Judul Skripsi: Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Cooperative Problem Setting pada Siswa Kelas X MA Babussalam Kabupaten Takalar. Bapak Mukhlis, S.Pd., M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar serta sebagai Dosen Pembimbing yang membimbingnya selama perkuliahan. Kepala MA Babussalam Kabupaten Takalar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di sekolah.
Latar Belakang
Rendahnya kinerja nilai akhir siswa merupakan indikasi bahwa pembelajaran yang dilakukan selama ini belum efektif. Hal ini dikarenakan pembelajaran yang dilakukan guru cenderung menggunakan metode pembelajaran konvensional yaitu ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menitikberatkan pada penggunaan kelompok-kelompok kecil siswa untuk bekerja sama guna memaksimalkan kondisi pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Nurhadi, 2004: 112).
Rumusan Masalah
Dari jenis pembelajaran kolaboratif di atas, secara tidak langsung siswa dituntut untuk aktif dalam proses pembelajaran. “Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Cooperative Problem Setting pada Siswa Kelas X MA Babussalam Kabupaten Takalar”. Apakah pembelajaran matematika efektif menggunakan pendekatan pemecahan masalah kolaboratif dalam pengajarannya
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Guru dapat meningkatkan kreativitas dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran, mempunyai kemampuan mengambil tindakan dan mengoptimalkan pembelajaran di kelas serta dapat meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran. Sekolah dapat meningkatkan proses pembelajaran agar mutu pendidikan dapat memberikan kontribusi yang baik bagi sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Bagi peneliti merupakan bekal pengajaran dan penambahan pengetahuan serta pengalaman sehingga bermanfaat dalam menyelesaikan permasalahan pendidikan khususnya bidang matematika.
Kajian Pustaka
Pengertian Efektivitas
Ketuntasan belajar siswa dapat diukur dengan tes hasil belajar, baik ketuntasan belajar individual maupun ketuntasan belajar klasikal. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru mengelola pembelajaran adalah kemampuan guru dalam melaksanakan serangkaian kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kriteria keberhasilan guru dalam mengelola pembelajaran dalam penelitian ini dikatakan efektif apabila dapat tercapai minimal 75%.
Pengertian Belajar
Pembelajaran Matematika
Hasil Belajar Matematika
Berdasarkan uraian di atas, yang dimaksud dengan hasil belajar matematika dalam makalah ini adalah tingkat keberhasilan siswa dalam memperoleh materi pembelajaran matematika setelah mengikuti proses pembelajaran dan tingkat pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran yang diterima berdasarkan hasil tes. . diberikan setelah menerapkan Pendekatan Pernyataan Masalah Kolaboratif. Pengajuan masalah dapat membantu siswa menemukan topik baru dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam. Selain itu, pengajuan masalah dapat mendorong lahirnya ide-ide baru yang bersumber dari topik tertentu.
Model pembelajaran setting kooperatif
Rumusan masalah mempunyai beberapa arti, rumusan masalah adalah rumusan masalah yang berkaitan dengan persyaratan soal yang telah diselesaikan atau alternatif soal yang masih relevan. Memberikan penjelasan kepada siswa tentang cara membentuk tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efektif.
Pendekatan Problem Posing Setting Kooperatif
Siswa menerima penjelasan tentang apa yang akan dipelajari, keterampilan yang akan dicapai siswa, dan mengapa hal tersebut penting. Penyajian topik ini dapat membantu siswa merumuskan kembali suatu konsep, mengklasifikasikan benda menurut sifat-sifat tertentu (sesuai konsep). Langkah ini dapat membantu siswa memberikan contoh dan noncontoh suatu konsep, menggunakan, menggunakan dan memilih prosedur atau operasi tertentu, serta menerapkan konsep atau algoritma pemecahan masalah.
Materi Ajar
Dengan metode grafis, kita harus menggambar grafik kedua persamaan tersebut, kemudian titik potong kedua grafik tersebut merupakan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel. Contoh 2x – y = 6 x + y = 3 langkah awal. Gambarlah grafik persamaan 2x – y = 6. Kita harus menentukan terlebih dahulu titik potong grafik pada sumbu X dan Y 1) Titik potong grafik tersebut
Kerangka Pikir
Dengan memperhatikan indikator-indikator tersebut maka dapat disimpulkan bahwa melalui pendekatan pemecahan masalah maka pembelajaran matematika kooperatif akan efektif.
Hipotesis Penelitian 1. Hipotesis Mayor
Hipotesis Minor
Jenis Penelitian
Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel Penelitian
- DesainPenelitian
- Populasi dan Sampel 1. Populasi
- Sampel
- Definisi Operasional Variabel
- Prosedur Penelitian
- Instrumen Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data a. Tes hasil belajar
- Teknik AnalisisData
- Analisis statistik deskriptif
- Analisis statistik inferensial
Hasil belajar dalam penelitian ini merupakan nilai yang diperoleh sebelum menerima materi pengajaran (pretest) dengan menggunakan model pembelajaran dengan pendekatan kooperatif problem setting dan pengambilan materi pengajaran (posttest) dengan menggunakan model pembelajaran tersebut. Lembar tes hasil belajar siswa digunakan untuk mengukur hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan pendekatan pemecahan masalah kooperatif. Hasil belajar matematika siswa dikatakan efektif apabila rata-rata pendapatan ternormalisasi siswa minimal berada pada kategori sedang.
Hasil Penelitian
- Hasil Analisis Statistika Deskriptif
- Statistik Skor Hasil Belajar Siswa (Pretes) sebelum Diajar dengan Pendekatan Pembelajaran Problem Posing Setting Kooperatif
- Statistik Skor Hasil Belajar Matematika Siswa (Posttest) setelah Diajar dengan menggunakan Pendekatan Pembelajaran Problem
- Hasil Analisis Statistika Inferensial
Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif sebagaimana terlampir pada Lampiran D, statistik hasil belajar matematika siswa (pretest) dirangkum pada tabel berikut. Sumber: Data yang diolah Lampiran D Berdasarkan tabel 4.2 di atas diperoleh informasi rata-rata skor hasil belajar matematika siswa sebelum diajar dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif problem pose. Jika skor hasil belajar matematika siswa dikelompokkan dalam skala lima, maka diperoleh tabel distribusi frekuensi dan persentase skor sebagai berikut.
Dari hasil analisis statistik deskriptif sebagaimana tercantum pada Lampiran diperoleh statistik hasil belajar matematika siswa setelah diajar. dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif problem pose. Sumber: Data yang diolah Lampiran D Berdasarkan tabel 4.5 di atas diperoleh informasi bahwa rata-rata skor hasil belajar matematika siswa setelah diajar menggunakan pendekatan pemecahan masalah kooperatif (posttest) adalah 80,23 dengan standar deviasi 7,03. Skor tertinggi yang dicapai adalah 93 dari skor ideal 100 yang mungkin dicapai. Dari Tabel 4.6 diatas dapat disimpulkan bahwa skor hasil belajar siswa setelah diajar menggunakan pendekatan kooperatif problem pose dengan skor rata-rata 80,23 berdasarkan kategori standar penilaian berdasarkan fasilitas Departemen Pendidikan Nasional. Kategori "Tinggi".
Bagaimana menurut anda jika guru menggunakan pendekatan pemecahan masalah secara kolaboratif pada pembelajaran matematika berikut ini. Uji normalized gain bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peningkatan hasil belajar matematika siswa setelah diterapkannya masalah kolaboratif yang diberikan strategi pendekatan pembelajaran. Berdasarkan hasil analisis menggunakan SPSS (Lampiran D) dengan menggunakan taraf signifikansi 5% terlihat p-value (sig(2-tailed)) sebesar 0,00 < 0,05 yang berarti hasil belajar siswa mencapai Nilai KKM, rata-rata hasil belajar matematika siswa setelah diajar melalui pendekatan pembelajaran kooperatif problem pose lebih dari 74,9 yaitu 80,23.
Dari analisis di atas dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika siswa setelah diajar melalui penerapan strategi pembelajaran dengan penyajian masalah aktif telah memenuhi kriteria keefektifan.
Pembahasan Hasil Penelitian
- Pembahasan Hasil Analisis Deskriptif
- Hasil Belajar Siswa Sebelum Pembelajaran Melalui Pendekatan Pembelajaran Problem Posing Setting Kooperatif
- Hasil Belajar Siswa setelah Diterapkan Pendekatan Pembelajaran Problem Posing Setting Kooperatif
- Normalized Gain atau Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa melalui Pendekatan Pembelajaran Problem Posing Setting
- Pembahasan Hasil Analisis Inferensial
Hasil analisis data hasil belajar matematika siswa setelah pembelajaran melalui penerapan pendekatan pembelajaran kooperatif berbasis masalah menunjukkan bahwa dari 35 siswa yang mencapai indikator ketuntasan minimal atau individual, sebanyak 31 siswa dengan persentase 88. 57%. Dengan kata lain, hasil belajar matematika siswa setelah diajar melalui pendekatan pembelajaran kooperatif pemecahan masalah mengalami peningkatan dan memenuhi indikator ketuntasan klasikal. Hasil pengolahan data yang dilakukan (Lampiran D) menunjukkan bahwa normalized gain atau normalized mean gain siswa setelah pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran kooperatif problem setting sebesar 0,66 yang berarti terjadi peningkatan hasil belajar matematika. kelas X MA Babussalam Kabupaten Takalar setelah dilaksanakan pembelajaran ini berada pada kategori sedang karena nilai gain berada pada rentang 0,30>g≤0,70.
Hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika melalui pendekatan pembelajaran kooperatif problem pose kelas Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa “pendekatan pembelajaran kooperatif problem pose efektif diterapkan pada siswa kelas MA Babussalam”. Hasil analisis inferensial menunjukkan rata-rata skor hasil belajar siswa setelah pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran kooperatif problem pose menunjukkan nilai p-value (sig. (2-tailed)) sebesar 0,000 < 0,05 lebih dari 80. 23 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti rata-rata hasil belajar siswa (posttest) lebih besar atau sama dengan KKM.
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa setelah pembelajaran melalui penggunaan pendekatan pembelajaran Cooperative Problem Posing Setting berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata sebesar 80,23 dan standar deviasi sebesar 7,03. Hasil analisis deskriptif dan inferensial menunjukkan bahwa hasil belajar matematika pada kelas Pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran kooperatif problem yang merupakan pendekatan pembelajaran mendapat respon positif dengan rata-rata persentase siswa memberikan respon positif sebesar 75% yaitu 84,9%.
Apabila indikator keefektifan pembelajaran matematika di atas terpenuhi maka dapat dikatakan bahwa pendekatan pembelajaran kooperatif problem setting efektif dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas X MA Babussalam Kabupaten Takalar.
Saran
Aktivitas siswa yang berkaitan dengan kegiatan belajar dari aspek yang diamati secara keseluruhan dikategorikan aktif. Hal ini tercermin dari rata-rata persentase aktivitas siswa yaitu 79,29% yang aktif dalam pembelajaran matematika. Oleh karena itu, bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk berpikir lebih efisien dalam penggunaan waktu selama pelatihan agar hasil penelitian dapat dikembangkan.
Keefektifan model pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran matematika siswa VIII. kelas di SMP Unismuh Makassar. Pengaruh Model Pembelajaran Kolaboratif Team Game Tournament (TGT) Terhadap Kemandirian Belajar Dan Meningkatkan Penalaran Matematis Dan Keterampilan Asosiatif Siswa SMPN 1 Kota Tasikmalaya. Pengaruh aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika siswa II. kelas Madrasah Aliyah Negeri Pangkep.
STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR
Bentuk umum sistem persamaan linear dua variabel pada persamaan linear dua variabel pada x dan y adalah sebagai berikut. Menentukan sistem persamaan linear dua variabel di atas berarti menentukan pasangan bilangan x dan y untuk memenuhi kedua persamaan tersebut. Menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel dengan cara eliminasi berarti mencari nilai suatu variabel dengan cara menghilangkan variabel lain dengan cara mengurangkan atau menjumlahkannya.
Jika tidak sama, setiap persamaan dikalikan dengan bilangan tertentu sehingga mempunyai koefisien yang sama. Jika salah satu variabel dalam dua persamaan mempunyai koefisien yang sama, persamaan yang satu ditambahkan ke persamaan yang lain. Dari soal tersebut terlihat bahwa koefisien variabel y pada kedua persamaan adalah sama, sehingga dapat segera dihilangkan.
MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1. Kegiatan Awal (± 10 menit)
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa (± 10 menit)
Kegiatan inti (± 60 Menit)
Siswa memperhatikan contoh soal dari materi sistem persamaan linear dua variabel yang diberikan guru.
Membimbing Kelompok Bekerja dan belajar(±30 Menit) Guru mengajukan
Kegiatan akhir (±10 Menit)
SUMBER PEMBELAJARAN
- Penilaian Proses
- Penilaian Prod uk
Menentukan himpunan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel dengan menggunakan metode gabungan eliminasi dan substitusi. Siswa dapat menentukan himpunan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel dengan menggunakan metode gabungan eliminasi dan substitusi. Variabel ini kemudian digunakan untuk mensubstitusi variabel yang sama ke dalam persamaan yang lain, sehingga menjadi persamaan untuk satu variabel.
Dengan metode ini, sistem persamaan liniernya dihilangkan terlebih dahulu, kemudian untuk menentukan variabel lainnya digunakan metode substitusi.
Mengorgasasikan siswa dalam kelompok belajar (± 5 Menit) Guru membagi siswa
Guru meminta siswa dalam kelompoknya untuk memastikan bahwa setiap anggota memahami materi, pertanyaan yang dibuat, dan penyelesaiannya.
Evaluasi (±10 menit) Guru meminta kelompok
MATERI PEMBELAJARAN
KEGIATAN PEMBELAJARAN
- Determinan dan Invers Matriks
Guru bertanya kepada kelompok Guru meminta kelompok menjelaskan hasil yang diperoleh dan bertanya serta meminta agar kelompok lain memberikan tanggapan. mempresentasikan hasil pekerjaan yang diperoleh dan kelompok lain menanggapinya. Peserta didik memperhatikan pertanyaan yang diberikan guru. kesempatan bagi siswa untuk mengajukan pertanyaan yang belum mereka miliki. Dengan menggunakan kedua titik di atas, gambarlah grafik pada bidang koordinat kartesius di bawah ini.
KISI-KISI TES HASIL BELAJAR
Selamat Bekerja
Selamat_Bekerja***
Deskriptif
Test
Karena nilai Tscore (4,48) > Ttabel (1,69) berarti H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti peningkatan hasil belajar matematika mencapai 0,30. 5 Kerja sama dalam kelompok dimana siswa yang pandai berperan sebagai tutor sejawat (peer teaching) untuk membantu siswa yang belum paham. Apakah Anda mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah kolaboratif?