• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Hukum Tata Negara Perolehan dan (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Hukum Tata Negara Perolehan dan (2)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MAKALAH:

PEROLEHAN DAN KEHILANGAN KEWARGANEGARAAN DISUSUN OLEH:

LUTFI SALSABILA (8111416186)

ROMBEL 6

HUKUM TATA NEGARA

FAKULTAS HUKUM

(2)

Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat serta hidayat-Nya lah saya dapat menyusun laporan dengan judul “Tugas Makalah: Perolehan dan Kehilangan Kewarganegaaraanini. Dengan kesehatan dan ide yang Tuhan berikanlah saya dapat menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Tata Negara yang diampu oleh dosen matakuliah tersebut Dr. Martitah,M.Hum. selain itu saya sangat berterima kasih kepada beliau, karena atas penugasan ini saya dapat belajar lebih luas dan spesifik mengenai hukum tata negara yang ada di Indonesia terkhusus mengenai perolehan dan kehilangan kewarganegaraan.

Saya juga sangat berterimaksih kepada pihak-pihak baik yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu saya dalam menyusun makalha ini. Sehingga dapat terpenuhi lah salah satu tanggung jawab saya sebagai mahasiswa untuk mengerjakan tugas ini.

Sudah sepantasnya bahwa makalah ini memberikan perhatian yang cukup terhadap aspek tersebut. Sangatlah diharapkaan adanya kemanfaatan dalam makalah ini, baik bagi saya selaku penyusun dan seluruh pembaca. Tiada manusia yang sempurna, demikian pula tiada makalah yang sempurna. Kritik dan masukan yang membangun akan sangat membantu memperkaya khazanah pengatahuan dalam makalah ini.

(3)

Daftar Isi

Kata Pengantar i Daftar Isi ii

BAB I.PENDAHULUAN 1 1.1. Latar Belakang 1 1.2. Rumusan Masalah 2 1.3. Tujuan 2

BAB II. PEMBAHASAN 3

2.1. Pengertian Kewrganegaraan 3

2.2. Prinsip Dasar Kewarganegaraan 3

2.3. Perolehan dan Kehilangan Kewarganegaraan 3 BAB III. PENUTUP 5

3.1 Kesimpulan 5 3.2 Saran 5

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam buku yang berjudul “Dasar-Dasar Hukum dan Pengadilan,” Prof. Subekti, S.H. mengatakan, bahwa hukum itu mengabdi pada tujuan Negara yang dalam pokoknya ialah: mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan pada rakyatnya. Menurut Prof.Kansil tujuan Negara tersebut yaitu “keadilan” dan “kemakmuran”. Pada dasarnya Tuhan Yng Maha Esa telah memberikan kecakapan atau kemampuan untuk meraba atau merasakan keadaan yang dinamakan adil tersebut (Kansil 1989:41). Namun, pada kenyataanya masih banyak masyarakat yang belum mengetahui mengenai hukum, salah satunya warga negara Indonesia, yang padahal hukum tujuannya untuk menciptakan keadilan,kepastian,dan kemanfaatan. Bahkan, mahasiswa hukum pun masih belajar untuk memahami mengenai hukum.

Salah satu hukum yang sudah ada di masyarakat adalah mengenai hukum tata negara. Wilayah Indonesia yang begitu luas dan memiliki keberagaman adat, suku, agama, serta ras. Hal ini lah yang menyebabkan hukum tata negara di Indonesia begitun luas cakupannya. Namun, karena Indonesia berdasarkan pasal 3 bahwa “Negara Indonesia adalah negara hukum”, tentunya mengenai hukum tata negara juga tercantum didalam undang-undang yang telah dikodifikasi di Indonesia, salah satunya mengenai kewarganegaraan.

Selain itu, kewarganegaraan sendiri memiliki penjelasan yang lebih spesifik lagi yang sering kita dengar perolehan dsan kehilangan kewarganegaraan. Hal ini lah yang wajib kita ketahui sebagai orang yang memiliki kewarganegaraan terkhusus kewarganegaraan Indonesia.

Maka dari itu makalah ini dibuat sebagai bahan pembelajaran mengeanai hal-hal yang telah disebutkan diatas.

1.2 Rumusan Masalah

(5)

1. Apa pengertian kewarganegaraan? 2. Apa saja prinsip dasar kewarganegaraan?

3. Apa yang dimaksud perolehan dan kehilangan kewarganegaraan?

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:

1. Mengetahui pengertian kewarganegaraan. 2. Mengetahui prinsip dasar kewarganegaraan.

3. Mengetahui mengenai perolehan dan kehilanhgan kewarganegaraan.

BAB II PEMBAHASAN 1.1 Pengertian Kewarganegaraan

(6)

Dalam Pasal 28D ayat (4) UUD 1945, dengan tegas menyatakan, “setiap orang berhak atas status kewarganegaraanya”. Hal ini membuktikan bahwa, adanya perlindungan konstiusional terhadap hak asasi manusia dengan jaminan hukum bagi tuntutan penegaknya, melalui proses yang adil (Martitah 2013:34).

