DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA NOMOR /PER-DJPB/2022
TENTANG PERATURAN
DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA NOMOR 284 TAHUN 2021
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PEMBANGUNAN KAMPUNG PERIKANAN BUDIDAYA NILA SALIN DI KABUPATEN PATI
TAHUN ANGGARAN 2022
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA,
Menimbang : a. bahwa telah ditetapkan Kabupaten Pati sebagai lokasi kampung perikanan budidaya nila salin melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 64 Tahun 2021 tentang Kampung Perikanan Budidaya serta melaksanakan ketentuan Pasal 15 Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2021 tentang Penyaluran Bantuan Pemerintah di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan, perlu disusun Petunjuk Teknis Pembangunan Kampung Perikanan Budidaya Nila Salin di Kabupaten Pati Tahun Anggaran 2022;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya tentang Petunjuk Teknis Pembangunan Kampung Perikanan Budidaya Nila Salin di Kabupaten Pati Tahun Anggaran 2022;
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA
JALAN MEDAN MERDEKA TIMUR NOMOR 16 JAKARTA 10110 KOTAK POS 4130 JKP 10041
TELEPON (021) 3519070 (LACAK), FAKSIMILE (021) 3514772 LAMAN www.kkp.go.id
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5870);
2. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 33), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 16 tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 63);
3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.05/2015 tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah pada Kementerian Negara/Lembaga (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1340), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 173/PMK.05/2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.05/2015 tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah pada Kementerian Negara/Lembaga (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1745);
4. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 48/PERMEN-KP/2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 114);
5. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2021 tentang Penyaluran Bantuan Pemerintah di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 20);
6. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 64 Tahun 2021 tentang Kampung Perikanan Budidaya;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN
BUDIDAYA TENTANG PETUNJUK TEKNIS
PEMBANGUNAN KAMPUNG PERIKANAN BUDIDAYA NILA SALIN DI KABUPATEN PATI TAHUN ANGGARAN 2022.
Pasal 1
Petunjuk teknis pembangunan kampung perikanan budidaya nila salin di Kabupaten Pati Tahun Anggaran 2022 dipergunakan sebagai acuan melaksanakan pembangunan kampung perikanan budidaya nila salin di Kabupaten Pati.
Pasal 2
Petunjuk teknis pembangunan kampung perikanan budidaya nila salin di Kabupaten Pati Tahun Anggaran 2022 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 tercantum dalam Lampiran I dan II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal ini.
Pasal 3
Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 November 2021
DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA, ttd.
TB. HAERU RAHAYU
Salinan sesuai dengan aslinya
Sekretaris Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya,
LAMPIRAN I
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA NOMOR 284 TAHUN 2021
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PEMBANGUNAN KAMPUNG PERIKANAN BUDIDAYA NILA SALIN DI KABUPATEN PATI TAHUN ANGGARAN 2022
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kabupaten Pati merupakan sentra produksi budidaya Nila Salin di Indonesia yang ditetapkan oleh KKP sebagai kampung nila salin berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 64 Tahun 2021.
Kegiatan pengembangan kampung nila salin adalah satu dari tiga program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia pada periode Tahun 2021-2024.
Pengembangan kampung kampung ini ditargetkan membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi masyarakat harian, mengurangi stunting, dan meningkatkan perekonomian.
Dalam rangka mendukung kegiatan pengembangan kampung Nila Salin di Kabupaten Pati Tahun Anggaran 2022, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya berencana menyalurkan bantuan pemerintah berupa (a) sarana dan prasarana perbenihan; (b) rehabilitasi saluran tambak; (c) kincir; (d) sarana pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan; (e) mesin pakan apung dan bahan baku pakan serta (f) sarana produksi kolam.
Petunjuk teknis ini disusun sebagai panduan pelaksanaan kegiatan penyaluran bantuan pemerintah dalam rangka pengembangan kampung nila salin di Kabupaten Pati untuk Tahun Anggaran 2022 agar implementasi pelaksanaan kegiatan tersebut dapat berjalan secara efektif dan optimal sesuai target.
B. Tujuan
1. Pembangunan Kampung Perikanan Budidaya Nila Salin
Tujuan pelaksanaan pembangunan kampung perikanan budidaya nila salin di Kabupaten Pati ini adalah untuk:
a. mendorong peningkatan produksi dan produktifitas budidaya ikan nila salin serta pendapatan masyarakat pembudidaya ikan; dan
b. meningkatkan efisiensi usaha budidaya ikan nila salin melalui penyediaan prasarana dan sarana produksi di kampung budidaya ikan nila salin.
Sasaran pembangunan kampung perikanan budidaya nila salin ini adalah berkembangnya kawasan ekonomi perikanan di Kabupaten Pati sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal.
Indikator keberhasilan pembangunan kampung perikanan budidaya nila salin di Kabupaten Pati ini adalah terwujudnya pembangunan kampung perikanan budidaya nila salin dan meningkatnya produksi dan produktivitas nila salin di Kabuaten Pati.
2. Bantuan Pemerintah Kampung Perikanan Budidaya
Tujuan pemberian bantuan pemerintah kampung perikanan budidaya nila salin di Kabupaten Pati adalah tersalurkannya bantuan (a) rehabilitasi sarpras UPR sebanyak 4 (empat) unit; (b) rehabilitasi saluran tambak sebanyak 13 paket; (c) kincir sebanyak 180 unit; (d) sarana pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan sebanyak 1 paket; (e) mesin pakan apung dan bahan baku pakan sebanyak 6 unit, serta (f) sarana produksi kolam sebanyak 1 paket.
Sasaran dari kegiatan ini adalah kelompok pendeder dan pembudidaya nila salin yang memenuhi persyaratan.
Indikator Keberhasilan Bantuan yaitu tersalurkannya bantuan sarana dan prasarana di Kabupaten Pati.
C. Pengertian
Dalam Peraturan Direktur Jenderal ini yang dimaksud dengan:
1. Kampung perikanan budidaya adalah suatu kawasan yang berbasis komoditas unggulan dan/atau komoditas lokal dengan menyinergikan berbagai potensi untuk mendorong berkembangnya usaha pembudidayaan ikan yang berdaya saing dan berkelanjutan, menjaga kelestarian sumber daya ikan, serta digerakkan oleh masyarakat, sehingga mampu menjamin produksi yang kontinu dan terjadwal.
2. Bantuan Pemerintah adalah bantuan yang tidak memenuhi kriteria bantuan sosial yang diberikan oleh Pemerintah
kepada perseorangan, kelompok masyarakat, atau lembaga pemerintah/non pemerintah.
3. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya adalah unit kerja eselon I pada Kementerian Kelautan dan Perikanan yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan di bidang pengelolaan perikanan budidaya.
4. KKP adalah Kementerian Kelautan dan Perikanan.
5. Kelompok Pembenih Ikan adalah Unit Pembenihan Rakyat (UPR), yaitu kumpulan pembenih ikan yang terorganisir, mempunyai pengurus dan aturan-aturan dalam organisasi kelompok yang secara langsung melakukan usaha pembenihan ikan.
6. Pembudi Daya Ikan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan pembudidayaan ikan.
7. Kelompok Masyarakat adalah kumpulan orang yang terorganisasi yang mempunyai pengurus dan aturan-aturan dalam organisasi kelompok yang secara langsung melakukan kegiatan dalam suatu usaha bersama dibidang kelautan dan perikanan.
8. Kelompok Masyarakat Hukum Adat adalah sekelompok orang yang secara turun temurun bermukim diwilayah geografis tertentu di Negara Kesatuan Republik Indonesia karena adanya ikatan pada asal usul leluhur, hubungan yang kuat dengan tanah, wilayah, sumberdaya alam, memliki pranata pemerintahan adat, dan tatanan hukum adat di wilayah adatnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.
9. Lembaga Swadaya Masyarakat adalah organisasi atau lembaga yang dibentuk oleh masyarakat negara Indonesia secara sukarela atas kehendak sendiri dan berminat serta bergerak di bidang kegiatan tertentu yang ditetapkan oleh organisasi/lembaga sebagai wujud pastisipasi masyarakat dalam upaya mendorong demokratisasi dan keadilan sosial, penegakan supremasi dan kepastian hukum, serta peningkatan kesejahteraan sosial yang menitikberatkan pada pengabdian secara swadaya.
10. Lembaga Pendidikan adalah lembaga atau tempat berlangsungnya proses pendidikan atau belajar mengajar yang dilakukan dengan tujuan untuk mengubah tingkah laku individu menuju ke arah yang lebih baik melalui interaksi dengan lingkungan sekitar.
11. Lembaga Keagamaan adalah kelompok masyarakat yang mempunyai sistem keyakinan dan sarana untuk mempraktikan keagamaan dalam masyarakat yang telah dirumuskan untuk mengatur kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara oleh umat beragama.
12. Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat KPA adalah pejabat yang memperoleh kuasa dari Menteri untuk melaksanakan sebagian kewenangan dan tanggung jawab penggunaan anggaran pada Kementerian.
13. Kuasa Pengguna Barang yang selanjutnya disingkat KPB adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik Direktorat Jenderal.
14. Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya disingkat PPK adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh Menteri/KPA untuk mengambil keputusan dan/atau tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
15. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yang selanjutnya disebut Direktorat Jenderal adalah unit kerja eselon I pada Kementerian Kelautan dan Perikanan yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan di bidang pengelolaan perikanan budidaya.
16. Unit Pelaksana Teknis yang selanjutnya disebut UPT DJPB adalah UPT lingkup Direktorat Jenderal.
17. Dinas Provinsi adalah satuan kerja perangkat daerah di Provinsi yang membidangi urusan perikanan.
18. Dinas Kabupaten/Kota adalah satuan kerja perangkat daerah di Kabupaten/Kota yang membidangi urusan perikanan.
19. Kepala Dinas adalah kepala satuan kerja perangkat daerah di Provinsi/Kabupaten/Kota yang membidangi urusan perikanan.
20. Kelompok Kerja Pemilihan yang selanjutnya disebut Pokja Pemilihan adalah sumber daya manusia yang ditetapkan oleh pimpinan Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ) untuk mengelola pemilihan Penyedia.
21. Kelompok Kerja Pusat adalah tim pelaksana kegiatan bantuan sarana prasarana produksi budidaya di tingkat pusat termasuk UPT dan ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya.
22. Tim Teknis Kabupaten/Kota adalah tim pelaksana kegiatan bantuan sarana prasarana produksi budidaya di tingkat Kabupaten/Kota dan ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya.
23. Penyuluh adalah Penyuluh Perikanan Pegawai Aparatur Sipil Negara dan Penyuluh Perikanan Bantu.
24. Benih Ikan adalah ikan dalam umur, bentuk, dan ukuran tertentu yang belum dewasa, termasuk larva.
25. Rehabilitasi saluran irigasi tambak adalah kegiatan pengelola irigasi tambak mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan kegiatan, meliputi tahapan perencanaan, pelaksanaan rehabilitasi, dan operasional pemeliharaan untuk meningkatkan fungsinya.
26. Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang kegiatan perikanan budidaya.
27. Jaringan Irigasi adalah saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan air irigasi mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian pemberian dan penggunaannya.
28. Padat Karya adalah pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi saluran tambak yang menggunakan tenaga manusia, termasuk masyarakat sekitar di luar anggota Pokdakan.
29. Konsultan Manajemen yang selanjutnya disebut KM adalah perseorangan bukan Aparatur Sipil Negara dan/atau TNI/POLRI yang ditunjuk oleh Pejabat Pembuat Komitmen dalam membantu pelaksanaan pekerjaan secara teknis dan pengawasan pekerjaan di lapangan. Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang kegiatan perikanan budidaya.
30. Konsultan Teknis adalah perorangan bukan Aparatur Sipil Negara dan/atau TNI/Polri yang ditunjuk oleh PPK dalam membantu tugas PPK dalam memeriksa gambar teknis dan RAB dalam pelaksanaan rehabilitasi saluran irigasi tambak.
31. Kincir adalah sarana budidaya perikanan beserta kelengkapannya berupa kabel, kontaktor/motor starter dan box panel-nya yang berguna untuk meningkatkan kadar oksigen dalam air.
32. Pemeliharaan adalah proses perawatan rutin dan perbaikan kecil/ringan agar Kincir tetap berfungsi secara optimal.
33. Biaya operasional adalah pembiayaan atas penggunaan Kincir yang antara lain mencakup biaya listrik, teknisi, kerusakan besar, dan lain-lain.
34. Bantuan Sarana Pengelolaan Kesehatan Ikan Dan Lingkungan adalah Bantuan Sarana Pengelolaan Kesehatan Ikan dan Lingkungan yang digunakan untuk melakukan pengujian kualitas air dan penyakit ikan secara insitu dan eksitu;
35. POSIKANDU adalah Pos Kesehatan Ikan terpadu yang melakukan pelayanan pemantauan penyakit ikan dan kualitas air, pusat informasi dan konsultasi budidaya, vaksinasi, penyediaan obat ikan terdaftar serta penanganan darurat kejadian penyakit dan lingkungan di kawasan budidaya;
36. Bantuan Sarana Prasarana Budidaya Perikanan yang selanjutnya disebut dengan Bansarpras Budidaya adalah bantuan pemerintah berupa sarana dan/atau prasarana budidaya ikan yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya melalui Satker Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya kepada masyarakat.
37. Pompa adalah sarana budidaya perikanan beserta kelengkapannya berupa selang yang digunakan untuk mengalirkan air dari permukaan yang lebih rendah menuju tempat yang lebih tinggi
38. Bantuan Mesin Pembuat Pakan Ikan dan Bahan Baku Pakan Ikan yang selanjutnya disebut Bantuan Pemerintah adalah bantuan yang tidak memenuhi kriteria bantuan sosial, diberikan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya berupa mesin pembuat Pakan Ikan dan Bahan Baku Pakan Ikan.
39. Bahan Baku Pakan Ikan adalah sumber bahan yang berasal dari nabati maupun hewani yang telah diolah dan dipergunakan sebagai komposisi Pakan Ikan buatan.
40. Pakan Ikan adalah bahan makanan tunggal atau campuran baik yang diolah maupun tidak yang diberikan pada ikan untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan, pemulihan, dan berkembang biak baik berupa Pakan Ikan alami atau Pakan Ikan buatan.
41. Pakan Ikan Mandiri adalah pakan yang dihasilkan melalui kegiatan memproduksi Pakan Ikan secara mandiri dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat.
BAB II
KONSEPSI PEMBANGUNAN KAMPUNG PERIKANAN BUDIDAYA A. Konsepsi Kampung Perikanan Budidaya
Konsep pembangunan kampung perikanan budidaya adalah membangun kawasan perikanan budidaya terpadu berbasis komoditas unggulan dan komoditas kearifan lokal suatu wilayah yang dilaksanakan dengan menyinergikan berbagai potensi untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha perikanan budidaya yang berdaya saing dan berkelanjutan, serta digerakkan oleh masyarakat sehingga mampu menjamin produksi yang kontinu dan terjadwal.
Kampung Perikanan Budidaya diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan dalam rangka pengentasan kemiskinan. Selain itu pengembangan kampung perikanan budidaya tidak hanya untuk menyokong pertumbuhan ekonomi masyarakat, tapi juga untuk menjaga komoditas perikanan lokal dari eksploitasi berlebih dan kepunahan.
Tujuan pembangunan kampung perikanan budidaya ini adalah mewujudkan kegiatan pembangunan Kampung Perikanan Budidaya yang terhubung dengan sarana budidaya dan prasarana pendukung, Pelaku Usaha, dan mekanisme pasar, meningkatkan produksi perikanan budidaya, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan Pembudi Daya Ikan, dan meningkatkan partisipasi masyarakat lokal.
B. Kegiatan di Kampung Perikanan Budidaya Nila Salin
Untuk tercapainya tujuan pembangunan kampung perikanan budidaya nila salin maka dilakukan beberapa kegiatan di tahun anggaran 2022 sebagai berikut:
1. Rehabilitasi saluran tambak yang dilaksanakan secara swakelola (padat karya) oleh kelompok pembudidaya ikan;
2. Penyaluran bantuan sarana dan prasarana budidaya nila salin kepada Pembudidaya Ikan, meliputi rehabilitasi sarana dan prasarana unit pembenihan nila salin, kincir, mesin pakan apung dan bahan baku pakan, sarana produksi kolam, dan sarana Pengelolaan Kesehatan Ikan dan Lingkungan.
3. Pembinaan dan pendampingan teknis perikanan budidaya.
C. Kampung Nila Salin
Luas tambak Kabupaten Pati sebesar 10.557,93 Ha dengan komoditas yang dikembangkan yaitu Udang, Bandeng, dan Nila Salin. Budidaya ikan nila salin mulai dikembangkan Tahun 2014 di Kecamatan Tayu dengan memanfaatkan lahan-lahan idle tambak udang.
Pengembangan kampung perikanan budidaya nila salin di Pati, Jawa Tengah, berlokasi di 8 Desa Kecamatan Tayu dengan luas potensi sebesar 1.187,17 Ha dan luas eksisting sebesar 818 Ha, terdiri dari 717 petak dengan jumlah pembudidaya nila salin sebanyak 1.125 RTP. Pada Tahun 2020, produksi budidaya nila salin di Kabupaten Pati mencapai 3.947,93 Ton dengan nilai produksi sebesar Rp 78,958 Milyar. Produktivitas budidaya nila salin saat ini berkisar 3-4 ton/siklus. Pengelolaan tambak nila salin di Kabupaten Pati menggunakan teknologi tradisional dengan waktu pemeliharaan selama 3-4 bulan. Kampung perikanan budidaya nila salin akan dikembangkan di Kecamatan Margoyoso, Kecamatan Dukuhseti dan Kecamatan lainnya di Kabupaten Pati.
Pembudidaya Kabupaten Pati belum dapat memproduksi benih ikan nila salin secara mandiri. Benih ikan yang digunakan selama ini adalah benih ikan nila dari budidaya air tawar yang berasal dari luar Kabupaten Pati. Benih tersebut diaklimatisasi sampai salinitas yang dibutuhkan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Aklimatisasi dilakukan secara bertahap yaitu sebanyak 5 ppt/hari. Benih ikan nila salin yang diperoleh dari proses aklimatisasi hanya 30 % saja yang hidup.
Pembudidaya Kabupaten Pati berhasil membudidayakan ikan nila di tambak dengan salinitas sampai dengan 20 ppt dengan tingkat kelangsungan hidup di bawah 50 %.
Permasalahan jaringan irigasi juga telah menjadi isu utama di Kawasan Nila Salin. Ada beberapa lokasi saluran irigasi yang mengalami luapan saluran air pada masa musim penghujan dan air laut pasang, yaitu di Desa Dororejo, Desa Keboromo, dan Desa Margomulyo. Selain itu, luapan air juga dipengaruhi oleh tingginya sedimentasi. Terbatasnya pemahaman manajemen dan cara budidaya ikan yang baik berdampak pada rendahnya produktivitas budidaya ikan nila salin.
Dalam rangka meningkatkan efisiensi proses produksi budidaya ikan nila salin, Pemerintah perlu memberikan dukungan melalui 2 strategi, yaitu: (1) strategi penyiapan rencana penyediaan sarana prasarana budidaya bagi kebutuhan masyarakat pembudidaya ikan, dan (2) strategi pendampingan teknis rencana produksi budidaya ikan nila salin yang berkelanjutan
Strategi penyiapan rencana penyediaan sarana prasarana budidaya bagi kebutuhan masyarakat pembudidaya ikan diprioritaskan untuk mengatasi aspek kelemahan yang teridentifikasi yaitu: (1) Perbaikan prasarana budidaya terutama untuk saluran irigasi tambak, (2) Peningkatan kemampuan teknis pembudidaya ikan agar dapat memperbaikan produktivitas tambaknya terutama untuk meningkatkan daya hidup ikan yang dibudidayakan, (3) Penyediaan benih ikan nila yang bermutu untuk kebutuhan pembudidaya ikan dengan harga yang terjangkau, (4) Penyediaan kincir, (5) Penyedian sarana produksi kolam (6) Penyediaan pakan ikan yang menguntungkan bagi pembudidaya ikan, dan (7) Penyediaan sarana pengelolaan Kesehatan ikan dan lingkungan.
Strategi penyiapan dan pendampingan teknis rencana produksi budidaya ikan nila salin yang berkelanjutan disiapkan agar pembudidaya dapat memproduksi ikan nila salin pada kondisi yang paling menguntungkan sesuai dengan ketersediaan sarana produksi yang ada dan kesesuaian dengan rencana pemanfaatan hasil produksi budidaya. Pendampingan teknis ini dapat dilaksanakan oleh BBPBAP Jepara dan Penyuluh.
D. Pengelolaan/Kelembagaan Kampung Perikanan Budidaya Nila Salin
Struktur kelembagaan Kawasan Nila Salin Kecamatan Tayu telah terbentuk secara mandiri, bahkan jauh sebelum rencana pengembangan kawasan tersebut sebagai Kawasan Nila Salin atas inisiasi Pemerintah. Struktur yang terbentuk terdiri atas 3 tingkatan yaitu pada tingkat kelurahan, tingkat kecamatan, dan tingkat kabupaten. Tingkatan-tingkatan ini secara struktural
adalah normatif dalam Pemerintahan. Pada struktur kelembagaan tingkat kelurahan, telah terbentuk 10 Kelompok Budidaya Ikan Nila Salin yang aktif dalam membina keanggotaannya untuk mengembangkan perikanan Nila Salin di masing-masing tambak. 11 Kelompok Budidaya Ikan Nila tersebut, 9 diantaranya telah resmi berbadan hukum sementara 2 lainnya masih dalam proses legalisasi.
Pada struktur kelembagaan tingkat kecamatan telah terbentuk sebuah Forum Mulya. Tujuan dari pembentukan forum mulya adalah agar terdapat lembaga yang mampu mengayomi seluruh POKDAKAN yang tersebar di 8 Desa di Kecamatan Tayu, yaitu Desa Sambiroto, Desa Dororejo, Desa Tunggulsari, Desa Jepat Kidul, DesaJepat Lor, Desa Margomulyo, Desa Kalikalong, dan Desa Keboromo. Forum Mulya dimanfaatkan bagi para pengurus POKDAKAN sebagai media persebaran pengalaman baik dalam hal keberhasilan maupun kegagalan dalam pengelolaan wilayah tambak. Kegiatan pada Forum ini sudah mulai terstruktur, dimana pertemuan antar pengurus dan anggota dapat berlangsung setidaknya satu kali dalam kurun waktu satu bulan.
Sementara itu, pada struktur kelembagaan tingkat Kabupaten, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati berperan sebagai Pembina Kegiatan Budidaya Perikanan di Kabupaten Pati. Sebagai kepanjangan tangan dari Pemerintah Kabupaten Pati dalam urusan sektoral Perikanan dan Kelautan, Dinas Kelautan dan Perikanan.
Pemberdayaan kelembagaan pada masyarakat di Kabupaten Pati khususnya seluruh pihak yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam pengelolaan kegiatan Kampung nila salin merupakan hal yang penting dilakukan dalam rangka mewujudkan sinergitas pelibatan para pihak dan efisiensi pengelolaan kampung itu sendiri.
BAB III
PEMBERI, BENTUK, RINCIAN JUMLAH, PERSYARATAN PENERIMA, TATA KELOLA PEMBAYARAN DANA, DAN PENYALURAN DANA
BANTUAN PEMERINTAH A. Pemberi Bantuan Pemerintah
Unit kerja lingkup DJPB yang menyalurkan bantuan untuk pengembangan Kampung nila salin Kabupaten Pati pada Tahun 2022 adalah sebagai berikut:
No Unit Kerja Jenis Bantuan
1 Direktorat Perbenihan Rehabilitasi sarpras Unit Pembenihan
2 Direktorat Kawasan dan Kesehatan Ikan
1. Rehabilitasi saluran tambak
2. Kincir 3 Direktorat Pakan dan Obat
Ikan
Mesin pakan apung dan bahan baku pakan 4 Direktorat Produksi dan Usaha Sarana produksi kolam 5 Balai Pengujian Kesehatan
Ikan dan Lingkungan (BPKIL) Serang
Sarana pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan
B. Bentuk Bantuan Pemerintah
Bentuk bantuan pemerintah dalam rangka mendukung
Kampung Nila Salin di Kabupaten Pati, adalah sebagai berikut:
1. Bantuan rehabilitasi sarpras Unit Pembenihan:
Jenis bantuan rehabilitasi sarpras Unit Pembenihan, diberikan dalam bentuk barang, terdiri dari:
Tabel 1. Bentuk bantuan sarpras Unit Pembenihan
No. Bentuk Bantuan
A. Sarana (Induk dan Pakan)
1. Induk yang memiliki Surat Keterangan Asal 2. Pakan ikan (induk dan benih)
B. Prasarana, Bahan, dan Peralatan Pendukung 1. Jaring
2. Hapa
3. Pompa air celup
4. Peralatan pendukung lainnya (wastafel portable, sepatu boot)
Keterangan Tabel :
Menu bantuan ditentukan sesuai kebutuhan dari hasil identifikasi/verifikasi calon penerima dan calon lokasi (cpcl) dan ketersediaan anggaran pengadaan.
Spesifikasi teknis dan Gambar untuk Sarana dan Prasarana Perbenihan untuk pembangunan kampung nila di Kabupaten Pati pada gambar 1 berikut :
Gambar 1. Spesifikasi teknis dan gambar sarana dan prasarana perbenihan
Model unit pembenihan nila dengan saluran pembuangan ditengah atau dipinggir.
