PENGEMBANGAN SOAL HOTS UNTUK SISWA KELAS VI SD
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Oleh : Renaldi Aji Nugroho
NIM : 161134235
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2021
SKRIPSI
PENGEMBANGAN SOAL HOTS UNTUK SISWA KELAS VI SD
Oleh:
Renaldi Aji Nugroho NIM: 161134235
Telah disetujui oleh:
Pembimbing I
Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., M.Pd. Tanggal 17 Oktober 2021
SKRIPSI
PENGEMBANGAN SOAL HOTS UNTUK SISWA KELAS VI SD
Dipersiapkan dan di tulis oleh:
Renaldi Aji Nugroho NIM: 161134235
Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 5 November 2021
dan dinyatakan telah memenuhi syarat
Susunan Panitia Penguji
Nama Lengkap Tanda Tangan
Ketua Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. ...
Sekretaris Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., M.Pd. ...
Anggota Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., M.Pd. ...
Anggota Andreas Erwin Prasetya, M.Pd. ...
Anggota Elisabeth Desiana Mayasari, M.A. ...
Yogyakarta, 5 November 2021
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma
Dekan,
Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si.
PERSEMBAHAN
Skripsi ini peneliti persembahkan kepada:
1. Tuhan Yang Maha ESA.
2. Kedua orangtua saya, Bapak Sarwoto dan Ibu Sriani yang selalu memberi dukungan.
3. Keluarga besar Sukro Wiharjo yang selalu menanyakan skripsi saya.
4. Teman-temanku yang tidak bisa disebutkan satu-satu.
5. Teman berkumpul ANAK BAIK.
6. PGSD Universitas Sanata Dharma sebagai tempat menuntut ilmu.
7. SDN Ngluwar 2.
Semua pihak yang terlibat dalam penulisan tugas akhir yang tidak bisa peneliti sebutkan satu per satu.
MOTTO
“Sistem pendidikan yang bijaksana setidaknya akan mengajarkan kita betapa sedikitnya yang belum kita ketahuai oleh manusia, seberapa banyak yang ia harus
pelajari”.
(Sir John Lubbock)
PERNYATAAN K EASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 5 November 2021 Penulis,
Renaldi Aji Nugroho
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN
PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:
Nama : Renaldi Aji Nugroho
Nomor Induk Mahasiswa : 161134235
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:
“Pengembangan Soal HOTS Untuk Siswa Kelas VI SD”
beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dhrama hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti.
Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal: 5 November 2021 Yang menyatakan
Renaldi Aji Nugroho
ABSTRAK
PENGEMBANGAN SOAL HOTS UNTUK SISWA KELAS VI SD Renaldi Aji Nugroho
Universitas Sanata Dharma 2021
Latar belakang penelitian ini adalah perubahan kurikulum dari kurikulum 2006 ke kurikulum 2013, dimana kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang mengembangkan cara berpikir siswa dengan memberikan penilaian hasil belajar yang perlu dijawab menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau yang lebih dikenal dengan sebutan High Older Thinking Skills (HOTS).. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kualitas soal Bahasa Indonesia untuk kelas VI SD.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan. Subjek penelitian ini adalah 10 siswa kelas VI sekolah dasar. Objek penelitian ini adalah soal HOTS Bahasa Indonesia. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) langkah-langkah penelitian pengembanan soal HOTS Bahasa Indonesia untuk siswa kelas VI SD menggunakan metode ADDIE, yaitu Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation; (2) Kualitas soal HOTS Bahasa Indonesia untuk siswa kelas VI SD memiliki kualitas “sangat baik” dengan nilai 3,93 pada validasi produk oleh ahli.
Kata Kunci: penelitian pengembangan, Bahasa Indonesia, soal HOTS
ABSTRACT
THE DEVELOPMENT OF HOTS QUESTIONS FOR VI GRADE ELEMENTARY SCHOOL STUDENT
Renaldi Aji Nugroho Sanata Dharma University
2021
The background of this research is the change of curriculum from curriculum 2006 to curriculum 2013, this new curriculum is a curriculum that develop the way students think by giving assessment of learning outcomes that must be answered by using High Older Thinking Skills.The purpose of this study was to determine the quality of Indonesian language questions for grade VI SD.
This type of research is development research. The subjects of this study were 10 grade VI elementary school students. The object of this research is about HOTS in Indonesian. The research instrument used was an interview guide. The data analysis technique used is qualitative and quantitative analysis.
The results showed that (1) the research steps for the development of Indonesian HOTS questions for grade VI SD students used the ADDIE method, namely Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation; (2) The quality of Indonesian HOTS questions for grade VI SD students has "very good"
quality with a score of 3.93 on product validation by experts.
Keywords: development research, Indonesian, HOTS questions
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan kepada peneliti, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dan tepat waktu. Skripsi yang berjudul “PENGEMBANGAN SOAL HOTS UNTUK SISWA SD KELAS VI”, disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Peneliti menyadari bahwa penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
2. Ibu Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
3. Bapak Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dan juga dosen pembimbing yang telah sabar mendampingi, membimbing dan mengarahkan peneliti selama menyelesaikan penulisan skripsi.
4. Brigitta Erlita Tri Anggadewi, M, Psi., Selaku dosen pembimbing II atas bimbingan dan saran yang telah di berikan.
5. Segenap dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan ilmu dan pengalaman selama perkuliahan.
6. Bapak dan ibu sekretariat Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma yang telah membantu segala administrasi yang dibutuhkan dalam penyusunan skripsi ini.
7. Kedua orangtua, Sarwoto dan Sriani yang selalu mendoakan, memberi motivasi, membiayai dan membimbing peneliti selama menyelesaikan
penulisan skripsi.
8. Kakak, Johani Ridwan Perdana dan adik Bagus Aji Pamungkas dan Fitria Erli Sundari yang selalu memberikan doa, motivasi, dan teguran agar semangat dalam mengerjakan skripsi.
9. Ahmaliyah selaku guru kelas IV dan sebagai validator instrumen perangkat pembelajaran.
10. ANAK BAIK yang telah menjadi teman diskusi dan sudah menjadi motivasi.
11. Teman-teman PGSD angkatan 2016.
Peneliti menyadari bahwa penelitian skripsi ini masih memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan. Oleh karena itu, peneliti membutuhkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Peneliti mengucapkan selamat membaca dan semoga skripsi ini bermanfaat dalam hal isi serta dapat memberikan inspirasi untuk lebih baik lagi.
