• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE IMPROVEMENT OF COMMUNICATION AND INFERENCE SKILLS IN COLLOID SYSTEM MATERIAL BY PROBLEM SOLVING LEARNING MODEL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "THE IMPROVEMENT OF COMMUNICATION AND INFERENCE SKILLS IN COLLOID SYSTEM MATERIAL BY PROBLEM SOLVING LEARNING MODEL"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk. brought to you by. CORE. provided by Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Kimia. THE IMPROVEMENT OF COMMUNICATION AND INFERENCE SKILLS IN COLLOID SYSTEM MATERIAL BY PROBLEM SOLVING LEARNING MODEL. Yunita Maisarera, Chansyanah Diawati, Noor Fadiawati, Ila Rosilawati Pendidikan Kimia, Universitas Lampung. Abstract: The aim of this research is to describe the effectiveness of problem solving learning in improving communication and inference skills in colloid system material. Subjects in this research were students of XIIPA1 and XI IPA2 classrooms in Persada Junior High School in Bandar Lampung in academic year 2011-2012 where students of both classrooms had the same characteristics. This research used quasi experiment method and pretest-posttest control group design. Effectiveness of problem solving learning method was measured based in n-gain value. The results showed that average n-gain values of communication and inference skills were 0.28 and 0.31 respectively. It could be concluded that the problem solving learning in colloid system material was effective in improving inferring skill with high category and communication skill with medium criterion.. Keywords. : problem solving learning, communication and inference skills. PENDAHULUAN. Kimia merupakan ilmu yang termasuk. adalah ilmu yang mencari jawaban atas. rumpun IPA, oleh karenanya kimia. pertanyaan apa, mengapa, dan bagai-. mempunyai karakteristik IPA. Karak-. mana gejala-gejala alam yang berkaitan. teristik tersebut adalah objek ilmu ki-. dengan komposisi, struktur dan sifat,. mia, cara memperoleh, serta kegunaan-. perubahan, dinamika, dan energetika. nya. Kimia merupakan ilmu yang pada. zat. Ada tiga hal yang berkaitan deng-. awalnya diperoleh dan dikembangkan. an kimia yang tidak terpi- sahkan, yaitu. berdasarkan percobaan (induktif) nam-. kimia sebagai produk (pengetahuan ki-. un pada perkembangan selanjutnya ki-. mia yang berupa fakta, konsep, prinsip,. mia juga diperoleh dan dikembangkan. hukum, dan teori); temuan ilmuwan. berdasarkan teori (deduktif). Kimia. kimia sebagai proses (kerja ilmiah);.

(2) 2. dan kimia sebagai sikap. Oleh sebab. ai dengan apa yang diinstruksikan oleh. itu, pembelajaran kimia dan penilaian. guru, tanpa berusaha sendiri untuk me-. hasil belajar kimia harus memperhati-. mikirkan apa yang sebaiknya dilakukan. kan karakteristik ilmu kimia sebagai. untuk men- capai tujuan belajarnya.. proses dan produk (BSNP, 2006). Sehingga perlu dilatihkannya KPS pada. Faktanya, pembelajaran kimia di seko-. siswa untuk melatihkan keterampilan. lah cenderung hanya menghadirkan. pembelajaran, kterampilan pembelaja-. konsep-konsep, hukum-hukum, dan. ran KPS yang dapat dilatihkan contoh-. teori-teori saja, tanpa menyuguhkan ba-. nya keterampilan komunikasi dan infe-. gaimana proses ditemukanya konsep,. rensi.. hukum, dan teori tersebut, sehingga tidak tumbuh sikap ilmiah dalam diri. Berdasarkan hasil wawancara yang di-. siswa. Akibatnya pembelajaran kimia. lakukan dengan guru kimia kelas XI. menjadi kehilangan daya tariknya dan. IPA di SMA PERSADA Bandar Lam-. lepas relevansinya dengan dunia nyata. pung khususnya pada materi sistem ko-. yang seharusnya menjadi objek ilmu. loid, bahwa pembelajaran kimia yang. pengetahuan tersebut (BSNP, 2006).. digunakan adalah pembelajaran konvensional yang menekankan siswa pada. Salah satu tujuan pembelajaran kimia. materi tetapi tidak menghubungkannya. adalah menumbuhkan kemampuan ber-. dengan dunia nyata, sehingga siswa da-. pikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta. lam proses belajar mengajar belum di-. berkomunikasi sebagai salah. Untuk. latih keterampilan komunikasi dan in-. mencapai tujuan tersebut, terdapat be-. ferensi. Selain itu aktivitas siswa yang. berapa aspek yang perlu dibenahi salah. dominan dilakukan pada proses pembe-. satunya adalah proses belajar mengajar.. lajaran antara lain memperhatikan,. Saat ini pendidikan di Indonesia memi-. mendengarkan, mencatat penjelasan. liki banyak kelemahan pada berbagai. guru, dan latihan soal.. sisi. Salah satu kelemahan pendidikan Indonesia adalah pembelajaran yang. Untuk melatih keterampilan berkomu-. masih berpusat pada guru (teacher cen-. nikasi dan inferensi, diperlukan model. tered learning). Pada pembelajaran ini. pembelajaran yang berfilosofi konst-. siswa cenderung hanya bertindak sesu-. ruktivisme, yakni pembelajaran yang.

(3) 3. menitikberatkan pada keaktivan siswa. tohnya pada sub indikator mengapa. dan mengharuskan siswa membangun. pada materi kese- timbangan kimia.. pengetahuannya sendiri. Salah satu model pembelajaran yang dapat me-. Hasil penelitian Novissa (2006), yang. macu dan meningkatkan keterampilan. dilakukan pada siswa SMA kelas XI. berkomunikasi dan inferensi adalah. pada salah satu SMA Negeri di Malang. model pembelajaran problem solving.. , menunjukkan bahwa pembelajaran. Model pembelajaran problem solving. dengan menggunakan model Problem. menekankan pada siswa untuk meme-. Solving memberikan kesempatan kepa-. cahkan masalah hingga siswa menarik. da siswa untuk meningkatkan kemam-. kesimpulan akhir atas jawaban masalah. puan berpikir dan penguasaan konsep. tersebut.. materi pokok Hasil Kali Kelarutan. Berdasarkan latar belakang dan uraian. Model problem solving terdiri dari lima. di atas maka penulis melakukan peneli-. tahap yaitu tahap satu yaitu mengorien-. tian yang berjudul “Efektivitas Pembe-. tasikan siswa pada masalah, tahap dua. lajaran Problem Solving Dalam Meni-. yaitu mencari data atau keterangan. ngkatkan Keterampilan Berkomunikasi. yang dapat digunakan untuk memecah-. dan Keterampilan Inferensi Pada Sis-. kan masalah, tahap tiga yaitu menetap-. tem Koloid Siswa SMA Persada Ban-. kan jawaban sementara dari masalah,. dar Lampung”.. tahap empat yaitu menguji kebenaran jawaban sementara, dan tahap lima. METODOLOGI PENELITIAN. yaitu menarik kesimpulan (Depdiknas, 2008).. Populasi dalam penelitian ini adalah sis-. Hasil penelitian Saputra (2011), yang. wa kelas XI IPA SMA Persada Bandar. dilakukan pada siswa SMA kelas XI. Lampung tahun pelajaran 2011/ 2012. IPA di SMA Negeri 9 Bandar lampung,. yang tersebar dalam dua kelas. Pembagi-. menunjukkan bahwa pembelajaran. an siswa dalam masing-masing kelas di-. dengan menggunakan model Problem Solving dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa, salah satu con-. lakukan secara acak berdasarkan faktor akademiknya sehingga siswa pada kedua kelas mempunyai rata-rata akademik yang relatif sama. Dalam penelitian ini, sampel ditentukan dengan teknik total.

