• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN PENERAPAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "HUBUNGAN PENERAPAN"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

DI SMP N 4 MERANGIN

SKRIPSI

Oleh:

SYIFA NURUL HUDA (A1D518078)

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI

2023

(2)

HUBUNGAN PENERAPAN FULL DAY SCHOOL DAN KEMANDIRIAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA

DI SMP N 4 MERANGIN

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Jambi

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Sarjana Administrasi Pendidikan

Oleh:

SYIFA NURUL HUDA (A1D518078)

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI

2023

(3)

i

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi yang berjudul Hubungan Penerapan Full Day School dan Kemandirian Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa di SMP N 4 Merangin: Skripsi Program Studi Administrasi Pendidikan, yang disusun oleh Syifa Nurul Huda, Nomor Induk Mahasiswa A1D518078 telah diperiksa dan disetujui untuk diuji.

Jambi, 03 Januari 2023

Pembimbing I

Dr. Yantoro, M.Pd.

NIP. 196612191994121002

Jambi, 03 Januari 2023

Pembimbing II

Dr. Robi Hendra, S.Pd., M.Pd.

NIP. 201610051014

(4)

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi yang berjudul Hubungan Penerapan Full Day School dan Kemandirian Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa di SMP N 4 Merangin: Skripsi Program Studi Administrasi Pendidikan, yang disusun oleh Syifa Nurul Huda, Nomor Induk Mahasiswa A1D518078, telah dipertahankan di depan tim penguji pada Rabu, 05 Januari 2023.

Tim Penguji

1. Dr. Yantoro, M.Pd. Ketua

NIP 196612191994121002

2. Dr. Robi Hendra, S.Pd., M.Pd. Sekretaris NIP 201610051014

Jambi, Januari 2023 Mengetahui,

Ketua Program Studi

Dr. Mulyadu, S.Ag., M.Pd.I.

NIP. 197604282010011010

(5)

iii

HALAMAN PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama : Syifa Nurul Huda

NIM : A1D518078

Program Studi : Administrasi Pendidikan Jurusan : Ilmu Pendidikan

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi penelitian ini benar- benar hasil karya sendiri dan bukan merupakan jiplakan dari hasil penelitian pihak lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat di buktikan bahwa skripsi penelitian ini merupakan hasil jiplakan atau plagiat, saya bersedia menerima sanksi dicabutnya gelar dan ditariknya ijazah saya.

Demikianlah pernyataan ini di buat dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Jambi, Desember 2022 Yang membuat pernyataan

Syifa Nurul Huda NIM. A1D518078

(6)

iv

MOTTO

“Tidak ada ujian yang tidak bisa diselesaikan. Tidak ada kesulitan yang melebihi batas kesanggupan. Karena Allah tidak akan membebani

seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya.”

(QS Al-Baqarah: 286)

“Pantang dalam menyerah, pantang dalam berpatah arang. Tidak ada kata gagal untuk orang yang enggan berhasil. Dan janganlah kamu

berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus dari rahmat Allah melainkan orang orang yang kufur”.

(QS Yusuf: 87)

“Menyia-nyiakan waktu lebih buruk dari kematian. Karena kematian memisahkanmu dari dunia, sementara menyia-nyiakan waktu

memisahkanmu dari Allah”.

( Imam bin Al qayim)

Skripsi ini merupakan persembahan kecil untuk papa (Jefri) dan mama (Darni) tercinta. yang tak pernah lelah dalam membesarkan dan membimbingku dengan penuh kasih sayang serta memberikan dukungan dan perjuangan hingga aku bisa sampai pada titik ini. Tak cukup rasanya lantunan terima kasih ini ku ucapkan kepadamu atas semua jasa yang telah engkau berikan. Aku bersyukur memiliki kedua orangtua yang luar biasa seperti mama dan papa. Besar harapanku untuk bisa menjadi anak yang berbakti dan membanggakan. Semoga kelak aku bisa membalas jasa mereka dengan sebuah kesuksesan yang kudapat dan semoga kelak aku dapat mengangkat derajatmu. Aamiin Ya Rabbal Alamin

(7)

v

ABSTRAK

i Huda,i Syifa Nurul,i (2023).i Hubungan Penerapan Full Day School dan Kemandirian Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa di SMP Negeri 4 Merangin.i Skripsi.i Programi Studii Administrasii Pendidikan,i Fakultasi Keguruani dani Ilmui Pendidikani Universitasi Jambi.i Pembimbing:i (I)i Dr.

Yantoro, M.Pd., i (II)i Dr. Robi Hendra, S.Pd., M.Pd.

Katai kuncii :i Full Day School,i Kemandirian Belajar,i Prestasi Belajar

Penelitianii iniii bertujuanii untukii mengetahuiii Hubungan Penerapan Full Day School dan Kemandirian Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa di SMP Negeri 4 Merangin.

Penelitiani inii menggunakani metodei kuantitatifi dengani rancangan penelitiani ex-posti facto.i Populasii yangi digunakani dalami penelitiani ini adalahi siswa kelas 8 di SMP Negeri 4 Merangin.i Tekniki pengambilani sampel dalami penelitiani inii adalahi tekniki simplei randomi samplingi sebanyaki 77 siswa.i Tekniki pengumpulani datai yangi digunakani dalami penelitiani ini menggunakani datai primeri berupai angket.i Tekniki analisisi datai yang digunakani dalami penelitiani inii adalahi analisisi statistiki deskriptifi dengan bantuani aplikasii SPSSi 25.0i fori windows.

Hasili penelitiani inii menunjukani bahwai (1)i Terdapat hubungan yang signifikan full day school dengan prestasi belajar siswa di SMP Negeri 4 Merangin. Hali inii dibuktikani melaluii hasil uji r hitung dimana didapatkan hasil 0,25 menunjukkan bahwa r hitung lebih besar daripada r tabel., (2)i Terdapat hubungan yang signifikan kemandirian belajar dengan prestasii belajari siswai di SMPi Negerii i4 Merangin. Hali inii dibuktikani melaluii hasil uji r hitung dimana didaptkan hasil 0,26 menunjukkan bahwa r hitung lebih besar daripada r tabel,i (3)i Terdapat hubungan yang signifikan full day school dengan kemandirian belajar di SMPi Negerii i4 Merangin. Hali inii dibuktikani melaluii hasil uji r hitung dimana didaptkan hasil 0,23 menunjukkan bahwa r hitung lebih besar daripada r tabel dan (4)i Full day school dan kemandirian belajar memiliki hubungan yang signifikan secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa di SMP Negeri 4 Merangin. Hali inii dibuktikani melaluii analisisi korelasi yangi diperolehi nilaii hasili pengujiani yang menunjukan nilaii korelasi persial isebesar i0,544 dengan signifikan sebesar 15,55.

Hasili penelitiani inii digunakani sebagaii masukani bagii kepalai sekolah dani guru.i Membenahii dirii sehubungani dengani penerapan sistem full day school dan kemandirian belajar yangi telahi dilaksanakani dengani sangati baik gunai meningkatkani prestasi belajari secarai terusi menerus.

(8)

vi

KATA PENGANTAR

Segala puji penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Penerapan Full Day School dan Kemandirian Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa di SMP Negeri 4 Merangin” ini bisa terselesaikan dengan baik.

Skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada kedua orangtua Papa (Jefriwal) dan Mama (Darni Yaslely) atas doa, bimbingan, serta kasih sayang yang telah tercurah selama ini dan kepada berbagai pihak yang telah membantu penulis, diantaranya :

1. Prof. Dr. H. Sutrisno, Ph. D, selaku Rektor Universitas Jambi.

2. Prof. Dr. M. Rusdi, S.Pd., M.Sc., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi, yang telah memberikan izin untuk menyeselaikan skripsi ini.

3. Bapak Dr. K.A. Rahman, M.Pd.I, selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi.

4. Bapak Dr. Mulyadi, S.Ag., M.Pd.I. selaku Ketua Program Studi Administrasi Pendidikan Universitas Jambi.

5. Bapak Dr. Yantoro, M.Pd. selaku dosen pembimbing I yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun skripsi ini.

6. Bapak Dr. Robi Hendra, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun skripsi ini.

(9)

vii

7. Seluruh dosen Administrasi Pendidikan yang selama perkuliahan telah membimbing dan mengajarkan saya dengan baik.

8. Kepala sekolah, guru dan staff TU SMP N 4 Merangin yang telah membantu peneliti mendapatkan data observasi awal.

9. Keluarga besar Administrasi Pendidikan khususnya teman-teman seperjuangan atas dukungan, semangat, serta kerjasamanya, dan pihak lainnya yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih sangat jauh dari sempurna baik metode maupun cara penulisannya. Namun demikian, penulisan telah berupaya dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan untuk menyempurnakan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Jambi, Desember 2022

Penulis

(10)

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

MOTTO ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah... 4

1.3 Pembatasan Masalah ... 5

1.4 Rumusan Masalah ... 5

1.5 Tujuan Penelitian ... 6

1.6 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN TEORITIK ... 8

2.1 Kajian Teoritik dan Hasil Penelitian yang Relevan ... 8

2.1.1 Prestasi belajar ... 8

(11)

ix

2.1.2 Full day school ... 16

2.1.3 Kemandirian belajar ... 26

2.1.4 Penelitian Relevan ... 32

2.2 Kerangka Berpikir ... 35

2.3 Hipotesis ... 37

BAB III METODE PENELITIAN ... 39

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 39

3.2 Desain Penelitian ... 40

3.3 Populasi dan Sampel ... 41

3.3.1 Populasi ... 41

3.3.2 Sampel ... 42

3.4 Teknik Pengambilan Sampel ... 42

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 44

3.6 Validasi Instrumen Penelitian ... 48

3.6.1 Uji Validitas ... 48

3.6.2 Uji Reliabilitas ... 51

3.7 Teknik Analisis Data ... 53

3.7.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 53

3.7.2 Uji Persyaratan Analisis ... 54

3.7.3 Uji Hipotesis ... 55

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 57

4.1 Deskripsi Data ... 57

4.2 Uji Persyaratani Analisisi ... 57

(12)

x

4.3 Pengujian Hipotesis ... 62

4.4 Pembahasan Hasil Penelitian ... 78

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ... 87

5.1 Kesimpulan ... 87

5.2 Implikasi ... 88

5.3 Saran ... 89

DAFTAR RUJUKAN ... 90

LAMPIRAN ... 92

(13)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 3. 1 Total Populasi Penelitian ... 41

Tabel 3. 2 Daftar Sampel Penelitian ... 44

Tabel 3. 3 Kisi-Kisi Instrumen Penerapan Sistem Full Day School ... 45

Tabel 3. 4 Kisi-Kisi Kemandirian Belajar... 46

Tabel 3. 5 Skor Alternatif Jawaban ... 48

Tabel 3. 6 Hasil Uji Validitas Full Day School ... 49

Tabel 3. 7 Hasil Uji Validitas Kemandirian Belajar ... 50

Tabel 3. 8 Kriteria Reliabilitas ... 51

Tabel 3. 9 Hasil Uji Reliabilitas Full Day School ... 52

Tabel 3. 10 Hasil Uji Reliabilitas Kemandirian Belajar ... 52

Tabel 3. 11 Kriteria Nilai Rata-rata... 54

Tabel 4.1 Uji Normalitas Kolmogorov Smirnovt est... 59

Tabel 4. 2 Hasil Uji Linearitas Full Day School (X1) dan Prestasii Belajari (Y) . 60 Tabel 4. 3 Hasil Uji Linearitas Kemandirian Belajar (X2) dan Prestasii Belajari (Y) ... 60

Tabel 4. 4 Hasil Uji Multikolinearitas... 61

Tabel 4. 6 Tabel Penolong Full Day School (X1) dan Prestasi Belajar (Y) ... 63

Tabel 4. 7 Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi X1 dengan Y ... 65

Tabel 4. 8 Tabel Penolong Kemandirian Belajar (X1) dan Prestasi Belajar (Y) .. 67

Tabel 4. 9 Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi X2 dengan Y ... 69 Tabel 4. 10 Tabel Penolong Full Day School (X1) dan Kemandirian Belajar (Y) 72

(14)

xii

Tabel 4. 11 Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi X1 dengan X2 ... 74 Tabel 4. 12 Rangkuman Pengujian Hipotesis ... 76

(15)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Kerangka Berpikir ... 37

Gambar 3. 1 Rumus Korelasi dan Regresi Berganda...56

Gambar 4. 1 Hasil P-Plot Normalitas...58

Gambar 4. 3 Koefisien korelasi dan Persamaan regresi antar variabel ... 77

(16)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan ialah hal yang penting di dalam kehidupan sehari-hari sebab dengan pendidikan kita bisa memajukan suatu bangsa. Sering kali kita melihat orang-orang berbondong-bondong untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya untuk mendapatkan ilmu yang berguna bagi kehidupannya nanti. Pendidikan adalah hidup. Penetapan metode kegiatan belajar mengajar yang tepat, tujuan-tujuan perkembangan kualitas serta prestasi pembelajaran bisa terpenuhi.

Untuk itu tetapkan kemahiran pendidik untuk menyiapkan, mendesain, mewujudkan serta mengevaluasi dan melaksanakan timbal balik menjadi komponen penting untuk terciptanya keberhasilan harapan kegiatan belajar mengajar. Kemahiran pendidik memahami bahan ajar, model mengajar, pemanfaatan media, penetapan metode serta penentuan metode-metode kegiatan belajar mengajar ialah upaya-upaya untuk melangsungkan prosedur kegiatan belajar mengajar dan mengembangkan hasil tercapainya tujuan kegiatan belajar mengajar.

Tingkat kemandirian antar siswa dengan tingkat kemandirian tinggi dan siswa tingkat kemandirian rendah perihal tersebut diperkirakan memberikan interaksi yang tidak sama dengan hasil prestasi belajar siswa.

(17)

Pada program full day school prosedur aktivitas belajar mengajar tidak hanya menetapkan belajar terhadap aspek kognitif saja, namun didalam strategi kegiatan belajar mengajar tersebut tersedia beberapa strategi kegiatan belajar mengajar, banyaknya informasi bukan hanya diberikan oleh pendidik saja tetapi bagaimana siswa belajar.

Sementara itu, Full Day School merupakan salah satu kreasi atau inovasi pembelajaran untuk menjadikan sekolah unggul, inovatif dan kreatif dengan sistem pembelajaran terpadu yang berlandaskan iman dan taqwa (imtaq, serta ilmu pengetahuan dan teknologi ,IPTEK) (Mushlihah 2009: 17) . Kemandirian belajar adalah proses aktif dan konstruktif siswa dalam menetapkan tujuan untuk proses belajarnya dan berusaha untuk memonitor, meregulasi, dan mengontrol kognisi, motivasi, dan perilaku, yang kemudian diarahkan dan didorong dengan tujuan dan mengutamakan konteks lingkungan (Adicondro dan Purnamasari 2011:17-27).

Dengan tersedianya full day school membuat siswa menuntaskan beberapa besar waktunya disekitar sekolah yang mana dari waktunya digunakan dari dini sampai petang hari untuk siswa ikuti kegiatan belajar mengajar yang telah terstruktur.

Perihal tersebut bisa mengurangi siswa berada diluar sekolah yang dapat saja mereka mengisi waktu luangnya dengan bermacam aktivitas yang kurang berguna atau memungkinkan mengarah terhadap hal yang negatif, saat siswa berada di sekolah telah jelas aman keadaannya sebab ada pendidik yang mengontrol, berbeda jika di luar sekolah pengontrolan siswa telah menjadi tanggung jawab orang tua.

(18)

Full day school dimaksudkan sebagai strategi pendidikan yang mengimplementasikan aktivitas pembelajaran seharian full dengan menautkan strategi pengajaran yang mendalam yakni dengan menambah jam belajar untuk penguasaan pelajaran dan peningkatan diri dari produktivitas (Moh.

Alifuddin, 2018:10).

Kemandirian belajar ialah kemampuan siswa untuk menilai sendiri mengenai kebutuhan belajarnya dalam melakukan kegiatan bertanya maupun mencari tahu tentang hal-hal yang ingin diketahuinya, kemandirian belajar juga menggabungkan pemahaman tentang apa yang tidak diketahui dengan pemahaman tentang kegiatan apa yang perlu dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan (Bartholomew dalam Mulyono et al.,2018:

201).

Kemandirian belajar siswa adalah sejauh mana proses pembelajaran yang siswa ikut serta dalam menentukan tujuan, materi dan pengalaman belajar, serta evaluasi pembelajaran (Mulyono 2017: 691) .Hal tersebut dikarenakan kebanyakan siswa mencermati masing-masing mata pelajaran telihat sulit, sampai tiap-tiap tugas yang diberikan pendidik tidak dikerjakan sendiri, melainkan kebanyakan mereka mencontek jawaban temannya.

Prestasi belajar ialah hasil dari masing-masing upaya melalui suatu prosedur kegiatan belajar mengajar (Rasyid, 2019:5).

Peserta didik butuh melaksanakan analisis dalam pembelajaran melewati test yang telah terstruktur sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan. Penganalisisan hasil belajar dipakai untuk menentukan hasil masukan sebagai penjelasan dari hasil yang sudah tercapai.

(19)

Berdasarkan observasi yang telah dilaksanakan pada tanggal 14 juni 2022, total seluruh siswa kelas VIII yang berada di SMP N 4 Merangin adalah 337 orang. Terdapat permasalahan yang peneliti temui di lapangan yaitu siswa yang pemahamannya untuk ingin belajar masih perlu tuntunan dari sekitarnya seperti guru, sehingga membuat siswa sulit dalam melewati masa belajarnya dan tidak percaya diri sesuai dengan pemahaman mengenai kemandirian belajar yang dikembangkan oleh (Yanti & Surya, 2017), siswa yang penilaian belajarnya menurun sehingga sangat mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah sesuai dengan pemahaman mengenai prestasi belajar yang dikembangkan oleh (Mustajab Rasyid & Abdullah Rasyid, 2019:9).

Berdasarkan topik permasalahan yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik untuk mengangkat penelitian ini menjadi penelitian ilmiah dengan judul “Hubungan Penerapan Full Day School dan Kemandirian Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa di SMP N 4 Merangin”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berlandaskan permasalahan yang sudah dijelaskan pada latar belakang masalah tersebut bisa diidentifikasikan yakni berikut ini:

a. Banyaknya Program Full day school memberi kesempatan kepada siswa dengan waktu lebih banyak di sekolah.

b. Sebagian siswa merasa bosan, lelah dan jenuh, karena aktifitas dan kegiatan mereka habiskan di sekolah.

c. Sebagian siswa menjadi tidak fokus dan siswa sulit menyerap materi pelajaran.

(20)

1.3 Pembatasan Masalah

Berlandaskan identifikasi masalah yang sudah dijelaskan tersebut, maka peneliti membatasi masalah terhadap penelitian berikut ini :

a. Penelitian ini dilaksanakan terhadap siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Merangin tahun ajaran 2022/2023

b. Pendidikan full day school mencakup aspek-aspek kesigapan terhadap fasilitas, kurikulum yang tersedia di sekolah serta SDM.

c. Prestasi belajar yang diartikan pada penelitian ini yakni mencakup nilai raport penilaian siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Merangin.

1.4 Rumusan Masalah

Berlandaskan latar belakang identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang dijelaskan maka rumusan masalah pada penelitian ini yakni:

a. Apakah terdapat hubungan penerapan full day school dengan prestasi belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Merangin?

b. Apakah terdapat hubungan kemandirian belajar dengan prestasi belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Merangin?

c. Apakah terdapat hubungan penerapan full day school dengan kemandirian belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Merangin

d. Apakah terdapat hubungan penerapan full day school dan kemandirian belajar dengan prestasi belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Merangin?

(21)

1.5 Tujuan Penelitian

Berlandaskan beberapa rumusan permasalahan dalam kajian ini, maka pelaksanaan kajian ditujukan untuk:

a. Untuk mengetahui terdapat hubungan penerapan full day school dengan prestasi belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Merangin

b. Untuk mengetahui terdapat hubungan kemandirian belajar dengan prestasi belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Merangin

c. Untuk mengetahui mengetahui terdapat hubungan penerapan full day school dengan kemandirian belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Merangin

d. Untuk mengetahui terdapat hubungan full day school dan kemandirian belajar dengan prestasi belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Merangin

1.6 Manfaat Penelitian

Harapan dari peneliti penelitian ini memberikan manfaat berikut ini:

a. Bagi pendidik

Penelitian ini diharapkan bisa memberikan keringanan terhadap guru dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang produktif serta menarik dan dapat menjadi sebuah pilihan strategi kegiatan belajar mengajar yang dimanfaatkan sekolah, dan penelitian ini juga diharapkan bisa memperluas pengetahuan untuk guru dalam memaksimalkan prosedur belajar terkhusus pendidikan agama islam.

(22)

b. Bagi siswa

Diharapkan penelitian ini dapat memperluas wawasan, memperluas pengetahuan dan bisa mengembangkan kemahiran penyelesaian problem siswa. Selain itu, diharapkan bisa memotivasi siswa supaya lebih mengembangkan prestasi belajar.

c. Bagi peneliti

Sebagai suatu fasilitas dalam meningkatkan serta memperluas wawasan dan pengetahuan dalam mengimplementasikan teori yang didapat saat perkuliahan, sampai diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat dan menjadi suatu pengalaman peneliti dalam menyiapkan diri menjadi seseorang guru.

(23)

8

BAB II

KAJIAN TEORITIK

2.1 Kajian Teoritik dan Hasil Penelitian yang Relevan 2.1.1 Prestasi belajar

2.1.1.1 Pengertian prestasi belajar

Prestasi belajar ialah sebuah bukti keberhasilan belajar atau kemahiran individu dalam melaksanakan aktivitas belajarnya seimbang dengan bobot yanng diraihnya (Susanti, 2019:33). Prestasi belajar ialah suatu kalimat yang mencakup 2 kata ialah prestasi dan belajar. Kata prestasi dan belajar memiliki maksud yang tidak sama. Menurut Poerrwadarminta (Fathurrohman &

Sulistyorini 2018:118) menyebutkan prestasi ialah hasil yang sudah diraih (dilaksanakan dan dikerjakan).

Sedangkan menurut Djamarah (2018:19) prestasi ialah hasil dari sebuah aktivitas yang sudah diselesaikan, dicapai baik secara sendiri-sendiri ataupun secara kelompok”. Berlandaskan pengertian para ahli tersebut bisa diambil kesimpulan prestasi ialah sebuah hasil yang didapat sesudah menyelesaikan sebuah aktivitas.

Menurut L, Crow dan A. Crow (Mustajab Rasyid dan Abdullah Rasyid, 2019:7) menyebutkan bahwa “belajar ialah perihal mendapatkan kebiasaan, ilmu serta sifat”. Berlandaskan sebagian pengertian para ahli itu dapat diambil kesimpulan belajar ialah suatu aktivitas yang dilaksanakan individu untuk memperoleh kebiasaan, ilmu, sifat serta keterampilan yang bisa tergambar dari perubahan attitude.

(24)

Sesudah menjelaskan arti “prestasi” serta “belajar” tersebut bisa dimengerti pada landasannya prestasi dalam belajar sebagai hasil yang didapat siswa dari kegiatan belajar mencakup kognitif, afektif serta psikomotorik. Menurut djamarah (2018:24) “prestasi belajar ialah penilaian pendidikan mengenai keunggulan siswa dalam semua hal yang dipelajari di sekolah yang melibatkan ilmu, kapasitas serta keterampilan yang dikemukakan sesudah hasil penilaian”.

Sedangkan menurut Sutratinah Tirtonegoro (Mustajab Rasyid &

Abdullah Rasyid, 2019:9) “Prestasi belajar dimaksudkan sebagai penilaian hasil upaya aktivitas belajar yang dikemukakan dalam bentuk symbol, huruf, angka ataupun kalimat yang bisa menjelaskan hasil yang telah diraih oleh masing-masing siswa dalam waktu tertentu”.

Prestasi belajar merupakan hasil usaha belajar yang dicapai seorang siswa berupa suatu kecakapan dari kegiatan belajar bidang akademik di sekolah pada jangka waktu tertentu yang dicatat pada setiap akhir semester di dalam buki laporan yang disebut rapor (Thaib, 2013 : 87).

Dari penjelasan tersebut maka dapat peneliti simpulkan bahwa prestasi belajar ialah hasil yang diperoleh siswa setelah melakukan aktivitas belajarnya yang dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf.

2.1.1.2 Karakteristik prestasi belajar

Perubahan yang tampak pada siswa menjadi suatu prestasi dalam belajar dengan berbagai tahapan pembelajaran yang telah dilalui. Dalam ranah pendidikan, prestasi belajar ialah tujuan khusus yang hendak diperhartikan oleh masing-masing guru.

(25)

Prestasi belajar ialah hasil sederhana dari tujuan pendidikan dan kompetensi yang diinginkan oleh guru disetiap satuan belajar. Menurut Rosyid ( 2019 : 13) ciri-ciri perubahan perilaku belajar yaitu :

1. Prestasi belajar memiliki tujuan

Tujuan hubungan edukatif untuk menolong siswa dalam pertumbuhan tertentu dengan menetapkan siswa sebagai pusat perhatian

2. Proses pembelajaran

Proses kegiatan belajar mengajar serta tahapan-tahapan terstruktur yang relevan dibutuhkan supaya bisa tercipta tujuan secara maksimal.

3. Penentuan materi

Penyusunan materi ditetapkan sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai agar setelah kegiatan belajar mengajar selesai, prosedur evaluasi dapat bergerak dengan baik dalam menetapkan tujuan siswa.

4. Kegiatan siswa

Kegiatan siswa merupakan syarat utama dalam interaksi edukatif baik secara fisik maupun psikis. Hal ini bisa membuat pengaruh setara dengan teori CBSA (cara belajar siswa aktif) terhadap siswa.

5. Optimalisasi peran guru

Guru memberikan motivasi kepada siswa dalam proses interaksi edukatif.

Selain itu, guru berperan sebagai mediator dalam segala situasi supaya menjadi teladan yang patut ditiru oleh siswa.

6. Kedisiplinan

Langkah selanjutnya untuk tercipta prestasi belajar secara maksimal maka pembelajaran harus sesuai dengan proses yang sudah ditetapkan diawal.

(26)

Dengan demikian, siswa dapat memiliki kedisiplinan yang terpatok pada diri mereka.

7. Memiliki batasan waktu.

Batasan waktu menjadi suatu ciri yang tidak bisa diabaikan. Pada setiap kegiatan belajar mengajar terdapat estimasi waktu tertentu dalam mencapai tujuan.

8. Evaluasi

Evaluasi merupakan penilaian yang dilakukan oleh pendidik kepada siswa sesudah prosedur kegiatan belajar mengajar, hal ini dilaksanakan untuk memahami sejauh mana materi dapat dipahami peserta didik.

2.1.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar bisa dikelompokkan kepada dua kelompok yakni “faktor internal yang bersumber pada diri siswa dan faktor eksternal yang bersumber dari luar diri siswa”. Faktor internal mencakup integritas dan kecerdasan, kepedulian, minat, potensi, ambisi kematangan dan kesigapan (Indrayanti, 2019:2). Sedangkan fakor eksternal mencakup skitar keluarga, sekitar sekolah serta sekitar masyarakat. Pada faktanya untuk memperoleh prestasi tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun hendak full perjuangan serta tantangan yang hendak dilewati untuk meraihnya. Terdapat dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, yakni faktor internal dan eksternal.

Faktor internal adalah faktor yang datangnya dari dalam diri siswa meliputi faktor fisiologis (kesehatan dan kondisi badan) dan psikologis (minat, potensi, kecerdasan, emosi serta metode belajar). sedangkan faktor

(27)

eksternal bersumber dari luar diri siswa yang dipengaruhi oleh keluarga, sekolah, masyarakat serta sekitar. Menurut Rola dalam (Lomu dan Widodo, 2018) ada empat faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, yakni:

a. Pengaruh keluarga serta adat istiadat yakni ; besarnya kebebasan yang diberikan orang tua terhadap anak, pekerjaan orang tua serta kepedulian orang tua kepada anak mempengaruhi prestasi anak di sekolah.

b. Peranan konsep diri yakni ; konsep diri ialah bagaimana seseorang berfikir mengenai dirinya. Jika seseorang percaya bahwa dirinya dapat

melaksanakan sesuatu, maka seseorang akan tergerak untuk melaksanakan sesuatu didalam dirinya.

Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ialah keadaan yang bisa berpengaruh pada prestasi belajar yang tercipta oleh siswa. Menurut Dalyono (Fathurrohman dan Sulistyorini 2018:55) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ialah:

1. Faktor internal ialah faktor yang berawal dari dalam diri seseorang yang sedang belajar, mencakup : kesehatan, kecerdasan, kemahiran, minat, motivasi dan metode belajar

2. Faktor eksternal ialah faktor yang berawal dari luar diri seseorang yang sedang belajar, mencakup : faktor keluarga, sekolah, masyarakat serta lingkungan sekitar.

Prestasi belajar ialah hasil belajar siswa yang sudah dilaksanakan / yang sudah tercipta dalam semua prosedur pendidikan yang dilaksanakan di sekolah (Rosyid & Abdullah 2019). Terdapat tiga bidang sebagai patokan prestasi belajar siswa yaitu bidang kognitif, afektif serta psikomotorik S Bloom dalam

(28)

(Lismayana 2019). Melewati ketiga bidang tersebut siswa dalam meraih hasil kegiatan belajar mengajar yang memuaskan. Sampai melewati ketiga bidang itu akan terciptanya prestasi belajar.

Djamarah (2002:48) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah tujuan pembelajaran, bahan ajar yang digunakan, kegiatan belajar mengajar, metode, alat, sumber dan evaluasi proses belajar mengajar.

Menurut Edi (2010:2), keberhasilan siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari dalam diri sendiri yang berupa faktor biologis seperti faktor kesehatan dan faktor psikologis seperti kecerdasan, bakat, minat, perhatian serta motivasi.

Sedangkan faktor eksternal yaitu faktor yang berhubungan dengan lingkungan sekolah.

2.1.1.4 Indikator prestasi belajar

Prestasi belajar ialah hasil individu sesudah melewati prosedur kegiatan belajar mengajar yang dikaji dengan alat baik test maupun alat yang lain yang masih bermakna. Tes / alat lain yang bermakna itu hendak sesuai dengan indikator prestasi belajar.

Menurut pendapat Gagne (Simamora, 2014:23) bahwa indikator prestasi belajar ialah:

a. Informasi verbal, yakni kecakapan mengemukakan wawasan dalam bentuk bahasa baik lisan ataupun tertulis. Kemahiran mereaksi secara mendalam terhadap dorongan mendalam.

c. Kemampuan intelektual, yakni kemahiran menjelaskan teori. Kemahiran

(29)

kecerdasan mencakup kemahiran mengelompokkan, kemahiran analisis sintetis kenyataan teori serta mengembangkan prinsip pengetahuan.

d. Keterampilan motorik, yakni kemahiran dalam melaksanakan alur gerak jasmani dalam acara dan organisasi sampai tercipta otomatisme gerak jasmani.

e. Sifat, yakni kemahiran menerima dan menolak obyek berlandaskan

penilaian pada objek itu yaitu mencakup kemahiran internalisasi serta eksternalisasi nilai-nilai.

Sifat tersebut pada landasannya ialah kemahiran menjadikan nilai-nilai sebagai aturan tingkah laku. Dari indikator itu bisa diambil kesimpulan bahwa dalam menetapkan prestasi belajar yang diraih siswa hendak mempertimbangkan lima variabel tersebut dalam prosedur kegiatan belajar mengajar. Adanya indikator prestasi belajar bisa dipakai sebagai patokan individu berhasil mewujudkan prestasi belajar pada level tertentu.

Menurut Ahmad Tafsir dalam (Kurniawan dan Wustqa, 2014) hasil prestasi belajar terdiri dari dua yakni akademis dan non akademis. Segi akademis dipakai untuk mengemukakan level pemahaman materi pengajaran, dan tujuan pengajaran, pemahaman ilmu pelajaran oleh siswa.

Pada prinsipnya menggunakan hasil belajar idealnya meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar.

Hasil yang diperoleh melalui proses belajar ini dinyatakan dengan nilai-nilai (scores), dimana dengan nilai-nilai tersebut dapat dilihat apakah prestasi akademik siswa tersebut tinggi atau rendah. Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa murid sangat

(30)

sulit. Hal ini disebabkan perubahan hasil belajar itu ada yang bersifat intangible (tak dapat diraba). Oleh karena itu yang dapat dilakukan dalam hal ini adalah hanya mengambil cuplikan perubaha tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta, rasa maupun yang berdimensi karsa (Thahir dan Hidriyanti, 2014:62).

Indikator prestasi belajar terdiri dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga ranah tersebut adalah suatu kegiatan yang dinamis, siswa melalui keaktifannya secara terus menerus dalam mengembangkan kemampuannya (Pratiwi dan Meilani 2018 : 177).

2.1.1.5 Tujuan dan Aspek-aspek prestasi belajar

Menurut pendapat (Lomu dan Widodo, 2018) tujuan prestasi belajar yaitu berikut ini:

a. Untuk memahami level pemahaman siswa pada bahan pelajaran yang sudah diberikan.

b. Untuk memahami kecerdasan, motivasi, minat, potensi dan sifat siswa pada sistem kegiatan belajar mengajar.

c. Untuk memahami level peningkatan serta kesesuaian hasil belajar siswa dengan aturan kompetensi / kompetensi utama yang sudah dibuat.

d. Untuk menelaah kelebihan dan kelemahan siswa dalam melewati aktivitas belajar mengajar.

e. Untuk seleksi yakni memilih serta menetapkan siswa yang setara dengan berbagai macam pendidikan tertentu.

(31)

f. Untuk menetapkan kenaikan kelas serta menentukan siswa sesuai dengan bakat yang dipunya.

Aspek prestasi belajar peserta didik menurut Nasution, prestasi belajar siswa bisa disebut sempurna apabila menguasai tiga aspek yakni (Lomu dan Widodo, 2018);

a. Aspek kognitif.

Aspek yang terlibat dengan aktivitas berfikir. Aspek itu amat terlibat erat dengan level intelegensi (IQ) / kemahiran berfikir siswa. Sejak dulu aspek kognitif slalu menjadi pusat perhatian pada strategi pendidikan formal.

b. Aspek afektif.

Aspek yang terlibat dengan nilai dan sifat. Penilaian dalam aspek itu bisa tampak dari kedisiplinan, sifat hormat kepada pendidik, sopan santun dan sebagainya. Aspek afektif terlibat erat dengan kecakapan emosi (EQ) siswa.

c. Aspek psikomotorik.

Menurut KBBI ialah seluruh sesuatu yang terlibat dengan kemahiran gerak fisik yang mempengaruhi sifat psikis. Apabila aspek ini memperlihatkan kemahiran (skill) peserta didik.

2.1.2 Full day school

2.1.2.1 Pengertian full day school

Kata full day school berawal dari bahasa Inggris, full maksudnya penuh, day maksudnya hari, sedangkan school maksudnya sekolah. Full day school ialah sekolah sepenuh hari / prosedur pembelajaran yang ditetapkan dari dini

(32)

sampai petang hari, mulai waktu 07.15-16.00 WIB, dengan jam rehat tiap 2 jam sekali. Full day school menjadikan sekolah bisa membuat waktu pelajaran dengan luas, diimbangkan dengan jenis mata pelajaran dan diperbanyak dengan penguasaan pembelajaran. Hal yang dikhususkan pada full day school ialah pembuatan jadwal mata pelajaran dan penguasaan. Evaluasi dan peningkatan kualitas pendidikan nasional secara berangsur serta berkesinambungan. Bertumpu terhadap Peraturan Pemerintah (Permen) no 23 tahun 2017 mengenai Hari Sekolah memiliki tujuan dalam membentuk kepribadian peserta didik melewati aktivitas intrakurikuler, kokurikuler serta ekstrakulikuler.

Menurut Hasan (2006 : 100-111) Secara bahasa/etimologi fullday schoolberarti sekolah sehari penuh. Berakar dari arti etimologi itulah, dapat diajukan makna definitif, fullday schoolsebagai suatu proses pembelajaran yang berlangsung secara aktif, kreatif, dan transformatif selama sehari penuh bahkan selama kurang lebih 24 jam. Ada dua kata kunci dari pengertian di atas yang perlu dielaborasi lebih lanjut, yaitu :

1. Proses pembelajaran yang berlangsung secara aktif, kreatif, transformatif sekaligus intensif. Sistem persekolahan dan pola fullday schoolmengindikasikan proses pembelajaran yang aktif, dalam arti mengoptimalisasikan seluruh potensi untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Sisi kreatifsistem pembelajaran dengan sistem fullday school terletak pada optimalisasi pemanfaatan sarana dan prasarana sekaligus sistem untuk mewujudkan proses pembelajaran yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi siswa. Adapun

(33)

sisi transformatifproses pembelajaran sistem fullday school adalah proses pembelajaran itu diabdikan untuk mengembangkan seluruh potensi kepribadian siswa dengan lebih seimbang. Singkat kata, proses pembelajaran dalam sistem ini berusaha mengembangkan secara integral; jiwa eksploratif, suka mencari, bertanya, menyelidiki, merumuskan pertanyaan, mencari jawaban, peka menangkap gejala alam sebagai bahan untuk menghubungkan diri; kreatif; suka menciptakan hal-hal baru dan berguna, tidak mudah putus asa ketika berhadapan dengan kesulitan, mampu melihat alternatif ketika semua jalan buntu, serta integral; kemampuan melihat dan menghadapi beragam kehidupan dalam keterpaduan yang realistis, utuh, dan mengembangkan diri secara utuh.

2. Proses pembelajaran selama sehari penuh atau sistem 24 jam untuk melaksanakan proses pembelajaran yang berlangsung aktif. Untuk melaksanakan proses pembelajaran yang berlangsung aktif, kreatif, transformatif, intensif, dan integral diperlukan sistem 24 jam. Ini tidak berarti bahwa selama 24 jam secara penuh siswa belajar mengkaji, menelaah, dan berbagai aktivitas lainnya tanpa mengenal istirahat. Jika demikian yang terjadi, maka proses tersebut bukanlah proses edukasi. Siswa bukanlah robot, mereka membutuhkan relaksasi, santai, dan lepas dari rutinitas yang membosankan. Sistem 24 jam dimaksudkan sebagai ikhtiar bagaimana selama sehari semalam siswa melakukan aktivitas bermakna edukatif.

(34)

Jadi, full day school diartikan seharian penuh. Focus pendidikan kepribadian terhadap full day school tidak hanya terhadap mata pelajaran umum, namun juga aktivitas esktrakulikuler. Jadi, full day school yakni suatu pilihan untuk menerapkan pendidikan karakter sehingga siswa cerdas secara moral dan nalar (Sarima et al., 2020; Sari et al., 2017).

Perbaikan kualitas pendidikan dapat dilakukan melalui pembekalan siswa dengan pendidikan karakter. Pendidikan kepribadian terlibat dengan pertumbuhan diri, karakter serta tingkah laku positif untuk membuat seseorang yang bertanggungjawab (Badawi, 2019). Pendidikan kepribadian memerlukan jangka yang cukup lama, sampai butuh dilaksanakan saat umur masih muda (Rohendi, 2011; Normawati & Hasriana, 2018).

Sistem full day school ialah gaya sekolah umum yang mengkolaborasikan metode pembelajaran Islam secara mendalam yakni dengan membuat tambahan jam khusus untuk intensif spiritual siswa. Full day school ialah sepanjang hari, umumnya diawali pada jam 07.00-16.00 (Asmani, 2017 : 8). Full day school ialah suatu gaya pendidikan pilihan, yang mana siswa sepanjang hari berada di sekolah untuk melaksanakan prosedur kegiatan belajar mengajar serta prosedur ibadah.

Prosedur pembelajaran pada strategi full day school bukan hanya bersifat formal, namun ada banyak kondisi kegiatan belajar mengajar yang bersifat informal serta tidak kaku dan menarik untuk peserta didik (Irma, 2018 : 17).

Full day school menurut (Rahem, 2017 : 30) ialah suatu kolaborasi / kreatifitas kegiatan belajar mengajar untuk membuat sekolah maju, produktif

(35)

serta kreatif dengan metode kegiatan belajar mengajar sistematis yang berdasarkan iman dan taqwa (Imtaq) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Selanjutnya, metode full day school membuat beberapa peluang untuk peserta didik dalam mempelejari materi-materi pelajaran secara intensif, membuat kebebasan dalam kegiatan yang positif, dan membuat tempat sekitar yang baik dalam meningkatkan pendidikan secara tepat sesuai dengan kurikulum yang sudah diresmikan.

2.1.2.2 Konsep dasar dan indikator full day school

Full day school mengimplementasikan sistem integrated activity dan intergrated curriculum yang artinya semua kegiatan serta aktivitas siswa yang berada di sekolah dari datang sampai pulang yang meliputi belajar, ibadah, makan dan istirahat dibentuk dalam suatu lingkungan pendidikan sampai diharapkan bisa membuat karakter siswa yang berilmu tinggi serta bisa mengkombinasikan aspek keterampilan serta wawasan dengan sifat yang bagus dan Islami. Integrated activity ialah sebuah sistem yang mengkombinasikan antar semua aktivitas di sekolah dengan aktivitas yang berkonsep Islami, yakni dengan lebih mengutamakan konsep-konsep spiritual dalam aktivitas siswa tiap harinya.

Dengan terdapat sistem integrated curriculum, kurikulum yang sudah ditentukan oleh Departemen Pendidikan Nasional dikombinasikan dengan kurikulum agama yang dibuat sendiri oleh full day school, yang artinya membuat pendidikan umum diperluas dengan pendidikan spiritual. Begitu

(36)

juga dengan SMP Negeri 4 Merangin, mengkombinasikan kurikulum umum dengan kurikulum spiritual dan mengedepankan konsep keteladanan siswa.

Kurikulum full day school tidak hanya memperluas jam belajar serta menambah materi pelajaran saja, namun juga diusahakan untuk bisa mengarahkan kemandirian siswa dan mengembangkan inovatif siswa dalam wilayah kognitif, afektif serta psikomotorik. Sistem full day school di SMP Negeri 4 Merangin juga mengoptimalkan kemahiran dan peningkatan siswa pada masing-masing kegiatan belajarnya dengan diinternalisasikannya konsep-konsep spiritual pada masing-masing aktivitas belajar siswa.

Titik tekan dalam program full day school tersebut yakni siswa bisa menjadi siswa yang selalu berintelektual sampai diharapkan bisa terjadi perkembangan yang tepat dalam hasil dan prestasi pembelajaran. Hakikat Full Day School belajar seharian penuh dengan rangkaian kegiatan-kegiatan yang mendidik untuk menjadi lebih baik, pada umumnya kegiatan dalam pembelajaran ini ada beberapa indikator atau unsur yang mendukung.

2.1.2.3 Tujuan full day school

Adapun tujuan pengimplementasian program full day school ialah untuk mengembangkan kualitas pendidikan serta mutu pendidikan, yakni dengan metode menjunjung prosedur pembelajaran secara lebih luas dan mencapai masing-masing aspek dengan kecepatan tinggi itu hendak dibalas secara mendalam oleh instansi pendidikan supaya siswa sigap dalam melewati serangan lingkungan yang luar biasa. Dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi (Suyyinah, 2019:16).

(37)

Tujuan pelaksanaan full day school ada dua tujuan utama. Pertama adalah memberikan dasar yang kuat terhadap siswa dan kedua adalah untuk mengembangkan minat dan bakat serta meningkatkan kecerdasan siswa dalam segala aspeknya (Wicaksono, 2018:14).

Full day school selain memiliki tujuan meningkatkan manajemen kualitas pendidikan yang paling khusus ialah full day school memiliki tujuan sebagai sebuah usaha pembimbing keperilakuan siswa dan menumbuhkan nilai positif (Rahem, 2017 ; 30). Full day school juga membuat landasan yang kuat dalam belajar terhadap semua aspek yakni peningkatan wawasan, fisik, sosial dan sentimental.

Dengan demikian, dibutuhkan inovasi progresif akseleratif untuk mengembangkan mutu instansi pendidikan. Kalau tidak terdapat inovasi kreatifitas instansi pendidikan di negara ini akan semakin terbelakang.

Pengaruhnya, negeri ini tidak mahir melahirkan calon-calon bangsa yang sigap memiliki daya saing di tingkat dunia sebab minimnya pengetahuan skill serta tanggung jawab.

Pada ranah ini full day school ada sebagai pengendalian masalah pilihan yang amat produktif untuk mengembangkan mutu pendidikan secara maksimal untuk tercapainya masa depan bangsa yang bermutu tinggi (Asmani, 2017:7). Selain itu tujuan sistem kegiatan belajar mengajar full day school ialah untuk membuat landasan yang kuat dalam peningkatan dan pertumbuhan intelektual, dengan bermacam kreatifitas yang efisien dan terpercaya.

(38)

Full day school mengkombinasikan wawasan umum dengan wawasan spiritual. Gaya yang ditingkatkan ialah pengintegrasian antar pendidikan umum dengan mengoptimalkan pertumbuhan aspek kognitif, afektif serta psikomotorik (Ida yanti, 2018:42). Siswa akan menjadi lebih dinamis sebab ketertarikan dan potensi mereka bisa ditata dan difasilitasi oleh sekolah, selanjutnya konsep positif yang diberikan oleh sekolah misalnya kebiasaan melaksanakan sholat jama’ah, membaca al-qur’an, puasa sunnah akan membuat keladziman yang dilaksanakan oleh siswa dalam kehidupan keseharian tanpa dibatasi masa, dan mempunyai kemahiran akademik yang tinggi.

Dengan pemberlakuan full day school bisa membuat landasan pendidikan agama yang kuat kepada siswa untuk mengembangkan peluang dan intelektual siswa baik dalam hal kognitif ataupun keagamaan.

2.1.2.4 Karakteristik dan faktor-faktor yang mempengaruhi full day school

Adapun karakteristik full day school dimana program full day school dikaji dari aspek keorganisasian, leadership serta manajemennya bertumpu terhadap teori yang mengutamakan keteladanan perilaku dan prestasi akademis dan non akademis (Suyyinah. 2019:11). Kunci keberhasilan full day school itu sebetulnya dilihat terhadap kemahiran sumber daya manusia dalam mewujudkan teori-teori yang idealis. Dengan maksud lain, reliabilitas pribadi dan tanggung jawab para pengelola sekolah menjadi komponen utama untuk terciptanya tujuan sekolah (Asmani.2017:20).

(39)

Adapun Menurut Nur Hilalah (2012:37) faktor pendukung keberhasilan program full day school ialah berikut ini :

(1) area sekolah yang kondusif, bisa terselenggarakan jika kepala sekolah mempunyai kecakapan emosi tinggi serta model leadership yang bagus.

(2) kompetensi manajerial kepala sekolah, mencakup kemahiran manajemen dan leadership yang dilengkapi keterampilan, metode serta teknik.

(3) tanggung jawab pendidik, diharapkan mahir membawa pengaruh positif pada keberhasilan prosedur pembelajaran dan mahir mengoptimalkan peningkatan siswa dengan baik.

(4) kelengkapan fasilitas, fasilitas itu meliputi buku referensi, kelas, labor, ruang komputer, dan lain sebagainya.

Seluruh itu amat bermanfaat sebagai penunjang pemberlakuan full day school bahkan menjadi komponen yang amat penting dalam keberlangsungan prosedur pembelajaran.

Gaya kegiatan belajar mengajar terpadu ialah metode integrated bisa mengembangkan kegiatan serta produktivitas siswa, yakni pengembangan hasil belajar siswa dalam korelasinya dengan pemahaman materi utama, sifat serta keterampilan siswa dalam pembelajaran dikelas. Tentunya diwujudkan sesuai dengan aturan-aturan dari kegiatan belajar mengajar terpadu integrated (Asmani. 2017:100).

2.1.2.5 Kelebihan dan Kelemahan full day school

Full day school mempunyai kelebihan yaitu siswa mempunyai banyak waktu di sekolah untuk belajar sampai dapat mengembangkan penguasaan peserta didik kepada materi belajar (Permatasari et al., 2019 : 32). Sistem full

(40)

day school merupakan usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengoptimalkan pendidikan kepribadian di Indonesia (Iskandar &

Narimo,2018 : 45). Pengimplementasian sistem full day school memiliki peranan penting pada pembentukan kepribadian siswa. Lamanya masa siswa di sekolah bisa mempermudah pendidik untuk mengarahkan serta menetapkan nilai-nilai positif dalam pemberlakuannya (Wulandari et al., 2018 : 50).

Menurut sebagian kelebihan dan kelemahan dari program full day school yaitu (Nazudi & Hermawan, 2019 : 38):

a. Kelebihan full day school

1) Program full day school tampaknya lebih terselenggarakannya pendidikan yang integral sebelum mengemukakan bahwa target pendidikan mencakup 3 jenis yaitu kognitif, afektif serta psikomotorik. Sebab melewati program asrama dan model full day school tendensi membimbing pemahaman terhadap segi kognitif saja bisa lebih ditangkal, yang berarti aspek afektif peserta didik bisa lebih dibimbing sekian juga terhadap aspek psikomotoriknya.

2) Program full day school tampaknya lebih terselenggarakannya secara mendalam serta produktivitas prosedur pembelajaran. Full day school dengan model asrama yang tersentralisir serta metode pengontrolan 24 jam tampaknya tercapainya intensif prosedur pendidikan yang berarti pesrta didik lebih mudah dibimbing dan dibangun searah dengan visi dan tujuan instansi yang terkait, karena kegiatan peserta didik lebih mudah dilihat sebab saat awal telah dibimbing.

(41)

3) Program full day school ialah instansi yang teruji efisien dalam menerapkan kemahiran kognitif, afeksi serta psikomotorik peserta didik.

2.1.3 Kemandirian belajar

2.1.3.1 Pengertian Kemandirian Belajar

Woltres (dalam Muhtadi, 2017:5) mengemukakan kemandirian belajar sebagai sebuah prosedur dinamis serta konstruktif yang mana siswa bisa menetapkan tujuan belajarnya, eksperimen monitor, menentukan serta dapat mengontrol kognisi, inovatif dan tingkah laku dengan diarahkan oleh tujuan dan ciri khas kontekstual pada lingkungan.

Kemandirian belajar dimaksudkan sebagai sebuah prosedur kegiatan belajar mengajar pada diri individu dalam terciptanya tujuan tertentu yang harus dinamis secara sendiri-sendiri atau tidak ketergantungan dengan orang lain mencakup pendidik (Fajriyah, et. al, 2018:288, Rustyani, et. al, 2018:266). Kemandirian yang dipunyai siswa yakni untuk meningkatkan rasa percaya diri “confident” yang amat penting untuk siswa (Diniyah, 2018:15) dan lebih mudah dalam menerima bahan ajar pelajaran sampai membangun kepribadian siswa menjadi lebih baik. Kemandirian belajar bisa diartikan secara integral dari pengertian kemandirian serta pengertian belajar (Budiman

& Budi, 2016).

Kemandirian belajar bisa dilakukan oleh individu jika individu itu mempunyai rasa percaya diri “confident” (Pratiwi & Laksmiwati, 2016).

Kemandirian yaitu kondisi yang mana individu mempunyai rasa daya saing untuk maju demi kebaikan dirinya, dapat menetapkan keputusan serta pandai

(42)

mencari solusi untuk masalah yang dilewati, mempunyai rasa percaya diri

“confident” dalam mengerjakan kewajiban serta profesional dengan apa yang dilaksanakannya (Egok, 2016:189).

Kemandirian belajar ialah kombinasi teori yakni kemandirian dan belajar. Menurut Tirtarahardja dan La Sulo dalam (Pratama, 2019:149) menjelaskan “kemandirian belajar ialah kegiatan belajar yang berlangsung lebih didukung oleh keinginan sendiri, alternatif sendiri serta profesionalitas sendiri”.

Oleh karena itu, hendak terdapat keinginan serta kesadaran dari diri sendiri untuk mengembangkan kemandirian belajar. Berlandaskan pengertian para ahli tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa kemandirian belajar ialah kemahiran siswa untuk mengatur seluruh kegiatan pribadi, kompetensi dan kepasitas secara mandiri tidak ketergantungan dengan orang lain, dan memiliki kemahiran dasar yang dipunyai siswa itu, terutama dalam belajar.

2.1.3.2 Ciri-Ciri Kemandirian Belajar

Ciri-ciri kemandirian belajar ialah dapat berfikir secara inovatif, cerdas serta teliti, tidak mudah terpengaruh oleh persepsi orang lain, tidak menjauh dari sebuah problem, menyelesaikan problem dengan berfikir yang intensif, jika menghampiri problem diselesaikan sendiri jangan menyuruh orang lain, tidak merasa malu jika tidak sama dengan orang lain, berupaya bekerja dengan full kedisiplinan dan gigih dan profesional dengan perilakunya sendiri (Prayuda,Thomas & Basri, 2014 : 27).

Kemandirian belajar ialah sebuah perilaku yang bisa dilaksanakan oleh individu dalam masing-masing prosedur pembelajarannya. Peserta didik yang

(43)

mempunyai kemandirian dalam belajar tentunya mempunyai karakteristik utama yang membedakannya dengan siswa yang hanya bertumpu pada pemaparan pendidik.

Sebagaimana dijelaskan oleh Rusman (2010: 366) yang mengemukakan bahwa siswa yang telah mandiri memiliki ciri khas yaitu : siswa yang telah memahami dengan pasti apa yang mau dia ciptakan dalam aktivitas belajarnya, siswa telah bisa memilih sumber belajarnya sendiri, siswa telah bisa menilai level kemahiran yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan atau menyelesaikan problem yang dilewati dalam kehidupannya.

2.1.3.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Kemandirian belajar

Dalam mengimplementasian kemandirian belajar memang terdapat sebagian faktor yang mempengaruhi Sanjaya (2020:278) mengemukakan kemandirian belajar dipengaruhi dengan dua faktor, yaitu faktor dari dalam dan dari luar. Faktor internal ialah faktor yang ada didalam diri siswa itu sendiri antara lain faktor sentimental dan faktor kecerdasan yang punyai masing-masing siswa, sedangkan faktor eskternal, ialah faktor dar luar seseorang, yang mencakup faktor fasilitas, model ausuh, interaksi dengan sesama, area sekitar, ciri khas sosial dan stimulasi.

Kemandirian seorang anak tentu tidak sama antar remaja yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini sangat wajar dan alamiah karena banyak faktor yang menjadi alasan perbedaan tersebut.

Ada sebagian faktor yang mempengaruhi kemandirian siswa, tetapi secara umum ada 2 faktor, yaitu.

(44)

1. Faktor Internal

Faktor internal ialah faktor yang datang dari seseuatu yang tertuju terhadap diri individu baik yang bersifat fidik ataupun mental, mencakup situasi kehidupan pada keluarganya, contohnya keturunan, model asuh, pendidikan, keuangan, sosial, umur serta jenis kelamin.

2. Faktor Eksternal

Faktor eskternal ialah sesuatu yang bisa mempengaruhi kemandirian individu yang tumbuh dari luar diri dan keluarganya, contohnya pendidikan sekolah, kehidupan sehari-hari, adat istiadat, pola hidup, teknologi serta pertemanan.

Menurut Muhammad Ali & Muhammad Asrori total faktor yang biasanya dinamakan sebagai korelat untuk peningkatan kemandirian yakni:

a. Gen atau keturunan orang tua b. Pola asuh orang tua

c. Sistem pendidikan di sekolah d. Sistem kehidupan masyarakat 2.1.3.4 Tujuan kemandirian belajar

Secara umum terdapat sebagian alasan yang terkait dengan pentingnya kemandirian belajar untuk siswa dalam prosedur kegiatan belajar mengajar pendidikan agama Islam. Contohnya ialah masalah yang dialami siswa dikelas ataupun diluar kelas ialah tuntutan kurikulum yang bermanfaat untuk meminimalisir ketergantungan siswa dangan orang lain semakin kompleks dalam kehidupan keseharian.

(45)

Konsep-konsep kegiatan belajar mengajar mandiri yang bisa dipakai pendidik di dalam kelas yakni pada segi penilaian diri, sebagai pemikiran bagaimana pendidik mengkaji model pembelajaran mereka serta gaya pengontrolan kognitif.

Kemandirian belajar sendiri berarti sikap, keinginan serta kemahiran siswa untuk melaksanakan aktivitas belajar dinamis yang dibantu oleh ambisi untuk memahami sesuatu kompetensi yang sudah ditentukan (Assagaf, 2017;

Foster & Cresap, 2012; Mulyono, 2017; Pratiwi et al., 2018; Sundayana, 2019; Tezer et al., 2019; Robiana & Handoko, 2020; Nurhikmayati &

Suhendar, 2020).

Kemandirian belajar sebagai suatu kekuatan dalam diri seseorang pada melaksanakan sesuatu tanpa bergantungan dengan orang lain sungguhnya memiliki makna yang penting untuk siswa dalam membuat planning, mengelola serta mengurus aktivitas belajarnya.

Bisa dipandang bahwa jika level kemandirian siswa tinggi, maka bisa diharapkan siswa itu akan bisa meraih hasil yang lebih unggul dari siswa lain.

Orang tua diberikan tanggung jawab lebih besar dibandingkan pendidik untuk membimbing anak. Tetapi hal tersebut akan menjadi masalah saat kemandirian anak semasa belajar di rumah menurun, mempengaruhi prestasi belajarnya.

Apabila kemandirian belajar siswa maksimal dan siswa tidak bergantung kepada orang lain untuk melaksanakan aktivitas belajar, maka prestasi belajar anak juga akan menigkat. Hal tersebut disebabkan akan mencari tahu sendiri mengenai apa yang mereka dapat serta siswa bisa lebih

(46)

menguasai materi yang diberikan. Dengan adanya semangat serta bantuan dari orang lain untuk siswa melaksanakan aktivitas belajar mandiri bisa membuat siswa berprestasi di sekolah.

2.1.3.5 Indikator Kemandirian belajar

Nahdliyati, Parmin dan Taufiq (2016 : 102) mengemukakan bahwa kemandirian belajar siswa bisa dilihat dari sebagian indikator yakni inisiatif, percaya diri, motivasi, disiplin serta tanggung jawab. Dalam menganalisis kekuatan kemandirian belajar individu maka diperlukan indikator sebagai tumpuan. Adapun indikator kemandirian belajar menurut Mudjiman (2018:9) yakni:

1. Keaktifan Belajar

Siswa yang mempunyai keaktifan belajar menentukan tingginya kemandirian belajar yang dipunyai.

2. Persistensi Kegiatan Belajar

Terdapat persistensi aktivitas belajar, menentukan terdapat kemandirian belajar juga dalam diri siswa. Hal itu sebab pada belajar mandiri, kecepatan belajar serta kekuatan aktivitas belajar ditetapkan diri individu pelajar, seimbang dengan keperluan, kemahiran yang dipunyai siswa.

3. Keterarahan Belajar

Siswa yang memiliki arah belajar menentukan terdapat kemandirian belajar juga, karena siswa belajar supaya mempunyai petunjuk yang transparan dalam aktivitas belajarnya dan untuk menyelesaikan problem / memenuhi keperluannya.

(47)

4. Kreativitas Pembelajar

Kreativitas pembelajar tersebut bisa dilakukan melewati sifat siswa dalam memanfaatkan bermacam sumber belajar. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa indikator itu yang mencakup ketekunan belajar, berkesinambungan aktivitas belajar, tujuan belajar dan inovatif belajar, dijadikan patokan dalam mengkaji kekuatan kemandirian belajar siswa di dalam sebuah prosedur kegiatan belajar mengajar.

2.1.4 Penelitian Relevan

Dalam pelaksanaan suatu kajian, maka harus diidentifikasi terlebih dahulu hasil dari kajian terdahulunya agar dapat dijadikan sebagai bahan acuannya. Hal ini berfungsi agar banyaknya teori yang dapat melandaskan pelaksanaan penelitian tersebut.

Untuk itu, terdapat beberapa hasil kajian yang dilakukan sebelumnya, dalam hal ini dijelaskan secara terperinci di bawah:

1) Nurhayati Sinurat (2020) pada penelitian yang berjudul “Hubungan Persepsi Tentang Full Day School Dengan Stres Akademik, Prestasi Belajar Dan Karakter Peserta Didik”. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa: (1) terdapat hubungan antara persepsi tentang full day school dengan stres akademik peserta didik (Sig.(2-tailed)

= 0,008; (2) tidak terdapat hubungan antara persepsi tentang full day school dengan prestasi belajar peserta didik (Sig.(2-tailed) = 0,922; (3) terdapat hubungan antara persepsi tentang full day school dengan karakter peserta didik (Sig.(2-tailed) = 0,000.

(48)

2) Sapendi (2019) pada penelitian yang berjudul “Hubungan Antara Kemandirian Belajar Siswa Dengan Prestasi Belajar Matematika Kelas VIII Di SMPN 3 Narmada Tahun Pembelajaran 2018/2019”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kemandirian belajar matematika dengan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII di SMPN 3 Narmada. Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Berdasarkan hasil uji signifikansi tersebut diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,863 serta kontribusi hubungan kemndirian belajar dengan prestasi belajar sebesar 74,4% sedangkan 26.6% sisanya terdapat faktor lain di luar kemandirian belajar seperti motovasi, bakat, dan intelegensi, diperoleh pula t hitung sebesar 11, 840 dengan taraf signifikan α=0,05 serta derajat keabsahan (dk n−2=49) untuk pengujian dua sisidiperoleh haga t tabel sebesar 2,0 11. Kriteria uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah H0ditolak apabila t hitung sama dengan atau lebih besar dari t tabel. Karena harga t hitung (11,840)≥

ttabel(2,011), maka H0ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kemandirian belajar siswa dengan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMPN 3 Narmada tahun pelajaran 2018/2019.

3) Dewi Putri Apriyanti (2018) dalam penelitian yang berjudul “Hubungan Kemandirian Belajar Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas III SDN 109 Tuara Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang”. Hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa kemandirian belajar peserta didik kelas III SDN 109 TUARA Kecamatan Enrekang

(49)

Kabupaaten Enrekng secara kualitatif dikategorikan cukup baik dengan skor rata-rata 67,16 dan prestasi belajar secara kuantitatif dikategorikan cukup baik dengan rata-rata 78,63. analisis korelasi sederhana digunakan dalam menguji hubungan antara kemandirian belajar dengan prestasi belajar peserta didik kelas III SDN 109 TUARA Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang. Hasil berikut: didapat bahwa nilai r hitung 0,860 lebih besar dari pada nilai r tabel 0,361. Hal ini membuktikan bahwa nilai analisis data lebih tinggi atau lebih besar dari pada nilai r tabel.

4) Popi nopita sari (2021) dalam penelitian yang berjudul “Penerapan sistem full day school dalam pembelajaran pendidikan agama islam di SMP Negeri 24 Kota Bengkulu”. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan pengimplementasian program full day school pada kegiatan belajar mengajar pendidikan agama Islam di SMP Negeri 24 Kota Bengkulu telah baik dan efisien sebab pendidik pendidikan agama Islam sudah melakukan kewajiban sebagai pendidik yang dinamis, produktif serta menyenangkan.

Masih terdapat pesserta didik yang belum aktif untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar, fasilitas yang belum memadai apabila dipakai saat wakti bersamaan contohnya infokus.

5) Heni astuti (2022) dalam penelitian yang berjudul “ Hubungan antara kemandirian belajar terhadap hasil belajar kimia siswa kelas X di SMAN 7 purworejo”. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan positif dan signifikan pengaruh kemandirian belajar terhadap hasil belajar kimia siswa kelas X SMA Negeri 7 Purworejo tahun 2017/2018. Hal ini ditunjukkan dengan hasil korelasi Kendall’s Tau data

(50)

angket variabel kemandirian belajar terhadap hasil belajar diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,288, nilai konstanta variable kemandirian belajar data angket terhadap hasil belajar 40,457, sedangkan nilai koefisien kemandirian belajar adalah 0,299, nilai r 2 sebesar 0,121 dan nilai signifikan si 0,000 dengan taraf signifikansi 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kemandirian belajar maka akan semakin meningkat pula hasil belajar kimia yang akan dicapai siswa.

6) Puja monika hasti (2020) dalam penelitian yang berjudul “Kontribusi Penerapan Full Day School dan Lingkungan Sekolah terhadap Pembentukan Karakter Siswa”. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan full day school, lingkungan sekolah, dan pembentukan karakter siswa di sekolah dasar (SD) swasta se-kota Sungai Penuh termasuk dalam kategori “Sangat Baik” Dengan rata-rata skor total setiap variabel yaitu, full day school rata-rata skor totalnya sebesar 452,7, lingkungan sekolah rata-rata skor totalnya sebesar 444,5,dan pembentukan karakter rata-rata skor totalnya sebesar 453,4.

Selanjutnya juga terdapat kontribusi yang positif antara variabel bebas tehadap variabel terikatnya baik secara parsial maupun secara simultan.

2.2 Kerangka Berpikir

Menurut Uma Sekaran (Sugiyino 2017:60) menjelaskan “Kerangka berpikir ialah gaya konseptual mengenai konsep yang berhubungan dengan beberapa factor yang sudah dianalisis sebagai problem yang penting”.

Menurut konsep belajar humanistik (Sulaiman & Neviyarni, 2021:223)

(51)

“Siswa hendak memiliki kemahiran untuk membimbing sendiri tingkah laku dalam belajar (kemandirian belajar), apa yang akan dibahas hingga level mana, kapan serta bagaimana mereka akan belajar”.

Setara dengan pandangan itu siswa hendak dapat membimbing dan mengatur dirinya dalam belajar tanpa bergantung dengan orang lain, sekalian hendak terdapat ambisi diri supaya tidak hanya menjadi penerima yang kaku.

Pada hakikatnya penelitian ialah sebuah usaha dalam menjelaskan kenyataan, untuk memudahkan serta membimbing dalam prosedur berpikir maka dibuatlah kerangka berpikir untuk meraih tujuan penelitian dan membatasi supaya penelitian yang dilakukan menjadi lebih fokus, menjadi berkembang dan maju merupakan suatu pencapaian atau keberhasilan dari sebuah instansi dalam hal ini ialah sekolah yang ditandai dengan perubahan yang dialami oleh sekolah tersebut. Suatu prestasi hasil dalam belajar di sekolah ialah hasil usaha belajar yang amat banyak mempunyai hubungan dengan kemahiran secara universal yang bisa kita kaji. Jadi, prestasi belajar tidaklah hal yang hanya bisa dicermati namun ialah hal yang bisa ditarik kesimppulan adanya sebab suatu keabsahan keberhasilan belajar / kemahiran murid dalam melaksanakan aktivitas belajarnya setara dengan bobot yang diraihnya dengan aktivitas belajar nya yang aktif.

Berdasarkan kerangka berfikir seperti diatas dapat dirumuskan dalam bentuk skema paradigma penelitian berikut ini:

Referensi

Dokumen terkait

Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2015 mencatat surplus sebesar USD 430 juta, lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Juli lalu sebesar USD 1.39

Pengamatan awal ini dilaksanakan untuk mengetahui apakah benar kelas ini perlu diberi tindakan yang sesuai dengan apa yang akan diteliti yaitu upaya meningkatkan

Adapun tujuan khusus yang hendak dicapai adalah: (a) mengkaji permasalahan yang timbul akibat kegiatan pembebasan lahan di sepanjang jalur transmisi; (b) mengkaji perubahan

Maka, sebanyak hampir 800 orang Yahudi Bani Quraizhah, dibunuh pada hari itu juga atas pengkhianatan mereka. Setelah dikepung selama 25 hari, Bani Quraizhah

Peraturan Menteri Sosial Nomor 20 Tahun 2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang

38 Pada penelitian ini dilakukan Uji Validitas dan Reliabilitas terhadap kuesioner SCOPA-AUT sehingga didapatkan instrumen SCOPA-AUT dalam versi bahasa Indonesia

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis minat peserta didik dalam mengikuti mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam sangat antusias karena pada saat pembelajaarn

Berdasarkan hasil penelitian dimana Mobilisasi dini pada ibu post partum dengan SC memiliki dampak terhadap involution Uteri di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang