ANALISIS PROFIL DAN PROSES BISNIS
Boston Consulting Group (BCG) Matrix Analysis
Boston Consulting Group (BCG) Matrix Analisis merupakan sebuah alat analisis untuk
mengidentifikasi portofolio produk perusahaan sehingga membantu perusahaan memprioritaskan alokasi sumber dayanya ke produk yang paling berkembang atau menguntungkan yang menghasilkan portofolio produk optimal. Alat analisis ini dikembangkan oleh Boston Consulting Group (BCG) (Mutandwa et al., 2009). BCG Matrix memberikan analisis identifikasi unit bisnis
strategis mana yang akan diinvestasikan, mana yang akan dijual, dan mana yang harus ditutup.
Hal ini membantu perusahaan untuk mendistribusikan sumber daya yang tersedia melalui manajemen bisnis yang efisien (Kader dan Hossain, 2020).
Secara garis besar, alat analisis ini mengacu pada dua ukuran (pertumbuhan dan pangsa pasar produk) untuk mengklasifikan produk perusahaan ke dalam empat kategori: star, cash cow, question mark, dan pet. Argumen dasar analisis ini adalah bahwa perusahaan membutuhkan arus
kas yang memadai untuk mendanai operasional dan pertumbuhannya. Untuk itu perusahaan harus memiliki produk yang mendatangkan arus kas yang besar. Produk-produk semacam ini merupakan produk dengan pangsa pasar yang besar dan prospek pertumbuhan yang rendah (mature products). Produk semacam ini tidak lagi membutuhkan arus kas keluar untuk membiayai pertumbuhannya (karena potensi pertumbuhan rendah akibat penguasaan pasar yang tinggi) tapi mendatangkan arus kas masuk yang besar karena penguasaan pasarnya. Akan tetapi, hanya mengandalkan produk semacam ini (cash cow products) sangat berisiko bagi perusahaan karena pesaing sangat berpotensi menantang dominasi pasar produk tersebut (BCG, 1970).
Untuk itu perusahaan membutuhkan produk lain yang memiliki prospek pertumbuhan pasar yang tinggi. Produk-produk semacam itu berpotensi melapisi cash cow products jika cash cow products tersebut mendapat kompetisi pasar yang kuat dari pesaing sehingga perusahaan
tidak berkurang sumber arus kas masuknya secara signifikan. Akan tetapi, pertumbuhan pangsa pasar membutuhkan investasi yang besar (misal: pemasaran, litbang) yang pada akhirnya arus kas keluar yang tinggi. Untuk itu, produk dengan pertumbuhan pasar yang tinggi perlu diklasifikasikan lebih lanjut menjadi dua: produk dengan pertumbuhan pasar tinggi dan pangsa pasar tinggi (star products) dan produk dengan pertumbuhan pasar tinggi dan pangsa pasar rendah (question-mark products). Star products bersifat mandiri secara arus kas, kebutuhan arus
kas keluarnya yang tinggi (untuk membiayai pertumbuhan pasar) didapatkan dari arus kas masuknya yang juga tinggi (dari penguasaan pangsa pasar yang tinggi). Sebaliknya, question- mark products mendapatkan arus kas untuk membiayai potensi pertumbuhan pasar dari produk
lain (cash-cow products atau star products). Diharapkan question-mark products ini bisa mendapatkan pangsa pasar yang tinggi di masa depan sehingga bisa menjadi star atau cash-cow products dan menyumbangkan arus kas masuk yang tinggi bagi perusahaan
Yang terakhir, produk dengan penguasaan pasar dan potensi pertumbuhan pasar yang rendah disebut dengan pet products. Produk semacam ini bisa berasal dari produk yang gagal dalam pengembangan pasarnya atau cash-cow products yang memasuki periode decline atau digeser oleh pesaingnya. Produk ini tidak lagi mendatangkan arus kas masuk yang signifikan dan investasi lebih lanjut pada produk ini memiliki potensi kegagalan yang tinggi serta arus kas keluar yang besar. Untuk itu, perusahaan bisa mempertimbangkan untuk menghentikan produksinya (Birafane, Liu, dan Khalikov, 2020).Gambar 1 di bawah ini mengilustrasikan matriks portofolio produk dari BCG. Alat analisis ini membantu perusahaan memutuskan alokasi sumber dayanya yang terbatas pada produk-produk tertentu.
Gambar 1 BCG Matrix Analysis
Sumber : https://www.bcg.com/publications/1970/strategy-the-product-portfolio Anggaran Penjualan
Anggaran adalah rencana operasional organisasi yang diekspresikan secara kuantitatif (terutama secara finansial) untuk mencapai tujuannya. Selain memfasilitasi fungsi perencanaan
organisasi, anggaran juga menyediakan cara untuk mengkomunikasikan tujuan jangka pendek organisasi kepada karyawan, mengkoordinasikan banyak kegiatan organisasi, mengantisipasi potensi masalah, dan membantu memberikan solusi pada masalah.
Anggaran yang telah disusun juga berfungsi sebagai instrumen ukur tingkat kinerja sebuah proses bisnis (seperti proses penjualan, produksi, atau pembelian), sehingga tiap anggota organisasi yang bersangkutan bisa membuat strategi-strategi untuk mencapainya. Akan tetapi, penyusunan sebuah anggaran terkadang tidak terluput dari pengaruh kepentingan-kepentingan pihak tertentu yang bertujuan untuk menjaga image atau kinerja terlihat baik dan mengabaikan tujuan besar bersama (Atkinson, Kaplan, Matsumara, Young, 2012).
Secara garis besar, anggaran dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu anggaran operasional yang merangkum tingkat aktivitas (penjualan, produksi, pembelian) dan keuangan (sumber daya keuangan dan konsekuensi keuangan dari aktivitas operasional tersebut, seperti anggaran biaya, laba rugi, kas). Jika aktivitas operasional perusahaan dimulai dari perolehan sumber daya atau input (tenaga kerja, bahan baku, dan sumber daya lainnnya) dilanjutkan ke proses produksi dan penjualan output, maka proses penganggaran bersifat terbalik dari aktivitas operasional. Secara lebih rinci, proses penganggaran dimulai dari perencanaan/ penyusunan anggaran penjualan dilanjutkan penyusunan anggaran produksi dan diakhiri dengan anggaran input. Hal ini untuk memfasilitasi perusahaan menentukan seberapa banyak input dan input apa saja yang harus diperoleh untuk mendukung tingkat penjualan tertentu. Memulai proses penganggaran dari anggaran input akan membuat perusahaan berpikir untuk memfokuskan menjual apa yang bisa diproduksi dan bukan memproduksi apa yang bisa dijual. Dari anggaran penjualan ini perusahaan bisa membuat anggaran-anggaran lainnya, mulai dari anggaran persediaan barang jadi, produksi, bahan baku, tenaga kerja langsung, overhead, beban administrasi umum, laba rugi, posisi keuangan (neraca), dan kas. Bisa dikatakan semua proses pembuatan anggaran perusahaan bisa dimulai setelah proses pembuatan anggaran penjualan selesai, seperti terlihat pada gambar di bawah ini :
Gambar 2
Komponen-komponen anggaran perusahaan (Master Budget) Sumber Hansen, Mowen, Guan (2009)
Gambar 2 di atas memperlihatkan bahwa titik awal penyusunan anggaran-anggaran dimulai dari Long Term Sales Forecast (Perkiraan Penjualan Dalam Jangka Panjang), yang kemudian dirumuskan menjadi Sales Budget (Anggaran Penjualan). Perkiraan penjualan (Sales Forecast) adalah dasar untuk membuat anggaran penjualan, yang pada gilirannya, merupakan
dasar untuk semua anggaran operasi lainnya dan sebagian besar anggaran keuangan. Keandalan perkiraan penjualan sangat mempengaruhi keandalan seluruh anggaran perusahaan (Hansen, Mowen & Guan, 2009).
Mengingat pentingnya anggaran penjualan, maka proses penyusunan anggaran perlu lebih memperhatikan analisis portofolio produk perusahaan. Anggaran penjualan tidak hanya merencanakan total pendapatan (dalam unit dan satuan moneter) yang direncanakan di masa depan, tapi juga pendapatan untuk masing-masing portofolio produk berdasar kategori-kategori tertentu.
BCG Matrix Analysis
Selain merupakan alat bantu perencanaan, anggaran juga berfungsi untuk membantu manajer mengalokasikan sumber daya yang terbatas pada aktivitas-aktivitas perusahaan. Sumber daya yang terbatas menuntut perusahaan melakukan alokasi sumber daya secara efisien dan efektif. (Bhimani, Horngern, Datar, dan Rajan, 2019).
Selain itu, anggaran juga berfungsi untuk menjadi alat pengendalian dan pengukuran kinerja. Angaran yang terlalu sulit dicapai akan membuat manajer tidak termotivasi untuk berusaha mencapai target yang ditetapkan di anggaran karena upaya apapun yang mereka lakukan kecil kemungkinannya bisa mencapai target yang diinginkan. Sebaliknya, anggaran yang terlalu mudah dicapai juga tidak memotivasi manajer untuk melakukan yang terbaik (Atkinson, Kaplan, Matsumara, Young, 2012).
Banyak faktor mempengaruhi tingkat kesulitan dalam penentuan target penjualan di proses penganggaran, termasuk asimetri informasi. Dalam hal ini, manajer atasan tidak memiliki informasi yang cukup tentang karakteristik produk yang akan ditarget penjualannya dalam proses penganggaran tersebut. Beberapa hal bisa dilakukan untuk mengurangi asimteri informasi tersebut, termasuk BCG Matrix Analysis. BCG Matrix Analysis membantu manajer menentukan tingkat kesulitan target penjualan untuk masing – masing produk mereka melalui identifikasi pertumbuhan dan penguasaan pasar produk tersebut. Produk-produk yang pertumbuhan pasarnya tinggi (star dan question mark) perlu ditetapkan kenaikan target yang tinggi sedangkan produk- produk dengan penguasaan pasar tinggi tapi pertumbuhan rendah (cash cow) perlu ditetapkan target penjualan yang tinggi tapi degan kenaikan target yang rendah (atau bahkan konstan) (Rynca, 2016). Dengan tetap memperhatikan volume pasar, yang merupakan jumlah total potensi demand terhadap sebuah produk tertentu di sebuah wilayah atau areal atau populasi konsumen tertentu pada kurun waktu tertentu.