12
BAB II KAJIAN TEORI
2.1 Komunikasi
Menurut Carl I. Hovland, communication is the process to modify the behavior of other individuals (Effendy, 2009: 9). Objek studi ilmu komunikasi bukan hanya penyampaian informasi saja, melainkan juga pembentukan public opinion dan public attitude yang dalam kehidupan sosial dan kehidupan politik memiliki peran yang sangat penting. Lasswell juga mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi yaitu dengan menjawab pertanyaan
“Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?” Komunikasi merupakan rangkaian penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui sebuah media yang menyebabkan efek tertentu (Effendy, 2009: 9). Pada hakikatnya komunikasi adalah proses penyampaian perasaan atau pikiran dari pengirim pesan kepada penerima pesan.
2.1.1 New Media
Istilah “mediamorphosis” yang diperkenalkan oleh Roger Fidler (2002) dipahami bahwa new media merupakan bukan media yang newest dalam komunikasi, melainkan inovasi-inovasi media lama yang kurang relevan berproses dan beradaptasi ke media baru. Flew (2002:10) mendefinisikan bahwa new media menekankan pada format isi media yang dipadukan dan satuan data baik teks, gambar, suara, dan lainnya dalam bentuk digital lalu dibagikan menggunakan jaringan internet (dalam Satya Wacana University Press, 2014:4).
Menurut Martin Lister (2003), karakteristik new media dapat dilihat bahwa new media merupakan hiburan dan pola penggunaan media sebagai cara baru dunia dalam merepresentasikan sebagai masyarakat dunia maya. New media juga menjadi sebuah pengalaman baru dalam membentuk sebuah hubungan baru antar pengguna dan
13
teknologi media dari seseorang, identitas dan komunitas dengan kondisi digital16.
New media dapat memberikan sebuah perubahan yang besar bagi mereka yang intensitas penggunaan internetnya tinggi. Dalam dunia internet, seseorang menjadi go online yang mempunyai akses pribadi direpresentasikan oleh keyboard (Giles, 2003:266-267). Identitas dunia maya membuat seseorang masuk ke dalam sosial media. Seseorang dapat mengekspresikan ide-ide dengan menggunakan fitur-fitur melalui internet, seperti halnya pengguna Facebook atau Twitter.
2.1.2 Media Sosial
Media sosial merupakan alat di internet yang penggunanya dapat merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, berbagi, bekerja sama, berkomunikasi dengan pengguna internet lainnya dan membentuk sebuah ikatan sosial secara digital (Nasrullah, 2015:13). Media sosial memungkinkan penggunanya berinteraksi dengan pengguna yang lain.
Interaksi yang terjadi tidak hanya sekedar dalam bentuk pesan teks, namun bisa dalam bentuk foto atau video yang mungkin menarik perhatian pengguna yang lain. Semua publikasi merupakan real time, yang memungkinkan pengguna dapat berbagi informasi seperti apa yang sedang terjadi (Sazena, 2014 dalam Nasrullah 2015:40).
Kehadiran Facebook, Twitter, Instagram merupakan media sosial yang digunakan untuk mem-posting konten seperti profil, aktivitas, komentar yang memberikan sebuah ruang untuk berkomunikasi dan berinteraksi dalam jejaring sosial secara online. Media sosial dimanfaatkan oleh penggunanya untuk mengungkapkan apa yang sedang dialami atau disaksikan, membagikan apa yang dilakukan hari itu, menceritakan mengenai keadaan di sekitar pengguna tersebut
16 Nurudin. 2014. Komunikasi Massa. Cespur: Malang.
14
sampai bisa memberikan sebuah tanggapan terhadap situasi yang sedang terjadi.
2.2 Social Media Addiction
Kecanduan merupakan ketergantungan pada perilaku yang tidak dapat dihentikan oleh seseorang (Olendorff, Jetyan, Boyden,1999). Penggunaan media sosial yang berlebihan dan kurangnya mengontrol penggunaan menjadi alasan kecanduan media sosial (Guedes et al., 2016: 43-48). Kecanduan pada sosial media yang meningkat disebabkan karena pengguna mengalihkan suasana hati yang sedang tidak baik dengan menggunakan media sosial.
Andreassen dan Pallesen (2014) mendefinisikan kecanduan media sosial dengan menggunakan banyak waktu dan tenaga dapat mengganggu aktivitas sosial, pekerjaan atau studi, hubungan interpersonal dan kesejahteraan serta kesehatan psikologis. Ketergantungan psikologis pada media sosial untuk meredakan suasana hati yang sedang tidak baik dengan penggunaan media sosial akan meningkat. Kecanduan media sosial yang utama yaitu kebiasaan yang berubah menjadi ketergantungan psikologis dari waktu ke waktu yang mengakibatkan perubahan suasana hati, hasil negatif dan pengeluaran waktu yang berlebihan. Seseorang akan mengalami kehilangan produktivitas dan perasaan terisolasi. Alasan utama kecanduan media sosial yaitu penggunaan yang terlalu berlebihan dan kurangnya kontrol (Guedes et al., 2016: 43-48).
Penggunaan yang berkelanjutan untuk pengguna yang masih menggunakan media sosial walaupun sudah mengetahui dampak negatifnya dan penggunaan kompulsif yaitu tidak menyadari akibat negatifnya dari menggunakan media sosial. Penggunaan media sosial menggunakan smartphone dapat menimbulkan kebutuhan untuk terus menerus online, sedangkan kurangnya lingkungan digital akan menimbulkan kecemasan (Przybylski et al., 2013). Penggunaan media sosial yang menghabiskan 3 jam atau lebih dapat mengakibatkan kesehatan mental yang buruk dan gangguan makan pada orang dewasa. Penggunaan yang berlebihan juga dapat menyebabkan gangguan kontrol impuls. Penggunaan yang membuat ketagihan
15
dapat mempengaruhi pekerjaan, produktivitas akademis dan kesehatan.
Kurangnya dukungan sosial dapat mempengaruhi kesehatan mental yang menyebabkan gejala depresi dan kecemasan yang digunakan pengguna media sosial untuk mencegah kesepian dan memuaskan kebutuhan interaksi sosial untuk mengubah suasana hati dan masalah mereka (Andreassen dkk., 2013:
90–99; Chung dkk., 2019: 62-67; Hilliard & Parisi, 2020; Settanni dkk., 2018;
Vannucci dkk., 2017: 163–166). Iri hati, depresi, kurang tidur dan kecemasan karena penggunaan media sosial yang berlebihan (Chung dkk., 2019: 62-67;
Baccarella dkk., 2018: 431-438).
2.3 Social Media Addiction Scale-Student Form (SMAS-SF)
Media sosial yang semakin mempengaruhi kehidupan sehari-hari siswa menjadi hal yang perlu untuk memiliki alat ukur dalam menentukan kecanduan media sosial. Social Media Addiction Scale-Student Form (SMAS-SF) yang dikembangkan oleh Cengiz Sahin (2018) digunakan untuk menentukan kecanduan media sosial pada siswa. Temuan dari studi validitas dan reliabilitas memperlihatkan bahwa skala ini merupakan pengukuran yang valid dan reliabel serta dapat digunakan untuk mengidentifikasi kecanduan media sosial.
Temuan skala validitas dan reliabilitas menunjukkan bahwa SMAS-SF dapat untuk menentukan kecanduan media sosial siswa. Studi validitas dan reliabilitas skala ini dapat diulangi ke dalam kelompok sampel yang berbeda dengan rentang usia yang lainnya. Instrumen asli menggunakan bahasa inggris dan dapat diubah sesuai dengan kebutuhan berdasarkan bahasa.
Skala ini terdiri dari 4 faktor ke dalam 29 item pertanyaan menggunakan skala tipe Likert. Empat faktor SMAS-SF yaitu sebagai berikut:
a. Virtual Tolerance
Menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial untuk mendapatkan lebih banyak kesenangan.
b. Virtual Communication
Menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan pengguna lain secara virtual daripada di kehidupan nyata.
16 c. Virtual Problem
Mengabaikan pekerjaan, studi, olahraga, kegiatan rekreasi, keluarga, teman dan kegiatan yang lainnya.
d. Virtual Information
Kecenderungan untuk mencari informasi melalui media sosial.
2.4 Nomophobia (No Mobile Phone Phobia)
Istilah Nomophobia merupakan singkatan dari No Mobile Phone Phobia yaitu rasa takut yang keluar dari ponsel. Nomophobia pertama kali diciptakan oleh UK Post Office selama penelitian yang dilakukan pada tahun 2008 untuk menyelidiki kecemasan yang dialami oleh pengguna ponsel (SecurEnvoy, 2012). Dalam studi King, Valencia, Silva, Baczynski, Carvalho dan Nardi (2013: 141), Nomophobia dianggap sebagai gangguan dunia modern dan menggambarkan kecemasan atau ketidaknyamanan yang disebabkan oleh tidak tersedianya sebuah ponsel, PC atau perangkat komunikasi digital yang biasa digunakan oleh individu.
International Business Times (2013) memfokuskan Nomophobia pada perasaan cemas yang disebabkan oleh tidak tersedianya ponsel. Hal yang dihadapi seseorang ketika mengalami kecemasan mereka merasa tidak mendapatkan sinyal, lupa membawa ponsel, kehabisan baterai, tidak menerima panggilan atau SMS selama jangka waktu tertentu. Gejala ini adalah ketakutan psikologis akan kehilangan kontak ponsel atau ponsel.
Nomophobia dianggap sebagai phobia zaman modern dan produk sampingan dari interaksi antara manusia dan teknologi baru (King et al., 2010).
Smartphone dengan fasilitas yang instan, memudahkan orang terhubung di mana saja kapan saja, dan memberi orang akses informasi yang konstan. Maka orang menjadi lebih tergantung pada smartphone yang mereka miliki (Park et al., 2013). Kemudian pada akhirnya, diduga memperburuk perasaan cemas yang disebabkan oleh tidak adanya kontak smartphone.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Yildrim dan Correia (2015) mengembangkan empat faktor Nomophobia yaitu sebagai berikut:
17 a. Tidak mampu berkomunikasi
Kecemasan yang terjadi ketika seseorang tidak dapat berkomunikasi.
b. Kehilangan keterhubungan
Ketakutan bahwa seseorang mengalami kehilangan koneksi ke smartphone dan gangguan identitas online seseorang.
c. Tidak mampu mengakses informasi
Mencerminkan gangguan hilangnya informasi melalui smartphone, ketidakmampuan untuk menerima informasi melalui smartphone.
d. Menyerah pada kenyamanan
Kenyamanan memiliki smartphone dan keinginan untuk menggunakan smartphone.
2.5 Generasi Z
Menurut Grail Research (2011) generasi Z merupakan generasi pertama yang lahir disaat internet sudah tersedia. Generasi Z disebut sebagai generasi internet atau Igeneration. Generasi Z ini mempunyai karakter yang menyukai teknologi, fleksibel dan menghargai perbedaan budaya. Generasi ini yaitu generasi yang menyukai budaya instan dan kurang peka akan pentingnya privat karena lebih sering mengunggah aktivitas di media sosial. Generasi Z merupakan generasi yang berpengaruh di komunitasnya dibanding dengan generasi lain yang disebabkan oleh terpaan internet. Saat mereka mempunyai pengalaman yang baik atau buruk, mereka akan mengunggahnya pada media sosial (Sladek dan Grabinger, 2014).
Tulgan (2013) mendapatkan lima hal yang menjadikan generasi Z yaitu pertama, media sosial merupakan masa depan. Kedua, hubungan antara orang lain merupakan hal penting. Ketiga, ketidakseimbangan keterampilan maka mereka memerlukan usaha untuk mendapatkan keterampilan seperti budaya kerja, berpikir kritis dan keterampilan teknis. Keempat, pola pikir yang global dan realitas lokal. Mampu berkomunikasi banyak orang melalui dunia digital menyebabkan generasi ini tidak banyak mengeksplor secara geografis. Kelima,
18
keragaman yang tidak terbatas. Pola pikir yang terbuka dan dapat menerima perbedaan yang menyebabkan mereka sulit untuk mengartikan dirinya sendiri.
Generasi Z merupakan generasi digital yang paham mengenai teknologi informasi dan berbagai macam aplikasi. Generasi Z sangat sering berkomunikasi melalui jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Line, Whatsapp, Telegram atau Instagram. Smartphone dan sosial media seakan makanan sehari-hari. Dengan media yang digunakan, Generasi Z bebas berekspresi dengan apa yang sedang dirasakan secara spontan. Sampai aktivitas sehari-hari yang dilakukan kadang dilakukan dalam satu waktu secara bersamaan, seperti makan, menonton dan mendengarkan musik17.
2.6 Teori Ketergantungan Media
Teori Ketergantungan Media merupakan teori komunikasi massa yang diperkenalkan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin DeFleur. Teori ketergantungan media memprediksi bahwa khalayak yang bergantung pada media tersebut untuk mencukupi kebutuhan tertentu, tetapi tidak semua khalayak bergantung dengan tingkat yang sama. Dalam penjelasan Ball- Rokeach dan DeFleur terdapat dua faktor yang dapat memastikan khalayak ketergantungan dengan media yaitu pertama, khalayak akan terus ketergantungan dengan media yang dapat memenuhi kebutuhannya daripada media yang hanya dapat memenuhi sebagian kebutuhannya. Dan kedua, ketergantungan media dipengaruhi oleh keseimbangan sosial atau semakin normal atau seimbang situasi sosial maka ketergantungan media akan semakin turun (Littlejohn & Foss, 2005: 287).
Khalayak berinteraksi dengan lembaga sosial dan sistem media untuk menciptakan kepentingan, kebutuhan dan motivasi. Dari tiga hal tersebut akan mempengaruhi khalayak dalam sejumlah ketergantungan yang untuk memilih macam-macam sumber media dan mana yang bukan media. Individu akan terpengaruh secara kognitif, afektif dan behavioral karena bergantung pada
17 Anugrahadi, Saiful. 2019. Mengenal Remaja Generasi Z. Data diambil dari http://ntb.bkkbn.go.id/?p=1467 (10 Februari 2021)
19
bagian tertentu dari media tersebut. Khalayak akan menerima pengaruh melalui cara yang berbeda dan tingkat yang berbeda juga dari media sebagai akibatnya (Littlejohn & Foss, 2005: 288).
Kebutuhan individu akan media terbentuk dari berbagai macam keadaan di lingkungan sosialnya. Penggunaan, motif dan kebutuhan individu dalam menggunakan media bergantung pada faktor lainnya diluar kendali individu.
Dalam faktor lain tersebut berperan untuk membatasi pada apa dan bagaimana media bisa digunakan serta macam pilihan yang bukan media. Maka, jika semakin banyak kebutuhan dan sesuatu yang ingin dicapai oleh individu, semakin rendah pula individu tersebut akan bergantung pada sebuah media.
2.7 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu adalah analisis hasil penelitian yang mempunyai jenis penelitian yang hampir serupa. Berikut adalah ringkasan penelitian yang sebelumnya pernah diteliti, yaitu:
Penelitian pertama yaitu mahasiswa Komunikasi Universitas Pertamina pada tahun 2020 yaitu dari Hanna Patricia Siregar. Penelitian ini berjudul Pengaruh Social Media Exposure dan Peer Pressure Terhadap Partisipasi Politik Mahasiswa. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu media sosial sebagai sarana penunjang dalam proses terlibatnya seseorang dalam partisipasi politik yang dilatarbelakangi oleh pesan politik dan memiliki pengaruh terhadap keputusan seseorang berpartisipasi. Serta faktor peer preasure memberi pengaruh untuk bertindak dan berperilaku. Penelitian ini menggunakan paradigma positivisme yang memandang realitas secara terukur dan memiliki hubungan gejala yang bersifat sebab akibat.
Penelitian kedua yaitu penelitian Rizki Aprilia, Aat Sriati dan Sri Hendrawati dari mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Padjajaran pada tahun 2020. Penelitian ini berjudul Tingkat Kecanduan Media Sosial pada Remaja. Masalah yang diangkat dari penelitian ini yaitu aktivitas penggunaan media sosial di Indonesia didominasi oleh remaja. Media sosial dapat menyebabkan dampak negatif pada remaja yaitu kecanduan. Metode yang
20
digunakan yaitu kuantitatif deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kecanduan media sosial pada remaja. Penelitian ini menggunakan Social Media Addiction Scale-Student Form (SMAS-SF) yang dikembangkan oleh Cengiz Sahin (2018).
Penelitian ketiga yaitu penelitian yang dilakukan oleh Lifia Monica Christian, Phang pada tahun 2020 dengan judul Pengaruh Penggunaan Instagram Stories Terhadap Perilaku Phubbing pada Generasi Z Kota Salatiga.
Masalah dalam penelitian ini yaitu fenomena pengabadian momen melalui fitur instagram stories yang dilakukan dapat memicu terjadinya perilaku Phubbing (Phone Snubbing) yaitu istilah yang menggambarkan tindakan acuh seseorang dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus terhadap smartphone daripada berinteraksi dengan sekelilingnya. Pendekatan yang digunakan yaitu kuantitatif dengan jenis eksplanatoris untuk memberikan penjelasan mengenai adanya hubungan atau pengaruh dari variabel Instagram Stories sebagai variabel X dan perilaku Phubbing sebagai variabel Y.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang terdahulu yaitu peneliti menggunakan Social Media Addiction sebagai variabel X dan hanya fokus pada tiga penggunaan media sosial Facebook, Instagram dan Twitter.
Kemudian dari fenomena penggunaan internet di Indonesia yang meningkat dan penggunaan utamanya untuk membuka media sosial, maka dari situ akan menimbulkan dampak kecanduan media sosial dan dapat memicu terjadinya Nomophobia (No Mobile Phone Phobia) serta Nomophobia (No Mobile Phone Phobia) ini digunakan sebagai variabel Y.
21 2.8 Kerangka Pikir Penelitian
Seiring meningkatnya penggunaan internet dan alasan utama penggunannya untuk berselancar di media sosial, lambat laun akan menyebabkan sebuah dampak yaitu Social Media Addiction. Penggunaan smartphone yang kurang kontrol, menggunakan media sosial sebagai pelarian, merasa ada yang kurang jika tidak menggunakan smartphone atau jika tidak membuka media sosial, hal-hal kebiasaan tersebut kemudian dapat memicu Nomophobia (No Mobile Phone Phobia). Sebuah kecemasan atau ketidaknyaman jika seseorang tidak dapat mengakses smartphone atau internet.
Oleh karena itu, Teori Ketergantungan Media digunakan sebagai landasan dalam pembuatan kesimpulan pada Pengaruh Social Media Addiction terhadap Nomophobia (No Mobile Phone Phobia) pada Generasi Z di Kota Salatiga yang berusia 20-24 Tahun dan yang menggunakan media sosial Facebook, Instagram dan Twitter. Berikut merupakan kerangka pikir dari uraian diatas:
Gambar 2.6 Kerangka Pikir Penelitian
22 2.9 Hipotesis
Pengaruh social media addiction:
H0 : Tidak ada pengaruh antara social media addiction dengan Nomophobia (No Mobile Phone Phobia)
H1 : Ada pengaruh antara social media addiction dengan Nomophobia (No Mobile Phone Phobia)