GEJALA TENGGAT WAKTU DI DALAM ORGANISASI
Oleh Johnson Dongoran
Secara sederhana, tenggat waktu dapat diberi pengertian sebagai saat terakhir penyelesaian tugas tertentu. Pengertian sederhana ini berlaku bagi perorangan maupun bagi organisasi. Bagi organisasi, pengertian tenggat waktu dapat diperjelas sebagai saat terakhir penyelesaian tugas tertentu yang dipercayakan organisasi kepada tenaga kerja, baik perorangan maupun kelompok atau unit, dalam rangka mencapai sasaran akhir (terminal objective) melalui pencapaian sasaran antara (enabling objective) organisasi. Tenggat waktu dalam kehidupan pribadi atau perorangan tidak jauh berbeda dengan tenggat waktu dalam kehidupan organisasi, yang bisa bersifat jangka pendek, menengah maupun jangka panjang (Pearce and Robinson, 2008).
Sejak manusia mengenal waktu ribuan tahun lalu, pastilah manusia terkait langsung dengan tenggat waktu, walau harus diakuki bahwa secara akademik masalah tenggat waktu di dalam organisasi belum banyak dibicarakan. Di dalam perusahaan Jepang dikenal istilah long-term and secure employment (Robbins, 1983) dan just in time
dalam proses produksi (Schonberger, 1982). Taylor memperkenalkan time and motion study (March and Simons, 1958). Lorsh dan Morse mengemukakan adanya time orientation baik pada perorangan maupun pada organisasi agar “fit” dengan lingkungan
(Miner, 1982). Miner menyebut bahwa pabrik umumnya berorientasi jangka pendek sedangkan research laboratory lebih efektif bila berorientasi jangka panjang (Miner, 1982). Selanjutnya, dalam berbagai literature strategi, salah satu ukuran tujuan yang bermutu adalah apabila jelas tenggat waktu pewujudan tujuan tersebut, yang dikenal dengan istililah time bond (David, 2007). Sementara itu, Gersick (1988) mengkaitkan waktu dengan perkembangan kelompok di dalam organisasi. Walau belum banyak yang membahas, namun berbagai referensi di atas menunjukkan adanya tenggat waktu dalam kehidupan berorganisasi.
Pandangan tentang waktu dan praktik penerapan tenggat waktu juga nampak dalam kehidupan komunitas. Pada masyarakat di Jawa misalnya dikenal istilah ‟hidup ini
cuma numpang minum‟, yang secara langsung berarti adanya pengakuan tenggat waktu kehidupan pribadi di jagad raya ini dan di dalam bermasyarakat. Dalam komunitas suku Batak, dikenal beberapa istilah berkaitan dengan waktu antara lain tarlalap (terlena tentang kehidupan), lilian (lupa tujuan utama karena tergoda sesuatu yang bersifat jangka pendek) dan gira, yaitu upaya serius dan bergegas menangani persoalan, dan kalau bisa jangan sampai terbenam matahari, persoalan sudah selesai ditangani dengan baik, dan memberi yang terbaik bagi semua orang yang terlibat dalam persoalan tersebut. Selain itu, orang Batak mengenal istilah tingki yang berarti saat tertentu ketika melakukan sesuatu. Pada masyarakat dan budaya Halmahera, ketepatan waktu juga sangat dihargai. Hal ini dapat dilihat dalam budaya meminang. Apabila tuan rumah (orang tua gadis) sudah memasang lampu Pitromax (Strong King) di depan rumah, itu adalah tanda bahwa calon pengantin dan keluarga calon pengantin pria sudah terlambat datang melewati waktu yang disepakati, dan oleh karena itu harus ditetapkan ulang waktu melamar pada minggu-minggu berikutnya, karena hari itu tidak dapat dilanjutkan acara peminangan (Mangimbulude, 2010).
Pandangan Junani tentang waktu dibedakan antara chronos dan khairos (Marbun, 2010). Chronos berarti waktu berjalan terus secara kronologis dan tidak pernah berhenti dari zaman dahulu kala hingga di masa yang akan datang. Jadi tidak terbatas sifatnya.
