• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN EKONOMI DAN POLITIK CINA ASEAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN EKONOMI DAN POLITIK CINA ASEAN"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

1

HUBUNGAN EKONOMI DAN POLITIK CINA-ASEAN

DALAM KERJA SAMA PERDAGANGAN ACFTA TAHUN

2010

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hubungan Internasional Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

DISUSUN OLEH : ANDIK SETYA NURYAHYA

NIM. 0811240038

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

(2)

2

HUBUNGAN EKONOMI DAN POLITIK CINA-ASEAN DALAM KERJASAMA PERDAGANGAN ACFTA TAHUN 2010

SKRIPSI

Disusun oleh : Andik Setya Nuryahya

Nim. 0811240038

Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing :

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

Asih Purwanti, S.IP, MIP Achmad Fathoni K, S.IP.,

MA

NIK. 77102911120116 NIK. 82012311110025

Tanggal : 10 Juli 2015 Tanggal: 10 Juli 2015

Mengetahui,

Ketua Program Studi Hubungan Internasional

(3)

3

HUBUNGAN EKONOMI DAN POLITIK CINA-ASEAN DALAM KERJASAMA PERDAGANGAN ACFTA TAHUN 2010

SKRIPSI

Disusun oleh : Andik Setya Nuryahya

Nim. 0811240038

Telah diuji dan dinyatakan LULUS dalam ujian Sarjana pada tanggal 23 Mei 2015

Tim Penguji:

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

Asih Purwanti, S.IP, MIP Achmad Fathoni K, S.IP.,

MA

NIK. 77102911120116 NIK. 82012311110025

Anggota Penguji 1. Anggota Penguji 2.

Erza Killian S.IP., M.IEF Yustika Citra Mahendra,S.Sos.,MA

NIK. 83090911120078 NIK. 84082311110335

Malang, 10 Juli 2015 Dekan,

(4)

4

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Terselesainya penulisan skripsi ini tidak luput dari bantuan dan motivasi serta partisipasi dari semua pihak, untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada :

1. Ayah, Ibu, Adik dan segenap keluarga yang telah memberikan dorongan,

membimbing, mengasuh dan mendidik baik mental maupun spiritual kepada penulis.

2. Ibu Asih Purwanti, S.IP, MIP dan Bapak Achmad Fathoni K, S.IP., MA

selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu guna memberikan bimbingan dan petunjuk serta pengarahan untuk penulis dalam menyusun skripsi ini.

3. Ibu Erza Killian S.IP., M.IEF dan Bapak Yustika Citra

Mahendra,S.Sos.,MA selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan arahan bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Serta segenap sahabat-sahabat dan rekan-rekan yang tidak mungkin

disebutkan namanya satu-persatu yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

(5)

5

Akhirnya penulis berharap agar skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan bagi penulis khususnya dan dapat bermanfaat di dunia dan akhirat. Hanya kepada Allahlah penulis memohon taufiq dan hidayah-Nya semoga skripsi ini memperoleh ridha-Nya, Amin.

Malang, 10 Juli 2015

(6)

6

PERNYATAAN

Nama : Andik Setya Nuryahya Nim : 0811240038

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skipsi berjudul “Hubungan

Ekonomi dan Politik Cina-ASEAN Dalam Kerjasama Perdagangan ACFTA Tahun 2010” adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya, dalam skripsi tersebut diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang saya peroleh dari skripsi tersebut.

Malang, 10 Juli 2015

Yang membuat

pernyataan

(7)

7

ABSTRAK

HUBUNGAN EKONOMI DAN POLITIK CINA-ASEAN DALAM KERJASAMA PERDAGANGAN ACFTA TAHUN 2010

Oleh: Andik Setya Nuryahya

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan menjelaskan hubungan ekonomi dan politik Cina dengan ASEAN dalam kerangka kerjasama perdagangan bebas ACFTA dimana kerjasama tersebut akan berlaku penuh di tahun 2010 untuk negara ASEAN 6 yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darusalam, Thailand dan berlaku pada tahun 2015 bagi Negara-negara di kawasan ASEAN yang tergolong Negara di bawah Negara berkembang yakni kamboja, laos, Vietnam dan Myanmar. Penelitian ini akan menjelaskan bagaimana kerjasama dalam bidang ekonomi dan politik yang di jalankan oleh Cina dalam kerangka kerjasama ACFTA dimana kerjasama tersebut selain mengandung unsur dalam bidang ekonomi juga membawa tujuan dalam bidang politik yang ingin di capai oleh Cina.

Dari hasil penelitian menggunakan sudut pandang konsep kerjasama internasional dapat dijelaskan bahwa kerjasama internasional di lakukan Negara bertujuan untuk mencapai kesejahteraan bagi masyarakatnya. Dalam kerjasama internasional juga di bagi kedalam beberapa bidang kerjasama seperti bidang ekonomi, bidang politik dan keamanan serta bidang sosial dan budaya. Selain itu juga terdapat beberapa alasan Negara dalam membentuk dan melakukan kerjasama yakni untuk meningkatkan ekonomi Negara lewat pembukaan pasar dan investasi, meningkatkan efisiensi lewat pemenuhan bahan baku produksi yang di dapat dari Negara lain, kerjasama dilakukan juga karena terdapat ancaman yang mengancam keamanan bersama serta kerjasama dilakukan sebagai bentuk pengurangan terhadap kerugian negatif yang di timbulkan akibat tindakan individual Negara dimana tindakan tersebut akan berdampak terhadap Negara lain. Dari beberapa alasan di atas dapat di jelaskan kerjasama ekonomi Cina dalam kerangka ACFTA berkaitan dengan trade dan investasi guna meningkatkan efisiensi dan kesejahteraan ekonomi sedangkan kerjasama politik Cina lebih di arahkan untuk menghadapi ancaman bersama di kawasan dan pengurangan terhadap tindakan individual Negara ASEAN yang akan berdampak pada Cina.

Kata kunci: ASEAN, Cina, kerjasama ACFTA, Kerjasama Internasional, Kerjasama Bidang Ekonomi, Kerjasama Bidang Politik.

(8)

8

ABSTRACT

CHINA-ASEAN ECONOMIC AND POLITICAL RELATIOS IN TRADE COOPERATION OF ACFTA 2010 ACFTA which in addition contain elements of cooperation in the economic field also brought in the political field goal to be achieved by China .

From the viewpoint of the results of research using the concept of international cooperation can be explained that international cooperation in doing the State aims to achieve prosperity for its people. In international cooperation also is classified into several areas of cooperation such as economics, politics and security as well as social and cultural fields. In addition, there are several reasons the State in shaping and cooperation which is to improve the country's economy through the opening of markets and investment, improve the efficiency of production through the supply of raw material in the can from other countries, cooperation is also because there are threats that threaten the common security and cooperation carried out as a negative form of a reduction of the losses that caused as a result of individual acts of the State in which such action would have an impact on other States. From some of reasons above can be explain China's economic cooperation within the framework of ACFTA relating to trade and investment in order to improve the efficiency and economic prosperity while more Chinese political cooperation is directed to face common threats in the region and the reduction of the individual actions of ASEAN countries will have an impact on China

(9)

9

2.2.1 Konsep Kerjasama Internasional ……… 11

2.3 Operasionalisasi Konsep……… 21

BAB IV. ASEAN CINA FREE TRADE AREA 4.1 Pembentukan Asean Cina Free Trade Area..……….. 28

4.2 Kondisi Ekonomi di Cina ………..………. 40

(10)

10

BAB V. IMPLEMENTASI KERJASAMA CINA DALAM KERANGKA ACFTA

5.1 Hubungan Kerjasama Ekonomi Cina………... 58

5.1.1 Impor Bahan Baku Produksi ………... 58

5.1.2 Ekspor Produk Guna Memperluas Pasar ………... 63

5.1.3 Investasi Asing Guna Menunjang Ekonomi Cina... 67

5.2 Hubungan Kerjasama Politik Cina………...……….. 71

5.2.1 Mengimbangi Jepang dan Amerika di Kawasan ASEAN... 71

5.2.2 Kerjasama Terkait Batas Wilayah Laut Cina Selatan ..…… 78

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan………. 82

(11)

11

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Skema Penurunan Tarif Pada ACFTA………...………. 35

Tabel 2. Tabel Harmony Sistem ………...……...………. 36

Tabel 3. China’s Average Annual Real GDP Growth 1979-2012………... 43 Tabel 4. Perdagangan Intra dan Ekstra ASEAN…………...…..…………. 52

Tabel 5. ASEAN States’ Main Products Exported to and Imported

From China 2000 and 2010……….………… 62 Tabel 6. ASEAN Trade With Selected Major Partners

(12)

12

DAFTAR GRAFIK

(13)

13

DAFTAR DIAGRAM

(14)

14

DAFTAR SKEMA

(15)

15 BAB I

PENDAHULUAN 1.1LATAR BELAKANG MASALAH

Setelah berakhirnya perang dingin dengan kemenangan Amerika Serikat

dari kubu blok barat dunia internasionalpun secara bertahap juga ikut mengalami

perubahan yang secara signifikan membawa dunia ke era globalisasi seperti pada

saat ini.1 Fenomena globalisasi tersebut merupakan sebuah fenomena sosial yang

salah satunya di tandai dengan adanya kerjasama global yang intens antara aktor

internasional baik itu dalam bentuk kerjasama antar Negara maupun kerjasama

bukan antara Negara yang di lakukan dalam berbagai macam bidang seperti

politik, sosial dan budaya, ekonomi serta lingkungan. Kerjasama yang di lakukan

antar aktor Negara maupun aktor non Negara tersebut menjadikan batas-batas

Negara tidak lagi menjadi penghalang untuk di lakukannya kerjasama. Dengan

semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat

seperti pada saat ini telah mendukung kemudahan dalam bekerjasama antar

Negara dan membuat kesalingtergantungan antar Negara dalam kerjasama

tersebut.

