Siiat Lar:'..pi:-a:r:
Perihal
•
•
R.02/PD/I/l983 Seger a
4 (ernp2t)
Rancangan Und.ang -undang tentang Pengesahan Per- j anj ian ant:a·ra Republik Indonesia dan Malavsia tentang Rej"irr1 Huktm.' Ne-
gara Nusantara
cianHak- hak Haiaysia
eliLaut
Teri~orial
dan
PerairanKusantara serta Ruang Udara di a-r.as Laut Teri-
torial, Perairan Nusa~
tar2. cian \\ilayah Republik
Indonesia yang terletak di antara Malaysi2.
Timurdan
1'-~a::.aysiaBar at .
.JaL;:;_rt:a, 31 J.::.n1,;a"i 1983
Kepacia
Yth.
Saudara PIMPINAJ\
DE\\AN PER\I'AKILAJ\ RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
di
Jakarta
'
DeDgan l n l
Pemerintah
merryampaikan:Rancangan Und.ang-unci.ang tentang Pengesahan Perle.::.- iian ar~::ara P.epublik Indonesia dan N<ilaysia te=·-
""":21.lg Rejim Hukum Negara Nesantara cian Ha1:-hak ks.- laysia di Laut 'Ieritorial d.an Perairarj l\'usantar~
serta
Ruang Udara di
atasLaut
Teritorial) Fer~~~an Nusant.ara dan 1hlayai1 Republik Indonesia
yz.=.;
terletak di an::ara t·1alaysia Timur dan Malaysiz E&rat: - - - ··- --- :.:..r.c:uK ~o::cr. menG.apatkan persetujuar: Dnvan Pen,-<'_kilan "?2.1:-
PRESIDEN
REPUBLtK INDONESIA
Selanjutnya untuk keperluan pembicaraan dalam per-
sidang~~
mengenai Rancangan Undang-undang tersebut, kami mempersilahkan Saudara menghubungi Saudara Menteri Luar Negeri.
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
I~
'S 0 E H A R T 0
Te-2Dusan :
1. Ytfl~. Sdr.
liakil
Presiden,2. v~~.., ~ '--l.~. Sdr.
- .Menteri Luar Negeri,
0. Yth. SQr.
Neni-eri HANKAM/PANGAB, ' Ytl' .. Sdr. Nenteri Kehakiman.
~.
•
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAll UN
TENTANG
PENGESAHAN PERJANJIAN
ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN MALAYSIA
TENTANG REJIM HOKUM NEGARA NUSANTARA DAN Hi\K-HJ\K
MALAYSIA Dl LAUT TERITORIAL DAN PEHAIRAN NUSANTAaA ~ERTA RUANG
UDARA DI ATAS LAUT TERITORIAL, PEHAIRAN NUSANTARA DAN WILAYAH REPUBLIK INDONESIA YANG TEHLETJ\K DI ANTARA MALAYSIA TIMUR DAN MALAYSIA BARAT
Menimbang
•
•
!4:enqingat
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
. '
: a. bahwa dalam rangka memantapkan kedudukan neqara Repu- blik Indonesia sebagai Negara Nusantara, telah diada- kan suatu Memorandum Pe~qerti~ Bersama antara ~epublik
Indonesia dan Malaysia tentanq asas Negara Nusantara
dan telah ditandatangani di Jakarta pada tangga1 27 Juli 1976:
b. bahwa sesuai dengan isi ketentuan-ketentuan sebagai- mana tercantum dalam Memorandwn Pengertian Berscuua an-
tara Republik Indonesia dlU> Malaysia tersel!ut pada huruf a di atas perlu diadakan perj anjian an tara ked:><;
neqara;
c! bahwa Perjanjian antara Republik Indonesia dan Malay- sia tentang Rejim Hukum Negara Nusantara dan Hak-hak
••
Malaysia di Laut Teritorial dan Perair~~ Nusantara serta ·. Ruanq Udara di at as Laut Teri.to~ial, Perairar,
Nusanta:ca dan Wi1ayah Republil> Indonesia yang terleta:<
diantara MalaYsia Timur
tandatangani
dijakarta
dan Malaysia
pada tanggal •
Barat telah di- 25 Pebruari
198:;d. bahwa Pemerintah Republik Indonesia ~emandang perlu mengesahkan "Perjanjian" tersebut pada huruf c di atas dengan Undang-undang:
: 1. Pasa1 5 ayut (1), Pasa1 11 dan Pasa1 20 ayat (1)
•
2
2. Ketetapan Hajelis Pe:rmusyawaratan Rakyat Republil<
Indonesia_Nomor IV/NPR/1978 tentang Garis-qaris
Besar Baluan Negara; -•.'Dengan persetujuan
DEWAR PERIIAKIIJIIII IU\KYAT REPliBLIK INDONESIA
MEIIUTUSfAN
. . ••
'
Menetapkan
: UllDANG-UNUANG TEN'l'ANG PEII~ PEIIJAHJIAN ANTARA REPliBLIK INIXB!IESIA DAJII I!ALIIiSIA TEN'1'ANGREJIM HOKUM
NEGARA NUSJIR'l'ARA DAJII HAK-HAK Ml\LAYSIA DI LADT TERI- TOIUAL DAJII PERAilUIM NOSANTARA SEin'A ROliNG UDARA DI•
•
ATAS LAUT TEJa.TOJUk., PERAIRAN NUSJIR'l'ARA DAN IIIWAH REPliBLIK IROONESIA YAI'I'G 'rE1tLE'1'AK DI ANTARA MALAYSIA TIMOR DAJII Ml\LAYSIA BARAT.
Pasal -1
Menqesabkan Perjanjian antara Repubiik Indonesia dan Malaysia tentang
RejilllHukum Negara Nusantara
dan ;;ak- hak ~laysia di Laut Teritorial dan Perairan :Nusantara serta Raang Udara di atas Laut __ .,.-eritorial. PerairanNusantara dan Wilayah Republik Indooesia_ yang terletalt di antara Malaysia Timur dan Malaysia Barat, yang sa-
.. linan naskabnya dilampirkan pada undang-undang
ini.Pasal 2
Ondang-undang ini mnlai berlaltu pada tanggal diundangkan.
3
Agar supaya setiap orang mengetahuinya, memerintah- kan penqundaDgan Undang-undang irii dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal
• A
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Diundangkan di Jakarta pada banggal
SOEHARTO
MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
SUDHARMONO, S.H.
LEIIBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Tl\HUN NOM OR
PENJELASAN ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INOONESI.A
NOMOR TAIIUN TENTANG
PENGESAHA.N PERJANJIAN ANTARA RE;PUBLIK INDONESIA DAN MALAYSIA TENTANG REJIM HUKUM NEGARA NUSANTARA DAN
HAK-HA.K. MAlAYSIA DI LAUT · TERITOlUAL DAN PERAIRAN NUSANTARA SERTA
RUANG UDARA DI ATAS LAUT TERITORlAL, PERAIRAN NUSANTARA DAN WII.AYAH
REPUBLIK INDONESIA YANG TERLETAK DI
ANTARA
MALAYSIA TIMUR DhN MAlAYSIA BARATI . U MUM
Dalam rangka memantapkan kedudukan negara Republik Indonesia sehagai Negara Nusantara dan memperhatikan kebijaks~~aan Pemerintah .Republik Indonesia khususnya. dalam menjaqa serta melaksanakan
hubungan bertetanqq!l baik, maka P_e:merintah Republik Indonesia dan
~a~aysia pada tangsal 17 ~uli ~976 te~ah menandatangani Me~oran-
dum Pengertian Bersama ten tang Negara Nus~.ntara. Me"ltlo-randum Pe-
ngertian Bersama tersebut intinya memuat kesepakatan antara kedua negara. yang mengandunq ketentuan bahwa pihak Malay~ia ~eDgakui
dan menyOkonq rejim hukum negara nusantara dan sebagai i"lnbala·nnya, _pihak .I.ndonesia mengakui hak-bak trbdisional dan kepentinqan-ke-
•
pentingan yang sah Malaysia 4~ ~ut teri~o~ia1 dan ~erai±an ~usan
tara ~ndonesia yang terletak di antara Malaysia ~imur Uan ~a1aysia 13a.Tat. 'Disauping i ttl 'Melii.O'X"ltndtna 'Pen~rti:an 'BeTsaua. """t:e1ah "Dlenet.ap- .kan pula agar :rnaonesia dan Ma.l:aysia "Dlenqada"kan "'Slll!l.t'U ""Peyja:nj""i"B.n
yang lftemuat penja"baran lebih.lanjut isi ke.tentuan-ketentuan se- bagaimaha tercantum da~am Memorandum Pengertian Bersa~a ~ersehut dan he.ndaknya perjanjian termak.sud sudah 1dapat sele.s.a.:i -Dan .ditanda-
tangani sebelum Konvensi tentan9 Bukum Laut dihasi1kan o.leh .Konpe··- rensi P~B tentan~ BukuM Laut ke-III~
ketentuan-ketentuan umum seba.gaimana tercantum dalam Memo- randum Pengertian Bersama tersebut paQa hakekatnya adalah sesuai
dengan perumusan pasal 47 .ayat 7 Konvens! Hukum Laut yang di-
has~lkan oleh Konperensi P.B.B- tentang Hukum Laut ke-III yang me- nentukan bahwa ~Apabila suatu bagian tertentu dari perairan ke- pulauan suatu n·f;!gaia kepulauan terletak di antara dua bagian dari suatu negara tetangga dekat~ maka haX-hak dan kepentLngan-ke-
pentingan sah yang dimiliki oleh negara tersebut belakangan dan yang telah dimilikinya secarA tradisiona1 dalam perairan demikian
serta segala hak yanq ditetapkan dalam suatu perjanjian antara
2
negara-negara demikian harus tetap berlaku dan dihormati."