Khairos adalah waktu atau kesempatan yang hanya ada satu kali saja, dan tidak datang lagi pada kesempatan lain, dan karena itu ditekankan untuk tidak dilewatkan atau disia-siakan tetapi dimanfaatkan sebaik-baiknya. Pandangan ini tidak jauh berbeda dengan pendapat Harris (1973) tentang waktu, yang mengakui bahwa scientific adventur terbesar pada abad 20 adalah exploration of space, dan ”The other great cosmic reality is time” (p.
141). Walau waktu berjalan terus, tetapi manusia punya keterbatasan dalam waktu yang terus berjalan tersebut. Karena itu pertimbangan terkini (immediate concern) bagi setiap orang dalam kebersamaan dengan kelompok atau organisasi adalah apa yang akan dilakukan minggu depan, besok, satu jam mendatang dan saat ini.
Waktu adalah sumber yang tidak akan pernah habis yang selalu tersedia bagi manusia sepanjang hidupnya. Menurut Sharma (2006), waktu “yang membuat kita sama
dalam kehidupan. Kita semua memiliki jatah waktu 24 jam sehari” (p.81). Waktu
demikian, ”keterbatasan waktu” hampir selalu merupakan persoalan penting dalam
hampir setiap organisasi. Waktu menjadi sesuatu yang ”kontradiktif” sifatnya, di satu sisi tidak terbatas adanya, tetapi di sisi lain terasa kurang bagi kebutuhan organisasi, sehingga dikenal istilah lack of time (Taylor, 1916). Itu sebabnya pembicaraan tentang ketersediaan waktu dan tenggat waktu menjadi gejala menarik dalam kehidupan organisasi.
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut berkaitan dengan gejala tenggat waktu dalam organisasi antara lain adalah: (1) fungsi dan manfaat tenggat waktu serta risiko tanpa tenggat waktu; (2) dampak tenggat waktu bagi tenaga kerja, baik pribadi maupun kelompok; (3) pengelolaan waktu secara tepat agar memenuhi tenggat waktu. Ketiga hal tersebut diuraikan lebih rinci di bawah ini, setelah lebih dahulu dibahas tentang tenggat waktu sebagai gejala di dalam organisasi.
Tenggat waktu sebagai gejala dalam organisasi
Dikaitkan dengan perkembangan hidup manusia, Harris (1973) mengatakan bahwa anak kecil tidak memperhatikan waktu walau menghabiskan banyak waktu bermain bersama teman-temannya. Semakin dewasa seseorang, semakin besar perhatian dan pemikirannya berkaitan dengan ketersediaan waktu di dalam hidupnya. Namun demikian, ada sejumlah orang walau sudah semakin bertambah umur, tetap saja tidak terlalu perduli tentang pemanfaatan dan penggunaan waktu di dalam hidupnya. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan tentang pemanfaatkan waktu, Harris sampai pada pembedaan struktur waktu bagi manusia dalam bersalingtindak (interaction) dengan sesama, yang digolongkan menjadi: withdrawl, rituals, activities, pasttime, games, and intimacy (1973, pp.142–153).
Withdrawl menggambarkan sekelompok orang, yang oleh Harris disebut boring associates, yang menghabiskan waktu tanpa peduli makna waktu bagi dirinya sendiri.
Pasttime adalah pemanfaatan waktu di masa lalu, dan karena itu tidak mungkin diubah, namun dapat memberi pelajaran bagi seseorang atau bagi organisasi untuk memperbaiki diri termasuk dalam penggunaan waktu di masa datang. Games tidak harus berarti fun
atau enjoyment, tetapi cara menggunakan waktu lebih berarti bagi orang di luar withdrawl
namun belum dalam posisi siap untuk membentuk relatednes atau intimacy. Harris
menganalogkannya dengan perkataan komedian yang menyebut ”It’s better to have
halitosis than no breath at all” (p. 147). Jadi tetap memberi keuntungan bagi semua
pemain, melindungi integritas posisi dalam hubungan dengan sesama dan merupakan bagian dari sesama pemain. Intimacy merupakan ’game-free relationship’, karena tujuan tidak tersembunyi, dan dimungkinkan kalau tidak ada rasa takut atau rasa kuatir, yang memungkinkan persepsi penuh tentang keindahan sebagai bagian dari pemanfaatan waktu, ketika kepemilikan tidak diperlukan karena realitas memiliki satu sama lain.
Intimacy biasanya terbentuk karena bagian dari sesama dalam pemanfaatan waktu baik dalam bentuk withdrawl, rituals, activities, pasttime, maupun games.
Dari enam kategori pemanfaatan waktu tersebut di atas, withdrawl tidak ada kaitan dengan tenggat waktu, intimacy akan terus berlanjut selama tidak ada rasa takut dalam menjalin hubungan, sehingga tidak ada kaitan dengan tenggat waktu. Pasttime
memungkinkan memberi masukan memperbaiki pemanfaatan waktu dan penetapan
tenggat waktu di masa datang karena seperti kata pepatah ”pengalaman adalah guru yang
paling baik”. Dengan demikian, dalam berinteraksi dengan sesama dan dalam berorganisasi, hanya rituals dan activities yang benar-benar ada kaitan dengan tenggat waktu. Namun demikian, uraian lebih lanjut tentang tenggat waktu, tidak khusus berkaitan dengan rituals dan activities, tetapi secara umum sebagai gejala yang terdapat di dalam kehidupan organisasi.
merupakan persoalan umum bagi organisasi karena mayoritas tenaga kerja kurang menghargai waktu sebagaimana mestinya.
Beberapa gejala menarik berkaitan dengan tenggat waktu antara lain: Pertama, tenaga kerja yang menerima tugas, baik pribadi maupun kelompok – setelah lebih dahulu melakukan perhitungan matang – cenderung meminta waktu lebih dari cukup untuk menangani pekerjaan tersebut. Kedua, tenggat waktu sebagai gejala sosial, merupakan kesepakatan pemberi tugas (organisasi) dengan penerima tugas (anggota), yang ditetapkan berdasarkan perhitungan matang dan rasional serta melalui proses negosiasi secukupnya (Bd. Smircich dan Morgan, 1982).
Ketiga, karena waktu yang tersedia dirasa cukup, terdapat kecenderungan bahwa separuh waktu yang tersedia tidak dimanfaatkan dengan baik, terutama separoh waktu pertama dari waktu yang disediakan (Gersick, 1988). Keempat, karena sudah terdesak
atau ‟kepepet‟, separoh waktu terakhir dari waktu yang tersedia dimanfaatkan seoptimal
mungkin agar tugas dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu (Gersick, 1988). Dalam kondisi apa pun, pada akhirnya orang cenderung untuk menyelesaikan tugas tepat waktu, terlepas mutu pekerjaan tersebut memadai atau tidak, karena penundaan umumnya
dipandang sebagai tindakan ‟bunuh diri‟ dalam organisasi.
Kelima, di antara paroh waktu pertama dan paruh waktu terakhir, terdapat suatu perubahan mendadak atau perubahan drastis pada kelompok kerja – yang ditugasi melakukan pekerjaan oleh organisasi – setelah membandingkan paroh waktu pertama yang kurang aktif dengan paroh waktu terakhir yang masih tersisa (Gersik, 1988). Perubahan mendadak ini oleh Gersick (menyitir Eldrege dan Gould, 1972) disebut
sebagai ”punctuated equilibrium”. Keenam, terdapat gejala bahwa penerima tugas cenderung mengharapkan kontak dengan yang memberi tugas, bahkan mengharapkan
„teguran‟ agar merasa diperhatikan dan terpacu menyelesaikan tugas. Gejala ini umumnya muncul setelah habis separoh waktu pertama dari waktu kerja yang tersedia. Pelaksanaan tugas seringkali habis dipengaruhi oleh kontak semacam ini (Gersick, 1988).
Ketujuh, penerima tugas menyadari bahwa hasil kerjanya merupakan ”konsumsi”
bagi pemberi tugas, yang sangat menentukan bagi ‟kondite/nama baik‟ penerima tugas
membuat final draft yang bagus sebelum tenggat waktu berakhir, misalnya ketua dan sekretaris kelompok. Gejala ini oleh Wood et al (1998) disebut dengan istilah ”adjourning” sebagai tahap ke lima dalam perkembangan kelompok, sebagai revisi atas empat tahap pengembangan kelompok menurut Tuckman (Randolp, 1985).
Pertanyaannya, apa yang menyebabkan tenggat waktu menjadi gejala penting dalam organisasi? Tenggat waktu dapat menjadi gejala menarik dalam organisasi karena beberapa persoalan berikut: Pertama, tenaga kerja tidak mampu memanfaatkan waktu yang tersedia secara penuh bagi kepentingan organisasi. Seringkali waktu dirasa kurang karena terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hingga tenggat waktu tertentu, yang sebenarnya tidak perlu terjadi seandainya diatur dengan baik keseimbangan antara beban kerja dengan tenggat waktu yang disepakati untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Kedua, tenaga kerja tidak mampu mengelola waktu yang dimiliki untuk melakukan tugas dengan benar dan baik, tenaga kerja tidak sanggup memperhitungkan kebutuhan akan waktu untuk menangani pekerjaan tertentu, tenaga kerja tidak mampu menyusun anggaran waktu yang sungguh-sungguh secara obyektif diperlukan, tenaga kerja tidak mampu menyusun prioritas pelaksanaan pekerjaan berdasarkan waktu yang
tersedia, dan tenaga kerja kuatir kekurangan waktu hingga ‟memaksakan diri‟ bekerja
keras dengan produktivitas rendah karena terlalu lelah.
Ketiga, penaksiran yang keliru atas berat-ringannya suatu tugas. Diperkirakan bahwa tugas tersebut ringan dan membutuhkan waktu penyelesaian sedikit, ternyata berat dan memerlukan waktu lebih banyak dari perkiraan. Keempat, terdapat kecenderungan tenaga kerja memanfaatkan waktu organisasi untuk kepentingan pribadi, baik untuk hal yang sifatnya produktif seperti mencari penghasilan tambahan, maupun untuk hal yang tidak produktif, santai dan ngobrol tanpa jelas maksud obrolan tersebut seperti pada
yaitu kalau tugas dikerjakan kelompok, rasa malas akan cenderung menonjol karena ada rasa tanggung jawab bersama atau yang lebih dikenal dengan istilah share responsibility
(Robbins, 2001; Wood et al, 1998; Gibson, et al. 2003), yang tidak merasa malu seandainya kelompok gagal menyelesaikan tugas. Ketujuh, hal ini juga didorong oleh kenyataan bahwa tidak jarang anggota kelompok yang tidak bertanggung jawab lebih memilih ’gotong nongkrong’ daripada gotong royong, yang dalam teori organisasi dikenal dengan istilah kemalasan sosial atau ’social loafing’ (Robbins, 2001; Wood et al, 1998; Gibson, et al. 2003).
Kedelapan, konteks organisasi. Ini bisa berupa penyepelean atas tengggat waktu karena relatif memiliki kekuasaan dalam organisasi, atau karena pemberi tugas dianggap lemah oleh yang menerima tugas. Kesembilan, gejala tenggat waktu menjadi masalah karena rasa malas dan motivasi rendah untuk menyelesaikan tugas. Kesepuluh, kesibukan lain karena menerima tugas ganda pada waktu yang bersamaan, sementara tidak pandai mengatur waktu. Selain pikiran mendua dan tidak terpumpun (focus) pada tugas tertentu, juga sulit mengatur jadwal pertemuan dengan anggota kelompok. Terakhir, kesebelas, karena alasan yang oleh Sharma (2006) disebut sebagai ironi. Betapa banyak orang yang berjanji pada diri sendiri – baik pada awal tahun (New Year resolution) maupun ketika menyadari bahwa selama ini yang bersangkutan tidak menghargai waktu dengan benar –, untuk menggunakan waktu dengan baik dan benar dalam kehidupan setiap hari, tetapi dalam kenyataan menghabiskan waktu begitu banyak untuk hal-hal yang tidak berguna. Kesadaran yang tidak diikuti dengan tindakan tentang penggunaan waktu secara benar dalam kehidupan.