Suatu bentuk kerjasama internasional yang di lakukan antar Negara telah

menjadi hal yang mutlak di era global dikarenakan Negara tidak dapat memenuhi

kebutuhannya sendiri. Selain itu kerjasama internasional yang di lakukan antar

Negara diyakini dapat memberikan suatu manfaat dan keuntungan secara bersama

1 F. Kratochwil, E. D Mansfield,

(16)

16

bagi kedua belah pihak yang melakukan kerjasama dikarenakan kerjasama

tersebut di bangun atas dasar kesepakatan bersama dan adanya share belief di

antara para para pelaku kerjasama.2 Selain itu kerjasama internasional yang

dilakukan oleh Negara di dasarkan pada tujuan masing-masing Negara yang ingin

di capai secara bersama sehingga diperlukan suatu wadah untuk merumuskan

kerjasama tersebut secara lebih formal yakni melalui sebuah institusi yang telah di

sepakati bersama. Perkembangan global yang telah menjadikan Negara saling

tergantung satu sama lain lewat kerjasama internasional juga di lakukan oleh Cina

yang notabene merupakan bagian dari aktor global yang mengalami

perkembangan ekonomi paling stabil dunia.

Saat ini pertumbuhan ekonomi Negara Cina adalah yang paling cepat di

dunia. Dari tahun 1979 dan utamanya setelah Cina masuk sebagai anggota dari

WTO pada tahun 2001 sampai 2007 yang mana membuat gross domestic product

(GDP) Cina mulai tumbuh dengan rata-rata di atas 9 persen pertahun dengan GDP

nyata pada tahun 2007 sebesar 11,4 persen.3 Meskipun begitu sebenarnya Cina

juga menghadapi banyak tantangan akibat meningkatnya kejahatan korupsi,

ketergantungan pada segi ekspor dan pertumbuhan investasi tetap, melebarnya

disparitas pendapatan, serta meningkatnya inflasi. Atas hal tersebut maka

pemerintah Cina akan berusaha mencipatakan masyarakat harmonis (harmonious

society) dengan harapan akan menambah keseimbangan antara pertumbuhan

ekonomi dengan isu sosial. Pada saat ini pertumbuhan ekonomi Cina di dominasi

oleh dua hal, yaitu perdagangan dan investasi. Dari tahun 2004 sampai tahun

2 Ibid hal.46

(17)

17

2007, nilai total perdagangan barang Cina meningkat hampir dua kali lipat. Pada

tahun 2007, untuk pertama kalinya nilai total ekspor Cina adalah sebesar 1.218

miliar dolar melebihi Amerika Serikat yang hanya 1.162 miliar dolar. Lebih dari

setengah jumlah perdagangan Cina di kuasai oleh perusahaan asing di Cina.

Kombinasi dan besarnya surplus perdagangan, arus investasi asing

langsung (foreign direct investment), dan pembelian mata uang asing dalam

jumlah yang sangat besar, telah membantu dalam menjadikan Cina sebagai

Negara pemegang cadangan devisa terbesar di dunia, yakni sebesar 1,9 triliun

dolar pada akhir September 2008.4 Perkembangan ekonomi Cina yang pesat ini

menuntut Cina juga untuk memenuhi kebutuhan akan industrinya dan sumber

daya alam yang mana mengharuskan Cina untuk menjalin kerja sama dengan

aktor lainnya seperti ASEAN.

ASEAN merupakan organisasi geopolitik dan ekonomi dari Negara-negara

di kawasan Asia Tenggara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah.

Pembentukan organisasi regional ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama

multilateral antarnegara di kawasan Asia Tenggara. bentuk kerja sama ini meliputi

bidang ekonomi, sosial dan budaya serta pertahanan keamanan dan perdamaian

antar Negara ASEAN.5 Adapun pembahasan selanjutnya menitikberatkan pada

kerja sama ASEAN dalam bidang ekonomi yang di kenal dengan komunitas

ekonomi ASEAN (KEA) dengan tujuannya yakni menjadikan kawasan tersebut

4

Wayne M. Morrison, CRS Report for Congress-China’s Economic Conditions, 20 november 2008, summary, http://www.fas.org/sgp/crs/row/RL33534.pdf, di akses pada tanggal 1 juni 2014 hlm.1

(18)

18

stabil, makmur, dan berdaya saing tinggi dengan aliran bebas dengan tingkat

pembangunan ekonomi yang merata dan kesenjangan ekonomi semakin

berkurang.6 Perkembangan global mengharuskan ASEAN untuk melakukan kerja

sama ekonomi internasional, melalui pembentukan kawasan perdagangan bebas

ASEAN melakukan kerja sama ekonomi dengan beberapa Negara mitra seperti

Jepang, Cina, Korea, Australia, Selandia Baru dan India. Dari beberapa mitra

ASEAN, Cina merupakan Negara yang mengalami pertumbuhan paling cepat

yang mampu menjadi penggerak perekonomian dunia. Hubungan antara ASEAN

dan Cina dalam hal perdagangan bebas tercermin dalam bentuk ACFTA.

Kerja sama ACFTA adalah suatu bentuk kerja sama dalam bidang

ekonomi antara Negara Cina dengan Negara-negara di kawasan Asia Tenggara

yang masuk dalam ASEAN. ACFTA mencakup 1,9 milyar konsumen dengan

pertumbuhan PDB regional yang berada pada posisi ke tiga di dunia setelah Uni

Eropa dan NAFTA, dan juga merupakan sebuah formalisasi dari proses integrasi

perekomian di kawasan yang telah berlangsung cukup lama dimana Cina adalah

adalah mitra partner kerjasama penting bagi ASEAN dan begitu juga sebaliknya.

Implementasi pada ACFTA ini dilaksanakan mulai tahun 2005 dengan memulai

penurunan tarif atau bea masuk bagi barang dari Cina ataupun ASEAN dan di

harapkan pada tahun 2010 tarif atau bea masuk sudah berada pada tahap nol untuk

produk yang umum dan pada tahun 2018 pada produk yang di anggap sensitive. 7

6

Kementrian Republik Indonesia, “Kerjasama Perdagangan Bebas ASEAN dengan Mitra Wicara, Jakarta: Kementrian Republik Indonesia, 2010

7 http://unpad.ac.id/yogix/2010/03/12/Bagaimana-Mekanisme-Acfta-2010/ di akses pada tanggal 1

(19)

19

Kesepakatan pembentukan kerja sama perdagangan ACFTA tersebut di

awali oleh kesepakatan para peserta ASEAN-Cina summit yang di laksanakan di

Brunei Darussalam pada bulan November 2001. Kemudian hal tersebut di tindak

lanjuti dengan adanya penandatanganan naskah kerangka kerjasama ekonomi (the

framework agreement on comprehensive economic cooperation) oleh para peserta

dari ASEAN-Cina summit di Pnom Penh pada bulan November 2002. Di mana

naskah tersebut menjadi dasar dari pembentukan ACFTA dalam kurun waktu 10

tahun dan fleksibilitas bagi Negara tertentu seperti Kamboja, Laos, Myanmar dan

Vietnam.8

Dalam kerja sama ACFTA antara Cina dan ASEAN pastinya akan

mengalami kekurangan dan kelebihan dari masing-masing pihak. Bagi ASEAN,

ACFTA berguna untuk menekan dan mengurangi ancaman pertumbuhan

perekonomian Cina yang pada saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Melalui ACFTA, ASEAN memiliki akses untuk dapat masuk ke pasar domestik

Cina yang begitu besar dan luas.9 Dengan jumlah penduduk terbesar di dunia Cina

merupakan mitra dagang yang cukup penting dan mengimpor 12 persen volume

produk Negara di ASEAN pada tahun 2008. Ini tentu saja membuat nilai ekspor

ASEAN dengan Cina mencapai 11 persen dari keseluruhan ekspor ASEAN dan di

sisi lain ASEAN menjadi sasaran bagi 10 persen total volume ekspor dari Cina.10

8 http://www.aseansec.org/16646.htm di akses pada tanggal 1 juni 2014

9

http://www.tabloiddiplomasi.org/previous-isuue/158-agustus-2011/1188-keuntungan-yang-diperoleh-dari-acfta-lebih-besar-dibandingkan-dengan-kerugiannya.html diakses pada tanggal 1 juni 2014

10

(20)

20

Dari penjabaran di atas dapat di ketahui bahwa ACFTA merupakan suatu

bentuk kerja sama perdagangan bebas yang di lakukan oleh Cina dan ASEAN di

mana terdapat kepentingan nasional dalam bidang ekonomi utamanya karena ini

merupakan bentuk kerjasama di bidang ekonomi. Dalam pembentukan ACFTA

penggagas utama adalah dari Cina sendiri untuk ikut bergabung dengan kawasan

perdagangan bebas ASEAN yang mana padahal Cina merupakan Negara yang

terletak di kawasan Asia Timur di mana antara Negara di kawasan Asia Timur

sendiripun belum terdapat suatu bentuk kerjasama regional resmi seperti ASEAN.

