11 1. Preferensi Konsumen
a. Definisi Preferensi Konsumen
Pengertian preferensi/ selera konsumen adalah langkah pertama mencari cara praktis untuk menggambarkan alasan orang-orang memilih satu produk ketimbang produk lain.10 Ekonom mengasumsikan bahwa selera sebagai sesuatu yang ada begitu saja dan relatif stabil, sehingga setiap orang mungkin saja mempunyai seleranya sendiri, selera individual tidak dalam keadaan berubah yang terus menerus.11 Pada gilirannya, memahami keputusan belanja konsumen akan membantu dalam memahami seberapa besar perubahan pendapatan dan harga mempengaruhi permintaan atas barang dan jasa serta mengapa permintaan atas sebagian produk lebih sensitif terhadap harga dan pendapatan ketimbang produk lain.12
Menurut Assael sebagaimana yang dikutip oleh Jono M Munandar13, preferensi konsumen dapat berarti kesukaan, pilihan atau sesuatu hal yang lebih disukai konsumen. Preferensi ini terbentuk dari persepsi konsumen terhadap produk. Persepsi ini sebagai perhatian kepada pesan, yang mengarah ke pemahaman dan ingatan. Persepsi yang sudah mengendap dan melekat dalam pikiran akan menjadi preferensi.
Sedangkan konsumen itu sendiri dapat diartikan setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik
10Robert S Pendyck dan Daniel L Rubinfield, Mikroekonomi,…, hlm. 72.
11William A McEachern, Ekonomi Mikro ,…, hlm.32
12Robert S Pendyck dan Daniel L Rubinfield, Mikroekonomi, …, hlm. 72.
13Jono M Munandar dkk, Analisis Faktor yang Mempengaruhi Preferensi Konsumen Produk Air Minum dalam Kemasan di Bogor, Jurnal Tekhnologi Industri Vol. 13 (3) , hlm. 98.
bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.14
Secara sederhana, preferensi konsumen merupakan pilihan seseorang yang didasari atas persepsinya pada suatu produk. Di mana preferensi konsumen ini akan menjadi langkah awal terbentuknya perilaku konsumen atas suatu produk. Pada dasarnya preferensi konsumen ini timbul secara individual yang relatif stabil dapat dijadikan keputusan konsumen pada suatu produk.
Perilaku konsumen paling mudah dipahami melalui tiga langkah berikut15:
1) Preferensi/ Selera Konsumen : Langkah Pertama adalah mencari cara praktis untuk menggambarkan alasan orang-orang memilih satu produk ketimbang produk lain. Kita akan melihat bagaimana preferensi konsumen atas berbagai barang dapat digambarkan secara grafis dan aljabar.
2) Kendala Anggaran: Tentu saja, konsumen juga mempertimbangkan harga. Pada langkah 2, kita akan mempertimbangkan fakta bahwa konsumen memiliki batasan pendapatan yang membatasi kuantitas barang yang mereka beli. Dalam situasi tersebut, maka dapat mengkombinasikan preferensi konsumen dan kendala anggaran pada langkah ketiga.
3) Pilihan Konsumen : Dengan selera dan pendapatan terbatas yang ada, konsumen memilih untuk membeli kombinasi barang yang memaksimumkan kepuasan mereka. Kombinasi ini bergantung pada harga berbagai barang. Oleh karena itu, memahami pilihan konsumen akan membantu dalam memahami permintaan—yaitu
14 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.
15Robert S Pendyck dan Daniel L Rubinfield, Mikroekonomi, … hlm. 72.
berapa kuantitas barang yang konsumen pilih untuk dibeli bergantung pada harganya.16
Dalam membangun suatu teori perilaku konsumen dalam kaitannnya dengan perilaku konsumen untuk memaksimumkan kepuasan digunakan empat prinsip pilihan rasional, yaitu17 :
1) Kelengkapan (Completeness)
Prinsip ini mengatakan bahwa setiap individu selalu dapat menentukan keadaan mana yang lebih disukainya di antara dua keadaan. Konsumen dapat membandingkan dan menilai semua produk yang ada. Bila A dan B ialah dua keadaan produk yang berbeda, maka individu selalu dapat menentukan secara tepat satu di antara kemungkinan yang ada. Dengan kata lain, untuk setiap dua jenis produk A dan B, konsumen akan lebih suka A daripada B, lebih suka B daripada A, suka akan keduanya, atau tidak suka akan keduanya.
Preferensi ini mengabaikan faktor biaya dalam mendapatkannya.
2) Transivitas (Transivity)
Prinsip ini menerangkan mengenai konsistensi seseorang dalam menentukan dan memutuskan pilihannya bila dihadapkan oleh beberapa alternatif pilihan produk. di mana jika seorang individu mengatakan bahwa ―produk A lebih disukai daripada produk B‖, dan ―produk B lebih disukai daripada produk C‖, maka ia pasti akan mengatakan bahwa ―Produk A lebih disukai daripada produk C‖. Prinsip ini sebenarnya untuk memastikan adanya konsistensi internal di dalam diri individu dalam hal pengambilan keputusan. Hal ini, menunjukkan bahwa pada setiap alternatif pilihan seorang individu akan selalu
16Ketiga langkah tersebut merupakan dasar teori konsumsi. Apabila konsumen memilih satu barang dibandingkan barang yang lain, maka orang tersebut cenderung pada barang pertama.
Begitupun jika seseorang yang memilih satu barang dibandingkan barang lain yang serupa dan memilih barang yang pertama maka dapat disimpulkan dari keputusan aktual yang dibuat konsumen dalam merespon perubahan harga berbagai barang dan jasa yang tersedia untuk dibeli.
17M Nur Rianto Al Arif dan Euis Amalia, Teori Mikro Ekonomi : Suatu Perbandingan Ekonomi Islam & Ekonomi Konvensional, (Jakarta : Kencana Prenada Group, 2010), hlm 110-111.
konsisten dalam memutuskan preferensinya atas suatu produk dibandingkan dengan produk lain.
3) Kesinambungan (Continuity)
Prinsip ini menjelaskan bahwa jika seorang individu mengatakan
―produk A lebih disukai daripada produk B‖, maka setiap keadaan yang mendekati produk A pasti juga akan lebih disukai daripada produk B.
Jadi ada suatu kekonsistenan seorang konsumen dalam memilih suatu produk yang akan dikonsumsinya.
4) Lebih Banyak Lebih Baik (The More Is The Best)
Prinsip ini menjelaskan bahwa jumlah kepuasan akan meningkat, jika individu mengkonsumsi lebih banyak barang atau produk tersebut.
Hal ini bisa dijelaskan dengan kurva kepuasan konsumen—dalam ilmu ekonomi hali ini dikenal dengan kurva indifference (indifference curve)—yang semakin meningkat akan memberikan kepuasan yang lebih baik. Sehingga konsumen cenderung akan selalu menambah konsumsinya demi kepuasan yang akan didapat. Meskipun dalam peningkatan kurva indifference ini akan dibatasi oleh penghasilan (budget constraint).
Adapun asumsi-asumsi lain tentang preferensi menurut Hal R.
Varian dalam buku Ekonomi Mikro Islam,18 yaitu:
1) Kemonotonan yang Kuat (Strong Monotonicity)
Bahwa lebih banyak berarti lebih baik. Biasanya kita tidak memerlukan asumsi sekuat ini. Asumsi ini dapat diganti dengan yang lebih lemah yakni Local Nonsatiation.
2) Local Nonsatiation
Asumsi ini menyatakan bahwa seseorang dapat selalu berbuat baik, sekecil apapun, bahkan bila ia hanya menikmati sedikit perubahan saja dalam ―keranjang konsumsinya‖.
3) Konveksitas Ketat (Strict Convexity)
18Adiwarman A. Karim, Ekonomi Mikro Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 53
Asumsi ini menyatakan bahwa seseorang lebih menyukai yang rata-rata daripada yang ekstrim, tetapi makna selain itu, asumsi ini memiliki muatan ekonomis yang kecil. Strict Convexity merupakan generalisasi dari asumsi neoklasik tentang ―diminishing marginal rates of substitution‖.
Preferensi konsumen dikenal juga dengan istilah teori tingkah laku konsumen. Teori tingkah laku konsumen menerangkan tentang perilaku konsumen di pasaran, yaitu menerangkan sikap konsumen dalam membeli dan memilih barang yang akan dibelinya. Teori ini dikembangkan dalam dua bentuk yaitu teori utiliti dan analisis kepuasan sama (indiferensi)19.
a) Teori Utiliti
Teori utiliti berpangkal dari hasil yang diperoleh konsumen bila ia membelanjakan uangnya untuk membeli barang dan jasa, yaitu terpenuhinya kebutuhan karena utiliti atau manfaat barang yang dikonsumsikan. Menurut teori ini, seorang konsumen yang bertindak secara rasional akan membagi-bagikan pengeluarannya atas bermacam ragam barang sedemikian rupa sehingga tambahan kepuasan yang diperoleh per rupiah yang dibelanjakan itu sebesar mungkin20. Dalam teori ekonomi, kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seseorang dari mengkonsumsi barang-barang dinamakan nilai guna atau utiliti. Dalam membahas nilai guna, maka dapat dibedakan menjadi nilai guna total dan nilai guna marginal. Nilai guna total dapat diartikan sebagai jumlah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang tertentu. Sedangkan nilai guna marginal berarti pertambahan atau pengurangan kepuasan sebagai akibat dari pertambahan atau pengurangan penggunaan satu unit barang. Keduanya mencoba menjelaskan
19T. Gilarso, Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm 91.
20T. Gilarso, Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro, … hlm 91.
hukum permintaan dengan cara menelusuri apa yang ada di balik kurva permintaan itu.
Dengan menggunakan teori nilai guna dapat diterangkan sebabnya kurva permintaan bersifat menurun dari kiri atas ke kanan bawah—yang menggambarkan bahwa semakin rendah harga suatu barang, semakin banyak permintaan ke atasnya. Ada dua faktor yang menyebabkan permintaan ke atas suatu barang berubah apabila harga barang itu mengalami perubahan yaitu efek penggantian dan efek pendapatan.
1) Efek penggantian (subtitusi)
Perubahan harga suatu barang mengubah nilai guna marginal per rupiah dari barang yang mengalami perubahan harga tersebut.
Kalau harga mengalami kenaikan, nilai guna marginal per rupiah yang diwujudkan oleh barang tersebut menjadi semakin rendah.
Kalau harga barang-barang lainnya tidak mengalami perubahan lagi maka perbandingan di antara nilai guna marginal barang- barang itu dengan harganya (atau nilai guna marginal per rupiah dan barang-barang itu) tidak mengalami perubahan.
2) Efek Pendapatan
Kalau pendapatan tidak mengalami perubahan maka kenaikan harga menyebabkan pendapatan itu menjadi semakin sedikit.
Kemampuan pendapatan yang diterima untuk membeli barang- barang menjadi bertambah kecil dari sebelumnya. Maka kenaikan harga menyebabkan konsumen mengurangi jumlah berbagai barang yang dibelinya, termasuk barang yang mengalami kenaikan harga.
Penurunan harga suatu barang menyebabkan pendapatan riil bertambah, dari ini akan mendorong konsumen menambah jumlah barang yang dibelinya. Akibat dari perubahan harga kepada pendapatan ini, yang disebut efek pendapatan, lebih memperkuat lagi efek penggantian di dalam mewujudkan kurva permintaan yang menurun dari kiri atas ke kanan bawah.
Teori nilai guna (utiliti) dapat dilihat melalui pendekatan nilai guna (utiliti) kardinal dan pendekatan nilai guna (utiliti) ordinal.
1) Pendekatan Nilai Guna (utiliti) cardinal
Pendekatan utiliti kardinal dianggap manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan secara kuantitatif.21 Setiap tambahan satu unit barang yang dikonsumsi akan menambah kepuasan yang diperoleh konsumen tersebut dalam jumlah tertentu. Semakin besar jumlah barang yang dapat dikonsumsi maka semakin tinggi tingkat kepuasannya. Konsumen yang rasional akan berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya pada tingkat pendapatan yang dimilikinya.
2) Pendekatan Nilai Guna (utiliti) ordinal
Pendekatan utiliti ordinal, manfaat atau kenikmtan yang diperoleh masyarakat dari mengkonsumsikan barang-barang tidak dikuantitatifkan.22 Pendekatan yang digunakan dalam teori ini adalah indefferent curve (kurva kepuasan sama). Konsumen rasional artinya konsumen bertujuan memaksimalkan kepuasannya dengan batasan pendapatannya. Konsumen mempunyai pola preferensi terhadap barang yang disusun berdasarkan urutan besar kecilnya daya guna yang artinya konsumen melihat barang dari segi kegunaannya.
b) Teori kepuasan sama (indiferensi)
Teori Indiferensi merupakan penyempurnaan dari teori utiliti, tetapi mendekati pokok persoalan yang sama dengan cara yang sedikit berbeda. Untuk menerangkan tingkah laku konsumen dalam mengkonsumsikan barang dinamakan analisis kurva kepuasan sama. Dalam analisis digunakan dua jenis kurva yaitu kurva kepuasan sama dan garis anggaran pengeluaran. Dengan menggunakan dua kurva ini akan ditunjukkan bahwa konsumen
21Sadono sukirno, Mikro Ekonomi, (Jakarta: Raja Grafindo, 2013), hlm. 153.
22Sadono sukirno, Mikro Ekonomi, … hlm. 154.
akan mencapai kepuasan yang maksimum apabila garis anggaran pengeluaran disinggung oleh kurva kepuasan sama yang paling tinggi. Kurva kepuasan sama menggambarkan kombinasi dua barang yang memberikan suatu tingkat kepuasan tertentu.
Sedangkan garis anggaran pengeluaran menggambarkan kombinasi dua barang yang dapat dibeli oleh sejumlah uang tertentu. Dengan demikian, pemaksimuman kepuasan yang digambarkan adalah tingkat kepuasan maksimum dari mengkonsumsi dua barang dengan menggunakan sejumlah pendapatan tertentu. Menurut teori ini seorang konsumen akan membagi-bagi pengeluarannya atas berbagai macam barang sedemikian rupa sehingga ia mencapai taraf pemenuhan kebutuhan yang terbaik (maksimal atau optimal) yang mungkin dicapainya sesuai dengan penghasilan yang tersedia dan harga-harga yang berlaku. Situasi yang paling cocok (equilibrium) tercapai kalau penilaian subjektif konsumen terhadap barang itu sesuai dengan harga objektif yang berlaku.23 Dalam menganalisis perilaku konsumen, para ahli ekonomi biasanya mengandaikan :
1) Bahwa para konsumen sudah mengetahui sendiri apa yang dibutuhkan dan apa yang mau dibelinya
2) Bahwa konsumen dapat mengatur (membanding-bandingkan dan mengurutkan)
3) Bahwa para konsumen berusaha mencapai taraf pemenuhan kebutuhan yang sebaik mungkin (optimal) atau setinggi- tingginya (maksimal)
4) Bahwa barang yang satu, sampai batas tertentu, dapat menggantikan barang yang lain (subtitusi)
Dengan kata lain, diandaikan bahwa seorang konsumen bertindak secara rasional, meskipun kita sadar bahwa dalam kenyataan para konsumen belum tentu selalu bertindak rasional.
23T Gilarso, Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro, … hlm. 91.
Bertindak rasional di sini diartikan bahwa pendapatan yang terbatas akan mendorong orang untuk ekonomis dan memilih/memutuskan untuk membeli barang yang satu (bukan barang yang lain) atau membeli lebih banyak dari barang yang satu (bukan barang lain) berdasarkan pertimbangkan mana yang paling sesuai akan dapat memenuhi kebutuhan/keinginannya.
b. Teori preferensi yang diungkapkan (revealed preference)
Teori preferensi yang diungkapkan diperkenalkan oleh Samuelson untuk menerangkan perilaku konsumen dalam berkonsumsi tanpa harus mendekatinya melalui daya guna, menurut Samuelson memiliki kelemahan yaitu daya guna (kepuasan) tidak bisa diukur dan kesulitan dalam membuat orde dari utilitas konsumsi. Pada dasarnya teori ini tidak ingin mengesampingkan TNGO (Teori Nilai Guna Ordinal), akan tetapi hanya berbeda dalam pendekatannya saja, di mana dalam teori ini preferensi konsumenlah yang dikedepankan baru kemudian menentukan daya guna/tingkat utilitinya, artinya bila konsumen sudah memiliki preferensi karena adanya perubahan harga barang. Teori ini menambahkan dua asumsi dasar dari asumsi yang ada pada TNGO yaitu konsumen harus konsisten atas pilihannya dan adanya pilihan yang diungkapkan (dalam literature ekonomi lain, revealed = nyata)24.
c. Keputusan Pembelian Konsumen
Suatu keputusan melibatkan pilihan diantara dua atau lebih alternatif tindakan. Keputusan selalu mensyaratkan pilihan di antara beberapa perilaku yang berbeda. Semua aspek pengaruh dan kognisi dilibatkan dalam pengambilan keputusan konsumen, termasuk pengetahuan, arti, kepercayaan yang diaktifkan dari ingatan serta proses
24Iskandar Putong, Economics: Pengantar Mikro dan Makro, (Jakarta : Mitra Wacana Media, 2013), hlm.157.
perhatian dan pemahaman yang terlibat dalam penerjemahan informasi baru di lingkungan.
Gambar 2.1
Model Pemrosesan Kognitif Pengambilan Keputusan Konsumen Sumber : Nugroho J Setiadi (2008: 414)
Inti dari pengambilan keputusan konsumen adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternative dan memilih salah satu
Eksposur pada informasi lingkungan
Proses Interprestasi
Perhatian Pemahaman
Pengetahuan, Arti, dan Kepercayaan
Proses Pengintegrasian
Sikap dan Keinginan Pengambilan Keputusan
Perilaku
Ingatan
Pengetahuan, Arti, dan Kepercayaan
diantaranya. Hasil dari proses pengintegrasian ini adalah suatu pilihan (choice) yang disajikan secara kognitif sebagai keinginan berperilaku.25
Dapat diasumsikan bahwa semua perilaku sengaja (voluntary) dilandaskan pada keinginan yang dihasilkan ketika konsumen secara sadar memilih salah satu diantara tindakan alternatif yang ada. Ini tidak berarti bahwa suatu proses pengambilan keputusan sadar harus muncul setiap saat perilaku tersebut dinyatakan. Beberapa perilaku sadar dapat berubah menjadi kebiasaan. Perilaku tersebut didasarkan pada keinginan yang tersimpan di ingatan yang dihasilkan oleh proses pengambilan keputusan masa lampau. Ketika diaktifkan, keinginan atau rencana keputusan yang telah terbentuk sebelumnya ini secara otomatis mempengaruhi perilaku; proses pengambilan keputusan selanjutnya tidak diperlukan lagi.
Proses pengambilan keputusan yang spesifik terdiri dari urutan kejadian berikut26 :
Gambar 2.2 Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Sumber : Nugroho J Setiadi (2008 : 16)
Secara rinci tahap-tahap tersebut dapat diuraikan sebagai betikut : 1) Pengenalan Masalah
Proses membeli diawali saat pembeli menyadari adanya masalah kebutuhan. Pembeli menyadari terdapat perbedaan antara kondisi sesungguhnya dengan kondisi yang diinginkannya. Kebutuhan ini dapat disebabkan oleh rangsangan internal maupu rangsangan eksternal.
2) Pencarian Informasi
Seorang konsumen yang mulai timbul minatnya akan terdorong untuk mencari informasi lebih banyak. Konsumen menerima informasi
25Nugroho J Setiadi, Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran, (Jakarta : Kencana Prenada, 2008), hlm 415.
26Nugroho J Setiadi, Perilaku Konsumen.,,, hlm 16-19.
Mengenali Kebutuhan
Pencarian Informasi
Evaluasi Alternatif
Keputusan Pembelian
Perilaku Pasca Pembelian
terbanyak dari suatu produk dari sumber-sumber komersial yaitu sumber-sumber yang didominasi oleh pemasar. Pada sisi lain, informasi yang paling efektif justru berasal dari sumber-sumber pribadi. Informasi komersial fungsinya untuk memberitahu sedangkan informasi pribadi fungsinya untuk mengevaluasi. Umumnya jumlah aktivitas pencarian konsumen akan meningkat bersamaan dengan konsumen berpindah dari situasi pemecahan masalah yang terbatas ke pemecahan masalah yang ekstensif.
3) Evaluasi Alternatif
Tahap ini meliputi dua tahap, yaitu menetapkan tujuan pembelian dan menilai serta mengadakan seleksi terhadap alternatif pembelian berdasarkan tujuan pembeliannya. Tujuan pembelian bagi masing- masing konsumen tidak selalu sama, tergantung pada jenis produk dan kebutuhannya. Ada konsumen yang mempunyai tujuan pembelian untuk meningkatkan prestasi, ada yang sekedar ingin memenuhi kebutuhan jangka pendeknya dan sebagainya27. Pada tahap evaluasi, konsumen akan membentuk preferensinya terhadap produk yang menjadi pilihannya.
4) Keputusan Membeli
Keputusan untuk membeli disini merupakan proses pembelian yang nyata. Jadi, setelah tahap-tahap dimuka dilakukan maka konsumen harus mengambil keputusan apakah membeli atau tidak. Bila konsumen memutuskan untuk membeli, konsumen akan menjumpai serangkaian keputusan yang harus diambil menyangkut jenis produk, merek, penjual, kuantitas, waktu pembelian dan cara pembayarannya.
Perusahaan perlu mengetahui beberapa jawaban atas pertanyaan–
pertanyaan yang menyangkut perilaku konsumen dalam keputusan pembeliannya.
27Philip Kotler, Manajemen Pemasaran, Edisi Milenium, diterjemahkan oleh Benyamin Molan, (Jakarta: PT. Prenhallindo, 2008), 25.
5) Perilaku Pasca Pembelian
Sesudah pembelian terhadap suatu produk yang dilakukan konsumen akan mengalami beberapa tingkat kepuasan atau ketidakpuasan.
Konsumen tersebut juga akan terlibat dalam tindakan-tindakan sesudah pembelian dan penggunaan produk yang akan menarik minat pemasar.
d. Perilaku Konsumsi dalam Islam
Teori perilaku konsumen mempelajari bagaimana manusia memilih diantara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya. Teori perilaku konsumen rasional dalam paradigma ekonomi konvensional didasari pada prinsip-prinsip dasar utilitarisme. Tujuan aktivitas konsumsi adalah memaksimalkan kepuasan (utiliti) dari mengkonsumsi sekumpulan barang/jasa dengan memanfaatkan seluruh anggaran/pendapatan yang dimiliki. Sedangkan dalam paradigma perilaku konsumen Islami perlu didasarkan atas rasionalitas yang disempurnakan yang mengintegrasikan keyakinan kepada kebenaran. Dalam melaksanakan konsumsi diasumsikan konsumen cenderung untuk memilih barang dan jasa yang memberikan maslahah maksimum. Hal ini sesuai dengan rasionalitas Islami bahwa setiap pelaku ekonomi selalu ingin meningkatkan mashlahah yang diperolehnya. Kandungan mashlahah terdiri dari manfaat dan berkah28. Al-Qur’an dan hadis mengajarkan, dalam kaitan dengan perilaku konsumen, antara lain29:
1) Islam mengakui keterampilan dan kemampuan setiap individu berbeda-beda. Oleh karena itu, tidak adil dan tidak masuk akal apabila terjadi persamaan mutlak di antara semua anggota masyarakat dalam hal pendapatan, konsumsi, dan sebagainya.
Justru Islam memandang perbedaan kemampuan dalam masyarakat
28Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) UII Yogyakarta, Ekonomi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo, 2008), hlm. 129.
29Mustafa Edwin Nasution, dkk. Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam, (Jakarta : Kencana Prenada Group, 2007), hlm. 86.
sebagai suatu kerangka sosial untuk membangun suatu mekanisme internal yang saling menghargai dan penuh kasih sayang.
2) Islam mewajibkan zakat yaitu mengeluarkan sebagian kecil harta yang telah melewati batas nisab tertentu baik dari segi jumlah maupun waktu penguasaan harta. Selain untuk mengendalikan konsumsinya, Islam juga menganjurkan pengeluaran untuk kepentian orang lain, seperti zakat.
Analisis konvensional terhadap perilaku konsumen harga dimodifikasi dalam kaitannya sebagai seorang konsumen muslim. Ada lima alasan atas modifikasi ini30.
1) Fungsi objektif konsumen muslim berbeda dari konsumen yang lain. Konsumen muslim tidak mencapai kepuasan hanya dari mengonsumsi output dan memegang barang modal. Perilaku ekonominya berputar pada pencapaian atas ridha Allah. Untuk seorang muslim sejati harus percaya kepada al-Qur’an, sehingga kepuasan konsumen muslim tidak hanya fungsi satu-satunya atas barang konsumsi dan komoditas, tetapi juga fungsi kepuasan, sehingga didapat untuk konsumen muslim:
U = f (X1,…,Xn; Y1,…Ym; G) (2.1)
Dimana :
U = kepuasan rumah tangga dalam mengonsumsi output dan memiliki persediaan modal pada barang-barang konsumsi tahan lama.
Xn = jumlah yang dikonsumsi pada periode n.
Ym = persediaan barang modal fisik atas konsumsi barang tahan lama yang dimiliki oleh rumah tangga.
G = pengeluaran untuk amal atau untuk dijalan Allah.
2) Vektor komoditas dari konsumen muslim adalah berbeda daripada konsumen nonmuslim meskipun semua elemen dari barang dan
30Metwally, Essay on Economics. (Calcutta: Academic Publisher, 1995) sebagaimana dikutip oleh M. Nur Rianto Al Arif dan Euis Amalia, Teori Mikroekonomi: Suatu Perbandingan Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional, (Jakarta: Kencana Prenada, 2010), hlm 95.
jasa yang tersedia. Karena Islam melarang seorang muslim mengonsumsi beberapa komoditas. Seorang muslim dilarang mengonsumsi alkohol, daging babi, dan lain-lain. Jadi jika konsumen nonmuslim bisa mengalokasikan anggarannya pada barang X1, X2,…,Xn; seorang muslim hanya bisa mengalokasikan anggarannya pada X1, X2,…Xk. Di mana k < n. (n-k) menggambarkan atas barang dan jasa yang dilarang sehingga harus diperkenalkan modifikasi yang lain dari fungsi kepuasan konvensional yang sesuai dengan syariah Islam.
U = f (X1,…,Xk; Y1,…,Ym; G) ( 2.2 ) 3) Karena seorang muslim dilarang untuk membayar atau menerima bunga dari pinjaman dalam bentuk apa pun. Premi rutin yang dibayar oleh konsumen muslim atas memegang barang tahan lama tidak mancakup elemen suku bunga. Suku bunga dalam ekonomi Islam digantikan oleh biaya dalam kaitannya dengan profit sharing.
Bagaimana tidak seperti bunga, biaya ini tidak ditentukan sebelumnya pada tingkat yang tetap atas sebuah resiko. Jadi keterbatasan anggaran dari konsumen muslim yaitu:
( 2.3 )
4) Bagi seorang konsumen muslim, anggaran yang dapat digunakan untuk optimisasi konsumsi adalah pendapatan bersih setelah pembayaran zakat. Jika diasumsikan tingkat zakat setara dengan α, dan batasan anggaran konsumen muslim menjadi:
( 2.4 )
5) Konsumen muslim harus menahan diri dari konsumsi yang berlebihan, yang berarti konsumen muslim tidak harus menghabiskan seluruh pendapatan bersihnya untuk konsumsi barang dan jasa. Sebagaimana hadist pada kitab Ibnu Majah - 3595:
اََُثَّذَح
ُٕبَأ ِرْكَب ٍُْب
ًِبَأ َتَبٍَْش اََُثَّذَح ُذٌ ِزٌَ
ٍُْب ٌَٔ ُراَْ
اَََأَبََْأ واًََّْ
ٍَْع
َةَداَتَق ٍَْع
ٔ ِرًَْع ٍِْب
بٍَْعُش ٍَْع
ٍِِّبَأ
ٍَْع
ِِِّذَج
َلاَق
َلاَق
ُلُٕس َر
َِّللّا
ىَّهَص َُّللّا ٍَِّْهَع َىَّهَس َٔ
إُهُك إُب َرْشا َٔ
إُقَّذَصَت َٔ
إُسَبْنا َٔ
اَي ْىَن ُّْطِناَخٌُ
فا َرْسِإ َْٔأ
تَهٍ ِخَي
(IBNUMAJAH - 3595) : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari 'Amru bin Syu'aib dari Ayahnya dari Kakeknya dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Makan dan minumlah, bersedekah dan berpakaianlah kalian dengan tidak berlebih-lebihan atau kesombongan."
Ini berarti permintaan harus dihentikan setelah kebutuhan dunia terpenuhi, karena ada kebutuhan akhirat yang harus dibayarkan yaitu zakat. Dalam ilmu ekonomi konvensional, konsumsi agregat terdiri dari konsumsi barang kebutuhan dasar (Cn) serta konsumsi barang mewah (C1) dan yang dapat mempengaruhi konsumsi adalah tingkat harga dan pendapatan.
Dalam Islam tingkat harga saja tidak cukup untuk mengurangi konsumsi barang mewah, tetapi dibutuhkan faktor moral dan sosial, diantaranya kewajiban membayar zakat.31
Ajaran Islam sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan umat manusia agar membelanjakan harta sesuai kemampuannya.
Pengeluaran tidak seharusnya melebihi pendapatan dan juga tidak menekan pengeluaran terlalu rendah sehingga mengarah pada kebakhilan. Manusia seharusnya bersikap moderat dalam pengeluaran sehingga tidak mengurangi sirkulasi kekayaan dan juga tidak melemahkan kekuatan ekonomi masyarakat akibat pemborosan.32
31 Ilfi Nur Diana, Hadis-hadis Ekonomi, (Malang : UIN Maliki Press, 2012), …, hlm. 52.
32 Ilfi Nur Diana, Hadis-hadis Ekonomi, …., hlm. 52.
Dalam melakukan konsumsi, Islam juga telah mengatur etikanya.
Etika Islam dalam hal konsumsi sebagai berikut33 : a) Tauhid (Unity/Kesatuan)
Dalam perspektif Islam, kegiatan konsumsi dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT, sehingga senantiasa berada dalam hukum Allah (Syariah). Karena itu, orang mukmin berusaha mencari kenikmatan dengan menaati perintah-Nya dan memuaskan dirinya sendiri dengan barang-barang dan anugerah yang dicipta (Allah) untuk umat manusia. Adapun dalam pandangan kapitalis, konsumsi merupakan fungsi dari keinginan, nafsu, harga barang, dan pendapatan, tanpa memedulikan dimensi spiritual, kepentingan orang lain, dan tanggung jawab atas segala perilakunya, sehingga pada ekonomi konvensional manusia diartikan sebagai individu yang memiliki sifat homo economicus. Firman Allah SWT dalam QS.
Adz-Dzaariyat ayat 56 :
“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdi kepada-Ku”.34
b) Adil (Equilibrium/Keadilan)
Islam memperbolehkan manusia untuk menikmati berbagai karunia kehidupan dunia yang disediakan Allah SWT. Pemanfaatan atas karunia Allah tersebutt harus dilakukan secara adil sesuai dengan syariah, sehingga di samping mendapatkan keuntungan materiil, ia juga sekaligus merasakan kepuasan spiritual al-Qur’an secara tegas menekankan norma perilaku ini baik untuk hal-hal yang bersifat materiil maupun spiritual untuk menjamin adanya kehidupan yang berimbang antara kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karenanya, dalam Islam konsumsi tidak hanya barang-barang yang
33 M. Nur Rianto Al Arif dan Euis Amalia, Teori Mikroekonomi, …, hlm 86-92.
34Departemen Agama, al-Qur‟an dan terjemahan,…,hlm. 523.
bersifat duniawi semata, namun juga untuk kepentingan di jalan Allah (fisabilillah). Firman-Nya dalam QS. Al-Israa ayat 16 :
dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur- hancurnya.35
c) Free Will (Kehendak Bebas)
Alam semesta merupakan milik Allah, yang memiliki kemahakuasaan (kedaulatan) sepenuhnya dan kesempurnaan atas makhluk-makhluk-Nya. Manusia diberi kekuasaan untuk mengambil keuntungan dan manfaat sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuannya atas barang-barang ciptaan Allah. Atas segala karunia yang diberikan oleh Allah, manusia dapat berkehendak bebas, namun kebebasan ini tidaklah berarti bahwa manusia terlepas dari qadha dan qadar yang merupakan hukum sebab akibat yang didasarkan pada pengetahuan dan kehendak Allah. Sehingga kebebasan dalam melakukan aktivitas haruslah tetap memiliki batasan agar jangan sampai menzalimi pihak lain. Hal inilah yang tidak terdapat dalam ekonomi konvensional, sehingga yang terjadi kebebasan yang dapat mengakibatkan pihak lain menjadi menderita.
d) Amanah (Responsibility/Pertanggungjawaban)
Manusia merupakan khalifah atau pengemban amanat Allah.
Manusia diberi kekuasan untuk melaksanakan tugas kekhalifahan ini dan untuk mengambil keuntungan dan manfaat sebanyak-banyaknya
35Departemen Agama, al-Qur‟an dan terjemahan, …hlm. 283.
atas ciptaan Allah. Dalam hal melakukan konsumsi, manusia dapat berkehendak bebas tetapi akan mempertanggungjawabkan atas kebebasan tersebut baik terhadap keseimbangan alam, masyarakat, diri sendiri maupun di akhirat kelak. Pertanggungjawaban sebagai seorang muslim bukan hanya kepada Allah SWT namun juga kepada lingkungan. Jika ekonomi konvensional, baru mengenal istilah corporate social responbility, maka ekonomi Islam telah mengenalnya sejak lama.
e) Halal
Dalam kerangka acuan Islam, barang-barang yang dapat dikonsumsi hanyalah barang-barang yang menunjukkan nilai-nilai kebaikan, kesucian, keindahan, serta akan menimbulkan kemaslahatan untuk umat baik secara materiil maupun spiritual.
Sebaliknya, benda-benda yang buruk, tidak suci (najis), tidak bernilai, tidak dapat digunakan dan juga tidak dapat dianggao sebagai barang-barang konsumsi dalam Islam serta dapat menimbulkan kemudaratan apabila dikonsumsi akan dilarang.
Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 173 :
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah36. tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.37
36Haram juga menurut ayat ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.
37Departemen Agama, al-Qur‟an dan terjemahan,…, hlm. 26
f) Sederhana
Islam melarang perbuatan yang melampaui batas (israf), termasuk pemborosan dan berlebih-lebihan (bermewah-mewah), yaitu membuang-buang harta dan menghambur-hamburkannya tanpa faedah serta manfaat dan hanya memperturutkan nafsu semata. Allah akan sangat mengecam setiap perbuatan yang melampaui batas.
Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-A’raaf ayat 31:
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid38, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan39. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan40.
Sasaran konsumsi bagi konsumen muslim41, yaitu : 1. Konsumsi untuk diri sendiri dan keluarga
Tidak dibenarkan konsumsi yang dilakukan oleh seseorang berakibat pada penyengsaraan diri sendiri dan keluarga karena kekikirannya. Allah SWT melarang pula perbuatan kikir sebagaimana Allah SWT telah melarang perbuatan pemborosan dan berlebih-lebihan. Sebagaimana hadist dalam kitab Bukhari – 53 :
اََُثَّذَح ُجاَّجَح ٍُْب لآَُِْي َلاَق اََُثَّذَح ُتَبْعُش َلاَق
ًَِ َرَبْخَأ يِذَع
ٍُْب تِباَث َلاَق ُتْعًَِس
َذْبَع َِّللّا ٍَْب َذٌ ِزٌَ
ٍَْع
ًِبَأ دُٕعْسَي ٍَْع
ًِِّبَُّنا ىَّهَص َُّللّا ٍَِّْهَع َىَّهَس َٔ
َلاَق اَرِإ َقَفََْأ
ُمُج َّرنا ىَهَع ِِّهَْْأ آَُبِسَتْحٌَ
ََُٕٓف َُّن تَقَذَص
(BUKHARI – 53) : Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal berkata, telah menceritakan kepada kami Syu‟bah berkata, telah mengabarkan kepadaku „Adi bin Tsabit berkata:
Aku pernah mendengar Abdullah bin Yazid dari Abu Mas‟ud
38Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka'bah atau ibadat-ibadat yang lain.
39Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.
40Departemen Agama, al-Qur‟an dan terjemahan, …hlm. 154.
41M. Nur Rianto Al Arif dan Euis Amalia, Teori Mikroekonomi,… hlm 92-93.
dari Nabi shallallahu „alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Apabila seseorang ember nafkah untuk keluarganya dengan niat mengharap pahala maka baginya Sedekah”.
Islam mengajarkan bahwa semua pengeluaran yang dilakukan seseorang untuk kedua orang tuanya, anak-anaknya bahkan untuk dirinya sendiri dianggap sebagai amalan yang baik dan terpuji serta sebagai suatu ibadah.42
2. Tabungan
Manusia harus menyiapkan masa depannya, karena masa depan merupakan masa yang tidak diketahui keadaannya. Dalam ekonomi penyiapan masa depan dapat dilakukan dengan melalui tabungan.
Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Yusuf ayat 47-48 :
Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang Amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.43
3. Konsumsi sebagai tanggung jawab sosial
Menurut ajaran Islam, konsumsi yang ditujukan sebagai tanggung jawab sosial ialah kewajiban mengeluarkan zakat. Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas dan keseimbangan ekonomi.
Islam sangat melarang pemupukan harta, yang akan berakibat terhentinya arus peredaran harta, merintangi efesiensi usaha, dan pertukaran komoditas produksi dalam perekonomian.
42 Ilfi Nur Diana, Hadis-hadis Ekonomi, …., hlm. 59.
43Departemen Agama, al-Qur‟an.
2. Pasar
a. Definisi Pasar dan Bentuk-bentuk Pasar
Secara teoritis dalam ekonomi, pasar menggambarkan semua pembeli dan penjual yang terlibat dalam transaksi aktual atau potensial terhadap barang atau jasa yang ditawarkan44. Adapun pengertian lain dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia mendefinisikan pasar adalah lembaga ekonomi tempat terjadinya pertukaran barang dan jasa antara penjual dan pembeli.45
Menurut Robert S Pendyck, pasar merupakan sekumpulan pembeli dan penjual yang melalui interaksi aktual dan potensial mereka, menentukan harga suatu produk atau serangkaian produk.46
Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres RI) mendefiniskan pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plasa, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya47.
W. J Stanton mendefinisikan pasar adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk puas, untuk berbelanja, dan kemauan untuk membelanjakannya. Berdasarkan definisi tersebut, maka dapat diketahui 3 unsur penting dalam pasar yaitu (1) orang dengan segala keinginannya, (2) daya beli mereka, dan (3) kemauan untuk membelanjakan uangnya48.
M. Nur Rianto Al Arif dan Euis Amalia mendefinisikan pasar adalah sebuah mekanisme pertukaran produk baik berupa barang maupun jasa yang alamiah dan telah berlangsung sejak peradaban awal
44Danang Sunyoto, Perilaku Konsumen dan Pemasaran, (Yogyakarta: CAPS, 2015), hlm.
205.
45Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid 12 P-Pep, ( Jakarta: PT. Delta Pamungkas, 2004), hlm. 220.
46Robert S Pendyck dan Daniel L Rubinfield, Mikroekonomi, … hlm. 8-9.
47Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 112 tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.
48Basu Swastha dan Ibnu Sukotjo, Pengantar Bisnis Modern, (Yogyakarta : Liberty, 1997), hlm.191.
manusia. Islam menempatkan pasar pada kedudukan yang penting dalam perekonomian. Praktik ekonomi pada masa Rasulullah dan Khulafaur rasyidin menunjukkan adanya peranan pasar yang besar dalam pembentukan masyarakat Islam pada masa itu49.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pasar adalah media pertukaran antara permintaan dan penawaran baik berupa barang maupun jasa yang dilakukan oleh dua orang (penjual dan pembeli) atau lebih.
Harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran di pasar.
Bekerjanya mekanisme harga melalui permintaan dan penawaran di pasar paling jelas kelihatan di pasar bebas, terutama dalam keadaan persaingan murni di mana banyak penjual dan banya pembeli untuk barang tertentu. Tetapi kenyataannya tidak selalu ada persaingan sempurna. Keadaan pasar dapat berbeda dalam minimal tiga hal50 : 1) Jumlah penjual/produsen suatu barang tertentu mungkin banyak
sekali, mungkin agak banyak, hanya beberapa, atau hanya satu saja.
Pola penyebarannya menurut besar kecilnya perusahaan dan banyak sedikitnya pembeli serta pola penyebarannya ikut berpengaruh pula.
2) Sifat barang yang diperdagangkan: apakah sama atau berbeda, sejenis, atau hampir sama.
3) Sukar mudahnya memasuki suatu bidang usaha tertentu: ada bidang-bidang usaha yang terbuka untuk setiap orang yang ingin memasukinya. Tetapi ada juga bidang-bidang usaha yang sulit sekali dimasuki produsen baru berhubung dengan syarat-syarat teknis dan permodalan yang diperlukan, peraturan-peraturan pemerintah yang membatasi bidang usaha tertentu, atau perjanjian/perkongsian antara para produsen.
Berdasarkan sifat-sifat tersebut di atas, maka dibedakan bentuk- bentuk pasar sebagai berikut :
49M. Nur Rianto Al Arif dan Euis Amalia, Teori Mikroekonomi, … hlm 264.
50T Gilarso, Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro, … hlm. 170.
1) Pasar persaingan murni : keadaan pasar di mana banyak produsen/penjual dan banyak pembeli untuk barang/jasa yang bersifat homogen.
2) Monopoli : keadaan pasar di mana hanya ada satu produsen/penjual untuk barang/jasa yang tidak ada penggantinya yan baik (mono=tunggal). Bila ada satu pembeli dinamakan monopsoni.
3) Persaingan tidak sempurna : bentuk pasar di tengah-tengah antara persaingan murni dan monopoli :
a. Duopoli : hanya ada dua perusahaan yang bersama-sama menyelenggarakan seluruh produksi atau bersama-sama mengusai seluruh pasaran barang/jasa tertentu.
b. Oligopoli : hanya ada beberapa produsen/penjual untuk barang yang sama atau hampir sama.
c. Persaingan monopolistik : agak banyak produsen/ penjual, sedangkan barang sejenis tetapi didifferensiasiakan.
Tabel 2.1
Bentuk – Bentuk Pasar Bentuk
Pasar
Jumlah Penjual
Sifat Barang/
Jasa Akses
Pengaruh terhadap
Harga Monopoli Satu Tak ada barang
pengganti
Tertutup Banyak
Duopoli Dua Mungkin ada
barang pengganti
Sukar sekali
Banyak
Oligopoli Beberapa Barang sama / sejenis
sukar Sedikit
Persaingan monopolistic
agak banyak
Barang didiferensia- siakan
Dapat, meskipun tak mudah
Sedikit
Persaingan murni
Banyak Sama/homo- gen
Mudah Tak ada
b. Pasar Tradisional
Pasar tradisional merupakan sebuah perwujudan eksistensi kegiatan ekonomi yang telah melembaga lama. Sejak awal kehadiaran pasar tradisional merupakan sarana tempat penjualan barang yang dilaksanakan oleh pedagang kecil dan menengah melalui tawar menawar. Interaksi sosial dan ekonomi yang terjadi turut mendorong perkembangan pasar.
Pasar tradisional sudah dikenal sejak puluhan abad lalu, diperkirakan sudah muncul sejak jaman kerajaan Kutai Kartanegara pada abad ke -5 Masehi. Dimulai dari barter barang kebutuhan sehari-hari dengan para pelaut dari negeri tirai bambu, masyarakat mulai menggelar dagangannya dan terjadilah transaksi jual beli tanpa mata uang hingga digunakan mata uang yang berasal dari negeri Cina. Bahkan dibeberapa relief candi nusantara diperlihatkan cerita tentang masyarakat jaman kerajaan ketika bertransaksi jual beli walau tidak secara detail. Pasar dijamannya dijadikan sebagai ajang pertemuan dari segenap penjuru desa dan bahkan digunakan sebagai alat politik untuk menukar informasi penting dijamannya. Bahkan pada saat masuknya peradaban Islam di tanah air abad 12 Masehi, pasar digunakan sebagai alat untuk berdakwah. Para wali mengajarkan tata cara berdagang yang benar menurut ajaran Islam. Kawasan pasar juga merupakan kawasan pembauran karena berbagai macam etnis hadir disana selain masyarakat lokal. Etnis Tionghoa, Arab, Gujarat, India merupakan para pedagang besar waktu itu. Pasar sebagian besar dibangun dipinggir pelabuhan dan sungai untuk memudahkan aktivitas bongkar muat barang dan memudahkan transaksi pembelian. Dijaman penjajahan Belanda, pasar tradisional mulai diberikan tempat yang layak dengan didirikan bangunan yang cukup besar dijamannya. Pasar Beringharjo di Yogya, Pasar Johar di Semarang dan Pasar Gede di kota Solo adalah salah satu contoh pasar tradisional terbaik dijamannya. Dan bahkan ada semacam ritual sendiri dimasyarakat Jawa yaitu pendirian bangunan pasar dilokasi tertentu harus mendapatkan semacam pulung (wahyu) agar para pedagang bisa laku berjualan ditempat tersebut. Pasar tersebut didirikan sebagai sentra
penjualan bahan pangan dan sandang di kota besar dan agar para penjajah lebih mudah untuk mengawasi geliat pasar tradisional tersebut.51
Di era 70an hingga 80an, pasar tradisional masih memegang peranan yang dominan dalam formasi pasar nasional yang menyediakan barang- barang kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat. Upaya pengembangan pasar terus dilakukan oleh pihak pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan yang mendukung pengembangan pasar. Hal ini terbukti pada tahun 1976, pemerintah mengeluarkan kebijakan dengan menyediakan sarana usaha perdagangan berupa tempat usaha yang dituangkan untuk pertama kalinya dalam Instruksi Presiden RI No. 7 Tahun 1976 tentang Bantuan Pembangunan dan Pemugaran Pasar, yang dikenal sebagai Program Inpres Pasar. Program Inpres Pasar tersebut diharapkan dapat mewujudkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya atau dengan kata lain distribusi pendapatan dari kegiatan usaha perdagangan tersebut dapat lebih merata secara proporsional terutama dalam pemerataan kesempatan usaha.52
Selain itu, pemerintah juga menyediakan dana untuk membangun Pusat Pertokoan melalui Inpres Nomor 8 Tahun 1979 tentang Program Bantuan Kredit Kontruksi Pembangunan dan Pemugaran Pusat Pertokoan/Perbelanjaan/Perdagangan dan/atau Pertokoan. Tujuan Inpres Pertokoan tersebut adalah untuk membantu Pemerintah Daerah Tingkat II dan Pemerintah DKI Jakarta menyediakan dana bagi pembangunan dan pemugaran Pusat Pertokoan yang diperuntukkan 60 persen bagi perdagangan golongan ekonomi lemah dan dikompensasi pula dengan Kredit Investasi Kecil (KIK) sedangkan 40 persen untuk golongan ekonomi kuat yang akan dibayar tunai.
Adanya kebijakan pemerintah untuk mendirikan atau memugar pasar dan pertokoan melaui Inpres ini ternyata memberikan dampak yang positif
51 Sejarah Pasar Tradisional dan Pasar Modern. http://www.mayestik.tumblr.com, diakses pada hari Rabu, 10 Februari 2016, pkl 20.00 Wib.
52 Devi Nurmalasari, Skripsi : Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Daya Saing dan Preferensi Masyarakat Berbelanja di Pasar Tradisional, (Bogor : IPB, 2007).
bagi berkembangnya jumlah pasar tradisional dan pasar swalayan di berbagai ibukota provinsi dan ibukota kabupaten. Seiring berjalannya waktu, ternyata Program Inpres ini sudah kurang kondusif bagi pendorong perkembangan pasar khususnya pasar tradisional.
Pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan tempat usaha berupa toko, kios, los, dan tenda yang dimiliki /dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar.53
Menurut Widiatmono (2006) pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual dan pembeli secara langsung. Dalam pasar tradisional terjadi proses tawar menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjualan maupun pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain pakaian, barang elektronik, jasa dan lain-lain54.
Sedangkan menurut Swastha (2000) harga di pasar tradisional ini mempunyai sifat yang tidak pasti, oleh karena itu bisa dilakukan tawar menawar. Bila dilihat dari tingkat kenyamanan, pasar tradisional selama ini cenderung kumuh dengan lokasi yang tidak tertata rapi. Pembeli di pasar tradisional, biasanya kaum ibu yang mempunyai perilaku senang bertransaksi dengan komunikasi atau berdialog dalam hal penetapan harga, mencari kualitas barang, memesan barang yang diinginkan, dan perkembangan harga-harga lainnya55.
53 Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 112 tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.
54Rubyah Hutomo dan Renny Aprilliyani, Analisis Faktor Perilaku Konsumen Pasar Tradisional, (Gemawisata Vol. 10 No.1, 2012), hlm. 39.
55Rubyah Hutomo dan Renny Aprilliyani, Analisis Faktor Perilaku Konsumen Pasar Tradisional,…, hlm. 39.
Barang yang dijual di pasar tradisional umumnya barang-barang lokal dan ditinjau dari segi kualitas dan kuantitas, barang yang dijual pasar tradisional dapat terjadi tanpa melalui penyortiran yang ketat. Dari segi kuantitas, jumlah barang yang disediakan tidak terlalu banyak sehingga apabila ada barang yang dicari tidak ditemukan di satu kios tertentu, maka dapat dicari ke kios lain. Rantai distribusi pada pasar tradisional terdiri dari produsen, distributor, sub distributor, pengecer, dan konsumen.
Kendala yang dihadapi pada pasar tradisional antara lain sistem pembayaran ke distributor atau sub distributor dilakukan dengan tunai, penjual tidak dapat melakukan promosi atau memberikan diskon komoditas. Mereka hanya bisa menurunkan harga barang yang kurang diminati konsumen. Selain itu, dapat mengalami kesulitan dalam memenuhi kontinyuitas barang, lemah dan penguasaan tekhnologi dan manajemen sehingga melemahkan daya saing56.
Adapun peraturan mengenai pendirian pasar tradisional wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut57 :
a) Memperhitungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan keberadaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern serta usaha kecil, termasuk koperasi, yang ada di wilayah yang bersangkutan.
b) Menyediakan area parkir paling sedikit seluas kebutuhan parkir 1 (satu) buah kendaraan roda empat untuk setiap 100 m2 (seratus meter per segi) luas lantai penjualan pasar tradisional, dan
c) Menyediakan fasilitas yang menjamin pasar tradisional yang bersih, sehat, (hygienis), aman, tertib dan ruang publik yang nyaman.
c. Pasar Modern
Toko Modern atau pasar modern adalah toko dengan sistem pelayanan yang mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran yang berbentuk
56Rubyah Hutomo dan Renny Aprilliyani, Analisis Faktor Perilaku Konsumen Pasar Tradisional,… , hlm. 39-40.
57Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 112 tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.
Minimarket, Supermarket, Departemen Store, Hypermarket ataupun grosir yang berbentuk perkulakan58.
Booming pasar modern terjadi pada tahun 90an, kehadiran pasar ini memberikan alternatif masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Pada awalnya target dari pasar ini adalah hanya kalangan menengah ke atas. Pasar modern kemudian terus berkembang di Indonesia dengan melihat potensi pasar yang masih sangat besar dalam bisnis ritel ini. Namun, pada tahun 1997, saat krisis ekonomi terjadi pasar modern sempat mengalami sedikit guncangan. Tindakan penjarahan dan pembakaran pusat perbelanjaan saat itu membuat bisnis ini mengalami ketidakstabilan. Pada tahun yang sama, pasar tradisional terbukti masih tetap bertahan dengan kondisi ekonomi yang tidak stabil. Hingga beberapa tahun setelah krisis terjadi, pasar modern mulai bangkit kembali dengan konsep-konsep baru seperti hypermarket, minimarket, dan lain-lain. Target pasarnya pun tak terbatas hanya pada kalangan menengah ke atas saja namun sudah berkembang ke kalangan menengah ke bawah. Liberalisasi perdagangan juga turut mendorong perkembangan pasar modern di Indonesia. Pemerintah melalui Keppres No.
118 Tahun 2000 telah membuka sebagian sektor perdagangan untuk Penanaman Modal Asing (PMA) seperti perdagangan eceran berskala besar.
Sumber daya manusia yang baik dan manajemen yang professional mengakibatkan pasar modern asing dapat cepat tumbuh dan berkembang.59
Berdasarkan fasilitas yang dimiliki serta luas areal yang dipakai untuk aktivitas perdagangan eceran, pasar modern dapat dibedakan menjadi60 : a) Hypermarket
Hypermarket adalah toko modern yang memiliki luas areal di atas 5000 m2 per outletnya dengan variasi jenis barang yang lebih banyak dan pilihan merek
58Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 112 tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.
59Devi Nurmalasari, Skripsi : Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Daya Saing dan Preferensi Masyarakat Berbelanja di Pasar Tradisional, (Bogor : IPB, 2007).
60Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 112 tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.
yang lebih luas61. Hypermarket dapat menempati pusat-pusat perdagangan/pusat pasar/pusat pertokoan atau gedung yang dibangun sendiri di lokasi khusus. Konsep yang ditawarkan adalah konsep one stop shopping atau pusat pertokoan yang lengkap menyediakan berbagai macam kebutuhan sandang. Kepemilikan hypermarket umumnya adalah join venture antara swasta lokal dengan swasta asing seperti Giant dan Carrefour.
b) Supermarket
Supermarket adalah toko modern yang memiliki rata-rata luas antara 400- 5.000 m2 yang biasanya berada di mall, pusat perbelanjaan, atau gedung milik sendiri62. Komoditi utama yang biasa dijual umumnya barang-barang/bahan pangan dan peralatan dapur. Model kepemilikan dari supermarket umumnya adalah swasta baik lokal maupun asing. Milik swasta lokal biasanya berasal dari kepemilikan kelompok atau group perusahaan yang mendirikan cabang perusahaan di berbagai daerah.
c) Departmen store
Departmen store merupakan toko modern dengan luas area di atas 400 m2, biasanya barang yang dijual umumnya adalah barang-barang sandang yang dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin atau tingkat usia konsumen63. Kepemilikan dari department store biasanya milik swasta asing dan lokal.
d) Minimarket
Minimarket adalah pasar swalayan yang berukuran kecilm umumnya kurang dari 400 m2 per outlet64. Minimarket dapat menempati pertokoan, perkantoran, mall atau gedung sendiri. Minimarket menerapkan sistem waralaba bagi masyarakat yang ingin membuka gerai minimarket tersebut pada lokasi pilihan. Berdasarkan jenis pasar modern yang ada, minimarket
61Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 112 tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.
62Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 112 tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.
63Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 112 tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.
64Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 112 tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.
memiliki pertumbuhan jumlanya cukup pesat karena didukung oleh sistem ekspansi yang mudah dan lahan yang tidak terlalu luas.
Dilihat dari tata letak, pendirian Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern wajib65:
a) Memperhitungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat, keberadaan Pasar Tradisional, Usaha Kecil dan Usaha Menengah yang ada di wilayah yang bersangkutan;
b) Memperhatikan jarak antara Hypermarket dengan Pasar Tradisional yang telah ada sebelumnya;
c) Menyediakan areal parkir paling sedikit seluas kebutuhan parkir 1 (satu) unit kendaraan roda empat untuk setiap 60 m2 (enam puluh meter per segi) luas lantai penjualan Pusat Perbelanjaan dan/atau Toko Modern; dan
d) Menyediakan fasilitas yang menjamin Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern yang bersih, sehat (hygienis), aman, tertib dan ruang publik yang nyaman.
d. Pasar dalam Perspektif Islam
Berdagang adalah aktivitas yang paling umum dilakukan di pasar.
Untuk itu teks-teks al-Qur’an selain memberikan stimulasi imperatif untuk berdagang, di lain pihak juga mencerahkan aktivitas tersebut dengan sejumlah rambu atau aturan main yang bisa diterapkan di pasar dalam upaya menegakkan kepentingan semua pihak, baik individu mapun kelompok66.
Allah SWT tidak hanya menjamin akses yang memudahkan kaum Quraisy untuk dapat berperan di pasar, bahkan al-Qur’an pun menjabarkan koreksi kepada bangsa Arab yang selama itu salah kaprah dengan meyakini bahwa orang akan kehilangan kemuliaaan dan kekharismaannya bila melakukan kegiatan ekonomi di pasar. Ketika itu bangsa Arab meyakini, tidak sepantasnya seorang nabi mempunyai aktivitas di pasar, padahal Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Furqon : 20 :
65Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 112 tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.
66Mustafa Edwin Nasution, dkk. Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam, …, hlm. 159.