• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERJANJIAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL dan id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERJANJIAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL dan id"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

KEPENTINGAN NASIONAL BERDASARKAN PASAL 85 AYAT (1) DAN AYAT (2) UNDANG-UNDANG NO. 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DIKAITKAN DENGAN VIENNA CONVENTION ON

THE LAW OF TREATIES 1969

A. Latar Belakang

Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari adanya hubungan

antara satu dengan lainnya. Demikian juga dengan masyarakat di seluruh

dunia yang tidak terlepas dari interaksi sosial satu dengan lainnya,

hubungan ini kita kenal sebagai hubungan antarnegara. Hubungan

antarnegara ini sangat diperlukan dalam kehidupan dunia, karena tidak

ada negara di dunia yang bisa hidup sendiri tanpa adanya ketergantungan

terhadap negara lain. Dengan adanya hubungan antarnegara akan selalu

ada suatu sistem hukum yang mengatur hak dan kewajiban

masing-masing pihak yang diatur oleh apa yang dinamakan hukum internasional.1

1 Boer Mauna, Hukum Internasional, cetakan ke-4, Bandung , P.T. Alumni, , 2005, hlm. 5

(2)

Anthony Aust berpendapat bahwa hukum internasional adalah hukum

yang mengatur cara berprilaku secara luas.2 Hukum internasional

mengatur segala aspek yang berkaitan dengan hubungan antarnegara,

termasuk mengatur tata cara kehidupan dan pergaulan antarnegara yang

dirumuskan dalam suatu treaty (perjanjian internasional). Perjanjian

internasional memberikan ruang bagi setiap negara untuk menggariskan

dasar kerja sama mereka, mengatur berbagai kegiatan, menyelesaikan

berbagai masalah demi kelangsungan hidup masyarakat mereka sendiri,3

sehingga perjanjian internasional menjadi elemen yang tidak dapat

dipisahkan dalam hubungan antarnegara.

Dalam perkembangannya, perjanjian internasional mempunyai

beberapa nama seperti: Convention, International Agreement, pakta,

General Acts, Charter, hingga Statuta. 4 Secara keseluruhan beberapa

nama ini merujuk kepada kegiatan yang sama yakni membuat suatu

perjanjian internasional dimana pembuatan perjanjian internasional ini

digunakan setiap negara yang ingin mengikatkan dirinya secara hukum

untuk melakukan suatu kegiatan dengan negara lain atau digunakan untuk

mempererat hubungan antarnegara yang ketentuan dan syaratnya dibuat

dan dijalankan sesuai kewajiban para pihak dalam perjanjian.

Perjanjian internasional saat ini memegang peranan penting. Berbagai

aspek pada perjanjian internasional sudah dijadikan beberapa acuan

2 Anthony Aust, Hand Book of International Law, second edition, London , Cambridge University press, , 2010, hlm.1

3 Boer Mauna, Op.Cit., hlm. 82

(3)

terhadap perjanjian-perjanjian lainnya dan diterima secara luas oleh

banyak negara.5 Perjanjian internasional mempunyai kekuatan mengikat

bukan hanya pada perjanjian yang dibuat, melainkan juga menjadi acuan

terhadap perjanjian-perjanjian lainnya di masa yang akan datang.

Perjanjian internasonal diatur di dalam Vienna Convention on the Law

of Treaties 1969 (selanjutnya disebut sebagai Vienna Convention 1969).

Indonesia belum meratifikasi Vienna Convention 1969 ini, akan tetapi

beberapa hal di dalam konvensi ini sudah menjadi hukum kebiasaan

internasional “customary international law” . Negara walaupun belum

meratifikasi suatu konvensi internasional namun dikarenakan pasal

tersebut merupakan hukum kebiasaan internasional yang mana

merupakan sumber hukum internasional menurut Pasal 38 ayat (1)

Statuta International Court of Justice (Statuta Mahkamah Internasional) ,

maka negara tersebut secara tidak langsung terikat secara hukum

(legally binding).

Vienna Convention 1969 merupakan induk perjanjian internasional

dikarenakan pada konvensi inilah terdapat pengaturan hukum baik materi

maupun praktik di dalam membuat, melaksanakan hingga membatalkan

perjanjian.6 Pemberlakuan Vienna Convention 1969 sebagai dasar di

dalam melakukan hubungan perjanjian internasional sangat diperlukan,

sehingga suatu perjanjian internasional tidak lagi diatur dalam instument

(4)

nasional masing-masing negara melainkan melalui Vienna Convention

1969.