Sebagainana dimaklumi~ sebag~an laut yang terletak di
antara Malasyia Timur dan Malaysia:' Barat~ yang sekarang termasuk k,:!daula.tan ter i torial Republik IndoneSia berdasarkan Pengumuman Pernerintah mengenai 'wilayah Perairan Negara Republik Indonesia pada tanggal 13 Desember 1957 yang kemudian 9ikenal sebagai~
Deklarasi Djuanda dan yang selanjutnya telah dikukuhkan dengan
'
Undang-Undang No.4/Prp tahun 1960 tent~ng Perairan Indonesia, semula adalah laut bebas.
Yang dimaksudkan dengan hak-hak tradisional dan kepentingan-ke- pentingan yang sah Malaysia yang telah ada di wilayah laut ter-
•
'
sebut pada pokoknya meliputi hak akses dan komunikasi ba-ik di laut maupun di udara baqi kapal-kapal ~an pesawat:·uda.ra Malaysia untuk tuj uan daga'ng, sipi 1 dan mill ter 'dan hale peri:tanan t.ra-disi o · nal Malaysia di telnpat-tempat teitentu'
4i
_wilayab J.aut, te~masul.. '
hak memasang kabe1 te1ekomunikasi dan pip&-pipa bawah laat~
Dengan adanya Perjanjia~ antar.a· Republik :Indones.ia dan Malaysia yang telah· ditandatangani di "Pada ··t:a"1l'99al 25 Pebruari 1982, Rejim Hukum Negara Nusantara telah mendapatkan '
pengakuan yan9 sah oleh Malaysia. Hal i~i pent~~9 ~%ti~ya Ui dalam situasi dimana Konvens~ Huknm Laut yanq baru be~~ dit~nda
tangani dan mempunyai dampak baik di"bidanv po1itik 3&~~
ni
"bi4ang hukum internasional., ter1eb
1ih l.agi ka"re"1l-a peugaku11.n 'Soeca":Lo hukum telah diberikan Oleh suatu negara tetangqa ~ndonesia Uan
·yang letaknya terdekat di lingkungan ASEAN (~ssociation o£ Sonth East Asian Nations)~
Seba9aimana diketahui dengan disahkannya perjan_jia-n i.ni dengan Undanq-undang,
•
imaka i s i perjanj.ian tersebut menjadi bagiar, daripada tata hukum/perundang-undangan nasional dan .untuk itu kiranya perlu diadakan penyesuaian terhadap peraturan perundang- undangan nasiona·l R!i!pu"blik Indonesia sepanjang yang menyanqkut pelaksanaan isi ketentuan p_erjanji'·an ini.II. PASAL OEMI PASAL Pe.sal 1
Cukup jelas.
/
\'-.._ _____ ,/' PERJA::~JIANANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN MALAYSIA TENTANG REJIM HUKUM NEGAR.ll, NUSAN'l:·ARA DA::J H.'\K-H.n..K HALAYSJ:rl DI LAUT TERRITO?..IAL DAN PER.'\I?.AN NUSl\:fTARA SERTA RUANG UDAR.'\.
DI .:l..TAS LAUT TE:KRITORIAL, PER}\.IRAN NUS . .:...NTAR.'\ Dl':.N HI- L.;; Y.:'I..H REPUBL.IX I.::I'ONESI.:; YANG TERL."::Tll.K
MALAYSIA TIMTIR DAN HALAYSiri B.Z...RAT
REPUBLIK INDO~ESIA DAN MAL&YSIA sela~jutnya disebut sebagai Pihak-p~hak yang Bet}?niLJ~
MENIMBANG kebijaksacaan Pemcrintah Malaysia untuk mendukung rejim hukum Ncgara Nusantara Pemerintah Republik
Indonesia,
MENCATAT bahwa pelaksanaan rejim hukum tersebut oleh Penerintah Republik Indonesia akan sangat mempengaruhi hak- hak dan kepentingcn-kepentingan sah yang ada yang secara
'
trad.ision-3.1 dilaksanakan oleh Ha.laysia,
MENIMBANG kebijaksanaa~ Pe~erintah Re?Ublik Indone3ia untuk mengakui dan menghormati hak-hak dan ~epentingan-kepen-
tingan 3ah lainnya yang secara tradisional dilaksanakan olen Malaysia di laut t e r r i t o r i a l dan perairan nusantara serta di
r~ang udara di a~as laut t e r r i t o r i a l , perairan nusantara dan wilayah Republik Indonesia yang terletak di antara Malaysia Timur dan Malaysia Barat, '
MEMPERHATIKAN perkembangan hukum laut yang be~kaitan
denga;t rej im hukum Negara Nusant-ara,
MENCATAT bQhwa ada bagian dari pe~airan nus~ntara
Republik Ind.)nesia terletak di antara Malaysia Timur dan Malaysia Barat serta adanya hasrat untuk membuat perja~jian
bilateral guna menentukan dan mengatur hak-hak dan kepenting- an-kepentingan tradisional Malaysia di tempat tersebut seperti
I
yang dimaksudkan dalam Rancangan Konvensi tentang Hukum Laut yang dipersiapkan oleh Xonperensi P3B tentang Hukum Laut yang Ketiga,
YAKIN akan perlunyc. mengaC.alca::: penyelesaian yang adil dan berimbang terhadap masalah-masalah yang ti.r=-Dul dari
penerapan reji3 hukum perairan Nusantara,
BERT~L~D untuk mengadakan perjanjian bilateral sesuai dengan Memoran..dut! P_enge!:ti.au Bersama yang dicaEai pada. tangqaL 27 Juli 1976 untuk tujuan penjabaran ketentuan-ketentuan dari Memorandum Pengertian Bersana tersebut,
MENYADARi adanya kerjasama dan koordinasi yang erat yang telah t e r j a l i n antara kedua Neg~a. berdasarkan kebijak-
sanaan bertetangga baik dan PRrjanji~ ASEAN tentang Persa- habatan dan Kerjasama di Asia Tengga~= Tahun 1976,
BERHASRAT untuk meningkatkan lebih lanjut kerj~sama
dan koordinasi tersebut,
TELAH SE?AKAT SE~AGAI BERIKUT
BAGIAN I UMUi-1
Pas a 1 F
Pengertiari-Penge~tian
'Di dalam perjanjian inl yang dimaksud dengan
•
1. "perairan nusantara Republik InCo:1esia" adalah semua per- aira.n yang dikelilir.gi oleh garis-garis pangkal nusantar-a yang ditarik berdasarkan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia dan sesuai de~gan hukum internasional.
/
3
2. "laut t e r r i t o r i a l Republik Indonesia" adalah jalur laut
ya~g berbatasan dengan garis-garis pan;kal nusantara yang ditarik berdasarkan peraturan pe~undang-undangan
Republik I.!i.donesia cian sesuai denga:::. h·~ku:.J. int.ernasional, dengan lebar 12 mil laut diukur dari garis-garis pangkal tersebut.
3. "kapal pem-2.rintah" aC.alah kapal-:.::.apal yang dimiliki atau digunakan oleh Pemerintah Halaysia, termasuk kapal-kapal angka tan la u t , yang dioperasikan·_ untt: .. k keperluan resmi dan non-komersial.
4. ''kapal dagang'' adalah kapal-kapal yang terdaftar atau mendapat i j i n sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Malay::;ia yang dioperas=--kan untuk maksud- maksud komersial, termasuk kapal-kapal dagang asing.
5. ''pesawat udara Negaran adalah pesawat udara yang dimiliki.
atau digunakan oleh Pemerintah Malaysi~, termasuk pesawat udara yang digunakan untuk tu;as-tugas militer, bea-cukai dan kepolisian dan pesawat udara lainr::'".Jil yang digun2.kan untuk keperlua:-1 resmi a·tau non-komersial.
6. ''pesawat udara sipil'' adalah serP.Ua pesa',.;at uC.ara, yang bukan pesawa:: udara Negara, yang terdaftar atau mendapat
ijin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ber- laku di Malaysia;
7. ''penangkapan ikan tradisionaln adalah Eenangkapan ikan·
yang dilakukan oleh nelayan-nelayan tradisional Malaysia dengan menggunakan cara-cara t:c.adisi.onal di .daerah-daerah tradisional di laut
•
te~~itorial dan perairan nusantara Republik Indonesia yang terletak di antara Malaysia Timur dan Mal~ysia Barat sebelum penerapan rejim hukum Negara Nusantara Indonesia.8. ''nelayan tra~isional'' adalah ~elayan-nelayan Malay~ia
yang, seCagai sumDer utama kehidup.:;.nDya., .seca::::-a la.r.gs'..lng
I
melakukan penangkapan ikan tradisional di Daerah Per- ikanan yang ditetaP.kan sebagaimana dimaksud dalam ayat 2(e) Pasal 2 Perjanjian ini.
9. ''perahu penangkap ikan tradisional~ adalah setiap perahu yang dimiliki dan digunakan oleh nelayan-nelayan t r a d i s i - onal Malaysia khusus untuk penangkapan ikan tradisicnal di Daerah Perikanan yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalan ayat 2{e) Pasal 2 Perjanjian i n i .
10. "kapal penangka'p i.kan." adalah s.e.ti..ai.J ka:2aL yacg bukar:._
kapal penangkap ikan tradisional, yang dimiliki dan di- gunakan oleh nelayan-nelayan Malaysia.
lL- "kapal penangkap ikan asing" adalah setiap kapaL penangkap ikan asing yang diOperasikan berdasarkan usaha patungan dengan warganegara Malaysia atau berda$arkan p=ngaturan lainnya dengan Peme~intah Malaysia.
Pasal 2
Pengakuan t"'rhadao Re-i im Hukum Negara· Nusan·ta..-a Renubl ik Indonesia· dan Hak-hak serta· Kepen+-i'ngan·--kep·e·n·.;--.;ngan sah Malaysia.
1- Malaysia mcngakui dan menghormati rejim hukum Negara Nusantara yanJ diterapkan oleh Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia dan sesuai dengan hukum i~ternasional; berdasarkan rejim hukum tersebut Republik Indonesia mempunyai. kedaulatan atas laut t e r r i t o r i a l dan perairan nusantara serta dasar laut dan t.anah di bawahnya serta. sumber-daya alam yang
t~rKandung di dalamnya, dem~kian pula ruang udara di atas- nya.
2 _ Walaupun ada kctcntuan ayat l Pa.sal ini, namun dengan
tund~k pada ketentuan-ketentuan Perjanjian ini, Republik Indonesia tetap menghormati hak-hak dan kepentingan-
kepentingan sah lainnya yang ada yang secara tradisional telah dilaksanakan Malaysia di laut t e r r i t o r i a l dan per-
5
airan nusantara, dan juga di ruang udara di atas laut territorial, perairan nusantara dan wilayah Republik Indonesia yang terletak di antara Malaysia Tiour
Malaysia Barat, terdiri dari Derik~t ini
dar:.
{a) hak akses dan kcmunikasi kapal-kapal PE?cmerintah lewat Koridor~koridor yang ditetapkan yang ditentu- kan dengan serangkaian garis-garis pores yang tak terputus-putus di Peta yang terlampir pada Perjanjian inL sebagai.. Lam.pi_ran. L (sel.an..jutnya di..s..ehu.t.
"Koridor-koridor''), yaitu :
(l) Koridor I .sebagaimana ditentukan oleh Pores I ;
(2) Koridor ,II sebagaimana ditentukan oleh ?orcs I I .
(b) hak akses dan kcmunikasi kapal-kapal dag-ang dan
ka9al-kapal penangkap ikan, termasuk kapal pena~~kap.
ikan asing, lewat Koridor-koridor tersebut;
(c) hak akses ean kcmunikasi pesawat udara Negara;
(d) h~k akses dan komunikasi pesawat udara s i p i l ; (e) hak penangkapan ikan tradisional nelayan-nelayan
tradisional Malaysia di daerah yang ditetapkan sebagaiffiana "digambarkan dalam peta yang terlamp~r
pada Perjanjian ini sebagai Lampiran I I (selanjutnya disebut ''Daerah Perikanan'');
(f) kepentingan yang sah tentang adanya, perlindungan, pemeriksaan, pemeliharaan, perbaikan dan penggantian
•
kabel-kabel dan p.ipa-p·ipa bawah laut yang sudah di- pasang serta pemasangan kabel-kabel dan pipa-pipaba~ah laut lainnya di laut territorial dan perairan nusantara Republik Indonesia yang terletak di antara Malaysia Timur dan Malaysia Barat serta dasar la~t
dan tanah di bawahnya;
(g) kepentingan yang sah dalam ~emajukan dan memelihara
huku~ dan ketertiban me~alui kerjasama dengan
I
6
pejabat-pejabat ~emerintah Republik Indonesia yang berwer.ang di laut territorial dan perairan nusantara
Republ~k Indonesia dan di laut t e r r i t o r i a l Malaysia yang terletak di antara Malaysia Timur dan Malaysia Bar at;
(h) kepentingan yang sah untuk melakukan kegiatar.-kegiatan peccaharian dan pertolongan melalui koordinasi dan kerjasama dengan pejabat-pejabat Pemerintah Re9ublik
Indonesia yang berwenang di laut t e r r i t o r i a l dan per- ai:::-an n-usantara, dan juga di ruang udara di atas laut territorial, perairan nusantara dan wilayah Republik Indonesia yang terletak di antara Malaysia Timur dan Malaysia Barat;
(i) kepentingan yang sah untuk bekerjasama dengan pejabat- pejabat yang berwe~ang Pemerintah Republik Indonesia dalam kegiatan pe~elitian ilmiah mengenai kelautan di
!aut terr.itorial dan perairan nusantara Republik Indonesia dan di laut te~ritorial Malaysia yang ter-- letak di antara Malaysia Timur dan Malaysia Barat guna maksuU-maksud yang berkaitan la~gsung dengan tindakan- tindakan untuk melindungi dan melestarikan lingkungan
!aut.
Pasal 3
Kewa1iban Malaysia dan Reoublik Tndone~ia
l . Dalam melaksanakan hak-hak dan memajukan kepentingan-kepen- tingan yang sah sesuai dengan ketentucln-ketent'J.an Pe~janji- an ini1 Malaysia wajib
(a).
•
menghindarkan diri dari tindakan mengancam atau peng- gunaan kekerasan apapun terhadap kedaulatan, keutuhan wil~yah, kemerdekaan politik dan keamanan Republik Indonesia, atau dengan cara lain apapun yang melanggar asas-asas hukurn internasional yang tercantum dalam Piagam Perserika~~n Banqsa-Bangsa;/
7
(b) melakuka~ tindakan-tindakan yang perlu guna mencegah, mengurangi dan menanggula~gi pencemaran lingkungan
laut dari sumber apapun;
(c) mernatuhi peraturan perundang-undangan Republik Indonesia ya~g tidak tak sesuai dengan kete~~uan-
ketentuan Perjanjian ini;
2. Dengan tunduk pada ketentuan-ketentuan Perjanjian ini, hak akses dan komunikasi yang dapat dilaksanakan oleh • Malaysia_menurut Pe~janjian ini ~idak boleh ditangguhkan ataupun dihalang-halangi.