(4) 4. sampling karena jumlah sampel sama. Pada penelitian ini, instrumen yang. dengan jumlah populasi. Dengan jumlah. digunakan adalah:. siswa laki-laki dikelas XI ipa1 9orang. 1. Soal-soal pretes dan soal-. dan siswa perempuan 27 orang, sedangkan dikelas XI ipa2 siswa laki-laki ber-. soal postes. 2. Lembar observasi kinerja. jumlah 12 orang dan siswa perempuan 24 orang.. guru. 3. LKS (lembar kerja siswa). 4. Silabus.. Jenis data yang digunakan dalam peneli-. 5. RPP (rencana pelaksanaan. tian ini adalah data primer yang bersifat. pembelajaran).. kuantitatif yaitu data hasil tes sebelum pembelajaran diterapkan (pretes) dan hasil tes setelah pembelajaran diterapkan (posttest) siswa.. Metode Penelitian dan Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen, Sedangkan desain penelitian ini menggunakan pretest postest control group design (Sugiono,. Untuk mengetahui efektifitas model pembelajaran problem solving dalam meningkatkan keterampilan inferensi dan komunikasi maka dilakukan analisis akor n-gain. Menurut Meltzer besarnya peningkatan dihitung dengan rumus ngain (normalized gain), yaitu:    . 

(5) 

(6)    

(7)  

(8)     

(9) . 2002).. Tabel 1. Klasifikasi gain (g) Variabel penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Sebagai variabel bebas ada-. Besarnya g. Interpretasi. g > 0,31. Tinggi. 0,28 < g ≤0,31. Sedang. g ≤ 0,28. Rendah. lah pembelajaran yang menggunakan metode problem solving dan pembelajaran konvensional, sedangkan variabel terikatnya adalah keterampilan mengkomunikasikan dan keterampilan inferensi materi sistem koloid siswa SMA Persada Bandar Lampung.. Berdasarkan klasifikasi menurut Hake tersebut, efektivitas model problem solving pada materi koloid dalam meningkatkan keterampilan komunikasi dalam.

(10) 5. kriteria sedang dan keterampilan infeinfe. kan nilai rata-rata dalam bentuk grafik. rensi dalam kriteria tinggi.. sebagai berikut: 80. PEMBAHASAN. 60. 60.76. 60.79. 69.97 73.79. nilai rata-rata. HASIL PENELITIAN DAN. 40. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap siswa kelasXI IPA1 dan. 20 0 pretest. postest kelas kontrol kelas eksperimen. kelas IPA2 di SMA Persada Bandar Lampung, diperoleh data penelitian yang terdiri dari nilai pretest dan post-. kelas eksperimen. est. Data yang diperoleh sebagai. Gambar 4.1 Grafik nilai rata-rata rata. berikut:. keterampilan inferensi Tabel 2. Data rata-rata rata nilai pretest, postest keterampilan komunikasi. Rata-rata nilai Kelas Pretes Postes. Pada gambar 4.1 terlihat bahwa peroleperole han skor pretest dalam penilaian kete rampilan inferensi kelas eksperimen. Kelas Eksperimen. 59,05. 70,22. tidak jauh berbeda dengan kelas kon-. Kelas Kontrol. 59,33. 68,94. trol. Hal al ini menunjukkan bahwa ketekete rampilan inferensi kelas eksperimen. Tabel 3. Tabel rata-rata rata nilai pretest,. sama dengan kelas kontrol. Setelah. postest keterampilan. diberi iberi perlakuan, perolehan skor pos-. inferensi. Kelas. memiliki karakteristik yang hampir. Rata-rata nilai Pretes. Postes. Kelas Eksperimen. 60,79. 73,79. Kelas Kontrol. 60,76. 69,97. test memperlihatkan lihatkan adanya peningkapeningka tan, dimana kelas kontrol yang semula memiliki rata-rata rata skor 60.79 menjadi 69.97 dan. kelas eksperimen yang. semula memiliki rata-rata rata skor 60.79 Dari data nilai keterampilan mengkomengko munikasikan,, keterampilan inferensi dan indeks gain siswa diatas, didapatdidapat. meningkat menjadi 73.79..

(11) 75 68.94. nilai rata-rata. 70. 70.22. 65 59.33 59.05. 60. kelas kontrol. nilai rata-rata. 6. 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0. 0.31 0.22. 0.28 0.22. kelas eksperimen. 55 50 pretest. postest. kelas penelitian Kelas Eksperimen. Kelas Kontrol. Gambar 4.2 Grafik nilai rata-rata rata keterampilan berkomunikasi. Gambar 4.3. Grafik N-- Gain. Adapun gambar 4.3 dapat digunakan Pada gambar 4.2 juga terlihat bahwa perolehan skor pretest dalam keterampilan berkomunikasi kelas eksperimen tidak jauh berbeda dengan kelas konkon trol. Setelah diberi iberi perlakuan, perolehper. untuk melihat efektivitas pembelajaran yang diterapkan. Terlihat erlihat bahwa nn gain keterampilan inferensi yaitu sebesebe sar 0,31, sedangkan pada keterampilan komunikasi yaitu 0,28.. an skor postest memperlihatkan adanya peningkatan, dimana kelas eksperimen eksperi yang ng semula memiliki rata-rata rata skor. Berdasarkan rata-rata rata nilai n-gain n. 59.05 meningkat. tersebut terlihat bahwa pembelajaran. menjadi 70.22 dan ke-. las kontrol trol yang semula memiliki rata. problem solving pada materi koloid. skor 59.33 menjadi 68.94.. efektif dalam meningkatkan keterampiketerampi lan inferensi dan keterampilan keteram komunikasi. Hasil n-gain gain ini kemudian diindiin terpretasikan dengan menggunakan klasifikasi Hake. Berdasarkan klasifikasi Hake tersebut, efektivitas model problem solving pada materi koloid dalam meningkatkan keterampilan berkomunikasi dalam.

(12) 7. kriteria sedang dan keterampilan. ran air dan kopi, cmpuran air dan ga-. inferensi dalam kriteria tinggi.. ram. Apakah dari semua campuran ter sebut bersifat sama? dari campuran ter-. Pembahasan. sebut manakah yang memilki residu? setelah siswa menetapkan jawaban se-. Pembelajaran problem solving yang. mentara dari masalah tersebut kemudi -. memungkinkan siswa untuk mencari. an siswa dikondisikan duduk berdasar-. informasi sendiri dan lebih banyak. kan kelompoknya dan dibagikan LKS. interaksi yang terjadi sesama siswa.. untuk melakukan praktikum yaitu men-. Dalam pembelajaran problem solving. campurkan cmpuran air dan gula,air. mengikuti langkah-langkah pembelaja-. dan garam air dan kopi,air dan pasir,air. ran yang meliputi adanya masalah yang. dan susu pada masing-masing tempat.. jelas untuk dipecahkan, mencari data. Percobaan tersebut bertujuan untuk me-. atau keterangan yang dapat digunakan. nguji kebenaran jawaban sementara. untuk memecahkan masalah tersebut,. dan memberi kesempatan siswa untuk. menetapkan jawaban sementara dari. memanfaatkan panca inderanya semak-. masalah tersebut, menguji kebenaran. simal mungkin, serta memacu muncul-. jawaban sementara tersebut dan terak-. nya pertanyaan-pertanyaan yang meng-. hir menarik kesimpulan.. arah pada berkembangnya daya pikir mereka.. Pada pertemuan pertama, peneliti menyampaikan indikator dan tujuan pem-. Hal tersebut sesuai dengan teori yang. belajaran yang ingin dicapai, selanjut-. dikemukakan oleh Karplus dan Their. nya mengajukan pertanyaan untuk me-. dalam Fajaroh dan Dasna (2007) : pada. ngetahui efektivitas pembelajaran prob-. tahap eksplorasi, siswa diberi kesempa-. lem solving dalam meningkatkan kete-. tan untuk memanfaatkan panca indera-. rampilan komunikasi dan inferensi sis-. nya semaksimal mungkin dalam berin-. wa, serta untuk mengetahui pengetahu-. teraksi dengan lingkungan melalui ke-. an awal siswa mengenai sistem koloid,. giatan-kegiatan seperti melakukan eks-. misalnya: campuran gula dan air, cam-. perimen, menganali- sis artikel, men-. puran air dan susu, campuran air dan. diskusikan fenomena alam atau perila-. pasir, campuran air dan santan, campu-. ku sosial, dan lain-lain..

