Resiko Darah Tinggi
Dalam Makanan ‘Bekasan dan Buduk’:
Etnik Melayu – Kabupaten Kayong UtaraMakhrus E Mariati Agung Dwi Laksono
Penerbit
Makhrus E, dkk
Resiko Darah Tinggi
Dalam Makanan ‘Bekasan dan Buduk’:
Etnik Melayu – Kabupaten Kayong Utara
Diterbitkan Oleh
UNESA UNIVERSITY PRESS Anggota IKAPI No. 060/JTI/97
Anggota APPTI No. 133/KTA/APPTI/X/2015 Kampus Unesa Ketintang
Gedung C-15Surabaya
Telp. 031 – 8288598; 8280009 ext. 109 Fax. 031 – 8288598
Email: [email protected] [email protected] Bekerja sama dengan:
PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176 Tlp. 0313528748 Fax. 0313528749 xvi, 151 hal., Illus, 15.5 x 23
ISBN:978-979-028-951-2
copyright © 2016, Unesa University Press All right reserved
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun baik cetak, fotoprint, microfilm, dan sebagainya, tanpa izin tertulis dari penerbit
SUSUNAN TIM
Buku seri ini merupakan satu dari tiga puluh buku hasil kegiatan Riset Etnografi Kesehatan 2015 pada 30 etnik di Indonesia. Pelaksanaan riset dilakukan oleh tim sesuai Surat Keputusan Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Nomor HK.02.04/V.1/221/2015, tanggal 2 Pebruari 2015, dengan susunan tim sebagai berikut:
Pembina : Kepala Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Kemenkes RI
Penanggung Jawab : Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan
Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
Wakil Penanggung Jawab : Prof. Dr.dr. Lestari Handayani, M.Med (PH)
Ketua Pelaksana : dr. Tri Juni Angkasawati, M.Sc
Ketua Tim Teknis : drs. Setia Pranata, M.Si
Anggota Tim Teknis : Dr. Gurendro Putro, SKM. M.Kes Agung Dwi Laksono, SKM. M.Kes drg. Made Asri Budisuari, M.Kes dra. Rachmalina Soerachman, M.Sc.PH drs. Kasno Dihardjo
dr. Lulut Kusumawati, Sp.PK
Sekretariat : Mardiyah, SE. MM Dri Subianto, SE
Koordinator Wilayah:
1. Prof. Dr. dr. Lestari Handayani, M.Med (PH): Kab. Mesuji, Kab. Klaten, Kab. Barito Koala
2. dr. Tri Juni Angkasawati, M.Sc: Kab. Pandeglang, Kab. Gunung Mas, Kab. Ogan Komering Ulu Selatan
3. Dr.drg. Niniek Lely Pratiwi, M.Kes: Kab. Luwu, Kab. Timor Tengah Selatan
4. drs. Kasno Dihardjo: Kab. Pasaman Barat, Kab. Kep. Aru
5. Dr. Gurendro Putro, SKM. M.Kes: Kab. Aceh Utara, Kab. Sorong Selatan
6. dra. Suharmiati, M.Si. Apt: Kab. Tapanuli Tengah, Kab. Sumba Barat
7. drs. Setia Pranata, M.Si: Kab. Bolaang Mongondow Selatan, Kab. Sumenep, Kab. Aceh Timur
8. drg. Made Asri Budisuari, M.Kes: Kab. Mandailing Natal, Kab. Bantaeng
9. dra. Rachmalina Soerachman, M.Sc.PH: Kab. Cianjur, Kab. Miangas Kep.Talaud, Kab. Merauke
10.dr. Wahyu Dwi Astuti, Sp.PK, M.Kes: Kab. Sekadau, Kab. Banjar 11.Agung Dwi Laksono, SKM. M.Kes: Kab. Kayong Utara, Kab. Sabu
Raijua, Kab. Tolikara
12.drs. F.X. Sri Sadewo, M.Si: Kab. Halmahera Selatan, Kab. Toli-toli, Kab. Muna
KATA PENGANTAR
Penyelesaian masalah dan situasi status kesehatan masyarakat di Indonesia saat ini masih dilandasi dengan pendekatan logika dan rasional, sehingga masalah kesehatan menjadi semakin kompleks. Disaat pendekatan rasional yang sudah mentok dalam menangani masalah kesehatan, maka dirasa perlu dan penting untuk mengangkat kearifan lokal menjadi salah satu cara untuk menyelesaikannya. Untuk itulah maka dilakukan riset etnografi sebagai salah satu alternatif mengungkap berbagai fakta kehidupan sosial masyarakat terkait kesehatan.
Dengan mempertemukan pandangan rasionalis dan kaum humanis diharapkan akan menimbulkan kreatifitas dan inovasi untuk mengembangkan cara-cara pemecahan masalah kesehatan masyarakat.simbiose ini juga dapat menimbulkan rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa kebersamaan (sense of togetherness) dalam menyelesaikan masalah untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat di Indonesia.
Tulisan dalam Buku Seri ini merupakan bagian dari 30 buku seri hasil Riset Etnografi Kesehatan 2015 yang dilaksanakan di berbagai provinsi di Indonesia. Buku seri sangat penting guna menyingkap kembali dan menggali nilai-nilai yang sudah tertimbun agar dapat diuji dan dimanfaatkan bagi peningkatan upaya pelayanan kesehatan dengan memperhatikan kearifan lokal.
Kami mengucapkan terima kasih pada seluruh informan, partisipan dan penulis yang berkontribusi dalam penyelesaian buku seri ini.Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI yang telah memberikan kesempatan pada Pusat Humaniora untuk melaksanakan Riset Etnografi Kesehatan 2015, sehingga dapat tersusun beberapa buku seri dari hasil riset ini.
Surabaya, Nopember 2015
Kepala Pusat Humaniora, kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Badan Litbangkes, Kementerian Kesehatan RI
DAFTAR ISI
SUSUNAN TIM ... iii
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR ... xi BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1Latar Belakang ... 1 1.2Tujuan ... 4 1.3Metode ... 4 1.4Keterbatasan ... 8
BAB 2 DESA PADANG DAN UNSUR BUDAYANYA ... 10
2.1 Sejarah Desa Padang ... 10
2.1.1 Perkembangan Desa Padang ... 14
2.1.2 Mobilitas Penduduk ... 19
2.1.3 Sarana Transportasi dan Komunikasi ... 21
2.1.4 Permasalahan Sosial ... 23
2.2 Geografi dan Kependudukan ... 24
2.2.1 Letak Geografi ... 24
2.2.2 Topografi Desa ... 25
2.2.3 Sumber Daya Air dan Potensi Desa Padang ... 27
2.2.4 Pola Tempat Tinggal ... 36
2.2.5 Kependudukan ... 38
2.3 Sistem Religi... 39
2.4 Sistem Kekerabatan ... 47
2.5 Sistem Pengetahuan Mengenai Kesehatan ... 50
2.5.1 Sehat ... 50
2.5.2 Sakit ... 51
2.6 Bahasa ... 52
2.7 Kesenian ... 52
2.9 Peralatan ... 67
Peralatan Dapur ... 67
BAB 3POTRET DAN DINAMIKA BUDAYA KESEHATAN ... 70
3.1. Konsep Sehat Sakit ... 70
3.2. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) ... 71
3.2.1. HAMIL ... 72
3.2.2.Imunisasi ... 72
3.2.3. Hamil dan melahirkan ... 74
3.2.4 Anak dan Balita ... 78
3.2.5. Kesehatan Anak ... 79
3.3.Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ... 83
3.3.1. Persalinan ditolong oleh nakes ... 83
3.3.2.Memberi ASI Ekslusi ... 85
3.3.3. Menimbang balita setiap bulan ... 86
3.3.4. Menggunakan air bersih ... 87
3.3.5.Mencuci tangan pakai sabun ... 92
3.3.6 Gunakan jamban sehat ... 93
3.3.7. Memberantas jentik ... 94
3.3.8. Makan buah dan sayur ... 96
3.3.9. Melakukan aktiftas fisik setiap hari ... 97
3.3.10. Tidak merokok dalam rumah ... 97
3.4.Penyakit Menular ... 99
3.4.1. Malaria ... 99
3.4.2.Diare ... 103
3.4.3.Demam Berdarah Dengue (Dbd) ... 104
3.5.Health Seeking Behavior ... 107
BAB 4 DARAH TINGGI BUDAK PULAU ... 108
Penyakit Tidak Menular (PTM) ... 108
4.1 . Tekanan Darah Tinggi ... 109
4.1.1. Tinjauan Pustaka Tekanan Darah Tinggi ... 109
4.1.2. Jenis Tekanan Darah Tinggi ... 110
4.1.3.Gejala dan TandaTekananDarah Tiggi ... 110
4.1.4.Faktor dan Risiko Tekanan DarahTiggi ... 111
4.2. Budaya Makan Yang Berpotensi Tekanan Darah Tinggi ... 118 4.2.1Ikan Asin ... 118 4.2.2Budu... 123 4.2.3Bekasam ... 124 4.2.4Garam ... 126 4.2.5Kopi ... 128
4.3. Budaya Lain Yang Berpotensi Menyebabkan Darah Tinggi 129 4.4. Penanganan Tekanan Darah Tinggi ... 129
4.4.1 Subsitusi garam menjadi Abupelepah kelapa sebagai pengasinan makanan ... 129
4.4.2. Dengan modifikasi gaya hidup ... 130
4.4.3. Dengan Potensi Lokal ... 131
4.4.4. Dengan terapi Farmakologi ... 133
4.4.5. Pembentukan Posbindu PTM ... 136
BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 139
5.1 Kesimpulan ... 139
5.2 Rekomendasi ... 141
5.2.1 Memodifikasi Teknologi Pengolahan Makanan ... 142
5.2.2 Edukasi Masyarakat Tentang Bahaya Zat Adiktif (MSG) ... 142
5.2.3 Peningkatan Kinerja Petugas Pustu Dalam Pelayanan Ke Masyarakat ... 143
5.2.4 Peningkatan Sarana Dan Prasarana Pengobatan Hipertensi di Pustu ... 143
5.2.5 Melakukan Intervensi MelaluiPemberdayaan Masyarakat dalam Mengatasi Penyakit Hipertensi .. 144
5.2.6 Dilakukan Peneltian Lanjutan untuk Mencari Model Intervensi yang Cocok untuk Masyarakat Desa Padang ... 145
GLOSARIUM ... 147
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan Kepadatan
Penduduk ... 38 Tabel 4.1. 10 Penyakit Terbanyak di Desa Padang
Tahun 2014 ... 109 Tabel 4. 2 Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT) populasi Asia
menurut WHO ... 113 Tabel 4.3 Hasil pengujian kandungan protein dan Ca
pada ikan teri asin dengan pengasingan
abu pelepah kelapa ... 122 Tabel 4.4 Kandungan gizi /100 gr Ikan Teri segar dan
olahannya ... 124 Table 4.5 Modifikasi Gaya Hidup Dalam Penanganan
Tekanan darah tinggi ... 131 Table 4.6 Klasifiasi penanganan tekanan darah tinggi
pada orang dewasa ... 132 Table 4.7 Jumlah kalori yang dikelurkan berdasarkan
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Peninggalan bekas kerajaan Karimata dan meriam 13
Gambar 2.2 Kondisi jalan Desa Padang ... 15
Gambar 2.3 Kondisi pasar Desa Padang ... 16
Gambar 2.4 Bantuan PNPM mandiri untuk listrik di Dusun Pantai Lestari ... 17
Gambar 2.5 Jenis mesin disel untuk pembangkit listrik Dusun Pantai Lestari... 18
Gambar 2.6 Suasana warga Padang yang menumpang kapal milik Bang Kandar untuk menuju ke Ketapang ... 20
Gambar 2.7 Suasana jalan di Desa Padang ... 22
Gambar 2.8 Peta wilayah Desa Padang ... 25
Gambar 2.9 Salah satu view Desa Padang ... 26
Gambar 2.10 Salah satu tata kelola air di dusun Pantai Lestari .... 28
Gambar 2.11 Jenis tanaman pasak bumi ... 30
Gambar 2.12 Jenis tanaman kacang kuning ... 31
Gambar 2.13 Jenis tanaman sampuk tunggul ... 32
Gambar 2.14 Jenis tanaman benalu dan belaran tudak ... 32
Gambar 2.15 Jenis tanaman kelebuk ... 33
Gambar 2.16 Jenis tanaman mensirak ... 33
Gambar 2.17 Jenis tanaman leban ... 34
Gambar 2.18 Jenis tanaman pasak bumi ... 34
Gambar 2.19 Jenis tanaman mampat ... 35
Gambar 2.20 Jenis tanaman alang-alang ... 35
Gambar 2.21 Jenis tanaman pohon bantan ... 36
Gambar 2.22 Salah satu bentuk rumah masyarakat desa Padang 38 Gambar 2.23 Tradisi Sedekah di bulan Sya’ban ... 40
Gambar 2.24 Menu makanan acara sedekahan ... 41
Gambar 2.25 Kesenian serakal hadrah ... 43
Gambar 2.26 Peringatan Isra’ Mi’raj dengan pembacaan Kitab sirah Nabi Muhammad SAW ... 44
Gambar 2.28 Ritual pengobatan oleh dukun ... 46
Gambar 2.29 Adat pernikahan di Desa Padang ... 48
Gambar 2.30 Acara di rumah mempelai pria ... 49
Gambar 2.31 Sesaji untuk ritual nyemah laut ... 56
Gambar 2.32 Proses pembuatan balai dan jong ... 57
Gambar 2.33 Proses acara ritual nyemah laut ... 59
Gambar 2.34 Prosesi pelepasan jong ke laut ... 63
Gambar 2.35 Salah satu acara pada ritual nyemah laut ... 64
Gambar 2.36 Mata pencaharian masyarakat Desa Padang ... 66
Gambar 2.37 Tempat menyimpan peralatan dapur ... 68
Gambar 3.1 Isi dari jong yang akan dilarung ke Laut ... 72
Gambar 3.2 Ibu hamil yang sedang memeriksakan dirinya di Posyandu ... 74
Gambar 3.3 Minyak oles yang digunakan nenek I untuk mengobati ibu Hamil, bayi dan balita ... 76
Gambar 3.4 Mata setan yang dimasukkan didalam bantal anak agar anak tidak rewel ... 78
Gambar 3.5 Jala jepang, belerang kuning yang dipakai untuk agar anak tidak mengamuk ... 78
Gambar 3.6 Kelengkapan yang harus dipenuhi dalam acara potong rambut pada anak ... 79
Gambar 3.7 Acara potong rambut dengan membuat pesta ... 80
Gambar 3.8 Anak yang sukan minum air gula ... 81
Gambar 3.9 Anak-anak yang terkena gatal-gatal dan radang pada kulit ... . 81
Gambar 3.10 Kebiasaan anak bermain di pasir, ditempat ini juga Anjing dan kucing membuang kotoran ... 82
Gambar 3.11 Kepinding dan telur Kepinding banyak ditemukan dibantal dan kasur ... 83
Gambar 3.12 Sembilu yang masih dipakai oleh seorang ibu untuk pengobatan semua anaknya. ... 84
Gambar 3.13 PMT yang disediakan oleh ibu-ibu kader Posyandu Tanjung Ru serta balita yang menikmati PMT ... 87
Gambar 3.14 Pengolahan air bersih dari Sungai Jumat dari pintu air tanpa ada penampungan langsung
ke rumah penduduk. ... 88
Gambar 3.15 Contoh sumur resapan dari sumber air sungai yang ada di Duampanue Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan,akan disalurkan ke masyarakat. ... 88
Gambar 3.16 Diagram proses pengolahan air bersih dengan teknologi saringan pasir lambat "Up Flow" ganda .. 89
Gambar 3.17 Filter Biosand ... 90
Gambar 3.18 Proses pengolahan air sungai menjadi air siap minum ... 91
Gambar 3.19 Kuku yang biasa ditemukan ... 93
Gambar 3.20 Selain ada WC, tempat ini juga dipakai untuk mencuci ikan kering dengan menimba air. ... 94
Gambar 3.21 Kondisi bak mandi yang tidak dikeramik bagian dalam dan tidak memiliki saluran pembuangan ... 95
Gambar 3.22 Aktifitas merokok dalam rumah yang sering kita jumpai di Desa Padang ... 98
Gambar 3.23 Daun luncak segar yang bermanfaat untuk penyakit Kura (Malaria) ... 100
Gambar 3.24 Sesuduk segar untuk pengobatan Kura ... 101
Gambar 3.25 Pucuk ditumbuk lalu di tambah garam + air 1 gelas lalu diminum ... 101
Gambar 3.26 Pucuknya di tumbuk + garam lalu peras 1 gelas lalu diminum ... 102
Gambar 3.27 Obat keremut ... 104
Gambar 3.28 Isi dari air mangko ... 107
Gambar 4.1 Body mass indeks (BMI)/ IMT ... 114
Gambar 4.2 Ikan siap diolah menjadi ikan kering di rumah tangga. Pengolahan ikan asin untuk kebutuhan rumah tangga ... 119
Gambar 4.3 Ikan kering yang diolah dalam jumlah banyak ... 119
Gambar 4.5 Budu sebagai lauk sehari-hari ... 123 Gambar 4.6 Kima yang sudah diambil dari cangkangnya
siap dibuat bekasam ... 125 Gambar 4.7 Budaya minum kopi sudah menjadi hal biasa dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu bangsa yang memiliki kemajemukan budaya. Akar nilai budaya yang kuat dan heterogen menjadi salah satu nilai kekayaan budaya bangsa. Menurut hasil Sensus Penduduk tahun 2010 dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia terdiri dari 1.340 etnik bangsa (BPS,2010). Salah satu kekayaan adat istiadat yang ada di Indonesia terdapat di Kabupeten Kayong Utara Provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten ini termasuk salah satu daerah pemekaran baru pada tahun 2007, yang sebelumnya merupakan wilayah dari Kabupaten Ketapang. Secara administratif batas wilayah kabupaten Kayong Utara sebelah utara adalah berbatasan dengan Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Ketapang, dan selat Karimata. Sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Karimata dan Kabupaten Ketapang. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Karimata, dan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Ketapang. Wilayah kabupaten Kayong Utara terdiri dari 6 kecamatan dimana dari Kecamatan-Kecamatan tersebut berbatasan langsung dengan laut.
