• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL PENELITIAN. Oleh: HALIMAH AR PUTRI K PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROPOSAL PENELITIAN. Oleh: HALIMAH AR PUTRI K PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA POKOK BAHASAN BANGUN RUANG SISI DATAR DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 5 DEPOK SLEMAN

TAHUN AJARAN 2021/2022

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh:

HALIMAH AR PUTRI K1319034

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA November 2021

(2)

ii

PENGESAHAN SKRIPSI Nama : Halimah Ar Putri

NIM : K1319034

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dan “Two Stay Two Stray (TSTS)” dengan Pendekatan Kontekstual pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 5 Depok Sleman. Tahun Ajaran 2021/2022

Skripsi ini telah dipertahankan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unversitas Sebelas Maret Surakarta pada hari ……… tanggal …... dengan hasil

……… dari revisi maksimal …… bulan. Skripsi telah direvisi dan mendapat persetujuan dari Tim Penguji.

Persetujuan hasil revisi oleh Tim Penguji

Nama Penguji Tanda Tangan Tanggal

Ketua : Nama Ketua Penguji ………. ……….

Sekretaris : Nama Sekretaris Penguji ………. ……….

Anggota I : Nama Anggota Penguji ………. ……….

Anggota II : Nama Anggota Penguji ………. ……….

Skripsi disahkan oleh Kepala Program Studi Pendidikan Matematika pada

Hari :

Tanggal :

Mengesahkan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Unversitas Sebelas Maret

Dr. Mardiyana, M.Si.

NIP. 196602251993021002

Kepala Program Studi Pendidikan Matematika

Dr. Triyanto, S.Si., M.Si.

NIP. 19720508199802

(3)

iii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PENGESAHAN... .... ii

DAFTAR ISI... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 3

C. Pembatasan Masalah ... 4

D. Rumusan Masalah ... 4

E. Tujuan Penelitian ... 5

F. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS A. Kajian Pustaka... 7

1. Prestasi Belajar Matematika... 9

2. Model Pembelajaran... 11

3. Pendekatan Kontekstual ... 13

4. Gaya Belajar ... 17

5. Tinjauan Materi ... 20

B. Kerangka Berpikir ... 23

1. Kaitan Model Pembelajaran dengan Prestasi Belajar Matematika pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar ... 23

2. Kaitan Gaya Belajar dengan Prestasi Belajar Matematika pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar ... 24

3. Kaitan Masing-Masing Model Pembelajaran dengan Gaya Belajar Siswa ... 25

4. Kaitan Masing-Masing Gaya Belajar Siswa pada Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dengan Pendekatan Kontekstual, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw, dan Model Pembelajaran Langsung ... 26

C. Hipotesis ... 29

(4)

iii

BAB III METODE PENELITIAN ... 38

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 38

1. Tempat Penelitian... 38

2. Waktu Penelitian ... 38

B. Desain Penelitian ... 40

1. Jenis Penelitian ... 40

2. Rancangan Penelitian ... 40

3. Variabel Penelitian ... 43

C. Populasi dan Sampel ... 44

1. Populasi ... 44

2. Sampel ... 44

D. Teknik Pengambilan Sampel... 44

E. Teknik Pengumpulan Data ... 44

F. Teknik Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 46

G. Teknik Analisis Data ... 52

H. Prosedur Penelitian... 64

DAFTAR PUSTAKA ... 83

LAMPIRAN ... 86

(5)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan kehidupan yang kian beragam membutuhkan manusia- manusia yang mampu menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan nyata yang semakin kompleks. Cara yang dapat ditempuh untuk membentuk manusia yang berketerampilan menyelesaikan masalah kehidupan nyata ini yakni melalui proses pendidikan, terutama pendidikan yang terwujud dalam bentuk sekolah.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut pemerintah telah menyelenggarakan perbaikan peningkatan mutu pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang, tetapi kenyataannya belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Matematika adalah mata pelajaran yang tidak dapat dilepaskan dari dunia pendidikan. Matematika menjadi pelajaran wajib yang dipelajari di sekolah dasar, sekolah menengah atau bahkan perguruan tinggi. Pelajaran matematika sering kali kurang diminati oleh siswa, banyak siswa beranggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang menakutkan, sulit, membosankan dan menyebabkan stres.

Anggapan siswa terhadap matematika menyebabkan banyak siswa yang memiliki prestasi belajar matematika yang belum memuaskan dan hanya sebagian kecil siswa yang memiliki prestasi belajar yang memuaskan.

Geometri merupakan cabang matematika yang menempati posisi penting untuk dipelajari karena geometri digunakan oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari (Walle dalam Abdussakir dan Nur Laili Achadiyah, 2009: 388).

Kurangnya siswa dalam memahami geometri, membuat siswa tidak dapat mengembangkan diri. Fakta-fakta yang menunjukkan rendahnya penguasaan geometri baik di Indonesia maupun di luar negeri dimana hasil yang ditunjukkan bahwa banyak siswa SLTP dan SLTA kurang memahami konsep-konsep geometri.

Masalah prestasi belajar matematika siswa yang belum memuaskan ditemukan di SMP Negeri 5 Depok. Hal ini dapat dilihat dari prestasi belajar matematika siswa SMP Negeri 5 Depok pada hasil total rerata Ujian Nasional

(6)

SMP/MTs tahun 2019. Rerata nilai ujian nasional Matematika sebesar 77,64 ini merupakan nilai yang cukup rendah di Yogyakarta.

Berdasarkan observasi di sekolah, rendahnya pemahaman konsep disebabkan oleh beberapa faktor baik faktor internal maupun eksternal. Faktor internalnya antara lain motivasi belajar siswa, kreativitas siswa, gaya belajar siswa, dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternalnya antara lain model pembelajaran, lingkungan sekolah, dan lain-lain. Model pembelajaran merupakan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Pendekatan pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu strategi pembelajaran, metode pembelajaran dan teknik pembelajaran. Berbagai pendekatan pembelajaran yang berkembang saat ini diantaranya adalah kontekstual. Pendekatan kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang real bagi siswa, menekankan keterampilan process of doing mathematics, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri (student inventing sebagai kebalikan dari teacher telling) dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok.

Pembelajaran matematika di kelas seharusnya ditekankan pada keterkaitan antara konsep-konsep matematika dengan pengalaman siswa sehari- hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Westera (2011: 202) yang menyatakan dasar dari pembelajaran kontekstual atau pembelajaran berbasis konteks adalah bahwa belajar tidak dapat terjadi dalam ruang hampa, tapi harus dihubungkan dengan dunia nyata. Pendekatan kontekstual menuntun siswa untuk memperoleh pengetahuan yang bermakna, sehingga siswa merasa akrab dengan matematika dan menimbulkan minat serta motivasi dalam penguasaan materi.

Selain faktor eksternal, terdapat faktor internal yang memepengaruhi prestasi belajar siswa salah satunya adalah gaya belajar. Gaya belajar dibedakan ke dalam tiga tipe, yaitu visual, auditorial, dan kinestetik. Siswa dengan gaya belajar visual belajar melalui apa yang mereka lihat, siswa dengan gaya belajar auditorial belajar melalui apa yang mereka dengar, dan siswa dengan gaya belajar kinestetik belajar melalui gerakan dan sentuhan. Setiap siswa memiliki ketiga gaya belajar tersebut, namun kebanyakan siswa lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya untuk mempermudah siswa dalam belajar. Tidak semua guru maupun siswa mengenali gaya belajar masing-masing sehingga mereka belum mampu

(7)

memaksimalkan proses belajar yang dimilikinya maka siswa dapat menentukan cara belajar yang efektif, mampu memanfaatkan proses belajar yang dilaluinya.

Dengan menggali gaya belajar siswa, maka belajar menjadi lebih efektif sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran dan mampu meningkatkan prestasi belajar matematika.

Sekarang ini masih banyak ditemukan model pembelajaran yang berpusat pada guru salah satunya model pembelajaran langsung. Model pembelajaran langsung yang cenderung memberikan materi melalui ceramah akan memudahkan bagi siswa dengan gaya belajar auditorial karena dengan mendengarkan siswa dapat dengan mudah memahami materi yang dipelajari, sedangkan bagi siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik kurang mendapat kesempatan mengembangkan pemahamannya, sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual dirasa mampu memberi kesempatan semua siswa untuk mengembangkan pemahaman siswa. Siswa dengan gaya belajar visual akan maksimal dengan LKPD dalam pembelajaran, siswa dengan gaya belajar auditorial akan menerima informasi dengan diskusi dan presentasi, dan siswa dengan gaya belajar kinestetik akan bisa dioptimalkan dengan LKPD. Hal ini menarik untuk dilakukan penelitian tentang model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual ditinjau dari gaya belajar siswa pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar kelas VIII SMP Negeri 5 Depoktahun pelajaran 2021/2022..

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:

1. Rendahnya prestasi belajar siswa pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar pada kelas VIII SMP Negeri 5 Depok disebabkan karena model pembelajaran yang digunakan oleh guru yaitu model pembelajaran langsung.

Pada model pembelajaran tersebut guru menyampaikan materi secara langsung sehingga siswa kurang berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Terkait dengan ini muncul pertanyaan apakah jika model pembelajaran diubah maka prestasi belajar matematika siswa akan menjadi lebih baik. Untuk itu dapat dilakukan penelitian dengan memilih model pembelajaran yang lainnya.

2. Prestasi belajar matematika siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah gaya belajar. Gaya belajar siswa dikelompokkan menjadi

(8)

tipe auditorial, visual dan kinestetik. Gaya belajar visual menggunakan indera pengelihatannya untuk belajar. Gaya belajar auditorial memanfaatkan kemampuan pendengaran untuk mempermudah proses belajar. Gaya belajar kinestetik menggunakan fisiknya sebagai alat belajar yang optimal. Suatu pertanyaan yang menarik untuk dijadikan bahan penelitian, dengan adanya perbedaan gaya belajar akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa matematika.

3. Rendahnya prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar bisa disebabkan karena kurangnya perhatian guru terhadap gaya belajar siswa. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian penggunaan model penbelajaran kooperatif yang mengoptimalkan gaya belajar.

4. Pendekatan kegiatan pembelajaran matematika yang dilakukan masih kurang kontekstual sehingga pembelajaran kurang bermakna dan sekedar menghafal rumus-rumus saja.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka pembatasan masalah yang diperlukan agar penelitian yang dilakukan dapat lebih terarah dan mendalam adalah sebaagai berikut:

1. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual dan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada kelas eksperimen dan model pembelajaran langsung pada kelas kontrol.

2. Gaya belajar peserta didik dibatasi pada tiga kategori yaitu gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik.

3. Prestasi belajar siswa dibatasi pada prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Depok tahun pelajaran 2021/2022 pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, pembatasan masalah yang telah dilakukan, maka penelitian ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Manakah yang memberikan hasil belajar bangun ruang sisi datar lebih baik, antara model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual, model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, dan model pembelajaran langsung?

(9)

2. Manakah yang memberikan hasil belajar bangun ruang sisi datar lebih baik, antara siswa yang memiliki gaya belajar auditorial, gaya belajar kinestetik, dan gaya belajar visual?

3. Pada masing-masing model pembelajaran (model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual, model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, atau model pembelajaran langsung), manakah yang memiliki hasil belajar bangun ruang sisi datar lebih baik, antara siswa dengan gaya belajar auditorial, kinestetik, dan visual?

4. Pada masing-masing gaya belajar (auditorial, kinestetik, atau visual), manakah yang memberikan hasil belajar bangun ruang sisi datar yang lebih baik, antara siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual, model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, dan model pembelajaran langsung?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yan telah diuraikan di atas, tujuan peneltian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui manakah yang memberikan hasil belajar bangun ruang sisi datar lebih baik, antara model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual, model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, dan model pembelajaran langsung.

2. Untuk mengetahui manakah yang memberikan hasil belajar bangun ruang sisi datar lebih baik, antara siswa yang memiliki gaya belajar auditorial, gaya belajar kinestetik, dan gaya belajar visual.

3. Untuk mengetahui pada masing-masing model pembelajaran, manakah yang memiliki hasil belajar bangun ruang sisi datar lebih baik, antara siswa dengan gaya belajar auditorial, kinestetik, dan visual.

4. Untuk mengetahui pada masing-masing gaya belajar, manakah yang memberikan hasil belajar bangun ruang sisi datar yang lebih baik, antara siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual, model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, dan model pembelajaran langsung.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

(10)

1. Manfaat Teoritis

a. Memberi informasi pengetahuan terkait model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual, model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, dan model pembelajaran langsung.

b. Meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar

c. Sebagai bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi siswa, dengan mengetahui gaya belajar masing-masing siswa diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika terutama pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar.

b. Bagi guru, dengan mengetahui keefektifan model pembelajaran yang sebaiknya digunakan dalam proses pembelajaran diharapkan dapat membantu guru dalam memilih model pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran.

c. Bagi sekolah, hasil penelitian ini bisa menjadi jembatan perantara dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika sehingga berdampak pada peningkatan kualitas sekolah.

d. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat menjadi referensi untuk penelitian sejenis.

(11)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS A. Kajian Pustaka

1. Prestasi Belajar Matematika a. Prestasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), prestasi merupakan hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya). Syah (2010: 141) mengungkapkan pengertian prestasi b a h w a p r e s t a s i adalah tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Sedangkan Maghfiroh (2011: 24) berpendapat bahwa prestasi dalah perilaku yang berorientasi tugas yang mengijinkan prestasi individu dievaluasi menurut kriteria dari dalam maupun dari luar, melibatkan individu untuk berkompetensi dengan oran lain.

Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi adalah hasil dari usaha yang telah dilakukan bertujuan untuk sesuatu yang telah ditetapkan dalam jangka waktu tertentu.

b. Belajar

Piaget (Dahar, 2011:34) berpendapat bahwa belajar berlangsung dalam tiga tahapan yang saling berhubungan, yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. Asimilasi adalah proses menggabungkan persepsi, konsep, atau pengalaman baru ke dalam skema yang sudah dimiliki oleh seseorang.

Berdasarkan pengalaman baru yang diperoleh, terjadi proses membentuk skema baru atau memodifikasi skema yang telah dimiliki, proses ini disebut dengan akomodasi. Ekuilibrasi diartikan sebagai keseimbangan antara skema yang telah dimiliki dengan pengalaman baru yang diperoleh, melalui proses asimilasi dan akomodasi.

Khodijah (2014: 80) memberikan pandangan bahwa belajar dipandang sebagai suatu proses pengaturan dalam diri seseorang yang berjuang dengan konflik antara model pribadi yang telah ada dan hasil pemahaman yang baru sebagai hasil konstruksinya. Sedangkan menurut Suyono (2012: 9), belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki

(12)

perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian.

Brunner (Trianto, 2011: 15) berpendapat, “Belajar adalah suatu proses aktif di mana siswa membangun (mengkonstruk) pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman/pengetahuan yang sudah dimilikinya”.

Dari definisi-definisi oleh para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu aktivitas perubahan yang dilalui individu untuk mendapat pengetahuan dengan membangun (mengkonstruk) pengetahuan baru dari pengetahuan atau pengalaman yang sebelumnya sudah dimiliki.

c. Matematika

Istilah matematika berasal dari bahasa latin yaitu mathematica, yang diambil dari bahasa Yunani yaitu mathematike yang berarti “relating to learning”. Sedangkan perkataan mathematike berhubungan erat dengan sebuah kata yang serupa yaitu mathanein yang artinya belajar (berpikir).

Ruseffendi (Heruman, 2012: 1) menyatakan bahwa matematika adalah bahasa simbol, ilmu deduktif, ilmu tentang pola keteraturan dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan, ke aksioma atau postulat dan akhirnya ke dalil.

Sejalan dengan pendapat Ismail dkk (Hamzah & Muhlisrarini, 2014: 48),

“Matematika adalah ilmu yang membahas angka-angka dan perhitungannya, membahas masalah-masalah numerik mengenai kuantitas dan besaran, mempelajari hubungan pola, bentuk dan struktur, sarana berpikir, kumpulan sistem, struktur dan alat.”

Dari beberapa definisi matematika di atas, maka dapat disimpulkan bahwa matematika adalah bidang ilmu yang mempelajari angka-angka dan perhitungannya, cara menyelesaikan masalah-masalah numerik menggunakan penalaran, kemampuan memanipulasi, dan berpikir logis.

d. Prestasi Belajar Matematika

Dari pengertian prestasi, belajar dan matematika, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika adalah hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran konsep- konsep yang digeneralisasikan secara deduktif dalam periode tertentu dan ditunjukkan dengan nilai.

(13)

2. Model Pembelajaran a. Model Pembelajaran

Saefuddin dan Berdiati (2014: 48) mengemukakan, “model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran”. Adapun menurut Tampubolon (2014: 88), model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar peserta didik untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran peserta pendidik dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran.

Pengertian lain tentang model pembelajaran juga disampaikan oleh Mulyatiningsih (2013: 227), menurutnya “model pembelajaran merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan penyelenggaraan proses belajar mengajar dari awal sampai akhir. Dalam model pembelajaran sudah mencerminkan penerapan suatu pendekatan, metode, teknik atau taktik pembelajaran sekaligus”. Secara lebih tegas Arends (Warsono & Hariyanto, 2012: 173) mengemukakan bahwa model pembelajaran mengacu kepada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungannya, dan sistem manajemennya.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual mengenai proses

(14)

belajar mengajar dari awal sampai akhir dengan pendekatan pembelajaran tertentu.

b. Model Pembelajaran Langsung

Menurut Saefuddin dan Berdiati (2014: 48) model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang berpusat pada guru yang menekankan pada pembelajaran deklaratif atau prosedural dan keterampilan akademik terbimbing. Pembelajaran langsung menurut Kardi (Trianto, 2011: 30) dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan dan praktek. Pembelajaran langsung digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada siswa.

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang berpegang pada kebiasaan yang ada sehingga dapat diartikan pula bahwa model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang biasa digunakan di sekolah. Pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar, guru di SMP Negeri 5 Depok menggunakan model pembelajaran langsung.

Menurut Kardi & Nur (Trianto, 2011: 31) fase-fase model pembelajaran langsung meliputi:

1) Tahap 1, menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.

Guru menjelaskan Tujuan Pembelajaran Khusus, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.

2) Tahap 2, mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan.

Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar atau menyajikan informasi tahap demi tahap.

3) Tahap 3, membimbing pelatihan.

Guru merencanakan dan membimbing pelatihan.

4) Tahap 4, mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.

Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik dan meberikan umpan balik.

(15)

5) Tahap 5, memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan.

Guru mempersiapkan kesempatan melakukan penelitian lanjutan dengan perhatian khusus pada penerapan situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.

c. Model Pembelajaran Kooperatif

Trianto (2012: 56) berpendapat, “Pembelajaran kooperatif bernaung dalam teori konstruktivis. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya”.

Selain itu menurut Slavin (Rusman, 2014: 201) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Adapun menurut Sugiyanto (2010: 33), pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.

Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan (Sanjaya, 2006: 239).

Sintak yang harus dilakukan oleh guru yang menggunakan model pembelajaran kooperatif menurut Arends (2013: 80) sebagai berikut:

Tabel 2.2. Sintak Model Pembelajaran Kooperatif

Tahap Kegiatan Guru

Tahap 1:

Menjelaskan tujuan dan membuka pelajaran

Guru mngulas tujuan pelajaran dan membuka pelajaran.

Tahap 2:

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi pada siswa secara verbal atau cetak atau teks online

Tahap 3:

Mengatur siswa ke dalam tim belajar

Guru membentuk tim belajar dan membantu kelompok membuat transisi yang efisien.

(16)

Tahap 4:

Membantu kerja tim dan belajar

Guru membantu tim belajar selama mereka mengerjakan pekerjaan mereka.

Tahap 5:

Ujian tentang materi

Guru menilai pengetahuan siswa tentang materi belajar atau kelompok menyajikan hasil pekerjaan mereka.

Tahap 6:

Memberikan penghargaan

Guru menemukan cara untuk mengenali usaha individu dan kelompok serta prestasi.

Dari beberapa pendapat menurut para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang berfokus pada siswa untuk berinteraksi satu sama lain.

d. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Model pembelajaran Jigsaw (model tim ahli) telah dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, dan Snapp dari Universitas Texas, dan diadopsi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas Hopkins.

Jigsaw dalam bahasa Inggris berarti gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah puzzle yaitu sebuah teka-teki menyusun potongan gambar. Pembelajaran kooperatif model Jigsaw ini mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji (zigzag), yaitu siswa melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama.

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah sebuah model belajar yang menitik beratkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil.

Model pembelajaran koopratif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif di mana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.

Model pembelajaran ini siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.39 Model ini didesain

(17)

untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud model pembelajaran tipe Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif di mana siswa, bukan guru yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan dari Jigsaw ini adalah mengembangkan kerja tim, keterampilan belajar kooperatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semau materi sendirian.

3. Pendekatan Kontekstual

a. Pengertian Pendekatan Kontekstual

Pembelajaran di sekolah tidak hanya difokuskan pada pemberian pembekalan kemampuan pengetahuan yang bersifat teoritis saja, tetapi pengalaman belajar yang dimiliki siswa senantiasa terkait dengan permasalahan-permasalahan aktual yang terjadi di lingkungan. Menurut Komalasari (2010: 7) pendekatan pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun warga negara, dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya.

Hal tersebut sejalan dengan yang diungkapkan oleh Trianto (2010: 107) bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang menyajikan suatu konsep yang mengaitkan materi pelajaran yang dipelajari siswa dengan konteks di mana materi tersebut digunakan, serta berhubungan dengan bagaimana seseorang belajar atau gaya/cara siswa belajar.

Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh para ahli di atas, peneliti menyimpulkan pendekatan kontekstual adalah pendekatan yang menyajikan suatu konsep pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang diajarkan oleh guru dengan konteks kehidupan keseharian siswa. Mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan nyata.

(18)

b. Karakteristik Pendekatan

Kontekstual Pendekatan kontekstual memiliki karakteristik yang membedakan dengan pendekatan pembelajaran lainnya. Johnson dalam Komalasari (2010: 7) mengidentifikasi delapan karakteristik pendekatan kontekstual, yaitu:

a. Making meaningful connections (membuat hubungan penuh makna).

b. Doing significant work (melakukan kerja signifikan).

c. Self-regulated learning (belajar mengatur sendiri).

d. Collaborating (kerja sama).

e. Critical and creative thinking (berpikir kritis dan kreatif).

f. Nurturing the individual (memelihara pribadi).

g. Reaching high standards (mencapai standar yang tinggi).

h. Using authentic assesment (penggunaan penilaian autentik).

Selain itu, karakteristik pendekatan kontekstual menurut Trianto (2010:

110) yaitu (1) kerja sama, (2) saling menunjang, (3) menyenangkan, mengasyikkan, (4) tidak membosankan (joyfull, comfortable), (5) belajar dengan bergairah, (6) pembelajaran terintegrasi, dan (7) menggunakan berbagai sumber siswa aktif.

Selain itu Depdiknas dalam Rusman (2010: 198) mengemukakan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual harus mempertimbangkan karakteristik-karakteristik:

(1) kerja sama, (2) saling menunjang,

(3) menyenangkan dan tidak membosankan, (4) belajar dengan bergairah.

(5) pembelajaran terintegrasi, (6) menggunakan berbagai sumber, (7) siswa aktif,

(8) sharing dengan teman, (9) siswa krisis guru kreatif,

(10) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa (peta-peta, gambar, artikel), dan

(11) laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan lainlain.

Berdasarkan pendapat di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pendekatan kontekstual memiliki ciri khusus yaitu pembelajaran yang mengaitkan

(19)

materi pembelajaran dengan kehidupan nyata siswa, menerapkan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan. Mengarahkan siswa untuk berpikir kritis dan bekerja sama dengan melakukan eksplorasi terhadap konsep dan informasi yang dipelajari, serta adanya penerapan penilaian autentik untuk menilai pembelajaran secara holistik.

c. Komponen-komponen

Pendekatan Kontekstual Pendekatan kontekstual dalam implementasinya tentu memiliki komponen-komponen yang mencerminkan konsep pendekatan kontekstual. Menurut Trianto (2010: 110) pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen utama, yaitu:

a. Konstruktivisme (Contructivisme). Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.

b. Inkuiri (Inquiry). Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.

c. Bertanya (Questioning). Dalam pembelajaran, mengajukan pertanyaan dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.

d. Masyarakat Belajar (Learning Community). Ketika menggunakan pendekatan kontekstual di dalam kelas, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dengan kelompok-kelompok belajar.

e. Permodelan (Modeling). Pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual, permodelan dapat dirancang dengan melibatkan siswa.

f. Refleksi (Reflection) Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.

g. Penilaian Autentik (Authentic Assesment). Penilaian autentik adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan siswa

Sejalan dengan paparan di atas, Ditjen Dikdasmen dalam Komalasari (2010: 24) mengemukakan bahwa pendekatan kontekstual harus menekankan pada hal-hal sebagai berikut.

a. Belajar berbasis masalah (problem-based learning).

b. Pengajaran autentik (autentic instruction).

c. Belajar berbasis inquiri(inquiry-based learning).

d. Belajar berbasis proyek/tugas terstruktur (project-based learning).

(20)

e. Belajar berbasis kerja (work-based learning).

f. Belajar jasa layanan (service learning).

g. Belajar koopertif (cooperative learning).

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa komponenkomponen pendekatan kontekstual mencakup proses konstruksi, menemukan hasil melalui kegiatan menemukan sendiri (inquiry), menggali informasi yang dimiliki siswa melalui kegiatan bertanya. Membentuk kegiatan kerja sama antarsiswa melalui kegiatan diskusi, memanfaatkan peran model untuk membantu proses pembelajaran, melakukan refleksi pembelajaran dengan melibatkan siswa, dan penilaian sebenarnya pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung

d. Langkah-langkah Penerapan Pendekatan Kontekstual

Penjelasan lebih lanjut dikemukakan oleh Mulyasa (2013: 111), bahwa terdapat lima elemen yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pendekatan kontekstual, yakni:

a. Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.

b. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagianbagiannya secara khusus (dari umum ke khusus).

c. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara:

1) menyusun konsep sementara.

2) melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain.

3) merevisi dan mengembangkan konsep.

d. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktikkan secara langsung apa-apa yang dipelajari.

e. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.

Sejalan dengan pendapat di atas, menurut Zahorik dalam Suprijono (2013: 84) bahwa urut-urutan pembelajaran kontekstual adalah activating knowledge, acquiring knowledge, understanding knowledge, applying, knowledge, dan reflecting knowledge. Pada penelitian ini,

(21)

peneliti cenderung menggunakan langkah-langkah pendekatan kontekstual dari Trianto (2010: 111) karena lebih memfasilitasi siswa untuk mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru.

4. Gaya Belajar

Menurut Winkel (1996: 147) gaya belajar merupakan cara belajar yang khas bagi siswa. Cara yang khas ini sangat individual yang sering tidak disadari, dan sekali terbentuk cenderung akan bertahan terus. DePorter dan Hernacki (2015: 110-111) mendefinisikan gaya belajar adalah kombinasi dari bagaimana seseorang menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa gaya belajar adalah cara yang khas dari seseorang dalam menyerap, mengatur, dan mengolah informasi.

DePorter dan Hernacki (2015: 111) mengelompokkan gaya belajar berdasarkan cara seseorang menerima informasi ke dalam tiga tipe yaitu, gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik. Pelajar visual belajar melalui apa yang mereka lihat, pelajar auditorial belajar melalui apa yang mereka dengar, dan pelajar kinestetik belajar melalui gerakan dan sentuhan.

a. Visual

Menurut DePorter dan Hernacki (2015: 116-118), ciri-ciri seseorang dengan gaya belajar visual adalah sebagai berikut:

1) Rapi dan teratur.

2) Berbicara dengan cepat.

3) Perencana dan pengatur jangka panjang yang baik.

4) Teliti terhadap detail.

5) Mementingkan penampilan, baik dalam hal pakaian maupun presentasi.

6) Pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran mereka.

7) Mengingat apa yang dilihat, daripada yang didengar.

8) Mengingat dengan asosiasi visual.

(22)

9) Biasanya tidak terganggu oleh keributan.

10) Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan sering kali minta bantuan orang untuk mengulanginya.

11) Pembaca cepat dan tekun.

12) Lebih suka membaca daripada dibacakan.

13) Membutuhkan pandangan dan tujuan menyeluruh dan bersikap waspada sebelum secara mental merasa pasti tentang suatu masalah atau proyek.

14) Mencoret-coret tanpa arti selama berbicara di telepon dan dalam rapat.

15) Lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain.

16) Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat ya atau tidak.

17) Lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato.

18) Lebih suka seni daripada musik.

19) Sering kali mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata.

20) Kadang-kadang kehilangan konsentrasi ketika mereka ingin memperhatikan.

Adapun indikator gaya belajar visual yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Rapi dan teratur.

2) Teliti terhadap detail

3) Mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar 4) Lebih suka membaca daripada dibacakan

5) Mementingkan penampilan baik dalam hal pakaian maupun presentasi b. Auditorial

Menurut DePorter dan Hernacki (2015: 118), ciri-ciri seseorang dengan gaya belajar auditorial adalah sebagai berikut:

1) Berbicara kepada diri sendiri saat bekerja.

2) Mudah terganggu oleh keributan.

3) Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca.

4) Senang membaca dengan keras dan mendengarkan.

(23)

5) Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama, dan warna suara.

6) Merasa kesulitan untuk menulis, tetapi hebat dalam bercerita.

7) Berbicara dalam irama yang terpola.

8) Biasanya pembicara yang fasih.

9) Lebih suka musik daripada seni.

10) Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat.

11) Suka berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar.

12) Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visualisasi, seperti memotong bagian-bagian hingga sesuai satu sama lain.

13) Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya.

14) Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik.

Adapun indikator gaya belajar auditorial yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Mudah terganggu oleh keributan

2) Senang membaca keras dan mendengarkan

3) Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama, dan warna suara

4) Suka berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar

5) Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya c. Kinestetik

Menurut DePorter dan Hernacki (2015: 118-120), ciri-ciri seseorang dengan gaya belajar kinestetik adalah sebagai berikut:

1) Berbicara dengan perlahan.

2) Menanggapi perhatian fisik.

3) Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka.

(24)

4) Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang.

5) Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak.

6) Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar.

7) Belajar melalui memanipulasi dan praktik.

8) Menghafal dengan cara berjalan dan melihat.

9) Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca.

10) Banyak menggunakan isyarat tubuh.

11) Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama.

12) Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu.

13) Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.

14) Menyukai buku-buku yang berorientasi pada plot.

15) Mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca.

16) Kemungkinan tulisannya jelek.

17) Ingin melakukan segala sesuatu.

18) Menyukai permainan yang menyibukkan.

Adapun indikator gaya belajar kinestetik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak 2) Tidak dapat diam dalam waktu yang lama

3) Belajar melalui manipulasi dan praktik

4) Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca 5) Ingin melakukan segala sesuatu.

5. Tinjauan Materi

Dalam penelitian ini materi yang akan dikaji adalah materi bangun ruang sisi datar. Bangun ruang sisi datar merupakan suatu bangun tiga dimensi yang memiliki ruang/ volume/ isi dan juga sisi-sisi yang membatasinya.

Secara garis besar, bangun ruang bisa kita kategorikan menjadi dua kelompok, antara lain: bangun ruang sisi datar dan bangun ruang sisi lengkung.. Yang termasuk dalam bangun ruang sisi datar yaitu kubus, balok, prisma, dan limas. Sementara untuk bangun ruang sisi lengkung terdiri atas kerucut, tabung, dan bola.

(25)

Unsur-unsur bangun ruang bidang datar:

1. Bidang (Sisi) merupakan daerah yang membatasi bagian luar dengan bagian dalam dari sbeuah bangun ruang.

2. Rusuk merupakan suatu perpotongan dua buah bidang yang berwujud garis.

3. Titik sudut adalah perpotongan tiga buah rusuk.

4. Diagonal bidang merupakan diagonal yang terletak dalam bidang bidang pembentuk bangun ruang atau pada sisi bangun ruang.

5. Diagonal ruang merupakan garis yang melintasi ruang yang menghubungkan dua titik sudut yang tidak sebidang.

6. Bidang diagonal merupakan suatu bidang yang melintasi ruang dalam bangun ruang.

Bangun ruang sisi datar merupakan suatu bangun ruang di mana pada masing-masing sisinya tersusun dari bangun datar. Apabila dalam suatu bangun ruang mempunyai satu saja sisi yang lengkung maka bangun tersebut tidak bisa dikatakan sebagai bangun ruang sisi datar. Berikut macam macam bangun ruang sisi datar.

Kubus

Kubus merupakan suatu bangun ruang tiga dimensi yang dibatasi oleh enam sisi serupa yang berwujud bujur sangkar.

Kubus juga dikenal dengan nama lain yaitu bidang enam beraturan. Kubus sebetulnya adalah bentuk khusus dari prisma segiempat, sebab tingginya sama dengan sisi alas. Kubus ABCD.EFGH dengan panjang rusuk = s cm, memiliki:

Panjang diagonal sisi = s√2 cm

Panjang diagonal ruang = s√3 cm

Panjang kerangka = 12s

Luas permukaan = 6s²

Volume = s³

Unsur-unsur pada kubus

Memiliki 6 buas sisi yang berbentuk persegi yang kongruen

Memiliki 12 rusuk yang sama panjang

(26)

Memiliki 8 titik sudut

Memiliki 12 diagonal sisi

Memiliki 6 bidang diagonal

Memiliki 4 diagonal ruang Balok

Balok adalah bangun ruang yang dibatasi oleh 6 buah sisi yang berbentuk persegi panjang atau persegi, yang terdiri dari 3 pasang sisi yang sejajar dan kongruen.

Ukuran pada balok terdiri dari panjang, lebar dan tinggi.

Rumus pada balok

Panjang kerangka balok = 4(p + l + t)

Luas permukaan balok = 2(pl + pt + lt)

Volume = p × l × t

Diagonal ruang balok =

Unsur-unsur pada balok

Memiliki 6 buas sisi yang berbentuk persegi atau persegi panjang

Memiliki 12 rusuk

Memiliki 8 titik sudut

Memiliki 12 diagonal sisi

Memiliki 6 bidang diagonal

Memiliki 4 diagonal ruang Prisma

Prisma adalah bangun ruang yang dibatasi oleh sisi alas dan sisi atas yang bentuknya kongruen dan sejajar, serta sisi-sisi selimut (sisi tegak) yang berbentuk persegi panjang.

Rumus pada prisma

Volume = luas alas × tinggi

Luas permukaan = (2 × luas alas) + (keliling alas × tinggi)

Unsur-unsur pada prisma segi n beraturan, yaitu memiliki

Rusuk = (3n) buah

Sisi = (n + 2) buah

Titik sudut = (2n) buah

Diagonal sisi = n(n – 1) buah

(27)

Diagonal ruang = n(n – 3) buah

Bidang diagonal = ½ n(n – 1) jika n genap dan ½ n(n – 3) jika n ganjil Limas

Limas adalah bangun ruang yang memiliki sisi alas dan sebuah titik puncak serta sisi-sisi selimut (sisi tegak) yang berbentuk segitiga

Rumus pada limas

Volume = ⅓ × luas alas × tinggi

Luas permukaan = luas alas + jumlah luas sisi tegak

Unsur-unsur pada limas segi n beraturan yaitu memiliki

Rusuk = (2n) buah

Sisi = (n + 1) buah

Titik sudut = (n + 1) buah

Diagonal sisi = ½ n(n – 3) buah

Diagonal ruang = 0 buah

Bidang diagonal = ½ n(n – 3) buah

B. Kerangka Berpikir

Berdasarkan kajian teori yang telah diuraikan di atas, maka dapat disusun suatu kerangka berpikir untuk memperjelas arah dan maksud dari penelitian ini.

Kerangka berpikir ini disusun berdasarkan pada variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model pembelajaran, gaya belajar siswa dan prestasi belajar matematika siswa. Secara umum, kerangka berpikir disajikan berikut.

1. Kaitan Model Pembelajaran dengan Prestasi Belajar Matematika pada Pokok bahasan bangun ruang sisi datar

Pemilihan model pembelajaran yang tepat dapat membantu guru dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran langsung, model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, dan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual. Model pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran yang berpusat pada guru sehingga pengetahuan siswa cenderung hanya bersumber dari penyampaian materi oleh guru saja. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual mengarahkan siswa untuk menemukan informasi, mengasosiasi, mengomunikasikan apa yang telah dipelajari, dan bekerja sama untuk saling membantu dalam hal

(28)

penguasaan materi dengan pendekatan kontekstual sehingga siswa lebih mudah untuk memahami materi pelajaran dan pembelajaran lebih bermakna.

Pokok bahasan bangun ruang sisi datar merupakan materi yang bersifat terapan sehingga membutuhkan pemahaman konsep yang baik untuk dapat menyelesaikannya. Selain itu, permasalahan bangun ruang sisi datar sangat beragam sehingga tidak bisa hanya dengan menghafalkan rumus melainkan harus memahami konsep dari materi tersebut. Dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual diharapkan siswa lebih memahami konsep bangun ruang sisi datar.

Selanjutnya diharapkan prestasi belajar siswa yang diberi pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual lebih baik dibandingkan siswa yang diberi pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan model pembelajaran langsung.

2. Kaitan Gaya Belajar Siswa dengan Prestasi Belajar Matematika pada Pokok bahasan bangun ruang sisi datar

Gaya belajar merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa. Gaya belajar memiliki tiga tipe yaitu, tipe visual, tipe auditorial, dan tipe kinestetik. Karakteristik siswa dengan gaya belajar visual cenderung lebih mudah memahami suatu informasi melalui penglihatan. Siswa dengan gaya belajar auditori lebih mudah memahami suatu informasi dengan cara mendengarkan penjelasan dari orang lain. Siswa dengan gaya belajar kinestetik lebih mudah memahami suatu informasi apabila siswa tersebut melakukan suatu aktivitas yang melibatkan gerakan-gerakan fisik.

Siswa yang bertipe visual memiliki kelebihan dapat menangkap segala jenis informasi walaupun mempunyai masalah dalam hal mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis atau dengan meminta bantuan orang lain untuk mengulanginya. Masalah tersebut dapat diatasi dengan adanya LKS atau handout materi dari guru. Adapun siswa dengan gaya belajar auditorial sebenarnya memiliki banyak kelebihan dalam hal diskusi, akan tetapi sifat siswa dengan gaya belajar auditorial yang mudah terganggu oleh keributan bisa jadi akan mengurangi kelebihan yang dimilikinya tersebut. Sedangkan siswa dengan gaya belajar kinestetik suka belajar melalui gerakan, cenderung tidak suka mendengarkan ceramah, dan lebih bisa belajar terutama dengan

(29)

terlibat langsung dalam kegiatan. Menurut pembahasan yang telah dipaparkan, diduga siswa dengan gaya belajar visual memiliki prestasi belajar yang lebih baik dari pada auditorial dan kinestetik.

Siswa dengan gaya belajar auditori lebih cenderung memahami pembelajaran dengan mendengarkan penjelasan dari guru atau teman. Hal ini mengakibatkan siswa dengan gaya belajar auditorial lebih mudah memahami pembelajaran jika dibandingkan dengan siswa dengan gaya belajar kinestetik karena siswa dengan gaya belajar kinestetik dalam memahami pembelajaran tidak cukup hanya dengan mendengar. Akibatnya kemungkinan siswa dengan gaya belajar auditori mempunyai prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa dengan gaya belajar kinestetik.

Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa siswa dengan gaya belajar visual memiliki prestasi belajar lebih baik dibandingkan siswa dengan gaya belajar auditorial maupun siswa dengan gaya belajar kinestetik dan siswa dengan gaya belajar auditorial daripada siswa dengan gaya belajar kinestetik.

3. Kaitan Masing-masing Model Pembelajaran dengan Gaya Belajar Siswa Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual merupakan model pembelajaran yang dilaksanakan dengan membagi siswa dalam kelompok dan mengarahkan siswa untuk dapat membangun pengetahuannya sendiri melalui metode ilmiah, sehingga mendorong siswa untuk turut berpartisipasi aktif dalam pembelajaran sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk mengembangkan ide berpikirnya dalam menemukan suatu konsep. Siswa dengan gaya belajar visual memiliki karakteritik senang membaca dan menulis, serta teliti terhadap detail dan tidak terganggu oleh adanya keributan. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diduga siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual dan memiliki gaya belajar visual akan menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa dengan gaya belajar auditorial dan kinestetik. Sedangkan siswa dengan gaya belajar auditorial memiliki kelemahan yaitu, mudah terganggu oleh keributan. Namun siswa dengan gaya belajar auditorial lebih mudah mengingat materi yang sedang didiskusikan daripada yang dilihat.

Siswa dengan gaya belajar kinestetik memiliki kelemahan yaitu, tidak dapat diam pada waktu lama dan suka menggerakan bagian tubuhnya sehingga ketika

(30)

berdiskusi mereka cenderung tidak terlalu fokus terhadap materi yang sedang di didiskusikan. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diduga siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual siswa yang memiliki gaya belajar auditorial memiliki prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa dengan gaya belajar kinestetik.

Pada model pembelajaran langsung, pembelajaran berpusat pada guru sehingga siswa kurang terlibat dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran guru menyampaikan materi dengan metode ceramah, dengan demikian siswa dengan gaya belajar auditorial akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik. Selanjutnya siswa dengan gaya belajar visual cenderung akan mencatat penjelasan dari guru dan mempelajarinya kembali, sedangkan siswa dengan gaya belajar kinestetik cenderung kurang mendapat kesempatan dalam terlibat langsung dalam pembelajaran karena dalam model ini guru mendominasi pembelajaran, masih terbatasnya kegiatan yang bisa dilakukan oleh siswa sehingga partisipasi siswa dengan gaya belajar kinestetik akan terhambat. Akibatnya, siswa dengan gaya belajar visual dimungkinkan memiliki prestasi belajar yang lebih baik jika dibandingkan dengan siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik.

4. Kaitan Masing-masing Gaya Belajar Siswa pada Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dengan Pendekatan Kontekstual, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw, dan Model Pembelajran Langsung

Siswa dengan gaya belajar auditorial pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual diberikan kesempatan untuk belajar melalui penyampaian materi oleh guru dan temannya dalam kegiatan diskusi dan presentasi mengenai materi yang telah didiskusikan bersama kelompoknya masing-masing. Pada model pembelajaran langsung, guru mendominasi pembelajaran dan penyampaian materi dengan metode ceramah, serta sumber belajar siswa terbatas pada apa yang disampaikan oleh guru. Siswa dengan gaya belajar auditorial akan lebih mudah menerima materi pembelajaran karena karakteristiknya belajar melalui apa yang mereka dengar. Berdasarkan hal tersebut, siswa dengan gaya belajar auditorial yang diberikan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual, model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, dan

(31)

model pembelajaran langsung akan memiliki prestasi belajar yang sama.

Siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik pada Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual diberikan kesempatan untuk menemukan informasi terkait materi pembelajaran baik dengan membaca sumber belajar berupa buku maupun dengan bergerak melakukan sesuatu, misalnya melakukan kegiatan yang terdapat pada lembar kerja kelompok. Pada model pembelajaran langsung siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik belum dapat belajar dengan optimal karena kurangnya visualisasi dan penggunaan media dalam pembelajaran, serta siswa cenderung hanya duduk diam mendengarkan penyampaian materi oleh guru. Oleh karena itu, siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik yang diberikan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang diberikan model pembelajaran langsung.

Dengan demikian, dapat diasumsikan penggunaan Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual dan gaya belajar siswa berperan dalam menentukan prestasi belajar siswa melalui pemahaman konsep suatu materi.

C. Hipotesis

Berdasarkan kerangka berpikir yang telah dipaparkan di atas, maka hipotesis yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

1. Pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan model pembelajaran pembelajaran kooperatif tipe jigsaw maupun model pembelajaran langsung. Pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik dibandingkan model pembelajaran langsung pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar.

2. Siswa dengan gaya belajar visual mempunyai prestasi belajar lebih baik bila dibandingkan siswa dengan gaya belajar auditorial maupun siswa dengan gaya belajar kinestetik. Siswa yang mempunyai gaya belajar auditorial memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik dalam pembelajaran pada

(32)

pokok bahasan bangun ruang sisi datar.

3. Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual siswa dengan gaya belajar visual akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan gaya belajar auditorial dan kinestetik, dan siswa dengan gaya belajar auditorial memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan gaya belajar kinestetik.

Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw siswa dengan gaya belajar visual akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan gaya belajar auditorial dan kinestetik, dan siswa dengan gaya belajar auditorial memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan gaya belajar kinestetik. Sedangkan pada model pembelajaran langsung siswa dengan gaya belajar auditorial akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik, dan siswa dengan gaya belajar visual akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan gaya belajar kinestetik pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar.

4. Siswa dengan gaya belajar auditorial yang diberikan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual dan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memiliki prestasi belajar yang sama dengan siswa yang diberikan model pembelajaran langsung. Sedangkan siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik yang diberikan Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual dan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa yang diberikan model pembelajaran langsung pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar.

(33)

38

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 5 Depok pada kelas VIII semester 2 tahun ajaran 2021/2022. SMP Negeri 5 Depok terletak di Jalan Weling Raya Karanggayam, Manggung, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alasan dilakukan penelitian di SMP Negeri 5 Depok adalah hasil belajar pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar yang rendah dibandingkan dengan materi yang lain.

Selain itu, SMP Negeri 5 Depok belum pernah dilakukan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual.

Uji coba instrumen dilakukan dilakukan di SMP Negeri 2 Banguntapan yang beralamat di Jalan Karangsari Wetan No.616, Pringgolayan, Banguntapan, Kec. Banguntapan, Kab, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemilihan SMP Negeri 2 Banguntapan sebagai objek uji coba instrumen karena sekolah ini memiliki rata-rata ujian nasional 2020 yang setara dengan SMP Negeri 5 Depok.

2. Waktu Penelitian

Waktu pelaksanaan penelitian dibagi menjadi tiga tahap yaitu:

a. Tahap Persiapan

Tahap persiapan dilakukan pada bulan November 2021 sampai Februari 2022. Tahap persiapan ini meliputi:

1) Mengurus perizinan dan koordinasi dengan kepala sekolah dan guru dilaksanakan pada bulan Desember 2021.

2) Menyusun dan melakukan uji coba angket dan tes dilakukan pada Januari 2022.

(34)

39 3) Menganalisis hasil uji coba, merevisi, serta finalisasi dan

penggandaan angket dan tes dilakukan pada Februari 2022.

b. Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan dilakukan pada bulan Maret 2022. Tahap ini meliputi:

1) Tahap uji coba instrumen angket dan tes hasil belajar matematika yang dilakukan satu kali pada bulan Maret 2022.

2) Tahap eksperimen dan pengumpulan data yang dilakukan dalam 5 kali pertemuan pada bulan Maret 2022. Pengumpulan data angket dilakukan sebelum eksperimen dilakukan.

c. Tahap Penyelesaian

Tahap penyelesaian meliputi:

1) Pengolahan data penelitian dilaksanakan pada bulan April 2022 sampai dengan Mei 2022.

2) Penyusunan laporan dilakukan pada bulan Juni – Agustus 2022.

Tabel 3.1. Pelaksanaan Kegiatan Penelitian Tahun 2018-2019 Jenis Kegiatan

Bulan

Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni- Agt 1. Tahap Persiapan

a. Mengurus perizinan b. Koordinasi dengan kepala sekolah dan guru c. Menyusun angket dan tes

d. Melakukan uji coba angket dan tes

e. Menganalisis hasil uji coba dan merevisi angket dan tes

f. Finalisasi dan

penggandaan angket dan tes

(35)

40 2. Pelaksanaan penelitian

a. Uji coba instrumen penelitian

b. Eksperimen dan pengumpulan data 3. Tahap Penyelesaian

a. Pengolahan data b. Penyusunan laporan

B. Desain Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Metode yang digunakan adalah metode penelitian eksperimental semu (quasi experimental research). Penggunaan metode tersebut karena peneliti tidak mungkin mampu mengontrol semua variabel yang relevan yang dapat mempengaruhi variabel terikat kecuali variabel bebas yang diteliti. Mengenai tujuan penggunaan metode penelitian eksperimental semu, Budiyono (2017, 101) berpendapat,

“Tujuan penelitian eksperimental semu adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan (estimasi) bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasi semua variabel yang relevan.”

2. Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini, variabel terikatnya adalah hasil belajar matematika pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar sedangkan variabel bebasnya yaitu model pembelajaran dan gaya belajar siswa. Variabel bebas pertama adalah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan pendekatan kontekstual dan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw untuk kelas eksperimen dan model pembelajaran langsung untuk kelas kontrol.

Sementara variabel bebas kedua adalah gaya belajar siswa yang dibedakan menjadi tiga kategori yaitu kinestetik, auditorial dan visual.

Penelitian ini menggunakan rancangan faktorian 3 × 3 yang digambarkan seperti tabel berikut.

Tabel 3.2. Rancangan Faktorial 2 × 3

(36)

41

Keter angan :

A : model pembelajaran B : gaya belajar siswa

a1 : model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual

a2 : model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw a3 : model pembelajaran langsung

b1 : gaya belajar visual b2 : gaya belajar auditorial b3 : gaya belajar kinestetik

(ab)11 : prestasi belajar matematika siswa yang mendapat model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual dengan gaya belajar visual

(ab)12 : prestasi belajar matematika siswa yang mendapat model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual dengan gaya belajar auditorial

(ab)13 : prestasi belajar matematika siswa yang mendapat model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pendekatan kontekstual dengan gaya belajar kinestetik

(ab)21 : prestasi belajar matematika siswa yang mendapat model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan gaya belajar visual (ab)22 : prestasi belajar matematika siswa yang mendapat model

pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan gaya belajar auditorial Model Pembelajaran (A) Gaya belajar Siswa (B)

Visual (b1) Auditorial (b2) Kinestetik (b3) Model pembelajaran kooperatif tipe

jigsaw dengan pendekatan kontekstual (a1)

(ab)11 (ab)12 (ab)13

Model pembelajaran kooperatif tipe

jigsaw (a2) (ab)21 (ab)22 (ab)23

Langsung (a3) (ab)31 (ab)32 (ab)33

Gambar

Tabel 3.1. Pelaksanaan Kegiatan Penelitian Tahun 2018-2019  Jenis Kegiatan
Tabel 3.2. Rancangan Faktorial 2 × 3
Tabel 3.4. Rataan dan Jumlah Rataan
Tabel 3.5. Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk membantu guru dalam memilih model pembelajaran yang tepat digunakan dalam proses pembelajaran sehingga dapat

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh mana yang lebih besar antara penerapan model Accelerated Learning tipe MASTER dengan model pembelajaran langsung

Data observasi guru adalah data hasil observasi kegiatan guru yang digunakan untuk melihat proses dan perkembangan guru dalam mengelola pembelajaran yang terjadi

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) apakah penerapan model pembelajaran Project Based Learning dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan keaktifan

Dari latar belakang diatas, maka penulis melakukan penelitian dengan mengambil judul “Pengaruh Metode Scaffolding Dalam Model Pembelajaran Problem Base Learning Terhadap

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Solving: (1) Motivasi belajar siswa pada materi system persamaan linear dua variable

Penerapan model STAD ini dalam pembelajaran matematika melibatkan siswa untuk dapat berperan aktif dengan bimbingan guru karena pembelajaran matematika ini akan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar matematika yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan