SKRIPSI
OLEH:
TENGKU INA MAGHFIRA INDRIATY 130304084
AGRIBISNIS
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK
T. Ina Maghfira Indriaty (130304084) dengan judul skripsi “Analisis Forecasting Produksi dan Konsumsi Telur Ayam Ras di Provinsi Sumatera Utara.”
Penelitian ini di bimbing oleh Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec., selaku ketua komisi pembimbing dan Ibu Ir. Iskandarini, M.M, Ph.D., selaku anggota komisi pembimbing.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa forecasting produksi dan konsumsi telur ayam ras di Sumatera Utara dengan analisis deskriptif. Metode penentuan daerah yang digunakan secara purposive. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder (tidak langsung) yang diperoleh dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Utara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pada tahun 2006-2015 di Provinsi Sumatera Utara, produksi dan konsumsi telur ayam ras mengalami trend positif. Pada tahun 2006-2015 di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan konsumsi telur ayam ras lebih besar dari produksi telur ayam ras Provinsi Sumatera Utara. Untuk tahun 2017-2026 di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan bahwa proyeksi produksi dan konsumsi telur ayam ras mengalami trend positif dan dengan perbedaan tipis antara proyeksi produksi dan konsumsi telur ayam ras Provinsi Sumatera Utara.
Kata Kunci: Forecasting, Produksi dan Konsumsi Pangan Hewani
ii
ABSTRACT
T. Ina Maghfira Indriaty (130304084) with the title of "Analysis of Forecasting Production and Consumption of Chicken Eggs in North Sumatra Province." This research was guided by Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec., as chairman of the supervising commission and Ibu Ir. Iskandarini, M.M, Ph.D., as a member of the supervising commission.
This study aims to analyze forecasting production and consumption of chicken eggs in North Sumatra with descriptive analysis. The method of determining the area used purposively. The data used in this study are secondary data (indirect) obtained from the Animal Husbandry and Animal Health Office of North Sumatra Province.
The results showed that In the year 2006-2015 in North Sumatra Province, the production and consumption of chicken eggs experienced a positive trend. In 2006- 2015 in North Sumatra Province showed the consumption of chicken eggs greater than the production of chicken eggs of North Sumatra Province. For the year 2017- 2026 in North Sumatra Province shows that the projection of egg production and consumption of chicken eggs experienced a positive trend and with a slight difference between the projected production and consumption of chicken eggs of North Sumatra Province.
Keywords: Forecasting, Eggs Production and Eggs Consumption
Universitas Sumatera Utara
RIWAYAT HIDUP
T. INA MAGHFIRA INDRIATY lahir di Natal pada tanggal 22 September 1995, anak dari Bapak Tengku Indra Abadi dan Ibu Endang Tuti Admiarty.
Penulis merupakan anak Kedua dari tiga bersaudara.
Pendidikan formal yang pernah di tempuh penulis adalah sebagai berikut : 1. Pada Tahun 2001 masuk Sekolah Dasar Swasta Pertiwi, tamat tahun 2007.
2. Tahun 2007 masuk Sekolah Menengah Pertama Swasta Pertiwi, tamat tahun 2010.
3. Tahun 2010 masuk Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Medan, tamat tahun 2013.
4. Tahun 2013 diterima di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan melalui jalur SNMPTN. Selama masa perkulian penulis aktif mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan, Ikatan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (IMASEP).
5. Pada bulan Juni – Agustus 2016 penulis melaksanakan PKL (Praktik Kerja Lapangan) di desa Kota Pari, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai.
6. Pada bulan Februari – November 2017 Penulis Melakukan Penelitian Skripsi.
ii
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat, rahmat dan hidayah – Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Adapun judul skripsi ini adalah : “Analisis Forecasting Produksi dan Konsumsi Telur Ayam Ras di Provinsi Sumatera Utara”. Skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Segala hormat dan terimakasih pada kesempatan ini penulis ucapkan secara khusus kepada kedua orang tua penulis yaitu Ayahanda Tengku Indra Abadi dan Ibunda Endang Tuti Admiarty yang telah memberikan seluruh cinta dan kasih sayang, motivasinya, serta dukungan yang tiada hentinya baik secara materi maupun nasehat serta do’a kepada penulis selama menjalani kuliah.
Penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan arahan berbagai pihak. Pada kesempatan ini dengan segala ketulusan dan kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk mengajar, membimbing serta memberi masukan dan semangat yang sangat berharga dalam penyusunan skripsi ini.
2. Ibu Ir. Iskandarini, M.M, Ph.D selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing, memotivasi dan memberikan masukan yang sangat berarti kepada penulis.
3. Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec selaku Ketua Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Universitas Sumatera Utara
4. Bapak Ir. M. Jufri, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
5. Seluruh Dosen, Staff, dan Pegawai di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
6. Seluruh keluarga besar terimakasih atas dukungannya selama ini. Khususnya ayah saya T. Indra Abadi dan adinda tercinta, Endang Tuti Atmiarty.
7. Sahabat – Sahabatku, Nofri, Siti, Nisa, Vera, Sahla, Ayu, FINNIF, Luluk, Suci, Inal, Tyto, Dimas, dan Dede serta seluruh Sahabat mahasiswa stambuk 2013 Program Studi Agribisnis. Semoga apa yang kita cita – citakan terwujud dan semoga Allah selalu melindungi kita semua.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan Terimakasih dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Penulis
Medan, Januari 2018
iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka ... 6
2.1.1 Daging Sapi ... 6
2.2 Landasan Teori ... 8
2.2.1 Teori Permintaan ... 8
2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan ... 9
2.3 Penelitian Terdahulu ... 13
2.4 Kerangka Pemikiran ... 17
2.5 Hipotesis Penelitian ... 18
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 19
3.2 Metode Pengumpulan Data ... 19
3.3 Metode Analisis Data ... 20
3.4 Definisi dan Batasan Operasional ... 26
3.5.1 Definisi ... 26
3.5.2 Batasan Operasional ... 26 BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
Universitas Sumatera Utara
4.1 Letak dan Kondisi Geografis ... 27
4.2 Kondisi Iklim dan Topografi ... 28
4.3 Kondisi Demografi ... 28
4.4 Deskripsi Variabel ... 32
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Perkembangan Harga dan Permintaan Daging Sapi ... 37
5.2 Hasil Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Daging Sapi di Sumatera Utara ... 40
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 65
6.2 Saran ... 65 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1 1.1 Latar Belakang
Sektor peternakan di Indonesia mempunyai potensi yang sangat baik untuk dikembangkan. Ditinjau dari kekayaan sumberdaya alam dan daya dukung ekosistem yang sangat besar, Indonesia sangat berpotensi untuk dapat mengasilkan produk dan jasa peternakan secara meluas seperti bahan pangan dan pakan, farmasi, bioenergi, kosmetika, agrowisata, estetika, dan sebagainya (Ismail, 2008).
Secara umum, zat gizi yang dibutuhkan setiap orang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Protein mempunyai peranan penting bagi tubuh. Fungsi protein yang utama yaitu sebagai zat pembangun dan pengatur tubuh. Protein dapat berasal dari hewan (hewani) dan tumbuhan (nabati). Protein hewani memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan protein nabati. Hal ini karena protein hewani mengandung sembilan asam amino yang diperlukan tubuh.
Zat ini terkandung dalam daging, telur dan susu (Sediaoetama 2008).
Fakta yang ada menunjukkan bahwa konsumsi telur lebih besar daripada konsumsi hasil ternak lain, karena telur mudah diperoleh dengan harga relatif murah dan terjangkau bagi anggota masyarakat yang mempunyai daya beli rendah (Salim dkk, 2001).
Telur ayam ras adalah salah satu sumber pangan protein hewani yang populer dan sangat diminati oleh masyarakat. Hampir seluruh kalangan masyarakat dapat mengonsumsi telur ayam ras untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Hal ini
Universitas Sumatera Utara
2
karena telur ayam ras relatif murah dan mudah diperoleh serta dapat memenuhi kebutuhan gizi yang diharapkan (Lestari, 2009).
Telur ayam ras segar adalah telur yang tidak mengalami proses pendinginan dan tidak mengalami penanganan pengawetan serta tidak menunjukan tanda-tanda pertumbuhan embrio yang jelas, yolk belum tercampur dengan albumen, utuh, dan bersih (Rasyaf, 1990).
Telur ayam ras mempunyai kandungan protein yang tinggi dan susunan protein yang lengkap, akan tetapi lemak yang terkandung di dalamnya juga tinggi. Secara umum telur ayam ras dan telur itik merupakan telur yang paling sering di konsumsi oleh masyarakat (Sudaryani, 2003).
Menurut Rukmana (2002), upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi Telur Ayam Ras yaitu dengan cara intensifikasi di sentra produksi, ekstensifikasi dan diversifikasi yang tertumpu pada potensi sumberdaya seperti pemanfaatan lahan, tenaga kerja, modal dan lainnya merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan efesiensi usahatani guna mengurangi impor yang pada gilirannya dapat menciptakan nilai tambah dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat banyak.
Sebagian besar konsumsi Telur Ayam Ras di Indonesia masih digunakan untuk bahan makanan manusia dalam bentuk olahan seprti tahu, tempe, kecap, tauco dan minuman sari Telur Ayam Ras. Jadi sebagian besar Telur Ayam Ras dikonsumsi oleh industri makanan olahan. Industri tahu dan tempe merupakan pengguna Telur Ayam Ras terbesar, dimana pada tahun 2002, kebutuhan Telur Ayam Ras untuk tahu dan tempe mencapai 1,78 ton atau 88% dari total kebutuhan nasional,
sedangkan industri lainnya seperti industri tepung membutuhkan Telur Ayam Ras sebanyak 12% dari total kebutuhan nasional (Puslitbang Tanaman Pangan, 2005).
Tabel 1.1. Populasi Ayam Ras Petelur Provinsi Sumatera Utara Tahun 2000- 2015
Tahun Populasi Telur Ayam Ras (Ekor)
2006 7.065.566
2007 8.224.445
2008 7.698.504
2009 8.168.685
2010 8.839.750
2011 8.994.445
2012 12.055.592
2013 15.704.311
2014 14.838.083
2015 15.207.333
Total 106.796.714
Sumber: Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi (Disnak) Sumatera Utara, 2016
Berdasarkan Tabel 1.1. dapat dilihat bahwa, populasi telur ayam ras mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Akan tetapi jika dilihat lebih jelas bahwa populasi telur ayam ras terendah terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 7.065.566 ekor dan populasi telur ayam ras tertinggi terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 15.704.311.
Upaya peningkatan Telur Ayam Ras baik dari kuantitas maupun kualitas terus diupayakan oleh pemerintah. Di Sumatera Utara sampai saat ini masih terjadi kesenjangan yang sangat lebar antara produksi dan konsumsi Telur Ayam Ras.
Produksi Telur Ayam Ras di Sumatera Utara tidak mampu memenuhi kebutuhan terhadap konsumsi Telur Ayam Ras. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan Telur Ayam Ras tersebut, pemerintah melakukan kebijakan impor Telur Ayam Ras.
Peningkatan konsumsi Telur Ayam Ras yang terjadi di Sumatera Utara akan meningkatkan impor Telur Ayam Ras karena produksi Telur Ayam Ras di
Universitas Sumatera Utara
4
Sumatera Utara belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap Telur Ayam Ras. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat data pada Tabel 1.2.
Tabel 1.2. Produksi dan Konsumsi Teluar Ayam Ras Petelur Provinsi Sumatera Utara Tahun 2000-2015
Tahun Produksi Telur Ayam Ras (Ton)
Konsumsi Telur Ayam Ras (Ton)
2006 48.820 49.941,80
2007 73.892 73.669,28
2008 68.979 68.993,85
2009 69.323 72.001,15
2010 74.302 79.191,44
2011 79.204 80.587,11
2012 108.018 107.969,82
2013 140.711 140.592,53
2014 132.949 145.240,27
2015 136.258 136.311,65
Total 932.456 954.498,90
Rataan 93.245,6 95.449,89
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, 2016
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi (Disnak) Sumatera Utara, 2016
Berdasarkan Tabel 1.2. dapat dilihat bahwa, dalam kurun waktu 10 tahun yakni tahun 2006-2015, produksi telur ayam ras tertinggi di Provinsi Sumatera Utara terjadi pada tahun 2013 yaitu 140.711 ton, sedangkan produksi terendah terendah terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 48.820 ton. Sedangkan konsumsi telur ayam ras tertinggi di Provinsi Sumatera Utara terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar 145.240,27 ton dan konsumsi telur ayam ras terendah terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 49.941,80.6 Total produksi telur ayam ras dari tahun 2006-2015 yaitu sebesar 932.456 ton.. Total konsumsi telur ayam ras dari tahun 2006-2015 yaitu sebesar 954.498,90 ton. Sehingga dari tabel diketahui bahwa produksi telur ayam ras tidak dapat memenuhi konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara.
Prospek usaha peternakan ayam ras petelur di Indonesia dinilai sangat baik dilihat dari pasar dalam negeri maupun luar negeri, namun kapasitas produksi peternakan ayam ras petelur di Indonesia masih belum mencapai kapasitas produksi yang optimal (Abidin dalam Multiningrum, 2003).
Hal ini terlihat dari banyaknya perusahaan pembibitan, pakan ternak, dan obat- obatan yang masih berproduksi di bawah kapasitas terpasang. Artinya, prospek pengembangannya masih terbuka. Pada sisi lain produksi telur ayam ras telah mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri sebesar 65%. Sisanya dipenuhi dari telur ayam kampung, itik, dan puyuh. Menyongsong perdagangan global yang sudah mulai terasa saat ini, maka potensi produksi telur ayam ras dari Indonesia untuk mengisi pasar luar negeri semakin terbuka mengingat produk ayam ras bersifat elastis terhadap perubahan pendapatan per kapita per tahun dari suatu Negara.
Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi adalah faktor ekonomi dan harga dimana ekonomi keluarga relatif mudah diukur dan berpengaruh besar pada konsumsi pangan, terutama pada golongan miskin. Selain pendapatan, faktor ekonomi yang mempengaruhi konsumsi pangan adalah harga pangan dan non pangan.
Harga pangan yang tinggi menyebabkan berkurangnya daya beli yang berarti pendapatan rill berkurang. Keadaan ini menyebabkan konsumsi pangan berkurang sedangkan faktor sosial, budaya dan religi yaitu aspek sosial budaya berarti fungsi pangan dalam masyarakat yang berkembang sesuai dengan keadaan lingkungan, agama, adat, kebiasaan dan pendidikan masyarakat tersebut. Kebudayaan
Universitas Sumatera Utara
6
mempengaruhi seseorang dalam konsumsi pangan yang menyangkut pemilihan jenis bahan pangan, pengolahan serta persiapan dan penyajian (Baliwati, 2004).
Diantara produk peternakan yang mengandung protein tinggi yaitu daging, telur, dan susu. Konsumsi atau permintaan konsumen akan produk peternakan ini sangat berkaitan erat dengan daya beli konsumen.
Di Sumatera Utara sampai saat ini masih terjadi kesenjangan yang sangat lebar antara produksi dan konsumsi Telur Ayam Ras. Impor Telur Ayam Ras dilakukan pemerintah untuk mengatasi konsumsi yang terus meningkat, karena ketidakmampuan produksi Telur Ayam Ras lokal untuk memenuhi kebutuhan terhadap konsumsi Telur Ayam Ras. Sehingga berdasarkan latar belakang, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan mengangkat judul
“Analisis Forecasting dan Rasio Produksi dan Konsumsi Telur Ayam Ras di Provinsi Sumatera Utara”.
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana trend produksi dan konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara (2006-2015)?
2. Bagaimana rasio produksi dengan konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara (2006-2015)?
3. Bagaimana forecasting produksi dan konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara (2018-2027)?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah:
1. Untuk menganalisis trend produksi dan konsumsi Telur Ayam Ras di Provinsi Sumatera Utara (2006-2015).
2. Untuk menganalisi rasio produksi dengan konsumsi Telur Ayam Ras di Provinsi Sumatera Utara pada tahun (2006-2015).
3. Untuk menganalisi forecasting produksi dan konsumsi Telur Ayam Ras di Provinsi Sumatera Utara (2018-2027).
1.4. Kegunaan Penelitian
Penelitian dalam hal ini diharapkan dapat berguna antara lain sebagai berikut:
1. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam menyikapi kebutuhan Telur Ayam Ras di masa mendatang.
2. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah untuk membuat kebijakan peningkatan produksi Telur Ayam Ras serta mengurangi impor Telur Ayam Ras.