(13) 8. Pelaksanaan pada kelas eksperimen,. menjawab pertanyaan-pertanyaan. siswa diarahkan untuk menuliskan hasil. singkat terkait informasi dalam tabel. praktikum yang telah mereka peroleh. tersebut. Pada tahap ini, guru menun-. dalam bentuk tabel. Dalam tahap ini,. juk kelompok secara acak untuk mem-. siswa bebas mengkomunikasikan peng-. presentasikan hasil diskusi kelompok-. amatan mereka ke dalam tabel. Pada. nya.. pertemuan pertama, sebagian besar siswa tampak bingung melihat halaman kosong yang diberikan sebagai ruang untuk membuat tabel. Membuat tabel adalah hal baru bagi siswa, dimana pada pembelajaran sebelumnya, siswa tidak pernah diberi kesempatan untuk merancang tabel hasil pengamatan sendiri. Melalui latihan rutin dan evaluasi yang diberikan, terlihat bahwa tiap kelompok perlahan-lahan mampu mengkomunikasikan hasil pengamatan dengan baik.. Dalam fase ini juga tanpa sadar siswa mulai melatih keterampilan inferensi mereka. Saat berdiskusi dan mempresentasikan hasil diskusinya, siswa di tuntut dapat menjelaskan hasil peng amatan mereka, yang merupakan salah satu indikator dalam keterampilan inferensi. Melalui diskusi, presentasi dan tanggapan kelompok lain pula siswa dapat menguasai materi dengan lebih baik. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Karplus dan Their dalam Fajaroh dan Dasna (2007). Tanpa disadari siswa telah diupayakan. : pada fase penjelasan konsep, diharap-. untuk mengalami proses sains selama. kan terjadi proses menuju keseimbang-. proses pembelajaran. Arahan yang di-. an antara konsep-konsep yang telah di-. berikan untuk menyusun tabel merupa-. miliki siswa dengan konsep-konsep. kan salah satu indikator dalam kete-. yang baru.. rampilan proses sains, yaitu keterampilan berkomunikasi. Artinya, secara tidak langsung siswa telah dibimbing untuk berpikir secara sains dan dilatih agar terampil berkomunikasi. Setelah membuat tabel hasil pengamatan, siswa pada kelas eksperimen diarahkan untuk. Pada keterampilan inferensi pertemuan pertama, peneliti meminta siswa untuk mengerjakan kesimpulan yang terdapat pada LKS dan memberi tugas siswa mengenai materi yang telah dipelajari.