Saat ini perjanjian internasional sudah berkembang ke berbagai

aspek salah satunya adalah perdagangan antar negara. William J.Fox

mengungkapkan bahwa perdagangan internasional sudah lama diterima

sebagai dasar fundamental bagi setiap negara untuk ketahanan ekonomi

yang lebih baik.7 Besar dan jayanya negara-negara di dunia seperti China

tidak terlepas dari keberhasilan dan aktivitas negara tersebut di dalam

perdagangan,8 oleh sebab itu perdagangan internasional menjadi penting

dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Perdagangan internasional ini dirumuskan ke dalam suatu

perjanjian internasional perihal perdagangan internasional (perjanjian

perdagangan internasional). Perdagangan internasional juga menjadikan

perjanjian internasional sebagai salah satu sumber hukumnya, beberapa

perjanjian internasional membentuk suatu pengaturan perdagangan yang

sifatnya umum di antara para pihak,9 dikarenakan sifat pengaturannya

yang umum atau lebih dikenal dengan bersifat publik, sehingga

penggunaan Vienna Convention 1969 terhadap Perjanjian perdagangan

internasional sangat diperlukan.

7 William J. Fox, Jr, International Commercial Agreements, second edition,London,Cambridge press, hlm.11

8 Huala Adolf, Hukum Perdagangan Internasional , Cetakan ke-2, Jakarta, P.T. RajaGrafindo Persada, 2005, hlm. 2

(5)

Perjanjian perdagangan internasional mengikat berdasarkan

kesepakatan para pihak yang membuatnya ,10 negara peserta perjanjian

berkewajiban melaksanakan apa yang telah disepakati dalam perjanjian

perdagangan internasional dan terikat secara hukum (legally binding)

terhadap isi dari perjanjian tersebut. Perjanjian Internasional sendiri

terbagi atas:11

a. Perjanjian internasional bilateral, yaitu suatu perjanjian

internasional yang pihak-pihak atau negara peserta yang terikat

hanya 2 negara

b. Perjanjian internasional multilateral, yaitu suatu perjanjian

internasional yang pihak-pihak atau negara-negara yang menjadi

peserta pada perjanjian lebih dari 2 negara

c. Perjanjian internasional kawasan (Regional), yaitu perjanjian

internasional yang berlaku bagi negara-negara dalam satu

kawasan seperti : European Union, Asean, dsb.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memberlakukan

perjanjian internasional,12 diantaranya adalah apabila para pihak

sepakat untuk terikat di dalam perjanjian internasional yang dibuat

dengan cara meratifikasinya ke dalam hukum nasionalnya

masing-masing (consent to be bound by a treaty). Berdasarkan kewajiban

untuk menandatangani serta meratifikasi ketentuan seperti tersebut di

atas serta berdasarkan peraturan perundang-undangan nasional di

10Ibid

11 Wayan Parthiana, beberapa masalah dalam Hukum Internasional dan Hukum Nasional Indonesia,

(6)

bidang perdagangan yang mengharuskan adanya harmonisasi

ketentuan bidang perdagangan dalam kerangka kesatuan ekonomi

nasional guna menyikapi perkembangan situasi perdagangan era

globalisasi pada masa kini dan masa depan,13 maka disahkanlah

Undang-Undang No. 7 tahun 2014 tentang Perdagangan (selanjutnya

disebut sebagai UU Perdagangan 2014).

Berkaitan dengan disahkannya UU Perdagangan 2014 ini,

menimbulkan pro dan kontra dalam hal penafsiran yang masih

membutuhkan penjelasan, salah satunya mengenai pemberian

kewenangan Pemerintah dengan persetujuan DPR untuk membatalkan

Perjanjian Pedagangan Internasional, sebagaimana terdapat pada Bab XII

Pasal 85 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-undang Perdagangan 2014

tentang kerja sama perdagangan internasional:

(1)Pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dapat meninjau kembali dan membatalkan Perjanjian Perdagangan Internasional yang persetujuannya dilakukan dengan undang undang berdasarkan pertimbangan kepentingan nasional.

(2)Pemerintah dapat meninjau kembali dan membatalkan perjanjian Perdagangan Internasional yang pengesahannya dilakukan dengan Peraturan Presiden berdasarkan pertimbangan kepentingan nasional

Kasus yang dapat dikaitkan dengan UU perdagangan 2014 ini

memang tidak ada mengingat UU ini baru akan dilaksanakan terhitung

(7)

pada awal tahun 2015 ini, akan tetapi UU perdagangan ini akan memiliki

dampak yang sangat luas dikemudian hari terutama dengan akan

diadakannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 yang merupakan

regionalisasi di kawasan Asean yang juga memberlakukan perdagangan

sebagai aktivitas utama. Selain MEA juga UU perdagangan 2014 ini akan

mempengaruhi perjanjian perdagangan internasional baik bilateral,

regional, maupun multilateral khususnya dalam bidang perdagangan

dikemudian hari, sehingga pembahasan perihal UU perdagangan 2014 ini

sangat dibutuhan.