3. Sebagai bahan informasi dan referensi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
Universitas Sumatera Utara
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 TinjauanPustaka 2.1.1 Telur Ayam Ras
Telur ayam ras merupakan telur yang paling populer dan paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Telur ayam ras merupakan salah satu sumber pangan protein hewani yang populer dan sangat diminati oleh masyarakat. Hampir seluruh kalangan masyarakat dapat mengonsumsi telur ayam ras untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Hal ini karenatelur ayam ras relatif murah dan mudah diperoleh serta dapat memenuhi kebutuhan gizi yang diharapkan (Lestari, 2009).
Telur ayam ras mempunyai kandungan protein yang tinggi dan susunan protein yang lengkap, akan tetapi lemak yang terkandung di dalamnya juga tinggi. Secara umum telur ayam ras dan telur itik merupakan telur yang paling sering di konsumsi oleh masyarakat (Sudaryani, 2003).
Telur ayam ras termasuk mengandung semua jenis asam amino esensial bagi kebutuhan manusia. Asam amino esensial merupakan komponen utama penyusun protein yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh. Telur ayam ras mengandung berbagai vitamin dan mineral, termasuk vitamin A, riboflavin, asam folat, vitamin B12, choline, besi, kalsium, fosfor dan (Buckle et al.,2009).
Telur dapat dibedakan sebagai telur komersial dan telur bibit. Telur komersial yaitu telur yang dihasilkan dari peternakan unggas petelur komersial dengantujuan untuk konsumsi manusia, dan telur ini tidak mengandung embrio (infertil). Telur bibit yang dikenal dengan telur tetas adalah telur yang dihasilkan dari peternakan
pembibitan unggas dan telur berasal dari induk yang dikawinkan oleh pejantan dengan tujuan telurnya untuk ditetaskan (Kurtini dkk, 2011).
Telur ayam ras juga merupakan makanan yang tergolong ekonomis serta merupakan sumber protein yang lengkap. Satu butir telur ayam ras berukuran besar mengandung sekitar 7 gram protein. Kandungan vitamin A, D, dan E terdapat dalam yolk. Telur ayam ras memang dikenal menjadi salah satu dari sedikit makanan yang mengandung vitamin D (Buckleet al., 2009).
2.1.2 Kualitas Telur Ayam Ras
Telur adalah salah satu bahan makanan asal ternak yang bernilai gizi tinggi karena mengandung zat-zat makanan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia seperti protein dengan asam amino yang lengkap, lemak, vitamin, mineral, serta memiliki daya cerna yang tinggi. Telur merupakan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi, hal ini ditandai dengan rendahnya zat yang tidak dapat diserap setelah telur dikonsumsi (Mulyantini, 2010).
Sebutir telur mengandung zat gizi yang lengkap dan mudah dicerna. Sebutir telur terdiri dari 11% kulit telur, 58% putih telur dan 31% kuning telur. Sebutir telur mengandung 6–7 gram protein, 0,6 gram karbohidrat, 5 gram lemak, vitamin dan mineral. Protein telur merupakan protein yang bermutu tinggi dan mudah dicerna.
Dalam telur protein lebih banyak terdapat pada kuning teluryaitu sebanyak 16,5%
sedangkan pada putih telur sebanyak 10,9% (Zulfikar, 2008).
Secara umum telur ayam mempunyai kualitas gizi yang baik. Perlu dicatat bahwa semua zat gizi di dalam telur mudah dicerna oleh tubuh manusia, sehingga sebagian besar zat gizi yang ada dalam telur siap tersedia untuk tubuh. Oleh sebab
Universitas Sumatera Utara
10
itu, tidak ada ala an untuk tidak mengkonsumsi telur selagi tubuh Anda tidak ada penyakit yang terkait dengan kolesterol atau alergi telur.
2.2. Landasan Teori
2.2.1 Forecasting
Peramalan (Forecasting) merupakan suatu kegiatan atau usaha untuk meramalkan keadaan di masa mendatang melalui pengujian keadaan dimasa lalu. Esensi peramalan adalah perkiraan peristiwa–peristiwa diwaktu yang akan datang atas dasar pola–pola di waktu yang lalu, dan penggunaan kebijakan terhadap proyeksi- proyeksi dengan pola–pola di waktu yang lalu (Prasetya dan Lukiastuti, 2009).
Menurut Arsyad (2001), semua metode peramalan menggunakan pengalaman- pengalaman masa lalu untuk meramalkan masa depan yang mengandung ketidakpastian. Oleh karena itu, metode peramalan mengasumsikan bahwa kondisi-kondisi yang menghasilkan data masa lalu tidak berbeda dengan kondisi di masa datang kecuali variabel-variabel yang secara eksplisit digunakan dalam model peramalan tersebut. Ramalan-ramalan yang berguna bagi manajemen harus dianggap sebagai suatu proses yang sistematik. Dengan kata lain, suatu ramalan janganlah dianggap sebagai suatu hal yang permanen atau statis. Sifat dinamis dari pasar mengharuskan suatu ramalan untuk dikaji ulang, direvisi dan didiskusikan.
Kegunaan dari peramalan terlihat pada saat pengambilan keputusan. Keputusan yang baik adalah keputusan yang didasarkan atas pertimbangan apa yang akan terjadi pada waktu keputusan itu dilaksanakan. Apabila kurang tepat ramalan yang
kita susun, maka masalah peramalan juga merupakan masalah yang selalu kita hadapi (Ginting, 2007).
Banyak keputusan penting yang dilakukan secara pribadi maupun perusahaan mengarah kepada kejadian-kejadian di masa mendatang sehingga memerlukan peramalan tentang keadaan lingkungan masa depan tersebut. Dalam dunia bisnis, gambaran tentang masa depan perusahaan yang memungkinkan manajemen, membuat perencanaan, menciptakan peluang bisnis maupun mengatur pola investasi mereka. Ketepatan hasil peramalan bisnis akan meningkatkan peluang tercapainya investasi yang menguntungkan. Semakin tinggi akurasi yang dicapai peramalan, semakin meningkat pula peran peramalan dalam perusahaan karena hasil dari suatu peramalan dapat memberikan arah bagi perencanaan perusahaan (Sugiarto dan Harijono, 2000).
Seiring terdapat waktu tenggang antara kesadaran akan peristiwa atau kebutuhan mendatang dengan peristiwa itu sendiri. Adanya waktu tenggang ini merupakan alasan utama bagi perencanaan dan peramalan. Dalam situasi seperti ini peramalan diperlukan untuk menetapkan kapan suatu peristiwa akan terjadi atau timbul, sehingga tindakan yang tepat dapat dilakukan (Purba, 2009).
Menurut Heizer dan Render (2009), tujuan dan fungsi peramalan yaitu:
1. Untuk mengakaji kebijakan perusahaan yang berlaku saat ini dan dan dimasa lalu serta melihat sejauh mana pengaruh dimasa datang.
2. Peramalan diperlukan karena adanya time lag atau delayantara saat suatu kebijakan perusahaan ditetapkan dengan saat implementasi.
Universitas Sumatera Utara
12
3. Peramalan merupakan dasar penyusutan bisnis pada suatu perusahaan sehingga dapat meningkatkan efektivitas suatu rencana bisnis.
Pada umumnya peramalan dapat dibedakan dari beberapa segi tergantung dari cara melihatnya. Apabila dilihat dari sifat teknik peramalan maka peramalan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu :
1. Peramalan Kuantitatif
Peramalan kuantitatif adalah peramalan yang didasarkan atas data kuantitatif pada masa lalu. Peramalan kuantitatif sangat mengandalkan pada data histories yang dimiliki. Hasil peramalan yang dibuat sangat bergantung pada metode yang digunakan dalam peramalan tersebut. Peramalan kuantitatif dapat dibagi dalam deret berkala (time series) dan deret kausal.
Peramalan kuantitatif dapat digunakan bila terdapat tiga kondisi sebagai berikut : 1. Adanya informasi tentang masa lalu.
2. Informasi tersebut dapat dikuantitatifkan dalam bentuk data.
3. Informasi tersebut dapat diasumsikan bahwa beberapa aspek pola masa lalu akan terus berlanjut dimasa yang akan datang.
2. Peramalan Kualitatif
Peramalan kualitatif adalah peramalan yang didasarkan atas data kualitatif pada masa lalu. Hasil peramalan yang dibuat sangat bergantung pada orang yang menyusunnya. Hal yang terpenting karena hasil peramalan tersebut ditentukan berdasarkan pemikiran yang bersifatintuisi, pendapat dan pengetahuan dari orang yang menyusunnya (Siregar, 2008).
Kegunaan dari peramalan terlihat pada saat pengambilan keputusan. Setiap orang selalu dihadapkan pada masalah pengambilan keputusan. Keputusan yang baik
adalah keputusan yang didasarkan atas pertimbangan apa yang akan terjadi pada waktu keputusan itu dilaksanakan. Apabila kurang tepat ramalan yang kita susun atau yang kita buat, maka kurang baiklah keputusan yang kita ambil (STM, 2009).
2.2.2 Data Deret Waktu (Time Series)
Model deret waktu (time series) adalah suatu teknik atau metode prediksi dengan menggunakan analisis hubungan antara variabel yang dicari atau diramalkan dengan hanya satu-satunya variabel bebas yang mempengaruhinya yang merupakan variabel waktu (Yusi dan Idris, 2012).
Menurut Sugiarto dan Harijono (2000), nilai-nilai yang disusun dari waktu ke waktu tersebut disebut dengan deret waktu (time series). Di dunia bisnis, data deret waktu diperlukan sebagai bahan acuan pembuatan keputusan sekarang, untuk proyeksi, perlu diketahui beberapa asumsi yang penting. Pertama adanya ketergantungan kejadian masa yang akan datang dengan masa sebelumnya. Kedua aktivitas di masa yang akan datang mengikuti pola yang terjadi di masa yang lalu, dan ketiga, hubungan atau keterkaitan masa lalu dapat ditentukan dengan observasi atau penelitian.
Menurut Sihotang (2013), metode–metode peramalan yang berhubungan dengan deret waktu adalah sebagai berikut :
a. Metode Smoothing
Metode smoothing digunakan untuk mengurangi ketidak–teraturan musiman dari data yang lalu maupun kedua–duanya, dengan membuat rata–rata tertimbang dari sederetan data yang lalu. Ketepatan dari peramalan dengan metode ini akan terdapat pada peramalan jangka pendek, sedangkan untuk peramalan jangka
Universitas Sumatera Utara
14
panjang ketepatannya akan berkurang. Data yang dibutuhkan untuk penggunaan metode ini minimal selama dua tahun.
b. Metode Box Jenkins
Metode Box Jenkins menggunakan dasar deret waktu dengan model matematis, agar kesalahan yang terjadi dapat diminimalkan. Oleh karena itu penggunaan metode ini membutuhkan identifikasi model dan estimasi parameternya. Metode ini sangat baik ketepantannya untuk peramalan jangka pendek, sedangkan peramalan untuk jangka panjang ketepatannya kurang baik. Data yang dibutuhkan untuk penggunaan metode peramalan ini minimum dua tahun dan lebih baik bila data yang dimiliki lebih dari dua tahun.
c. Metode Proyeksi Trend dengan regresi
Metode proyeksi trend dengan regresi merupakan dasar garis trend untuk suatu persamaan matematis, sehingga dengan dasar persamaan tersebut dapat diproyeksikan hal yang diteliti untuk masa depan. Untuk peramalan jangka pendek maupun jangka panjang, ketepatan peramalan dengan menggunakan metode ini sangat baik. Data yang dibutuhkan minimum selama lima tahun.
2.2.2 Teori Produksi
Produksi adalah suatu kegiatan yang mengubah input menjadi output. Kegiatan tersebut dalam ekonomi biasa di nyatakan dalam fungsi produk, Fungsi produk menunjukkan jumiah maksimum output yang dapat dihasilkan dari pemakaian sejumlah input dengan menggunakan teknologi tertentu (Sugiarto, 2002).
Produksi merupakan konsep arus (flow concept), maksudnya adalah produksi merupakan kegiatan yang diukur sebagai tingkat-tingkat output per unit
periode/waktu. Sedangkan outputnya sendiri senantiasa diasumsikan konstan kualitasnya (Miller dan Meiners, 2000).
Pengertian produksi lainnya yaitu hasil akhir dari proses atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input. Dengan pengertian ini dapat dipahami bahwa kegiatan produksi diartikan sebagai aktivitas dalam menghasilkan output dengan menggunakan teknik produksi tertentu untuk mengolah atau memproses input sedemikian rupa (Sukirno, 2002).
Menurut Setiawati (2006), faktor produksi atau input merupakan hal yang mutlak harus ada untuk menghasilkan suatu produksi. Dalam proses produksi, seorang pengusaha dituntut mampu menganalisa teknologi tertentu yang dapat digunakan dan bagaimana mengkombinasikan beberapa faktor produksi sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh hasil produksi yang optimal dan efisien.
Iswardono (2004), menyatakan bahwa teori produksi sebagaimana teori perilaku konsumen merupakan teori pemilihan atas berbagai alternatif yang tersedia.
Dalam hal ini adalah keputusan yang diambil seorang produsen untuk menentukan pilihan atas alternatif tersebut produsen mencoba memaksimalkan produksi yang bisa dicapai dengan suatu kendala ongkos tertentu agar dapat dihasilkan keuntungan yang maksimum.
2.2.3 Teori Konsumsi
Konsumsi berasal dari bahasa Inggris yaitu ”consumption”. Konsumsi adalah pembelanjaan atas barang-barang dan jasa-jasa yang dilakukan oleh rumah tangga dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dari orang yang melakukan pembelanjaan tersebut. Pembelanjaan masyarakat atas makanan, pakaian, dan
Universitas Sumatera Utara
16
barang-barang kebutuhan mereka yang lain digolongkan pembelanjaan atau konsumsi. Barang-barang yang diproduksi untuk digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dinamakan barang konsumsi (Dumairy, 2004).
Individu yang melakukan konsumsi disebut konsumen. Keinginan mengkonsumsi oleh individu akan menimbulkan permintaan terhadap suatu barang. Permintaan adalah keinginan konsumen untuk membeli barang dengan berbagai alternatif harga. Selain dipengaruhi harga permintaan juga dipengaruhi oleh pendapatan, selera, jumlah konsumen yang menginginkan barang tersebut, ekspektasi barang yang akan datang, iklan dan sebagainya (Rindayati, 2011).
Menurut Setiadi (2005) pembelian konsumen amat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang antara lain:
1. Umur.
Orang mengubah barang dan jasa yang mereka beli selama masa hidupnya. Umur berhubungan dengan selera akan makanan, pakaian, perabot, dan rekreasi.
Membeli juga dibentuk oleh tahap daur hidup keluarga, tahap-tahap yang mungkin dilalui oleh keluarga sesuai dengan kedewasaannya.
2. Pendapatan.
Pendapatan masyarakat mencerminkan daya beli masyarakat. Tinggi atau rendahnya pendapatan masyrakat akan mempengaruhi kualitas maupun kuantitas permintaan. Pendapatan yang lebih rendah berarti bahwa secara total hanya ada uang yang sedikit untuk dibelanjakan, sehingga masyarakat akan membelanjakan lebih sedikit uang untuk beberapa dan mungkin pula terhadap sebagian besar barang. Jika permintaan terhadap sebuah barang berkurang ketika pendapatan
berkurang, barang tersebut dinamakan barang normal (normal goods). Pendapatan seseorang mempengaruhi pilihan produk.
3. Pendidikan.
Kalau orang bertindak, mereka belajar. Pembelajaran menggambarkan perubahan dalam tingkat individual yang muncul dari proses pendidikan yang dijalani.
Pendidikan seseorang sangat mempengaruhi pilihannya. Apabila pendidikan konsumen tinggi maka akan lebih memilih barang yang berkualitas baik, tingkat pendidikan dapat dlihat dari pendidikan terakhir konsumen.
4. Harga barang lain.
Permintaan terhadap suatu barang dapat dipengaruhi oleh harga barangbarang lain yang ada kaitannya. Seperti barang yang saling mengganti (substitusi) atau barang yang saling melengkapi (komplementer). Naik turunnya harga barang substitusi dan komplementer dapat mempengaruhi permintaan terhadap barang yang digantikan atau yang dilengkapi.
5. Harga barang itu sendiri.
Kenaikan terhadap harga barang itu sendiri dapat mempengaruhi jumlah permintaannya. Karena akibat kenaikan tersebut pembeli mencari barang lain yang dapat digunakan sebagai barang pengganti terhadap barang yang mengalami kenaikan dan atau pembeli mengurangi jumlah barang yang diminta tersebut.
Oleh karena itu naik turunnya harga barang tersebut secara langsung dapat mempengaruhi jumlah barang yang diminta.
Universitas Sumatera Utara
18
2.3. Penelitian Terdahulu
Berikut ini merupakan informasi dari beberapa penlitian-penilitian terlebih dahulu yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan, diantaranya:
Menurut Siregar (2015), Analisis Forecasting Ketersediaan Daging Sapi Di Sumatera Utara Tahun 2020, menyimpulkan: (1) Perbandingan produksi dengan
konsumsi daging sapi Sumatera Utara dari tahun 1999-2013 menunjukkan data yang fluktuatif. Pada tahun 1999, 2001, 2003, 2004, 2006, dan 2007 memiliki rasio sebesar < 1 yang artinya nilai konsumsi lebih besar dibanding produksi.
Pada tahun 2000, 2002, 2005, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, dan 2013 memiliki rasio sebesar ≥ 1 yang artinya produksi lebih besar dibandingkan konsumsi.
(2) Hasil analisis forecasting menunjukkan bahwa ketersediaan daging sapi dan konsumsi daging sapi pada tahun 2020 mengalami trend kenaikan serta perbandingan ketersediaan dengan konsumsi daging sapi Sumatera Utara 2020 menunjukkan rasio ketersediaan daging sapi lebih besar dibandingkan dengan konsumsi daging sapi sehingga dapat terlaksananya swasembada daging sapi.
Karni (2013), Analisis Time Series Produksi dan Konsumsi Pangan Ubi Kayu dan Ubi Jalar di Sumatera Utara, menyimpulkan: (1) Kondisi produksi serta
produktivitas ubi kayu dan ubi jalar di Sumatera Utara (1996-2010) mengalami kondisi yang fluktuatif, namun masih mengarah kepada peningkatan. Akan tetapi pertumbuhan produksi ubi jalar masih lebih rendah jika dibandingkan dengan produksi ubi kayu. (2) Kondisi konsumsi ubi kayu dan ubi jalar di Sumatera Utara (1996-2010) juga mengalami kondisi yang fluktuatif dan masih mengarah kepada peningkatan hanya saja peningkatan konsumsi ubi jalar setiap tahunnya masih lebih rendah daripada konsumsi ubi kayu. (3) Produksi dan konsumsi ubi kayu
diramalkan atau diproyeksikan mengalami peningkatan atau trend yang menaik.
Sedangkan peramalan atau proyeksi ubi jalar meningkat namun untuk konsumsi ubi jalar berbanding terbalik dimana konsumsi ubi jalar mengalami penurunan atau trend yang menurun. (4) Alternatif kebijakan pangan yang dapat dilakukan pemerintah adalah melakukan diversifikasi pangan berbasis umbi-umbian dari sisi produksi dan konsumsi.
Khairunnisa (2017), Analisis Forecasting dan Rasio Produksi dan Konsumsi Kedelai Di Provinsi Sumatera Utara, menyimpulkan: (1) Pada tahun 1999-2013
di Provinsi Sumatera Utara, produksi kedelai mengalami trend negatif. Sedangkan untuk konsumsi kedelai mengalami trend positif. (2) Pada tahun1999-2013 di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan konsumsi kedelai lebih besar dari produksi kedelai dengan perbandingan 1:4,44. Kedelai berada pada tingkat ketahanan pangan III yaitu rawan pangan. (3) Untuk tahun 2017-2026 di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan bahwa proyeksi produksi kedelai mengalami trend negatif dan proyeksi konsumsi kedelai mengalami trend positif dengan kesenjangan yang sangat lebar antara produksi dan konsumsi kedelai.
2.4. Kerangka Pemikiran
Telur ayam ras adalah salah satu sumber pangan protein hewani yang populer dan sangat diminati oleh masyarakat. Hampir seluruh kalangan masyarakat dapat mengonsumsi telur ayam ras untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Hal ini karena telur ayam ras relatif murah dan mudah diperoleh serta dapat memenuhi kebutuhan gizi yang diharapkan.
Universitas Sumatera Utara
20
Tren produksi dan konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat beberapa tahun sebelumnya, yakni 2006-2015. Dengan tersedianya data produksi dan konsumsi telur ayam ras, maka dapat diproyeksikan atau diramalkan produksi dan konsumsi telur ayam ras untuk tahun yang akan datang. Dari hasil proyeksi dapat diketahui kondisi kebutuhan telur ayam ras pada masa mendatang, yakni tahun 2018-2027. Secara sistematis kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Keterangan :
: Menyatakan perbandingan : Menyatakan pengaruh
Telur Ayam Ras
Trend Produksi Telur Ayam Ras (2006-2015)
Trend Konsumsi Telur Ayam Ras (2006-2015)
Proyeksi Produksi Telur Ayam Ras Tahun (2018-2027)
Proyeksi Konsumsi Telur Ayam Ras Tahun (2018-2027)
Gambaran Kondisi Kebutuhan Telur Ayam Ras Pada Masa
Mendatang
2.5 Hipotesis Penelitian
Sesuai dengan landasan teori yang telah disusun, diperoleh hipotesis penelitian sebagai berikut:
1. (a). Produksi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2006-2015 mengalami peningkatan atau trend positif.
(b). Konsumsi Telur ayam ras di provinsi Sumatera Utara pada tahun 2006- 2015 mengalami peningkatan atau trend positif.
2. Perbandingan konsumsi telur ayam ras lebih besar dengan produksi telur ayam ras.
3. (a). Forecasting produksi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara (2018- 2027) mengalami trend positif.
(b). Forecasting konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara (2018- 2027) mengalami trend positif.
Universitas Sumatera Utara
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian
Penentuan lokasi penelitian dengan menggunakan metode purposive atau secara sengaja. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Sumatera Utara yang terdiri dari 25 kabupaten dan 8 kota dengan pertimbangan bahwa Provinsi Sumatera Utara termasuk sebagai sentra produksi ternak unggas yang diteliti serta memliki populasi penduduk yang cukup besar.
3.2 Metode Analisis Data
Metode penelitian menurut Supriana (2015), adalah cara-cara melakukan penelitian dengan menggambarkan serta menginterpretasikan suatu objek berdasarkan fakta secara ilmiah.
Untuk membuktikan hipotesis 1, yakni untuk mengetahui trend produksi dan konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2006-2015, digunakan analisis deskriptif yakni berupa penyajian data time series dengan grafik atau gambar dan penjelasan terhadap data dalam kurun waktu 2006-2015 yang diperoleh sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Menurut Sugiyono (2004), analisis deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Hasan (2001), menjelaskan bahwa statistik deskriptif adalah bagian dari statistik yang mempelajari cara pengumpulan data dan penyajian data sehingga mudah dipahami. Statistik deskriptif hanya berhubungan dengan hal menguraikan atau
memberikan keterangan-keterangan mengenai suatu keadaan. Statistik deskriptif berfungsi menerangkan keadaan, gejala atau persoalan. Penarikan kesimpulan pada statistik deskriptif (jika ada) hanya ditujukan pada kumpulan data yang ada.
Untuk membuktikan hipotesis 2, yakni untuk mengetahui rasio produksi dengan konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara, dilakukan analisis deskriptif menggunakan pendekatanrasio produksi telur ayam ras dengan konsumsi telur ayam ras.
Menurut Asrofi (2014), rasio adalah perbandingan antara dua besaran atau lebih.
Dalam menghitung rasio harus menggunakan satuan yang sama, apabila terdapat perbedaan maka harus dilakukan penyamaan satuan terlebih dahulu. Secara umum rasio dilambangkan dengan a/b atau a:b dimana b ≠ 0. Misalnya rasio 15 dari 105 adalah 15/105 = 1/7 = 1:7.
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk mencari rasio produksi dengan konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut:
Dimana:
RQiQj = Rasio produksi dengan konsumi telur ayam ras (ton) Qi = Produksi telur ayam ras (ton)
Qj = Konsumsi telur ayam ras (ton)
Untuk membuktikan hipotesis 3 (a) dan (b), yakni untuk mengetahui forecasting produksi dan konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara
untuk tahun 2018-2027, dilakukan analisis Forecasting melalui Trend (Gerak Jangka Panjang) dengan menggunakan Least Squares Method (metode kuadrat terkecil) melalui program SPSS yang menggunakan Regresi Linier Sederhana.