Manfaat tenggat waktu dan risiko tanpa tenggat waktu
alokasi sumber secara lebih baik, dan memungkinkan organisasi membuat jaringan kegiatan tidak terbatas antar unit di dalam organisasi tetapi juga dengan organisasi lain sebagai rekan kerja atau partner.
Tenggat waktu yang ditetapkan secara matang dapat meningkatkan efisiensi organisasi karena tenaga kerja dialokasikan secara baik dan tepat menangani berbagai kegiatan dalam waktu tertentu. Tenaga kerja tidak membuang-buang waktu, tetapi memanfaatkan waktu tersebut melaksanakan tugas mencapai lesan organisasi secara produktif. Apabila tugas dikerjakan dengan baik pada tenggat waktu yang telah ditentukan, itu berarti bahwa penentuan tenggat waktu bermanfaat dalam meningkatkan efektifitas dan produktifitas organisasi. Dalam kaitan pencapaian tujuan hidup pribadi, Sharma (2006) menulis tentang peran tenggat waktu dalam mewujudkan tujuan sebagai
berikut: ”... pria dan wanita yang berprestasi tinggi membawa sebuah kartu tujuan kecil di
dalam dompet mereka, ... Kartu ini mencatat tujuan hidup mereka yang utama sekaligus
tenggat waktu yang jelas untuk mencapainya” (p.143)
Tenggat waktu juga mendisiplinkan tenaga kerja. Memang sering kelompok kerja tidak aktif melakukan tugas separoh waktu pertama dari rencana waktu yang tersedia, dan baru aktif melakukan tugas setelah tinggal separoh waktu terakhir (Gersick, 1988). Seandainya waktu yang disediakan melaksanakan tugas tidak terlalu berlebih menurut perkiraan yang menerima tugas, besar kemungkinan mereka aktif mengerjakan tugas sejak awal waktu pelaksanaan tugas tersebut. Penentuan tenggat waktu membantu mendisiplinkan tenaga kerja, membuat pekerja tidak merasa dikejar-kejar waktu, membuat pikiran terpumpun pada pekerjaan tertentu sehingga pekerja dapat bekerja sungguh-sungguh dengan hasil maksimal.
Apabila organisasi tidak menentukan tenggat waktu kegiatan, maka ada sejumlah risiko yang bisa diderita organisasi, yakni: mengganggu rencana dan jadwal organisasi, menurunkan efisiensi dan efektifitas organisasi, bahkan mengganggu pencapaian tujuan organisasi; mengurangi kepercayaan pihak lain terhadap organisasi, karena organisasi tidak mampu memenuhi janji; dan berdampak negatif terhadap disipilin dan motivasi kerja tenaga kerja.
disiplin kerja, mendorong pekerja menciptakan pekerjaan sampingan, dan menurunkan produktifitas organisasi. Apabila tugas tertunda berarti mengganggu jadwal kegiatan organisasi, mengganggu lancarnya kegiatan yang saling terkait satu sama lain baik di dalam organisasi maupun kegiatan lain di luar organisasi, mengganggu alokasi sumber-sumber dalam organisasi, yang pada akhirnya berakibat pada kegagalan organisasi mencapai sasaran dan berkurangnya kepercayaan organisasi lain terhadap organisasi.
Dampak tenggat waktu bagi tenaga kerja dan bagi organisasi
Tenggat waktu ditetapkan menyelesaikan tugas pada umumnya berdampak positif terhadap tenaga kerja dalam organisasi baik pribadi maupun kelompok. Pada dasarnya tugas organisasi bisa ditangani tenaga kerja secara sendiri-sendiri (perorangan) atau ditangani oleh kelompok seperti gugus tugas atau kepanitiaan dan semacamnya (Brown and Moberg, 1980; Miner, 1980 and 1982; Yukl, 1989: 2002: 2006). Tenaga kerja organisasi, pribadi atau kelompok, ada yang benar-benar profesional dan bertanggung jawab, tetapi tidak jarang ada yang tidak profesional dan kurang bertanggung jawab dalam penyelesaian tugas.
Sejalan dengan unsur pribadi dan kelompok yang terdapat di dalam organisasi, dan dimensi tanggung jawab akan tugas organisasi sesuai pandangan atas manusia sebagaimana Teori X dan Teori Y dari McGregor (Robbins, 2001; Wood, e al, 1998; Gibson et. Al, 2003), maka dampak tenggat waktu terhadap tenaga kerja dapat diringkaskan seperti pada tabel 1 di bawah. Sementara itu dampak tenggat waktu pada mekanisme kerja boleh dikatakan tidak ada, karena justru penentuan tenggat waktu merupakan salah satu mekanisme kerja di dalam organsiasi.
Tabel 1. Dampak tenggat waktu terhadap tenaga kerja dalam organisasi
Macam tenaga Pribadi/perorangan Kelompok
dijiwai dan produktifitas
5.Kehidupan kelompok teratur dan terarah dengan jadwal pasti 6.Lebih mungkin membuat
jaringan kerja dengan alokasi anggota secara pasti
7.Keeratan kelompok meningkat 8.Saling menghargai antara
pemberi tugas dengan penerima tugas tidak bisa memenuhi tenggat waktu memenuhi tugas hingga tenggat waktu (share responsibility) 3.Anggota kelompok cenderung
gotong nongkrong (social loafing) daripada gotong royong.
Tekanan waktu muncul dari adanya tenggat waktu, karena penerima tugas terikat pada waktu yang sudah ditetapkan sebagai batas akhir penyelesaian tugas yang diterima. Berkaitan dengan hal ini, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tekanan waktu berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dan kinerja organisasi. Tekanan waktu
adalah ”waktu yang tersedia untuk melakukan aktivitas tertentu” (Marwata, 2001, p. 113).
tekanan waktu yang semakin meningkat akan menyebabkan turunnya kinerja; sementara itu, produktivitas akan menurun ketika tekanan waktu berkurang.
Bagi pribadi, penetapan tenggat waktu sangat menentukan keberhasilan seseorang. Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, Sharma (2006) berpendapat bahwa penetapan tujuan hidup yang sekaligus mencatat tenggat waktu yang jelas untuk mencapainya sangat menentukan bagi orang-orang yang berprestasi tinggi dalam hidupnya. Sharma
(2006) juga mengemukakan bahwa ”yang membedakan antara orang yang menciptakan
hidup yang menyenangkan dan oang yang tidak sukses adalah cara mereka menggunakan
waktu” (p.81) sesuai tenggat waktu yang tersedia. Mengingat manfaat waktu, Sharma (2006), mengutip Rudyard Kipling sebagai berikut: ”Jika Anda dapat mengisi menit yang tak termaafkan dengan sesuatu yang berguna selama 60 detik, dunia dan segala isinya berada di tangan Anda” (p. 136). Mungkin pendapat Kipling terlalu berlebih, namun dapat dikatakan bahwa masa depan yang gemilang ada dalam genggaman orang-orang yang pandai mengatur dan menggunakan waktu dalam kehidupan setiap hari.
Mengelola waktu agar tidak melewati tenggat waktu
Untuk dapat mengelola waktu secara benar agar tidak melewati tenggat waktu yang ditetapkan, perlu diupayakan dan dikembangkan beberapa hal, yaitu: Pertama, mengembangkan budaya menghargai waktu. Walau waktu tidak terbatas dan tidak akan pernah habis, namun perlu disadari bahwa waktu bagi pekerja terbatas, baik karena ketidak mampuan fisik untuk memanfaatkan waktu yang tersedia, maupun karena terikat waktu dengan pihak lain dalam jaringan kerja organisasi.
Agar dapat menghargai waktu, maka hal ke dua yang perlu dilakukan ialah, mendidik tenaga kerja hingga memiliki wawasan luas dan memiliki kepekaan sedemikian rupa hingga mampu menghargai setiap upaya yang dilakukan sesama sekecil apa pun upaya tersebut. Walau tugas yang diterima sangat sederhana, harus dianggap sebagai kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan dengan benar. Walau merasa mempunyai kekuasaan (power), perlu melaksanakan tugas tepat waktu. Tidak menganggap remeh kesepakatan atas tenggat waktu dalam organisasi. Sejalan dengan dua hal pertama di atas, perlu disimak pendapat Sharma dan pandangan sastra ceto tentang pemimpin sebagai
Kembangkan kesadaran tentang pentingnya waktu bagi Anda. Jangan biarkan orang menghabiskan komoditas paling berharga ini dan gunakan hanya untuk aktivitas yang benar-benar penting” (Sharma, 2006, p. 82). “Manfaatkan masa kepemimpinan untuk melakukan hal-hal utama (artinya hal-hal yang baik), dan jangan sekali-kali melakukan
sesuatu yang nista” (Soetomo, 2010).
Hal ketiga, perlu ditanamkan bahwa penundaan kegiatan melewati tenggat waktu menyebabkan kerugian bagi organisasi dan bagi tenaga yang bersangkutan. Karena itu, kadang perlu dikenakan sanksi yang sepadan dan bahkan berat bagi mereka yang tidak memenuhi kewajiban hingga tenggat waktu yang telah disepakati. Sanksi sedemikian berat sehingga mengakibatkan efek jera bagi yang tidak memenuhi tenggat waktu. Ke empat, mendukung hal pertama di atas, perlu diubah pola pandang agar waktu dianggap sebagai kesempatan yang tidak mungkin berulang dan tidak mungkin diperoleh kembali bilamana waktu atau kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan (khairos). Pola pandang
perlu diubah dari yang menganggap ”waktu sebagai sesuatu yang berulang seperti lingkaran” (pandangan tradisional tentang waktu) menjadi menganggap ”waktu sebagai garis lurus dan barang berharga walau tidak harus dibeli” (pandangan modern tentang waktu). Pola pandang ini perlu melekat atau mendarah daging (inherent) dalam pribadi setiap tenaga kerja bahkan melekat dalam suatu komunitas tertentu seperti organisasi.
Kelima, sejalan dengan hal keempat, perlu membiasakan diri untuk aktif sejak awal waktu kerja bilamana menerima tugas dari organisasi. Apabila pekerjaan ditangani kelompok, ketua kelompok (atau convocator) perlu berinisiatif mengajak anggota agar terus aktif berpartisipasi menyelesaikan tugas sejak kelompok terbentuk (Gersick, 1988). Dalam hal ini, pepatah Inggris yang telah lama dikenal sangat penad (relevan),
Ketujuh, menciptakan rasa saling percaya di antara anggota kelompok berikut dengan pemberi tugas sejak awal pelaksanaan tugas – ditambah dengan rencana matang – akan menolong penyelesaian tugas secara baik dan tepat waktu (Bd. Petters and Waterman, 1982). Dan yang terakhir, yang kedelapan, organisasi memiliki standar waktu mengerjakan setiap tugas yang ada di dalam organisasi yang didasarkan pada pengkajian mendalam dan akurat (bandingkan dengan motionstudy yang diajarkan Taylor), sehingga organisasi dapat menetapkan tenggat waktu yang obyektif untuk setiap tugas, baik yang ditangani perorangan maupun yang ditangani kelompok. Tenggat waktu obyektif semacam ini akan meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktifitas organisasi karena alokasi waktu yang akurat dan tepat.
Kesimpulan
Tenggat waktu umum terdapat dalam organisasi, dan semakin penting pada organisasi yang anggotanya tidak profesional dan tidak bertanggung jawab melaksanakan tugas sesuai Teori X dari McGregor. Tenggat waktu juga sangat penting bagi organisasi yang kurang berwibawa dalam penegakan peraturan (law enforcement) baik berupa
reward maupun punishment. Gejala tersebut muncul dalam berbagai bentuk dan disebabkan berbagai macam faktor. Akan lebih memungkinkan memanfaatkan waktu secara positif bagi organisasi apabila menentukan tenggat waktu penanganan tugas daripada tidak menetapkan secara tegas tenggat waktu penanganan kegiatan organisasi.
Daftar bacaan:
1. Brown, Warren B. And Dennis J. Moberg. 1980. Organizational Theory and Management: A Macro Approach., New York: John Wiley & Sons.
2. Fred R. Davis, 2007., Strategic Management: Concept and Cases., 5th Edition., Upper Saddle River, New Jeresey: Pearson Education, Inc.
3. Gersick, Connie J.G. 1988. Time and Transition in Work Teams: Toward a New Model of Group Development., Academy of Management Journal. Vol. 31, No. 1, pp. 9 – 41
4. Gibson, James L., John M. Ivancevich, James H. Donnelly, Jr, and Robert Konopaske. 2003. Organizations: Behavior, Structure, Process., Eleventh Edition., Boston: McGraw-Hill Irwin.
5. Harris, Thomas A. 1973. I‟M OK –YOU‟RE OK., New York: AVON BOOKS 6. Luthans, Fred. 2008. Organizational Behavior., Eleven Edition., Boston:
McGraw-Hill International Edition
7. March, James G. and Herbert A. Simons. 1958. Organizations., New York: John Wiley & Sons
8. Marwata. 2001. “Pengaruh Tekanan Waktu Terhadap Pembuatan Keputusan dan
Kinerja: Sebuah Telaah Literatur”., Dian Ekonomi, Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. VII No. 1, hal. 110 – 131.
9. Miner, John B. 1980. Theories of Organizational Behavior., Hinsdale, Illinois: The Dryden Press
10.Miner, John B. 1982. Theories of Organizational Structure and Process., Hinsdale, Illinois: The Dryden Press
11.Pearce, John A. and and Ricahrad B. obinson, Jr. 2008. Manajemen Strategi: Formulasi, Implementasi, dan Pengendalian., Edisi 10., Jakarta: Penerbit Salemba Empat.
12.Peters, Thomas J. and Robert H. Waterman Jr. 1982. In Search of Excellence,
Lessons from America‟s Best-Run Companies., New York: Harper & Row Publisher
13.Randolph, W. Allan. 1985. Understanding and Managing Organizational Behavior: A Developmental Perspective. Homewood, Illinois: Richard D. Irwin, Inc.
14.Robbins, Stephen P. 1983. Organization Theory: The Structure and Design of Organizations, Englewood Cliffs, New Jersey : Prentice-Hall, Inc
15.Robbins, Stephen P. 2001. Organizational Behavior., International Edition, Englewood Cliffs, New Jersey : Prentice-Hall, Inc
16.Robbins, Stephen P. 2009. Organizational Behavior., International Edition, Englewood Cliffs, New Jersey : Prentice-Hall, Inc
17.Schonberger, Richard J. 1982. Japanese Manufacturing Technique., London: The Free Press, Collier Macmillan Publishers
19.Simon, Herbert A. 1976. Administrative Behavior., London: The Free Press, Collier Macmillan Publishers
20.Smircich, Linda and Gareth Morgan. 1982. Leadership: The Management of Meaning., The Journal of Applied Behavioral Science., Vol.18. No. 3, pp. 257 – 273
21.Taylor, Frederick Winslow., The Principles of Scientific Management., December 1916 in Shfritz, Jay M. and Philip H. Whitbeck (Editor)., 1978., Classic of Organization Theory., Oak Park, Illinois: Moore Publishing Company, Inc., pp. 9
– 23
22.Yukl, Gary A. 1989. Leadership in Organizations., Englewood Clifs, New York: Prentice Hall .
23.Yukl, Gary A. 2002. Leadership in Organizations., Englewood Clifs, New York: Prentice Hall .
24.Yukl, Gary A. 2006. Leadership in Organizations., Englewood Clifs, New York: Prentice Hall .
25.Wood, Jack., Joseph Wallace, Rachid M. Zeffanne., John R. Schermerhorn, Jr., James G. Hunt., and Richard N. Osborn. 1998. Organizational Behaviour: An Asia – Pacific Perspective., Brisbane: John Wiley & Sons
26.Mangimbulude. 2010: Perbincangan dengan Bpk. Djubar Mangimbulude, akhir Februari 2010 di Salatiga
27.Marbun. 2010: Perbincangan dengan Pdt. Hotman M. Marbun, 11 September 2010 di Salatiga.
28.Soetomo, Siswokartono, Prof. Dr. MPd., Sastra Ceto, Materi Kuliah Seminar on Entrepreneurship and Strategic Leadership, Program Doktor Ilmu Manajemen UKSW Salatiga, 26 Oktober 2010