• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

2.1.1. Definisi

Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu berupa benda apa saja yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa.

Sedangkan uang dalam ilmu ekonomi modern, didefinisikan oleh beberapa ahli berikut :

a. A.C. Pigou

Dalam bukunya The Veil of Money, yang dimaksud uang adalah alat tukar.

b. D.H. Robertson

Dalam bukunya Money, ia mengatakan bahwa uang adalah sesuatu yang bisa diterima dalam pembayaran untuk mendapatkan barang-barang.

c. R.G. Thomas

Dalam bukunya Our Modern Banking menjelaskan uang adalah sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang. (wikipedia)

Definisi uang menurut hukum menyebutkan bahwa

“uang tidak memuaskan untuk keperluan analisis ekonomi. Alasannya antara lain, bahwa orang mungkin menolak menerima benda-benda secara hukum yang didefinisikan sebagai uang dan mungkin bahkan menolak untuk menjual barang dan jasa kepada mereka yang memberikan alat pembayaran yang sah dalam pembayarannya.“ (Stephen M.Golgfeld dan Lester V. Chandler 11)

Definisi uang menurut fungsi menyebutkankan bahwa

“uang adalah sebagai satuan nilai dan sebagai standar pembayaran yang tertunda – tidak menolong untuk menentukan “benda” yang termasuk dalam penawaran uang dan mana yang tidak termasuk, karena benda- benda tersebut berupa abstraksi yang dapat dihubungkan dengan banyak

(2)

benda lain yang berbeda”. (Stephen M.Golgfeld dan Lester V. Chandler 11)

Menurut George Simmel, “uang memiliki kemampuan mentransformasikan atau mengubah dunia sosial ke dalam dunia aritmatik, uang juga merupakan “sarana reifikasi paling murni: karena kemampuan kalkulatifnya.” (Erwin J. Skripsiadi 3)

Menurut Emile Durkheim, “uang dapat dipahami sebagai fakta sosial yang keberadaannya dalam masyarakat bersifat bebas dari motif-motif personal, obyektif bahkan bersifat memaksa terhadap individu.” (Erwin J. Skripsiadi 4)

Menurut Talcote Parsons, “uang tidak hanya sebagai instrument ekonomi tetapi juga bahasa simbolik yang terbagi, ini bukan komoditi melainkan penanda.”

(Erwin J. Skripsiadi 5)

Menurut Zelizer, “uang menunjukkan pada konsep ”special monies”.

Sebagian besar diskusi tentang uang yang dilakukan oleh para antropolog tersebut hanya berurusan dengan bentuk-bentuk uang primitif.” (Erwin J. Skripsiadi 5)

2.1.2. Fungsi Uang Fungsi pokok uang

Uang mempunyai satu tujuan fundamental dalam sistem ekonomi, yaitu :

• Memudahkan pertukaran barang dan jasa.

• Mempersingkat waktu dan usaha yang diperlukan untuk melakukan perdagangan.

Fungsi-fungsi asli uang :

• Uang sebagai satuan nilai

Fungsi uang yang pertama dikenal dengan berbagai sebutan, salah satunya yang paling umum adalah satuan nilai (unit of value), standar nilai (standard of value), satuan hitung (unit of account), nilai ukur umum (common measure of value) dan nilai denominasi umum (common denominator of value).

(3)

Semua istilah-istilah ini mewakili satu gagasan yang umum : Satuan moneter berfungsi sebagai satuan terhadap mana nilai dari barang dan jasa diukur dan dinyatakan.

• Uang sebagai alat tukar

Adalah Uang dapat digunakan sebagai alat untuk mempermudah pertukaran. Agar uang dapat berfungsi dengan baik diperlukan kepercayaan masyarakat. Masyarakat harus bersedia dan rela menerimanya.

Berbagai istilah telah diberikan untuk fungsi uang yang kedua ini: alat tukar (medium of exchange), perantara pembayaran (medium of payment), alat sirkulasi (sirculating medium), dan alat pembayaran (means of payment).

Satu-satunya syarat yang diperlukan untuk obyek yang akan digunakan sebagai uang adalah bahwa orang umumnya bersedia menerimanya dalam pertukaran barang dan jasa.

• Uang sebagai gudang nilai (store of value)

Fungsi ketiga dari uang, yang sebagian besar yang berasal dari fungsi alat tukar, ialah bahwa uang itu berfungsi sebagai gudang nilai. Yang dimaksud dengan fungsi ini pada dasarnya adalah bahwa uang itu berfungsi sebagai alat tukar, baik sepanjang waktu maupun sewaktu- waktu.

• Uang sebagai alat penimbun kekayaan

Setelah uang digunakan sebagai satuan nilai dan diterima secara umum sebagai alat pembayaran, dengan cepat uang itu digunakan secara luas sebagai alat penimbun kekayaan.

Semua orang dan preusan bisnis bebas memilih dalam bentuk apa, mereka akan menimbun kekayaan mereka, menetukan berapa yang akan mereka pegang dalam bentuk uang dalam berbagai bentuk non moneter dan merubahnya dari waktu ke waktu untuk mencapai proporsi yang menurut mereka paling menguntungkan berdasarkan penghasilan, keamanan dan likuiditas.

(4)

• Uang sebagai unit perhitungan

Untuk menentukan harga sejenis barang diperlukan satuan hitung, juga dengan adanya satuan hitung, kita dapat mengadakan perbandingan harga satu barang dengan barang lain.

Walaupun uang hampir selalu berfungsi sebagai unit perhitungan, namun ada contoh-contoh sejarah dimana hal itu tidak terjadi. Dalam hiper – inflasi (inflasi yang sangat besar). Misalnya, bila harga-harga naik hampir setiap jam, para pedagang mengadakan pembukuan dengan menggunakan istilah valuta asing, dengan nilai yang lebih stabil daripada nilai mata uang dalam negeri walaupun mata uang dalam negeri itu terus beredar. Dengan alasan ini beberapa sarjana dan ahli ekonomi lebih suka berfikir tentang unit perhitungan sebagaimana yang diharapkan, tetapi tidak harus merupakan sifat dan milik (property) uang. Tetapi untuk segala tujuan yang praktis, uang itu berfungsi sebagai unit perhitungan.

Fungsi Turunan, yaitu :

• Sebagai alat pembayaran yang sah

Tidak semua orang dapat menciptakan uang terutama uang kartal, karena uang hanya dikeluarkan oleh lembaga tertentu, di Indonesia dikeluarkan oleh Bank Indonesia selaku Bank Sentral.

• Alat penyimpan kekayaan dan pemindah kekayaan.

Dengan uang, kekayaan berupa tanah, gedung, dapat dipindah pemilikannya dengan menggunakan uang.

• Alat pendorong kegiatan ekonomi.

Apabila nilai uang stabil, orang senang menggunakan uang itu dalam kegiatan ekonomi, selanjutnya apabila kegiatan ekonomi meningkat, uang dalam peredaran harus ditambah sesuai dengan kebutuhan.

(5)

• Standar pencicilan utang.

Uang dapat berfungsi sebagai standar untuk melakukan pembayaran dikemudian hari, pembayaran berjangka panjang atau pencicilan utang.

2.1.3. Jenis-Jenis Uang

Uang yang beredar dalam masyarakat atau menurut lembaga yang mengeluarkan dapat dibedakan dalam 2 (dua) jenis, yaitu :

• Uang kartal

Uang kartal adalah alat pembayaran yang sah dan wajib digunakan oleh masyarakat dalam melakukan transaksi jual-beli sehari-hari.

• Uang giral

Uang giral merupakan uang yang dimiliki masyarakat dalam bentuk simpanan (deposito) yang dapat ditarik sesuai kebutuhan. Untuk menarik uang ini, orang menggunakan cek. Cek yang dibuat atas nama statu rekening deposito merupakan perintah kepada bank untuk membayar kepada orang yang ditunjuk pemilik rekening.

Uang giral merupakan uang yang sah secara ekonomi tetapi secara hukum tidak, artinya hanya berlaku pada kalangan tertentu saja sehingga orang yang menolak pembayaran dengan uang giral contohnya cek tidak dapat dituntut. Untuk mengambil uang giral dapat digunakan cek atau giro.

a) Cek merupakan suatu perintah kepada bank untuk membayarkan sejumlah dana, dimana cek dikenal ada tiga macam:

1. Cek atas unjuk 2. Cek atas nama 3. Cek silang.

b) Giro Bilyet adalah surat perintah nasabah bank untuk memindahkan sejumlah uang dari rekeningnya kepada rekening nasabah yang lain yang ditunjuk. Jadi Giro bilyet tidak dapat ditukarkan dengan uang tunai di bank penerimanya.

(6)

Jenis-jenis uang menurut bahan pembuatannya dibedakan menjadi :

• Uang logam

Uang logam biasanya terbuat dari emas atau perak karena emas dan perak memenuhi syarat-syarat uang yang efisien. Karena harga emas dan perak yang cenderung tinggi dan stabil, emas dan perak mudah dikenali dan diterima orang. Disamping itu, emas dan perak tidak mudah musan. Emas dan perak juga mudah dibagi-bagi menjadi unit yang lebih kecil. Di zaman sekarang, uang logam tidak dinilai dari berat emasnya, namun dari nilai nominalnya. Nilai nominal itu merupakan pernyataan bahwa sejumlah emas dengan berat tertentu terkandung di dalamnya.

Uang logam memiliki tiga macam nilai, yaitu :

d. Nilai Intrinsik yaitu nilai bahan untuk membuat mata uang, misalnya berapa nilai emas dan perak yang digunakan untuk mata uang.

e. Nilai Nominal yaitu nilai yang tercantum pada mata uang atau cap harga yang tertera pada mata uang. Misalnya seratus rupiah (Rp.

100,00,-), atau lima ratus rupiah (Rp. 500,00,-).

f. Nilai Tukar, nilai tukar adalah kemampuan uang untuk dapat ditukarkan dengan statu barang (daya beli uang). Misalnya uang Rp. 500,00,- hanya dapat ditukarkan dengan sebuah permen, sedangkan Rp. 1.000,00,- dapat ditukarkan dengan semangkuk bakso.

• Uang kertas

Uang kertas adalah uang yang terbuat dari kertas dengan gambar dan cap tertentu dan merupakan alat pembayaran yang sah. Menurut penjelasan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang dalam bentuk lembaran yang terbuat dari bahan kertas atau bahan lainnya (yang menyerupai kertas).

(7)

Jenis-jenis uang menurut nilainya dibedakan menjadi :

• Uang penuh (Full bodied Money)

Nilai uang dikatakan sebagai uang penuh apabila nilai yang tertera diatas uang tersebut sama nilainya dengan bahan yang digunakan.

Dengan kata lain nilai nominal = nilai intrinsik. Jika uang itu terbuat dari emas, maka nilai uang itu sama dengan nilai emas yang dikandungnya.

Contoh : uang emas dan uang perak.

• Uang tanda (Token Money)

Nilai uang dikatakan sebagai uang tanda apabila nilai yang tertera diatas uang lebih tinggi dari nilai bahan yang digunakan untuk membuat uang atau dengan kata lain nilai nominal lebih besar dari nilai intrinsik uang tersebut. Misalnya, untuk membuat uang Rp.

1.000,00,- pemerintah mengeluarkan biaya Rp. 750,00,-.

Contoh : uang kertas

2.1.4. Pentingnya Uang

Menurut Adam Smith dalam buku besarnya yang berjudul ”The Wealth of Nations” (1776), mencatat uang sebagai salah satu dari empat macam “modal yang beredar”, yang disebutnya sebagai “roda besar peredaran”. Penilaian Adam Smith telah dibuktikan berkali-kali. Tidak peduli betapa buruknya mata uang itu menurunkan harga atau nilainya, namun mata uang itu tetap beredar. Pokoknya tidak ada pengganti yang separan bagi uang dan kita pun tidak dapat berbuat tanpa itu. (Dudley G. Luckett 257)

(8)

2.2. Uang Saku 2.2.1. Definisi

Uang saku merupakan uang yang diberikan untuk membeli sesuatu yang diperlukan oleh para pelajar dalam memenuhi kebutuhan seperti membeli alat tulis, makanan, minuman, pakaian dan lain sebagainya. Uang saku adalah sejumlah uang yang diberikan secara harian, mingguan ataupun bulanan, yang membuat mereka dapat membayar hal-hal yang penting bagi mereka, seperti misalnya mainan, makanan, permen atau buku. Biasanya diberikan dalam jumlah yang kecil tergantung dari kebutuhan dan keinginan masing-masing anak dan biasanya digunakan untuk transaksi dan bentuknya uang kartal. (Paul W. Lermitte dan Jennifer Merritt 4)

Menurut Robert T. Kiyosaki, dan Sharon L. Lechter :

“Uang saku adalah sejumlah uang yang secara teratur disediakan untuk biaya pribadi atau rumah tangga. Meskipun uang saku mungkin pantas diberikan dalam banyak kasus, cara menetukan dan menyampaikannya kepada anak-anak juga sama pentingnya. Anak-anak akan memandang uang saku sebagai “hak” mereka atau sebagai kompensasi atas penyelesaian statu tugas atau tanggung jawab yang sudah disepakati.”

(303)

Uang saku yang diberikan dengan melihat dari segi usia dan kebutuhan anak, anak SMU akan memerlukan uang saku yang cukup besar dibandingkan dengan anak yang masih SD. Uang saku tersebut digunakan untuk transaksi bisa juga untuk ditabung biasanya dalam bentuk uang kartal.

Menurut ahli psikologi Dr Kate, “Uang saku adalah uang yang berada di saku anda yang dapat dihabiskan. Dimungkinkan bahwa orang tua memberikan uang kepada anda, atau anda mungkin mendapatkan sejumlah uang secara teratur, misalnya setiap pekan atau sebulan sekali.” (2)

Jumlah uang saku yang diterima anak berbeda-beda tergantung dari kempuan masing-masing orang tua, jika orang tua anak itu kaya maka uang saku yang diberikan juga besar, demikian sebaliknya. Orang tua dalam memberikan uang saku tetap harus melihat dari segi usia dan kebutuhan dari masing-masing anak dan sifatnya rutin baik harian, mingguan, maupun bulanan. Uang saku yang

(9)

diberikan digunakan untuk transaksi bisa dalam bentuk uang kartal maupun kartu debit.

Selain pemberian uang saku yang teratur, si anak juga harus bertanggung jawab untuk melaksanakan beberapa tugas di rumah tangga tanpa diembel-embeli dengan upah. Jika ia tidak memenuhi kewajibannya tersebut, ia harus disiplin dengan cara lain, bukan dengan tidak memberikan uang saku. Sebagai penghasilan tambahan ia dapat diberi upah untuk pekerjaan lain diluar tanggung jawabnya dalam rumah tangga. Pekerjaan lain itu adalah pekerjaan yang biasanya menggunakan jasa orang lain dan diupah, misalnya mencuci mobil atau membabat rumput. Penghasilan tambahan ini akan mengajarkan kepada anak tentang hubungan antara pekerjaan dan uaph. Dan penghasilan yang diperolehnya dengan cara ini dapat dipergunakannya untuk hal-hal yang disenanginya dan bukan untuk kebutuhannya yang dasar. (Tabloid Nova no. 938/XVIII, 12 September 2006)

Konsep uang saku ini merupakan konsep yang berdimensi jamak, jadi yang dimaksud dengan uang saku dalam penelitian ini adalah uang dalam bentuk kertas maupun logam yang diberikan dalam jumlah tertentu sesuai kebutuhan dengan melihat usianya dan diberikan secara teratur baik itu dalam bentuk mingguan maupun bulanan. Untuk anak SD biasanya diberikan secara rutin dalam bentuk harian, anak SMP akan diberikan secara rutin bisa dalam bentuk harian, mingguan maupun bulanan, sedangkan anak SMU biasanya rutin dalam diberikan dalam bentuk bulanan. Uang saku ini dapat digunakan untuk membeli makanan dan minuman. Selain itu juga dapat ditabung. Untuk mengetahui seberapa banyak orang tua memberikan uang saku yang rutin setiap minggu maupun setiap bulannya. Banyak sekali orang tua yang memberikan uang saku kepada anak-anak nya yang serba “pas-pasan” tetapi ada juga yang memberikan uang saku yang berlebihan, sehingga anak jtersebut mampu membeli sesuatu yang seharusnya tidak penting untuk dibeli. (Paul W. Lermitte dan Jennifer Merritt 2)

(10)

2.3. Definisi Pola Penerimaan

“Pola penerimaan uang saku adalah sebuah bentuk dari penerimaan uang saku dalam periode tertentu.” (http://aim-e-learning.stanford.edu/)

Bentuk uang saku yang diterima masing-masing anak berbeda. Pada umumnya dilihat dari segi usia untu anak SD biasanya menerima uang saku dalam bentuk harian, untuk anak SMP dalam bentuk mingguan, sedangkan untuk anak SMU menerima uang saku dalam bentuk bulanan. Uang saku yang diterima itu rutin baik harian, mingguan, maupun bulanan. Ada juga pemberian uang saku yang tidak rutin biasanya itu diberikan oleh sanak saudara.

2.4. Definisi Alokasi Uang Saku

“Alokasi uang saku adalah sejumlah uang yang dikeluarkan atau digunakan dalam periode tertentu.” (http://aim-e-learning.stanford.edu/)

Uang saku yang diberikan oleh orang tua digunakan untuk membeli barang kebutuhan mereka sehari-hari dan membeli makanan dan minuman. Sisa dari uang saku tersebut sebaiknya ditabung. Semakin usia bertambah semakin besar kebutuhan mereka dan semakin besar pula pengeluaran uang saku untuk memenuhi kebutuhan mereka.

2.5. Motif Memegang Uang

Menurut J.M. Keynes ada 3 (tiga) alasan orang memegang uang, yaitu :

• Motif Transaksi (Transaction Motive)

Permintaan uang untuk bertransaksi mengacu kepada penggunaan uang untuk transaksi sehari-hari dalam pemenuhan kebutuhan seperti pembelian bahan baku, pembayaran upah dan pembayaran listrik.

Uang saku bisa digunakan untuk transaksi biasanya digunakan dalam membeli makanan dan minutan, bagi siswa bisa digunakan untuk membeli kebutuhan sekolah (alat-alat tulis), dan bisa digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari selain membeli makanan dan minutan (seperti membeli obat-obatan, sabun, pasta gigi, dll).

(11)

• Motif Spekulasi

Permintaan uang untuk ditujukan memperoleh keuntungan secara cepat, karena mengetahui peluang ekonomi yang menguntungkan.

• Motif Berjaga-jaga (Precantionary Motive)

Permintaan uang untuk ditujukan kepada pemenuhan kebutuhan darurat yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya, penambahan uang untuk membayar kenaikan harga yang mendadak.

Uang saku bisa digunakan untuk berjaga-jaga biasanya digunakan untuk menyumbang korban bencana alam atau untuk menyumbang fakir miskindan anak-anak terlantar dan untuk keperluan berobat apabila sakit. Orang tua juga dapat menyampaikan beberapa hal yang dapat dilakukan dengan uang saku mereka yaitu dengan memberikan sumbangan misalnya untuk sumbangan fakir miskin dan anak terlantar.

“Menurut sinar harapan.com, “Setiap siswa menerima uang saku yang berbeda-beda tergantung dari kebutuhan siswa. Jadi besarnya uang saku yang disisihkan untuk ditabungpun juga berbeda-beda. Uang saku yang ditabung bisa digunakan untuk berjaga-jaga dalam memenuhi kebutuhan yang sifatnya mendadak pada masa depan. Menabung, dianjurkan agar anak-anak menyisihkan uang sakunya untuk ditabung sekitar 10-20 persen dari uang saku yang mereka terima.” (ISOL 8)

2.6. Nisbah antar Konsep

Definisi uang saku adalah uang yang diberikan oleh orang tua untuk membeli kebutuhan yang diperlukan oleh para pelajar dan uang saku yang diberikan oleh orang tua baik secara harian, mingguan atau bulanan, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka dan sisa dari uang saku dapat ditabung. Seperti misalnya membeli alat tulis, makanan, minuman, permen dan lain sebagainya. Jumlahuang saku yang diterima oleh anak tergantung oleh kebutuhan dari usia anak tersebut, artinya anak yang duduk di bangku sekolah dasar akan berbeda dengan anak SMU. Pola penerimaan uang saku antara anak sekolah dasar akan berbeda dengan anak SMU. Biasanya anak sekolah dasar menerima uang saku dari orang tuanya dalam bentuk harian, sedangkan uang saku

(12)

untuk anak SMU dalam bentuk mingguan atau bulanan tergantung dari orang tuanya. Jumlah uang saku yang diterima oleh seorang anak biasanya bertambah ketika anak menanjak lebih tua usianya dan mengemban lebih banyak tanggung jawab pribadi.

Menurut pikiran-rakyat.com, ”Uang saku yang diberikan oleh orang tua masing-masing anak SMU berbeda. Yang dimaksud di sini uang saku antara anak SMU kost dengan anak SMU yang tinggal dengan orang tua akan berbeda.

Biasanya uang saku yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya yang tinggal di kost diberikan dalam bentuk mingguan atau bulanan dan jumlahnya akan lebih banyak daripada jumlah uang saku yang diterima oleh anak yang tinggal bersama orang tuanya. Anak SMU yang jauh dari orang tua harus benar-benar Siap menyelesaikan masalahnya sendiri artinya dalam memenuhi kebutuhan seperti hal membeli makanan, alat-alat tulis, pakaian atau kebutuhan seperti dalam hal membeli makanan, alat-alat tulis, pakaian atau kebutuhan yang lainnya. Dalam keadaan seperti itu, anak SMU memang dituntut untuk biasa hidup mandiri dan menyingkirkan beragam sifat manja atau kolokan yang biasanya berlaku di rumah masing-masing.” (Jalu 2)

Menurut cybershopping.cbn.net.id, ”Uang saku yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya secara harian, mingguan atau bulanan cukup efektif, karena artinya orang tua tersebut tetap memberi dia kebebasan mengatur uangnya, tetapi masih dalam pengawasan orang tua. Dimana tiap minggu, saat anaknya meminta uang saku rutinnya, orang tua bisa bertanya kepadanya apakah ada masalah dengan pengaturan uangnya dan berapa banyak yang bisa disimpan dari uang sakunya.

(13)

2.7. Kerangka Pemikiran

\

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Uang saku pada dasarnya merupakan setiap bentuk uang yang diterima oleh siswa, baik dalam bentuk uang kartal maupun kartu plastik. Uang saku bisa diperoleh siswa dari orang tua maupun orang lain. Dalam penelitian ini ingin

Konsepsi Uang Saku

- Dari Ortu

- Uang yang ada di saku

- Direncanakan penggunaannya - Tidak

direncanakan

Jenjang Pendidikan

SD SMP SMU

Demografis

Usia, jenis kelamin,

cara berangkat ke

sekolah, tinggal bersama keluarga, asal kota Alokasi Uang

Saku

- Transaksi (membeli buku&alat tulis, jajan, majalah, komik)

- Jaga-jaga (sumbangan sosial, ditabung)

Pola Penerimaan Uang Saku - Teratur (harian, mingguan, bulanan) - Tidak teratur (diberikan dari sanak saudara) Uang

Saku

(14)

diketahui bagaimana konsepsi siswa Santo Carolus Surabaya tentang uang saku, pola penerimaan uang saku, serta alokasi uang saku tersebut. Dalam latar belakang penelitian telah dijelaskan bahwa pola pemberian uang saku oleh orang tua sangat berpengaruh terhadap kedewasaan keuangan anak, pola penerimaan dinyatakan dalam: harian, mingguan, bulanan, maupun tidak teratur. Sedangkan alokasi uang saku merupakan penggunaan uang saku untuk keperluan konsumtif anak. Demografi siswa baik jenjang pendidikan, jenis kelamin, dll dianggap berpengaruh terhadap tiga hal tersebut. Demografi siswa dinyatakan dalam: usia, jenis kelamin, transportasi, tinggal bersama keluarga, asal kota, dan jenjang pendidikan. Hal utama yang ingin diteliti disini adalah pengaruh jenjang pendidikan terhadap konsepsi, pola penerimaan, dan alokasi. Karena obyek penelitian ini adalah siswa SD, SMP, dan SMU Santo Carolus Surabaya.

2.8. Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah, tujuan penelitian dan landasan teori yang telah dikemukakan, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Konsepsi uang saku berbeda menurut jenjang pendidikan dilihat dari segi usianya.

Setiap anak dalam menerima uang saku yang diberikan oleh orang tuanya berbeda-beda. Ada anak yang menerima uang saku itu dalam bentuk harian, mingguan, dan ada pula yang menerima uang saku itu dalam bentuk bulanan.

Penerimaaan uang saku itu tergantung dari kebutuhan dan keinginan dari orang tua siswa masing-masing.

Diduga ada hubungan yang signifikan antara jenjang pendidikan dengan konsepsi uang saku.

2. Pola penerimaan uang saku berbeda menurut kebutuhan dan jenjang pendidikan.

Orang tua juga tidak dapat menentukan hal apa yang bisa dibeli namun paling tidak orang tua dapat menyampaikan beberapa hal yang bisa dilakukan dengan uang saku mereka yaitu dengan berbagi atau sumbangan, misalnya untuk

(15)

sumbangan fakir miskin dan anak-anak terlantar atau membeli kado untuk teman mereka yang berulang tahun. Berbelanja, dari uang saku yang diperoleh mereka dapat digunakan untuk membeli keinginan mereka seperti mainan, baju, hiburan dlll. Menabung, menganjurkan anak-anak menyisihkan untuk ditabung sekitar 10- 20% dari uang saku yang mereka terima, untuk memebeli suatu barang yang nilainya agak mahal. (Sinar harapan, 15 April 2006)

Diduga ada hubungan yang signifikan antara jenjang pendidikan dengan pola penerimaan uang saku.

3. Alokasi uang saku berbeda menurut jenjang pendidikan

Sebagian besar uang saku yang diterima lebih banyak digunakan untuk membeli barang dan jasa daripada menabung. Uang saku yang diberikan tidak hanya untuk bertransaksi tetapi bisa digunakan untuk berjaga-jaga baik untuk sosial (misalnya bantuan korban bencana alam) maupun untuk pribadi (misalnya ketika siswa atau siswi itu sakit).

Diduga ada hubungan yang signifikan antara jenjang pendidikan dengan alokasi uang saku.

Referensi

Dokumen terkait

Tak lupa pula terimakasi kepada kakak dan adek saya RUDY, NURMA, AFRIK, ROSSI yang selalu menasehati dan memotivasi saya hingga saya menyelesaikan skripsi

Dalam promosi event Road Show GADIS Sampul 2011, tim promosi sudah memiliki prosedur tetap yang berlaku untuk melaksanakan event tersebut, dengan menjalankan proses promosi dan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah disinggung sebelumnya, maka penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terbentuknya engagement ditentukan oleh

terhadap siswa semester genap SMA Negeri 1 Boyolali tahun 2013/2014, tidak ada pengaruh kreativitas verbal terhadap prestasi belajar ranah pengetahuan, sikap maupun

Tetapi Bao Bao ini mempunyai range warna yang luar biasa banyak, jadi bila warna tertentu sudah keluar musim ini dan habis, maka tidak akan ada lagi dalam

The purpose of this study is to prove whether environmental performance as a realization of compliance to environmental laws have significant impact on

Air limbah rumah sakit yang berasal dari buangan domistik maupun buangan limbah cair klinis umumnya mengadung senaywa pulutan organik yang cukup tinggi, dan dapat diolah dengan

Hal ini didasarkan pada pereobaan ketiga dimana pereepatan tumbuh minggu pertama pada konsentrasi 1 ppm dan 1.5 ppm adalah yang terbesar namun perlu di­ paeu lagi dengan