1
Universitas Kristen Petra
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Indonesia, krisis keuangan 1997-1998 telah membawa dampak sosial, ekonomi dan politik yang dramatis. Kejadian itu membawa rupiah turun hampir 80%
dan secara dramatis meningkatkan kemiskinan. Sejak saat itu, Indonesia telah melakukan banyak inisiatif dan upaya untuk menerapkan good corporate governance, baik dari pihak pemerintah maupun swasta. Salah satu langkah inisiatif pemerintah Indonesia yaitu dengan membentuk Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) untuk pertama kalinya pada tahun 1999. KNKG kemudian mengeluarkan Pedoman Umum Corporate Governance Indonesia pada tahun yang sama. Diharapkan dengan adanya corporate governance yang baik, maka krisis keuangan tahun 1997-1998 tidak terulang kembali (The Indonesia Corporate Governance Manual, 2014).
Corporate governance (CG) adalah bagaimana perusahaan dijalankan, diarahkan dan diawasi (Abor, 2007). CG juga mengatur pengaruh antara shareholders dengan managers. Sehingga CG yang baik adalah ketika manajer memiliki insentif untuk bekerja atas nama shareholders, dan shareholders harus diberitahu tentang semua aktivitas yang dikerjakan oleh manajer (Tarraf, 2010). CG telah menjadi perhatian utama investor, khususnya pada perusahaan yang sedang berkembang. Investor akan cenderung menghindari perusahaan-perusahaan yang memiliki penerapan CG yang buruk. Investor menuntut agar perusahaan mengimplementasikan prinsip CG yang tepat dengan tujuan untuk kepentingan mereka lebih dilindungi sehingga mendapatkan return yang lebih tinggi atas investasi mereka (Chalevas & Tzovas, 2010).
Ownership structure atau struktur kepemilikan merupakan salah satu mekanisme inti CG yang telah menjadi perhatian para ilmuwan dan analis (Al-Matari, Al-Swidi &
Fadzil, 2013). Denis dan McConnell (2003), Cvelbar dan Milahic (2007), La Porta, Lopez-de-Silanes, dan Shleifer (1998) juga menyatakan bahwa ownership structure merupakan merupakan mekanisme CG yang penting. Shoaib dan Yasushi (2016) membagi ownership structure menjadi internal ownership dan external ownership.
2
Universitas Kristen Petra
Dalam penelitian ini akan menggunakan external ownership yang terdiri dari government ownership, foreign ownership, dan public ownership sebagai indikator.
Struktur kepemilikan mungkin mencerminkan kinerja perusahaan, dan perbedaan struktur kepemilikan telah menghasilkan dampak yang berbeda terhadap firm performance (Ting, Kweh, Lean, & Ng, 2016). Menurut Babatunde dan Olaniran (2009) tidak ada keraguan bahwa struktur kepemilikan perusahaan dan pengaruh internal/eksternalnya memiliki dampak penting terhadap kemampuan perusahaan untuk merespons faktor eksternal yang berpengaruh terhadap kinerjanya.
Menurut Fama dan Jensen (1983) adanya pemisahan kepemilikan dan kontrol dalam suatu perusahaan merupakan salah satu hal yang sangat penting. Pemisahan kepemilikan dan kontrol terjadi akibat dari adanya investor eksternal dalam perusahaan (Babatunde & Olaniran, 2009). Jensen dan Meckling (1976) mengatakan bahwa pemisahan antara kepemilikan dan kontrol perusahaan dapat menyebabkan terjadinya agency problem atau conflict of interest antara pemilik dan manajer sehingga akan berdampak langsung pada firm performance. Dimana dalam agency theory dijelaskan bagaimana pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan yakni manajer, pemilik perusahaan dan kreditor akan berperilaku untuk kepentingannya sendiri, karena pada dasarnya mereka memiliki kepentingan yang berbeda. Gürsoy dan Aydoğan (1998), mendokumentasikan bahwa struktur kepemilikan terkait dengan kehadiran pemilik tertentu seperti pemerintah, dan pemegang saham asing dapat mempengaruhi firm performance, dan skenario ini menyebabkan penyebaran kepemilikan dan kontrol yang pada akhirnya menciptakan agency problem yang dapat mempengaruhi firm performance secara langsung. Dengan adanya pemisahan kepemilikan dan kontrol dapat meningkatkan agency cost karena adanya information asymmetry (Kuznetsov &
Muravyev, 2001). Sebaliknya, menurut Shleifer dan Vishny (1986) dengan keberadaan investor eksternal dalam jumlah besar dalam perusahaan diasumsikan memiliki kemampuan pemantauan, kemampuan untuk mempengaruhi manajemen, sehingga kepentingan pemilik dan manajemen dapat diselaraskan.
