan kelemahan yang dimiliki oleh perempuan justru menjadi objek kekerasan.

Perempuan sebagai makhluk yang seharusnya disayangi dan dilindungi, justru menjadi objek kekerasan yang dilakukan oleh para laki-laki yang berada sangat dekat dengan mereka. Menurut kacamata feminis, kekerasan terhadap perempuan sama dengan kekerasan yang berbasis gender. Persamaan tersebut bukan tanpa sebab, karena selama ini kekerasan yang dialamai oleh kaum perempuan terjadi karena perbedaan relasi gender yang timpang. Kekerasan berbasis gender ini merupakan hasil bentukan interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat patriarki (Harnoko, 2010). Perempuan dan anak sering berada pada dalam bahaya baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Rumah atau keluarga dimana perempuan dan anak seharusnya merupakan tempat yang paling aman, bagi banyak perempuan dan anak rumah justru menjadi tempat dimana mereka menghadapi kekerasan. Di luar rumah perempuan dan anak juga sering mendapatkan kekerasan baik kekerasan fisik maupun seksual termasuk diskriminasi.

Kekerasan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti: perihal yang

(15)

mnenyebabkan cidera atau matinya orang lain atau menyebabkan ke- rusakan fisik atau barang orang lain serta paksaan. Sedangkan dalam kamus Oxford kata kekerasan dipahami tidak hanya berkaitan dengan penggunaan fisik saja tetapi juga terkait dengan tekanan emosional dan psikis.

Seperti banyak terungkap dari hasil studi dan penelitian bahwa kecendrungan terjadinya kekerasaan terhadap perempuan dalam rumah tangga lebih disebabkan karena faktor budaya patriarki. Menurut Mascionis (2009), patriarki adalah suatu bentuk organisasi sosial dalam mana laki-laki mendominasi perempuan. Laki-laki mempunyai nilai lebih dihargai. Budaya patriarki menganggap . Kekerasan laki- laki terhadap perempuan datang dari kekuasaan laki-laki dan laki-laki juga yang ingin mempertahankan kekuasaan.

Menurut Gelles dan Straus (2009), kekerasaan adalah perbuatan yang dilakukan dengan sengaja atau bermaksud menyakiti orang lain, sedangkan defenisi PBB tentang kekerasaan terhadap perempuan (violence against woman) adalah setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehiudupan pribadi.

Carwoto (2000), mengatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan atau juga dikenal dengan kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan dan anak dalam rumah tangga disebut juga kekerasan

(16)

domestik (domestic violence). Kekerasan domestik atau kekerasan dalam rumah tangga juga disebut kekerasan keluarga.Kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam rumah tangga tidak mestinya terjadinya di dalam rumah tangga, bisa saja kejadiannya di luar rumah tangga. Yang terpenting baik pelaku maupun korbannya adalah berada dalam ikatan rumah tangga atau anggota rumah tangga.

Hal ini dapat di lihat pada gambar 1.1

Sumber: Dinas PPPA Provinsi Sumatera Utara (SIMFONI PPA kondisi 2 April 2019)

Gambar 1.1

Jumlah Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2018

Jika dilihat menurut kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara, gambar 1.1 menunjukkan bahwa di seluruh kabupaten/kota terdapat korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kota Tebing Tinggi, dan Kabupaten Langkat menjadi wilayah dengan korban

(17)

kekerasan terhadap perempuan dan anak tertinggi di Sumatera Utara yang mencapai lebih dari 100 korban.

Kondisi sosial ekonomi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat, antara lain sandang, pangan, perumahan, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Pemenuhan kebutuhan tersebut berkaitan dengan penghasilan. Hal ini disesuaikan dengan penelitian yang akan dilakukan.

Untuk melihat kedudukan sosial ekonomi Melly G. Tan mengatakan adalah pekerjaan, penghasilan, dan pendidikan. Berdasarkan ini masyarakat tersebut dapat digolongkan kedalam kedudukan sosial ekonomi rendah, sedang, dan tinggi (Koentjaraningrat, 1981).

Banyak faktor sosial ekonomi yang menyebabkan kekerasan pada perempuan dan anak di antaranya yaitu pendidikan dimana pendidikan adalah segala usaha yang bertujuan mengembangakn sikap dan kepribadian, pengetahuan dan keterampilan. Menurut Mathur, Greene, dan Malhotra (2003), perempuan dengan tingkat pendidikan rendah kurang mampu untuk memperoleh penghasilan dan memberikan kontribusi secara finansial bagi keluarga. Oleh karena itu, mereka akan cendrung memilih untuk menikah muda karena dianggap akan membantu meringankan ekonomi keluarga. Sebagai gambaran, gambar 1.2 adalah jumlah korban kekerasan dari segi tingkat pendidikan di Sumatera Utara.

(18)

Sumber: Dinas PPPA Provinsi Sumatera Utara (SIMFONI PPA kondisi 2 April 2019)

Gambar 1.2

Jumlah Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Menurut Tingkat Pendidikan di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2018

Gambar 1.2 menyajikan jumlah korban kekerasan terhadap perempuan dan anak, baik anak laki-laki maupun anak perempuan menurut tingkat pendidikan di Provinsi Sumatera Utara. Dari gambar tersebut diperoleh informasi bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak umumnya terjadi pada mereka yang memiliki tingkat pendidikan SD, SMP, dan SMA yang mencapai 813 kasus kekerasan.

Faktor lainnya adalah pengagguran terbuka dan kemiskinan dimana dengan adanya tingkat pengguran yang makin banyak di masyarakat menyebabkan masyarakat mengalami keterpurukan, yang mana tingkat pendapatan mereka yang semakin rendah sehingga guna memenuhi kebutuhan hidupnya pun memerlukan usaha untuk bekerja keras guna mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Karena banyaknya tingkat pengangguran di kalangan masyarakat menyebabkan kemiskinan semakin banyak

164

3 20

304

253 256

7 0

100 200 300 400 500 600 700

Tidak Sekolah

PAUD TK SD SMP SMA Perguruan

Tinggi

(19)

banyaknya kemiskinan upaya utuk dapat meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat akan menurun.

Hubungan erat antara pengangguran dan juga kemiskian memiliki kaitan masalah terhadap kekerasan perempuan dan anak. Dimana ketika masalah kemiskinan ekonomi yang menjamur dapat menimbulkan desatbilitas emosional dalam keluarga. Seorang suami yang terbatas pendapatannya terpaksa bekerja lembur untuk memproleh tambahan pendapatan. Suami semacam ini pulang dalam keadaan lemah dan lelah karena bekerja, sementara istri mengalami kelemahan emosional karena menghadapi keluarga yang serba kekurangan. Dalam situasi seperti ini rentan sekali terjadinya kekerasan pada istri dan anak.

Kedudukan ekonomi dan sosial yang rendah dari perempuan menjadi sebab sekaligus akibat dari perlakuan kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan menjadi kendala untuk mencapai sasaran persamaan (hak), pembangunan dan perdamaian. Kekerasan terhadap perempuan mengganggu dan melanggar serta meniadakan kenikmatan perempuan akan hak-hak azasi serta kebebasan pokok mereka. Kekerasan bisa dilakukan oleh siapa saja. Dalam relasi kekuasaan, kekerasan bisa dilakukan oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah dan kenyataannya bahwa kekerasan lebih banyak menimpa perempuan, baik secara fisik maupun non-fisik. Perempuan cenderung sebagai korban kekerasan yang dilakukan oleh anggota keluarga atau pasangan karib dari pada laki-laki.

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik melakukan kajian dalam bentuk skripsi yang berjudul “ANALISIS FAKTOR-FAKTOR SOSIAL

(20)

EKONOMI PENCETUS KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK DI SUMATERA UTARA”

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana pengaruh tingkat pendidikan terhadap kemiskinan?

2. Bagaimana pengaruh tingkat pendidikan terhadap kekerasan perempuan dan anak?

3. Bagaimana pengaruh pengangguran terbuka terhadap kemiskinan?

4. Bagaimana pengaruh pengangguran terbuka terhadap kekerasan perempuan dan anak?

5. Bagaimana pengaruh variabel pendidikan terhadap kekerasan perempuan dan anak melalui kemiskinan?

6. Bagaimana pengaruh variabel pengangguran terbuka terhadap kekerasan perempuan dan anak melalui kemiskinan?

1.3 Tujuan Penelitian

Dari permasalahan yang di rumusakan tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis pengaruh tingkat pendidikan terhadap kemiskinan.

2. Untuk menganalisis pengaruh tingkat pengangguran terbuka terhadap kemiskinan.

3. Untuk menganalisis pengaruh tingkat pendidikan terhadap kekerasan perempuan dan anak.

(21)

4. Untuk menganalisis pengaruh tingkat pengangguran terbuka terhadap kekerasan perempuan dan anak.

5. Untuk menganalisis pengaruh variabel pendidikan terhadap kekerasan perempuan dan anak melalui kemiskinan.

6. Untuk menganalisis pengaruh variabel pengangguran terbuka terhadap kekerasan perempuan dan anak melalui kemiskinan.

1.4 Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat,antara lain:

1. Secara Akademik

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam studi gender dan kekerasan. Sekaligus untuk menjadi tambahan refrensi bagi peneliti lainnya yang ingin meneliti objek serupa.

2. Secara Praktis

Sebagai bahan pertimbangan pemerintah ataupun lembaga masyarakat dalam menentukan kebijakan, pengambilan keputusan terhadap penanganan atau mengurangi tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak baik dalam rumah tangga maupun masyarakat.

(22)

2.1.1 Pengertian Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak 2.1.1.1 Pengertian Kekerasan Terhadap Perempuan

Dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, kekerasan terhadap perempuan didefinisikan sebagai setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Dalam undang-undang tersebut, penghapusan kekerasan dalam rumah tangga bertujuan untuk mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga, melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, dan memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera.

Definisi kekerasan yang lebih luas dan sering menjadi rujukan adalah Deklarasi PBB tentang penghapusan kekerasan. Deklarasi PBB tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan (1993) mendefinisikan kekerasan terhadap perempuan sebagai “setiap tindakan kekerasan berbasis gender yang berakibat, atau kemungkinan berakibat pada penderitaan fisik, seksual atau psikologis perempuan, termasuk ancaman tindakan semacam itu, pemaksanaan atau perampasan kebebasan sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum maupun dalam kehidupan pribadi”. Definisi tersebut mencakup semua bentuk

(23)

kekerasan terhadap perempuan baik yang terjadi di kehidupan pribadi perempuan maupun di ruang publik. Secara umum, definisi kekerasan yang dirumuskan dalam deklarasi PBB mencakup antara lain:

 Kekerasan Yang Terjadi Dalam Keluarga

Kekerasan dalam rumah tangga mencakup kekerasan yang dilakukan oleh pasangan dan anggota keluarga lainnya, dan diwujudkan melalui:

1. Kekerasan fisik seperti menampar, memukul, memutar lengan, menikam, mencekik, membakar, menendang, ancaman dengan benda atau senjata, dan pembunuhan. Ini juga termasuk praktek berbahaya bagi perempuan seperti mutilasi alat kelamin perempuan.

2. Kekerasan seksual seperti pemaksaan hubungan seksual melalui ancaman, intimidasi atau kekuatan fisik, memaksakan hubungan seksual yang tidak diinginkan atau memaksa hubungan seksual dengan orang lain.

3. Kekerasan psikologis yang meliputi perilaku yang dimaksudkan untuk mengintimidasi dan menganiaya, dan bentuk ancaman berupa ditinggalkan atau disiksa, dikurung di rumah, ancaman untuk mengambil hak asuh anak-anak, penghancuran benda-benda, isolasi, agresi verbal dan penghinaan terus menerus.

4. Kekerasan ekonomi termasuk tindakan menolak memberikan uang belanja, menolak memberikan makan dan kebutuhan dasar, dan mengendalikan akses terhadap pekerjaan, dll.

 Kekerasan Yang Terjadi Di Masyarakat Umum

(24)

Kekerasan yang terjadi di masyarakat umum mencakup pemerkosaan, pelecehan seksual, dan intimidasi di tempat kerja, institusi pendidikan dan tempat lain, serta perdagangan wanita dan pelacuran paksa.

 Kekerasan Yang Dilakukan Oleh Negara

Kekerasan yang dilakukan oleh Negara dapat berupa kekerasan fisik, seksual dan psikologis secara institusi/kelembagaan, dimanapun itu terjadi.

Seperti banyak terungkap dari hasil studi dan penelitian bahwa kecendrungan terjadinya kekerasaan terhadap perempuan dalam rumah tangga lebih disebabkan karena faktor budaya patriarki. Menurut Mascionis, patriarki adalah suatu bentuk organisasi sosial dalam mana laki-laki mendominasi perempuan. Laki-laki mempunyai nilai lebih dihargai. Budaya patriarki menganggap . Kekerasan laki-laki terhadap perempuan datang dari kekuasaan laki-laki dan laki-laki juga yang ingin mempertahankan kekuasaan.

Faktor lain penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga adalah; Pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama dan kepercayaan, yang cenderung menafsirkan secara keliru sehingga menimbulkan anggapan bahwa laki-laki menguasai perempuan, dan Peniruan, dimana anak laki- laki yang hidup bersama ayahnya yang pemukul, biasanya akan meniru ayahnya.

Prilaku tersebut akan dianggap sebagai suatu pola komunikasi yang kelak akan diterapkan terhadap pasangannya. Semua orang dan anak khusunya memiliki kecendrungan kuat untuk meniru orang lain, orang yang paling banyak ditemui, merupakan orang yang paling banyak ditiru. Orang tua memiliki kriteria ini dan merupakan model utama bagi seorang anak pada masa awal kehidupannya. Bila

(25)

orang tua bertindak agresif, maka anak itu juga akan bertindak agresif (sears, 1991).

Seperti banyak terungkap dari hasil studi dan penelitian bahwa kecendrungan terjadinya kekerasaan terhadap perempuan dalam rumah tangga lebih disebabkan karena faktor budaya patriarki. Menurut Mascionis (2009), patriarki adalah suatu bentuk organisasi sosial dalam mana laki-laki mendominasi perempuan. Laki-laki mempunyai nilai lebih dihargai. Budaya patriarki menganggap . Kekerasan laki-laki terhadap perempuan datang dari kekuasaan laki-laki dan laki-laki juga yang ingin mempertahankan kekuasaan.

Menurut Gelles dan Straus(2009), kekerasaan adalah perbuatan yang dilakukan dengan sengaja atau bermaksud menyakiti orang lain, sedangkan defenisi PBB tentang kekerasaan terhadap perempuan (violence against woman) adalah setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehiudupan pribadi.

2.1.1.2 Pengertian Kekerasan Terhadap Anak

Kata kekerasan disini adalah yang biasa diterjemahkan dari violence.

Violence berkaitan erat dengan gabungan kata Latin “vis” (daya, kekuatan) dan

“latus” (yang berasal dari ferre, membawa) yang kemudian berarti membawa kekuatan. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, karangan Poerwadarminta, kekerasan diartikan sebagai “sifat atau hal yang keras; kekuatan; paksaan”.

(26)

Sedangkan “paksaan” berarti tekanan, desakan yang keras. Kata-kata ini bersinonim dengan kata “memperkosa” yang berarti menundukan dengan kekerasan; menggagahi; memaksa dengan kekerasan dan melanggar dengan kekerasan. Jadi, kekerasan berarti membawa kekuatan, paksaan dan tekanan.

(Amirudin, 2007) Kekerasan merupakan tindakan yang disengaja yang mengakibatkan cidera fisik atau tekanan mental (Carpenito, 2009). Campbell dan Humphrey mendefinisikan kekerasan anak sebagai berikut “setiap tindakan yang mencelakakan atau dapat mencelakakan kesehatan dan kesejahteraan anak yang dilakukan oleh orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak tersebut” (Yani, S.A. 2008).

Kekerasan fisik terhadap anak merupakan kekerasan yang kemungkinan besar terjadi. Termasuk dalam kekerasan fisik adalah ketika seseorang menggunakan anggota tubuhnya atau obyek yang bisa membahayakan seorang anak atau mengontrol kegiatan/tindakan anak. Kekerasan fisik dapat berupa mendorong, menarik rambut, menendang, menggigit, menonjok, membakar, melukai dengan benda, dan jenis kekerasan fisik lain termasuk membunuh.

Kekerasan terhadap anak juga dapat dipandang dari sisi perlindungan anak.

UNICEF (2014) mendefiniskan „perlindungan anak‟ sebagai cara yang terukur untuk mencegah dan memerangi kekerasan, eksploitasi, memperlakukan tidak semestinya terhadap anak termasuk eksploitasi seksual untuk tujuan komersial, perdagangan anak, pekerja anak dan tradisi yang membahayakan anak seperti sunat perempuan dan perkawinan anak.

(27)

Jenis kekerasan terhadap anak berikutnya adalah kekerasan seksual dan psikis. Kekerasan seksual terhadap anak mencakup beberapa hal seperti menyentuh anak yang bermodus seksual, memaksa hubungan seksual, memaksa anak untuk melakukan tindakan secara seksual, memperlihatkan bagian tubuh untuk dipertontonkan, prostitusi dan eksploitasi seksual, dan lain-lain.

Selanjutnya kekerasan psikis terjadi ketika seseorang menggunakan ancaman dan menakut-nakuti seorang anak termasuk mengisolasi dari keluarga dan teman. Kekerasan yang juga sangat dekat dengan kekerasan psikis adalah kekerasan emosional melalui perkataan atau perbuatan yang membuat anak merasa bodoh atau tak berharga. Kekerasan emosional mencakup antara lain mengkritik terus menerus, menyalahkan semua masalah keluarga kepada anak, memalukan anak di depan orang lain, intimidasi, dan lain-lain.

Beberapa teori tentang penyebab tindak kekerasan terhadap perempuan diambil dari literatur tentang agresi dan kekerasan umum. Baik penelitian tentang kekerasan umum maupun kekerasan terhadap perempuan menunjukkan bahwa kekerasan timbul dari interaksi antara faktor sosial dan psikososial individu dan proses sosial (misalnya Reiss dan Roth, 1993). Tetapi yang jelas bahwa faktor penyebab terjadinya kekerasan bisa sangat kompleks. Hosking (2005) menyebutkan bahwa secara umum penyebab terjadinya tindak kekerasan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor individu dan faktor sosial. Faktor individu berkaitan erat dengan kecendrungan individu untuk berbuat kekerasan.

Sementara itu, faktor sosial merupakan kondisi lingkungan yang mendorong seseorang berbuat kekerasan.

(28)

M. Marwan dan Jimmy (2009) menyatakan bahwa kekerasan adalah hal yang bersifat atau berciri keras yang menyebabkan cidera atau matinya orang lain kerusakan fisik, atau barang atau paksaan. Menurut Ricard J. Gelles (Hurairah, 2012), kekerasan terhadap anak merupakan perbuatan disengaja yang menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak (baik secara fisik maupun emosional). Kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk perlakuan baik secara fisik maupun psikis yang berakibat penderitaan terhadap anak.

Menurut T.R Gurr, kekerasan yang terjadi di masyarakat sangat dipengaruhi oleh ideologi. Kekerasan yang sangat besar pengaruhnya mungkin saja hanya dilakukan oleh sekelompok kecil orang yang memiliki ideologi berbeda. Perbedaan ideology antarkelompok kecil dalam masyarakat dapat memunculkan kekerasan, apabila tidak ada media atau wahana yang digunakan untuk menyalurkan peran sertanya dalam kelompok yang lebih luas.

2.1.2 Bentuk-Bentuk Kekerasan

Mencermati pendapat dari para ahli mengenai istilah-istilah yang dipakai untuk menyatakan bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan nampaknya belum ada kesamaan istilah, ada yang memakai bentuk-bentuk, ada yang memakai jenis-jenis. Dalam kaitan itu penulis condong memakai bentuk-bentuk sesuai dalam U U No. 23 Tahun 2004.

a) Kekerasan langsung (direct violent) adalah suatu bentuk kekerasan yang dilakukan secara langsung terhadap pihak-pihak yang ingin dicederai atau dilukai.