Beberapa hal yang menjadi permasalahan yang penulis ingin kaji

dalam Pasal 85 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-undang Perdagangan 2014

ini adalah perihal kewenangan pemerintan, sejauh mana pemerintah dan

DPR dapat meninjau ulang serta membatalkan perjanjian perdagangan

internasional yang dibuat, mengingat besarnya dampak yang mungkin

ditimbulkan dari peninjauan kembali atau pembatalan terhadap perjanjian

yang dibuat, serta mengingat bahwa perjanjian perdagangan internasional

yang dibuat juga mengikutsertakan negara lain sebagai peserta dalam

kesepakatan.

Pasal 11 UUD 1945 memberikan kekuasan kepada presiden

dengan persetujuan DPR untuk melakukan hubungan luar negeri seperti

menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara

lain.14 pengaturan dalam UUD 1945 ini memberikan landaasan hukum

(8)

bagi Indonesia untuk mengadakan hubungan luar negeri dalam hal ini

perjanjian internasional akan tetapi jika dikaitkan dengan UU perdagangan

2014, penggunaan istilah pemerintah dalam UU perdagangan 2014

apakah merujuk kepada presiden menurut UUD 1945 atau merujuk

kepada pihak lain masih perlu diberikan penjelasan lebih jauh lagi.

Hal lain yang ingin penulis kaji dalam pasal 85 ayat (1) dan (2) ini

adalah istilah kepentingan nasional, yang mana menjadi dasar yang

diterapkan terhadap peninjauan kembali dan pembatalan terhadap

perjanjian perdagangan internasional yang dibuat. Kepentingan nasional

sendiri merupakan konsep yang diterapkan oleh beberapa negara seperti

Amerika serikat, Jerman, Inggris termasuk Indonesia karena pemerintah

menentukan urutan prioritas kepentingan yang hendak dipertahankan dan

tujuan yang hendak dicapai.15 Selain itu kepentingan nasional mempunyai

cakupan yang sangat luas karena menyangkut bukan hanya bidang

perdagangan yang dikategorikan kedalam lingkup ekonomi, akan tetapi

juga masalah politik sosial hingga ketahanan negara juga termasuk di

dalam lingkup kepentingan nasional.

Dalam Penjelasan pasal 18 UU Perjanjian Internasional, Kepentingan

nasional diartikan sebagai kepentingan umum (public interest),

perlindungan subjek hukum Republik Indonesia, dan yurisdiksi kedaulatan

Republik Indonesia. Sebagai salah satu batasan yang diberikan oleh

(9)

pemerintah dalam mengantisipasi kerugian terkait perdagangan

internasional, penggunaan kepentingan umum dan yurisdiksi kedaulatan

sangatlah luas dan perlu penjelasan lebih mendalam terutama mengingat

keterkaitannya terhadap proses perjanjian perdagangan internasional

yang dibuat dan dijalankan oleh indonesia dengan negara lain.

Keterkaitan yang mungkin timbul dari Undang-undang Perdagangan

2014 ini dengan Vienna Convention 1969 antara lain adalah bahwa

Vienna Convention 1969 tidak memberikan kewenangan kepada salah

satu pihak untuk membatalkan perjanjian tetapi perjanjian dapat

dibatalkan dengan cara pembatalan (denunciation)16. Pembatalan dibagi

menjadi 2 yaitu : pengakhiran (termination) yang terjadi didalam perjanjian

bilateral17, serta penarikan diri (withdrawal) yang terjadi pada pejanjian

multilaeral18. Selain itu perjanjian juga dapat penangguhan

(suspension)19, serta dapat menjadikan ketidakabsahan karena

melanggar hukum nasional(invalidity20) sebagai dasar mengakhiri

perjanjian.

Pembatalan (Denunciation) diatur didalam article 56 Vienna

Convention 1969, jika dikaitkan dengan istilah pembatalan menurut pasal

85 ayat (1) dan (2) UU perdagangan yang mana pemberian kewenangan

16 Art.56 Vienna Convention 1969 17 Art.54 Vienna Convention 1969 18 Art.56

(10)

kepada pemerintah dengan persetujuan DPR untuk membatalkan

perjanjian internasional, pengaturan dalam article 56 tersebut dapat

dijadikan acuan.

UU perjanjian internasional hanya mengatur mengenai pembatalan

(denunciation) baik pengakhiran dalam perjanjian bilateral (termination)

maupun penarikan diri dalam perjanjian multilateral (withdrawal). pasal 18

mengatur perjanjian berakhir apabila :

1. terdapat kesepakatan para pihak melalui prosedur yang ditetapkan

dalam perjanjian;

2. tujuan perjanjian tersebut telah tercapai;

3. terdapat perubahan mendasar yang mempengaruhi pelaksanaan

perjanjian;

4. salah satu pihak tidak melaksanakan atau melanggar ketentuan

perjanjian;

5. dibuat suatu perjanjian baru yang menggantikan perjanjian lama

(amandement);

6. muncul norma-norma baru dalam hukum internasional;

7. objek perjanjian hilang;

8. terdapat hal-hal yang merugikan kepentingan nasional.

UU perjanjian internasional juga mencantumkan pembuatan perjanjian

(11)

mana juga diatur didalam Vienna Convention 1969 didalam pasal 39,

yakni:

A treaty may be amended by agreement between the parties. The

rules laid down in Part II apply to such an agreement except insofar as the

treaty may otherwise provide

Amandemen dapat dilakukan apabila telah dicantumkan terlebih

dahulu klausul mengenai amandemen didalam perjanjian atau telah

disetujui oleh para pihak dalam perjanjian yang dibuat.21 Hal ini perlulah

ditinjau keterkaitannya terhadap istilah peninjauan kembali yang diuraikan

dalam UU Perdagangan pasal 46 ayat (1) dan (2)

Vienna Convention 1969 juga mengatur tata cara pembatalan suatu

perjanjian melalui ketidakabsahan belakunya perjanjian (invalidity of

treaties), di dalam bab kedua dari bagian kelima, didalam Article 46 :

(1) A State may not invoke the fact that its consent to be bound by a treaty has been expressed in violation of a provision of its internal law regarding competence to conclude treaties as invalidating its consent unless that violation was manifest and concerned a rule of its internal law of fundamental importance.

(2) A violation is manifest if it would be objectively evident to any State conducting itself in the matter in accordance with normal practice and in good faith.

Dalam Article 46 ayat (1) menjelaskan bahwa, suatu negara tidak

dapat mengemukakan bahwa kesepakatan untuk mengikatkan diri

terhadap suatu perjanjian ternyata melanggar suatu ketentuan dari hukum

nasionalnya kecuali bila pelanggaran itu nyata, sedangkan Pasal 46 ayat

(12)

(2) menyatakan bahwa pelanggaran tersebut haruslah terbukti secara

obyektif bagi setiap negara peserta atas dasar praktek itikad baik.

Ketentuan dari hukum nasional sebagaimana dijelaskan dalam article

46 ayat (1), jika dikaitkan dengan dasar pembatalan menurut pasal 85

ayat (1) dan (2) “melanggar kepentingan nasional”, belum memberukan

penjelasan secara terperinci dan terlalu luas sehingga memerlukan

penjelasan lebih lanjut apakah kepentingan nasional didalam uu

perdagangan ini merujuk pada pengertian kepentingan nasional menurut

UU perjanjian internasional ataukah merujuk pada ketentuan lainnya.

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka peneliti bermaksud

untuk menulis skripsi yang berkenaan dengan hukum Perjanjian

Internasional dengan judul:

“KEWENANGAN PEMERINTAH UNTUK MEMBATALKAN PERJANJIAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL YANG MELANGGAR KEPENTINGAN NASIONAL BERDASARKAN PASAL 85 AYAT (1) DAN AYAT (2) UNDANG-UNDANGNO 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DIKAITKAN DENGAN VIENNA CONVENTION ON THE LAW OF TREATIES 1969.”

(13)

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka

permasalahan dalam penelitian ini :

1. Bagaimana kewenangan pemerintah untuk membatalkan Perjanjian

Perdagangan Internasional berdasarkan Pasal 85 Ayat (1) dan Ayat

(2) Undang-Undang No 7 tahun 2014 tentang Perdagangan

berdasarkan Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 ? 2. Bagaimana pengertian kepentingan nasional sebagai dasar

pembatalan Perjanjian Perdagangan Internasional berdasarkan

Pasal 85 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-Undang No 7 Tahun 2014

tentang Perdagangan berdasarkan Vienna Convention on the Law

of Treaties 1969

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengkaji dan menganalisis kewenangan pemerintah untuk

membatalkan Perjanjian Perdagangan Internasional berdasarkan

Pasal 85 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-Undang no 7 tahun 2014

tentang Perdagangan berdasarkan Vienna Convention on the Law

of Treaties 1969.

2. Untuk mengkaji dan menganalisis pengertian kepentingan nasional

sebagai dasar pembatalan Perjanjian Perdagangan Internasional

berdasarkan Pasal 85 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-Undang No.7

tahun 2014 tentang Perdagangan dikaitkan dengan Vienna

Convention on the Law of Treaties 1969. .

(14)

Dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kegunaan Secara Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

pemikiran terhadap pengembangan ilmu hukum, khususnya Hukum

Perjanjian Internasional. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi

bahan literatur untuk dipergunakan dalam penelitian lebih lanjut, dan

menambah wawasan tentang hukum Perjanjian Internasional.

2. Kegunaan Secara Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak

yang terkait pada khususnya Kementerian Luar Negeri, Kementerian

Perdagangan, Kementerian Hukum dan HAM, Pemerintah dan Dewan

Perwakilan Rakyat dalam Pembuatan Perjanjian Perdagangan

Internasional .

E. Kerangka Pemikiran

Hukum internasional yang dahulu lebih dikenal dengan nama hukum

bangsa-bangsa (the law of nation), hukum antarbangsa (the law among

nation), hukum antar negara ( inter-state law), dalam sejarah perjalanan

hidupnya telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dari dahulu

hingga sekarang.22 Hukum internasional dapat didefinisikan sebagai

keseluruhan hukum yang untuk sebagian besar terdiri dari prinsip-prinsip

(15)

dan kaidah-kaidah perilaku yang terhadapnya negara-negara merasa

dirinya terikat untuk menaati dalam hubungan mereka satu sama lain.23

Menurut Mochtar Kusumaatmadja, hukum internasional adalah :

Keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas-batas negara antara negara dengan negara, negara dengan subjek hukum lain bukan negara atau antara subjek hukum bukan negara satu sama lain.24

Subjek hukum internasional seperti yang diuraikan oleh Mochtar

Kusumaatmadja adalah negara-negara anggota masyarakat internasional,

yang memenuhi unsur-unsur konstitutif: (1) penduduk yang tetap, (2)

Wilayah tertentu, (3) Pemerintahan; dan (4) kedaulatan.25

Dalam arti yang sebenarnya subjek hukum internasional adalah

pemegang hak dan kewajiban menurut hukum internasional,26 artinya

dengan menjadi subjek hukum internasional, maka hak dan kewajiban

internasional mengikat secara hukum terhadapnya. Subjek hukum

internasional yang diakui saat ini diantaranya:27

1. Negara 2. Takhta suci

3. Palang Merah Internasional 4. Organisasi Internasional 5. Individu

23 J.G.Starke, Pengantar hukum internasional, edisi ke-10, cetakan ke-5, P.T Sinar Grafika, Jakarta, 2006, hlm.3

24 Mochtar Kusumaatmadja & Etty R Agoes, Pengantar Hukum Internasional, cetakan pertama, P.T. Alumni, Bandung , 2003, hlm 3

25 Boer Mauna, Op.Cit., hlm.17

(16)

Sumber hukum internasional diatur di dalam Pasal 38 ayat (1) Statuta

Mahkamah Internasional dalam menangani perkara-perkara pengadilan

internasional, yaitu:

a. International Conventions, whether general or particular,

establishing rules expressly recognized by the contesting states; b. International Custom, as evidence of a general practice accepted

as law;

c. The General Principles of Law recognised by civilized nations; d. Subject to The Provisions of Article 59, judicial decisions and the

teachings of the most highly qualified publicists of the various nations, as subsidiary means for the determination of rules of law.

Sumber hukum Internasional yang diatur di dalam Statuta Mahkamah

Internasional digunakan oleh Mahkamah Internasional dalam memutuskan

perkara-perkara lnternasional.28 Salah satu sumber hukum internasional

menurut Statuta Mahkamah Internasional ini adalah Perjanjian

Internasional (International Convention) sebagai realisasi

hubungan-hubungan internasional yang sudah sejak lama dilakukan oleh

negara-negara di dunia.29

I.Wayan Parthiana mendefinisikan Perjanjian Internasional sebagai

kata sepakat antara dua atau lebih subjek internasional mengenai suatu

obyek tertentu yang dirumuskan secara tertulis dan tunduk pada yang

diatur oleh hukum internasional.30 Dengan kata sepakat yang diajukan

oleh dua atau lebih subjek internasional sudah dapat dikatakan sebagai

Perjanjian Internasional.

28 J G Starke, Op.Cit, hlm.66

29 I.Wayan Parthiana, Hukum Perjanjian Internasional, cetakan 1, Cv. Mandar Maju, Bandung, 2002, hlm.V

(17)

Perjanjian Internasional sendiri sudah diatur di dalam Vienna

Convention On The Law Of Treaties 1969 (Vienna Convention 1969

1969), sebelum tahun 1969 hukum Perjanjian Internasional sebagian

besar terdiri dari kaidah-kaidah hukum kebiasaan internasional.

Kaidah-kaidah ini untuk sebagian besar telah dikodifikasikan dan disusun kembali

dalam Vienna Convention 1969 yang dibentuk tanggal 23 Mei 1969 dan

mulai berlaku pada tanggal 27 Januari 1980 menyusul masuknya 35

pengesahan (ratifikasi) atau aksesi sebagaimana disyaratkan oleh Pasal

84 Vienna Convention 1969.

Vienna Convention 1969 sendiri merupakan konvensi internasional

yang mengatur tentang perjanjian internasional, Indonesia belum

meratifikasi vienna convention 1969 ini, akan tetapi indonesia mengakui

berlakunya vienna convention 1969, dikarenakan oleh beberapa hal yakni;

a. Pasal 38 statuta mahkamah internasional menetapkan bahwa

salah satu sumber hukum internasional yang digunakan oleh

mahkamah untuk mengadili perkara-perkara adalah perjanjian

internasional.31 Perjanjian internasional sendiri merupakan suatu

ketentuan yang pada akhirnya disempurnakan oleh Vienna

Convention 1969 yang menjelaskan dan mengatur perjanjian

internasional baik dari segi teori maupun praktik.

b. Vienna Convention 1969 mengatur beberapa provision yang

sudah menjadi sumber hukum kebiasaan internasional

(18)

(international custom),32 yang mana merupakan praktek-praktek

negara yang sudah dilakukan berkali-kali tanpa adanya protes

atau tantangan dari pihak lain.

c. Indonesia sendiri telah memiliki undang-undang yang mengatur

tentang perjanjian internasional yaitu UU no. 24 tahun 2000

tentang perjanjian internasional dan pengaturan perihal vienna

convention di indonesia belumlah dijelaskan secara jelas pada

undang-undang ini maupun peraturan perundangan lainya, akan

tetapi didalam praktik pembuatan dan pemberlakuan perjanjian

internasional, pengaturan dalam Vienna Convention 1969

berdasarkan poin ( a) dan (b) diatas, tetap diterapkan disamping

penggunaan UU no 24 tahun 2000 tentang perjanjian

internasonal.

Perjanjian internasional membolehkan suatu negara untuk tidak

menerapkan atau mengecualikan beberapa pengaturan atau pasal

dari perjanjian internasional, salah satunya ketentuan mengenai

ratifikasi, ketika suatu negara telah meratifikasinya, negara tersebut

berkewajiban untuk mengundangkannya kedalam hukum nasional

negara tersebut. Salah satu cara lainnya bagi suatu negara untuk

terikat kepada suatu perjanjian internasional adalah melalui

penundukan secara diam-diam.33

(19)

Penundukan secara diam-diam memungkinkan suatu negara

mengadopsi muatan suatu perjanjian internasional tanpa mengikatkan

diri secara tegas terhadap perjanjian tersebut. Pemerintah Indonesia

tidak meratifikasi Vienna Convention 1969 tentang hukum perjanjian,

akan tetapi dalam UU No.24 tahun 2000 tentang perjanjian

internasional, sebagian besar muatannya sama dengan konvensi wina

1969.

Menurut Vienna Convention 1969, dalam Article 2 huruf b yang

dimaksud Perjanjian Internasional adalah :

(a) “treaty” means an international agreement concluded between States in written form and governed by international law, whether embodied in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation.

Perjanjian Internasional (treaty) dapat dibuat antara negara baik oleh

2 pihak (bilateral) atau oleh lebih dari 2 pihak (multilateral), dapat

diperjanjikan antar negara atau negara dengan organisasi internasional

atau antar organisasi internasional, ditulis diatas kertas, serta

menggunakan hukum internasional sebagai dasar pengaturannya .34 Vienna Convention 1969 pada dasarnya memuat prinsip itikad baik

(good Faith) dan prinsip suatu perjanjian menjadi undang-undang bagi

para pihak pada perjanjian (Pacta Sunt Senvanda).35 Prinsip ini adalah

prinsip yang telah menjadi prinsip mutlak dalam setiap Perjanjian

Internasional yang dibuat oleh para pihak.

34 Anthony Aust, Op.Cit., hlm. 53

35 Budiono, Suatu Study terhadap Aspek Operasional Konvensi Wina 1969 tentang hukum Perjanjian,

(20)

Pengaturan mengenai Perjanjian Internasional di Indonesia sudah

diatur di dalam beberapa instrumen hukum. UUD 1945 Pasal 11 ayat (3)

memberikan dasar hukum bagi negara untuk membuat aturan yang

mengatur tentang ketentuan lebih lanjut tentang Perjanjian Internasional,

sehingga dibuatlah Undang-Undang No 24 tahun 2000 tentang Perjanjian

Internasional (selanjutnya disebut sebagai UU Perjanjian Internasional)

yang lahir didasarkan karena mendesaknya kebutuhan hukum untuk

adanya sebuah UU Nasional tentang Perjanjian Internasional di

Indonesia,36 namun tetap mempertimbangkan pasal-pasal di dalam Vienna Convention 1969 yang sudah menjadi hukum kebiasaan

internasional. UU Perjanjian Internasional ini memberikan kepastian

hukum terhadap segala Perjanjian Internasional yang dibuat di Indonesia.

Sebagai bagian terpenting dalam proses pembuatan perjanjian,

pengesahan perjanjian internasional perlu mendapat perhatian mendalam

mengingat pada tahap tersebut suatu negara secara resmi mengikatkan

diri pada perjanjian itu. Dalam praktiknya, bentuk pengesahan terbagi

dalam empat kategori, yaitu (a). ratifikasi (ratification) apabila negara yang

akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani

naskah perjanjian. (b). aksesi (accesion) apabila negara yang akan

mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak turut menandatangani

naskah perjanjian. (c). penerimaan (acceptance) dan penyetujuan

(approval) adalah pernyataan menerima atau menyetujui dari

(21)

negara pihak pada suatu perjanjian internasional atas perubahan

perjanjian internasional tersebut.

F. Metode Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini penulis melakukan beberapa metode

penelitian, antara lain:

1. Metode pendekatan

Metode pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah

pendekatan yuridis normatif. Penelitian dengan pendekatan yuridis

normatif adalah penelitian hukum kepustakaan yang

menitikberatkan pada penafsiran hukum dan konstruksi hukum37

Pada penelitian hukum jenis ini, hukum dikonsepkan sebagai apa

(22)

yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan (law in book)

atau hukum dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang

merupakan patokan berperilaku manusia yang dianggap pantas.38

2. Spesifikasi Penelitian

Spesifikasi penelitian yang peneliti pergunakan adalah Deskriptif

Sistematik yaitu penelitian yang bersifat menggambarkan atau

melukiskan kenyataan yang ada mengenai pengaturan terhadap

kewenangan Pemerintah untuk membatalkan perjanjian

Perdagangan Pasal 85 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-Undang

Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dikaitkan dengan

Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 dan peraturan

pelaksana lainnya yang berlaku kemudian diidentifikasi secara

sistematis terhadap pengertian-pengertian pokok atau dasar dalam

pengaturan tersebut serta mendapatkan jawaban dari

permasalahan yang ada dalam penelitian ini.

3. Tahapan penelitian

Adapun tahapan penelitian yang dilakukan dalam mendukung

kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Penelitian Kepustakaan (Library Research),

(23)

Studi kepustakaan merupakan suatu metode pengumpulan data

yang diperoleh dengan cara membaca bahan-bahan kepustakaan

atau buku-buku yang berkaitan dengan topik masalah atau

pembahasan yang sedang diteliti. Dalam hal ini bahan-bahan hukum

yang berkaitan dengan masalah kewenangan Pemerintah untuk

membatalkan perjanjian Perdagangan Internasional yang melanggar

kepentingan nasional berdasarkan Pasal 85 Ayat (1) dan Ayat (2)

Undang-undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan

dikaitkan dengan Vienna Convention on the Law of Treaties 1969

dan peraturan pelaksanaan lainnya yang berlaku. Penelitian

Kepustakaan dengan mengkaji data sekunder yang berkaitan

dengan objek penelitian. Adapun yang dimaksud dengan data

sekunder terdiri dari :

a. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan-bahan hukum yang

mengikat seperti:

1. Vienna Convention On The Law Of Treaties 1969

2. Undang-Undang Dasar 1945

3. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang

Perdagangan

4. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang

Perjanjian Internasional.

b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan-bahan hukum yang

(24)

seperti RUU Perdagangan, naskah akademik, karya-karya

ilmiah para sarjana, jurnal dan tulisan-tulisan lain yang

bersifat ilmiah dsb. Penelitian terhadap bahan seperti jurnal

internasional. Bahan sekunder ini dimaksudkan untuk

membantu menganalisis dan memahami bahan hukum

primer.

c. Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan-bahan hukum yang

memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan

hukum primer dan bahan hukum sekunder. Contohnya kamus

umum, kamus istilah hukum, black law dictionary..

4.Teknik pengumpulan data

Data penelitian yang ada dikumpulkan dengan teknik

sebagai berikut :

a. Studi kepustakaan dikaitkan dengan badan hukum primer, bahan

hukum sekunder dan bahan hukum tersier.

b. Wawancara

Dilakukan untuk mencari pemahaman mengenai pembelakukan

peraturan perundangan, istilah hukum dalam

undang-undang melalui mekanisme wawancara terhadap

instansi-instansi terkait.

(25)

Metode yang digunakan adalah yuridis kualitatif, yaitu data yang

diperoleh melalui penelitian kepustakaan dan wawancara kemudian

disusun secara sistematis, dan selanjutnya dianalisis secara kualitatif

untuk mencapai kejelasan masalah yang akan dibahas. Data tersebut

kemudian dianalisis secara interpretatif menggunakan teori maupun

hukum positif yang telah dituangkan kemudian secara deduktif ditarik

kesimpulan untuk menjawab permasalahan yang ada.

6. Lokasi Penelitian

Untuk memperoleh data yang diperlukan, maka penelitian lapangan

antara lain di lakukan di Bandung dan Jakarta:

a. Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas

Padjadjaran, Gedung Mochtar Kusumaadmadja Jalan Dipati

Ukur Nomor. 35 Bandung.

b. Pusat Sumber Daya Informasi Ilmiah dan

Perpustakaan Universitas Padjadjaran (CISRAL) Jalan Dipati

Ukur Nomor. 46 Bandung.

c. Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia, Jl.

Taman Pejambon No. 6. Jakarta Pusat 10110

d. Kementrian Perdagangan Republik Indonesia, Jl.

Ridwan Sais No.5, Jakarta Pusat

e. Kementrian Hukum dan Ham Republik Indonesia, Jalan Let

(26)

Daftar Pustaka

A. Buku-buku

Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum: PT Rajagrafindo Persada, cetakan ke-2, Jakarta, 2008

Anthony Aust, Hand Book of International Law, second edition: Cambridge University press, London, 2010

(27)

Budiono Kusumohamidjojo, Suatu Study terhadap Aspek Operasional Konvensi Wina 1969 tentang hukum Perjanjian: C.V Bina Cipta, cetakan pertama, Bandung, 1986

D.W.Greigh, International Law Second Edition, Cambridge Journal, London: 1976

Damos Dumoli Agusman, Hukum Perjanjian Internasional,: Refika Aditama, Bandung 2000

Huala Adolf, Hukum Perdagangan Internasional, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, cetakan ke-2, 2005

I Wayan Parthiana, beberapa masalah dalam Hukum Internasional dan

Hukum Nasional Indonesi: Bina Cipta, cetakan pertama, Bandung, 1987

___________________Perjanjian Internasional, bagian satu: C.V. Mandar Maju, cetakan pertama, Bandung, 2002

J.G.Starke, Pengantar Hukum Internasional, edisi kesepuluh: C.V. Sinar Grafika, Jakarta, 2007

Malcolm N Shaw, International Law, Fifth Edition: Cambridge University, London, 2003

_____________________________, Fourth Edition: Cambridge

University, London1997

Mochtar Kusumaatmadja & Etty R Agoes, Pengantar Hukum Internasional, Bandung:P.T. Alumni, 2003

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normative Suatu

Tinjauan Singkat: PT Rajagrafindo Persada, cetakan ke-3, Jakarta,2009

B. Jurnal dan Sumber lain

(28)

International Court of Justice , Judgement, 25 september 1977, diakses di

www.icj-cij.org/docket/files/92/7375.pdf, pada tanggal 26 Agustus

2014, pukul 15.14.

Muhammad Ahalla, Peranan Kepentingan Nasional Dalam Hubungan Internasional, 27 Desember 2012, diakses di www.muhammad-ahalla-fisip12.web.unair.ac.id, tanggal 15 mei 2014, pukul 15.45

C. Perundang-undangan dan konvensi

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Amandemen Ke-IV Tahun

1945

Undang-Undang No.7 tahun 2014 tentang Perdagangan

Undang-Undang No.24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional

Vienna Convention On The Law Of Treaties 1969

Statuta Mahkamah Internasional

(29)

Referensi

Dokumen terkait

pinjam pakai M Pemanfaatan Kayu PT Nusantara Berau Coal didasari oleh adanya Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) yang juga merupakan atau berlaku sebagai izin

Atas dasar hipotesa di atas maka pada penelitian ini dilaksanakan pengukuran posisi (koordinat X,Y) dari serangkaian titik-titik yang terletak di jaringan jalan

Dalam Pasal 1 ayat (2) undang-undang tersebut antara lain dinyatakan, “Daerah-daerah yang mempunyai hak, asal-usul dan di zaman sebelum RI mempunyai pemerintahan

Dalam riset bidang sistem informasi, banyak peneliti (Compeau dan Higgins, 1995; Stone et al. 1996; Wijaya 2003) yang telah menguji variabel self efficacy yang dihubungkan

Scope of work : Factory utility , control panel for utility, SCADA & Monitoring System. • Baria

Dilatar belakangi pembelajaran matematika yang membuat siswa jenuh terutama dalam berhitung yang mana Pada kondisi awal pembelajaran /pra siklus hasil belajar siswa masih rendah,

Selain itu, kehadiran setan dan percakapan singkatnya dengan Allah dalam prolog membuka mata kita untuk mengetahui bahwa penderitaan Ayub bukan karena dia berdosa atau

Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pelatihan daring dengan tema Mendesain Aktivitas Pembelajaran Daring yang Menarik” telah memberikan kontribusi yang cukup