• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.1.1 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam waktu dua bulan yaitu mulai tanggal 17 Maret sampai dengan 17 Mei. Penelitian ini dilaksanakan pada saat proses belajar mengajar (KBM) berlangsung yaitu pada saat mata pelajaran matematika. Adapun rincian kegiatan penelitian ini sebagai berikut:

Tabel 3.1

Rincian Kegiatan Penelitian

No Kegiatan

Maret April Mei

3 4 1 2 3 4 1 2 3 1. Observasi dan perizinan

2. Penyusunan Instrumen 3. Uji Coba instrumen 4. Analisis data validitas 5. Pengumpulan data 6. Analisis data

7. Penyusunan laporan 3.1.2 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Wahidin Kota Cirebon. Objek penelitian adalah kelas VII tahun ajaran 2013/2014. SMP Wahidin Kota Cirebon memiliki 2 orang guru mata pelajaran matematika serta masih menggunakan Kurikulun Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). SMP Wahidin Kota Cirebon memiliki 7 ruang kelas IX, 8 ruang kelas VIII, 5 ruang kelas VII, ruang kepala sekolah, ruang Wakasek bagian Kurikulum, ruang lab.

komputer, ruang administrasi/TU, perpustakaan, UKS dan OSIS.

(2)

3.2 Populasi dan Sampel 3.2.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiono, 2010: 61).

Karena dalam penelitian ini, penulis mengambil judul Pengaruh Penguasaan Materi Bilangan Pecahan Terhadap Kemampuan Siswa Menyelesaikan Soal-Soal Segitiga yang terencana dalam silabus mata pelajaran matematika kelas VII. Maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII di SMP Wahidin Kota Cirebon.

Tabel 3.2

Penyebaran Populasi Kelas VII

No Kelas Jumlah Siswa

1 VII A 33

2 VII B 32

3 VII C 29

4 VII D 30

5 VII E 33

Jumlah 157

Sumber: Data Sekolah 3.2.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Apabila jumlah populasi besar, dan tidak memungkinkan peneliti untuk mempelajari semua yang ada dalam populasi, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. (Sugiono, 2010: 62).

Berdasarkan pertimbangan dari pengertian populasi dan sampel diatas, maka dalam penelitian ini penulis mengambil sampel dengan menggunakan teknik cluster random sampling yaitu teknik sampling yang melalui dua tahap yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan sampel individu yang diambil secara random. (Sugiyono, 2011:

84-85) Oleh karena itu, peneliti mengambil secara acak satu kelas dari lima

(3)

kelas yang ada. Obyek yang menjadi sampel dalam penelitian ini yaitu kelas VII B sebanyak 32 siswa di SMP Wahidin Kota Cirebon tahun ajaran 2013- 2014.

3.3 Desain Penelitian

Desain penelitian ini merupakan semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian, dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian “One Shot Case Study” yaitu model pendekatan yang menggunakan satu kali pengumpulan data pada “satu saat”, (Arikunto, 1996: 83).

Desain ini memiliki pola :

X adalah treatment atau perlakuan dan 0 adalah tes sesudah treatment. One Shot Case Study merupakan salah satu desain yang sangat sederhana. Peneliti hanya mengadakan treatment satu kali yang diperkirakan sudah mempunyai pengaruh.

3.4 Variabel Penelitian

Menurut Sugiyono (2011: 38) variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.

3.2.1. Variabel Independent

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. (Sugiyono, 2011: 39). Dalam penelitian ini terdapat satu variabel bebas yaitu penguasaan materi operasi bilangan pecahan (X).

3.2.2. Variabel Depedent

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2011: 39). Dalam penelitian ini terdapat satu variabel terikat yaitu kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal segitiga (Y).

X 0

(4)

3.5 Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan instrumen yang berbentuk soal pilihan ganda (PG) untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami pokok bahasan bilangan pecahan dan segitiga. Instrumen yang baik terlebih dahulu dilakukan uji coba tes sehingga diketahui validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran. Dengan demikian soal-soal tes itu dapat ditentukan apakah terpakai atau tidak terpakai.