(29)

b) Kekerasan tidak langsung (indirect violent) adalah suatu bentuk kekerasan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain melalui sarana. Bentuk kekerasan ini cenderung ada pada tindakan-tindakan, seperti mengekang, meniadakan atau mengurangi hak-hak seseorang, mengintimidasi, memfitnah, dan perbuatan-perbuatan lainnya. Misalnya terror bom yang dilakukan oleh para teroris untuk mengintimidasi pemerintah supaya lebih waspada akan bahaya yang dilakukan oleh pihak asing terhadap negara kita. Sehubungan dengan tindak kekerasan yang telah dilakukan oleh anggota masyarakat yang satu terhadap anggota masyarakat yang lain, pada dasarnya di dalam diri manusia terdapat dua jenis agresi (upaya bertahan), yaitu sebagai berikut.

a. Desakan untuk melawan yang telah terprogram secara filogenetik sewaktu kepentingan hayatinya terancam. Hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan hidup individu yang bersifat adaptif biologis dan hanya muncul apabila ada niat jahat. Misalnya si A melakukan pencurian karena adanya desakan kebutuhan ekonomi, seperti makan.

b. Agresi jahat melawan kekejaman, kekerasan, dan kedestruktifan ini merupakan ciri manusia, di mana agresi tidak terprogram secara filogenetik dan tidak bersifat adaptif biologis, tidak memiliki tujuan, serta muncul begitu saja karena dorongan nafsu belaka.

Misalnya aksi kerusuhan yang dilakukan oleh para suporter sepak bola.

(30)

Berkaitan dengan bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak, Sukerti dalam laporan penelitiannya mengatakan sebagai berikut:

1. Kekerasan fisik.

Contoh: dipukul dengan tangan, dipukul de- ngan sendok, ditentang, dicekik, dijambak, dicukur paksa, kepala di- benturkan ke tembok;

2. Kekerasan psikologis.

Contoh: diancam, di- sumpah, pendapat korban tidak pernah dihagai, dilarang bergaul, tidak pernah diajak timabang pendapat, direndahkan dengan mengucapkan kata- kata yang sifatnya merendahkan posisi perempuan;

3. Kekerasan ekonomi.

Contoh: membebankan biaya rumah tangga sepenuhnya kepada per- empuan (perempuan yang bekerja secara formal) atau tidak memberikan pemenuhan finansial kepada perempuan, jadi menelantarkan rumah tangga. Kekerasan terhadap perempuan yang biasa dilangsir oleh media, biasanya berbentuk penyajian isu, berita yang dibingkai menggunakan bahasa. Bahasa ternyata dipakai untuk memahami simbol-simbol yang dapat memberikan kejelasan mengenai makna opini dan sikap atas sesuatu hal. Rakhmat (2001) menyebutkan bahwa bahasa mampu melahirkan multi interpretasi dan pemaknaan bersifat denotative maupun konotatif yang dapat mem- pengaruhi perkembangan isu tertentu.

(31)

2.2 Pengertian Sosial ekonomi

Sosial ekonomi adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompok masyarakat yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi, pendidikan serta pendapatan. Dalam pembahasannya sosial dan ekonomi sering menjadi objek pembahasan yang berbeda. Dalam konsep sosiologi manusia sering disebut dengan makhluk sosial yang artinya manusia tidak dapat hidup wajar tanpa adanya bantuan dari orang lain, sehingga arti sosial sering diartikan sebagai hal yang berkanaan dengan masyarakat.

Kondisi sosial ekonomi adalah suatu kedudukan yang diatur secara sosial dan menempatkan seseorang pada posisi tertentu dalam masyarakat. Batasan tentang kondisi sosial ekonomi yaitu merupakan suatu kedudukan yang diatur secara sosial dan menempatkan seseorang pada posisi tertentu dalam sosial masyarakat. Pemberian posisi disertai pula dengan seperangkat hak dan kewajiban yang harus dimainkan oleh si pembawa status. Kondisi sosial ekonomi masyarakat ditandai adanya saling kenal mengenal antar satu dengan yang lain, paguyuban, sifat kegotong-royongan dan kekeluargaan. Kehidupan sosial masyarakat terdiri dari interaksi sosial, nilai sosial, dan tingkat pendidikan.

keadaan sosial ekonomi adalah suatu kedudukan yang secara rasional dan menetapkan seseorang pada posisi tertentu dalam masyarakat, pemberian posisi itu disertai pula dengan seperangkat hak dan kewajiban yang harus dimainkan oleh si pembawa status.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat dinyatakan bahwa kondisi sosial ekonomi adalah posisi individu dan kelompok yang berkenaan dengan

(32)

ukuran rata-rata yang berlaku umum tentang pendidikan, pemilikan barang- barang, dan patisipasi dalam aktivitas kelompok dari komunitasnya, sedangkan kondisi sosial ekonomi kaitanya dengan status sosial ekonomi itu sendiri dengan kebiasaan hidup sehari-hari individu atau kelompok (Basrowi, 2010).

2.3 Faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi kekerasan perempuan dan anak

2.3.1 Pendidikan

Crow (dalam Supriyatno, 2001) mengatakan bahwa pendidikan diinterpretasikan dengan makna untuk mempertahankan individu dengan kebutuhan-kebutuhan yang senantiasa bertambah dan merupakan suatu harapan untuk dapat mengembangkan diri agar berhasil serta untuk memperluas, mengintensifkan ilmu pengetahuan dan memahami elemen-elemen yang ada disekitarnya.Pendidikan juga mencakup segala perubahan yang terjadi sebagai akibat dari partisipasi individu dalam pengalaman-pengalaman dan belajar.

Pendidikan merupakan pengaruh lingkungan terhadap individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap dalam kebiasaan perilaku, pikiran dan sikapnya (Thompson, 1993).Sedangkan Darnelawati (1994) berpendapat bahwa pendidikan formal adalah pendidikan di sekolah yang berlangsung secara teratur dan bertingkat mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat.Tujuan pendidik adalah untuk memperkaya budi pekerti, pengetahuan dan untuk menyiapkan seseorang agar mampu dan trampil dalam suatu bidang pekerjaan tertentu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), pendidikan diartikan

(33)

pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik.

Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.

2.3.2 Pengangguran Terbuka

Menurut Sadono Sukirno pengangguran terbuka adalah suatu keadaan dimana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja yang ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum memperolehnya. Seseorang yang tidak bekerja, tetapi tidak secara aktif mencari pekerjaan tidak tergolong sebagai penganggur. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka yaitu perbandingan antara jumlah penganggur atau pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja dalam kurun waktu tertentu yang disebutkan dalam bentuk presentasi. Pengangguran terbuka adalah masalah makro ekonomi yang mempengaruhi manusia secara langsung dan merupakan masalah yang paling berat yang terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan pada pasar tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja yang ditawarkan melebihi jumlah tenaga kerja yang diminta yang akan menyebabkan penurunan standar kehidupan dan tekanan psikologis dan psikis seseorang. Hal tersebut terjadi karena laju pertumbuhan penduduk (angkatan kerja) jauh lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan lapangan kerjanya, sehingga angkatan kerja yang ada tidak semua terserap dalam lapangan kerja.

2.3.3 Kemiskinan

Menurut Suparlan (2004) kemiskinan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang rendah ini secara

(34)

langsung nampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moral dan rasa harga diri mereka yang tergolong sebagai orang miskin.

Defenisi tentang kemiskinan telah mengalami perluasan, seiring dengan semakin kompleksnya faktor penyebab, indikator maupun permasalahan lain yang melingkupinya. Kemiskinan tidak lagi hanya dianggap sebagai dimensi ekonomi melainkan telah meluas hingga kedimensi sosial, kesehatan, pendidikan dan politik. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kemiskinan adalah ketidakmampuan memenuhi standar minimum kebutuhan dasar yang meliputi kebutuhan makan maupun non makan.

Membandingkan tingkat konsumsi penduduk dengan garis kemiskinan atau jumlah rupiah untuk konsumsi orang perbulan. Definisi menurut UNDP dalam Cahyat (2004), adalah ketidakmampuan untuk memperluas pilihan-pilihan hidup, antara lain dengan memasukkan penilaian tidak adanya partisipasi dalam pengambilan kebijakan public sebagai salah satu indikator kemiskinan.

Terjadinya kemiskinan penduduk secara garis besar disebabkan oleh faktor ekternal dan internal penduduk. Kemiskinan dilihat dari penyebabnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: Kemiskinan absolut dan Kemiskinan struktural.

Kemiskinan absolut yaitu kemiskinan yang disebabkan faktor internal penduduk sendiri.Misalkan disebabkan tingkat pendidikan rendah, ketrampilan rendah, budaya dan sebagainya.Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor eksternal sehingga kemampuan akses sumberdaya ekonomi rendah, pada gilirannya pendapatan penduduk menjadi rendah.

(35)

2.4 Hubungan antar variabel

2.4.1 Hubungan Pendidikan dengan Kemiskinan

Teori pertumbuhan baru menekankan pentingnya peranan pemerintah terutama dalam meningkatkan pembangunan modal manusia (human capital) dan mendorong penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan produktivitas manusia. Kenyataannya dapat dilihat dengan melakukan investasi pendidikan akan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang diperlihatkan dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka pengetahuan dan keahlian juga akan 60 meningkat sehingga akan mendorong peningkatan produktivitas kerjanya.

Perusahaan akan memperoleh hasil yang lebih banyak dengan memperkerjakan tenaga kerja dengan produktivitas yang tinggi, sehingga perusahaan juga akan bersedia memberikan gaji yang lebih tinggi bagi yang bersangkutan. Di sektor informal seperti pertanian, peningkatan ketrampilan dan keahlian tenaga kerja akan mampu meningkatkan hasil pertanian, karena tenaga kerja yang terampil mampu bekerja lebih efisien. Pada akhirnya seseorang yang memiliki produktivitas yang tinggi akan memperoleh kesejahteraan yang lebih baik, yang diperlihatkan melalui peningkatan pendapatan maupun konsumsinya. Rendahnya produktivitas kaum miskin dapat disebabkan oleh rendahnya akses mereka untuk memperoleh pendidikan (Rasidin K dan Bonar M, 2004).

Keterkaitan kemiskinan dan pendidikan sangat besar karena pendidikan memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu dan keterampilan. Pendidikan juga menanamkan kesadaran akan pentingnya martabat

(36)

manusia. Mendidik dan memberikan pengetahuan berarti menggapai masa depan.

Hal tersebut harusnya menjadi semangat untuk terus melakukan upaya mencerdaskan bangsa (Criswardani Suryawati, 2005).

Menurut Simmons (dikutip dari Todaro, 1994), pendidikan di banyak negara merupakan cara untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan. Dimana digambarkan dengan seorang miskin yang mengharapkan pekerjaaan baik serta penghasilan yang tinggi maka harus mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi.

Tetapi pendidikan tinggi hanya mampu dicapai oleh orang kaya. Sedangkan orang miskin tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai pendidikan hingga ke tingkat yang lebih tinggi seperti sekolah lanjutan dan universitas. Sehingga tingkat pendidikan sangat berpengaruh dalam mengatasi masalah kemiskinan.

2.4.2 Hubunga Antara Pengangguran Terbuka Dengan Kemiskinan

Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya.

Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah- masalah sosial lainnya. Masalah ketenagakerjaan di Indonesia sekarang ini sudah mencapai kondisi yang cukup memprihatinkan ditandai dengan jumlah penganggur dan setengah penganggur yang besar, pendapatan yang relatif rendah dan kurang merata. Sebaliknya pengangguran dan setengah pengangguran yang tinggi merupakan pemborosan terhadap sumber daya dan potensi yang ada, menjadi beban keluarga dan masyarakat, sumber utama kemiskinan, dapat mendorong

(37)

peningkatan keresahan sosial dan kriminal, dan dapat menghambat pembangunan dalam jangka panjang.

Menurut Sadono Sukirno (2004), efek buruk dari pengangguran adalah mengurangi pendapatan masyarakat yang pada akhirnya mengurangi tingkat kemakmuran yang telah dicapai seseorang. Semakin turunnya kesejahteraan masyarakat karena menganggur tentunya akan meningkatkan peluang mereka terjebak dalam kemiskinan karena tidak memiliki pendapatan. Apabila pengangguran di suatu negara sangat buruk, kekacauan politik dan sosial selalu berlaku dan menimbulkan efek yang buruk bagi kepada kesejahteraan masyarakat dan prospek pembangunan ekonomi dalam jangka panjang.

Dengan adanya tingkat pengganguran yang makin banyak dikalangan masyarakat kita menyebabkan masyarakat kita makin mengalami keterpurukan, yang mana tingkat pendapat mereka yang makin rendah sehingga guna memenuhi kebutuhan hidupnya pun memerlukan usaha untuk bekerja keras guna mendapatkan uang serta pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Banyak masyarakat yang menjadi semakin miskin dan bagi masyarakat yang kaya juga semakin kaya, hal ini disebabkan karena masyarakat yang kaya tadi merupakan salah satu pembuatan produksi barang yang mana jika terjadi kenaikan konsumen dalam rangka meningkatkan permintaannya maka produsen akan memeperbesar tingkat produksinya sehingga didapatkan laba yang lebih banyak.

(38)

2.4.3 Hubungan Kemiskinan dengan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Hubungan erat antara pengganguran dan juga kemiskinan maka akan terdapat pula hubungan penganguran dan kemiskinan tadi terhadap perekonomian makro di Negara, dengan adanya pengganguran yang makin meningkat menyebabkan kemiskinan yang ada di Negara juga akan meningkat, sehingga masyarakat akan mengalami kemunduran kesejahteraan. Dengan adanya pengganguran dan juga kemiskinan menyebabkan perekonomian makro semakin terpuruk, karena dalam perekonomian makro membahas mengenai bagaimana terjadinya interaksi antara suatu permasalahan serta bagaimana hubungan interaksi antara permasalahan-permasalahan tersebut, sehingga nantinya dapat dilakukan upaya untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang ada agar didapat peningkatan perekonomian makro.

Masalah keuangan seringkali mendorong timbulnya stress. Aspek keuangan dapat berupa tingkat penghasilan keluarga yang rendah dan di hadapkan pada tuntutan kebutuhan yang tinggi (Munawati, 2011).Status ekonomi sangat berpengaruh pada perkembangan hubungan orang tua dengan anak.Penelitian yang dilakukan Nugroho Akbar (2009)menyebutkan bahwa incomeyang diperoleh berpengaruh terhadap tingkat perilaku seseorang.

Seseorang dengan penghasilan yang rendah memiliki tingkat perilaku yang lebih tinggi dalam melakukan kekerasan kepada anak atau istri dibandingkan dengan seorang yang memiliki penghasilan tinggi.

(39)

Pertama,kemiskinan ekonomi yang terjadi karena factor pribadi. Tidak

semua orang menjadi miskin,walaupun mereka berada di daerah yang sama dan kondisi lingkungan sekitar memiliki tingkat kesuburan yang rendah.Pertanyaan yang bias muncul mengapa orang yang berada di dalam daerah yang sama nota bene tingkat kesuburan tanahnya tinggi ada orang yang kaya dan ada juga orang yang miskin.Dalam hal ini dapat kita lihat bahwa kemiskinan yang terjadi karena factor kemalasan yang melekat dalam diri seseorang. Bahwa sesungguhnya alam telah menyediakan berbagai kekayaan tetapi mereka tidak kreatif dan produktif untu mengolah alam tersebut.

Kedua,kemiskinan ekonomi karena factor kebijakan ekonomi makro.

Terjadinya kemiskinan ekonomi di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah banyak diakibatkan oleh kebijakan ekonomi yang diambil oleh penguasa dan pengusaha.Mereka membuat kebijakan tertentu dalam bidang ekonomi tanpa memperhatikan akibat negatifnya bagi masyarakat.Kebijakan ekonomi makro yang selalu menguntungkan pihak korporasi atau pemilik moral melahirkan masalah pada kaum buruh.

Sehingga kemiskinan dan ketidakmapanan keluarga secara structural memecah kemiskinan dapat menimbulkan kekerasan seksual terhadap perempuan.

Masalah kemiskinan ekonomi yang menjamur dapat juga menimbulkan desatbilitas emosional dalam keluraga. Seorang suami yang terbatas pendapatannya terpaksa bekerja lembur untuk memperoleh tambahan pendapatan.

Suami semacam ini pulang dengan badan lemah dan lelah karena bekerja, sementara istri mengalami kelemahan emosional karena menghadapi keluarga

(40)

yang serba kekurangan. Dalam situasi seperti ini rentan sekali terjadinya kekerasan seksual.

2.4.4 Hubungan antara Pendidikan dengan Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak

Lochner (2007) juga berargumen bahwa semakin rendahnya tingkatpendidikan seseorang (lulusan SD dan SMP) dapat disimpulkan bahwa ketrampilan yang dimilikinya juga lebih rendah dibandingkan dengan para lulusan sekolah menengah hingga universitas, dan waktu luang yang dimiliki oleh lulusan SD hingga SMP akan lebih banyak dibandingkan lulusan SMA hingga universitas. Sehingga ketersediaan waktu luang yang berlebih itu bisa menjadi peluang bagi mereka untuk melakukan tindak kriminalitas.

Analisis yang dilakukan oleh Ehrlich (1973) dalam Oliver (2002) pendidikan merupakan hal yang penting bagi penduduk suatu negara, karena pendidikan membantu untuk menentukan manfaat yang akan diharapkan baik dari kegiatan legal maupun illegal. Sejauh ini bahwa pendidikan membuat individu lebih menghindari resiko, hal ini akan cenderung untuk mencegah kejahatan.

2.4.5 Hubungan Antara Pengangguran Terbuka dengan Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak

Orang yang menganggur dan tidak berpenghasilan berarti tidak memiliki ekspektasi keuntungan dari pekerjaan legal. Karena itulah kecendurungan melakukan kejahatan orang yang menganggur lebih besar dibandingkan dengan orang yang bekerja. Sehingga pengangguran secara teori memiliki hubungan

(41)

positif dengan kejahatan properti. Ini dibuktikan oleh 63 penelitian pada tahun 1970-an di Amerika. Kemudian Chiricos (1987) membuktikan pula bahwa analisis data tersebut konsisten menunjukkan hubungan positif dan signifikan.

Tauchen dan Witte (1994) (dalam Groot dan Brink, 2007) menemukan bahwa kaum muda yang bekerja dengan upah atau pergi ke sekolah adalah kecil kemungkinan untuk melakukan tindak kriminal. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Melick (2003) disebutkan bahwa secara historis terdapat dua pemikiran umum yang utama mengenai hubungan antara pengangguran dengan kejahatan. Pemikiran pertama berfokus pada “supply of offenders” dan pemikiran yang kedua berfokus pada “supply of victims”. Salah satu gagasan dasarnya adalah individu dalam rangka untuk mempertahankan standar hidup tertentu, maka selama dia menjadi pengangguran akan menjadi lebih mungkin untuk melakukan tindak pidana.

Levitt (1997) menemukan hubungan yang positif antara pengangguran dan kejahatan properti, termasuk pencurian, bahkan setelah dimasukkannya waktu dan area dalam dummy variabel. Tetapi ia juga melaporkan hubungan negatif antara pengangguran dan kejahatan kekerasan dalam beberapa kasus. Dalam sebuah studi menggunakan time series data state, ia menemukan hubungan yang kuat antara pengangguran dan kejahatan properti untuk keduanya yaitu remaja maupun orang dewasa, tetapi menemukan sedikit link antara pengangguran dan kejahatan kekerasan.

(42)

2.5 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian Siti Marwiyah

(2015)

Dampak Sosial Ekonomi Terhadap Tindakan Kekerasan Dalam RumahTangga

Tindakan kekerasan dalam rumah bisa terjadi pada rumah tangga sosial ekonomi rendah maupun rumah tangga sosial ekonomi tinggi.

Saeno FIitrianingsih (2016)

Faktor Penyebab Tindakan Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Rumah Tangga (Studi Kasus di Kota Bandar Lampung).

Karakteristik dari tindakan kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga pelakunya adalah pasangannya sendiriyakni sangsuami, pekerjaannyamerupakan polisi, buruh dan tidak bekerja.

Dewi Indah Susanty dan Nur Julqurniati (2019)

Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Rumah Tangga Di Flores Timur

Hasil pengkajian menunjukkan bentuk KTP dalam rumah tangga yang terjadi pada masyarakat ada 2 yaitu kekerasan fisik dan penelantaran rumah tangga.

Hasyim Hasanah (2013)

Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan Dalam Rumah Tangga Persprektif Pemberitaan Media

Secara kualitatif, proses konstruksi realitas sosial kekerasan ini mempengaruhi opini publik khususnya di kalangan keluarga, masyarakat, elit maupun akademisi untuk segera memberikan informasi penanggulangan kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Syurfi (2009)

Perspektif Sosiologis Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan Di Dalam Rumah Tangga.

Kekerasan yang terjadi terhadap perempuan utamanya terhadap istri dalam lingkungan rumah tangga dianggap wajar dan merupakan masalah intern.

Sumber: Data Hasil Olahan Peneliti

(43)

2.6 Kerangka Pemikiran Penelitian

Kerangka pemikiran adalah suatu diagram yang menjelaskan secara garis besar alur logika berjalannya sebuah penelitian. Kerangka pemikiran dibuat berdasarkan pertanyaan penelitian (research question), dan merepresentasikan suatu himpunan dari beberapa konsep serta hubungan diantara konsep-konsep tersebut (Polancik, 2009).

Berdasarkan landasan teori yang telah dipaparkan, maka Kerangka Pemikiran ini dapat di gambarkan sebagai berikut

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Pengaruh X1 dan X2 terhadap Y

Pengaruh X1, X2 dan Y terhadap Z

Pengaruh X1 dan X2 melalui Y terhadap Z

Pendidikan (X1)

Pengangguran Terbuka

(X2)

Kemiskinan (Y)

Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Sumatera

Utara (Z)

(44)

2.7 Hipotesis Penelitian

Adapun hipotesis dalam penelitan ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel Pendidikan berpengaruh negatif terhadap kemiskinan di Sumatera Utara

2. Variabel Pendidikan berpengaruh negatif terhadap kekerasan perempuan dan anak di Sumatera Utara

3. Variabel Pengangguran terbuka berpengaruh positif terhadap kemiskinan di Sumatera Utara

4. Variabel Pengangguran terbuka berpengaruh positif terhadap kekerasan perempuan dan anak di Sumatera Utara

5. Pengaruh langsung variabel pendidikan terhadap kekerasan perempuan dan anak lebih besar dari pengaruh tidak langsung variabel pendidikan terhadap kekerasan perempuan dan anak melalui kemiskinan di Sumatera Utara

6. Pengaruh tidak langsung variabel pengangguran terbuka terhadap kekerasan perempuan dan anak melalui kemiskinanlebih besar dari pengaruh langsung variabel pengangguran terbuka terhadap kekerasan perempuan dan anak di Sumatera Utara

(45)

penelitian yang dilakukan dan memiliki langkah-langkah yang sistematis agar tercapai tujuan penelitian yang diinginkan sesuai dengan prosedur dan teknik penelitian. Menurut Kasmadi (2013) teknik merupakan cara yang digunakan dan bersifat implementatif dan berujung pada tujuan akhir yang berhasil guna (efektifitas) dan berdaya guna (efisien).

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, dimana penelitian ini merupakan suatu pendekatan penelitian yang bersifat objektif mencakup pengumpulan dan analisis data kuantitatif menggunakan metode pengujian statistik (Hermawan, 2017: 7).

3.2 Ruang Lingkup Penelitian

Dalam penelitian ini, penelitian menggunakan data kuantitatif. Dimana data kuantitatif adalah data yang bersifat numerik atau angka. Jenis data yang di gunakan adalah time series dengan kurun waktu 2016-2019. Penelitian dilakukan di Sumatera Utara dalam runtun waktu empat tahun.

3.3 Jenis Variabel Penelitian

Menurut Sugiyono (2013: 59) variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat seseorang, atau obyek, yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain untuk ditetapkan oleh peneliti dan ditarik kesimpulannya.

(46)

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tingkat pendidika (X1), tingkat pengangguran terbuka (X2) sebagai variabel bebas. Variabel interpending dalam penelitian ini adalah kemiskinan (Y). Dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sumatera Utara (Z).

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Data merupakan kumpulan fakta atau angka atau segala sesuatu yang dapat dipercaya kebenarannya sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk menarik suatu kesimpulan (Siregar, 2013:16). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui penelitian terdahulu yang dilakukan oleh pihak lain yang sudah diolah secara berkala (time series) untuk melihat perkembangan objek penelitian selama periode waktu tertentu. Sehingga pengambilan data bukan dari hasil tinjauan langsung ke lapangan atau area penelitian. Pengumpulan data diperoleh dari lembaga-lembaga resmi terkait.

Data Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak diperoleh dari Dinas PPA Provinsi Sumatera Utara, digunakan untuk mengetahui jumlah atau besaran kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sumatera Utara. Data kemiskinan diperoleh dari Badan Pusat Statistika (BPS), digunakan untuk melihat tingkat kemiskinan di Sumatera Utara. Data Pendidikan diperoleh dari Badan Pusat Statistika (BPS), digunakan untuk melihat tingkat pendidikan di Sumatera Utara. Data Pengangguran diperoleh dari BPS, digunakan untuk melihat tingkat pengangguran di Sumatera Utara. Serta diperoleh dari buku-buku, jurnal, catatan-catatan, internet, dan sumber-

(47)

3.5 Definisi Oprasional

Berdasarkan dari permasalah dalam penelitan ini, maka definisi oprasional variabel dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Pendidikan adalah Menyatakan waktu yang ditempuh dalam menyelesaikan pendidikan atau tahun sukses pendidikan, diukur dalam satuan tahun.

2. Pengangguran terbuka ialah penduduk yang tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan, diukur dengan satuan persen.

3. Kemiskinan ialah dimana suatu kondisi masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, diukur dengan satuan persen.

4. Kekerasan terhadap perempuan dan anak ialah bentuk tindakan yang

dilakukan terhadap pihak lain, baik yang dilakukan oleh perorangan maupun lebih dari seorang, yang dapat mengakibatkan penderitaan pada pihak lain, diukur dalam satuan jiwa.

