• Tidak ada hasil yang ditemukan

GEJALA INSOMNIA PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "GEJALA INSOMNIA PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

GEJALA INSOMNIA PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN

OLEH :

DR. NI KETUT SRI DINIARI, SPKJ

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

2016

(2)

KATA PENGATAR

Pertama-tama perkenankanlah penulis memanjatkan puji syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas asung wara nugraha-Nya/kurnia-Nya, laporan elective study tahap I ini dapat diselesaikan.

Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr.Luh Nyoman Alit Aryani, SpKJ, sebagai pembimbing I yang dengan penuh perhatian telah memberikan dorongan, semangat, bimbingan, dan saran selama penulis mengikuti program penulisan laporan elective study tahap I. Terima kasih sebesar-besarnya pula penulis sampaikan kepada dr.Ni Ketut Sri Diniari, SpKJ, sebagai Pembimbing II yang dengan penuh perhatian dan kesabaran telah memberikan bimbingan dan saran kepada penulis.

Ucapan yang sama juga ditujukan kepada Rektor Universitas Udayana Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD. KEMD atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan Program S1 di Universitas Udayana. Ucapan terima kasih ini juga ditujukan kepada Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang dijabat oleh Dr. dr. Dewa Putu Gde Purwa Samatra, Sp.S(K) atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menjadi mahasiswa Program S1 pada PSPD FK Universitas Udayana. Tidak lupa pula penulis ucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. dr. Putu Astawa, Sp.OT (K), M.Kes., Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana atas ijin yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan program S1.

Ungkapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada penguji elective study tahap I, yaitu dr.Anak Ayu Sri Wahyuni, SpKJ yang telah memberikan masukan, saran, sanggahan, dan koreksi sehingga laporan elective study tahap I ini dapat selesai.

Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan dan penyelesaian skripsi ini, serta kepada penulis sekeluarga.

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

ABSTRAK ... iv

DAFTAR LAMPIRAN... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 LATAR BELAKANG ... 1

1.2 RUMUSAN MASALAH ... 3

1.3 TUJUAN PENELITIAN... 3

1.4 MANFAAT PENELITIAN ... 3

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 4

2.1 DEFINISI ... 4

2.2 EPIDEMIOLOGI ... 4

2.3 ETIOLOGI ... 6

2.4 KRITERIA DIAGNOSIS ... .8

2.5 GEJALA INSOMNIA PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN... 9

2.6 PENANGANAN INSOMNIA ... 11

BAB III SIMPULAN ... 18

DAFTAR PUSTAKA ... 19

(4)

ABSTRAK

GEJALA INSOMNIA PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN

Perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa dalam mengejar pendidikan tinggi, selalu diikuti dengan tuntutan akademik berupa beban berat dalam upaya mencapai prestasi yang maksimal. Hal ini tak jarang membuat mahasiswa mengalami stres dan menimbulkan gejala Insomnia yang dapat mengganggu keseharian mereka.

Insomnia sering dikaitkan dengan adanya kesulitan untuk memulai dan mempertahankan tidur, terdapat ketidakpuasan terhadap kuantitas dan kualitas tidur yang dimiliki oleh seseorang. Faktor-faktor seperti sulitnya seseorang mengontrol emosi dikarenakan beban hidup yang berat, tanggung jawab yang diemban dan mekanisme pertahanan diri yang salah menjadi pemicu terjadinya gejala Insomnia

Seseorang mengalami Insomnia bila mengeluhkan kesulitan masuk tidur, mempertahankan tidur atau mengalami kualitas tidur yang buruk minimal 3 kali dalam seminggu minimal satu bulan. Insomnia dapat menyebabkan gangguan di pagi hari seperti kelelahan, kurangnya energi, sulitnya berkonsentrasi dan iritabilitas pada seseorang. Insomnia juga dapat menjadi kondisi komorbid yang tinggi dan muncul lebih sering sebagai komorbid suatu penyakit.Maka dari itu penting untuk mengenali gejala Insomnia pada mahasiswa agar mendapatkan penanganan yang tepat sehingga tidak terjadi dampak negatif yang tidak diinginkan.

Kata kunci: Mahasiswa, stres, Insomnia

(5)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Logbook………...

(6)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa dalam mengejar pendidikan tinggi, selalu diikuti dengan tuntutan akademik berupa beban berat dalam upaya mencapai prestasi yang maksimal. Hal ini tak jarang membuat mahasiswa mengalami stres dan menimbulkan kesulitan tidur yang dapat mengganggu keseharian mereka.

Sebuah studi menunjukkan bahwa hampir 50% dari mahasiswa kedokteran mengalami suatu fenomena burnout atau yang lebih dikenal dengan keletihan fisik, mental dan emosional yang diikuti dengan kecemasan dan depresi akan suatu stresor. Beberapa stresor yang nyata dialami oleh mahasiswa kedokteran seperti jadwal kuliah yang padat, tugas yang menumpuk, rasa cemas menjelang ujian akhir dan kompetisi sesama mahasiswa kedokteran untuk mendapatkan nilai yang tinggi dapat mengakibatkan adanya sleep deprivation atau kekurangan tidur yang berujung pada rasa stres yang menumpuk. Inilah salah satu pemantik terjadinya kesulitan tidur pada kebanyakan mahasiswa fakultas kedokteran.

Kesulitan tidur tersebut akan memicu munculnya suatu gejala Insomniapada sebagian besar mahasiswa kedokteran (Seo et al., 2015).

Gejala Insomnia merupakan keluhan utama yang sering dirasakan pada orang dewasa termasuk di dalamnya adalah mahasiswa, sebanyak 1 dari 3 orang dewasa dari suatu populasi mengeluhkan adanya gejala insomnia tersebut.

(7)

Sebanyak 9-15% dari populasi mengeluhkan kesulitan tidur di malam hari dan merasakan rasa kantuk yang berlebih pada siang hari, juga terdapat 6% dari populasi yang dapat didiagnosis mengalami insomnia. Kebanyakan dari mereka akan mengeluhkan terganggunya aktivitas pada pagi hari dikarenakan kesulitan tidur pada saat mengerjakan atau melakukan tugas-tugas yang berat dan menumpuk (Yang et al., 2014).

Insomnia sendiri dapat didefinisikan dengan adanya kesulitan untuk memulai dan mempertahankan tidur, terdapat ketidakpuasan terhadap kuantitas dan kualitas tidur yang dimiliki oleh seseorang. Dan kini diketahui bahwa insomnia merupakan suatu kondisi yang independen atau terjadi bukan karena terdapat suatu kondisi medis lain melainkan karena terdapat suatu penyebab atau stresor ( Sadock et al., 2015).

Menurut sebuah studi pengukuran stresor menyatakan bahwa faktor-faktor pemicu terjadinya gejala insomnia adalah sulitnya seseorang mengontrol emosi dikarenakan beban hidup yang berat, tanggung jawab yang diemban dan mekanisme pertahanan diri yang salah yang berdampak pada waktu tidur seseorang (Pigeon, 2010).

Berdasarkan pernyataan-pernyataan diatas, jika gejala-gejala insomnia pada mahasiswa fakultas kedokteran dapat diketahui, maka akan bermanfaat bagi kebanyakan mahasiswa kedokteran untuk mendapatkan solusi atas gejala insomnia yang mereka alami. Maka dari itu penulis ingin mengetahui lebih lanjut akan gejala insomnia pada mahasiswa kedokteran.

(8)

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apakah ada gejala insomnia pada mahasiswa fakultas kedokteran?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Untuk mengetahui adanya gejala insomnia pada mahasiswa fakultas kedokteran

1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Dengan mengetahui gejala insomnia pada mahasiswa fakultas kedokteran, maka diharapkan dapat mengatasi dan menanggulangi gejala insomnia tersebut

1.4.2 Sebagai informasi kepada pemegang kebijakan agar dapat dilakukan pencegahan gangguan yang lebih berat

(9)

BAB 2

KAJIAN PUSTAKA

2.1Definisi

Insomnia adalah suatu persepsi yang tidak adekuat dari kualitas dan kuantitas tidur seseorang yang diikuti dengan adanya kesulitan masuk tidur, bangun pada malam hari dengan kesulitan untuk tidur kembali, bangun terlalu awal di subuh hari dan tidur yang tidak menyegarkan. Insomnia tidak didefiniskan dari jumlah jam tidur yang dimiliki seseorang. Dan Insomnia dapat menyebabkan gangguan di pagi hari seperti kelelahan, kurangnya energi, sulitnya berkonsentrasi dan iritabilitas pada seseorang (Levenson et al., 2015).

2.2 Epidemiologi

Insomnia adalah suatu kondisi pervasif berat. Setidaknya terdapat 1 per 3 hingga 1 per 4 dari suatu populasi dunia mengeluhkan adanya ganggguan-gangguan tidur pada beberapa titik dalam kehidupan mereka dan tepatnya sebesar 10%

mengalami Insomnia yang persisten (Pigeon, 2010).

Sedangkan prevalensi aktual dari penggunaan istilah gejala Insomnia sendiri mencapai setidaknya 33% hingga 50% dari populasi dewasa dan gejala Insomnia dengan adanya rasa stres atau gangguan sebesar 10% hingga 15%

(Schutte-rodin et al., 2008).

Berdasarkan studi berbasis populasi oleh US National Institutes of Health State of the Science Statement on Manifestations and Management of Insomnia in Adultspada tahun 2005 menyatakan bahwa terdapat hingga 30% dari populasi

(10)

mengeluhkan adanya gangguan tidur, dan 10% dari mereka mengalami adanya gangguan aktivitas di pagi hari yang konsisten dengan diagnosis dari Insomnia tersebut. Rerata prevalensi cukup tinggi ditemukan pada praktik-praktik dokter umum, dimana setengah dari sampel pada studi tersebut mengeluhkan adanya gejala Insomnia (Pigeon, 2010).

Pasien dengan kondisi komorbid medis maupun psikiatri dapat meningkatkan resiko seseorang terkena Insomnia, dimana gangguan psikiatri dan penyakit kronik dapat mengalami Insomnia memiliki persentase sebesar 50%

hingga 75% (Schutte-rodin et al., 2008).

Insomnia juga dapat menjadi kondisi komorbid yang tinggi dan muncul lebih sering sebagai komorbid suatu penyakit dibandingkan dengan kemunculannya sebagai Insomnia primer. Dan Insomnia bila muncul dalam keadaan kronik dapat muncul tanpa henti, dapat melumpuhkan aktivitas seseorang dan dapat menjadi resiko dari gangguan medis dan psikiatri lainnya (Pigeon, 2010).

Pada studi tentang Insomnia yang dilakukan di Kanada, didapatkan sebesar 13,4% dari total 3,3 juta penduduk mengalami Insomnia. Juga pada penelitian yang dilakukan selama 12 bulan di Texas, yang memiliki tujuan mengamati rerata prevalensi dan kronisitas Insomnia dan dampaknya terhadap kesehatan pada orang dewasa mendapatkan 25% dari sampel mengalami Insomnia dan 24% diantaranya jatuh ke kondisi kronik. Sedangkan di Indonesia sendiri, penelitian tentang prevalensi Insomnia dalam suatu populasi pun dilakukan salah satunya di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo mendapatkan hasil 10% penduduk

(11)

Indonesia menderita Insomnia dan 15% diantaranya adalah Insomnia kronis (Susanti, 2013).

Dari kebanyakan penelitian yang dilakukan oleh institusi-institusi yang berwenang di berbagai belahan dunia, mereka menyimpulkan bahwa terdapat beberapa stresor sebagai penyebab dari munculnya gejala Insomnia pada beberapa populasi tersebut.

2.3 Etiologi

Hyperarousal, gangguan ritme kirkadian dan disregulasi homeostatik pada tidur merupakan faktor-faktor fisiologis penyebab terjadinya Insomnia. Kerja tubuh yang tinggi akibat hyperarousal diartikan menjadi suatu peningkatan basal atau sebagai gagalnya menurunkan fungsi somatik/fisiologis, kognitif dan kortikal/dimensi neurofisiologis pada malam hari. Dalam artian arousal fisiologis, pasien dengan Insomnia telah menunjukkan peningkatan pada denyut jantung, respon galvanic kulit, simpatetik arousal dan peningkatan aktivitas hypothalamic- pituitary-adrenal (HPA)axis. Pada pengertian kognitif arousal, pasien dengan Insomnia akan lebih rentan untuk mengalami rasa cemas, cemas yang berhubungan dengan kondisi tidur dan rasa cemas tersebut akan berkembang menjadi gejala Insomnia. Dan dalam artian kortikal/neurofisiologi arousal, pasien dengan Insomnia akan mengalami peningkatan aktivitas EEG pada atau diseputaran onset tidur dan pada tidur non-rapid eye movement (REM). Secara keseluruhan, terdapat bukti-bukti yang kuat yang menyatakan adanya hubungan antara hyperarousal dengan Insomnia (Pigeon, 2010).

(12)

Rasa stres pula menjadi faktor pemantik yang sangat sering ditemui pada pasien dengan Insomnia atau gejalanya, contohnya pada beberapa studi menunjukkan bahwa pada pasien dengan Insomnia akan menunjukkan adanya persepsi yang salah tentang waktu tidurnya, prevalensi yang tinggi akan pikiran- pikiran yang intrusif, rasa cemas dan kurangnya kontrol emosi akibat stres yang berlebih yang berujung pada emotional coping styles(Yang et al., 2014).

Berdasarkan The Australasian Sleep Association, beberapa bentuk stres dan kondisi lain kadang tidak menghilang pada durasi yang sempit dan akan berlanjut menjadi Insomnia. Kadang pula sumber dari stres tersebut teratasi namun Insomnia tetap berlanjut. Rasa cemas akan tidur yang kurang dapat menjadi stres berat yang dapat memicu terjadinya Insomnia kronik. Pada keadaan ini, kualitas tidur yang rendah dan adanya gangguan aktivitas di pagi hari dapat terjadi lebih lama bila tidak mendapat penanganan yang serius.

Stres sendiri erat hubungannya dengan aktivitas dari HPA axis dan sympatho-adrenal medullary axis, dimana corticotropin-releasing hormone (CRH) dan cortisol dan catecholamines diketahui menjadi kausa utama penyebab arousal dan kurangnya tidur pada seseorang. Disamping itu, tidur yang dalam memiliki efek inhibitor pada sistem peregulasi stres yaitu HPA axis dan sistem simpatetik. Hingga beberapa tahun belakangan, berbagai studi telah menilai tingkat kortisol pada orang yang mengalami Insomnia dan menunjukan hasil yang inkonsisten. Temuan dari studi tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan bahwa tingkat kortisol pada orang yang mengalami Insomnia dibandingkan dengan orang normal, namun pada tingkat hormon adrenokortikotropiknya terdapat perbedaan dimana kadar hormon yang tinggi

(13)

dimiliki pada orang yang mengalami Insomnia tersebut. Dari hasil temuan tersebut, diambilah beberapa kesimpulan bahwa pada orang yang mengalami gejala Insomnia terdapat aktivitas pada sistem peregulasi stres yang berdampak pada gangguan tidur objektif dan pengukuran menggunakan polisomnografi dapat memberikan indeks yang valid dari dampak biologis dan tingkat keparahan dari Insomnia (Vgontzas et al., 2014).

2.4 Kriteria Diagnosis

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) 5 menyebutkan bahwa, gejala-gejala kesulitan untuk tidur, kesulitan untuk mempertahankan tidur dan sulit mendapat bangun tidur yang menyegarkan, harus dialami setidaknya 1 atau lebih gejala yang dimaksud sekurang-kurangnya 3 malam dalam 1 minggu dengan durasi 3 bulan atau lebih. Selanjutnya, seseorang dengan gejala insomnia tersebut harus merasakan adanya gangguan aktivitas pada pagi hari, rasa stres, terdapat gangguan tidur yang intens, waktu yang lama dibutuhkan seseorang untuk tidur dan seseorang cenderung terbangun pada waktu subuh (Pillai et al., 2015).

Seseorang mengalami Insomnia bila mengeluhkan kesulitan masuk tidur, mempertahankan tidur atau mengalami kualitas tidur yang buruk minimal 3 kali dalam seminggu minimal satu bulan. Adanya gangguan-gangguan jiwa lain seperti cemas dan depresi tidak membuat diagnosis insomnia ditanggalkan, dan kuantitas dalam tidur seseorang tidak digunakan sebagai penilaian adanya gangguan pada seseorang dikarenakan terdapat berbagai variasi yang luas pada masing-masing individu. Untuk tambahan dari kriteria-kriteria insomnia diatas, suatu bentuk Insomnia pada seseorang harus mengalami adanya somaticized

(14)

tension dan kecenderungan seseorang tersebut secara sengaja melakukan pencegahan untuk tidur yang berakibat pada insomnia itu sendiri (Maslim, 2014).

Insomnia sendiri dapat dibagi menjadi 2 yaitu Insomnia primer dan sekunder, yang keduanya dibedakan oleh faktor pemicunya masing-masing. Pada Insomnia primer, kesulitan tidur terjadi tanpa adanya gangguan mental lain dan terjadi tanpa adanya efek fisiologis dari penggunaan obat-obatan. Sedangkan pada Insomnia sekunder, kesulitan tidur terjadi diakibatkan adanya faktor-faktor pemicu salah satunya adalah rasa stres (Skalski, 2008).

2.5Gejala Insomnia Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran

Rasa stres diketahui menjadi salah satu faktor pemantik atau faktor presipitasi dari gejala Insomnia. Dan pada sebagian besar mahasiswa fakultas kedokteran akan sering mengalami rasa stres pada saat mendapatkan tugas berat yang menumpuk, jadwal perkuliahan yang padat, sulitnya beradaptasi dengan lingkungan kompetitif dan ujian akhir yang seringkali menimbulkan gejala-gejala Insomnia pada mahasiswa. Sebuah studi di negara Nepal melaporkan bahwa mahasiswa fakultas kedokteran di negara tersebut yang mengalami kesulitan tidur mencapai angka 31,5% akibat internet surfing guna menyelesaikan tugas dan menjelang ujian akhir. Dan di negara Hongkong ditemukan persentase mahasiswi fakultas kedokteran pada semester tinggi lebih rentan mengalami kesulitan tidur dibandingkan dengan mahasiswanya. Kesulitan tidur muncul tak lain adalah karena adanya kompetisi atau kecenderungan bersaing antar mahasiswa fakultas kedokteran guna mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang akademis, hal ini memicu seorang mahasiswa untuk belajar dan mencari informasi menggunakan internet tanpa mengenal waktu sehingga membentuk suatu academic load atau

(15)

beban akademis yang menimbulkan rasa stres. Inilah awal dari gejala Insomnia yang terjadi pada mahasiswa fakultas kedokteran (Azad et al., 2015).

Studi terbaru di negara Arab yang mengukur tentang prevalensi kesulitan tidur dan hubungannya dengan tingkat stres dan nilai akademis pada mahasiswa fakultas kedokteran di negara tersebut menunjukkan adanya angka yang cukup tinggi akibat kesulitan tidur guna mengejar prestasi yang membanggakan.

Dikutip dari jurnal “Sleep quantity, quality, and Insomnia symptoms of medical students during clinical year”

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat setidaknya 30% dari mahasiswa kedokteran menyatakan bahwa kualitas dari tidurnya buruk dan pada 40% dari mahasiswa mengalami rasa kantuk yang berlebihan di pagi hari akibat kesulitan tidur. Dan pada pengukuran gejala Insomnia, ditemukan 1 dari 3 mahasiswa mengeluhkan kesulitan untuk tidur dalam 30 menit setelah menuju tempat tidur dan hal ini terjadi setidaknya 3 kali seminggu. Bahkan kebanyakan mahasiswa mengeluhkan tidur yang tidak cukup atau tidur kurang dari 8 jam sebesar 84%. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam upayanya mendapatkan academic performance yang memuaskan, mahasiswa harus mengalami kesulitan tidur dengan jumlah yang mengkhawatirkan. Dari kesulitan

Tabel 1 Prevalensi Kesulitan Tidur, Excessive Daytime Sedation (EDS) dan Gejala Insomnia Pada Mahasiswa Kedokteran

(16)

tidur dan buruknya kualitas tidur inilah yang mampu memicu adanya gejala Insomnia tersebut (Alsaggaf et al., 2016).

Sehingga pengetahuan akan adanya gejala Insomnia ini sangat dibutuhkan oleh kalangan mahasiswa guna mencari solusi penanganan atau penatalaksanaan gejala Insomnia ini, yang berdampak pula pada prestasi akademis yang mereka harapkan.

2.6 Penanganan Insomnia

Bila pada wawancara ditemukan bahwa gejala Insomnia merupakan bagian dari gangguan jiwa lain seperti depresi, cemas dan psikotik maka pemberian penanganan disesuaikan dengan underlying disease-nya. Namun pada penanganan Insomnia primer dengan tanpa adanya penyebab fisik dan psikologis, barulah diberikan treatment menggunakan metode secara Farmakologis dan Non- Farmakologis.

2.6.1 Farmakologis

Penanganan Insomnia melalui pemberian obat-obatan atau secara farmakologis dapat diberikan kepada pasien guna menghindari bentuk kronik dari Insomnia. Pertimbangan-pertimbangan seperti efek samping obat, kinerja obat dalam mempersingkat waktu masuk tidur dan juga efek sedasi yang diberikan. Obat anti-insomnia hanya dapat diberikan 2 hingga 4 minggu ( Erika et al.,2004). Dalam pemberian obat anti-insomnia biasanya digolongkan menjadi golongan Benzodiazepin, non-Benzodiazepin dan miscellaneous agent.

(17)

1. Benzodiazepin

Obat-obat golongan benzodiazepin sudah sejak lama digunakan sebagai obat anti-insomnia menggantikan penggunaan golongan barbiturat karena dianggap lebih aman.

Golongan obat Benzodiazepin tidak meng-“induce hepatic microsomal enzymes” atau “produce protein binding displacement”

sehingga jarang untuk menimbulkan interaksi obat yang digunakan untuk kondisi medik tertentu. Kerja obat golongan benzodiazepin terdapat pada reseptor asam gamma-aminobutirat (GABA) yang terletak di post-sinaps yang menimbulkan efek sedasi, mengantuk dan menurunkan aktivitas otot. Beberapa contoh golongan obat ini seperti triazolam, temazepam dan lorazepam ( Erika et al., 2004).

Terdapat beberapa efek samping dari obat golongan benzodiazepin yang harus diperhatikan sebelum pemberian, dimana golongan ini dapat memberikan efek disinhibisi sehingga menyebabkan rage reaction atau perilaku yang cenderung menyerang dan ganas. Terdapat pula efek samping dari penggunaan obat anti-insomnia seperti rasa pusing, hipotensi dan distress respirasi. Oleh sebab itu, pemberian obat golongan Benzodiazepin harus diberikan pada pasien secara hati-hati bila terdapat temuan masalah respirasi kronik. Dari beberapa studi menemukan bahwa obat anti-insomnia golongan Benzodiazepin erat kaitannya dengan hip fracture yang terjadi pada usia lanjut akibat efek sedasi yang berlebihan pada pemberian obat dengan kerja yang singkat maupun lama (Maslim, 2015).

(18)

2. Non-Benzodiazepin

Penggunaan golongan non-benzodiazepin untuk treatment Insomnia merupakan pilihan yang tepat karena memiliki efek yang mirip dengan golongan benzodiazepin namun dengan efek samping yang lebih ringan.

Efek-efek seperti oversedation, hip fracture dan lainnya jarang ditemukan pada pemakaian obat golongan ini. Pilihan obat pada golongan ini umumnya adalah Zolpidem dan Zaleplon, dimana Zolpidem merupakan obat anti-insomnia yang digunakan untuk treatment jangka pendek. Zolpidem bekerja pada reseptor selektif α-1 subunit GABAA reseptor yang dapat menimbulkan efek hipnotik dan sedasi. Pada uji klinis yang telah dilakukan, obat tersebut dapat mempercepat waktu masuk tidur, meningkatkan waktu tidur dan mengurangi kemungkinan adanya interupsi selama tidur tanpa menimbulkan ketergantungan pada pasien. Kemudian terdapat jenis obat Zaleplon yang bekerja dalam jangka waktu yang singkat dan cepat yaitu selama 1 jam. Memiliki efektivitas yang serupa dengan Zolpidem namun memiliki efek yang lebih superior dibandingkan dengan Zaleplon, obat ini menjadi pilihan obat pada pasien dengan usia yang masih produktif karena masa kerja obat yang sangat pendek ( Erika et al.,2004).

3. Miscellaneous Agent

Obat-obatan anti-insomnia yang bukan termasuk golongan benzodiazepin dan non-benzodiazepin. Obat ini dikatakan mampu mempersingkat waktu masuk tidur dan mengurangi adanya interupsi selama waktu tidur. Namun keterangan lebih lanjut akan efek obat ini

(19)

belum dapat dibuktikan secara signifikan. Beberapa contoh dari miscellaneous agent adalah seperti Melatonin, antihistamin, alkohol dan antidepresan ( Erika et al.,2004).

2.6.2 Non-Farmakologis 1. Psikoterapi

Pada penanganan Insomnia secara Psikoterapi umumnya menggunakan Cognitive-behavioral therapy (CBT) sebagai standar dalam penanganan Insomnia primer. Hasil penggunaan terapi CBT memberikan dampak yang cukup signifikan dibandingkan penggunaan terapi farmakologis, dimana keuntungan seperti resiko efek samping yang sangat rendah dan perkembangan corak waktu tidur yang lebih baik ditemukan pada pasien yang menggunakan terapi CBT ini. CBT memiliki masa terapi yang singkat yaitu hanya 4 hingga 8 sesi terapi, merupakan suatu bentuk terapi fokal dan directdimana pasien memegang peran aktif dan ikut bertanggung jawab akan treatment yang mereka laksanakan (Pinto et al., 2010).

2. Sleep Hygiene

Selain menggunakan psikoterapi, penanganan Insomnia juga dapat menggunakan terapi sleep hygiene, dimana metode ini bertujuan untuk meningkatkan cara hidup dan lingkungan dalam rangka peningkatan kualitas tidur pasien itu sendiri. Pada beberapa studi, pasien dengan kualitas tidur yang buruk biasanya akan sejalan dengan buruknya sleep

(20)

hygiene yang dimiliki pasien tersebut. Sebaliknya pada pasien dengan sleep hygiene yang baik biasanya bangun di pagi hari dengan suasana yang lebih bersemangat dan ceria. Untuk dapat menerapkan sleep hygiene yang baik, maka hal-hal berikut yang harus diperhatikan adalah:

( George et al.,2010)

1) Menghindari konsumsi alkohol,kafein maupun nikotin sebelum tidur 2) Meminimalisir suasana bising, pengaturan cahaya saat tidur dan

pengaturan suhu ruangan

3) Memastikan ventilasi yang baik pada ruangan tempat anda tidur 4) Pergunakan alat-alat tidur yang nyaman

5) Hindari makan dalam jumlah besar sebelum memulai tidur

6) Hindari pikiran-pikiran yang dapat mengganggu tidur sewaktu di tempat tidur

7) Lakukan olahraga secara teratur dan menghindari aktivitas berat sebelum tidur

3. Stress Management

Manajemen stres adalah suatu bentuk terapi untuk melakukan pengontrolan atau pengaturan stres dimana bertujuan untuk mengenal penyebab stres dan mengetahui teknik-teknik mengelola stres. Dalam melakukan manajemen stres terdapat beberapa strategi yang digunakan untuk dapat mengelola stres yaitu: (Solichatun, 2011).

(21)

a) Strategi Fisik

Cara yang paling cepat untuk mengatasi tekanan fisiologis dari stres adalah dengan menenangkan diri dan mengurangi rangsangan fisik tubuh melalui meditasi atau relaksasi.

Relaksasi yang dilakukan secara progresif dapat secara bergantian menekan dan membuat otot-otot menjadi santai juga menurunkan tekanan darah dan hormon stres

b) Strategi Emosional/ Coping Mechanism

Merupakan suatu strategi yang berfokus pada emosi yang muncul akibat masalah yang sedang dihadapi, marah, cemas atau duka cita. Beberapa waktu setelah mengalami suatu hal yang menyebabkan rasa stres pada seseorang, orang tersebut cenderung membutuhkan komunikasi dengan orang lain untuk membicarakan kejadian tersebut berulang kali agar dapat menerima, memahami dan memutuskan akan melakukan hal apa setelah kejadian tersebut selesai. Emotion focused coping adalah sebuah strategi pertahanan diri terhadap stres yang menekankan usaha untuk menurunkan emosi negatif ketika menghadapi masalah atau tekanan, mengalihkan perhatian atau distraction dari masalah tersebut

c) Strategi Kognitif

Dalam strategi kognitif, hal yang dapat dilakukan adalah menilai kembali suatu kejadian dengan positif atau positive reappraisal

(22)

problem. Strategi positive reappraisal yaitu merupakan suatu usaha kognitif untuk menganalisa dan merestrukturasi masalah dalam sebuah cara yang positif sambil terus melakukan penerimaan terhadap realitas situasi. Selain itu teknik lain yang dapat digunakan untuk mengubah kognitif adalah dengan afirmasi positif. Afirmasi positif adalah sejumlah kalimat positif yang disusun baik sebatas pikiran atau dituangkan kedalam tulisan. Pada saat seseorang melakukan afirmasi, sesungguhnya seseorang sedang mempengaruhi keadaan pikiran bawah sadar.

Afirmasi harus bersifat positif dan diwujudkan dengan kata-kata yang singkat.

(23)

BAB 3 SIMPULAN

Mahasiswa fakultas kedokteran memiliki gejala-gejala Insomnia yang timbul akibat adanya beban akademis yang berat, sulitnya beradaptasi dengan lingkungan kompetitif dan rasa stres. Bila gejala-gejala tersebut dapat dikenali maka akan sangat bermanfaat untuk mendapatkan penanganan guna mencegah terjadinya hal yang lebih serius.

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Alsaggaf, M. a, Wali, S. O., Merdad, R. a, & Merdad, L. a. (2016). Sleep quantity, quality, and insomnia symptoms of medical students during clinical years.

Saudi Medical Journal, 37(2), 173–82.

http://doi.org/10.15537/smj.2016.2.14288

Azad, M. C., Fraser, K., Rumana, N., Abdullah, A. F., Shahana, N., Hanly, P. J.,

& Turin, T. C. (2015). Sleep Disturbances among Medical Students :, 11(1).

Erika N. Susan L. John ED. ( 2004 ). Treatment of Primary Insomnia. 17, 212- 218. JABFP

FK Unika Atma Jaya. Buku Saku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa. 3rd ed. dr.Rusdi Maslim SpKJ,M.Kes. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya, Kompleks RS Atmajaya: 2013

FK Unika Atma Jaya. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik ( Psychotropic Medication ). Edisi 2014. dr. Rusdi Maslim SpKJ,M.Kes.

Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya, Kompleks RS Atmajaya: 2014

Levenson, J. C., Kay, D. B., & Buysse, D. J. (2015). The pathophysiology of insomnia. Chest, 147(4), 1179–92. http://doi.org/10.1378/chest.14-1617 Pigeon, W. R. (2010). Diagnosis , prevalence , pathways , consequences &

treatment of insomnia, (February), 321–332.

Pinto, L. R., Alves, R. C., Caixeta, E., & Aloe, F. (2010). New Guidelines for Diagnosis and Treatment of Insomnia. Arq Neuropsiquiatr, 68(4), 666–675.

R.George L, Cynthia G. ( 2010 ). Nonpharmacologic Approaches to the Management on Insomnia. 1 (10), 695-700

Schutte-rodin, S., Broch, L., Ph, D., Buysse, D., Dorsey, C., & Sateia, M. (2008).

Clinical Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Insomnia in Adults, 4(5).

Seo, J.-H., Kim, H. J., Kim, B.-J., Lee, S.-J., & Bae, H.-O. (2015). Educational and Relational Stressors Associated with Burnout in Korean Medical Students. Psychiatry Investigation, 12(4), 451–8.

http://doi.org/10.4306/pi.2015.12.4.451

Susanti, L. (2013). Artikel Penelitian Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Insomnia di Poliklinik Saraf RS DR . M . Djamil Padang, 4(3), 951–956.

(25)

Solichatun, Yulia. 2011. Stres dan Strategi Coping Pada Anak Didik di Lembaga Pemasyarakatan Anak. Jurnal Psikologi Islam, (Online), Vol.8 No.1 Tahun 2011, 15 (http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/psiko/article/view/1544) The Australasian Sleep Association ( ASA ). 2016 [cited on 2016 jul 19].

Available from: www.sleep.org.au

Vgontzas, A., Fernandez-Mendoza, J., Liao, D., & Bixler, E. (2014). Insomnia with Objective Short Sleep Duration: the Most Biologically Severe

Phenotype of the Disorder, 17(4), 241–254.

http://doi.org/10.1016/j.smrv.2012.09.005.Insomnia

Wolters Kluwer Copyright ©. Buku Ajar Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry. 11th ed. Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz Pedro, editors. New York:

Lippincot Williams & Wilkins Medical Books; 2015

Yang, C.-M., Hung, C.-Y., & Lee, H.-C. (2014). Stress-Related Sleep Vulnerability and Maladaptive Sleep Beliefs Predict Insomnia at Long-Term Follow-Up, 10(9), 18–20.

(26)

LOGBOOK ELECTIVE STUDY TAHAP I MAHASISWA PSPD FK UNUD

Nama Mahasiswa : I Nyoman Andika Kumara

NIM : 1502005124

Dosen Pembimbing I : dr. Luh Nyoman Alit Aryani, SpKJ Dosen Pembimbing II : dr. Ni Ketut Sri Diniari, SpKJ

No. Hari/Tanggal Aktivitas Tanda Tangan Dosen pembimbing

1 Jumat/

15 Juli 2016

Perkenalan pembimbing I & II dan konsultasi topik ES

2 Sabtu/

16 Juli 2016

Pencarian jurnal-jurnal terkait topik yang sudah dibahas

3 Minggu/

17 Juli 2016 Pembuatan BAB I

4 Rabu/

20 Juli 2016

Konsultasi kendala yang ditemukan pada pembuatan BAB I dan konsultasi BAB II dengan pembimbing I

5 Jumat/

22 Juli 2016

Konsultasi kendala yang ditemukan pada pembuatan BAB II dan konsultasi BAB III dengan pembimbing II

6 Sabtu/

23 Juli 2016

Konsultasi BAB I-III dengan pembimbing II

Denpasar, 25 Juli 2016

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II,

dr.Luh Nyoman Alit Aryani, SpKJ dr.Ni Ketut Sri Diniari, SpKJ (NIP. 19671024 200212 2 001) (NIP. 19670414199703 2 005)

Gambar

Tabel  1 Prevalensi Kesulitan Tidur, Excessive Daytime Sedation (EDS) dan Gejala Insomnia  Pada Mahasiswa Kedokteran

Referensi

Dokumen terkait

  Keywords: Derajat Insomnia – Beratnya Kebiasaan Merokok 

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara tingkat kecemasan dengan derajat insomnia pada mahasiswa fakultas kedokteran universitas

Berdasarkan data-data di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan insomnia dengan prestasi belajar pada mahasiswa angkatan 2005-2007 Fakultas

Namun pada peneiitian lainnya, hasil yang diperoleh tidak menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan insomnia pada mahasiswa kedokteran (Cahyanti,

Berdasarkan hasil ujicoba terhadap gejala penyakit infeksi pada kulit dengan gejala bercak putih diketahui bahwa metode kohonen dapat mengenali gejala lebih optimal daripada metode

Setelah selesai mempelajari modul ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan tentang penyakit-penyakit tropis yang menyebabkan gejala bercak putih pada kulit

Dari latar belakang permasalahan tersebut, penulis merumuskan masalah penelitian ini adalah " Apakah ada Hubungan Lama Penggunaan Gadget Dengan Kejadian Insomnia

Dengan mengetahui bahwa mahasiswa yang mengikuti sistem belajar blok sering mengalami gejala stres baik itu secara fisik, emosi, perilaku dan kognitif, maka diharapkan hasil penelitian