• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

10 BAB II

TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh Belawa dan Putra (2018) berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan pada sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Tingkat Pendidikan berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja individu pengguna sistem informasi akuntansi di Disperindag Kota Denpasar, hal ini dilihat dari nilai uji t untuk variable tingkat Pendidikan memiliki nilai sebesar 3,605 dengan tingkat signifikan t pada uji satu sisi adalah 0,001/2 lebih kecil dari 0,05,3).

Penelitian yang dilakukan oleh Widyantari dan Suardikha (2016) dari hasil analisis dan uraian, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dari variable Pengalaman kerja pada efektivitas pengguna sistem informasi akuntansi. Hal ini menunjukan bahwa semakin banyak pengalaman yang dimiliki karyawan maka semakin efektif pengguna sistem informasi akuntansi.

Penelitian yang dilakukan oleh Ratnasih dkk., (2017) berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulka bahwa kecanggihan teknologi informasi secara persial berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Hal ini dapat dilihat dari nilai probabilitas variabel kecanggihan teknologi informasi yaitu 0,006 < 0,05. Hal ini menginteprtasikan bahwa semakin tinggi kecanggihan teknologi informasi maka dapat meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi.

Penelitian yang dilakukan Damana dan Suardikha (2016) berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keahlian pemakai berpengaruh positif terhadap kinerja sistem informasi akuntansi pada LPD di Kabupaten Klukung.

(2)

Penelitian yang dilakukan Putra dan Indraswarawati (2020) hasil penelitian hipotesis 2 diketahui nilai koefisien parameter sebesar 0,42 dengan tingkat signifikan sebesar 0,002, sehingga dengan tingkat signifikan dibawah 0,05. Yang artinya kecanggihan teknologi informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas sistem informasi akuntansi. Hasil penelitian mengandung arti bahwa semakin tinggi kecanggihan teknologi informasi maka akan semakin meningkat efektivitas sistem informasi akuntansi pada LPD di Kecamatan Sukawati.

Penelitian yang dilakukan oleh Sari dkk., (2021) hasil dari penelitian menujukan bahwa secara persial, kecanggihan teknologi informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi, partisipasi pengguna berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi, kemampuan pengguna berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Secara simultan kecanggihan teknologi informasi, partisipasi pengguna, dan kemampuan pengguna berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi.

Penelitian yang dilakukan oleh Maryani (2020) dari hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan bahwa kemampuan pemakai berpengaruh positif terhadap kinerja sistem informasi akuntansi.

Penelitian yang dilakukan oleh Jayanti dkk., (2017) dari hasil pengujian statistik dan menggunakan regresi linear berganda dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) kemampuan teknik personal memiliki hubungan yang positif pada pada kinerja sistem informasi akuntansi. (2) pendidikan dan pelatihan pengguna memiliki hubungan yang positif terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. (3) dukungan manajemen pucak berpengaruh positif terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. (4) kemampuan teknik personal, pendidikan dan

(3)

pelatihan pengguna, dan dukungan manajemen puncak secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi akuntansi.

Penelitian yang dilakukan oleh Faridah dan Noviyanti (2017) berdasarkan hasil perhitungan korelasi Pearson Product Moment (PPM) menunjukan bahwa variable independen kemampuan personal pengguna sistem informasi dengan variable dependen kinerja sisten informasi akuntasi memiliki hubungan yang kuat, karena nilai yang dihasilkan adalah sebesar 0,70 yang menurut korelasi berganda nilai r = -1 artinya korelasinya negative sempurna; r = 0 artinya tidak ada korelasi.

Hasil analisis tersebut juga menghasilkan nilai r yang posistif, artinya antara kemampuan personal pengguna sistem informasi dengan kinerja sistem informasi akuntansi memiliki hubungan yang kuat dengan arah positif.

