Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
13 | J u r i s a n d S o c i e t y
PERSAMAAN HAK PARA PIHAK MENGAJUKAN BANDING TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN NEGERI
DALAM PERKARA PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE
Basuki Rekso Wibowo
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Nasional Jl. Sawo Manila, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta
Abstrak
Penjelasan Pasal 72 ayat (4) UUAAPS telah membatasi hak pemohon pembatalan putusan arbitrase untuk mengajukan banding atas putusan pengadilan negeri yang membatalkan putusan arbitrase. Penjelasan ketentuan tersebut telah menambah norma baru sehingga menyimpang dan bertentangan dengan ketentuan pokok Pasal 72 ayat (4) UUAAPS yang tidak memerintahkan hal tersebut. Penjelasan Pasal 72 ayat (4) juga bertentangan dengan ketentuan Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 tentang kesamaan kedudukan setiap warganegara di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Penjelasan Pasal 72 ayat (4) UUAAPS juga bertentangan dengan Pasal 4 ayat (1) UU No.48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur bahwa: “Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda bedakan orang. Penjelasan Pasal 72 ayat (4) UUAAPS dapat dimohonkan uji materi ke Mahkamah Konstitusi untuk dinyatakan inkonstitusional dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat. Selain itu, Mahkamah Agung perlu segera meninjau kembali Surat Edaran No. 4 Tahun 2016 Nomor 04/BUA.6/HS/SP/XII/2016 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2016 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan yang pada halaman 8, terkait dengan Arbitrase karena mengandung diskriminasi hak banding bagi para pihak berperkara.
Kata Kunci: Persamaan Hak Banding, Putusan Pengadilan Negeri, Pembatalan Putusan Arbitrase
Abstract
Elucidation of Article 72 paragraph (4) of the UUAAPS has limited the right of the applicant for the cancellation of the arbitral award to file an appeal against the decision of the district court which annuls the arbitral award. The explanation of these provisions has added new norms so that they deviate and contradict the main provisions of Article 72 paragraph (4) UUAAPS which does not order this. The elucidation of Article 72 paragraph (4) also contradicts the provisions of Article 27 paragraph (1) of the 1945 Constitution concerning the equal position of every citizen in law and government and is obliged to uphold the law and government with no
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
14 | J u r i s a n d S o c i e t y
exceptions. Elucidation of Article 72 paragraph (4) of the AAPS also contradicts Article 4 paragraph (1) of Law No. 48 of 2009 concerning Judicial Power which stipulates that: “The court judges according to the law without discriminating against people. Elucidation of Article 72 paragraph (4) UUAAPS can be applied for judicial review to the Constitutional Court to be declared unconstitutional and has no binding legal force. In addition, the Supreme Court needs to immediately review Circular Letter No. 4 of 2016 Number 04/BUA.6/HS/SP/XII/2016 concerning the Implementation of the Formulation of the Results of the 2016 Supreme Court Plenary Meeting as a Guide to the Implementation of Duties for the Court which on page 8, is related to Arbitration because it contains discrimination of the right of appeal for the parties litigation.
Keywords: Equal Rights of Appeal, District Court Decision, Cancellation of Arbitration Award
A. PUTUSAN ARBITRASE BERSIFAT FINAL AND BINDING
Putusan arbitrase bersifat final dan mengikat terhadap pihak pihak berperkara. Pihak yang dikalahkan wajib menghormati dan melaksanakan putusan dengan itikad baik. Itikad baik bersumber dari kesadaran moral diri pribadi untuk menghormati dan melaksanakan putusan arbitrase secara sukarela. Pasal 60 Undang Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (selanjutya disebut UUAAPS) menyebutkan bahwa: “Putusan arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak”.
Dalam penjelasannya disebutkan bahwa: “putusan arbitrase merupakan putusan final dengan demikian tidak dapat diajukan banding, kasasi atau peninjauan kembali”. Makna yang terkandung dalam ketentuan tersebut bahwa terhadap putusan arbitrase tidak terdapat upaya hukum banding, kasasi maupun peninjauan kembali sebagaimana dikenal dalam praktek di pengadilan negeri. Menjadi soal adalah, bagaimana apabila ternyata pihak yang dikalahkan dengan berbagai alasan tidak bersedia secara sukarela melaksanakan putusan arbitrase. Padahal lembaga arbitrase tidak memiliki wewenang maupun perangkat jurusita untuk dapat menjalankan secara paksa (eksekusi) terhadap putusannya sendiri. Arbitrase bukan merupakan lembaga peradilan negara sehingga undang undang tidak memberikan wewenang kepadanya untuk dapat melakukan tindakan paksaan termasuk menjalankan eksekusi putusan.
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
15 | J u r i s a n d S o c i e t y
Berdasarkan ketentuan Pasal 61 jo. Pasal 1 angka 4 UUAAPS pelaksanaan putusan arbitrase secara paksa merupakan wewenang Pengadilan Negeri di tempat kedudukan termohon eksekusi. Pengadilan Negeri melakukan eksekusi setelah putusan arbitrase secara resmi telah didaftarkan oleh arbiter atau kuasanya di Kepaniteraan Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Prosedur dan proses eksekusi terhadap putusan arbitrase dilakukan oleh dan berdasarkan penetapan Ketua Pengadilan Negeri sesuai dengan ketentuan ketentuan sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 195 sd 224 HIR atau Pasal 206 sd 258 RBG. Putusan arbitrase yang dapat dieksekusi adalah putusan yang amarnya bersifat condemnatoir, yaitu amar putusan yang mengandung perintah atau penghukuman terhadap pihak yang dikalahkan. Adapun putusan arbitrase yang amarnya bersifat declaratoir maupun constitutive tidak perlu dan tidak dapat dimintakan eksekusi.
B. PENDAFTARAN PUTUSAN ARBITRASE KE PENGADILAN NEGERI Pasal 59 ayat (1) UUAAPS mengatur bahwa: “dalam waktu paling lama 30 (tigapuluh) hari terhitung sejak tanggal putusan diucapkan, lembar asli atau salinan otentik putusan arbitrase diserahkan dan didaftarkan oleh arbiter atau kuasanya kepada Panitera Pengadilan Negeri". Ayat (2) mengatur bahwa:
“Penyerahan dan pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan pencatatan dan penandatangan pada bagian akhir atau dipinggir putusan oleh Panitera Pengadilan Negeri dan arbiter atau kuasanya yang menyerahkan dan catatan tersebu merupakan akta pendaftaran”. Ayat (3) mengatur bahwa:
“Arbiter atau kuasanya wajib menyerahkan putusan dan lembar asli pengangkatan sebagai arbiter atau salinan otentiknya kepada Panitera Pengadilan Negeri”. Ayat (4) mengatur bahwa: “Tidak dipenuhinya ketentuan sebagaimana dalam ayat (1) berakibat putusan arbitrase tidak dapat dilaksanakan”. Ayat (5) mengatur bahwa: “semua biaya yang berhubungan dengan pembuatan akta pendaftaran dibebankan kepada para pihak”. Dalam penjelasan disebutkan “cukup jelas”.
Diantara ketentuan ketentuan tersebut, kiranya perlu mendapatkan perhatian adalah ketentuan Pasal 59 ayat (1) dalam kaitannya dengan ayat (4) yang mengatur tentang batas waktu pendaftaran putusan arbitrase ke pengadilan negeri paling lama 30 (tigapuluh) hari sejak tanggal putusan diucapkan serta akibat hukum apabila tenggang waktu tersebut terlampaui maka putusan tidak dapat dilaksanakan. Frasa “paling lama 30 hari” dalam rumusan Pasal 59 ayat (1) besifat
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
16 | J u r i s a n d S o c i e t y
limitative sekaligus imperative. Dalam pengertian harus dipenuhi dan tidak boleh dilampaui. Karena apabila batas waktunya dilampaui akan menimbulkan akibat hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 59 ayat (4) yaitu putusan arbitrase tidak dapat dilaksanakan. Makna dari frasa “putusan tidak dapat dilaksanakan”
menyangkut hilangnya kekuatan eksekutorial putusan arbitrase. Kendatipun putusan arbitrase masih tetap eksis, namun putusan tersebut bersifat non eksekutabel, tidak dapat dilaksanakan.
Dalam situasi demikian, maka pihak yang menang dalam putusan arbitrase dengan sendirinya akan merasa sangat dirugikan, baik kerugian materiil maupun kerugian immaterial. Padahal proses arbitrase memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi keuntungan yang akan diperoleh apabila eksekusi putusan arbitrase dapat dilaksanakan. Timbul pertanyaan hukum, apakah terhadap arbiter, lembaga arbitrase, atau kuasanya dapat digugat untuk dimintakan pertanggungjawaban perdata akibat terjadinya keterlambatan dalam melakukan pendaftaran putusan arbitrase ke pengadilan negeri yang mengakibatkan putusan arbitrase tidak dapat dilaksanakan. Jawaban sementara yang dapat diberikan adalah, bahwa pada dasarnya terhadap arbiter, lembaga arbitrase atau kuasanya dapat digugat ke pengadilan negeri dengan alasan telah melakukan perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 1365 jo. 1367 KUH Perdata. Kerugian kerugian penggugat, baik secara materiil maupun immaterial, dapat dimohonkan agar dibayar secara tanggung renteng oleh arbiter, lembaga arbitrase maupun kuasanya. Untuk menjamin gugatan nantinya dapat dilaksanakan, penggugat sebagai pihak yang dirugikan berhak mengajukan permohonan sita jaminan terhadap harta kekayaan para tergugat tersebut.
Menghadapi gugatan demikian, arbiter tidak dapat mengelak tanggngjawab dengan mengunakan Pasal 21 UUAAPS. Pasal 21 UUAAPS mengatur tentang jaminan imunitas dan perlindungan hukum bagi arbiter atau majelis arbitrase terkait dengan tindakan yang diambil selama proses persidangan arbitrase berlangsung untuk menjalankan fungsinya sebagai arbiter atau majelis arbitrase.
Selengkapnya rumusan Pasal 21 sebagai berikut: “arbiter atau majelis arbitrase tidak dapat dikenakan tanggungjawab hukum apapun atas segala tindakan yang diambil selama proses persidangan berlangsung untuk menjalankan fungsinya sebagai arbiter atau majelis arbitrase, kecuali dapat dibuktikan adanya itikad tidak baik dari tindakan tersebut”. Sedangkan pendaftaran putusan arbitrase ke pengadilan negeri merupakan kewajiban hukum arbiter diluar proses persidangan
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
17 | J u r i s a n d S o c i e t y
dan setelah diucapkannya putusan arbitrase. Apabila kewajiban hukum tersebut tidak dijalankan sesuai ketentuan Pasal 59 ayat (1) jo ayat (4) sehingga mengakibatkan putusan arbitrase tidak dapat dijalankan, maka alasan gugatan berdasarkan ketentuan pasal 1365 jo. 1367 KUH Perdata telah terpenuhi.
C. KEWENANGAN PENGADILAN NEGERI MENGADILI PERMOHONAN PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE
UUAAPS Bab VII, Pasal 70, 71, 72 UU No.30/1999 mengatur tentang Pembatalan Putusan Arbitrase. Pembuat undang undang dengan jelas dan tegas mengatur dalam pasal tertentu tentang pembatalan putusan arbitrase. Betapapun putusan arbitrase bersifat final dan mengikat, namun hal itu tidak berarti bahwa putusan arbitrase tidak dapat dibatalkan oleh pengadilan apabila terdapat cukup alasan alasan pembatalan. Putusan arbitrase memang harus dihormati, namun apabila ternyata putusan tersebut mengandung adanya “cacat” maka terbuka untuk dimohonkan pembatalan ke pengadilan. Kewenangan pengadilan sebagai state court untuk menerima, memeriksa dan mengadili permohonan pembatalan putusan arbitrase merupakan bentuk pengawasan negara terhadap kemungkinan terjadi pelanggaran dalam proses arbitrase.
Dalam berbagai seminar, terdapat pihak pihak tertentu yang melontarkan gagasan tentang perlunya penghapusan kewenangan Pengadilan Negeri melakukan pembatalan putusan arbitrase, dengan alasan bahwa putusan arbitrase bersifat final dan mengikat. Secara akademis, gagasan yang demikian itu boleh boleh saja, namun menurut pandangan saya, penghapusan kewenangan pengadilan dalam memeriksa permohonan pembatalan putusan arbitrase akan sangat berbahaya. Arbiter sebagaimana halnya hakim, bukanlah malaikat, melainkan mereka hanyalah manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Putusannya bisa saja keliru dalam menilai fakta atau bukti maupun dalam memberikan pertimbangan hukum. Kendatipun putusan arbitrase bersifat final dan mengikat dapat saja putusan tersebut didasarkan pada bukti palsu, tipu muslihat, atau bukti yang disembunyikan pihak berperkara yang diketahu setelah putusan diucapkan. Atau dapat saja arbiter terbukti tidak independen dan memiliki konflik kepentingan dalam memeriksa dan memutus perkara yang hal itu baru diketahui dan dapat dibuktikan setelah putusan diucapkan dan memiliki kekuatan tetap.
Itulah sebabnya, mengapa pembentuk UUAAPS mengatur dalam bab dan pasal khusus tentang pembatalan putusan arbitrase. Dalam sifat final dan
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
18 | J u r i s a n d S o c i e t y
mengikatnya putusan arbitrase secara inheren terkandung prinsip prinsip independensi, obyektifitas, imparsialitas, integritas, moralitas, profesionalitas, tanggungjawab, ketelitian dalam memeriksa dan memutus perkara. Secara kasuistis, keluhuran proses dan putusan arbitrase dapat saja menjadi tercemar apabila terjadi pelanggaran terhadap prinsip prinsip tersebut sehingga berdampak serius semakin menguatnya distrust terhadap arbiter, lembaga arbitrase serta proses arbitrase itu sendiri.
D. LARANGAN CAMPUR TANGAN DAN PERKECUALIANNYA
Pasal 11 ayat (1) UUAAPS mengatur bahwa : “Adanya suatu perjanjian arbitrase tertulis meniadakan hak para pihak untuk mengajukan penyelesaian sengketa atau beda pendapat yang termuat dalam perjanjiannya ke Pengadilan Negeri”. Selanjutnya ayat (2) mengatur bahwa : “Pengadilan Negeri wajib menolak dan tidak akan campur tangan di dalam suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase, kecuali dalam hal hal tertentu yang ditetapkan dalam undang undang ini”. Dalam penjelasannya disebutkan “cukup jelas”. Berdasarkan ketentuan tersebut, larangan campur tangan Pengadilan Negeri terhadap perkara yang disepakati para pihak akan diselesaikan melalui arbitrase pada dasarnya tidak bersifat mutlak. Dalam hal hal tertentu larangan tersebut dikecualikan. Dalam pengertian Pengadilan Negeri dapat melakukan campur tangan dalam hal hal tertentu, sepanjang hal tersebut telah diatur dalam UUAAPS. Frasa ketentuan Pasal 11 ayat (2) UUAAPS yang berbunyi : “….kecuali dalam hal hal tertentu yang ditetapkan dalam undang undang ini” menegaskan perihal tersebut. Campur tangan Pengadilan Negeri yang dibolehkan dan diatur dalam UUAAPS antara lain dalam menunjuk arbiter (Pasal 13, 14), memeriksa dan mengadili permohonan hak ingkar terhadap arbiter (Pasal 22, 23, 24, 25), memeriksa dan mengadili permohonan pembatalan putusan arbitrase (Pasal 70, 71 dan 72), menerima pendaftaran putusan arbitrase, pelaksanaan putusan arbitrase nasional (Pasal 59, 60, 61, 62, 63 dan 64)., pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional di Indonesia (Pasal 65, 66, 57, 68, 69).
Terkait dengan pembatalan putusan arbitrase sebagaimana diatur berdasarkan ketentuan Pasal 70, 71, 72 UUAAPS dapat dimohonkan pembatalan ke Pengadilan Negeri. Pasal 62 ayat (4) UUAAPS mengatur bahwa : “Ketua Pengadilan Negeri tidak memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase”. Penjelasan otentik ketentuan Pasal 62 ayat (4) UUAAPS menyebutkan
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
19 | J u r i s a n d S o c i e t y
bahwa “tidak diperiksanya alasan atau pertimbangan putusan arbitrase oleh Ketua Pengadilan Negeri agar putusan arbitrase tersebut benar benar mandiri, final dan mengikat”. Namun demikian, berkenaan dengan adanya sifat final dan mengikatnya suatu putusan arbitrase tersebut samasekali tidak menutup kemungkinan untuk dapatnya digunakan upaya untuk menguji putusan arbitrase yang bersangkutan melalui upaya permohonan pembatalan ke Pengadilan.
Terutama apabila putusan arbitrase tersebut mengandung alasan alasan pembatalan sebagaimana diatur dalam UUAAPS.
Ketentuan Pasal 70 UUAAPS mengatur bahwa terhadap putusan arbitrase dapat dimohonkan pembatalan ke pengadilan negeri, dengan alasan bahwa putusan arbitrase a quo terbukti mengandung unsur unsur sebagai berikut : (a). surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu; (b). setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh pihak lawan; atau (c).
putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa. Berdasarkan ketentuan Pasal 70 jo. Pasal 1 angka 2 UUAAPS para pihak, sebagai subyek dalam kedudukan sebagai subyek hukum menurut hukum privat maupun subyek menurut hukum publik, pada dasarnya berhak untuk mengajukan permohonan pembatalan terhadap putusan arbitrase.
Berdasarkan ketentuan Pasal 71 dan 72 jo. Pasal 59 ayat (1), (2), ayat (3) jo. Pasal 1 angka 4 UUAAPS, Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal termohon memiliki kewenangan absolut dan kewenangan relative untuk memeriksa permohonan pembatalan putusan arbitrase.
Pengadilan negeri memeriksa alasan alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase untuk memastikan apakah putusan arbitrase a quo terbukti mengandung unsur unsur sebagaimana dimaksud ketentuan Pasal 70 UUAAPS.
Unsur unsur tersebut tidak bersifat kumulatif, melainkan bersifat alternative, dalam pengertian apabila salah satu dari unsur unsur dalam ketentuan Pasal 70 UUAAPS sudah terpenuhi maka hal tersebut sudah cukup memenuhi syarat pengajuan permohonan pembatalan suatu putusan arbitrase ke Pengadilan Negeri.
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
20 | J u r i s a n d S o c i e t y
E. PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI MENYATAKAN INKONSTITUSIONL DAN TIDAK MENGIKAT PENJELASAN PASAL 70 UUAAPS
Mahkamah Konstitusi dalam putusannya No. 15/PUU-XII/2014 pada amarnya menyatakan bahwa penjelasan Pasal 70 UUAAPS yang menyangkut frasa “ ..alasan alasan permohonan pembatalan yang disebut dalam pasal ini harus dibuktikan dengan putusan pengadilan…” telah dinyatakan sebagai inkonstitusional. Berdasarkan ketentuan Pasal 24 C UUD Tahun 1945 jo. UU No.
8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, Bab III tentang Kekuasaan Mahkamah Konstitusi, Pasal 10 ayat (1) huruf “a” mengatur bahwa : “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang undang terhadap UUD Tahun 1945”. Berdasarkan ketentuan Pasal 24 C ayat (1) UUD Tahun 1945 jo. UU No. 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, Bab III tentang Kekuasaan Mahkamah Konstitusi, Pasal 10 ayat (1) huruf “a” menyatakan bahwa : “ putusan Mahkamah Konstitusi langsung memperoleh kekuatan hukum tetap sejak diucapkan dan tidak ada upaya hukum yang dapat ditempuh”. Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat
“erga omnes”, artinya berlaku bagi siapapun saja tanpa terkecuali (erga omnes law or legal act applies as against every individual, person, or state witholut distinction).
Penjelasan Pasal 70 UUAAPS sepanjang yang menyangkut frasa “ ..alasan alasan permohonan pembatalan yang disebut dalam pasal ini harus dibuktikan dengan putusan pengadilan…” telah dinyatakan inkonstitusional berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 15/PUU-XII/2014. Sehingga dengan demikian, ketentuan Pasal 70 UUAAPS harus dibaca dan dipahami hanya sebagaimana rumusan tekstualnya tanpa harus dikaitkan dengan penjelasan otentiknya. Kendatipun demikian, berdasarkan ketentuan Pasal 163 HIR, Pasal 283 RBG, Pasal 1865 KUH Perdata yang mengatur bahwa : pihak yang mendalilkan memiliki sesuatu hak, atau menyebutkan sesuatu peristiwa untuk mendukung hak, atau membantah hak orang lain, maka ia wajib membuktikan kebenaran dalilnya itu di muka pengadilan, berdasarkan alat alat bukti sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 164 HIR, Pasal 284 RBG, Pasal 1866 KUH Perdata.
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
21 | J u r i s a n d S o c i e t y
F. KEWENANGAN PENGADILAN MEMPERLUAS ALASAN PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE
Dalam praktek sering diajukan pertanyaan hukum, apakah pemohon pembatalan putusan arbitrase dapat menggunakan alasan alasan lain diluar dari apa yang ditentukan dalam Pasal 70 UUAPS ? Apakah Hakim berwenang untuk membatalkan putusan arbitrase dengan menggunakan alasan alasan lain diluar ketentuan Pasal 70 UU APS. Menurut pandangan saya, permohonan pembatalan putusan arbitrase dapat menggunakan alasan alasan lain diluar dari unsur unsur sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 70 UUAAPS. Ketentuan Pasal 70 pada dasarnya tidak bersifat limitative dan imperatif, oleh karena ketentuan tersebut tidak memuat frasa yang bersifat memaksa yang mewajibkan atau mengharuskan permohonan pembatalan putusan arbitrase hanya berdasarkan unsur unsur dalam ketentuan Pasal 70 UUAAPS saja.
Rumusan Pasal 70 UUAAPS memuat frasa : “…….apabila putusan tersebut diduga mengandung unsur unsur sebagai berikut…………”. Dikaitkan dengan “Penjelasan Umum” UUAAPS, Bab VII yang mengatur tentang Pembatalan Putusan Arbitrase, memuat frasa “antara lain” : (a). surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan dijatuhkan diakui palsu atau dinyatakan palsu; (b). setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan yang sengaja disembunyikan pihak lain; atau (c). putusan diambil dari tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa. Berdasarkan frasa “antara lain” dalam Penjelasan Umum UUAAPS tersebut mengandung makna tentang tidak litimatifnya alasan yan dapat digunakan untuk mengajukan permohonan pembatalan putusan arbitrase, sehingga membuka kemungkinan bagi pengadilan yang memeriksa permohonan pembatalan putusan arbitrase untuk menggunakan alasan alasan yang lain diluar dari apa yang ditentukan dalam Pasal 70 UUAAPS tersebut.
Dalam teori hukum dan praktik peradilan dikenal asas “ius curia novit”, yang mengandung makna, bahwa hakim dianggap tahu tentang hukumnya atas suatu perkara yang diajukan kepadanya untuk diperiksa dan diputusnya. Asas hukum tersebut apabila dikaitkan dengan ketentuan Pasal 10 ayat (1) UU No.48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang mengatur bahwa : “Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”. Kemudian dikaitkan dengan ketentuan
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
22 | J u r i s a n d S o c i e t y
Pasal 5 ayat (1) yang mengatur bahwa : “Hakim dan hakim konstiusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”. Berdasarkan asas “ius curia novit” dikaitkan dengan ketentuan Pasal 10 ayat (1) jo. Pasal 5 UU No.48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, maka Hakim yang memeriksa perkara permohonan pembatalan putusan arbitrase memiliki independensi dan diskresi untuk melakukan “judicial activism”.
Hakim berwenang melakukan interpretasi terhadap rumusan teks suatu undang-undang (rechts interpretatie) dalam hal ini terhadap ketentuan ketentuan dalam UUAAPS, termasuk – namun tidak terbatas ketentuan Pasal 70, agar rumusan teks undang undang tersebut menjadi lebih jelas sehingga dapat dipahami dan diterapkan dalam perkara yang diadili dengan menggunakan (1). interpretasi tekstual/gramatikal, (2). interpretasi otentik, (3). interpretasi historis, (4).
interpretasi ekstensif, (5). interpretasi restriktif, (6). interpretasi sistematis, (7).
interpretasi sosiologis dan teleologis, (8). interpretasi antisipatif-futuristik. Hakim berwenang untuk memilih model interpretasi yang bagaimana yang dinilai paling sesuai kewenangan dan kebutuhan terkait dengan perkara yang diadilinya.
Hakim berwenang juga melakukan penemuan hukum (rechtsvinding) dengan cara menggali dan mengikuti nilai nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam mesyarakat dan menjadikan sebagai dasar dan alasan dalam putusannya. Nalar dan nurani hakim yang memiliki pengalaman panjang serta kepekaaan yang tinggi terhadap masalah masalah tersebut akan segera dapat menemukan dan mengetahui bagaimana bilai nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat untuk dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan putusan terhadap suatu perkara yang diadilinya.
Terkait dengan hal tersebut, ketentuan Pasal 50 ayat (1) UU No.48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur bahwa : “putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat pasal tertentu dari peraturan perundang undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tidak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili”. Hakim berwenang untuk menciptakan hukum (rechtsschepping) melalui putusannya berdasarkan prinsip keadilan dan kepatutan. Dalam hal ini hakim dapat menciptakan hukum baru, atau membuat tafsir baru berbeda dengan tafsir yang ada sebelumnya, atau membuat argumentasi baru terhadap perkara yang diadilinya. Dengan alasan bahwa perkara yang diadilinya itu merupakan suatu suatu perkara yang memiliki keunikan
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
23 | J u r i s a n d S o c i e t y
tertentu yang berbeda dengan perkara perkara lain yang sudah ada sebelumnya.
Diperlukan keberanian dan kreatifitas hakim untuk memberikan dasar dan alasan dalam pertimbangan putusannya terhadap perkara yang demikian itu. Putusan Pengadilan Negeri dalam mengadili permohonan pembatalan putusan arbitrase dapat bervariasi secara kasus per kasus. Masing masing sangat bergantung pada alasan dan pembuktian dalam permohonan pembatalan putusan arbitrase.
Secara tentative, setidaknya terdapat 3 (tiga) variasi kemungkinan putusan pengadilan negeri dalam mengadili permohonan pembatalan putusan arbitrase.
Pertama, permohonan pemohon dinyatakan dikabulkan, sehingga putusan arbitrase yang bersangkutan dinyatakan dibatalkan. Kedua, permohonan pemohon dinyatakan ditolak, sehingga putusan arbitrase yang bersangkutan tetap sah dan memiliki kekuatan mengikat. Ketiga, permohonan pemohon dinyatakan tidak dapat diterima, sehingga putusan arbitrase yang bersangkutan tetap sah dan mengikat. Terkait dengan kemungkinan yang pertama, penjelasan Pasal 72 ayat (2) UUAAPS menyebutkan : “Ketua Pengadilan Negeri diberi wewenang untuk memeriksa tuntutan pembatalan jika diminta oleh para pihak dan mengatur akibat dari pembatalan seluruhnya atau sebagian dari putusan arbitrase”, “Ketua Pengadilan Negeri dapat memutuskan bahwa setelah diucapkan pembatalan arbiter yang sama atau arbiter lain akan memeriksa kembali sengketa bersangkutan atau menentukan bahwa suatu sengketa tidak mungkin diselesaikan lagi melalui arbitrase”.
Ketentuan ini penting untuk dipahami bersama, bahwa apabila suatu putusan arbitrase telah dibatalkan berdasarkan putusan pengadilan negeri selanjutnya bagaimana hal hal yang menyangkut akibat hukum dari adanya pembatalan tersebut. Apakah perkara yang bersangkutan selanjutnya akan diperiksa kembali oleh arbiter yang sama, atau arbiter yang lain, atau dinyatakan tidak dapat diperiksa kembali melalui arbitrase. Dengan demikian menjadi jelas bagaimana jalan keluarnya. Kendatipun dalam praktek putusan pengadilan negeri hanya memuat amar yang menyatakan membatalkan putusan arbitrase, tanpa disertai bagaimana selanjutnya akibat hukum dari pembatalan tersebut. Hal tersebut mungkin berkaitan dengan larangan “ultra petita” terkait dengan ketentuan Pasal 178 ayat (3) HIR, bahwa pengadilan dilarang memutuskan sesuatu yang tidak diminta atau mengabulkan lebih dari yang diminta dalam gugatan (permohonan). Sepanjang pemohon pembatalan putusan arbitrase tidak mencantumkan dalam petitum permohonan tentang akibat hukum selanjutnya dari
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
24 | J u r i s a n d S o c i e t y
pembatalan putusan arbitrase, maka pengadilan tidak akan memutus yang tidak dimohonkan atau tidak mengabulkan lebih dari yang dimohonkan. Adapun terkait dengan kemungkinan kedua dalam amar putusan pengadilan negeri dalam perkara permohonan pembatalan putusan arbitrase, maka hal itu berarti pengadilan menilai bahwa alasan alasan permohonan pemohon tidak terbukti, oleh karena itu permohonan pemohon dinyatakan ditolak. Adapun terkait dengan kemungkinan ketiga, maka itu berarti permohonan pemohon pembatalan putusan arbitrase tidak memenuhi syarat syarat formil sebagaimana diatur dalam hukum acara.
G. HAK PARA PIHAK MENGAJUKAN UPAYA BANDING
Pasal 72 ayat (4) UUAAPS mengatur bahwa : “terhadap putusan pengadilan negeri dapat diajukan permohonan banding ke Mahkamah Agung yang memutus dalam tingkat pertama dan terakhir”. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa : “yang dimaksud dengan banding adalah hanya terhadap pembatalan putusan arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70”.
Pembentuk UUAAPS menggunakan nomenklatur “banding” sebagai upaya hukum atas putusan pengadilan negeri dalam perkara pembatalan putusan arbitrase. Padahal sebagaimana lazimnya bentuk upaya hukum biasa yang diajukan ke Mahkamah Agung adalah kasasi. Mungkin saja, penggunaan nomenklatur banding atas putusan pengadilan negeri dalam perkara pembatalan putusan arbitrase mengikuti nomenklatur “banding wasit” yang digunakan sebelum berlakunya UUAAPS. Dalam pembaharuan UUAAPS ke depan perihal tersebut perlu dirumuskan nomenklatur yang lebih tepat.
Membandingkan rumusan ketentuan Pasal 72 ayat (4) dengan rumusan penjelasan Pasal 72 ayat (4) nampak dengan jelas adanya kontradiksi antara satu dengan yang lain. Rumusan pasal 72 ayat (4) UUAAPS mengatur bahwa pihak berperkara dapat mengajukan permohonan banding ke Mahkamah Agung terhadap putusan pengadilan dalam perkara permohonan pembatalan putusan arbitrase.
Ketentuan tersebut mengandung kaidah hukum bahwa semua pihak berperkara dapat mengajukan permohonan banding ke Mahkamah Agung. Ketentuan tersebut tidak secara tegas membedakan siapakah pihak berperkara yang dapat mengajukan banding tersebut adalah pemohon pembatalan maupun termohon pembatalan.
Artinya bisa pemohon pembatalan, atau termohon pembatalan. Ketentuan tersebut juga tidak mengandung norma apakah yang dapat diajukan banding ke Mahkamah Agung itu hanya menyangkut putusan yang mengabulkan permohonan pembatalan
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
25 | J u r i s a n d S o c i e t y
atau yang menolak permohonan pembatalan. Artinya, baik putusan pengadilan negeri yang mengabulkan permohonan pembatalan maupun putusan pengadilan negeri yang menolak permohonan pembatalan pada dasarnya dapat dimohonkan banding ke Mahkamah Agung oleh para pihak berperkara. Ketentuan tersebut sesuai dengan asas kesamaan kedudukan di hadapan hukum (equality before the law) bagi pihak pihak berperkara.
Materi muatan penjelasan Pasal 72 ayat (4) UUAAPS justru bertentangan dengan maksud norma pokok Pasal 72 ayat (4) UUAAPS, dengan menambahkan norma baru yang menyatakan “…hanya terhadap pembatalan putusan arbitrase…”. Penjelasan pasal 72 ayat (4) UUAAPS telah merampas hak pihak berperkara yang permohonan pembatalannya ditolak pengadilan untuk dapat mengajukan permohonan banding ke Mahkamah Agung. Padahal norma pokok Pasal 72 ayat (4) UUAAPS samasekali tidak mengatur, baik secara ekplisit maupun implisit bahwa tentang putusan yang bagaimana yang dapat atau tidak dapat dimohonkan banding. Pasal 72 ayat (4) UUAAPS hanya mengatur kebolehan para pihak berperkara untuk mengajukan banding terhadap putusan pengadilan negeri terkait permohonan pembatalan putusan arbitrase. Tanpa membedakan apakah pemohon atau termohon, juga tidak membedakan apakah permohonan pembatalan ditolak atau permohonan pembatalan dikabulkan.
Dalam hal terjadi pertentangan antara materi muatan penjelasan dengan materi muatan pasal pokoknya, maka yang harus diberlakukan adalah ketentuan dalam pasal pokoknya. Karena menurut teori hukum perundang-undangan, penjelasan bukan merupakan norma hukum yang bersifat mengikat, sehingga apabila substansi penjelasan bertentangan dengan maksud dan tujuan dalam rumusan pasal pokoknya, maka yang harus diberlakukan adalah ketentuan dalam norma pokoknya. Terkait dengan persoalan ini perlu kiranya segera mendapatkan perhatian bersama dari para pemangku kepentingan bahwa apabila kelak dilakukan perubahan terhadap UUAAPS. Perlu pengaturan yang lebih sinkron antara rumusan pasal pokok dengan rumusan penjelasannya, dengan maksud untuk menghindarkan multi tafsir yang dapat menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidakadilan. Sesuai dengan asas bahwa rumusan ketentuan dalam peraturan perundang undangan seharusnya memperhatikan betul “lex scripta”, “lex certa”, dan “lex stricta”.
Persoalan menjadi semakin rumit, ketika kemudian Mahkamah Agung menerbitkan Surat Edaran Mahkamah Agung No. 4 Tahun 2016 Nomor
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
26 | J u r i s a n d S o c i e t y
04/BUA.6/HS/SP/XII/2016 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2016 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan yang pada halaman 8, terkait dengan Arbitrase menyebutkan : “Sesuai dengan ketentuan Pasal 72 ayat (4) Undang Undang No. 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan penjelasanya, terhadap putusan pengadilan negeri yang menolak permohonan pembatalan putusan arbitrase tidak tersedia upaya hukum bak banding maupun peninjauan kembali. Dalam hal putusan pengadilan negeri membatalkan putusan arbitrase, tersedia upaya hukum banding ke Mahkamah Agung, terhadap putusan banding tersebut Mahkamah Agung memutus pertama dan terakhir sehingga tidak ada upaya hukum peninjauan kembali”. Mahkamah Agung dalam rumusan SEMA tersebut hanya mengacu pada rumusan Penjelasan Pasal 72 ayat (4) UUAAPS, padahal jelas jelas bertentangan dengan norma pokoknya. Padahal menurut teori perundang undangan, hanya rumusan pasal yang memiliki kekuatan sebagai norma mengikat, sedangkan penjelasan pasal bukan merupakan norma yang bersifat mengikat. SEMA tersebut mengandung ketidakadilan procedural dan melanggar asas bahwa setiap warganegara memiliki persamaan kedudukan hukum. Berdasarkan SEMA tersebut, Mahkamah Agung hanya memberikan hak untuk mengajukan upaya hukum banding kepada pihak berperkara yang merasa keberatan terhadap putusan Pengadilan Negeri yang amarnya membatalkan putusan arbitrase. Hal itu berarti bahwa hak tersebut hanya diberikan kepada lembaga arbitrase yang putusannya dibatalkan oleh Pengadilan Negeri serta kepada pihak yang menang dalam putusan arbitrase tersebut. Tentu saja ini sangat tidak adil, diskriminatif dan berat sebelah. Karena SEMA tersebut telah melarang upaya hukum banding terhadap putusan Pengadilan Negeri yang menolak permohonan pembatalan putusan arbitrase. Bahkan kepaniteraan pengadilan negeri tidak bersedia melayani pengajuan permohonan banding yang diajukan oleh pihak yang permohonan pembatalan ditolak pengadilan negeri.
Padahal seharusnya para pihak mendapatkan kesempatan yang sama dalam menggunakan upaya hukum banding terhadap putusan pengadilan negeri, baik yang mengabulkan permohonan atau yang menolak pemohonan pembatalan putusan arbitrase. Kekeliruan penormaan dalam Penjelasan Pasal 72 ayat (4) UUAAPS telah dilembagakan oleh Mahkamah Agung ke dalam SEMA tersebut.
Padahal UUD 1945 Pasal 1 ayat (3) telah jelas mengatur bahwa : “Negara Indonesia adalah negara hukum”. Kemudian Pasal 24 ayat (1) mengatur bahwa :
“Kekuasaan kehakiman merupakan kekusaan yang merdeka untuk
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
27 | J u r i s a n d S o c i e t y
menyelenggarakan perdiln guna menegakkan hukum dan keadilan”. Pasal 27 ayat (1) mengatur bahwa : “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjujung hukum dan pemerintahahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Rumusan ketentuan ketentuan dalam UUD 1945 sudah sangat jelas dan gamblang. Demikian juga ketentuan Pasal 4 ayat (1) UU No. 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur bahwa : “Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda bedakan orang”. Namun dalam kenyataan prakteknya, SEMA No. 4 Tahun 2016 Nomor 04/BUA.6/HS/SP/XII/2016 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2016 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan yang pada halaman 8, terkait dengan Arbitrase justru bersifat diskriminatif, tidak adil dan berat sebelah sehingga bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3) dan Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 sera bertentangan pula dengan Pasal 4 ayat (1) UU No.48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
H. Urgensi Uji Materi Pasal 72 ayat (4) UUAAPS ke Mahkamah Kontitusi Menunggu amandemen terhadap UUAAPS, termasuk – namun tidak terbatas – terhadap Penjelasan Pasal 72 ayat (4) tidak dapat dipastikan kapan waktunya. Padahal persoalan hukum serius yang menyangkut ketidakdilan hukum yang timbul akibat adanya penjelasan Pasal 72 ayat (4) yang bertentangan dengan ketentuan ketentuan dalam UUD 1945 maupun ketentuan dalam UU No.48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman sudah sangat mendesak untuk segera diselesaikan. Telah banyak berjantuhan pencari keadilan yang menjadi korban akibat rumusan penjelasan Pasal 72 ayat (4) maupun SEMA tersebut. Penjelasan Pasal 72 ayat (4) yang telah menimbulkan diskriminasi dan ketidakadilan hukum bagi para pihak berperkara sebagai pencari keadilan.
Mengharap Mahkamah Agung bersedia untuk meninjau kembali Surat Edaran Mahkamah Agung No. 4 Tahun 2016 Nomor 04/BUA.6/HS/SP/XII/ 2016 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2016 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan yang pada halaman 8, terkait dengan Arbitrase tentu saja itu tidak mudah. Mahkamah Agung cenderung akan bersikap konservatif menjaga kewibawaannya dengan tetap mempertahankan produk SEMA yang telah dibuatnya. Kecuali apabila mulai muncul kesadaran baru untuk bersedia meninjau kembali SEMA tersebut karena mengandung kekeliruan penerapan hukum yang bersifat diskriminatif dan telah
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
28 | J u r i s a n d S o c i e t y
berlangsung selama ini yang telah menimbulkan ketidakadilan hukum bagi pencari keadilan.
Opsi mengajukan uji materiil terhadap SEMA tersebut ke Mahkamah Agung dengan alasan bertentangan dengan Pasal 72 ayat (4) UUAAPS rasanya juga tidak ada gunanya. SEMA bukan merupakan obyek hak uji materiil, oleh karena sifatnya bukan sebagai peraturan yang berlaku umum, melainkan hanya sebagai pedoman dalam penyelenggaraan peradilan. Kendatipun hanya sebagai pedoman namun dalam prakteknta diikuti secara ketat oleh pengadilan tingkat pertama. Lagi pula, andaikata permohonan uji materiil tersebut tetap diajukan, maka Mahkamah Agung akan mengadili produk hukumnya sendiri. Kuatnya subyektifitas sudah barang tentu menjadi tidak dapat dihindarkan, kendatipun terdapat asas nemo judex in causa sua bahwa tidak seorangun dapat menjadi hakim yang baik dalam perkaranya sendiri.
Perlu dipertimbangkan inisiatif dari para stakeholder yang memiliki legal standing untuk mengajukan permohonan uji materi ke Mahkamah Konstitusi terhadap Penjelasan Pasal 72 ayat (4) UUAAPS. Sebagaimana dahulu pernah dilakukan permohonan uji materi ke Mahkamah Konstitusi terhadap Penjelasan Pasal 70 UUAAPS. Mahkamah Konstitusi dalam putusannnya Nomor 15/PUU/XII/2014 menyatakan bahwa penjelasan Pasal 70 UUAAPS telah menambah norma baru dan menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidakadilan. Mahkamah Konstitusi menyatakan penjelasan Pasal 70 UUAAPS bertentangan dengan Pasal 28 ayat (1) UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan mengikat. Kendatipun hasilnya putusannya nanti tidak berlaku surut, namun setidaknya untuk menegakan hukum dan keadilan sebagaimana mestinya. Tidak ada lagi korban ketidakadilan akibat perampasan hak banding bagi pihak yang permohonan pembatalaan putusan arbitrase ditolak oleh pengadilan negeri. Pihak berperkara, baik pemohon pembatalan maupun termohon pembatalan, tidak membedakan apakah permohonannya dikabulkan ataukah ditolak, mereka harus mendapatkan perlakuan hukum yang sama, masing masing berhak menggunakan upaya hukum banding ke Mahkamah Agung. Seandainya apabila nanti Mahkamah Konstitusi menyatakan inkonstiusional Penjelasan Pasal 72 ayat (4) UUAAPS dan menyatakan Penjelasan Pasal 72 (4) tidak memiliki kekuatan mengikat, maka penderitaan akibat ketidakadilan hukum menyangkut hak banding para pihak terhadap putusan Pengadilan Negeri atas perkara permohonan pembatalan putusan arbitrase menjadi berakhir.
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
29 | J u r i s a n d S o c i e t y I. PENUTUP
Terdapat pertentangan materi muatan antara kaidah hukum ketentuan pokok Pasal 72 ayat (4) dengan Penjelasan Pasal 72 ayat (4) UUAAPS. Pasal 72 ayat (4) tidak melarang dan tidak membedakan hak para pihak berperkara untuk mengajukan upaya hukum banding terhadap putusan pengadilan negeri dalam perkara permohonan pembatalan putusan arbitrase. Sedangkan dalam Penjelasan Pasal 72 ayat (4) hak mengajukan upaya hukum banding dibatasi hanya diberikan kepada pihak yang keberatan terhadap putusan pengadilan negeri yang membatalkan putusan arbitrase. Penjelasan Pasal 72 ayat (4) telah menambah norma baru sehingga menjadi berbeda dan bertentangan dengan norma pokok Pasal 72 ayat (4) UUAAPS.
Penjelasan Pasal 72 ayat (4) mengandung diskriminasi perlakuan kesamaan kedudukan hukum bagi warganegara terkait dengan hak mengajukan banding atas putusan pengadilan negeri dalam perkara pembatalan putusan arbitrase, sehingga oleh karena itu Penjelasan Pasal 72 ayat (4) bertentangan dengan dengan Pasal 1 ayat (3) bahwa Indonesia adalah negara hukum, serta Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 yang mengatur bahwa segala warganegara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
Penjelasan Pasal 72 ayat (4) UUAAPS bertentangan dengan Pasal 4 ayat (1) UU No.48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur bahwa :
“Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda bedakan orang Terhadap penjelasan Pasal 72 ayat (4) UUAAPS dapat dimohonkan uji materi ke Mahkamah Konstitusi untuk dinyatakan inkonstitusional dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat.
Mahkamah Agung perlu untuk segera meninjau kembali Surat Edaran No.
4 Tahun 2016 Nomor 04/BUA.6/HS/SP/XII/2016 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2016 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan yang pada halaman 8, terkait dengan Arbitrase karena bersifat diskriminatif, tidak adil dan berat sebelah sehingga bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3) dan Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 serta bertentangan pula dengan Pasal 4 ayat (1) UU No.48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
30 | J u r i s a n d S o c i e t y
DAFTAR PUSTAKA
Basuki Rekso Wibowo, “Dimensi dan Refleksi Etik Dalam Putusan Hakim”, artikel buku berjudul Hukum Sebagai Pencaran Moral”, terbitkan dalam rangka memperingati 70 Tahun Prof. Dr. Peter Mahmud Marzuki, SH, MS, LLM, Kencana, Jakarta, 2019.
………, “Merenungkan Kembali Tentang Kegunaan Filsafat (Hukum) Dalam Kegiatan Akademik dan Praktek Hukum”, artikel dalam buku berjudul Eksistensi, Fungsi, dan Tujuan Hukum, diterbitkan dalam rangka memperingati 80 tahun Prof.Dr. Frans Limahelu, Kencana, Jakarta, 2020.
………, “Omnibus Law Sebagai Kebijakan Politik Dalam Pembaharuan Hukum : Solusi atau Masalah Baru”, artikel dalam buku berjudul Dinamika Hukum Agraria, diterbitkan dalam rangka peringatan 70 tahun Prof.
Dr. Sri Hajati, SH, MS, Kencana, Jakarta, 2020.
………, “Arbitrase Sebagai Alternatif Ideal Dalam Penyelesaian Sengketa Kontrak Bisnis”, dalam Joni Emirzon dkk (ed), artikel dalam buku berjudul Pembaharuan Hukum Nasional Indonesia di era Industri 4.0, diterbitkan dalam rangka memperingati 55 tahun Prof. Dr Joni Emirzon, SH., M.Hum, FCBArb, Rajawali Pers, PT. RajaGrafindo Persada, Depok, 2021.
………., “Masalah Pembatalan Putusan Arbitrase”, dalam O.K.
Saidin (ed), artikel dalam buku berjudul : Akademisi Tangguh Yang Tak Henti Berkarya Sempena 90 Tahun Prof. Dr. Mariam Darus Badrulzaman, SH, FCBArb, Raja Grafindo Persada, Depok, 2021.
………., “Kewenangan Penerapan Ex Aequo et Bono Dalam Putusan Arbitrase”, artikel dalam buku berjudul “Mosaik Hukum Arbitrase di Indonesia”, diterbitkan rangka Ulang Tahun ke-92 Hartini Mochtar Kasran, SH, FCB.Arb, Ketua Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Perwakilan Surabaya, 2022.
………., “Masalah Masalah Dalam Eksekusi Putusan Arbitrase Internasional di Indonesia”, dalam Koesrianti, Dina Sunyowati dan Enny Narwati (ed), artikel dalam buku berjudul Dinamika Hukum Kelautan dan Kemaritiman, diterbitkan dalam rangka kenangan dan penghormatan terhadap almarhum Prof. Dr. Abdoel Rasjid, SH, LLM (alm), INARA Publisher, 2022.
………, “Menyoal Syarat, Hak Ingkar dan Imunitas Arbiter”, dalam Agus Sekarmadji, Oemar Mochtar, Indrawati (ed), artikel dalam buku
Juris and Society: Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Vol. 2 No. 1 Juni 2022: 13-31
31 | J u r i s a n d S o c i e t y
berjudul Dinamika Hukum dan Sumber Daya Alam, diterbitkan dalam rangka kenangan dan penghormatan terhadap almarhum Prof. Dr. Eman Ramelan, SH, MS (alm), INARA Publisher, 2022.
……….., “Perjanjian Arbitrase dan Kewenangan Arbitrase Dalam Penyelesaian Sengketa Bisnis di Indonesia”, artikel dalam Jurist and Society : Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, Pusat Penelitian dan Pengembangan Cendekiawan Indonesia, Juni 2001.
---, “Problematika Hukum Penyelesaian Sengketa Perdata dan Bisnis di Era Ekonomi Digital”, makalah Seminar di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia ( FH UII), 5 Agustus 2021.
……….., “Pentingnya Revisi UU Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa”, makalah dalam Seminar WIKAN Profesional kerjasama dengan BANI Perwakilan Surabaya, 26 Agustus 202
………, “Beberapa Catatan Kecil Tentan RUU Hukum Acara Perdata dan Arah Reformasi Eksekusi Perdata”, makalah Seminar STIH Jentera, 2021.
Bryan A Garner (ed in chief), Black’s Law Dictionary, Eight Editon, West Publishing Co, St.Paul MN, 2004.
Lisa G. Lerman, Philip G, Schrag, Robert Rubinson, Ethical Problems in The Practice of Law, Fifth edition, Wolter Kulwer, New York, 2020.
BW/KUH Perdata.
HIR/RIB dan RBG/RDS.
Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Undang Undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat.
UU No 8 tahun 2011 tentang Perubahan atas UU No. 24 tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.
Undang Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Undang Undang No. 49 Tahun 2009 tentang Peradilan Umum.