BAGIAN II KAPAL-KAPAL PEMERINTAH DAN KAPAL-KAPAL DAGANG
Pasal 4
Kapal-kaoal Peme=intah
1. Hak akses dan komunikasi yang dapat dilaksanakan oleh kapal-kapal angkatan laut menurut Pasal 2, sehubungan dengan hak akses dan komunikasi tcrsebut 1 adalah ter- diri dari
{<:!.} hak untu.k melal:ukan pelayaran tanpa terputus 1 cepat
dan tidak terhalang rnelalui Koridor-koridor;
(b) hak untu~ melakukan manuver kapal anqkatan laut,
te=masuk latihan-latihan taktis, pada waktu melintasi Koridor-koridor, dengan ketentuan bah'"'a sela-.na latih- an-latihan taktis tersebut peletusan senjata dilarang.
2. Tanpa menguran~i ketentuan-ketentuan ayat l dari Pasol ini,
Re~ublik Indonesia dan Malaysia wajib mengadakan kansultasi dengan rnaksud untuk mencapai sesuatu pengaturan yang se- layaknya tentang manuver kapal-kapal angkatan laut tersebut 3. Hak akses den ko;nuLikasi yang dapat dilaksanakan oleh kapal·
kapal pe~crintah1 yang bukan kapal-ka?al angkatan laut,
I
menurut Pasa!. sehubungan dengan hak akses dan komuni- kasi tersebut, adalah hak pelayaran tanpa terputus, cepat dan tidak terhalang oelalui Koridor-koridor tersebut.
4. Dengan tunduk pada ketentuar.-ketentuan Pe~janjian ini, hak akses dan komunikasi tanp2. terputus, cepat dan tidak t e r - h.alang dari·kapal-kapal pemerintah yang diatur dalam Per-
janjian ini tidak me~cakup kegiatan lainnya apapun yang
~idak ada hubungannya secara langsung dengan hak akses dan komunikasi t€rsebut.
Pasa.r 5
KaoaY-kapal o~gang
1. Hak akses dan komunikasi yang dapat dilaksanakan oleh kapal- kapal dagang menurut Pasal 2, sehubungan dengan hak akses dan kornunikasi, adalah hak p£:layaran tanpa terputus1 cepat·
dan tidak terhalang rnelaiui Koridor-koridor untuk menuju kepelabuhan yang dituju di Malaysia atau kc laut bebas._
2. Dengan tunduk pada ketentuan-ketentuan Perjanjian ini,kapal- kapal dagang asing yang te~ikat roelakukan perdagangan dengan Malaysia Timur dan Malaysia Barat, dapat ~elaksanakan hak akses dan komunikasi tanpa terputus, cepat dan tidak te~
halang lewat.Koridor-koridor semata-mata untuk pelayaran langsung anta~a M~ldysia 7imur dan Malaysia Barat.
3. Dengan tunduk pada ketentuan-ketentua~ Perjanjian ini,kapal- kapal penangkap ikan termasuk kapal-kapal penangkap ikan ' asing dapat mclaksanakan hak akses da~ komunikasi tanpa terputus, cepat dan tidak terhalang lewat Koridor-koridor
semata-mata untuk pelayaran langsung antara Malaysia Timur dan Malaysia Barat.
•
4 . Dengan t~nduk pada ketentuan-ketentuan dari PerJdDJlan
.
.'
ini1hak akses dan komunikasi tanpa terputus, cepat dan tidak terha!ang dari kapal-kapal dagang yang tercanturn dalam Per-
janjian ini tidaklah terrnasuk kegiatan lainnya apapun, ydng tidak mempunyai hubungan l::.r~gsung dengan hak akses dan
komunikasi tersebut.
,j
"
,, ,,
'I
I'
i! ,,
li
'9 Pasa.l 6
Berhenti dan membuang sauh bagi kacal-kaoal
Hak a.kses dan komunikasi tanpa terputus, cepa..t dan t.idak terhalang menur;,;,t Pe~janjian ini, yang menyangkut kap-al-kapal Pcmerintah dan kapal-kapal d~gang, mcncakup ber~enti dan mem- buang sauh tetapi hanya-'sepanjang hal tersebut berkaitan dengan navigasi yang lazim atau perlu dilakukar: karena keadaan darurat atau mengalami kesulitan atau guna rnemberikan bant~an kepada orang-orang, kapal atau pesawat uda-ra yang dalam bahaya atau kesulitan.
Pasal 7
Penvimpangan dari Garis-garis paras yang diperkenankan Kapal-kapal pernerintah, kapal-kapal dagang, kapal-kapal penangkap ikan dan perahu-perahu penangkap ikac tradisional Malaysia yang melaksanakan hak akses dan komunikasi tanpa ter-
put~s, cepat dan tidak terhalang melalui Koridor-koridor di- larang menyimpang lebih jauh da:ri 10 rnil laut- dari masi.P.g- masing sisi garis-garis pores selama pelayaran, dengan keten-
tuan bahwa kapal-kapal tersebut dilarang berlayar lebih dekat dari 3 mil !aut dari pantai.
1.
BAGIAN III PESAWAT UDARA rmGARA DAN PESAWAT UDARA SIPIL
Pasal 8
Pesawat Udara Negara
Rak akses dan komunikasi yang dapat dilaksanakan oleh pe- sawat udara Nega.ra menurut Pasal 2, sehubungan dengan hak akses dan komunikasi tersebut, terdiri dari hal-hal berikut:
•
(a) Hak l i c t a s penerbangan tanpa terputus, ccpat dan tidak terhalang melalui ruang udara di atas laut territorial, pera1ran nusantara dan wilayah Republik Indonesia yang terletak di antara Malaysia Timur dan Malaysia Barat;
(b) hak pesawat udara militer untuk melakukan manuver udara, termasuk latihan-latihan taktis, rnelalui ruang
I ..
II
II I!
i
I
udara di atas laut t e r r i t o r i a l , perairan nusantar~
dan wilayah Republik Indonesia, dengan ketentuan bahwa selama latihan-latihan taktis tersebut pele-
tusan senjata tidak diperkenankan.
2. Tanpa mengurangi ketentuan-ketentuan ayat l Pasal ini, dan untuk maksud-maksud ayat tersebut-, Republik
Indonesia dan Malaysia wajib mengadakan konsultasi dengan maksud untuk mencapai suatu pengaturan yang
mungkir. layak untUk di buat mengena.i lintas penerbangan dan manuve:r::: ·pe.sawat uda:r::a.
Pasal 9
,_P_-e0s=acwc·-'act,__U-'-'d0a=.r: a Sip i l
1. Hak akses dan komunikasi yang dapat dilaksan~kan cleh pesawat udara sipil menurut Pasal 2, sehubungan dengan hak akses dan komunikasi tersebut, terdiri dari hak
.'
lintas penerbangan tanpa terputus, cepat dan tidak terhalang sesuai dengan ketentuan~ketentuan dan per- aturan-peraturan internasional yang ada rnelalui ruang udara di atas laut t e r r i t o r i a l , pera1ran nusantara dan wilayah Republik Indonesia yang terletak di antara Malaysia Timor dan Malaysia BQrat.
2. MalaysiQ mempunyai hak untuk menggunakan route-route melalui ruang udara di atas laut t e r r l t o r i a l , perairan nusantara dan wilayah Republik Indonesia yang terletak di antara
~alaysia Timur dan Malaysia Ba~at.
3. • Uak akses dan komunikasi tanpa terputus, cepat dan tidak terhalang dari pesawat udara sipil yang diatu~ dalan
Perja~jian ini tidak mencakup kegiatan lainnya apapun yang tidak ada hubungannya secara langsung dengan hak akses dan komunikasi tcrsebut.
I
_,
l l
Pasal 10
Pendar~tan Posawat Udara
Hak akses dan komunikasi tanpa terputus, cepat dan tidak terh~lang menurut Perjanjian ini1 yang rnenyangkut pesawat udara Negara dan pesawat udara s i p i l , nencakup hak untuk mendarat di wilaya~ Republik Indonesia sepanjang hal itu diperluk~n oleh adanya keadaan darurat atau ke-
sulitan-
Pasal 11
Pelayanan Lalulintas Udara dan Komunikasi Pener~angan
Pelayanan lalulintas udara dan komunikasi penerbang- a=. bagi setiap pesawa·t udara dari Negara manapun di ruang udara di atas iaut territorial, perairan nusantara dan
w~layah Republik Indo~esia yang terletak di antara Malaysia T=mur dan Malaysia Barat akan diberikan oleh Republik
I::donesia atau dapat diberlkan dengan pelimpahan tanggung jawab untuk pemberia~ pelayanan tersebut sesuai dengan
perangka~ hukum Organisasi Penerbangan Sipil Internasional
BAGIAN IV K:SSELAHATAN PELP·.YP..RAN DAN KES:C:LAl·iATAN PENERBANGAN
Pasal 12
?elaksanaun dari _Peraturan-peraturan,
•
Prosedur dan Praktek-praktek'
~
.
Kapal-kapal yang melaksanakan hak aksas dan komunik~sitanpa te~putus, cepat dan tidak te~halang sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari Perjanjian ini wajib
. . I
I '
\.
(a) mematuhi peratu~a~-peraturan, prosedur dan
(~)
praktek-praktek internasional tentang keselamatan di laut yang diteri~a secara umum, termasuk Per- aturan-peraturan internasional untuk Pencegahan Tub rukan. di La u t ;
tunduk pada peraturan-peraturan, prosedur dan praktek-praktek internasi?nal yang diterima se-
cara U!JlUm guna pencegahan, pengurangan dan pe- nanggulangan-- perrcemaran yang berasar dari ka?al- kapal.
2. Tanpa mengurangi ketentuan-ketentuan Perjanjian ini :
•
(a) pesawat udara sipil yang melaksanakan hak akses dan komunikasi tanpa terputus, cepat dan tidak terhalang sesuai dengan ketentuan-ketentuan Per-
janjian ini setiap saat akan melakukan penerbangan dengan mengi~gat keselarnatan lintas penerbangan dan untuk maksud tersebut aka~ tunduk pada 2er- aturan perundang-undangan Republik Indon~sia yang sesual dengan ketentuan-ketentuan dan peraturan- peratuian internasional yang diterirna umurn, serta keten t uan-ketentuan dan pe ra t.u ran-per_a turan in teT.- nasional yang bersangkutan, yang berlaku bagi pesawat udara sipil; dan
(b) pesawat udara Negara yang melaksanakan hak akses dan komunikasi tanpa terputus, cepat dan tidak terhalang s.esuai dc::ngan ketentuan-ketentuan Per- janjian ini setiap saat akan melakukan penerbang- an dengan mengingat kesclamatan penerbangan.
3. Pesawat udara sipil yang melaksanakan hak akses dan komunikasi t-anpa terputus, cepat dan tidak terhalang sesuai dengan ketentuan-ketentuan Perjanjian ini se-
I
l3
tiap saat akan roengadakan komunikasi radio dengan pejabat pengawasan lalulintas udara yang berwenang.
Republik Indonesia dan Malays~a wajib mengadakan konsultasi dengan oaksud untuk menetapkan langkah-
langkah sebagaimana diperlukan untuk menjamin ke- selamatan navigasi di laut territorial dan perairan nusantara serta keselamatap navigasi di ruang udara di atas lau~ territorial, perairan nusantara dan wilayah·- dari: Rep<::blik-· Iridbnesia: yang- terletak di antara Malaysia Timur dan Malaysia Barat.
BAGIAN V PENANGKAPAN IKAN TRADISIONAL
Pasal 13
Ketentuan-ketentuan Umum
1. Untuk maksud-maksud- ayat. 2(e) dari Pasal 2, Republik
•
Indonesia wajib mengijinkan Malaysia untuk
{a} melanjutkan pe:!..aksanaan dari hak penangkapan ikan tradisional nelayan-nelayan tradisional Malaysia di Daerah Perikanan;
{b) melaksanakan hak lintas damai kapal-kapal penangkap ikan trad~sional Malaysia yang sesuai dengan hukum internasional yan~ tidak boleh dihalang-halangi di laut territorial dan perairan nusantara Repuhlik Indonesia yang terletak di antara Malaysia Timur dan Halaysia Darat, terr:!asuk hak lintas Gamai yang demikian itu dari pangkalan-pangkalan ke Daerah Perikanan dan sebaliknya.
2. Malaysia wajib mengambil langkah-langkah yang pe=lu untuk menjamin bat.wil kegiatan-kegiatan penangkapan ikan
tradisional sesuai de~g~~ ketentuan-ketentuan Perjanjian i n i tidaklah
I
\'
I
(a) merugikan kegiatan-kegiatan penangkapan ikan yang aja yang dilakukan oleh nelayan-nelayan Indonesia
(b) melanggar atau mengakibatkan gar.gguan eksplo~asi
C=.n eksplo:..tasi surr.):)er-Caya alam mineral C.ari dasar laut yang dilakukan oleh atau atas nama Pemerintah Indonesia sesuai deng'3..n peraturan per-
~ldang-u~Gangan Republik Indonesia dan dengan hakum internasional.
Pasal 14
Pengaturan-pengatur~n di Bidanq Perikanan
1. Tanpa ~engurangi kctentuan-ketentuan ayat 1 Pasal 13 dan u~~uk maksud-maksud ayat 2(e) Pasal 2, Republik Indor:.esia C.an Nalaysia •,...ajib !:1-::0mbuat pengaturan-peng-
atura~ tentang hal-hal berikut
(a) · Felaksanaan secara benar dan rasional dari hak penangkapan ikan tradisional dari nelayan-nelayan tradisional Malaysia· di Daerah Pe~ikanan;
( D .
. '
pelan~qaran hukum karena kelalaian di lautt e r r i t o r i a l da~ per~iran nusanta~a Republik
Indcn~sia yang terletak di antara Malaysia Tirour dan Malaysia Barat yang dilakukan oleh kapal-kapal penangkap ikan tradisional Malaysia; dan
•
I c) penggunaan pulau-pulau Indonesia tertentu untuk perlin6ungan sernentara bagi per2hu-perahu penangkapikan tradisional Malaysia dan nelayan-nelayan
cradisional Malaysia yang bex:ada dalam kesulitan dan untuk perbekalan pe=ahu-pe=ahu penangkap ikan
t~a~isional Malaysia di dalam keadaan darurat.
I
15
BAGIAN VI KABEL-KABEL DAN FIPA-PIPA BAWAH LAUT
Pasal 15
Eaic untuk He:::;:asana dan Heroe1 ihar·a· Tabe·l--kabe1 dan Pina-Pi~a Bawah Laut
1. Tanpa mengurangi ketentuan-ketentuan Konvensi c.papun yang ber~ubungan dengan adanya, perlindungan, pemeli- haraan, perba~kan dan penggantian kaQel-kabel dan pipa-pipa bawah !aut di laut territorial atau di per- airan nusantara, dan sesuai dengan ayat 2(f) Pasal 2,
•
Malaysia baik olehnya sendiri maupun oleh warganegara- warganegaranya atau be~sarna dengan warganegara-warga- negara, perus_;;.haan-perusahaan atau Pemerintah Negara- negara ketiga dengan siapa Pemerintah Malaysia telah membuat per~ec:.ujuan untuk rnaksud-maksud te!:"sebut,
setelah m-enya::~.paikan pemberi tahuan dengan layak, harus cii i j ir.kan I:J.eu..ga:mb.il langka·a-langk ah sebagai
be
r .ik u t(a) Mengadak~n survai tentang rute kabel-kabel dan pipa-pipa untuk tujuan pemasangan kabel-kaDel atau _pipa-pipa bilwah laut selain dari kabel- kabcl jan pipa-pipa bawcth laut yang telah ada;
(~) 'lemeseng kebel-kebel den pipa-pipa ba'Hh laut selain darlpada ka~el-kabel dan pipa-pipa bawah laut yang telah ada melalui laut territorial dan perairan nusantara Republik Indonesia yang ter- letak di antara· Halaysia Timur dan 1'-~alaysia
B.:crat; dan
(c) Hak akses yang cepat dan tidak terhalang pada kabel-kabel dan pipa-pipa bawah laut untuk :r.aksud-maks u.d pemeriksaan, perlindungan,
pemeliharaar., perbaikan dan penggantian.
I
16
2. Unt:1k maksud-maksud ay&t l(a) Pasal ini pemberitahuan yang layak_ waj ib diberikan kepada pejabat Republik Indo!l_esia yang berwer..ang .:1ala::;. wa.::!-ctu tidak kurang C.ari enanpuluh hari sebelum kegiatan-kegiatan rn~nurut ayat tersebut nulai dilakukan. Pe~berltahuan d~ikian akan diangg-ap sudah disampaikan b i l a Republik Indonesia telah menyampaika.n berita penerimaan pcroberitah'..l.:o_n tersebut mela~ui saluran diplomatik, dengan ketentuan bahwa berita penerimaan tersebut wajib dibuat dala~
waktu tigapuluh hari terhitung sajak tanggal pemberi- tahuan termaksud.
3. Untuk maksud-maksud ayat l(b) Pasal ini
4 .
(a} Pemberitahuan yang layak wajib diberikan kepada pejabat-pejabat Republik InConesia yang be.rwenan<r dalaQ ~aktu tidak kurang dar1 enam bulan sebelum kegiatan-kegiatan msnuru-t a~at tersebut dimulai;
(b) Pemberitahuan tersebut akan 2iaTiggap sudah di- sampaikan bila Republik Indonesia telah menyaspai- kan berita penerimaan pemberitahuan demikian
melalui saluran diplomatik, dengan ketentuan bahwa
j<'~ngka waktu tigapuluh hari tcr.hitung sej a!c tanggal pernbe r i tah-uan;
•
(c) Pejabat-pejabat Malaysia yang berwenang wajib meng- adakan konsul~asi-konsultasi dengan peja~at-pejabat
Republik I~donesia yang berwenang berkenaan dengan lokasi kabel-kabel dan pipa-pipa bawah laut yang ekan dipasang sebelurn pemberitahuan tersebut di- sampaikan dan konsultasi-konsultasi termaksud wajib diadakan dalam waktu yang wajar.
Unt~k ~aksud-maksud ayat l(c) Pasal ini, l.S<-J...,_a .. • _._., t.. "pen-
be~itahuan yang layak'' akan dlanggap sudah diberikan
II ,,
'I
17
bila Republik I~donesia telah dibe~itahu dengan layak melalui saluran diplomatik.
Perlir;_dungan atas Kabel-kabel dan Pina-~ina -
-
~Ea.wah Laut
l . Dalam melaksanakan hak-haknya berdasarkan kedaulatan-, nya berkenaan· dengan eksplnrasi dan eksplaitasi sumber daya alam di laut territorial dan perairan nusantara Republik Indonesia yang terletak di antara Malaysia Timur dan Malaysia Barat dan dasar laut serta tanah di bawahnya, Republik Indonesia wajib menghormati hak Malaysia untuk memasang, m~melihara, melindungi, memeriksa, mernperbaiki dan ~engganti kabel-kabel dan pipa-pipa ~awah laut.
2. Republik Indonesia waji:O .mengambil tindakan-tindakali yang rnungkin diperlukan, t=r:nasuk tind2:.kan-tindakan
legislatif, guna pe:lindungan kabel-kabel dan pipa- pipa bawah laut ~ilik Malaysia di laut territorial dan pe~airan nusa~tara Republik Indonesia yang terletak di antara Ma12ysia Tinur Can Malaysia Barat dan dasar laut
sert~ tanah dibawahnya.
3. Untuk tujuan p~rlindungan kabel-kabel dan pipa-pipa bawah laut yang tersebut dalaw Ba_gian ini akan diadakan
•
jalur-jalur keselamatan yang akan ditetapkan dengan m-engingat hukum dan p::::aktek-praktek internasional .
?asal 17 Kc...,·.aj iban-k.ewaj i::::.a~
Kabel-kabel dan pip~-pipa bawah laut
l , Pe~erintah ~aldvsia waji~ menjamin bahwa pemasangan
I
kabel-~abel dan pipa-pipa sebagaimana diatur dalam ayat 2(£) ?asal 2 dan Fasal lS :?erjanjia:1 ir.i tidak
=elanggar atau mengakibatkan ga~ggua~ te=hadap eksplorasi dan eksploitasi su~ber daya ~ineral di dasar laut laut t e r r i t o r i a l dan peraira~ nusantara Republik Indonesia yang terletak dian~ara Malaysia
~imur dan Malaysla Barat yang dilakukan oleh atau atas nama Pemerintah Republik Indonesia sesuai
dengan peraturan perundang-undangan Rep~lik Indonesia dan hukum internasional.
2. Pemerintah Malaysia wajib rnenganbil tindakan-tin~akan
yang perlu untl!k mencegah, mengurangi dan menanggu-, langi pencemaran yang berasal dari kabel-kabel dan pipa-pipa bawah laut.
Pasal 18
Peningkatan dan Pemeliharaan Hukum dan Ke~ertihan
Untuk maksud-rnaksud ayat 2{g) Pasal 2 Perjanjian
l~l, Pihak-pihak yang Berjanji wajib, rnelalui pengaturan-
pengatu~an bilateral yang disetujui, bekerjasama dalam usaha peningka~:an dan pemeliharaan hukum dan ketertiban di laut 1:'2r:r:i.tcri.al Can perairan nusanta::::-a Repuhlik
Indonesia dan di l~ut t e r r i t o r i a l Malaysia yang terle=ak di antara Malaysia Timur dan Malaysia Barat.
•
BAGIJI..N VIII PENCAHARIAN DAN PENYELAMATAN
Pas2.1 19
Koord1nasi dan Kerjasama di bida~g
Pencah?..rian dan Per-tolong_an
1. Untuk maksud-maksud ayat 2(h) Pasal 2 Perjanjian ini,
/
19
Republik Indonesia dan Malaysia wajib mengadakan ko- ordinasi dan bekerjasama melalui kansultasi-konsultasi untuk memungkinkan Malaysia melakukan opera-si-operasi pencaharian dan pertolongan di laut territoria~ dan perairan nusa:1.tar.-a. P.epubli:'< Indonesia dan n . .:;:a:;.g udara di atas laut t e r r i t o r i a l , perairan nusantara dan wilayah Repub~ik Indonesia yang terletak di antara Malaysia Timur dan Malaysia 3arat untuk setiap kapal- kapal Pemerintah Malaysia, kapal-kapal dagang, kapal- kapal penangkap ikan, perahu-perahu penangkap £kan tradisional, kapal-~apal penangkap ikan asing sebagai- mana dimaksud Calam Pasal l, pesawat udara Nega'ra Malaysia;.
pesawat udara sipil, serta untuk awak kapal, penumpang dan baz:ang angkutan dari kapal-kapal, perahu-perahu atau pesawat udara tersebut.
2. Koordinasi dan kerjasama sebagaimana diatur dal2m ayat l Pasal ini harus didasarkan pada pengaturan- pengaturan bilateral dan perjanji~n-perjanjian
multilateral baik regional maupun global.
3AGIAN IX PENELITIAN ILMIAH TENTANG KELAUTAN
Pasal ?Q
KPriasama dalam Penelitian Ilwiah
Untuk maksud-maksud ~yat 2(i) Pasal 2 Perjanjian ini, Pihak yang Berjanji dapat, atas perrnintaan Pihak yang Berj anj i lainny-a, dan-- melalui pengaturan-penga t·uran
bilif.tera.l yang dise_pakati, menga:a--a-Jcan kerjasama mengenai penelitian ilmiah tentang kelautan di !aut t e r r i t o r i a l dan perairan nusantara Republik Indonesia dan di laut t e r r i t o r i a l Malaysia yang terletak di antara Malaysia
I
Timur dan Malaysia Barat.
BAGIAN X TANGGUNGJAW~B INTERNASIONAL PIT3LI~
DAN TANGGUNGIAWAE ?E~DATA
Pasal 21
Tanggungiawab Internasional Publik dan Tanggunqj awab Pe...-data
1. Setiap Pihak yang Eerjanji wajib memikul tanggungjauab internasional publik baqi setiap perbuatan yang dilaku- kan atau ·bagi setiap kelalaian yang bertentangan dengan Perjanjian i n i a:tau hukum internasional yang menc;a](.ib3.t- kan kerugian atau kerusakan pada Pihak yang Eerjanji ,
..
lainny~, dan harus·bertanggungjawab secara perdata sesu.ai deng-an hukum internasional.
2. Malaysia wajib me!nikul ta_nggungjav.·ab i·ntern2.sio::-;al
publik atas kerugian atau kerusakan apapun yang diderita oleh Republik Indonesia yang disebabkctn oleh kapal a~au
pesawat udara Malaysia yang memiliki kekebalan berdaulat yang melakukan tindakan secara bertentang-an dengan
ketentuan-Ketentuan PerJanjian ini atau peraturan per- undang-unclangan ?.epubli"- InC.onesia yar:.g sesuai_den;a::1 ~uk~
internasional,itau dengan hukum internasional_
BAGIAN XI KETENTUAN-KETENTUAN UMUM
•
Pasal 22Lara~an Mengalihkan Hak-hak KepaCa Pihak Ketig~
Dangan tunduk pada ketentuan-ketentuan Perjanjian
ln~, Malaysia dilarang rnengambil tin2akan apapun yang meng- akibatkan pcngalihan hak-hak dan kepent~ngan-kepentingan
21
yang sah manapun lainnya yang diatur dalam Fe~janjian ini kepada pihak ketiga.
Pas~l 23
Konsultasi-konsultasi
Kedua Pihak yang Berjanji wajib, atas permintaan salah-satu Pihak yang Berjanji, mengadakan konsultasi- konsultasi berkenaan Cengan penerapan dan pelaksanaan Perjanjian i~i.
Pasal 24
Penyel~saian Sengketa
Jika timbul sengketa antara para Pihak yang Bcr- janji berkenaan dengan penafsiran atau penerapan Perjan-1 jian ·ini, para Pihak yang Berjanji wajib secepatnya rneng- adakan pertukaran pariCangan tentang penyelesaian sengketa tersebut melalui perundingan-perurldingan atau cara-cara damai lainnya sebagaiw0na diatur dalarn Bab IV Perjanjian ASEAN tentang Persa~abatan dan Kerjasama di Asia Teng~zra
BAGIAN XIi ~ETENTUAN-KETENTUAN PENUTUP
Pasal 25
•
K~tentuan-ketentuan Penutup1. Perjar:jian ini ha=us disdhkan sesuai dengan syarat-
syarat konstitusional masing-masing Pihak yang Berjanji.
2. Perjanjian ini akan mulai be~laku pada tanggal per- tukaran piaga~-piagam pengesahannya.
I
I I
3. Perjanjian ini, pada waktu mulai berlaku, wajib di- daftarkan sesuai dengan Pasal 102 Piagam PSB.
4. SEEAGAI BUKTI, yang bertandatangan di bawah ini,
yang telah di..beri kuasa s-ecara l.ay-3.k oleb Pcmerintah- nya masing-masing, telah menandatangani Perjanjian in-i.
5. DI3UAT di Jakarta pada tanggal 25 Pebruari 1982 dalaro rangkap t l g a dalam Bahoasa Indonesia, Bahasa Malaysia dan Bahasa Inggeris.
Dalam hal terdapat perbedaan penafsiran, maka naskah Bahasa Inggeris .yang diberlakukan.
UNTUK FEMERINTAH UNTUK PEMERINTAH.
REPU~LIK INDONESIA MALAYSIA
{PROF. D'R.. M.OCHTAR KUSUMAATMl'.DJA)
Menteri Luar Negeri Menteri Luar Negeri
•
,,
,, '.J
"
''
.
' '..
'
I '! 'I
·I ..
. ,
. ..
•, I•
. . .
~.
•,'.
•. .
• .,,,
•' •.,, 'a
'
.
'
' '
!
''
. .
!
•
.
, .
·. ' ..
:: .. :rh:·::·ii:
. '
" I
-- .
... .. .f." f
"
:;
.. ·[··:
·:'
~.
~.. . .
.
'"
to;',·•..
:
. ,, .. .
. . . .
'j ...
,,
"
I '
...
'
• •
. .
"
'' . .. ..
•
.. . . . . .
. . ...
'•
.
. .
'I
I
. ..
'•,
. .
' ..
·.:·~:
..
' ,. .. . . ... .
".
. . ..
~
.
•:• ,. ·~·
. . . . . . .. . . . .
'
---·---~
•
.
• i•i•
,,
"
'!·:·: ...
"•';' '•
"
. .. , .
. .. "
. '
. . "
••
••
.
.
•.
• •
•
..
··'•
.
•.
•. •
...
• • •
'
..
• '
• •
•
.
I
j
~•
•
.
./ .
~
"'
•!
l
. .
•..
•.
•.
'
.
'
•• •
,,_ •
.. .
..
'
r..
I
"
! f •
I
' ' I \.,
' '
'•
.
\•
..
•. l
•
' •
. . . ..
•
T RI T I
ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN
MALAYSIA BERHUBUNG DENGAN REJIM UNDANG- UNDANG NEGARA KEPULA UAN DAN HAK-
HAK MALAYSIA DI DALAM LA UT WILA YAH DAN PERAIRAN KEPULAUANDAN JUGA DI RUANG UDARA DI
ATAS LA UT WILA YAH, PERAIRAN KEPULA UAN DAN WILAYAH REPUBLIK INDONESIA YANG TERLETAKANTARA
MAI....!I..YSJA TIMUR DAN MALAYSIA BARA T
REPUBLIK INDONESIA DAN MALAYSIA (kemudian dari ini di- sebut ''Pihak-Pihak Pejanji
..
11) .DENGAN 1\dEI\i"'MBANGKAN dasar Kerajaan W~laysia untuk rnenyokong rejim undang-undang Negara Kepulauan Kerajaan Republik Indonesia,
DENGAN MENGAMBIL PERHATIAN bahawa pemakaian rejim undang-undang itu oleh Kerajaan Republik Indonesia akan sungguh-sungguh menjejaskan hak-hak sedia ada dan lain-lain kepentingan sah yang secara tradisional digu.na oleh Malaysia,
DENGAN MEI\liMBANGKAN dasar Kerajaan Republik Indonesia 1:ntuk ~engi~_tire3:! dan menghormati hak-hak sedia ada dan lain-lain kepentitlga.n sah J"'ang secara tradisional diguna
'
I
oleh Malaysia di d~m laut wilayah dan perairan kepulauan
I
dan juga diruang udara di atas laut wi.layah, peraira.n.kepula.uan dan wilayah Republik Indonesia yang terletak antara Malaysia Tiinur dan Malaysia Barat.
DENGAN :MENGAMBIL ingat perkembangan Undang- undang La.ut berhubung dengan rejim undang-undang Negara kepula.uan,
DENGAN NIENGAAmiL PER.HA TIAN bahawa sebahagian perairan kepulauan Republik Indonesia terletak anta.ra Malaysia Timur dan Malaysia Ba-rat dan be-rhasrat" hendak
m.embuat
per- janjian dwipihak untuk meneta.p dan mengawal hak-hak dan kepentingan-kepentingan tradisional Malaysia di dalamnyaseba.gaimana diharapkan menurut Dra£ Konvensyen Undang- Undang Laut yang disediakan oleh Persidangan Bangsa-Bangsa Bersatu
Ketiga
.mengenai Undang- Undang Laut,BERKEYAKINAN beta.pa perlunya mencapa.i penyelesaian
I .
yang adil dan :saksarna tentang masalah-masalah yang berbangkit
·da-ri -peinakaian Tejim .undang-::undang Ne-ga-:r:a J...epulauan,
,'ll ~ I I . : .r,.·t-4 'J .. /J_,f:,.,
. '
MEMUTUSKAN untuk membuat suatu triti dwipihak menurut Memorandum Perse:fa:haman
'
yaD.g dibua.t pada Z7hbJ:ulai 1976 bagi maksud menghul-aikan syarat- syarat Memorandum Persefa.haman tersebut,
lv.IENYEDARI akan kerjasama rapat dan penyelarasan
~-, 4
yang wujud antara kedua-dua negara berasaskan dasar berjiran--- -~~-' (.
yang sempurna dan Triti ASEAN mengenai Persahabatan dan Kerjasama di Asia T·enggara ta.hun 1976,
3 -
BER.HASRAT hendak memajuka.n lagi kerjasama dan peny:elarasan itu,
\ ' , r.
q;'{'•)/:YI .
TELAH BERSETUJU SEPERTI BERIKUT:-BAHAGIAN I AM
Artikel 1
Takrif
Bagi maksud Triti ini:
1; "perairan kepulauan Republik Indonesia 11 ertinya semua perairan yang -l:erkepung oleh garis asas kepulauan yang digaris mengikut undang-undang dan peraturan-peraturan Republik Indonesia dan menepati undang-undang antarabangsa;
\"'I: • \ i"'\ )1-·}f'/\ .. ,
L -J"' ,
2. "laut wilayah Republik Indonesia
,,
11 ertinya kawasan laut yang bersempadanan dengan garis asas kepulauan yang digaris mengikut undang-undang dan peraturan-peratu:ran Republik Indonesia dan menepati undang-undang antarabangsa, dan luas- nya ialah dua bela s batu nautika yang diukur dariI "
<J ·\.'
.vvv'-\_
garis asas itu;
3. "kapa.l Kerajaan11 ertinya vesel yang dipunyai atau diguna oleh Kerajaan Malaysia, termasuk kapal tentera laut, yang di- kendalikan bagi rnaksud rasmi dan bukan-perniagaan;
4. 1'kapal saudagar11 ertinya vesel yang didaftarkan a tau dile,senkan mengikut undang-undang dan peraturan-peraturan
\ :'
·~·
yang berkUatkuasa di .:Malaysia yang dikendalikan bagi maksud
'
perdagangan, terrnasuk vesel saudagar negara asing;
5. 11pesawat udara Negara11 ertinya pesawat udara yang
dipunyai atau diguna oleh Kerajaan :Malaysia~ terrnasuk pesawat udara yang diguna dalam perkhidmatan tentera, kastam dan
polis dan lain-lain pesawat udara yang diguna bagi maksud rasmi atau buk:an-perdagangan;
6. 11pesawat udara awam11 ertinya semua pesawat udara, selain dari pesawat udara Negara, yang didaftarkan a tau di- lesenkan. mengik:ut undang-undang dan peraturan-peraturan
- ---·- -.. ·--'~·-'--
yang berkuatkuasa di·l-.ialaysia;
-~' -- -·
---·--
7 ~ 11penangkapan ikan secara tradisional" ertinya penangkapan ikan oleh-nelayan tradisional Malaysia dengan mengguna cara-
cara tradisional di kawasan-kawasan tradisional di dalam laut wilayah dan p~rairan kepulauan Republik Indonesia'yang ter-
letak anta.ra M3.laysia Timur dan :Malaysia Barat sebelum pemakaian 1
Rejim•Undang-- Undang Negara Kepulauan Indonesia;
8. 11nelayan tradisioiUln ertinya nelayan Malaysia yang, sebagai nafkah hidup mereka yang utama? melibatkan diri secara lansung dalam penangkapan ikan secara tradisional di dalam Kawasan Menangkap Ik.an yang ditetapkan dan di sebut da:'.am perenggan Z(e) Perkara 2 Triti ini;
6
2. Walau apa pun. peruntukan paragraf 1 Artikel ini dan tertakluk kepada peruntukan-peruntukan Triti ini, Republik Indonesia hendaklah terus menghormati hak-hak sedia ada dan lain-lain kepentingan sah yang Malaysia telah secara tradisional mengguna di dalam laut wilayah dan perairan kepulauan dan
juga ruang udara di atas laut wilayah, perairan kepulauan dan wilayah Republik Indonesia yang terletak antara lvialaysia Timur dan Malaysia Barat, terdiri daripada berikut:
(a) bak akses dan komunikasi bagi kapal kcrajaan rnelalui Koridor-Koridor ditetapkan yang ditanda dengan satu siri garisan paksi yang berterusan, dalam Pera terlampir kepada Triti ini sebagai Lampiran I (kemudian dari ini disebut
11Koridor11) , iaitu
(i) Koridor I sebagaimana ditetapkan mengikut Paksi I;
{ii) Koridor II sebagaimana ditetapkan mengikut Paksi II;
(b) hak akses dan komunL1<_asi bagi kapal saudagar dan vesel penangkap ikan, termasuk vesel penangkap ikan negara asing, melalui Koridor-Koridor itu;
(c) hak akses dan kornunikasi bagi pesawat udara Negara;
(d) hak akses dan komunikasi bagi pesawat udara a warn;
(e) hak menangkap ikan secara tradisional oleh nelayan tradisional Malaysia di dalam kawasan ditetapkan sebagaimana ditanda dalam Peta terlampir kepada Triti ini sebagai Lampi ran II (kemudian dari ini disebut 1'Kawasan Menangka p Ik.an 1' ) ;
(f) kepentingan sah berhubung dengan kabel dan talian paip bawah laut yang ada, dilindungi, diperiksa,
disenggara, dibaiki dan diganti yang sedia terletak di situ dan pernasangan kabel dan talian paip lain di dalam laut wilayah dan perairan kepulauan Republi.k. Indonesia yang terletak antara Malaysia Timur dan Malaysia Barat dan da sa r la ut dan tanihnya;
(g) kepentingan sah dalam mernaju dan menjaga undang-undang dan ketenteraman menerusi kerjasama dengan pihak-pihak berkuasa Kerajaan Republik Indonesia yang ber- kenaan di dalam laut wilayah dan perairan kepulauan Republik Indonesia dan di dalam laut wilayah Malaysia yang terleta.k antara Malaysia Timur dan lvialaysia Barat;
(h} kepentingan sah untuk rnenjalankan kerja-kerja penyelidikan dan 'Penyelarnatan, menerusi penyelarasan dan kerjasama dengan pihak-pihak berkuasa Republik Indonesia yang berkenaan, di dalam laut wilayah dan perairan kepulauan dan juga di ruang udara di atas laut wilayah, perairan
kepulauan dan wilayah Republik Indonesia yang terletak antara Malaysia Timur dan lvialaysia Barat; dan
8
(i) kepentingan sah untuk bekerjasama dengan pihak- pihak berkuasa Kerajaan Republik Indonesia ·yang berkenaan pada menjalankan penyelidikan saintifik lautan di dalam laut wilayah dan perairan kepulauan Republik Indonesia :1an di dalam laut wilayah Malaysia yang terlet.:ck an tara Nialaysia Timur da•1. 1\.fulaysia Barat bagi maksud-maksud yang secara lansung ada kaitan dengan langkah-langkah untuk melindungi dan mcmelihara keadaan persekitaran lautan.
Artikel 3
Kewa jipan- kewajipan Republik Indonesia dan Malaysia
1. Pada mengguna hak-hak dan memajukan kepentingan- kepentingan sah mengikut peruntukan-peruntukan Triti ini, Malay5ia hendaklah:
(a) jangan melakukan apa-apa pengancaman atau penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah, kebebasan· politik dan keselamatan Republik Indonesia, atau dengan apa jua cara lain apa-apa pelanggaran ter- hadap prinsip-prinsip undang-undang antara- bangsa yang terrr...akh.1b dalam Piagam Bangsa-
Bangsa Bersatu;
(b) mengambillangkah-langkah yang perlu untuk mencegah, mengurangkan dan mengawal pencemaran alam sekitar lautan dari apa jua punca;
(c) mematuhi undang-undang dan peraturan- peraturan Republik Indonesia yang tidak konsisten dengan peruntukan-peruntukan Triti ini,
2. Tertakluk kepada peruntukan-peruntukan Triti ini, hak akscs dan komunikasi yang boleh diguna oleh Malaysia di bawah Triti ini tidak boleh digantung a tau diganggu.
BAHAGIAN II - KAPAL-KAPAL KERAJAAN DAN SAUDAGAR
Artikel 4
Kapal-Kapal Kerajaan
1. Hak akses dan komunikasi yang boleh diguna oleh kapal- kapal tentera laut di bawahArtikel 2 hendaklah, berhubungan dengan akses dan komunikasi itu, terdiri daripada yang be:rikut:
(a) hak navigasi terus-menerus, cepat dan tanpa gangguan melalui Koridor-Koridor itu;
(b) hak menjalankan tnanuver tentera laut termasuk latihan taktik, manakala belayar melalui
Koridor-Koridor itu, dengan syarat bahawa dalam rna sa menjalankan latihan taktik itu sebarang letupan senjatapi tidak dibenarkan.