PERBEDAAN HASIL TANGKAPAN GILL NET PUTIH DAN HIJAU DI PERAIRAN DESA SUNGAI JAMBAT KECAMATAN SADU
KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR
SKRIPSI
APDA REZAH E1E018063
PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI 2023
PERBEDAAN HASIL TANGKAPAN GILL NET PUTIH DAN HIJAU DI PERAIRAN DESA SUNGAI JAMBAT KECAMATAN SADU
KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR Apda Rezah (E1E018063), Dibawah Bimbingan :
Noferdiman1) dan Lisna2)
RINGKASAN
Gill net merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Perairan Desa Sungai Jambat untuk melakukan penangkapan, Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil tangkapan gill net dengan menggunakan warna jaring yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Desa Sungai Jambat, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dari tanggal 25 Juni 2022 sampai 25 Juli 2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode exsperimental fishing, untuk mengetahui adanya perbedaan hasil tangkapan dengan menggunakan warna jaring yang berbeda dilakukan rancangan percobaan uji T-test dengan 2 perlakuan selama 16 pengulangan. Data yang dihimpun ialah komposisi hasil tangkapan (spesies\ekor), jumlah hasil tangkapan (ekor), berat hasil tangkapan (kg), jumlah udang mantis (ekor), ukuran udang mantis (inchi), dan parameter linkungan seperti suhu, pH dan salinitas.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa spesies hasil tangkapan gill net yang tertangkap di Perairan Desa Sungai Jambat Kecamatan Sadu adalah Udang Mantis yang merupakan hasil tangkapan utama, sedangkan ikan pari, ikan senangin, ikan bawal putih, ikan duri, ikan gulamah dan rajungan merupakan hasil tangkapan sampingan. Jumlah hasil tangkapan pada jaring warna putih berjumlah 2576 ekor dengan berat 267,7 kg dan pada jaring warna hijau berjumlah 2049 ekor dengan berat 228,2 kg. sedangkan jumlah hasil tangkapan udang mantis pada jaring warna putih berjumlah 462 ekor dan pada jaring warna hijau berjumlah 405 ekor. Berdasarkan ukuran, udang mantis paling banyak didapatkan pada ukuran A (Besar) yaitu berjumlah 178 ekor pada jaring warna putih dan 167 ekor pada jaring warna hijau.
Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan hasil dan berat tangkapan alat tangkap gill net warna putih dan hijau, hasil tangkapan gill net warna putih lebih banyak dan lebih berat di bandingkan gill net warna hijau.
1) Pembimbing Utama
2) Pembimbing Pendamping
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Perbedaan Hasil Tangkapan Gill Net Putih Dan Hijau Di Perairan Desa Sungai Jambat Kecamatan Sadu Kabupaten Tanjung Jabung Timur.” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah yang berlaku.
Jambi, Januari 2023
Apda Rezah
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kampung Renah Desa Panca Karya Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi, pada tanggal 29 Juli 2000. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bapak M.Yatim dan Ibu Helmaini. Pendidikan penulis dimulai dengan memasuki pendidikan Sekolah Dasar (SD) 129 Desa Panca Karya, Kecamatan Limun Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi pada tahun 2006-2012. Kemudian penulis melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (MTS.N) Madrasah Tsanawiyah Negeri Sarolangun, Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi pada Tahun 2012-2015. Selanjutnya penulis masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Sarolangun, Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada tahun 2015-2018. Pada tahun 2018 penulis diterima sebagai Mahasiswa Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Peternakan Universitas Jambi melalui jalur Seleksi Mandiri Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMMPTN). Selama kuliah penulis pernah menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Perikanan pada priode 2020-2021 di bidang Budaya dan Seni Olaraga (BUDSENORA) dan priode 2021- 2022 menjabat sebagai sekretaris di bidang Riset dan Teknologi (RISTEK), penulis juga bergabung di organisasi di luar kampus yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjabat sebagai Kepala Bidang kewirausahaan dan pengembangan profesi (KPP). Penulis mengikuti kegiatan magang selama 60 hari di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam Jambi pada tanggal 04 Oktober – 04 Desember 2021.
i PRAKATA
Alhamdulillahirabbil „aalamin, puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat, hidayah serta karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul “Perbedaan Hasil Tangkapan Gill Net Putih dan Hijau Di Perairan Desa Sungai Jambat Kecamatan Sadu Kabupaten Tanjung Jabung Timur.”sebagai persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) pada Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Peternakan, Universitas Jambi.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penyelesaian skripsi ini telah banyak melibatkan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Kedua orang tua tercinta yang selalu memberi motivasi pada setiap proses, Bapak M.Yatim dan Ibu Tota Helmaini yang terus mendoakan, memberi dukungan moral serta materi selama penulis melakukan penelitian dan proses penyelesaian skripsi ini.
2. Bapak Dr. Ir. Agus Budiansyah, M.S. Selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan arahan serta bimbingan selama penulis menempuh pendidikan di Fakultas Peternakan.
3. Ibu Dr. Drh. Sri Wigati, M. Agr. Sc. Selaku Ketua Jurusan Perikanan Fakultas Peternakan Universitas Jambi.
4. Ibu Lisna, S.Pi., M.Si. selaku pembimbing pendamping dan Ketua Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Peternakan Universitas Jambi, yang telah banyak membantu, meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk penulis dalam menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi.
5. Bapak Dr. Ir. Noferdiman, M.P. selaku pembimbing utama yang telah banyak membantu dan membimbing saya dalam penelitian dan studi di Fakultas Peternakan Universitas Jambi, meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk penulis dalam menyelesaikan studi, dan penyusunan skripsi.
ii 6. Terimakasih kepada tim penguji ibu Prof. Dr. Ir. Hj. Nurhayati, M.Sc. agr. Ibu Nelwida, S.Pt., M.P. dan bapak Fauzan Ramadan, S.Pi., M.Si. juga selaku pembimbing magang yang telah banyak memberikan kritik dan saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini sehingga isi dari skripsi ini dapat menjadi lebih baik.
7. Keluarga Besar Dosen Perikanan dan Peternakan yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah memberikan ilmu, bimbingan, dan arahan selama perkuliahan.
8. Keluarga Besar Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam Jambi yang telah membantu dan memberikan banyak ilmu serta menerima penulis dalam melaksanakan kegiatan Magang.
9. Kepada teman-teman PSP khususnya kelas A angkatan 2018 atas kerjasama dan dan dukungan disaat susah senang yang telah kita lalui bersama- sama selama kuliah.
10. Kepada teman-teman satu tim magang yaitu Apdi Vico Sumantri M, Sandy Kurniawan, Mashum, Ardiansyah, Ilham, Bibit, Sarah Angelina, Melati yang telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan kegiatan Magang.
11. Sahabat penulis , Juan, Wontri, Priski, Irvan, Ferdi, Wagito, sindy, Getra, Dll.
terima kasih atas motivasi dan semangat yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.
Demikian skripsi ini dibuat, semoga dapat bermanfaat dan digunakan sebagaimana mestinya. Akhir kata penulis mengucapkan banyak terimakasih.
Jambi, Januari 2023
Apda Rezah
iii DAFTAR ISI
Halaman
PRAKATA ... i
DADTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 3
1.3 Manfaat ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1 Alat Tangap Gill net ... 4
2.2 Kontruksi Alat Tangkap Gill net ... 5
2.3 Pengaruh Warna Jaring Terhadap Hasil Tangkapan ... 6
2.4 Hasil Tangkapan ... 6
2.4.1 Tangkapan Utama... 7
2.4.2 Tangkapan Sampingan ... 8
2.5 Umpan ... 12
2.6 Parameter Lingkungan ... 13
2.6.1 Suhu ... 13
2.6.2 pH (Derajat Keasaman) ... 14
2.6.3 Salinitas ... 14
BAB III METODE PENELITIAN... 15
3.1 Tempat dan Waktu ... 15
3.2 Materi dan Peralatan ... 15
3.3 Metode Penelitian ... 15
3.4 Prosedur Penelitian ... 16
3.5 Data yang di himpun ... 17
3.6 Analisis Data ... 17
BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN ... 19
4.1 Kondisi Umum Lokasi Penelitian ... 19
4.2 Parameter Lingkungan ... 20
4.3 Komposisi Hasil Tangkapan Gill net ... 21
4.4 Hasil Tangkapan Menggunakan Warna Jaring yang Berbeda Berdasarkan Jumlah ... 23
4.5 Hasil Tangkapan Menggunakan Warna Jaring yang Berbeda Berdasarkan Berat... 24
4.6 Hasil Tangkapan Utama ... 25
4.6.1 Jumlah Hasil Tangkapan Udang Mantis ... 25
4.6.2 Ukuran Hasil Tangkapan Udang Mantis ... 27
iv
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 28
5.1 Kesimpulan ... 28
5.2 Saran ... 28
DAFTAR PUSTAKA ... 29
LAMPIRAN ... 34
v DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Alat Tangkap Gill net ... 5
2. Kontruksi Alat Tangkap Gill net ... 6
3. Udang Mantis ... 8
4. Ikan pari ... 9
5. Ikan Senangin ... 9
6. Ikan Bawal ... 10
7. Ikan Duri ... 10
8. Ikan Gulamah ... 11
9. Rajungan ... 11
10. Umpan ... 13
11. Peta Lokasi Pengambilan Sampel ... 19
vi DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Parameter Lingkungan di Perairan Desa Sungai Jambat ... 20 2. Komposisi Hasil Tangkapan Gill Net Warna Putih dan Hijau Selama
16 Kali Pengulangan.. ... 22 3. Jumlah Hasil Tangkapan Gill Net Warna Putih dan Hijau (ekor) ... 23 4. Berat Hasil Tangkapan Gill Net Warna Putih dan Hijau (Kg) ... 24 5. Jumlah Hasil Tangkapan Udang Mantis pada Warna Jaring Gill Net
Putih dan Hijau ... 26 6. Ukuran Hasil Tangkapan Gill Net Warna Putih dan Hijau Selama 16
Kali Pengulangan ... 27
vii DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Parameter Lingkungan ... 34
2. Komposisi Jenis Hasil Tangkapan Gill Net Warna Putih dan Hijau ... 35
3. Uji-T Hasil Tangkapan Gill Net Warna Putih dan Hijau (Ekor) ... 36
4. Uji-T Berat Hasil Tangkapan Gill Net Warna Putih dan Hijau (Kg) ... 36
5. Uji - T Jumlah Hasil Tangkapan Udang Mantis pada Warna Jaring Gill net Putih dan Hijau ... 40
6. Ukuran Hasil Tangkapan Udang Mantis Warna Jaring Putih ... 42
7. Ukuran Hasil Tangkapan Udang Mantis Warna Jaring Hijau ... 42
8. Komponen-Komponen Gill net ... 43
9. Proses Penelitian dan Pengukuran Parameter Lingkungan ... 44
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kabupaten Tanjung Jabung Timur mempunyai potensi sumber daya alam pada sektor kelautan dan perikanan yang cukup besar, dengan panjang garis pantai 191 Km yang membentang dari perbatasan Kabupaten Tanjung Jabung Barat sampai dengan perbatasan Provinsi Sumatra Selatan yang memiliki perikanan tangkap laut dengan luas areal 77.752 hektar. Berdasarkan produksi ikan menurut sub sektor Dinas Perikanan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, hasil perikanan tangkap yang terdiri dari perikanan laut produksinya yang mencapai 23.491,54 ton, perikanan umum mencapai 130,86 ton, serta hasil budidaya perikanan mencapai 120,4 ton. Dari berbagai jenis perikanan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur ini dengan produksi terbesar untuk perairan laut terdapat di Kecamatan Mendahara, Kecamatan Nipah Panjang, Kecamatan Muara Sabak Timur, Kecamatan Sadu dan Kecamatan Kuala Jambi (Sub sektor Dinas Perikanan Kabupaten Tanjung Jabung Timur (2020).
Kecamatan Sadu memiliki luas wilayah 1.821 km2 sebelah utara berbatasan dengan Laut Cina Selatan, sebelah timur berbatasan dengan Laut Cina Selatan, sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Nipah Panjang dan Taman Nasional Berbak. Kecamatan Sadu terdiri dari beberapa desa yaitu Sungai Benuh, Labuhan Pering, Air Hitam Laut, Remau Baku Tuo, Sungai Sayang, Sungai Jambat, Sungai Lokan, Sungai Itik (Badan Pusat Statistik Kabupaten Tanjung Jabung Timur, 2021).
Kecamatan Sadu memiliki jumlah nelayan sebesar 355 masing-masing menggunakan alat tangkap yaitu gill net 128 nelayan, gombang 19 nelayan, rawai 56 nelayan, belat 47 nelayan dan jaring kantong 105 nelayan. Masyarakat di Desa Sungai Jambat yang menggunakan alat tangkap gill net berjumlah 10 orang, yang menggunakan jaring gill net warna putih 5 orang dan yang menggunakan jaring gill net warna hijau 5 orang. Kebiasaan yang terjadi di kalangan masyarakat nelayan di Desa Sungai Jambat adalah mereka sering sekali menggunakan alat
2 tangkap jaring insang (gill net). Kegiatan tersebut dilakukan karna nelayan jaring insang (gill net) mendapatkan hasil tangkapan yang bernilai ekonomis tinggi.
Hasil tangkapan yang di dapat berupa udang mantis atau mayoritas nelayan menyebutnya udang nenek, udang ketak dan udang kipas. Udang mantis disebut juga udang lipan, udang getak, udang mentadak, udang eiko, udang ronggeng, dan udang belalang, dalam Bahasa Inggris disebut mantis shrimp atau ada juga yang menyebut dengan praying shrimp (Gonser, 2003).
Kelebihan dari penggunaan jaring gill net warna putih adalah saat jaring berada di perairan jaring tidak akan mudah terlihat oleh ikan dan udang dikarnakan warna jaring yang menyatu dengan air ditambah dengan sinar matahari yang membuat jaring semakin tidak terlihat, sehingga ikan dan udang sulit mendeteksi keberadaan jaring di dalam perairan hal ini dapat menyebabkan ikan dan udang dapat terjerat atau terperangkap. Menurut Saputra (2016), Keunggulan jaring yang berwarna bening adalah jaring yang berwarna bening saat berada di perairan sulit terdeteksi keberadaanya sehingga ikan sulit mendeteksi keberadaan jaring di dalam perairan, dan ikan dapat terjerat atau terperangkap.
Kelebihan dan kekurangan dari penggunaan jaring gill net warna hijau ini adalah penggunaan jaring warna hijau ini harus sesuai dengan kondisi perairan, seperti dikondisi perairan yang menyerupai dengan warna jaring sehingga jaring warna hijau tidak terlalu terlihat oleh ikan. Kekurangan nya adalah jaring warna hijau tidak terlalu efektif di gunakan di kondisi warna perairan yang bening dikarnakan warna yang sangat kontras, sehingga dapat terlihat oleh ikan dan udang. Mory (1968) dalam Gunarso (1986) mengemukakan bahwa ikan-ikan yang tertangkap dengan gill net terutama secara gilled atau entangled terjadi karena ikan tidak cukup waspada terhadap kehadiran jaring dan dalam keadaan demikian mereka menumburkan diri pada dinding jaring ataupun mencoba menerobosnya.
Menurut Syahdan, M. (2010) ikan-ikan akan mengetahui adanya jaring melalui organ reseptor yang mereka miliki, antara lain dengan indera pelihatnya maupun mendeteksi adanya jaring melalui getaran maupun bunyi desir atau desau jaring yang terayun ataupun diterjang arus dan gelombang melalui indera pendengar maupun organ gurat sisi mereka. Hal-hal demikian menyebabkan ikan mampu untuk mengetahui adanya jaring di dalam air.
3 Hasi tangkapan utama gill net di Desa Sungai Jambat adalah udang mantis yang biasanya di sebut udang ketak oleh masyarakat Desa Sungai Jambat, penangkapan udang mantis di Desa Sungai Jambat pada umumnya menggunakan umpan dari ikan hasil tangkapan sampingan (by catch). Umpan yang biasa dipakai nelayan yaitu ikan gulama (Pennahia argentata), ikan pari (Dasyatis sp), dan ikan duri (Hexanematichthys sagor) dari pernyataan di atas peneliti tertarik menggunakan umpan ikan pari di karnakan ikan pari didapat dari hasil tangkapan sampingan dan nelayan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, menggunakan ikan pari sebagai umpan karena daging ikan pari tidak cepat hancur atau habis di dalam air dan ikan pari juga memiliki bau yang kuat sehingga dapat memikat ikan dan udang untuk mendekati jaring. Hal ini sesuai dengan pendapat Yudha (2006).
ikan pari memiliki bau yang sangat menyegat karena kondisi tubuhnya yang mengandung banyak unsur logam berat.
Berdasarkan uraian di atas maka telah di lakukan penelitian tentang
“Perbedaan Hasil Tangkapan Gill Net Putih dan Hijau di Perairan Desa Sungai Jambat Kecamatan Sadu Kabupaten Tanjung Jabung Timur.”
1.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil tangkapan gill net, dengan menggunakan warna jaring yang berbeda di Perairan Desa Sungai Jambat.
1.3 Manfaat
Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak terkait seperti Pemerintah, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi dan nelayan atau masyarakat di Desa Sungai Jambat Kecamatan Sadu tentang hasil tangkapan gill net dengan menggunakan warna jaring yang berbeda yaitu putih dan hijau dengan umpan ikan pari (Dasyatis sp).
4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Alat Tangkap Gill net
Jaring insang (gill net) memiliki bahan utama berupa jaring, selain jaring bagian-bagian lain alat ini yaitu pelampung (float) dan tali pelampung (float line), tali ris atas dan tali ris bawah, badan jaring (webbing atau net), pemberat (sinker) dan tali pemberat (sinker line) (Putrinatami, 2010).
Jaring insang (gill net) termasuk jaring insang lingkar (encircling gill net) adalah jenis alat tangkap ikan yang terdiri dari badan jaring (webbing) serta memiliki efisiensi dan selektifitas karena berbentuk empat persegi panjang dan cenderung memiliki ukuran mata jaring (mesh size) tertentu yang seragam.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menunjang keberhasilan penangkapan ikan dengan mengunakan alat tangkap jaring insang ialah spesifikasi alat (jenis bahan jaring, panjang dan tinggi jaring, pengkerutan jaring, ukuran mata jaring dan warna jaring), pengetahuan dan ketrampilan nelayan, pengetahuan akan musim (Johannes, et al., 2011).
Jaring insang (gill net) yang umum berlaku di Indonesia adalah salah satu jenis alat penangkapan ikan dari bahan jaring yang bentuknya empat persegi panjang, dimana mata jaring dari jaring bagian utama ukurannya sama, jumlah mata jaring ke arah panjang atau ke arah horizontal (mesh length) jauh lebih banyak daripada jumlah mata jaring ke arah vertikal atau ke arah dalam (mesh depth), pada bagian atasnya dilengkapi dengan beberapa pelampung (floats) dan di bagian bawah dilengkapi dengan beberapa pemberat (sinkers) sehingga dengan adanya dua gaya yang berlawanan dapat dipasang di daerah penangkapan dalam keadaan tegak (Martasuganda, 2004).
Secara umum jaring insang adalah suatu jenis alat tangkap ikan dari bahan jaring yang bentuknya empat persegi panjang dimana mata jaring dari bagian jaring utama ukurannya sama. Jumlah mata jaring ke arah horizontal (Mesh Length/ML) jauh lebih banyak dari pada jumlah mata jaring ke arah vertikal atau kearah dalam (Mesh Depth/MD). Usaha penangkapan yang didasarkan pada analisis lingkungan perairan lebih mudah, dan lebih efisien dalam meningkatkan
5 hasil tangkapan per unit usaha penangkapan (Manalu, et al., 2015). Alat tangkap gill net dapat di lihat pada Gambar 1
Gambar 1. Alat Tangap Gill net 2.2 Kontruksi Alat Tangkap Gill net
Kontruksi umum, yang disebutkan dengan gill net ialah jaring yang berbentuk persegi panjang yang mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh jaring, lebar jaring lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya, dengan kata lain, jumlah mezh depth lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mezh size pada arah panjang jaring. Pada lembaran-lembaran jaring, pada bagian atas dilekatkan pelampung (float) dan pada bagian bawah diletakkan pemberat (sinker). Dengan menggunakan gaya yang berlawanan arah, yaitu bouyancy dari float yang bergerak menuju ke atas dan sinking force dari sinker ditambah dengan berat jaring di dalam air yang bergerak menuju ke bawah, maka jaring akan terlentang. Detail konstruksi, kedua ujung jaring diikatkan pemberat. Posisi jaring dapat diperkirakan pada float berbendera atau bertanda yang dilekatkan pada kedua belah pihak ujung jaring. Karakteristik, gillnet berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung yang terbuat dari plastik, pemberat pemberat yang terbuat dari timah, tali ris atas dan tali ris bawah yang bahannya terbuat dari plastik. Besarnya mata jaring bervariasi tergantung sasaran yang akan ditangkap baik udang maupun ikan. (Ayodhyoa, 1974 dalam Bakpas, 2011). Kontruksi alat tangkap gill net dapat kita lihat pada Gambar 2.
6 Gambar 2. Kontruksi alat tangkap Gill net
2.3 Pengaruh Warna Jaring Terhadap Hasil Tangkapan
Hubungan antara Warna dengan prilaku Ikan ialah jika warna dari jaring tidak sesuai dengan Warna perairan maka ikan akan menghindar. Karena diakibatkan pantulan dari cahaya matahari dan bulan terutama pada siang hari sehingga basil penangkapan tidak maksimal. Ikan akan mendekat dan mendabrak jaring apa bilah Warna jari disesuaikan Dengan Warna Perairan terutama pada malam hari karena tidak ada Cahaya sehingga basil tangkapan lebih efektif (Sutoyo, 2018).
Warna jaring pada gillnet harus disesuaikan dengan warna perairan tempat gillnet dioperasikan, kadang dipergunakan bahan yang transparan seperti monofilament agar jaring tersebut tidak dapat dilihat oleh ikan bila dipasang diperairan(Sadhori, 1985 dalam Bakpas, 2011).
Menurut Syahdan, (2010) warna jaring dalam air banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kecerahan, penetrasi cahaya matahari, kedalaman perairan dan lain-lain. Penggunaan warna-warna tertentu tentulah akan menciptakan
“derajat” terlihatnyajaring yang berbeda untuk jenis-jenis ikan yang berbeda pula.
Bagi ikan, adanya jaringdi dalam air, terlebih apabila terlihat dengan jelas akan merupakan suatu benda pengahalang (penghadang ataupun pengganggu) bagi gerak renang maupun ruaya ikan.
2.4 Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan adalah komposisi hasil tangkapan yang diperoleh dari penangkapan sesuai dengan alat tangkap yang digunakan. Hasil tangkapan utama
7 adalah sasaran target utama dari penangkapan yang dilakukan, mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi, yang banyak diminati konsumen. Sedangkan hasil tangkapan sampingan merupakan hasil tangkapan yang bukan menjadi target utama dari penangkapan yang dilakukan. Dalam pengertian yang luas, hasil tangkapan sampingan mencakup semua hewan yang bukan merupakan sasaran utama bahkan termasuk benda-benda tidak hidup (sampah) yang tertangkap ketika melakukan operasi penangkapan (Eayrs, 2005 dalam Nofrizal et al., 2018).
2.4.1 Tangkapan Utama
Hasil tangkapan utama pada alat tangkap gill net ini adalah udang mantis.
Udang mantis disebut juga dengan udang lipan, udang ronggeng dan sebagian daerah seperti daerah Indragiri Hilir, Riau dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Sabak) disebut dengan udang Nenek (Gonser, 2003). Spesies Harpiosquilla raphidea hidup di daerah intertidal dengan hamparan berlumpur (mudflat) dengan kedalaman lumpur antara 50-200 cm; salinitas berkisar 12-19 ppt; oksigen terlarut pada kisaran 6,7-7,6 mg/L; pH pada kisaran 7,1-7,8; dan suhu pada kisaran 28,5°C-30,5°C (Astuti, 2013).
Udang mantis termasuk hewan karnivora dan termasuk hewan yang aktif disiang hari (diurnal), malam hari (nokturnal), maupun aktif pada waktu matahari terbenam (crepuscular). Udang mantis merupakan salah satu jenis udang predator yang mampu menyerang mangsa dengan ukuran lima kali lebih besar dari ukuran badannya. Udang mantis mempunyai bentuk badan yang unik karena merupakan kombinasi morfologi dari udang, lobster, dan belalang sembah. Ukuran badan udang mantis bisa mencapai 35 cm dengan bobot antara 20-200 g/ekor. Udang mantis merupakan salah satu komoditas unggulan yang di ekspor ke negara lain salah satunya yaitu negara Hongkong dan Taiwan, karena merupakan salah satu komoditas ekspor maka banyak dari para nelayan yang menangkap udang ini (Gonser, 2003).
Menurut Intankiswari (2012) kadar protein udang mantis mencapai 87,09% lebih tinggi dibandingkan jenis udang yang lain. Mengkonsumsi udang mantisberkasiat menambah keperkasaan bagi kaum pria. Manfaat lain dari udang mantis adalah dapat menyembuhkan penyakit buang air kecil yang berkali-kali dan dapatmengobati kebiasaan mengompol pada anak-anak.
8 Klasifikasi udang mantis (Harpiosquilla raphidea) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia Filum : Crustacea Kelas : Malacostraca Subkelas : Hoplocarida Ordo : Stomatopoda Subordo : Unipeltata Superfamili : Squilloidea Famili : Harpiosquillidae Genus : Harpiosquilla
Spesies : Harpiosquilla raphidea
Gambar 3. Udang Mantis 2.4.2 Tangkapan Sampingan
Hasil tangkapan sampingan merupakan hasil tangkapan yang bukan menjadi target utama dari penangkapan yang dilakukan. Dalam pengertian yang luas, hasil tangkapan sampingan mencakup semua hewan yang bukan merupakan sasaran utama bahkan termasuk benda-benda tidak hidup (sampah) yang tertangkap ketika melakukan operasi penangkapan (Eayrs, 2005 dalam Nofrizal et al., 2018)
1. Ikan Pari (Dasyatis sp)
Indonesia diperkirakan merupakan negara yang paling tinggi dalam penangkapan menghasilkan ikan pari (ikan kelompok elasmobranchii) (Nurdin dan Hufiadi, 2017)
Ikan pari memiliki celah insang yang terletak di sisi ventral kepala. Sirip dada ikan ini melebar menyerupai sayap, dengan sisi bagian depan bergabung
9 dengan kepala. Bagian tubuh sangat pipih sehingga memungkinkan untuk hidup di dasar laut. Bentuk ekor seperti cambuk pada beberapa spesies dengan sebuah atau lebih duri tajam di bagian ventral dan dorsal (Endang, 2009).
Gambar 4. Ikan Pari 2. ikan Senangin
Ikan senangin termasuk kedalam golongan ikan yang hidup di perairan dasar (demersal) dengan substratyang berlumpur (Fauzi, 2021)
Pada dasarnya ikan senangin termasuk ikan karnivora, sehingga jenis makanan yang dimakan tidak jauh berbeda, hanya tergantung pada faktor kondisi lingkungan dan ketersediaan makanan di perairan (Titrawani et al., 2013).
Gambar 5. Ikan Senangin 3. Ikan Bawal
Ikan bawal Putih Ekor Pendek ini merupakan salah satu ikan yang mampu berenang cepat. Pada usia sekitar 10 hari bentuk tubuhnya sedikit lebih besar.
tubuh ikan Putih Ekor Pendek ketika berukuran kecil berwarna hitam dengan bintik-bintik kuning pada bagian badan tertentu. Semakin bertumbuhnya ikan bawal Putih Ekor Pendek maka warna tubuh berangsur berubah menjadi putih dengan bentuk badan gepeng membulat (Febrianti et al. 2016)
10 Ikan bawal mempunyai kemampuan melihat pada waktu siang hari dengan kekuatan penerangan sampai ratusan ribu lux (Febri et al., 2020)
Gambar 6. Ikan Bawal 4. Ikan Duri
Ikan duri memiliki beberapa sebutan atau nama-nama seperti kedukang, badukang, dukang atau babukan, sedangkan dalam bahasa inggris ikan duri disebut sangor Catfish atau sea-catfish. Karakteristik ikan ini adalah tidak bersisik, umumnya mempuyai panjang 45 cm, kepala memipih datar kearah moncong serta bersungut pada bagian rahang atas serta ujungnya dapat menggapai sampai pertengahan sirip dada ataupun lebih (Nasution, 2021)
Gambar 7. Ikan Duri 5. Ikan Gulama
Ikan Gulamah (Johnius trachycephalus) merupakan salah satu jenis ikan yang banyak diminati masyarakat. Selain dagingnya yang lembut dan tebal ikan gulamah mempunyai nilai ekonomi sebagai ikan konsumsi dengan harga terjangkau masyarakat umumnya yaitu sekitar 25.000/kg (Siagian et al., 2017)
Suhu dan kejenuhan oksigen berpengaruh sangat kuat terhadap kepadatan populasi ikan gulamah. Kejenuhan oksigen yang tinggi juga dapat meningkatkan
11 populasi ikan gulamah. Kondisi kejenuhan oksigen yang tinggi mengindikasikan bahwa terjadinya proses fotosintesis yang berjalan cukup lancar akan menghasilkan oksigen yang banyak sehingga dapat menurunkan suhu perairan Ikan gulamah (Johnius trachycephalus) adalah salah satu ikan demersal (Siagian et al., 2017)
Gambar 8. Ikan Gulamah 6. Rajungan
Hasil tangkapan rajungan banyak ditemukan pada hasil tangkapan di dasar perairan. By-catch perikanan rajungan secara umum terbagi dalam dua kelompok, yaitu tidak berharga atau terbuang, dan yang bernilai ekonomis atau dipertahankan (Alverson et al 1994 dalam Abdul 2019).
Penangkapan rajungan umumnya dilakukan nelayan skala kecil dengan menggunakan alat tangkap bubu lipat, jaring insang, garuk dan sero. Bubu dan jaring insang merupakan alat penangkapan utama rajungan, sedangkan pada perikanan garuk dan sero rajungan sebagai hasil tangkapan sampingan. Masing- masing jenis alat penangkapan rajungan memiliki selektifitas yang berbeda terhadap ukuran rajungan yang tertangkap (Baihaqi et al., 2021)
Gambar 9. Rajungan
12 2.5 Umpan
Umpan merupakan salah satu bentuk ransangan (stimulus) yang bersifat fisika dan kimia yang dapat memberikan respon bagi ikan-ikan tertentu pada proses penangkapan ikan. Umpan merupakan media pemikat ikan-ikan yang berada di sekitar bubu agar tertarik dan terperangkap masuk ke dalam bubu.
umpan sangat mempengaruhi hasil tangkapan bubu. Umpan yang digunakan (baik jenis dan ukurannya) harus dapat memberikan rangsangan bagi ikan dan terget tangkapan lainnya untuk mendekati dan memakan umpan tersebut (Boesono dkk.
2012).
Jenis ikan pari memiliki bau yang menyengat karena kondisi tubuhnya memiliki kandungan kadar air yang tinggi. ( Nurhamita, 2022).
Tertariknya ikan terhadap umpan disebabkan oleh rangsangan berupa rasa, bau, bentuk, gerakan dan warna. Kebanyakan ikan akan memberikan reaksi jika benda yang dilihatnya bergerak, mempunyai bentuk, warna dan bau. (Adlina, 2014).
Salah satu jenis umpan yang digunakan dalam menangkap udang mantis di Desa Sungai Jambat Kecamatan Sadu yaitu ikan pari . Ikan pari atau Dasyatis sp adalah jenis ikan yang terdapat di seluruh dunia. Ikan pari masih satu family dengan ikan jerung, tetapi tidak seperti ikan jerung, yang merupakan pemangsa yang mengerikan dengan rahang yang kuat, ikan pari jarang sekali menyerang manusia dan mulutnya yang kecil bukanlah ancaman yang membahayakan. Pada pangkal ekor ikan pari terdapat taji sekitar 8 inch yang diselubungi dengan bahan yang membentuk sisik ikan hiu, yang dikenali sebagai dermis dentikle (dermal denticles).
Ikan pari memiliki celah insang yang terletak di sisi ventral kepala. Sirip dada ikan ini melebar menyerupai sayap, dengan sisi bagian depan bergabung dengan kepala. Bagian tubuh sangat pipih sehingga memungkinkan untuk hidup di dasar laut. Bentuk ekor seperti cambuk pada beberapa spesies dengan sebuah atau lebih duri tajam di bagian ventral dan dorsal (Endang, 2009).
13 Klasifikasi ikan pari adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Chondrichtyes Subkelas : Elasmobranchii Famili : Dasyatidae Spesies : Dasyatis sp.
Gambar 10. Umpan 2.6 Parameter Lingkungan
2.6.1 Suhu
Suhu perairan merupakan salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme di perairan. Suhu merupakan salah satu faktor eksternal yang paling mudah untuk diteliti dan ditentukan. Aktivitas metabolisme serta penyebaran organisme air banyak dipengaruhi oleh suhu air (Nontji, 2005). Suhu juga sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pertumbuhan biota air, suhu pada badan air dipengaruhi oleh musim, lintang, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan dan aliran serta kedalaman air. Suhu perairan berperan mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Peningkatan suhu menyebabkan peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba (Effendi, 2003). Kenaikan suhu dapat menyebabkan stratifikasi atau pelapisan air, stratifikasi air ini dapat berpengaruh terhadap pengadukan air dan diperlukan dalam rangka penyebaran oksigen sehingga dengan adanya pelapisan air tersebut di lapisan dasar tidak
14 menjadi anaerob. Perubahan suhu permukaan dapat berpengaruh terhadap proses fisik, kimia dan biologi di perairan tersebut (Kusumaningtyas et al., 2014).
2.6.2 pH (Derajat Keasaman)
Derajat keasaman (pH) merupakan logaritma negatif dari konsentrasi ion- ion hidrogen yang terlepas dalam suatu cairan dan merupakan indikator baik buruknya suatu perairan. Derajat keasaman sangat menentukan kualitas air karena sangat membantu proses kimiawi air (Andria dan Rahmaningsih, 2018).
Variasi nilai pH perairan sangat mempengaruhi biota di suatu perairan.
Selain itu, tingginya nilai pH sangat menentukan dominasi fitoplankton yang mempengaruhi tingkat produktivitas primer suatu perairan dimana keberadaan fitoplankton didukung oleh ketersediaanya nutrien di perairan laut (Megawati et al., 2014).
2.6.3 Salinitas
Air payau merupakan campuran antara air tawar dan air laut (air asin) yang memiliki salinitas lebih dari 0,5 ppt, sehingga air payau tidak dapat dikonsumsi dan digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (Purwaningtyas et al.
2020).
15 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat Dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Desa Sungai Jambat, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur dari tanggal 25 Juni sampai 25 Juli 2022.
3.2 Materi Dan Peralatan
Materi yang di gunakan dalam penelitian ini ialah hasil tangkapan dari alat tangkap gill net yang berwarna putih dan gill net berwarna hijau dengan menggunakan umpan berupa ikan pari (Dasyatis sp). Umpan ikan pari yang di gunakan dalam penelitian ini adalah ikan pari yang berukura kecil yang tidak memiliki nilai ekonomis, diperoleh dari hasil tangkapan sampingan alasan mengunakan umpan ikan pari yaitu ikan pari memiliki bau yang tajam sehingga dapat memikat ikan dan udang mendekati jaring.
Peralatan yang digunakan adalah alat tangkap gill net yang berwarna putih dan gill net berwarna hijau dengan ukuran mata jaring 4 inci dengan panjang 900 meter dan tinggi 1,5 meter, thermometer untuk mengukur suhu, pH meter untuk mengukur pH, Refraktometer untuk mengukur salinitas, timbangan, handphone, alat tulis, penggaris, dan laptop.
3.3 Metode Penelitian
Metode yang digunakan pada peneltian ini yaitu experimental fishing.
Metode eksperimental yaitu suatu rancangan percobaan yang diujicobakan untuk memperoleh informasi tentang persoalan yang sedang diteliti (Watem et al., 2015). Pengambilan data penelitian ini didapat secara langsung dengan melakukan kegiatan operasi penangkapan dengan nelayan setempat menggunakan alat tangkap gill net warna putih dan hijau.
Sample pada penelitian ini ditentukan dengan metode Simple Random Sempling yaitu sejumlah 20% nelayan gill net warna putih dan hijau. Metode pengumpulan sample yang digunakan adalah Simple Random Sempling yaitu pengambilan anggota sample dari populasi yang di lakukan secara acak tampa memperhatikan strata/golangan yang ada dalam populasi itu (Sugiyono, 2018).
16 Penelitian ini dilakukan dengan operasi penangkapan langsung dengan 2 orang nelayan yang menggunakan 2 unit alat tangkap jaring gill net warna putih dan hijau dengan panjang jaring 900 metar dan 2 kapal/pompong dengan 16 kali pengulangan.
3.4 Prosedur Penelitian
1. Pengoperasian gill net dilakukan bersama nelayan. Penelitian dimulai dengan mempersiapkan bahan dan peralatan yang diperlukan seperti BBM, kapal, jaring, dan sebagainya yang diperlukan untuk persedian selama melaut.
2. Penentuan daerah lokasi penangkapan dilakukan dengan menggunakan pengalaman dari nelayan, karena masih bersifat tradisional nelayan berangkat sekitar jam 7-8 pagi, waktu yang ditempuh menuju daerah penangkapan ± 1 jam
3. Selanjutnya menurunkan pelampung tanda, pelampung utama, badan jaring dan pemberat. Pemasangan umpan dilakukan pada saat penurunan jaring dengan bantuan peniti ke bagian mata jaring (mesh size) dari alat tangkap gill net, pemasangan umpan dikaitkan berjejer lurus pada badan jaring, jumlah umpan yang dibutuhkan yaitu 300 potongan ikan pari ukuran ± 3 cm dengan berat masing-masing perumpan 20 gram, jarak satu umpan ke umpan yang lainnya yaitu ± 3 meter. sampai semuanya diturunkan atau sudah terbentang dengan sempurna. Waktu yang dibutuhkan selama penurunan jaring sekitar ± 1 jam.
Pada penelitian ini dilakukan dua perlakuan dengan warna jaring yang berbeda berupa warna jaring putih dan hijau.
4. Pengukuran parameter lingkungan seperti suhu, pH, dan salinitas. Pengukurn parameter lingkungan dilakukan setelah selesai pemasangan alat tangkap gill net.
5. Setelah 2 jam terentang di perairan lalu dilakukan penarikan atau pengangkatan. Pada saat melakukan penarikan, alat tangkap disusun kembali dengan baik seperti sediakalanya agar tidak berantakan. Waktu yang dibutuhkan selama penarikan jaring yaitu sekitar ± 2 jam. Udang mantis hasil tangkapan kemudian dimasukkan ke dalam box yang berisikan air.
17 6. Pada setiap pengangkatan (hauling), dilakukan pengamatan terhadap hasil tangkapan. Selanjutnya dilakukan pencatatan terhadap jumlah udang, panjang udang, dan komposisi hasil yang tertangkap gill net.
3.5 Data yang Dihimpun
Data yang dihimpun dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengamatan langsung di lapangan terhadap jumlah hasil tangkapan yang diperoleh saat operasi dari masing-masing alat tangkap Gill net berupa:
1. Hasil tangkapan/spesies (Ekor)
Jenis hasil tangkapan / spesies pada Gill net warna jaring putih dan hijau 2. Jumlah hasil tangkapan (Ekor)
Jumlah total hasil tangkapan Gill net warna jaring putih dan hijau.
3. Berat hasil tangkapan (Kg)
Berat total dari setiap hasil tangkapan Gill net warna putih dan hijau.
4. Jumlah udang mantis (Ekor)
Jumlah total hasil tangkapan udang mantis yang didapat pada Gill net warna putih dan hijau.
5. Ukuran udang mantis (Inchi)
Panjang udang mantis yang tertangkap dihitung per ekor dalam satuan inchi.
6. Parameter lingkungan
Parameter lingkungan yang diukur adalah suhu, pH, dan salinitas.
Data sekunder meliputi data yang diperoleh dari jurnal penelitian, buku- buku, Peraturan Mentri Kelautan dan Perikanan, serta Dinas Perikanan Tanjung Jabung Timur.
3.6 Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif dimana data hasil tangkapan yang diperoleh selama penelitian dicatat kemudian ditabulasikan kedalam tabel menurut perbedaan warna jaring putih dan hijau, lalu dibahas secara deskriptif.
18 Untuk mengetahui adanya perbedaan hasil tangkapan mengunakan alat tangkap gill net dengan warna jaring yang berbeda maka dilakukan uji T-test, uji t yang digunakan adalah Independent sample t-test. Uji t ini bertujuan untuk membandingkan rata-rata dua grup yang tidak saling berpasangan atau berkaitan.
Prinsip pengujian ini adalah melihat perbedaan variasi kedua kelompok data, sehingga sebelum dilakukan uji t, terlebih dahulu harus diketahui apakah variannya sama atau berbeda. Kemudian dilakukan perhitungan menggunakan uji t. Dengan menggunakan rumus sebagai berikut : (Priyatno, 2010 Dalam Mulyawan et., al 2015).
√( ) ( ) ( ) Keterangan :
t = Nilai t hitung
X1 = Rata-rata hasil tangkapan pada jaring warna putih (ekor) X2 = Rata-rata hasil tangkapan pada jarring warna hijau (ekor) n1 = Jumlah sample kelompok 1
n2 = Jumlah sample kelompok 2 n = Jumlah dari n1 + n2
s 2 = Variance nilai kelompok
19 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Kabupaten Tanjung Jabung Timur mempunyai potensi sumberdaya alam pada sektor kelautan dan perikanan yang cukup besar, dengan panjang garis pantai 191 Km yang membentang dari perbatasan Kabupaten Tanjung Jabung Barat sampai dengan perbatasan Provinsi Sumatra Selatan yang memiliki perikanan tangkap laut dengan luas areal 77.752 hektar. Berdasarkan produksi ikan menurut sub sektor Dinas Perikanan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, hasil perikanan tangkap yang terdiri dari perikanan laut produksinya mencapai 23.491, 54 ton, perairan umum mencapai 130,86 ton, serta hasil budidaya perikanan mencapai 120,4 ton. Dari berbagai jenis perairan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur ini dengan produksi terbesar untuk perairan laut terdapat di Kecamatan Mendahara, Kecamatan Nipah Panjang, Kecamatan Muara Sabak Timur, Kecamatan Sadu, dan Kecamatan Kuala Jambi (Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, 2018).
Gambar 11. Peta Lokasi Pengambilan Sampel
20 Kecamatan Sadu merupakan daerah penghasil perikanan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Perairan Desa Sungai Jambat Kecamatan Sadu memiliki karakteristik arus dan gelombang yang tenang, airnya keruh berwarna kecoklatan dengan dasar perairan yang berlumpur dan berpasir. Kondisi ini sangat cocok untuk habitat udang mantis, udang mantis secara umum cenderung berada di dasar perairan dengan cara membenamkan diri ke dasar perairan untuk berlindung.
Karakteristik substrat dasar juga cukup mempengeruhi kehidupan udang mantis, dimana substrat tersebut merupakan habitat udang mantis. Tipe substrat di suatu perairan dipengaruhi oleh masukan yang berasal dari air sungai dan laut serta kecepetan arus. Apabila arus kuat maka partikel yang mengendap adalah partikel yang ukurannya besar, sebaliknya apabila arusnya lemah maka lumpur halus mengendap di dasar perairan.
4.2. Parameter Lingkungan
Parameter lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam usaha penangkapan udang dan ikan. Dilakukan pengukuran parameter lingkungan berupa suhu, pH, dan Salinitas di Perairan Desa Sungai Jambat dapat dilihat pada Tabel 1
Tabel 1. Parameter Lingkungan Di Perairan Desa Sungai Jambat
Keterangan Suhu (OC) pH Salinitas
Rata-rata 28,19 7,44 18,81
Kisaran 27 - 30 7,1 - 7,9 17 - 21
Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa suhu merupakan salah satu faktor parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap biota yang ada diperairan. Kondisi perairan yang terkena paparan sinar matahari adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kondisi suhu dan hal tersebut yang dapat mengatur proses kehidupan biota yang ada di perairan. Suhu yang diukur selama penelitian yaitu terdapat pada kisaran 27-30°C dengan rata-rata 28,19oC. Menurut Effendie (2003) kisaran suhu optimum bagi pertumbuhan ikan di perairan adalah 20 - 30ºC. Diperjelas oleh Romimohtarto dan Juwana (2001) Umumnya organisme akuatik memerlukan suhu optimum berkisar antara 20 -30oC,
21 sedangkan suhu optimum untuk beberapa jenis krustasea adalah 26-30OC.
Menurut Sidiq et al. (2015) semakin tinggi suhu perairan maka hasil tangkapan akan bertambah dan kebalikannya semakin redah suhu perairan maka menurun jumlah hasil tangkapan.
Hasil pengukuran derajat keasaman (pH) di permukaan Perairan Desa Sungai Jambat selama penelitian berkisaran 7,1 – 7,9 dengan rata-rata 7,44.
Derajat keasaman sangat menentukan kualitas air karena sangat membantu proses kimia air, titik kematian ikan pada pH asam adalah 4, dan pada basa adalah 11.
Umumnya ikan dapat hidup pada pH yang berkisaran antara 6,5 – 8 ( Andria dan Rahmaningsi, 2018 ).
Hasil pengukuran salinitas pada Perairan Desa Sungai Jambat selama penelitian berkisaran 17 – 21 dengan rata-rata 18,81. Salinitas merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan organisme laut. Menurut Fardiansyah (2011) nilai salinitas air untuk perairan tawar berkisar antara 0–5 ppt, perairan payau biasanya berkisar antara 6–29 ppt, dan perairan laut berkisar antara 30–40ppt.
4.3. Komposisi Hasil Tangkapan Gill net
Alat tangkap Gill net di perairan Desa Sungai Jambat dioperasikan untuk menangkap udang mantis (Harpiosquilla raphidea) dan terdapat juga hasil tangkapan sampingannya yaitu ikan pari (Dasyatis sp), ikan senangin (Eleutheronema tetradactylum), ikan bawal (Pampus argenteus), ikan duri (Hexanematichthys sagor), ikan gulama (Johnius trachycephalus), dan Rajungan (Portunus pelagicus). Hasil tangkapan utama dari alat tangkap gill net di Perairan Desa sungai Jambat di tentukan dari nilai ekonomis dan dari segi fungsi alat tangkap yang di gunakan seperti alat tangkap yang digunakan oleh nelayan di Desa Sungai Jambat yang berfungsi untuk menangkapa udang mantis. Hal ini sesuai dengan pendapat Mirnawati (2019), hasil tangkapan utama (primary catch) merupakan target tangkapan dan memiliki nilai ekonomis tinggi, sedangkan hasil tangkapan sampingan (by-catch) merupakan hasil tangkapan yang memiliki nilai ekonomis rendah.
22 Tabel 2. Komposisi Hasil Tangkapan Gill Net Warna Putih dan Hijau Selama 16
Kali Pengulangan.
Berdasarkan Tabel 2, hasil tangkapan yang banyak tertangkap di jaring putih dan hijau adalah ikan gulama (Johnius trachycephalus) dan udang mantis (Harpiosquilla raphidea) hal ini diduga disebabkan oleh lokasi penelitian atau daerah penangkapan (fishing ground) memiliki substrat yang berlumpur masih termasuk dalam habitat yang disenangi oleh Ikan Gulama yang merupakan ikan dasar (demersal) sesuai dengan alat tangkap yang pengoprasiannya berada di dasar perairan. Hal ini sesuai dengan pendapat Saputra et al., (2008), yang menjelaskan Ikan Gulama merupakan salah satu ikan demersal dari famili Sciaenidae. Di perjelas oleh pendapat Anggraeni et al., (2016) ikan gulamah hidup bergerombol. Kondisi perairan yang ada di Desa Sungai Jambat sifatnya berlumpur dan berpasir sehingga kondisi ini sangat cocok untuk udang mantis.
Hal ini sesuai dengan pendapat Mashar dan Wardiatno (2011) habitat yang cocok untuk udang Mantis adalah perairan yang bersubstrat lumpur berpasir dengan arus yang tidak terlalu cepat, dan cenderung membenamkan diri ke dasar perairan untuk berlindung dengan membuat lubang dengan diameter dan kedalaman lubang yang bervariasi sesuai dengan ukuran udang Mantis.
Dari dua alat tangkap gill net yang berbeda di dapatkan hasil tangkapan paling sedikit adalah Rajungan dikarenakan waktu penelitian ini dilakukan pada bulan Juni dan Juli yang dimana dibulan tersebut Rajungan belum memasuki musim pemijahannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Kembaren dan Surahman, (2018) puncak musim pemijahan Rajungan terjadi pada Februari - Maret dan Agustus-September.
Jumlah (Ekor)
Komposisi (%)
Berat (kg )
Komposisi (%)
Jumlah (Ekor)
Komposisi (%)
Berat (kg )
Komposisi (%) Udang Mantis Harpiosquilla raphidea 462 17.93 71.30 26.63 405 19.77 63.70 27.91 HTU ikan pari Dasyatis sp 363 14.09 57.70 21.55 268 13.08 50.30 22.04 HTS ikan senangin Eleutheronema tetradactylum 173 6.72 21.20 7.92 122 5.95 15.50 6.79 HTS ikan bawal putih pampus argenteus 80 3.11 8.10 3.03 40 1.95 4.70 2.06 HTS ikan duri Hexanematichthys sagor 321 12.46 43.60 16.29 264 12.88 38.80 17.00 HTS ikan gulamah Johnius trachycephalus 1120 43.48 53.50 19.99 908 44.31 46.30 20.29 HTS rajungan portunus pelagicus 57 2.21 12.30 4.59 42 2.05 8.90 3.90 HTS
Total 2576 100.00 267.70 100.00 2049 100.00 228.20 100.00
Rata-rata/hari 161.00 16.73 128.38 14.26
Nama Lokal Nama Ilmiah Ket
Putih Hijau
Hasil Tangkapan Warna Jaring
23 4.4. Hasil tangkapan menggunakan warna jaring yang berbeda berdasarkan
jumlah
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan jumlah hasil tangkapan udang mantis dan ikan pada warna jaring yang berbeda dengan menggunakan alat tangkap gill net di Perairan Desa Sungai Jambat, dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah Hasil Tangkapan Gill Net Warna Putih dan Hijau (Ekor)
Keterangan Warna Jaring
Putih Hijau
Jumlah ( ekor ) 2576 2049
Rata-rata (ekor ) 161,00a 128,06b
Stdev 17,46 11,70
keterangan : superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata (P < 0,05).
Berdasarkan Tabel 3 yang dianalisis dengan menggunakan uji-t bahwa seluruh hasil tangkapan berdasarkan jumlah (ekor) pada gill net warna putih dan hijau terdapat perbedaan secara nyata (P < 0,05), nilai t-hitung yang di peroleh 6,268 dengan t-tabel 2,131 sehingga dapat dinyatakan terdapat perbedaan nyata hasil tangkapan, dimana hasil tangkapan gill net warna putih dengan total tangkapan 2576 ekor dengan rata-rata hasil tangkapan perharinya 161,00 ekor lebih tinggi dibandingkan dengan hasil tangkapan gill net warna hijau dimana total hasil tangkapanya 2049 dengan rata-rata hasil tangkapan perharinya 128,06 ekor.
Pada penelitian ini menunjukan bahwa rata-rata jumlah hasil tangkapan dengan menggunakan jaring gill net warna putih lebih banyak dibandingkan dengan jaring gill net warna hijau. Perbedaan hasil tangkapan disebabkan oleh warna jaring yang digunakan, tingginya hasil tangkapan pada jaring warna putih disebabkan warna jaring putih tidak terlalu terlihat di dasar perairan atau transparan sehingga tidak terlihat oleh udang dan ikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Haluan et al.,(2012) Transparansi warna gil lnet millennium pada saat dioperasikan dipercaya oleh nelayan mempengaruhi banyaknya ikan yang tertangkap oleh jaring, jaring transparan terlihat tidak terlalu kontras terhadap lingkungan, sehingga jaring tersebut tidak terlalu kelihatan oleh ikan yang menerobos jaring tersebut, ini menyebabkan ikan menjadi lebih mudah tertangkap
24 oleh jaring. Diperkuat oleh pendapat Purbayanto et al (2010) menyatakan indra penglihatanpada ikan mempunyai sifat yang khas tertentu karena adanya berbagai faktor seperti jarak penglihatan yang jelas, kisaran dan cakupan penglihatan, warna yang jelas, kekontrasan, dan kemampuan membedakan objek dan lain sebagainya.
Karakteristik dari sebuah alat penangkapan ikan merupakan hal yang sangat penting dalam mendesain dan membuat alat tangkap. Salah satu kriteria yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah warna alat tangkap itu sendriri. Warna dari alat tangkap harus disesuaikan dengan tingkah laku ikan yang menjadi target utama dalam penangkapan. Menurut Harefa, (2013) Dengan penggunaan warna jaring tertentu dapat menyebabkan ikan tertarik terhadap alat tangkap dan mendekati alat tangkap sehingga ikan dapatterperangkap, dengan warna tertentu jugadapat mengurangi daya tampak alattangkap di dalam perairan.
4.5. Hasil tangkapan menggunakan warna jaring yang berbeda berdasarkan berat
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan berat hasil tangkapan udang mantis dan ikan pada warna jaring yang berbeda dengan menggunakan alat tangkap gill net di Perairan Desa Sungai Jambat, dapat dilihat pada Tabel 4
Tabel 4. Berat hasil tangkapan gill net warna putih dan hijau (Kg)
Keterangan Warna Jaring
Putih Hijau
Berat ( Kg ) 267,7 228,2
Rata-rata ( Kg ) 16,73a 14,26b
Stdev 1,44 1,18
Keterangan : Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata (P < 0,05)
Hasil analisis uji-T terhadap berat hasil tangkapan jaring gill net dengan menggunakan jaring warna putih dan hijau di Perairan Desa Sungai Jambat terdapat perbedaan secara nyata (P < 0,05). nilai t-hitung yang di peroleh 5,307 dengan t-tabel 2,131 sehingga dapat dinyatakan terdapat perbedaan nyata berat hasil tangkapan, berat total hasil tangkapan yang menggunakan jaring gill net warna putih sebanyak 267,7 kg dengan rata-rata 16,73 kg. Berat total hasil
25 tangkapan menggunakan jaring gill net warna hijau sebanyak 228,2 kg dengan rata-rata 14,26 kg.
Berdasarkan uraian diatas, berat total dan berat rata-rata hasil tangkapan gill net warna putih lebih tinggi di bandingkan hasil tangkapan gill net warna hijau. Berat total hasil tangkapan dipengaruhi oleh jumlah hasil tangkapan yang di peroleh. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahmad (2019) semakin banyak jumlah hasil tangkapan maka akan lebih besar pula berat hasil tangkapan. Penggunaan warna jaring dalam penangkapan ikan dan udang mantis sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan, warna jaring yang sesuai dengan kondisi perairan memiliki peluang hasil tangkapan lebih banyak dibandingkan dengan warna jaring yang kontras dikarnakan warna jaring yang transparan tidak terlihat oleh ikan dan udang mantis sehingga ikan dan udang menabrak jaring. Menurut Martasuganda (2008), warna bahan jaring sebaiknya warna bening atau biru laut sehingga sama dengan warna perairan, berfungsi untuk menyamarkan jaring di dasar perairan. Di perjelas oleh pendapat Syahdan, (2010) warna jaring hedaknya disamarkan dengan warna perairan atau lebih baik lagi bila warna jaring tidak menimbulkan kontras dengan latar belakang maupun warna dasar perairan sehingga efek kehadiran jaring sebagai penghadang diredusir sekecil mungkin.
4.6 Hasil Tangkapan Utama
Udang Mantis (Harpiosquilla rhapidea) merupakan hasil tangkapan utama alat tangkap jaring insang (Gill net) di Perairan Desa Sungai Jambat. Udang mantis merupakan salah satu komoditas hewan laut yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Beberapa spesies udang mantis dikenal sebagai bahan makanan eksotis dan sebagai komoditas ekspor (Astuti and Ariestyani, 2013).
4.6.1 Jumlah Hasil Tangkapan Udang Mantis
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan jumlah hasil tangkapan udang mantis pada warna gill net yang berbeda di Perairan Desa Sungai Jambat, dapat dilihat pada Tabel 5
26 Tabel 5. Jumlah hasil tangkapan udang mantis pada warna jaring gill net putih dan
hijau
Keterangan Warna Jaring
Putih Hijau
Jumlah ( ekor ) 462 405
Rata-rata ( ekor ) 28,88a 25,31b
Stdev 5,15 3,74
Keterangan : Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata (P < 0,05)
Berdasarkan Tabel 5 yang dianalisis dengan menggunakan uji-t bahwa seluruh hasil tangkapan udang mantis berdasarkan jumlah (ekor) pada gill net warna putih dan hijau terdapat perbedaan secara nyata (P < 0,05), nilai t-hitung yang di peroleh 2,239 dengan t-tabel 2,131 sehingga dapat dinyatakan terdapat perbedaan nyata hasil tangkapan, dimana hasil tangkapan gill net warna putih dengan total tangkapan 462 ekor dengan rata-rata hasil tangkapan perharinya 28,88 ekor lebih tinggi dibandingkan dengan hasil tangkapan gill net warna hijau dimana total hasil tangkapanya 405 dengan rata-rata hasil tangkapan perharinya 25,31 ekor.
Pada penelitian ini menunjukan bahwa rata-rata jumlah hasil tangkapan dengan jaring warna putih lebih besar dibandingkan dengan jaring warna hijau.
Perbedaan hasil tangkapan ini disebabkan oleh warna jaring yang di gunakan yaitu pada jaring putih karna jaring putih tidak terlalu terlihat di saat berada di dasar perairan sehingga udang mantis menabrak jaring, sedangkan jaring warna hijau terlalu kontras warnanya sehingga terlihat oleh udang mantis. Menurut Swari Ratna Astuti (2013) udang mantis mempunyai dua mata yang dapat berputar 360 derajat, berfungsi sebagai radar. Udang mantis juga dikenal mempunyai mata super, karena dapat melihat warna pantulan cahaya ultraviolet hingga inframerah, dapat membedakan kombinasi 11-12 warna primer, dan memiliki kemampuan melihat langsung warna cahaya yang berbeda-beda dari polarisasi cahaya. Di perjelas oleh Popi et al., (2016) Warna jaring padapengoperasian waktu malam hari sebaiknya menggunakan warna hijau atau biru, sedangkan pada siang hari menggunakan warna putih.
27 4.6.2 Ukuran Hasil Tangkapan Udang Mantis
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil tangkapan udang mantis berdasarkan ukuran (Inci) pada warna jaring yang berbeda menggunakan alat tangkap gill net di Perairan Desa Sungai Jambat, dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Ukuran hasil tangkapan gill net warna putih dan hijau selama 16 kali pengulangan
Ukuran Panjang (inchi) Hasil Tangkapan Udang Mantis Jaring Putih Jaring Hijau
A >10 178 167
B 8 - 9,9 141 124
C 6 - 7,9 85 65
KK 5 – 5,9 58 49
Jumlah 462 405
Dilihat dari Tabel 6, ukuran udang mantis yang paling banyak didapatkan yaitu berukuran >10 inchi sedangkan jumlah udang mantis yang paling sedikit yaitu pada ukuran <6 inchi baik pada warna jaring putih maupun pada warna jaring hijau. Pada warna jaring putih didapatkan jumlah yang paling banyak yaitu 178 ekor dan pada warna jaring hijau didapatkan jumlah yang paling banyak yaitu 167 ekor. Menurut Pratama (2020) bahwa banyaknya variasi ukuran dikarenakan daerah penyebaran hidup udang mantis terbagi menjadi 2 daerah yaitu daerah muara sungai atau estuaria dan daerah lepas pantai. Daerah penangkapan jaring insang dasar yang dioperasikan oleh nelayan desa sungai jambat berada pada daerah estuaria.
28 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan jumlah dan berat hasil tangkapan alat tangkap gill net warna putih dan hijau, dimana hasil tangkapan gill net warna putih lebih banyak dan lebih berat dibandingkan gill net warna hijau.
5.1 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, saat melakukan penangkapan harus menggunakan alat tangkap gill net warna putih karna tidak mudah terdeteksi oleh ikan dan udang.
29 DAFTAR PUSTAKA
Andria, A.F., Rahmaningsih, S., 2018. Kajian Teknis Faktor Abiotik Pada Embung Bekas Galian Tanah Liat Pt. Semen Indonesia Tbk. Untuk Pemanfaatan Budidaya Ikan Dengan Teknologi Kja. Jurnal Ilmu Perikanan Dan Kelautan. 10, 95–105.
Anggraeni, S., Solichin A, Widyorini N., Widyorini N. 2016. Aspek biologi ikan tigawaja ( johnius sp ) yang didarkan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tawang Kabupaten Kendal. Diponegoro Journal of Maquares, 5(4): 461-467
Astuti, I. R., dan Ariestyani, F. 2013. Potensi dan prospek ekonomis udang mantis di Indonesia. Media Akuakultur, 8(1), 39-44.
Badan Pusat Statistik 2021. Kecamatan Sadu Dalam Angka 2021.
Bakpas,A.L.2011.Variabilitas hasil tangkapan jaring insang tetap hubungannya dengan kondisi oseanografi. Skripsi.fakultas ilmu kelautan dan perikanan.universitas hassanuddin.makassar.
Boesono, D.H. 2012. Analisis Keramahan Alat Tangkap Jaring Tenggiri (Gillnet Millenium) di Perairan Pati terhadap Hasil Tangkapan.Departemen Perikanan Tangkap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro Semarang.
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi. 2018. Buku Statistik Perikanan Tangkap Provinsi Jambi, Jambi.
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi. 2020. Buku Statistik Perikanan Tangkap Provinsi Jambi, Jambi.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Jurusan Managemen Sumberdaya Perairan.
Skripsi. Fakultas Perairan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Fardiansyah, D. 2011. Budidaya Udang Vannamei di Air Tawar. Jakarta: Artikel ilmiah Dirjen Perikanan Budidaya KKP RI Tanggal 30 November 2011.
Fauzi, A. 2021. Pengaruh faktor-faktor produksi terhadap hasil tangkapan ikan Senangin (Eleutheronema tetradactylum) di Kelurahan Kampung Nelayan Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Doctoral dissertation, pemanfaatan sumberdaya perikanan).
Febri, S. P., Antoni, A., Rasuldi, R., Sinaga, A., Haser, T. F., Syahril, M., dan Nazlia, S. 2020. Adaptasi waktu pencahayaan sebagai strategi peningkatan pertumbuhan ikan bawal air tawar (Colossoma macropomum). Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, 7(2), 68-72.
30 Febrianti H ; Sukarti K ; Catur A P. 2016. Pengaruh Perbedaan Sumber Asam
Lemak pada Pakan terhadap Pertumbuhan Ikan Bawal Bintang (Trachinotus blochii , Lecepede). Sains dan Teknologi Akuakultur 2: 24–
33.
Gonser, J. 2003. Large shrimp thriving in Ala Wai Canal muck. Honolulu Advertiser.
Gunarso, W. 1986. Tingkah Laku Ikan : Hubungannya dengan Alat, Metoda dan Taktik Penangkapan. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Haluan, C. C. R., Purbayanto, A., dan Sondita, M. F. A. 2012. Studi Mengenai Proses Tertangkapnya Dan Tingkah Laku Ikan Terhadap Gillnet Millennium Di Perairan Bondet, Cirebon (Studies on Capture Process and Fish Behavior Towards Millennium Gillnet in Bondet Waters, Cirebon). Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management, 3(1), 7-13.
Harefa, D. 2013. Visibilty Of Monofilament And Multifilament As Fishing Gear Materials In Waters.
Intankiswari. 2012. Perubahan komposisi protein dan asam amino daging udang ronggeng (Harpiosquilla raphidea) akibat perebusan.
Johannes, S., Hans. M dan Delly. D. P. M. 2011. Efisiensi Penangkapan Jaring Insang Lingkar Dengan Ukuran Mata Jaring Dan Nilai Pengerutan Yang Berbeda Di Perairan Pesisir Negeri Waai. Program Studi Pemanfataan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Universitas Pattimura, Ambon.
Kembaren, D. D., dan Surahman, A. 2018. Struktur Ukuran dan Biologi Populasi rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) di Perairan Kepulauan Aru. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, 24(1), 51-60.
Kusumaningtyas, M.A., Bramawanto, R., Daulat, A., dan Pranowo, W.S. 2014.
Kualitas perairan Natuna pada musim transisi. Depik. 3(1), 10-20.
Manalu, A., Usman dan Alit. H. Y. 2015. Analisa Daerah Pengoperasian Jaring Insang Permukaan (Surface gill net) di Perairan Bogak Besar Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau, Riau.
Martasuganda S. 2008. Jaring Insang (Gill net). Edisi revisi. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. IPB. 144 hlm
Martasuganda, S. 2004. Jaring Insang (Gillnet). Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Bogor.