Penelitian yang dilakukan oleh Alchan dkk (2016) berdasarkan analisis regresi linear berganda, maka dapat disimpulkan sebagai berikut. Secara persial kemampuan pengguna sistem informasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi di PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat. Secara persial keterlibatasan pemakai dalam proses pengembangan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi di PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat. Secara parsial dukungan pimpinan bagian tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi di PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat. Secara parsial program pendidikan dan pelatihan pemakai tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi ddi Pt PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat. Secara simultan kemampuan pengguna sistem informasi, keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan, dukungan pimpinan bagian, program pendidikan dan pelatihan berpengaruh signifikan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi di PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat.

B. Teori Dan Kajian Pustaka

1. Theory Tecnology Acceptance Model (TAM)

(4)

Menurut Davis dalam Dewi., dkk (2021) TAM adalah sebuah teori yang dirancangkan untuk menjelaskan bagaimana pengguna mengerti dan menggunakan sebuah teknologi informasi. TAM menggunakan TRA dari Fishbein dan Ajzen dalam (Dewi., dkk 2021) yang digunakan untuk melihat bagaimana tingkat adopsi responden dalam menerima teknologi informasi.

TAM menekankan pada persepsi pemakai tentang “bagaimana kegunaan sistem untuk saya” dan “semudah apakah aplikasi sistem ini digunakan”

adalah dua faktor kuat yang mempengaruhi penerimaan atas teknologi dan merupakan determinan fundamental dalam penerimaan pemakai. Model ini menempatkan faktor sikap dan tiap-tiap perilaku pemakai dengan dua variable yaitu kemanfaatan (usefulness) dan kemudahan pengguna (ease of use).

Kemudahan pengguna serta kemanfaatan adalah dua karakteristik yang banyak dipelajari secara mendalam karena merupakan hal utama dalam Technology Acceptance Model (TAM).

2. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang atau masyarakat untuk menyerap informasi dan mengimplementasikannya. Untuk meningkatkan kemampuan seseorang, diperlukan adanya pendidikan, misalnya pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sarjana (S1), (S2), (S3) sehingga pada saat pengambilan keputusan menjadi tepat dan akurat (Dwijayanthi dan Dharmadiaksa, 2013). Pendidikan merupakan usaha untuk dapat meningkatkan pengetahuan. Pendidikan adalah optimalisasi sumber daya manusia mengenai antisipasi kemampuan dan keahlian individu untuk mengantisipasi perubahan (Vipraprastha dan Sari, 2016). Menurut Adrew E Sikula dalam Mangkunegara (2003) tingkat pendidikan adalah suatu proses jangka panjang yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir, yang mana tenaga kerja manajerial mempelajari pengetahuan konseptual dan

(5)

teoritis untuk tujuan-tujuan umum. Tingkat pendidikan adalah tahap pendidikan yang berkelanjutan, yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tingkat kerumitan bahan pengajaran dan cara menyajikan bahan pengajaran (Ihsan, 2005).

Tingkat Pendidikan merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kinerja seseorang sehingga saat melakukan pengambilan keputusan menjadi lebih tepat dan juga akurat (Dwijayanthi dan Dharmadiaksa, 2013). Semakin tinggi tingkat Pendidikan yang dimiliki seseorang maka semakin luas pemikiran yang dimiliki, sehingga seseorang akan mampu menganalisa suatu hal menjadi lebih baik terutama dalam mengambil sebuah keputusan terkait dengan sistem informasi akuntansi sehingga dapat meningkatkan efektivitas sistem informasi akuntansi dalam suatu perusahaan (Suardiyanti dkk., 2021).

Pendidikan adalah usahayang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental (Hasbullah, 2009) di dalam (Pitriyani and Halim 2020).

3. Pengalaman Kerja

Pengalaman kerja adalah lama waktu karyawan bekerja di tempat kerja mulai saat diterima ditempat kerja hingga sekarang (Martoyo, 2007).

Sependapat dengan (Alwi, 2001) menyatakan sebagai berikut. “pengalaman kerja adalah jangka waktu atau lamanya seseorang bekerja pada suatu organisasi”. Menurut (Usman, 2011) bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan dan pengalaman kerja maka akan semakin tinggi kinerja yang di tampilkan.

Dalam (Foster, 2001) menyatakan bahwa dimensi pengalaman kerja dapat dilihat dari lama waktu atau masa bekerja, tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, serta jenis pekerjaan. Pengalaman kerja adalah ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang

(6)

dapat memahami tugas-tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan baik (Ranupandojo, 1984). Jika seseorang memiliki pengalaman kerja yang lebih banyak di bidang yang sama maka seseorang dapat memudahkan mengimplementasikan pengalamannya di bidang yang sama, hal tersebut dapat mendukung efektivitas penggunaan sistem infrormasi akuntansi. Dalam (Manulang,1984) mengatakan pengalaman kerja adalah proses pembentukan pengetahuan atau keterampilan tentang metode suatu pekerjaan karena keterlibatan karyawan tersebut dalam pelaksanaan tugas pekerjaan.

(Trijoko,1980) mengatakan pengalaman kerja adalah pengetahuanatau keterampilan yang telah diketahui dan dikuasai seseorang akibat dari perbuatan atau pekerjaan yang telah dilakukan selama beberapa waktu tertentu.

Menurut Suardiyanti dkk., (2021) menyatakan bahwa semakin lama seseorang malakukan suatu pekerjaan pada bidang tertentu maka kinerjanya juga akan semakin meningkat. Pengalaman yang dimiliki oleh karyawan dalam bidang akuntansi akan membantunya dalam mengolah data menjadi informasi sehingga kerja sistem informasi akuntansi semakin efektif.

Pengalaman kerja menunjukan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang.

Seseorang yang melakukan pekerjaan sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya akan memberikan hasil yang lebih baik dari pada mereka yang tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup dalam tugasnya. Pengalaman kerja menunjukan bahwa semakin banyak pengalaman kerja seorang karyawan, maka semakin meningkatkan efektivitas sistem informasi akuntansi yang digunakan. Semakin banyak pengalaman kerja seseorang maka penguasaan dan pemahaman akan pekerjaan yang diemban akan semakin baik, dengan demikian diharapkan orang tersebut dapat memberikan kontribusi yang baik terhadap perusahaan (Novianti dkk., 2021).

(7)

Menurut Suardiyanti dkk., (2021) pengalaman kerja adalah suatu ukuran tentang lama waktu bekerja dan masa kerja seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan sehingga dapat memahaminya dengan baik pengalaman menunjukkan kemampuan atau keterampilan yang dimiliki seseorang.

Pengalaman seseorang biasanya dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Seseorang yang memiliki banyak pengalaman akan lebih banyak hal yang tersimpan dalam ingatannya dan mengembangkan pemahaman yang dimilikinya terutama mengenai efektivitas sistem informasi akuntansi (Suardiyanti dkk., 2021).

Pengalaman kerja merupakan suatu proses atau tingkat penguasaan pengetahuan serta keterampilan seseorang dalam pekerjaan yang dapat diukur dari masa kerja, tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya (Belawa and Putra, 2018).

4. Kecanggihan Teknologi Informasi

sistem ekonomi yang berjalan dewasa ini sangat mengandalkan informasi.

Dapat dikatakan bahwa suatu entitas yang kuat secara ekonomis adalah entitas yang menguasai informasi. Dengan informasi, para manajemen entitas tersebut dapat mengambil keputusan-keputusan objektif, sehingga hasilnya akan sesuai dengan sasaran yang diharapkan. Akuntan, dan para professional lainnya seperti insiyur, pengacara, ataupun para dokter, sangat memerlukan informasi yang handal. Dengan menggunakan sistem jaringan, para manajemen dan professional dalam organisasi akan dapat mengambil keputusan yang tepat, karena yang bersangkutan akan memperoleh berbagai data yang mereka perlukan dari berbagai sumber secara utuh, sehingga keputusan yang akan diambilnya akan didasari pada wawasan yang lebih luas (Widjajanto, 2001) di dalam (Sasongko, 2020).

kemajuan teknologi saat ini sangat cepat. Teknologi informasi merupakan suatu kebutuhan bagi organisasi yang dapat membantu kinerja organisasi dan

(8)

individu. Teknologi informasi banyak membawa perubahan dalam organisasi dan proses bisnis. Sebelum kemajuan teknologi terjadi sebagian waktu diserap oleh individu untuk melakukan pencatatan, pemrosesan dan secara manual.

