• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMBESARAN IKAN BANDENG (Chanos chanos)

DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA

2020

(2)

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMBESARAN IKAN BANDENG (Chanos chanos)

I. Tujuan

Sebagai acuan pembudidaya dalam melakukan pembesaran ikan bandeng ukuran konsumsi.

II. Diagram Prosedur

III. Prosedur Kerja 3.1 Persiapan tambak

a Konstruksi dan sarana tambak

▪ Pengkedapan pematang tambak agar tidak bocor.

▪ Perbaikan sistem pintu pemasukan dan pembuangan air

▪ Penataan dasar petakan dan saluran/caren.

▪ Pemasangan dan perbaikan sarana dan prasarana lapang lainnya.

b Pengolahan tanah dasar

▪ Pengurasan air dengan cara mengeluarkan air dari tambak dengan membuka pintu pengeluaran dan menutup pintu pemasukan dan atau menggunakan pompa air apabila air dalam petakan tidak tuntas.

▪ Pengupasan dengan cara mengangkat endapan lumpur ke permukaan pematang dengan tujuan membuang kandungan bahan organik dan gas-gas beracun seperti asam sulfida.

Persiapan lahan

Pemilihan benih Penebaran benih

Sampling pertumbuhan dan SR

Monitoring kesehatan Pemberian pakan Monitoring kualitas air media

Perbaikan kualitas air media

Panen dan pasca panen

(3)

▪ Pengeringan hingga tanah dasar tambak retak retak atau kandungan air tanah tambak antara 20-30%, dan dibiarkan antara 7-12 hari untuk membantu mikroba melakukan penguraian bahan organik. Apabila persiapan tanah dasar pada musim hujan maka dapat dilakukan dengan cara pencucian berulang-ulang (3 kali).

▪ Pengapuran dengan penambahan kapur pada tanah dasar tambak bila pH < 7 dengan dosis kapur (CaCO3) antara 1.000-1.500 kg/hektar .

▪ Pengukuran parameter kualitas tanah lainnya, seperti pH tanah > 6 dan bahan organik 12-15% (Tabel 1).

▪ Perlakuan khusus untuk tanah pirit : dilakukan pencucian dan pengurasan berulang-ulang dan pemberian pupuk organik pada saat tanah masih basah, kemudian pemberian kapur antara 1.500 -3.000 kg/hektar hingga mencapai pH di atas 6,0.

▪ Persiapan wadah/tambak yang optimal tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Kisaran parameter kualitas tanah dasar tambak yang optimal pada saat persiapan

No. Parameter Unit/Satuan Kisaran

1 pH - 5,5 - 7,5

2 Bahan Organik % 12 – 16

3 Tekstur tanah - Liat/liat berpasir, pasir berlumpur

c Perlakuan air pasok dan penyiapan air media

▪ Pengisian air tahap awal setinggi antara 10-15 cm dengan sistem pasang surut dan atau sistem pompa air.

▪ Pemberantasan hama berupa ikan liar menggunakan saponin dengan dosis antara 50-75 kg/hektar, dan dilakukan pada kondisi air dipetak tambak keadaan macak-macak.

▪ Pemupukan untuk menumbuhkan plankton/pakan alami dengan pupuk organik (kotoran sapi/kerbau) antara 1.500-3.000 kg/hektar, urea antara 100-150 kg/hektar dan TSP antara 50-75 kg/hektar. Biarkan selama 7-10 hari agar plankton tumbuh optimal.

▪ Pengisian air tahap kedua hingga ketinggian air di pelataran tambak mencapai 40 cm.

▪ Pengukuran parameter kualitas air media yang siap tebar (Tabel 2).

Tabel 2. Parameter kualitas air media yang siap tebar untuk ikan bandeng

No. Parameter Air Unit/Satuan Kisaran Nilai

1 pH 7,0 - 8,5

2 Alklinitas ppm > 60

3 Bahan organik ppm Maksimal 90 ppm

4 Kecerahan cm 20 – 30

5 Warna air - Hijau kecoklatan

▪ Setiap langkah dan hasil kegiatan dalam tahapan persiapan lahan/tambak dicatat/direkam sehingga terdapat dokumentasi yang lengkap dan dapat ditelusuri.

(4)

3.2 Pemilihan benih

a Benih berasal dari unit pembenihan/penggelondong bandeng yang standar, dan dilengkapi surat keterangan asal (SKA).

b Pemilihan benih ukuran gelondongan antara 3-5 cm dengan kriteria : sehat dan tidak cacat, warna abu-abu cerah, aktif dan lincah, dan keseragaman ukuran > 75%.

c Setiap langkah dan hasil kegiatan dalam tahapan pemilihan benih dicatat/direkam sehingga terdapat dokumentasi yang lengkap dan dapat ditelusuri.

3.3 Penebaran benih

a Benih yang ditebar berukuran antara 3-5 cm dengan kepadatan tebar 2 ekor/m2. b Penebaran benih dilakukan pada intensitas sinar matahari yang rendah (pagi hari

sebelum jam 08.00 atau sore hari setelah jam 17.00.

c Benih dalam kantong plastik yang masih tertutup diapungkan dalam tambak selama antara 5-10 menit.

d Pemasangan pembatas (bambu/tali/kayu) di dekat pematang agar kantong tidak berhamburan (menyebar).

e Lepaskan karet pengikat kantong plastik.

f Sebelum penebaran benih, melakukan pengukuran salinitas, suhu dan pH pada air media benih dan air media di tambak.

g Perbedaan air dalam wadah kantong benih dan air tambak untuk salinitas tidak lebih dari 5 ppt, untuk temperatur tidak lebih dari 2C dan untuk pH tidak lebih dari 0,5.

h Masukan air tambak sedikit demi sedikit secara perlahan-lahan ke dalam wadah/kantong plastik hingga temperatur, salinitas dan pH antara air dalam plastik telah menyamai air tambak.

i Miringkan kantong plastik hingga benih keluar dengan sendirinya.

j Setiap langkah dan hasil kegiatan dalam tahapan adaptasi dan penebaran benih ikan bandeng dicatat/direkam sehingga terdapat dokumentasi yang lengkap dan dapat ditelusuri.

3.4 Sampling pertumbuhan dan Survival Rate (SR)

a Pengambilan contoh ikan bandeng dilakukan dengan menebarkan jala ke dalam air sebanyak di 2-3 titik pada area permukaan tambak (dianggap cukup).

b Pengukuran dan penimbangan dilakukan terhadap sample dengan parameter berat total dan jumlah total (ekor) per setiap penjalaan, bila perlu panjang total.

c Ikan bandeng contoh dimasukkan kembali ke dalam tambak dengan hati-hati dan/atau tidak dikembalikan.

d Hasil pengukuran digunakan untuk mengetahui populasi, pertumbuhan, SR, FCR, biomass dan untuk penentuan kebutuhan pakan.

e Setiap langkah dan hasil kegiatan dalam tahapan pengambilan contoh ikan bandeng dicatat/direkam sehingga terdapat dokumentasi yang lengkap dan dapat ditelusuri.

3.5 Monitoring kesehatan

a Melakukan pengamatan kesehatan ikan bandeng secara visual

b Pengamatan dilakukan pada saat pemberian pakan (harian) maupun ketika ditemukan ikan bandeng mati/sakit.

c Melakukan pengamatan pada ikan bandeng dengan memperhatikan kelengkapan organ tubuh, warna tubuh, dan tingkah laku ikan bandeng.

d Lakukan pemeriksaan skala laboratorium apabila ikan bandeng ada gejala terkena penyakit.

(5)

e Setiap langkah dan hasil kegiatan dalam tahapan monitoring kesehatan ikan bandeng dicatat/direkam sehingga terdapat dokumentasi yang lengkap dan dapat ditelusuri.

3.6 Pemberian pakan

a Pemberian pakan bergantung pada berat dan umur, namun harus mengacu pada SNI Produksi Ikan bandeng semi-intensif dan intensif, dan atau Juknis Budidaya Ikan bandeng.

b Pemberian pakan buatan diberikan sejak penebaran hingga pemanen hasil.

c Pakan buatan yang diberikan berupa pelet dengan kandungan protein antara 28- 30%.

d Pemberian pakan buatan dengan dosis antara 2-5% dari biomas bandeng, dan frekuensi pemberian 2 kali per hari, pagi dan sore hari.

e Melakukan perhitungan kebutuhan pakan yang akan diberikan.

f Melakukan penimbangan pakan secara akurat sesuai kebutuhan yang sudah diprogramkan.

g Melakukan pengamatan respon ikan bandeng terhadap pakan.

h Setiap langkah dan hasil kegiatan dalam tahapan pembedrian pakan dicatat/direkam sehingga terdapat dokumentasi yang lengkap dan dapat ditelusuri.

3.7 Monitoring kualitas air media

a

Pengamatan kualitas air harian dilakukan pagi atau sore hari untuk parameter temperatur, salinitas, pH, kecerahan dan warna air.

b Perhatikan parameter optimal kualitas air media pemeliahraan ikan bandeng selama masa pemeliharaan (Tabel 3.).

Tabel 3. Parameter optimal kualitas air pada pembesaran ikan bandeng selama masa pemeliharaan

No Parameter Air Unit/Satuan Kisaran Optimal

1 Salinitas (ppt) ppt 5 – 35

2 Temperatur 0C 27,5 – 31,5

3 pH - 7,5 – 8,5

4 Kecerahan cm 20 – 30

5 Warna air - Hijau atau hijau kecoklatan

Setiap langkah dan hasil kegiatan dalam tahapan monitoring kualitas air pada media pemeliharaan ikan bandeng dicatat/direkam sehingga terdapat dokumentasi yang lengkap dan dapat ditelusuri.

3.8 Perbaikan kualitas air media

a Melakukan perbaikan air media pemeliharaan apabila terjadi kodisi parameter sudah tidak optimal

(6)

b Tindakan perbaikan lingkungan dilakukan berdasarkan parameter yang harus dikoreksi, sesuai dengan Tabel 4.

Tabel 4. Perlakuan untuk perbaikan beberapa parameter kualitas air media pada pemeliharaan ikan bandeng

No Parameter Metoda Perbaikan

1 Temperatur Pengaturan ketinggian air, menumbuhkan plankton.

2 Salinitas :

- Lebih tinggi Menambahkan air tawar

- Lebih rendah Menambahkan air masuk dari air sumber (laut).

3 pH :

- Lebih tinggi Menambahkan molase/tetes tebu

- Lebih rendah Aplikasi kapur (CaCO3) dan atau dolomit.

4 Kecerahan air :

- Lebih tinggi Penumbuhan plankton dengan pemupukan susulan.

- Lebih rendah Pengenceran/penambahan air masuk.

c Setiap langkah dan hasil kegiatan dalam tahapan ini dicatat/direkam sehingga terdapat dokumentasi yang lengkap dan dapat ditelusuri.

3.9 Panen dan pasca panen a Pra panen

▪ Pendugaan produksi dilakukan dengan cara sampling, dengan jumlah titik antara 2-3 titik. Hasil pendugaan adalah data kualitas, ukuran serta perkiraan biomas ikan bandeng yang akan dipanen.

▪ Penentuan masa panen dilakukan pada saat kondisi mutu ikan bandeng baik.

▪ Apabila kondisi ikan bandeng banyak yang kualitasnya kurang baik, maka diperlukan penundaan panen beberapa hari untuk perbaikan.

▪ Penyiapan alat dan sarana panen.

b Panen

▪ Panen dilakukan setelah ikan bandeng mencapai ukuran permintaan pasar (ikan konsumsi).

▪ Pengurangan volume air secara bertahap dengan membuka pintu pengeluaran dan dibantu dengan pompa serta menutup pintu pemasukan air.

▪ Lakukan penangkapan ikan bandeng dengan hati-hati, alat tangkap yang digunakan : jala, jaring, dan alat lainnya.

▪ Panen dilakukan dengan cepat untuk mempertahankan kualitas ikan bandeng c Pasca panen

▪ Perlakuan ikan bandeng sesuai permintaan konsumen (rantai dingin) dilakukan dengan memperhatikan keamanan pangan (food safety) dan mempertahankan kualitas ikan bandeng.

▪ Setiap langkah dan hasil kegiatan dalam tahapan proses pemanenan hasil pembesaran ikan bandeng (pra panen, teknik panen dan pasca panen) dicatat/direkam sehingga terdapat dokumentasi yang lengkap dan dapat ditelusuri.

Gambar

Tabel 1.  Kisaran parameter kualitas tanah dasar tambak yang optimal pada saat  persiapan
Tabel 3.   Parameter  optimal  kualitas  air  pada  pembesaran  ikan  bandeng    selama  masa pemeliharaan
Tabel 4.  Perlakuan  untuk  perbaikan  beberapa  parameter  kualitas  air  media  pada  pemeliharaan ikan bandeng

Referensi

Dokumen terkait

PIHAK KEDUA akan melakukan proses administrasi selanjutnya yaitu penyerah terimaan barang/jasa tersebut kepada penerima bantuan pemerintah melalui Kuasa Pengguna Barang

Mekanisme penyaluran bantuan pembayaran premi APPIK mulai dari pengusulan/permohonan, penetapan Pembudi Daya Ikan Kecil Penerima Bantuan Pemerintah Premi APPIK,

Telah menerima barang Bantuan Prasarana dan Sarana Budidaya Berbasis Kelembagaan Tahun Anggaran 2017 dari Satker Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya, Direktorat Jenderal

Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Nomor 29/PER- DJPB/2017 tentang Petunjuk Teknis Bantuan Benih Ikan Oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah Provinsi

Kegiatan prioritas bantuan benih merupakan kegiatan UPT kepada Kelompok Pembudidaya Ikan. Petunjuk teknis kegiatan bantuan benih ikan ini diharapkan mampu

1a : Kelompok masyarakat, kelompok masyarakat hukum adat, lembaga swadaya masyarakat, lembaga pendidikan atau lembaga keagamaan mengajukan permohonan secara online

Bantuan Sarana Prasarana Budidaya Perikanan Tahun Anggaran 2021 yang selanjutnya disebut dengan Bansarpras Budidaya adalah bantuan pemerintah berupa sarana dan/atau

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA NOMOR 88/PER-DJPB/2019 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN