• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA MEMINDAI MELALUI MODEL COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) SISWA KELAS IX MTs NEGERI 1 PALEMBANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA MEMINDAI MELALUI MODEL COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) SISWA KELAS IX MTs NEGERI 1 PALEMBANG"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

55 | (Ripteksi Kependidikan PGRI, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2013: Hlm. 55-64)

A. PENDAHULUAN

Hasil dialog peneliti dengan guru bidang studi bahasa Indonesia kelas IX MTs Negeri 1 Palembang, dapat diketahui bahwa pada umumnya siswa kelas IX ini masih mengalami kesulitan dalam memahami ragam wacana dalam hal ini upaya mencari informasi khusus yang terdapat dalam sebuah wacana.

Utamanya dengan standar kompetensi yang meminta guru melakukannya dengan membaca memindai.

Hal ini dibuktikan dengan hasil tes jumlah temuan informasi khusus yang dibebankan kepada mereka setelah dilakukan aktivitas membaca pada kelas IX yang diikuti oleh 273 siswa. Hal ini diperkuat pula dengan data nilai rata- rata siswa (khususnya pada materi pokok membaca memindai yang pada tahun pelajaran 2010/2011 baru mencapai 5,6.

Membaca memindai sering disebut membaca scanning. Istilah lain scanning adalah teknik baca sepintas

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA MEMINDAI MELALUI MODEL COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC)

SISWA KELAS IX MTs NEGERI 1 PALEMBANG

Oleh

Muhamad Nasir dan Irzawati

Abstrak

Tulisan ini berawal dari penelitian di semester kelas IX siswa MTs Negeri 1 Palembang, pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan model CIRC. Tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah memberikan hasil optimal terhadap kemampuan siswa dalam membaca memindai. Model CIRC diharapkan dapat memberi pencerahan bagi siswa upaya menangkap makna yang terkandung dalam sebuah teks bacaan/wacana. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah diterapkannya CIRC maka kemampuan siswa membaca memindai meningkat. Perolehan rerata hasil yang dicapai siswa adalah 71,7 yang berkemampuan cukup baik hingga sangat baik dan telah memenuhi KKM 70 yang dipersyaratkan.

Kata Kunci: membaca, memindai, model, pengajaran, siswa

(2)

56 | (Ripteksi Kependidikan PGRI, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2013: Hlm. 55-64)

atau teknik baca tatap (Zuchdi, 1999:170). Scanning merupakan teknik membaca sekilas dan cepat, tetapi teliti dengan maksud menemukan dan memeroleh informasi tertentu atau fakta khusus dari sebuah bacaan (Tarigan, 1994:31).

Dalam penggunaannya, pembaca langsung mencari informasi tertentu atau fakta khusus yang diinginkan tanpa memerhatikan atau membaca bagian lain dalam bacaan yang tidak dicari. Setelah menemukan infomasi yang dicari, pembaca membaca dengan teliti untuk memperoleh infomasi tersebut.

B. TINJAUAN PUSTAKA

Dalam kehidupan sehari-hari, teknik membaca memindai digunakan dengan tujuan, antara lain menemukan topik tertentu, memilih acara tertentu, menemukan kata dalam kamus, mencari nomor telepon dalam buku petunjuk telepon, dan mencari entri pada indeks (Soedarso, 2004:96). Selanjutnya dapat mencari makna kata-kata tersebut dari dalam kamus dengan teknik membaca memindai.

Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) ini dapat dikategorikan pembelajaran terpadu. Menurut Fogarty

(1991), berdasarkan sifat keterpaduannya, pembelajaran terpadu dapat dikelompokkan menjadi: 1) model dalam satu disiplin ilmu yang meliputi model connected (keterhubungan) dan model nested (terangkai); 2) model antar bidang studi yang meliputi model sequenced (urutan), model shared (perpaduan), model webbed (jaring laba- laba), model theaded (bergalur) dan model integreted (terpadu); 3) model dalam lintas siswa.

Pencapaian tujuan pembelajaran membaca perlu diupayakan dengan berbagai alternatif model pembelajaran.

Dalam hubungan itu, peneliti mencoba memperkenalkan model CIRC untuk pembelajaran membaca. Dengan CIRC ini yang merupakan model kooperatif terpadu membaca dan menulis, murid pada akhirnya diharapkan terbiasa bersikap kritis dan peka dalam menanggapi berbagai fenomena dan makna yang terdapat di dalam sebuah tulisan dengan ragam yang berbeda.

Pemahaman murid atas berbagai isi wacana tulis ini, dan makna, serta nilai yang terdapat di dalam tulisan merupakan prioritas pertama dan utama model CIRC ini.

(3)

57 | (Ripteksi Kependidikan PGRI, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2013: Hlm. 55-64)

C. METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan prosedur penelitian tindakan kelas (PTK) dengan beberapa siklus terdiri atas, (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi dan (4) refleksi.

Data penelitian ini bersumber dari aktivitas pembelajaran berlangsung yang menerapkan model CIRC. Interaksi guru dan siswa yang berakhir dengan evaluasi untuk menilai kualitas hasil belajar, menjadi bahan analisis penelitian ini.

Pengumpulan data-data tersebut diperoleh melalui langkah- langkah berikut. ariabel keterampilan membaca memindai diperoleh dari tes siswa selama mengikuti pembelajaran.

Variabel penggunaan model CIRC diperoleh dari observasi, wawancara, jurnal, dan dokumentasi foto.

Teknik yang digunakan untuk menganalisis data penelitian ini adalah teknik kuantitatif dan teknik kualitatif.

D. HASIL PENELITIAN

Pembahasan hasil penelitian ditujukan untuk menemukan jawaban atas permasalaan yang diangkat dalam penelitian. Permasalahan pertama yaitu adakah peningkatan keterampilan membaca memindai dengan model CIRC pada siswa kelas IX.D MTs Negeri 1 Palembang dan adakah perubahan

perilaku sikap siswa kelas IX.D MTs Negeri 1 Palembang dalam membaca memindai setelah mengikuti pembelajaran membaca memindai dengan model CIRC.

Persoalan peningkatan keterampilan membaca memindai dapat dijawab dengan deskripsi data secara kuantitatif untuk mengetahui peningkatan rata-rata keterampilan siswa membaca emindai dari tahap prasiklus, siklus I, dan siklus II.

Pada kegiatan pembelajaran membaca memindai prasiklus dan siklus I terlihat bahwa keterampilan siswa dalam membaca memindai belum memenuhi rata-rata klasikal yang ditentukan. Hasil membaca memindai siswa pada tahap prasiklus hanya mencapai 52,57 dan siklus I mencapai 72,92. Pembelajaran membaca memindai pada siklus I walaupun telah dioptimalkan pembelajarannya dengan refleksi dan analisis hasil kegiatan pembelajaran di akhir pembelajaran namun hasilnya belum memuaskan.

Keadaan tersebut disebabkan oleh masih banyaknya siswa yang mengalami kesulitan dalam menemukan subjek informasi khusus yang ditugaskan. Siswa belum dapat menuliskan kembali informasi yang diperoleh berdasarkan hasil pemikiran siswa sendiri sehingga

(4)

58 | (Ripteksi Kependidikan PGRI, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2013: Hlm. 55-64)

masih banyak ditemui hasil pengembangan informasi khusus tadi yang nyaris sama.

Setelah dilaksanakan pembelajaran dengan model CIRC pada siklus II dengan tema yang berbeda-beda dan lebih sederhana lagi dan membahas kesulitan- kesulitan siswa dalam membaca memindai pada siklus I, ternyata kesulitan siswa dalam membaca memindai dapat diatasi. Hasil siklus II mengalami peningkatan dari hasil prasiklus dan hasil tes siklus I. Lebih rinci peningkatan keterampilan membaca memindai setelah mendapatkan pembelajaran dengan model CIRC untuk tiap aspek penilaian disajikan pada tabel berikut.

Hasil prasiklus nilai rata-rata kelas mencapai 55,4 termasuk kategori kurang.

Nilai rata-rata tersebut berasal dari jumlah rata-rata masing-masing aspek yang dinilai. Pada prasiklus, aspek menemukan subjek informasi mencapai nilai rata-rata sebesar 53,3 masuk kategori kurang.

Aspek menemukan informasi dengan tepat dan cepat sebesar 56 masuk kategori kurang. Aspek kemampuan mengemukakan kembali informasi dengan bahasa sendiri sebesar 57 masuk kategori kurang.

Keterampilan siswa dalam membaca memindai yang masih tergolong rendah disebabkan oleh

beberapa faktor antara lain, faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari diri siswa sendiri yaitu minat siswa terhadap pembelajaran membaca. faktor eksternal berasal dari penggunaan model yang kurang tepat dan kurang menarik perhatian siswa.

Hasil tes membaca memindai pada siklus I mencapai rata-rata 58,9 termasuk kategori kurang. Dengan demikian, hasil tersebut belum memenuhi rata-rata nilai yang diharapkan. Nilai rata-rata tersebut diakumulasikan dari beberapa aspek penilaian. Pada siklus I, aspek menemukan subjek informasi sebesar 56,7 masuk kategori kurang dan hanya mengalami peningkatan sebesar 0,1 atau 6,25% dari nilai rata-rata prasiklus. Aspek menemukan informasi dengan tepat dan cepat sebesar 62,5 dan ini masih masuk kategori kurang walaupun mengalami peningkatan sebesar 1,3 atau 11,6% dari nilai rata-rata prasiklus . Aspek mengemukakan kembali informasi dengan bahasa sendiri sebesar 57,5 masuk kategori kurang dan mengalami peningkatan sebesar 0,1 atau 0,9% dari nilai rata-rata prasiklus. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keterampilan membaca cepat siswa mengalami peningkatan sebesar 0,5 atau 6,25% dari

(5)

59 | (Ripteksi Kependidikan PGRI, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2013: Hlm. 55-64)

nilai rata-rata prasiklus. Hasil tes membaca memindai pada siklus II diperoleh rata- rata nilai siswa sebesar 78,1 dalam kategori baik. Pencapaian nilai tersebut telah mencapai rata-rata yang telah ditentukan. Nilai masing-masing aspek diuraikan sebagai berikut.

Aspek menemukan subjek informasi sebesar 76,7 masuk kategori baik dan mengalami peningkatan sebesar 0,6 atau 37,6% dari nilai rata-rata siklus I atau meningkat sebesar 0,7 atau 43,8%

dari nilai rata-rata prasiklus. Aspek menemukan informasi khusus dengan tepat dan cepat sebesar 73,5 masuk kategori cukup dan mengalami peningkatan sebesar 2,2 atau 17,6% dari nilai rata-rata siklus I atau meningkat sebesar 3,5 atau 31,3% dari nilai rata-rata prasiklus. Aspek mengemukakan kembali informasi dengan bahasa sendiri sebesar 84 masuk kategori baik dan mengalami peningkatan sebesar 5,3 atau 46,1% dari nilai rata-rata siklus I atau meningkat sebesar 5,4 atau 47,4% dari nilai rata-rata prasiklus. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keterampilan membaca memindai siswa mengalami peningkatan sebesar 2,7 atau 33,8% dari nilai rata-rata siklus I atau meningkat sebesar 3,2 atau 40,8% dari nilai rata-rata prasiklus.

Dari uraian tersebut, dapat diketahui peningkatan aspek terbesar dari prasiklus ke siklus I yaitu menemukan informasi khusus dengan tepat dan cepat sebesar 11,6%, sedangkan aspek terkecil pada mengemukakan informasi kembali dengan bahasa sendiri yaitu sebesar 0,9%. Pada prasiklus siswa lebih mudah menemukan informasi khusus dengan tepat dan cepat daripada mengemukakan kembali informasi dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan situasi yang digambarkan.

Peningkatan aspek terbesar dari siklus I ke siklus II yaitu mengemukakan kembali informasi khusus dengan bahasa sendiri sebesar 46,1%, sedangkan aspek terkecil pada menemukan informasi khusus dengan cepat dan tepat yaitu sebesar 17,6%. Siswa merasa lebih mudah mengemukakan informasi khusus dengan bahasa sendiri dibandingkan dengan menemukan informasi yang diminta.

Peningkatan aspek terbesar dari prasiklus ke siklus II dicapai oleh mengemukakan informasi khusus dengan menggunakan bahasa sendiri yaitu sebesar 47,4%, sedangkan aspek terkecil pada kemampuan menemukan informasi dengan cepat dan tepat yaitu sebesar 31,3%. Pada siklus II siswa lebih mudah mengemukakan kembali

(6)

60 | (Ripteksi Kependidikan PGRI, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2013: Hlm. 55-64)

informasi yang didapat dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan situasi yang digambarkan pada sebuah cerita daripada menemukan informasi khusus dengan cepat dan tepat..

Peningkatan keterampilan membaca memindai ini merupakan prestasi siswa yang cukup memuaskan.

Sebelum diberlakukannya tindakan siklus I dan siklus II ini, keterampilan siswa masih kurang dan belum baik. Setelah diadakan pembelajaran dengan model CIRC keterampilan membaca memindai siswa meningkat.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada siklus I dan siklus II dapat diketahui bahwa setiap aspek yang terdapat dalam observasi mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Jenis perilaku pertama yang diamati adalah antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran. Pada siklus I antusias siswa dalam kegiatan pembelajaran termasuk ke dalam kategori cukup. Siswa cukup berantusias dalam kegiatan pembelajaran membaca memindai. Siswa masih kelihatan malu dan ragu saat akan bertanya kepada guru mengenai materi pembelajaran, dan saat praktik membaca memindai siswa kelihatan bermalas- malasan. Sedangkan pada siklus II antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran sangat baik. Hal ini

ditunjukkan dengan antusiasnya siswa yang bertanya tentang hal-hal yang kurang siswa pahami. Siswa yang berani berpendapat mengemukakan bahwa mereka sangat menyukai kegiatan membaca, khususnya membaca memindai. Melalui membaca memindai mereka dapat mengekspresikan perasaan dan pikiran ke dalam bentuk tulisan kreatif.

Perilaku kedua yang diamati adalah perhatian siswa terhadap penjelasan yang diberikan guru. Pada siklus I perhatian siswa cukup baik terhadap penjelasan yang diberikan guru siswa sudah cukup bersemangat dalam mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari guru. Namun tidak semua siswa berlaku demikian, terlihat beberapa siswa berbicara sendiri dengan teman sebangkunya saat guru menjelaskan materi di depan kelas.

Sebagian siswa belum tertarik terhadap pembelajaran membaca memindai.

Selain itu, siswa juga masih banyak yang belum berani bertanya atau menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Hal ini berbeda dengan siklus II yang sudah baik dalam memperhatikan penjelasan dari guru, pada siklus II siswa memperhatikan penjelasan dari guru serta menanyakan hal-hal yang belum mereka pahami. Siswa terlihat sangat

(7)

61 | (Ripteksi Kependidikan PGRI, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2013: Hlm. 55-64)

bersemangat untuk mendengarkan dan mengikuti penjelasan guru. Tidak terlihat lagi siswa yang berbicara sendiri dengan teman sebangkunya saat guru menjelaskan materi di depan kelas. Pada siklus II keaktifan siswa dalam mengajukan dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru sudah terlihat.

Mereka tidak lagi malu dan ragu bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan materi membaca memindai.

Perilaku ketiga yang diamati adalah keseriusan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pada siklus I keseriusan siswa dalam kegiatan pembelajaran sudah baik. Siswa kelihatan serius saat kegiatan pembelajaran berlangsung.

Meskipun demikian, kegiatan pembelajaran tidak terkesan tegang dan kaku karena antara guru dan siswa terjalin komunikasi yang baik dalam hal menyampaikan materi pembelajaran sehingga siswa dapat menerima materi dengan baik. Pada siklus II keseriusan siswa dalam kegiatan pembelajaran juga sudah baik. Pada siklus II siswa kelihatan serius dalam kegiatan pembelajaran karena mereka menganggap pembelajaran membaca memindai adalah materi yang penting bagi siswa.

Siswa kelihatan serius dalam kegiatan pembelajaran karena mereka menganggap pembelajaran membaca

memindai adalah materi yang penting bagi siswa. Siswa merasa senang dan bersemangat saat disuruh mengerjakan tugas yang guru berikan yaitu tugas membaca memindai.

Perilaku keempat yang diamati adalah keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pada siklus I keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran masih dalam kategori cukup. Hal ini disebabkan karena mereka kelihatan malu dan ragu-ragu atas pertanyaan yang ingin mereka sampaikan kepada guru, takut jika pertanyaan yang akan dikemukakan salah, atau malah mereka bingung apa yang harus ditanyakan.

Berbeda dengan siklus II, pada siklus II keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran sangat baik. Hal ini diperlihatkan dengan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran yaitu siswa sudah tidak malu lagi jika bertanya kepada guru, siswa sudah kelihatan percaya diri waktu mengemukakan pendapat mereka.

Perilaku kelima yang diamati adalah respon atau sikap siswa selama mengikuti pembelajaran. Pada siklus I dan siklus II, respon atau sikap siswa selama mengikuti pembelajaran sudah baik. Semua siswa memberikan respon yang baik selama mengikuti pembelajaran membaca memindai. Siswa mengerjakan tugas

(8)

62 | (Ripteksi Kependidikan PGRI, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2013: Hlm. 55-64)

yang diberikan guru dengan baik dan tepat waktu. Pada saat kegiatan membaca memindai siswa kelihatan sangat serius, tenang, dan tertib.

Perilaku terakhir yang diamati adalah komentar yang diberikan siswa selama pembelajaran membaca memindai berlangsung. Pada siklus I dan siklus II siswa memberikan komentar yang baik yang dapat bermanfaat untuk memberikan masukan dalam pembelajaran membaca memindai sedangkan pada siklus II sebagian besar siswa juga memberikan komentar yang baik yang dapat menambah masukan terhadap pembelajaran membaca memindai. Pada siklus I siswa mengungkapkan bahwa untuk pembelajaran membaca memindai sebaiknya ditambah alokasi waktunya, memberikan contoh wacana, memberikan kebebasan untuk pemindaian, dan lain-lain.

Berbeda dengan siklus II, komentar- komentar yang mereka ungkapkan antara lain, 1) menambah alokasi waktu untuk pembelajaran membaca memindai, 2) dalam pembelajaran membaca memindai harus lebih banyak menekankan kepada praktik agar siswa lebih paham, 3) sering memberikan latihan kepada siswa untuk membaca

memindai, dan 4) memberikan banyak contoh wacana yang lebih bervariasi.

Berdasarkan hasil jurnal pada siklus I dan siklus II, siswa semakin senang terhadap kegiatan pembelajaran membaca memindai. Selain itu, siswa juga sangat tertarik dengan model pembelajaran yang digunakan guru karena dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan mereka pada saat membaca memindai. Hal ini ditunjukkan antusias dan semangat siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Kesulitan siswa dalam membaca memindai juga berkurang. Nilai rata-rata tes membaca memindai siswa yang semakin meningkat dari siklus I ke siklus II.

Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa siswa merasa senang dengan model yang digunakan guru karena model yang digunakan sangat baik dan dapat membantu siswa dalam pembelajaran membaca memindai. Mereka mengungkapkan dengan adanya model ini menambah variasi guru dalam pembelajaran membaca memindai sehingga siswa merasa senang dan tidak jenuh saat pembelajaran berlangsung. Selain itu, siswa juga mengungkapkan dengan adanya model CIRC dapat memudahkan siswa dalam untuk menemukan informasi khusus dengan tepat dan cepat yang

(9)

63 | (Ripteksi Kependidikan PGRI, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2013: Hlm. 55-64)

dapat dikembangkan ke dalam bentuk tulisan dengan menggunakan bahasa sendiri. Dengan bimbingan dan pengarahan yang guru berikan dapat membantu mereka dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang siswa temukan selama kegiatan pembelajaran membaca memindai berlangsung.

Dapat disimpulkan bahwa belajar dengan menggunakan model CIRC mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca memindai. Selain itu, terdapat perubahan perilaku siswa kearah yang lebih baik dalam mengikuti pembelajaran membaca memindai.

E. SIMPULAN DAN SARAN E.1 Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca memindai dengan model CIRC ternyata sangat efektif dalam meningkatkan keterampilan membaca memindai pada siswa kelas IX D MTs.

Negeri 1 Palembang. Dengan demikian, hipotesis tindakan yang menyatakan bahwa pembelajaran membaca memindai dengan model CIRC dapat meningkatkan keterampilan membaca memindai siswa akan meningkat dapat terbukti atau diterima.

Peningkatan keterampilan membaca memindai siswa kelas IX D MTs. Negeri 1 Palembang setelah mengikuti pembelajaran dengan model CIRC terlihat dari hasil tes membaca memindai siswa pada tahap prasiklus, siklus I, dan siklus II. Nilai rata-rata siswa pada prasiklus mencapai 53 (pembulatan ke atas dari 52,57) kemudian setelah dilakukan siklus I meningkat menjadi 73 (pembulatan ke atas dari 72,92) atau meningkat sebanyak 25,94% dari prasiklus. Setelah dilakukan siklus II meningkat menjadi 78 (pembulatan ke bawah dari 78,45) atau meningkat sebanyak 7,58% dari siklus I dan meningkat sebanyak 49,22% dari prasiklus.

E.2 Saran

Berdasarkan simpulan hasil penelitian di atas, penulis menyampaikan saran sebagai berikut.

Seharusnya para Guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam membelajarkan membaca memindai menggunakan model, teknik atau metode yang sesuai agar siswa menjadi lebih tertarik dalam mengikuti pembelajaran membaca memindai sehingga tujuan pengajaran bahasa dapat tercapai. Penggunaan model CIRC merupakan alternatif yang

(10)

64 | (Ripteksi Kependidikan PGRI, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2013: Hlm. 55-64)

dapat mewujudkan pembelajaran tersebut.

Hendaknya siswa dapat mengambil pengalaman dari pembelajaran model CIRC untuk dikembangkan ke dalam pelbagai bentuk teks yang akan dipindai karena banyak manfaat yang dapat diperoleh dari kecakapan tersebut.

PUSTAKA RUJUKAN

Muchlisoh dkk. (1992). Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia 3.

Jakarta Depdikbud.

Soedarso. (1988). Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: PT Gramedia.

Tarigan, H.G. (1994). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.

Bandung: Angkasa.

Wulan, Ratna.2010. Peranan Pelatihan Membaca dengan Model Kognitif- Behavioral terhadap Kemampuan Membaca pada Anak.

Yogyakarta:UGM.

Zuchdi, D. (1999). Peningkatan Kemampuan Memahami Bacaan dan Kemandirian dengan Teknik Pre Reading Plan. Laporan Penelitian Lembaga Penelitian:

Universitas Negeri Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Tidak ada perbedaan pengaruh penerapan gaya mengajar resiprokal dengan self check terhadap hasil belajar keterampilan bolavoli pada kemampuan gerak rendah siswa putra kelas

Aspek yang dikaji adalah ekspresi- ekspresi lingual yang terdapat pada tampilan iklan Olay Total Effects versi Annisa Pohan dan Anggun C.. Sasmi yang membentuk suatu citra

Untuk itu, pada pembuatan rangkaian alat Lampu Sein Variasi ini bertujuan untuk mempelajari cara kerja dari Lampu sein variasi dan dapat menghasilkan output dengan variasi yang

PENGARUH INVESTASI HUMAN CAPITAL D AN PERPUTARAN MOD AL KERJA TERHAD AP PROFITABILITAS PERUSAHAAN BUMN YANG TELAH LISTING D I BURSA EFEK IND ONESIA. Universitas Pendidikan

Hasil AIM tersebut menunjukkan bahwa pemahaman pengelola unit kerja, khususnya middle management dan lower management , tentang SMM ISO 9001:2008 masih kurang, sehingga

Para guru sering kali menyampaikan materi pengetahuan alam apa adanya (konvensional), sehingga pembelajaran ilmu pengetahuan alam cenderung membosankan dan kurang menarik minat

[r]

Lebih lanjut Menristek mengatakan bahwa perhitungan belanja Litbang per PDB Indonesia tahun 2015 yang sebesar 0,02 persen tersebut telah memperhitungkan belanja