3.5.1 Validitas Instrumen

Validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen yang bersangkutan mampu mengukur apa yang akan diukur. (Arikunto, 2007: 171-172). Untuk mencari validitas, maka penulis melakuan analisis butir soal dengan menggunakan rumus korelasi product moment dengan rumus sebagai berikut :

  

   

N 2N-XYX-2NXY2Y- Y 2

X r

Keterangan :

r = Tingkat validitas N = Jumlah peserta

X = Skor dari tes pertama (instrument A) Y = Skor dari tes kedua (instrumen B)

XY = Hasil kalian skor X dengan Y untuk setiap responden X2 = Kuadrat skor instrumen A

Y2 = Kuadrat skor instrumen B

Klasifikasi interpretasi untuk validitas yang banyak digunakan adalah:

(5)

Tabel 3.3 Iterpretasi Validitas

No. Nilai r Interpretasi

1. 0,800 − 1,000 Sangat Tinggi

2. 0,600 − 0,799 Tinggi

3. 0,400 − 0,599 Cukup Tinggi

4. 0,200 − 0,399 Rendah

5. 0,000 − 0,199 Sangat Rendah (Tidak Valid) (Riduwan, 2007: 98)

Untuk α = 0,05 dan derajat kebebasan (dk = n – 2) dengan kaidah keputusan : jika r hitung > rtabel , maka item soal tersebut valid, dan pada

r hitung < rtabel , item soal tersebut tidak valid. (Riduwan, 2007: 98) Metode yang penulis pakai untuk mencari validitas instrumen dengan menggunakan software SPSS 17.0. langkah-langkahnya adalah klik Analyze – Correlate – Bivariate, masukan data ke variabel. Pada Correlations Coefficient klik Pearson, Test Of Significant nya Two-Tailed. Lalu klik Options, pilih Means And Standard Deviations pada Statistic dan pilih Exclude Cases Pairwise pada Missing Value, klik Continue lalu Ok.

(Siregar, 2011: 170-172)

Hasil tes uji coba pada materi bilangan pecahan yang dilakukan kepada 29 siswa di SMP Wahidin Kota Cirebon, berdasarkan perhitungan dengan menggunakan SPSS dengan output uji validitas pada signifikan 0,05 dimana data (N) = 29, didapat rtabel sebesar 0,381 (lihat pada lampiran tabel r). Terdapat tiga soal yang memiliki r hitung yang lebih kecil daripada rtabel . Masing-masing r hitung yang dimaksud adalah 0,365, 0,360, dan 0,290.

Karena dalam aturan validitas soal yang dianggap valid adalah r hitung > rtabel dan 0,365 < 0,381, 0,360 < 0,381 , dan 0,290 < 0,381,

(6)

maka soal yang memiliki tersebut dianggap tidak valid dan selanjutnya soal yang tidak valid tidak dipakai.yaitu soal nomor 2, 6, dan 12. (perhitungan lebih lengkapnya lihat pada Lampiran 2.2).

Selanjutnya hasil tes uji coba pada materi segitiga yang dilakukan kepada 29 siswa di SMP Wahidin Kota Cirebon berdasarkan perhitungan dengan menggunakan SPSS dengan output uji validitas pada signifikan 0,05 dimana data (N) = 29, didapat rtabel sebesar 0,381 (lihat pada lampiran tabel r). Tedapat sembilan soal yang memiliki r hitung yang lebih kecil daripada rtabel . Masing-masing r hitung yang dimaksud adalah 0,304, 0,304, 0,053, 0,283, 0,326, 0,172, 0,233, 0,072 serta 0,263. Karena dalam aturan validitas soal yang dianggap valid adalah r hitung > rtabel dan 0,304 < 0,481, 0,304 < 0,381, 0,053 < 0,381, 0,283 < 0,381, 0,326 < 0,381, 0,172 < 0,381, 0,233 < 0,381, 0,072 < 0,381 serta 0,263 < 0,381, maka soal yang memiliki tersebut dianggap tidak valid dan selanjutnya soal yang tidak valid tidak dipakai yaitu soal nomor 6, 7, 10, 11, 13, 14, 25, 26, dan 30. (perhitungan lebih lengkapnya lihat pada Lampiran 2.3).

3.5.2 Pengujian Reliabilitas

Reliabilitas adalah tingkat ketetapan, ketelitian atau keakuratan sebuah instrumen. Jadi, reliabilitas menunjukkan apakah instrumen tersebut secara konsisten memberikan hasil ukuran yang sama tentang sesuatu yang diukur pada waktu yang berlainan. (Hasan, 2002: 77).

Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil tes tersebut menunjukkan ketetapan. Dalam penelitian ini untuk menghitung reliabilitas instrumen tes uraian di ukur dengan menggunakan rumus Alpa Croanbach sebagai berikut:

r11 = 



 



 

St

Si k

k 1

1 (Riduwan, 2007: 115) Keterangan:

r11 = nilai reliabilitas

(7)

k = banyaknya butir soal St = variansi total

= jumlah varians skor tiap butir soal

Sedangkan untuk menghitung reliabilitas instrumen tes pilihan ganda diukur dengan menggunakan rumus Kuder Richardson-20 (KR-20) sebagai berikut :

r11 = 



 



 

s s

pq

k k

2 2

1

(Riduwan, 2007: 108) Keterangan :

r11 = koefisien reliabilitas internal seluruh item soal p = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar

q = proporsi subjek yang menjawab item yang salah (q = 1 – p)

= jumlah hasil perkalian p dan q k = banyaknya item

S = standar deviasi dari tes

Klasifikasi interpretasi untuk reliabilitas yang banyak digunakan adalah:

Tabel 3.4

Klasifikasi Koefisien Reliabilitas

No. Nilai r11 Kriteria

1 0,00 ˂ r11  0,20 Sangat rendah 2 0,20 ˂ r11 ≤ 0,40 Rendah 3 0,40 ˂ r11 ≤ 0,60 Sedang 4 0,60 ˂ r11 ≤ 0,80 Tinggi

5 0,80 ˂ r11 ≤ 1,00 Sangat Tinggi (Arikunto, 2002: 71)

Untuk menguji Reliabilitas dapat juga menggunakan program SPSS 17.0. Adapun langkah-langkahnya yaitu masuk ke program SPSS 17.0. Klik Analyze – Scale – Reability Analysis, pilih semua variabel kecuali variabel jumlah dan masukkan ke kotak Variabel, pada model klik Alpa, lalu klik

(8)

Statistics, pada Descriptives, Klik Item – Scale – Continue – Ok. (Siregar, 2011: 198-201)

Berdasarkan output hasil analisis uji reliabilitas soal uji coba pada materi bilangan pecahan yang menggunakan teknik Alpa Cronbach dengan SPSS 17.0 didapatkan koefisien reliabilitas sebesar 0.,47. Nilai reliabilitas instrumen sebesar 0,847, ini menunjukkan bahwa nilai reliabilitasnya sangat tinggi sehingga instrumen dapat dipercaya untuk digunakan pada penelitian.

(perhitungan selengkapnya lihat Lampiran 2.7)

Selanjutnya berdasarkan hasil analisis uji reliabilitas soal uji coba pada materi segitiga yang menggunakan teknik Alpa Cronbach dengan SPSS 17.0 didapatkan koefisien reliabilitas sebesar 0,869. Nilai reliabilitas instrument sebesar 0,869 ini menunjukkan bahwa nilai reliabilitasnya sangat tinggi sehingga instrumen dapat dipercaya untuk digunakan pada penelitian.

(perhitungan selengkapnya lihat Lampiran 2.8) 3.5.3 Indeks Kesukaran

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran (difficulty index). (Arikunto, 2007: 207)

Rumus mencari indeks kesukaran :

1 1

N N

R IK R

u u

 

(Sukardi, 2010: 137) Keterangan :

IK = indeks kesukaran item Nu = banyaknya kelompok atas

Ru = jumlah jawaban betul dari kelompok atas N1 = banyaknya kelompok bawah

R1 = jumlah jawaban betul dari kelompok bawah (Arikunto, 2007: 208)

Klasifikasi interpretasi untuk indeks kesukaran yang banyak digunakan adalah:

(9)

Tabel 3.5

Interpretasi Indeks Kesukaran

No Nilai Indeks Kesukaran (P) Interpretasi

1 0,00 ≤ P ≤ 0,30 Sukar

2 0,30 < P  0,70 Sedang

3 0,70 < P  1,00 Mudah

(Arikunto, 2007 : 210)

Berdasarkan analisis tingkat kesukaran pada Lampiran, maka soal uji coba materi bilangan pecahan dapat diidentifikasikan bahwa 3 soal atau 25% soal sukar, 7 soal atau 58,3% soal sedang, dan 2 soal atau 16,7%

selebihnya dianggap sebagai soal yang mudah. (Perhitungan selengkapnya lihat Lampiran 2.4)

Berdasarkan analisis tingkat kesukaran pada Lampiran , maka soal uji coba materi segitiga dapat diidentifikasikan bahwa 2 soal 6,7% soal sukar, 18 soal atau 60% soal sedang, 10 soal atau 33,3% selebihnya dianggap sebagai soal yang mudah. (Perhitungan selengkapnya lihat Lampiran 2.9) 3.5.4 Daya Pembeda

Daya pembeda tes adalah kemampuan tes dalam memisahkan antara subjek yang pandai dengan subjek yang kurang pandai. (Arikunto, 2007:

177)

Untuk menghitung daya pembeda tes bentuk pilihan ganda yaitu dengan menggunakan rumus :

J B J B

B B A

D A

Keterangan:

D = daya pembeda butir soal

BA = banyaknya kelompok atas yang menjawab benar JA = banyaknya subjek kelompok atas

BB = banyaknya kelompok bawah yang menjawab benar JB = banyaknya subjek kelompok bawah

(10)

(Arikunto, 2007: 177)

Klasifikasi interpretasi untuk daya pembeda yang banyak digunakan adalah :

Tabel 3.6

Interpretasi Daya Pembeda

No. Nilai Daya Pembeda (D) Interpretasi

1 0,00 ≤ D ≤ 0,20 Jelek

2 0,20 ˂ D ≤ 0,40 Sedang

3 0,40 ˂ D ≤ 0,70 Baik

4 0,70 ˂ D ≤ 1,00 Baik Sekali

(Arikunto, 2007: 218)

Berdasarkan analisis daya pembeda pada soal materi bilangan pecahan, maka soal uji coba dapat diidentifikasikan bahwa terdapat 3 soal atau 25% soal jelek, 7 soal atau 58,3% soal sedang, 2 soal atau 16,7% soal baik. (Perhitungan selengkapnya lihat Lampiran 2.5). Bardasarkan analisis daya pembeda pada soal materi segitiga, maka soal uji coba dapat diidentifikasikan bahwa terdapat 4 soal atau 13,3% soal jelek, 14 soal atau 46,7% soal sedang, 7 soal atau 23,3% soal baik, 5 soal atau 16,7%

selebihnya dianggap sebagai soal yang baik sekali. (Perhitungan selengkapnya lihat Lampiran 2.10)

3.6 Data

3.6.1 Sumber Data

1. Sumber data teoritik

Sumber data teoritik yang digunakan adalah buku-buku yang relevan, internet dan lain-lain.

2. Sumber data empirik

Sumber data empirik yaitu sumber data yang paling utama sebagai sumber yang akurat, dimana data tersebut dihasilkan dari penelitian dan pengamatan secara langsung. Adapun sumber data

(11)

empirik pada penelitian disini adalah siswa kelas VII SMP Wahidin Kota Cirebon.

3.6.2 Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. (Ridwan, 2010: 51).

Metode (cara atau teknik) merujuk suatu kata yang abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihatkan penggunaannya melalui: angket, wawancara, pengamatan, ujian (tes), dokumentasi dan lainnya.

1. Definisi Konseptual

a. Penguasaan Materi Bilangan Pecahan

Penguasaan materi bilangan pecahan adalah proses, cara, perbuatan menguasai materi bilangan pecahan yang memungkinkan siswa mengelompokkan konsep kedalam contoh dan non contoh yang terdiri dari konsep murni, konsep notasi dan konsep terapan.

b. Kemampuan Siswa Menyelesaikan Soal-Soal Segitiga

Kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal segitiga adalah suatu kecakapan siswa dalam menyerap dan memahami pelajaran serta kecakapan siswa dalam mengerjakan atau menyelesaikan soal segitiga.

2. Definisi Operasional

a. Penguasaan Materi Bilangan Pecahan

Penguasaan materi bilangan pecahan merupakan skor total yang diperoleh siswa dari hasil pengisian tes uraian yang dilakukan secara tertulis tentang materi bilangan pecahan yang diberikan peneliti kepada responden.

b. Kemampuan Menyelesaikan Soal-Soal Segitiga

Kemampuan menyelesaikan soal-soal segitiga merupakan skor total yang diperoleh siswa setelah mengerjakan soal pilihan

(12)

ganda tentang materi segitiga yang diberikan peneliti kepada responden.

3. Tes

Tes disini digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif serta untuk menganalisis informasi tentang kemampuan siswa.

(Sukardi, 2010: 11). Tes dalam penelitian ini disajikan secara tertulis berupa soal-soal uraian yang sesuai dengan indikator penguasaan materi dan soal pilihan ganda yang sesuai dengan kompetensi dasar pembelajaran matematika. Dalam penelitian ini peneliti memberikan tes berbentuk soal dimana tes ini akan mengukur besar penguasaan dan kemampuan siswa dalam pokok bahasan yang terkait. Setelah siswa diberi tes, selanjutnya peneliti memberikan penilaian berdasarkan hasil pengerjaan soal. Setelah itu dilakukan perhitungan rata-rata dari nilai seluruh siswa. Nilai rata-rata yang dihasilkan akan dikategorikan berdasarkan tingkat penguasaan atau kemampuan siswa.

Kriteria tingkat penguasaan atau kemampuan siswa akan diinterpretasikan berdasarkan tabel berikut :

Tabel 3.7 Kriteria Hasil Tes

Nilai Kategori

86 – 100 Baik sekali

71 – 85 Baik

61 – 70 Cukup

50 – 60 Rendah

< 50 Rendah sekali (Sudijono, 2008: 35)

4. Observasi

Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan.

(Riduwan, 2010: 57). Hasil observasi ini digunakan sebagai pelengkap dalam studi pendahuluan.

(13)

3.7 Teknik Analisis Data

Untuk menemukan kesimpulan yang tepat dari penelitian ini, maka kita terlebih dahulu harus menganalisis data yang telah diperoleh untuk mendapatkan hasil hipotesis tersebut. Adapun langkah-langkah dalam analisis datanya adalah sebagai berikut:

3.7.1 Uji Prasyarat Analisis

Menurut Riduwan (2008:188) ada beberapa langkah dalam uji prasyarat diantaranya adalah:

1. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui kenormalan distribusi beberapa data. (Siregar, 2011: 245) Uji normalitas yang digunakan pada penelitian ini adalah uji Kolmogorov Smirov. Uji Kolmogorov Smirnov. Uji statistiknya adalah nilai D yang didefinisikan sebagai berikut:

 

x F F Dsupx n  Keterangan:

D = Nilai deviasi absolut maksimum Fn = Fungsi sebaran kumulatif empiric

F = Fungsi peluang kumulatif teoritis dari sebaran normal

(http://books.google.co.id.books/about/AppliedStatisticsUsing_SPSS_

STATISTICA.html?id=_CIEfACAAJ&redir_esc=y) Hipotesis nomalitas yang digunakan adalah:

Ho : Data berdistribusi normal Ha : Data tidak berdistribusi normal

Kaidah Pengujian yang digunakan adalah: Jika probabilitas Sig.

> 0,05, maka Ho diterima. Jika probabilitas Sig. < 0,05, maka Ho ditolak

Penulis menggunakan bantuan program SPSS 17.0 untuk menguji normalitas. Adapun langkah-langkah yang digunakan adalah:

a. Klik Analysis – Descriptive Statistics - Explore

(14)

b. Masukan semua variabel pada Dependent List

c. Klik Plots, klik Steam And Leaf, klik Histogram, kemudian klik Normalityplots With Test

d. Piih Continu, Ok (Siregar, 2011: 255-256) 2. Uji Homogenitas

Tujuan dari uji homogenitas untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan dalam penelitian bervarian homogen atau tidak. Uji homogenitas yang digunakan adalah uji levene dengan rumus:

   

    

  k

i Ni

j

i ij k

i i i ij

Z Z k

Z Z N k

W N

1 1

2 1

2

1 Keterangan:

W= Hasil tes

K= Jumlah kelompok yang berbeda yang dimiliki sampel N= Jumlah total sampel

N = Jumlah sampel dalam kelompok ke-i i

Z = Nilai sampel ke-i i

Zij= Nilai sampel ke-j dari grup ke-I (http://en.wikipedia.org/wiki/Levene’s_test)

Adapun langkah-langkah uji levene dengan menggunakan SPSS adalah :

a. Klik Analyze – Descriptive – Explore

b. Masukan variabel ke Dependent List dan Factor List c. Pada bagian Display, pilih Plots

d. Pilih plot dan klik None pada Boxplot, Histogram pada Desriptive, ceklis pada Normality Plots With Tests, klik Power Estimation pada Spread Vs. Level With Levene Test

(15)

3.7.2 Analisis Independensi dan Regresi Kelinieran 1. Uji Linieritas Regresi

Uji linieritas regresi dilakukan untuk mengukur derajat keeratan hubungan. Memprediksi besarnya arah hubungan itu serta meramalkan besarnya variabel dependen jika nilai variabel independen diketahui.

Mencari uji independen dan kelinieran regresi, dengan langkah langkah sebagai berikut :

a. Mencari angka statistik X, Y, X2,Y2,XY,s,x,a,b b. Mencari jumlah kuadrat regresi dengan rumus :

 

 

JK ga n

2

Re

Y

c. Mencari jumlah kuadrat regresi dengan rumus:

 

  





  

n JK Y

ba reg

- X XY b

d. Mencari rata-rata dan jumlah kuadrat regresi, jumlah kuadrat residu dengan rumus:

 ba g a

s JK g JK

JK Re

Re 2

Re

Y  

e. Mencari rata-rata jumlah kuadrat regresi kuat regresi dengan rumus:

 a g a

g JK

RJKReRe

f. Mencari rata-rata jumlah kuadrat regresi dengan rumus :

 ba g ba

g JK

RJKReRe

g. Mencari rata-rata kuadrat residu dengan rumus :

2

Re

Re  

n RJK s JK s

(16)

h. Mencari jumlah kuadrat error dengan rumus :

    





k n

Y Y JKE

2 2

i. Mencari jumlah kuadrat tuna cocok dengan rumus :

E s

TC JK JK

JKRe

j. Mencari rata-rata kuadrat tuna cocok dengan rumus :

2

k RJKTC JKTC

k. Mencari rata-rata jumlah kuadrat error dengan rumus :

k n RJKE JKE

 

l. Mencari nila F hitung dengan rumus :

E TC hitung

RJK FRJK Tabel 3.8

Daftar Analisis Varians untuk Uji Kelinieran Regresi Sumber

varians

dk JK RJK Fhitung Ftabel

Total n

Y 2 - Linier Linier

Regresi (a) Regresi (b/a) Residu

1 1 n - 2

JKReg(a) JKReg(b/a) JKRes

JKReg(a) JKReg(b/a) JKRes

Keterangan Tuna cocok

Kesalahan (Error)

k - 2 n - k

JKTC JKE

RJKTC JKE

m. Menentukan keputusan pengujian

Jika FhitungFtabel, artinya data berpola linier Jika FhitungFtabel, artinya data berpola tidak linier (Riduwan, 2008: 127-129)

(17)

Adapun langkah-langkah yang dapat digunakan pada SPSS 17.0 adalah klik Analyze – Regression – Linear, pindahkan variabel Y ke Dependent dan variabel X ke Independent. Pilih Statistic, pada pilihan Regression Coefficient pilih Estimate, Model Fit dan Descriptive, pada pilihan Residual pilih Case Wise Diagnostics dan cek All Cases.

Tekan Continue, klik Ok.

(Sarwono, 2006: 118-119)

2. Persamaan Regresi

Uji regresi ini digunakan untuk meramalkan (memprediksi) variabel terikat (Y) bila variabel bebas (X) di ketahui. Persamaan regresi sederhna dirumuskan dengan :

bX

Y

a

Dimana :

Y

= subjek variabel terikat yang diproyeksikan

X = variabel bebas yang mempunyai nilai tertentu untuk diprediksikan

a = nilai konstanta harga Y jika X = 0

b = nilai arah sebagai penentu ramalan (prediksi) yang menunjukkan nilai peningkatan (+) atau nilai penurunan (-) variabel Y.

 

  

- X 2 n. 2

Y . X - XY n.

X b

n X b.

-

Y 

a

(Riduwan, 2010: 244)

3. Uji Hipotesis (Koefisien Korelasi, Regresi, Koefisien Determinasi) a. Koefisien Korelasi

Uji korelasi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas (independent) dengan variabel terikat (dependent).

(18)

(Riduwan, 2008: 138). Rumus uji korelasi yang digunakan yaitu product moment dari Pearson.

Korelasi product moment pearson dilambangkan dengan (r) dengan ketentuan nilai -1 ≤ r ≤ +1. Apabila nilai r = -1 artinya korelasinya negatif sempurna, r = 0 tidak ada korelasi, dan r = 1 berarti korelasinya sangat kuat.

Tabel 3.9

Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r Tingkat Hubungan 0,00 ≤ r ≤ 1,99 Sangat Rendah 0,20 ≤ r ≤ 0,399 Rendah

0,40 ≤ rxy < 0,59 Cukup Kuat 0,60 ≤ r ≤ 0,799 Kuat

0,80 ≤ r ≤ 1,00 Sangat Kuat (Riduwan, 2008: 138)

b. Koefisien Determinasi

Perhitungan ini dimanfaatkan untuk menyatakan besar kecilnya pengaruh varabel X terhadap Y, yaitu dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

KP = r2 x 100%

Keterangan:

KP = Koefisien Determinasi r = Koefsien korelasi (Riduwan, 2010: 228)

(19)

c. Uji Hipotesis

1) Hipotesis statistik

Ho : Tidak ada pengaruh pengusaan materi bilangan pecahan terhadap kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal segitiga.

Ha : Ada pengaruh penguasaan materi Bilangan Pecahan terhadap kemampuan siswaa menyelesaikan soal-soal Segitiga.

2) Dasar Pengambilan Keputusan

Probabilitas Sig. > 0,05, maka Ho diterima.

Artinya tidak ada pengaruh penguasaan materi Bilangan Pecahan terhadap kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal Segitiga.

Probabilitas Sig. < 0,05, maka Ho ditolak.

Artinya ada pengaruh penguasaan materi Bilangan Pecahan terhadap kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal Segitiga.

3) Langkah mengambil keputusan

Dalam uji hipotesis ini, keputusan diambil berdasarkan uji regresi data.

Referensi

Dokumen terkait

Guru memberi motivasi peserta didik secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi mendiagnosis kerusakan mekanisme blok silinder dan kelengkapannya dalam

Jika Anda ingin menonaktifkan audio panel belakang (hanya didukung bila mengguna- kan modul audio panel depan HD), lihat Bab 5, “Mengkonfigurasi Audio 2/4/5.1/7.1 Kanal”. •

Dalam tabel program acara dan deskripsi acara di atas dapat dilihat bahwa dari keseluruhan jadwal acara selama seminggu di Radio Elisa Fm terdapat format siaran yang mayoritas adalah

Analisis situasi disini dilakukan dengan memperhatikan faktor SWOT (strenght, weakness, opportunity, dan threads) yang ada pada situasi sebelum menentukan strategi

b) Implementansi kebijakan pengurangan risiko bencana. Dimana potensi kerentanan akan lebih banyak berbicara tentang aspek teknis yang berhubungan dengan dimensi

Metode analisis data yang dilakukan adalah metode deskriptif. Metode deskriptif digunakan untuk mengungkapkan gejala-gejala atau keadaan yang terjadi pada subjek

Hal ini mencerminkan bahwa siswa Madrasah Aliyah Darussalam Agung Buring Malang yang memiliki adversity quotient tinggi cenderung memiliki regulasi diri yang

Pada tanaman kelapa sawit muda, jumlah bunga jantan lebih sedikit dibandingkan dengan bunga betina, tetapi perbandingan tersebut akan berubah sesuai dengan