Jurnal Sosio Sains
http://journal.lldikti9.id/sosiosains
Vol 7, No. 2, Oktober2021, pp 95-107 P-ISSN:2088-8589 dan E-ISSN: 2656-727X
Pengaruh Organisasi Pembelajaran Terhadap Perilaku Inovatif Guru Dan Keterlibatan Guru Pada Jenjang Pendidikan Dasar Dinas
Pendidikan Kabupaten Wajo
Edi Pramono Muliawan1, Jeny Kamase2 Zaenal Arifin & Roslina Alam2
1Doktor Ilmu Manajemen, Universitas Muslim Indonesia
2Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Muslim Indonesia Email: [email protected]
Artikel info Artikel history:
Received; 11-08-2021 Revised: 22-09-2021 Accepted; 30-10-2021
Keywords:
Organisasi;
Pembelajaran; Guru;
Pendidikan Dasar
Kata Kunci:
Organization; Learning;
Teacher; basic education
Abstract: Tujuan Penelitian Ini Mengetahui dan menganalisis pengaruh organisasi pembelajaran terhadap Keterlibatan Guru; Pengaruh Organisasi Pembelajaran terhadap Perilaku Inovatif Guru; Pengaruh Keterlibatan Guru terhadap Perilaku Inovatif Guru; Pengaruh Organisasi Pembelajaran terhadap Perilaku Inovatif Guru Sekolah Dasar melalui Keterlibatan Guru di Kabupaten Wajo. Jenis Penelitian Deskriptif Kuantitatif Populasi guru pendidikan dasar di Kabupaten Wajo, pengambilan sampel menggunakan tehnik sampling Isaac dan Michael. Data dianalisis berbasis Partial Least Square (PLS). Hasil pengujian menunjukkan bahwa Organisasi Pembelajaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keterlibatan Guru dengan koefisien jalur bertanda Positif sebesar 0.401. Hasil ini signifikan yang ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,000< α (0,05). yang berarti ada hubungan yang signifikan antara Organisasi Pembelajaran terhadap Keterlibatan Guru; Hasil uji signifikansinya yang sebesar 0,09 yang lebih besar dari α (0,05) atau dapat dikatakan Organisasi Pembelajaran tidak signifikan berpengaruh terhadap Prilaku Inovatif Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo , sehingga Hipotesis Kedua Ditolak atau Tidak Diterima; hasil uji signifikan Hasil uji signifikan menunjjukan nilai signifikansi sebesar 0,00 < α (0,05)., Keterlibatan Guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku inovatif guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo;
Abstrak: The purpose of this study is to determine and analyze the influence of learning organizations on teacher involvement; The Influence of Learning Organizations on Teachers' Innovative Behavior; The Influence of Teacher Involvement on Teachers' Innovative Behavior; The Influence of Learning Organizations on Innovative Behavior of Elementary School Teachers through Teacher Involvement in Wajo District. Type of Research Descriptive Quantitative The population of primary education teachers in Wajo Regency, sampling using Isaac and Michael sampling technique. Data were analyzed based on Partial Least Square (PLS). The test results show that the Learning Organization has a positive and significant effect on teacher involvement with a path coefficient marked Positive of 0.401. This result is significant which is indicated by a significance value of 0.000 < (0.05). which means there is a significant relationship between Learning Organizations on Teacher Involvement; The result of the significance test is 0.09 which is greater than (0.05) or it can be said that the Learning Organization does not significantly affect the Innovative Behavior of Elementary School Teachers in Wajo Regency, so the Second Hypothesis is Rejected or Not Accepted; significant test results Significant test results show a significance value of 0.00 < (0.05)., Teacher involvement has a positive and significant effect on the innovative behavior of elementary school teachers in Wajo Regency;
Coresponden author:
Email: [email protected]
artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi CC BY
PENDAHULUAN
Sasaran Pembangunan Jangka Menengah 2020-2024 adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur yang didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas (Badan Perencanaan Nasional, 2015). Pembangunan SDM yang berkualitas dan be rdaya saing di Indonesia di tahun 2019 menjadi momentum Strategi Pembangunan Bangsa Indonesia ke depan, didukung anggaran yang tepat sasaran sehingga terjadi peningkatan produktivitas tenaga kerja, pilihan strategi tersebut diupayakan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang dibutuhkan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat (Joko Widodo, 2019).
Pertumbuhan ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat harus bersinergi dengan Pembangunan SDM ditandai dengan peningkatan Indeks Pembangunan manusia (IPM) yang terus mengalami peningkatan (Ranis, Stewart, & Samman, 2006).
Pembangunan manusia di Indonesia terus mengalami kemajuan. Pada tahun 2019, IPM Indonesia mencapai 71,92. Angka ini meningkat sebesar 0,53 poin atau tumbuh sebesar 0,74 persen dibandingkan tahun 2018 (BPS, 2020).
Peringkat IPM Indonesia melalui Human Development Indeks (HDI) yang dikeluarkan oleh United Nations Development Programme (UNDP , 2020) Indonesia menduduki peringkat 111 mengalami penurunan jika dibandingkan peringkat HDI pada tahun 2014 yaitu peringkat ke 110 di dunia. Penurunan HDI ditenggarai berhubungan dengan anggaran pendidikan 2019 yang turun 10,2% menjadi Rp 36 triliun dari tahun sebelumnya (Direktorat Penyusanan Anggaran APBN, 2020). IPM Indonesia, Sulawesi Selatan dan Kabupaten Wajo disajikan pada Tabel 1 berikut :
Tabel 1
Indeks Pembangunan Manusia
Tahun Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan Indonesia
2010 63,07 66,00 66.53
2011 64,00 66,65 67.09
2012 64,88 67,26 67.70
2013 65,79 67,92 68.31
2014 66,49 68,49 68.90
2015 66,90 69,15 69.55
2016 67,52 69,76 70.18
2017 68,18 70,34 70.81
2018 68,57 70,90 71.39
2019 69,05 71,66 71.92
Sumber : (BPS, 2020)
Pada Tabel 1 tergambar IPM Indonesia mengalami peningkatan diikuti dengan pertumbuhan IPM daerah Sulawesi selatan dan kabupaten wajo khususnya, meski demikian IPM di Kabupaten Wajo rata rata berada 2 poin dibawah IPM nasional dan IPM Provinsi Sulawesi selatan. Salah satu indicator IPM adalah pengelolaan Organisasi Pendidikan dasar (Sanchez-Gordon & Luján-Mora, 2016) masalah umum yang dihadapi di Kabupaten Wajo adalah kemampuan sekolah menyerap peserta didik, kondisi ini digambarkan pada Tabel 2 berikut:
Tabel 2
Daya Serap murid di Kabupaten Wajo Tahun 2020
NO Kecamatan Jumlah
Sekolah
Sekolah Dgn Jumlah Dibawah 60 siswa
Jumlah %
1 Kec. Sabbangparu 29 12 3,13
2 Kec. Tempe 39 2 0,52
3 Kec. Pammana 39 12 3,13
4 Kec. Bola 29 5 1,30
5 Kec. Takkalala 26 11 2,86
6 Kec. Sajo Anging 20 3 0,78
7 Kec. Majauleng 39 13 3,39
8 Kec. Tanasitolo 34 4 1,04
9 Kec. Belawa 36 18 4,69
10 Kec. Maniang Pajo 16 2 0,52
11 Kec. Keera 23 3 0,78
12 Kec. Pitumpanua 31 3 1,04
13 Kec. Gilireng 16 7 1,82
14 Kec. Penrang 19 5 1,30
Jumlah 384 95 26,30
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Wajo 2020
Tabel 2 menunjukkan kemampuan institusi pendidikan dasar menyerap penduduk usia sekolah (7-12 tahun), hal yang fenomena adalah, daya serap di beberapa sekolah di Kabupaten Wajo cendrung rendah, Padahal, di Kabupaten Wajo, sekolah PAUD begitu menjamur sampai pada di desa-desa terutama sekolah PAUD yang dikelola oleh yayasan atau masyarakat. Menjamurnya Paud baik yang dikelola oleh yayasan maupun masyarakat tidak berjalan sebanding dengan rasio guru-siswa, sehingga pemanfaatan guru dan ruang kelas menjadi tidak efisien, kondisi ini disebabkan kebijakan makro yang kurang tepat.
Kendala Kebijakan makro di daerah adalah membangun sarana pendidikan (sekolah) tanpa mempertimbangkan potensi siswa dan prediksi ke depan. Prediksi ini khususnya berkaitan dengan angka pertumbuhan penduduk yang cenderung semakin terkendali, sehingga jumlah penduduk yang mengikuti pendidikan semakin berkurang. Selain itu, rasio guru-siswa yang relatif kecil juga disebabkan oleh distribusi SDM (guru) yang tidak merata serta kemampuan sekolah dalam menarik minat calon peserta didik yang rendah. Kurang meratanya sebaran guru dikabupaten wajo yang ditandai banyaknya guru PNS yang menumpuk di kota, sementara guru honorer menumpuk di desa-desa (Selviedi, 2019).
Tingginya PAUD sebagai penyedia calon peserta didik pada tingkat pendidikan dasar di Kabupaten Wajo seharusnya menjadi peluang bagi institusi pendidikan dasar di Kabupaten Wajo, namun hal itu tidak diimbangi oleh kemampuan daya serap Institusi pendidikan dasar. Organisasi Pendidikan di Kabupaten Wajo kurang membaca peluang, secara ideal Organisasi harus mampu belajar dan mengambil peluang terhadap situasi yang ada melalui pembelajaran organisasi.
Persoalan Daya serap sekolah yang rendah di Kabupaten Wajo berkaitan dengan kegagalan menciptakan keunggulan bersaing, di era yang semakin intens, sekolah sebagai sebuah organisasi membutuhkan kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya dan kapabilitas organisasi untuk memposisikan produk dan jasanya kepada pengguna (calon peserta didik) (Fan, Chang, Albanese, Wu, & Chuang, 2016).
Rendahnya kemampuan Institusi pendidikan dasar dalam menyerap siswa juga merupakan indikasi bahwa sekolah kurang inovasi dalam pengelolaan sekolah, masih menggunakan system dan metode lama untuk menarik minat calon peserta didik, hal ini sejalan dengan pendapat (Amabile, 1988) organisasi tidak dapat eksis hanya dengan mengandalkan produk dan layanan yang sama dengan cara yang sama dari waktu ke waktu. Inovasi merupakan faktor yang mendukung organisasi untuk tetap layak, efektif dan kompetitif dalam lingkungan bisnis yang dinamis Organisasi yang tidak melakukan inovasi akan mengalami kemunduran.
Gambaran Inovasi pengelolaan sekolah Secara umum tergambar pada keadaan pendidikan dasar di Kabupaten wajo yang digambarkan pada Tabel 3 berikut ini:
Tabel 3
Keadaan Pendidikan dasar Di Kabupaten Wajo 2017-2019 Keadaan Pendidikan Dasar Di
Kabupaten Wajo 2017 2018 2019
1. Angka Partisipasi Murni SD/MI(%) 95,64 97,63 97,55 2. Angka Putus sekolah SD/MI(%) 4,36 2,37 2,45 3. Angka Partisipasi Murni SMP/MTs
(%) 60,81 56,06 55,96
4. Angka Putus Sekolah SMP/MTs
(%) 39,19 43,94 44,04
Sumber: Data BPS Kabupaten Wajo 2017-2020
Tabel 3 menggambarkan kemampuan sekolah dasar menyerap penduduk usia sekolah yang rendah, angka partisipasi murni mencapai 55,96% pada tahun 2019 dengan tingkat putus sekolah yang cukup tinggi mencapai 44,04%. Angka Partisipasi Murni rendah berhubungan dengan kondisi belajar-mengajar yang rendah karena kesadaran guru untuk bersikap profesonal dalam mendidik cenderung berkurang. Akibatnya, Angka Partisipasi Murni tidak sesuai harapan.
Pemerintah telah melaksanakan Gerakan wajib belajar 9 hingga 12 tahun sudah dimulai dengan dikucurkannya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) berdasarkan rasio jumlah murid masing-masing sekolah. Namun demikian, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pun tidak berhasil mengurangi angka putus sekolah secara signifikan. Seharusnya faktor biaya sekolah tidak lagi menjadi masalah.
Kondisi pandemi Covid-19, memperparah angka Putus Sekolah. Hampir setahun, anak- anak terpaksa belajar dari rumah dengan menggunakan peralatan teknologi digital.
Metode belajar mengajar yang terbilang baru ini tentu harus didukung ketersediaan infrastruktur pendidikan secara daring, seperti perangkat smartphone, laptop hingga fasilitas internet (Awwabul, 2021).
pembelajaran jarak jauh, banyak siswa justru putus sekolah. Dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), jumlah anak yang putus sekolah meningkat
drastis terhitung sejak Januari-tahun 2021. Angka putus sekolah ini kebanyakan menimpa anak-anak dari kalangan keluarga miskin (Awwabul, 2021).
Permasalahan rendahnya daya serap murid diperparah lagi dengan rendahnya kesejahteraan guru yang ditandai masih kurangnya guru sertifikasi, serta nasib Guru Honorer yang tingkat kesejahteraanya yang tidak memadai. Nasib guru honorer di Kabupaten Wajo masih sangat jauh dari kesejahteraan. Gaji mereka masih di bawah Rp.500 ribu, (Wajo Terkini, 2020). Beberapa sumber menyatakan bahwa gaji mereka berkisar Rp 250 sampai 300 ribu setiap bulan (DPRD Wajo, 2020), padahal SDM Guru merupakan tenaga Mayoritas pengerak system pendidikan di Kabupaten wajo, seperti terlihat pada tabel 4 berikut:
Tabel 4
Jumlah Tenaga Pendidik (PNS dan Honorer) Pada Jenjang Pendidikan dasar Di Kabupaten Wajo 2019
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Wajo
Sekitar 50 % guru dikabupaten wajo adalah guru honorer dengan gaji guru honorer dan tenaga kependidikan bersumber dari dana BOS, kendati demikian tidak semua guru honorer bisa menikmati dana BOS. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu memiliki NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan), tidak memiliki sertifikasi pendidik, dan terdaftar dalam data pokok kependidikan (DAPODIK) per 31 Desember 2019.
Permasalahan lain yang dihadapi terkait dengan guru honorer di Kabupaten Wajo adalah yang berusia 35 tahun (Honorer 35+) yakni tentang batasan pengangkatan bagi guru berusia diatas 35 tahun, meski mereka telah mengabdi lama, Revisi Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2014 menjadi kendala mutlak pengangkatan mereka.
Spesifikasi umur para honorer K2 diatas 35 tahun. Sementara dalam UU, umur pengangkatan honorer K2 tidak boleh melebihi umur 35 tahun. Disisi lain Kementerian Pendidikan melarang bagi Dinas Pendidikan melakukan perekrutan tenaga pendidik honorer, sedangkan tahun 2020 di kabupaten wajo ratusan guru akan memasuki masa purnabakti. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi keberlangsungan proses belajar mengajar disejumlah sekolah.
Berdasarkan data yang diperoleh, Kabupaten Wajo kekurangan sekitar 2858 guru dengan rincian TK/PAUD kekurangan 415 guru, SD kekurangan 1821 guru, dan SMP kekurangan sebanyak 622 guru (Wajo Terkini, 2020).
Kebijakan dalam pendidikan dasar telah diupayakan melalui penciptaan iklim belajar yang menarik dan menyenangkan bagi siswa salah satunya melalui pengembangan dan inovasi kurikulum dari kurikulum KTSP ke kurikulum 2013 (Trisnawati, Gunawan, &
Nongkeng, 2016), namun belum semua sekolah pada jenjang pendidikan dasar di Kabupaten Wajo menerapkan kurikulum KTSP ke kurikulum 2013. Penerapan kurikulum 2013 di Kabupaten Wajo disajikan pada Tabel 5 berikut :
NO Jenjang Pendidikan
JUMLAH TENAGA PENDIDIK
Kekurangan Guru
PNS NON
PNS TOTAL
1 TK/PAUD 89 406 495 415
2 SD 1.543 1.532 3.081 1.821
3 SMP 696 388 1071 622
Jumlah 2328 2326 4647 2858
Tabel 5
Penerapan Kurikulum Pada Pendidikan Dasar di Kabupaten Wajo Tahun 2019
Kurikulum Kelas
I II III IV V VI VII VIII IX
KTSP 0 396 157 0 1 157 14 17 29
K13 397 1 240 397 396 240 60 57 45 Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Wajo
Kurikulum 2013 (K13) dikeluarkan pada tahun 2013-2014 sebanyak 397 sekolah di Kabupaten Wajo telah menerapkan kurikulum ini, namun belum semua sekolah menerapkan secara totalitas pada setiap kelas disekolah tersebut.
Secara umum penerapan K13 telah dilakukan secara menyeluruh pada kelas 1 dan kelas 4 di SD Kabupaten Wajo namun untuk kelas 2 masih terdapat 396 yang belum menerapkan K13, kelas 3 masih terdapat 157 kelas yang belum menerapkan K13, dan kelas 6 juga masih terdapat 157 kelas yang belum menerapkan K13. Dalam inovasi pendidikan, secara umum dapat diberikan dua buah model inovasi, Pertama "top- down model" yaitu inovasi pendidikan yang diciptakan oleh pihak tertentu sebagai pimpinan/atasan yang diterapkan kepada bawahan; seperti halnya inovasi pendidikan yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selama ini. Kedua
"bottom-up model" yaitu model inovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan, selain kedua model tersebut dalam Penerapan K13 ada hal lain yang muncul tatkala membicarakan inovasi pendidikatan yaitu; resistensi dari pihak pelaksana inovasi seperti guru, siswa, kurikulum fasilitas dan dana, serta lingkup sosial masyarakat.
Pelaksanaaan inovasi K13 tidak dapat dipisahkan dari inovator dan pelaksana inovasi itu sendiri. Inovasi pendidikan seperti yang dilakukan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) merupakan "Top-Down Inovation". Pengetahuan mendukung organisasi pembelajar. Kurikulum 2013 (K13) dalam persfektif Organisasi pembelajar dipandang sebagai organisasi pembelajaran yang merekonstruksi pengetahuan dan inovasi. pengetahuan yang semula merupakan konsep Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bergulir menjadi pengetahuan kolektif atau pengetahuan bersama pada organisasi pembelajar.
Sekolah yang menerapkan Organisasi Pembelajaran yang baik akan bersikap proaktif dan kontinyu, memfasilitasi pembelajaran semua anggotanya dan terus melakukan transformasi kearah yang lebih baik. Institusi pendidikan dasar yang menerapkan Pembelajaran organisasi akan mengacu pada pengembangan pengetahuan baru (Kurikulum terbaru) dan memiliki potensi untuk mampu merubah behavior (Prilaku Guru dalam menerapkan K13).
METODE PENELITIAN
Metode penelitian adalah metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian. Jenis metode penelitian meliputi, wawancara studi kasus, observasi, dan lain-lain (Nazir, 1988). Dapat dikatakan bahwa metode penelitian digunakan untuk mengumpulkan informasi, sehingga peneliti dapat menemukan jawaban atas permasalahan penelitiannya. Metode penelitian membicarakan bagaimana secara berurut suatu penelitian dilakukan, yaitu dengan alat apa dan prosedur bagaimana suatu penelitian dilakukan (Hamdi & Baharuddin, 2015). Dalam banyak referensi,
metode penelitian identik dengan desain penelitian, karena pengelompokan metode penelitian sangat dipengaruhi oleh desain dari penelitian yang bersangkutan. Adapun yang dimaksud dengan desain dari penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian, yang dalam pengertian yang lebih sempit desain penelitian berarti mengenai pengumpulan dan analisis data.
HASIL
Uji hipotesis untuk menjelaskan arah hubungan variabel independen dan variabel dependennya. Pengujian yang dilakukan yaitu path analysis (hasil analisis lajur) menggunakan program SmartPLS 3.0 untuk menguji model yang komplek dengan satu kali analisis regresi,
Pengujian pada konstruk formatif dimulai dengan menjabarkan hasil regresi antar indikator dengan variabel latennya kemudian dilakukan proses prediksi antar variabel latennya dengan me-regres satu variabel independen terhadap satu variabel dependen.
Hasil prediksi menghasilkan nilai mean, skala dan varian. Regresi yang dilakukan dengan α ≤ 0,1 (alpha 10%) untuk menyimpulkan tingkat signifikansi. Jika hasil pengujian hipotesis pada outer model signifikan, hal ini menunjukkan bahwa indikator dipandang dapat digunakan sebagai instrumen pengukur variabel laten. Sedangkan hasil pengujian pada inner model adalah signifikan, maka dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna variabel laten terhadap variabel laten lainnya (Jaya dan Sumertajaya, 2008: 127) Berikut ini dijabarkan pengujian hipotesis secara rinci dalam penelitian ini. ditunjukkan dalam Tabel 34.
Tabel 34
Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis
Hipotesis Eksogen Mediasi Endogen Koefisien
Direct Koefisien
Indirect Total
koefisien T
Statistik P
Value Hasil
H1 OP - KG 0,401 - 0,401 3,853 0,000 sig
H2 OP - PI 0,196 - 0,196 1,663 0,099 Tidak
sig
H3 KG - PI 0,619 - 0,619 6,126 0,000 sig
H4 OP KG PI 0,196 0,309 0,506 4,061 0,000 sig
Sumber: Data Primer diolah (2020)
1. Pengujian Hipotesis 1: Organisasi pembelajaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa Organisasi Pembelajaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keterlibatan Guru dengan koefisien jalur bertanda Positif sebesar 0.401. Hasil ini signifikan yang ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,000< α (0,05). Dengan demikian hipotesis 1 terpenuhi, yang berarti ada hubungan yang signifikan antara Organisasi Pembelajaran terhadap Keterlibatan Guru, Tanda Positif sebesar 0,401 mengindikasikan bahwa setiap satu satuan peningkatan Organisasi Pembelajaran maka akan meningkatkan Keterlibatan Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo sebesar 40,1%
2. Pengujian Hipotesis 2: Organisasi pembelajaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku inovatif Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo.
Hasil pengujian menunjukkan Koefisien Jalur sebesar 0,196 dengan tanda positif hal ini menunjjukan arah hubungan yang searah yang mengindikasikan bahwa setiap satu satuan peningkatan Organisasi pembelajaran dapat meningkatkan Prilaku inovatif sebesar 19,6% , nilai ini terlalu kecil sehingga tergambar dalam uji signifikansinya yang sebesar 0,09 yang lebih besar dari α (0,05) atau dapat
dikatakan Organisasi Pembelajaran tidak signifikan berpengaruh terhadap Prilaku Inovatif Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo , sehingga Hipotesis Kedua Ditolak atau Tidak Diterima.
3. Pengujian Hipotesis 3: Keterlibatan Guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap Perilaku Inovatif guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa Keterlibatan Guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku inovatif guru dengan koefisien jalur bertanda Positif sebesar 0,619. Hasil ini menunjjukan bahwa setiap satu satuan peningkatan Keterlibatan Guru akan meningkatkan Perilaku Inovatif Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo sebesar 61,9 %, Hasil uji signifikan menunjjukan nilai signifikansi sebesar 0,00 < α (0,05). Dengan demikian hipotesis 3 terpenuhi, Keterlibatan Guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku inovatif guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo.
4. Pengujian Hipotesis 4 Organisasi pembelajaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku inovatif dimediasi keterlibatan guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel yang secara tidak langsung memengaruhi Prilaku Inovatif melalui Keterlibatan Guru ialah Organisasi Pembelajaran, dengan koefisien jalur 0.309 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 < α (0,05) sehinnga dipastikan variabel Keterlibatan Guru memediasi hubungan Organisasi pembelajaran terhadap Prilaku Inovatif. Dengan demikian hipotesis 4 terpenuhi, Organisasi pembelajaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku inovatif dimediasi keterlibatan guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo.
PEMBAHASAN
1. Pengaruh Organisasi pembelajaran terhadap Keterlibatan Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa Organisasi Pembelajaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keterlibatan Guru dengan koefisien jalur bertanda Positif sebesar 0.401. Hasil ini signifikan yang ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,000< α (0,05). Dengan demikian ditegaskan ada hubungan yang signifikan antara Organisasi Pembelajaran terhadap Keterlibatan Guru, Tanda Positif sebesar 0,401 mengindikasikan bahwa setiap satu satuan peningkatan Organisasi Pembelajaran maka akan meningkatkan Keterlibatan Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo sebesar 40,1%
Penelitian ini mengemukakan pembelajaran organisasi harus membangkitkan emosi positif di antara karyawan seperti cinta, kegembiraan dan kebanggaan dengan menyediakan berbagai macam sumber daya. Emosi positif ini pada gilirannya terbukti mampu membangkitkan ketahanan dan keterikatan kerja karyawan (Frederickson, 2001). Adanya pengetahuan dan pemahaman tentang harapan sekolah pada gurunya akan membuat guru memiliki keterlibatan penuh dalam organisasi sekolah, karena itu, manajemen sekolah harus memberikan penjelasan yang detil tentang harapan sekolah terhadap gurunya dan tugas yang diberikan sehingga ide-ide cemerlang akan muncul dalam kepentingan pengembangan sekolah.
Semakin baik organisasi pembelajaran semakin tinggi keterlibatan guru dan semakin baik perilaku inovatif guru. Hal ini diperkuat oleh hasil persebaran kuisioner yang
menunjukkan bahwa dari 349 responden paling banyak 56% menjawab Sangat Setuju untuk pernyataan “Saya mengerahkan segala kemampuan yang saya miliki untuk profesi saya sebagai Guru (KG.2)” sebanyak 43 % menjawab setuju dan 0,3 % menjawab cukup setuju . Rata-rata item KG.2 sebesar 4,5645
2. Pengaruh Organisasi pembelajaran terhadap perilaku inovatif Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo.
Hasil pengujian menunjukkan Koefisien Jalur sebesar 0,196 dengan tanda positif hal ini menunjjukan arah hubungan yang searah yang mengindikasikan bahwa setiap satu satuan peningkatan Organisasi pembelajaran dapat meningkatkan Prilaku inovatif sebesar 19,6% , nilai ini terlalu kecil sehingga tergambar dalam uji signifikansinya yang sebesar 0,09 yang lebih besar dari α (0,05) atau dapat dikatakan Organisasi Pembelajaran tidak berpengaruh signifikan terhadap Prilaku Inovatif Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo .
Hal ini dapat dipahami bahwa penelitian ini dilakukan dalam kondisi khusus yaitu Masa Pandemic Covid 19. Siswa dan guru mengalami the loss of learning yang berjalan dalam beberapa waktu, hal ini diperparah oleh keterbatasan siswa dan guru terhadap tehnologi, yang mengharuskan guru dan siswa mengalami proses penyesuaian dengan metode dan cara mengajar baru (daring).
Dari Hasil pemantauan peneliti menemukan beberapa kendala dalam pembelajaran daring seperti: (1) Lokasi rumah tidak terjangkau jaringan internet, termasuk quota internet murid minimalis, (2) Media pembelajaran yang digunakan para guru dominan monoton dan membuat para murid merasa jenuh atau bosan. Kemudian, (3) Pembelajaran dominan belum interaktif, (4) Karakter ataupun perilaku para murid sulit dipantau, (5) Pembelajarannya cenderung tugas online, (6) Tugas diberikan para murid menumpuk. Kedala lain, (7) Penyerapan materi pelajaran sangat minimalis, dan (8) Penilaian yang dilakukan guru berupa Penilaian Harian (PH), Penilaian Tengah Semester (PTS), Penilaian Akhir Semester (PAS) termasuk Ujian Sekolah (US) kurang berintegritas.
Guru dan siswa membutuhkan waktu dan proses untuk penyesuaan perubahan system, Namun perlu menjadi perhatian bahwa the loss of learning dan kesenjangan prestasi bukanlah persoalan yang dapat diperbaiki teknologi sendiri. Karena kesenjangan inovasi dan kemampuan mengabsorsi teknologi ini menyangkut bagaimana pimpinan sekolah dan guru mengelola pembelajaran dan kurikulum, termasuk penilaian secara adil dan rigor (berkualitas, menyeluruh, dan akurat), khususnya pembelajaran yang dilakukan secara luring.
Proses Learning and Development di organisasi, pada era Pandemic, menuntut pendidikan maupun pembelajaran harus tetap bisa berjalan. Adanya covid-19 ini tidak serta merta membuat semuanya serba off, tapi ini adalah tantangan dimana yang sudah kreatif dituntut untuk inovatif.
Konteks Pandemic Covid-19 Learning Organization perlu diperhatikan agar sebuah Lembaga dapat memanfaatkan pengetahuan yang terbatas tentang Covid-19 dan mengembangkannya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan efektifitas tujuan Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang terukur dengan social impact. Peran Guru sebagai individu dalam Organisasi Pembelajaran merupakan agen bagi organisasi dalam menciptakan perbendaharaan pengetahuan yang disimpan dalam memori
organisasi. Memori organisasi yang tersimpan ini menjadi bagian penting untuk proses inovasi dan menerapkan pengetahuan baru. (Cohen & Levinthal, 1990).
3. Pengaruh Keterlibatan Guru Terhadap Perilaku Inovatif Guru Sekolah Dasar Di Kabupaten Wajo.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa Keterlibatan Guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku inovatif guru dengan koefisien jalur bertanda Positif sebesar 0,619. Hasil ini menunjjukan bahwa setiap satu satuan peningkatan Keterlibatan Guru akan meningkatkan Perilaku Inovatif Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo sebesar 61,9 %, Hasil uji signifikan menunjjukan nilai signifikansi sebesar 0,00 < α (0,05), Keterlibatan Guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku inovatif guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo.
Otonomi guru dalam bekerja, khususnya untuk mengambil keputusan dalam menghadapi masalah mengajar juga akan membuat guru semakin merasa terlibat dengan pekerjaannya. Dalam dunia pendidikan, inovasi dan perilaku inovatif merupakan isu yang penting. Guru, sebagai bagian dari institusi pendidikan, memiliki peran yang sangat krusial (Vahasantanen dan Etelapelto, 2009, Messman, dkk., 2010).
Keterlibatan kerja mendorong guru menghasilkan ide-ide baru dan mengambil inisiatif dalam mengimplementasikan ide-ide kreatif dengan dukungan budaya pembelajaran organisasi, hal ini diperkuat oleh pendapat Amabile (1996) mencatat bahwa motivasi intrinsik adalah komponen kunci dari perilaku inovatif karena perilaku positif dan ketahanan psikologis yang kuat yang berasal dari pemenuhan diri diperlukan untuk menghadapi tantangan yang muncul dalam proses inovasi.
Salah satu bentuk Keterlibatan kerja dan Prilaku Inovatif yang dilakukan oleh guru di Kabupaten Wajo dalam mengoptimalkan proses belajar mengajar di tengah pandemi Covid-19, yaitu munculnya suatu ide model inovasi pendampingan literasi dasar untuk siswa kelas 1 sekolah dasar (SD). Hal ini mereka lakukan untuk menanggulangi pembelajaran daring yang masih belum berjalan efektif.
Tujuan dilaksanakan gerakan pendampingan baca tulis dan menghitung, yakni melihat kondisi pandemi sekarang, efektifitas yang rendah pada pembelajaran yang dilakukan secara online terutama di jenjang SD. Siswa hanya diberikan tugas oleh guru melalui WhatsApp, pemberian tugas tanpa pendampingan menjadi salah satu masalah utama bagi siswa saat ini (Abeng, 2020).
Alternatif pembelajaran MMP ditengah pandemi yaitu melalui 1. Google Classromm, guru dan anak bertatapmuka melalui perangkat lunak komputer-internet dalam kondisi ini anak harus didampingi oleh orang dewasa yang paham TIK. 2. Kerjasama Guru dengan Orang tua, guru memberikan materi dan cara membimbing mendampingi anak dama MMP kepada orang tua atau orang desawa disekitaranak kemudian orang tua mempraktikkannya kepada anak. 3. Kelompok kecil, guru membentuk kelompok kelompok anak disekolah, satu kelompok terdiri 4-5 anak selanjutnya guru membuat jadwal masing-masing kelompok untuk MMP di sekolah dan 4.
Kunjung Kelompok, anak-anak yang tempat tinggalnya berdekatan dikelompokkan dalam satu kelompok belajar di rumah, satu kelompok terdiri dari 4-5 anak.Guru dan orang tua menyusun jadwal kunjungan tiap kelompok, pembimbingan dan pendampingan MMP oleh guru berjalan saat kegiatan kunjungan.
Menghubungkan keterlibatan kerja dengan perilaku inovatif guru di Kabupaten Wajo, dalam penelitian ini mengacu kepada perilaku inovatif sebagai aplikasi dari ide yang bermanfaat dalam peran kerja. Berdasarkan pendapat Slåtten & Mehmetoglu (2011) maka dapat dikatakan bahwa guru sebagai SDM Pendidikan yang merasa terlibat memiliki tingkat energi yang tinggi dan sangat antusias dengan pekerjaannya.
Karakteristik yang bervariasi dari guru secara implisit menunjukkan keadaan positif dari pikiran guru dikabupaten Wajo, Oleh karena itu keterlibatan kerja Guru diKabupaten Wajo, berhubungan dengan pengalaman emosi yang positif. Keadaan emosi yang positif dalam keterlibatan kerja berkaitan erat dengan efek yang dapat mendorong perilaku inovatif.
4. Organisasi pembelajaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku inovatif dimediasi keterlibatan guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel yang secara tidak langsung memengaruhi Prilaku Inovatif melalui Keterlibatan Guru ialah Organisasi Pembelajaran, dengan koefisien jalur 0.309 dan nilai signivikansi sebesar 0,000 < α (0,05) sehinnga dipastikan variabel Keterlibatan Guru memediasi hubungan Organisasi pembelajaran terhadap Prilaku Inovatif.
Hasil ini mendukung teori yang menyatakan keterlibatan kerja dapat memprediksi hasil kerja karyawan, kesuksesan organisasi dan performa keuangan. Selain itu, telah terjadi peningkatan tajam mengenai konsep keterlibatan kerja dan perannya dalam prestasi kerja dan keunggulan kompetitif.
Secara khusus, berbagai penelitian telah mencatat bahwa keterlibatan kerja mampu memprediksi turn over karyawan, produktivita skaryawan, kinerja finasial, kepuasan pelanggan, dan sebagainya. Akibatnya, keterlibatan kerja telah muncul sebagai elemen penting untuk kesuksesan suatu bisnis (Slåtten & Mehmetoglu, 2011) Sangat jelas bahwa penelitian ini secara khusus mempertegas bahwa penelitian empiris lainya yang berfokus pada efek mediasi keterlibatan kerja.
Perilaku inovatif dipengaruhi oleh budaya belajar organisasi melalui keterlibatan kerja.
Secara khusus, penelitian ini membuktikan dan menunjukkan bahwa budaya dan sistem organisasi saja tidak cukup tanpa keterlibatan dan komitmen penuh anggotanya. Dengan demikian, organisasi perlu mempertimbangkan bagaimana berbagai komponen organisasi pembelajaran dapat diselaraskan dengan keterlibatan kerja karyawan dan menyediakan sistem pendukung yang diperlukan untuk mengembangkan kapasitas inovatif Guru di Kabupaten Wajo.
KESIMPULAN
1. Organisasi Pembelajaran secara langsung berpengaruh terhadap Keterlibatan Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo. Peningkatan Organisasi Pembelajaran mampu meningkatkan Keterlibatan Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo.
2. Organisasi Pembelajaran secara langsung tidak berpengaruh terhadap Perilaku Inovatif guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo. Organisasi Pembelajaran yang baik mampu meningkatkan prilaku inovatif
3. Keterlibatan Guru secara langsung berpengaruh terhadap perilaku inovatif guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo. Peningkatan Keterlibatan Guru mampu meningkatkan Prilaku Inovatif.
4. Organisasi pembelajaran berpengaruh terhadap perilaku inovatif melalui keterlibatan guru Sekolah Dasar di Kabupaten Wajo. Organisasi Pembelajaran Secara Langsung meningkatkan Keterlibatan Kerja Guru yang diikuti oleh peningkatan Prilaku Inovatif.
SARAN
1. Praktisi HRD dapat memberikan intervensi yang efektif untuk meningkatkan perilaku inovatif karyawan mereka dengan mengabdikan upaya untuk menciptakan tempat kerja yang mempromosikan budaya belajar kolaboratif dan keterlibatan kerja.
2. Hasil penelitian memberikan bukti yang mendukung bahwa HRD harus dilibatkan dalam proses perencanaan strategis karena membangun budaya inovatif perlu upaya perubahan organisasi di luar mengembangkan kompetensi individu.
Mengingat peran strategis HRD dalam perubahan organisasi (Garavan, 2007), penelitian ini menyoroti fakta bahwa praktisi HRD harus proaktif dalam bekerja dengan manajer senior yang menetapkan tujuan dan strategi organisasi dan karyawan di seluruh departemen dalam organisasi.
3. analisis studi memberikan informasi penting mengenai manfaat keterlibatan kerja karyawan. Seperti yang ditunjukkan dalam sejumlah penelitian (misalnya Bakker dan Bal, 2010; Hakanen et al., 2008; Saks, 2006; Salanova dan Schaufeli, 2008), emosi positif dan energi karyawan berkontribusi pada kesuksesan organisasi.
Keterlibatan kerja adalah konsep yang membahas gairah, energi, dan komitmen karyawan untuk bekerja; oleh karena itu, praktisi HRD dapat mempertimbangkan untuk menyelaraskan keterlibatan kerja karyawan dengan keberhasilan organisasi dengan mendorong mereka untuk menambah nilai pada pekerjaan mereka.
DAFTAR RUJUKAN
Amabile, T. M. (1988). A model of creativity and innovation in organizations. Research in Organizational Behavior, 10, 123–167.
Awwabul, Z. (2021). Selama Pandemi Banyak Anak Putus Sekolah, Ini 5 Datanya!
Suara.Com. Retrieved from
https://yoursay.suara.com/news/2021/03/07/181832/selama-pandemi- banyak-anak-putus-sekolah-ini-5-datanya
BAPENNAS. (2015). RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL 2020- 2024. Jakarta.
BPS. (2020). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2019 mencapai
71, 92. Retrieved from
https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/02/17/1670/indeks-
pembangunan-manusia--ipm--indonesia-pada-tahun-2019-mencapai-71- 92.html
Direktorat Penyusanan Anggaran APBN. (2020). Informasi APBN 2019. In Kementerian Keuangan R.I. https://doi.org/10.35592/jrb.v2i2.403
DPRD wajo. (2020). Gaji Guru Honorer Rendah, Komisi IV DPRD Wajo Prihatin. Dprd- Wajokab.Go.Id. Retrieved from https://www.dprd-wajokab.go.id/gaji-guru- honorer-rendah-komisi-iv-dprd-wajo-prihatin/
Fan, H., Chang, P., Albanese, D., Wu, J., & Chuang, H. (2016). Multilevel influences of
transactive memory systems on individual innovative behavior and team innovation. Thinking Skills and Creativity, 19(xxx), 49–59.
Joko Widodo. (2019). Ketersediaan Anggaran dan Pagu Indikatif Tahun 2020.
Ranis, G., Stewart, F., & Samman, E. (2006). Human Development: Beyond the Human Development Index. Journal of Human Development, 7(3), 323–358.
https://doi.org/10.1080/14649880600815917
Sanchez-Gordon, S., & Luján-Mora, S. (2016). e-Education in countries with low and medium human development levels using MOOCs. 2016 Third International Conference on EDemocracy & EGovernment (ICEDEG), 151–158.
https://doi.org/10.1109/ICEDEG.2016.7461713
Selviedi, H. (2019). Pemkab Akan Lakukan Pemerataan Guru, Bupati Wajo: Mengabdi di Desa Akan Diberi Fasilitas Spesial. MEDIASINERGI.CO. Retrieved from https://mediasinergi.co/2019/03/04/pemkab-akan-lakukan-pemerataan- guru-bupati-wajo-mengabdi-di-desa-akan-diberi-fasilitas-spesial/
UNDP. (2020). Human Development Indicators. United Nations Development Programme.
Wajo Terkini. (2020). Larangan Perekrutan Tenaga Pendidik Honorer, Kabupaten Wajo Mulai Kekurangan Guru. Wajoterkini.Com. Retrieved from https://wajoterkini.com/larangan-perekrutan-tenaga-pendidik-honorer-
kabupaten-wajo-mulai-kekurangan-guru/