Selain itu di lihat dari sikap Cina yang lebih merasa nyaman dalam melakukan

kerjasama dengan ASEAN di banding dengan kawasannya sendiri yaitu Asia

Timur dan juga dengan partner kerjasamanya dari Negara maju seperti amerika,

Uni Eropa maupun jepang telah menunjukkan keharmonisan dalam kerjasama

ACFTA yang dilakukan oleh Cina dengan Negara di kawasan Asia Tenggara.

Dari sisi ACFTA sendiripun dapat di lihat bahwa di antara mitra dialog ASEAN,

Cinalah yang pertama kali mengajukan proposal usulan kerjasama regional untuk

bergabung dengan kawasan perdagangan bebas ASEAN.

Pentingnya di lakukan penelitian pada tema kerjasama antara ASEAN dan

Cina dalam ACFTA adalah untuk mengetahui dan menjelaskan bagaimana

kerjasama yang dilakukan oleh Cina dalam kerangka kerjasama perdagangan

ACFTA tahun 2010 utamanya dalam bidang ekonomi dan politik dimana dalam

kerjasama yang dilakukan oleh Cina tersebut notabene juga membawa tujuan

(21)

21 1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dalam skripsi ini

penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana kerjasama

yang dilakukan oleh Cina di bidang ekonomi dan politik dalam kerjasama

ACFTA tahun 2010 dengan ASEAN?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan

menggambarkan bagaimana kerjasama ACFTA yang dilakukan oleh Cina

dalam bidang ekonomi dan politik.

1.4 MANFAAT PENELITIAN

1. Secara akademis, penelitian ini di harapkan akan memberikan pengetahuan

dan penjelasan secara umum dan menambah wawasan bagi para pembaca

mengenai hubungan ekonomi politik Cina dalam kerjasama ACFTA.

2. Penelitian ini juga dapat di jadikan bahan bacaan bagi mahasiswa ilmu

hubungan internasional dan di jadikan sebuah referensi bagi siapa yang

akan melakukan riset tentang hubungan internasional yang berhubungan

dengan kasus yang membahas masalah hubungan kerjasama Cina dengan

(22)

22 BAB II

KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Penelitian Terdahulu

Sangat banyak sekali buku mau pun literatur yang membahas dan

menjelaskan tentang hubungan kerjasama antara Cina dan Asia Tenggara, berikut

ini beberapa tulisan dari berbagai studi tentang hal tersebut yang penulis ambil

sebagai acuan:

Yang pertama adalah hasil karya dari Suthiphand Chirathivat dalam jurnalnya yang berjudul “ASEAN-Cina Free Trade Area : background,

implication and future development”11 dalam tulisannya chirathivat mengatakan bahwa kerjasama ACFTA yang di lakukan antara Cina dengan ASEAN

merupakan langkah Cina untuk dapat menumbuhkan perekonomiannya.

Walaupun pada kenyataannya kerjasama tersebut mengharuskan keduanya untuk

saling sama-sama untung. Kerja sama ini merupakan awal dari babak baru

rangkaian kerja sama ekonomi Cina terhadap ASEAN. Kerja sama ini di dirikan

pada bulan November 2001 dimana kedua belah pihak telah menyepakati bahwa

ACFTA ini berlaku dalam jangka waktu 10 tahun dan ini merupakan langkah

strategis Cina di kawasan Asia Tenggara. Perjanjian ini di tuangkan dalam bentuk

11 S. Chirathivat, ASEAN-Cina Free Trade Area: Background, Implication and Future

(23)

23

agreement di mana isi dari perjanjian tersebut mengharuskan kedua Negara untuk

saling untung.

Dengan pertumbuhan ekonomi Cina yang sangat pesat, kelihatannya Cina

akan lebih sering membutuhkan barang sumber produksi untuk industrinya dan

akan lebih banyak melakukan import. ASEAN akan nyediakan bahan baku ini

untuk Cina di mana bahan baku tersebut berupa natural resource dan intermediate

inputs. ASEAN dan Cina berharap dengan adanya ACFTA ini akan membuat

kedua pihak saling untung dan menimbulkan saling ketergantungan di antara

keduanya. Sehingga Negara ASEAN akan terstimulasi pertumbuhan ekonominya

dari adanya kerja sama dengan Cina tersebut.

Yang kedua adalah tulisan dari park donghyun yang berjudul “The

Prospects of ASEAN-Cina Free Trade Area: A Qualitative Assessment”12 dalam

tulisannya tersebut donghyun menjelaskan bahwa ASEAN dan Cina adalah

merupakan partner dalam bidang ekonomi dan juga sekaligus saling bersaing satu

dengan yang lain. persaingan tersebut tidak hanya dalam bidang ekspor pasar akan

tetapi juga dalam bidang FDI dari jepang maupun dari Negara industry lainnya.

Persaingan dengan Cina telah membuat ASEAN khawatir akan industry

manufaktur yang semakin berkembang di Cina bersamaan dengan tumbuhnya

ekonomi Cina. maka dari itu hubungan kerjasama ACFTA lebih di pilih oleh

ASEAN untuk meredam persaingan yang akan terjadi dengan ekonomi besar

Cina.

12Donghyun, park “

(24)

24

Selain itu penulis tersebut juga menjelaskan objek utama dalam penelitiannya

lebih condong kepada kemungkinan dan keinginan dalam bidang ekonomi yang

akan di dapat dalam hubungan kerjasama ACFTA dari perspektif ASEAN. Dengan menggunakan teori “custom union” maka dapat di tarik kesimpulan

bahwa ACFTA yang akan terjadi antara Cina dengan ASEAN akan menghasilkan

saling untung di antara kedua belah pihak. Hal tersebut di karenakan sebelum

adanya ACFTA sudah terdapat hubungan ekonomi yang cukup signifikan di

antara keduanya dan akan menjadi lebih signifikan dengan adanya ACFTA.

Dengan beberapa pertimbangan bahwa ACFTA akan mengalami kesuksesan

dalam penerapannya di harapkan ACFTA akan menjadi pemacu bagi industry di

ASEAN di karenakan industry di ASEAN mendapat saingan daripada industri di

Cina sebagai pesaingnya dalam ACFTA. Dalam jangka periode pendek Cina

sebagai competitor utama ASEAN kan memberikan dampak menyakitkan dalam

industri di Negara ASEAN dan ekonominya di karenakan industri di kawasan

ASEAN tidak memiliki keunggulan komparatif. Akan tetapi dampak menyakitkan

tersebut akan memaksa industri Negara di kawasan ASEAN untuk mau

berkembang dengan meningkatkan SDA dan peningkatan dalam bidang teknologi

sehingga dapat bersaing dengan industri dari Cina

Dari beberapa studi terdahulu tersebut terdapat perbedaan dengan penelitian

yang penulis ambil studi terdahulu yang pertama lebih menitik beratkan prospect

ACFTA dari segi Cina dan studi terdahulu ke dua lebih ke ASEAN sedangkan

penelitian ini lebih menekankan untuk menjelaskan bagaimna kerjasama ekonomi

(25)

25 2.2 Kerangka Konseptual

2.2.1 Konsep Kerjasama International

Dalam dunia hubungan internasional banyak di pelajari teori dan konsep

yang berkaitan dengan pengaturan hubungan antara Negara dalam melakukan

hubungannya dengan Negara lain salah satunya adalah tentang konsep kerjasama

yang mengatur tentang hubungan antara dua Negara atau lebih dalam melakukan

hubungan pada lingkup internasionalnya. Konsep tersebut mempelajari di

antaranya tentang penyebab dan kondisi dari suatu Negara dalam melakukan

kerjasama dengan Negara lain. Suatu bentuk kerjasama dapat terjadi bilamana

adanya keinginan suatu Negara dalam merespon tindakan-tindakan yang di

lakukan oleh Negara lain dalam lingkup internasional. Suatu bentuk kerjasama

juga dapat di jalankan dalam berbagai bentuk seperti dalam bentuk perundingan

bilamana karena belum terjadinya kesesuaian masalah dan tujuan daripada

dilakukannya kerjasama dan kerjasama yang terjadi tanpa perundingan bilamana

sudah terdapat kesamaan pandangan di antara anggotanya. 13

Terdapat banyak definisi daripada kerjasama itu sendiri yang berbeda

antara satu dengan yang lainya akan tetapi memiliki inti yang sama di dalamnya.

Kerjasama dapat di artikan sebagai suatu bentuk daripada hubungan yang berdasar

pada asas hukum yang ada dan terjadi karena kesadaran pelakunya dan bukan

didasarkan karena paksaan atau kekerasan seperti halnya dalam suatu organisasi

internasional. Suatu bentuk kerjasama juga terjadi karena sebagai respon dan

penyesuaian perilaku para aktor serta merupakan seuatu bentuk antisipasi terhadap

13 Dougherty, James E. & Robert L. Pfaltzgraff

Contending Theories in International

(26)

26

perilaku aktor lain dalam menjalankan tujuan yang ingin mereka capai. Kerjasama

juga dapat di lakukan melalui proses perundingan di dalamnya apabila terdapat

perbedaan pandangan di antara aktor-aktor yang ikut dalam suatu kerjasama guna

untuk menyesuaikan tujuan bersama. Selain itu kerjasama juga dapat di lakukan

tanpa media perundingan apabila di antara para aktor pelakunya sudah memiliki

kesamaan pandangan.14

Selain itu kerjasama juga dapat di definisikan sebagai serangkaian

hubungan timbal balik antara aktor yang tidak di dasarkan pada paksaan maupun

kekerasan dan berdasar pada hukum yang berlaku seperti kerjasama yang terdapat

pada sebuah organisasi internasional PBB ataupun Uni Afrika. Dalam definisi

tersebut kerjasama juga di maksudkan sebagai suatu usaha yang dilakukan

bersama antara perorangan atau sekelompok manusia guna mencapai tujuan

bersama. Kerjasama dapat muncul dari kesadaran individu yang memiliki

komitmen terhadap kesejahteraan bersama maupun sebagai dasar dari pemenuhan

kepentingan pribadi. Inti dari perilaku kerjasama terdapat pada sejauh mana

kepercayaan seseorang terhadap orang lain yang di ajak untuk bekerjasama.

Sehingga dapat di simpulkan inti dari konsep kerjasama berdasar pada pemenuhan

kepentingan pribadi, dimana hasil akhir yang menguntungkan kedua belah pihak

dapat di realisasikan melalui kerja sama daripada dengan usaha pribadi ataupun

dengan cara persaingan.15

(27)

27

Kerjasama dapat dijalankan dengan berbagai macam konteks yang berbeda

akan tetapi biasanya kebanyakan kerjasama dilakukan oleh dua aktor karena

memiliki kepentingan dan menghadapi suatu masalah yang sama. Bentuk

kerjasama dalam lingkup internasional juga dilakukan oleh Negara dibawah

naungan organisasi ataupun lembaga internasional. Kerjasama dalang lingkup

internasional biasanya lebih komplek karena melibatkan berbagai macam aspek di

dalamnya yang harus di perhatikan dan dipenuhi oleh kedua belah pihak yang

akan melakukan kerjasama.

Kerjasama internasional ini di definisikan sebagai salah satu usaha yang

dilakukan oleh Negara-negara untuk menyamakan kepentingan-kepentingan yang

sama dan merupakan suatu perwujudatan daripada kondisi masyarakat yang saling

membutuhkan satu dengan yang lainnya. Kerjasama internasional biasanya

berlangsung pada situasi yang bersifat desentralisasi di mana suatu kerjasama

tersebut melibatkan institusi-intitusi dan jaringan kultur yang dipisahkan secara

geografis oleh batas wilayah suatu Negara sehingga penyamaan pemikiran untuk

pemecahan masalah dalam kerjasama tersebut sangat diutamakan agar tidak

menimbulkan kebuntuan dalam kerjasama yang di jalin.16

Kerjasama internasional menurut Drs Teuku May Rudi di definisikan

sebagai suatu bentuk pola kerjasama yang melewati garis batas suatu Negara

dengan berdasarkan pada struktur yang jelas dan lengkap serta diharapkan akan

terus berlangsung secara berkesinambungan dan melembaga guna untuk mencapai

16 Sjamsumar Dam dan Riswandi, “Kerjasama ASEAN, Latar Belakang, Perkembangan dan Masa

(28)

28

tujuan yang telah disepakati bersama di antara kedua belah pihak baik antara

pemerintah dengan pemerintah maupun antar kelompok bukan dalam lingkup

pemerintah pada Negara yang berbeda. 17

Tujuan daripada suatu kerjasama internasional adalah untuk menambah

kesejahteraan bersama antar anggotanya dikarenakan memang setiap kerjasama

yang dijalin dan di bentuk oleh suatu Negara biasanya memang memiliki tujuan

guna mempercepat peningkatan kesejahteraan dan penyelesaian masalah di antara

keduanya. Menurut K.J Holsti proses terjadinya suatu bentuk kerjasama adalah di

dasarkan pada perpaduan dari berbagai macam permasalahan nasional, regional

maupun global yang menarik perhatian lebih dari satu Negara dalam lingkup

internasional. Kerjasama internasional menurut K.J Holsti di definisikan kedalam

beberapa bentuk seperti merupakan suatu bentuk perpaduan dua kepentingan atau

lebih terkait nilai dan tujuan dalam menghasilkan sesuatu serta di jalankan dan di

penuhi oleh semua pihak pelaku kerjasama. Selain itu kerjasama juga merupakan

suatu pandangan tentang kebijakan dari suatu Negara tertentu yang berguna bagi

tercapainya kepentingan dari Negara lain dalam bentuk persetujuan antara dua

Negara atau lebih yang memiliki kepentingan yang berbeda dan di dasari pada

aturan resmi yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. 18

Kerjasama internasional juga di bagi dalam beberapa bentuk bagian di

dalamnya yakni:19

17

Rudi, T.May. Teori, Etika dan Kebijakan Hubungan Internasional”. 1993. Hal.3

18 K.J Holsti, “International Politics, a Framework for Analysis”1995. Hal. 652-653 19 Pamuji Nanang Mugasejati, “

(29)

29

1. Kerjasama universal (Global) kerjasama universal di definisikan

sebagai suatu bentuk kerjasama yang bersifat universal atau global

dimana kerjasama ini memadukan daripada kepentingan dari

Negara-negara di seluruh dunia dan memiliki tujuan dan cita-cita bersama

yang ingin di capai oleh semua anggota di dalamnya.

2. Kerjasama regional dapat di definisikan sebagai suatu bentuk

kerjasama antar Negara yang memiliki kedekatan wilayah atau

geografis dimana yang paling menentukan dalam kerjasama regional

adalah kedekatan geografis antar Negara yang melakukan kerjasama.

Selain itu kesamaan pandangan politik dan kebudayaan dan struktur

ekonomi dari Negara dalam satu kawasan juga menjadi faktor penting

yang harus di pertimbangkan dalam kerjasama regional.

3. Kerjasama ideologis merupakan suatu bentuk kerjasama yang di

lakukan antar Negara yang memiliki kesamaan ide ataupun

kepentingan di dalamnya tanpa memandang batas wilayah geografis

Negara yang akan melakukan kerjasama. Kerjasama ideologis ini

biasanya dilakukan oleh kelompok kepentingan yang memnfaatkan

keterbukaan forum global untuk mencapai keuntungan dalam

kepentingannya.

4. Kerjasama fungsional merupakan suatu bentuk kerjasama yang terjalin

antar suatu Negara yang dianggap memiliki fungsi yang mendukung

(30)

30

tersebut sehingga kerjasama tersebut akan saling melengkapi berbagai

macam kekurangan dari Negara lain sebagai anggotanya. Fungsi yang

mendukung dalam kerjasama tersebut disesuaikan dengan kekuatan

kemampuan spesifik dari suatu Negara dimana kemampuan spesifik

dari suatu Negara tersebut di anggap merupakan kelemahan dari suatu

Negara lain sesama anggota.

Kerjasama internasional yang dilakukan oleh Negara pada akhirnya akan

menimbulkan suatu ketergantungan di dalamnya, dimana organisasi internasional

sebagai suatu bentuk wadah yang mewadahi kerjasama memainkan suatu peran

dengan kapasitasnya sebagai aktor non Negara. Tujuan akhir yang ingin di capai

dalam suatu kerjasama yang dilakukan di tentukan berdasarkan persamaan

kepentingan dari masing-masing Negara anggota. Berdasar pada kepentingan

yang menjadi tujuan kerjasama internasional dapat di bagi menjadi beberapa

tingkatan yakni: 20

1. Kerjasama dalam tingkatan konsensus yang didefinisikan sebagai

suatu bentuk kerjasama yang dilakukan antar Negara tanpa

memandang kepentingan dari Negara peserta anggota dan umumnya

Negara yang terlibat di dalamnya tidak memiliki keterlibatan yang

tinggi dalam kerjasama tersebut di karenakan tujuan kerjasama yang

berbeda dengan kepentingan bersama anggota.

20Hocking Brian, Smith Michael, “

(31)

31

2. Kerjasama dalam tingkatan kolaborasi merupakan suatu bentuk

kerjasama yang lebih tinggi dari konsensus di karenakan kerjasama

tersebut di bangun atas dasar sejumlah besar kepentingan di antara

anggota peserta kerjasama tersebut sehingga kerjasama tersebut

memiliki kesamaan tujuan yang ingin di capai dan umumnya Negara

yang terlibat memiliki keterlibatan yang tinggi guna mencapai

kepentingannya.

3. Kerjasama dalam tingkatan integrasi merupakan suatu bentuk

kerjasama yang di tandai dengan kedekatan dan keharmonisan yang

begitu besar di antara Negara yang terlibat dalam kerjasama tersebut di

karenakan perbedaan kepentingan pada anggotanya sudah tidak

tampak. Dalam tingkatan integrasi ini sangat jarang sekali terjadi

benturan kepentingan di antara anggotanya.

Berdasarkan pada bidangnya kerjasama antar Negara dibagi menjadi

beberapa bagian seperti kerjasama dalam bidang ekonomi, kerjasama dalam

bidang politik dan keamanan, kerjasama dalam bidang sosial.

Kerjasama dalam bidang ekonomi adalah merupakan suatu komponen

dalam kerjasama internasional yang membutuhkan suatu kondisi dimana

kerjasama tersebut mendukung daripada proses dalam perdagangan dan integrasi

keuangan dalam ranah internasional dengan melakukan penerapan suatu perilaku

yang mengarah pada tujuan pencapaian keuntungan dalam bidang ekonomi baik

(32)

32

cirikan dengan trade dan investasi dalam suatu bentuk kerjasama. Organisasi

dalam kerjasama dalam bidang ekonomi ini seperti APEC, MEE dan lain

sebagainya.21

Kerjasama dalam bidang sosial merupakan kerjasama yang di lakukan

oleh sekelompok Negara yang bertujuan untuk memberi dampak dan manfaat

dalam bidang sosial kemasyarakatan dan bertujuan untuk mencapai kepentingan

sosial daripada Negara yang melakukan kerjasama tersebut. bentuk kerjasama

sosial ini seperti misalnya badan-badan sosial yang ada dalam PBB seperti WHO,

ILO, UNICEF dan sebagainya.22

Kerjasama dalam bidang politik dan keamanan merupakan kerjasama yang

di lakukan oleh sekelompok Negara yang di jadikan tujuan untuk mencapai tujuan

daripada kepentingan kemanan dan politik bersama ataupun individual daripada

Negara-negara tersebut. kerjasama ini bisa berbentuk hubungan politik maupun

berupa kebijakan politik lokal maupun internasional baik dalam bidang ekonomi,

security, sosial antara Negara yang digunakan untuk mencapai kepentingannya

dan untuk menghadapi ancaman dari luar. Bentuk kerjasama dalam bidang politik

seperti SEATO, ANZUS, NATO, CENTO dan lain sebagainya. 23

Selain itu kerjasama internasional yang terbentuk juga memiliki alasan

masing-masing dari suatu Negara anggota kerjasama. Menurut K.J Holsti terdapat

21O’farrill Enrique, Fierro Juan, Eugenia Maria, Perez Eugenio, Vallejos Marcela, “

Economic Cooperation” 1999, hal. 15

22

Fehr Ernst & Gintis Herbert, “Human Motivation and Social Cooperation : Experimental and Analytical Foundations”,2006, hal. 10

2323 Pamuji Nanang Mugasejati, “

(33)

33

beberapa alasan umum yang melatarbelakangi Negara melakukan kerjasama

dengan Negara lain yakni: 24

1. Kerjasama dilakukan Negara guna meningkatkan ekonominya, dimana

dengan adanya kerjasama dengan Negara lain Negara tersebut akan

dapat mengurangi biaya produksi yang harus di tanggung dalam

memenuhi kebutuhan produk yang di produksi untuk rakyatnya karena

keterbatasan yang dimiliki Negara tersebut. Selain itu kerjasama juga

akan menciptakan peluang pembukaan pasar dan investasi yang akan

membantu ekonomi Negara.

2. Kerjasama dilakukan Negara untuk meningkatkan efisiensi yang

berkaitan dengan pemenuhan bahan baku produksi yang di dapat dari

Negara lain

3. Kerjasama dilakukan karena adanya permasalahan yang mengancam

keamanan bersama

4. Kerjasama dilakukan karena sebagai bentuk pengurangan terhadap

kerugian negatif yang timbul akibat tindakan individual Negara

dimana kerugian negatif tersebut akan berdampak terhadap Negara

lain.

Selain alasan yang mendorong Negara untuk melakukan kerjasama dengan

Negara lain, kerjasama juga berdasar pada faktor pendorong yang

melatarbelakangi terjadinya suatu kerjasama antar Negara. Menurut Koesnadi

24 K.J Holsti,

(34)

34

Kartasasmitra kerjasama internasional antar Negara di dorong oleh beberapa

faktor yakni: 25

1. Kerjasama di bentuk oleh faktor dalam bidang teknologi dimana

perkembangan teknologi yang semakin maju dan canggih mendorong

mudahnya suatu Negara melakukan hubungan kerjasama sehingga

meningkatkan kesalingtergantungan di antara keduanya.

2. Kemajuan dan perkembangan ekonomi dari suatu Negara juga menjadi

faktor pendorong dari terbentuknya kerjasama sehingga Negara yang

berekonomi kuat akan dapat membantu daripada Negara yang

memiliki ekonomi lemah lewat kerjasama.

3. Perubahan sifat peperangan yang mana dapat menjadi faktor

pendorong suatu keinginan bersama untuk saling melindungi dan

membela diri dari ancaman dalam bentuk kerjasama internasional.

4. Adanya kesadaran dan keinginan untuk berorganisasi pada Negara

sehingga menjadi faktor pendorong dalam melakukan kerjasama

dikarenakan dengan jalan membentuk suatu organisasi akan

mempermudah dalam penyelesaian permasalahan yang di hadapi.

25 Koesnadi Kartasasmita,

(35)

35 2.3 Operasionalisasi Konsep

2.3.1 ACFTA (Asean China Free Trade Area)

Kerjasama internasional tidak dapat di pisahkan dalam lingkup internasional karena Negara tidak dapat hidup sendiri dalam dunia

internasionalnya. Kerjasama perdagangan ACFTA merupakan suatu bentuk

kerjasama yang di lakukan antara Negara di kawasan ASEAN dengan Cina yang

mana kerjasama tersebut merupakan suatu bentuk kerjasama multilateral yang di

lakukan oleh Cina terhadap Negara di kawasan ASEAN. Sekilas kerjasama

tersebut dapat dilihat merupakan suatu bentuk daripada kerjasama dalam bidang

ekonomi akan tetapi ACFTA juga merupakan suatu bentuk produk daripada

kebijakan luar negeri Cina dalam bidang ekonomi di kawasan Asia Tenggara yang

mana hal tersebut dapa di golongkan kedalam ranah politik Cina itu sendiri

terhadap kawasan ASEAN.

Dalam kerjasama ACFTA yang akan berlaku pada tahun 2010 yang di

lakukan oleh Cina dengan Negara di kawasan Asia Tenggara Cina memiliki

tujuan dalam bidang ekonomi dan politik di dalamnya yang akan di capai

sebagaimana yang terdapat dalam konsep kerjasama bahwa kerjasama yang

dilakukan oleh Negara dengan Negara lain memiliki kepentingan di dalamnya.

Tujuan ekonomi daripada Cina itu sendiri dalam kerjasama ACFTA adalah dalam

bidang trade atau perdagangan dan investasi yang mana perdagangan tersebut di

bagi dalam dua bagian yaitu ekspor dan impor. Impor berkaitan dengan

(36)

36

pencarian dan pemenuhan bahan baku produksi yang berupa sumber daya alam.

Sedangkan ekspor dalam perdagangan berkaitan dengan tujuan perluasan pasar

daripada produk dalam negeri itu sendiri yang dalam kerjasama ACFTA ini

adalah Negara-negara kawasana Asia Tenggara dan yang terakhir adalah untuk

melakukan investasi baik itu investasi keluar maupun investasi ke dalam negeri

Cina dari kerjasama ACFTA yang di bentuk dengan ASEAN.

Sebagaimana kita tahu ACFTA merupakan produk kebijakan luar negeri

Cina dalam bidang ekonomi dengan kawasan Asia Tenggara yang mana dalam hal

ini Cina juga memiliki tujuan politik di dalamnya. Tujuan politik dalam ACFTA

berkaitan dengan political economy yang ingin dicapai lewat ACFTA. sehingga

ACFTA digunakan oleh Cina selain untuk memperoleh status internasional di

kawasan ASEAN juga untuk memperoleh status dalam lingkup global. Dalam hal

ini tujuan politik dari Cina terhadap kerjasama ACFTA mengarah pada

pembentukan kerjasama regional tersebut sebagai tuntutan dari perkembangan

regionalisme dunia terutama di Negara maju seperti NAFTA dan Uni Eropa

dalam lingkup global. Sedangkan dalam lingkup regional tujuan politik Cina

dalam kerjasama ACFTA berkaitan dengan persaingan status dengan Negara lain

(37)

37 2.4Alur Pemikiran

Apa tujuan ekonomi dan politik Cina dalam kerjasama ACFTA?

(38)

38 2.5 Argument utama

Menurut konsep kerjasama internasional hubungan kerjasama yang

dilakukan oleh Cina dalam ACFTA adalah kerjasama dalam bidang ekonomi dan

politik yang dilakukan dalam sisi ekonomi yakni perluasan pasar, impor bahan

baku dan investasi asing sedangkan di sisi politik kerjasama ACFTA dijalankan

oleh Cina untuk mengurangi pengaruh amerika dan jepang di kawasan Asia

Tenggara serta penyelesaian konflik laut Cina selatan

(39)

39 BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Tipe/Jenis Penelitian

Dalam melakukan penelitian haruslah menggunakan suatu metode yang

digunakan dalam menganalisa objek yang hendak diteliti oleh seorang peneliti,

dan dari itu penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Penelitian

deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk menguji hubungan antar

variable yang dihipotesiskan.26 Penelitian deskriptif, karena dalam format

penulisan dan penelitian ini, penulis mencoba menjelaskan dan menganalisa

masalah yang ada untuk dikaji dan pahami secara menyeluruh.

Dalam tulisan ini penelitian yang dilakukan merupakan tipe deskriptif.

Penelitian deskriptif digunakan untuk menggambarkan apa dan bagaimana

kerjasama yang dilakukan oleh Cina dalam ACFTA utamanya dalam bidang

ekonomi dan politik di lihat dari data-data di antara keduanya

3.2 Ruang Lingkup Penelitian

Penulis membatasi pembahasan pada hubungan kerjasama ekonomi dan

politik Cina-ASEAN dalam ACFTA tahun 2001-2010. Di maksudkan pembatasan

masalah yang akan dijelaskan dalam bidang ekonomi dan politik serta tahun

2000-2010 karena data-data tentang kerjasama tersebut berada dalam ruang

lingkup di tahun tersebut dan juga agar penelitian ini lebih fokus dan mendalam.

26Sanapiah Faisal,

(40)

40 3.3 Teknik Pengumpulan Data

Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data-data diperoleh

dari studi pustaka seperti buku, jurnal-jurnal ilmiah, diskusi dengan dosen

pembimbing dan bahan dari internet. Teknik pengumpulan meliputi proses

pengumpulan bahan-bahan, penyeleksian bahan yang tepat, dan pengaplikasian

dalam tulisan.

3.4 Teknik Analisis Data

Analisa data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk tertentu

agar lebih mudah dibaca dan diinterprestasikan.27 Penelitian ini menggunakan

metode kualitatif yang menggunakan kausalitas atas data dan variable yang ada.

Teknik analisa data kualitatif digunakan untuk menganalisis perilaku dan sikap

yang tidak dapat dikuantitatifikasi.28 Teknik analisa data dilakukan melalu analisa

non-statistik dimana data tabel, angka ataupun grafik diuraikan kedalam bentuk

kalimat dan paragraf untuk diinterprestasikan dan dijabarkan pada kajian analisa

yang menjelaskan rumusan masalah yang telah diajukan dalam penelitian.

3.5 Sistematika Penulisan

Penelitian ini disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut:

Bab I merupakan latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penulisan.

Bab II merupakan bab yang menjelaskan kerangka pemikiran yang terdiri dari

pendekatan/teori dan hipotesis.

27 Darsono Wisadirana,

Metode Penelitian dan Pedoman Penulisan Skripsi, 2005, hal. 101

28 Lina Harrison, Tej Tri Wibowo B.S,

(41)

41

Bab III merupakan metodologi penelitian terdiri dari tipe/jenis penelitian, ruang

lingkup penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, dan sistematika

penulisan.

Bab IV merupakan pembahasan tentang gambaran sejarah hubungan kerja sama

ACFTA antara Cina dengan ASEAN.

Bab V merupakan pembahasan tentang implementasi kerjasama Cina dalam

kerangka ACFTA.

(42)

42 BAB IV

ASEAN CINA FREE TRADE AREA

4.1 PEMBENTUKAN ASEAN CINA FREE TRADE AREA

Hubungan Cina dengan ASEAN secara resmi di mulai setelah tahun

1990-an yakni pada tahun bul1990-an Juli 1991 y1990-ang m1990-ana pada waktu itu menteri luar negeri

Cina saat itu Qian Qichen di undang oleh ASEAN untuk menghadiri pembukaan

ASEAN ministerial meeting (AMM) ke 24 di Kuala Lumpur atas undangan

pemerintah Malaysia. Pada waktu bersamaan menteri luar negeri Cina

menyampaikan keinginan untuk bekerjasama dengan dengan ASEAN. Tawaran

yang di ajukan oleh menteri luar negeri Cina tersebut di sambut positif oleh

ASEAN di tandai dengan kunjungan sekjen ASEAN ke Beijing pada September

1993 sekaligus menyepakati pembentukan dua joint committee di bidang ilmu

pengetahuan dan teknologi dan di bidang ekonomi dan perdagangan yang di

resmikan pada tahun 1994 di Bangkok, Thailand oleh keduanya. 29

Semakin membaiknya hubungan Cina dengan ASEAN ini di pertengahan

tahun 1990-an di tandai dengan semakin dipercayanya Cina oleh ASEAN dengan

peningkatan status yang awal mulanya adalah mitra konsultif menjadi mitra dialog

penuh ASEAN oleh komite tetap ASEAN. perubahan status tersebut di tetapkan

bersamaan dengan AMM ke 29 di Jakarta pada tahun 1996 di mana sebelumnya

29 Wang Gungwu, “China and Southeast Asia: The Context of a New Beginning,” in David

(43)

43

pada tahun 1994 Cina juga ikut berpartisipasi dalam ASEAN Regional Forum

(ARF) sekaligus menjadi mitra konsultatif ASEAN.30

Pada saat terjadinya krisis ekonomi Asia pada tahun 1997-1998 di mana

krisis tersebut membuat sebagian besar Negara di kawasan Asia Tenggara

terpuruk akan tetapi bagi Cina pada saat tersebut merupakan momentum utama

untuk lebih mendekatkan hubungannya dengan Negara di kawasan Asia Tenggara

dengan tidak melakukan penurunan nilai mata uangnya (devaluasi) yang mana

bila di lakukan akan menjatuhkan daya saing produk dari negara-negara ASEAN,

meskipun bagi Cina yang juga terkena dari efek krisis ekonomi juga mengalami

kesulitan dalam perekonomiannya. Hal ini dilakukan Cina untuk meningkatkan

citranya terhadap Negara di kawasan Asia Tenggara dan juga untuk mempererat

hubunganya dengan Negara-negara tersebut.

Pada pertemuan informal ASEAN+3 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada

tahun 1997 untuk lebih memperkuat hubungan antara Cina dengan ASEAN

presiden Cina pada saat itu yakni presiden Jiang Zemin menyatakan suatu

pernyataan tentang keinginan untuk membangun sebuah kemitraan bertetangga

yang baik dan saling percaya guna menghadapi abad ke-21. Setelah diadakannya

pertemuan tersebut telah di sepakati di antara kedua belah pihak untuk

menekankan adanya norma-norma dasar yang mengatur keduanya sebagai usaha

usaha dari Cina dan ASEAN untuk membentuk hubungan kemitraan yang baik

dan berorientasi pada abad 21 sesuai dengan cara hidup bertetangga yang baik dan

saling percaya antara satu dengan yang lainnya. Dengan adanya hal tersebut maka

(44)

44

dari itu sejak reformasi Cina di jalankan, hubungan Cina dan ASEAN semakin

erat di tandai dengan dilakukannya kesepakatan di kedua belah pihak untuk

melakukan pertemuan puncak ASEAN-Cina tiap tahunnya.31

Hubungan ASEAN dengan Cina dalam bidang politik dan keamanan juga

di tandai dengan adanya niat dari Cina untuk menunjukkan kepada Negara di

kawasan Asia Tenggara bahwa Cina bukanlah suatu ancaman untuk kawasan.

Pembuktian ini oleh Cina dilakukan dengan besedianya Cina untuk

menandatangani Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea

pada tahun 2002 yang di tujukan untuk mengurangi ketegangan dan membuka

jalan untuk melakukan eksplorasi bersama di wilayah laut Cina selatan antara

Cina dengan Negara kawasan Asia Tenggara. 32

Langkah selanjutnya yang di ambil oleh Cina untuk menunjukkan bahwa

Cina bukanlah ancaman di kawasan adalah dengan menandatangani treaty of

amity and coopration (TAC) di mana Cina pada KTT ke 7 di Bali merupakan

mitra dialog utama ASEAN yang mau menandatangani hal ini. Sedangkan dalam

bidang kerjasama ekonomi hubungan antara cina dengan ASEAN di tandai

dengan kerjasama free trade yang di lakukan Cina dengan ASEAN yakni

penandatangan dari Framework Agreement on Comprehensive Economic

Cooperation pada November 2002 yang merupakan awal dari terbentukanya

kawasan perdagangan bebas ASEAN-Cina (ACFTA) di mana Cina merupakan

31

Zhang Haibing, “Zhongguo-Dongmeng Quyu jingji Hezuo De Xinjinzhan Yu Wenti” [“Progress and Problems in China-ASEAN Regional Economic Cooperation”], Guoji wenti luntan

[International Review], No. 38, Spring 2005. www.siis.org.cn/gjwtlt/2005/zhanghaibin.htm.

32Wibowo, I & Hadi. S (eds), “

(45)

45

Negara partner mitra dialog ASEAN pertama yang menandatangani perjanjian

semacam ini dengan ASEAN.33

Hubungan antara ASEAN dan Cina telah berkembang lebih jauh pada

abad 21 terutama dalam bidang kerjasama ekonomi. Ini di tandai dengan

penandatanganan kerangka kesepakatan kerja sama dalam bidang ekonomi antara

ASEAN dan Cina pada tahun 2002 dimana ini menunjukkan adanya upaya dari

Cina untuk lebih mengintegrasikan dirinya ke kawasan Asia Tenggara.

kesepakatan tersebut selanjutnya berkembang kearah yang lebih mendalam yaitu

kesepakatan kerjasama perdagangan bebas ASEAN dan Cina (ACFTA). dalam

hal ini kesepakatan tersebut merupakan sebuah keputusan di antara kedua belah

pihak untuk memperluas hubungan kerjasama di antara mereka terutama dalam

bidang ekonomi dan politik.34Ide dalam pembentukan ACFTA berasal dari Cina

yang mana pertama kali mengajukan proposal kerjasama perdagangan bebas

terhadap ASEAN.proposal tersebut di ajukan oleh perdana menteri Cina Zhu

Rongji dalam ASEAN+3 Summit di Singapura pada November tahun 2001.

ASEAN-Cina Free Trade Area merupakan kerjasama perdagangan bebas

antara Negara-negara anggota ASEAN dengan Cina mengenai penurunan tarif,

bea masuk dan pajak di bidang barang dan jasa. Kerjasama tersebut berlaku

terhadap semua Negara anggota ASEAN sesuai dengan kesepakatan yang telah di

tandatangani.Dalam kerjasam tersebut mengatur tentang kesepakatan penurunan

33

Direktorat Jendral Kerjasama ASEAN Kementrian Luar Negeri RI 2010, ASEAN Selayang Pandang, hal. 169

34Alexander C. Chandra, “Indonesia d

(46)

46

tarif dan kerjasama dalam penghapusan tarif untuk mempermudah perdagangan

internasional yang digambarkan seperti yang ada pada WTO (world trade

organization).Kerjasama tersebut berawal dari pengajuan proposal yang di

lakukan oleh perdana menteri Cina terhadap ASEAN untuk membentuk kawasan

perdagangan bebas di antara keduanya.35

Maka dari itu sebagai tindak lanjut daripada proposal yang di ajukan oleh

Cina maka dari kedua belah pihak di bentuklah ASEAN-Cina Expert Group guna

mempelajari kemungkinan apa saja dari terbentuknya ACFTA. temuan yang di

dapatkan dari pembentukan badan tersebut pada tahun 2002 disebutkan bahwa

dengan di bentuknya ACFTA dalam kurun waktu 10 tahun kedepan akan

menciptakan sebuah kawasan baru dengan populasi 1,7 milyar penduduk dengan

total GDP (Gross Domestic Product) regional kawasasan yang mencapai 2

triliyun dolar AS dan total perdagangan di antara ASEAN dan Cina yang

mencapai 1,23 triliyun dolar AS.36

Dari hasil temuan yang di kemukakan oleh ASEAN-Cina Expert Group

tersebut maka pada ASEAN–Cina Summit ke 6 di Kamboja pada tahun 2002

perdana menteri Cina Zhu Rongji dan para pemimpin di ASEAN menandatangani

Framework Agreement on Comprehensive Economic Coopration. Kerangka

tersebut juga menjadi acuan resmi bagi ASEAN dan Cina untuk memperkuat

hubungan kerjasama di bidang ekonomi.Dalam framework yang di tandatangani

oleh kedua belah pihak tersebut di sepakati penetapan pembentukan perdagangan

35Ibid., hal. 238

36 Leong, HK & Ku, SCY (eds.), “China and Southeast Asia Global Changes and Regional

(47)

47

bebas pada sektor barang di tahun 2004, dalam bidang jasa pada tahun 2007 dan

investasi pada tahun 2009. Sedangkan dari sisi kesiapan pelaksanaan di antara

anggota ASEAN kerjasama tersebut di di targetkan akan siap di capai pada tahun

2010 untuk ASEAN-6 (Brunei, Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura,

Thailand) dan pada tahun 2015 untuk negara kawasan ASEAN yang tergolong

dalam ekonomi menengah kebawah yakni Negara-negara CLMV(Kamboja,

Myanmar, Laos dan Vietnam). 37

Dalam kerjasama tersebut terdapat setidaknya enam elemen penting

kesepakatan kerjasama ekonomi antara ASEAN dan Cina seperti: perdagangan

dengan berbagai fasilitasnya dalam area free trade seperti penurunan atau

penghapusan hambatan tarif dalam distribusinya. Bantuan yang di berikan kepada

Negara-negara anggota baru di ASEAN agar dapat mengikuti kerjasama free trade

tersebut.Mempromosikan perdagangan secara konsisten dengan peraturan di

WTO.Perluasan kerjasama yang tidak hanya dalam bidang ekonomi tetapi juga

dalam hal keuangan, pariwisata, pertanian, pengembangan SDM, dan hak

kekayaan intelektual(HAKI). Perlakuan khusus yang diberikan secara berbeda

beda terhadap Negara anggota baru ASEAN terkait dengan pembentukan ACFTA

dalam jangka waktu 10 tahun. Pembentukan lembaga-lembaga yang diperlukan

untuk menjalankan komitmen kerangka kerjasama ACFTA.38

Kerangka kerjasama tersebut berisi kerjasama ekonomi yang mencakup

sektor prioritas kerjasama seperti pertanian, teknologi informasi dan komunikasi,

37 Alexander C. Chandra, “Indonesia di Tengah Kesepakatan FTA ASEAN-China: Satu Kajian

Kritis”, 2009, hal. 239

(48)

48

pengembangan sumber daya alam, investasi serta pembangunan kawasan lembah

sungai Mekong.Selain itu kesepakatan ini juga bertujuan untuk memperkuat dan

meningkatkan kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi.Meliberalisasikan

perdagangan barang dan jasa serta investasi.Mencari area baru yang saling

menguntungkan di antara kedua belah pihak serta memfasilitasi integrasi ekonomi

yang lebih efisien terhadap Negara anggota baru ASEAN dan menjembatani gap

yang ada di antara kedua belah pihak. Dalam kesepakatan tersebut kedua belah

pihak juga telah setuju untuk memperkuat dan meingkatkan kerjasama ekonomi

dengan jalan penghapusan tarif dan hambatan non tarif dalam perdagangan barang

serta meliberalisasikan perdagangan jasa di antara kedua belah pihak.

Membangun suatu rezim investasi yang syarat akan kompetitif dan terbuka. 39

Kerangka perjanjian ekonomi dalam ACFTA di bagi dalam tiga tahapan

berdasarkan pada waktu penerapannya yakni tahapan Early Harvest P rogram

(EHP), normal track (NT), sensitive track (ST).40

1. Early harvest program

Produk dalam EHP antara lain di antaranya:binatang hidup, daging,

sayuran, tumbuhan, ikan, buah dan kacang-kacangan. Penurunan tarif

dalam fase ini di lakukan mulai 1 januari tahun 2004 secara bertahap

hingga mencapai tarif 0 persen pada januari tahun 2006. Dalam fase EHP

juga berlaku aturan tentang rules of origin (RoO) di mana aturan tersebut

sama dengan aturan yang berada dalam AFTA. Dalam aturan tersebut di

(49)

49

katakan bahwa produk-produk yang mengalami penghapusan tarif adalah

produk yang setidaknya memiliki kandungan asli dari suatu Negara di

kawasan ASEAN atau Cina sebesar 40 persen sedangkan aturan

pengurangan tarifnya sesuai dengan aturan yang ada pada CEPT yang

telah di tetapkan AFTA terlebih dahulu.