1.2 Prinsip dasar kewarganegaraan

Dalam beberapa literature hukum dan praktik, dikenal dengan adanya tiga asas kewarganegaraan yaitu asas ius soli, ius sanguinis, dan asas camuran. Asas ius soli ialah bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan oleh tempat kelahiranny. Sementara asas ius sanguinis ialah bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan oleh keturunan atau darah. Sedangkan asas mapuran iyalah dimana kewarganegaraan seseorang ditentukan dengan tempat kelahiran dan atau keturunan.

Selain itu dikenal juga bipadride (dwi-kewarganegaraan) dan apatride (tidak berkewarganegaraan). Kedua hal tersebut merupakan akibat dari adanya asas kewarganegaraan campuran.

1.3 Perolehan dan kehilangan kewarganegaraan

Pada umumnya untuk memperoleh kewarganegaraan digambarkan dalam dua cara, yaitu:

a. Status kewarganegaraan dengan kelahiran di wilayah Indonesia; b. Dengan cara pewarganegaraan atau naturalisasi

Selain itu, sejak tahun 1950 dalam system hukum kewarganegaraan India telah dikembangkan lima prosedur peloehan kewarganegaraan, meliputi:

a. Citizenship by birth, yaitu pewarganegaraan berdasarkan tempat kelahiran.

b. Citizenship by descent, yaitu pewarganegaraan berdasarkan keturunan.

c. Citizentship by naturalitation, yaitu pewarganegaraan atas permohonan sendiri dan mematuhi persyaratan dari negara yang bersangkutan.

(7)

sederhana dibandingkan dengan metode naturalisasi yang lebih rumit.

e. Citizenship by incorporation of territiri, yaitu proses pewarganegaraan karena terjadinya perluasan wilayah negara. Disamping itu seseorang juga dapat kehilangan kewarganegaraannya karena:

a. Renunciation, yaitu tindakan seseorang untuk meninggalkan salah satu dari dua atau lebih kewarganegaraanya yang diperoleh dari dua negara atau lebih.

b. Termination, yaitu penghentian status kewarganegaraan sebagai tindakan hukum, karena yang bersangkutan memperoleh kewarganegaraan dari negara lain.

c. Deprivation, yaitu suatu pemberhentian paksa, pencabutan atau pemecatan dari status kewarganegaraannya berdasarkan perintah pejabat yang berwenang(Jimly A 2013: 394-399).

BAB III PENUTUP

1.1 Kesimpulan

(8)

kewarganegaraan warga negaranya demi keamanan negara dank arena alasan tertentu.

1.2 Saran

Maski semua ketentuan mengenai kewarganegaraan sudah diatur dalam undang-undang, namun masih banyak warga negara yang tidak tau keberadanya. Hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah para ahli hukum. Sudah seharusnya orang-orang yang sudah mengerti mengenai hukum tata negara terkhusus bagaimana cara memperoleh kewarganegaraan dan hal apa yang menyebabkan terjadinya kehilangan kewarganegaraan, dapat menginfokan dan membantu masyarakat luas untuk mengerti dan memahami mengenai hal-hal dasar tersebut yang ada di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Asshiddiqie, Jimliy. 2013. Pengatar Ilmu Hukum Tata Negara. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Kansil. 1986. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta: BALAI PUSTAKA.

Martitah. 2013. Mahkamah Konstitusi dan Legislature ke Positive Legislature?. Jakarta: Konstitusi Press.

(9)

Referensi

Dokumen terkait

dicontohkan tata cara shalat yang benar anak akan mengerti, dan menirukan apa yang dicontohkan oleh orang tuanya. Ketika sudah memasuki waktunya shalat, orang

Dalam hal ini, anak didik tidak di-ajarkan bahwa untuk mengerti akan apa yang baik tidak hanya bertitik tolak pada diri siswa sendiri tetapi perlu mengerti konsep ini dari orang

Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2007 tentang Tata Cara Memperoleh, Kehilangan, Pembatalan dan Memperoleh Kembali Kewarganegaraan RI pada Pasal 31 WNI dengan

Demikian pula pada tahun 1950, ketika bentuk Negara Indonesia diubah lagi dari bentuk Negara Serikat menjadi Negara Kesatuan, Konstitusi RIS 1949 diganti dengan Undang-Undang Dasar

Hukum acara PTUN adalah rangkaian perturan-peraturan yang memuat cara  bagaimana orang harus bertindak, satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya  peraturan Tata

 Namun sayangnya, sayangnya, masih masih banyak banyak orang orang yang yang sudah sudah mengerti mengerti tanda tanda baca, baca, tetapi tetapi belum

Persamaan hak-hak perlindungan anak dalam Hukum Positif dan Hukum Tata Negara Islam a Setiap anak memperoleh hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang b Setiap anak memperoleh hak untuk

Yang dimaksud dengan “sengketa Tata Usaha Negara” adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata