PERANAN MODEL PEMBELAJARAN PARALEL DIKOMBINASIKAN DENGAN COOPERATIVE LEARNING DAN DIRECT INSTRUCTION DALAM PEMBELAJARAN BILINGUAL TERHADAP HASIL BELAJAR IPA FISIKA SISWA
KELAS VIII RSBI SMP NEGERI 1 PINRANG
Muhammad Gazali, Jasruddin D.M.1), M. Agus Martawijaya 2) Jurusan Fisika Universitas Negeri Makassar
ABSTRAK
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi experimental design) yang bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan hasil belajar IPA Fisika siswa yang diajar dengan model pembelajaran paralel dikombinasikan dengan cooperative learning dan direct instruction dalam pembelajaran bilingual, (2) mendeskripsikan hasil belajar IPA Fisika siswa yang diajar dengan pembelajaran bilingual konvensional, dan (3) mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar IPA Fisika siswa yang diajar dengan model paralel dikombinasikan dengan cooperative learning dan direct instruction dalam pembelajaran bilingual dan yang diajar dengan pembelajaran bilingual konvensional. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas VIII1 dan VIII2 RSBI SMP Negeri
1 Pinrang, yang berjumlah 59 orang yang terdiri dari dua kelas, sedangkan objek dalam penelitian ini hasil belajar IPA Fisika siswa Kelas VIII1 dan VIII2 RSBI SMP Negeri 1 Pinrang Tahun Pelajaran 2010/2011. Desain yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Intact Group Comparison atau Static Group Comparison. Hipotesis penelitian adalah: terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar IPA Fisika siswa yang diajar dengan model paralel dikombinasikan dengan cooperative learning dan direct instruction dalam pembelajaran bilingual meningkat dibandingkan dengan yang diajar dengan pembelajaran bilingual konvensional pada Kelas VIII RSBI SMP Negeri 1 Pinrang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes hasil belajar IPA Fisika yang memenuhi kriteria valid dengan reliabilitas soal 0,7682 sebanyak 20 butir dalam bentuk soal uraian. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar IPA Fisika siswa setelah di ajar dengan model pembelajaran paralel dikombinasikan dengan cooperative learning dan direct instruction dalam pembelajaran bilingual untuk kelas eksperiman sebesar 82,56 dengan standar deviasi sebesar 6,35, sedangkan untuk kelas kontrol sebesar 89,86 dengan standar deviasi sebesar 1,17. Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa hasil belajar IPA Fisika siswa kelas VIII RSBI SMP Negeri 1 Pinrang tahun ajaran 2010/2011 yang diajar dengan model paralel dikombinasikan dengan cooperative learning dan direct instruction dalam pembelajaran bilingual dan yang diajar dengan pembelajaran bilingual konvensional memiliki perbedaan yang berarti.
Kata kunci: eksperimen semu, model pembelajaran terpisah (parallel), pembelajaran bilingual, statistik deskriptif dan statistik inferensial.
This research is a quasi-experimental research which aimed to: (1) describe the student’s science physics learning achievements who are taught by parallel learning model combined with cooperative learning and direct instruction in bilingual education, (2) describe the student’s science physics learning achievements who are taught by conventional bilingual education, and (3) determine whether there are significant differences of the student’s science physics learning achievements who are taught between parallel learning model combined with cooperative learning and direct instruction in bilingual education and conventional bilingual education. Subjects in this research were students at Grade VIII1 and VIII2 Pilot International Standard School SMP Negeri 1 Pinrang, which attended by 59
students, consisting of two classes, while the objects in this research were the student’s science physics learning achievements at Grade VIII1 and VIII2 RSBI SMP Negeri 1 Pinrang, School Year of 2010/2011. Research design used
in this study was Static Group Comparison or Intact Group Comparison. Research hypothesis was: there is significant differences of the student’s science physics learning achievements at Grade VIII RSBI SMP Negeri 1 Pinrang who are taught between parallel learning model combined with cooperative learning and direct instruction in bilingual education and conventional bilingual education. Research instruments used was the test results to learn science physics that fulfill the criteria of reliability about 0.7682 valid with as many as 20 points in essay form. The results of descriptive analysis showed that the average score of student’s science physics learning achievements after been taught by parallel learning model combined with cooperative learning and direct instruction in bilingual education of experiment class was 82.56 with a standard deviation of 6.35, while those on control class was 89.86 with a standard deviation of 1.17. Inferential analysis results showed that the student’s science physics achievements at Grade VIII RSBI SMP Negeri 1 Pinrang School Year of 2010/2011 who are taught by parallel learning model combined with cooperative learning and direct instruction in bilingual education has significant difference to conventional bilingual education.
Keywords: quasi-experiment, parallel learning model, bilingual education, descriptive statistic, inferential analysis.
Pendidikan merupakan kebutuhan pokok bagi seluruh manusia. Dengan meningkatnya kebutuhan manusia akan pendidikan tersebut, manusia tak henti-hentinya melakukan inovasi-inovasi yang diharapkan mampu memberikan sumbangsih positif bagi peningkatan mutu pendidikan, khususnya di negara yang kita cintai ini.
Pada Undang-Undang SISDIKNAS (UU SISDIKNAS) Nomor 20 Tahun 2003 tertuang upaya peningkatan mutu pendidikan, tepatnya pada pasal 50 ayat 3 yang berbunyi:
“Pemerintah dan/atau pemerintah daerah
menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk dikembangkan menjadi
satuan pendidikan yang bertaraf Internasional”.
Implementasi dari undang-undang tersebut, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah akan melaksanakan proses layanan pendidikan yang berkualitas dan menghasilkan lulusan yang diakui secara nasional dan internasional. Salah satu realisasi dari layanan pendidikan yang berkualitas ini adalah dengan menyelenggarakan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)[ CITATION m \l 1033 ].
SMP Negeri 1 Pinrang sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di tingkat sekolah menengah pertama yang ada di Kabupaten Pinrang memiliki visi “Unggul dalam Prestasi, Berpijak pada Nilai-nilai Agama”. Visi ini diwujudkan baik dalam proses pembelajaran yang bersifat intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Hal ini dapat dilihat dari prestasi siswa-siswa di berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti sebagai juara dalam Olimpiade Sains Nasional Tingkat SMP dan Lomba Debat Bahasa Inggris Tingkat Kabupaten, sedangkan pada bidang ekstrakurikuler siswa-siswi sekolah tersebut berhasil memperoleh juara di berbagai kegiatan,
seperti Praja Muda Karana (PRAMUKA), Palang Merah Remaja (PMR), olahraga, dsb.
Fisika sebagai salah satu cabang ilmu sains (Ilmu Pengetahuan Alam, IPA) merupakan salah satu mata pelajaran yang selama ini menjadi momok yang menakutkan bagi siswa, khususnya bagi siswa sekolah lanjutan.
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan ketika kami melaksanakan Program KKN-PPL Terpadu Angkatan I Tahun 2010 di RSBI SMP Negeri 1 Pinrang, diamati bahwa proses pembelajaran IPA Fisika di sekolah tersebut menggunakan dua bahasa pengantar, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Selama ini siswa di sekolah tersebut masih mendapatkan kesulitan dalam mempelajari IPA Fisika jika diajarkan dalam satu bahasa pengantar saja, yakni Bahasa Indonesia. Belum lagi jika harus menggunakan dua bahasa pengantar sekaligus, sebagai konsekuensi yang harus diambil ketika sekolah kita berlabelkan RSBI atau SBI. Penerapan English for
Mathematics and Science di sekolah-sekolah
RSBI dan SBI seperti halnya pada SMP Negeri 1 Pinrang ini berdampak pada hasil belajar IPA Fisika siswa, terkhusus bagi siswa-siswi yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang masih relatif rendah.
Pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat SMP di Kabupaten Pinrang pada tahun pelajaran 2010/2011, terlihat bahwa siswa-siswi RSBI SMPN 1 Pinrang mendapatkan Juara I untuk mata pelajaran IPA Biologi dan IPS dari empat mata pelajaran yang dilombakan, yakni IPA Biologi, IPA Fisika, Matematika, dan IPS. Hal ini menjadi salah satu informasi yang menjadi bahan peneliti untuk mengadakan penelitian di sekolah tersebut.
DIKOMBINA-SIKAN DENGAN COOPERATIVE LEARNING
DAN DIRECT INSTRUCTION DALAM PEMBELAJARAN BILINGUAL TERHADAP HASIL BELAJAR IPA FISIKA PADA SISWA
KELAS VIII RSBI SMP NEGERI 1 PINRANG”.
Berdasarkan latar belakang yang telah kami paparkan di atas, maka kami menyusun beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) Seberapa besar hasil belajar IPA Fisika siswa yang diajar dengan model pembelajaran paralel dikombinasikan dengan
Cooperative Learning dan Direct Instruction
dalam pembelajaran bilingual pada Kelas VIII RSBI SMP Negeri 1 Pinrang? (2) Seberapa besar hasil belajar IPA Fisika siswa yang diajar dengan pembelajaran bilingual konvensional pada Kelas VIII RSBI SMP Negeri 1 Pinrang? (3) Apakah terdapat perbedaan hasil belajar IPA Fisika siswa yang signifikan antara yang diajar dengan model pembelajaran paralel dikombinasikan dengan Cooperative Learning
dan Direct Instruction dan yang diajar dengan pembelajaran bilingual konvensional pada Kelas VIII RSBI SMP Negeri 1 Pinrang?
Berdasarkan rumusan masalah yang diungkapkan sebelumnya, maka adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Untuk mendeskripsikan hasil belajar IPA Fisika siswa yang diajar dengan model pembelajaran paralel dikombinasikan dengan Cooperative Learning
dan Direct Instruction dalam pembelajaran bilingual pada Kelas VIII RSBI SMP Negeri 1 Pinrang. (2) Untuk mendeskripsikan hasil belajar IPA Fisika siswa yang diajar dengan pembelajaran bilingual konvensional pada Kelas VIII RSBI SMP Negeri 1 Pinrang. (3) Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar IPA Fisika siswa yang signifikan antara yang diajar dengan model pembelajaran paralel dikombinasikan dengan Cooperative Learning
dan Direct Instruction dan yang diajar dengan pembelajaran bilingual konvensional pada Kelas VIII RSBI SMP Negeri 1 Pinrang, Kab. Pinrang.
Pembelajaran bilingual merupakan bentuk pembelajaran dengan menggunakan dua bahasa berbeda. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan pembelajaran bilingual adalah pembelajaran dengan menggunakan Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pembelajaran bilingual dilakukan untuk menjembatani siswa mempelajari materi pelajaran yang tersedia dalam bahasa Inggris, atau mengkomunikasikan materi pelajaran yang dipelajari dalam Bahasa Indonesia dalam bahasa Inggris. Pembelajaran bilingual dimaksudkan untuk membantu peserta didik mempelajari materi pelajaran yang tersedia dalam bahasa Inggris bagi siswa yang
sehari-hari menggunakan Bahasa
Indonesia[ CITATION Way10 \l 1033 ].
Menurut Marleny (2008), model pembelajaran paralel adalah model yang menunjang perkembangan bahasa siswa yang difasilitasi melalui kegiatan penunjang di luar pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam Bahasa Inggris yang diikuti siswa di sekolah.
Pada model pembelajaran ini, siswa menerima pelajaran tambahan berupa English for Mathematics and Science yang dilakukan oleh guru Bahasa Inggris dan/atau guru MIPA. Materi pelajaran tambahan ini didasarkan pada kebutuhan dan urutan penyajian tema-tema pelajaran yang ada pada pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris. Fasilitasi pemerolehan
English for Mathematics and Science melalui pelajaran bahasa Inggris reguler sebetulnya dimungkinkan, tetapi diperkirakan waktu yang disediakan untuk itu tidak mencukupi karena pelajaran bahasa Inggris reguler perlu mengikuti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang tidak kompatibel dengan kebutuhan
English for Mathematics and Science.
Model pembelajaran paralel ini cocok diterapkan pada sekolah yang guru MIPA-nya memiliki pengetahuan kebahasaan yang terbatas dan team-teaching antara guru bahasa
Inggris dan guru MIPA tidak dapat berjalan dengan baik. Dalam model ini, pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris berlangsung dengan tahapan-tahapan pembelajaran seperti pada pembelajaran MIPA pada umumnya. Model ini agak mahal dan memerlukan waktu cukup banyak tetapi efektif dalam pencapaian tujuan (peningkatan kemahiran berbahasa Inggris) [ CITATION Ruq09 \l 1033 ].
Adapun tahapan dari model pembelajaran paralel adalah sebagai berikut: (1) Persiapan (Preparation). Pada tahapan ini, guru mempersiapkan hal-hal yang akan digunakan dalam proses pembelajaran, seperti penyusunan Rencana Pembelajaran (Lesson Plan), penyediaan sumber-sumber pembelajaran yang akan menunjang proses pembelajaran seperti alat peraga, media animasi, atau media-media pembelajaran lainnya yang berbasis ICT/TIK, sebagaimana panduan penyelenggaraan pembelajaran SBI/RSBI. (2) Pembelajaran (The Lesson).
Pada tahapan ini, proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, dimana guru menyampaikan materi Matematika dan IPA yang terdapat dalam Student’s Book dengan memanfaatkan media pembelajaran berbasis ICT/TIK dan siswa dapat mengajukan pertanyaan dalam bahasa ibu mereka. (3)
Penguatan/Pengayaan (Reinforcement /
Enrichment). Pada tahapan terakhir ini, guru menyediakan waktu di luar jam pelajaran yang ada di sekolah, dimana dalam tahapan ini guru menyampaikan istilah-istilah, kosa kata, tata bahasa, ekspresi, dan sebagainya dengan menggunakan English for Mathematics and
Science yang telah disediakan oleh
penyelenggara SBI/RSBI dalam Teacher’s Book. Pada tahapan ini, guru MIPA yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang belum memadai dapat dibantu oleh guru Bahasa
Inggris dalam mengajarkan English for Mathematic and Science[ CITATION Ruq09 \l 1033 ].
Pembelajaran kooperatif
(cooperative learning) merupakan
bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen [ CITATION Rus10 \l 1033 ]: 202). Sedangkan menurut Natsir (2007), pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda..
Menurut Natsir (2007), model pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu misalnya pengetahuan tentang teori atom, susunan dan nama-nama planet yang masuk dalam tatasurya kita. Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu misalnya, pengetahuan tentang cara menggunakan neraca, ampere-meter, osiloskop, pengetahuan tentang cara melakukan penelitian dan sebagainya.
HIPOTESIS PENELITIAN
pada Kelas VIII RSBI SMP Negeri 1 Pinrang”.
H
0:
¯
x
1≠¯
x
2H
1:
¯
x
1=¯
x
2¯
x
1 : Rata-rata hasil belajar IPA Fisika siswayang diajar dengan model pembelajaran paralel dikombinasikan dengan
cooperative learning dan direct
instruction dalam pembelajaran
bilingual.
¯
x
2 : Rata-rata hasil belajar IPA Fisika siswayang diajar dengan pembelajaran bilingual konvensional.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi experimental design). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas RSBI SMP Negeri 1 Pinrang, mulai dari Kelas VII yang terdiri dari 7 kelas, Kelas VIII yang terdiri dari 2 kelas, dan Kelas IX yang hanya terdiri dari 1 kelas. Dengan teknik
purposive sampling, terpilihlah Kelas
VIII1 yang terdiri dari 30 orang sebagai
kelas perlakuan (eksperimen) dan Kelas VIII2 sebagai kelas kontrol yang terdiri
dari 29 orang pada RSBI SMP Negeri 1 Pinrang untuk Semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran paralel dikombinasikan dengan cooperative learning dan direct instruction dalam pembelajaran bilingual, dan variabel tak bebasnya adalah hasil belajar IPA Fisika siswa yang dilihat dari aspek kognitif, afektif, psikomotorik, dan penguasaan teknologi.
Gambaran desain penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
[ CITATION Set10 \l 1033 ].
Ket:
X : Perlakuan (Treatment)
O1 : Tes yang dilakukan pada kelas
eksperimen
O2 : Tes yang dilakukan pada kelas kontrol
- - - : Tidak dilakukan pengacakan
Definisi operasional variabel penelitian adalah sebagai berikut: (1) Model pembelajaran paralel yang dikombinasikan dengan model
cooperative learning dan direct instruction dalam pembelajaran bilingual adalah model pembelajaran dua bahasa yang menunjang perkembangan bahasa siswa yang difasilitasi melalui kegiatan penunjang di luar pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam Bahasa Inggris yang diikuti siswa di sekolah dimana model pembelajaran ini dikombinasikan dengan model cooperative learning dan direct instruction yang sintaksnya diintegrasikan. (2) Pembelajaran bilingual konvensional adalah pembelajaran yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa dalam sumber dan media pembelajaran akan tetapi dijelaskan dalam Bahasa Indonesia. (3) Hasil belajar IPA Fisika siswa adalah skor yang dicapai siswa setelah mengikuti pembelajaran.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu tes tertulis untuk melihat hasil belajar aspek kognitif. Soal yang dibuat berjumlah 20 butir, kemudian divalidasi oleh validator ahli oleh Drs. M. Agus Martawijaya, M.Pd. Setelah instrumen diujikan, kemudian dilanjutkan dengan menghitung reliabilitas untuk mengetahui konsistensi instrumen yang digunakan.
Untuk mencari koefisien reliabilitas instrumen tes uraian, kita menggunakan rumus :
α=r11=
(
k k−1)
(
1−Σ Si2
St2
)
Dimana :
JSPF Vol. 1 Mei 2012 5 X O1
Si2=Σ Xi 2−(Σ Xi)2
n n
St2= Σ X
t2−
(Σ Xt)2 n n
[ CITATION Nur10 \l 1033 ]: 177)
Keterangan :
k = Banyaknya butir soal uraian
n = Banyaknya sampel
Σ Si2 = Jumlah varians skor setiap item
St
2 = Varians skor totalData yang telah terkumpul dari kedua kelas sampel selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik statistik deskriptif dan statistik inferensial. Uji normalitas untuk variabel baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol dilakukan melalui uji normalitas Kolmogorov-Smirnov. Pengujian dilakukan pada taraf kebenaran α=0,05. Uji homogenitas varians dilakukan dengan menggunakan uji statistik yakni uji F. Dengan memperoleh Fhitung dan nilai sig, bila sig>α pada taraf kebenaran α=0,05 untuk kelas eksperimen dan kontrol, maka dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok eksperimen berasal dari populasi homogen.
Dalam pengujian hipotesis digunakan statistik uji t untuk data homogen. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.
t
=
x
´
1− ´
x
2s
√
1
n
1+
1
n
2dengan
s=
√
(
n1−1
)
s12+
(
n2−1)
s22n1+n2−2
[ CITATION Tir99 \l 1033 ]: 102)
Keterangan:
´
x
1 = mean dari kelompok eksperimen´
x
2 = mean dari kelompok kontrolS = deviasi gabungan
S
1 = deviasi kelompok eksperimenS
2 = deviasi kelompok kontrolDerajat kebebasan (dk) = n1+n2-2
Hipotesis Statistik
Digunakan uji perbedaan dua rata-rata (Independent Sample T Test)
yaitu:
H
0:
¯
x
1≠¯
x
2H
1:
¯
x
1=¯
x
2¯
x
1 : Rata-rata hasil belajar IPA Fisika siswayang diajar dengan model pembelajaran terpisah (paralel) dalam pembelajaran bilingual.
¯
x
2 : Rata-rata hasil belajar IPA Fisika siswayang diajar dengan pembelajaran bilingual konvensional.
Teknik analisis statistik diolah dengan Statistical Package for Social
Science (SPSS) versi 15,0for Windows
dan MS. Excel 2007. Digunakan
IndependentSample t Test (Uji t Sampel
Independen) dengan kriteria pengujian hipotesis H0 ditolak atau H1 diterima jika
Sig.< ½ α dan sebaliknya H0 diterima
atau H1 ditolak jika Sig.>½ α.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Untuk hasil analisis deskriptif terhadap hasil belajar IPA Fisika siswa pada kelas eksperimen (penggunaan model pembelajaran paralel yang dikombinasikan dengan
cooperative learning dan direct instruction dalam pembelajaran bilingual) dan kelas kontrol (penggunaan model pembelajaran bilingual konvensional) dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.1 Statistik nilai hasil belajar fisika pada kelas eksperimen dan kontrol
Statistik Nilai Statistik
Nilai Maksimun 89,00 91,00
Nilai Minimum 66,00 87,00
Nilai Rata-rata 82,56 89,86
Nilai Ideal 100,00 100,00
Rentang Nilai 23,00 4,00
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang diperoleh siswa pada kelas eksperimen adalah 82,56, nilai tertinggi 89,00, nilai terendah 66,00, nilai ideal 100,00, dan standar deviasi 6,3509, sedangkan pada kelas kontrol adalah 86,96, nilai tertinggi 91,00, nilai terendah 87,00, nilai ideal 100,00, dan standar deviasi 1,1668. Selanjutnya, jika nilai hasil tes kognitif atau nilai hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dikelompokkan ke dalam kategori, maka persentase nilai tes atau hasil belajar IPA Fisika siswa 77,78% berada pada kategori Sangat Tinggi dan 22,22% berada pada kategori Tinggi sedangkan pada kelas control, persentase nilai tes atau hasil belajar IPA Fisika siswa 100% berada pada kategori Sangat Tinggi (Lampiran 3, Tabel 1 dan 2).
Adapun gambaran tentang persentase hasil belajar IPA Fisika yang disusun baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol ditampilkan pada grafik berikut ini.
Dari grafik di atas menunjukkan bahwa persentase hasil belajar IPA Fisika kelas eksperimen dan kelas kontrol hanya berada pada kategori Sangat Tinggi dan Tinggi, dimana
0 20 40 60 80 100
Grafik 4.1. Persentase Hasil Belajar IPA Fisika pada Kelas Eksperimen dan Kontrol
Persentase Eksperimen Persentase Kon-trol
Kategori Hasil Belajar
P er se nt as e (% )
persentase hasil belajar terbesar tersebar pada kelas kontrol yakni 100% pada kategori Sangat Tinggi, berbeda dengan persentasi hasil belajar pada kelas eksperimen yang tersebar 77,78%
pada kategori Sangat Tinggi dan 22,22% pada kategori Tinggi (Lampiran 3).
Hasil uji normalitas tes akhir kedua kelas sampel dengan menggunakan SPSS dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.3. Hasil Uji Normalitas Kelas Eksperimen dan Kontrol.
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
27 22 82.5556 89.8636 6.35085 1.16682 .232 .289 .155 .270 -.232 -.289 1.203 1.358 .110 .050 N Mean Std. Deviation Normal Parametersa,b
Absolute Positive Negative Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed)
Experiment_ Class
Control_ Class
Test distribution is Normal. a.
Calculated from data. b.
Dari Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa untuk kelas eksperimen nilai
sig=0,110>α = 0,05 dan untuk kelas kontrol nilai sig=0,050 > α = 0,05. Ini artinya data dari kedua kelas sampel terdistribusi normal.
Dengan menggunakan SPSS
diperoleh hasil uji homogenitas sebagai berikut.
Tabel 4.4. Hasil Uji Homogenitas Kelas Eksperimen dan Kontrol.
Group Statistics
27 82.5556 6.35085 1.22222
22 89.8636 1.16682 .24877
Groups Experiment Class Control Class
Value N Mean Std. Deviation
Std. Error Mean
Independent Samples Test
16.651 .000 -5.315 47 .000 -7.30808 1.37504 -10.07431 -4.54185 -5.859 28.139 .000 -7.30808 1.24728 -9.86245 -4.75371 Equal variances
assumed Equal variances not assumed
Value F Sig. Levene's Test for Equality of Variances
t df Sig. (2-tailed) Mean Difference
Std. Error
Difference Lower Upper 95% Confidence Interval of the
Difference t-test for Equality of Means
Dari Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa nilai sig = 16,651 > α = 0,05. Hal ini menunjukkan kedua kelas memiliki varians yang homogen atau berasal dari populasi yang homogen.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian dengan menggunakan uji-t dengan MS. Excel 2007, diperoleh nilai thitung = -5,3148 dan
nilai ttabel pada taraf signifikansi α = 0,05
diperoleh ttabel{0,975 (dk = 47)} = 2,01
[ CITATION Tir99 \l 1033 ]: 384). Karena thitung tidak berada dalam interval ttabel
(-2,01 dan (-2,01), maka dapat disimpulkan
bahwa H0 ditolak atau H1 diterima. Jadi,
terdapat perbedaan yang berarti dari hasil belajar IPA Fisika siswa kelas VIII RSBI SMP Negeri 1 Pinrang antara yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran paralel dikombinasikan dengan model
cooperative learning dan direct
instruction dengan yang diajar dengan menggunakan pembelajaran bilingual konvensional.
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui peranan model pembelajaran paralel dikombinasikan dengan model
cooperative learning dan direct instruction dalam pembelajaran bilingual terhadap hasil belajar IPA Fisika siswa kelas VIII RSBI SMP Negeri 1 Pinrang. Pada penelitian ini terkonsentrasi pada hasil belajar IPA Fisika siswa yang dilihat pada tes akhir.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di sekolah tersebut, yaitu RSBI SMP Negeri 1 Pinrang Kab. Pinrang, diperoleh hasil yang sesuai dengan hipotesis yang diajukan oleh peneliti, yakni terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil belajar IPA Fisika siswa kelas VIII antara yang diajar dengan model pembelajaran paralel dikombinasikan dengan model cooperative learning dan direct
instruction dengan yang diajar dengan
pembelajaran bilingual konvensional. Fakta penelitian yang diperoleh peneliti setelah mengadakan tes akhir (post-test) adalah hasil belajar IPA Fisika pada kelas kontrol lebih besar dari hasil belajar IPA Fisika siswa pada kelas eksperimen. Ada beberapa faktor yang dapat peneliti sampaikan yang menyebabkan hasil penelitiannya sedemikian, diantaranya: (1) Pemerolehan pengetahuan siswa akan kosakata dan istilah-istilah Fisika dalam Bahasa Inggris hanya terpaku pada pemberian guru yang disampaikan pada proses pembelajaran, (2)
jadwal/roster pelajaran IPA Fisika pada kelas yang diambil sebagai kelas eksperimen, yakni kelas VIII1 yang berada pada jam pelajaran
terakhir, dan (3) adapun jadwal pelajaran IPA Fisika pada kelas kontrol yang ditunjuk, yaitu kelas VIII2, berada pada jam pelajaran yang
lebih awal, yakni pada pukul 10.50-12.00 WITA, sehingga model pembelajaran bilingual konvensional dapat diterima dengan baik oleh siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA Fisika siswa yang berarti antara yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran pembelajaran paralel dikombinasikan dengan model cooperative learning dan direct
instruction dengan yang diajar dengan
menggunakan pembelajaran bilingual konvensional pada kelas VIII RSBI SMP Negeri 1 Pinrang, dan diterima pada taraf nyata 0,05. Kenyataan ini membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran paralel dalam pembelajaran bilingual belum memberikan peningkatan yang berarti terhadap hasil belajar IPA Fisika siswa dibandingkan dengan model pembelajaran bilingual konvensional yang digunakan guru pada sekolah tersebut.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: (1) Hasil belajar IPA Fisika siswa kelas VIII1 RSBI SMP Negeri 1 Pinrang yang
diajar dengan menggunakan model pembelajaran paralel dikombinasikan dengan model cooperative learning dan
siswa kelas VIII2 RSBI SMP Negeri 1
Pinrang yang diajar dengan menggunakan pembelajaran bilingual konvensional yang terlihat dari hasil belajar 100,00% berada dalam kategori Sangat Tinggi dengan skor rata-rata 89,36 dari skor ideal 100,00, dan (3) terdapat perbedaan hasil belajar IPA Fisika siswa yang signifikan antara yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran paralel dikombinasikan dengan model cooperative learning dan
direct instruction pada Kelas VIII1
dengan yang diajar dengan menggunakan pembelajaran bilingual konvensional pada kelas VIII2 RSBI
SMP Negeri 1 Pinrang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penggunaan model pembelajaran paralel memiliki peranan yang tidak cukup signifikan dalam meningkatkan hasil belajar IPA Fisika siswa yang terlihat dari hasil belajarnya pada aspek kognitif.
Setelah melihat hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka penulis menyarankan: (1) Model pembelajaran
paralel dikombinasikan dengan model
cooperative learning dan direct
instruction dalam pembelajaran bilingual
pada siswa RSBI SMP Negeri 1 Pinrang Kab. Pinrang belum dapat diterapkan jika faktor-faktor pendukung keberhasilan proses pembelajaran, yakni kesiapan guru dan siswa, serta jadwal pelajaran yang tepat tidak diperhatikan, (2) kepada pihak sekolah agar mengimpelentasikan Standar Operasional Pelaksanaan (SOP) program RSBI yang telah ditetapkan oleh Depdiknas pada setiap jenjang tahun pendampingan, sehingga diperoleh hasil belajar yang lebih baik, dan (3) kepada peneliti yang ingin melakukan penelitian yang serupa dengan penelitian sebelumnya
diharapkan menjalankan
prosedur/langkah model pembelajaran paralel dikombinasikan dengan model
cooperative learning dan direct
instruction sesuai dengan prosedur
yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah. (2003, January 1). Al Qur'an Digital. Dipetik January 1, 2009, dari Al Qur'an Digital: http://www.alquran-digital.com/
Ahmadi, I. K., & Amri, S. (2010). Strategi Pembelajaran Sekolah Berstandar Internasional dan Nasional.
Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Ali, M. (2002). Metode Penelitian. Bandung: Perpustakaan UPI Bandung.
Anonim. (2012, March 8). Ki Hajar Dewantara. Dipetik March 16, 2012, dari Wikipedia, Ensiklopedia Bebas: http:/in.wikipedia.co.id/Ki_Hajar_Dewantara.htm/
Anonim. (2009, January 1). Pembelajaran. Dipetik January 30, 2011, dari http://www.id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran.html
Anonim. (2011, May 1). Pilar Pendidikan Menurut UNESCO. Dipetik March 16, 2012, dari Lembaga Pengkajian & Pengembangan Masyarakat: http://lp2m.web.id/pilar-pendidikan-menurut-unesco/
Arikunto, S. (2003). Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Davies, I. K. (1981). Instructional Technique. Washington D.C.: McGraw-Hill, Inc.
Davis, R. H. (1974). Learning System Design; An Approach to the Improvement of Instruction.
Washington D.C.: McGraw-Hill, Inc.
Depdiknas. (2008). Panduan Penyelenggaraan Rintisan SMA Bertaraf Internasional. Jakart: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas.
Depdiknas. (2007). Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada Jenjang
Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas.
Depdiknas. (2006). Standar Isi dan Kurikulum IPA. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. (2007). Standar Isi Kurikulum SMP-SBI. Jakarta: Depdiknas.
Dimyati, & Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Djamarah, S. B., & Zain, A. (2006). Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Giancoli, D. C. (2009). Physics for Scientists and Engineers with Modern Physics 4th Edition. United States of America: Pearson Prentice Hall, Inc.
Haling, A. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Makassar: Badan Penerbit UNM Makassar.
Hamalik, O. (2006). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.
Jefferson, T. (2006, October 20). Quasi Experimental Study. Dipetik March 16, 2012, dari National Center for Technology Innovation: http://www.ncti.com/Quasi_Experimental_Study.htm/
Krashen, S. (2009, January 1). Why Bilingual Education; ERIC Digest. Dipetik January 30, 2011, dari http://eric_digest.com/bilingual.html
Liswanto. (2010, November 23). RSBI di Indonesia Aplikasi dan Kendala. Dipetik January 30, 2011, dari http://www.blogliskeren.blogspot.com
Mariana. (2008, December 21). Pembelaran Bilingual: Apa dan Bagaimana? Dipetik January 30, 2011, dari Guru English: http://guruenglish.wordpress.com/2008/12/21/pembelajaran-bilingual-apa-dan-bagaimana/
Marleny. (2009, January 1). Skripsi: Studi Pelaksanaan IPA Fisika di Kelas Rintisan Sekolah Bertaraf
Internasional (RSBI) SMP Negeri 9 Palembang. Dipetik January 30, 2011, dari
http://blog.unsri.ac.id/leny/skripsi/studi-pelaksanaan-pembelajaran-ipa-fisika-di-kelas-rintisan-sekolah-bertaraf-internasional-rsbi-smp-n-9-palembang/mrdetail/11939/
Nasution, R. (2003). Teknik Sampling. Medan: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Natsir, M. (2007). Strategi Pembelajaran Fisika. Makassar: Jurusan Fisika FMIPA UNM.
Nurgiyantoro, B. (2010). Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Purnomo, S. (2008, October 15). SK dan KD SMA. Dipetik March 16, 2012, dari Sidik's Blog: http://sidik.blogspot.com/sk_dan_kd_sma.htm/
Rianto, S. (2009, January 1). Makalah: Pembelajaran Matematika dan IPA Dalam Bahasa Inggris. Dipetik January 30, 2011, dari http://rsbiindonesia.blogspot.com/2009/02/pembelajaran-matematika-dan-ipa-dalam.html
Roebyanto. (2009, June 25). Empat Pilar Pendidikan. Dipetik March 10, 2012, dari Blog'e Arek Suroboyo: http://roebyarto.multiply.com/journal/item/91?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
Rowe, M. B. (1973). Teaching Science As Continuous Inquiry: A Basic. New York: McGraw Hill, Inc.
Ruqayah. (2009, July 15). Makalah: Konsep Pembelajaran Matematika dan IPA Dalam Bahasa Inggris
(Bilingual). Dipetik February 6, 2011, dari ruqayahsmpn4pati.com:
http://st284522.sitekno.com/article/3243/konsep-pembelajaran-matematika--ipa-dalam-bahasa-inggris-bilingual.html
Rusman. (2010). Model-model Pembelajaran; Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Senjaya, W. (2008). Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Setyosari, P. (2010). Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: Prenada Media Group.
Slamet, P. (2008). Perubahan dari SSN ke SBI dan Implikasinya Bagi Kepemimpinan. TOT SSN SMP 2008 (hal. 1-30). Pekan Baru: Diknas Kota Pekan Baru.
Soetriono, & Hanafi, R. (2007). Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: CV. Andi Offset.
Sudjana, N. (2005). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo.
Sugidarma, I. P. (2003). Metode Penelitian. Malang: Universitas Brawijaya.
Sukardi. (2006). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Tiro, A. (1999). Dasar-dasar Statistika. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.
Umar, H. (2009). Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis. Jakarta: Rajawali Press.
Ware, T. (2008, January 1). Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Dipetik March 16, 2012, dari Tamamiware's Blog: http://tamamiware.blogspot.com/2008/01/panduan-pengembangan-bahan-ajar-sma.html
Wayan, I. (2010, January 1). Makalah: Model Pembelajaran PBBS dengan Pendekatan DBTU. Dipetik February 6, 2011, dari http://www.i_wayan.blogspot.com
Weil, M. &. (1978). Personal Models of Teaching. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Wenning, C. J. (2006). A framework for teaching the nature of science. Journal of Physics Teacher
Education Online , 2-10.
Wenning, C. J. (2009). Scientific epistemology; How scientists know what they know. Journal of Physics
Teacher Education Online , 3-15.