• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MONEY ATTITUDE TERHADAP IMPULSE BUYING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH MONEY ATTITUDE TERHADAP IMPULSE BUYING"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGARUH MONEY ATTITUDE TERHADAP

IMPULSE BUYING

Oleh:

VITA AGESI ARGENTINA NIM: 212011627

KERTAS KERJA

Diajukan kepada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian dari

Persyaratan-persyaratan Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

FAKULTAS : EKONOMIKA DAN BISNIS

PROGRAM STUDI : MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA 2015

(2)
(3)

ABSTRACT

Knowing money attitude as a person's perception of money is the determinant of a person's money behavior. Money attitude is a demeanor of someone which describes the behavior of people in social and money issues of personal satisfaction that will have an impact on consumption activities thus encouraging someone to make a planned or unplanned purchase (impulse buying). This research aim to investigate the relationship between money attitude and impulse buying, there are 5 hypothesis that will be tested. Data were obtained with distributing questionnaires and sampling techniques using nonprobability sampling with convenience sampling method. The samples in this research were 100 students of the Faculty of Economics and Business, Satya Wacana Christian University in Salatiga. The results shows there is a relationship between money attitude and impulse buying.

Keywords: power prestige, retention time, distrust, quality, anxienty, impulse buying.

SARIPATI

Mengetahui money attitude sebagai persepsi seseorang terhadap uang merupakan penentu

money behavior seseorang. Money attitude merupakan sikap seseorang yang

menggambarkan perilaku seseorang dalam masalah uang pelestarian sosial serta kepuasan pribadi yang akan berdampak pada kegiatan konsumsi yang dilakukan sehingga mendorong seseorang melakukan pembelian yang direncanakan maupun tidak direncanakan (impulse

buying). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara money attitude dengan impulse buying, dimana ada 5 hipotesis yang akan diuji. Data diperoleh melalui penyebaran

kuesioner dan teknik pengambilan sampel menggunakan nonprobability sampling dengan metode convenience sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 100 mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara money attitude dengan impulse buying.

(4)
(5)
(6)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmat yang telah diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Penelitian ini memfokuskan pada sikap uang seseorang terhadap

impulse buying. Sejauh ini penelitian-penelitian mengenai perilaku pembelian

impulsif hanya dilakukan dalam bidang pemasaran. Peneliti mencoba mengkaitkan bidang keuangan khususnya personal finance dengan menambahkan variabel money attitude yang diduga memiliki pengaruh terhadap impulse buying.

Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melihat pengaruh money attitude terhadap impulse buying yang terjadi pada mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Penulis menyadari bahwa penelitian ini belum sempurna dan penulis berharap dimasa yang akan datang, ada yang dapat melengkapi penelitian ini agar lebih baik. Akhir kata, semoga penelitian ini berguna untuk penelitian selanjutnya dan berguna untuk pihak – pihak yang membutuhkan referensi.

Salatiga, 7 Januari 2015

(7)

v

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur yang sebesar-besarnya dan rasa terima kasih penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan segala berkat, hikmat dan anugerah-Nya penulis diijinkan menyelesaikan dengan baik kertas kerja ini sebagai tugas akhir dari masa perkuliahannya. Penulis juga menyadari bahwa selama masa penulisan tugas akhir ini ada pihak-pihak yang turut serta memberikan bantuan dan dukungan. Maka perkenankan penulis untuk menghaturkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :

1. Kedua orang tua yang tercinta, yang tidak henti-hentinya memberikan doa, semangat dan dukungan selama ini. Terima kasih juga diberikan untuk kakak-kakakku tersayang Lukha Sientia dan Tika Asela yang telah memberi doa, masukan dan pendapat hingga kertas kerja ini selesai.

2. Ibu Maria Rio Rita, SE., M.Si., selaku Dosen Pembimbing penulis yang telah meluangkan waktu dalam memberikan masukan, saran dan bimbingan yang baik mulai dari awal penulisan hingga selesainya skripsi ini.

3. Sara Fransisca, Go Amelia dan Christopher Daniel yang telah membantu penulis memberikan masukan dan meluangkan waktu untuk berbagi pendapat dengan penulis sehingga penulis tidak kesulitan dalam menyelesaikan kertas kerja ini.

4. Venny, Gilang dan Ardy yang telah membantu penulis menyebarkan kuesioner sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Serta semua pihak yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner dalam penelitian ini.

5. Serta sahabat-sahabat baik saya yang tergabung di dalam LHFC dan teman-teman kos Seruni 38 yang selalu memberikan dukungan kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki keterbatasan dan masih jauh dari sempurna. Namun, penulis berharap kiranya skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Salatiga, Januari 2015

(8)

vi

DAFTAR ISI

Abstract ... i

Kata Pengantar ... ii

Ucapan Terima Kasih ... iii

Daftar Isi... iv

Daftar Lampiran ... v

Pendahuluan ... 1

Telaah Pustaka dan Pengembangan Hipotesis ... 4

Money Attitude ... 4

Impulse Buying ... 6

Pengembangan Hipotesis ... 8

Pengaruh Money Attitude terhadap Impulse Buying ... 8

Metode Penelitian ... 13

Analisis dan Pembahasan ... 15

Karakteristik Responden ... 15

Uji Validitas dan Uji Reliabelitas ... 16

Hubungan antara Money Attitude dengan Impulse Buying ... 18

Kesimpulan dan Saran... 22

Kesimpulan ... 22

Keterbatasan dan Agenda Penelitian ... 22

DAFTAR PUSTAKA ... 24

Daftar Riwayat Hidup ... 29

LAMPIRAN 1 : KUESIONER ... 30

LAMPIRAN 2 : KARAKTERISTIK RESPONDEN ... 35

LAMPIRAN 3 : DATA JAWABAN RESPONDEN ... 40

LAMPIRAN 4 : UJI VALIDITAS DAN UJI RELIABELITAS ... 43

(9)

vii

Daftar Lampiran

LAMPIRAN 1: KUESIONER ... 30

LAMPIRAN 2: KARAKTERISTIK RESPONDEN ... 35

LAMPIRAN 3: DATA JAWABAN RESPONDEN ... 40

LAMPIRAN 4 : UJI VALIDITAS DAN UJI RELIABELITAS ... 43

(10)

1

PENGARUH MONEY ATTITUDE TERHADAP IMPULSE BUYING

Vita Agesi Argentina

Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

PENDAHULUAN

Dalam teori ekonomi, manfaat (utility) merupakan hal yang dicari seseorang dari pembelian barang yang dilakukannya. Dalam kenyataannya beberapa orang mengesampingkan hal itu dan lebih mementingkan kepuasan dalam proses pembelian barang tersebut. Saat ini banyak orang melakukan pembelian bukan berdasarkan kebutuhan akan tetapi karena keinginan. Khususnya remaja putri, yang sering melakukan pembelian karena tertarik pada warna barang, keinginan mengikuti mode, dan ketidakpedulian akan akibat yang ditimbulkan, serta ketidakmampuan mengontrol diri. Kebiasaan dalam melakukan kegiatan konsumsi saat ini kemungkinan dapat mempengaruhi di masa yang akan datang pada kehidupan seseorang (Bristol, 2001). Sehingga penting untuk memastikan remaja memiliki pengetahuan akan produk atau jasa yang dibutuhkan sebagai tindakan dari konsumen rasional. Akan tetapi, para remaja saat ini cenderung tidak mampu menghindari keinginan terhadap sesuatu yang mereka lihat.

Secara khusus, remaja dijadikan sebagai target utama segmen pasar, karena daya beli mereka meningkat secara dramatis dan mereka tampaknya memiliki kesadaran yang tinggi akan merek, citra toko, dan konsep nilai harga (Bristol, 2001). Sedangkan Wulfert et al (2002) menjelaskan bahwa remaja mengalami

(11)

2 emosi yang kuat selama masa pubertas dan lemah untuk menahan diri, mereka lebih mungkin seperti orang dewasa dengan mengikuti secara nekat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang beresiko. Pada awalnya terkadang mereka sebelum melakukan pembelian suatu produk biasanya merencanakan terlebih dahulu tentang barang apa yang akan dibelinya, jumlah, harga, tempat pembelian, dan lain sebagainya. Akan tetapi, yang terjadi mereka melakukan pembelian secara tiba-tiba dan timbul keinginan begitu saja ketika ia melihat suatu barang atau jasa. Pola pembelian seperti ini dapat dikatakan sebagai pembelian impulsif. Rook dan Fisher (1995), mendefinisikan sifat pembelian impulsif sebagai “a

consumers’ tendency to buy spontaneusly, unreflectively, immediately and kinetically”. Sedangkan Loudon dan Bitta (1993) menyatakan sebagai pembelian

yang tidak direncanakan. Engel dan Blackwell (1995), mendefinisikan pembelian yang tidak direncanakan atau yang disebut juga pembelian impulsif merupakan suatu tindakan pembelian yang dibuat tanpa direncanakan sebelumnya atau keputusan pembelian yang dilakukan pada saat berada didalam toko. Selain itu, teman memegang peranan yang sangat penting dalam pengalaman konsumsi remaja. Mereka biasanya memperlihatkan sesuatu yang mereka beli kepada temannya dan terkadang mereka meminta pendapat temannya dalam melakukan keputusan pembelian.

Impulse buying dapat dipahami sebagai suatu proses pengambilan keputusan

dimana pelanggan hanya melibatkan sedikit proses kognitif tetapi juga biasanya menunjukkan tingkat emosi yang tinggi. Dalam penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa berbagai faktor terkait pembelian impulsif, seperti usia dan

(12)

3 pendapatan (Wood, 1998), jenis kelamin dan mengidentifikasi diri (Ditmar, dkk 1995), atau keadaan emosional (Rook & Fisher, 1995).

Impulse buying pada dasarnya juga dapat dilihat dari sisi keuangan, salah satunya

dengan memperhatikan sikap terhadap uang (money attitude) seseorang. Furnham (1984) menunjukkan bahwa sikap uang pada dasarnya terkait dengan pendapatan seseorang. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Monica (2013), perilaku terhadap penggunaan uang yang berada di tangan seseorang akan mempunyai perlakuan berbeda antara satu dengan yang lain. Hal ini disebabkan karena keinginan setiap individu untuk membelanjakan uang yang dimiliki berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Roberts & Jones (2001) berpendapat money attitude sebagai alat kekuasaan (power), bugeting/retaning, kecemasan (anxienty), dan obsesi. Dari perspektif psikologi, Yamauchi dan Templer (1982) mengelompokkan money attitude dalam lima domain, yaitu power prestige, retention-time, distrust, quality, dan anxienty. Dengan demikian money attitude seseorang dapat dianalisis dari kelima dimensi di atas. Penelitian yang dilakukan oleh Lai (2010) terhadap 906 remaja berusia antara 16 dan 20 di universitas atau perguruan tinggi Taiwan yang menyatakan adanya hubungan kuat antara sikap uang dengan impuls buying.

Latar belakang dari penelitian ini adalah sejauh ini penelitian-penelitian mengenai perilaku pembelian impulsif hanya dilakukan dalam bidang pemasaran. Peneliti mencoba mengkaitkan antara perilaku impulse buying dengan bidang keuangan khususnya personal finance dengan menambahkan variabel money attitude yang diduga memiliki hubungan terhadap impulse buying. Dengan demikian persoalan

(13)

4 penelitian yang akan dijawab melalui penelitian ini yaitu apakah money attitude berhubungan terhadap perilaku impulse buying mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ?

Manfaat dalam penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan antara perilaku

impulse buying dengan bidang keuangan khususnya personal finance dengan

menggunakan variabel money attitude yang diduga memilik hubungan terhadap

impulse buying. Selain itu, manfaat praktis dari penelitian ini sebagai bahan

masukan bagi mahasiswa untuk menghindari dari perilaku pembelian impulsif yang berdampak negatif bagi kehidupan sehari-hari.

Telaah Pustaka dan Pengembangan Hipotesis

Money Attitude

Uang secara umum memiliki makna yang sama akan tetapi sikap individu terhadap uang membuat kearah perbedaan. Taneja (2012) mendefinisikan money

attitude secara sederhana sebagai persepsi seseorang terhadap uang. Sedangkan

(Lindgren, 1980dalam Taneja, 2012) motif yang mendasari money attitude lebih menekankan untuk memperoleh status, kekuasaan dan meningkatkan harga diri. Dengan demikian konsep money attitude dianggap sebagai persepsi seseorang tentang uang. Ini adalah sikap seseorang yang menggambarkan perilaku seseorang dalam masalah uang. Sikap kita yang menunjukkan dalam hal uang adalah pelestarian status sosial serta kepuasan pribadi.

Pada penelitian ini mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Yamauchi dan Templer (1982). Dari perspektif psikologi, Yamauchi dan Templer (1982)

(14)

5 mengelompokkan money attitude dalam lima domain, yaitu power prestige,

retention time, distrust, quality, dan anxienty. Domain pertama adalah Power prestige yang terdiri dari aspek status, kepentingan, keunggulan, dan penerimaan.

Wang(2004) menemukan bahwa meningkatnya derajat power/prestise

berpengaruh secara signifikan dengan perilaku pembelian impulsif. Menurut Setyawan (2011) power prestige merupakan sikap psikologis yang membuat seorang individu berpikir bahwa uang merupakan suatu kekuatan. Selain itu, uang merupakan suatu simbol kesuksesan bagi yang memilikinya. Dengan uang seseorang selalu mementingkan persaingan dan mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Domain kedua yaitu retention time, meliputi penghematan, penimbunan uang (hoarding). Seseorang dalam indikator ini cenderung berhati-hati dalam penggunaan uangnya. Mereka memilih untuk mengamankan uangnya dengan cara menyimpannya (ose dan Orr, 2007 dalam Blaszczynski & Nower, 2008). Menurut Setyawan (2011) retention time merupakan salah satu sikap psikologis seseorang yang mengacu pada perilaku seseorang yang tidak ingin menghabiskan uang. Uang yang akan digunakan harus direncanakan sebelumnya. Sehingga uang yang dipakai nantinya tidak sia-sia di hari kemarin.

Domain ketiga adalah distrust. Apabila dilihat dari karakteristik seseorang yang berorientasi pada domain ini cenderung berpikir curiga dan ragu-ragu. Pada dimensi ini sikap seseorang dalam perilaku keuangannya merasa tidak percaya dengan melakukan pembelian karena mereka sensitif terhadap harga, sehingga

(15)

6 seseorang tersebut akan memberikan komplain terhadap barang yang mereka beli (Setyawan, 2011).

Selanjutnya domain keempat adalah quality, yang mengindikasikan terhadap merek suatu produk. Apabila suatu barang memiliki harga jual tinggi maka dipersepsikan memiliki kualitas yang baik. Dan yang terakhir adalah anxienty yang dianggap kecemasan seseorang saat memegang uang. Seseorang merasa khawatir dan cemas dengan uang yang mereka miliki (ose dan Orr, 2007 dalam Blaszczynski & Nower, 2008). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kecemasan tersebut memiliki dua karakteristik yang mempengaruhi orang-orang, yang pertama membuat mereka melihat uang sebagai sumber kecemasan serta perlindungan secara bersamaan.

Impulse Buying

Rook dan Fisher (1995), mendefinisikan sifat pembelian impulsif sebagai “a

consumers’ tendency to buy spontaneusly, unreflectively, immediately and kinetically”. Impulse buying dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi, pribadi,

temporal, spasial dan bahkan budaya. Ini bervariasi tidak hanya antara pembeli yang berbeda mempertimbangkan untuk membeli item yang sama, tetapi juga untuk pembelanja yang sama membeli item yang sama dalam situasi yang berbeda (Stern, 1962), dan karena itu sering diasumsikan bahwa faktor personal dan situasional yang signifikan. Sedangkan Lai (2001), menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian impulsif, seperti rangsangan eksternal (display toko, promosi dan iklan) selanjutnya persepsi intern (gaya hidup, kepribadian,

(16)

7 emosi, uang dan tekanan waktu), perilaku pembelian (harga, waktu pembelian, pembayaran) dan variabel demografis (usia, jenis kelamin, pendapatan, pekerjaan, status perkawinan, pendidikan, pendapatan rumah tangga dan status sosial). Situasi pembelian yang berbeda menyebabkan perilaku pembelian impulsif yang berbeda. Ada kecenderungan bagi konsumen untuk membeli impulsif ketika mereka hedonistik dan menikmati belanja (Hoch dan Loewenstein, 1991; Dittmar et al, 1995.). Beatty dan Ferrell (1998) menyarankan bahwa lebih banyak waktu yang tersedia, semakin besar kemungkinan bahwa konsumen akan melakukan pembelian.

Menurut Rook (1987) pembelian impulsif sebagai gangguan perilaku pada konsumen, dan sering mengakibatkan konsumen menjadi “kehilangan kontrol”, dengan demikian pembelian impulsif disebut sebagai perilaku yang buruk atau negatif. Konsumen melakukan pembelian tanpa adanya perencanaan, terjadi dengan tiba-tiba, dan keinginan yang kuat untuk membeli sesuatu dengan segera pada saat di dalam toko tanpa adanya suatu pertimbangan untuk konsekuensi yang akan dihadapi. Selain itu, Rook (1987) menggambarkan kecenderungan impuls

buying ada 4, yaitu

1. Spontaneous Urges to Buy

Konsumen melakukan pembelian yang tidak diharapkan sebelumnya dan konsumen termotivasi untuk melakukan pembelian pada saat itu juga. Pembeli langsung merespon point of scale terhadap barang yang dilihatnya pada saat itu juga.

(17)

8 2. Power and Compulsion: Intensity&Force

Konsumen termotivasi dengan kuat untuk melakukan pembelian dan bertindak dengan segera.

3. Excitement and Stimulation

Keinginan yang datang tiba-tiba untuk membeli disertai oleh adanya emosi yang dikarakteristikkan dengan perasaan “bergairah”, “sensasi” atau “tidak terkendali”.

4. Disregard for consequences

Keinginan untuk membeli yang tidak dapat ditahan serta berpotensial untuk mengabaikan konsekuensi negatif.

Pengembangan Hipotesis

Pengaruh Money Attitude terhadap Impulse Buying

Personal Finance merupakan salah satu bagian dari ilmu keuangan yang

mempelajari pengelolaan keuangan pribadi atau rumah tangga. Tyson (2010) mengemukakan hal-hal yang dipelajari dalam personal finance meliputi: “spending, taxes, saving and investing, insurance, and planning for major goals

like education, buying a home, and retirement. Secara khusus, perilaku pembelian

impulsif dilihat dari sisi personal finance merupakan bagian dari pengelolaan pengeluaran (spending) pribadi. Sehingga penting bagi individu untuk melakukan pengelolaan keuangan pribadi atau rumah tangga.

(18)

9 Monica (2013) mendefiniskan perilaku terhadap penggunaan uang yang berada di tangan seseorang akan mempunyai perlakuan berbeda antara satu dengan yang lain. Furnham (1984) menunjukkan bahwa sikap uang pada dasarnya terkait dengan pendapatan seseorang. Dengan pendapatan yang diperoleh dapat mendorong individu melakukan kegiatan konsumsi dengan melakukan pembelian terhadap suatu barang atau jasa. Biasanya individu sebelum membeli suatu barang terlebih dahulu merencanakan apa yang akan mereka beli. Akan tetapi ada pula yang membeli barang secara spontanitas atau pembelian yang tidak direncanakan. Pada pembelian impulsif, konsumen memiliki perasaan yang kuat dan positif terhadap suatu produk yang harus dibeli, sehingga pada akhirnya konsumen memutuskan untuk membelinya (Mowen dan Minor, 2002). Pembelian secara impulsif sering kali sulit ditahan karena diwarnai dorongan kuat untuk membeli. Pembelian impulsif cenderung mengabaikan dampak-dampak buruk yang mungkin terjadi yang dapat mengakibatkan penyesalan, berkaitan dengan uang yang sudah telanjur dibelanjakan akan menimbulkan masalah keuangan dengan membengkaknya anggaran atau pengeluaran.

1. Power Prestige

Banyak orang menganggap uang sebagai kekuasaan (power). Power prestige termasuk juga digunakan untuk pencarian status, persaingan, pengakuan eksternal, pencapaian akan barang-barang yang material. Banyak orang menganggap dengan memiliki uang berarti kita memiliki kekuatan. (Goldberg &Lewis , 1978). Sedangkan pandangan Yamauchi and Templer(1982) sama dengan yang dikemukan oleh (Robert & Jones, 2001) yang menyatakan nilai power prestige

(19)

10 seseorang yang semakin tinggi dalam penggunaan uang dianggap dapat mengesankan dan mempengaruhi orang lain dan sebagai simbol kesuksesan. Sehingga apabila seseorang memiliki nilai power prestige tinggi cenderung akan melakukan impulse buying. Selain itu, dengan melakukan impulse buying secara terus-menerus mereka akan dianggap memiliki banyak uang dan mereka juga akan memperoleh status sosial dan merasa memiliki power.

H1: Power prestige berhubungan terhadap impulse buying 2. Retention time

Pada dimensi yang kedua ini, menekankan pada perencanaan keuangan dan penggunaan yang hati-hati terhadap uang. Nilai retention time yang semakin tinggi mencerminkan perilaku yang telah memikirkan dan mempersiapkan uang agar dapat berguna dimasa depan. Sedangkan apabila seseorang memiliki nilai

retention time yang lebih rendah cenderung berorientasi ke masa sekarang

dibandingkan masa depan. Karena orang tersebut cenderung tidak memikirkan menabung untuk masa depan tetapi uang yang mereka miliki digunakan untuk masa sekarang (Yamauchi and Templer, 1982). Seseorang yang termasuk dalam indikator ini akan sangat berhati-hati dengan penggunaan uang dan merasa tidak aman ketika mengeluarkan uang. Selain itu, mereka merasa kesulitan dalam pengambilan keputusan apakah akan menyimpan uangnya atau tidak dan sering merasa bersalah ketika mereka menghabiskannya (Lim dan Teo, 1997). Seseorang yang memiliki nilai retention time tinggi cenderung tidak melakukan impulse

(20)

11 orang memiliki nilai retention time yang rendah akan melakukan impulse buying karena persepsi mereka uangnya akan digunakan untuk berbelanja.

H2 : Retention-time berhubungan terhadap impulse buying 3. Distrust

Menurut Yamauchi dan Templer (1982), dengan faktor distrust

(ketidakpercayaan) dapat menentukan beberapa karakteristik dari ketidakpercayaan, seperti ragu-ragu dan curiga. Selain itu, seseorang merasa percaya diri untuk membeli sesuatu yang sudah direncanakan. Sedangkan menurut Durvasula dan Lyonski (2010), orang-orang yang memiliki nilai distrust yang tinggi sering curiga dan ragu berkaitan dengan situasi yang melibatkan penggunaan uang dan tidak percaya dengan kemampuannya dalam membuat keputusan membeli yang efisien. Seseorang menjadi tidak percaya untuk membeli barang yang sudah direncanakan karena berkaitan dengan sensitivitas harga. Orang yang memiliki nilai distrust tinggi cenderung tidak akan melakukan

impulse buying karena mereka ragu dengan kemampuannya dalam melakukan

pembelian secara efisien.

H3 : Distrust berhubungan terhadap impulse buying 4. Quality

Ketika membeli barang atau jasa, ada orang yang membeli melihat harga sebagai kriteria utama dalam mempertimbangkan proses pembelian, akan tetapi ada juga yang melihat dari bagaimana kualitas barang tersebut. Seseorang dalam indikator ini ketika membeli sesuatu akan mengutamakan kualitas walaupun harga barang yang akan dibelinya mahal (Setyawan, 2011). Orang-orang dengan nilai quality

(21)

12 yang tinggi percaya bahwa dalam memperoleh produk yang terbaik atau membayar dalam jumlah banyak maka persepsi mereka akan memperoleh kualitas produk tinggi seperti yang diinginkan, sedangkan orang-orang dengan nilai

quality yang rendah mengganggap kualitas tidak penting ketika membeli produk

(Yamauchi dan Templer, 1982). Sehingga seseorang yang lebih mementingkan kualitas mereka cenderung tidak melakukan impulse buying karena mereka menganggap dengan harga yang tinggi maka memiliki kualitas yang tinggi juga.

H4 : Quality berhubungan terhadap impulse buying 5. Anxienty

Dalam dimensi ini, menekankan bahwa uang adalah sumber dari stress atau depresi. Orang dengan nilai anxienty yang tinggi pada dimensi ini mengganggap bahwa uang adalah sumber kegelisahan dan juga sumber perlindungan dari kegelisahan itu sendiri (Yamauchi dan Templer, 1982). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kecemasan tersebut memiliki dua karakteristik yang mempengaruhi orang-orang, yang pertama membuat mereka melihat uang sebagai sumber kecemasan serta perlindungan secara bersamaan. Seseorang yang tergolong dalam indikator ini cenderung merasa cemas dan khawatir ketika ditanya tentang keuangan yang mereka miliki, selain itu seseorang yang tergolong pada indikator ini juga selalu merasa rendah diri ketika ada seseorang yang memiliki uang lebih di sekitar mereka (Lim dan Teo, 1997). Apabila dikaitkan dengan impulse buying terdapat dua kemungkinan, orang yang berorientasi terhadap dimensi ini ketika mereka memegang uang mereka merasa gelisah

(22)

13 bagaimana cara menghabiskannya. Akan tetapi ketika mereka tidak memegang uang mereka juga merasa gelisah karena tidak dapat berbelanja.

H5 : Anxientyberhubungan terhadap perilaku impulse buying

Metode Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Dengan jumlah populasi 2150 (Bagian Administrasi dan Pembayaran, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga). Sedangkan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa strata satu Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Selain itu, pengambilan sampel pada penelitian dilakukan di dalam lingkup strata satu dan diploma III pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), karena pada mahasiswa strata dua kemungkinan mahasiswanya sudah memiliki penghasilan sendiri dan rata-rata sudah tidak dalam rentang usia remaja, sehingga diasumsikan memiliki pola pikir yang berbeda dengan remaja. Remaja yang dimaksud adalah remaja dalam rentang usia antara 18 tahun sampai 22 tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan nonprobability sampling dengan metode convenience

sampling.

Pengukuran konsep pada variabel dalam penelitian ini menggunakan skala likert. Pengukuran variabel money attitude dilakukan dengan menggunakan indikator pernyataan yang dikembangkan oleh Yamauchi & Templer (1982) dengan menggunakan lima domain yaitu power prestige, retention time, distrust, quality, dan anxienty. Sedangkan pengukuran variabel impulse buying dilakukan dengan

(23)

14 indikator pernyataan yang dikembangkan oleh Rook (1987) dengan jenis karakteristik pembelian yakni Spontaneous Urges to Buy, Power and Compulsion:

Intensity&Force, Excitement and Stimulation, dan Disregard for consequences.

Sebelum dilakukan analisis data, maka diperlukan pengujian menggunakan pilot

test dengan melakukan penyebaran kuisioner terhadap 20 responden. Kemudian

dilakukan Uji Reliabilitas dan Uji Validitas. Selanjutnya untuk menentukan rentang skala likert kategori dari nilai rata-rata jawaban responden maka dapat menggunakan rumus (Santosa, 2012):

= 2

Dari uraian diatas dapat diperoleh kategori tingkat variabel sebagai berikut:

Tabel 1

Tingkat Kategori Variabel

Range Keterangan

1,00-3,00 Rendah

>3,00-5,00 Tinggi

Analisis data untuk penelitian ini menggunakan analisis tabulasi silang (Crosstabs). Analisis tabulasi silang (Crosstabs) merupakan metode untuk mentabulasikan beberapa variabel yang berbeda ke dalam suatu matriks. Analisis ini digunakan untuk mengetahui analisis hubungan-hubungan antar variabel yang terjadi, melihat bagaimana kedua atau beberapa variabel berhubungan, mengatur data untuk keperluan analisis statistik, dan untuk mengadakan kontrol terhadap variabel tertentu sehingga dapat dianalisis ada tidaknya hubungan. Kriteria untuk

(24)

15 uji tabulasi silang berdasarkan perbandingan nilai probabilitasnya. Jika nilai probabilitas lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima. Sedangkan jika nilai

probabilitas lebih kecil dari 0,05 maka H0 ditolak. Analisis dan Pembahasan

Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini berjumlah 100 orang yang berada di dalam lingkup strata satu dan diploma III pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Gambaran umum karakteristik responden dianalisis untuk memperoleh gambaran sampel yang dapat digunakan untuk menunjang hasil penelitian. Berikut merupakan gambaran umum karakteristik responden :

Tabel 2

Karakteristik Responden

Kategori Jumlah Persentase

Jenis Kelamin Pria

Wanita 24 76 24% 76% Usia 18-20 21-22 78 22 78% 22% Status Bekerja Tidak Bekerja 5 95 5% 95%

Uang saku Mahasiswa / bulan Rp.100 ribu–Rp. 500 ribu Rp. 600 ribu- Rp.1 juta >Rp. 1 juta 13 31 56 13% 31% 56%

Pendapatan Mahasiswa yang

bekerja / bulan Rp. 100ribu-Rp.1juta 5 100%

Sumber : Data Primer Diolah, 2014

Berdasarkan data dari Tabel 2 jumlah responden antara pria dan wanita didominasi oleh wanita yaitu sebanyak 76% dan jumlah responden pria adalah 24%. Dari data responden didominasi usia dibawah 20 tahun sebanyak 78% dan sisanya 22% berusia diatas 20 tahun. Sedangkan responden yang memiliki status

(25)

16 bekerja hanya 5 orang yang berarti mayoritas responden tidak bekerja. Sedangkan uang saku yang mereka terima setiap bulannya rata-rata diatas Rp. 1 juta yaitu sebanyak 56% sedangkan yang mempunyai uang saku antara Rp. 600 ribu- Rp. 1 juta sebanyak 31% dan sisanya 13% memiliki uang saku Rp. 100 ribu - Rp. 500 ribu. Untuk responden yang berstatus bekerja range pendapatan yang ia terima setiap bulannya antara Rp. 100ribu-Rp.1juta.

Uji Validitas dan Uji Reliabelitas

Pada pengujian validitas tahap pertama, terdapat 9 indikator pada variabel money

attitude dan 1 indikator pada variabel impulse buying yang dinyatakan tidak valid

karena memiliki nilai sig. (2-tailed) > 0,05. Sehingga harus dilakukan pengujian validitas kedua dengan menghilangkan indikator yang dinyatakan tidak valid. Pada tahap pengujian validitas kedua terdapat satu indikator dari variabel money

attitude yang dinyatakan tidak valid karena memiliki nilai sig. (2-tailed) > 0,05

dan indikator pada variabel impulse buying dinyatakan valid, karena semua indikator memiliki nilai sig. (2-tailed) < 0,05.

Selanjutnya adalah tahap pengujian reliabelitas. Pada pengujian reliabelitas semua indikator dari variabel money attitude dan impulse buying dinyatakan reliabel, karena semua variabel tersebut menunjukkan nilai Cronbach alpha> 0,60. Selanjutnya akan diuraikan deskripsi dari masing variabel dari masing-masing dimensi dari variabel yang meliputi power prestige, retention time,

distrust, quality, dan anxienty. Sedangkan dimensi pada variabel impulse buying

yaitu Spontaneous Urges to Buy, Power and Compulsion: Intensity&Force,

(26)

17

Tabel 3

Deskripsi Variabel Money Attitude dan Impulse Buying

Dimensi dari Variabel Rata-Rata

Skor Keterangan Power Prestige Retention Time Distrust Quality Anxienty

Spontaneous Urges to Buy

Power and Compulsion: Intensity&Force Excitement and Stimulation

Disregard for consequences

3.16 3.53 3.73 3.22 3.36 3.61 3.18 3.39 2.61 Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Renda h

Sumber : Data Primer Diolah, 2014

Berdasarkan data pada Tabel 3, deskripsi untuk dimensi Power Prestige pada variabel Money Attitude adalah tinggi, artinya secara keseluruhan mahasiswa menganggap uang sebagai kekuatan atau simbol kesuksesan. Pada kategori

Retention Time nilai skornya adalah tinggi. Mahasiswa pada dimensi ini

cenderung akan membuat perencanaan keuangan untuk masa depan dan berhati-hati dalam menggunakannya. Selanjutnya pada kategori distrust nilai skornya adalah tinggi. Artinya mahasiswa yang memiliki nilai distrust yang tinggi tidak percaya dengan kemampuannya dalam membuat keputusan membeli yang efisien. Pada dimensi Quality nilai skornya tinggi. Artinya mereka yang ada dalam indikator ini akan menggunakan produk dengan merek ternama. Mahasiswa dengan nilai quality yang tinggi akan cenderung rela untuk membayar lebih demi mendapatkan sesuatu yang terbaik menurut mereka. Kemudian, pada dimensi

Anxienty skor nilainya adalah tinggi. Mahasiswa dengan nilai anxienty yang tinggi

pada dimensi ini mengganggap bahwa uang merupakan sumber kegelisahan dan juga sumber perlindungan dari kegelisahan itu sendiri. Artinya mahasiswa

(27)

18 tersebut cenderung merasa cemas dan khawatir ketika ditanya tentang keuangan yang mereka miliki.

Selanjutnya, deskripsi pada variabel impulse buying berdasarkan Tabel 3 adalah dimensi Spontaneous Urges to Buy, Power and Compulsion: Intensity&Force,

Excitement and Stimulation memiliki skor tinggi. Hal ini manyatakan bahwa

mahasiswa dalam melakukan pembelian tanpa direncanakan dan muncul perasaan secara tiba-tiba untuk memiliki suatu barang. Mahasiswa juga termotivasi dengan kuat untuk melakukan pembelian pada saat melihat produk didalam toko. Sedangkan pada variabel Disregard for consequences yang memiliki nilai skor yang rendah. Artinya, meskipun sebagian besar mahasiswa melakukan impulse

buying tetapi beberapa dari mereka masih memperhatikan konsekuensi negatif

yang dapat ditimbulkan apabila melakukan pembelian. Hubungan antara Money Attitude dengan Impulse Buying

Berdasarkan pada uji tabulasi silang (Crosstab) diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4

Hubungan antara Power Prestige dan Impulse Buying

Impulse Buying Total Low High Power Prestige Low 37 6 43 High 2 55 57 Total 39 61 100

Value Df Asymp. Sig. (2-sided)

Pearson Chi-Square 70.187a 1 .000

(28)

19 Nilai probabilitas pada dimensi power prestige lebih kecil dari 0,05 artinya H0 ditolak. Hal ini menandakan ada hubungan antara dimensi power prestige

dengan impulse buying. Dari hasil Tabel 4 diatas dijelaskan mahasiswa yang memiliki power prestige rendah dan impulse buying rendah yaitu sebanyak 37 orang. Sedangkan mahasiswa yang memiliki power prestige tinggi memiliki

impulse buying tinggi yaitu berjumlah 55 orang. Sehingga mahasiswa yang

memiliki nilai power prestige rendah cenderung tidak melakukan impulse buying dan sebaliknya apabila mahasiswa memiliki nilai power prestige tinggi akan cenderung melakukan impulse buying tinggi pula. Hal ini dikarenakan dengan melakukan impulse buying diharapkan mereka akan memperoleh status sosial dan merasa memiliki power.

Tabel 5

Hubungan antara Retention Time dengan Impulse Buying Impulse Buying Total Low High Retention Time Low 24 3 27 High 15 58 73 Total 39 61 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2014

Nilai probabilitas pada dimensi retention time lebih kecil dari 0,05 artinya H0 ditolak. Hal ini menandakan ada hubungan antara dimensi retention time

dengan impulse buying. Selanjutnya berdasarkan Tabel 5 dijelaskan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki nilai retention time tinggi dan impulse buying tinggi. Artinya walaupun sebagian mahasiswa melakukan perencanaan dalam keuangannya mereka tetap melakukan impulse buying. Hal ini menandakan bahwa

Value Df Asymp. Sig. (2-sided)

(29)

20 sebagian besar mereka melakukan pembelian secara spontan atau tanpa direncanakan. Mahasiswa dalam dimensi ini seharusnya lebih memilih menabung dibandingkan membelanjakan uang yang mereka miliki. Hal ini terjadi karena sebagian besar dari mereka masih mendapatkan uang dari orang tua, itu sebabnya mereka tidak khawatir kehabisan uang dan terus melakukan impulse buying.

Tabel 6

Hubungan antara Distrust dengan Impulse Buying Impulse Buying Total Low High Distrust Low 13 4 17 High 26 57 83 Total 40 60 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2014

Nilai probabilitas pada dimensi distrust lebih kecil dari 0,05 artinya H0 ditolak.

Hal ini menandakan ada hubungan antara dimensi distrust dengan impulse buying. Dari hasil Tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki nilai

distrust tinggi dan impulse buying tinggi yaitu sebanyak 57 orang. Artinya

walaupun mereka ragu dengan kemampuannya dalam melakukan pembelian secara efisien mereka tidak dapat menahan dalam melakukan pembelian secara impulsif.

Value Df Asymp. Sig. (2-sided)

(30)

21

Tabel 7

Hubungan antara Quality dengan Impulse Buying Impulse Buying Total Low High Quality Low 23 9 32 High 16 52 68 Total 39 61 100

Value Df Asymp. Sig. (2-sided)

Pearson Chi-Square 11.938a 1 .000

Sumber : Data Primer Diolah, 2014

Nilai probabilitas pada dimensi quality lebih kecil dari 0,05 artinya H0 ditolak.

Hal ini menandakan ada hubungan antara dimensi quality dengan impulse buying. Berdasarkan Tabel 7 menunjukkan bahwa adanya dominasi mahasiswa yang memiliki nilai quality tinggi memiliki nilai impulse buying tinggi pula yaitu sebanyak 46 orang. Artinya mahasiswa selain memiliki kesadaran akan merek suatu produk tinggi mereka juga tidak dapat mengindari pola pembelian secara impulsif. Hal ini akan berdampak pada kondisi keuangan pribadi yang cenderung tidak adanya pengelolaan dengan baik dan berdampak pada keborosan.

Tabel 8

Hubungan antara Anxienty dengan Impulse Buying Impulse Buying Total Low High Anxienty Low 34 6 40 High 5 55 60 Total 39 61 100

Value Df Asymp. Sig. (2-sided)

Pearson Chi-Square 59.297a 1 .000

Sumber : Data Primer Diolah, 2014

Nilai probabilitas pada dimensi anxienty lebih kecil dari 0,05 artinya H0 ditolak.

Hal ini menandakan ada hubungan antara variabel anxienty dengan impulse

buying. Seseorang yang berorientasi terhadap dimensi anxienty ketika mereka

(31)

22 tetapi, ketika mereka tidak memegang uang mereka juga merasa gelisah karena tidak dapat berbelanja. Berdasarkan Tabel 8 menunjukkan bahwa jumlah mahasiwa yang memiliki nilai anxienty tinggi dan impulse buying tinggi lebih tinggi dibandingkan nilai dari kriteria lain yaitu sebanyak 55 orang. Artinya sebagian besar mereka gelisah saat memegang uang dan mencari cari untuk menghabiskannya sehingga mereka melakukan impulse buying.

(32)

23

Kesimpulan dan Saran Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara money attitude dengan impulse buying. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa FEB UKSW melakukan impuls

buying yang tinggi. Melakukan pembelian impulsif dalam jangka waktu yang

panjang akan berdampak negatif terhadap kondisi keuangan seseorang karena menyebabkan pada situasi pemborosan. Oleh karena itu, mahasiswa harus mengendalikan diri dan menghindari dari pembelian impulsif.

Keterbatasan dan Saran Penelitian

Pada penelitian ini, penulis menyadari bahwa terdapat kekurangan yang dapat diperbaiki atau dikembangkan pada penelitian yang akan datang yaitu :

1. Berdasarkan data dari jawaban responden yang telah diperoleh hanya terdapat 15 mahasiswa yang memiliki sifat terhadap uang secara khusus dan 85 sisanya mereka cenderung tidak memiliki sikap terhadap uang secara dominan terhadap dimensi dari variabel money attitude. Sehingga, 85 responden dinilai tidak memiliki sikap terhadap uang. Selain itu, pada penelitian ini tidak melihat karakteristik secara khusus sikap terhadap uang setiap responden sehingga tidak diketahui karakteristik money attitude setiap responden lebih dominan pada dimensi money attitude yang mana. Pada penelitian selanjutnya, lebih baik melakukan wawancara terhadap responden guna mengetahui

(33)

24 karakteristik money attitude setiap responden lebih dominan pada dimensi money attitude yang mana. Responden yang tidak memberikan jawaban kuesioner dengan benar, lebih baik datanya tidak digunakan pada penelitian.

2. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang dikembangkan oleh

Yamauchi dan Templer (1982), dimana tidak semua pertanyaannya cocok untuk digunakan dalam mengukur variabel money attitude. Sehingga, pada penelitian selanjutnya lebih baik menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang lebih eksperimental, misalnya dengan menggunakan kata “andai kata atau “jika”.

(34)

24

DAFTAR PUSTAKA

Al-Amoodi, S.A..M., 2006. Exploring Money Attitudes And Credit Carid Usage In Compulsive Buying Among (Mba) Executive Students (U.S.M).

Research report submitted in partial fulfillment of requirements for the degree of Master of Business Administration. Diunduh 9

Maret 2014, pukul 22:50 WIB.

Beatty, S.E. & Ferrell, M.E. (1998). Impulse buying: modeling its precursors,

Journal of Retailing, 74, 169-191.

Blaszczynski, A., & Nower, L., 2008. Differences in attitudes toward money

between subgroups of gamblers: Implications for smart card technologies and an exploration of the Tool and Drug Theories of Money in gambling. Final Report, The University of Sidney.

Diunduh, 28 Maret 2014, pukul 08:45 WIB.

Bristol, T. (2001). Understanding the adolescent’s consumption world: Shopping, influencing, deceiving. Advances in Consumer Research, 28, 16-18. Chaplin, J.P. 2002. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : Raja GrafindoPersada. Chen, M. H. (2001). The determinantsand traits of Impulsive buying behavior,

Journal of Takming University, 17: 59-74.

Dittmar, H., Beattie, J., & Friese, S. (1995). Gender identity and material symbols: Objects anddecision considerations in impulse purchases.

Journal of Economic Psychology, 16(3), 491-511.

Durvasula, S. and Lysonski, S. (2010), “Money, money, money – How Do AttitudesToward Money Impact Vanity and Materialism? – The Case of YoungChinese Consumers”, Journal of Consumer Marketing,

Vol 27(2), 169-179.

D’Astous, A. (1990). An inquiry into the compulsive side of ‘normal’ consumers.

(35)

25 Engel, J., and Blackwell, R. (1995). Consumer Behavior. Dryden Press,

Chicago, IL.

Goldberg, H. and R.T. Lewis. 1978. Money Madness: The Psychology of

Saving, Spending, Loving and Hating Money, New York William Morrow and Company.

Furnham, A. (1984) Many sides of the coin: the psychology of money usage.

Personality and Individual Differences, 5, 501–509.

Haning, Victoria Henutesa.(2012). Perilaku Self-Control Dalam Mengelola Keuangan Pribadi :Berdasarkan Theory of Planned Behavior dan

Conscientiousness. Tesis, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Hayhoe, C.R., Leach, L., Allen, M.W., and Edwards, R., 2005. Credit Cards Held by College Students. Financial Counseling and Planning, Volume

16 (1), 20.

Hoch, S. J. & Loewenstein, G. F. (1991), Time-inconsistent preferences and consumer self-control, Journal of Consumer Research, 17, 492-507. Kurniawan, J., (2005) Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembelian

Impulsif (Studi pada Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta). Skripsi, UAJY. http://e-journal.uajy.ac.id/4100/. Diunduh, 11 Maret 2014, pukul 21:12 WIB.

Lim, V.K.G., and Teo, T.S.H., (1997), Sex, Money and Financial Hardship: An empirical Study of Attitudes Towards Money Among Undergraduates in Singapore, Journal of Economic Psychology, vol. 18, 369 - 386. Diunduh 27 Maret 2014, pukul 20:17 WIB.

Lin, C.-H., & Lin, H.-M. (2005). An exploration of Taiwanese adolescents’ impulsive buying tendency. Adolescence, 40(157), 215-223.

Louden, D.L. & Bitta, A.J. (1993). Consumer Behavior Concept and

(36)

26 Mariyani, I., dan Emmy, 2010. Perbedaan Kecenderungan Pembelian

Impulsif Ditinjau dari Locus of Control Internal dan Locus of Control Eksternal. Skripsi, Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id. Diunduh, 3 Maret 2014, pukul 23:49 WIB. Monica, 2013. Analisis Pengaruh Money Attitude (Perilaku Terhadap Uang)

terhadap Personal Financial Education (Pendidikan Keuangan Pribadi) Pada Mahasiswa Jurusan Ekonomi Strata I Di Yogyakarta. Skripsi, Fakultas Ekonomi, Universitas Atma Jaya

Yogyakarta. Diunduh, 3 Maret 2014, pukul 22:21 WIB.

Mowen & Minor. Perilaku Konsumen. Penerbit Erlangga.Yogyakarta, 2002. Robert, J. A., and Jones, E., (2001). Money Attitudes, Credit Card Use, and

Compulsive Buying among American College Student. Journal of

Consumer Affairs, 35, 213-241.

Rook, D.W., 1987. The Impulse Buying. The Journal of Consumer Research,

Vol. 14, No. 2. Diunduh, 3 Maret 2014, pukul 22.54 WIB.

Rook, D. W., & Fisher, R. J. (1995). Normative influences on impulsive buying behavior. Journal of Consumer Research, 22, 305-313.

Samuel, H., 2006. Dampak Respon Emosi Terhadap Kecenderungan Perilaku Pembelian Impulsif Konsumen Online dengan Sumberdaya yang Dikeluakan dan Orientasi Belanja Sebagai Variabel Mediasi. Jurnal

Manajemen dan Kewirausahaan, Vol.8, No. 2, September 2006: 101-11. Diunduh, 19 Maret 2014, pukul 23:10 WIB.

Setyawan, 2011. Pengaruh Literasi Keuangan, Variabel Demografi dan

Money Attitude Scale (MAS) terhadap Perilaku Penggunaan ATM Mahasiswa. Skripsi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas

Kristen Satya Wacana Salatiga.

Stern, H. (1962), The significance of Impulse Buying Today, Journal of

(37)

27 Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta.

Bandung.

Taneja, R.M (2012, July). Money Attitude – An Abridgement. Journal of Arts,

Science & Commerce E-ISSN 2229-4686, ISSN 2231-4172.

Diunduh, 2 Maret 2014, pukul 00:21 WIB.

Tyson, Eric. 2010. Personal Finance for Dummies, 6th Edition. Indianapolis:

Willy Publishing Inc.

Utami, A. F., dan Sumaryono, 2008. Pembelian Impulsif Ditinjau dari Kontrol Diri dan Jenis Kelamin Pada Remaja. Jurnal Psikologi Proyeksi,

Volume 3, Nomer 1, Pebruari 2008. Diunduh, 9 Maret 2014, pukul

01:21 WIB.

Wang, Yung-Ming (2004). A Study On Correlation Of The Money Attitudes,

Consumer’s Behavior And TV Commercial Attitudes Of Elementary School Students. Master’s Thesis, Master’s Department

Of Education. National Pingtung University Of Education.

Wathani, 2009. Perbedaan Kecenderungan Pembelian Impulsif Produk

Pakaian di tinjau dari Peran Gender. S1, thesis, Universitas

Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id. Diunduh, 3 Maret 2014, pukul 01:09 WIB.

Wen-lai, 2010. How Financial Attitudes and practices influence the impulsive buying behavior of college and university students. Journal of social

behavior and personality, volume 38, number 3, 2010.

Wika, D.A., and Juneman. A., (2013, October). Impulsive buying, cultural values dimensions, and symbolic meaning of money: A study on college students in Indonesia's capital city and its surrounding. International

Journal of Research Studies in Psychology 2013 October, Volume 2 Number 4, 35-52. Diunduh, 3 Maret 2014, pukul 22:21 WIB.

Wood, M. (1998). Socio-economic status, delay of gratification, and impulse buying. Journal of Economic Psychology, 19(3), 295-320.

(38)

28 Wulfert, E., Block J. A., Santa Ana, E., Rodriguez, M. L., & Colsman M. (2002). Delay of gratification: Impulsive choices and problem behaviors in early and late adolescence. Journal of Personality, 70(4), 533-552. Yamauchi, K.T., & Templer, D, I. (1982). The Development of Money Attitude

Scale. Journal of Personality Assesment. Vol. 46, No. 5. P. 522-528 Yang, D.J., Huang, K.C., and Feng, X., (2011). A Study of the Factors that Affect

the Impulsive Cosmetics Buying of Female Consumers in Kaohsiung.

International Journal of Business and Social Science Vol. 2 No. 24 [Special Issue – December 201 1]. Diunduh, 3 Maret 2014, pukul

22:40 WIB.

Yi Lin, L., and Yu Shih, H., 2011. The Impacts of Lifestyle and Money Attitude on Purchase Decisions: The Moderating Effect of Marketing Stimulation. International journal of Advanced Scientific and

Technical Research Issue 1, Vol 2 December 2011 ISSN 2249-9954.

Diunduh, 23 Maret 2014, pukul 18:40 WIB.

Yistiani, N.N.M., Yasa, N.N.K., dan Suasan, I.G.A.K.G., 2012. Pengaruh Atmosfer Gerai dan Pelayanan Ritel terhadap Nilai Hedonik dan Pembelian Impulsif Pelanggan Matahari Department Store Duta Plaza di Denpasar. Jurnal Manajemen, Strategi Bisnis, dan

Kewirausahaan Vol. 6, No. 2 Agustus 2012. Diunduh, 3 Maret 2014,

(39)

29

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Vita Agesi Argentina

NIM : 212011627

Alamat Asal : Cepiring Timur, RT 04 RW 04 Kendal, Jawa Tengah Judul Skripsi : Pengaruh Money Attitude terhadap Impulse Buying

Riwayat Pendidikan:

1999 sampai dengan 2005 : SD Negeri 03 Cepiring 2005 sampai dengan 2008 : SMP Negeri 2 Kendal 2008 sampai dengan 2011 : SMA Negeri 1 Kendal

2011 sampai dengan 2015 : Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Riwayat Kursus/Seminar/Pelatihan:

Seminar “Kuliah Umum BRI 2011”, tanggal 5 Oktober 2011,penyelenggara Bank BRI ,tempat di Balairung Utama UKSW, Salatiga.

Seminar “Nasional Kewirausahaan 2012”, tanggal 7 Maret 2012, penyelenggara FEB UKSW, tempat di Balairung Utama UKSW, Salatiga.

Seminar “Lead Yourself and Get Your Future”, tanggal 13 Maret 2013, penyelenggara FEB UKSW ,tempat di

Balairung Utama UKSW, Salatiga.

Pelatihan “Sekolah Pasar Modal”, tanggal 21 & 28 Maret 2014, penyelenggara Danareksa, tempat di UKSW, Salatiga.

(40)

LAMPIRAN 1: KUESIONER

Dengan hormat,

Berkenaan dengan penelitian saya yang berjudul “Pengaruh Money Attitude Terhadap Impulse Buying”dengan menggunakan objek penelitian mahasiswa dan mahasiswimahasiswa Fakultas Ekonomi Manajemen Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga saya mohon partisipasi suadara-saudari rekan mahasiswa Fakultas Ekonomi Manajemen Universitas Kristen Satya Wacana untuk mengisi kuisioner ini. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data yang mendukung untuk penelitian ini. Data yang diperoleh bersifat rahasia dan hanya digunakan untuk penelitian. Partisipasi suadara-saudari rekan mahasiswa Fakultas Ekonomi Manajemen Universitas Kristen Satya Wacana merupakan kunci keberhasilan penelitian ilmiah ini. Atas kerjasama serta bantuan saudara-saudari kami mengucapkan terima kasih.

Hormat kami

Vita Agesi Argentina

KUESIONER PENELITIAN

Pengaruh Money Attitude Terhadap Impulse Buying

Data Responden :

1. Jenis kelamin : ... 2. Usia : ... Tahun 3. Apakah anda bekerja?

A. Iya

1) Berapa lama anda bekerja?

2) Berapa rata-rata pendapatan anda per bulan? B. Tidak

(41)

Money Attitude

Silahkan menjawab pernyataan-pernyataan berikut ini tentang persepsi uang sesuai dengan diri Anda, Cukup dengan memberi tanda centang (V) pada pilihan jawaban yang sudah tersedia sesuai dengan ketentuan: (STS) = Sangat tidak setuju, (TS) = Tidak setuju, (C) = Cukup, (S) = Setuju dan (SS) = Sangat setuju. Power-Prestige

NO PERTANYAAN

PENILAIAN

STS TS C S SS

1. Saya mengakui bahwa dengan memiliki banyak uang membuat saya lebih bergengsi dibandingkan teman saya.

2. Menurut saya uang merupakan simbol kesuksesan.

3. Saya selalu berusaha ingin membuat orang lain terkesan dengan uang saya miliki.

Retention-Time

NO PERTANYAAN

PENILAIAN

STS TS C S SS

1. Saya selalu membuat perencanaan keuangan untuk masa depan. 2. Saya sangat hati-hati dalam

menggunakan uang.

3. Saya menyusun anggaran pengeluaran dengan teliti.

Distrust

NO PERTANYAAN

PENILAIAN

STS TS C S SS

1. Saya selalu menanyakan harga barang-barang yang dibeli.

2. Saya akan merasa kecewa setelah membeli suatu barang dan ternyata di tempat lain harganya lebih murah. 3. Saya mengeluhkan harga barang yang

(42)

Quality

NO PERTANYAAN

PENILAIAN

STS TS C S SS

1. Saya membeli produk dengan merek ternama.

2. Saya membayar lebih untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik.

Anxienty

NO PERTANYAAN

PENILAIAN

STS TS C S SS

1. Saya selalu menawar setiap kali membeli suatu barang.

2. Saya merasa sedih jika melewatkan masa diskon.

3. Saya merasa gugup jika tidak punya cukup uang.

Impulse Buying

Silahkan menjawab pernyataan-pernyataan berikut ini tentang perilaku

Impulse Buyingsesuai dengan diri anda, Cukup dengan memberi tanda centang (V)

pada pilihan jawaban yang sudah tersedia sesuai dengan ketentuan: (STS) = Sangat tidak setuju, (TS) = Tidak setuju, (C) = Cukup, (S) = Setuju dan (SS) = Sangat setuju.

Spontaneous Urges to Buy

NO PERTANYAAN

PENILAIAN

STS TS C S SS

1. Saya melakukan pembelian yang tidak direncanakan.

2. Saya membeli barang tersebut ketika barang tersebut sedang promo.

(43)

Power and Compulsion: Intensity&Force

NO PERTANYAAN

PENILAIAN

STS TS C S SS

1. Saya merasa harus segera membeli barang yang diinginkan.

2. Saya termotivasi dengan kuat untuk melakukan pembelian.

Excitement and Stimulation

NO PERTANYAAN

PENILAIAN

STS TS C S SS

1. Saya merasa bersemangat untuk memiliki suatu barang.

2. Tiba-tiba saya menginginkan suatu barang yang saya lihat.

3. Tiba-tiba merasa suka terhadap suatu barang.

Disregard for consequences

NO PERTANYAAN

PENILAIAN

STS TS C S SS

1. Saya tidak dapat menahan keinginan saat melakukan pembelian.

2. Ketika saya menginginkan suatu produk, harus membelinya tanpa ada pertimbangan dengan kebutuhan lain.

3. Saya membeli barang yang sudah tahu tidak dibutuhkan akan tetapi saya tetap membeli barang tersebut.

(44)

LAMPIRAN 2: KARAKTERISTIK RESPONDEN

KARAKTERISTIK RESPONDEN

Responden Jenis Kelamin Usia Status Pendapatan Mahasiswa

(Bulan)

Uang Saku Mahasiswa (Bulan)

1 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

2 Wanita 21 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

3 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

4 Wanita 21 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

5 Wanita 21 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

6 Pria 20 Tidak Bekerja 0 Rp.100ribu-Rp.500ribu

7 Pria 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

8 Pria 21 Tidak Bekerja 0 Rp.100ribu-Rp.500ribu

9 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

10 Pria 21 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

11 Wanita 21 Tidak Bekerja 0 Rp.100ribu-Rp.500ribu

12 Wanita 21 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

13 Pria 21 Tidak Bekerja 0 Rp.100ribu-Rp.500ribu

14 Pria 21 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

15 Pria 21 Tidak Bekerja 0 Rp.100ribu-Rp.500ribu

16 Wanita 21 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

(45)

18 Pria 21 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

19 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

20 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

21 Pria 21 Bekerja Rp.100ribu-Rp.1juta >Rp.1juta

22 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

23 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

24 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

25 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

26 Wanita 18 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

27 Pria 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

28 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

29 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 Rp.100ribu-Rp.500ribu

30 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

31 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

32 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

33 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

34 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

35 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

36 Pria 19 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

37 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

38 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

39 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

40 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

(46)

42 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

43 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

44 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 Rp.100ribu-Rp.500ribu

45 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

46 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

47 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

48 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

49 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

50 Wanita 21 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

51 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

52 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

53 Pria 18 Tidak Bekerja 0 Rp.100ribu-Rp.500ribu

54 Pria 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

55 Pria 21 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

56 Pria 18 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

57 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

58 Wanita 18 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

59 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

60 Wanita 18 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

61 Pria 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

62 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

63 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

64 Pria 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

(47)

66 Pria 21 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

67 Pria 21 Bekerja Rp.100ribu-Rp.1juta Rp.100ribu-Rp.500ribu

68 Pria 21 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

69 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

70 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

71 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

72 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

73 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

74 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

75 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

76 Wanita 20 Bekerja Rp.100ribu-Rp.1juta Rp.600ribu-Rp.1juta

77 Wanita 21 Bekerja Rp.100ribu-Rp.1juta Rp.600ribu-Rp.1juta

78 Wanita 21 Tidak Bekerja 0 Rp.100ribu-Rp.500ribu

79 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

80 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

81 Pria 20 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

82 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

83 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

84 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

85 Pria 19 Tidak Bekerja 0 Rp.100ribu-Rp.500ribu

86 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 Rp.100ribu-Rp.500ribu

87 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

88 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 Rp.600ribu-Rp.1juta

(48)

90 Pria 20 Tidak Bekerja 0 Rp.100ribu-Rp.500ribu

91 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 Rp.100ribu-Rp.500ribu

92 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

93 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

94 Wanita 19 Tidak Bekerja 0 Rp.100ribu-Rp.500ribu

95 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

96 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

97 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

98 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

99 Wanita 20 Tidak Bekerja 0 >Rp.1juta

(49)

40

LAMPIRAN 3: DATA JAWABAN RESPONDEN

DATA JAWABAN RESPONDEN

No PP RT D Q A IB1 IB2 IB3 IB4

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 1 2 3 1 2 1 2 1 2 3 1 2 3 1 1 2 1 3 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 3 4 3 3 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 3 3 2 3 2 2 2 3 3 2 2 3 4 3 2 2 3 2 2 2 2 3 2 2 3 3 2 2 2 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 1 2 2 4 2 2 1 2 2 2 1 2 1 1 2 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 1 1 5 3 4 2 2 2 3 2 3 2 1 2 2 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 2 2 6 4 4 4 4 4 4 3 4 4 2 3 2 4 4 4 3 4 3 4 4 3 4 3 3 7 2 3 2 4 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 8 3 3 3 3 3 3 3 2 2 4 5 3 2 3 2 2 1 2 2 2 2 3 2 1 9 3 3 2 3 3 2 2 3 1 5 5 2 2 3 2 2 2 2 1 2 2 2 1 1 10 4 4 3 4 4 3 4 4 5 3 3 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 2 2 11 4 3 4 4 4 3 3 4 4 3 1 4 3 4 5 4 4 4 4 4 4 4 3 3 12 4 4 3 3 4 3 4 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 13 3 4 2 3 3 2 5 4 5 5 3 3 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2 1 14 3 4 2 3 3 3 4 5 4 4 4 2 3 2 2 2 1 2 2 2 2 3 2 2 15 2 2 2 4 4 3 2 2 3 3 3 4 3 3 5 4 4 4 4 3 3 4 4 3 16 2 3 2 3 3 3 1 2 2 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 17 4 3 4 2 3 3 2 2 3 4 5 4 4 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 4 18 4 4 4 4 4 2 2 4 2 4 4 4 4 4 4 5 5 4 5 4 4 4 4 4 19 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 5 5 4 4 5 5 4 4 4 3 3 3 4 4 20 5 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 5 4 4 5 4 4 4 4 5 4 21 5 4 1 5 5 1 5 5 5 5 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 1 4 22 4 4 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 3 3 4 3 4 3 2 3 23 4 4 3 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 24 4 4 3 4 3 4 5 4 4 3 4 4 5 4 4 3 3 4 3 2 4 2 3 3 25 4 4 4 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 3 3 4 4 4 2 2 2 26 2 3 3 5 5 3 3 3 2 2 3 3 3 3 4 4 3 3 3 2 2 1 1 1 27 5 5 5 4 4 3 4 4 4 4 5 5 4 4 4 3 4 5 5 4 4 5 4 5 28 5 5 4 4 4 2 5 5 4 4 5 5 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 29 3 2 1 5 5 4 5 5 4 4 4 2 4 3 4 4 2 2 3 3 4 3 2 2 30 4 3 3 4 4 4 4 4 3 3 4 2 5 3 4 4 3 2 4 4 5 4 4 4 31 4 2 1 3 3 3 4 5 3 2 4 3 3 2 4 3 1 1 2 1 3 2 1 2

(50)

41 32 2 4 2 3 3 2 4 4 3 3 3 2 3 3 3 4 2 2 3 3 4 2 2 2 33 3 4 4 4 4 2 4 4 2 3 2 2 2 2 3 4 2 3 4 3 3 4 2 4 34 3 4 4 4 3 3 4 4 3 3 4 2 3 2 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4 35 3 4 4 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 36 2 3 2 2 2 2 3 3 3 2 2 3 2 3 4 4 2 2 3 3 3 2 2 3 37 2 4 2 5 4 3 2 3 3 2 1 3 2 2 3 4 3 3 4 3 4 2 2 2 38 4 3 4 4 3 3 3 4 3 3 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 3 39 4 4 3 4 4 4 5 5 4 4 4 5 5 4 5 4 4 3 3 4 4 4 3 2 40 4 3 4 5 4 4 5 5 3 3 4 4 5 3 4 5 4 3 5 4 3 4 2 3 41 4 4 5 4 4 5 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 3 42 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3 4 3 3 3 4 3 4 4 3 3 3 43 1 2 2 5 4 4 4 5 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 4 3 2 1 44 2 3 2 5 5 5 4 4 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 4 4 4 1 1 1 45 3 3 2 5 4 5 4 4 3 3 3 3 2 2 3 4 3 3 3 3 4 3 2 2 46 4 4 3 4 3 3 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 47 5 4 4 4 4 3 4 5 3 3 4 2 3 5 3 4 4 5 3 3 3 5 4 3 48 4 5 4 3 4 4 5 4 4 3 4 5 3 4 3 4 4 2 3 4 4 3 2 2 49 4 4 3 4 4 3 4 4 2 4 5 4 4 4 4 4 5 5 4 4 4 4 4 2 50 4 4 4 4 4 4 3 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 3 3 4 3 4 3 3 51 3 4 4 4 4 3 5 4 2 2 5 5 5 4 5 3 2 4 4 4 4 2 2 3 52 3 3 3 3 3 2 3 4 2 3 4 2 3 3 3 4 4 3 4 3 3 2 2 2 53 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 2 4 2 3 4 3 4 2 3 2 2 2 54 4 3 4 4 4 3 4 4 2 3 4 3 3 3 4 4 2 3 3 4 4 2 2 3 55 1 4 1 4 5 5 5 5 4 3 4 4 2 3 4 3 2 1 2 1 1 1 1 1 56 3 4 4 4 3 3 5 4 2 4 5 4 4 3 4 4 5 4 4 5 4 4 4 4 57 4 4 4 4 4 4 3 5 3 3 4 3 2 2 4 3 3 3 3 4 4 4 3 4 58 3 4 4 5 4 3 3 5 3 3 4 2 3 5 3 4 3 3 3 4 4 4 2 1 59 4 4 4 3 3 1 5 5 4 3 4 3 5 3 3 3 5 5 5 5 5 4 2 3 60 3 2 1 4 3 2 4 4 3 3 3 3 3 4 4 3 4 3 4 3 4 3 1 1 61 4 4 2 5 4 3 5 4 3 4 4 5 2 3 4 4 4 4 4 3 4 3 2 3 62 5 4 2 3 3 4 4 5 4 3 4 2 5 5 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 63 4 4 2 5 4 3 3 5 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 3 4 3 3 2 64 3 4 4 5 4 4 4 4 3 2 2 3 2 3 4 2 4 4 4 3 3 3 2 2 65 2 2 2 4 4 4 5 5 4 2 3 5 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 2 2 66 2 3 3 4 2 2 4 5 4 4 4 2 2 2 2 2 4 4 4 2 2 2 2 1 67 1 2 1 3 2 2 4 5 4 3 2 5 4 3 3 4 3 3 4 4 4 2 1 1

Referensi

Dokumen terkait

kemudian mengembalikan secara tunai sebagain harga pembelian lewat pos. d) Harga khusus, harga khusus atau juga disebut juga.. penghematan harga dengan menandai

Pada akhirnya usaha dari pemilik toko untuk membuat store environment mereka menarik akan membuat pengunjung tertarik untuk melakukan impulse buying , serta

Hal ini mencerminkan bahwa shopping lifestyle yang terdiri dari setiap tawaran iklan mengenai produk fashion, saya cenderung menanggapi untuk membelinya, cenderung

Berdasarkan jawaban responden dalam penelitian ini telah diketahui besarnya pengaruh langsung dan total masing-masing variabel dari promosi terhadap shopping emotion

Dengan demikian, tampak bahwa konsumen impulsif yang mengalami kecemasan ( anxiety ) dapat menstabilkan suasana hati mereka ke tingkat yang lebih moderat dengan

Perbedaan proses fotosintesis pada setiap jenis tanaman C3 akan mewakili kira-kira 85% dari seluruh jenis spesies, sedangkan C4 hanya mendapati 4%, dan sisanya terdapat dijenis

Motivator Dalam pengukuran variabel ini digunakan skala likert 5 poin dengan memberi skor dari jawaban kuesioner yang diisi responden dengan rincian sebagai berikut: Skor 1 = Sangat

Pengaruh Social Media dan E-money Terhadap Impulse Buying Studi Kasus Café Justmie Kota Gorontalo : Beirdasarkan hasil peineilitian dipeiroleih bahwa seicara parsial dan simuiltan