1
Bidang Uggulan : Kajian Aplikatif Tentang Ketahanan Pangan dan Sumber Daya Secara Berkelanjutan
Kode / Nama Rumpun Ilmu : 152 / Hortikultura
LAPORAN TAHUNAN
PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI
KAJIAN GAP ( Good Agricultural Practice ) UNTUK PENGEMBANGAN SISTEM BUDIDAYA TANAMAN
BAWANG MERAH VARIETAS LEMBAH PALU
PENELITI :
Dr. Ir. Muhammad Ansar, MP. NIDN : 0009086210 (Ketua) Dr. Ir. Bahrudin, MP. NIDN : 0001076205 (Anggota) Dr. Ir. Imam Wahyudi, M.Phil. NIDN : 0007105503 (Anggota)
UNIVERSITAS TADULAKO
DESEMBER, 2014
HALAMAN PENGESAHAN
PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI
Judul Penelitian : Kajian GAP (Good Agricultural Practice) Untuk Pengembangan Sistem Budidaya Tanaman Bawang Merah Varietas Lembah Palu Kode / Nama Rumpun Ilmu : 152 / Hortikultura
Bidang Unggulan Perguruan Tinggi
: Kajian aplikatif tentang ketahanan pangan dan sumber daya secara berkelanjutan
Topik Unggulan : Kajian Aplikatif Ketahanan Pangan
Ketua Peneliti :
a. Nama Lengkap : Dr. Ir. Muhammad Ansar, MP.
b. NIDN : 0009086210
c. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala d. Program Studi : Agroteknologi
e. Nomor HP : 081392122864
f. Alamat surel (e-mail) : [email protected] Anggota Peneliti (1)
a. Nama Lengkap : Dr. Ir. Bahrudin, MP.
b. NIDN : 0001076205
c. Perguruan Tinggi : Universitas Tadulako Anggota Peneliti (2)
a. Nama Lengkap : Dr.Ir. Imam Wahyudi, M.Phill.
b. NIDN : 0007105503
c. Perguruan Tinggi : Universitas Tadulako Lamanya Penelitian Keseluruhan : 3 (tiga) tahun Penelitian Tahun ke : 2 (dua)
Biaya Penelitian Keseluruhan : Rp. 136.163.500.- Biaya Tahun Berjalan (Dana
Internal PT)
: Rp. 35.500.000.-
Palu, 10 Desember 2014
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PENGESAHAN ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL... iii
DAFTAR GAMBAR ……… iv
DAFTAR LAMPIRAN ………. v
RINGKASAN ... vi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
BAB II TINJANUAN PUSTAKA ... 3
2.1. Konsep GAP (Good Agricultural Practice) ... 3
2.2. Aspek Agronomi Tanaman Bawang Merah ... 3
2.3. Bawang Merah Varietas Lembah Palu … ... 4
2.4. Vigor Benih Tanaman Bawang Merah ... 5
2.5. Peranan Air Bagi Tanaman Bawang Merah ... 5
2.6. Peranan Unsur Hara bagi Tanaman Bawang Merah ... 7
2.7. Peranan Pupuk Organik 9 2.8. Roadmap Penelitian Bawang Merah Varietas „lembah palu‟……… 10
BAB III METODE PENELITIAN ... 10
3.1. Pelaksanaan Penelitian ... 10
3.2. Tahapan dan Topik Percobaan ………. 15 3.3. Indikator Capaian Tahunan ……….. 17
3.4. Analisis Data ... 17
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 18
4.1. Tinggi tanaman ……….. 18
4.2. Jumlah daun……… 19
4.3. Jumlah umbi per rumpun ………... 20
4.4. Berat umbi eskip per rumpun ……… 21
4.5. Berat umbi segar per hektar ………... 23
27 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 25
5.1. Kesimpulan... 25
5.2. Saran... 25
DAFTAR PUSTAKA ... 26
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 31
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Rata-rata tinggi tanaman, jumlah umbi per rumpun, berat
umbi eskip per rumpun dan berat umbi segar bawang merah „lembah palu‟ dengan perlakuan pupuk organik
cair (POC) dari kotoran sapi 18
Tabel 2. Rata-rata jumlah daun, jumlah umbi per rumpun dan berat umbi eskip per rumpun tanaman bawang merah „lembah palu‟ dengan perlakuan pupuk organik padat (PO) dari
bokashi pupuk kandang kambing 19
Tabel 3. Rata-rata jumlah daun tanaman bawang merah „lembah
palu‟ umur 40 hst dengan perlakuan pupuk majemuk NPK 20 Tabel 4. Rata-rata berat umbi eskip per rumpun pada perlakuan
pupuk organik padat dan pupuk NPK 17
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Roadmap Penelitian Dalam Rangka Penyusunan GAP (Good
Agricultural Practice) Sistem Budidaya Bawang Merah Varietas
Lembah Palu 10
Gambar 2. Bagan Alir (Fishbone) sistematika kegiatan penelitian untuk
penyusunan GAP (Good Agricultural Practice) sistem budidaya bawang merah varietas Lembah Palu (Bahan baku
bawang goreng) di Sulawesi Tengah. 13
Gambar 3. Tata letak percobaan di lapangan (P adalah pupuk organik, N
adalah Pupuk anorganik NPK dan C adalah pupuk organik cair) 16
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1. Gambar kondisi beberapa tanaman bawang merah yang
diberikan perlakuaan pupuk organik, pupuk anorganik (NPK) dan pupuk organik cair dari limbah kotoran ternak
sapi 10
Lampiran 2. Artikel yang telah dipublikasi pada Seminar Nasional PERHORTI di Universitas Brawawijaya, pada 5-6
Nopember 2014 33
RINGKASAN
Produk bawang goreng Sulawesi Tengah merupakan salah satu produk hortikultura unggulan yang berpeluang sebagai komoditi ekspor.Masalah utamanya adalah ketersediaan bahan baku yang berasal dari bawang merah varietas Lembah Palu yang belum dapat terpenuhi, baik kuantitas, kualitas maupun kontinuitasnya. Hal ini disebabkan oleh penerapan sistem budidaya yang belum optimal, karena belum mengikuti standar praktekbudidaya yang baik (Good Agricultural Practice/GAP), sehingga produktivitasnya masih rendah, baik yang secara khusus dikembangkan pada kondisi agroekosistem lahan kering maupun pada lahan sawah.
Dari penelitian tahap I yang telah dilaksanakan pada tahun 2013, telah diperoleh hasil yaitu: (1) Pada kondisi agroekosistem lahan kering, pemberian air dengan sistem kincir (sprinkle) selama 0,5 jam dengan interval 3 hari sekali kemudian diikuti dengan pemberian pupuk organik 15 t/ha serta mulsa jerami padi dan mulsa plastik dapat memberikan pertumbuhan dan hasil bawang merah varietas Lembah Palu lebih tinggi dibanding dengan perlakuan lainnya; dimana penggunaan mulsa organik jerami padi dan mulsa anorganik (plastik hitam dan perak) menghasilkan lilit umbi lebih besar dan bobot umbi segar bawang merah varietas Lembah Palu diperoleh tertinggi dengan penggunaan mulsa plastik perak (9,04 t/ha) dan berbeda nyata dengan tanpa mulsa (7,47 t/ha), namun tidak berbeda nyata dengan mulsa jerami padi dan plastik hitam. (2) Pada kondisi agroekosistem lahan sawah, penggunaan sungkup plastik bening setebal 0,13 mm dapat menghasilkan pertumbuhan tanaman dan kandungan total padatan terlarut lebih tinggi (20,7 brix) dan berbeda nyata dengan tanpa sungkup plastik (18,50 brix); selanjutnya pemberian mulsa baik mulsa organik (jerami padi) maupun mulsa anorganik (plastik hitam dan plastik perak) menghasilkan pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah varietas Lembah Palu lebih tinggi dibanding tanpa mulsa; dimana penggunaan mulsa plastik perak menghasilkan bobot umbi segar per hektar teringgi (12,96 t/ha) dan terendah diperoleh pada perlakuan tanpa mulsa (8,30 t/ha).
Dari hasil penelitian tahap II yang dilaksanakan pada tahun 2014 dengan topik pengujian teknologi pemupukan secara spesifik lokasi pada areal budidaya bawang merah varietas Lembah Palu pada agroekosistem lahan kering, menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik padat 30 t/ha yang diikuti dengan pemberian pupuk NPK (15:15:15) sebanyak 200 kg/ha menghasilkan berat umbi eskip per rumpun tertinggi.
Pemberian pupuk organik padat dari bokashi pupuk kandang kambing sebanyak 30 t/ha menghasilkan jumlah daun dan jumlah umbi lebih banyak serta berat umbi eskip per rumpun lebih tinggi dan nyata berbeda dengan tanpa pupuk organik padat. Pemberian pupuk NPK 100-200 kg/ha menghasilkan jumlah daun dan jumlah umbi per rumpun bawang merah lebih banyak serta berat umbi segar per hektar lebih tinggi dan berbeda nyata dengan tanpa pupuk NPK. Pemberian pupuk organik cair dari limbah kotoran ternak sapi sebanyak 20-40 ml/l air menghasilkan tanaman bawang merah lebih tinggi, jumlah umbi lebih banyak, berat umbi eskip per rumpun dan berat umbi segar per hektar lebih tinggi dan nyata berbeda dengan tanpa pupuk organik cair.
Selanjutnya, pada tahap III (2015) akan dilakukan percobaan: (1) Pengujian kriteria masak fisiologis dan umur panen terhadap daya tumbuh, viabilitas dan vigor benih bawang merah varietas Lembah Palu, dan (2) Pengujian cara dan lama penyimpanan terhadap kecepatan berkecambah, vigor dan viabilitas benih bawang merah varietas Lembah Palu.
Indikator capaian yang dapat terukur dari penelitian ini secara umum meliputi:
peningkatan pertumbuhan, hasil dan kualitas hasil tanaman bawang merah varietas Lembah Palu secara spesifik pada setiap kondisi agroekosistem lahan. Rangkaian hasil penelitian dari tahap I-III akan menjadi bahan acuan utama dalam penyusunan panduan standar GAP (Good Agricultural Practice) sistem budidaya bawang merah varietas Lembah Palu.
Kata Kunci: GAP, Bawang merah, irigasi, pemupukan, sungkup plastik, mulsa
BAB I PENDAHULUAN
Bawang merah termasuk komoditas utama dalam prioritas pengembangan sayuran dataran rendah dan termasuk dalam salah satu komoditi yang mendapat prioritas nasional untuk dikembangkan.Di Sulawesi Tengah, khususnya di Lembah Palu terdapat bawang merah unggul nasional yang diberi nama varietas Lembah Palu dan telah dilepas oleh Kementerian Pertanian R.I berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian R.I. No. 1843/Kpts/SR.120/4/2011 (Mentan, 2011). Bawang merah varietas Lembah Palu sudah menjadi bahan baku utama industri bawang goreng sejak sekitar 15 tahun lalu. Produk bawang goreng asal Sulawesi Tengah telah dikenal luas sebagai bawang goreng bermutu sangat baik, karena memiliki tekstur, rasa dan aroma yang khas serta tahan dalam penyimpanan. Permintaan pasar,baik lokal, nasional maupun ekspor semakin banyak, namun permintaan tersebut belum dapat dipenuhi, akibat terbatasnya bahan baku bawang merah varietas Lembah Palu (Dinas Pertanian Sulteng, 2005), karena produktivitas bawang merah Lembah Palu masih sangat rendah yakni hanya 3,5-4,5 t/ha (BPTP Sulteng, 2004).
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa penyebab rendahnya hasil produksi bawang merah varietasLembah Palu masih sangat beragam, namun penyebab utamnya adalah penerapan sistem budidaya tanaman dan pasca panen yang belum optimal, seperti jaminan ketersediaan benih bermutu dalam jumlah yang cukup dengan mutu yang baik, teknis pengairan dan konservasi air pada lingkungan pertanaman, teknis pemupukan serta pengendalian organisme pengganggu tanaman (hama, penyakit dan gulma) yang belum optimal serta penanganan pasca panen yang belum baik. Disamping faktor tersebut di atas, faktor iklim juga sering menjadi penyebab kegagalan panen dan rendahnya hasil produksi bawang merah terutama pada kondisi curah hujan dan suhu yang tinggi, sehingga diperlukan teknologi modifikasi lingkungan mikro agar manjadi optimal bagi pertumbuhan tanaman bawang merah varietas Lembah Palu.
Upaya peningkatan produksi melalui program perluasan areal tanam (ekstensifikasi) yang telah dilakukan pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian, nampak belum dapat mengatasi keterbatasan produksi secara berkesinambungan sepanjang tahun. Hal ini terjadi karena upaya perluasan areal tanam tersebut tidak diikuti dengan penerapan teknologi yang sesuai dengan standar sistem budidaya bawang merah yang baik (Good Agricultural Practice), pada setiap kondisi agroekosistem lahan kering maupun lahan sawah.
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka perlu dilakukan pengkajian berbagai aspek teknologi budidaya tanaman bawang merah untuk selanjutnya menjadi bahan acuan dalam penyusunan Pedoman Penerapan Teknik Budidaya yang Baik (Good Agricultural Practice/GAP) untuk pengembangan sistem budidaya tanaman bawang merah varietas Lembah Palu di Sulawesi Tengah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep GAP (Good Agricultural Practice)
Konsep GAP merupakan salah satu konsep penerapan praktek pertanian yang baik dan direkomendasikan pada segmen on-farm dalam suaturantai produksi pertanian dan proses pasca panen untukmenghasilkan produk-produk pertanian yang tinggi secara kuantitas dan kualitas serta sehat dan aman dikonsumsi (Feldmann, 2007). Saat ini, pengertian GAP dapat diacu dari banyak metode spesifik, yang telah mulai diaplikasikan secara khusus pada bidang pertanian. Penerapan konsep GAP adalah untuk meminimalkan pengaruh faktor lingkungan (biotik dan abiotik) dan mencegah terjadinya kontaminasi terhadap bahan pangan yang dihasilkan oleh petani sebagai produsen dan juga termasuk pula sebagai sistem pengawasan kualitas (quality control) secara berkelanjutan (Feldmann, 2007).
Pengembangan penerapan konsep GAP dalam konteks peraturan formal yang berbeda telah dikoordinasikan secara baik oleh FAO. Penerapan GAP bertujuan mendorong pengembangan sistem pertanian berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya alam secara optimal yang berperan dalam keamanan pangan, perlindungan dan pelestarian serta peningkatan nutrisi bahan pangan dan kesejahteraan keluarga petani (FAO, 2004). Prinsip GAP telah diterapkan pada beberapa sistem budidaya pertanian sepertipraktek pemupukan dan proteksi tanaman yang baik serta sistem produksi spesifik dalam praktek produksi yang baik pada beberapa komodit hortikultura(EPPO, 1994).
2.2. Aspek Agronomi Tanaman Bawang Merah
Menurut Rahayu dan Berlian (2007) tanaman bawang merahdapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada daerah dengan ketinggian kurang dari 250 m di atas permukaan laut (dpl.), tetapi dapat pula tumbuh pada ketinggian sampai 1.200 m dpl.,
namun hasilnya akan lebih baik bila ditanam pada daerah dataran rendah.Secara khusus bawang merah varietas Lembah Palu dapat dikembangkan pada dataran rendah hingga ketinggian 800 m dpl. dengan hasil dan kualitas hasil yang tidak berbeda secara nyata (Muhammad-Ansar, 2009).
Menurut Cys, et al., (1993) kondisi lingkungan dengan persediaan air yang cukup sangat sesuai untuk pertumbuhan awal tanaman bawang merah, selanjutnya kondisi panas dan kering diperlukan pada fase pematangan, panen dan pengeringan.
Bawang merah menghendaki curah hujan 800-2.500 mm/tahun (Rahayu dan Berlian, 2007). Hasil penelitian Muhammad-Ansar (2012) menunjukkan bahwa bawang merah varietas Lembah Palu jika diusahakan pada dataran rendah (100 m dpl.) dengan suhu udara rata-rata 30oC membutuhkan lengas tanah lebih dari 100 % kapasitas lapangan.
Menurut Cys, et al., (1993) tanah yang ideal untuk pertumbuhan dan produksi bawang merah yang maksimal adalah yang gembur, subur, banyak mengandung bahan organik atau humus, karena akan mendorong perkembangan umbi sehingga hasil bawang merah menjadi lebih tinggi, tanah dengan kondisi drainase dan aerasi yang baik sangat diutamakan.
Pemberian Effective microorganisma (EM) dan pupuk hayati E-2001 dapat meningkatkan hasil bawang merah lokal Palu 15-22 % dibandingkan tanpa pemberian EM dan pupuk hayati E-2001 (Muhammad-Ansar, 2005).
2.3. Bawang Merah Varietas Lembah Palu
Bawang merah varietas Lembah Palu pada umumnya hanya dibudidayakan dan dikembangkan masyarakat di kawasan Lembah Palu (kota Palu, sebagian wilayah Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala) pada dataran rendah dengan ketinggian tempat <400 m dpl. (Mentan, 2011); namun berdasarkan hasil penelitian Muhammad Ansar (2012) bawang merah varietas Lembah Palu dapat tumbuh hingga ketinggian 800 m dpl. Dengan pertumbuhan dan hasil yang tidak berbeda nyata jika ditanam pada dataran rendah 100 m dpl.
Bawang merah varietas Lembah Palu memiliki tinggi tanaman 30-37 cm, dengan bentuk penampang daun selindris berlubang, daun berukuran panjang 25-30 cm dan diameter 0,5-0,6 cm, jumlah daun per umbi 5-8 helai, jumlah daun per rumpun 50-55 helai, dengan daun berwarna hijau, tidak menghasilkan bunga.Bawang merah varietas Lembah Palu dipanen pada umur 65-70 hari tergantung peruntukannya; bentuk umbi pipih agak bulat, ukuran umbi yaitu panjang 2,5-3,4 cm dan diameter umbi 2,2-2,7 cm, warna umbi merah pucat, berat per umbi 3,9-5,7 g, berat umbi basah per rumpun 35,1- 68,4 g, jumlah anakan 9-12 buah dan hasil umbi 9,7 ton/ha (Mentan, 2011).
2.4. Vigor Benih Tanaman Bawang Merah
Vigor benih merupakan kemampuan benih untuk tumbuh dan berkembang menjadi bibit yang normal dalam kondisi lingkungan tumbuh yang optimum atau benih yang vigor akan menghasilkan produk di atas normal jika ditumbuhkan pada kondisi yang optimum (Sadjad, 1999). Secara ideal semua benih harus memilki kekuatan tumbuh yang tinggi, sehingga jika ditanam pada kondisi lapangan yang beraneka ragam tetap akan tumbuh sehat dan kuat serta memiliki produksi yang tinggi dengan kualitas yang baik (Sutopo, 2002). Vigor benih dicerminkan oleh dua informasi tentang viabilitas, yaitu kekuatan tumbuh dan daya simpan benih (Sadjad, 1994).
Penanganan benih berbeda dengan penanganan untuk konsumsi. Penanganan benih dimulai dari produksi, panen, prosessing, pengeringan, pembersihan, pengemasan dan penyimpanan (Kuswanto, 2003). Produksi benih merupakan kajian agronomi dengan memperhatikan aspek genetik, lingkungan tumbuh dan teknologi yang sesuai dengan kondisi agroekosistem lahan (Dirjen Tanaman Hortikultura, 2005).
2.5. Peranan Air Bagi Tanaman Bawang Merah
Peranan air sangat penting bagi kehidupan, karena merupakan pereaksi alamiah yang berkemampuan besar dan berperan sangat luas. Air di dalam tanaman berfungsi sebagai penyusun utama protoplasma (85-90%), pelarut, medium tempat reaksi-reaksi berlangsung dan mengatur turgor sel jaringan (Salisbury dan Ross, 1992). Air
seringkali menjadi faktor pembatas dalam menunjang pertumbuhan dan produksi tanaman, karena air merupakan bahan baku fotosintesis (Levitt, 1980). Air tersedia bagi tanaman merupakan air yang dapat diabsorbsi oleh tanaman. Kadar air tanah berbeda antara kapasitas lapang (pF 2,54) dan titik layu permanen (pF 4,2). Kebutuhan air tanaman merupakan jumlah air yang harus tersedia untuk mengimbangi air yang hilang akibat evapotranspirasi (Suyamto. 1993).
Kebutuhan air tanaman juga dapat dipengaruhi oleh iklim, genotipe dan tindakan agronomi. Hasil penelitian Muhammad-Ansar, dkk., (1996) menunjukkan bahwa pemberian air setiap tiga hari yang diikuti dengan penambahan bahan organik 15 t.ha-1 dan inokulasi rhizobium, meningkatkan jumlah dan berat kering bintil akar, aktivitas reduksi asetilen (ARA) dan peningkatan tenggang waktu pemberian air hingga 9 hari sekali tanpa diikuti penambahan bahan organik, secara umum akan menurunkan pertumbuhan dan hasil kedelai.
Hasil penelitian Woldetsadik (2003) menunjukkan bahwa lengas tanah secara nyata berpengaruh terhadap produksi bawang merah pada daerah beriklim subtropis, dan stres air pada semua fase pertumbuhan secara umum berpengaruh terhadap hasil dan kualitas hasil bawang merah. Hasil penelitian Muhammad-Anshar (2007) menunjukkan bahwa pemberian air 1,5 jam/hari dapat memberikan pertumbuhan panjang daun tanaman bawang merah lebih tinggi dibandingkan pemberian air 0,5 dan 1,0 jam/hari, sedangkan parameter pertumbuhan lainnya tidak berbeda nyata;
sedangkan pemberian pupuk kalium 200 kg/ha mampu memberikan hasil umbi kering bawang merah varietas lokal Palu tertinggi yaitu 14,53 t/ha. Pemberian air dengan kondisi lengas tanah kurang dari 50 % menyebabkan pertumbuhan, hasil dan kualitas hasil umbi bawang merah varietas Lembah Palu menurun (Muhammad-Ansardkk, 2012).
Setiap genotipe atau varietas tanaman memiliki ketahanan terhadap kekeringan, dan genotipe yang tahan kering pada saat mengalami cekaman kekeringan mempunyai transpirasi lebih rendah, fotosintesis lebih tinggi, menggunakan lengas tanah lebih
efisien dan mampu memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan genotipe tanaman rentan terhadap kekeringan (Harsono, dkk. 2003). Bawang merah varietas Lembah Palu termasuk toleran terhadap kondisi lengas tanah rendah (50 % KL) dan kondisi lengas tanah tinggi (> 100 % KL) (Muhammad-Ansar dkk, 2012).
Hasil penelitian Muhammad Ansar dkk (2013a) menunjukkan bahwa lama waktu pemberian air dengan sistem kincir (sprinkle) selama 0,5 jam per 3 hari sekali dan diikuti dengan penambahan pupuk organik dari bokashi pupuk kandang sebanyak 15 ton/ha dan mulsa plastik hitam pada kondisi agroekosistem lahan kering dapat memperbaiki pertumbuhan dan memberikan hasil bawang merah varietas Lembah Paludari sebelumnya hanya 3,5-4,5 t/ha (BPTP Sulteng, 2004) menjadi 9,7 ton/ha atau memberikan peningkatan sebesar 53,6-63,9 %. Selanjutnya, pada kondisi agroekosistem lahan sawah diperoleh bahwa pemberian sungkup plastik bening setebal 0,13 mm dapat dapat meningkatkan kandungan total padatan terlarut lebih tinggi yaitu 20,7 brixdan berbeda nyata dengan tanpa sungkup plastik yaitu 18,50 brix. Lebih lanjut hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mulsa baik mulsa organik (jerami padi) maupun mulsa anorganik (plastik hitam dan plastik perak) memberikan pertumbuhan dan hasil bawang merah varietas Lembah Palu yang lebih tinggi dibanding tanpa diberikan mulsa (Muhammad Ansar dkk, 2013b).
2.6. Peranan Unsur Hara bagi Tanaman Bawang Merah
Unsur nitrogen (N) merupakan salah satu unsur hara makro yang peranannya sangat esensial bagi tanaman karena berperan sebagai unsur pembangun protoplasma bagi sel-sel hidup. Pertumbuhan tanaman lebih banyak dipengaruhi oleh N dibanding unsur yang lainnya (Hardjowigeno, 1986). N mempunyai efek paling cepat dan paling menonjol dalam peningkatan pertumbuhan vegetatif dan memberikan warna hijau pada daun serta berfungsi sebagai bahan dasar dalam pembentukan asam amino dan protein serta pemberian nitrogen dapat meningkatkan kadar total protein biji jagung (Koswara, 1988). Sebaliknya, kelebihan N menyebabkan ukuran batang menjadi lebih besar,
memperlambat kematangan dan menurunkan kualitas buah serta menurunkan kadar gula dalam biji (Salisbury and Ross, 1992).
Fosfor (P) merupakan unsur hara esensial makro yang penting setelah nitrogen.
Peranan P bagi tanaman adalah merangsang pertumbuhan akar, khususnya akar benih dan tanaman muda, disamping itu juga berguna sebagai bahan dasar pembetukan protein tertentu, menambah asimilasi dan respirasi sekaligus mempercepat pembungaan, pemasakan biji dan buah (Lingga, 1989). Unsur hara P berpengaruh terhadap pembentukan sel-sel, pembentukan bunga dan buah, memperbaiki mutu benih, mempercepat proses pemasakan buah, mempercepat perkembangan perakaran tanaman, dan memperbaiki kualitas buah (Indranada, 1986). Gejala defisiensi P pada tanaman juga dapat ditunjukkan dengan terjadinya warna kekuning-kuningan pada daun tua, yang diikuti dengan gugurnya daun. Sementara pada daun yang muda memiliki warna hijau gelap yang disertai bayang-bayang merah keungu-unguan, karena adanya akumulasi pigmen antosianin (Ma‟shun et. al., 2003). Jika P dalam keadaan kurang, pembelahan sel dalam tanaman tertunda dan pertumbuhan terhambat (Foth, 1994).
Kekurangan P umumnya menyebabkan volume jaringan tanaman menjadi lebih kecil dan warna daun menjadi lebih gelap. Pada tanaman jagung, disamping menjadi kurang baik pertumbuhannya, warna daun juga menjadi keunguan dan kecoklatan serta pembentukan antosianin terhambat (Rosmarkam dan Yuwono, 2006).
Kalium (K) sebagai unsur ketiga yang penting setelah N dan P dan diserap tanaman dalam jumlah yang besar yaitu sekitar satu persen dari bahan kering (Hakim dkk., 1986). K merupakan unsur yang berperan dalam memperlancar proses fotosintesa, membantu pembentukan protein dan karbohidrat sebagai katalisator dalam transpormasi tepung, gula, dan lemak dalam tanaman dan berperan sebagai kofaktor lebih dari 40 sistem enzim (Yulius, dkk., 1997). K berperan dalam meningkatkan resistensi tanaman terhadap gangguan hama dan penyakit serta kekeringan. Pada tanaman, K tertumpuk pada titik tumbuh dan berperan mempercepat pertumbuhan meristematik (Sarief, 1986). Kekurangan K pada tanaman mengakibatkan daun-daun
berwarna kuning seakan-akan terbakar, tanaman tidak tahan kekurangan air serta mudah terserang penyakit. Selanjutnya dinyatakan bahwa kekurangan K menyebabkan buah atau umbi tidak sempurna, kecil, kualitas dan kuantitas hasilnya rendah serta tidak tahan disimpan (Setyamidjaja, 1986). Sanjaya (1995) melaporkan bahwa tanaman yang kekurangan K akan mudah rebah, sehingga produktivitas jadi rendah. K berperan dalam mempertahankan turgor dan membentuk batang lebih kuat.
1.7. Peranan Pupuk Organik
Bahan organik merupakan perekat butiran yang lepas dan sumber utama nitrogen, fosfor dan sulfur, serta cenderung meningkatkan jumlah air yang dapat ditahan tanah dan jumlah air tersedia bagi tanaman. Stevenson (1982) menyatakan bahwa bahan organik dapat mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
Pupuk kandang merupakan salah satu sumber bahan organik yang dapat diberikan ke dalam tanah untuk memperbaiki sifat fisika dan biologi tanah.
Radjagukguk (1989) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang meningkatkan stabilitas agregat, ruang pori, ketersediaan air, dan berkurangnya bobot isi tanah pada beberapa jenis tanah. Pupuk kandang sebagai pupuk organik memiliki pengaruh besar pada sifat-sifat dan biologis tanah serta sebagai sumber nitrogen dan kalium (Buckman dan Brady, 1982). Peningkatan kandungan bahan organik dalam tanah akan meningkatkan kandungan unsur hara N, P dan K dalam tanah sehingga dapat membantu proses pertumbuhan dan meningkatkan hasil tanaman (Adrizal dan Jalid, 1995), namun Radjagukguk (1989) menyatakan bahwa kandungan unsur hara pada pupuk kandang lebih sedikit dibandingkan dengan pupuk buatan.
Bahan organik selain berperan sebagai pupuk yang dapat meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah, juga dapat berperan sebagai bahan mulsa organik yang memberikan banyak manfaat bagi tanah. Menurut Lamont (1993) penggunaan mulsa anorganik antara lain dapat mempercepat tanaman berproduksi, meningkatkan hasil per satuan luas, efisien dalam penggunaan pupuk dan air, mengurangi erosi akibat hujan dan angin, mempertahankan suhu, kelembaban tanah, kandungan bahan organik,
mengurangi serangan hama dan penyakit tanaman, menghambat pertumbuhan gulma, mencegah pemadatan tanah.
2.8. Roadmap Penelitian Bawang Merah Varietas Lembah Palu
Dalam rangka pengembangan pengusahaan bawang merah khususnya varietas Lembah Palu serta upaya peningkatan produksi (kuantitas dan kualitas) secara berkelanjutan, telah dilakukan beberapa penelitian, namun hasil-hasil penelitian tersebut belum dapat memberikan hasil sesuai yang diharapkan, sehingga masih perlu untuk terus dilanjutkan untuk dapat mengatasi akar masalah yang sebenarnya. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian secara menyeluruh (komprehensif) dengan perencanaan yang baik dan sistematis.
Peta jalan (roadmap) hasil-hasil penelitian serta rencana penelitian yang akan dilaksanakan pada kesempatan berikutnyaagar dapat mencapai tujuan pengembangan bawang merah varietas Lembah Palu sebagai bahan baku bawang goreng, seperti disajikan pada Bagan Gambar 1 di bawah ini.
Gambar 1. Roadmap Penelitian Dalam Rangka Penyusunan GAP (Good Agricultural Practice) Sistem Budidaya Bawang Merah Varietas Lembah Palu
Kuantitas, kualitas dan kontinuitas produksi bawang merah varietas Lembah Palu (bahan baku
industri bawang goreng) belum sesuai harapan, karena belum memiliki panduan GAP (Good Agricultural Practice) Sistem Budidaya yang tepat.
Evaluasi kesesuaian lahan: Wilayah Kota Palu dan Kab. Donggala Sulteng Sesuai (S2) untuk bawang merah (Puslitbantanak, 2004) Periode penyiangan gulma umur
42-56 HST. tidak berbeda nyata dengan penyiangan hingga panen (Tambing, Y. dan Monde, A.
1994)
Jarak tanam terbaik: 15x15 cm dan 15x10 cm; sedangkan ukuran bibit tidak berbeda nyata terhadap pertumbuhan dan hasil umbi kering bawang merah (Maskar dkk., 1999).
Pupuk organik 5-15 t/ha dan mulsa organik setebal 2,5-7,5 cm memberikan hasil umbi kering bawang merah lebih tinggi (Muhammad Anshar, 2001)
Ada Panduan GAP dalam SistemBudidaya dan Produksi Bawang Merah Varietas Lembah
Palu, sehingga kuantitas dan kualitas hasil dapat terjamin dan industri bawang goreng dapat memperoleh bahan baku sesuai
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Catatan:
1-6 : Hasil-hasil penelitian terdahulu 7-8: Penelitian HUPT Tahap I (2013) 9-10: Penelitian HUPT Tahap II (2014).
11-12: Penelitian HUPT Tahap III (2015) 11
Analisis agroekisistem lahan sentra produksi bawang merah (letak geografis, kondisi tanah, iklim) dan sarana pendukungnya (Bahrudin dkk., 2010).
Pengujian bentuk, arah dan ukuran bedengan yang sesuai untuk kondisi agroekosistem lahan kering dan lahan sawah (Bahrudin dkk., 2010).
Pengujian teknologi pengelolaan air dan pengairan untuk budidaya bawang merah varietas Lembah Palu pada lahan kering
Pengujian teknologi modifikasi lingkungan mikro pada areal budidaya bawang merah varietas Lembah Palu pada lahan sawah
Pengujian teknologi pemupukan secara spesifik lokasi pada areal budidaya bawang merah varietas Lembah Palu padaareal lahan kering
Pengujian teknologi pemupukan secara spesifik lokasi pada areal budidaya bawang merah varietas Lembah Palu padaareal lahan sawah .
Pengujian kriteria masak fisiologis dan umur panen terhadap daya tumbuh, viabilitas dan vigor benih bawang merah varietas Lembah Palu.
Pengujian cara dan lama penyimpanan terhadap kecepatan berkecambah, vigor dan viabilitas benih bawang merah varietas Lembah Palu..
12
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Pelaksanaan Penelitian
Penerapan teknologi budidaya yang baik (GAP) pada bawang merah meliputi banyak aspek, sehingga membutuhkan kajian yang komprehensip untuk menemukan teknologi terbaik yang aplikatif pada masing-masing kondisi agroekosistem secara spesifik. Untuk itu, penelitian ini direncanakan secara multi tahun danakan berlangsung minimal selama 3 (tiga) tahun atau 3 (tiga) tahap penelitian. Oleh karena banyaknya komponen teknologi budidaya bawang merah varietas Lembah Palu yang perlu untuk dikaji, maka kegiatan penelitan dirancang untuk mengkaji 2 (dua) unit teknologi secara paralel dalam setiap tahap penelitian dalam setiap tahun berjalan. Dengan demikian, secara keseluruhan terdapat 6 (enam) topik percobaan yang akan dilaksanakan selama 3 (tiga) tahun.
Pada Tahun 2013 (Tahap I Hibah Unggulan Perguruan Tinggi) telah dilaksanakan penelitian tentang: (1) Pengujian teknologi pengelolaan air dan pengairan untuk budidaya bawang merah varietas Lembah Palu pada lahan kering, (2) Pengujian teknologi modifikasi lingkungan mikro pada areal budidaya bawang merah varietas Lembah Palu di lahan sawah dan hasilnya secara ringkas seperti dikemukakan pada ringkasan penelitian di atas.
Pada Tahun 2014 (Tahap II Hibah Unggulan Perguruan Tinggi) telah dilaksanakan penelitian dengan topik: (1) Pengujian teknologi pemupukan secara spesifik lokasi pada areal budidaya bawang merah varietas Lembah Palu pada kondisi agroekosistem lahan kering dan diperoleh hasil seperti diuraikan dibawah ini dan secara ringkas hasilnya tercantum pada ringkasan penelitian di atas.
Kegiatan penelitian ini akan dilanjutkan pada Tahap III (2015) untuk melakukan dua topik percobaan yaitu: (1) Pengujian kriteria masak fisiologis dan umur panen terhadap daya tumbuh, viabilitas dan vigor benih bawang merah varietas Lembah Palu,
dan (2) Pengujian cara dan lama penyimpanan terhadap kecepatan berkecambah, vigor dan viabilitas benih bawang merah varietas Lembah Palu.
Setelah, tiga tahap kegiatan penelitian ini selesai dilaksanakan maka akan diperoleh standar teknologi budidaya yang baik untuk tanaman bawang merah varietas Lembah Palu, baik untuk pengembangan pada kondisi agroekosistem lahan kering, maupun pada kondisi agroekosistem lahan sawah. Untuk selanjuynya, akan digunakan sebagai bahan acuan utama dalam penyusunan panduan teknis budidaya bawang merah yang baik sesuai standard SOP dan GAP sistem budidaya bawang merah varietas Lembah Palu.
Setelah dilakukan kajian lebih lanjut, maka pada tahap II penelitian terjadi perubahan mendasar tentang topik penelitian yaitu pada proposal awal direncanakan pada tahap kedua ini ada kajian tentang pengujian teknologi pengendalian hama dan penyakit sesuai prinsi PHT, namun dinilai kajian serupa telah banyak dilakukan dan hasil kajian yang ada tersebut dapat dijadikan acuan dalam rangka penyusunan panduan GAP untuk budidaya bawang merah varietas Lembah Palu. Hal demikian juga terjadi pada kegiatan penelitian tahun ke-2 yang mestinya pengujian pemupukan direncanakan akan dilaksanakan pada dua kondisi agroekosistem lahan, yaitu lahan sawah dan lahan kering, namun karena adanya pengurangan dana penelitian dari yang direncanakan maka kegiatan penelitian pada agroekosistem lahan sawah terpaksa ditiadakan dan akan dilakukan pada kegiatan-kegiatan penelitian selanjutnya dengan sumber pendanaan yang berbeda.
Adapun Bagan Alir (Fishbone) sistematika kegiatan penelitian untuk penyusunan GAP (Good Agricultural Practice) untuk pengembangan sistem budidaya bawang merah varietas Lembah Palu (bahan baku bawang goreng) di Sulawesi Tengah, disajikan pada Bagan Gambar 2.
1 3
Pengujian teknologi pengelolaan air dan pengairan untuk budidaya
bawang merah varietas Lembah Palu pada
lahan kering
Pengujian kriteria masak fisiologis dan umur panen
terhadap daya tumbuh, viabilitas dan vigor benih
bawang merah varietas Lembahl Palu
5
Pengujian teknologi pemupukan secara spesifik
lokasi pada areal budidaya bawang merah varietas Lembah Palu pada areal
lahan kering Budiaya Bawang Merah
Varietas Lembah Palu saat ini masih menggunakan teknologi Budidaya secara
konvensional sehingga kuantitas dan kualitas hasil
masih rendah.
Ada Panduan GAP (Good Agricultural Practice) SistemBudidaya Bawang Merah Varietas Lembah Palu, sehingga kuantitas dan kualitas hasil dapat
terjamin, sehingga industri bawang goreng dapat memperoleh bahan baku sesuai
standar pasar ekspor.
Industri pengolahan bawang goreng Palu belum dapat memenuhi permintaan pasar
antar pulau dan ekspor karena ketersediaan bahan
baku yang belum terjamin jumlah dan mutunya.
Belum ada Panduan Praktek Pertanian yang Baik (Good Agriculture Practices / GAP)
dalam Sistem Budidaya Bawang Merah Varietas
LembahPalu.
Gambar 2. Bagan Alir (Fishbone) sistematika kegiatan penelitian untuk penyusunan GAP (Good Agricultural Practice)sistem budidaya bawang merah varietas Lembah Palu (Bahan baku bawang goreng) di Sulawesi Tengah.
2 4
Keterangan: Penelitian (1 &,2) akan dilaksanakan pada tahun I (2013), (3&4) akan dilaksanakan pada tahun II (2014) dan (5 dan 6) akan dilaksanakan pada tahun III (2015).
Pengujian teknologimodifikasi lingkungan mikro pada areal budidaya bawang merah varietas Lembah
Palu di lahan basah/sawah
Pengujian cara dan lama penyimpanan bibit terhadap daya tumbuh dan
viabilitas benih bawang merah varietas Lembah
Palu
6
Pengujian teknologi pemupukan secara spesifik
lokasi pada areal budidaya bawang merah varietas
Lembah Palu pada areallahan sawah
3.2. Tahapan dan Topik Percobaan 3.2.1. Penelitian Tahap I (Tahun 2013)
Penelitian tahap I dengan topik (1) Pengujian teknologi pengelolaan air dan pengairan untuk budidaya bawang merah varietas Lembah Palu pada lahan kering, dan (2) Pengujian Teknologi Modifikasi Lingkungan Mikro pada Areal Pertanaman Bawang Merah Varietas Lembah Palu di Lahan Sawah, telah dilaksanakan pada tahun 2013 dan hasilnya telah dilaporkan serta telah mendapat persetujuan untuk dipublikasi pada jurnal Agroland dan telah disajikan pada seminar nasional Pertanian Organik yang diselenggarakan pada tanggal 5 Desember 2013 di Universitas Tadulako.
Dari hasil penelitian pada tahun pertama (2013) ini diperoleh (a) Teknik pengelolaan air dan sistem pengairan yang efektif pada areal pengembangan bawang merah varietas Lembah Palu, khususnya yang diusahakan pada lahan kering dengan menggunakan teknologi sprinkler (kincir) untuk pengairan dan (b) Teknik modifikasi lingkungan mikro yang efektif untuk meningkatkan hasil bawang merah varietas Lembah Palu khususnya pada lahan basah atau lahan sawah dengan sistem irigasi genangan (lab).
3.2.2. Penelitian Tahap II (Tahun 2014)
Setelah penelitian tahap I yang sudah dilaksanakan pada tahun 2013, maka penelitian telah dilanjutkan dengan penelitian tahap II yang dilaksanakan pada tahun 2014 dengan topik : Pengujian Pemupukan Spesifik pada Lokasi Pengembangan Bawang Merah Varietas Lembah Palu Pada Kondisi Agroekosistem Lahan Kering dan telah diperoleh hasil seperti yang akan diuraikan berikut ini.
1. Tujuan Penelitian
Menemukan rekomendasi pemupukan yang tepat sesuai kondisi spesifik lokasi sentra pengembangan bawang merah, khususnya pada kondisi agroekosistem lahan kering yang merupakan sentra produksi bawang merah varietas „lembah palu‟ di kawasan Lembah Palu.
2. Waktu dan lokasi penelitian
Penelitian ini direncanakan akan berlangsung selama 6 (enam) bulan mulai dari tahap persiapan hingga penyusunan laporan, yaitu pada bulan April-September 2014. Penelitian akan dilaksanakan secara langsung di lapangan yaitu pada lahan petani dengan kondisi agroeksosistem lahan kering. Lokasi penelitian adalah lahan kering di Dusun Bulupountu Jaya Desa Sidera Kecamatan Sigi Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah, yang merupakan salah satu sentra pengembangan bawang merah varietas „lembah palu‟.
3. Cara pelaksanaan penelitian
Penelitian ini merupakan percobaan lapangan untuk melakukan pengujian efektifitas pemupukan pada tanaman bawang merah pada kondisi agroekosistem lahan kering.
Pada penelitian ini digunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) pola faktorial 3 (tiga) faktor diulang tiga kali, dengan perlakuan terdiri atas: Faktor pertama adalah pemberian pupuk organik padat dalam bentuk bokashi pupuk kandang kambing, terdiri atas 2 (dua) taraf yaitu tanpa pupuk organik (P0) dan pupuk organik 30 t/ha (P1). Faktor kedua adalah pemberian pupuk anorganik NPK (15:15:15) terdiri atas 3 (tiga) taraf yaitu tanpa pupuk NPK (N0), pupuk NPK 100 kg/ha (N1) dan pupuk NPK 200 kg/ha (N2). Faktor ketiga adalah pemberian pupuk organik cair (POC) dari limbah kotoran sapi terdiri atas 3 (tiga) taraf yaitu tanpa pupuk organik cair (C0), pupuk organik cair 20 ml/liter air (C1) dan pupuk organik cair 40 ml/liter air (C2). Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali sehingga secara keseluruhan terdapat 54 unit percobaan. Petak percobaan berukuran lebar 120 cm, panjang 250 cm dan tinggi bedengan 25 cm. Jarak antara bedengan perlakuan adalah 40 cm dan jarak antar ulangan adalah 60 cm. Jarak tanam 15 cm x 15 cm dan setiap lubang ditanami 1 umbi bibit bawang merah yang sebelumnya bibit dipotong 1/3 bagian ujungnya.
Untuk mensterilkan bibit dari jamur dan cendawan bibit direndam dengan larutan fungisida Dithane M-45 dengan perbandingan 10 g/10 kg bibit selama sekitar 10 menit.
Pemeliharaan tanaman meliputi pemberian air menggunakan kincir (sprinkle) selama 1-1,5 jam per tiga hari (Muhammad-Anshar, dkk., 2013); pengendalian hama
dan penyakit menggunakan pestisida nabati daun mimba yang disemprotkan pada tanaman seminggu sekali, disamping itu dilakukan juga pengendalian hama secara fisik dengan cara membunuh hama terutama ulat daun yang ditemui pada setiap tanaman.
Gambar 3. Tata letak percobaan di lapangan (P adalah pupuk organik, N adalah Pupuk anorganik NPK dan C adalah pupuk organik cair)
4. Parameter Pengamatan
Adapun parameter pengamatan yang dapat diukur dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
a. Analisis tanah lengkap pada lokasi penelitian yang dilakukan sebagai tahap awal dari kegiatan penelitian ini.
b. Komponen pertumbuhan, yaitu dengan cara mengamati 3 (lima) tanaman sampel pada setiap petak percobaan. Komponen pertumbuhan yang diamati terdiri atas:
(i) Tinggi tanaman pada umur 40 hst., dan (ii) Jumlah daun pada umur 40 hst.
e. Komponen hasil, yaitu dengan cara mengambil 5 (lima) tanaman sampel pada setiap petak percobaan, untuk mengetahui: jumlah umbi per rumpun, bobot umbi segar per rumpun, dan hasil umbi per hektar.
3.3. Indikator Capaian Tahunan
Adapun indikator capaian dari penelitian tahap II tahun 2014 adalah sebagai berikut:
1. Pada tahun kedua (2014) dari penelitian ini dapat diperoleh Rekomendasi jenis dan dosis pemupukan yang optimum yang dapat memberikan hasil bawang merah varietas Lembah Palu tertinggi (kuantitas dan kualitas) masing-masing pada kondisi agroekosistem lahan kering
2. Hasil penelitian dari tahun pertama sampai ketiga (2013-2015) akan menjadi bahan bahan acuan/rujukan dalam penyusunan Pedoman Umum pelaksanaan Praktek Pertanian yang Baik (Good Agricultural Practice/GAP) untuk pengembangan sistem budidaya bawang merah varietas „lembah palu‟.
3.4. Analisis Data
Data hasil pengamatan dari masing-masing percobaan akan dianalisis berdasarkan jenis rancangan percobaan yang digunakan dan disesuaikan dengan sifat data dan tujuan yang akan dicapai dari unit percobaan tersebut. Data kuantitatif yang diperoleh dari hasil percobaan yang menggunakan Rancangan Percobaan sebagai rancangan lapangan, dan masing-masing akan dianalisis menggunakanAnalisis Varians (anova). Perlakuan yang mempunyai respon berbeda nyata akan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada α=0,05, sedangkan untuk mengetahui hubungan antar variabel akan digunakan analisis regresi dan korelasi (Gomez & Gomez, 1995).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Tinggi Tanaman
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi pupuk organik, pupuk majemuk NPK dan pupuk organik cair tidak berpengaruh nyata tehadap tinggi tanaman bawang merah „lembah palu‟ pada umur 40 hari setelah tanam; demikian pula dengan faktor tunggal pupuk NPK tidak berpengaruh nyata, namun faktor tunggal pupuk organik cair dari kotoran ternak sapi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman bawang merah „lembah palu‟ pada umur 40 hst. Hasil uji BNJ α 0,05 (Tabel 1) menujukkan bahwa pemberian POC 20-40 ml/l air menghasilkan tanaman bawang merah „lembah palu‟ lebih tinggi dan berbeda nyata dengan tanpa POC. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian POC dari limbah kotoran ternak sapi dapat memberikan ketersediaan hara dan hormon tumbuh terutama auksin yang banyak terkandung dalam urin sapi, sehingga dapat merangsang pertumbuhan tinggi tanaman akibat pemanjangan sel-sel tanaman. Seperti dikemukakan oleh Lingga (1999) bahwa pupuk kandang cair dari urin sapi mengandung auksin dan memiliki kandungan hara yang lebih tinggi dibandingkan dengan kotoran padatannya, dan auksin berperan menstimulasi pertumbuhan tanaman, dimana unsur hara dan zat pengatur tumbuh akan bekerja secara sinergis jika keberadaan unsur tersebut dalam jumlah yang cukup dan tersedia sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman.
Tabel 1. Rata-rata tinggi tanaman, jumlah umbi per rumpun, berat umbi eskip per rumpun dan berat umbi segar bawang merah „lembah palu‟ dengan perlakuan pupuk organik cair (POC) dari kotoran sapi
Perlakuan
Tinggi tanaman (cm)
umur 40 hst
Jumlah umbi (buah) per rumpun
Berat umbi eskip (g/rumpun)
Berat umbi segar (t/ha) Tanpa POC (C0)
21,19 b 9,19 b 22,79 b 8,60 b
POC 20 ml/l air (C1)
23,25 a 11,17 a 26,39 a 9,37 ab POC 40 ml/l air (C2)
23,72 a 11,21 a 24,76 ab 9,83 a
BNJ α 0,05 1,90 1,64 3,27 0,98
Keterangan: Angka yang diikuti huruf sama pada kolom sama tidak berbeda nyata pada uji BNJ α 0,05.
4.2. Jumlah Daun
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi pupuk organik, pupuk majemuk NPK dan pupuk organik cair tidak berpengaruh nyata tehadap jumlah daun tanaman bawang merah „lembah palu‟ pada umur 40 hari setelah tanam; demikian pula dengan faktor tunggal pupuk pupuk organik cair, namun faktor tunggal pupuk organik padat dari bokashi pupuk kandang kambing dan pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap jumlah daun tanaman bawang merah „lembah palu‟ pada umur 40 hst.
Tabel 2. Rata-rata jumlah daun, jumlah umbi per rumpun dan berat umbi eskip per rumpun tanaman bawang merah „lembah palu‟ dengan perlakuan pupuk organik padat (PO) dari bokashi pupuk kandang kambing
Perlakuan
Jumlah daun (helai) umur 40 hst
Jumlah umbi (buah) per rumpun
Berat umbi eskip (g/rumpun)
Tanpa PO (P0) 24,69 b 9,72 b 22,29 b
PO 30 t/ha (P1) 26,76 a 11,32 a 26,99 a
BNJ α 0,05 0,75 1,13 4,49
Keterangan : Angka rata-rata yang diikuti huruf sama pada kolom sama, tidak berbeda nyata pada uji BNJ α 0,05
Hasil uji BNJ α 0,05 (Tabel 2) menujukkan bahwa pemberian pupuk organik padat dari bokashi pupuk kandang kambing sebanyak 30 t/ha menghasilkan daun tanaman bawang merah „lembah palu‟ terbanyak (26,76 helai) dan berbeda nyata dengan tanpa pupuk organik padat (24,69 helai). Hal ini menunjukkan bahwa tanaman bawang merah membutuhkan kondisi tanah dengan tekstur remah serta memiliki ketersediaan hara yang cukup, baik makro maupun mikro. Pemberian pupuk organik mampu berperan dalam memobilisasi atau menjembatani hara yang sudah ada di dalam tanah sehingga mampu membentuk partikel ion yang mudah diserap oleh akar tanaman, serta meningkatkan serapan unsur hara oleh tanaman (Wigati et al., 2006).
Selain itu, pupuk organik mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro, sehingga dapat memberikan ketersediaan hara secara optimal untuk pertumbuhan tanaman (Hakim dkk, 1986). Pada Tabel 3 ditunjukkan pula bahwa pertumbuhan jumlah daun bawang merah varietas „lembah palu‟ diperoleh lebih tinggi (27,65 helai) jika dilakukan pemberian pupuk NPK
(15:15:15) sebanyak 200 kg/ha dan berbeda nyata dengan tanpa pupuk NPK (23,41 helai), namun tidak berbeda nyata dengan pupuk NPK 100 kg/ha (26,12 helai). Hal ini menunjukkan bahwa untuk pertumbuhan jumlah daun tanaman diperlukan unsur hara dalam jumlah yang memadai untuk menunjang pertumbuhan yang lebih besar.
Sebagaimana dikemukakan oleh (Kelik, 2010) bahwa frekuensi pemberian pupuk dengan dosis yang berbeda menyebabkan jumlah daun dan hasil produksi yang berbeda pula, dimana frekuensi dan jumlah pemberian pupuk yang tepat akan mempercepat laju pembentukan daun. Peningkatan luas daun merupakan upaya tanaman dalam mengefisiensikan penangkapan energi cahaya untuk fotosintesis secara normal pada kondisi intensitas cahaya rendah Ratna (2002).
Tabel 3. Rata-rata jumlah daun tanaman bawang merah „lembah palu‟ umur 40 hst dengan perlakuan pupuk majemuk NPK
Perlakuan
Jumlah daun (helai) umur 40 hst
Jumlah umbi (buah) per rumpun
Berat umbi segar (t/ha)
Tanpa NPK (N0) 23,41 b 9,02 b 8,44 b
NPK 100 kg/ha (N1) 26,12 ab 10,37 ab 9,50 a
NPK 200 kg/ha (N2) 27,65 a 12,17 a 9,86 a
BNJ α 0,05 2,89 1,89 0,81
Keterangan : Angka rata-rata yang diikuti huruf sama pada baris sama, tidak berbeda nyata pada uji BNJ α 0,05
4.3. Jumlah umbi per rumpun
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi pupuk organik, pupuk majemuk NPK dan pupuk organik cair tidak berpengaruh nyata tehadap jumlah umbi per rumpun tanaman bawang merah „lembah palu‟, namun faktor tunggal pupuk organik padat dari bokashi pupuk kandang kambing, pupuk NPK dan pupuk organik cair berpengaruh nyata terhadap jumlah umbi per rumpun bawang merah „lembah palu‟. Hasil uji BNJ α 0,05 (Tabel 1) menujukkan bahwa pemberian pupuk POC sebanyak 20-40 ml/l air menghasilkan jumlah umbi per rumpun bawang merah
„lembah palu‟ lebih banyak dan berbeda nyata dengan tanpa pupuk pupuk organik cair.
Hasil uji BNJ α 0,05 (Tabel 2) menujukkan bahwa pemberian pupuk organik padat dari bokashi pupuk kandang kambing sebanyak 30 t/ha menghasilkan jumlah umbi per rumpun bawang merah „lembah palu‟ terbanyak (11,32 buah) dan berbeda nyata dengan tanpa pupuk organik padat (9,72 buah). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik sangat penting dalam pertanaman bawang merah, karena tanaman bawang merah merupakan tanaman penghasil umbi yang membutuhkan kondisi tanah yang bertekstur remah. Pemberian pupuk organik padat dari kotoran ternak sapi berperan baik dalam memperbaiki sifat fisik tanah terutama tekstur tanah dan kemampuan tanah mengikat air serta memperbaiki sifat-sifat kimia tanah terutama dalam penyediaan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Seperti dikemukakan oleh Hakim dkk (1986) bahwa pupuk organik dari pupuk kandang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah sehingga mendukung pertumbuhan tanaman yang lebih baik.
Hasil uji BNJ α 0,05 (Tabel 3) menujukkan bahwa pemberian pupuk majemuk NPK sebanyak 200 kg/ha menghasilkan umbi per rumpun bawang merah „lembah palu‟ terbanyak (12,17 buah) dan berbeda nyata dengan tanpa pupuk NPK (9,02 buah), namun tidak berbeda nyata dengan pemberian pupuk NPK 100 kg/ha (10,37 buah).
4.4. Berat umbi eskip per rumpun
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi pupuk organik, pupuk majemuk NPK dan pupuk organik cair tidak berpengaruh nyata tehadap daun tanaman bawang merah „lembah palu‟, namun interaksi pupuk organik padat dan pupuk NPK serta faktor tunggal pupuk organik padat dan pupuk organik cair berpengaruh nyata terhadap berat umbi eskip per rumpun bawang merah „lembah palu‟. Hasil uji BNJ α 0,05 (Tabel 1) menujukkan bahwa pemberian pupuk POC sebanyak 20 ml/l air menghasilkan berat umbi eskip per rumpun bawang merah „lembah palu‟ tertinggi dan berbeda nyata dengan tanpa pupuk organik cair, namun tidak berbeda nyata dengan pemberian POC 40 ml/l air.
Hasil uji BNJ α 0,05 (Tabel 2) menujukkan bahwa pemberian pupuk organik padat dari bokashi pupuk kandang kambing sebanyak 30 t/ha menghasilkan berat
berbeda nyata dengan tanpa pupuk organik padat (22,29 g/rumpun). Pemberian pupuk organik padat berupa bokashi pupuk kandang sapi secara nyata dapat memberikan hasil umbi per rumpun lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa pemberian pupuk organik. Hal ini dapat disebabkan karena peranan pupuk organik yang selain efektif dalam memperbaiki sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah, juga berperan penting dalam menyumbangkan unsur-unsur hara bagi tanaman serta meningkatkan serapan unsur hara oleh tanaman (Wigati et al., 2006).
Tabel 4. Rata-rata berat umbi eskip per rumpun pada perlakuan pupuk organik padat dan pupuk NPK
Perlakuan Berat umbi eskip
(g/per rumpun)
Tanpa pupuk organik dan tanpa NPK 22,78 b
Tanpa pupuk organik dan NPK 100 kg/ha 23,41 ab Tanpa pupuk organik dan NPK 200 kg/ha 20,69 b
Pupuk organik 30 t/ha, tanpa NPK 23,79 ab
Pupuk organik 30 t/ha dan NPK 100 kg/ha 24,85 ab Pupuk organik 30 t/ha, dan NPK 200 kg/ha 32,35 a
Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti huruf sama, tidak berbeda nyata pada uji DMRT α 0,05
Hasil uji BNJ α 0,05 (Tabel 4) menujukkan bahwa pemberian pupuk organik padat 30 t/ha yang ditambahkan NPK 200 kg/ha menghasilkan berat umbi eskip per rumpun bawang merah „lembah palu‟ terbesar dan berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pupuk organik padat dengan tanpa NPK atau dengan NPK 200 kg/ha; namun tidak berbeda nyata dengan interaksi pupuk organik dan pupuk NPK lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk anorganik akan menjadi lebih efektif dalam mendukung pertumbuhan tanaman lebih baik dengan hasil lebih tinggi jika diikuti dengan penambahan pupuk organik. Peningkatan efisiensi pemupukan dapat dilakukan dengan pemberian bahan organik. Pemberian pupuk organik dari pupuk kandang dapat mengurangi penggunaan dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia (Martin et al., 2006). Hal ini sesuai dengan pernyataan Yetti dan Elita
(2008) bahwa pemberian pupuk organik sangat baik digunakan untuk memperbaiki sifat fisik tanah dan biologi tanah, meningkatkan efektifitas mikroorganisme tanah dan lebih ramah terhadap lingkungan dan agar jumlah dan bobot umbi bawang merah meningkat dan tanaman perlu diberikan tambahan pupuk NPK sebagai sumber energi untuk proses pertumbuhannya.
4.5. Berat umbi segar per hektar
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi pupuk organik, pupuk majemuk NPK dan pupuk organik cair tidak berpengaruh nyata tehadap berat umbi segar bawang merah „lembah palu‟ per hektar, namun faktor tunggal pupuk NPK dan pupuk organik cair berpengaruh nyata terhadap berat umbi segar per hektar bawang merah „lembah palu‟. Hasil uji BNJ α 0,05 (Tabel 1) menujukkan bahwa pemberian pupuk organik cair sebanyak 40 ml/l air menghasilkan berat umbi segar bawang merah „lembah palu‟ per hektar terbesar (9,83 t/ha) dan berbeda nyata dengan tanpa pupuk pupuk organik cair (8,60 t/ha), namun tidak berbeda nyata dengan pemberian pupuk organik cair 20 ml/l air (9,37 t/ha). Pemberian pupuk organik cair sebanyak 20-40 ml/l air mampu meningkatkan hasil umbi segar bawang merah 4,7-12,5% lebih tinggi dibandingkan tanpa menggunakan POC. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemberian POC memiliki peran penting dalam peningkatan hasil umbi segar bawang merah „lembah palu‟. Hal ini dapat disebabkan karena POC yang berasal dari limbah kotoran ternak sapi memiliki kandungan hara yang lengkap (makro dan mikro) serta kandungan hormon tumbuh yang berperan dalam memacu pertumbuhan tanaman dan meningkatkan translokasi hasil asimilat (source) ke umbi sebagai organ tempat penyimpanan (sink) hasil fotosintesis tanaman. Seperti dikemukakan Turk et al., (1980) hasil pada tanaman yang cukup air dibatasi oleh kekuatan sumber.
Hasil uji BNJ α 0,05 (Tabel 3) menujukkan bahwa pemberian pupuk NPK 100-200 kg/ha menghasilkan berat umbi segar per hektar lebih tinggi dan berbeda nyata dengan tanpa pupuk NPK. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan hasil tanaman bawang merah diperlukan ketersediaan unsur hara secara optimal, terutama unsur hara makro. Untuk itu penambahan pupuk majemuk NPK (15:15:15) 200 kg/ha dapat memberikan hasil umbi bawang merah varietas „lembah palu‟ lebih
dikemukakan oleh Maschner (1986) bahwa untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi optimal tanaman membutuhkan unsur hara makro dan mikro dalam jumlah yang optimal dan berimbang di dalam tanah.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi nyata antara pupuk organik padat, pupuk NPK dan POC terhadap pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah varietas „lembah palu‟, namun interaksi pemberian pupuk organik padat dengan pupuk NPK secara nyata berpengaruh terhadap berat umbi eskip per rumpun dimana pemberian pupuk organik padat 30 t/ha yang diikuti dengan pemberian pupuk NPK 200 kg/ha menghasilkan berat umbi eskip per rumpun tertinggi.
2. Pemberian pupuk organik padat dari bokashi pupuk kandang kambing sebanyak 30 t/ha menghasilkan jumlah daun dan jumlah umbi lebih banyak serta berat umbi eskip per rumpun lebih tinggi dan nyata berbeda dengan tanpa pupuk organik padat.
3. Pemberian pupuk NPK 100-200 kg/ha menghasilkan jumlah daun dan jumlah umbi per rumpun bawang merah lebih banyak serta berat umbi segar per hektar lebih tinggi dan berbeda nyata dengan tanpa pupuk NPK.
4. Pemberian POC 20-40 ml/l air menghasilkan tanaman bawang merah lebih tinggi, jumlah umbi lebih banyak, berat umbi eskip per rumpun dan berat umbi segar per hektar lebih tinggi dan nyata berbeda dengan tanpa POC.
5.2. Saran
Untuk memperoleh rekomendasi pemupukan yang lebih komprehensip pada semua lokasi sentra pengembangan bawang merah varietas „lembah palu‟ di kawasan Lembah Palu, maka disarankan untuk juga dilakukan pengkajian pemupukan pada lokasi sentra produksi bawang merah yang secara khusus pada kondisi agroekosistem lahan sawah.
DAFTAR PUSTAKA
Adrizal dan Jalid. 1995. Pengaruh sumber bahan organik terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Risalah Seminar BPPP Sukarami. Padang.
BPTP Sulteng, 2004. Satu Dasawarsa Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.
Buckman, H.O. dan N.C. Brady., 1982. Ilmu tanah. (Terjemahan Soegiman).
Bharatara Karya Aksara. Jakarta,. 788 hal.
C. Cys, E van Ranst, J. Debaveye and F. Beernaert, 1993. Land evaluation. Part III Crop Requirements. Agricultural Publications–No7; General Administration for Development Cooperation. Belgium.
Desiana, C., I.S. Banuwa, R. Evizal & S. Yusnaini, 2013. Pengaruh pupuk organik cair urin sapi dan limbah tahu terhadap pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.). Jurnal Agrotek Tropika 1(1):113-119, 2013
Dinas Pertanian Sulteng. 2005. Profil bawang merah lokal Palu. Sub-Din Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Sulawesi Tengah. Palu.
Dirjen Tanaman Hortikultura, 2005. Kebijakan Perbenihan Tanaman Hortikultura.
Proseding Seminar Nasional Peran Perbenihan Dalam Revitalisasi Pertanian.
Kerjasama Departemen Pertanian RI dengan Institut Pertanian Bogor, tanggal 23 November 2005 di Bogor.
EPPO, 1994. Guideline on Good Plant Protection Practice. EPPO Bulletin 24, 233- 240.
FAO, 2004. Term of Reference: Expert Consultation on Good Agricultural Practices, 10-12 November 2003. Food and Agriculture Organisation of the United Nation (FAO), Rome, Italy, Website: http://www.fao.org.
Feldmann, F., 2007. The Consept of Best Agricultural Practice. Published on occasion of the International Symposium “Best Practice in Disease, Pest and Weed Management”, 10-12 May 2007 - Berlin Germany.
Foth, H.D. 1994. Dasar-dasar ilmu tanah. Edisi ke 6. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Gardner, F.P; R. Brent Pearce and L. Mitkhell. 1991. Fisiologi tanaman budidaya.
Terjemahan, Herawati Susilo. Universitas Indonesia Press. Hal. 247-275.
Gomez, K.A. and A.A.Gomez., 1995. Prosedure statistik untuk penelitian pertanian.
Terjemahan Endang Syamsuddin dan Justika S Baharsjah. Edisi kedua. UI- Press. Jakarta.
Gomies, L. H. Rehatta, Dan J. Nandissa, 2012. Pengaruh pupuk organik cair RI1 terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kubis bunga (Brassica Oleracea Var. Botrytis L.). Agrologia, Vol. 1, No. 1, April 2012, Hal. 13-20.
Hakim, N., M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nugroho, M.R. Saul, M.A. Diha, G.B.
Hong & H.H. Bailey, 1986. Dasar-dasar ilmu tanah. Universitas Lampung.
Lampung.
Hardjowigeno, S. 1986. Genesis dan klasifikasi tanah. Faperta IPB. Bogor.
Hariadi, A.S., 2011. Pengaruh pemberian beberapa dosis urine sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa l.). Skripsi.
Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Padang Harsono. A, Tohari, D. Indradewa dan T. Adisarwanto. 2003. Ketahanan dan
aktivitas fisiologi beberapa genotipe kacang tanah pada cekaman kekeringan.
Jounal Ilmu Pertanian Vol. 10 No. 2, 2003: 51-62.
Hyam, DG. 2003. CurveExpert: A curve fitting system for windows, v 1.3.8.
http:/www.curveexpert.net. Diakses 1 agustus 2011.
Indranada, H.K. 1986. Pengelolaan kesuburan tanah. Bina Aksara. Jakarta.
Kelik, W. 2010. Pengaruh konsentrasi dan frekuensi pemberian pupuk organik cair hasil perombakan anaerob limbah makanan terhadap pertumbuhan tanaman sawi (Brassica juncea L.). Skripsi. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Khandakar. 1994. Manual of methodes for physio-morphological studies of jute, kenaf and allied germplasm. International Jute Organisation. Dhaka, Baangladesh.
P. 11-15.
Koswara, 1988. Budidaya tanaman palawija dan jagung. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Kuswanto, H., 2003. Teknologi Pemrosesan, Pengemasan dan Penyimpanan Benih.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Lamont, W.J. 1993. Plastic mulch fot the production of vegetable crop. Hort Technology: 3(1):35-39.
Levitt, L., 1980. Responses of plants to environmental stresses. Volume II Water, Radiation, Salt and Other Stresses. Academic Press, New York..
Lingga, P. 1989. Petunjuk penggunaan pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Ma, B.L., L.M. Dwyer, dan E.G. Gregorich. 1999. Soil nitrogen amendment effects on seasonal nitrogen mineralization and nitrogen cycling in maize production.
Agron. J. 91: 1003-1009.
Ma‟shum, M., Soedarsono, J., dan Susilowati, L.E. 2003. Biologi Tanah. Penerbit CPIU Pasca IAEUP Ditjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Marschner, H. 1986. Mineral nutrition of higher plants. Academic Press, New York.
Martin, E.C., D.C. Slack., K.A. Tanksley, and B. Basso.2006. Effects of fresh and composted dairy manureaplications on alfalfa yield and the environment in Arizona. Agron. J. 98: 80-84.