• Tidak ada hasil yang ditemukan

JDIH Murung Raya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "JDIH Murung Raya"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH KABUPATEN MURUNG RAYA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MURUNG RAYA NOMOR 2 TAHUN 2010

TENTANG

ALOKASI DANA DESA DI KABUPATEN MURUNG RAYA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI MURUNG RAYA,

Menimbang : a. bahwa Alokasi Dana Desa merupakan sumber pembiayaan yang diberikan untuk menunjang penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan pemberdayaan masyarakat sehingga terwujud pembangunan, pembinaan dan pelayanan kepada masyarakat di Kabupaten Murung Raya;

b. bahwa penetapan Alokasi Dana Desa yang akan diperoleh Desa dihitung berdasarkan asas pemerataan dan keadilan dengan memperhatikan potensi yang dimiliki setiap Desa;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b di atas perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Murung Raya;

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209) ;

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1994;

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Barito Timur di Provinsi Kalimantan Tengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 18, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4180);

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355);

5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389);

(2)

7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548) dan terakhir telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438);

9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5049);

10.Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan

12.Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4578);

13.Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa ( Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4548);

14.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737);

15.Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/ Daerah (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4738);

(3)

16.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa;

17.Peraturan Daerah Kabupaten Murung Raya Nomor 02 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Kabupaten Murung Raya (Lembaran Daerah Kabupaten Murung Raya Tahun 2008 Nomor 58);

18.Peraturan Daerah Kabupaten Murung Raya Nomor 05 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Murung Raya (Lembaran Daerah Kabupaten Murung Raya Tahun 2008 Nomor 61);

19.Peraturan Daerah Kabupaten Murung Raya Nomor 06 Tahun 2008 tentang

Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan Dan Kelurahan Kabupaten Murung Raya (Lembaran Daerah Kabupaten Murung Raya Tahun

2008 Nomor 62);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN MURUNG RAYA

dan

BUPATI MURUNG RAYA

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN MURUNG RAYA TENTANG ALOKASI DANA DESA DI KABUPATEN MURUNG RAYA.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan :

1. Pemerintah adalah Pemerintah Kabupaten Murung Raya.

2. Daerah adalah Kabupaten Murung Raya.

3. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Murung Raya.

4. Bupati adalah Bupati Murung Raya.

5. Kecamatan adalah wilayah kerja Camat sebagai Perangkat Daerah Kabupaten dan Kota.

6. Desa selanjutnya disebut desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam Sistem Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(4)

8. Pemerintah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah Kepala Desa atau Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa.

9. Peraturan Desa adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh BPD bersama Kepala Desa.

10.Pendapatan Asli Desa adalah semua penghasilan yang diperoleh dari sumber pendapatan asli desa di daerah Kabupaten Murung Raya.

11.Alokasi Dana Desa yang selanjutnya disebut ADD adalah semua dana yang dialokasikan Pemerintah Daerah untuk desa yang bersumber dari bagian dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten.

12.Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa yang selanjutnya disingkat APBDesa adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan desa yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah desa dan BPD, yang ditetapkan dengan peraturan desa.

13.Badan Permusyawaratan Desa yang selanjutnya disingkat BPD adalah sebagai lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintah desa sebagai unsur penyelenggaraan pemerintah Desa.

14.Kepala Desa adalah Pejabat Penyelenggara Pemerintahan Desa.

15.Lembaga Kemasyarakatan, adalah lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan merupakan mitra pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat.

16.Alokasi Dana Desa Minimal atau disingkat ADDM adalah besarnya bagian ADD yang sama untuk setiap Desa ( Azas Merata).

17.Alokasi Dana Desa Proporsional atau disingkat ADDP adalah besarnya bagian ADD yang dibagi secara Proporsional untuk setiap Desa berdasarkan kriteria tertentu (Azas Adil).

18.Proporsional---

BAB II

MAKSUD DAN TUJUAN

Pasal 2

Alokasi Dana Desa dimaksudkan untuk membiayai program Pemerintah Desa dan pemberdayaan Masyarakat.

Pasal 3

Tujuan alokasi dana desa adalah:

a. Menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan;

b. Meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan di tingkat desa dan pemberdyaan masyarakat;

c. Meningkatkan pembangunan infrastruktur perdesaan;

d. Meningkatkan pengamalan nilai-nilai keagamaan, sosial budaya dalam rangka mewujudkan peningkatan sosial;

e. Meningkatkan ketentaraman dan ketertiban masyarakat;

f. Meningkatkan pelayan pada masyarakat desa dalam rangka pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat;

g. Mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong royong masyarakat;

(5)

BAB III

PRINSIP DAN KEBIJAKAN ALOKASI DANA DESA

Pasal 4

(1) Alokasi Dana Desa merupakan wujud dari pemenuhan hak desa untuk menyelenggarakan otonomi agar tumbuh dan berkembang mengikuti pertumbuhan dari desa itu sendiri berdasarkan Keanekaragaman, Partisipasi, Otonomi Asli, Demokratisasi dan Pemberdayaan Masyarakat;

(2) Alokasi Dana Desa mencakup pembagian keuangan Pemerintah Kabupaten kepada Pemerintah Desa secara proporsional, demokratis, adil dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah;

BAB IV

SUMBER ALOKASI DANA DESA

Pasal 5

Bagian desa dari penerimaan Alokasi Dana Desa bersumber dari: a. Pajak daerah

b. Retribusi daerah

c. Perimbangan keuangan pusat dan daerah setelah dikurangi belanja pegawai d. Dana perimbangan provinsi.

Pasal 6

Sumber pendapatan desa yang berasal dari penerimaan alokasi dana desa sebagaimana pada pasal 5 terdiri dari :

a. Bagian dari dana perimbangan. yang diterima oleh kabupaten paling sedikit 10% (sepuluh per seratus);

b. Bagi hasil pajak dan retribusi Kabupaten paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) untuk desa; c. Bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan; d. Pendapatan asli desa, terdiri dari hasil usaha desa, hasil kekayaan desa, hasil swadaya dan

partisipasi, hasil gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli desa yang sah; e. Hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat.

PENETAPAN ALOKASI DANA DESA Pasal 7

(1) Alokasi Dana Desa (ADD) masing-masing desa ditentukan dengan menjumlahkan alokasi dana desa minimal (ADDM) dan Alokasi Dana Desa Proporsioanal (ADDP) berdasarkan porsi desa yang bersangkutan.

(2) Porsi desa sebagaimana dimaksud pada ayat 1 merupakan porsi bobot desa yang bersangkutan terhadap jumlah bobot seluruh desa dalam wilyah Kabupaten.

(3) Bobot desa sebagaimana dimaksud ayat 2 ditetapkan berdasarkan variabel/indikator sebagai berikut:

a. Tingkat Kemiskinan b. Tingkat Pendidikan Dasar c. Tingkat Kesehatan

(6)

(4) Alokasi dana desa minimal (ADDM) untuk masing-masing desa sebagaimana dimaksud pada ayat 1 adalah sebesar 60% ( Enam Puluh Per Seratus) diterima secara merata oleh seluruh desa dalam wilayah kabupaten.

(5) Alokasi dana desa proporsional (ADDP) untuk masing-masing desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebesar 40 % ( Enam Puluh Per Seratus ) diberikan secara proporsional kepada seluruh desa dalam wilayah Kabupaten.

(6) Variabel atau indikator untuk pembobotan dalam perumusan Alokasi Dana Desa dapat ditinjau ulang disesuaikan dengan perkembangan masyarakat.

BAB VI

PERHITUNGAN ALOKASI DANA DESA

Pasal 8

Perhitungan Alokasi Dana Desa untuk masing-masing Desa dilakukan dengan menggunakan rumus yang mempertimbangkan faktor pemerataan dan keadilan serta potensi desa dengan rumus-rumus sebagai berikut :

1. Rumus Alokasi Dana Desa (x) Tahun Anggaran (Pemerataan dan Keadilan) :

ADDx = ADDM + ADDPx

Keterangan :

ADDx = Alokasi Dana Desa untuk Desa x

ADDM = Alokasi Dana Desa Minimal yang diterima Desa ADDPx = Alokasi Dana Desa Proporsional untuk Desa x X = Desa

2. Rumus untuk menentukan Pembagian Dana Proporsional :

ADDPx = BDx * (ADD-∑ADDM)

Keterangan :

ADDPx = Alokasi Dana Desa Proporsional untuk Desa x BDx = Nilai Bobot Desa untuk Desa x

ADD = Total Alokasi Dana Desa

∑ADDM = Total Alokasi Dana Desa Minimal x = Desa

3. Rumus untuk menentukan Bobot Desa

BDx = a1 KV1x + a2KV2x +a3 KV3x + ...anKVnX

Keterangan :

BDx = Nilai Bobot Desa untuk desa x

KV1x, KV2x, KVnx = Koefisien Varibel pertama, kedua, dan seterusnya A1, a2, a3,....an = Angka Bobot masing-masing variabel

KV1,2,....x = V1,2,..x ∑Vn

Keterangan :

KV1,2...x = Nilai Koefisien Variabel Pertama, Kedua, dan seterusnya untuk Desa x. Misalnya V1,2,....x = Angka Variabel pertama, kedua dan seterusnya untuk desa x

(7)

BAB VII

PENGELOLAAN ALOKASI DANA DESA

Pasal 9

(1) Penggunaan Alokasi Dana Desa tersebut adalah untuk belanja opertansional Pemerintah Dana sebesar 30% yang dapat digunakan untuk:

a. Tunjangan Pemerintah Desa;

b. Tunjangan Badan Permusyawaratan Desa; c. Biaya Operasional Sekretariat Desa; d. Biaya Operasional sekretariat BPD;

e. Biaya Operasional Lembaga Kemasyarakatan Desa;

f. Biaya Perjalanan Dinas ( ke Provinsi, ke Kabupaten ke Kecamatan); g. Pengadaan Alat Tulis Kantor;

h. Biaya Makan Minum untuk : 1) Biaya makan dan minum rapat; 2) Biaya makan dan minum tamu; 3) Biaya makan dan minum kegiatan; 4) Biaya makan dan minum gotong royong.

i. Pengadaan Perlengkapan Kantor ( mesin tik, computer, kursi, meja, dll);

j. Honor pertanggung jawaban operasional kegiatan, Bendaharawan Desa dan Pemegangan kas; k. Honor Kepala Dusun, RT/TW, Mantir Adat.

(2) Sedangkan untuk belanja publik sebesar 70% (Tujuh Puluh Per Seratus) digunakan untuk membangun dan pemberdayaan masyarakat Desa dengan kegiatan sebagai berikut :

a. Biaya perbaikan publik dalam skala kecil(Pembangunan dan pemeliharaan Gedung, Kantor, Desa/ Balai Desa / Pos Kamling/ Pasar Desa/ Gapura/ Tempat Ibadah/ Dermaga)

b. Penyertaan modal usaha masyarakat melalui BUM Desa. c. Biaya untuk pengadaan ketahanan pangan .

d. Perbaikan lingkungan dan pemukiman.

j. Biaya peringatan hari-hari besar (HUT RI, dll)

k. Bantuan peringatan hari perayaan agama( Idul Fitri, Idul Adha, Natal, Maulid Nabi, dll ) l. Biaya pemilihan Kepala Desa.

m. melaksanakan dan penegasan tempat Batas Desa.

(3) Perubahan penggunaan Alokasi Dana Desa yang telah ditetapkan dalam APBDes harus mendapatkan persetujuan Badan Permusyawaratan Desa dan memperoleh pengesahan dari Bupati.

(4) Guna kepentingan pengawasan, maka semua penerimaan dan pengeluaran keuangan dicatat dan dibukukan sebagai bahan untuk dipertanggung jawabkan.

(5) Alokasi Dana Desa tidak boleh dipergunakan untuk kegiatan politik, melawan hukum dan untuk ditampung dalam APBDesa yang telah ditetapkan dengan Peraturan Desa.

(8)

BAB IX

LAPORAN DAN PERTANGGUNG JAWABAN

Pasal 11

(1) Pelaporan diperlukan dalam rangka pengendalian dan untuk mengetahui perkembangan proses pengelolaan dan penggunaan Alokasi Dana Desa mencakup :

a. Perkembangan pelaksanaan dan penyerapan dana b. Masalah yang dihadapi

c. Hasil akhir penggunaan Alokasi Dana Desa.

(2) Kepala Desa wajib melaporkan penggunaan Alokasi Dana Desa kepada Bupati paling lambat pada akhir Tahun Anggaran, dengan tembusan kepada Inspektorat Kabupaten, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah dan Camat masing-masing.

Pasal 12

(1) Peraturan Desa yang berkaitan dengan pengelolaan dan pertanggungjawaban Alokasi Dana Desa harus sudah siap sebelum melaksanakan Alokasi Dana Desa berdasarkan Peraturan Daerah ini.

(2) Pembangunan Desa yang bersumber dari Alokasi Dana Desa dilaksanakan secara swakelola oleh Lembaga Kemasyarakatan di Desa, yang pertanggung jawabkan secara langsung kepada masyarakat penerima manfaat dan BPD.

(3) Pertanggung jawaban Alokasi Dana Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan secara partisipasi, transparan dan akuntabel.

(4) Ketentuan lebih lanjut tentang mekanisme pertanggung jawaban Alokasi Dana Desa diatur dalam Peraturan Bupati.

BAB X

PENGAWASAN

Pasal 13

(1) Pengawasan terhadap Alokasi Dana Desa beserta kegatan pelaksanaan dilakukan secara fungsional oleh pejabat yang berwenang dan oleh masyarakat.

(2) Jika terjadi penyimpangan dan penyalahgunaan Alokasi Dana Desa, maka penyelesaiannya dilakukan secara berjenjang dari tingkat Desa, kemudian tingkat Kecamatan dan selanjutnya sampai tingkat Kabupaten sesuai Perundang-undangan yang berlaku.

BAB XI

KETENTUAN SANKSI

Pasal 14

(1) Bupati dengan persetujuan DPRD, berhak mengurangi jumlah Alokasi Dana Desa tertentu pada tahun berikutnya dari jumlah yang seharusnya secara profesional bagi Desa yang terbukti tidak mampu melaksanakan pembangunan skala Desa yang bersumber dari Alokasi Dana Desa secara akuntabel dan transparan serta partisipasif.

(9)

BAB XII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 15

Hal-hal lain yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati sepanjang mengenai pelaksanaannya.

Pasal 16

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan agar semua dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Murung Raya.

Ditetapkan di Puruk Cahu Pada tanggal 26 Juli 2010

BUPATI MURUNG RAYA,

ttd

WILLY M. YOSEPH

Diundangkan di Puruk Cahu Pada tanggal 26 Juli 2010

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN MURUNG RAYA,

ttd

YURIANSON DJATA

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

dan 4,8%. Kandungan protein bentos ini lebih rendah dibandingkan dengan kandungan protein pakan buatan. Hal ini diduga merupakan salah satu penyebab rendahnya pertumbuhan

Dari hasil pengujian perangkat keras, dapat disimpulkan bahwa rangkaian pengkondisi sinyal telah dapat memotong sinyal masukan pada tegangan 374,465 mV1. Pengujian perangkat

Peraturan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan

Selain itu, analisis terhadap pasar dan pemasaran pada suatu usulan proyek ditujukan untuk mendapatkan gambaran tentang potensi pasar bagi produk yang tersedia untuk

Pada perancangan MIMO dibuat dari 16 elemen antena sirkular tunggal yang sudah dilakukan optimasi, kemudian dibentuk dengan pola 4×4 seperti pada Gambar 5.. Namun

Dalam penelitian ini digunakan Ascaris suum sebagai model untuk Ascaris lumbri- coides karena secara etis tidak memungkinkan untuk mendapatkan Ascaris lumbricoides

Beberapa perubahan yang diketahui telah terjadi pada masyarakat di Desa Mekarlaksana, diantaranya yaitu: meningkatnya pemahaman masyarakat terkait dengan jenis

5 dehidrasi tetapi ringan, yakni apabila cairan yang hilang 2-5% dari berat badan, (3) Diare yang disertai dengan dehidrasi sedang, yakni apabila cairan yang