Catatan:
Spesifikasi teknis dan gambar 1 dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan.
2. Rehabilitasi saluran tambak
Jenis bantuan prasarana, diberikan dalam bentuk barang yaitu rehabilitasi saluran tambak dengan spesifikasi saluran irigasi tambak tersier yang masih bisa dikerjakan secara manual dan pembangunan atau rehabilitasi bangunan silang **):
a. gorong-gorong;
b. tanggul penahan tanah, bangunan pembagi air; dan c. jembatan
Keterangan : **) Kegiatan Penunjang jika diperlukan
3. Bantuan kincir
Jenis bantuan sarana, diberikan dalam bentuk barang yaitu kincir, dengan spesifikasi kincir 1 phase beserta kelengkapannya.
Gambar 2. Model Kincir
4. Bantuan Sarana Pengelolaan Kesehatan Ikan Dan Lingkungan
Jenis bantuan sarana, diberikan dalam bentuk barang yaitu Bantuan Sarana Pengelolaan Kesehatan Ikan Dan
Lingkungan, dengan spesifikasi yaitu
Jenis Paket
Bantuan Paket bantuan
dapat berupa : Spesifikasi Barang Sarana
pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan
1. DO meter portabel, mengukur DO dan suhu, digital
2. pH Meter portabel, mengukur pH, ORP, digital
3. Refraktometer Portable, mengukur kadar garam (khusus kampung budidaya pesisir dan air laut) 4. Cool Box volume 6-12 Lt
5. Kulkas 2 pintu, Min 220 Lt
6. Soil Tester mengukur pH dan kelembaban tanah 7. Freezer suhu maksimum -8°C
5. Sarana Produksi Kolam
Jenis bantuan sarana, diberikan dalam bentuk barang yaitu pompa, dengan spesifikasi yaitu pompa submersible beserta kelangkapannya, yaitu selang.
Gambar 3. Model Pompa
6. Mesin Pakan Apung dan Bahan Baku Pakan
Jenis bantuan sarana, diberikan dalam bentuk barang yaitu mesin pakan apung dan bahan baku pakan, dengan
spesifikasi, yaitu :
1. Mesin pembuat Pakan Ikan
Mesin pembuat Pakan Ikan yang menjadi Bantuan Pemerintah terdiri dari :
a. Mesin Penepung.
Spesifikasi mesin penepung dengan kapasitas minimal 200 kg/jam (dua ratus kilogram per jam) dan menggunakan mesin penggerak mesin diesel.
b. Mesin Pencetak Pakan Tenggelam.
Spesifikasi mesin pencetak pakan tenggelam dengan kapasitas minimal 100 kg/jam (seratus kilogram per jam) untuk mata cetak 3 mm (tiga milimeter) atau minimal 200 kg/jam (dua ratus kilogram per jam) untuk mata cetak 5 mm (lima milimeter) dan menggunakan mesin penggerak mesin diesel.
c. Mesin Pencetak Pakan Apung.
Spesifikasi mesin pencetak pakan apung dengan kapasitas minimal 30 kg/jam (tiga puluh kilogram per jam) untuk mata cetak 2 mm (dua milimeter) dan minimal 50 kg/jam (lima puluh kilogram per jam) untuk mata cetak 3 mm (tiga milimeter) dan menggunakan mesin penggerak mesin diesel.
2. Bahan Baku Pakan Ikan
Bahan Baku Pakan Ikan yang diserahkan kepada penerima bantuan terdiri dari :
a. tepung ikan, dengan spesifikasi sesuai SNI 2715:2013:
1) kadar protein minimal 50% (lima puluh persen);
2) kadar abu maksimal 30% (tiga puluh persen);
3) kadar air maksimal 12% (dua belas persen);
4) berbau khas tepung ikan; dan 5) tidak berjamur/busuk.
b. bungkil kedelai, dengan spesifikasi sesuai SNI 4227:2013:
1) kadar protein minimal 42% (empat puluh dua persen);
2) kadar air maksimal 13% (tiga belas persen); dan 3) tidak berjamur/busuk.
c. vitamin premiks dengan spesifikasi yaitu teregistrasi di Kementerian Kelautan dan Perikanan.
d. minyak ikan dengan spesifikasi yaitu teregistrasi di Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Toleransi hasil pengujian analisis proksimat Bahan Baku Pakan Ikan yang diperbolehkan adalah ± 2%
(kurang lebih dua persen). Nilai toleransi ini
didasarkan pada perbedaan metode pengujian, teknisi laboratorium, dan peralatan yang dapat menyebabkan perbedaan hasil pengujian.
Gambar 4. Mesin Pakan Apung dan Bahan Baku
C. Rincian Jumlah Bantuan Pemerintah
Penyaluran bantuan pemerintah dalam rangka mendukung kampung nila salin di Kabupaten Pati akan diberikan kepada penerima bantuan yang memenuhi persyaratan penerima bantuan dengan rincian sebagai berikut :
No. Jenis Bantuan Volume Satuan
1. Rehabilitasi Sarpras UPR 4 Paket 2. Rehabilitasi Saluran Tambak 13 Paket
3. Kincir 180 Unit
4. Sarana Pengelolaan Kesehatan Ikan Dan Lingkungan 1 Paket
5. Sarana Budidaya Kolam 1 Paket
6. Mesin Pakan Apung dan Bahan Baku
Pakan 6 Unit
D. Persyaratan Penerima Bantuan Pemerintah 1. Persyaratan Administrasi
Calon penerima bantuan rehabilitasi sarpras upr, rehabilitasi saluran tambak, kincir, sarana produksi kolam, dan mesin pakan apung dan bahan baku pakan dan sarana pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan meliputi :
1) berbadan hukum atau telah terdaftar di Dinas;
2) terdaftar di laman satu data;
3) memiliki identitas yang legal, alamat jelas, dan dapat dihubungi;
4) Kepengurusan (ketua, sekretaris dan bendahara) bukan kepala desa/lurah dan perangkat desa/kelurahan, Aparatur Sipil Negara (ASN)/Badan Usaha Milik Negara (BUMN)/Tentara Nasional Indonesia (TNI)/Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI)/anggota legislatif dan penyuluh/PPB;
5) jumlah anggota kelompok bantuan minimal 10 (sepuluh) orang;
6) tidak menerima bantuan sejenis pada tahun yang sama melalui DAK atau instansi lainnya;
7) memiliki sarana komunikasi berupa smartphone;
8) sudah melakukan kegiatan di bidang perikanan;
9) untuk Bantuan Rehab Sarpras UPR, juga harus memenuhi persyaratan :
a) sedang atau pernah melakukan kegiatan usaha di bidang perbenihan;
b) memiliki lahan untuk kegiatan pembenihan;
c) bersedia menjual produksi benih yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan benih di wilayah sekitarnya; dan
d) bersedia menjalankan prinsip – prinsip CPIB.
10) untuk Bantuan Rehabilitasi Saluran Tambak juga harus memenuhi persyaratan :
a) memiliki/mengelola tambak pada wilayah kegiatan rehabilitasi saluran tambak; dan
b) memiliki rekening yang masih aktif atas nama Pokdakan yang ditandatangani oleh ketua dan bendahara.
11) selain persyaratan di atas, untuk Bantuan Mesin Pakan Apung dan Bahan Baku Pakan, juga harus memenuhi persyaratan :
a) telah memahami dan akan melaksanakan kegiatan pembuatan Pakan Ikan;
b) menyediakan tempat produksi yang dikuasai secara legal dan sah yang dibuktikan dengan surat pernyataan dan/atau surat kepemilikan; dan
c) untuk calon penerima bantuan mesin pakan apung yaitu kelompok yang sudah memproduksi Pakan Ikan dan memiliki sumber daya manusia dengan pengetahuan dan keterampilan tentang operasional mesin, serta pembuatan Pakan Ikan.
12) selain persyaratan di atas, untuk Bantuan sarana pengelolaan Kesehatan ikan dan lingkungan, juga harus memenuhi persyaratan :
a) menyediakan SDM yang akan mengoperasionalkan peralatan yang diterima; dan
b) menyediakan anggaran operasional dan pemeliharaan.
