Penulis adalah pengajar Jurusan Politik, FISIP UI, dan peneliti Demos, Lembaga Kajian Demo-krasi dan Hak Asasi.
1
Abstract
Democracy and feminism are two big themes charming enough to develop a never ending discussion and debates. This paper tries to formulate the relation between both, how the current democracy is not yet pro-women, seeing from the representation of women, both formally through organization or parliament and social one.
Women political representation is required for many reasons, among which gender equality, voicing of women's need, emancipation, 'difference' and 'role model' argument. Also described in this paper is the kind of representation required, and how to build a pro-women democracy system.
Keywords: democracy, feminism, women's representation, women's political representation, pro-women democracy system
Demokrasi dan feminisme adalah dua tema besar yang selalu memiliki peso-nanya sendiri untuk terus dibicarakan dan diperdebatkan. Di satu sisi, meski ada sekitar 550 tipe demokrasi yang sejauh ini tercatat, dan juga berbagai kritik dan kecaman terhadap
demo-krasi, baik sebagai ide maupun ben-tuk pemerintahan (sistem politik), ta-pi rasanya tetap sulit untuk tidak me-ngakui legitimasi demokrasi saat ini, bahkan untuk mereka yang berusaha menghindarinya (Shapiro 2003). Ka-renanya, di tengah-tengah
pengala-1
DEMOKRASI DAN FEMINISME:
REPRESENTASI POLITIK PEREMPUAN
man masa lalu rezim fasisme Jerman dan Italia, rezim komunisme Uni So-viet dan Eropa Timur, rezim militer di Amerika Latin, dan rezim Aparheid Partai Tunggal Afrika Selatan, dan bahkan rezim otoriter Orde Baru di In-donesia, demokrasi sejauh ini bisa di-bilang masih ”the best of the worst”. Sementara itu, di sisi yang lain, per-kembangan feminisme, baik sebagai ideologi maupun gerakan sosial-poli-tik, ternyata juga tidak kalah serunya. Meski ada berbagai perspektif femi-nisme yang lahir dan berkembang se-perti feminisme liberal, feminisme ra-dikal, feminisme marxis, feminisme sosialis, ekofeminisme, serta feminis-me pascakolonial-pascamodern, pada dasarnya semua aliran tersebut mem-permasalahkan hal yang sama. Mere-ka sangat menaruh perhatian pada adanya ketimpangan, ketidakadilan, dan keyakinan gender dalam stratifi-kasi sosial, ekonomi, dan politik. Se-mua aliran tersebut menggambarkan sebab-sebab dan akibat-akibat penin-dasan perempuan, dan mereka ma-sing-masing berupaya membangun strategi untuk mengatasi dan mengu-bahnya. Pertanyaan yang menarik ke-mudian adalah: apakah dua tema
be-j
sar ini memiliki saling keterkaitan a-tau tidak? Apakah mereka bisa berja-lan seiring, atau yang satu mendomi-nasi atau menafikan yang lain? Se-jauh ini, kita lebih sering membaca bagaimana demokrasi ternyata tidak ramah terhadap perempuan (women unfriendly). Kritik kalangan feminis-me selama ini feminis-melihat bahwa konsep-si individu dalam demokrakonsep-si liberal yang dilihat secara netral-gender pa-da pa-dasarnya apa-dalah maskulin. Demi-kian juga dengan prinsip-prinsip uni-versal dari liberalisme merujuk kepa-da individu-individu dengan atribut laki-laki.
Tulisan ini sendiri akan membicarakan bagaimana feminisme memberikan pemahaman mengenai demokrasi, khususnya hubungan antara perem-puan dan demokrasi, atau lebih per-sisnya lagi masalah representasi poli-tik perempuan dalam demokrasi.
Apa Sebetulnya Masalahnya?
Sejak 1970-an, kebanyakan gerakan perempuan di Eropa, dan umumnya akhir tahun 1980-an dan awal
Demokrasi yang umumnya dibicarakan saat ini adalah demokrasi liberal yang memiliki ciri-ciri antara lain: (1) kompetisi politik (persaingan yang terorganisasi melalui pemilu); (2) partisipasi (hak semua orang dewasa untuk memilih dan memperebutkan jabatan publik); dan (3) tingkat kebebasan yang substansial (kebebasan berbicara, berorganisasi, dll.) (Robert A. Dahl 1971). 2
an juga di Indonesia, mulai menyadari bahwa demokrasi liberal, atau disebut juga demokrasi perwakilan (repre -sentative democracy), apa pun defini-sinya, yang sedang berjalan pada da-sarnya didominasi laki-laki (male do -minated). Ia lebih tepat disebut seba-gai androcracy daripada democracy. Kenyataan sejarahnya adalah bahwa perempuan telah diingkari sebagai warga negara politik yang penuh dan mereka secara struktural juga dising-kirkan (excluded) dari partisipasi poli-tik. Kita mengetahui bahwa perem-puan pada umumnya tidak terepre-sentasi sebagai individual dalam poli-tik, tapi sebagai bagian dari unit yang lebih besar yakni keluarga. Laki-laki, sebagai ayah atau suami (pater fami -lias), merepresentasikan keluarga; dia (baca: laki-laki) merepresentasi-kan perempuan dan kepentingan pe-rempuan.
Sejarah terus berjalan, dan bahkan ketika perempuan berhasil memper-juangkan kesetaraan politik formal dan warga negara penuh, lembaga-lembaga demokrasi representasi ter-nyata tidak juga kunjung menjadi in-klusif atau tanggap terhadap perem-puan. Hak pilih dan warga negara poli-tik formal ternyata tidak serta-merta meningkatkan jumlah representasi perempuan atau para pembuat kebi-jakan menjadi lebih responsif
terha-dap isu-isu perempuan. Kemudian muncul istilah ”demokrasi gender” (gender democracy) yang merujuk kepada adanya defisit demokrasi libe-ral (demokrasi representatif), dan ka-renanya dibutuhkan upaya transfor-masi demokrasi agar lebih ramah pe-rempuan (women friendly).
Representasi Politik Perempuan: Sangat Rendah!
”critical mass” seperti Rwanda dan Swedia, meski pada saat yang sama ada juga negara yang sama sekali ti-dak memiliki representasi politik pe-rempuan seperti Kyrgyzstan dan Qa-tar (Inter-ParliamenQa-tary Union 2007).
Jika kita melihat Indonesia sebagai studi kasus, rasanya gambaran terse-but juga tidak jauh berbeda. Di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), misalnya, sejak diadakannya Pemilu pertama (1955) di Indonesia hingga Pemilu 1999, persentase perempuan yang terpilih untuk duduk di DPR tidak per-nah lebih dari 13% (1987—1992). Bahkan pada Pemilu 2004, meskipun sudah diberlakukan kuota 30% (mes-ki tidak wajib) dan sistem proporsio-nal setengah-terbuka, hanya meng-hasilkan 62 perempuan di antara 550 jumlah total anggota DPR (11,3%) (Zein Siregar 2006). Untuk lembaga representasi yang berada di bawah-nya, DPRD I dan II, ternyata repre-sentasi politik perempuan juga ren-dah.
Memang ada banyak analisis untuk menerangkan mengapa ini bisa terja -di. Jung-Sook Kim (2006), Presiden Center for Asia-Pacific Women in Poli-tics, secara ringkas menerangkan me-ngapa representasi politik perempuan ini begitu rendah. Ia mengatakan bahwa ada dua faktor penyebab
uta-ma, yakni (1) faktor budaya dan (2) faktor prosedural. Pada faktor yang pertama kita bisa menyebut antara lain: (a) 'budaya patriarkal' yang se-cara tradisional menyingkirkan pe-rempuan dari posisi-posisi puncak a-tau strategis; (b) 'agama' yang sering kali melegitimasi pembagian peran sosial berbasis gender melalui dok-trin-doktrin agama, dan juga tindak-an-tindakan yang mengekang potensi perempuan; (c) 'negara militer mo-dern' yang mengeluarkan perempuan (excluded) dari aktivitas publik dalam budaya militer. Sementara itu, jika ki-ta berbicara tenki-tang faktor yang ke-dua, maka umumnya berkaitan de-ngan (a) proses nominasi partai yang tidak sensitif gender. Hal ini terlihat melalui nominasi yang biasanya dila-kukan secara ”tertutup” (closed), dan acap kali melalui cara-cara yang men-diskriminasikan kandidat perempuan; (b) sistem Pemilu yang tidak ramah perempuan; dan (c) kampanye pemi-lu yang berkaitan dengan pendanaan dan organisasi yang dalam banyak hal memang tidak ramah perempuan.
Representasi Politik Perempuan dalam Perdebatan
kita bicara demokrasi yang sejati yak-ni demokrasi yang ramah terhadap perempuan (women friendly). Pada 1990-an, kalangan perempuan sedu-nia telah berhasil mempolitisasi 'keti-dakhadiran' (absence) mereka di par-lemen, dan menantang 'legitimasi' (legitimacy) pembuatan kebijakan yang didominasi laki-laki (male-domi -nated). Isu representasi politik pe-rempuan ini telah diambil atau dirujuk pada setiap tingkatan dari sistem poli-tik yang ada, baik subnasional, nasio-nal, regionasio-nal, maupun internasional. Pada rencana tindakan (action plans) di tingkat internasional, isu ini sudah menjadi agenda dari badan-badan in-ternasional seperti Inter-Parliamen-tary Union (IPU) dan United Nations (UN) Commission on the Status of Women(Sawer 1999).
Meskipun demikian, persoalannya a-kan menjadi kompleks jika kita mulai mempermasalahkan pengertian ten-tang apa sebetulnya yang kita mak-sud dengan represepentasi politik pe-rempuan, apa yang direpresentasikan perempuan, dan bagaimana cara atau jalan untuk merepresentasikan pe-rempuan. Sampai di sini kita melihat ada banyak perdebatan untuk menje-laskan seputar pertanyaan-pertanya-an tersebut, dpertanyaan-pertanya-an tampaknya hingga saat ini perdebatan tersebut masih berjalan. Apa sebetulnya yang kita
maksudkan dengan representasi (ke-terwakilan) ini? Itu kira-kira perta-nyaan utamanya. Hanna Pitkin (1967) yang sering dirujuk ketika bicara soal representasi berpendapat,
”to represent” adalah aktivitas yang membuat perspektif, opi-ni, dan suara warganegara ”ha-dir” (present) dalam proses pembuatan kebijakan publik. Representasi politik bisa terjadi apabila aktor-aktor politik bica-ra, mengadvokasi, menanda-kan, dan bertindak atas nama yang lain (others).
Dalam kesempatan yang lain, kembali mengutip Hanna Pitkin (1967) dalam buku klasiknya, The Concept of Re -presentation, ada 4 pandangan me-ngenai representasi yakni sebagai berikut: (a) representasi formalistik (formalistic representation) merujuk pada penataan institusional yang mendahului dan memprakarsai repre-sentasi. Representasi formal memiliki dua dimensi yakni otorisasi (authori -zation) yang menunjuk pada cara-ca-ra di mana wakil (representative) mendapatkan posisi, status atau ja-batan, dan akuntabilitas (accountabi -lity) yakni kemampuan konstituen un -tuk 'menghukum” (punish) wakilnya yang gagal atau tidak memenuhi janjinya, atau sebaliknya, ”memberi-kan tanggapan” (responsiveness) wa-kil terhadap konstituennya; (b) repre-sentasi simbolik (symbolic repre -sentation) merujuk kepada respons e-mosional mereka yang diwakili terha-dap wakilnya. Cara-cara bagaimana wakil ”stand for” mereka yang diwaki-linya. Kemudian, (c) representasi des-kriptif (descriptive representation) merujuk kepada sejauh mana wakil ”menyerupai” (resemble) mereka yang diwakilinya; dan (d) representa-si substantif (substantive representa -tion) yang merujuk kepada aktivitas dari para wakil yang bertindak atas nama kepentingan atau sebagai agen dari mereka yang diwakilinya.
Setiap pandangan representasi ini menyediakan pandangan alternatif dalam menilai atau mengukur repre-sentasi politik perempuan dalam sis-tem demokrasi. Perempuan dapat memilih dan mengeluarkan (in and out) wakilnya dalam kekuasaan for-mal (representasi forfor-malistik). Pe-rempuan dapat seperti atau berbagi pengalaman tertentu dengan wakil-nya (representasi deskriptif). Perem-puan dapat merasa terwakili atau te-representasikan (representasi simbo-lik), dan para wakil dapat bertindak a-tas nama perempuan, dan memaju-kan ”kepentingan perempuan” (wo -men's interest) (representasi sub-stantif). Secara teoretis, memang pembagian ini sangat membantu, tapi kita pun mengetahui bahwa dalam ke-nyataannya 4 pandangan ini bisa saja tumpang tindih atau bahkan saling berlawanan. Tapi sejauh ini, panda-ngan ini sudah bisa memberikan peta pada kita mengenai representasi poli-tik dan di mana perempuan bisa dire-presentasikan.
Mengapa perlu Representasi Po-litik Perempuan?
beberapa alasan utama di balik itu (Fuchs dan Hoecker 2004). Pertama, kesetaraan (equality) dan keadilan (justice). Argumennya adalah bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan politik dan ke-mudian ikut mempengaruhinya. Kare-nanya, sangat tidak adil kalau selama ini hanya laki-laki yang lebih mendo-minasi (over-representation) proses tersebut dibandingkan perempuan (under-representation). Apalagi kalau kita bicara jumlah populasi dunia, jumlah perempuan konon katanya le-bih banyak dari laki-laki. Indonesia sendiri 57% populasinya berjenis ke-lamin perempuan. Jumlah ini lebih da-ri separuh populasi, dan seharusnya sudah selayaknya jika kita perlu men-jadikan perempuan sebagai stake -holders yang perlu diperhatikan ke-pentingannya, terutama dalam pro-ses pembuatan kebijakan publik yang implementasinya akan mengenai pe-rempuan secara umum. Kedua, 'ke-pentingan perempuan' (women's in -terest). Mengingat perempuan me-miliki 'kepentingan' yang berbeda de-ngan laki-laki maka perempuan harus dilibatkan dalam proses pembuatan kebijakan politik untuk memperbaiki kualitas hidup mereka yang tidak bisa diwakilkan begitu saja kepada laki-la-ki untuk memperjuangkannya. Keti -ga, emansipasi (emancipation) dan
perubahan (change) dalam proses politik (political process). Karena ma -syarakat patriarkal melahirkan keti-dakseimbangan kekuasaan yang ta-jam antara laki-laki dan perempuan, maka struktur tersebut harus dibong-kar melalui tindakan-tindakan politik dalam rangka mempromosikan ma-syarakat yang lebih setara dan adil serta juga mandiri. Keempat, argu-men 'perbedaan' (difference). Mak-sudnya perempuan memiliki pengala-man dan kualitas tertentu (moral, eti-ka, dan gaya politik baru) yang perlu diintegrasikan dalam politik untuk mengubah kebijakan dan kelembaga-an ykelembaga-ang skelembaga-angat 'male-centered' terse-but. Hal ini berarti bahwa kita tidak hanya 'add women to democracy', ta-pi yang lebih substansial 'engendering democracy'. Terakhir, argumen 'role model'. Keberadaan perempuan da-lam lembaga representatif akan men-dorong perempuan lainnya untuk ikut terlibat dalam politik (Squires 1999).
perjua-ngan kuota 30% hanyalah salah satu elemen utama dalam upaya mempro-mosikan representasi politik perem-puan. Di samping itu, kalangan pe-rempuan perlu juga memperluas makna representasi politik puan tersebut. Keterlibatan perem-puan dalam sistem politik untuk tu-juan representasi memang diperlukan (necessary), tapi sudah pasti tidak memadai (sufficient). Karena itu, hal ini harus diimbangi dengan tindakan-tindakan politik dalam kelompok-ke-lompok dan gerakan perempuan (Lis-ter 1997). Artinya, go politics dari ka-langan perempuan tidak hanya seba-gai kegiatan untuk memasuki proses, mekanisme, lembaga, dan sistem po-litik, tetapi memiliki dua dimensi uta-ma yakni yang menyangkut upaya un-tuk mempengaruhi proses-proses pe-ngambilan keputusan publik dan usa-ha untuk membangun basis sosial re-presentasi politik perempuan baik melalui lembaga-lembaga represen-tasi politik—baik formal maupun in-formal—dan partisipasi langsung (di -rect democracy). Ada rekoneksi anta-a geranta-akanta-an perempuanta-an, yanta-ang menjanta-adi bagian dari gerakan sosial, dengan aksi-aksi politik, yang merupakan ba-gian dari demokrasi representasi. Di sini ada upaya untuk mendefinisikan kembali (re-definition) apa itu politik. Politik diperluas maknanya ke perso-nal dalam rangka memperlihatkan
adanya partisipasi politik perempuan di luar institusi formal, dan sekaligus membuktikan bahwa perempuan bu-kannya a-politis (Squires 1999).
Apa dan Bagaimana Merepresen-tasikan Perempuan?
-tion). Ini memperlihatkan bahwa 'ke-pentingan perempuan' sendiri tidak tunggal atau homogen. Karenanya, kalangan aktivis perempuan harus se-lalu menyadari heterogenitas kepenti-ngan di antara mereka yang tidak se-lalu harus diseragamkan, apalagi di-paksakan untuk seragam. Di sini dibu-tuhkan toleransi, solidaritas, dan ke-sadaran di antara mereka sendiri un-tuk bisa memilih kapan, di mana, dan dalam isu dan kepentingan apa mere-ka bergerak bersama-sama, atau se-baliknya, mereka bergerak sendiri-sendiri. Terakhir, 'representasi sosial' (social representation) yang merupa-kan representasi identitas. Mereka yang duduk dalam struktur kekuasa-an harus merupakkekuasa-an 'cermin' (mirror) dari komposisi sosial elektoral dalam arti 'kehadiran' (descriptive repre -sentation). Mereka harus bicara dan bertindak atas nama kelompok-ke-lompok perempuan yang menjadi ba-gian dari mereka, dan juga berbagi ni-lai-nilai dan pengalaman yang sama dengan kalangan perempuan pada u-mumnya (Squires 1999).
Sementara itu, pembicaraan menge-nai bagaimana perempuan direpre-sentasikan berhubungan dengan dua konsep utama. Pertama, konsep mi -krokosmos (microcosm) yang meru-juk bahwa perempuan berbagi ide, ni-lai, dan keyakinan sebagai
perem-puan dengan peremperem-puan lainnya di dalam kelompok-kelompok dalam masyarakat. Mereka yang duduk da-lam struktur kekuasaan ”standing for” kelompok-kelompok elektoral, khu -susnya perempuan. Kedua, konsep agen-prinsip. Mereka yang duduk da -lam struktur kekuasaan harus bertin-dak atas nama yang diwakilinya. Me-reka bertindak sebagai agen yang bertindak atas nama prinsip-prinsip yang dipromosikan mewakili kepenti-ngan-kepentingan yang ada, khusus-nya perempuan.
Jika kita menggabungkan keduanya (antara 'apa' dan 'bagaimana'), maka kita bisa membagi dua representasi politik perempuan sebagai berikut. Pertama, representasi identitas seba-gai representasi deskriptif atau kuan-titatif perempuan. Mereka yang duduk dalam struktur kekuasaan ”standing for” perempuan. Sementara itu yang kedua, representasi kepentingan se-bagai representasi substansif perem-puan. Mereka yang berada dalam wi-layah kekuasaan ”acting for” perem -puan.
aktivis dan politisi perempuan mere-presentasikan 3 elemen (triple repre -sentatives) yakni mewakili pemilihnya (fungsional), partai dan organisasi politiknya (ideologi), dan konstituen perempuan sebagai identitas (sosial) (Lovenduski 2000). Bagaimana men-sinergikan ketiganya dalam rekonek-sitas tindakan-tindakan politik de-ngan gerakan sosial perempuan me-rupakan tantangan yang harus dija-wab kalangan perempuan di tengah-tengah kritik, keraguan, dan bahkan cibiran masyarakat (baca: laki-laki pada umumnya) atas kemampuan dan keberdayaan mereka.
Penutup: Ke Arah Demokrasi Fe-minis?
Dalam bagian penutup ini ada baiknya kita berbicara, minimal secara norma-tif, seperti apa demokrasi yang ramah perempuan itu (demokrasi feminis). Secara sederhana kita bisa menampil-kan ciri-cirinya sebagai berikut (Sauer
2004): (a) partisipasi aktif warga ne-gara perempuan; (b) representasi po-litik nyata perempuan (secara kuanti-tas): representasi perbedaan; (c) re-presentasi kebutuhan dan kepenti-ngan perempuan; (d) representasi perbedaan di antara perempuan (in-terseksi gender, kelas, dan etnis da-lam proses politik); (e) ruang dan wa-cana publik yang sensitif gender; dan (f) responsif dan ”keluaran” (output) kebijakan yang ramah perempuan.
Jika memang demikian adanya, maka demokrasi dan feminisme seharusnya memang berjalan seiring, dan bahkan saling menguatkan. Ke arah sana kita berjuang yakni mempromosikan de-mokrasi yang sensitif gender. Demo-krasi tanpa melibatkan perempuan di dalamnya memang bukan demokrasi yang sejati (nis).