• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Tabel 2.1 : Penelitian Terdahulu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA. Tabel 2.1 : Penelitian Terdahulu"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

11 BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu

Penelitian ini dilaksanakan tidak lepas dari hasil penelitian yang sudah ada sebelumnya sebagai pertanda dan kajian dalam menulis penelitian ini. Pada penelitian-penelitian terdahulu menjelaskan beberapa hasil penelitian yang sebelumnya sudah dilakukan oleh peneliti. Tetapi penelitian tersebut masih dalam satu ruang lingkup tema yang sama. Adapun penelitian yang dijadikan perbandingan yang tidak lepas dari topik penelitian, antara lain:

Tabel 2.1 : Penelitian Terdahulu

No

Nama Peneliti dan Tahun

Penelitian

Judul Penelitian Hasil Penelitian 1 Junika Hestu

Arvianti (2017)

Keberfungsian Sosial Penyandang Tuna Netra Dalam Kehidupan Bermasyarakat

(Studi pada Alumni UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra Kota Malang)

Penyandang tuna netra mampu memenuhi kebutuhan dirinya Penyandang tuna netra telah mandiri dengan melayani dirinya dan melayani orang lain.

Persamaan :

Subyek penelitian sama-sama penyandang disabilitas netra di UPT. RSBN Malang Pendekatan penelitian ini sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif

Tehnik pengumpulan data sama-sama menggunakan metode observasi dan interview Perbedaan :

Penelitian terdahulu ini fokus pada keberfungsian disabilitas netra dalam kehidupan bermasyarakat, sedangkan penelitian ini fokus pada poses rehabilitasi sosial untuk klien disabilitas netra

2 Fitria Nasution (2018)

Rehabilitasi Sosial Disabilitas Netra Berbasis Partisipasi di

Rehabilitasi sosial. disabilitas netra di UPT. RSBN Malang diawali dengan tahap pendekatan

(2)

12 UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra Malang

awal, tahap penerimaan, tahap bimbingan sosial dan bimbingan keterampilan, dan tahap yang terakhir tahap pelepasan Persamaan

Mengambil subyek penelitian yang sama yaitu penyandang disabilitas netra di UPT.

RSBN Malang

Pendekatan penelitian ini sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif

Tehnik pengumpulan data sama-sama menggunakan metode observasi, interview dan dokumentasi

Perbedaan

Pada penelitian terdahulu focus pada partisipasi klien dalam menjalani bimbingan yang diberikan oleh lembaga, sedangkan pada penelitian ini peneliti focus pada proses rehabilitasi sosial di lembaga.

3 Arif Budiman (2018)

Pemenuhan Hak Kesehatan Bagi Disabilitas Netra di Puskesmas Janti Kota Malang

Di Puskesmas Janti Kota Malang, dalam pemenuhan hak bagi penyandang disabilitas secara menyeluruh sudah diimplementasikan dengan baik namun dari segi pelayanan masih belum secara maksimal

dilakukan seperti tidak adanya petugas khusus yang

mendampingi pasien disabilitas netra dan masih mengandalkan petugas seadanya.

Persamaan

Subyek penelitian sama penyandang disabilitas netra

Pendekatan penelitian ini sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif

Tehnik pengumpulan data sama-sama menggunakan metode observasi, interview dan dokumentasi

Perbedaan

Pada penelitian terdahulu focus membahas pemenuhan hak-hak kesehatan

penyandang disabilitas netra, implementasi yang telah dilakukan oleh Puskesmas Janti dalam pemenuhan hak kesehatan bagi disabilitas netra, sedangkan pada penelitian ini focus pada model rehabilitas sosial di UPT. RSBN Malang

Sumber: Data diolah tahun 2021

(3)

13 B. Rehabilitasi Sosial

1. Konsep Rehabilitasi Sosial

Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 Pasal 7 menjelaskan bahwa rehabilitasi sosial dimaksudkan untuk memulihkan dan mengembangkan kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar. Rehabilitasi sosial dapat dilaksanakan secara persuasif, motivatif, koersif, baik dalam keluarga, masyarakat maupun panti sosial.1

Maksud dan tujuan dari rehabilitasi sosial untuk penyandang disabilitas sendiri yaitu untuk meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas dalam beraktifitas seperti pemeliharaan kesehatan diri, pengendalian emosi, serta mampu menjalin interaksi dengan keluarga, lingkungan dan juga mampu meningkatkan kemampuan penguasaan kemampuan dan beribadah. Rehabilitasi sosial untuk penyandang disabilitas juga bertujuan untuk meningkatkan kepedulian orang tua dan keluarga terhadap keberadaan penyandang disabilitas serta meningkatkan kepedulian masyarakat dalam menerima kehadiran penyandang disabilitas dan juga memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk ambil bagian dalam kegiatan kemasyarakatan.2

Rehabilitasi adalah pemulihan kepada kondisi dari kedudukan yang terdahulu, perbaikan anggota tubuh yang disabilitas dan sebagainya agar menjadi manusia yang berguna dan menjalankan fungsi sosialnya secara wajar.3

Konsep rehabilitasi sosial mengutamakan pemulihan-pemulihan terhadap suatu inidividu untuk mengembalikan fungsi sosialnya secara wajar. Zaenal Abidin (2019) mengemukakan bahwa : “Konsep rehabilitasi sosial dimaknai sebagai upaya untuk memulihkan, memberfungsikan harga diri, kemampuan

1 Fahrudin, Adi. Pengantar Kesejahteraan Sosial. Bandung: PT Refika Aditama. Hal: 123

2 Mediadisabilitas.org (diakses pada 7 Agusutus 2019)

3 Pusat Bahasa.2002 Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke-3. Jakarta: Balai Pustaka Depdiknas.

Hal: 940

(4)

14

adaptasi terhadap norma sosial, menumbuhkan percaya diri, rasa tanggung jawab diri, keluarga, dan lingkungan sosial, sehingga mampu untuk mengembalikan fungsi sosialnya secara wajar”.4 UPT RSBN Malang sebagai lembaga yang menangani rehabilitasi sosial klien disabilitas netra dengan modifikasi kelembagaan memberikan berbagai macam proses bimbingan untuk mengembalikan fungsi sosial klien secara wajar. Seperti contoh, bimbingan Activity Daily Living (ADL) adalah bimbingan yang berupa kegiatan sehari-hari mulai dari cuci pakaian, memasak, melipat baju, merapikan kamar tidur, mengenali mata uang, harapannya dari bimbingan ini yaitu menambah rasa keberfungsian diri klien dalam melakukan aktivitas sosial. Dalam kegiatan interaksi klien diberikan bimbingan bahasa Indonesia dan Baca Tulis Braille (BTB), dan juga untuk mengenali lingkungan dan aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dibekali dengan bimbingan orientasi dan mobilitas.

Melalui bimbingan yang diberikan oleh UPT RSBN Malang untuk klien disabilitas netra dapat disimpulkan bahwa UPT RSBN Malang melakukan rehabilitasi sosial kepada klien sesuai dengan konsep rehabilitasi sosial itu sendiri.

Namun proses rehabilitasi sosial di UPT RSBN Malang memiliki hambatan dalam sumber daya instruktur yang masih kurang. Beberapa instruktur bimbingan memegang bimbingan lebih dari 1, seperti :

• Bapak Ribut Budiono di Bimbingan Olahraga dan Anatomi

• Ibu Nunik di Bimbingan Activity Daily Living dan Kerajinan Tangan

• Ibu Lilis di Bimbingan Baca Tulis Braille dan Kerajinan Tangan

• Bapak Lasiono di Bimbingan Orientasi dan Mobilitas dan Kerajinan Tangan

4 Abidin, Zaenal. (2019). Rehabilitasi Sosial Anak Berhadapan dengan Hukum di Lembaga Indonesia Safe House di Malang. Sosio Konsepsia, 8 (02). pp. 5. ISSN 2502-7921

(5)

15

• Bapak Totok di Bimbingan Orientasi dan Mobilitas dan Baca Tulis Braille

• Bapak Hariyono di Bimbingan Activity Daily Living dan Kerajinan Tangan

Kurangnya sumber daya instruktur bimbingan di UPT RSBN Malang memperhambat dalam proses rehabilitasi sosial klien disabilitas netra.

C. Konsep dan Ruang Lingkup Tunanetra 1. Konsep Tunanetra

Anak dengan kelainan fisik dapat dikategorikan pada beberapa bagian yaitu a) anak yang berkelainan pada mata, b) anak dengan gannguan pendengaran, c) anak dengan gangguan organ bicara dan d) anak cacat dengan organ gerak.

Anak dengan gangguan penglihatan disebut juga tunanetra, mereka dikatakan sebagai anak yang kurang lihat sehingga penglihatannya tidak mampu dipergunakan dalam pembelajaran secara normal walaupun sudah dibantu dengan alat bantu lihat, atau anak yang sama sekali tidak melihat sehingga memerlukan modifikasi khusus dalam pembelajarannya. Anak dengan gangguan penglihatan ini diketahui dalam kondisi: a) Ketajaman penglihatannya kurang dari ketajaman yang dimiliki normal; b) Terjadi kekeruhan pada lensa mata atau terdapat cairan tertentu; c) Posisi mata sulit dikendalikan oleh syaraf otak; d) Terjadi kerusakan susunan saraf otak yang berhubungan dengan penglihatan.

Untuk mengetahui ketunetraan dapat menggunakan tes Snellen Chart. Anak dikatakan tunanetra bila ketajaman penglihatannya (visusnya) kurang dari 6/21.

Artinya, berdasarkan tes, anak hanya mampu membaca huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang awas dapat dibaca pada jarak 21 meter.5

Anak tunanetra dapat dikelompokkan menjadi 2 macam, yaitu: 1) Buta, jika anak sama sekali tidak mampu menerima rangsang cahaya dari luar (visusnya= 0);

5 Hidayat, Asep AS dan Ate Suwandi.2013. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Tunanetra.

Jakarta: PT Luxima Metro Media. Hal: 2

(6)

16

dan 2) Low Vision, jika anak masih bisa menerima rangsang cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21, atau anak hanya mampu membaca headline pada surat kabar.6

2. Klasifikasi Tunanetra

Derajat tunanetra berdasarkan distribusinya berada dalam rentangan yang berjenjang, dari yang ringan sampai yang berat. Berat ringannya jenjang ketunanetraan didasarkan kemampuannya untuk melihat banyangan benda. Lebih jelasnya bayangan benda dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut.

- Anak yang mengalami kelainan penglihatan yang mempunyai kemungkinan dikoreksi dengan penyembuhan pengobatan atau alat optik tertentu.

- Anak yang mengalami kelainan penglihatan, meskipun dikoreksi dengan pengobatan atau alat optik tertentu masih mengalami kesulitan mengikuti kelas reguler sehingga diperlukan kompensasi pengajaran untuk mengganti kekurangannya.

- Anak yang mengalami kelainan penglihatan yang tidak dapat dikoreksi dengan pengobatan atau alat optik apapun karena anak tidak mampu lagi memanfaatkan indra penglihatannya.7

Hartfield (1975) dalam penelitiannya menemukan bahwa 51,4% siswa yang lahir tuannetra, 25,2% di antaranya mengalami ketunanetraan pada tahun pertama.

Dengan rincian 31,2% akibat indera penglihatannya tidak berfungsi, 29,7%

memiliki ketajaman penglihatan 5/200 sampai 20/200, 32,6% memiliki ketajaman penglihatan di atas 20/200, dan sisanya tidak diketahui (dalam Cruickshank, 1980).8

6 Ibid, Hal: 3

7 Efendi, Muhammad. 2006. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta: Bumi Aksara.

Hal 31-32

8 Ibid, Hal: 32

(7)

17 D. Keberfungsian Sosial

1. Konsep Keberfungsian Sosial

Konsep kebergungsian sosial tidak terlepas dari karaketeristik orang dalam konteks lingkungan sosialnya.9 Siporin (1979) mengemukakan bahwa: “social functioning refers to the way individuals or collectives (families, associations, communities, and so on) behave in order their life task and meet their needs”.

Keberfungsian sosial menunjukkan pada cara-cara individu-individu maupun kolektivitas dalam rangka melaksanakan tugas-tugas kehidupannya dan memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab itu keberfungsian sosial dapat pula diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dianggap penting dalam menampilkan beberapa peranan yang diharapkan atau yang seyogianya ditampilkan oleh setiap orang karena keanggotaannya dalam kelompok-kelompok sosial.10

Bartlett (1970) menyatakan bahwa keberfungsian sosial merupakan fokus utama pekerjaan sosial. Menurut Bartlett keberfungsian sosial adalah kemampuan mengatasi (coping) tuntutan (demands) lingkungan yang merupakan tugas-tugas kehidupan. Dalam kehidupan yang baik dan normal terdapat keseimbangan antara tuntunan lingkungan dan kemampuan mengatasinya oleh individu. Kalau terjadi ketidakimbangan antara keduanya maka terjadi masalah, misalnya tuntutan lingkungan melebihi kemampuan mengatasi yang dimiliki individu.11

Keberfungsian sosial sangat berkaitan dengan peranan-peranan sosialnya, keberfungsian sosial juga dapat diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dianggap penting dalam menampilkan beberapa peranan yang diharapkan oleh anggota atau yang dapat ditampilkan oleh setiap orang. Setiap individu mempunyai cara tersendiri untuk melaksanakan tugas-tugasnya dalam menjalanakan suatu kehidupannya untuk memenuhi kebutuhannya, akan tetapi

9 Fahrudin, Adi. Pengantar Kesejahteraan Sosial. Bandung: PT Refika Aditama. Hal: 42

10 Ibid, Hal: 43

11 Ibid, Hal: 62

(8)

18

akan ada masalah – masalah yang akan menghambat dalam proses yang akan dicapainya itu maka dalam hal ini peran individu tersebut dengan bantuan pertolongan pekerja sosial sangat dibutuhkan.

Keberfungsian sosial adalah kemampuan individu dalam melaksanakan tugas dan perannya selama dalam situasi sosial tertentu yang bertujuan untuk mewujudkan fungsi sosialnya.12

2. Indikator Keberfungsian Sosial

Keberfungsian sosial berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan dasar diri dan keluarga, serta dalam memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bahwa manusia adalah subjek dari segala aktivitas kehidupannya.13 Indikator keberfungsian sosial juga dapat dilihat dari aspek- aspek:

- Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, bagaimana penyandang tunanetra dalam memenuhi kebutuhan mulai dari pekerjaan serta segala hal yang mengganggu dalam memenuhi kebutuhan dirinya.

- Kemampuan untuk berinteraksi sosial, bagaimana untuk bisa membangun komunikasi, kepercayaan diri penyandang tunanetra dalam beradaptasi dilingkungan.

- Kemampuan untuk melaksanakan peranan sosialnya, mulai dari keluarga dan masyarakat untuk mendapat hak-haknya sebagai warga negara dan hak sosialnya.

- Kemampuan untuk memecahkan permasalahan sosial yang dimiliki, bagaimana cara yang dilakukan pada saat ketergantungan yang dirasakan penyandang tunanetra dalam memecahkan masalah sampai mandiri.

12 Achlis, Praktek Pekerjaan Sosial I, Bandung: STKS Bandung. Hal: 21

13 Suharto, Edi. 2002. Coping Strategis dan Keberfungsian Sosial:Mengembangkan Pendekatan Pekerjaan Sosial dalam Mengkaji dan Menangani Kemiskinan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

(9)

19

E. Rehabilitasi Sosial Disabilitas Netra di UPT. Rehabilitasi Sosial Bina Netra Malang

Kesejahteraan sosial merupakan hal yang penting bagi kehidupan masyarakat dunia, khususnya di Indonesia. Indonesia juga menganut paham welfare state, yang memiliki tujuan mulia yakni menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

Salah satu masalah sosial yang juga menjadi perhatian kita yaitu kesejahteraan penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas mempunyai hak untuk memperoleh kesetaraan sebagaimana yang didapatkan oleh seluruh masyarakat.

Sebagai seseorang yang memiliki keterbatasan tentunya mereka mengalami hambatan dalam menjalankan fungsi sosialnya.

Dalam kesejahteraan sosial juga mencakup pelayanan kesejahteraan sosial bagi penyandang disabilitas, agar mereka dapat memperoleh pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan yang mereka perlukan untuk dapat melaksanakan fungsi sosialnya sendiri. Kesejahteraan penyandang disabilitas sangat penting karena mencakup usaha-usaha untuk membantu mensejahterakan penyandang disabilitas agar mereka dapat berfungsi dalam lingkungan sekitarnya, dan meningkatkan kehidupan sosial penyandang disabilitas. Pelayanan kesejahteraan sosial bagi penyandang disabilitas ditujukan untuk memperbaiki kondisi mereka dan keluarga untuk memperkuat kembali, melengkapi, atau mengganti fungsi orang tua yang tidak mampu melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya dengan merubah institusi-institusi sosial yang ada atau membentuk institusi baru.

UPT. Rehabilitasi Sosial Bina Netra adalah salah satu dari 33 lembaga dibawah naungan Dinas Sosial Jawa Timur yang merupakan lembaga yang menangani masalah sosial tentunya. UPT RSBN sendiri yaitu lembaga yang menangani penyandang disabilitas netra di Jawa Timur. Di UPT RSBN dalam Seksi Rehabilitasi Sosial mempunyai beberapa program guna mengembalikan fungsi sosial dari penyandang disabilitas netra seperti :

1. Bimbingan Fisik dan Mental

- Bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan klien

(10)

20

- Terwujudnya keinginan dan kemampuan dalam meningkatkan kepercayaan diri

- Membentuk kestabilan emosi klien agar terciptanya kematangan pribadi Kegiatan yang dapat dilakukan untuk tercapainya bimbingan fisik dan mental, yaitu: bimbingan agama, olahraga, orientasi mobilitas, Activity Daily Living (ADL).

2. Bimbingan Sosial

Bimbingan sosial bertujuan untuk membentuk sikap sosial yang berlandaskan kebersamaan dan tanggung jawab sosial.

- Baca tulis Braille - Bahasa Indonesia - Berhitung

3. Bimbingan Keterampilan Usaha/Kerja

Bimbingan keterampilan usaha/kerja bertujuan agar klien dapat memiliki keterampilan kerja dan usaha untuk masa depannya yang sesuai dengan kemampuan, kondisi, dan lingkungan klien.

- Kerajinan tangan

- Industri Kerumahtanggaan - Kesenian Musik

- Seni Baca Al-Qur’an/ Qiro’at

Seperti yang dijelaskan di atas rangkaian program rehabilitasi sosial di UPT RSBN Malang untuk penyandang disabilitas netra guna meningkatkan keterampilan disabilitas netra mampu menjalani fungsi sosialnya secara wajar.

Tunanetra atau anak berkelainan penglihatan itu kehilangan salah satu organ yang penting dalam menjalani kehidupan sosial masyarakat, dimana mata sebagai indra penglihatan dalam tubuh manusia yang menduduki peringkat utama, sebab selama manusia terjaga mata akan membantu manusia untuk beraktivitas. Mata dalam sistem pancaindera manusia merupakan salah satu dari indra yang sangat penting karena mata juga dapat memberikan keindahan muka yang sangat mengagumkan.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dari opini audit sebagai pemoderasi atas pengaruh dari profitabilitas, ukuran perusahaan, komite audit, dan kepemilikan

Faktor ini berhubungan situasi kejiwaab individu yang terdiri dari ketentraman dan kenyamanan, sikap dalam memandang suatu pekerjaan, bakat dan keterampilan

Analisis cost-volume-profitdapat digunakan untuk memprediksi volume penjualan yang akan mempengaruhi laba perusahaan, sehingga dapat digunakansebagai alat perencanaan

1) Menginformasikan, kegiatan promosi yang bertujuan untuk berusaha menginformasikan konsumen akan merek atau produk tertentu baik itu produk maupun merek baru atau produk

Pada penelitian Leksono dan Herwin (2017) ditemukan bahwa variabel harga dan promosi berpengaruh secara simultan terhadap keputusan penggunaan jasa transportasi

Beberapa penelitian yang dilakukan dengan menggunakan WebQual 4.0 seperti Safuan dan Khuzaini (2018) meneliti kualitas website dengan dimensi kegunaan, kualitas informasi

Menurut Mathis (2006 :113) faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan untuk pekerjaan tersebut, tingkat usaha yang dicurahkan, dan dukungan organisasi yang

c. Pilihan penyalur, konsumen harus menentukan penyalur mana yang dipilih untuk membeli produk. Dalam hal ini konsumen memilih penyalur dapat dikarenakan faktor