DAN PENGAWASAN MUTU BENIH TANAMAN PERTANIAN (BP3MBTP)
NGIPIKSARI, SLEMAN, YOGYAKARTA
Disusun Oleh:
Isnaini Mela Kurnia 134170157
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA 2020
Fakultas Pertanian
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
Bidang Kegiatan : Kuliah Kerja Profesi
Pelaksana : Isnaini Mela Kurnia
Tempat Praktek Kerja Lapangan : UPTD BPPPMBTP Sleman Yogyakarta
Waktu : Bulan Oktober - Desember 2020
Yogyakarta, Desember 2020
Dosen Pembimbing Kuliah Kerja Profesi
Ir. Rina Srilestari, M.P.
NIP. 19681017 199303 2 001
Dosen Penguji Kuliah Kerja Profesi
Ir. Heti Herastuti, M.P.
NIP. 19650429 199003 2 001 Ketua Jurusan Agroteknologi
Ir. Ellen Rosyelina Sasmita, MP.
NIP. 19621111 198803 2 001
ii
laporan Kuliah Kerja Profesi (KKP) dengan judul “Perbanyakan Bibit Jamur Kuping (Auricularia Auricula-judae L.) Secara In-Vitro Di UPTD Balai Pengembangan Perbenihan dan Pengawasan Mutu Benih Tanaman Pertanian (BP3MBTP) Ngipiksari, Sleman, Yogyakarta”. Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat untuk melakukan kegiatan Kuliah Kerja Profesi. Penulisan laporan ini tak lepas dari bimbingan dan dukungan berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penyusunan laporan ini, khususnya kepada:
1. Ir. Rina Srilestari, M.P. selaku dosen pembimbing Kuliah Kerja Profesi yang telah membimbing dan memberikan saran serta masukan.
2. Ir. Heti Herastuti, M.P selaku dosen penguji Kuliah Kerja Profesi.
3. Kedua orang tua yang selalu memberikan dukungan material maupun spiritual.
4. Rekan-rekan yang memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung, serta semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penyusunan laporan.
Penulis menyadari dalam pembuatan laporan Kuliah Kerja Profesi ini masih tedapat banyak kekurangan, baik pada teknis penulisan maupun materi.
Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para pembaca. Semoga karya yang sederhana ini dapat member manfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Yogyakarta, Desember 2020
Penulis
iii
KATA PENGANTAR...iii
DAFTAR ISI ...iv
DAFTAR GAMBAR...v
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Tujuan...3
C. Manfaat...3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...4
A. Definisi dan Taksonomi Jamur Kuping...4
B. Morfologi Jamur Kuping...5
C. Syarat Tumbuh Jamur Kuping...6
D. Media Tanam Jamur Kuping dan Potensinya...7
E. Budidaya Jamur Kuping...9
F. Pembibitan Jamur Kuping...11
BAB III METODE PELAKSANAAN...13
A. Tempat dan Waktu...13
B. Ruang Lingkup Kerja Profesi...13
C. Metode Pelaksanaan...17
BAB IV HASIL KEGIATAN KULIAH KERJA PROFESI...19
A. Kondisi Umum Tempat Kerja Profesi...19
B. Topik Khusus Kerja Profesi...24
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...35 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
iv
Gambar 2. Bagan Struktur Organisasi UPTD BPPPMBTP...22
Gambar 3. Proses Pembuatan Media PDA...26
Gambar 4. Proses Pembibitan F1...28
Gambar 5. Media Tumbuh Jamur Untuk Pembibitan F2, F3, F4 yang Terdiri dari Campuran Kapur, Bekatul dan Serbuk Kayu...29
Gambar 6. Proses Pembibitan F2...31
Gambar 7. Proses Pembibitan F3...33
Gambar 8. Proses Pembibitan F4...33
Gambar 9. Jamur yang Terkontaminasi...34
v
Indonesia merupakan negara agraris, sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani yang ditunjang dengan lahan pertanian subur dan mempunyai kawasan hutan yang luas serta terkenal akan hasil produksi kayunya, hasil kayu tersebut dimanfaatkan sebagai industri. Sebagian besar petani dan masyarakat Indonesia kurang teliti dalam memanfaatkan hasil limbah industri. Pemanfaatan limbah dari bidang industri penggergajian yang sering menimbulkan masalah, diantaranya dapat mengganggu kesehatan dan polusi.
Salah satu cara menanggulangi masalah tersebut dengan memanfaatkan limbah industri, misalnya dari hasil produk kayu bisa digunakan sebagai substrat atau media jamur (Parjimo, 2007).
Jamur dikenal dalam kehidupan sehari-hari sejak 3000 tahun yang lalu, telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Di Cina, pemanfaatan jamur sebagai bahan obat-obatan sudah dimulai sejak 2000 tahun silam.
Budidaya jamur merupakan salah satu usaha peningkatan ekonomi dan pangan yang berkembang dimasyarakat. Bisnis budidaya jamur menjanjikan penghasilan yang tidak sedikit mengingat permintaan dari konsumen yang semakin meningkat.
Jamur merupakan tumbuhan sederhana yang banyak dijumpai di alam bebas, dikatakan tumbuhan sederhana karena tidak berklorofil dan tidak dapat melakukan fotosintesis. Pada umumnya jamur hidup pada sisa makhluk lain yang sudah mati, misalnya pada tumpukan sampah, serbuk gergaji kayu, atau pada batang kayu yang sudah lapuk.Lebih dari 70.000 jenis jamur yang sudah dikenal sejak lama umumnya masih hidup liar di hutan, kebun atau pekarangan rumah. Beberapa jenis jamur yang telah dibudidayakan dan memiliki nilai bisnis besar diantaranya adalah jamur merang, jamur kuping, shitake, champingnon, lingzi dan jamur tiram (Suriawiria, 2006).
Jamur kuping merupakan spesies jenis jamur kayu dari kelas heterobasidiomycetes yang memiliki kandungan gizi dan nilai ekonomi yang tinggi. Kandungan gizi jamur kuping yaitu protein, lemak, karbohidrat, riboflavin, niacin, Ca, K, P, Na, dan Fe. Jamur kuping dari segi organoleptik (rasa, aroma dan penampilan), kurang menarik bila dihidangkan sebagai bahan makanan. Namun jamur kuping sudah dikenal sebagai bahan pengental makanan dan penetral racun. Lendir jamur kuping dipercaya berkhasiat menetralkan senyawa berbahaya (racun) yang terdapat dalam makanan. Jamur kuping juga bermanfaat bagi pengobatan jantung koroner, menurunkan kekentalan darah dan menghindari penyumbatan pembuluh darah, terutama di otak. Kekentalan darah ini dapat diatasi dengan mengonsumsi jamur kuping setiap hari sebanyak 5-10 gram. Selain untuk konsumsi lokal, jamur kuping juga banyak diekspor baik dalam bentuk segar maupun kering.
Jamur kuping yang memiliki nilai ekonomi, potensial, dan prospektif sebagai pendapatan ini masih terkendala oleh produktivitas yang masih rendah. Produktivitas jamur kuping yaitu 200-300 g jamur kuping segar yang dihasilkan dari 1 kg media produksi per bobot basah media, padahal potensi produksi bisa mencapai 400-500 g jamur kuping per 1 kg media produksi.
Penyebab produktivitas yang rendah antara lain, (1) substrat media produksi tidak dimodifikasi/diperbaiki (formula substrat selalu sama setiap waktu), (2) bibit diperoleh dari sumber dan strain yang sama dan kurang unggul, (3) bibit kadaluarsa, dan (4) tempat budidaya jamur kurang higienis, karena itu terjadi kontaminasi pada substrat berkisar antara 5-20% (Nurilla, 2013).
B. Tujuan Kegiatan
1. Tujuan umum dari kegiatan Kuliah Kerja Profesi ini adalah :
a. Mengembangkan wawasan dan pengalaman mahasiswa dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimiliki.
b. Meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai hubungan teori dan aplikasinya, permasalahan yang dihadapi serta cara penangannya secara langsung apabila timbul masalah di lapangan.
c. Memberikan pengalaman secara langsung kepada mahasiswa sehingga dapat menjadi bekal dalam bekerja baik berwirausaha maupun bekerja didalam suatu perusahaan.
d. Meningkatkan hubungan kerja sama yang baik antara perguruan tinggi, pemerintah, serta instansi terkait sehingga dapat meningkatkan mutu pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi.
2. Tujuan khusus dari kegiatan Kuliah Kerja Profesi ini adalah :
a. Mengetahui cara budidaya jamur kuping khususnya pada proses pembibitan.
b. Mengetahui persiapan pembuatan media dan bibit sekaligus penjualan bibit jamur kuping
c. Mengetahui jenis peralatan, spesifikasi dan mekanisme kerja secara umum yang digunakan di Balai Pengembangan Perbenihan dan Pengawasan Mutu Benih Tanaman Pertanian (BP3MBTP) Ngipiksari Sleman, Yogyakarta.
C. Manfaat
1. Memperluas Pengetahuan dan menerapkan ilmu yang dipelajari dan mengikuti kegiatan di lapangan.
2. Menambah wawasan dan pengalaman di UPTD Balai Pengembangan Perbenihan dan Pengawasan Mutu Benih Tanaman Pertanian (BP3MBTP) Ngipiksari Sleman, Yogyakarta.
3. Dapat membuka lapangan pekerjaan dan dapat digunakan untuk penelitian yang selanjutnya.
Jamur kuping merupakan salah satu kelompok jelly fungi yang masuk ke dalam kelas Basidiomycota dan mempunyai tekstur jelly yang unik. Fungi yang masuk kedalam kelas ini umumnya makroskopis atau mudah dilihat dengan mata telanjang. Miseliumnya bersekat dan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: miselium primer (miselium yang sel-selnya berinti satu, umumnya berasal dari perkembangan basidiospora) dan miselium sekunder (miselium yang sel penyusunnya berinti dua, miselium ini merupakan hasil konjugasi dua miselium primer atau persatuan dua basidiospora). Jamur ini disebut jamur kuping karena bentuk tubuh buahnya melebar seperti daun telinga manusia (kuping) (Ajrina, 2012).
Klasifikasi jamur kuping secara lengkap adalah sebagai berikut :
Kingdom : Fungi
Divisio : Eumycota Subdivisio : Basdiomicotina Klasis : Heterobasidiomycetes Subklasis : Phragmobasidiomycetidae Ordo : Auriculariales
Familia : Auriculariaceae Genus : Auricularia
Spesies : Auricularia auricular-judae L. (Ajrina, 2012).
Jamur kuping memiliki tubuh mirip daun telinga manusia. Sebutan jamur kuping melekat pada jenis jamur yang memiliki tubuh buah (basidiocarp) mirip kuping (daun telinga). Diantara 65 spesies jamur kuping, ada tiga jenis jamur kuping yang biasa dikonsumsi sebagai makanan lezat dan dapat dibudidayakan, yakni (1) jamur kuping merah (Auricularia auricula- judae) yang memiliki warna tubuh buah merah atau kemerah-merahan berukuran lebar; (2) jamur kuping hitam (Auricularia polytricha) yang tubuh
buahnya berwarna keungu-unguan atau hitam dan berukuran (diameter) 6-10 cm; dan (3) jamur kuping putih atau jamu kuping agar (Tremella fuciformis) yang berwarna putih berukuran lebih kecil dan tipis (Djarijah, 2008).
B. Morfologi Jamur Kuping
Jamur kuping merupakan salah satu dari jenis jamur kayu dengan ciri- ciri: badan buah kenyal seperti gelatin jika berada dalam keadaan segar dan menjadi keras seperti tulang jika kering, berbentuk mangkuk atau kadang- kadang dengan cuping seperti kuping yang berasal dari titik pusat perlekatan, diameter 2-15 cm, tipis berdaging dan kenyal. Hidup soliter atau bergerombol pada batang kayu, ranting mati, tunggul kayu dan lain-lain (melekat pada substrat secara sentral atau lateral). Penyebaran pada kayu keras dan konifer.
Badan buah jamur sering kali dijumpai pada musim hujan. Jamur kuping kebanyakan dijual sebagai jamur awetan kering yang berwarna coklat kehitaman dan keras. Jamur ini akan menjadi kenyal kembali jika direndam dalam air. Jamur ini sering disajikan direstoran cina dalam berbagai menu.
Hirneola auricula judae merupakan jamur kuping yang sering kali dijumpai hidup liar di Indonesia (Gunawan, 2001).
Cara reproduksi vegetatif dari jamur kuping adalah dengan membentuk tunas, dengan konidia, dan fragmentasi miselium. Sedangkan, reproduksi generatif jamur kuping adalah dengan menggunakan alat yang disebut basidium, basidium berkumpul dalam badan yang disebut basidiokarp, yang selanjutnya menghasilkan spora yang disebut basidiospora. Siklus hidup pada jamur kuping hampir serupa dengan siklus hidup pada jamur tiram dan shiitake yaitu tubuh buah yang sudah tua akan menghasilkan spora yang berbentuk kecil, ringan, dan jumlahnya banyak. Apabila spora tersebut jatuh pada kondisi dan tempat yang sesuai dengan persyaratan hidupnya (misalnya di kayu mati atau bahan yang mengandung selulosa dan dalam kondisi yang lembab) maka spora tersebut akan berkecambah dan membentuk miselium melalui beberapa fase. Pada fase pertama, miselium primer yang tumbuh akan terus menjadi banyak dan meluas. Selanjutnya akan berkembang menjadi
miselium sekunder yang membentuk primordial (penebalan miselium pada bagian permukaan miselium sekunder dengan diameter sekitar 0.1 cm). Dari primordial akan tumbuh dan terbentuk kuncup tubuh buah (pada tingkat awal) yang semakin lama akan semakin membesar (kurang lebih 3-5 hari) yang kemudian dari primordial tersebut akan tumbuh tubuh buah jamur yang bentuknya lebar (Hastiono, 2004).
C. Syarat Tumbuh Jamur Kuping
Budiaya jamur kuping memiliki kriteria syarat tumbuh yang dapat mempengaruhi pertumbuhan hasil. Syarat tumbuh jamur kuping berhubungan dengan keasaman (pH), suhu, kelembapan udara, sirkulasi udara, intensitas cahaya, ketersediaan oksigen dan karbondioksida (Utoyo, 2010).
1. Keasaman (pH)
Kisaran pH untuk pertumbuhan miselium berkisar antara 5,4-6 sedangkan untuk pembentukan tubuh buah berkisar antara 4,2-4,6.
Keasaman (pH) dipengaruhi oleh permeabilitas membran jamur, hal ini dapat menyebabkan jamur tidak dapat mengambil nutrisi yang penting pada saat pH tertentu. Berdasarkan tingkat keasaman (pH) jamur dapat dibedakan menjadi 2 yaitu bersifat jamur acidofilik (pH rendah) dan jamur basiofilik (pH tinggi).
2. Suhu
Jamur kuping dapat tumbuh secara optimal jika berada pada suhu 26-28°C. Pada suhu yang terlalu panas dengan kandungan nutrisi pada media baglog terlalu tinggi dapat menyebabkan kontaminasi oleh jamur liar pada saat masa inkubasi dan memicu munculnya bakteri termofilik, sehingga mengganggu miselium jamur. Namun apabila nutrisi pada baglog tidak terlalu tinggi, namun suhu pada ruang inkubasi terlalu panas dapat menyebabkan miselium menjadi tipis.
3. Kelembaban Udara
Pertumbuhan jamur kuping memerlukan kadar air mencapai 65%.
Kelembaban udara yang dibutuhkan jamur kuping sebelum masa
pembentukan tubuh buah jamur berkisar antara 60-75%, sedangkan kelembaban udara yang dibutuhkan jamur kuping untuk membentuk tubuh buah secara optimal berkisar antara 80-90%. Kelembaban dapat dipertahankan dengan penyemprotan secara berkala. Kelembaban yang terlalu tinggi dapat memberikan dampak buruk bagi pertumbuhan jamur kuping yaitu akan mengalami kebusukan dan terjadinya serangan hama penyakit, sedangkan kelembaban udara yang terlalu rendah (kurang dari 80%) menyebabkan tubuh buah yang terbentuk kecil.
4. Sirkulasi Udara
Ruangan atau kumbung jamur kuping hams memiliki sirkulasi udara yang cukup balk. Sirkulasi udara berhubungan dengan ketersediaan oksigen. Apabila sirkulasi udara dalam kumbung kurang baik, maka akan meningkatkan ketersediaan karbondioksida yang dapat menghambat pertumbuhan jamur kuping (Utoyo, 2010).
5. Intensitas Cahaya
Intensitas cahaya yang terlalu tinggi dapat mempengaruhi kelembaban udara. Jamur kuping membutuhkan cahaya yaitu pada saat pembentukan primordia dan proses pembentukan tubuh buah. Cahaya dapat mempengaruhi dalam proses pembentukan tubuh dan warna jamur kuping. Sinar atau cahaya yang langsung menembus tubuh jamur kuping dapat menyebabkan terjadinya kerusakan dan kelayuan (Wiardani, 2010).
6. Ketersediaan Oksigen dan Karbondioksida
Oksigen berperan dalam proses respirasi sel. Kadar ketersediaan oksigen yang terlalu rendah dapat menyebabkan tumbuhnya tubuh buah jamur kuping menjadi abnormal, mudah layu bahkan mati, keberadaan karbondioksida dalam kubung jamur tidak boleh melebihi 0,02 % karena dapat menyebabkan pertumbuhan abnormal pada jamur.
D.
Media Tanam Jamur KupingMedia yang digunakan dalam pertumbuhan jamur kuping berasal dari kayu yang memiliki senyawa karbon, nitrogen, vitamin dan mineral.
Komposisi media untuk jamur kuping yaitu serbuk gergaji kayu, bekatul, kapur (80:15:5) yang ditambahkan dengan air.
1. Serbuk gergaji kayu
Serbuk gergaji kayu menjadi bahan utama sebagai media tumbuh jamur kuping, hal ini karena kayu merupakan sumber karbon yang dibutuhkan sebagai sumber energi untuk membangun massa sel. Jamur kuping mempunyai 3 enzim penting yaitu selulase, hemiselulase dan ligninase. Jamur membutuhkan selulosa, lignin, karbohidrat, dan serat bagi pertumbuhannya. Kayu memiliki kandungan lignoselulosa, dimana kadungan tersebut akan didegradasi oleh enzim yang dimiliki jamur untuk menjadi selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang siap dikonsumsi oleh jamur.
Kandungan serat yang tinggi membutuhkan waktu pengomposan yang lebih lama untuk menjadi gula-gula yang dapat diserap jamur sebagai nutrisi. Jenis kayu yang baik digunakan antara lain karet (Hevea brasiliensis), pulai (Alstonia scholaris), sengon (Paraserianthes falcataria), suren (Toona sureni), manii (Maesopsis eminii) dan nangka (Artocarpus heterophyllus). Serbuk gergaji sebaiknya telah dikeringkan, dipilih yang berukuran sedang, yaitu tidak terlalu lembut dan tak terlalu kasar atau sekitar 20-60 mesh.
2. Bekatul
Bekatul merupakan hasil sisa penggilingan gabah padi. Bekatul memiliki fungsi atau peranan lain yaitu sebagai tempat tumbuhnya organisme pengurai kompos, sehingga media akan lebih cepat terdekomposisi. Kandungan pada bekatul terdiri atas protein, selulosa, serat, nitrogen, lemak dan P2O5. Bekatul memiliki kandungan seperti fitokimia, berbagai vitamin (thiamin, niacin, vitamin B-6), mineral (besi, fosfor, magnesium, potassium), asam amino, asam lemak esensial, dan antioksidan.
3. Kapur
Tujuan penambahan kapur yaitu untuk menjaga keasaman (pH).
Pemberian kapur yang terlalu banyak dapat menimbulkan kontaminan pada media jamur (Gunawan, 2001 dalam Darlina, 2008).
E. Budidaya Jamur Kuping
Budidaya jamur kuping sama seperti budidaya jamur tiram ataupun shiitake yaitu disiapkan subtrat tanam dalam bentuk campuran serbuk gergaji kayu ditambah bekatul, kapur, kemudian disterilkan, ditanami bibit dan akhirnya ditumbuhkan selama 2-3 bulan. Proses persiapan media tanam meliputi kegiatan pemiiihan bahan-bahan media tanam yang dibutuhkan dan proses pembuatannya.
a. Proses Perendaman/penyiraman
Serbuk gergaji untuk media tanam jamur kuping biasanya diperoleh di tempat penggergajian kayu, sehingga serbuk gergaji yang ada berasal dari bermacam-macam jenis kayu. Jenis kayu yang bagus untuk media tanam jamur kuping adalah kayu yang sehat dan cukup tua. Serbuk gergaji direndam terlebih dahulu sebelum digunakan untuk menghilangkan bahan- bahan yang tidak diinginkan seperti getah kayu dan tumpahan solar pada saat penggergajian.
b. Proses Pengayakan
Pada prinsipnya pengayakan dilakukan untuk menyeragamkan ukuran serbuk gergaji yang akan digunakan.
c. Proses Pencampuran
Serbuk gergaji yang sudah diayak selanjutnya dicampur dengan bahan-bahan lain. Komposisi berbagai macam media tanam yang dapat digunakan dalam budidaya jamur kuping, antara lain terdiri dari 100 kg serbuk gergaji, 15 kg bekatul, 5 kg kapur, dan 1 kg gips.
d. Proses Pewadahan (Pembuatan log)
Memasukkan media ke dalam kantong plastik tahan panas, dan tidak mudah pecah yaitu polipropilena (PP) ketebalan 0,005 mm.
Kedua ujung dasar plastik dilipat dan dimasukan ke dalam. Padatkan media dengan menggunakan alat mekanik sederhana atau alat lain.
Pengisian media tidak sampai penuh, namun masih ada ruang untuk pemansangan cincin pada ujung plastik.
Selesai dipasang cincin di permukaan media dilubangi untuk penanaman bibit jamur.
Sumbat lubang dengan kapan kuat-kuat, tutup dengan penutup plastik dan media siat di sterilkan.
e. Proses Sterilisasi
Media tanam dalam kantong plastik/baglog yang sudah dipadatkan disusun dalam drum besar yang dasarnya diisi air. Sterilisasi dilakukan pada suhu 900C selama 6-8 jam dengan menggunakan uap panas (dikukus) di dalam drum.
f. Proses Pendinginan
Media tanam yang sudah disterilisasi lalu didinginkan. Pendinginan dilakukan di dalam ruangan yang mempunyai sirkulasi udara cukup agar panas yang ada pada media tanam berangsur-angsur menjadi dingin.
g. Proses Inokulasi dan Inkubasi
Inokulasi adalah kegiatan penanaman bibit jamur kuping kedalam media tanam yang sudah disterilisasi. Kegiatan inokulasi harus selalu dilaksanakan dalam keadaan aseptis agar hasil yang diharapkan tidak terkontaminasi oleh mikroba lain. Ruang Inokulasi sebaiknya adalah ruangan khusus, yang bersih dan steril.
Inkubasi atau Spawning adalah suatu kegiatan (pengkondisian) untuk menumbuhkan bibit jamur kuping yang telah ditanam. Setelah dilakukan inokulasi, baglog ditempatkan dalam ruangan untuk menumbuhkan miseluin jamur.
h. Proses Penumbuhan
Kegiatan penumbuhan dalam budidaya kuping terdiri dari:
Memasukkan media tanam yang sudah penuh miselia (full spawn) ke dalam ruang penumbuhan.
Atur kondisi ruang penumbuhan pada suhu 20-300C dan kelembapan 80-90% dengan sirkulasi udara yang cukup.
Buka media lanam yang sudah penuh miselia dengan cara menyobek dinding atau dasar plastik dengan menggunakan cuter bersih/steril.
Biasanya pada umur 3-7 hari sudah ter-10 hari setelah terlihat calon jamur maka jamur kuping sudah dapat dipanen dengan ukuran yang normal.
Beberapa cara penempatan kantong media/baglog tanam di ruang penumbuhan yaitu kantong media tanam/baglog disusun dalam satu deret, kantong media tanam/baglog ditumpuk dalam satu deret, dan kantong media tanam/baglog digantungkan secara bertumpuk.
i. Panen dan Penanganan Pasca panen Panen
Jamur kuping siap dipanen bila ukurannya sudah optimal, ditandai dengan ciri-ciri jamur kuping sudah mulai mengerut keriting dengan bagian pinggir tudung sudah mulai menipis. Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut seluruh bagian jamur kuping yang ukurannya sudah optimal.
Penanganan Pasca Panen
Jamur kuping yang telah dipetik dipotong akarnya menggunakan gunting sampai bersih. Hilangkan sisa-sisa serbuk gergaji yang masih menempel kemudian dicuci dan dibilas hingga bersih, lakukan beberapa kali agar jamur menjadi bersih.
Gunakan anyaman bambu/kepang/gedeg atau alas lain untuk menjemurnya.
Setelah dipetik jamur dijemur langsung dibawah sinar matahari. Waktu penjemuran hingga kering biasanya 3-5 hari.
F. Pembibitan Jamur Kuping
Pembibitan merupakan tahapan budidaya yang memerlukan ketelitian tinggi karena harus dilakukan dalam kondisi steril dengan menggunakan bahan dan peralatan khusus. Awal budidaya jamur membutuhkan biakan
murni yang bebas dari kontaminasi dan memiliki sifat-sifat genetik yang baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Keberhasilan seorang pengusaha atau petani jamur dalam budidaya jamur sangat tergantung pada cara pemeliharaan dan penyimpanan biakan murni miselium jamur, sehingga jamur tetap mempunyai produktivitas yang tinggi. Dengan demikian miselium atau biakan murni miselium merupakan inti yang sangat menentukan dalam budidaya jamur. Dalam kegiatan pembibitan dikenal istilah BMM yaitu Biakan Murni Miselium .
Bibit jamur kuping sangat penting sekali dalam menentukan tingkat keberhasilan dalam budidaya jamur kuping. Kualitas bibit ini sangat menentukan keberhasilan. Bibit yang sudah terlalu tua (apalagi sudah tumbuh jamurnya) kurang baik untuk digunakan. Bibit yang berumur masih muda memiliki kekuatan yang lebih baik. Komposisi nutrisi pada bibit jamur kuping menentukan kualitas kekuatan miselium dalam perkembangan di baglog nantinya. Indikasi sederhananya dapat terlihat pada warna putih miselium di botol bibit. Jika putihnya berwarna sangat putih, ini mengindikasikan nutrisinya baik, tapi jika warna putihnya hanya semu saja, ini mengindikasikan nutrisi yang digunakan kurang (Sugianto, 2012).
Pembuatan kultur murni dilakukan melalui tiga tahap yaitu pembuatan media agar, pemilihan induk tanaman, dan isolasi. Tahapan pembuatan bibit jamur pada umumnya dikenal dengan pembuatan biakan murni (F0), yaitu hasil isolasi tubuh buah jamur yang diinokulasikan pada medium padat (agar) dengan nutrisi sintetis maupun semi-sintetis. Miselium tersebut kemudian dikembangkan ke tahap selanjutnya yaitu menjadi (Fl) dengan memindahan miselium jamur dari medium padat ke medium alami (umumnya serealia) yang kaya nutrisi dan digunakan sebagai bibit induk. Media yang digunakan untuk pembuatan biakan murni (F0) adalah Potatoes Dextrose Agar (PDA).
Penggunaan PDA karena kualitasnya sudah mengalami standarisasi.
Pembuatan media PDA ini sangat penting, karena jika tidak dilakukan dengan hati-hati dapat mengakibatkan terjadinya kontaminasi (Iskandar, 2017).
Kegiatan Kuliah Kerja Profesi dilaksanakan di UPTD BPPPMBTP Ngipiksari, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan Kuliah Kerja Profesi ini dilakukan dari Oktober 2020 sampai dengan Desember 2020.
B. Ruang Lingkup Kerja Profesi
1. Pembuatan Media PDA
Tahap pertama yaitu pembuatan media sebagai tempat tumbuh jamur tiram. Media tanam untuk pembibitan F1 yakni mengandung PDA (Potato Dextrose Agar) dengan memanfatkan ekstra kentang. Langkah-langkah pembuatan media yaitu:
a) Menyiapkan dan mengupas kentang.
b) Memotong kentang 50 g dan mencucinya.
c) Memotong kentang kecil-kecil dan dimasukkan ke panci dengan ditambahkkan air 500 ml kedalam beaker glass.
d) Merebus kentang selama 30 menit sambil diaduk-aduk secara merata dan memasukkan serbuk kayu sengon sekitar 1 genggam (± 100 g).
e) Menyiapkan bubuk glukosa dan agar yang sudah ditimbang masing- masing 38 g dan 26 g.
Pembibitan Jamur Kuping
Pembiakan F0, F1, F2, F3 dan F4
Pemeliharaan meliputi: Hama dan
Penyakit Media PDA (F1)
Media serbuk kayu (F2,F3, F4)
f) Memasukkan bubuk glukosa dan agar setelah kentang mendidih, lalu diaduk sampai merata.
g) Menyaring air rebusan kentang kedalam beaker glass hingga 250 ml.
h) Menyiapkan tabung reaksi beserta raknya.
i) Menuangkan air rebusan kentang kedalam 48 tabung reaksi sebanyak 1 sdm.
j) Menutup tabung reaksi dengan kapas dan alumunium foil.
k) Memasukkan tabung reaksi yang sudah berisi media PDA ke dalam saringan autoklaf kemudian ditata rapi.
l) Memasukkan saringan autoklaf kedalam autoklaf engan tekanan 1 atm selama 30 menit dan ditutup rapat.
m) Membuka autoklaf setelah 30 menit dengan perlahan, lalu mengangkat saringan yang ada didalam autoklaf.
n) Menempatkan tabung reaksi dalam keadaan miring, dan jangan sampai tersentuh kapas supaya saat membuka media PDA tidak menempel.
o) Tabung reaksi didiamkan sampai media PDA memadat selama 2 hari.
2. Pembibitan F0 dan F1
Cara kerja untuk pembuatan biakan murni F0 adalah dengan memilih jamur kuping yang telah dewasa, sehat, dan bebas dari hama dan penyakit.
Selanjutnya dilakukan pembuatan biakan F1 yaitu miselium jamur yang ditumbuhkan dari spora dewasa atau jamur induk. Biakan ini merupakan langkah awal dalam teknik pembibitan jamur. Pengambilan dan penanaman eksplan (inokulasi) bibit F1 jamur kuping dilakukan dengan cara :
a) Menyalakan Laminar Air Flow dan lampu bunsen serta menyiapkan alkohol 70%, jarum ose, pinset dan pisau scapel.
b) Melakukan sterilisasi alat dan menyemprotkan tangan dengan alkohol 70%.
c) Mencari dan memilih jamur kuping yang memenuhi kriteria.
d) Mencuci jamur kuping dengan aquadest hingga bersih.
e) Menyemprot jamur kuping dengan alkohol 70%.
f) Mengambil jaringan (eksplan) dari irisan bagian dalam jamur dengan memisahkan lapisan atas dan lapisan bawah jamur kuping. Bagian tubuh buah jamur kuping yang paling tebal terletak pada bagian
"ketiak"nya.
g) Mengambil eksplan dengan menyayat bagian tersebut selebar l cm, panjangnya sekitar 1 cm dan ketebalan 0,1 cm. Untuk memudahkan penyayatan, kita dapat menggunakan spatula (pisau lancip bertangkai) atau pisau bedah yang tajam dan steril.
h) Memasukkan eksplan tersebut kedalam media tanam PDA.
i) Menginkubasi bibit F1 didalam lemari yang gelap dengan suhu ruangan selama 6-7 hari.
3. Pembibitan F2
Tahap ketiga adalah pembibitan jamur kuping F2 bertujuan untuk memperbanyak miselium jamur yang berasal dari biakan murni. Langkah- langkahnya tidak beda jauh denga F1, hanya media dan tempat tumbuh yang berbeda. Sumber inokulasi F2 berasal dari miselium jamur PDA (F1). Berikut langkah-langkah pembibitan F2 :
a) Mensterilkan ruang inokulasi.
b) Mensterilkan pinset dengan cara mencelupkan ke dalam larutan alkohol 70% dan membakarnya ± 5 detik diatas lampu bunsen sampai membara kemudian didinginkan.
c) Mengambil miselium jamur dari PDA (F1) dengan pinset, kemudian menginokulasikan pada lubang dalam botol F2, ini dilakukan didekat nyala api bunsen agar tetap steril dan menghindari terjadinya kontaminasi.
4. Pembibitan F3
Pembibitan F3 bertujuan untuk memperbanyak miselium jamur kuping yang berasal dari pembibitan tahap F2. Sumber inokulasi F3 berasal dari miselium bibit F2. Berikut langkah-langkah pembibitan F3:
a) Mengeluarkan botol kultur setelah disterilisasi selama 4 jam dari autoklaf lalu ditaruh dikeranjang krat yang sudah disiapkan dan ditata rapi serta membuka plastik.
b) Menyalakan Laminar Air Flow dan lampu bunsen serta menyiapkan alkohol 70%, pinset, bibit jamur F2.
c) Memasukkan botol kultur 70% lalu ditata rapi sampai memenuhi setengah laminar.
d) Memanaskan pinset diatas lampu bunsen lalu mengambil bibit jamur F2 diaduk dengan menggunakan pinset.
e) Mengambil bibit jamur F2 menggunakan pinset lalu dituangkan dengan carabotol kultur F2 diputar-putar ke dalam bibit jamur F3 secara urut serta membuka dan menutup kapas.
f) Memindahkan botol kultur ke ruang inkubasi setelah semua bibit jamur F3 terisi bibit jamur F2. Proses inkubasi membutuhkan waktu 1 bulan, suhu 25°C-29°C dan dalam keadaan gelap.
5. Pembibitan F4
Langkah pembuatan dan bahan medium F4 sama dengan medium F2 dan F3 perbedaannya terletak pada medium F2 dan F3 menggunakan botol
kultur sedangkan medium F4 menggunakan plastik polybag (baglog).
Medium bibit F4 diisi sesuai batas ke plastik kemudian dipadatkan dengan alat dan dipasang cincin pada plastik lalu medium tanam yang sudah benar ditusuk pada bagian atasnya menggunakan penyodok kayu runcing berdiameter ±2 cm untuk tempat inokulasi kemudian ditutup dengan kapas lalu penutup baglog. Media tanam yang sudah siap selanjutnya dilakukan sterilisasi selama 4 jam. Media diambil dari streamer dan plastik pada ujung botol dilepas lalu botol berisi medium disimpan dalam tempat yang steril.
Pembuatan biakan F4 yaitu miselium dari biakan F3 ditanamkan ke media biakan F4 yang berada di baglog yang sudah steril berisi campuran serbuk kayu sengon, bekatul, kapur, dan air. Baglog disemprot dengan alkohol 70% agar steril. Sebelum diinokulasikan biakan F3 dipilih yang sudah penuh miseliumnya dan diaduk terlebih dahulu dengan pinset agar tidak menggumpal kemudian bibit F3 dimasukkan ke dalam baglog dengan cara menuangkan dari mulut botol F3 ke mulut baglog dan dilakukan disekitar bunsen agar steril, kemudian ditutup dengan kapas dan penutup baglog. Baglog-baglog yang telah ditanami bibit jamur kuping segera disimpan (diinkubasi) dalam kubung (rumah jamur). Hasil pembiakan F4 ini dapat dijual kepada petani dan masyarakat lain atau ditanam sendiri dalam kubung budidaya jamur kuping.
C. Metode Pelaksanaan Kuliah Kerja Profesi
Kegiatan Kuliah Kerja Profesi dilaksanakan secara mandiri oleh mahasiswa mulai dari mencari lokasi, pendekatan dengan instansi tempat kegiatan kuliah kerja profesi hingga pelaksanaannya. Kegiatan ini dibimbing oleh pembimbing magang baik internal (dosen pembimbing) dan eksternal (pembimbing lapangan).
Pengumpulan data dilakukan dengan cara berikut:
1. Observasi
Mahasiswa melakukan pengamatan secara langsung di lapangan mengenai semua kegiatan budidaya khususnya pembibitan jamur kuping di UPTD BPPPMBTP Ngipiksari, Sleman.
2. Wawancara
Mahasiswa menanyakan secara langsung mengenai semua kegiatan di UPTD BPPPMBTP Ngipiksari, Sleman terutama mengenai teknik budidaya dan pembibitan jamur kuping kepada pembimbing lapangan dan pihak-pihak yang terkait selama kegiatan.
3. PraktekLapangan
Mahasiswa mengikuti beberapa kegiatan budidaya jamur kuping secara langsung di lapangan khususnya pada proses pembibitan jamur kuping, pembuatan media jamur, sterilisasi media, inokulasi dan inkubasi.
4. Studi Pustaka
Mahasiswa mencari referensi untuk melengkapi data-data yang diperlukan agar diperoleh hubungan antara teori dan aplikasinya ditempat mahasiswa melakukan kuliah kerja profesi. Sumber data diperoleh dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari responden. Data primer tersebut diperoleh dari wawancara langsung kepada pembimbing lapangan dan pihak terkait di UPTD BPPPMBTP Ngipiksari, Sleman. Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari data yang diambil melalui buku dan catatan.
1. Sejarah UPTD BPPPMBTP Ngipiksari
Balai Pengembangan dan Promosi Agribisnis Perbenihan Hortikultura (BP2APH) Ngipiksari Kaliurang Yogyakarta, merupakan salah satu Unit Pelaksanaan Teknis Dinas (UPTD) dari Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta, bekerja di bawah pengawasan dan bertanggung jawab pada Kepala Dinas Pertanian DIY.
Pada tahun 1960, Pemerintah di Yogyakarta mendirikan kebun percontohan hortikultura di Ngipiksari Kaliurang, Pakem Sleman Yogyakarta. Pada saat berdirinya kebun percontohan yang mempunyai luas areal 2,04 ha mengemban tugas melaksanakan budidaya tanaman hortikultura dan memproduksi benih maupun bibitnya. Pada tahun 1981/1982 luas arealnya berkurang menjadi 1,25 ha karena diminta oleh Pemerintah Daerah untuk mendirikan “Kebun Percontohan Perkebunan”
di sebelah selatan kantor BBI Hortikultura.
Sejalan dengan perkembangan hortikultura Pemerintah, dalam kebijaksanaannya mengharapkan penyediaan benih atau bibit hortikultura diarahkan dan dipenuhi oleh swasta. Pemerintahan mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Direktorat Jendral Pertanian Nomor 1 A5.B2.6 tertanggal 10 Februari 1982 tentang Pembentukan Balai Benih Induk Hortikutura Ngipiksari Pakem, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mempercepat laju swastanisasi. BP2APH dibentuk berdasarkan Perda Nomor 7 tanggal 3 Agustus 2002 dan diundangkan oleh DPRD DIY Tanggal 12 Agustus 2002. BP2APH merupakan pengabungan BBI Hortikultura Ngipiksari, BBP Hortikultura Wonocatur BBP Hortikultura Tambak serta Instalasi Kultur Jaringan Wonocatur.
Sesuai dengan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No:
38 tahun 2008 tanggal 12 Desember 2008, Balai Pengembangan
19
Tanaman Pangan yaitu sekarang menjadi Balai Pengembangan Perbenihan dan Pengawasan Mutu Benih Tanaman Pangan (BPPPMBTP).
Gambar 1. Kantor UPTD BPPPMBTP 2. Kondisi Geografis
BPPPMBTP Daerah istimewa Yogyakarta terletak di Jalan Yogykarta-Kaliurang pada Km.23 serta berjarak ± 2 km dari lokasi wisata kaliurang dan dekat dengan gunung Merapi. Berada pada ketinggian 850 m di atas permukaan laut dengan topografi 50% kondisi tanah datar 35% kondisi tanah bergelombng dan 15% kondisi tanah agak curam. Dilihat dari geografisnya, jenis tanah di Kabupaten Sleman yaitu tanahRegosol berpasir dengan kandungan pasir tinggi dan berkerikil,miskin bahan organik daya menahan air rendah serta rentan terhadap erosi. Letak tempat ini berdasarkan koordinat di Bumi adalah 7°36’36” (7,61°) LS dan 110°25’9” 910,4192) BT. Kadar keasaman (pH) tanah 5,3-6,3 dengan curah hujan rata-rata ±2.200-3.000 mm/tahun, hari hujan rata-rata 14 hari hujan/bulan atau termasuk kategori tipe basah, suhu minimal rata-rata ± 24°C dan suhu maksimum rata-rata 29°C dengan kelembapan udara sekitar 70-95%.
3.
Sarana, Prasarana, Fasilitas dan Bidang UsahaSetelah mengalami beberapa kali perluasan, saat ini luas wilayah BPPPMBTP Ngipiksari 8,17 ha, yang terdiri dari areal produktif 3,70 ha dan areal yang tidak produktif 4,47 ha. Sarana dan fasilitas yang ada di BPPPMBTP Ngipiksari cukup memadai untuk melaksanakan sesuai
dengan tugas dan fungsinya, meskipun masih diperlukan penambahan beberapa fasilitas dan saran untuk kesempurnaannya. Jenis atau macam sarana dan fasilitas yang ada antara lain sebagai berikut:
a. Kantor (guest house), untuk kegiatan administrasi dan pemasaran benih serta gudang (alat, saprodi, dll).
b. Laboratorium benih untuk menguji kualitas benih yang unggul
c. Peralatan prosesing dan penyimpanan benih guna menunjang proses pemilihan benih yang akan digunakan serta menyimpan benih yang unggul
d. Peralatan pengolahan lahan (alsintan) untuk memperlancar kegiatan yang ada dilahan
e. Lahan sendiri beserta saran air dan pengairan yang tersedia cukup lancar.
f. Alat kantor, komunikasi, dan transportasi yang dapat membantu kelancaran.
g. Tersedianya dana dari daerah atau pusat untuk operasional teknis dan non teknis.
4. Visi dan Misi BPPPMBTP a. Visi
Mewujudkan pertanian Tangguh, dengan peran sebagai penyedia benih tanaman pangan dan holtikultura unggul yang berkualitas, berdayasaing, dan berkelanjutan.
b. Misi
1) Menghasilkan benih tanaman pangan dan holtikultura yang mendukung peningkatan kesejahteraan petani.
2) Melaksanakan upaya pemurnian/pemutihan varietas unggul lokal maupun nasional tanaman pangan dan holtikultura.
3) Meningkatlan daya saing dan agribisnis penangkaran.
4) Mengembangkan kapasitas balai untuk melaksanakan kemampuan dan profesionalisme dengan melaksanakan pengamatan,
pengkajian, dan pengembangan varietas unggul tanaman pangan dan hortikultura.
5. Struktur Organisasi
Bagan struktur organisasi Balai Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura yaitu sebagai berikut :
Gambar 2. Bagan Struktur Organisasi UPTD BPPPMBTP
Balai Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPPTPH) Ngipiksari Sleman Yogyakarta, dipimpin oleh seorang kepala balai yang bertanggung jawab langsung kepala dinas
Kepala Dinas Pertanian Prop. DIY Ir. Sasongko
Kepala P2TPH
Ir. Suharto Budiono, MP Sub. Bagian Tata Usaha Sabar Santoso, S.TP
Seksi Pengembangan Produksi Benih Tanaman Pangan
Ir.Suharyadi
Seksi Pengembangan Produksi Benih Hortikultura
Savitri Ediningsih, SP
Koor. Unit Kerja Tambak Sukirman, S.ST
Koor. Unit Kerja Ngipiksari Siti Setiyawati, S.ST
Koor. Unit Kerja Wonocatur
Sumarna
Penanggung Jawab Keg. Sayuran Siti Setiyawati, S.ST
Penanggung jawab Keg.
Buah Supriyanta
Penanggung jawab Keg.
Jamur Muryana
Penanggung Jawab Keg.
Tanaman Hias Sugiman
pertanian DIY. Seorang kepala balai dibantu oleh seorang kepala bagian tata usaha dan 2 orang kepala seksi yaitu kasie pengembangan produksi benih tanaman pangan dan kasie pengembangan produksi benih hortikultura, kemudian dibagi lagi menjadi 3 bagian koordinator yaitu koordinator unit kerja Wonocatur, koordinator unit kerja Ngipiksari dan koordinator unit kerja Tambak. Untuk unit kerja Ngipiksari dibagi menjadi 4 penanggung jawab kegiatan yaitu penanggungjawab kegiatan sayuran, buah, jamur dan tanaman hias.
a. Tugas Pokok dan Fungsi BPPTPH
Tugas Pokok dari Balai Pengembangan dan Perbenihan Tanaman Pangan Hortikultura (BPPTPH) adalah sebagai berikut :
1. Menyusun rencana program Balai
2. Melaksanakan pengembangan teknologi perbenihan Hortikultura 3. Melaksanakan kegiatan produksi benih Hortikultura
4. Melaksanakan promosi dan pemasaran benih Hortikultura 5. Melaksanakan pelayanan di bidang perbenihan hortikultura 6. Melaksanakan kegiatan ketatausahaan
Balai Pengembangan dan Promosi Tanaman Pangan Hortikultura (BP2TPH) Ngipiksari memiliki fungsi sebagai pelaksana sebagian tugas Dinas Pertanian di bidang pengembangan dan promosi agribisnis perbenihan hortikultura. Berdasarkan tugas dan fungsi yang diberikan oleh dinas pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut, maka Balai Pengembangan dan Perbenihan Tanaman Pangan Hortikultura (BP2TPH) Ngipiksari melaksanakan beberapa usaha yang diusahakan setiap tahunnya yang tergantung pada musim, kecenderungan kebutuhan konsumen, dan anggaran belanja yang tersedia. Komoditas yang diusahakan dibedakan menjadi beberapa komoditi, yaitu:
1. Benih sayur-sayuran misalnya tomat, cabe, buncis, kacang panjang.
2. Bibit buah-buahan misalnya jeruk keprok, durian, manggis, mangga, kelengkeng, alpukat, sawo, sukun, melinjo.
3. Bibit aneka tanaman hias meliputi tanaman hias indoor dan outdoor serta anggrek (tanah dan epifit).
4. Bibit jamur edible meliputi jamur linghze, jamur kuping, jamur tiram.
5. Juga mengusahakan beberapa komoditi jenis rempah dan tanaman obat-obatan seperti jahe dan kunir.
B. Topik Khusus Kerja Profesi
Jamur kuping (Auricularia auricula-judae L.) merupakan salah satu kelompok jelly fungi yang masuk ke dalam kelas Basidiomycota dan mempunyai tekstur jelly yang unik. Jamur kuping yang memiliki nilai ekonomi, potensial, dan prospektif sebagai pendapatan ini masih terkendala oleh produktivitas yang masih rendah. Penyebab produktivitas yang rendah antara lain, (1) substrat media produksi tidak dimodifikasi/diperbaiki (formula substrat selalu sama setiap waktu), (2) bibit diperoleh dari sumber dan strain yang sama dan kurang unggul, (3) bibit kadaluarsa, dan (4) tempat budidaya jamur kurang higienis, karena itu terjadi kontaminasi pada substrat berkisar antara 5-20%.
Tahap pertama dalam pembibitan jamur kuping yakni pembuatan media sebagai tempat tumbuh jamur kuping. Media tanam jamur kuping untuk pembibitan F1 yakni menggunakan PDA (Potato Dextrosa Agar) dengan memanfaatkan ekstrak kentang. Media PDA dipilih karena mengandung karbohidrat tinggi, sehingga kentang sangat cocok sebagai media PDA untuk jamur kuping dengan kandungan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan miselium jamur. Pembuatan media tanam PDA yang digunakan untuk pembibitan F1 dilakukan dengan cara menyiapkan dan mengupas kentang, lalu memotong kentang 50 g dan mencucinya.
Proses selanjutnya yang dilakukan yaitu memotong kentang kecil-kecil dan dimasukkan ke panci dengan menambahkan air sampai 500 ml kedalam breaker glass. Kentang direbus selama 30 menit sambil diaduk-aduk secara merata dan memasukkan serbuk kayu sengon sekitar ±100 g atau satu
genggam tangan yang sesuai dengan (Gambar 3a). Sambil menunggu rebusan kentang dan serbuk kayu, selanjutnya menyiapkan bubuk glukosa dan agar yang sudah ditimbang dengan berat masing-masing 38 g dan 26 g yang sesuai dengan (Gambar 3b). Memasukkan bubuk glukosa dan agar setelah kentang mendidih, lalu diaduk sampai merataserta menyaring air rebusan kentang kedalam beaker glass hingga 250 ml yang sesuai dengan (Gambar 3c).
Langkah selanjutnya yakni menyiapkan tabung reaksi beserta raknya dan menuangkan air rebusan kentang kedalam 48 tabung reaksi sebanyak 1 sdm seperti (Gambar 3d). Menutup tabung reaksi dengan kapas dan alumunium foil lalu memasukkan tabung reaksi yang sudah berisi media PDA kedalam saringan autoklaf kemudian tata rapi yang sesuai dengan (Gambar 3 (e dan f). Penutupan alumunium foil bertujuan untuk melindungi kapas dari uap air saat sterilisasi sehingga kapas tidak basah. Kapas yang basah merupakan salah satu perangsangtumbuh kontaminasi pada media PDA.
Memasukkan saringan autoklaf kedalam autoklaf dan mengatur tekanan tekanan 1 atm selama 30 menit dan ditutup rapat seperti (Gambar 3g).
Membuka autoklaf setelah 30 menit dengan perlahan lalu mengangkat saringan yang ada didalam autoklaf. Meletakkan tabung reaksi dalam keadaan miring dan dan jangan sampai menyentuh kapas supaya saat membuka media PDA tidak menempel seperti (Gambar 3h). Proses terakhir yaitu tabung reaksi didiamkan sampai media PDA memadat selama 2 hari.
Gambar 3. Proses Pembuatan Media PDA
Tahapan selanjutnya yaitu dilakukan pembibitan F1 dengan pengambilan spora langsung dari eksplan jamur kuping yang memenuhi kriteria yaitu telah dewasa, sehat dan bebas dari hama dan penyakityang sesuai dengan (Gambar 4a). Pembuatan biakan F1 adalah langkah awal dalam teknik pembibitan jamur. Pertama-tama hal yang dilakukan yaitu mencuci jamur kuping dengan aquades lalu memilih jamur yang telah memenuhi kriteria. Langkah selanjutnya menyemprot eksplan menggunakan alkohol.
Eksplan yang akan digunakan dalam pembibitan F1 jamur kuping dilakukan proses pemisahan bagian atas dan bawah jamur kuping lalu mengambil jaringan (eksplan) dari irisan dalam jamur dengan menyayat bagian tersebut selebar l cm, panjang 1 cm dan ketebalan 0,1 cmyang sesuai dengan (Gambar 4b). Bagian tubuh buah jamur kuping yang paling tebal terletak pada bagian "ketiak"nya. Untuk memudahkan penyayatan, kita dapat menggunakan spatula (pisau lancip bertangkai) atau pisau bedah yang tajam dan steril. Proses selanjutnya, eksplan diletakkan pada medium PDA dan diusahakan saat peletakan tidak mengenai dinding tabung reaksiseperti (Gambar 4c). Pada proses pengambilan eksplan dilakukan di dekat api yang menyala agar mengurangi tingkat kontaminasi.
Proses selanjutnya, dilakukan penutupan pada tabung reaksi dengan menggunakan kapas dan diinkubasi dalam lemari penutup atau gelap dengan suhu ruang sekitar ±23-27oC dan steril. Pertumbuhan miselium dapat diamati setelah 6-7 hari. Pertumbuhan dikatakan berhasil jika miselium tumbuh merata pada permukaan media dan tumbuh benang halus berwarna putih.
Tanda medium terkontaminasi yaitu medium ditumbuhi oleh selain miselium jamur kuping dengan miselium berwarna hijau, kuning, atau ada noda hitam seperti (Gambar 4d).
Gambar 4. Proses Pembibitan F1
Proses pembibitan jamur kuping umumnya melewati beberapa tahap penyiapan benih seperti benih jamur kuping F0, F1, F2, F3, dan F4. Tahap F0 merupakan tahap paling awal yaitu dengan teknik kultur jaringan tubuh buah jamur kuping yang ditumbuhkan pada media agar. Hasil dari kultur ini berupa benih jamur F1 yang kemudian dikembangbiakkan menjadi benih jamur F2, F3, dan F4. Pembuatan medium atau media tumbuh untuk jamur F2, F3, dan
a b
c d kontaminasi
F4 menggunakan bahan yang sama berupa campuran serbuk kayu, bekatul dan kapur (CaCO3) atau dolomit.
Komposisi yang digunakan di UPTD BPPPMBTP sebagai bahan media tumbuh terdiri dari serbuk kayu sengon (1 angkong) 35 kg, bekatul (1 ember) 3,5 kg, dan kapur (1 gelas) 0,35 kg dengan perbandingan 10:1:0,1 seperti (Gambar 5). Ketiga bahan tersebut dilakukan pencampuran dan pengayakan sebelum dimasukkan kedalam botol media atau baglog. Pada saat memasukkan media tumbuh dilakukan penekanan agar media menjadi padat, selanjutnya diberi lubang dengan menggunakan kayu dan menutup botol dengan kapas serta plastik sebelum dilakukan sterilisasi. Sterilisasi dilakukan selama 4 jam dengan menggunakan autoklaf. Satu autoklaf dapat memuat
±180 botol media.
Gambar 5. Media Tumbuh Jamur Untuk Pembibitan F2, F3, F4 yang Terdiri dari Campuran Kapur, Bekatul dan Serbuk Kayu Serbuk kayu yang digunakan dalam proses pembibitan F2, F3, dan F4 yaitu kayu sengon (albasia). Kayu sengon dipilih karena mengandung selulosa tinggi, lignin rendah, tidak bergetah, mudah menyerap dan menyimpan air. Pemilihan kayu juga didasarkan dari sifat kayu yang lunak karena semakin lunak kayu maka semakin mudah diuraikan oleh jamur
sehingga ketersediaan nutrisi dapat cepat terpenuhi. Selain itu kayu sengon juga memiliki proses fermentasi yang lebih cepat. Proses fermentasi tersebut bertujuan untuk menguraikan dan menghilangkan kotoran, getah dari kayu yang terkandung dalam serbuk kayu serta mempercepat penguraian senyawa nutrisi sehingga mudah dicerna oleh jamur kuping. Serbuk kayu yang digunakan melalui proses fermentasi terlebih dahulu dengan dialiri air terus menerus sampai kadar airnya 80% lalu dibiarkan selama 1-2 minggu di tempat terbuka.
Bahan lain yang dibutuhkan pada pembibitan jamur kuping yaitu bekatul dan kapur atau dolomit. Bekatul berfungsi untuk meningkatkan nutrisi media tanam sebagai sumber karbohidrat. Bekatul mengandung beberapa makro elemen penting seperti Mg dan Fe, penggunaan bekatul dalam jumlah berlebih dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan missellium karena media menjadi mudah terkontaminasi oleh mikroba.
Bekatul yang dipilih yang masih baru, belum tengik dan tidak rusak.
Penyimpanan bekatul dalam waktu lama akan menyebabkan bekatul menggumpal dan mengalami pembusukan serta tidak tercampur dengan bahan lain sehingga dapat menggangu pertumbuhan jamur. Bahan lain yaitu kapur atau dolomit memiliki fungsi sebagai sumber mineral bagi pertumbuhan jamur kuping. Kisaran pH optimum untuk pertumbuhan jamur adalah 6-7. Tingkat keasaman media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur kuping. Apabila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka pertumbuhan jamur kuping akan terhambat.
Tahap pembibitan jamur kuping F2 bertujuan untuk memperbanyak miselium jamur yang berasal dari biakan murni. Langkah-langkah dalam pembibitan F2 tidak berbeda jauh dengan pembibitan F1, hanya media dan tempat tumbuh yang berbeda. Sumber inokulasi F2 berasal dari miselium jamur PDA (F1)seperti (Gambar 6). Pada saat setelah sterilisasi botol kultur dilakukan proses pendinginan yang merupakan upaya menurunksn suhu media tanam sampai mencapai suhu ruangan. Tujuan dilakukan hal tersebut agar bibit jamur yang akan dimasukkan kedalam botol tidak mati. Tanda-
tanda pembibitan F2 yang berhasil yakni jika media sudah dipenuhi miselium jamur berwarna putih. Jika miselium tidak tumbuh berwarna putih maka terjadi kegagalan dan apabila terjadi maka botol media harus di pisahkan serta media harus segera dibuang.
Gambar 6. Proses Pembibitan F2
Pembibitan F3 bertujuan untuk memperbanyak miselium jamur yang berasal dari pembibitan F2. Proses pembibitan F3 sama dengan F2, mulai dari media dan bahan yang digunakan maupun langkah-langkah yang dilakukan termasuk inokulasi. Inokulasi bertujuan untuk menaburkan miselium jamur pada media tanam. Tahapan inokulasi terdiri dari mengeluarkan botol kultur setelah disterilisasi selama 4 jam dari autoklaf lalu ditaruh dikeranjang krat yang sudah disiapkan dan ditata rapi serta membuka plastik. Menyalakan Laminar Air Flow dan lampu bunsen serta menyiapkan alkohol 70%, pinset, bibit jamur F2. Memasukkan botol kultur 70% lalu ditata rapi sampai memenuhi setengah Laminar seperti (Gambar 7a).
Proses selanjutnya yang dilakukan yaitu memanaskan pinset diatas lampu bunsen lalu mengambil bibit jamur F2 diaduk dengan menggunakan pinsetseperti (Gambar 7b). Mengambil bibit jamur F2 menggunakan pinset lalu dituangkan dengan carabotol kultur F2 diputar-putar ke dalam bibit jamur
F3 secara urut serta membuka dan menutup kapas seperti (Gambar 7c). Jika semua bibit jamur F3 terisi bibit jamur F2 maka dilanjutkan dengan pemindahan botol kultur ke ruang inkubasi. Proses inkubasi membutuhkan waktu 1 bulan, suhu 25°C-29°C dan dalam keadaan gelap seperti (Gambar 7d).
Perbedaan proses inokulasi F2 dan F3 terletak pada sumber inokulasinya. Sumber inokulasi F3 berasal dari miselium bibit F2. Setiap satu tabung reaksi F1 mampu menghasilkan ±20 botol bibit F2. Satu botol F2 mampu menghasilkan 170-200 botol bibit F3 sedangkan 1 botol bibit F3 dapat menghasilkan ±35 plastik polybag atau baglog F4. Proses selanjutnya yaitu dilakukan inkubasi yang bertujuan mendapatkan pertumbuhan miselium yang serempak. Proses inkubasi memerlukan waktu 1 bulan dalam keadaan gelap. Inkubasi dilakukan hingga permukaan media ditumbuhi miselium berwarna putih merata sebesar 25-50%. Miselium yang baik berwarna putih sedangkan miselium yang rusak berwarna coklat. Apabila setelah 2 minggu tidak terdapat pertumbuhan miselium jamur maka kemungkinan besar jamur tidak tumbuh akibat media tumbuh terlalu padat atau terkontaminasi. Botol yang terkontaminasi disingkirkan dan dibuang untuk menghindari penyebaran kontaminasi. Bibit F3 yang sudah ditumbuhi miselium sampai merata dapat dijual langsung ke pembeli.
a b
Gambar 7. Proses Pembibitan F3
Langkah pembibitan F4 sama dengan F2 dan F3, perbedaannya terletak pada medium F2 dan F3 menggunakan botol kultur sedangkan medium F4 menggunakan plastik polybag (baglog). Medium bibit F4 diisi sesuai batas ke plastik kemudian dipadatkan dengan alat dan dipasang cincin pada plastik lalu medium tanam yang sudah benar ditusuk pada bagian atasnya menggunakan penyodok kayu runcing berdiameter ±2 cm untuk tempat inokulasi kemudian ditutup dengan kapas lalu penutup baglog. Proses selanjutnya, dilakukan proses inokulasi yang sama seperti inokulasi F2 dan F3seperti (Gambar 8). Baglog-baglog yang telah ditanami bibit jamur kuping selanjutnya di inkubasi dalam kubung (rumah jamur). Hasil pembiakan F4 berupa jamur kuping ini dapat dijual kepada petani dan masyarakat lain.
Gambar 8. Proses Pembibitan F4 d
c
Proses pembibitan jamur kuping tidak luput dari gangguan hama dan penyakit, maka perlu dilakukan upaya pengendalian. Hama utama pada jamur yakni tikus, kumbang dan kerpes. Penyakit dari golongan jamur yakni Trichoderma spp, Aspergillus spp, Neurospora spp dan jamur parasit lainnya.
Upaya pengendalian hama dan penyakit yang efektif yaitu dengan pemilihan benih sehat, media tumbuh atau botol bersih dan memadai, inokulasi steril dan aseptik, dan ruangan yang steril serta pemeliharaan yang baik dan benar.
Apabila ada botol yang sudah terindikasi terserang hama dan penyakit maka segera dikeluarkan dari ruang inkubasi dan dimusnahkan (Gambar 9)
Gambar 9 Jamur yang Terkontaminasi
1. Proses pembibitan jamur kuping umumnya melewati beberapa tahap penyiapan benih seperti benih jamur kuping F0, F1, F2, F3, dan F4.
Teknik pembibitan pada bibit F1 langsung berasal dari eksplan jamur kuping yang sudah dewasa, sedangkan teknik pembibitan F2 dan F3 adalah sama yang bertujuan untuk memperbanyak miselium jamur.
2. Pembuatan media tumbuh pada pembibitan jamur kuping F1 menggunakan PDA (Potato Dextrosa Agar) serta campuran serbuk kayu, bekatul dan kapur pada pembibitan F1, F2 dan F3. Pada proses pembibitan jamur kuping bibit yang dapat dijual merupakan hasil pembibitan F3.
3. Proses pembibitan F1 digunakan alat untuk media tumbuh yaitu tabung reaksi, pada pembibitan F2 dan F3 yaitu menggunakan botol sedangkan pada pembibitan F4 menggunakan polybag atau baglog. Proses-proses yang dilakukan dalam pembibitan jamur kuping yaitu sterilisasi medium atau media tanam, inokulasi dan inkubasi.
B. Saran
Proses pembibitan jamur kuping diharapkan selalu dalam kondisi yang aseptik, agar tidak terkontaminasi dan mendapatkan hasil yang berkualitas unggul. Kualitas indukan jamur yang akan diinokulasi lebih diperhatikan dan diseleksi dengan cermat agar miselium jamur dapat tumbuh dengan baik.
Pengisian media tanam diusahakan tidak terlalu padat karena dapat menyebabkan pecahnya botol saat di sterilisasi dalam autoklaf dan dapat pula menyebabkan pertumbuhan miselium jamur menjadi lambat, serta dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai perbandingan media tanam untuk pembibitan jamur kuping agar produksi lebih maksimal.
35
DAFTAR PUSTAKA
Ajrina, T. 2012. Karaterisasi Jamur Makromorfologi dan Mikromorfologi serta Koleksi Jamur Makroskopis. Skripsi. Fakultas Biologi. Universitas Jendral Soedirman.
Djarijah, N. M. dan Abass, S.D. 2008. Budidaya Jamur Kuping, Pembibitan dan Pemeliharaan. Yogyakarta: Kanisius.
Darlina, E. dan I. Darliana. 2008. Pengaruh Dosis Dedak Dalam Media Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram Putih (Pleurotus floridae).
Majalah Ilmiah Bulanan Kopertis Wilayah IV,XX (6) : 32-38.
Gunawan dan A. Widya. 2001. Usaha Pembibitan Jamur. PT. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Hastiono S. 2004. Hikmah Hidup Bersama Cendawan. Jurnal. Warta 14 : 4.
Iskandar, R. 2017. Pertumbuhan dan Produksi Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) Pada Berbagai Media Tanam Bibit F0 Dan F1. Skripsi. Fakultas Pertanian.
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Nurilla, N., Setyobudi L., dan Nihayati E. 2013. Studi Pertumbuhan Dan Produksi Jamur Kuping (Auricularia auricula) Pada Substrat Serbuk Gergaji Kayu Dan Serbuk Sabut Kelapa. Jurnal Produksi Tanaman. 1(3): 40-41.
Parjimo dan Andoko. 2007. Budidaya Jamur (Jamur Kuping, Jamur Tiram, dan Jamur Merang). Jakarta: Agromedia.
Ramadani, M. 2014. Pengaruh Masa Inkubasi Terhadap Kandungan Serat Baglog Jamur Kuping (Auricularia auricula) Untuk Pemanfaatan Pakan Alternatif.
Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Hasanudin. Makassar.
Sugianto, A dan Arif S. 2012. Pengujian Bibit Jamur Tiram Putih yang Dibuat Dengan Metode Tanam Eksplan Langsung (TEL) dan Biakan Murni Miselium (BMM). Jurnal Produksi Tanaman. 3(7):15-18.
Suriawiria, U. 2006. Budidaya Jamur Tiram. Yogyakarta: Kanisius.
Utoyo, N. 2010. Bertanam Jamur Kuping di Lahan Sempit. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Wiardani, I. 2010. Budidaya Jamur Konsumsi. Yogyakarta: Lily Publisher.
LAMPIRAN
1. Foto alat dan bahan yang digunakan dalam pembibitan jamur tiram
gambar 1. Alat-alat yang digunakan pada proses pembibitan jamur kuping
gambar 2. Bahan yang digunakan dalam proses pembibitan jamur kuping
2. Kunjungan ke Tempat Budidaya Jamur
Gambar 3. Proses Pewadahan Media Tanam
3. Bibit Jamur Kuping
Gambar 4. Pertumbuhan Bibit F1
Gambar 5. Pertumbuhan Bibit F2
Gambar 6. Pertumbuhan Bibit F3 4. Kegiatan lain-lain
Gambar 7. Perendaman Botol Sebelum di Cuci
Gambar 8. Peletakan Bibit F2 dalam Ruang Inkubasi