Peningkatan persaingan dan kemajuan teknologi yang sangat ketat menyebabkan banyak organisasi yang beralih pada teknologi berbasis computer (Dewi dan Sudiana, 2020).

Kecanggihan teknologi di masa kini mampu menghasilkan beraneka ragam teknologi sistem yang dirancang untuk membantu pekerjaan manusia dalam menghasilkan kualitas informasi terbaik. Perusahaan yang memiliki teknologi informasi yang canggih dan didukung oleh aplikasi pendukung teknologi modern, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kelangsungan kinerja perusahaan dengan menghasilkan laporan yang tepat waktu, akurat, dan dipercaya (Safitri dkk., 2017).

Penerapan kecanggihan teknologi informasi pada saat ini juga telah banyak contohnya, PT PLN (Persero) Sumba Timur dimana di tengah pandemi sekarang PT PLN telah membuat sebuah aplikasi yang dimana kegunaannya digunakan untuk melakukan mengisi token listrik, pembayaran listrik, dan penambahan daya.

Kecanggihan teknologi informasi sebagai suatu kontruksi yang mengacu pada pengguna alat, kompleksitas dan saling ketergantungan teknologi informasi dan manajemen dalam suatu organisasi. Indikator kecanggihan teknologi adalah : aplikasi lengkap, jaringan kuat dan luas. Menurut (Selviani, 2017) di dalam (Agustini and Sari, 2020).

5. Kemampuan Pengguna

Menurut O’Brien dan Marakas (2009) menyatakan bahwa terdapat beberapa alasan yang menyebabkan sukses atau tidaknya suatu organisasi/perusahaan dalam menerapkan sistem informasi. Faktor-faktor

(9)

yang mempengaruhi kesuksesan penerapan sistem informasi, antara lain adanya dukungan dari manajemen eksekutif, kemampuan pengguna, keterlibatan end user (pemakai akhir), pengguna kebutuhan perusahaan yang jelas, perencanaan yang matang, dan harapan perusahaan yang nyata.

Sementara alasan kegagalan penerapan system informasi antara lain karena kurangnya dukungan manajemen eksekutif dan input dari end-user, pernyataan kebutuhan dan spesifikasi yang tidak lengkap dan selalu berubah- ubah, serta inkompetensi secara teknologi. Mendefinisikan kemampuan pengguna sebagai suatu kapasitas individu untuk mengejar berbagai tugas dalam suatu pekerjaan (Robbins dan Timothy, 2008).

Menurut Robbins dan Timothy (2008) yang diterjemahkan oleh Diana dkk., pengertian kemampuan pengguna adalah sebagai berikut : “kemampuan pengguna merupakan suatu kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan tertentu”. Kemampuan pengguna sistem informasi akuntansi diukur dengan menggunakan rata-rata tingkat pendidikan personil (pengguna) sistem informasi akuntansi (Soegiharto, 2001). Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja keberhasilan sistem informasi akuntansi yang salah satunya yaitu kemapuan pemakai sistem akuntansi (Faridah dan Noviyanti 2017). Mendefinisikan kemampuan teknik personal sebagai kemampuan yang dimiliki seseorang yang diperboleh dari pengalaman dan dari tingkat Pendidikan atau pelatihan yang pernah diikuti sehingga dapat meningkatkan kepuasannya untuk menggunakan sistem informasi akuntansi yang diterapkan oleh suatu organisasi (Faridah dan Noviyanti 2017).

Menurut Robbins (2005) kemampuan pemakai dapat dilihat dari bagaimana pengguna sistem menjalankan sistem informasi akuntanssi yang ada. Kemampuan personal dalam sistem informasi dibedakan kedalam kemampuan spesialis dan kemampuan generalis. Kemampuan pengguna sistem informasi akuntansi diukur dengan menggunakan rata-rata tingkat

(10)

pendidikan personil (pengguna) sistem informasi akuntansi (Soegiharto, 2001). (Jen,2002) berpendapat bahwa semakin tinggi kemampuan teknik personal sistem informasi akuntansi, akan meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi. Menurut (Yudastrini 2019) dalam (Suardiyanti dkk., 2021) kemampuan teknik personal sangat mempengaruhi efektivitas sistem informasi akuntansi, karena apabila masing-masing individu tersebut mampu mengerjakan tugas tepat waktu dan memiliki pengetahuan dalam menyelesaikan pekerjaanya, maka efektivitas akan mempu lebih mudah dicapai. Begitu juga sebaliknya, jika personal memiliki kemampuan yang rendah maka semakin rendah juga efektivitas yang dicapai.

Kemampuan teknik pemakai yang baik akan mendorong pemakai untuk menggunakan sistem informasi akuntansi sehingga kinerja sistem informasi akuntansi lebih tinggi. Pemakai sistem informasi akuntansi yang memiliki kemampuan teknik yang baik akan meningkatkan kepuasannya dalam menggunakan sistem informasi akuntansi sehingga akan terus menggunakannya dalam membantu menyelesaikan pekerjaannya karena pemakai memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai (Gustiyan, 2014).

6. Kinerja Sistem Informasi Akuntansi

Dalam Jen (2002) berpendapat bahwa kinerja sistem informasi akuntansi akan lebih tinggi apabila program pelatihan dan Pendidikan pemakai diperkenalkan. Hal tersebut di perkuat oleh pernyataan (Sadat dan Syar’ie, 2005) di dalam (Damana dan Suardikha, 2016) yang menyebutkan, pelatihan merupakan sesuatu yang terpenting guna memberikan latar belakang yang bertujuan mendekatkan pemakaidengan pengguna teknik komputer secara umum sebagai bagian dari proses pengguna sistem yang spesifik. Pelatihan dan pendidikan pemakai bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan informasi dan keterampilan dalam pengambilan keputusan.

(11)

Salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi adalah keterlibatan pemakai. Menurut (Damana dan Suardikha, 2016) keterlibatan pemakai adalah keterlibatan mental dan emosional orang-orang dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk memberikan kontribusi kepada tujuan kelompok. Hal serupa juga dinyatakan oleh (Hajiha dan Aziziz, 2011) dalam (Alannita dan Suaryana, 2014) partisipasi pengguna dalam pengembangan sistem informasi akuntansi adalah faktor efektif yang berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi akuntansi.

Menurut Yesa Putra (2016) di dalam Jayanti Dkk., (2017) kinerja sistem informasi adalah kualitas sekelompok elemen yang terintegritas dengan maksud yang sama untuk mencapai tujuan, dimana susunan dasarnya terdiri dari elemen input, elemen transformasi dan elemen output. Kinerja sistem informasi akuntansi yang baik mampu memenuhi pemakain sistem informasi, sehingga dapat membantu pemakai sistem menyelesaikan pekerjaanya (Srimindarti dan Puspitasari, 2012) Kinerja sistem informasi akuntansi dapat dipengaruhi dari berbagai factor. Choe (1996) di dalam (Srimindarti dan Puspitasari, 2012) mengungkapkan bahwa terdapat beberapa factor yang berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi akuntansi, yaitu keterlibatan pemakai, kemampuan pemakai sistem informasi, dan ketentua pelatihan dan pendidikan pemakai sistem informasi. (Jen,2002) dalam penelitiannya menyebutkan delapan factor yang digunakan dalam pengukuran kinerja sistem informasi akuntansi, yaitu keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem, kemampuan teknik personal sistem informasi, ukuran organisasi, dukungan manajemen puncak, formalisasi pengembangan sistem informasi, program pelatihan dan pendidikan pemakai, keberadaan dewan pengaruh sistem informasi dan lokasi dari departemen sistem informasi. Kinerja sistem informasi akuntansi dari sisi pemakai (user) dibagi ke dalam dua bagian, yaitu kepuasan pengguna informasi (user information satisfatction) dan pengguna sistem informasi (system usage) olehh karyawan pada Departemen Akuntansi

(12)

Keuangan dan Operasional dalam membantu menyelesaikan pekerjaan mereka untuk mengelola data-data keuangan menjadi informasi akuntansi (Komara, 2006) di dalam (Nahriyanti, 2020). Almilia dan Briliantien (2007) menyatakan bahwa Sistem Informasi Akuntansi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

1. Keterlibatan pemakai pengguna dalam pengembangan sistem informasi, 2. Kemampuan teknik personal sistem informasi,

3. Ukuran organisasi,

4. Dukungan top manajemen,

5. Formalitas pengambangan sistem informasi akuntansi,

6. Program pelatihan dan pendidikan pengguna sistem informasi akuntansi, 7. Keberadaan komite pengendalian sistem informasi akuntansi dan

8. Lokasi departemen.

Yang mengukur kinerja sistem informasi akuntansi dari sisi kepuasan pemakai sistem informasi akuntansi (User accounting information sistem statisfaction) sebagai berikut : Content, Accuracy, Format, Ease of use , timeliness (Faridah and Noviyanti, 2017).

C. Perumusan Hipotesis

Hipotesis adalah prediksi yang baik atau kesimpulan yang dirumuskan dan bersifat sementara. Hipotesis diadopsi untuk menjelaskan fakta-fakta atau kondisi yang diamati dan untuk membimbing dalam penyelidikan lebih lanjut.

Berikut adalah perumusan hipotesis pada penelitian ini, yaitu:

1. Pengaruh tingkat Pendidikan terhadap Kinerja Sistem Informasi Akuntansi

Jenang pendidikan adalah tahap pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Jenjang pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melenkapi dan memperkaya pengetahuan. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang dimiliki

(13)

seseorang maka semakin luas pemikiran dan pengetahuan yang dimiliki, sehingga seseorang akan mampu menganalisis suatu hal menjadi lebih baik terutama dalam mengambil sebuah keputusan terkait dengan sistem informasi akuntansi sehingga dapat meningkatkan efektivitas pengguna sistem informasi akuntansi (Damayanti, 2014) di dalam (Wahyuni dkk., 2018).

Menurut penelitian terdahulu yang dilakukan Nahriyanti (2020) hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan variable kemampuan (X3) terhadap kinerja sistem informasi akuntansi (Y) dengan konfesien nilai sebesar 0,215 dan hasil analisis secara persial thitung

sebesar 2,483 dengan tingkat signifikan sebesar 0,215.

Dengan penelitian terdahulu yang telah di lakukan, penelitian menarik kesimpulan bahwa:

H1 : Tingkat Pendidikan Berpengaruh Terhadap Kinerja Kinerja Sistem Informasi Akuntansi

2. Pengaruh Pengalaman Kerja terhadap Kinerja Sistem Informasi Akuntansi

Pengalaman kerja karyawan merupakan gambaran dari tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh seseorang karyawan dalam bekerja yang dapat di ukur dari masa kerja dan jenis pekerjaan karyawan. Bahwa masa kerja merupakan lamanya seorang karyawan menyumbangkan tenaganya pada perusahaan tertentu. Namun masa kerja karyawan yang semakin lama dengan jumlah karyawan yang semakin sedikit akibatnya menyebabkan kurangnya pengalaman kerja karyawan dalam perusahaan tersebut (Pitriyani dan Halim 2020).

Menurut penelitian terdahulu yang dilakukan Belawa dkk., (2018) ditemukan bahwa pengaruh pengalaman kerja perpengaruh positif signifikan terhadap kinerja individu pengguna sistem informasi akuntansi di Dispendig Kota Denpasar, hal ini dilihat dari nilai uji t untuk variabel pengalaman kerja memiliki nilai sebesar 4,020 degan tingkat signifikan t pada uji sisi adalah 0,000/2 lebih kecil dari 0,05.

(14)

H2 : Pengalaman Kerja Berpengaruh Terhadap Kinerja Sistem Informasi Akuntansi

3. Pengaruh Kecanggihan Teknologi Informasi Terhadap Kinerja Sistem Informasi Akuntansi

Kemajuan teknologi informasi membawa perubahan yang signifikan dalam dunia organisasi, perubahan yang terjadi bukan hanya berakibat satu sisi aktivitas saja melainkan juga terhadap segala aktivitas yang ada dalam orgnaisasi tersebut. Peingkatan penggunaan teknologi computer merupakan akibat dari perkembangan teknologi informasi. Akibat yang diperoleh adalah teknologi informasi telah memberikan kemudahan bagi karyawan dalam melakukan pemrosesan data. Penerapan dan pemanfaatan sistem informasi berbasis computer telah menjadi senjata terbaik untuk menghadapi persaingan (Wirawan dan Suardikha, 2016) di dalam (Laili dan Aji 2021).

Menurut penelitian terdahulu yang dilakukan Dwitrayani dkk., (2017) simpulan dari penelitian ini adalah kecanggihan teknologi informasi berpengaruh positif dan signifikan secara statistic pada efektivitas sistem informasi akuntan BPR di Kabupaten Bandung. Ini menandakan bahwa sistem yang memilik kecanggihan informasional yang baik akan membantu perusahaan menghasilkan informasi yang cepat dan akurat untuk pembuatan keputusan yang efektif.

H3 : Kecanggihan Teknologi Informasi Berpengaruh Terhadap Kinerja Sistem Informasi Akuntansi

4. Pengaruh kemampuan pengguna Terhadap Kinerja Sistem Informasi Akuntansi

Para pemakai menjadi fokus yang prnting dalam penerapan sebuah sistem dalam perusahaan. Pemakai atau pengguna merupakan suatu hal yang tidak terlepas dari penerapan teknologi, selain itu keberadaan manusia sangat berperan penting dalam penerapan teknologi (Septiani, 2010) di dalam (Santoso dkk., 2020).

(15)

Menurut penelitian terdahulu yang dilakukan Kharisma dan Juliarsa (2017) ditemukan jika kemampuan pemakai berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi pada Inna Grand Bali Beach. Pemakai sistem yang tidak mempunyai kemampuan dalam mengaplikasikan sistem tersebut tidak akan mampu menjalankan sistem yang ada, sehingga sistem informasi akuntansi pada Inna Grand Bali Beach tidak akan bekerja secara maksimal. Dengan penelitian terdahulu yang telah di lakukan peneliti menarik kesimpulan bahwa:

H4 : Kemampuan Pengguna Berpengaruh Terhadap Kinerja Sistem Informasi Akuntansi.

(16)

Gambar. 2.1 Kerangka Konseptual

Referensi

Dokumen terkait

Dalam perbandingan antara pasien yang menderita Np dengan asma dan yang tanpa disertai asma (kelompok 3 dan 4), pasien yang mengalami berbagai gejala akibat adanya

Dengan menambah luas permukaan sendi yang dapat menerima beban, osteofot mungkin dapat memperbaiki perubahan-perubahan awal tulang rawan sendi pada osteoartritis, akan tetapi

Walaupun definisi fatwa merujuk kepada keputusan yang telah dikeluarkan oleh Jabatan Mufti yang telah diwartakan oleh kerajaan negeri, mahkamah sivil dalam beberapa kes menerima

dalam melaksanakan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara tersebut diperlukan terobosan hukum, persepsi, pola pikir dan mengubah perilaku yang dilakukan dengan

kekurangannya.pendapatan dari sumber-sumber lain yang berkaitan dengan proyek atau pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini peningkatan tarif atau juga

Berdasarkan pembahasan tentang Standar Nasional Perpustakaan yang dirujuk melalui UU No 43 tahun 2007. Setelah menyajikan hasil data penelitian diatas maka

Selain dari staff, kami juga meminta bantuan dari para pengajar LTC untuk menjadi pembawa acara sekaligus juga ada yang menjadi pembuka dalam berdoa dan juga ada

Perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah meliputi: mengkritik diri sendiri atau orang lain, penurunan produktivitas, destruktif yang diarahkan pada orang lain,