RQiQj = Qi / Qj
Universitas Sumatera Utara
24
Dalam Pasaribu (1981) persamaan garis trend linier dapat dibentuk sebagai berikut:
Nilai-nilai a dan b dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
dan
∑ (∑ )(∑ ) ∑ (∑ ) Dimana:
y = Nilai trend untuk variabel tak bebas
a = Koefisien intercept b = Koefisien regresi dari x
x = Tahun yang diramalkan (dinotasikan dengan angka) n = jumlah data
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel tak bebasnya adalah produksi telur ayam ras yang dilambangkan dengan Qi dan konsumsi telur ayam ras yang dilambangkan dengan Qj, sehingga garis trend linier untuk produksi dan konsumsi telur ayam ras dapat dibentuk sebagai berikut:
Dimana:
Qi = Produksi telur ayam ras (ton) Qj = Konsumsi telur ayam ras (ton) a = Koefisien intercept
b = Koefisien regresi dari x
x = Tahun yang diramalkan (dinotasikan dengan angka) y = a + bx
Qj = a + bx Qi = a + bx
Menurut Supranto (1989), metode Least Square (kuadrat terkecil) merupakan metode yang paling sering digunakan untuk meramalkan y, karena perhitungannya lebih teliti. Untuk melakukan perhitungan diperlukan nilai variabel waktu (x), jumlah nilai variabel waktu adalah nol atau ∑x = 0. Maka rumus untuk mencari a dan b dapat dirubah menjadi:
dan ∑ ∑
Setelah persamaan garis trend yang linier tersusun, kemudian dapat diramalkan garis trend linier untuk masa mendatang dengan persamaan berikut:
Dimana:
Qi* = Produksi telur ayam ras untuk tahun yang diramalkan (ton) Qj* = Konsumsi telur ayam ras untuk tahun yang diramalkan (ton) a = Koefisien intercept
b = Koefisien regresi dari x
x* = Tahun yang diramalkan (dinotasikan dengan angka)
Menurut Ibrahim (2009), melalui proyeksi dengan analisis trend dapat diperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang apabila tidak ada intervensi terhadap kecenderungan yang ada saat ini.
3.4 Definisi dan Batasan Operasional 3.4.1 Definisi
1. Time series adalah jumlah produksi dan konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara yang berurutan selama 10 tahun yakni dari tahun 2006-2015.
2. Telur ayam ras adalah salah satu sumber pangan protein hewani yang populer dan sangat diminati oleh masyarakat.
Qj* = a + bx*
Qi* = a + bx*
Universitas Sumatera Utara
26
3. Produksi telur ayam ras adalah kapasitas atau kuantitas kebutuhan akan telur ayam ras yang tersedia untuk dikonsumsi di Provinsi Sumatera Utara.
4. Konsumsi telur ayam ras adalah jumlah telur ayam ras yang dimakan oleh masyarakat maupun industri di Provinsi Sumatera Utara dengan tujuan memenuhi kebutuhan.
5. Trend produksi telur ayam ras adalah gerakan dan data deret berkala produksi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara selama 10 tahun.
6. Trend konsumsi telur ayam ras adalah gerakan dan data deret berkala konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara selama 10 tahun.
7. Proyeksi produksi telur ayam ras adalah suatu peramalan yang memperkirakan kondisi terhadap produksi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara dengan menggunakan data masa lalu.
8. Proyeksi konsumsi telurayam ras adalah suatu peramalan yangmemperkirakan kondisi terhadap komsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara dengan menggunakan data masa lalu.
9. Rasio adalah perbandingan antara produksi dan konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara.
3.4.2 Batasan Operasional
1. Data yang diambil adalah data dari jenis ayam ras petelur dalam kurun waktu tahun 2006 sampai 2015 meliputi produksi dan konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara.
2. Penelitian ini dilakukan dalam wilayah Provinsi Sumatera Utara.
3. Waktu penelitian dimulai tahun 2017.
27
4.1. Letak dan Keadaan Geografis Provinsi Sumatera Utara
Provinsi Sumatera Utara berada di bagian barat Indonesia, terletak pada garis 10-40 Lintang Utara dan 980-1000 Bujur Timur. Letak geografis Provinsi Sumatera Utara berada pada jalur strategis pelayaran Internasional Selat Malaka yang dekat dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. Secara administratif Provinsi ini berbatasan dengan daerah perairan dan laut serta dua provinsi lain dengan batas wilayah sebagai berikut:
- Utara : berbatasan dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
- Timur : berbatasan dengan Negara Malaysia di Selat Malaka - Selatan : berbatasan dengan Provinsi Riau dan Sumatera Barat.
- Barat : berbatasan dengan Samudera Hindia.
Luas daratan Provinsi Sumatera Utara 72.981,23 km2, sebagian besar berasa di daratan Pulau Sumatera dan sebagian kecil berasa di Pulau Nias, Pulau-Pulau Batu, serta beberapa pulau kecil baik dibagian barat maupun dibagian timur pantai Pulau Sumatera. Provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi terluas ke-7 di Indonesia.
Berdasarkan luas daerah menurut kabupaten/kota di Sumatera Utara, luas daerah terbesar adalah Kabupaten Langkat dengan luas 6.262,00 km2 atau sekitar 8,58% dari total luas Sumatera Utara, diikuti Kabupaten Mandailing Natal dengan luas 6.134,00 km2 atau 8,40% dari total luas Sumatera Utara, kemudian Kabupaten Tapanuli Selatan dengan luas 6.030,47 km2 atau sekitar 8,26% dari total luas Sumatera Utara.
Universitas Sumatera Utara
28
Sedangkan luas daerah terkecil adalah Kota Tebing Tinggi dengan luas 31,00 km2 atau sekitar 0,04% dari total luas Sumaetra utara. Provinsi Sumatera Utara memiliki 162 pulau, yaitu 6 pulau di Pantai Timur dan 156 pulau di Pantai Barat. Provinsi Sumatera Utara terdiri dari 25 kabupaten dan 8 kota dengan 421 kecamatan yang meliputi 653 kelurahan dan 5.175 desa.
4.2. Kondisi Iklim dan Topografi
Karena terletak dekat garis khatulistiwa, Provinsi Sumatera Utara tergolong ke dalam daerah beriklim tropis. Ketinggian permukaan daratan Provinsi Sumatera Utara sangat bervariasi, sebagian daerahnya datar, hanya beberapa meter di atas permukaan laut, beriklim cukup panas bisa mencapai 34˚C sebagian daerah berbukit dengan kemiringan yang landai, beriklim sedang dan sebagian lagi berada pada dearah ketinggian yang suhu minimalnya bisa mencapai 15˚C.
Sebagaimana Provinsi lainnya di Indonesia, Provinsi Sumatera Utara mempunyai musim kemarau dan musim penghujan. Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Januari sampai dengan bulan Juli dan musim penghujan biasanya terjadi pada bulan Agustus sampai dengan bulan Desember, diantara kedua musim itu terdapat musim pancaroba. Kelembaban udara rata-rata 78%-91% dengan curah hujan 800-4000 mm/tahun dan penyinaran matahari 43%.
Berdasarkan topografinya, wilayah Provinsi Sumatera Utara dibagi atas 3 daerah yaitu:
1. Pantai Barat meliputi: Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah,
Kabupaten Nias Selatan, Kota Padang Sidempuan, Kota Sibolga dan Kota Gunung Sitoli.
2. Dataran Tinggi meliputi: Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Pakpak Bharat dan Kota Pematang Siantar.
3. Pantai Timur meliputi: Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kabupaten Asahan, Kabupaten Batu Bara, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, Kabupaten Serdang Bedagai, Kota Tanjung Balai, Kota Tebing Tinggi, Kota Medan dan Kota Binjai.
4.3. Kondisi Demografi
Berdasarkan hasil SUPAS (Survei Penduduk Antar Sensus) 2015 yang dilaksanakan pada bulan Mei 2015, jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara tercatat sebanyak 13.923.262 jiwa. Angka ini menunjukkan peningkatan jika dibandingkan hasil Sensus Penduduk periode sebelumnya, yaitu sebesar 8.360.894 jiwa pada tahun 1980, kemudian meningkat menjadi 10.256.027 jiwa pada tahun 1990, sebesar 11.513.973 jiwa tahun 2000 dan akhirnya meningkat menjadi 12.982.204 jiwa pada Sensus Penduduk 2010. Secara nasional jumlah penduduk
Provinsi Sumatera Utara merupakan yang terbesar keempat setelah Provinsi Jawa Barat (46.668.214 jiwa), Provinsi Jawa Timur (38.828.061 jiwa) dan Provinsi Jawa
Tengah (33.753.023 jiwa).
Universitas Sumatera Utara
30
Tabel. 4.1. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, dan Kepadatan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015
Kabupaten/Kota Luas Wilayah Jumlah Penduduk
Kepadatan Penduduk (km2) (jiwa) (jiwa/km2) Kabupaten
01. Nias 1.842,51 136.115 74
02. Mandailing Natal 6.134,00 430.894 70
03. Tapanuli Selatan 6.030,47 275.098 46
04. Tapanuli Tengah 2.188,00 350.017 160
05. Tapanuli Utara 3.791,64 293.399 77
06. Toba Samosir 2.328,89 179.704 77
07. Labuhanbatu 2.156,02 462.191 214
08. Asahan 3.702,21 706.283 191
09. Simalungun 4.369,00 849.405 194
10. Dairi 1.927,80 279.090 145
11. Karo 2.127,00 389.591 183
12. Deli Serdang 2.241,68 2.029.308 905
13. Langkat 6.262,00 1.013.385 162
14. Nias Selatan 1.825,20 308.281 169
15. Humbang Hasundutan 2.335,33 182.991 78
16. Pakpak Bharat 1.218,30 45.516 37
17. Samosir 2.069,05 123.789 60
18. Serdang Bedagai 1.900,22 608.691 320
19. Batu Bara 922,20 400.803 435
20. Padang Lawas Utara 3.918,05 252.589 64
21. Padang Lawas 3.892,74 258.003 66
22. Labuhanbatu Selatan 3.596,00 313.884 87
23. Labuhanbatu Utara 3.570,98 351.097 98
24. Nias Utara 1.202,78 133.897 111
25. Nias Barat 473,73 84.917 179
Kota
1. Sibolga 41,31 86.519 2.094
2. Tanjung Balai 107,83 167.012 1.549
3. Pematang Siantar 55,66 247.411 4.445
4. Tebing Tinggi 31,00 156.815 5.059
5. Medan 265,00 2.210.624 8.342
6. Binjai 59,19 264.687 4.472
7. Padang Sidimpuan 114,66 209.796 1.830
8. Gunungsitoli 280,78 135.995 484
Sumatera Utara 72.981,23 13.937.797 191
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, 2016
Pada Tabel 4.1 diatas, dapat dilihat bahwa pada tahun 2015 total luas wilayah Provinsi Sumatera Utara adalah 72.981,23 km2. Kabupaten Langkat merupakan wilayah terluas di Provinsi Sumatera Utara dengan luas sebesar 6.262 km2 atau 8,58% dari luas Provinsi Sumatera Utara dan Kota Tebing Tinggi merupakan wilayah terkecil di Provinsi Sumatera Utara dengan luas 31 km2 atau 0,04% dari luas Provinsi Sumatera Utara. Total jumlah penduduk di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2015 adalah sebesar 13.937.797 jiwa. Kota Medan memiliki jumlah penduduk yang terbesar di antara kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara, yaitu 2.210.624 jiwa atau 15,86% dari jumlah penduduk di Provinsi Sumatera Utara sedangkan Pakpak Bharat merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk terkecil yaitu 45.516 jiwa atau 0,32% dari jumlah penduduk di Provinsi Sumatera Utara.
Provinsi Sumatera Utara memiliki kepadatan penduduk sebesar 191 jiwa/km2. Kepadatan penduduk terbesar di wilayah Provinsi Sumatera Utara adalah Kota Medan yaitu 8.342 jiwa/km2 yang kemudian di susul oleh Kota Tebing Tinggi yaitu 5.059 jiwa/km2. Kepadatan penduduk terkecil di wilayah Provinsi Sumatera Utara adalah Kabupaten Pakpak Bharat yaitu 37 jiwa/km2 yang kemudian di susul oleh Kabupaten Tapanuli Selatan yaitu 46 jiwa/km2.
Universitas Sumatera Utara
32
Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten/Kota Tahun 2010-2015 Kabupaten/
Kota
Jumlah Penduduk Miskin (000) (Jiwa)
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Nias 26.40 25.39 24.99 23.28 22.21 24.53
Mandailing Natal 50.90 49.05 48.38 40.69 39.68 47.79 Tapanuli Selatan 31.50 30.39 29.91 30.77 29.38 31.20 Tapanuli Tengah 52.20 50.21 49.61 52 49.86 52.20 Tapanuli Utara 34.90 33.57 33.09 33.75 32.23 33.37 Toba Samosir 17.60 16.93 16.64 16.96 16.51 18.31
Lanjutan Kabupaten/
Kota
Jumlah Penduduk Miskin (000) (Jiwa)
2010 2011 2012 2013 2014 2015 Labuhan Batu 44.30 42.61 42.08 38.14 37.35 41.63
Asahan 76.30 73.39 72.32 80.54 76.97 85.16
Simalungun 87.70 84.35 83.09 87.72 86.25 92.89
Dairi 26.90 25.87 25.49 24 23.35 25.33
Karo 38.70 37.22 36.71 36.93 35.36 37.52
Deli Serdang 96 92.33 91.19 91.97 90.92 95.65 Langkat 104.80 100.80 99.27 104.31 100.63 114.19 Nias Selatan 60.10 57.80 56.94 56.96 54.46 58.97 Humbang
Hasundutan 18.20 17.50 17.25 17.94 17.14 18.04
Pakpak Bharat 5.60 5.39 5.32 4.94 4.72 5.12
Samosir 19.70 18.95 18.48 17.18 16.27 17.64
Serdang Bedagai 62.80 60.50 59.53 56.55 54.48 58.30
Batu Bara 46 44.34 43.66 46.86 44.72 50.37
Padang Lawas
Utara 25 24.04 23.72 25.01 23.86 27.67
Padang Lawas 25 24.04 23.64 21.23 20.34 22.38 Labuhanbatu
Selatan 43.40 41.74 41.21 37.33 35.65 36.37
Labuanbatu
Utara 40.90 39.34 38.68 39.09 37.30 39.59
Nias Utara 40.70 39.15 38.51 40.78 38.95 43.74 Nias Barat 25.10 24.24 23.84 24.88 23.76 25.41
Sibolga 11.70 11.25 11.13 11.08 10.57 11.64 Tanjungbalai 25.20 24.24 23.86 24.20 23.17 25.09 Pematangsiantar 27.50 26.45 26.01 26.61 25.43 25.83 Tebing Tinggi 18.90 18.27 18.02 17.98 17.20 18.80 Medan 212.30 204.19 201.06 209.69 200.32 207.50
Binjai 18 17.41 17.16 17.48 16.72 18.60
Padangsidimpuan 20.30 19.52 19.24 18.44 17.65 18.36 Gunungsitoli 42.50 40.97 40.40 41.10 37.20 34.47 Sumatera Utara 1477.10 1421.44 1400.45 1416.37 1360.60 1463.66 Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, 2016
Pada Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Utara berfluktuasi dari tahun 2010-2015. Jumlah penduduk miskin terbanyak terjadi pada tahun 2010 yaitu 1.477.100 jiwa. Jumlah penduduk miskin dari tahun 2010 mengalami penurunan menjadi 1.400.450 jiwa pada tahun 2012. Jumlah penduduk miskin pada tahun 2013 mengalami peningkatan hingga tahun 2015 menjadi 1.463.660 jiwa atau 10,5% dari jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara.
Dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Utara, Kota Medan merupakan kota dengan jumlah penduduk miskin terbanyak sedangkan Kabupaten Pakpak Bharat merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk miskin yang paling sedikit pada 2010-2015. Pada tahun 2015, Kota Medan memiliki jumlah penduduk miskin terbanyak yaitu 207.500 jiwa atau 9,38% dari jumlah penduduk Kota Medan dan 1,48% dari jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara, kemudian diikuti oleh Kabupaten Langkat dengan jumlah penduduk miskin sebesar 114.190 jiwa atau 11,26% dari jumlah penduduk Kabupaten Langkat dan 0,81% dari jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten Pakpak Bharat memiliki jumlah penduduk miskin paling sedikit yaitu 5.120 jiwa atau 11,24% dari jumlah penduduk Kabupaten
Universitas Sumatera Utara
34
4.4. Deskripsi Variabel
4.4.1 Produksi Telur Ayam Ras Provinsi Sumatera Utara
Provinsi Sumatera Utara adalah salah termasuk salah satu sentra produksi ternak.
Keadaan produksi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara dalam kurun waktu 10 tahun yakni pada tahun 2006-2015 dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Produksi Telur Ayam Ras Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015
Tahun Produksi Telur Ayam Ras
(Ton)
2006 48.820
2007 73.892
2008 68.979
2009 69.323
2010 74.302
2011 79.204
2012 108.018
2013 140.711
2014 132.949
2015 136.258
Total 932.456
Rataan 93.245,6
Sumber: Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2010, 2015 dan 2016
Berdasarkan Tabel 4.3 terlihat bahwa jumlah produksi daging kambing Provinsi Sumatera Utara tertinggi di sepanjang tahun 2006-2015 terjadi pada tahun 2012 sebesar 140.711 ton dan produksi terendah terjadi pada tahun 2006 sebesar 48.820 ton. Total produksi daging kambing yaitu sebesar 932.456 ton dengan rataan 93.245,6 ton.
4.4.2 Konsumsi Telur Ayam Ras Provinsi Sumatera Utara
Telur ayam ras banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena merupakan salah satu sumber pangan protein hewani yang populer dan sangat diminati oleh masyarakat. Hampir seluruh kalangan masyarakat dapat mengonsumsi telur ayam ras.
Keadaan konsumsi telur ayam ras di Sumatera Utara yakni pada tahun 2006-2015 terlihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4. Konsumsi Telur Ayam Ras Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006- 2015
Tahun
Konsumsi Telur Ayam Ras
(Ton)
2006 49.941,80
2007 73.669,28
2008 68.993,85
2009 72.001,15
2010 79.191,44
2011 80.587,12
2012 107.969,82
2013 140.592,53
2014 145.249,27
2015 136.311,65
Total 954.498,9
Rataan 95.449,89
Sumber: Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2010, 2015 dan 2016
Dari Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa, konsumsi telur ayam ras mengalami fluktuasi, dari jumlah konsumsi telur ayam ras Provinsi Sumatera Utara sepanjang tahun 2006-2015, konsumsi tertinggi terjadi pada tahun 2014 yaitu mencapai 140.592,539 ton dan konsumsi terendah terjadi pada tahun 2006 yaitu mencapai 49.183,4452 ton.
Universitas Sumatera Utara
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Trend Produksi dan Konsumsi Telur Ayam Ras Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015
Keadaan produksi dan konsumsi Telur Ayam Ras di Provinsi Sumatera Utara tahun 2006-2015 mengalami fluktuasi. Konsumsi yang sangat tinggi mengakibatkan produksi tidak mampu memenuhi konsumsi telur ayam ras di Provinsi Sumatera Utara.
Tabel 5.1. Trend Produksi dan Konsumsi Telur Ayam Ras Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015
Tahun
Produksi Telur Ayam Ras
(Ton)
Pertumbuhan dari Tahun Sebelumnya
(%)
Konsumsi Telur ayam
ras (Ton)
Pertumbuhan dari Tahun Sebelumnya
(%)
Surplus Telur ayam
ras (Ton)
2006 48.820 0 49.941,80 0 -1.121,80
2007 73.892 51,36 73.669,28 47,51 222,72
2008 68.979 -6,65 68.993,85 -6,35 -14,85
2009 69.323 0,50 72.001,15 4,36 -2.678,15
2010 74.302 7,18 79.191,44 9,99 -4.889,44
2011 79.204 6,60 80.587,12 1,76 -1.383,12
2012 108.018 36,38 107.969,82 33,98 48,18
2013 140.711 30,27 140.592,53 30,22 118,47
2014 132.949 -5,52 145.249,27 3,31 -12.300,27
2015 136.258 2,49 136.311,65 -6,15 -53,65
Total 932.456 122,61 954.498,9 118,63 -22.051,91 Rataan 93.245,6 11,261 95.449,89 11,863 -2.205,191 Sumber: Lampiran 5, 6, 7
Berdasarkan Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2006 memiliki produksi telur ayam ras sebesar 48.820 ton dan konsumsi telur
ayam ras sebesar 49.183,4452 ton yang menyebabkan defisit sebesar 1.121,80 ton.
Pada tahun 2007 produksi telur ayam ras mengalami peningkatan sebesar 25.027 ton
atau 51,36% dari tahun sebelumnya menjadi 73.892 ton dan konsumsi telur ayam ras juga mengalami peningkatan sebesar 23.727,48 ton atau 47,51% dari tahun sebelumnya yang menyebabkan surplus sebesar 222,72 ton.
Pada tahun 2008 produksi telur ayam ras mengalami penurunan sebesar 4.913 ton atau 6,65% dari tahun sebelumnya menjadi 68.979 ton dan konsumsi telur ayam ras mengalami penurunan sebesar 4.675 ton atau 6,35% dari tahun sebelumnya menjadi 68.993,85 ton yang menyebabkan defisit sebesar 14,85 ton.
Pada tahun 2009 produksi telur ayam ras mengalami peningkatan sebesar 344 ton atau 0,50% dari tahun sebelumnya menjadi 69.323 ton dan jumlah konsumsi telur ayam ras mengalami peningkatan sebesar 3.007,30 ton atau 4,36% dari tahun sebelumnya menjadi 72.001,15 ton yang menimbulkan defisit sebesar 2.678,15 ton.
Pada tahun 2010 produksi telur ayam ras mengalami peningkatan sebesar 4.979 ton atau 7,18% dari tahun sebelumnya yaitu menjadi 74.302 ton dan konsumsi telur ayam ras mengalami peningkatan sebesar 7.190,29 ton atau 9,99% dari tahun sebelumnya menjadi 72.001,15 ton, meskipun produksi dan konsumsi telur ayam ras terjadi peningkatan tetap terjadi defisit sebesar 4.889,44 karena jumlah produksi tidak dapat memenuhi konsumsi yang meningkat..
Pada tahun 2011 produksi telur ayam ras mengalami peningkatan sebesar 4.902 ton atau 6,60% dari tahun sebelumnya menjadi 79.204 ton dan konsumsi telur ayam ras mengalami peningkatan yaitu 1.395,68 ton atau 1,76% dari tahun sebelumnya menjadi 80.587,12 ton dan mengalami defisit sebesar 1.383,12 ton. Pada tahun 2012
Universitas Sumatera Utara
38
produksi telur ayam ras produksi telur ayam ras mengalami meningkatan yang lumayan besar yaitu sebesar 28.814 ton atau 36,38% dari tahun sbelumnya menjadi 108.018 ton dan konsumsi telur ayam ras mengalami meningkatan yang lumayan besar juga yaitu 27.382,71 ton atau 33,98% dari tahun sebelumnya menjadi 107,969,82 ton dan mengalami surolus sebesar 48,18 ton.
Pada tahun 2013 produksi telur ayam ras mengalami peningkatan sebesar yang lumayan besar juga sebesar 32.693 ton atau 30,27% dari tahun sebelumnya menjadi 140.711 ton dan konsumsi telur ayam ras mengalami peningkatan sebesar 32.622,71 ton atau 30,22% dari tahun sebelumnya menjadi 140.592,53 ton dan mengalami surplus sebesar 118,47 ton.
Pada tahun 2014 jumlah produksi telur ayam ras menurun dan jumlah konsumsi telur ayam ras mengalami peningkatan, terjadi defisit yamg lumayan besar yaitu sebesar 12.300 ton dikarenakan produksi yang belum bisa mengimbangi total konsumsi telur ayam ras. Pada tahun 2015 produksi telur ayam ras mengalami peningkatan sebesar 3.309 ton atau 2,49% dari tahun sebelumnya menjadi 136.258 ton dan konsumsi telur ayam ras mengalami penurunan sebesar 8.937,62 ton atau 6,15% dan mengalami defisit sebesar 53,65 ton.
Dalam kurun waktu 15 tahun dari tahun 2006-2015, peningkatan produksi telur ayam ras terbesar terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 36,38% dari tahun sebelumnya.
Penurunan produksi telur ayam ras terbesar terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 6,65% dari tahun sebelumnya. Peningkatan konsumsi telur ayam ras terbesar terjadi