Salah satu Kecamatan di Kabupaten kayong Utara adalah Kecamatan Kepulauan Karimata. Kepulauan Karimata sendiri secara geografis merupakan wilayah yang terdiri dari banyak pulau, baik pulau yang berpenghuni dan pulau yang tidak berpenghuni. Jumlah desa yang ada di wilayah Kecamatan Kepulauan Karimata adalah 3, yang pertama Desa Pelapis, Desa Padang dan Desa Betok. Kota Kecamatan terletak di Desa Pelapis karena akses jangkauan dari Kabupaten relatif mudah ditempuh. Etnik yang mendiami Kepulauan Karimata adalah mayoritas dari suku Melayu. Selain itu suku-suku lain yang terdapat di kepulauan karimata diantaranya suku Bugis, Cina dan sebagian kecil suku Jawa. Interaksi dan proses sosial yang berkembang dalam keseharian menggunakan bahasa Melayu
Dalam penentuan lokasi Riset Etnografi Kesehatan 2015 ini Tim Peneliti melakukan koordinasi dengan pihak Dinas Kesehatan kabupaten Kayong utara. Penentuan lokasi riset yang didasarkan pada data Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) 2013 menyebutkan bahwa Kabupaten Kayong Utara untuk jenis Penyakit Tidak Menular (PTM) sebesar 0,1760. Kriteria lain dalam penentuan lokasi Riset Etnografi Kesehatan ini adalah masih kuatnya tradisi lokal masyarakat setempat dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan. Wilayah Kecamatan Kepulauan Karimata merupakan lokasi Riset Etnografi Kesehatan dengan pertimbangan bahwa aspek kebudayaan dan tradisi lokal yang masih dilestarikan. Dilihat dari segi kesehatan bahwa di Desa Padang tingkat penderita tekanan darah tinggi masih tinggi, asumsi yang berkembang menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi banyaknya masyarakat penderita tekanan darah tinggi adalah tingginya konsumsi garam tanpa diimbangi dengan mengkonsumsi sayur-sayuran.
Pada masyarakat etnik Melayu yang terdapat di Desa Padang mempunyai adat dan pola kebiasaan yang telah dilakukan sehari-hari. Pola kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari adalah mengkonsumsi makanan yang bercitarasa asin. Setiap menu yang mereka konsumsi setiap harinya tidak terlepas dari ikan asin, mie instan, dan minuman bersuplemen. Perilaku keseharian mereka tanpa disadari akan mempengaruhi kondisi kesehatan. Dampak yang terjadi secara lambat laun menyebabkan angka penderita darah tinggi banyak di daerah ini.
Menurut data dari profil kesehatan Puskesmas Pembantu Desa Padang Kecamatan Pelapis tahun 2014 menyebutkan bahwa jenis penyakit untuk di Desa Padang darah tinggi termasuk salah satu penyakit yang banyak diderita. Budaya mengkonsumsi makanan gurih sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Desa Padang. Pandangan atau norma masyarakat Desa Padang menganggap makanan yang enak memiliki citarasa asin, gurih dan manis. Kebiasaan
mengkonsumsi makanan asin ini merata di semua kelompok masyarakat.
Pola konsumsi makanan ini tidak terlepas dari kondisi geografis suatu wilayah. Kondisi alam yanng dikelilingi laut dan kepulauan mengharuskan mereka untuk menyesuaikan dengan lingkungan. Di Desa Padang akan dengan mudah mencari hasil laut berupa ikan. Pengolahan ikan laut sebagian besar dijadikan ikan asin. Topografi daerah yang terletak dikelilingi laut menjadikan kebutuhan asupan gizi dari ikan laut terpenuhi. Akan tetapi daerah ini sangat sulit mencari sayur-sayuran. Walaupun sebagian wilayah adalah pegunungan akan tetapi untuk tanam-menanam sayuran masih sulit dilakukan. Faktor penyebab yang utama adalah gangguan hama berupa hewan liar seperti babi hutan. Sedangkan untuk menanam sayuran di sekitar rumah sulit juga dilakukan dikarenakan jenis tanahnya adalah tanah berpasir.
Aspek sosial lain yang merupakan salah satu Kebiasaan sehari-hari masyarakat Desa Padang adalah budaya minum kopi dan merokok. Budaya masyarakat Padang suka berkumpul dan bercengkerama dengan sesama warga, aktivitas ini sering dilakukan di warung kopi. Sebagai pencair suasana adalah minum kopi dan rokok, dalam situasi seperti ini hal yang menjadi topik pembicaraan adalah tentang laut dan hal-hal ringan lainnya.
Dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai nelayan. Masyarakat Padang sangat mengandalkan hasil laut, dan mereka rata-rata tidak mempunyai pekerjaan sampingan lain. Aktifitas melaut mereka dimulai dari jam 6 pagi sampai jam 2 siang. Cara untuk mencari ikan diantaranya adalah dengan menyelam, memancing dan menjaring.
Penelitian yang dilakukan oleh Tim Riset Etnografi Kesehatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang budaya lokal masyarakat Desa Padang terkait dengan permasalahan kesehatan yang beresiko mengidap penyakit darah tinggi. Dalam potret budaya
kesehatan yang digambarkan oleh tim Peneliti Riset Etnografi Kesehatan ini, digambarkan secara gamblang budaya-budaya yang terbentuk dari kebiasaan sehari-hari yang ternyata mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit salah satunya adalah darah tinggi.
1.2Tujuan
Riset Etnografi Kesehatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara holistik aspek sejarah, geografi dan sosial budaya terkait dengan kesehatan terutama mengenai penyakit darah tinggi yang menjadi resiko tinggi pada etnik Melayu di Desa Padang.
1.3Metode
Pemilihan lokasi Penelitian Riset Etnografi Kesehatan ini didasarkan besarnya permasalahan penyakit tidak menular darah tinggi dari data profil Puskesmas Pembantu Desa Padang tahun 2014 dan adanya pengaruh budaya. Penentuan desa dilakukan pada persiapan daerah yang kami lakukan sekitar bulan Maret 2015 bersama petugas dari Dinas Kesehatan. Pada persiapan daerah tersebut didapat data dukung yang meyakinkan peneliti untuk memilih lokasi penelitian ini. Data-data dukung yang kami dapatkan dari Profil Puskesmas Pembantu Desa Padang Kabupaten Kayong Utara.
Profil Puskesmas Pembantu Desa Padang menyebutkan bahwa Jenis 10 penyakit terbanyak di Desa Padang tahun 2014 adalah penyakit Commond Cold 289 kasus, Hipertensi 189 kasus, Dermatitis 155 kasus, Gastritis 134 kasus, Anemia 113 kasus, Malaria 89 kasus, Asma Bronkiale 71 kasus, Artritis 65 kasus, Febris 50 kasus, Diare 41 kasus, Suspek Typhoid 17 kasus, Suspek Pneumonia 9 kasus, Bronkhitis 8 kasus, Skabies 8 kasus, Disentri 6 kasus, Eksim 5 kasus, KLL 5 kasus, dan Asma 2 kasus.
Penelitian ini secara konseptual adalah penelitian kualitatif etnografi yaitu salah satu metode penelitian kualitatif. Etnografi
digunakan untuk meneliti berbagai perilaku manusia berkaitan dengan aspek kesehatan dalam setting sosial dan budaya tertentu. Metode penelitian etnografi dianggap mampu menggali informasi secara mendalam dengan beberapa sumber yang luas, dengan tehnik “observatory partisipant”, etnografi menjadi sebuah metode penelitian yang unik karena mengharuskan peneliti sebagai instrumen partisipatoris secara langsung dalam sebuah masyarakat (Spradley, 1997).
Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari seluruh masyarakat yang tinggal serta bermukum di wilayah Desa Padang serta tenaga kesehatan baik dari Pustu Padang. Sumber data dalam penelitian ini dipecah menjadi 2 kategori sebagai berikut :
1. Informan, yaitu orang yang memberikan informasi tentang penelitian yang sedang dikaukan.
2. Key Informan (informasi kunci), yaitu seseorang yang mengetahui secara mendalam tentang kondisi dan permasalahan yang terjadi pada satu kellompok masyarakat, terutama mengenai permasalahan yang sedang kita teliti. Informan kunci juga adalah seseorang yang kaya informasi dan dapat mengarahkan peneliti kepada informan-informan yang akan memberikan informasi tambahan bagi berjalannya penelitian.
Informan dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Padang yang terlibat secara budaya dan berpengaruh secara kesehatan baik dari sisi provider kesehatan, pengguna fasilitas kesehatan, beberapa tokoh yang berpengaruh baik itu adalah tokoh agama dan masyarakat, serta semua orang yang dapat memberikan informasi penelitian ini.
Untuk mendapatkan data yang akurat, peneliti mempergunakan beberapa cara pengumpulan data dalam penelitian ini. Adapun cara pengumpulan data tersbut sebagai berikut :
1. Observasi
Dilakukan dengan cara terjun langsung ke lapangan dan mengadakan pengamatan terhadap masyarakat yang diteliti dengan cara memotret kegiatan keseharian mereka. Pengamatan yang dilakukan melibatkan alat yang dapat membantu memperoleh gambaran masyarakat secara menyeluruh seperti kamera dan handicamp. Dari kegiatan observasi ini terbagi menjadi 2 metode yaitu :
a. Observasi non partisipatori
Yaitu pengamatan yang dilakukan dimana peneliti menjadi pengamat pasif dan tidak ikut serta dalam kegiatan yang sedang dilakukan oleh masyarakat tersebut.
b. Observasi partisipatori
Yaitu pengamatan yang dilakukan dengan mempergunakan cara pengamatan aktif. Dalam posisi ini peneliti ikut serta dalamkegiatan yang dilakukan oleh masyarakat tersebut, dengan tujuan agar peneliti memperoleh gambaran menyeluruh tentang masyarakat yang diteliti.
2. Wawancara secara mendalam
Dilakukan dengan cara menggali secara mendalam terhadap satu topik dengan pertanyaan terbuka dengan mempergunakan prinsip dasar yaitu ethic vs emic. Untuk mendapatkan informasi sesuai dengan perspektif informan. Dalam melakukan kegiatan ini dibutuhkan alat bantu berupa perekam suara, agar memudahkan peneliti dalam membuat analisa data dari data yang diperoleh. 3. Analisa data sekunder
Analisa ini dilakukan untuk memperoleh gambaran awal lokasi penelitian, terutama dibutuhkan ketika penentuan awal lokasi penelitian serta pada saat pembuatan laporan. Data sekunder diharapkan dapat memberikan tambahan
data secara kuantitatif serta memperkaya informasi yang diperoleh dari masyarakat.
4. Studi literatur
Studi literatur ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang topik penelitian yang sama yang telah dilakukan lebih dulu oleh peneliti lain, serta bagaimana peneliti tersebut melakukan penelitian. Studi literatur ini juga dilakukan dengan alasan untuk mengetahui seberapa berbeda penelitian yang akan kita lakukan serta dilakukan untuk memberi arah penelitian selanjutnya yang perlu dilakukan untuk melanjutkan misi penelitian.
Dalam penelitian ini pengolahan data dilakukan dengan cara triangulasi data yaitu pendekatan multi mode yang dilakukan peneliti pada saat pengumpulan dan menganalisis data. Ide dasarnya adalah bahwa fenomena yang diteliti dapat dipahami dengan baik sehingga diperoleh kebenaran tingkat tinggi jika didekati dari berbagai sudut pandang. Memotret fenomena tunggal dari sudut pandang yang berbeda-beda akan memungkinkan diperoleh tingkat kebenaran yang handal. Karena itu, triangulasi ialah usaha mengecek kebenaran data atau informasi yang diperoleh peneliti dari berbagai sudut pandang yang berbeda dengan cara mengurangi sebanyak mungkin bias yang terjadi pada saat pengumpulan dan analisis data.
Selain dilakukan triangulasi data tahap lain dilkukan adalah melakukan deskriptif interpretatif dari data, informasi yang telah didapat dan telah dilakukan triangulasi diatas. Deskriptif interpretatif adalah suatu bentuk analisa dari berbagai data yang berupa informasi, perilaku maupun kegiatan yang digambarkan secara menyeluruh sehingga
membantu beberapa pola tertentu yang diberikan pemaknaan terhadap pola-pola itu.
1.4Keterbatasan
Lokasi Riset Etnografi Kesehatan 2015 ini berada di Desa Padang Kecamatan Kepulauan Karimata Kabupaten Kayong Utara. Jarak Desa padang dengan Kantor Kecamatan Pelapis 39 km dengan perjalanan lewat laut dengan waktu tempuh 4 jam. Sedangkan waktu tempuh dari kabupaten Kayong Utara ke Desa Padang selama 14 jam.
Akses transportasi dari Ibu Kota kabupaten Kayong Utara (Kota Sukadana) menuju Desa Padang Kepulauan Karimata menggunakan kapal penumpang KM (Karimata) yang setiap minggunya jadwal keberangkatan 1 kali. Faktor cuaca menjadi pertimbangan utama berangkat atau tidaknya kapal penumpang KM (Karimata). Akses transportasi alternatif lainnya untuk menuju Desa Padang Kepulauan Karimata adalah dengan menumpang kapal nelayan melalui Kabupaten Ketapang.
Jarak yang harus ditempuh untuk menuju Kabupaten Ketapang dari Kota Sukadana adalah 2.5 jam perjalanan darat. Lokasi tempat sandar kapal nelayan Desa Padang di bawah Jembatan Sungai Pawan 1 kota Ketapang. Para nelayan ini akan kembali ke Desa Padang pada malam hari ketika air sungai Pawan mulai pasang. Perjalanan dari Ketapang menuju Desa Padang selama 12 jam melewati laut lepas.
Desa Padang merupakan salah satu Desa yang terbesar di wilayah Kecamatan Kepulauan karimata. Luas Desa Padang 140.81 km² dengan jumlah penduduk 1.326 jiwa. Desa Padang terdiri dari 6 dusun, yakni Dusun Tanjung Ru, Pantai Lestari, Benteng Jaya dan Sungai Abon.
Pelaksanaan Riset Etnografi Kesehatan di Desa Padang ini mengalami kendala dalam akses listrik, akses transportasi dan waktu. Sebagian masyarakat Desa Padang dalam memenuhi kebutuhan listrik menggunakan genset/disel yang berbahan bakar solar. Listrik akan
menyala pada jam 5 sore sampai jam 12 malam. Untuk Dusun Pantai Lestari sudah ada program bantuan dari PNPM mandiri listrik desa. namun pada awal Mei kondisi disel pembangkit listrik mengalami kerusakan teknis dan hal itu berlangsung hampir 1 bulan. Kendala waktu di lokasi Riset yang utama adalah kondisi cuaca. Pada saat tim Riset Etnografi Kesehatan tiba di lokasi sudah masuk musim Selatan. Musim Selatan adalah musim dimana ombak laut perairan Karimata besar, dan musim selatan ini berlangsung dari bulan 5 (Mei) sampai Bulan 8 (Agustus). Kondisi laut pada musim Selatan ini ombak bisa mencapai 3-5 meter. Untuk kondisi cuaca pada bulan 5-6 (Mei-Juni) ada saatnya cuaca teduh, sehingga masih ada nelayan yang berani keluar pulau. Melihat kondisi alam ini tim Riset Etnografi Kesehatan menyelesaikan kegiatan ini sampai akhir Mei.
BAB 2
DESA PADANG DAN UNSUR BUDAYANYA
2.1. Sejarah Desa Padang
Secara administratif Desa Padang berada di wilayah Kepulauan Karimata. Berdasarkan sejarah yang berkembang bahwa wilayah Karimata ini dulunya merupakan sebuah Kerajaan. Seiring berjalannya waktu bentuk Pemerintahan yang berupa Kerajaan tersebut berubah menjadi sistem Kepala Kampung dan selanjutnya sekarang ini menjadi Pemerintahan Desa Padang. Seperti yang diungkapkan oleh informan T.S, 32 tahun bahwa :
“ Jadi kalau desa Padang ni awalnya dulu bukan desa, melainkan adalah sebuah kerajaan, yang pemimpinnya bergelar Panglima. Dari sumber yang masih hidup, Tengku Abdul Jalil berasal dari Kerajaan Siak, dari Sumatra(Riau). Beliau mempunyai 3 bersaudara di Kayong Utara. Jadi waktu perang melawan Belanda, Karimata ni belum terjamah sebenarnya, awalnya penduduk Karimata ini orang laut. Kemudian beliau memimpin perang ini menang, maka sebagai hadiah di berikanlah Pulau Karimata ini kepada Tengku Abdul Jalil ”
Berdasarkan penuturan informan T.AS, 48 tahun yang merupakan salah satu keturunan dari Pendiri Kerajaan Karimata :
“ Asal nama Karimata ini ceritanya dahulu berasal dari kedatangan Tengku Abdul Jalil pertama kali di sebuah Pulau, dan ceritanya tempat tersebut merupakan jatuhnya cincin permata beliau, maka disebutlah Pulau tersebut dengan nama Karimata.Tetapi kalau melihat dari silsilah kerajaan yang ada, Tengku Abdul Jalil diberi pilihan untuk tinggal dan mengelola daerah yang akan dipimpinnya, kemudian dipilihlah Pulau Karimata dan lama kelamaan wilayah Karimata melebar, dan beliau bernadzar untuk tinggal dan
menetap di Karimata. Berdasarkan silsilah kerajaan yang ada sebagai berikut :
KERAJAAN TERTUA
PEMANGKU KERAJAAN PERTAMA KARIMATA
PENJELASAN SILSILAH KERAJAAN A. Mangku Raja : Raja berkuasa
Raja pertama : Bhatin Indra Pahlawan B. Galang setia raja : Angkatan Bersenjata a. Hang Tuah
b. Hang Nadim c. Hang Laksa d. Hang Jebat
C. Hulubalang setia raja : diplomat (BIN) - sebagai intelejen
- Sebagai penghubung
D. Pasak setia raja : Pemeliharaan kerajaan Pemegang adat istiadat
E. Pasutri setia raja : tokoh agama (penyebaran agama) MANGKU RAJA
GALANG SETIA RAJA
HULUBALANG SETIA RAJA
PASAK SETIA RAJA
SILSILAH KERAJAAN KEDUA KARIMATA
Silsilah Kerajaan Karimata pertama dan kedua Sumber : informan Tengku Abdul Sukur
Seperti yang diungkapkan oleh informan T.S, 32 tahun bahwa : “Setelah menetap di Karimata, Tengku Abdul Jalil mempunyai 6 orang anak, 5 laki-laki dan 1 perempuan (namun yang perempuan meninggal). Beliau bergelar Baginda Raja, oleh karena itulah disini banyak Tengku namun beda-beda. Ada yang bisa memegang desa(kepala desa/kepala kampung) ada yang bisa memegang kerajaan.
Setelah Tengku Abdul Jalil wafat, kemudian garis kepemimpinan diturunkan ke Tengku Abdurrahman, salah satu putra beliau. Pada masa kepemimpinan Tengku Abdurrahman sistem kerajaan sudah tidak digunakan lagi, sistem berubah menjadi Kepala Kampung. Setelah periode Tengku Abdurrahman selesai, kemudian diteruskan oleh Tengku Massaed, lalu Tengku Imbuk. Sekitar tahun ’30 an
TENGKU ABDUL JALIL
TENGKU ABDUL RAHMAN
TENGKU MASSAED
TENGKU IMBOK
TENGKU IMBAB
beliau memimpin dan berlangsung lumayan lama. Beliau meninggal dengan cara dipancung oleh Jepang, karena tidak mau tunduk menuruti permintaan penjajah Jepang. Setelah itu jabatan dipegang oleh Tengku Embab. Di masa kepemimpinan beliau ini lama waktu beliau menjadi kepala desa ini termasuk yang paling lama dibandingkan dengan kepala desa lainnya. Tengku Hamdan ini termsuk kepala desa yang paling sering keluar Pulau Karimata untuk studi banding ke daerah lain yang sudah maju. Dari hasil studi banding dari berbagai daerah ini beliau terapkan di Desa Padang ini”
Di Karimata ini banyak orang-orang besar yang mengunjungi pulau ini, mereka kebanyakan mengunjungi pulau Karimata Tua untuk bernadzar. Pulau Karimata Tua merupakan tempat yang disakralkan masyarakat setempat untuk ritual nadzar. Maksud dari ritual Nadzar ini adalah jika seseorang mempunyai niat atau keinginan akan sesuatu maka akan datang ke pulau Karimata Tua ini. Peninggalan Kerajaan berupa cap/stempel jaman dahulu sebenarnya ada akan tetapi keberadaannya tidak diketahui. Sisa peninggalan berupa keris pusaka masih tersimpan di pewaris keturunan kerajaan.
Gambar 2.1
Peninggalan bekas kerajaan Karimata dan meriam Sumber : Dokumentasi Peneliti
Seperti yang diceritakan oleh informan T.S, 32 tahun bahwa : “Salah satu peninggalan Kerajaan lainnya adalah meriam peninggalan Belanda (VOC). Meriam itu benar-benar luar biasa, memang tidak sembarang orang bisa mengangkat benda tersebut. Jumlah meriam ada 4 buah, yang besar 2 sedangkan yang kecil 2 buah. Dan dari setiap meriam tersebut ada namanya sendiri-sendiri. Untuk meriam yang besar sendiri dinamakan “gagak lapa”. Kalau bulan puasa dulu meriam yang besar itu hidup sendiri, dahulu itu kalau malam jum’at meriam itu berbunyi seorang(bunyi sendiri). Pernah dulu sekitar tahun ’90 an ada seorang kaya ingin mencoba meriam tersebut. Dengan menggunakan karbit mencoba membunyikan meriam tersebut, setelah dicoba bunyinya tidak keras hanya pelan saja. Setelah itu keluarlah peluru meriam jaman dulu 2 butir, dipindahlah meriam tersebut dengan diangkat sekitar 20 orang dan yang memindah tersebut menjadi gila orangnya dan sudah meninggal. Pernah juga dulu dicoba dipindahkan akan tetapi keesokharinya kembali ke tempat semula, tergeletak begitu saja di atas tanah. Walupun dibuatkan tempat khusus untuk meriam tetap saja meriam tersebut kembali ke tempat semula”
Hal yang berhubungan dengan mistis di Desa padang ini masih sangat kuat, dan hal ini tercermin dari setiap ritual yang dilakukan masyarakat Padang.
2.1.1. Perkembangan Desa Padang
Dalam proses perkembangan Desa Padang, saat ini sudah banyak pembangunan yang telah dilakukan. Mulai pembangunan jalan desa hingga pembangunan pasar desa. Untuk jalan desa proses pembangunannya langsung dari Pemerintah Kabupaten Kayong Utara. Selain pembangunan jalan desa, dibangun juga dermaga dan pasar desa yang sangat diperlukan oleh masyarakat Padang.
Letak pasar Desa Padang dulunya berada di dekatnya kantor desa di Dusun Pantai lestari. Pada saat itu kondisi bangunan masih berupa kayu. Mulai dari dinding bangunan sampai lantai bangunan semua berbahan kayu, bentuk bangunan memanjang dan terdiri dari beberapa ruangan yang disekat untuk berjualan. Suasana pasar di Desa Padang ini jauh lebih sepi jika dibandingkan dengan pasar yang terdapat di daerah Jawa. Jumlah pedagang yang menempati bangunan pasar Cuma ada 2 pedagang kecil, yang menjual kebutuhan sehari-hari.
Pembangunan fisik Desa Padang ini dimulai ketika ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten Katong Utara. Akses jalan mulai dibuka dan dibuat mulai dari Dusun Tanjung Ru sampai Dusun Sungai Abon. Menurut informan PF, 45 tahun menyebutkan :
Gambar 2.2
Kondisi jalan Desa Padang Sumber : Dokumentasi Peneliti
“dulu di padang ni sulit untuk dibangun mas, menurut para dukun disini alam Karimata ni masih dikuasai oleh hal ghaib, jadi masih tertutup oleh “orang halimun” yang sering mengacau kampung Padang ni”
Gambar 2.3
Kondisi pasar Desa Padang Sumber : Dokumentasi Peneliti
Menurut para dukun yang ada di Desa Padang ini bahwa Pulau ini masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistis. Masih banyak tempat-tempat yang angker dan banyak juga penunggunya. “orang halimun” yang dimaksud disini adalah makhluk dari bangsa jin/makhluk halus yang kasat mata. Biasanya munculnya “orang halimun” ini pada saat menjelang acara adat. Kendala pembangunan di Desa Padang ini salah satunya adalah hal non teknis yang berasal dari kekuatan alam lain.Desa Padang mulai nampak pembangunannya baru 2 tahun terakhir ini. Menurut pemahaman masyarakat Padang bahwa hal ghaib sudah mulai terbuka.
Perubahan fisik banyak terjadi di Desa Padang sejak tahun 2009 mulai ada program PNPM mandiri berupa air bersih dan listrik. Untuk program PNPM Mandiri ini sendiri sasaran bantuan program dari masing-masing Dusun yang ada di Desa Padang ini berbeda-beda. Desa Padang sendiri terdiri dari 4 Dusun, yang pertama Dusun Pantai Lestari, yang kedua Dusun Tanjung Ru, yang ketiga Dusun Benteng Jaya dan yang ke empat Dusun Sungai Abon.
Program PNPM untuk di Dusun Pantai Lestari adalah listrik Desa dan perbaikan jalan. Dalam mencukupi kebutuhan akan listrik ini digunakan mesin disel kapasitas besar sebagai tenaga utama penghasil listrik. Desa Padang Pulau Karimata ini merupakan wilayah yang belum menikmati aliran listrik dari Negara. Kondisi geografis yang tidak memungkinkan dalam suplai listrik dari Kabupaten Kayong ke Padang. Selama ini masyarakat padang berupaya untuk mencari sumber energi lain untuk listrik, salah satunya dengan menggunakan genset dan disel. Program ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat Padang untuk menunjang aktifitas sehari-hari. Secara umum untuk mencukupi kebutuhan listrik di Desa Padang ini sebagian masyarakat sudah mempunyai genset untuk sumber listriknya. Mesin disel ini mulai dinyalakan pada jam 5 sore sampai jam 12 malam.
Gambar 2.4
Bantuan PNPM mandiri untuk listrik di Dusun Pantai Lestari Sumber : Dokumentasi Peneliti
Gambar 2.5
Jenis mesin disel untuk pembangkit listrik Dusun Pantai Lestari Sumber : Dokumentasi Peneliti
Pengelolaan listrik ini deserahkan ke masyarakat Padang dengan satu orang yang penanggung jawabnya. Sistem iuran yang dibebankan ke warga pengguna listrik disesuaikan dengan jenis pemakaiannya dan iuran listrik ini setiap 10 hari sekali.
Program PNPM lainnya adalah pengadaan air bersih untuk masyarakat Padang. Dusun yang mendapat program ini dusun Tanjung Ru, Dusun Benteng Jaya dan Dusun Sungai Abon. Sumber air bersih yang digunakan mengambil dari gunung yang dialirkan melalui pipa-pipa ke rumah warga masyarakat. Kebutuhan air untuk kebutuhan sehari-hari menggunakan air ini, mulai kegiatan memasak,mandi. Namun pada musim kemarau sumber air yang telah masuk ke rumah-rumah warga tidak mengalir, diakibatkan air dari gunung kering. Dalam memenuhi kebutuhan akan air bersih warga masyarakat Padang memanfaatkan sungai. Kondisi air sungai masih baik dan bersih serta masih jernih airnya.
2.1.2. Mobilitas Penduduk
Akses untuk menuju ke Desa Padang ini tergolong sulit. Faktor geografis dan alam menjadi kendala utama untuk bisa menuju ke Padang. Paling tidak dibutuhkan waktu 8-12 jam perjalanan dengan kapal laut untuk menuju Pulau Karimata ini. Kapal penumpang KM (Karimata) adalah kapal dari Kabupaten Kayong Utara yang memang dikhususkan untuk mengangkut penumpang dari Kayong Utara (Sukadana) menuju di Karimata. Untuk jadwal kapalnya sendiri sebenarnya 1 minggu 1 X untuk ke Karimata. Rute untuk kapal penumpang KM (Karimata) sendiri dari Sukadana - Kec. Pelapis – Betok – Karimata. Lama waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan itu adalah sekitar 12 jam dengan tarif per penumpang sekitar 75 ribu. Hanya saja untuk sekarang ini jadwal kapal penumpang KM (Karimata)yang ke Karimata tidak tentu, terkadang berangkat terkadang tidak berangkat. kendala teknis yang menjadi alasan untuk tidak berangkat dan banyak faktor lain yang mempengaruhi hal ini. Alternatif lain untuk bisa sampai ke Karimata adalah numpang kapal nelayan yang ke Padang dan biasanya mereka berangkatnya lewat Kabupaten Ketapang.
Sudah menjadi kebiasaan di Desa Padang ini untuk menunjang aktifitas dalam mobilitas ke luar pulau masyarakat menggunakan cara menumpang kapal nelayan. Nelayan Desa Padang dalam menjual hasil ikan adalah ke Kabupaten Ketapang dan ke Belitung. Alasan menjual hasil ikan di kabupaten tersebut karena di Sukadana (Kab. Kayong Utara) TPI/Tempat Pelelangan Ikan masih kecil dan tidak sebesar di Ketapang. Jumlah penampung ikan di Kayong Utara masih sedikit dan tidak mampu untuk menampung hasil ikan yang besar. Oleh karena itu para nelayan Desa Padang lebih senang menjual hasil ikan ke Kabupaten Ketapang. Fasilitas di Ketapang sudah memadai dan jumlah ikan berapapun akan tetap ditampung.
Gambar 2.6
Suasana warga Padang yang menumpang kapal milik Bang Kandar untuk menuju ke Ketapang
Sumber : Dokumentasi Peneliti
Pola kebiasaan dari masyarakat yang terbentuk dengan adanya sulitnya transportasi adalah masyarakat terbiasa mencari informasi kapal siapa yang dalam waktu dekat akan turun ke Kabupaten. Respon yang diterima pemilik kapal bila ada yang menumpang mereka akan menerima dengan terbuka dan mempersilahkan. Prinsip yang harus dipegang ketika akan menumpang kapal nelayan adalah harus sabar, karena dari kapal yang berangkat akan berhenti di tengah laut untuk mencari ikan dan menaruh bubu untuk perangkap ikan. Setelah aktifitas mencari ikan selesai, kapal akan melanjutkan perjalanan lagi.
Durasi waktu yang cukup lama selama perjalanan, mengharuskan para masyarakat yang menumpang kapal harus membawa bekal sendiri-sendiri. Bekal utama yang harus dibawa
adalah air minum, ini sangat penting untuk menghindari dehidrasi karena di tengah laut cuaca sangat panas.
Sistem antar barang antar warga juga melalui kapal-kapal nelayan. Tidak heran jika ada kapal yang berangkat ke kabupaten dipastikan ketika pulang ke Padang akan penuh muatan. Jenis muatan mulai dari sembako, bahan bangunan, sayur, dan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari. Untuk para pedagang kelontong kecil di Desa Padang ini dalam mengambil barang dagangan biasanya belanjanya di Kabupaten Ketapang dan Belitung. Kebutuhan akan bahan bakar minyak juga didapatkan di 2 daerah tersebut. Oleh karena itu harga barang-barang di Pulau lebih mahal hal ini berkaitan dengan faktor akses transportasi yang mahal dan jauh. Kalau di daerah kepulauan seperti di Pulau Karimata ini rasa kepedulian dengan sesame orang pulau sangat tinggi. Seperti yang diutarakan BK, 38 tahun bahwa :
“jika saya mau turun ke ketapang, banyak yang mau ikut numpang mas. Orang sini tu sudah biasa ikut kapal kami ni untuk numpang, kalau saya mempersilahkan ja’, asal tahan ombak saja dan sabar. Sebab kami tu kerja dulu di laut narik ikan, baru lanjut perjalanan ke Ketapang. Perjalanan sekitar 8-12 jam tergantung cuaca/ombak di laut”
2.1.3. Sarana transportasi dan Komunikasi
Jenis transportasi yang digunakan masyarakat Desa Padang untuk aktifitas dan mobilitas adalah kapal/perahu. fungsi utama dari kapal selain digunakan untuk mencari ikan di laut, juga digunakan sebagai sarana transportasi untuk pergi keluar pulau. Keterbatasan kapal khusus penumpang merupakan faktor utama dalam hal ini. Mobilitas masyarakat lebih menggantungkan pada kapal-kapal nelayan yang dalam beberapa hari sekali pergi ke Kabupaten Ketapang untuk menjual hasil laut.
Gambar 2.7
Suasana jalan di Desa Padang Sumber : Dokumentasi Peneliti
Untuk yang ada di Desa Padang sarana transportsi menggunakan “honda” sebutan sepeda motor disini. Apapun merek sepeda motor yang ada tetap penyebutannya menggunakan “honda”. Jumlah pemilik “honda pada saat ini telah jauh meningkat. Hampir setiap rumah sekarang ini sudah mempunyai “honda”. Besarnya tingkat kepemilikan “honda” ini tidak diimbangi dengan adanya bengkel sepeda motor dan tambal ban. Jika mengalami ban bocor maka langkah yang ditempuh dengan cara membeli ban dalam yang harganya 35 ribu, itu belum termasuk ongkos untuk mengganti ban dalam tersebut. Kebanyakan warga Desa Padang membeli “honda” di kabupaten Ketapang, baik itu secara kredit maupun secara tunai.
Selain transportasi yang sulit diakses, sarana komunikasi di Desa Padang sudah ada walaupun jaringannya sangat terbatas. Untuk mendukung akses komunikasi tower sinyal yang ada sekarang ini
masih sangat sederhana, jenis tower seukuran tower radio. Jangkauan dari sinyal tersebut terbatas tidak bisa menyeluruh di Desa Padang, hanya di Dusun Tanjung Ru yang akses sinyal bisa diterima dengan baik. Sedangkan untuk di Dusun Pantai Lestari hanya di tempat-tempat tertentu bisa menangkap sinyal telepon, Dusun Benteng Jaya dan Sungai Abon tidak terjangkau sinyal. Kontur wilayah yang pegunungan menyebabkan sinyal tidak bisa merata ke semua desa.
Kendala yang sering terjadi untuk sarana komunikasi adalah sering hilangnya sinyal jika cuaca sedang tidak baik. Kebutuhan masyarakat akan sarana komunikasi yang lancar sementara ini masih belum terwujud.
2.1.4. Permasalahan Sosial
Dalam sistem kemasyarakatan yang berkembang di masyarakat tidak terlepas dari masalah yang timbul. Sebab jika tidak ada masalah, tidak ada dinamika kehidupan. Masalah secara umum timbul desebabkan tidak sejalannya antara harapan dan kenyataan.
Masalah sosial yang biasa terjadi untuk konteks sekarang ini belum begitu terasa. Masalah-masalah yang biasanya timbul sejak bebrapa tahun ini adalah tentang kepemimpinan Kepala Desa. Mulai muncul pertanyaan dan peran Kepala desa terhadap proses pengembangan Desa Padang selanjutnya. Dalam bidang kesenian di Desa Padang ini belum ada perhatian dari Pemerintah Desa terhadap kelangsungan budaya leluhur peninggalan para datuk.
Masalah sosial lainnya yang sekarang ini terjadi di Desa Padang adalah permasalahan kenakalan remaja. Bentuk kenakalan yang terjadi adalah penyalahgunaan obat-obatan untuk penyakit digunakan sebagai sarana mabuk-mabukan.
Penyalahgunaan obat batuk Komix dan Lem FOX untuk mabuk-mabuk an ini dimulai marak sekitar tahun 2014, awal mulanya kebiasaan ini dibawa dari anak-anak muda Belitung yang singgah di Pulau Karimata. Banyak anak-anak muda Padang yang melakukan
aktifitas ini, mereka membeli Komix untuk disalahgunakan, untuk bisa membuat efek mabuk mereka meminum 5-6 sekaligus Komix yang katanya bisa membuat “melayang/mabuk”. Selain penyalahgunaan Komix, sarana lain dengan menggunakan Lem FOX, mereka menghirup Lem Fox dalam-dalam sampai berkali-kali dan hasilnya juga sama bisa menimbulkan efek “melayang/mabuk”. Kebanyakan pelakunya dari anak-anak SMP dan anak usia remaja.
Sangsi/hukuman dari peraturan Desa Padang tentang “Ngomix dan ngelem” adalah hukuman mencangkul. Pelaksanaan hukuman ini berlaku di lokasi dimana yang bersangkutan ketahuan “ngomix dan ngelem”, misalnya lokasi aktifitas tersebut di RT 04, maka mereka yang dihukum harus mencangkul wilayah tersebut. Mencangkul disini bisa membersihkan jalan dari rumput-rumput liar, atau membersihkan lapangan bola voli.
2.2. Geografi dan Kependudukan 2.2.1. Letak Geografi
Secara administrative batas wilayah kepulauan Karimata adalah sebelah Utara berbatasan dengan Padang Tikar Kabupaten Kubu raya. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Ketapang dan Prov. Batam. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pulau Maya. Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Natuna. Desa Padang memiliki luas 33,15 % dari Kecamatan pulau Karimata atau seluas 140,81 Km².
Desa Padang terdiri dari 4 dusun, yaitu Dusun Pantai Lestari, Tanjung Ru, Benteng Jaya, dan Sungai Abon. Dari masing-masing Dusun tersebut terdiri dari tiga RT atau rukun tetangga kecuali Dusun Sungai Abon yang hanya terdiri dari satu RT karena wilayahnya tidak begitu luas. Dusun Sungai Abon ini hanya terdiri dari beberapa rumah saja yang mendiami. Lokasi Dusun ini paling ujung sendiri di Desa Padang ini.
Gambar 2.8
Peta wilayah Desa Padang Sumber : Google maps
2.2.2. Topografi desa
Kondisi topografi Desa Padang adalah pegunungan dan laut. Landskap Desa Padang terdiri dari bergunung dan berbukit dengan langsung menghadap ke laut. Deretan pegunungan dan hutan menjadikan pemandangan Desa Padang sangat indah, disamping itu juga memiliki potensi pantai yang masih alami dan belum dikelola dengan baik.
Vegetasi tanaman hutan sangat beragam di Pulau Karimata ini. Mulai dari jenis kayu-kayu an dan beraneka ragam tanaman untuk obat. Kayu yang banyak terdapat di Karimata ini adalah kayu belian/kayu besi, jenis kayu ini digunakan sebagai bahan bangunan membuat rumah. Tipikal kayunya kuat dan daya tahan lamanya yang lama.
Cuaca di Desa Padang sangat panas pada siang hari, dan pada malam hari masih sering terjadi hujan. Panasnya cuaca ini ditunjang karena daerah ini merupakan daerah pantai. Kontur tanah di Desa padang adalah jenis tanah berpasir, dengan sedimen pasir sekitar 10 cm. jenis tanaman yang bisa tumbuh di desa Padang adalah jenis tanaman buah-buahan yang berakar tunjang. Tanaman buah yang ada
di desa Padang diantaranya adalah buah nangka, nanas, pisang, nangka belanda/sirsak, durian, jambu. Sedangkan untuk jenis tanaman yang digunakan untuk perkebunan diantaranya adalah tanaman cengkeh, karet dan sahang/merica. Lokasi perkebunan warga terdapat di hutan yang lokasinya berada agak jauh dari pemukiman penduduk.
Gambar 2.9
Salah satu view Desa Padang Sumber : Dokumentasi Peneliti
Jumlah warga DesaPadang yang berkebun sangat sedikit, hanya sebagian kecil warga saja. Mayoritas untuk memenuhi kebutuhan hidup menggantungkan dari hasil laut. Dalam pendangan mereka bahwa berkebun hasilnya tidak bisa langsung didapat. Proses yang lama dari tanaman yang ditanam inilah yang menjadikan jumlah warga yang berkebun sedikit.
Komoditas utama Pulau Karimata ini dulunya adalah kayu untuk bahan bangunan. Menurut informan SR, 56 tahun menyebutkan bahwa :
“dulu di sini tu banyak orang kerja kayu mas, banyak orang jawa yang kesini untuk kerja menebang kayu. Kayu yang dicari biasanya kayu-kayu untuk bahan bangunan. Kayu belian itu primadonanya, selain itu ada juga yang mencari kayu kelapa. Banyak kapal-kapal dari Gresik yang kesini untuk mengambil kayu untuk dijual di Jawa”
Jenis hewan liar yang masih banyak hidup dan berkeliaran di DesaPadang kepulauan Karimata ini adalah babi hutan, monyet, burung elang kepala putih, serta burung-burung liar jenis murai batu yang hidup di hutan-hutan. Jumlah populasi babi hutan di Desa Padang ini sangat banyak. Banyak tanaman-tanaman warga yang dirusak, dan sering berkeliaran masuk desa. Aktifitas dari masyarakat untuk berburu babi hutan jarang dilakukan. Mereka enggan untuk memburu babi-babi tersebut, sebab ketika diburu dan dibunuh, bangkai babi tersebut akan terbengkalai karena di Padang ini tidak ada warga yang mau memakan daging babi.
Beberapa vegetasi tanaman obat banyak terdapat di wilayah hutan Desa Padang. Tanaman ini tumbuh liar berupa semak-semak, akar-akaran dan pepohonan. Jenis tanaman Pasak Bumi banyak terdapat di hutan Desa Padang. Tanaman ini yang diambil dan dimanfaatkan akarnya untuk obat tradisional penyakit malaria dan penambah stamina untuk laki-laki. Berdasarkan penuturan informan PB, 35 tahun mengatakan bahwa :
“ pasak bumi banyak ada hutan sini mas, dari pohon yang besar diambil cuman akarnya ja’..kalau akarnya ukurannya besar biasanya dibuat berbentuk cangkir. Setelah terkumpul banyak lalu akar pasak bumi yang dibentuk cangkir ni dijual ke pontianak, banyak orang-orang diluar sana yang mencari ini untuk penambah stamina..”
2.2.3. Sumber Daya Air dan Potensi Desa Padang
Sumber daya air yang terdapat di Desa Padang ini berasal dari mata air pegunungan. Dari aliran mata air tersebut kemudian dialirkan ke rumah-rumah penduduk. Kondisi airnya yang bersih dan layak untuk dikonsumsi. Selain dari mata air pegunungan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, warga Desa Padang juga memanfaatkan sungai untuk mandi, mencuci dan untuk buang air besar.
Curah hujan di Desa Padang secara umum sangat tinggi, rata-rata insensitasnya pada malam hari. Frekuensi hujan di Desa Padang
ini sangat deras dengan disertai petir yang menyambar-nyambar. Dengan kondisi kontur tanah yang berpasir maka air yang jatuh ke tanah langsung bisa diserap.
Wilayah Desa Padang yang banyak dikelilingi pegunungan potensi air cukup tersedia dengan baik. Salah satu tata kelola air gunung ini dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat. Di Dusun Pantai lestari pemanfaatan air gunung dengan cara dibendung dalam suatu tempat dan dialirkan ke rumah-rumah warga. Pembangunan penampungan air ini merupakan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Kayong Utara. Lokasi sumber air terletak sekitar 1 km dari Dusun Pantai Lestari. Untuk menuju ke lokasi penampungan air tersebut harus berjalan kaki karena masuk gunung dan kemiringan jalan sekitar 45 derajat.
Sistem pengelolaan air masih sangat sederhana, disekitar aliran mata air tersebut dibangun penampungan berupa tembok yang tingginya sekitar 1 meter. Dari tembok penahan air tersebut dibuat aliran air yang terbuat dari pipa besi berlubang-lubang yang fungsinya untuk menyaring air dari sampah dedaunan dan ranting-ranting pohon. Kelemahan dari tata kelola air tersebut adalah hanya terdapat satu penampungan utama, sedangkan jangkauan aliran air ini cukup jauh. Jika dari penampungan utama ini banyak sampah maka akan mempengaruhi debit air yang keluar. Jika dilihat secara umum belum ada sistem manajemen yang baik dalam tata kelola air di Dusun Pantai Lestari ini.
Gambar 2.10 Salah satu tata kelola air
di dusun Pantai Lestari Sumber : Dokumentasi Peneliti
Potensi Desa Padang yang melimpah adalah dari hasil laut. Banyak dari warga masyarakat yang menggantungkan pekerjaan di laut. Hampir mayoritas masyarakat Desa Padang berprofesi sebagai nelayan. Untuk menunjang aktifitas ke laut dalam mencari ikan hampir semua warga Desa Padang memiliki perahu baik dalam ukuran yang besar maupun ukuran kecil. Potensi hasil ikan yang memiliki nilai jual yang tinggi adalah cumi-cumi, ikan tengiri, kepiting dan gamad/teripang. Dengan potensi ikan yang banyak di pulau Karimata ini banyak juga nelayan dari Belitung yang mencari ikan di wilayah Karimata. Pada umumnya nelayan luar Desa Padang akan singgah dalam waktu beberapa hari untuk mencari ikan, setelah muatan ikan penuh baru mereka akan kembali ke darah asal untuk menjual hasil ikan tersebut. Melimpahnya ikan di Pulau karimata ini salah satu cara pengelolaannya yakni dijadikan ikan asin. Ikan laut asin ini memiliki nilai jual yang tinggi jika dibandingkan dengan ikan basah/segar. Banyak hasil-hasil laut di Pulau Karimata ini yang dijual ke Pontianak, Ketapang, dan Belitung.
Potensi lain dari Desa Padang adalah Potensi alam yang belum banyak dikembangkan, seperti Tanah Merah, Air Gemuruh dan potensi obat-obatan herbal yang berasal dari hutan. Banyak dari tanaman-tanaman dari hutan yang biasa dimanfaatkan sebagai obat untuk masyarakat sekitar Desa Padang.
Potensi wisata alam Pulau Karimata ini sangat indah dan memiliki pantai-pantai yang belum dikelola dengan baik. Kendala utama untuk menuju ke Pulau Karimata ini adalah akses transportasi yang sulit dan ketersediaan sarana komunikasi yang belum maksimal.
Di Pulau Karimata ini sebenarnya banyak sekali jenis tanaman yang bisa dijadikan obat. Tanaman-tanaman ini tumbuh liar di hutan-hutan di sekitar Desa Padang. Dengan kondisi alam yang sulit akses transportasi ke luar pulau untuk berobat, salah satu pola bertahan hidup yakni dengan cara memanfaatkan tanaman-tanaman yang banyak terdapat di desa Padang ini. Pak Jupri atau orang disini biasa
memanggil beliau dengan Ujang Aweng merupakan cucu dari ahli pengobatan tradisional di Pulau Karimata ini dan namanya sudah terkenal di seluruh Pulau yakni nenek Somo. Cara pengobatan nenek Somo adalah dengan menggunakan ramuan-ramuan yang dibuat sendiri dan bahan-bahannya banyak terdapat di hutan-hutan. Berdasarkan penuturan informan UW, 40 tahun bahwa :
”mungkin nama nenek somo di Jawa sendiri sudah banyak yang tahu mas, dulu disini banyak orang dari Jawa yang kerja kayu pas jaman Suharto, para pekerja itu banyak yang berobat ke nenek Somo, mulai dari sakit pegal-pegal sampai untuk meningkatkan stamina. cara mengobati cukup dijampi dan diberi ramuan-ramuan tradisional. Nenek Somo sebenarnya bukan penduduk asli Karimata, beliau aslinya orang Tambelan/suatu daerah di Riau, dan kemudian menetap di Padang ini”
Berikut ini adalah beberapa tanaman yang bisa digunakan sebagai obat-obatan tradisional. Tempat hidup tanaman ini secara umum banyak terdapat di hutan-hutan, ada juga sebagian tumbuh liar di pinggir-pinggir jalan desa.
Gambar 2.11 Jenis tanaman pasak bumi Sumber : Dokumentasi Peneliti
Pasak bumi secara umum banyak dimanfaatkan untuk obat vitalitas/kebugaran laki-laki. Di hutan Desa Padang banyak terdapat tanaman ini, yang bisa dimanfaatkan dari pasak bumi adalah diambil akarnya untuk pengobatan. Cara mengolahnya adalah akar yang sudah dicuci dengan air bersih kemudian cukup diseduh dengan air panas, setelah agak dingin baru diminum airnya. Rasa dari akar pasak bumi ini sangat pahit sekali, biasanya oleh penduduk di Desa Padang ini digunakan sebagai obat malaria.