2. Persyaratan Lokasi
Calon Lokasi Penerima Bantuan Rehabilitasi Sarpras UPR, Rehabilitasi Saluran Tambak, Kincir, Sarana Produksi Kolam, dan Mesin Pakan Apung dan Bahan Baku Pakan dan Sarana pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan meliputi :
1) peruntukan lahan untuk pembudidayaan ikan;
2) lahan bebas sengketa/masalah hukum dan disetujui oleh pemilik lahan (tidak ada biaya ganti rugi);
3) status kepemilikan lahan jelas (clear and clean) yang dibuktikan dengan dokumen yang berlaku dan mempunyai kekuatan hukum (sertifikat/ bukti kepemilikan/ bukti sewa/ bukti hak guna pakai);
4) bukan lokasi penerima bantuan pemerintah yang sama melalui DAK atau institusi lain pada tahun yang sama;
5) lokasi bebas banjir dan cemaran;
6) memiliki sumber air, aksesibilitas transportasi dan komunikasi
7) selain persyaratan di atas, untuk Bantuan Rehabilitasi Saluran Tambak juga harus memenuhi persyaratan : a) kondisi saluran irigasi perikanan membutuhkan
rehabilitasi dan bangunan silang yang belum pernah mendapatkan bantuan sejenis dalam 2 (dua) tahun terakhir; dan
b) lokasi saluran irigasi penerima bantuan Rehabilitasi Saluran Tambak mempunyai lebar atas maksimal 6 meter.
8) selain persyaratan di atas, untuk Bantuan Kincir juga harus memenuhi persyaratan :
a) lahan tambak sudah siap untuk penerapan teknologi tradisional plus dan/atau semi intensif dan/atau intensif; dan
b) tersedia sumber energi listrik di lokasi lahan tambak.
9) selain persyaratan di atas, untuk Bantuan sarana pengelolaan Kesehatan ikan dan lingkungan, juga harus memenuhi persyaratan menyediakan bangunan atau ruangan untuk penyimpanan bantuan;
E. Tata Kelola Bantuan Pemerintah
Organisasi pelaksana Bantuan Pemerintah Kampung Perikanan Budidaya Nila Salin Tahun Anggaran 2022 sebagai berikut:
a. Direktorat Jenderal/KPA
1) menetapkan Petunjuk teknis pembangunan kampung perikanan budidaya nila salin di Kabupaten Pati Tahun Anggaran 2022;
2) menetapkan langkah-langkah strategis dalam rangka optimalisasi pelaksanaan program kegiatan; dan
3) menetapkan lokasi penerima Bantuan Pemerintah;
4) menerima usulan calon penerima Bantuan Pemerintah dan untuk penyaluran bantuan saran pengelolaan Kesehatan ikan dan lingkungan diteruskan ke BPKIL Serang;
5) melakukan pembinaan kepada BPKIL Serang untuk penyaluran bantuan saran pengelolaan Kesehatan ikan dan lingkungan;
6) mengesahkan penerima bantuan; dan
7) menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan.
b. Kuasa Pengguna Barang/KPB
1) Menyerahkan bantuan barang dan jasa kepada penerima bantuan sesuai Berita Acara Serah Terima (BAST); dan 2) Mengajukan pengusulan penghapusan Barang Milik
Negara (BMN) ke pengguna barang Kementerian Kelautan dan Perikanan.
c. Direktorat/PPK/BPKIL
1) Menyusun rencana bantuan yang akan disalurkan;
2) Melakukan sosialisasi kegiatan dan koordinasi dengan dinas provinsi dan kabupaten/kota;
3) melakukan seleksi, dan/atau verifikasi terhadap calon penerima Bantuan Pemerintah;
4) menetapkan calon penerima Bantuan Pemerintah dan disahkan oleh KPA di Satker pelaksana kegiatan Bantuan Pemerintah;
5) melakukan pengadaan Bantuan Pemerintah berupa barang/jasa;
6) melakukan pembinaan, monitoring dan evaluasi pemanfaatan Bantuan Pemerintah yang telah disalurkan;
dan
7) menyusun laporan kegiatan penyaluran Bantuan Pemerintah.
Untuk penyaluran bantuan rehabilitasi saluran tambak, Direktorat/PPK memiliki tugas tambahan sebagai berikut:
1) menandatangani perjanjian kerja sama dengan Penerima Bantuan, kontrak kerja dengan Konsultan Manajemen dan Konsultan Teknis Rehabilitasi Saluran Tambak;
2) menerima usulan perubahan pekerjaan kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak (apabila ada);
3) memeriksa kelengkapan dokumen pencairan dana Penerima Bantuan dan Konsultan Manajemen untuk tahap I, II, dan III;
4) memeriksa kelengkapan dokumen laporan harian, mingguan, dan bulanan dari Penerima Bantuan dan Konsultan Manajemen; dan
5) memeriksa kelengkapan dokumen hasil pekerjaan Rehabilitasi Saluran Tambak.
d. Unit Pelaksana Teknis
1) Dapat membantu Dinas Provinsi atau Kabupaten/Kota dalam melakukan identifikasi calon lokasi dan calon penerima bantuan; dan
2) memberikan pendampingan dan bimbingan teknis perikanan budidaya kepada penerima bantuan
e. Dinas Provinsi
1) melakukan koordinasi dengan Direktorat Jenderal dan Dinas Kabupaten dalam rangka pelaksanaan penyaluran Bantuan Pemerintah; dan
2) melakukan pembinaan, monitoring dan evaluasi kepada penerima bantuan.
f. Dinas Kabupaten/Kota
1) melakukan koordinasi dengan Direktorat Jenderal dan Dinas Provinsi dalam rangka pelaksanaan penyaluran Bantuan Pemerintah
2) melakukan identifikasi calon penerima dan calon lokasi Bantuan Pemerintah sesuai kewenangan;
3) meneruskan usulan/proposal yang diterima kepada Direktorat Jenderal dan ditembuskan kepada Dinas Provinsi;
4) mendampingi Direktorat/PPK/BPKIL Serang melakukan verifikasi calon Penerima Bantuan dan pada saat serah terima bantuan;
5) melakukan pembinaan, monitoring dan evaluasi pemanfaatan Bantuan Pemerintah yang telah disalurkan;
6) memberikan peringatan tertulis kepada penerima Bantuan Pemerintah serta melaporkan kepada Direktorat/PPK apabila penerima Bantuan Pemerintah tidak memenuhi kewajiban dan melanggar larangan;
7) menerima dan menyampaikan laporan pemanfaatan bantuan ke Direktorat/PPK/ BPKIL Serang dan ditembuskan ke Dinas Provinsi; dan
8) menyampaikan laporan hasil monitoring dan evaluasi kegiatan penyaluran Bantuan Pemerintah ke Direktorat Jenderal dan ditembuskan ke Dinas Provinsi.
g. Penyuluh Perikanan
1) melakukan identifikasi bersama Dinas Kabupaten;
2) mendampingi calon penerima bantuan dalam penyusunan dokumen persyaratan administrasi, persyaratan teknis dan persyaratan lokasi;
3) menginput data calon penerima bantuan melalui laman www.satudata.kkp.go.id pada modul kusuka;
4) mendampingi kelompok pada saat Direktorat/PPK melakukan verifikasi calon penerima Bantuan Pemerintah bersama dengan Dinas Kabupaten/Kota dan/atau Dinas Provinsi;
5) mendampingi penerima bantuan membuat laporan pemanfaatan bantuan; dan
6) memberikan penyuluhan dan pendampingan teknis.
h. Penerima bantuan
1) membuat dan mengusulkan proposal permohonan bantuan yang ditujukan kepada Direktur Jenderal dan disampaikan melalui Dinas Kabupaten:
a) latar belakang membutuhkan Bantuan Pemerintah;
b) profil di bidang perikanan yang berisi data gambaran umum lokasi, komoditas yang dikembangkan dan informasi-informasi pendukung lainnya yang ingin disampaikan;
c) data kegiatan/usaha budidaya yang dilakukan;
d) surat/berita acara pendirian, kepengurusan dan anggota serta AD/ART; dan
e) rencana pemanfaatan Bantuan Pemerintah.
2) membuat dan menandatangani seluruh dokumen yang dipersyaratkan sebagaimana pada lampiran petunjuk teknis ini;
3) melaksanakan dan memanfaatkan bantuan sesuai pakta integritas;
4) menyediakan biaya operasional dan pemeliharaan Bantuan Pemerintah;
5) menyediakan tempat untuk penyimpanan bantuan Pemerintah;
6) membuat laporan pemanfaatan bantuan pemerintah kepada Ditjen. Perikanan Budidaya setiap 6 bulan sekali selama 2 tahun sejak diterimanya bantuan secara lengkap dan ditembusan kepada Direktorat/PPK dan Dinas Kabupaten setempat;
7) memberikan keterangan yang benar terhadap pengawas intern dan ekstern pemerintah; dan
8) Menandatangani Berita Acara Serah Terima.
Untuk penyaluran bantuan rehabilitasi saluran tambak, Penerima Bantuan memiliki tugas tambahan sebagai berikut:
1) menetapkan Tim Penyelenggaraan Swakelola yang terdiri dari Tim Persiapan, Tim Pelaksana, dan Tim Pengawas;
2) membuat surat pernyataan tanggung jawab mutlak, pakta integritas, surat pernyataan siap swakelola, surat pernyataan bebas sengketa dan surat pernyataan kesanggupan melaksanakan pemeliharaan hasil pekerjaan Rehabilitasi Saluran Tambak;
3) menandatangani kontrak kerja sama dengan PPK;
4) mengajukan pencairan dan rencana penggunaan anggaran tahap I (40%), tahap II (30%) dan tahap III (30%);
5) melaksanakan kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak;
6) mengusulkan perubahan pekerjaan kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak (apabila ada);
7) membuat laporan harian, mingguan, dan bulanan yang dilengkapi dokumentasi;
8) mengajukan permohonan pembayaran sesuai tahapan (40%, 30%, dan 30%);
9) membuat laporan kemajuan pekerjaan fisik (30%, 60%, dan 100%) dan keuangan (40%, 70%, dan 100%);
10) membuat pembukuan kas pelaksanaan pekerjaan;
11) menyampaikan bukti pembelanjaan (tenaga kerja, bahan/material) kepada PPK;
12) memeriksa hasil pekerjaan Rehabilitasi Saluran Tambak bersama dan Konsultan Manajemen;
13) menyerahkan hasil pekerjaan ke PPK dan menerima hasil pekerjaan dari KPB; dan
14) memelihara hasil pekerjaan Rehabilitasi Saluran Tambak.
i. Konsultan Manajemen (KM) Rehabilitasi Saluran Tambak
1) memeriksa metode pelaksanaan pekerjaan kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak dan membuat kaji ulang kondisi lapangan;
2) melakukan pengawasan dan pendampingan pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak di lokasi;
3) melakukan validasi bukti pembelanjaan pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak;
4) melakukan verifikasi dokumen dan kemajuan fisik tiap tahapan pekerjaan kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak;
5) menyetujui usulan perubahan pekerjaan kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak (apabila ada);
6) memverifikasi laporan mingguan dan bulanan yang dibuat oleh Pokdakan
7) memeriksa laporan kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak yang dibuat oleh Pokdakan;
8) membuat laporan harian, mingguan, bulanan, dan laporan akhir yang dilengkapi dokumentasi dan bukti pembelanjaan disampaikan kepada Direktorat Jenderal ditembuskan ke Dinas Kabupaten/Kota; dan
9) memeriksa hasil pekerjaan Rehabilitasi Saluran Tambak bersama dengan Pokdakan.
Konsultan Manajemen Rehabilitasi Saluran Tambak harus memenuhi persyaratan, yaitu:
1. minimal D3 Teknik Sipil;
2. bukan Aparatur Sipil Negara dan/atau TNI/POLRI;
3. memiliki pengalaman minimal 2 (dua) tahun dalam bidang pengawasan pekerjaan konstruksi;
4. mampu mengoperasikan komputer dan perangkat internet serta memiliki kemampuan administrasi dan pelaporan; dan
5. bersedia ditugaskan di lokasi kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak.
j. Konsultan Teknis Rehabilitasi Saluran Tambak
1) memberikan saran teknis pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak kepada PPK;
2) melakukan verifikasi teknis terhadap RAB dan gambar rencana Rehabilitasi Saluran Tambak;
3) memeriksa laporan mingguan dan laporan bulanan serta rencana penggunaan dana tiap tahapan Rehabilitasi Saluran Tambak; dan
4) membuat laporan hasil pelaksanaan pendampingan teknis pekerjaan Rehabilitasi Saluran Tambak.
Konsultan Teknis Rehabilitasi Saluran Tambak harus memenuhi persyaratan, yaitu:
1. minimal S1 Teknik Sipil;
2. bukan Aparatur Sipil Negara dan/atau TNI/POLRI;dan 3. memiliki pengalaman minimal 3 (tiga) tahun dalam
bidang pekerjaan konstruksi.
F. Penyaluran Dana Bantuan Pemerintah a. Sumber Pembiayaan
Sumber pembiayaan untuk kegiatan pengadaan Bantuan Pemerintah Kampung Nila Salin di Kabupaten Pati ini, yaitu APBN Tahun Anggaran 2022 Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya – Kementerian Kelautan dan Perikanan.
b. Mekanisme Usulan, Penetapan Calon Penerima, dan Penyaluran Bantuan Pemerintah.
1. Bantuan Pemerintah Rehabilitasi Sarana Prasarana UPR, Kincir, Sarana Pengelolaan Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Sarana Produksi Kolam, dan Bantuan Mesin Pakan Apung dan Bahan Baku Pakan
a) mekanisme pemberi bantuan pemerintah di Kementerian dilakukan melalui laman www.satudata.kkp.go.id; dan
b) dalam hal calon penerima bantuan/penerima bantuan tidak mampu mengakses laman sebagaimana dimaksud pada huruf a, mekanisme pemberian Bantuan Pemerintah dapat dilakukan secara manual dan Direktur Jenderal melakukan input data ke dalam laman www.satudata.kkp.go.id.
Gambar 7. Diagram Alur Mekanisme Usulan, Penetapan dan Penyaluran Bantuan Pemerintah
Keterangan gambar:
1a : Calon penerima mengajukan usulan secara online melalui www.satudata.kkp.go.id.
1b : Calon penerima menyampaikan surat usulan bantuan secara manual kepada Direktur Jenderal Perikanan Budidaya melalui Dinas Kabupaten/Kota.
1c : Surat usulan kemudian ditembuskan oleh Dinas Kabupaten/Kota kepada Dinas Provinsi.
1d : Dinas Kabupaten/Kota melakukan identifikasi calon penerima dan meneruskan ke Direktur Jenderal Perikanan Budidaya
1e : Hasil identifikasi di input ke dalam laman www.satudata.kkp.go.id melalui operator yang ditugaskan.
2 : Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya/ BPKIL Serang
5c
5a 2 1b
1e KPB
5b 5d KPA
Direktorat/PPK/
BPKIL a. Seleksi; dan b. Verifikasi
PPK
Penyedia 3 4
laman
www.satudata.kkp.go.i d
Identifikasi 1b
1b
Dirjen Perikanan Budidaya
1d 1d Calon
Penerima
Dinas Provinsi 1c
Dinas
Kabupaten/Kota
1a
melalui verifikator yang ditugaskan melakukan seleksi dan verifikasi.
3 : Calon penerima yang memenuhi kriteria kemudian diusulkan kepada PPK untuk ditetapkan oleh PPK dan disahkan oleh KPA.
4 : PPK melakukan kontrak pengadaan barang dengan Penyedia.
5a : Penyedia melaksanakan pengadaan barang sesuai kontrak dan menyalurkan bantuan langsung kepada penerima bantuan.
5b : PPK menyerahkan hasil pekerjaan kepada KPA.
5c : Serah terima barang dari KPA kepada KPB.
5d : Serah terima barang dari KPB kepada penerima bantuan.
2. Rehabilitasi Saluran Tambak
a. Mekanisme pemberian Bantuan Pemerintah di Kementerian Kelautan dan Perikanan dilakukan melalui laman www.satudata.kkp.go.id; dan
b. dalam hal calon penerima bantuan/penerima bantuan tidak mampu mengakses laman sebagaimana dimaksud pada huruf a, mekanisme pemberian Bantuan Pemerintah dapat dilakukan secara manual dan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya melakukan input data ke dalam laman www.satudata.kkp.go.id.
Gambar 8. Diagram Alur Mekanisme Usulan, Penetapan dan Penyaluran Bantuan Rehabilitasi Saluran Tambak
5b
4 2 1c
1e KPB
5a 5c KPA
Direktorat/BPKIL c. Seleksi; dan
d. Verifikasi PPK (Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan) 3
laman
www.satudata.kkp.go.i d
Identifikasi 1b
1b
Dirjen Perikanan Budidaya
1d
1d Calon
Penerima
Dinas Provinsi 1c
Dinas
Kabupaten/Kota
1a
Keterangan gambar:
1 1a : Pokdakan mengajukan usulan secara online melalui www.satudata.kkp.go.id.
1b : Pokdakan menyampaikan surat usulan bantuan secara manual kepada Direktur Jenderal melalui Dinas Kabupaten/Kota.
1c : Surat usulan kemudian ditembuskan oleh Dinas Kabupaten/Kota kepada Direktur Jenderal dan Dinas Provinsi sebagai laporan.
1d : Dinas Kabupaten/Kota melakukan identifikasi
calon penerima bantuan dan
direkomndasikan/diusulkan ke Direktur Jenderal 1e : Hasil identifikasi input data ke dalam laman
www.satudata.kkp.go.id melalui operator yang ditugaskan.
2 : Direktur Jenderal melalui staff/verifikator yang ditugaskan melakukan seleksi dan verifikasi.
3 : Calon penerima bantuan yang memenuhi kriteria kemudian diusulkan kepada PPK untuk ditetapkan oleh PPK dan disahkan oleh KPA.
4 : PPK melakukan kontrak kerja dengan Pokdakan, dan Pokdakan menyerahkan hasil pekerjaan kepada PPK
5a : PPK menyerahkan hasil pekerjaan kepada KPA.
5b : Serah terima barang dari KPA kepada KPB.
5c : Serah terima barang dari KPB kepada Pokdakan. Adapun serah terima hasil pekerjaan Rehabilitasi Saluran Tambak dari Pokdakan kepada PPK disertai dokumen sebagai berikut:
a. laporan penyelesaian pekerjaan (100%) diverifikasi oleh Konsultan Manajemen;
b. BA Penyelesaian Pekerjaan;
c. BA Pemeriksaan hasil pekerjaan;
d. dokumentasi pekerjaan;
e. buku kas; dan
f. bukti setor dana sisa ke Rekening Kas Negara (jika ada).
Alur kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak
a. Kegiatan utama dari Rehabilitasi Saluran Tambak adalah kegiatan rehabilitasi prasarana irigasi tambak yang harus dikerjakan secara manual, sedangkan kegiatan penunjangnya adalah persiapan dan administrasi kegiatan serta pembuatan bangunan silang seperti jembatan, gorong-gorong, dsb. Untuk kegiatan persiapan dan administrasi maksimum sebesar 5% dari nilai paket dan untuk kegiatan bangunan silang diperbolehkan maksimum sebesar 20% dari nilai paket.
b. Pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak meliputi:
1) Identifikasi, Seleksi, dan Verifikasi serta Pengusulan Calon Lokasi/ Pokdakan, yaitu:
a) identifikasi calon lokasi dan penerima Rehabilitasi Saluran Tambak dilakukan oleh Dinas Kabupaten/Kota dan selanjutnya diusulkan oleh Dinas Kabupaten/Kota ke Direktorat Jenderal dengan tembusan ke Dinas Provinsi;
b) seleksi dan verifikasi calon lokasi dan penerima Rehabilitasi Saluran Tambak dilakukan oleh Direktorat Jenderal; dan
c) usulan calon lokasi dan penerima Rehabilitasi Saluran Tambak harus memenuhi kriteria yang telah ditentukan.
2) Evaluasi Proposal
Proposal kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak yang dibuat oleh Pokdakan diperiksa oleh Dinas kabupaten/Kota, selanjutnya diseleksi dan diverifikasi oleh Direktorat Jenderal. Isi proposal memuat:
a) gambaran umum lokasi yang menguraikan tentang alamat lokasi, komoditas, dan produksi yang telah dicapai serta kondisi awal saluran yang akan dikerjakan berikut dokumentasi awal.
b) Profil Penerima Bantuan:
1. kelembagaan Penerima Bantuan; 2. struktur Organisasi dan AD/ART;
3. data anggota Penerima Bantuan;
4. SK Pokdakan tentang Tim Persiapan, Pelaksana, dan Pengawas kegiatan;
5. fotokopi KTP pengurus dan anggota;
6. nomor telepon/HP Ketua Penerima Bantuan dan Bendahara; dan
7. fotokopi rekening Penerima Bantuan.
c) Metode pelaksanaan pekerjaan memuat latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran, kondisi awal lokasi pekerjaan (produksi perikanan, saluran yang akan dikerjakan, dan dokumentasi awal dari lokasi kegiatan), waktu pelaksanaan pekerjaan, keperluan bahan, peralatan dan jasa lainnya.
d) Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan
Tim Penyelenggara Swakelola membuat jadwal pelaksanaan pekerjaan meliputi pengadaan bahan, peralatan, dan jasa lainnya secara rinci dijabarkan dalam rencana penggunaan anggaran tiap tahap.
e) Gambar Rencana Kerja dan Spesifikasi Teknis
1. Gambar rencana kerja memuat lay out, denah, potongan memanjang dan potongan melintang; dan
2. Spesifikasi teknis disusun mengikuti pedoman/standar yang sesuai dengan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan.
3) Penetapan Penerima Bantuan dan Lokasi Rehabilitasi Saluran Tambak
Tahapan penetapan Pokdakan dan lokasi Rehabilitasi Saluran Tambak adalah sebagai berikut:
a) Dinas Kabupaten/Kota mengusulkan calon Pokdakan dan lokasi ke Direktorat Jenderal dengan tembusan ke Dinas Provinsi disertai surat pernyataan pendampingan;
b) Direktorat Jenderal menetapkan lokasi kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak;
c) PPK menetapkan Pokdakan sebagai pelaksana kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak yang selanjutnya disahkan oleh KPA;
d) Penandatanganan Kontrak; dan
e) Pokdakan dan PPK menandatangani Surat Perjanjian/Kontrak kerja dengan metode pengadaan swakelola.
4) Pembayaran kegiatan Rehabilitasi Saluran Tambak:
a) Penyaluran dana kepada Pokdakan dilakukan secara bertahap sesuai mekanisme pencairan dana;
b) Direktorat memeriksa kelengkapan persyaratan pencairan dana yang diajukan oleh Pokdakan; dan c) Pembayaran upah tenaga kerja dilakukan
secara harian berdasarkan daftar hadir pekerja;
d) PPK dapat melakukan penangguhan pencairan dana jika terdapat indikasi penyimpangan pelaksanaan kegiatan ataupun penggunaan dana di lapangan sampai dengan penyelesaian permasalahan dan apabila diperlukan PPK dapat meminta kepada APIP (Aparat Pengawasan Internal Pemerintah) untuk melakukan pengawasan.
G. Mekanisme Pencairan Bantuan
a. Pencairan dana kepada Penerima Bantuan dilakukan secara bertahap, dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Tahap I : 40% (empat puluh persen) dari keseluruhan dana apabila Penerima Bantuan telah siap melaksanakan Swakelola, dengan melampirkan:
a) dokumen kerja sama;
b) proposal;
c) fotokopi buku rekening bank atas nama Penerima Bantuan;
d) rencana Penggunaan Anggaran Tahap I;
e) berita acara penyelesaian Tahap I;
f) surat permohonan pembayaran;
g) berita acara pembayaran tahap I; dan h) kuitansi pembayaran tahap I.
2) Tahap II : 30% (tiga puluh persen) dari keseluruhan dana apabila pekerjaan telah mencapai minimal 30%
(tiga puluh persen), dengan melampirkan:
a) surat permohonan pembayaran tahap II
b) laporan Kemajuan Fisik yang disusun oleh Penerima Bantuan dan telah diverifikasi oleh Konsultan Manajemen;
c) berita acara penyelesaian pekerjaan sekurang- kurangnya 30%;
d) dokumentasi kemajuan pekerjaan;
e) laporan penggunaan dana yang dilengkapi dengan fotokopi bukti/nota pengeluaran dan absensi tenaga kerja;
f) laporan Harian, Mingguan, dan Bulanan serta Buku Kas;
g) rencana penggunaan dana Tahap II sebesar 30%
dari nilai kontrak diketahui dan Konsultan Manajemen;
h) kuitansi tanda terima tahap II yang ditandatangani Ketua Penerima Bantuan ; dan
i) berita acara pembayaran tahap II.
3) Tahap III : 30% (tiga puluh persen) dari keseluruhan dana apabila pekerjaan telah mencapai minimal 60%
(enam puluh persen), dengan melampirkan:
a) surat permohonan pembayaran tahap III
b) laporan Kemajuan Fisik yang disusun oleh Penerima Bantuan dan telah diverifikasi oleh Dinas Kabupaten/Kota dan diketahui oleh Konsultan Manajemen;
c) berita acara penyelesaian pekerjaan sekurang- kurangnya 60%;
d) dokumentasi kemajuan pekerjaan;
e) laporan penggunaan dana yang dilengkapi dengan fotokopi bukti/nota pengeluaran dan absensi tenaga kerja;
f) laporan Harian, Mingguan, dan Bulanan serta Buku Kas;
g) rencana penggunaan dana Tahap III sebesar 30%
dari nilai kontrak diketahui Dinas Kabupaten/Kota dan Konsultan Manajemen;
h) kuitansi tanda terima tahap III yang ditandatangani Ketua Penerima Bantuan; dan
i) berita acara pembayaran tahap III.
b. Prosedur pencairan dana Rehabilitasi Saluran Tambak sebagai berikut:
1) PPK melakukan proses penyaluran dana kepada Penerima Bantuan sesuai dengan persyaratan dan kelengkapan dokumen yang telah ditetapkan;
2) pencairan dana Rehabilitasi Saluran Tambak dilakukan dengan mekanisme transfer langsung ke rekening Penerima Bantuan; dan
3) Surat Perintah Membayar (SPM-LS) diajukan ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) dengan mengacu persyaratan pencairan dana.
Adapun alur pencairan dana Rehabilitasi Saluran Tambak sebagaimana Gambar 9 berikut:
Adapun alur pencairan dana Rehabilitasi Saluran Tambak sebagaimana Gambar 9 berikut:
Gambar 9. Mekanisme Penyaluran Bantuan
PPK Dit. Kawasan dan Kesehatan Ikan
Kelengkapan :
1. surat permohonan pembayaran tahap I;
2. dokumen kerja sama;
3. proposal;
4. fotokopi buku rekening bank Pokdakan;
5. rencana penggunaan anggaran tahap I;
6. Berita Acara Pembayaran tahap I; dan 7. Kuitansi pembayaran
tahap I;
8. Berita acara penyelesaian tahap I.
PENCAIRAN TAHAP I
Penerima Bantuan
PPK Dit. Kawasan dan Kesehatan Ikan
Kelengkapan :
1. surat permohonan pembayaran tahap II;
2. laporan kemajuan fisik yang disusun oleh Pokdakan dan telah diverifikasi oleh Konsultan Manajemen;
3. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan sekurang-kurangnya 30%;
4. dokumentasi kemajuan pekerjaan;
5. laporan penggunaan dana yang dilengkapi dengan fotokopi bukti/nota pengeluaran dan absensi tenaga kerja;
6. laporan harian, mingguan, dan bulanan serta buku kas;
7. rencana penggunaan dana tahap II sebesar 30% dari nilai kontrak diketahui Konsultan Manajemen;
8. kuitansi tanda terima tahap II yang ditandatangani Ketua Pokdakan; dan
9. Berita Acara Pembayaran tahap II.
PENCAIRAN TAHAP II
Penerima Bantuan
PPK Dit. Kawasan dan Kesehatan Ikan
Kelengkapan :
1. surat permohonan pembayaran tahap III;
2. laporan kemajuan fisik yang disusun oleh Pokdakan dan telah diverifikasi oleh Konsultan Manajemen;
3. Berita Acara Penyelesaian pekerjaan sekurang-kurangnya 60%;
4. dokumentasi kemajuan pekerjaan;
5. laporan penggunaan dana yang dilengkapi dengan fotokopi bukti/nota pengeluaran dan absensi tenaga kerja;
6. laporan harian, mingguan, dan bulanan serta buku kas;
7. rencana penggunaan dana tahap III sebesar 30% dari nilai kontrak diketahui Konsultan Manajemen;
8. kuitansi tanda terima tahap III yang ditandatangani Ketua Pokdakan; dan
9. Berita Acara Pembayaran tahap III.
PENCAIRAN TAHAP III
Penerima Bantuan
BAB IV
PERTANGGUNGJAWABAN BANTUAN PEMERINTAH, KETENTUAN PERPAJAKAN, SANKSI, DAN
PELAPORAN
A. Pertanggungjawaban Bantuan Pemerintah
Bantuan Pemerintah Kampung Perikanan Budidaya merupakan kegiatan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dalam rangka mendukung peningkatan produksi Nila Salin di Indonesia.
Bentuk pertanggungjawaban dan pelaporan pelaksanaan serta kelengkapan syarat penerima bantuan yang harus didokumentasikan oleh pelaksana kegiatan adalah:
a. Surat Usulan/Proposal Calon Penerima Bantuan;
b. Identifikasi Calon Penerima Bantuan;
c. Berita Acara Identifikasi Calon Penerima Bantuan;
d. Surat Pernyataan Kelompok Penerima Bantuan;
e. Rencana Pemanfaatan Bantuan Sarana Pengelolaan Kesehatan Ikan Dan Lingkungan;
f. Surat Pengantar Dinas;
g. Verifikasi Persyaratan Calon Penerima Bantuan;
h. Berita Acara Verifikasi Calon Penerima Bantuan;
i. Surat Pernyataan Komitmen Kepala Dinas Kabupaten/Kota;
j. Laporan Pemanfaatan Bantuan Pemerintah; dan
k. Serah terima Bantuan Sarana dan Prasarana Perbenihan dilakukan dengan tahapan seperti berikut:
1) serah terima dari Penyedia kepada PPK;
2) serah terima dari PPK kepada KPA;
3) serah terima dari KPA kepada KPB; dan 4) serah terima dari KPB kepada Pokdakan.
Untuk penyaluran bantuan rehabilitasi saluran tambak, tambahan pesyaratan yang didokumentasikan sebagai berikut:
a. Dokumentasi pekerjaan (foto, invoice/kuitansi, dll);
b. Laporan harian, laporan mingguan, laporan bulanan; dan c. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan dari Pokdakan kepada
PPK
B. Ketentuan Perpajakan
Ketentuan perpajakan pada kegiatan Bantuan Pemerintah ini terkait pengadaan barang/jasa mengikuti ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
C. Sanksi
Apabila berdasarkan pemantauan, evaluasi, dan/atau pemeriksaan oleh pejabat yang berwenang dalam pelaksanaan kegiatan penyaluran Bantuan Pemerintah ini, ditemukan bahwa penerima Bantuan Pemerintah terbukti sah melakukan kekeliruan atau kesalahan, antara lain:
1. tidak memanfaatkan dan mengelola bantuan secara maksimal sesuai usulannya, dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah diserahterimakan;
2. menyalahgunakan pemanfaatan bantuan yang diterima yang bertentangan dengan ketentuan yang telah ditetapkan;
3. menghilangkan bantuan yang telah diterima dengan tidak dapat membuktikan Berita Acara Kehilangan oleh Kepolisian; dan/atau
4. memindahtangankan bantuan kepada orang lain tanpa persetujuan pemberian bantuan,
Untuk penyaluran bantuan rehabilitasi saluran tambak, sanksi diberikan kepada penerima bantuan yang terbukti melakukan kesalahan:
1. penyelesaian pekerjaan melebihi waktu batas akhir perjanjian kerja sama; dan
2. pekerjaan Rehabilitasi Saluran Tambak yang dilakukan tidak sesuai dengan perjanjian kerja sama.
Penerima Bantuan Pemerintah akan dikenakan sanksi antara lain:
1. bertanggung jawab secara hukum atas penyalahgunaan bantuan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
2. pengalihan Bantuan Pemerintah dengan kondisi berfungsi kepada penerima bantuan lain yang memenuhi kriteria;
3. tidak diikutsertakan kembali dalam program sejenis yang dikelola lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan;
dan/atau
4. atas kekeliruan atau kesalahan dimaksud penerima bantuan dapat diberikan sanksi berupa teguran maupun administrasi.
Pengalihan dilakukan oleh Dinas Kabupaten/Kota dengan tetap melakukan identifikasi, seleksi dan verifikasi kepada calon penerima yang baru serta dilengkapi dengan berita acara.
D. Pembinaan, Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan 1. Pembinaan
Pembinaan pemberian Bantuan Pemerintah dilakukan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya dan Kepala Dinas sesuai dengan kewenangannya. Pembinaan dapat dilakukan secara terpadu.
2. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi dilakukan sebagai berikut:
a. Direktur Jenderal melakukan monitoring dan evaluasi sampai Bantuan Pemerintah beroperasi sesuai tujuan pemberian Bantuan Pemerintah selama 3 (tiga) tahun yaitu pada tahun pelaksanaan penyaluran Bantuan Pemerintah dan 2 (dua) tahun berikutnya.
b. Monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling sedikit terhadap:
1) Kesesuaian antara pelaksanaan penyaluran Bantuan Pemerintah dengan petunjuk teknis yang telah ditetapkan serta ketentuan peraturan perundang- undangan;
2) Kesesuaian antara target capaian dengan realisasi;
3) Pemanfaatan Bantuan Pemerintah; dan
4) Kesesuaian tujuan dan operasional Bantuan Pemerintah.
c. Direktur Jenderal mengambil langkah-langkah tindak lanjut berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi untuk perbaikan penyaluran Bantuan Pemerintah.