3.6 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis jalur (path analysis) dengan menggunakan program Statistical Package for Social Sciences (SPSS).

Menurut Ghozali (2013) menyatakan bahwa untuk menguji pengaruh intervening digunakan metode analisis jalur (path analysis). Analisis jalur merupakan perluasan dari analisis regresi linier berganda, atau analisis jalur adalah penggunaan

(48)

yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan teori. Analisis jalur sendiri tidak dapat menentukan hubungan sebab-akibat dan juga tidak digunakan sebagai substitusi bagi peneliti untuk melihat hubungan kausalitas antar variabel. Hubungan kausalitas antar variabel telah dibentuk dengan model berlandaskan teoritis. Apa yang dapat dilakukan oleh analisis jalur adalah menentukan pola hubungan antara tiga atau lebih variabel dan tidak dapat digunakan untuk mengkonfirmasi atau menolak hipotesis kausalitas imajiner.

Untuk menambah jumlah observasi akibat keterbatasan data maka peneliti melalukan interpolasi data. Menurut Insukindro (1990) Interpolasi data merupakan metode pemecahan data menjadi data triwulan, kuartalan, atau pun bulanan dimana data setahun dibagi menjadi empat data dalam bentuk kuartalan dan seterusnya. Cara menginterpolasi data sebagai berikut: Pertama, bahwa laju data tahunan yang diamati dianggap didistribusikan merata setiap bulan. Kedua, bahwa jumlah data bulanan hasil dari turunan pada satu tahun sama dengan data tahunan dari tahun yang bersangkutan. Dengan dasar anggapan tersebut , penurunan data bulanan dari data tahunan dapat diperoleh dengan rumus berikut :

yit = 1/12 (Yt + (Yt- Yt-1)), i =1, 2…12 (1)

dimana Yit merupakan data pada bulan ke i dari tahun t, adalah data pada tahun ke t dan Yt-1 merupakan data pada tahun sebelumnya .

Selanjutnya dari persamaan (1 ) dapat diperoleh cara untuk menurunkan data bulanan sebagai berikut:

(49)

Y1t= 1/12 (Yt+ 5,5/12 (Yt- Yt-1)) Y2t= 1/12 (Yt+ 4,5/12 (Yt- Yt-1))

…dst (2)

Y12t= 1/12 (Yt + 5,5/12 (Yt- Yt-1))

di mana Y1t, Y2t ….Y12t merupakan data pada bulan ke 1 , 2 , 3 . . . dan ke 12 dari tahun t.

Dari persamaan (2 ) dapat diketahui bahwa : Y2t-1t = Y3t- Y2t dan seterusnya , atau secara umum dapat ditulis sebagai berikut :

Yit – Y(i-1)t = 1/44 (Yt- Yt-1) (3)

Di samping itu dapat pula ditunjukkan bahwa Y1t + Y2t + …. Y12t sama dengan Yt atau,

= Yt (4)

3.6.1 Diagram Jalur dan Persamaan Struktural

Dalam analisis jalur sebelum peneliti melakukan analisis suatu penelitian, peneliti membuat diagram jalur yang digunakan untuk mempresentasikan permasalahan dalam bentuk gambar dan menentukan persamaan struktural yang menyatakan hubungan antar variabel pada diagram jalur tersebut. Juliansyah Noor (2014:81) menyatakan bahwa: “Diagram jalur dapat digunakan untuk menghitung pengaruh langsung dan tidak langsung dari variabel Independen terhadap suatu variabel dependen. Pengaruh-pengaruh itu tercermin dalam apa yang disebut dengan koefisien jalur, dimana secara matematik analisis jalur mengikuti mode struktural”.

(50)

a. Diagram Jalur

Langkah pertama dalam analisis jalur adalah merancang diagram jalur sesuai dengan hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian. Diagram jalur adalah alat untuk melukiskan secara grafis, sturktur hubungan kausalitas antar variabel independen, intervening dan dependen. Model diagram jalur dibuat berdasarkan variabel yang diteliti, dalam penelitian ini variabel yang diteliti adalah Tingkat pendidikan (X1), Pengangguran Terbuka (X2), Kemiskinan (Y) dan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (Z). Berikut model analisis jalur dalam penelitian dapat dilihat pada gambar 3.1

ρ𝑦x1

ρ𝑦z

ρ𝑦x2

ρzx2

Gambar 3.1

Diagram Jalur

Tingkat Pendidikan

(X1)

Tingkat Pengangguran

Terbuka (X2)

Kemiskinan (Y)

Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Sumatera Utara

(Z)

(51)

 Pengaruh X1 dan X2 terhadap Y

 Pengaruh X1, X2 dan Y terhadap Z

 Pengaruh X1 dan X2 melalui Y terhadap Z

b. Persamaan Struktural

Menurut Juliansyah Noor (2014:84) persamaan struktural adalah: “Persamaan struktural adalah persamaan yang menyatakan hubungan antarvariabel pada diagram jalur yang ada”. Berdasarkan diagram jalur pada Gambar 3.2 di atas, dapat diformulasikan ke dalam bentuk persamaan struktural.

 Persamaan jalur substruktur 1:

ρ ρyx1

ρyx2

Y = 𝑌𝑋1 𝑋1 + 𝑌𝑋2 𝑋2 Gambar 3.2

Sub Struktur Pertama : Diagram Jalur X1 dan X2 terhadap Y

Pendidikan (X1)

Pengangguran Terbuka

(X2)

Kemiskinan

(Y)

Gambar

Tabel 2.1               Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1  Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

Dari fakta di atas maka UNG mengambil peran melalui Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat dalam rangka menekan angka stunting di Kabupaten Pohuwato Kecamatan Popayato

Berdasarkan data dari hasil penelitian yang telah peneliti lakukan di TK Sani Ashila Pertama, tahap-tahap pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler tari tradisional di TK Sani

Berawal dari selalu adanya komunikator dan juga komunikan dalam suatu komunikasi interpersonal yang terjadi dalam organisasi, kemudian pada pembahasan kali ini peneliti

Di Kelantan, beberapa kajian etnobotani yang telah dijalankan adalah dalam kalangan kaum Melayu, masih banyak pengetahuan tradisional Orang Asli dan penggunaan tumbuhan

Harga terbentuk melalui mekanisme pasar dan hasil interaksi antara penawaran dan permintaan sehingga penjual dan pembeli di pasar ini tidak dapat memengaruhi harga dan

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melalukan penelitian mengenai aktivitas toksisitas dari ekstrak etanol daun kapas menggunakan metode Brine Shrimp

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa jumlah rataan indeks mitosis venereal sarcoma pada keseluruhan sampel anjing lokal di Denpasar, sebesar

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul Efektifitas Ekstrak Etanol Purwoceng (Pimpinella alpina) Terhadap Pertambahan Bobot Badan Tikus Betina Bunting Pada