Tanaman kacang kuning ini banyak tumbuh di sekitar rumah-rumah penduduk Desa Padang. Jenis tanaman ini digunakan untuk mengobati penyakit kuning. Caranya daun kacang kuning ini digiling dicampur beras, setelah halus dilumurkan ke seluruh badan. Untuk badan yang sudah bengkak-bengkak digunakan daun penjerus dicampur asam laut/daun rukam digiling sampai halus dan dilumurkan ke seluruh badan.
Gambar 2.12
Jenis tanaman kacang kuning Sumber : Dokumentasi Peneliti
Jenis tanaman Sampuk tunggul ini digunakan untuk bengkak perut. Caranya dibersihkan lalu dicincang kecil-kecil, setelah itu dijemur sampai kering. Setelah kering direbus(3 kali rebusan), dan air hasil rebusan diminum.
Jenis tanaman benalu dan belaran tudak digunakan untuk ibu hamil. Caranya dibersihkan lalu dicincang kecil-kecil, setelah itu
Gambar 2.13 Jenis tanaman sampuk tunggul Sumber : Dokumentasi Peneliti
Gambar 2.14
Jenis tanaman benalu dan belaran tudak Sumber : Dokumentasi Peneliti
dijemur sampai kering. Setelah kering direbus(3 kali rebusan), dan air hasil rebusan diminum
Jenis tanaman kelebuk untuk obat kutil. Tanaman ini banyak terdapat di Desa Padang dan tumbuh liar di sekitar rumah-rumah penduduk. Caranya diambil getahnya kemudian ditempelkan/ diteteskan ke kuyil, setelah 3-4 hari sudah bisa lepas sendiri kutilnya
Gambar 2.16
Jenis tanaman mensirak Sumber : Dokumentasi Peneliti Gambar 2.15
Jenis tanaman kelebuk Sumber : Dokumentasi Peneliti
Jenis tanaman mensirak digunakan untuk obat demam menggigil. Tanaman ini banyak terdapat di hutan-hutan Desa Padang. Caranya daun diambil kemudian direbus, dan diminum airnya boleh dicampur jahe dan gula merah
Jenis tanaman leban untuk obat bengkak urat/verises. Caranya kulitnya diasah dengan kapur sirih dan dioleskan ke bagian tubuh yang bengkak uratnya
Gambar 2.18 Jenis tanaman pasak bumi Sumber : Dokumentasi Peneliti
Gambar 2.17 Jenis tanaman leban Sumber : Dokumentasi Peneliti
Jenis tanaman pasak bumi untuk obat demam, malaria, penyakit lemah untuk laki-laki/menambah stamina. Untuk akar yang ukuran besar biasanya oleh masyarakat Desa Padang dibentuk semacam cangkir yang tengah akarnya dilubangi, setelah itu setiap pagi cangkir dari akar pasak bumi tersebut diseduh dengan air panas sampai airnya berubah warna menjadi merah.
Gambar 2.19
Jenis tanaman mampat Sumber : Dokumentasi Peneliti
Jenis tanaman daun mampat untuk obat bisulan. Caranya pucuk daun yang merah diambil, kemudian diremas dan dimasukkan dalam air dan setelah itu diminum airnya.
Gambar 2.20
Jenis tanaman alang-alang Sumber : Dokumentasi Peneliti
Jenis tanaman alang-alang digunakan untuk obat panas dalam. Caranya diambil akar alang-alang di rebus kemudian diminum airnya
Gambar 2.21
Jenis tanaman pohon bantan Sumber : Dokumentasi Peneliti
Jenis tanaman bantan digunakan untuk menghentikan pendarahan. Caranya kulitnya diambil, dibuang kulit luarnya dan diambil bagian kulit dalam baru dicincang kemudian diseduh dengan air panas, setelah agak dingin baru diminum (untuk orang melahirkan/pendarahan), bisa juga digunakan untuk obat luka luar, caranya bagian kulit dalam pohon bantan dicincang langsung ditempelkan di bagian yang luka kemudian ditutup dengan perban, setelah 2-3 hari bisa langsung kering lukanya.
2.2.4. Pola Tempat Tinggal
Di Desa Padang pola tempat tinggal penduduknya sudah menyebar dan tidak bergerombol dalam satu wilayah tertentu. Bentuk rumah asli di Desa Padang sendiri adalah rumah panggung. Rumah panggung ini sudah dari sejak jaman dulu sudah ada. Bahan yang digunakan untuk rumah panggung terbuat dari kayu Belian/Ulin/Besi. Kayu Belian ini daya tahan cukup kuat dan lama. Oleh karena
ketahanannya tersebut banyak digunakan untuk rumah, mulai dari pancang pondasi, dinding rumah, lantai rumah. Untuk ketersediaan kayu belian sendiri terdapat di hutan-hutan dekat desa, ada yang membeli dari kabupaten Ketapang.
Pola pembuatan rumah di Desa Padang ini umumnya arahnya menghadap ke laut. Dalam membuat rumah orang Padang biasanya diawali dengan selamatan agar selama proses pembuatan rumah diberi kelancaran. Selain itu juga melihat bulan baik/ bulan yang cocok untuk memulai bangun rumah. Sebelum membuat pondasi rumah dimulai dengan tancap tongkat pertama. Setelah itu menetukan hari dan bulan yang baik untuk memulai proses pembangunan, ada waktu-waktu tidak dibolehkan dalam membuat rumah yakni pada bulan Muharam dan Bulan Safar, orang disini menyebutnya bulan na’as.
Tidak ada aturan khusus yang melarang arah rumah, akan tetapi kebanyakan arah rumah ke laut semua. Jenis tanah di Padang adalah berpasir, untuk pondasi rumah sekitar 1-1,5 meter. Ongkos untuk pembuatan rumah dengan sistem borongan, rata-rata untuk rumah berdinding batako biaya yang harus dikeluarkan kurang lebih 20 juta. Kalau rumah yang terbuat dari kayu biaya lebih ringan biayanya sekitar 3-5 juta dibandingkan dengan berdinding batako.
Salah satu ciri dari rumah-rumah warga DesaPadang adalah untuk ruang tamu kebanyakan tidak terdapat kursi tamu, Rata-rata ruang tamunya “lesehan” cukup digelar tikar atau karpet plastik sebagai alasnya. Menurut orang –orang disini memang sudah dari dulu seperti ini, bukannya mereka tidak mampu untuk membeli perangkat kursi tamu, melainkan malihat dari sisi kenyamanan, dan menghadirkan suasana santai, suasana keakraban serta menghilangkan kesan kaku/formalitas.
Gambar 2.22
Salah satu bentuk rumah masyarakat desa Padang Sumber : Dokumentasi Peneliti
2.2.5. Kependudukan
1. Jumlah Penduduk
Dalam buku Kecamatan Dalam Angka Kep. Karimata tahun 2014 bahwa jumlah penduduk di Desa Padang adalah 1326 jiwa yang terbagi 675 laki-laki dan 651 perempuan.
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk
NO DESA LUAS WILAYAH (KM2) JUMLAH PENDUDUK (JIWA) JUMLAH KK DUSUN KEPADATAN PENDUDUK 1 2 3 4 5 6 7 1 Pelapis 112,20 1.083 306 3 10 2 Padang 140,81 1.326 312 4 9 3 Betok Jaya 171,81 994 196 3 6 JUMLAH 1.098,90 3.403 814 10 8
Mayoritas penduduk terbesar di Desa Padang adalah suku Melayu. Selain suku Melayu, banyak juga suku Bugis yang hidup dan menetap di Desa Padang. Sifat mereka bermukim di Desa Padang ini adalah temporer, mereka pada dasarnya sudah mempunyai rumah sendiri di Desa Padang. Jenis rumah orang Bugis adalah rumah panggung dengan komposisi rumah semua terbuat dari kayu, mulai dari dinding rumah, lantai berbahan dari kayu.
Ketika masuk musim Selatan, orang-orang Bugis akan meninggalkan rumah mereka di Desa Padang untuk berpindah ke pulau lain yang kondisi cuacanya lebih teduh. Mereka akan kembali ke Desa Padang ketika musim Selatan sudah selesai, dan kondisi laut sudah teduh.
2.3. Sistem Religi Tradisi Islam
Kondisi sosial masyarakat Desa Padang adalah 99% mayoritas adalah muslim. 1% terdiri dari agama Khonghucu, Kristen. Untuk tempat ibadah di Desa Padang terdapat 2 buah Masjid, yang berada di Dusun Tanjung Ru dan di Dusun Pantai Lestari, Klentheng untuk agama Khonghucu berada di dusun Benteng Jaya. Di Karimata sendiri suku yang terbesar adalah suku Melayu, suku Bugis, dan sebagian kecil suku Jawa. Suku asli yang mendiami Pulau Karimata adalah suku Melayu.
Kultur islam yang berkembang di Karimata cenderung ke islam ahlusunnah waljama’ah. Islam tradisi yang berkembang juga sesuai dengan tradisi di Jawa (NU/Nahdhatul Ulama). Seperti yang dutarakan informan PF, 47 tahun mengatakan bahwa :
“…pernah dahulu ada seorang kyai/ulama H.Sugih Usman pernah menjadi imam besar di Masjidil Haram Mekah selama 7 atau 9 tahun, setelah itu datang ke Karimata untuk berdakwah, dan kuburnya masih ada di Karimata ini”