Selain meningkatkan firm performance, mekanisme CG juga banyak diteliti agar dapat digunakan untuk meningkatkan transparansi dan menyelesaikan information
3
Universitas Kristen Petra
asymmetry yang muncul dari pemisahan kepemilikan dan kontrol, yaitu dengan melakukan pengungkapan informasi (Hidalgo, Garcı´a-Meca, Martinez, 2011; Haji &
Ghazali, 2013; Cerbioni & Parbonetti, 2007). Pengungkapan informasi keuangan dan non keuangan disajikan dalan laporan tahunan. Hal tersebut didukung oleh regulasi di Indonesia yaitu Bapepam Kep 134/BL/2006 tentang kewajiban penyampaian laporan tahunan bagi perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Akan tetapi, di era knowledge-based economy saat ini, banyak pemangku kepetingan atau stakeholder yang tidak puas terhadap praktik pelaporan keuangan tradisional termasuk ketidakmampuannya untuk memberikan informasi yang bermanfaat bagi stakeholder (Bozzolan, Favotto, & Ricceri, 2003). Akibatnya, dalam upaya memenuhi tuntutan para stakeholder banyak perusahaan mulai melengkapi laporan keuangan tradisional mereka dengan informasi non-keuangan termasuk informasi intellectual capital (Abeysekera & Guthrie, 2005).
Di Indonesia terdapat PSAK no. 19 yang mengatur tentang aset tidak berwujud.
Akan tetapi, informasi mengenai item intellectual capital (IC) tidak diatur dalam regulasi tersebut. Dengan demikian, intellectual capital disclosure (ICD) di Indonesia merupakan pengungkapan yang bersifat sukarela atau voluntary disclosure, bisa disebut juga sebagai voluntary disclosure of intellectual capital. Hal ini didukung oleh Cerbioni dan Parbonetti (2007) yang menyatakan bahwa ICD merupakan bagian dari voluntary disclosure. Menurut Bruggen, Vergauwen, dan Dao (2009) standar sukarela lebih tepat dan fleksibel dibandingkan dengan standar wajib karena adanya perubahan yang cepat pada IC.
Struktur kepemilikan juga diduga sebagai salah satu hal yang mempengaruhi tingkat ICD disuatu perusahaan (Gan, Saleh, Abessi & Huang, 2013; Kateb, 2014;
Hidalgo, et al., 2011). Menurut Eng dan Mak (2003), struktur kepemilikan menentukan tingkat pemantauan, dan dengan demikian juga menentukan tingkat pengungkapan. Li, Pike, & Haniffa (2008) mengemukakan bahwa mekanisme CG perusahaan yang efektif berdampak pada pengelolaan IC yang efisien, termasuk pengungkapan informasi IC kepada stakeholder. Menurut agency theory dengan difusi kepemilikan yang lebih besar, perusahaan lebih cenderung mengalami tekanan dari pemegang saham untuk
4
Universitas Kristen Petra
melakukan pengungkapan yang lebih besar untuk mengurangi agency cost dan information asymmetry (Raffournier, 1995).
Beberapa peneliti juga menemukan bahwa IC memiliki pengaruh positif terhadap kinerja dan kekayaan perusahaan (Zerenler & Gozlu, 2008; Emadzadeh, Afzali, Bagheri, Rahimpoor, Ezadi, Rahmani, 2013). Pelaporan dan pengungkapan oleh manajemen adalah metode utama untuk menjaga agar investor tetap mendapat informasi tentang firm performance. Perusahaan yang terdaftar di bursa efek terutama melakukan voluntary disclosure dalam laporan tahunan mereka untuk menarik investor asing dan juga mendorong investor lokal untuk melakukan perdagangan saham mereka untuk meningkatkan pengembalian perusahaan (Achoki, Kule, & Shukla, 2016).
Voluntary disclosure meningkatkan transparansi dan menurunkan information asymmetry. Transparansi yang meningkat menunjukkan nilai perusahaan sebenarnya dan membuat investor lebih mau berinvestasi pada perusahaan (Leuz & Verrecchia, 2000). Berdasarkan signaling theory, Hamrouni, Miloudi, dan Benkraiem (2015) menemukan bahwa tingkat voluntary disclosure dalam annual report memainkan peranan signifikan dalam memberikan sinyal terkait firm performance kepada investor dan analis keuangan.
Untuk merangkum latar belakang diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ownership structure dapat digunakan sebagai mekanisme corporate governance.
Dengan adanya external ownership dalam perusahaan dapat memantau dan membuat manajer lebih tertekan akan tuntutan informasi dari external ownership, sehingga manajer akan mengungkapkan lebih banyak informasi ICD dan dengan semakin meningkatnya ICD akan memberikan sinyal kepada publik bahwa perusahaan memiliki kinerja yang bagus. Dalam penelitian ini corporate governance berfungsi sebagai mekanisme yang membantu perusahaan mencapai tujuan mereka sementara pengungkapan merupakan alat penting untuk melaporkan kinerja perusahaan mereka kepada investor (Taliyang & Jusop, 2011).
Beberapa penelitian sebelumnya telah meneliti pengaruh antara ownership structure sebagai mekanisme CG dengan indikator government ownership, public ownership, dan foreign ownership terhadap firm performance dan menemukan hasil
5
Universitas Kristen Petra
yang berbeda-beda. Kocenda dan Svejnar (2002), Zeitun dan Tian (2007), dan Ting, et al. (2016) menemukan adanya pengaruh negatif antara government ownership dan firm performance. Sedangkan hasil penelitian Musallam dan Fauzi (2015), Irina dan Nadezhda (2009), Yu (2013), Tran, Nonneman, dan Jorissen (2014) menemukan bahwa government ownership berpengaruh positif terhadap firm performance.
Ting, et al. (2016), Guner (2015), Chari, Chen, dan Dominguez (2009), Kocenda dan Svejnar (2002), Azzama, Fouad, and Ghoshc (2013) dalam penelitiannya menemukan pengaruh positif antara foreign ownership dan firm performance, akan tetapi menurut Gurbuz dan Aybars (2010) semakin tinggi tingkat foreign ownership maka firm performance akan semakin buruk. Selain itu, menurut Onder (2003) dan Purba (2004) public ownership berpengaruh positif terhadap firm performance, sebaliknya Cos, Argimon, Gonzalez-Paramo (2001) menemukan hasil negatif.
Sama halnya dengan hasil penelitian diatas, penelitian terkait ownership structure sebagai mekanisme CG terhadap voluntary disclosure of intellectual capital juga telah diteliti oleh beberapa peneliti sebelumnya juga menemukan perngaruh yang berbeda-beda untuk tiap indikator dari ownership structrure. Firer dan Williams (2005), Haji dan Ghazali (2013), dan Eng dan Mak (2003) juga menemukan pengaruh positif antara government ownership dan ICD, hal tersebut sejalan dengan Gan, et al.
(2013) dan Alhazaimeh, Palaniappan, Almsafir (2013). Muttakin, Khan, Belal (2015), Alhazaimeh, et al. (2013), Huafang dan Jianguo (2007) menemukan bahwa semakin tinggi tingkat foreign ownership akan semakin mendorong perusahaan melakukan ICD. Sadeli, Suhadak, Dzulkirom dan Rahayu (2016) dalam penelitiannya menemukan adanya pengaruh positif antara public ownership terhadap ICD, sedangkan Lukito dan Susanto (2013) menemukan tidak ada pengaruh.
Bozzolan et al. (2003) menyatakan bahwa tingkat pengungkapan IC yang lebih tinggi dapat membantu mengurangi variabilitas kinerja masa depan. Hal tersebut berarti tedapat pengaruh antara voluntary disclosure of IC dan firm performance.
Eddine, Abdullah, Hamid, Hossain (2015) menemukan adanya pengaruh positif antara firm performance yang dilihat dari profitabilitas perusahaan dengan voluntary disclosure of IC. Mereka menemukan bahwa profitabilitas merupakan penentu semakin
6
Universitas Kristen Petra
tingginya voluntary disclosure of IC. Namun, terdapat beberapa penelitian lain yang menemukan bahwa firm performance bukan penentu voluntary disclosure of IC, melainkan voluntary disclosure of IC yang menentukan firm performance, dibuktikan oleh Achoki, et al. (2016) dan Hamrouni, et al. (2015) yang menemukan adanya pengaruh positif antara voluntary disclosure dan firm performance.
Dari jabaran beberapa hasil penelitian di atas, hanya menunjukkan adanya hasil pengaruh langsung antara variabel dan menunjukkan hasil penelitian yang tidak konsisten dalam pengaruh ownership structure (external ownership) terhadap firm performance. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat pengaruh tidak langsung dari variabel independen (ownership structure) terhadap variabel dependen (firm performance) dengan menggunakan variabel mediasi (voluntary disclosure of IC). Judul dari penelitian ini ialah “Pengaruh Ownership Structure Terhadap Firm Performance Melalui Voluntary Disclosure of Intellectual Capital sebagai Variabel Mediasi”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, rumusan masalah yang dapat diidentifikasi pada penelitian ini adalah:
1. Apakah external ownership berpengaruh terhadap firm performance?
2. Apakah external ownership berpengaruh terhadap berpengaruh terhadap voluntary disclosure of intellectual capital?
3. Apakah voluntary disclosure of intellectual capital berpengaruh terhadap firm performance?
1.3 Batasan Penelitian
Penelitian ini hanya menganalisa pengaruh antara ownership structure sebagai mekasnisme corporate governance terhadap firm performance dengan voluntary disclosure of intellectual capital sebagai variabel mediasi pada perusahaan manufaktur yang terdiri dari sektor industri barang konsumsi, sektor industri dasar dan kimia, dan sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan tahun pengamatan
7
Universitas Kristen Petra
2010-2015. Data yang digunakan diambil dari laporan tahunan (annual report) di website resmi Bursa Efek Indonesia dan juga dari Bloomberg.
Penelitian ini juga hanya menggunakan ownership structure yang terdiri dari external ownership (government ownership, foreign ownership, dan public ownership) sebagai mekanisme corporate governance. Untuk mengukur firm performance menggunakan accounting-based measurement, yaitu return on asset (ROA) dan market-based measurement, yaitu Tobin’s Q. Sedangkan untuk mengukur voluntary disclosure of intellectual capital menggunakan intellectual capital disclosure index (human capital, structural capital, relational capital) berdasarkan intellectual capital disclosure checklist yang terdiri dari 37 item.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk sebagai berikut:
1. Mengetahui pengaruh external ownership terhadap firm performance.
2. Mengetahui pengaruh external ownership terhadap voluntary disclosure of intellectual capital.
3. Mengetahui pengaruh voluntary disclosure of intellectual capital terhadap firm performance yang diproksikan dengan ROA.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Memberikan kontribusi yang berarti dalam pengembangan ilmu ekonomi, khususnya pada bidang ilmu akuntansi.
2. Menjadi bahan referensi dan perbandingan untuk penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan corporate governance (ownership structure) terhadap firm performance dan voluntary disclosure of intellectual capital.
3. Bagi manajemen perusahaan agar mendapatkan pemahaman yang lebih mengenai pentingnya peranan voluntary disclosure of intellectual capital dalam
8
Universitas Kristen Petra
mendukung corporate governance (ownership structure) perusahaan sehingga akan berdampak pada firm performance perusahaan.
4. Bagi potential investors, shareholders dan creditors agar dapat membantu untuk melakukan investasi yang tepat pada perusahaan dengan memperhatikan corporate governance (ownership structure) dan adanya voluntary disclosure of intellectual capital perusahaan karena dapat mempengaruhi firm performance. Dimana dengan mengetahui ketiga hal tersebut dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang tepat.
1.6 Sistematika Penelitian
Penulis menguraikan garis besar penelitian ini didalam sistematika penulisan.
Penulisan penelitian ini terdiri dari lima bagian yaitu sebagai berikut:
a. BAB I. PENDAHULUAN
Bab ini berisikan tentang latar belakang, rumusan masalah, batasan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penelitian.
b. BAB II. LANDASAN TEORI
Bab ini berisikan dasar-dasar teori (terkait corporate governance, ownership structure, voluntary disclosure of intellectual capital dan firm performance), kajian penelitian terhadulu, pengaruh antara variabel dan hipotesa penelitian.
c. BAB III. METODELOGI PENELITIAN
Bab ini berisikan model analisis, definisi operasional variabel, jenis dan sumber data, instrumen dan pengumpulan data, populasi, sampel dan teknik sampling, unit analisis dan teknik analisis data.
d. BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
Bab ini berisikan tentang pengolahan data, deskripsi hasil penelitian, pengujian asumsi klasik, analisis temuan dan interpretasi hasil.
e. BAB V. KESIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN
Bab ini berisikan tentang kesimpulan yang merupakan rangkuman dari hasil analisa penelitian, saran dan keterbatasan penelitian yang akan membantu memberikan arahan bagi penelitian selanjutnya.