• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

10 BAB II

TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jamzani dan Dedi (2007) yang menganalisis aglomerasi dan pertumbuhan ekonomi: peran karakteristik regional di Indonesia, memiliki kesimpulan yang selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardyan dan Mulyo (2012) tentang analisis pengaruh aglomerasi, tenaga kerja, jumlah penduduk dan modal terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kendal. Dalam penelitian Jamzani dan Dedi (2007) ditemukan bahwa adanya bukti kuat bahwa dengan adanya aglomerasi secara positif berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah daerah tersebut. Aglomerasi memberikan kontribusi yang cukup besar dalam mendukung meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi daerah, menurut Jamzani dan Dedi (2007) dalam penelitiannya disebabkan oleh beberapa faktor. Dalam penelitiannya, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi perekonomian adalah berasal dari tenaga kerja, modal, inflasi.

Menurut Astari dan Paidi (2014), dalam penelitiannya tentang analisis disparitas pembangunan ekonomi antar kecamatan di Kota Medan memiliki kesimpulan bahwa dari hasil analisis ketimpangan pembangunan dengan menggunakan indeks wiliamson menunjukkan bahwa terdapat tujuh kecamatan dengan dengan nilai IW yang menurun dan 14 kecamatan dengan nilai IW yang meningkat. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa ketimpangan pembangunan

(2)

11

ekonomi antar kecamatan akan terus meningkat. Hal ini dikarenakan nilai IW yang relatif naik.

B. Landasan Teori

Dalam menganalisis aglomerasi industri dan disparitas regional di Propinsi Kalimantan Timur dalam penelitian ini didasarkan pada teori-teori yang relevan sehingga mampu mendukung tercapainya penelitian yang ilmiah. Teori-teori yang disajikan dalam landasan teori ini merupakan teori-teori tentang aglomerasi industri seperti Teori Neo-klasik, Teori Eksternalitas Dinamis, Teori Ekonomi Geografi Baru Dan teori-teori tentang disparitas regional serta teori-teori pendukung lainnya seperti teori pembangunan ekonomi. Dari dasar teori tersebut, maka teori-teori tersebut yang cantumkan akan dijadikan dasar pijakan dalam melakukan penelitian. Agar dapat dihubungkan secara empiris dengan hasil-hasil penelitian yang sejenis atau topiknya sama, maka akan dilengkapi dengan beberapa penelitian terdahulu yang juga akan dijadikan acuan dalam melengkapi sekaligus menjadi dasar acuan dalam melakukan penelitian.

C. Aglomerasi Industri

1. Definisi Aglomerasi Industri dalam konsep teori lokasi

Montgomery (1988) mendefinisikan aglomerasi industri sebagai konsentrasi spasial dari aktivitas ekonomi di kawasan perkotaan karena penghematan akibat lokasi yang berdekatan (economies of proximity) yang diasosiasikan dengan klutser spasial dari perusahaan, para pekerja dan konsumen (Kuncoro:2012:19)

(3)

12

Markusen (1996) juga menyatakan bahwa aglomerasi industri merupakan suatu lokasi yang tidak mudah berubah akibat adanya penghematan eksternal (pengurangan biaya yang terjadi akibat aktivitas di luar lingkup perusahaan atau pabrik) yang terbuka bagi semua perusahaan yang letaknya berdekatan dengan perusahaan lain dan penyedia jasa-jasa; dan bukan akibat kalkulasi perusahaan atau para pekerja secara individual. (Kuncoro:2002:24).

Sjahfrizal (2014:28-29) mengatakan bahwa secara umum teori lokasi dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

a. Bid Rent Theories yaitu kelompok teori lokasi yang mendasarkan analisis pemilihan lokasi kegiatan ekonomi pada kemampuan membayar sewa tanah (bid rent) yang berbeda dengan harga pasar sewa tanah (land rent). Sehingga, lokasi kegiatan ekonomi detentukan oleh nilai bid rent yang tinggi yang dapat dibayarkan oleh pengguna tanah .

b. Least Cost Theories yaitu kelompok teori lokasi yang mendasarkan analisisnya pada pemilihan lokasi kegiatan industry yang didasarkan pada perinsip biaya minimum (least cost). Dalam hal ini, lokasi optimum adalah pada tempat dimana biaya produksi dan ongkos angkut paling kecil.

c. Market Area Theories yaitu kelompok teori lokasi yang mendasarkan analisis pemilihan lokasi kegiatan ekonomi berperinsip pada luas pasar (market area) terbesar yang dapat dikuasai oleh perusahaan. Luas pasar tersebut adalah mulai dari lokasi pabrik sampai ke lokasi konsumen yang membeli produk perusahaan bersangkutan.

(4)

13

Pengertian ekonomi aglomerasi industri juga berkaitan dengan eksternalitas kedekatan geografis dari kegiatan-kegiatan ekonomi, bahwa ekonomi aglomerasi industri merupakan suatu bentuk dari eksternalitas positif dalam produksi yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan kota (Bradley and Gans (1996)). Ekonomi aglomerasi industri juga diartikan sebagai penghematan biaya produksi akibat dari kegiatan-kegiatan ekonomi yang berlokasi pada tempat yang sama. Gagasan ini merupakan sumbangan pemikiran Alfred Marshall yang menggunakan istilah Localized Industry sebagai pengganti dari istilah ekonomi aglomerasi industri.

Menurut ahli ekonomi Hoover, aglomerasi industri diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu;

a. Large Scale merupakan keuntungan yang diperoleh perusahaan Karena membesarnya skala produksi perusahaan tersebut pada suatu lokasi.

b. Localization Economies merupakan keuntungan yang diperoleh bagi semua perusahaan dalam industri yang sama dalam suatu lokasi.

c. Urbanization Economies yang merupakan keuntungan bagi semua industry pada suatu lokasi yang sama sebagai konsekuensi membesarnya skala ekonomi (penduduk, Pendapatan, output atau kemakmuran) dari lokasi tersebut.

Sedangkan menurut pendapat ahli ekonomi O’Sulivan (1996) membagi aglomerasi industri menjadi 2 jenis, yaitu ekonomi lokalisasi dan ekonomi urbanisasi. Dalam hal ini yang dimaksud dengan ekonomi aglomerasi industri adalah eksternalitas positif dalam produksi sebagian besar perusahaan sebagai

(5)

14

akibat dari produksi yaitu menurunnya biaya produksi sebagian besar perusahaan sebagai akibat dari produksi perusahaan lain meningkat.

2. Teori Aglomerasi Berdasarkan Bebagai Aliran a. Teori Neo Klasik

Sumbangan terbesar teori Neo-Klasik adalah pengenalan terhadap ekonomi aglomerasi dengan argumentasi bahwa aglomerasi industri muncul dari perilaku para pelaku ekonomi dalam mencari keuntungan aglomerasi industri berupa ekonomi lokalisasi dan ekonomi urbanisasi (Kuncoro (2002)).

Alfred Weber dikenal sebagai pendiri teori lokasi modern yang berkenaan dengan tempat, lokasi dan geografis dari segi kegiatan ekonomi. Beliau menjelaskan minimisasi biaya yang dikombinasikan dengan bobot input-input yang berbeda dari perusahaan dan industry menentukan lokasi optimal bagi suatu perusahaan. Weber secara eksplisit memperkenalkan konsep ekonomi aglomerasi, skala efisien minimum, dan keterkaitan ke depan dan ke belakang.

Dalam sistem teori neo klasik mengasumsikan adanya persaingan sempurna sehingga kekuatan sentripental aglomerasi industri disebut sebagai ekonomi eksternal murni (Krugman (1998)). Kekuatan sentripental muncul dari kebutuhan untuk pulang-pergi (commute) ke pusat bisnis utama dalam masing-masing kota yang menyebabkan suatu gradien sewa tanah dalam masing-masing kota. Menurut Krugman (1998), keterbatasan teori neo klasik diantaranya melihat bahwa ekonomi eksternal dianggap sebagi misteri. Disamping itu system perkotaan neoklasik adalah

(6)

15

non spasial yang hanya menggambarkan jumlah dan tipe kota tetapi tidak menunjukan lokasinya.

b. Teori Eksternalitas Dinamis

Teori-teori eksternalitas dinamis percaya bahwa kedekatan geografis memudahkan transmisi ide, maka transfer teknologi merupakan hal penting bagi kota (Glaeser, et.al (1992)). Teori eksternalitas dinamis didasarkan pada teori yang dikemukakan oleh Marshall-Arrow-Romer (MAR), Porter dan Jacob. Teori-teori ini mencoba menjelaskan secara simultan bagaimana membentuk kota dan mengapa kota tumbuh.

Eksternalitas MAR menekankan pada transfer pengetahuan antarperusahaan dalam suatu industri. Menurut MAR monopoli lokal merupakan hal yang lebih baik dibandingkan dengan kompetisi lokal sebab lokal monopoli menghambat aliran ide dari industri lain dan eksternalitas diinternalisasi oleh inovator.

Seperti halnya MAR, Porter mengatakan bahwa dengan transfer pengetahuan tertentu, konsentrasi industri secara geografis akan mendorong pertumbuhan. Berbeda dengan MAR, Porter menyatakan bahwa kompetisi lokal lebih penting untuk mempercepat adopsi inovasi.

Tidak seperti MAR dan Porter, Jacob percaya bahwa transfer pengetahuan paling penting adalah berasal datang dari industriindustri inti. Variasi dan keberagaman industri yang berdekatan secara geografis akan mendukung inovasi dan pertumbuhan dibandingkan dengan spesialisasi secara geografis.

(7)

16 c. Teori Ekonomi Geografis Baru

Teori ekonomi geografi baru berupaya untuk menurunkan efek-efek aglomerasi dari interaksi antara besarnya pasar, biaya transportasi dan increasing return dari perusahaan. Dalam hal ini ekonomi aglomerasi industri tidak diasumsikan tetapi diturunkan dari interaksi ekonomi skala pada tingkat perusahaan, biaya transportasi dan mobilitas faktor produksi.

Teori ekonomi geografi baru menekankan pada adanya mekanisme kausalitas sirkular untuk menjelaskan konsentrasi spasial dari kegiatan ekonomi (Krugman dan Venables dalam Martin & Ottavianno (2001)). Dalam model tersebut kekuatan sentripetal berasal dari adanya variasi konsumsi atau beragamnya intermediate good pada sisi produksi. Kekuatan sentrifugal berasal dari tekanan yang dimiliki oleh konsentrasi geografis dari pasar input lokal yang menawarkan harga lebih tinggi dan menyebarnya permintaan. Jika biaya transportasi cukup rendah maka akan terjadi aglomerasi.

Dalam model eksternalitas teknologi, transfer pengetahuan antarperusahaan memberikan insentif bagi aglomerasi kegiatan ekonomi. Informasi diperlakukan sebagai barang publik dengan kata lain tidak ada persaingan dalam memperolehnya. Difusi informasi ini kemudian menghasilkan manfaat bagi masing-masing perusahaan. Dengan mengasumsikan bahwa masingmasing perusahaan menghasilkan informasi yang berbeda-beda, manfaat interaksi meningkat seiring dengan jumlah perusahaan. Karena interaksi ini informal, perluasan pertukaran informasi menurun dengan meningkatnya jarak. Hal ini memberikan insentif bagi

(8)

17

pengusaha untuk berlokasi dekat dengan perusahaan lain sehingga menghasilkan aglomerasi.

d. Teori Pusat Pinggiran 1) Myrdal, Hirscman

Hirscman adalah seorang penganjur teori pertumbuhan tidak seimbang. Secara geografis, pertumbuhan ekonomi pasti tidak seimbang. Dalam proses pertumbuhan tidak seimbang selalu dapat dilihat bahwa kemajuan disuatu tempat dapat menimbulkan tekanan-tekanan, ketegangan-ketegangan, dan dorongan-dorongan kearah perkembangan pada tempat-tempat berikutnya. (Hirscman (1958) di dalam Arsyad, Lincoln (1999)), menyadari bahwa fungsi-fungsi ekonomi berbeda tingkat intensitasnya pada tempat yang berbeda. Pertumbuhan ekonomi diutamakan pada titik originalnya sebelum disebarkan ke berbagai tempat lainnya. Ia menggunakan istilah Titik Pertumbuhan (Growing Point) atau Pusat Pertumbuhan (Growing Centre).

Di suatu negara terdapat beberapa titik pertumbuhan, dimana industri berkelompok ditempat itu, karena diperoleh beberapa manfaat dalam bentuk penghematan-penghematan dan kemudahan-kemudahan. Kesempatan investasi, lapangan kerja dan upah buruh relatif tinggi lebih banyak terdapat di pusat- pusat pertumbuhan dari pada daerah belakang. Antara pusat dan daerah belakang terdapat ketergantungan dalam suplai barang dan tenaga kerja. Pengaruh yang paling hebat adalah migrasi penduduk ke kota-kota besar (urbanisasi) akan dapat mengabsorsikan tenaga kerja yang trampil dan pihak lain akan mengurangi

(9)

18

pengangguran tidak kentara di daerah belakang. Hal ini tergantung pada tingkat koplementaritas antara dua tempat tersebut.

Jika komplementaritas kuat akan terjadi proses penyebaran pembangunan kedaerah-daerah belakang dan sebaliknya jika komplementaritas lemah akan terjadi pengaruh polarisasi (Keban (1995)). Jika pengeruh polarisasi lebih kuat dari pengeruh penyebaran pembangunan maka akan timbul masyarakat dualistik, yaitu selain memiliki ciri-ciri daerah perkotaan modern juga memiliki daerah perdesaan terbelakang (Hammand (1985) dan Indra Catri (1993)). Walaupun terlihat suatu kecenderungan yang suram namun Hirschman optimis dan percaya bahwa pengaruh trikling-down akan mengatasi pengaruh polarisasi. Misalnya bila daerah perkotaan berspesialisasi pada industri dan daerah perdesaan berspesialisasi pada produksi primer, maka meluasnya permintaan daerah perkotaan harus mendorong perkembangan daerah perdesaan, tetapi apa yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Pada khususnya ada kemungkinan besar bahwa elastisitas penawaran jangka pendek di daerah perdesaan adalah sedimikian rendah sehingga dasar pertukaran akan berubah merugikan daerah perkotaan. Dalam jangka panjang penghematan-penghematan ekstrnal dan tersedianya komplementaritas di pusat-pusat akan menjamin penyebaran pembangunan ke daerah-daerah disekitarnya.

Pada pihak lain, berdasarkan konseptual yang serupa mengenai struktur titik-titik pertumbuhan dan daerah-daerah belakang. (Myrdal (1957) di dalam Arsyad, Lincolin (1988)) menggunakan istilah Backwash effect dan spread effect yang artinya persis serupa dengan polarisasi dan pengaruh trikling down. Namun

(10)

19

demikian, dalam penekanan pembahasan dan kesimpulan-kesimpulan terdapat perbedaan yang cukup besar. Analisa Myrdal memberikan kesan pesimistis, ia berpendapat bahwa polarisasi muncul lebih kuat dari pada penyebaran pembangunan, permintaan faktor-faktor produksi akan menumpuk di daerah- daerah perkotaan yang memberikan manfaat kepadanya, dan sebaliknya di daerah perdesaan yang tidak menguntungkan akan menipis.

Pesimisme tersebut dapat dimaklumi karena Myrdal tidak memaklumi bahwa timbulnya titik pertumbuhan adalah suatu hal yang tidak terelakkan dan merupakan syarat bagi perkembangan selanjutnya dimana-mana. Pusat pemikiran Myrdal pada kausasi komulatif menyebabkan ia tidak dapat melihat dengan titik balik apabila perkembangan kearah polarisasi di suatu wilayah sudah berlangsung untuk beberapa waktu. Kausasi sirkuler komulatif selalu meghasilkan penyebaran pembangunan yang lemah dan tidak kemerataan, atau dapat dikatakan bahwa mobilitas akan memperbesar ketimpangan pendapatan dan migrasi akan memperbesar ketimpangan regional.

Berdasarkan pada perbedaan pandangan diatas, maka kebijaksanaan perspektif yang dianjurkan oleh Hirschman dan Myrdal berbeda pula. Hirschman menyarankan agar membentuk lebih banyak titik-titik pertumbuhan supaya dapat menciptakan pengaruh-pengaruh penyebaran pembengunan yang efektif, sedangkan Myrdal menekankan pada langkah-langkah kebijaksanaan unmtuk melemahkan backwash effect dan meperkuat sread effect agar proses kausasi sirkuler kumulatif

(11)

20

mengarah keatas, dengan demikian semakin memperkecil ketimpangan regional (Murtomo (1988), Indra Catri (1993) dan Keban (1995)).

Gunnar Myrdal (1957) dan Hischman (1958) di dalam Arsyad, Lincolin (1988). menolak pengertian equilibrium dalam teori ekonomi dan mengemukakan ide-ide dasar tentang polarisasi pembangunan. Menurut pandangan Myrdal, daerah-daerah inti dari perekonomian adalah magnit penguat dari kemajuan. Myrdal mengemukakan bahwa setelah pertumbuhan dimulai pada lokasi yang dipilih pada perekonomian bebas, arus masuk tenaga kerja, ketrampilan, modal dan komoditi berkembang secara spontan untuk mendukungnya. Tetapi arus ini meliputi efek backwash, ketidak samaan antara daerah yang berkembang dengan daerah-daerah lain.

Daerah-daerah yang sedang tumbuh mempengruhi daerah-daerah lain melalui dua kekuatan yang berlawanan, menurut model Myrdal disebut Effect backwash dan efek penyebaran (Spread effect dan backwash effect). Efek penyebaran menunjukkan dampak yang menguntungkan dari daerah-daerah yang makmur terhadap daerahdaerah yang kurang makmur, hal ini meliputi: meningkatnya permintaan komoditi primer, investasi dan difusi ide serta tehnologi. Dalam banyak negara-negara terbelakang, efek penyebaran terbatas pada daerah-daerah disekitar pusat-pusat herarkhi perkotaan (Murtomo (1988) dan Keban (1995)).

Hirschman membantah bahwa memilih dan memusatkan aktivitasnya pada titiktitik pertumbuhan adalah alami bagi para pengusaha. Pembangunan lama kelamaan tidak berimbang, pertumbuhan daerah yang sedang berkembang

(12)

21

membatasi kapasitas pertumbuhan dimana-mana. Utara (North) menarik tenaga trampil dan tabungan dari selatan (south). Elastisitas permintaan income lebih besar untuk barang-barang buatan north, dan oleh karena itu syarat-syarat perdagangn melawan produsen south akan komoditi primernya (Jhingan, M.L (1993) dan Arsyad (1988)).

Ide pokok dari model Hirschman adalah bahwa efek polaritas disebabkan oleh “effect trickling down”, ekuivalen dengan efek penyebaran dari Myrdal. Effect trickling down meliputi tujuan komoditi North yang diproduksi di South dan gerakan modal keselatan, disamping North dapat menarik tenaga selatan yang cukup untuk menjamin meningkatnya produktivitas tenaga kerja marjinal dan tingkat konsomsi perkapirta South. Hischman bersikeras bahwa effect trickling down hanya bisa terjadi bila di North membutuhkan South untuk ekspansinya sendiri.

2) Friedman

John Friedman, Weaver (1979) menganalisa tentang aspek tata ruang, lokasi serta persoalan-persoalan kebijaksanaan dan perencanaan pengembangan wilayah dalam ruang lingkup yang lebih general. Friedman telah menampilkan teori daerah inti. Disekitar daerah inti terdapat daerah-daerah pinggiran atau periphery region. Daerah pinggiran ini sering disebut pula daerah pedalaman atau daerah-daerah sekitanya. Pembangunan dipandang sebagai proses inovasi yang diskontinu tetapi komulaitif yang berasal dari sejumlah kecil pusat-pusat perubahan, yang terletak pada titik-titik interaksi yang mempunyai potensi tertinggi. Pembangunan inovatif cenderung menyebar kebawah dan keluar dar pusat-pusat tersebut ke daerah yang

(13)

22

mempunyai potensi interaksi yang lebih rendah. Pusat-pusat besar pada umumnya berbentuk kota-kota besar, metropolis atau megapolis, dikategorikan sebagai daerah inti, dan daerah-daerah yang relatif statis sisanya merupakan daerah pinggiran. Wilayah pusat merupakan subsistem dari kemajuan pembangunan yang ditentukan oleh lembaga di daerah inti dalam arti bahwa daerah pinggiran berada dalam suatu hubungan ketergantungan yang substansial. Daerah inti dan wilayah pinggiran bersama-sama membentuk sistem spatial yang lengkap (Indra Catri (1993) dan Murtomo (1988)).

Proses daerah inti mengkonsolidasikan dominasinya terhadap daerah pinggiran dilaksanakan melalui pengaruh-pengaruh umpan balik pertumbuhan daerah inti, yang terdiri dari pengaruh dominasi (melemahnya ekonomi daerah pinggiran sebagai akibat dari mengalirnya sumberdaya alam, manusia dan modal ke wilayah inti), pengaruh informasi (peningkatan dalam interaksi potensial untuk menunjang pembangunan inovatif), pengaruh psikilogis (penciptaan kondisi yang menggairahkan untuk melajutkan kegiatan-kegiatan inovatif secara lebih nyata), pengaruh mata rantai (kecenderungan inovasi untuk menghasilkan inovasi lainnya), dan pengaruh produksi.

Jadi menurut Friedman tingkat urbanisasi sebagai indikator tingkatan kemajuan suatau wilayah; makin maju tingkat ekonomi suatu kota, semakin tinggi tingkatan urbanisasi, sehingga makin terintegrasi keruangan ekonomi keruangannya, dan akhirnya makin berkurang perbedaannya dalam pembangunan.

(14)

23 3. Disparitas wilayah

Pada dasarnya pembangunan merupakan proses multidimensial yang meliputi perubahan struktur sosial, perubahan sikap hidup masyarakat dan perubahan kelembagaan nasional. Pembangunan juga meliputi tingkat perubahan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketimpangan pendapatan dan pemberantasan kemiskinan. Agar dalam pembangunan sasaran dapat tercapai, maka pembangunan suatu negara dapat diarahkan kedalam 3 hal pokok yang mencakup peningkatan ketersediaan dan kebutuhan pokok bagi masyarakat, meningkatkan standar hidup masyarakat dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengakses berbagai kegiatan, baik kegiatan ekonomi dan sosial dalam hidupnya (Todaro, 2004:21)

Pada hakikatnya selain memberikan kemajuan bagi daerah baik dibidang ekonomi maupun sosial, pembangunan juga sering mengalami berbagi masalah. Salah satunya adalah masalah disparitas regional. Disparitas regional ini sendiri tidak dapat dihindari karena akibat tidak terjadinya efek perembesan ke bawah (trickle down effect) yang berasal dari output secara nasional terhadap masyarakat mayoritas bahkan sampai sekarang. Sehingga akibatnya hasil output hanya dapat dinikmati oleh beberapa orang saja.sehingga hal ini pila yang menyebabkan jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin menjadi lebar yang menyebabkan terjadinya kemiskinan absolut.

Myrdal menjelaskan dalam teorinya bahwa ketimpangan pembangunan antar daerah selalu muncul akibat adanya Back-wash effect (dampak yang merugikan) lebih besar daripada Spread effect (dampak yang menguntungkan). Sehingga

(15)

24

apabila tingkat pembangunan diberbagai daerah dibandingkan dengan daerah yang lebih maju, maka daerah yang maju lebih cepat pembangunannya daripada daerah lain. Sehingga hal ini dalam jangka-panjang dapat menyebabkan tingkat ketimpangan yang cukup lebar (Sukirno, 1985:24).

Beberapa teori menyatakan bahwa kesenjangan pertumbuhan antar daerah dapat terjadi oleh beberapa faktor. di dalam teori klasik, pertumbuhan antar daerah sendiri terjadi karena 3 alasan, menurut (Amstrong dan Taylor, 1993:64) yaitu; a. Kemajuan teknologi yang berbeda antardaerah

b. Pertumbuhan persediaan modal yang berbeda antar daerah

c. Pertumbuhan angkatan kerja antar daerah yang berbeda antar daerah

Menurut Wiliamson (1965) dalam penelitiannya yang meneliti disparitas regional dengan tingkat pembangunan ekonomi yang menggunakan data perekonomian yang telah maju dengan perekonomian yang belum berkembang, ditemukan bahwa selama tahap awal pembangunan, disparitas regional menjadi lebih besar dan pembangunan terkonsentrasi didaerah-daerah tertentu. Pada tahap yang lebih matang dari pertumbuhan ekonomi tampak adanya keseimbangan antardaerah dan disparitas berkurang secara signifikan (Brojonegoro, 1999:3).

Dilihat dari pergerakan suberdaya antardaerah, proses akumulasi sumber-sumber berupa akumulasi modal, keterampilan tenaga kerja dan sumber-sumberdaya alam yang dimiliki oleh suatu daerah merupakan salah satu penentu maju tidaknya pertumbuhan suatu daerah. Dengan adanya keberagaman karakteristik suatu

(16)

25

wilayah cenderung dapat menyebabkan terjadinya ketimpangan antardaerah dan antar sektor ekonomi suatu daerah.

Dijelaskan lagi oleh Wiliamson (Brojonegoro, 1999:5-9), bahwa kesenjangan antardaerah yang semakin membesar disebabkan oleh adanya efek crowding-out yang dalam betuk migrasi tenaga kerja antar daerah yang bersifat selektif yang dimana tenaga kerja tersebut lebih terdidik dan memiliki keterampilan yang tinggi dan masih produktif. Dan disebabkan oleh adanya migrasi kapital antardaerah karena sebab adanya aglomerasi pada daerah yang relatif kaya dan merupakan daya tarik tersendiri bagi investor. Faktor selanjutnya disebabkan oleh adanya pembangunan sarana publik pada daerah yang lebih padat dan potensial berakibat mendorong terjadinya ketimpangan antar daerah yang lebih besar. Dan penyebab terakhir adalah kurangnya keterkaitan antardaerah yang dapat menyebabkan terhambatnya proses efek sebar pembangunan yang berdampak pada semakin besarnya kesenjangan yang terjadi.

Menurut Myrdal di dalam Sukirno (2007:126) menilai bahwa keterbelakangan negara-negara sedang berkembang (NSB) dapat dijelaskan dengan model sebab akibat komulatif. Model sebab akibat komulatif merupakan pembangunan di daerah yang lebih maju akan menyebabkan beberapa masalah dan kendala yang menimbulkan adanya hambatan yang lebih besar atau tinggi bagi derah-daerah yang masih berkembang atau terbelakang. Ketimpangan pembangunan memiliki beberapa dampak yang bisa dikelompokkan menjadi Backwash Effect dan spread effect.

(17)

26 a. Backwash Effect

Dalam konsep backwash effect, pembangunan pada daerah yang maju akan menyebabkan hambatan yang jauh lebih besar daripada daerah yang masih terbelakang. Hal ini yang pertama disebabkan karena adanya corak perpindahan penduduk yang terdidik dan produktif yang berpindah ke daerah yang lebih maju. Kedua disebabkan karena adanya corak aliran modal yang lebih terjamin di daerah yang lebih maju sehingga semakin berkurangnya aliran dan permintaan modal di daerah yang berkembang atau miskin. Dan yang terakhir disebabkan oleh adanya jaringan transportasi yang lebih baik di daerah atau wilayah yang lebih maju daripada daerah yang masih berkembang.

b. Spread Effect

Dalam konsep spread effect, perkembangan pembangunan daerah-daerah yang lebih maju mampu mendorong perkembangan pembangunan di daerah-daerah yang miskin atau berkembang. Dengan adanya permintaan dari daerah yang lebih maju terhadap bahan-bahan hasil produksi pada daerah yang miskin atau berkembang. Permintaan-permintaan yang dibutuhkan daerah maju tersebut mencakup barang hasil pertanian, hasil industri barang konsumsi dan barang industri rumah.

Dari kedua teori di atas jika laju spread effect dikatakan lebih rendah daripada laju backwash effectnya, maka akan menyebabkan jurang kesejahteraan daerah yang kaya deangan daerah yang berkembang atau miskin. Jurang pembangunan dapat mengcil kembali jika daerah kaya semakin berkembang sehingga menimbulkan disekonomi eksternal pada berbagai perusahaan dan industri yang

(18)

27

timbul akibat adanya kongesti-kongesti yang terjadi pada daerah-daerah yang maju. Kondisi disekonomi eksternal menimbulkan pengurangan arus perpindahan penduduk dan aliran modal yang mampu menghapuskan perbedaan tingkat pembangunan antar daerah yaitu daerah yang maju dan daerah yang berkembang. 4. Hubungan Antar Variabel

Menurut teori pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, aglomerasi berhubungan dengan disparitas regional yang didasarkan teori Marshall dalam Kuncoro (2004), aglomerasi muncul akibat ketika sebuah industri memilih lokasi untuk kegiatan produksinya yang memungkinkan dapat berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, sehingga masyarakat akan banyak memperoleh keuntungan apabila mengikuti tindakan mendirikan usaha disekitar lokasi tersebut. Hubungan tersebut menjelaskan hubungan antara tingkat perbedaan aglomerasi pada wilayah Provinsi Kalimantan Timur dengan perbedaan tingkat kemakmuran suatu daerah. Pada tahap awal suatu pembangunan, tingkat kemakmuran antar wilayah menjadi tinggi (divergen) dan akan berjalan seiring dengan proses pembangunan dalam jangka panjang menyebabkan tingkat kemakmuran menjadi menurun (konvergen).

Berdasarkan teori aglomerasi, dengan adanya aglomerasi industri akan menyebabkan pembangunan di daerah yang maju akan semakin maju dan yang miskin akan semakin tertinggal. Oleh sebab itu, dari dasar teori tersebut dapat dijabarkan bahwa dengan adanya aglomerasi industri akan menyebabkan terjadinya ketimpangan wilayah di daerah tersebut yang ditandai dengan semakin majunya pembangunan di daerah yang beraglomerasi tersebut dan semakin tertinggalnya

(19)

28

daerah-daerah yang dinilai masih miskin dan berkembang. Menurut Tarigan (2007) menyatakan bahwa keuntungan akan terkonsentrasi atau terjadinya aglomerasi akibat adanya faktor skala ekonomi dan aglomerasi ekonomi.

Sehingga, dengan adanya konsentrasi kegiatan industri atau ekonomi akan menyebabkan tingkat pembangunan di daerah-daerah yang jauh lebih maju akan mendorong pembangunan yang semakin cepat atau maju sedangkan daerah yang relatif masih berkembang atau miskin akan mengalami tingkat pembangunan yang relatif lambat. Menurut Sjahfrizal (2008) bahwa akibat ketidakmerataan pembangunan wilayah tersebut di atas akan menimbulkan tingkat ketimpangan pembangunan antar wilayah.

Oleh sebab itu dengan adanya aglomerasi tersebut akan menyebabkan tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah yang teraglomerasi akan cenderung mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang cepat. Sehingga akan mendorong peningkatan pembangunan serta dapat meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan masyarakatnya. Namun sebaliknya, jika tingkat konsentrasi aglomerasi atau ekonomi di daerah tersebut rendah akan menyebabkan terjadinya tingkat pengangguran dan tingkat pendapatan masayarakat yang rendah.

(20)

29 5. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1. Bagan Kerangka Pemikiran Propinsi Kalimantan Timur Aglomerasi Disparitas Regional PDRB ADHK, Jumlah Penduduk, Tenaga Kerja

Sektor, PDRB Kab/kota di Propinsi Kaltim Indeks Balassa Indeks Wiliamson Metode LQ Tipologi Klasen

Gambar

Gambar 2.1. Bagan Kerangka Pemikiran Propinsi Kalimantan Timur Aglomerasi Disparitas Regional PDRB ADHK, Jumlah Penduduk, Tenaga Kerja

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang dilakukan oleh Belawa dan Putra (2018) berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan pada sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Riana Puji Lestari yang berjudul analisis pengaruh indeks pembangunan manusia, pengangguran dan produk domestik regional bruto

Pengembalian Pengembalian ekspektasian (expected return) merupakan pengembalian yang digunakan untuk pengambilan keputusan investasi. Pengembalian ini penting

Hal tersebut pihak manajemen akan melakukan kebijakan manajemen laba dengan dilihat dari dana yang ditangani, bauran dana jangka panjang dan jangka pendek yang

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah suatu ukuran yang dapat digunakan dalam mengukur kesejahteraan masyarakat dimana dapat dilihat dari beberapa komponen diantaranya

Adalah orang asing yang melakukan perjalanan wisata, yang datang memasuki suatu negara lain yang bukan merupakan negara dimana ia biasanya tinggal. Wisatawan asing bagi

H0 : Besar kemajuan pasar modal ditinjau dari variabel kapitalisasi pasar, serta variabel kontrol yang digunakan yaitu Penanaman Modal Asing (PMA), Konsumsi Rumah

(Ariandy & Aisyah, 2019), menyatakan ukuran perusahaan adalah besar kecilnya perusahaan yang didasarkan pada besarnya nilai equity, nilai penjualan atau nilai