Tabel 1.

Skema penurunan tarif pada ACFTA

Sumber :Framework Agreement on Comprehensive Economic Co-Operation

Between ASEAN and the People's Republic of China, 4 November 2002

Berdasarkan tabel di atas, dapat di lihat bahwa produk yang semula

memiliki tarif awal sebesar 20 persen pada tahun 2007 akan di turunkan menjadi

12 persen dan selanjutnya akan turun lagi secara bertahap hingga menjadi 5

persen pada tahun 2009. Sedangkan produk yang memiliki tarif di bawah 20

persen yakni dengan tarif 15 persen akan mengalami penurunan menjadi 8 persen

pada tahun 2007 dan akan turun lagi secara bertahap menjadi 5 persen pada tahun

2009. Sama halnya dengan produk-produk bertarif di bawah 15 persen yakni

(50)

50

bawah 10 persen yakni 5 persen akan di turunkan menjadi 0 persen pada tahun

2009. Pada tahun 2010 semua produk yang berada dalam kategori kode harmony

system harus di bebaskan dari tarif secara penuh.

Tabel 2.

Tabel harmony system

Chapter Deskripsi

01 Live animals

02 Meat and edible meat offal

03 Fish

04 Dairy produce

05 Other animals products

06 Live trees

07 Edible vegetables

08 Edible fruits and nuts

Sumber: framework ACFTA tahun 2002

2. Tahap ke dua : Normal Track (NT)

Pada tahap ini di lakukan pengurangan tarif yang akan di mulai pada

tanggal 20 juli 2005 hingga menjadi 0 persen pada tahun 2010 dengan

ketentuan fleksibilitasnya dan akan menjadi 0 persen semuanya pada tahun

2012. Produk yang terdapat dalam fase ini adalah semua produk yang

tidak di masukkan dalam kategori produk di fase EHP kecuali produk

tersebut memiliki nilai ke sensitivean akan di masukkan dalam sesnsitive

(51)

51

penghapusan tarif secara bertahap sampai pada waktunya yang telah di

sepakati bersama.Penurunan tarif untuk Cina dan ASEAN 6 dilakukan

pada tahun 2005-2010, sedangkan Negara-negara ASEAN yang memiliki

ekonomi di bawah yakni CLMV dilakukan pada tahun 2005-2015.41

3. Tahap ke tiga : Sensitive Track

Dalam kategori fase sensitive track produk-produk yang di anggap

sensitive memerlukan waktu untuk penyesuaian diri sebelum di masukkan

ke dalam perdagangan bebas. Produk-produk yang masuk dalam kategori

ke tiga ini di bagi menjadi dua yaitu: sensitive list (SL) dan highly

sensitive list (HSL). Produk dalam kategori sensitive list akan di lakukan

penurunan tarif mulai tahun 2012 dengan maksimum tarif di tahun 2012

sebesar 20 persen dan akan menjadi 0-5 persen di awal 2018. Produk

dalam kategori ini sebanyak 304 produk diantaranya : barang jadi kulit:

dompet, tas,sepatu sport, alas kaki, casual, kacamata, kulit, alat musik :

tiup, petik, gesek, mainan: boneka, alat olahraga: alat tulis, besi dan baja,

sparepart, alat angkut, alkalaoid dan glokasida, senyawa organik,

antibiotik, kaca, barang-brang plastik.42Sedangkan produk yang berada

dalam kategori highly sensitive listakan mengalami penurunan tarif yang

di mulai pada tahun 2015, dengan tarif yang di tentukan pada tahun 2015

sebesar 50 persen. Produk yang ada pada kategori ini sebanyak 47 produk

di antaranya : produk pertanian seperti gula, jagung, beras dan kedelai,

(52)

52

produk industry tekstil dan produk tekstil, produk otomotif dan produk

keramik.43

Dalam skema perjanjian kerjasama ACFTA tersebut juga di sepakati

tentang peliberalisasian dalam bidang jasa dan investasi yang akan di lakukan

secara bertahap pada 2007 untuk jasa dan pada 2009 dalam bidang investasi.

Dengan adanya peliberalisasian dalam bidang jasa ini maka akses pasar di bidang

jasa dari kedua belah pihak antara ASEAN dan Cina seperti dalam hal transportasi

akan menjadi bebas seperti halnya barang. Sedangkan untuk dalam bidang

peliberalisasian investasi antara kedua belah pihak maka dari pemerintah

keduanya akan meningkatkan fasilitas, transparansi, perlindungan investasi dalam

iklim persaingan investasi di antara keduanya, menciptakan arus investasi yang

positif serta promosi untuk berinvestasi gua mendorong percepatan laju ekonomi

di antara kedua belah pihak.44

Selain itu ada beberapa hal yang di lihat ASEAN tentang Cina dalam

kerjasama ACFTA yang di bentuk di antara keduanya yang membuat ASEAN

tertarik untuk menyepakati kerjasama tersebut. Di lihat dari segi geoekonomi

yang sangat potensial yakni dari luas wilayahnya yang mencapai dua kali dari luas

ASEAN itu sendiri dan memiliki penduduk yang juga kurang lebih dua kali total

penduduk ASEAN yaitu 1,3 milyar. Dengan banyaknya penduduk yang ada di

Cina tersebut ASEAN memandang peluang dalam kekuatan daya beli yang sangat

besar dari penduduk Cina tersebut sehingga akan membuka peluang ekspor dalam

43ibid

(53)

53

pasar di Cina yang selama ini kurang efektif berlaku dalam perdagangan sesama

intra-ASEAN. 45

Selain itu ekonomi Cina lebih komplementer di banding dengan ekonomi

dalam intra ASEAN itu sendiri yang di tandai dengan rendahnya tingkat ekspor

sesama anggota ASEAN sehingga ASEAN bisa menjadi salah satu ekonomi

pelengkap bagi Cina karena dengan semakin tumbuhnya ekonomi global Cina

maka akan juga membutuhkan banyak energi yang dalam hal ini akan bisa di

penuhi oleh Negara-negara ASEAN yang juga kaya akan sumber energi. ASEAN

juga memandang dari kaca mata masa lalu tentang kebangkitan ekonomi jepang

yang dapat serta membawa kebangkitan ekonomi ASEAN sehingga kebangkitan

ekonomi Cina ini juga di pandang sama oleh ASEAN di mana ASEAN bisa

memanfaatkan kebangkitan ekonomi Cina dalam bidang ekspor di sisi ASEAN

dan impor dari sisi Cina yang semakin banyak membutuhkan sumber daya

produksi. 46

Dalam kerjasama ACFTA ini juga selain melibatkan pertimbangan

ekonomi juga melibatkan pertimbangan dalam aspek politik. Dari segi aspek

politik kebangkitan Cina juga mempengaruhi perubahan kebijakan Negara-negara

Asia Tenggara terhadap Cina seperti dalam hal penyelesaian konflik di dalam

regional untuk menciptakan kawasan betetangga yang harmonis, juga perlunya

kekuatan penyeimbang di kawasan Asia Tenggara yang selama ini di dominasi

Amerika Serikat dan Jepang, dan juga perlunya Cina untuk membantu ASEAN

45 Inayati, RS, ASEAN-CHINA FTA : Akselerasi Menuju East Asia Community (EAC)?, 2006,

Hal. 52

Gambar

Tabel 1.
Tabel harmony system
Tabel 3.
Tabel 4. Perdagangan Intra dan Ekstra ASEAN: 2003-2009
+2

Referensi

Dokumen terkait

Pada kerjasama perdagangan internasional di antara kedua Negara tersebut, masing-masing Negara (Indonesia-cina) memiliki keunggulan kompartif sehingga efisiensi perdagangan

Teori Ekonomi Politik penulis gunakan untuk melihat dan mengalisis sistem ekonomi Cina dimasa Mao Zedong maupun di masa Deng Xiaoping Sementara teori Sosialisme Marxis penulis

Teori Ekonomi Politik penulis gunakan untuk melihat dan mengalisis sistem ekonomi Cina dimasa Mao Zedong maupun di masa Deng Xiaoping Sementara teori Sosialisme Marxis penulis

Dalam penelitian ini, kerjasama internasional yang ditekankan adalah berkenaan dengan perdagangan bebas ASEAN dan China (ACFTA) dan dampaknya terhadap ekspor

ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) merupakan kesepakatan antara negara- negara anggota ASEAN dengan China untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas dengan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi ekonomi politik yang diterapkan Deng Xiaoping dalam membangun pertumbuhan ekonomi cina tidak dilakukan dengan secara totaliter

ACFTA adalah perjanjian regional antara negara- negara anggota ASEAN dengan China untuk menciptakan area perdagangan bebas dengan menghilangkan atau mengurangi hambatan

Beberapa bentuk kerjasama ekonomi yang dimaksud dalam ASEAN antara lain: 1 Kerjasama industri melalui ASEAN Industrial Coorperation AICO, 2 Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN AFTA yang