Yogyakarta, 5 November 2021 Penulis,
Renaldi Aji Nugroho
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN... iv
HALAMAN MOTTO ...v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ...x
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL...xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang Masalah ...1
B. Rumusan Masalah ...6
C. Tujuan Penelitian ...6
D. Manfaat Penelitian ...6
E. Definisi Operasional ...8
F. Spesifikasi Produk yang Dibuat ...8
BAB II LANDASAN TEORI ...9
A. Kajian Pustaka ...9
1. Higher Older Thinking Skills (HOTS) ...9
2. Karakteristik HOTS ...10
3. Pengertian High Older Thinking Skills (HOTS) ...16
a. Indikator HOTS ...16
4. Pembelajaran Bahasa Indonesia ...20
a. Cakupan Bahasa Indonesia SD ...20
b. Kebahasaan ...21
B. Kajian Penelitian yang Relevan ...23
C. Kerangka Berpikir ...27
D. Pertanyaan Penelitian ...29
BAB III METODE PENELITIAN ...30
A. Jenis Penelitian ...30
B. Setting Penelitian ...30
1. Tempat Penelitian ...30
2. Waktu Penelitian ...31
3. Subjek Penelitian ...31
4. Objek Penelitian ...31
C. Prosedur Pengembangan ...31
1. Tahap Analisis (Analysis) ...33
2. Tahap Desain (Design) ...33
3. Tahap Pengembangan (Development) ...34
4. Tahap Implementasi (Implementation)...35
5. Tahap Evaluasi (Evaluation) ...35
D. Teknik Pengumpulan Data ...37
1. Wawancara ...37
2. Kuisioner ...38
E. Instrumen Penelitian...39
1. Pedoman Wawancara Guru ...39
2. Lembar Angket/Kuesioner ...40
F. Teknik Analisis Data. ...48
1. Data Kualitatif ...48
2. Data Kuantitatif ...49
BAB IV HASIL PNELITIAN DAN PENGEMBANGAN ...51
A. Hasil Penelitian ...51
1. Prosedur Pengembangan Soal HOTS ...51
a. Analyze atau Analisis ...51
b. Design atau Desain ...52
c. Development atau Pengembangan ...54
d. Implementation atau Implementasi ...58
e. Evaluation atau Evaluasi ...58
2. Kualitas Soal HOTS Bahasa Indonesia ...59
B. Pembahasan ...60
1. Prosedur Pengembangan ...60
2. Kualitas Soal HOTS Bahasa Indonesia ...62
BAB V PENUTUP ...65
A. Kesimpulan ...65
B. Keterbatasan Pengembangan ...66
C. Saran ...66
DAFTAR PUSTAKA ...67
LAMPIRAN ...71
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Pedoman wawancara guru kelas VI ...39
Tabel 3.2 Respon Guru ...41
Tabel 3.3 Respon Siswa ...42
Tabel 3.4 Soal Tes ...44
Tabel 3.5 Kategori Skor Kuesioner (Validator Ahli) ...50
Tabel 4.1 Tabel pendapat dan revisi dari validator ahli... 55
Tabel 4.2 Revisi produk oleh validator ahli ...57
Tabel 4.3 Rekapitulasi validasi produk oleh ahli ...59
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Taksonomi Bloom ...10
Gambar 2.2 Penelitian Relevan ...27
Gambar 3.1 Langkah-langkah model pengembangan ADDIE...32
Gambar 3.2 Rincian Penelitian dan Pengembangan ...36
Gambar 3.3 Perhitungan skor rerata validasi produk ...49
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Izin Penelitian ... 72
Lampiran 2. Hasil Wawancara Guru Kelas VI SD ... 73
Lampiran 3. Hasil Validasi Ahli... 74
Lampiran 4. Biodata Penulis ... 78
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sistematis guna membimbing dan mendidik seseorang untuk mengembangkan potensi dalam dirinya, sehingga diharapkan mampu menjadi individu yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara (UU No.20 Tahun 2003).
Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu pembelajaran di SD Negeri Ngluwar 2 yang mencerminkan sikap Pancasila. Siswa mempelajari dan menerapkan Bahasa Indonesia sebagai wujud rasa cinta terhadap Negara Indonesia. Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945, salah satu butir pancasila yang dapat diterapkan adalah mengembangkan rasa cinta terhadap tanah air dan bangsa (UU No.20 tahun 2003).
Terkait dengan isu perkembangan pendidikan di tingkat internasional, kurikulum 2013 dirancang dengan berbagai penyempurnaan, penyempurnaan antara lain dilakukan pada standar isi yaitu mengurangi materi
yang tidak relevan serta pendalaman dan perluasan materi yang relevan bagi peserta didik serta diperkaya dengan kebutuhan peserta didik untuk berfikir kritis dan analitis sesuai dengan standar internasional. Penyempurnaan lainnya juga dilakukan pada standar penilaian, dengan mengadaptasi secara bertahap model- model penilaian standar Internasional. Penilaian hasil belajar diharapkan dapat membantu peserta didik untuk meningkatkan kemampuan berfikir tingkat tinggi (High order Thinking Skills / HOTS) karena berfikir tingkat tinggi dapat mendorong peserta didik untuk berfikir secara luas dan mendalam tentang materi pelajaran (Widana, 2017 : 1)
HOTS merupakan proses berpikir berbagai konsep dan metode kognitif dan taksonomi pembelajaran. HOTS dalam permendikbud No.23 tentang standar penilaian dan panduan penilaian terbaru menjelaskan bahwa pentingnya mengintergrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di dalam pembelajaran.
Karakter yang diperkuat terutama 5 karakter, yaitu Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong, dan Integritas. PPK pada pembelajaran perlu juga diintegrasikan literasi dan ketrampilan tingkat tinggi.
Berfikir tingkat tinggi mencakup 4C (Creative, Critical Thinking, Communicative, dan colaborative). Pentingnya berfikir tingkat tinggi yaitu untuk menigkatkan kemampuan dalam berfikir anak didik pada level yang lebih tinggi . kemampuan yang harus dimiliki siswa yaitu kemampuan untuk berfikir secara kritis dalan menerima berbagai jenis informasi, berfikir kreatif dalam memecahkan masalah dengan pengetahuan yang dimiliki serta membuat keputusan dengan berbagai pertimbangan. Guru seharusnya memiliki
kemampuan membuat soal menggunakan taksonomi bloom C4-C6 untuk mengukur sejauh mana kemampuan siswa berfikir.
HOTS merupakan salah satu tuntutan keterampilan dalam pembelajaran abad 21, yaitu berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. HOTS (High Order Thinking Skills) merupakan kemampuan kognitif pada tingkatanalisis, evaluasi, dan inovasi. Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat terjadi ketika seseorang mengaitkan informasi yang baru diterima dengan informasi yang sudah tersimpan didalam ingatannya, kemudian menghubung-hubungkannya dan menata ulang serta mengembangkan informasi tersebut sehingga tercapai suatu tujuan atau suatu penyelesaian dari keadaan yang sulit dipecahkan (Rosnawati, 2013:3).
Kemampuan berpikir siswa dapat dibedakan menjadi 6 tingkatan yaitu mengingat (remembering), memahami (understanding), menerapkan (applying), menganalisis (analysing), menilai (evaluating), dan mencipta (creating). Kemampuan berpikir tersebut dibagi tiga kelompok, yaitu kemampuan berpikir tingkat rendah (mengingat/C-1), kemampuan berpikir tingkat menengah memahami/C-2, dan menerapkan/C-3), dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (menganalisis/C-4, menilai/C-5, dan mencipta/C-6).
Pengelompokkan tingkat berpikir dalam ranah kognitif tersebut berdasarkan klasifikasi pada revisi taksonomi bloom. Pentingnya HOTS dalam pembelajaran ditunjukkan oleh hasil penelitian Murray (2011:210) yang menjelaskan bahwa peserta didik ketika menggunakan HOTS maka mereka akan memutuskan apa yang harus dipercayai dan apa yang harus dilakukan, menciptakan ide-ide baru,
membuat prediksi, dan dapat memecahkan masalah yang tidak terjadi dikehidupan sehari- hari.Tujuan soal HOTS dalam penilaian adalah untuk mendorong siswa melakukan penalaran tingkat tinggi sehingga tidak terpaku pada satu pola jawaban yang dihasilkan dari proses hafalan tanpa mengetahui konsep keilmuan.
Berdarsarkan hasil penelitian yang relevan ada dua macam penelitian:
Beberapa penelitian menunjukan bahwa pengembangan soal HOTS adalah penting untuk mengembangkan pembelajaran siswa kelas 6. Menurut Lewis &
Smith (1993) menjelaskan High older thinking skills dalam bahasa Indonesia berarti keterampilan berpikir yang lebih tinggi. Pemikiran tingkat tinggi terjadi ketika seseorang mengambil informasi baru dan menyimpan dalam memori yang saling terkait serta mengatur ulang dan memperluas informasi untuk mencapai tujuan.
Penelitian ini menggunakan metode R&D dan menyatakan bahwa hasil penelitian pengembangan buku pelajaran soal hots dapat menambah pengetahuan siswa mengenai pengembangan kreativitas sehingga dapat diterapkan dalam dirinya. Coffman (2013) kemampuan HOTS merupakan kemampuan berpikir pada 3 tingkat teratas taksonomi Bloom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil penggunaan soal HOTS dapat digunakan dalam pembelajaran dan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa. .
Selain itu siswa diharapkan mampu mengembangkan keterampilan atau HOTS ini untuk menghadapi tantangan hidup dikemudian hari dan mampu memenangkan dalam persaingan dikehidupan selanjutnya. Sedangkan menurut
Kemendikbud (2017: 3) menjelaskan bahwa soal-soal HOTS merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu kemampuan berpikir yang tidak sekedar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Soal-soal HOTS pada konteks asesmen mengukur kemampuan: 1) transfer satu konsep ke konsep lainnya, 2) memproses dan menerapkan informasi, 3) mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda, 4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan 5) menelaah ide dan informasi secara kritis. Meskipun demikian, soal-soal yang berbasis HOTS tidak berarti soal yang lebih sulit daripada recall (Fanani, 2018: 61).
Penerapan HOTS pada soal USBN sangat dibutuhkan dalam meningkatkan daya berpikir peserta didik untuk menghadapi perkembangan di kancah Internasional. Soal HOTS bukan soal yang susah melainkan soal yang mengasah kemampuan aktif siswa agar tercipta peserta didik yang mampu berpikir secara komplek dan mendalam untuk memecahkan suatu permasalahan nyata. Penerapan soal HOTS peserta didik dapat dilakukan melalui soal UTS Bahasa Indonesia berbasis HOTS. Oleh karena itu, perlu diteliti apakah soal UTS Bahasa Indonesia tingkat SD/MI dapat memberikan stimulus peserta didik untuk berpikir tingat tinggi. Penelitian sebelumnya mengenai analisis kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) Bahasa Indonesia belum ada. Pada umumnya penelitian mengenai HOTS kebanyakan pada sains, matematika dan ekonomi, maka diperlukan penelitian dalam menganalisis kualitas soal UTS
Bahasa Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik dan memudahkan dalam mengerjakan soal UN yang berbasis HOTS.
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dan pengembangan (Research and Development) modul soal-soal HOTS agar pembelajaran yang dilakukan dapat berjalan dengan baik, terarah, dan melibatkan siswa untuk mencapai tujuan belajar. Dengan demikian peneliti terdorong untuk melakukan penelitian pengembangan modul pembelajaran yang berjudul “Pengembangan Soal HOTS Untuk Siswa Kelas VI SD”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses mengembangan buku kumpulan soal UTS Bahasa Indonesia untuk siswa kelas 6 SD
2. Bagaimana kualitas buku kumpulan soal UTS Bahasa Indonesia untuk siswa kelas 6 SD?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengembangkan buku kumpulan soal UTS Bahasa Indonesia untuk siswa kelas 6 SD
2. Mengetahui kualitas buku kumpulan soal UTS Bahasa Indonesia untuk siswa kelas 6 SD
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, maka manfaat penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu manfaat teoretis dan praktis.
1) Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis penelitian ini adalah untuk melengkapi penelitian di bidang pendidikan, khususnya pengembangan ilmu pengetahuan Bahasa Indonesia dalam meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai kajian dan referensi pengetahuan dalam menyusun soal UTS Bahasa Indonesia berbasis HOTS pada siswa kelas VI SD.
2) Manfaat Praktis
Manfaat praktis penelitian dibagi menjadi tiga peruntukan yaitu untuk siswa, guru, dan peneliti lain.
a. Bagi Siswa
Manfaat praktis untuk siswa dapat melatih daya pikir tingkat tinggi, mengasah kemampuan aktif siswa agar tercipta pengetahuan yang kreatif dan seimbang, dan untuk memudahkan dalam mengerjakan UTS berbasis HOTS, serta dapat menjawab tantangan global abad 21.
b. Bagi Guru
1) Guru dapat mengetahui perkembangan pola pikir siswa dengan menggunakan tes soal penalaran tingkat tinggi,
2) Soal yang dihasilkan dapat digunakan sebagai instrumen bagi guru,
3) Guru memperoleh pedoman/contoh tes soal HOTS.
c. Bagi penelitian lain,
hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai kajian pustaka terutama dalam penyusunan soal HOTS UTS Bahasa Indonesia tingkat SD.
E. Definisi Operasional
1. Soal HOTS adalah merupakan komponen dari suatu penilaian yang membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam penyelesaiannya.
2. High Older Thinking Skill (HOTS) atau kemampuan berfikir tingkat tinggi adalah kemampuan seseorang dalam mencapai suatu kualitas penalaran yang tinggi agar mampu menghadapi tantangan dimasa depan.
3. Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia juga menjadi bahasa persatuan Bangsa Indonesia.
F. Spesifikasi Produk yang Dibuat
1. Instrumen soal HOTS berupa soal UTS Bahasa Indonesia kelas 6 SD Semester 1.
2. Instrumen soal HOTS berbentuk pilihan ganda sebanyak 20 soal.
3. Perangkat tes hasil belajar HOTS memuat beberapa komponen yaitu (a) Kisi-kisi soal, (b) soal HOTS Bahasa Indonesia, (c) Kunci jawaban, (d) rubrik penilaian, (e) kata pengantar, (f) daftar isi, (g) biografi penulis.
4. Produk akhir dicetak dengan menggunakan ivory 230gsm untuk sampul buku dan isi dari buku soal dengan kertas A4 70gsm.
5. Buku dibuat dengan sampul yang berisi judul, nama penyusun dan untuk siapa dibuat, halaman sampul dibuat simple dan fullcolour.
BAB II
LANDASAN TEORI
Bab II membahas mengenai kajian pustaka, penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan pertanyaan penelitian.
A. Kajian Pustaka
Kajian pustaka akan dipaparkan mengenai High Older Thinking Skills (HOTS), Tes, Pengembangan Soal dan Bahasa Indonesia.
1. High Older Thinking Skills (HOTS)
High older thinking skill (HOTS) adalah kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Adi, (2016:91). Jadi Yang dimaksud Soal HOTS Soal yang yang dapat dijawab melalui berpikir tingkat tinggi. Kurikulum 2013 juga menuntut materi pembelajarannya sampai metakognitif yang mensyaratkan peserta didik mampu untuk memprediksi, mendesain, dan memperkirakan.
Kemampuan-kemampuan ini merupakan kemampuan berpikir level atas pada taksonomi Bloom yang terbaru hasil revisi oleh Anderson dan Krathwohl seperti pada gambar di bawah ini.
Taksonomi Bloom yang terbaru hasil revisi oleh Anderson dan Krathwohl
Gambar 2.1 Taksonomi Bloom Sumber : [Anderson and Krathwohl, 2001; dalam Wikipedia]
2. Karakteristik HOTS
Karakteristik High older thinking Skills menurut Kemendikbud (2019:61) a. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi
The Australian Council for Educational Research (ACER) menyatakan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan proses:
menganalisis, merefleksi, memberikan argumen (alasan), menerapkan konsep pada situasi berbeda, menyusun, menciptakan. Kemampuan berpikir tingkat tinggi bukanlah kemampuan untuk mengingat, mengetahui, atau mengulang.
Dengan demikian, jawaban soal-soal HOTS tidak tersurat secara eksplisit dalam stimulus. Kemampuan berpikir tingkat tinggi termasuk
kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making). Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu kompetensi penting dalam dunia modern, sehingga wajib dimiliki oleh setiap peserta didik.
Kreativitas menyelesaikan permasalahan dalam HOTS, terdiri atas:
a) kemampuan menyelesaikan permasalahan yang tidak familiar b) kemampuan mengevaluasi strategi yang digunakan untuk
menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda c) menemukan model-model penyelesaian baru yang berbeda dengan
caracara sebelumnya.
b. Bersifat Divergen
Instrumen penilaian HOTS harus bersifat divergen, artinya memungkinkan peserta didik memberikan jawaban berbeda-beda sesuai proses berpikir dan sudut pandang yang digunakan karena mengukur proses berpikir analitis, kritis, dan kreatif yang cenderung bersifat unik atau berbeda-beda responsnya bagi setiap individu.
Karena bersifat divergen, instrumen penilaian HOTS lebih mudah dirancang dalam format tugas atau pertanyaan terbuka, misalnya soal esai/uraian dan tugas kinerja.
Apakah soal pilihan tidak dapat digunakan untuk mengukur HOTS? Jawabannya dapat, asal proses berpikir untuk menjawab soal
pilihan tersebut bukan sekedar menghafal atau mengulang. Sebaliknya, setiap soal uraian juga belum tentu HOTS jika untuk menjawabnya tidak memerlukan penalaran. Bahkan tugas kinerjapun belum tentu HOTS, kalau hanya berbentuk resep sehingga peserta didik hanya melakukan petunjuk yang diberikan.
c. Menggunakan Multirepresentasi
Instrumen penilaian HOTS umumnya tidak menyajikan semua informasi secara tersurat, tetapi memaksa peserta didik menggali sendiri informasi yang tersirat. Bahkan di era big data seperti sekarang ini, yaitu kemudahan mendapatkan data dan informasi melalui internet, sudah selayaknya instrumen penilaian HOTS juga menuntut peserta didik tidak hanya mencari sendiri informasi, tetapi juga kritis dalam memilih dan memilah informasi yang diperlukan.
Untuk memenuhi harapan di atas, sebaiknya instrumen penilaian HOTS menggunakan berbagai representasi, antara lain verbal (berbentuk kalimat), visual (gambar, bagan, grafik, tabel, termasuk video), simbolis (simbol, ikon, inisial, isyarat), dan matematis (angka, rumus, persamaan).
d. Berbasis permasalahan kontekstual
Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, di mana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.
Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, kebumian dan ruang angkasa, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.
Dalam pengertian tersebut termasuk pula bagaimana keterampilan peserta didik untuk menghubungkan (relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply) dan mengintegrasikan (integrate) ilmu pengetahuan dalam pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan permasalahan dalam konteks nyata.
Berikut ini diuraikan lima karakteristik asesmen kontekstual, yang disingkat REACT.
a) Relating, asesmen terkait langsung dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
b) Experiencing, asesmen yang ditekankan kepada penggalian (exploration), penemuan (discovery), dan penciptaan (creation).
c) Applying, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di dalam kelas untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata.
d) Communicating, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mampu mengomunikasikan kesimpulan model pada kesimpulan konteks masalah.
e) Transfering, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mentransformasi konsep-konsep pengetahuan dalam kelas ke dalam situasi atau konteks baru.
e. Menggunakan bentuk soal beragam
Bentuk-bentuk soal yang beragam dalam sebuah perangkat tes (soal-soal HOTS) sebagaimana yang digunakan dalam PISA, bertujuan agar dapat memberikan informasi yang lebih rinci dan menyeluruh tentang kemampuan peserta tes. Hal ini penting diperhatikan oleh guru agar penilaian yang dilakukan dapat menjamin prinsip objektif. kemampuan peserta didik sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Penilaian yang dilakukan secara objektif, dapat menjamin akuntabilitas penilaian.
Terdapat beberapa alternatif bentuk soal yang dapat digunakan untuk menulis butir soal HOTS diantaranya pilihan ganda dan uraian.
a) Pilihan ganda kompleks (benar/salah, atau ya/tidak)
Soal bentuk pilihan ganda kompleks bertujuan untuk menguji pemahaman peserta didik terhadap suatu masalah secara komprehensif yang terkait antara pernyataan satu dengan yang lainnya. Sebagaimana soal pilihan ganda biasa, soal-soal HOTS yang berbentuk pilihan ganda kompleks juga memuat stimulus yang bersumber pada situasi kontekstual. Peserta didik diberikan beberapa pernyataan yang terkait
dengan stilmulus/bacaan, lalu peserta didik diminta memilih benar/salah atau ya/tidak. Pernyataan-pernyataan yang diberikan tersebut terkait antara satu dengan yang lainnya. Susunan pernyataan benar dan pernyataan salah agar diacak, tidak sistematis mengikuti pola tertentu. Susunan yang terpola sistematis dapat memberi petunjuk kepada jawaban yang benar. Apabila peserta didik menjawab benar pada semua pernyataan yang diberikan diberikan skor 1 atau apabila terdapat kesalahan pada salah satu pernyataan maka diberi skor 0.
b) Uraian
Soal bentuk uraian adalah suatu soal yang jawabannya menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut menggunakan kalimatnya sendiri dalam bentuk tertulis. Dalam menulis soal bentuk uraian, penulis soal harus mempunyai gambaran tentang ruang lingkup materi yang ditanyakan dan lingkup jawaban yang diharapkan, kedalaman dan panjang jawaban, atau rincian jawaban yang mungkin diberikan oleh peserta didik. Dengan kata lain, ruang lingkup ini menunjukkan kriteria luas atau sempitnya masalah yang ditanyakan. Di samping itu, ruang lingkup tersebut harus tegas dan jelas tergambar dalam rumusan soalnya.
3. Pengertian High Older Thinking Skills (HOTS)
Menurut Gunawan (2003) yaitu HOTS merupakan proses bepikir yang mengharuskan peserta didik untuk memanipulasi informasi yang ada dan ide- ide dengan cara tertentu yang memberikan mereka pengertian dan implikasi baru.
Menurut Kaswan (2012) yaitu HOTS merupakan cara berpikir tingkat tinggi melibatkan pola pikir kritis dan kreatif yang dipandukan oleh ide-ide kebenaran yang masing-masing mempunyai makna. Nerpikir kritis dan kreatif saling ketergantungan, seperti juga kriteria dan nilai-nilai, nlar dan emosi.
Menurut Ernawati (2017) yaitu HOTS merupakan cara berpikir yang tidak lagi hanya menghafal secara verbalistik namun memaknai hakikat dari yang terkandung diantaranya, untuk mampu memaknai makna dibutuhkan cara berpikir yang integralitik dengan analisis, sintesis, mengasosiasi hingga menarik kesimpulan soal HOTS merupakan tes yang mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang mampu menjadi bekal seseorang untuk menghadapi tantangan dimasa depan.
a. Indikator HOTS
Teori HOTS dari Anderson & Krathwohl (2001) maka penelitian ini mengacu pada teori HOTS tersebut. Berdasarkan teori HOTS dari Anderson
& Krathwohl (2001) maka indikator HOTS adalah sebgai berikut:
a) Menganalisis
Menurut Anderson & Krathwohl (2001) dan Brookhart (2010) kemampuan menganalisis merupakan kemampuan menguraikan suatu bahan atau konsep menjadi bagian-bagian dan menjelaskan bagaimana hubungan yang terjadi antara satu bagian dengan bagian lain secara keseluruhan. Kemampuan menganalisis dapat klasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu:
1. Membedakan (dijferentiating) 2. Mengorganisasi (organizing) 3. Menghubungkan (atributing) b) Mengevaluasi
Mengevauasi didefinisikan sebgaia membuat penilaian berdasarkan kriteria dan standar. Kriteria yang paling sering digunakan adalah kualitas, efektivitas, efisiensi, dan konsistensi. Standar diterapkan pada kriteria.
Kategori kemampuan evaluasi meliputi proses kognitif untuk memeriksa penilaian tentang konsistensi internal dan mengkritik penilaian berdasarkan kriteria eksternal. Kemapuan mengevaluasi diklasifikasikan menjadi kemampuan mengecek (checking) dan mengkritik (critiquing) Anderson &
Krathwohl (2001).
c) Mencipta
Kemampuan mencipta (create) melibatkan penyatuan elemen untuk membentuk keseluruhan yang koheren. Meskipun kemampuan mencipta membutuhkan pemikiran kreatif dan peserta didik. Kemampuan mencipta
diklasifikasikan memunculkan (generating), merencanakan (planning), dan menghasilkan (producting) Anderson & Krathwohl (2001).
b. Pengembangan Instrumen HOTS 1. Deskripsi Instrumen Tes
Tes dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik dapat menguasai suatu materi pembelajaran pada bidang tertentu. Tes akan menghasilkan informasi mengenai karakteristik peserta didik, baik secara kognitif, ataupun psikomotor peserta didik. Tes untuk mengukur peserta peserta yang benar dan tingkat kesalahan pengukuran yang seminimal mungkin, oleh sebab itu maka di butuhkan instrumen tes yang valid dan reliable Mardapi (2017).
Instrumen tes yang valid namun di samping hal itu tes juga harus memiliki tingkat kesalahan pengukuran yang seminimal mungkin sehingga hasil tes akan lebih akurat dalam mengukur kemampuan peserta didik.
Menurut Mardapi (2017) yaitu pengukuran di bagi menjadi 2 golongan , yaitu kesalahan acak dan kesalahan sistemik. Kesalahan acak merupakan kesalahan yang timbul sebab salah dalam memilih sampel isi tes, kondisi emosional peserta, ataupun keadaan emosi korektor jawaban peserta yang diperiksa secara manual. Sedangkan kesalahan sistematik disebabkan oleh pemberian tes dengan tingkat kesulitan yang sangat mudah ataupun sangat sulit. Dalam penyusunan harus memperhatikan komposisi dan proporsi item tes Mardapi (2017).
2. Tahap Penulisan HOTS
Pada tahap penulisan, langkah-langkahnya yaitu seperti berikut ini:
a. Rancangan.
(1) Menentukan topik yang akan dimuat.
(2) Mengatur urutan topik sesuai dengan urutan tujuan pembelajaran.
(3) Mempersiapkan rancangan.
b. Penulisan .
(1) Menulis draft 1.
(2) Mengatur urutan topik sesuai dengan urutan tujuan pembelajaran.
(3) Menulis tes/penilaian hasil peserta pembelajaran atau diklat.
3. Tahap Review, Uji Coba, dan Revisi a. Review
Pada tahap ini penulis meminta beberapa orang untuk membaca draft yang sudah dibuat, kemudian beberapa orang tersebut memberikan komentar yang konstruktif. Beberapa orang tersebut adalah ahli bidang studi, ahli media, dan teman sejawat yang sering berhubungan dengan peserta diklat/pembelajaran.
b. Uji Coba
Tahap uji coba dibagi menjadi dua tahap yaitu:
(1) Uji coba terbatas
Dalam uji coba kelompok kecil, penulis membutuhkan dua atau tiga peserta diklat sebagai sampel. Sampel yaitu dari peserta diklat yang akan mempelajari bahan belajar ini.
(2) Uji coba lapangan
Dalam uji coba lapangan, penulis membutuhkan sampel peserta diklat sebanyak 20-30 orang.
(3) Finalisasi dan Pencetakan
Setelah modul direview, diuji coba dan direvisi maka langkah berikutnya adalah finalisasi dan pencetakan. Finalisasi adalah melihat kembali kebenaran teks dan kelengkapan soal HOTS siap untuk dicetak.
4. Pembelajaran Bahasa Indonesia a. Cakupan Bahasa Indonesia SD
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, baik reseptif maupun produktif, yang diharapkan dapat menunjang keberhasilan siswa dalam mempelajari bidang studi lain Azmy, Bahauddin(2012:2).
Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang harus dipelajari oleh murid terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah
memadai sehingga sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai. Cakupan materi ajar Bahasa Indonesia SD terdiri dari aspek kebahasaan, keterampilan, dan kesusastran. Aspek kebahasaan meliputi sistem bunyi (fonem), kata (morfem), kalimat (sintaks) sampai makna (semantik). Aspek keterampilan meliputi keterampilan reseptif (menyimak dan membaca) dan keterampilan produktif (berbicara dan menulis). Sedangkan aspek kesusastraan meliputi puisi, rosa, dan drama.
Bahan ajar atau materi ajar merupakan seperangkat materi pembelajaran (teaching materials) yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran (website Dikmenjur Depdiknas).
b. Kebahasaan
Aspek kebahasaan bahasa Indonesia meliputi, aspek bunyi, bentukan kata, kalimat, dan makna. Aspek kebahasaan tidak secara eksplisit dituangkan di dalam KTSP, namun dalam pembelajaran bahasa Indonesia aspek kebahasaan tidak dapat dipisahkan dari komponen keterampilan berbahasa dan bersastra. Aspek kebahasaan merupakan unsur pembentuk bahasa yang dipakai dalam kegiatan berbahasa. Pembelajaran aspek kebahasaan bukan hal yang dapat begitu saja ditinggalkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, namun juga bukan berarti dominasi pembelajaran bahasa dilakukan pada aspek kebahasaan (Azmy, Bahauddin. 2012:7).
1) Bunyi (Fonem)
Fonem adalah unsur bahasa yang terkecil dan dapat membedakan arti atau makna (Gleason,1961: 9).
2) Lafal
Lafal adalah suatu cara seseorang atau sekelompok orang dalam mengucapkan bunyi bahasa. Bunyi bahasa Indonesia meliputi vokal, konsonan, diftone, gabungan konsonan.
3) Intonasi
Intonasi adalah naik turunnya lagu kalimat. Intonasi berfungsi sebagai pembentuk makna kalimat
4) Kata (Morfem)
Morfem adalah bentuk terkecil yang dapat membedaka makna dan atau mempunyai makna. Wujud morfem dapat berupa imbuhan, klitika, partikel dan kata dasar (misalnya –an, -lah, -kah, bawa). Sebagai kesatuan pembeda makna, semua contoh wujud morfem tersebut merupakan bentuk terkecil dalam arti tidak dapat lagi dibagi menjadi kesatuan bentuk yang lebih kecil. (Lamuddin, 2012:4)
Menurut bentuk dan maknanya, morfem dikelompokkan menjadi 2 yaitu morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas, yaitu morfem yang berdiri sendiri dari segi makna tanpa harus dihubungkan dengan morfem yang lain.
Semua kata dasar tergolong morfem bebas. Morfem terikat, yaitu morfem tidak dapat berdiri sendiri dari segi makna. (Lamuddin, 2012:5)
Makna morfem terikat baru jelas setelah morfem itu dihubungkan dengan morfem lainnya. Semua imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta kombinasi
awalan dan akhiran) tergolong sebagai morfem terikat. Selain itu unsur-unsur kecil seperti klitika, partikel, dan bentuk lain yang tidak dapat berdiri sendiri, juga tergolong sebagai morfem terikat.
5) Kalimat (Sintkas)
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan suatu pikiran yang utuh . kalimat ada yang berupa fakta ada pula yang berupa opini. Widjono (2010:11)
Kalimat fakta adalah kalimat yang berisi peristiwa atau berita yang pasti.
Mempunyai data yang valid dan dapat dibuktikan. Sedangkan kalimat opini adalah kalimat pernyataan yang berupa perkiraan atau pendapat terhadap suatu hal baik yang tidak pasti atau belum terjadi, tidak membutuhkan data yang valid dan bersifat subjektif.
B. Kajian Penelitian yang Relevan
Penelitian ini didasarkan pada penelitian yang telah dilakukan mengenai pengembangan soal HOTS dan mengenai materi mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Beberapa penelitian yang dijadikan acuan dalam pengembangan soal HOTS adalah:
1. Hasil penelitian Siti Rohayati,dkk (2018) yang berjudul “ Analisis soal Higher Order Thinking Skills (HOTS)” dalam Soal Ujian Nasional Kima Tahun 2017/2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi soal yang berkarakter Higher Order Thinking Skills (HOTS). Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan analisis karakteristik soal berdasarkan pada karakteristik stimulus, berpikir kritis dan berpikir kreatif. Dari hasil
penelitian dari pembahasan bahwa unsur-unsur setiap soal ujian nasional (UN) yang memenuhi karakteristik HOTS yaitu memiliki karakteristik berpikir kritis, dan kreatif. Setelah diteliti didapatkan hasil sebanyak 12 butir soal UN yang memiliki karakteristik HOTS pada tahun ajaran 2017/2018 dengan presentase 30% dari jumlah keseluruhan.
2. Hasil penelitian Tari Wirandani,dkk (2019) yang berjudul “ Analisis Butir Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) pada Soal Ujian Sekolah Kelas XII Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMK An-Nahl”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Dan penelitian ini tentunya untuk mengetahui seberapa banyak jumlah butir soal yang termasuk kedalam kriteria LOTS serta HOTS dari soal Ujian Sekolah kelas XII SMK An-Nahl. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif yang mana hasil penelitian ini akan dideskripsikan. Berdasarkan dari hasil penelitian, dideskripsikan pada hasil analisis dan pembahasan mengenai HOTS pada soal US Bahasa Indonesia. Diperoleh 33 butir soal memenuhi kriteria HOTS. Dari jumlah tersebut 25 butir soal dengan level menganalisis (C4), 6 soal Mengevaluasi (C5) dan 2 soal Mencipta (C6). Kemudia untuk 12 butir soal yang belum termasuk kriteria HOTS atau termasuk dalam kriteria LOTS. Terdiri dari 0 soal Mengingat (C1) 4 soal memahami (C2) dan 6 soal Menerapkan (C3).
Setelah dihitung presentase maka diperoleh jumlah 77,8% yang termasuk kedalam kriteria HOTS dan 22,2% yang masuk ke dalam kriteria LOTS. Dilihat dari jumlah tersebut maka penggunaan HOTS pada soal US
pelajaran Bahasa Indonesia pada kelas XII SMK An-Nahl Cibeber ini.
Sebagian besarnya sudah memehuni kriteria pengembangan soal HOTS.
3. Hasil penelitian Santi Eka Aprilliani, (2019) yang berjudul “Analisis Soal Tipe Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada USBN Matematika SD Tahun Pelajaran 2017/2018 dan 2018/2019 “. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar presentase soal tipe HOTS pada setiap butir soal USBN SD tahun ajaran 2017/2018 dan 2018/2019. Penelitian ini merupakan penelitian desktiptif dengan desain analisis isi dan dokumen. Berdasarkan dari hasil penelitian, Presentase soal USBN tahun pelajaran 2018/2019 mengalami pengingkatan dari presentase 2017/2018 sebesar 28,57% atau 10 butir soal tipe HOTS . Presentase 2018/2019 sebesar 54,28% atau 19 butir soal tipe HOTS. Hal ini terjadi karena adanya tuntutan dari pemerintaha kepada semua sistem pendidikan di Indonesia untuk menerapkan soal tipe HOTS dalam pembelajaran, sesuai dengan ketentuan yang ada pada kurikulum 2013.
4. Hasil penelitian Sulis Setiawan (2019) yang berjudul “Analisis Higher Order Thinking Skills (HOTS) Siwa Sekolah Dasar dalam Menyelesaikan Soal Bahasa Indonesia”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa tingkat sekolah dasar dalam menyelesaikan soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada soal ujian semseter mata pelajaran Bahasa Indonesia. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik analisis isi. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan disimpulkan dari 35 soal pilihan ganda yang diujikan, 27 soal di antaranya termasuk
kategori ketrampilan berpikir tingkat rendah (LOTS) dan 8 soal merupakan HOTS. Dan jika disimpulkan bahwa penelitian ini secara keseluruhan bahwa ketrampilan berpikir tingkat tinggi masih belum merata, perlu ditingkatkan lagi dengan menambahkan jumlah soal HOTS level C5 dan C6.
Keempat penelitian di atas relevan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Berdasarkan penelitian di atas ada beberapa hal yang sama dengan yang akan peneliti lakukan yaitu mengenai pengembangan soal HOTS. Hal yang membedakan dari penelitian yang terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu pada pokok bahasannya dan pada subjek yang diteliti belum ada kelas VI sekolah dasar. Oleh karena itu, peneliti menjadikan penelitian di atas sebagai acuan bagi peneliti untuk menyusun penelitian yang berjudul “Pengembangan Soal HOTS untuk Siswa Kelas VI SD”. Berikut ini adalah literature map dari penelitian-penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini.
Gambar 2.2 Penelitian Relevan C. Kerangka Berpikir
Berdasarkan hasil prapenelitian atau observasi, diperoleh data wawancara dengan guru kelas VI mengenai pembelajaran bahasa indonesia dengan menggunakan KTSP. Hasil belajar siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 6 SD Negeri Ngluwar 2 rendah. Hal ini ditandai dengan rata-rata nilai Bahasas Indonesia masih di bawah KKM, meskipun guru menggunakan metode pembelajaran yang aktif melalui diskusi, ceramah maupun tanya jawab.
Disamping itu, media pembelajaran yang dipakai guru berbentuk buku teks pelajaran. Media pembelajaran buku yang tersedia hanya 1 berupa buku BSE.
Siti Rohayati,dkk (2018) yang berjudul
“ Analisis soal Higher Order Thinking Skills
(HOTS)”
Tari Wirandani,dkk (2019) yang berjudul
“ Analisis Butir Soal HOTS (Higher Order Thinking
Skills)
Santi Eka Aprilliani, (2019) yang berjudul
“Analisis Soal Tipe Higher Order Thinking Skills
(HOTS)
Sulis Setiawan (2019) yang berjudul “Analisis
Higher Order Thinking Skills
(HOTS)
“Pengembangan Soal HOTS untuk Siswa
Kelas VI SD”
secara maksimal. Siswa cenderung bosan dan belum memahami materi Bahasa Indonesia yang luas, serta belum terciptanya lingkungan belajar yang kondusif karena masih ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan pada saat pembelajaran berlangsung. Siswa lebih senang bercerita diluar materi pembelajaran saat guru sedang menjelaskan maupun ketika diskusi kelompok.
Selain itu beberapa siswa tidak belajar terlebih dahulu di rumah.
Penggunaan media pembelajaran yang dapat digunakan oleh semua siswa adalah media yang tentunya menarik. Media cetak memiliki kelebihan yaitu menjadi bahan ajar mandiri serta dapat digunakan oleh setiap siswa. Guru dapat menggunakan media pembelajaran berbentuk media visual yang inovatif dan variatif. Soal hots merupakan soal yang dapat dijawab melalui berpikir tingkat tinggi (Kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakonitif dan berpikir kreatif). Penggunaan soal hots akan melatih siswa untuk memahami materi dengan berpikir kritis, kreatif, efektif, dan secara langsung akan memetakkan pikiran kita.
Sehingga dengan adanya soal hots akan meningkatkan hasil belajar siswa.
Penyusunan soal hots Bahasa Indonesia dilakukan dengan menyusun prototipe atau rancangan pengembangan soal untuk mengembangkan soal dengan melakukan analisis kebutuhan guru dan siswa terlebih dahulu. Selanjutnya akan dilakukan validasi oleh validator ahli, dan respon siswa, serta uji coba produk terhadap siswa. Selanjutnya dilakukan perbaikan atau revisi terhadap soal hots jika diperlukan. Setelah media dilakukan revisi, kemudian dilakukan uji coba pemakaian soal hots Bahasa Indonesia. Berdasarkan kajian teori tersebut.
D. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana proses pengembangan soal HOTS siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 6 SD?
2. Bagaimana kualitas soal HOTS Bahasa Indonesia siswa kelas 6 SD?
BAB III
METODE PENELITIAN
Pada bab ini diuraikan jenis penelitian, setting penelitian, prosedur pengembangan, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, validasi instrumen penelitian dan teknik analisis data
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Pengembangan (Research and Development). Penelitian dan pengembangan adalah suatu proses atau langkah-langkah ungtuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggung jawabkan. Selanjutnya, prosedurdalam penelitian pengembangan inimenerapkan prosedur ADDIE. Model ini, terdiri dari lima tahap utama, yaitu (A)nalysis, (D)esain, (D)evelopment, (I)mplementation, dan (E)valuation. (Tung,2017:57- 72). Metode penelitian dan pengembangan adalah metode yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu.
B. Setting Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Ngluwar 2 yang beralamatkan di Gedog, Ngluwar, Ngluwar, Magelang, Jawa Tengah. Merupakan salah satu SD negeri di Jawa Tengah yang bernaung di bawah Pemerintahan Dinas Pendidikan.
Peneliti memilih sekolah ini karena sebelumnya peneliti pernah melakukan wawancara dengan guru kelas VI mengenai pembelajaran Bahasa Indonesia dalam KTSP.
Peneliti memilih sekolah ini karena sebelumnya peneliti pernah melakukan wawancara dengan guru kelas VI mengenai pembelajaran bahasa indonesia dalam KTSP. Hal ini memberikan dukungan bagi peneliti dan pengembangan yang dilakukan oleh peneliti.
2. Waktu Penelitian
Penelitian pengembangan modul pembelajaran Bahasa Indonesia dilakukan pada Februari - Maret 2020. Pada tanggal 24 Februari 2020, peneliti melakukan wawancara guru. Pada tanggal 2 Maret 2020, peneliti mendesain produk. Pada tanggal 3 Juli 2020 peneliti melakukan validasi dan perbaikan produk.
3. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah 10 orang siswa kelas 6 (Enam) semester Ganjil SD Negeri Ngluwar 2 Jawa Tengah. 10 orang siswa terderi dari 5 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. 10 orang siswa ini dipilih berdasarkan rekomendasi dari guru kelas.
4. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah pengembangan soal HOTS Bahasa Indonesia kelas VI Sekolah Dasar.
C. Prosedur Pengembangan
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan soal hots Bahasa Indonesia pada Subtema Masyarakat Peduli Lingkungan kelas 6 Sekolah Dasar. Prosedur penelitian ini mengadaptasi model pengembangan ADDIE yang terdiri dari lima tahapan yang meliputi analisis (analysis), desain (design), pengembangan
(development), implementasi (implementation) dan evaluasi (evaluation) (Sugiyono, 2015: 200).
Peneliti memilih model ADDIE dikarenakan model pengembangan ADDIE efektif, dinamis dan mendukung kinerja program itu sendiri (Warsita, 2011: 7).
Model ADDIE terdiri dari 5 komponen yang saling berkaitan dan terstruktur secara sistematis yang artinya dari tahapan yang pertama sampai tahapan yang kelima dalam pengaplikasiannya harus secara sistematik dan tidak bisa diurutkan secara acak. Kelima tahap atau langkah ini sangat sederhana jika dibandingkan dengan model desain yang lainnya.
Sifatnya yang sederhana dan terstruktur dengan sistematis maka model desain ini mudah dipahami dan diaplikasikan. Model pengembangan ADDIE terdiri dari lima tahapan yang meliputi analisis (analysis), desain (design), pengembangan (development), implementasi (implementation) dan evaluasi (evaluation) (Sugiyono, 2015: 200). Adapun langkah penelitian pengembangan ADDIE dalam penelitian ini jika disajikan dalam bentuk bagan adalah sebagai berikut:
Gambar 3.1 Langkah-langkah model pengembangan ADDIE (Sugiyono, 2015:
200)
Pengembangan (Development) Desain
(Design) Analisis
(Analysis)
Evaluasi (Evaluation)
Implementasi (Implementationn)
Sesuai dengan model pengembangan soal hots yang digunakan, prosedur pengembangan soal hots terdiri dari lima tahap, yaitu:
1. Tahap Analisis (Analysis)
Pada tahap ini, kegiatan utama adalah menganalisis perlunya pengembangan media pembelajaran baru dan menganalisis kelayakan dan syarat-syarat pengembangan media pembelajaran baru (Sugiyono. 2015:
200). Berdasarkan tahap analisis yang dilakukan peneliti dengan melakukan melakukan wawancara. Media pembelajaran yang digunakan tidak variatif yaitu hanya media bahan cetak berupa buku BSE dan LKS saja sehingga membuat peserta didik kurang bersemangat saat pembelajaran berlangsung. Berdasarkan permasalahan tersebut perlu adanya pengembangan media pembelajaran KTSP. Berdasarkan data yang diperoleh selanjutnya peneliti akan merancang penanganan yang efektif dengan mengembangkan soal hots pada pembelajaran bahasa indonesia Kelas VI SD.
2. Tahap Desain (Design)
Pada tahap ini desain media yang dikembangkan digambarkan dalam tahap-tahap berikut:
a. Berdasarkan hasil wawancara, diperoleh bahwa SD Negeri Ngluwar 2 lebih banyak menggunakan media buku BSE dan LKS.
b. Menyusun rencana pembuatan media yang diawali dengan menyusun kerangkan pembuatan soal hots. Acuan dalam penyusunan soal hots
adalah spesifikasi produk yang telah dibuat. Langkah kedua menyusun kerangka pembuatan soal.
3. Tahap Pengembangan (Development)
Desain produk yang telah disusun, dikembangkan berdasarkan tahap-tahap berikut:
a. Peneliti menggabungkan bahan-bahan yang sudah terkumpul sesuai dengan pembuatan soal. Setelah itu peneliti mengoreksi ulang media hasil pengembangan sebelum divalidasi, jika sudah sesuai selanjutnya produk telak siap untuk divalidasi.
b. Membuat angket validitas produk untuk ahli media dan ahli materi, angket untuk respon guru dan peserta didik. Angket validitas produk ahli terdiri dari aspek-aspek soal. Angket validitas materi terdiri dari aspek pembelajaran, kurikulum, isi materi, interaksi, umpan balik, penanganan kesalahan. Angket respon guru terdiri dari beberapa aspek penilaian yang meliputi: aspek pembelajaran, kurikulum, isi materi, interaksi, umpan balik, penanganan kesalahan. Sedangkan angket respon peserta didik terdiri dari pengoperasian atau penggunaan media, reaksi pemakaian, dan fasilitas pengdukung atau tambahan.
c. Validasi desain pembelajaran soal hots yang dilakukan oleh ahli soal dan ahli materi. Tujuan dilakukan validasi untuk mendapatkan penilaian dan saran dari ahli materi serta ahli soal mengenai kesesuaian materi dan tampilan soal.
d. Setelah mendapat masukan dari para ahli dan divalidasi, maka diketahui kelemahannya. Kelemahan tersebut selanjutnya dicoba untuk dikurangi dengan cara memperbaiki produk yang dikembangkan. Produk yang sudah direvisi dan mendapat predikat baik, maka produk tersebut dilanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu tahap implementasi
4. Tahap Implementasi (Implementation)
Tahap implementasi dilakukan pada kelas VI SD Negeri Ngluwar 2 sebanyak 10 peserta didik. Selama uji coba berlangsung, peneliti membuat catatan tentang kekurangan dan kendala yang masih terjadi ketika produk tersebut diimplementasikan, selain itu peserta didik juga diberi angket respon mengenai penggunaan soal hots. Peserta didik juga diberikan soal tes setelah penggunaan media untuk mengetahui keefektifan soal.
5. Tahap Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi adalah proses untuk menganalisis media pada tahap implementasi masih terdapat kekurangan dan kelemahan atau tidak.
Apabila sudah tidak terdapat revisi, maka media layak digunakan.
Rincian langkah penelitian dan pengembangan yang dilaksanakan oleh peneliti akan digambarkan pada gambar 3.2
Tahap Analisis
Analisis
Masalah Wawancara Data
Wawancara
Penemuan Analisis Masalah
Tahap Desain
Tahap Pengembangan
Tahap Implementasi
Tahap Evaluasi
Gambar 3.2 Rincian Penelitian dan Pengembangan yang akan dilakukan dalam penelitian
Rancangan Pembuatan
Produk
Spesifikasi Produk Soal
HOTS Pembelajaran
Desain Soal HOTS
Pembuatan Soal HOTS
Produk Siap di Validasi
Pre-test
Melaksanakan Pembelajaran dengan Menggunakan Media
Post-test
Implementasi Hasil
Eevaluasi
Revisi Produk
Hasil Produk Setelah Direvisi
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah teknik tes dan teknik non tes yang terdiri dari wawancara dan angket.
1. Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data oleh peneliti apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden secara mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil (Sugiyono, 2015:194). Wawancara dalam penelitian ini digunakan untuk mengambil data awal saat identifikasi masalah.
Wawancara yang dilakukan adalah dengan wawancara tidak terstruktur atau wawancara terbuka.
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara untuk mendapatkan informasi yang mendalam (Sugiyono, 2015:197-198). Wawancara dilakukan oleh peneliti kepada guru pengampu Bahasa Indonesia Kelas VI SD Negeri Ngluwar 2 untuk mengetahui kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VI berkaitan dengan bahan ajar, media pembelajaran, KD dan indikator yang digunakan, dan kegiatan pembelajaran di kelas VI SD Negeri Ngluwar 2.
2. Kuisioner
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2015:199). (dalam Sugiyono, 2015:200) menyebutkan bahwa ada beberapa prinsip dalam penulisan angket yaitu: prinsip penulisan, pengukuran, dan penampilan fisik. Kuesioner atau angket digunakan oleh peneliti sebagai angket kebutuhan guru dan siswa, angket validasi, serta angket respon guru dan siswa. Angket kebutuhan guru dan siswa diberikan agar produk yang peneliti kembangkan sesuai dengan kebutuhan guru dan siswa. Sedangkan angket validasi diisi oleh tim validator yang terdiri dari validator soal untuk mengetahui penilaian dan pendapat dari validator soal terhadap soal hots Bahasa Indonesia tersebut.
Serta kuesioner atau angket yang digunakan untuk mengetahui respon peserta didik dan guru terhadap soal hots. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu angket dengan menggunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2015:134).
E. Instrumen Penelitian
Instrumen pengumpulan data pengembangan yang disusun dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pedoman Wawancara Guru
Wawancara dilakukan secara semi terstuktur oleh karena itu diperlukan pedoman wawancara agar proses wawancara tidak menyimpang dari fokus dan rumusan masalah dalam penelitian. Pedoman wawancara yang dibuat untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan wawancara ditujukan kepada guru kelas VI di SD Negeri Ngluwar 2.
Tabel 3.1 Pedoman wawancara guru kelas VI
No Topik Pertanyaan
1 Identitas
2 Metode yang digunakan dalam mengajar Bahasa Indonesia a. Pembelajaran Bahasa Indonesia secara umum
3 Soal tes yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia a. Pembuatan soal tes dalam Ulangan Tengan Semester
(UTS) untuk pembelajaran Bahasa Indonesia secara umum
b. Soal tes Bahasa Indonesia
4 Pendapat guru tentang pentingnya pengetahuan peserta didik mengenai materi Soal HOTS Bahasa Indonesia
5 Pendapat guru tentang pentingnya penggunaan soal tes pada soal Bahasa Indonesia
6 Kesulitan yang dialami guru saat mengajar
a. Pembelajaran Bahasa Indonesia secara umum 7 Cara guru mengatasi kesulitan yang dialami saat mengajar 8 Saran untuk produk yang dikembangkan peneliti
2. Lembar Angket/Kuesioner
Angket atau kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket validasi, angket respon guru, dan angket respon peserta didik.
a. Angket Validasi
Angket validasi digunakan untuk menunjukkan adanya tingkat kevalidan suatu media. Penelitian ini menggunakan dua angket penilaian untuk menvalidasi media pembelajaran yakni satu angket untuk ahli materi dan satu angket untuk ahli media.
b. Angket Respon Guru dan Peserta didik
Angket respon guru dan peserta didik digunakan untuk memperoleh data mengenai respon guru dan peserta didik terhadap pengoperasian atau penggunaan media. Hasil penilaian angket respon guru dan peserta didik akan menunjukkan kepraktisan media yang digunakan.
a) kuesioner validasi oleh ahli
Angket validasi produk ahli diajukan sebelum produk diujikan kepada siswa. Angket berisi pernyataan yang berisi tiga aspek (isi buku dan bahasa. Desain buku dan tujuan pembuatan buku ) dan pernyataan dalam angket berjumlah 15 butir.
Tabel 3.2 Angket ahli materi dan ahli media
No Pernyataan Pilihan Jawaban
STS ST S SS 1. Kalimat soal dirumuskan dengan
kalimat tanya atau perintah yang jelas.
2. Petunjuk soal jelas.
3. Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal yang sebelumnya.
4. Kalimat soal komunikatif.
5. Kalimat soal menggunakan bahasa yang baik dan benar.
6. Kalimat soal tidak menimbulkan penafsirang ganda.
7.
Kalimat soal tidak mengandung kata- kata yang dapat menyinggung perasaan siswa.
8. Kalimat soal menggunakan kalimat yang sederhana dan mudah dipahami siswa
9. Soal memenuhi kriteria C4, C5 dan C6
10.
Materi yang disajiakan dalam soal mencakup semua materi yang terkandung dalam Standar (SK) Memahami teks dan cerita anak yang di bacakan. (KD) yaitu Menulis hal- hal penting / pokok
11. Indikator pembelajaran pada buku sesuai dengan SK dan KD
12. Materi yang disajikan dalam buku membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah diisyaratkan dalam indikator pencapaian kompetensi.
13.
Materi yang disajikan dalam buku sesuai dengan tingkat kemampuan