(14) 9. dan hubungannya dengan peristiwa. dan maju mengerjakan latihan di papan. yang terjadi di lingkungan mereka.. tulis.. Pada fase ini, salah satu indikator keterampilan inferensi yang lain yaitu menyimpulkan dari fakta yang terbatas mulai dilatihkan ke siswa. Mereka dituntut mam- pu menyimpulkan sesuatu dari fakta-fakta dan konsep yang telah mereka peroleh dari fase sebelumnya.. Namun, beberapa siswa yang aktif tersebut masih didominasi oleh siswasiswa yang memiliki kemampuan tinggi, siswa yang berkemampuan sedang hanya sese- kali turut aktif dalam pembelajaran. Sedangkan siswa yang berkemampuan rendah hanya duduk mendengarkan dan mencatat materi yang. Berbeda halnya dengan proses pembelajaran yang terjadi pada kelas kontrol (kelas XI ipa 2). Dalam proses pembelajarannya, peneliti lebih banyak menjelaskan sedangkan siswa hanya men-. dijelaskan sehingga pembelajaran yang terjadi masih kurang maksimal, keterampilan inferensi dan keterampilan mengkomunikasikan siswa masih belum terlatih.. dengarkan dan mencatat apabila ada materi yang dianggap penting, sehingga siswa mengalami kesulitan untuk memahami materi koloid dan daya pikir serta kemampuan sains mereka tidak dapat berkembang.. Berdasarkan fakta dan teori-teori yang telah diungkapkan di atas, menjadi hal yang wajar jika kelas eksperimen memperoleh hasil yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol baik dalam kete rampilan inferensi maupun keterampi-. Ketika diadakan tanya jawab, hanya. lan mengkomunikasikan.. siswa tertentu yang berani menjawab dan ketika siswa diminta mengerjakan latihan di papan tulis, tidak ada siswa yang berani maju. Hal ini dikarenakan siswa yang masih malu dan kurang termotivasi untuk aktif dalam belajar. Hal tersebut disiasati dengan mencatat nama-nama siswa yang aktif bertanya. Hal ini disebabkan karena kelebihan dari metode pembelajaran yang digunakan pada kelas eksperimen yaitu pembelajaran problem solving. Sesuai dengan kelebihan dari pembelajaran.

(15) 10. problem solving yang dijelaskan oleh. DAFTAR PUSTAKA. Dzamarah dan Zain (2002) yaitu: a. metode ini lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari. b. Proses belajar mengajar melalui. Djamarah, S.B dan A. Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta.. pemecahan masalah membiasakan para siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil.. Panen, P., D. Mustafa, dan M. Sekarwinahyu. 2001. Konstruktivisme dalam Pembelajaran. Dikti. Jakarta.. c. Metode ini merangsang pengembangan kemampuan berfikir siswa secara kreatif dan menye-. Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta.. luruh, karena dalam proses be lajarnya, siswa banyak melakukan mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai segi. Nasution, S. 2006. Berbagai Pendekatan dalam proses Belajar dan Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta.. dalam rangka mencari pemecahan masalah yang siswa hadapi.. SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis data, pengu -. Cartono. 2007. Profil Keterampilan Proses Sains Mahasiswa Program Pendidikan Jarak Jauh SI PGSD Universitas Sriwijaya. Seminar Proseeding of The International Seminar of Science Education, 27 Oktober 2007. Bandung.. jian hipotesis dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa: Model pembelajaran problem solving pada materi koloid dalam meningkatakan keterampilan berkomunikasi dalam kriteria sedang dan keterampilan inferensi dalam kriteria tinggi.. Sudjana, N. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya. Bandung..

(16)

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi diruang rawat inap dengan ruang

Hasil uji t menunjukkan bahwa variabel keahlian dan penggunaan sistem teknologi informasi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kinerja karyawan, sedangkan

Hasil tersebut dibuktikan dengan nilai t hitung untuk variabel etika profesi sebesar 1,443 &lt; 2,039 dan nilai signifikan sebesar 0,159 &gt; 5%, sehingga H2 ditolak artinya

Contoh lain sumber lubang keamanan yang disebabkan oleh kurang baiknya implementasi adalah kealpaan memfilter karakter-karakter yang aneh-aneh yang dimasukkan sebagai

Prognostic Value of Galectin-3, A Novel Marker of Fibrosis, in Patients with Chronic Heart Failure: Data from the DEAL-HF Study.. Heart Failure: Pathophysiology

Environmental Graphic Design pada area Museum Sepuluh Nopember Surabaya sangatlah dibutuhkan, sehingga para pengunjung yang datang untuk berwisata dapat mengerti

An irrational number involving a root is called a surd... Express each of the following in the

KONTRIBUSI TINGKAT KEBUGARAN JASMANI TERHADAP KARAKTER DISIPLIN SISWA DI SMA NEGERI 3 PANDEGLANG.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |