• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL DESTINASI PARIWISATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL DESTINASI PARIWISATA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

JURNAL

DESTINASI PARIWISATA

DIPUBLIKASIKAN OLEH

PS. SARJANA DESTINASI PARIWISATA (DPW) FAKULTAS PARIWISATA, UNIVERSITAS UDAYANA (UNUD)

Jurnal DESTINASI PARIWISATA merupakan jurnal yang terbit dua kali dalam setahun (bulan Juli dan bulan Desember) sebagai wadah karya ilmiah termasuk aspek perencanaan, penataan, pengelolaan dan dampak yang ditimbulkannya. Jurnal ini memuat tentang hasil penelitian, survei dan tulisan ilmiah populer kepariwisataan sebagai salah satu upaya memberikan sumbangan dari dunia akademis kepada sektor pariwisata. Redaksi menerima sumbangan tulisan para pakar, staf pengajar perguruan tinggi, praktisi maupun mahasiswa yang peka dan peduli terhadap eksistensi dan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Redaksi dapat menyingkat atau memperbaiki tulisan yang akan dimuat tanpa mengubah maksud dan isinya.

SUSUNAN PENGURUS JURNAL DESTINASI PARIWISATA

Editor in Chief:

I Gusti Agung Oka Mahagangga, S.Sos., M.Si.

Editor:

I Made Bayu Ariwangsa, S.S, M.Par, M.Rech.

Ida Bagus Suryawan, S.T., M.Si.

Natasha Erinda Putri Moniaga, S.S, M.Par, M.Rech.

I Gede Anom Sastrawan, S.Par. M.Par

Dian Pramita Sugiarti, S.S., M.Hum

Editorial Board:

Drs. I Putu Anom, M.Par

Dra. L.P. Kerti Pujani, M.Si

Dra. Ida Ayu Suryasih, M.Par

Made Sukana, SST.Par., M.Par., MBA.

Nararya Narottama, S.E., M.Par

Proof Reader:

I Made Adikampana, S.T, M.T Drs. A.A. Ngurah Palguna, M. Si Saptono Nugroho, S.Sos., M.Par.

I Gde Indra Bhaskara, SST.Par., M.Sc. Ph.D Putri Kusuma Sanjiwani, S.H., M.H

Sekretariat:

A.A. Putu Suwandewi, SST.Par

ALAMAT PENYUNTING DAN TATA USAHA

Program Studi Sarjana Destinasi Pariwisata Fakultas Pariwisata UNUD

Jl. DR. R. Goris No. 7 Denpasar Bali, Telp/fax: (0361)223798, email: [email protected]

(3)

ii PENGANTAR REDAKSI JURNAL DESTINASI PARIWISATA

Era revolusi 4.0 memiliki implikasi yang sulit untuk dihindari oleh seluruh komponen di dunia. Mulai dari para praktisi, akademisi, pemegang kebijakan termasuk para calon intelektual muda yaitu mahasiswa. Situasi ini menuntut kecepatan, ketepatan, dan keunggulan kompetitif yang diyakini akan mampu menembus ruang, batas dan waktu sebagai suatu kesatuan masyarakat bumi yang telah “tersatukan” melalui sistem informasi dan teknologi dan serangkaian kekuatan, model, standar-standar, bahkan ideologi-ideologi yang mengikutinya (pertumbuhan , hedonis, konsumtif, neoliberalis dan yang lainnya) sebagai ciri globalisasi.

Globalisasi tidak lagi menjadi sekedar isu, globalisasi saat ini sudah dalam tahap aplikasi secara komprehensif. Uniknya, tidak semua masyarakat dunia menyadari bahwa sudah “dirasuki” oleh

“globalisasi” yang memiliki implikasi positif maupun negatif, tergantung dari perspektif yang digunakan. Dalam dunia kampus, digitalisasi sebagai salah satu ciri revolusi 4.0 diaplikasikan untuk mampu memberikan kontribusi secara akademis maupun praktis sebagai pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan/Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian). Termasuk dalam publikasi ilmiah, yaitu penerbitan hasil-hasil penelitian / pengabdian, dituntut harus melalui jurnal-jurnal ilmiah yang bermutu dan berkualitas.

Para pengelola jurnal ilmiah, tidak hanya dituntut mampu menampilkan tulisan ilmiah dari para dosen dan mahasiswa yang kaya substansi, memiliki kebaharuan dan menampilkan temuan-temuan terkini. Tetapi juga, dituntut mampu menjalankan management secara profesional, mengacu kepada standar-standar, alat-alat software (terkait penulisan, daftar pustaka, uji plagiasi dan yang lainnya), persyaratan administrasi dan kelayakan jurnal ilmiah (dinilai dari sistem seperti OJS, reputasi, impact dan yang lainnya).

Jurnal Destinasi Pariwisata sebagai salah satu OJS Universitas Udayana, telah menduduki SINTA 5 yang sangat kami syukuri dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh tim pengelola.

Jurnal yang berawal dari publikasi hasil penelitian mahasiswa dan dosen Program Studi Sarjana Destinasi Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana ini, dituntut untuk terus berupaya meningkatkan pelayanan dan kualitas. Sehingga tidak hanya mampu menampilkan temuan- temuan terbaru terkait destinasi wisata, tetapi juga harus mampu memiliki reputasi sesuai dengan skala dan peruntukannya.

Pada Jurnal Destinasi Pariwisata Volume 7, nomor 2, edisi Desember tahun 2019 ini, kami berupaya membuka lebih lebar pintu bagi hasil-hasil penelitian dari luar Universitas Udayana sebagai upaya kami meningkatkan peringkat dan reputasi. Terdapat tiga tulisan ilmiah dari luar yang berjudul Studi Pengembangan Pasar Tradisional Pajak Ikan Sebagai Pusat Wisata Belanja di Kota Medan dari Femmy Indriany Dalimunthe, Wisata Puncak Becici : Kepuasan, Loyalitas Dan Intensi Rekomendasi Wisatawan dari Isnanda Zainur Rohman dan Daya Tarik Wisata Pasca Bencana Erupsi Gunung Api Sinabung, Di Kabupaten Karo, Sumatera Utara dari Liyushiana, Putri Rizkiyah dan Herman.

Kami membuka diri dan berharap kepada para peneliti, dosen, mahasiswa, pemegang kebijakan maupun praktisi, yang berkepentingan untuk publikasi ilmiah dapat memiliki Jurnal Destinasi Pariwisata sebagai “corong publikasi”. Destinasi wisata di Indonesia yang berkembang pesat sangat membutuhkan ide, kreatifitas dan semangat pembaharuan untuk kemajuan pembangunan pariwisata di Indonesia. Akan lebih bijak, jika pembangunan pariwisata di Indonesia mulai mempertimbangkan dan menggunakan hasil-hasil riset sebagai referensi dan dasar dalam pengambilan keputusan untuk masa depan destinasi wisata yang tidak hanya melihat aspek kuantitas melainkan juga kualitas untuk terwujudnya pembangunan pariwisata secara berkelanjutan.

Denpasar, Desember 2019 REDAKSI

(4)

iii PERSYARATAN NASKAH UNTUK JURNAL DESTINASI PARIWISATA

1. Naskah dapat berupa hasil penelitian atau kajian pustaka yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya (Jika ingin menggunakan skripsi, harap dibuat dan disesuaikan dalam format jurnal, dan jika diperlukan perubahan kata-kata maupun kalimat (paraphrase) sangat disarankan untuk mencegah autoplagiat).

2. Abstrak (bahasa Inggris) tidak lebih dari 250 kata dengan disertai 3-5 istilah kunci (keywords) dengan ukuran font cambria 10 Italic.

3. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Naskah berupa ketikan asli dan CD (Soft copy) dengan ukuran A4 ketikan spasi 1 font cambria 11 dengan jumlah maksimal 5-10 halaman (2 columns), kecuali abstrak, tabel dan kepustakaan.

4. Naskah ditulis dengan batas 2,54 cm dari tepi kiri dan tepi kanan, batas 1,9 cm bawah dan atas (Moderate).

5. Judul singkat, jelas dan informatif serta ditulis dengan huruf besar (Uppercase). Judul yang terlalu panjang harus dipecah menjadi judul utama dan anak judul.

6. Nama penulis tanpa gelar akademik, alamat e-mail dan asal instansi penulis ditulis lengkap.

7. Naskah hasil penelitian terdiri atau judul, nama penulis, abstrak, pendahuluan, tinjauan pustaka dan metode, hasil dan pembahasan, simpulan dan saran serta kepustakaan.

8. Naskah kajian pustaka terdiri atas judul, nama penulis, abstrak, pendahuluan, masalah, pembahasan, simpulan dan saran serta kepustakaan.

9. Tabel, grafik, histogram, sketsa dan gambar harus diberi judul serta keterangan yang jelas disertai dengan sumber (font menyesuaikan dan bisa dibuat menjadi 1 column).

10. Dalam mengutip pendapat orang lain, dipakai sistem nama penulis dan tahun. Contoh : XXXXX (2010); XXXX et al. (2012).

11. Kepustakaan memakai “harvard style” (font cambria 9) disusun menurut abjad nama penulis tanpa nomer urut.

a. Untuk buku : nama pokok dan inisial pengarang, tahun terbit, judul, jilid, edisi, tempat terbit dan nama penerbit.

Ex: Picard, Michael. 1996. Cultural Tourism and Touristic Culture. Singapore: Archipelago Press.

b. Karangan dalam buku : nama pokok dari inisial pengarang, tahun terbit, judul karangan, inisial dan nama editor : judul buku, hal permulaan dan akhir karangan, tempat terbitan dan nama penerbit.

Ex: McKean, Philip Frick. 1978. “Towards as Theoretical analysis of Tourism:

Economic Dualism and Cultural Involution in Bali”. Dalam Valena L. Smith (ed). Host and Guests: The Antropology of Tourism. Philadelphia : University of Pensylvania Press.

c. Untuk artikel dalam jurnal: nama pokok dan inisial pengarang, tahun, judul karangan, singkatan nama majalah, jilid (nomor), halaman permulaan dan akhir.

Ex: Pitana, I Gde. 1998. “Global Proces and Struggle for Identity: A Note on Cultural Tourism in Bali, Indonesia” Journal of Island Studies, vol. I, no. 1, pp. 117-126.

d. Untuk Artikel dalam format elektronik : Nama pokok dan inisial, tahun, judul, waktu, alamat situs.

Ex: Hudson, P. (1998, September 16 - last update), "PM, Costello liars: former bank

chief", (The Age), Available:

http://www.theage.com.au/daily/980916/news/news2.html (Accessed: 1998, September 16).

12. Dalam tata nama (nomenklatur) dan tata istilah, penulis harus mengikuti cara penulisan yang baku untuk masing-masing bidang ilmu.

13. Dalam hal diperlukan ucapan terima kasih, supaya ditulis di bagian akhir naskah dengan menyebutkan secara lengkap: nama, gelar dan penerima ucapan.

(5)

VOL. 7, No. 1, 2019

iv

JURNAL

p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937

DESTINASI PARIWISATA

DAFTAR ISI Volume 7, no 2, Desember 2019

Privatisasi Sempadan Pantai oleh Akomodasi Pariwisata

di Denpasar

______________________________________________________________________ (211-217)

Alzaena Geanina Irnawan dan Ida Bagus Suryawan

Perkembagan Wisata Mendaki Di Gunung Agung:

Studi Kasus Gunung Agung Kabupaten Karangasem

Provinsi Bali

_____________________________________________________________________ (218-225)

Himsar Hutabarat dan I Gusti Agung Oka Mahagangga

Dampak Ekonomi Pengembangan Daya Tarik Wisata “Hot Spring”

Di Kecamatan Marobo, Kabupaten Bobonaro, Timor-Leste

_________ (226-230)

Gracita Chiana do Rêgo Cornélio da Piedade dan I Putu Anom

Pencitraan Sosial Media: Studi Kasus Ulasan Tripadvisor

Terhadap 5 Restaurant Terbaik Di Bali

__________________________________ (231-238)

Intan Yulia Insani Saragih dan Gde Indra Bhaskara

Pengelolaan Sampah Di Daya Tarik Wisata Pantai Candikusuma, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya,

Kabupaten Jembrana ________________________________________________

______ (239-243)

Made Bagus Megawan dan Ida Bagus Suryawan

Penerapan Kesehatan Dan Keselamatna Kerja (K3) Wisata Arung Jeram Di Pinus Camp, Desa Sumberbulu,

Kabupaten Banyuwangi Sebagai Daya Tarik Wisata

__________________ (245-251)

Miftahol Arifin dan Made Sukana

Pemasaran Dan Persaingan Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort

Sebagai Sebuah Atraksi Wisata

_____________________________________________ (252-261)

Malene Haahr Poulsen dan Gde Indra Bhaskara

Identifikasi Potensi Desa Wisata Kerta Payangan,

Kabupaten Gianyar, Bali

_____________________________________________________ (262-268)

Putu Aditya Dharma Arya Wiguna dan I Nyoman Sukma Arida

Penerapan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Di Daya Tarik Wisata Bounce Bali Desa Canggu

Kecamatan Kuta Utara Kabupaten Badung

______________________________ (269-274)

Abel Kurniawan dan Made Sukana

Penerapan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Pada Wisata Paralayang Di Gunung Banyak,

Kota Batu, Provinsi Jawa Timur

____________________________________________ (275-280) Muhammad Alif Adz Dzikri dan Made Sukana

(6)

VOL. 7, No. 2, 2019

v

Strategi Pengembangan Lumpur Lapindo Sebagai Wisata Edukasi

Di Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur

________________________________________ (281-287)

Rizky Maulana Abdillah dan Ida Bagus Suryawan

Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Minat Beli Wisatawan

Di Pasar Seni Sukawati Kabupaten Gianyar

_____________________________ (288-294) Andreas Agung Riantra dan Made Sukana

Penurunan Jumlah Lahan Dan Perubahan Budidaya Tanaman Kopi Bali Kintamani Mengancam Destinasi Wisata Kopi

Di Kintamani

____________________________________________________________________ (295-303)

Ijlal Faiz Bayu Permana dan Made Sukana

Implikasi Erupsi Gunung Agung Terhadap Sosial Ekonomi Pelaku Usaha Pariwisata Di Kawasan

Pantai Batu Bolong, Canggu

__________________________________________________ (304-309)

Dewi Sasmita dan Saptono Nugroho

Pengaruh Harga Dan Citra Merek

Terhadap Minat Beli Wisatawan Domestik

Di Pusat Oleh-Oleh Joger, Kuta, Bali

_____________________________________ (310-314)

Risa Kariba Jambak dan I Made_Sukana

Dampak Ekonomi Ekowisata Air Terjun Suranadi

Terhadap Masyarakat Lokal Di Desa Jatiluwih

_________________________ (315-325)

I Putu Agus Mahendra Suryajaya dan I Made Adikampana

Implikasi Erupsi Gunung Agung Terhadap Pertunjukan Seni Tari Tradisional Di Kelurahan Ubud, Kecamatan Ubud,

Kabupaten Gianyar, Bali

______________________________________________________ (326-331)

Bony Christianta Sembiring dan I Made Adikampana

Tingkat Kepuasan Wisatawan Terhadap Kualitas Pelayanan Di Sanggar Seni Yasa Putra Sedana di Kecamatan Payangan,

Kabupaten Gianyar, Bali

______________________________________________________ (332-338)

I Kadek Ardita dan Ida Bagus Suryawan

Pengelolaan Air Limbah Hotel Dan Pemanfaatannya

Dalam Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan : Studi Kasus Pada

Pengelolaan Air Limbah Lagoon, Itdc, Nusa Dua

______________________ (339-343)

Septi Ayu Andini dan I Nyoman Sukma Arida

Pengelolaan Desa Wisata Kaba – Kaba, Kecamatan Kediri,

Kabupaten Tabanan: Suatu Analisis Kualitatif

________________________ (344-351)

I Gusti Ayu Komang Meilinda Wijayanthi dan Putri Kusuma Sanjiwani

Upaya Revitalisasi Pertanian Rumput Laut Dalam Praktik

Pariwisata Di Desa Lembongan, Kabupaten Klungkung

_____________ (352-363)

I Wayan Gede Wahyu Pradnyana dan Saptono Nugroho

(7)

VOL. 7, No. 1, 2019

vi

Strategi Pengembangan Desa Sayan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali,

Sebagai Desa Wisata Berbasis Wisata Alam Bija

_______________________ (364-373) Alinda Thalia dan Saptono Nugroho

Pengembangan Atraksi Wisata Minat Khusus Berbasis Nilai Tradisi

Makotek Di Desa Wisata Munggu Badung Bali

_________________________ (374-381)

Winda Kusumawati Supandi dan I Made Adikampana

Sistem Pengelolaan Daya Tarik Wisata Pulau Gili Ketapang Sebagai Aset Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumber Asih,

Kabupaten Probolinggo

______________________________________________________ (382-389) Decky Abdi Dermawan dan I Putu Anom

Analisis Peran Stakeholder Desa Wisata Carangsari,

Kecamatan Petang, Kabupaten Badung

__________________________________ (390-397)

Shafa Raya Cahyana dan Saptono Nugroho

Respon Masyarakat Lokal terhadap Pengembangan Kebun Raya

Gianyar sebagai Destinasi Pariwisata di Desa Kerta

__________________ (398-403)

I Putu Ardita Yadnya dan I Made Adikampana

Studi Pengembangan Pasar Tradisional Pajak Ikan

Sebagai Pusat Wisata Belanja Di Kota Medan

___________________________ (404-414)

Femmy Indriany Dalimunthe

Wisata Puncak Becici: Kepuasan, Loyalitas, Dan

Intensi Rekomendasi Wisatawan

_________________________________________ (415-420)

Isnanda Zainur Rohman

Daya Tarik Wisata Pasca Bencana Erupsi Gunung Api Sinabung

di Kabupaten Karo, Sumatera Utara

_______________________________________ (421-432)

Liyushiana, Putri Rizkiyah dan Herman

Reidentifikasi Konsep dan Teori Dalam Memahami

Fenomena Blind Spot Penelitian Pariwisata di Bali

___________________ (433-445)

I Putu Anom, I Gusti Agung Oka Mahagangga, I Made Bayu Ariwangsa,

dan I Gusti Agung Athina Wulandari

(8)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

295

Penurunan Jumlah Lahan Dan Perubahan Budidaya Tanaman Kopi Bali Kintamani Mengancam Destinasi Wisata Kopi Di Kintamani

Ijlal Faiz Bayu Permana a, 1, Made Sukanaa, 2

1 [email protected], 2 [email protected]

a Program Studi Sarjana Destinasi Pariwisata, Fakultas Pariwisata,Universitas Udayana, Jl. Dr. R. Goris, Denpasar, Bali 80232 Indonesia Abstract

This research is conducted in Catur Village, Kintamani District, Bangli Regency. The purpose of this research is to identify the decreasing number of coffee land of Kintamani Bali Coffee plantation and its causes. The data used in this research are qualitative and quantitative, while the data of this research consists of of primary and secondary data. The data is collected through observation, depth interviews, and documentation. The informants are determined through purposive sampling procedure, and they are I Ketut Jati (Head of Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Kintamani) and Kocong Neca (Local Coffee Farmer). Afterward, the data that has been found is analyzed by descriptive qualitative method.

The results of this research show that the decreasing number of coffee land of Kintamani Bali Coffee plantation on has reach its dangerous point and threaten tourism in Kintamani. In the last two years, the number of coffee land of Kintamani Bali Coffee had decreased significantly from 6.335 Ha to 4.772 Ha and automatically causing the total production of Kintamani Bali Coffee beans dropped from 2.314 Ton to 2.046 Ton. The biggest reason of the decreasing number of coffee land came from land conversion. The difference of income between coffee plantation with orange plantation also made farmers in Desa Catur to shift to grow more orange than coffee. In a 0,5 Ha field, orange plantation could gain profits approximately for Rp 114.945.000, while coffee plantation only gain profits for Rp 63.530.000. Moreover, plant-paracitic nematodes are damaging the coffee plantation. Therefore, the number of lands to grow coffee are decreasing.

The recomendation from this research addressed to government service of Agriculture, Plantation and Forestry Bangli to keep oversee Kintamani Bali Coffee plantation and give an aid towards the Nematoda Parasite Diseases problem. Furthermore, farmers required to improve their human resource’s skill, so they can use management system on their plantation.

Keywords: Land Degradation of Plantation, Change of Plant Cultivation, Kintamani Bali Coffee, Coffee Tourist Destination, Kintamani District

I. PENDAHULUAN

Sektor pariwisata saat ini menjadi salah satu sektor utama dalam perekonomian dan pembangunan di Indonesia. Hal ini dikarenakan pariwisata merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar di samping sektor migas. Sektor pariwisata membantu perekonomian masyarakat lokal dan pembangunan sarana/prasarana serta membuka lapangan pekerjaan di daerah tujuan wisata. Selain itu, pariwisata juga memiliki peran dalam pertukaran budaya yang mampu dimanfaatkan sebagai hal yang positif. Oleh karena itu, saat ini pariwisata menjadi sorotan utama bagi pemerintah dalam mendorong perkembangan perekonomian Indonesia.

Dengan terus berkembangnya sektor pariwisata di Indonesia, maka industri pariwisata semakin bertambah dan memiliki jenis yang beragam. Permintaan wisatawan yang terus berubah-ubah memaksa industri pariwisata agar terus berinovasi demi mencapai kepuasan wisatawan. Hal itu yang memicu akan munculnya destinasi-destinasi

baru di dalam suatu kawasan pariwisata yang diharapkan mampu memenuhi permintaan wisatawan yang kian berubah-ubah. Salah satu permintaan yang kerap muncul dari wisatawan saat ini yaitu destinasi wisata kopi.

Di Indonesia sendiri, kopi sudah menjadi budaya bagi masyarakatnya sejak masa penjajahan oleh bangsa Belanda hingga sekarang. Sehingga Indonesia memiliki banyak penghasil biji kopi di segala penjuru nusantara, bahkan tidak sedikit yang memiliki kualitas mancanegara. Hal itu didukung dengan tanah Indonesia yang terkenal subur dan iklim tropis yang membuat sangat cocok untuk menaman tanaman kopi. Salah satu provinsi penghasil biji kopi berkualitas di Indonesia yaitu provinsi Bali, tepatnya berada di daerah Kintamani, Kabupaten Bangli yang dikenal dengan sebutan Kopi Bali Kintamani.

Provinsi Bali memiliki beragam daya tarik yang unik yang menjadikannya sebagai destinasi favorit dan memiliki industri pariwisata yang berkembang pesat. Bali juga menjadi pusat pariwisata Indonesia dengan

(9)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

296

bentang alamnya yang kaya, mulai dari pantai hingga dataran tinggi dan pegunungan serta dilengkapi dengan budaya masyarakatnya yang terus terjaga dan menjadi identitas pariwisata Bali. Salah satu dataran tinggi yang ada di Bali yaitu daerah Kintamani di Kabupaten Bangli yang menjadi pusat perkebunan dan penghasil kopi Bali berkualitas. Pertumbuhan perkebunan Kopi Bali kintamani sangatlah penting bagi kelangsungan pariwisata di Bali, karena Kopi Bali kintamani merupakan salah satu komoditas utama dalam permintaan wisatawan yang datang ke Bali, baik domestik maupun mancanegara. Kopi tersebut telah menjadi icon pariwisata Bali dan jenis oleh-oleh yang banyak dicari bagi wisatawan. Dengan potensi yang begitu besar, perkebunan Kopi Bali kintamani telah membuka sektor usaha pariwisata yang berbeda, yaitu agrowisata kopi yang banyak diminati oleh penggemar kopi dari seluruh nusantara dan mancanegara. Sehingga diharapkan Kopi Bali kintamani dapat terus menopang pariwisata Bali dan mampu memenuhi permintaan wisatawan di Bali.

Di samping keunggulan yang telah disebutkan, Kopi Bali Kintamani ternyata memiliki ancaman yang serius dalam waktu jangka panjang, yaitu luas areal tanaman kopi yang semakin menyusut dan jumlah petani kopi yang terus menurun. Hal tersebut memberikan dampak yang buruk kepada permintaan wisatawan secara perlahan. Belum lagi banyak petani kopi yang akhirnya berpindah menjadi petani jeruk karena dirasa lebih menguntungkan. Bila hal ini terus dibiarkan maka potensi pariwisata Kopi Bali Kintamani akan terus merosot dan akhirnya menjadi punah. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mencari tahu dengan jelas penyebab terjadinya ancaman terhadap destinasi wisata Kopi Bali Kintamani dan diharapkan mampu memberikan solusi permasalahan.

II. KEPUSTAKAAN

2.1 Telaah Hasil Penelitian Sebelumnya Penelitian mengenai Kopi Bali Kintamani telah dilakukan beberapa kali sebelumnya, sebagian besar penelitian tersebut membahas potensi serta strategi pengembangannya dan belum ada yang membahas secara spesifik tentang ancaman wisata Kopi Bali Kintamani.

Sehingga penulis cukup menelaah penelitiaan

sebelumnya yang membahas Kopi Bali Kintamani di daerah Kintamani, Bangli.

Di dalam jurnal “Perbandingan Pendapatan antara Usahatani Kopi dan Usahatani Jeruk di Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli” yang ditulis oleh Heryana (2016), terdapat faktor yang mendorong alih fungsi lahan dan alasan-alasan petani yang beralih dari menanam kopi menjadi menanam jeruk. Di jurnal ini juga dijelaskan perbedaan biaya pengeluaran dan pendapatan tanaman kopi dengan tanaman jeruk. Pendapatan usahatani tanaman jeruk lebih tinggi yaitu sebesar Rp 114.945.000 dibandingkan dengan usahatani tanaman kopi hanya Rp 63.530.000 dengan masing-masing luas 0,50 Ha. Hal inilah yang pada akhirnya meyebabkan petani lebih memilih untuk menanam jeruk dibandingkan kopi.

Lalu dalam jurnal “Analisis Pengembangan Potensi Agrowisata Kopi Luwak di Daerah Kintamani, Bangli” yang ditulis oleh Prabandari (2012), terdapat kesamaan lokasi penelitian dengan yang dilakukan oleh penulis, sehingga dijadikan sebagai acuan dalam penelitian ini. Hanya di dalam penelitian ini memilih spesialitas kopi yang berbeda dengan penulis yaitu Kopi Luwak. Di dalam penelitian tersebut membahas analisis potensi dan beberapa ancaman yang ada di dalamnya. Lalu di dalam jurnal ini secara spesifik menjelaskan analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dari Kopi Luwak menggunakan matriks SWOT. Dari analisis tersebut didapatkan hasil bahwa Kopi Luwak memiliki potensi yang tinggi sebagai potensi wisata dan daerah Kintamani sebagai daerah yang tepat sebagai pengembangan agrowisata Kopi Bali Kintamani

2.2 Landasan Konsep dan Teori Analisis Dalam artikel ini menggunakan beberapa konsep diantaranya :

1. Konsep Perkebunan

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2004, yang dimaksud dengan perkebunan adalah “segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu pada tanah dan/atau media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai, mengolah dan memasarkan barang dan jasa hasil tanaman tersebut, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, permodalan serta manajemen untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pelaku

(10)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

297

usaha perkebunan dan masyarakat”.

Perkebunan memberikan manfaat ekonomis dan juga ekologis bagi petani dan juga lingkungan alam di Indonesia. Perkebunan telah menjadi pondasi struktur ekonomis Indonesia sejak lama, bahkan telah ada sejak zaman nenek moyang kita. Sehingga perkebunan juga memiliki nilai sosial budaya yang telah diturunkan dari generasi ke generasi hingga saat ini perkebunan terus menjadi perekat dan pemersatu bangsa.

Tanaman perkebunan merupakan tenaman semusim dan tanaman tahunan, karena jenis dan tujuan pengelolaannya

ditetapkan sebagai tanaman

perkebunan. Dengan demikian tanaman perkebunan bisa dibedakan menjadi dua, yaitu tanaman semusim dan tanaman tahunan.

Tanaman semusim adalah jenis tanaman yang hanya dipanen satu kali dengan siklus hidup satu tahun sekali, contohnya tanaman tebu, kapas dan tembakau. Sementara tanaman tahunan membutuhkan waktu yang panjang untuk berproduksi dan bisa menghasilkan sampai puluhan tahun dan bisa dipanen lebih dari satu kali, misalnya tanaman kelapa sawit, karet, kakao, cengkeh, kopi dan lada.

2. Konsep Alif Fungsi Lahan

Alih fungsi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula menjadi fungsi lain yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan atau potensi lahan itu sendiri. Menurut UU No 26 2007 Tentang Penataan Ruang, alih fungsi lahan adalah “Pemanfaatan ruang mengacu pada fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang dilaksanakan dengan mengembangkan penatagunaan tanah, penatagunaan air, penatagunaan udara, dan penatagunaan sumber daya alam lain”. Alih fungsi lahan dalam artian perubahan atau penyesuaian peruntukan penggunaan, disebabkan oleh faktor-faktor yang pada umumnya meliputi keperluan untuk memenuhi kebutuhan yang makin bertambah jumlahnya dan meningkatnya tuntutan akan kualitas kehidupan yang lebih baik.

Ada beberapa penyebab terjadinya alih fungsi lahan di antaranya, rendahnya tingkat keuntungan bertani, tidak dipatuhinya peraturan tata ruang (lemahnya penegakkan hukum tentang tata ruang), keinginan mendapatkan keuntungan jangka pendek dari

pengalih fungsian lahan, dan rendahnya koordinasi antara lembaga dan departemen terkait dengan perencanaan penggunaan lahan (Agus dkk, 2001). Dalam kaitannya dengan pariwisata Bali, alih fungsi lahan ini terjadi karena tingginya tingkat permintaan terhadap sarana sarana pariwisata. Hal ini juga dipengaruhi oleh bentuk pariwisata yang dikembangkan yaitu pariwisata massal.

3. Konsep Petani

Petani adalah jenis pekerjaan yang telah ada sejak zaman peradaban manusia mulai terbentuk. Dengan bertani, manusia mampu bertahan hidup dengan memanfaatkan berbagai macam sayur/buah sebagai konsumsi sehari-hari. Jenis petani sendiri terbagi menjadi beberapa bagian. Secara garis besar terdapat tiga jenis petani, yaitu petani pemilik lahan, petani pemilik yang sekaligus juga menggarap lahan, dan buruh tani. Petani umumnya bertempat tinggal di perdesaan dan sebagian besar di antaranya, tidak sedikit juga yang tinggal di daerah-daerah yang padat penduduk dan hidup di bawah garis kemiskinan.

Di dalam UU No. 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani yang dimaksud dengan petani dijelaskan dalam Pasal 1 Ayat 3 adalah “warga negara Indonesia perseorangan dan/atau beserta keluarganya yang melakukan usaha tani di bidang tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan”.

III. METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Kintamani Kabupaten Bangli Provinsi Bali. Lokasi ini tepatnya berada di Desa Catur. Metode yang digunakan yaitu analisis deskriptif-kualitatif, di mana jenis data yang digunakan adalah data kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu data primer mengenai penyusutan lahan pertanian tanaman kopi di Desa Catur, Kintamani. dan data sekunder yaitu mengenai luas areal tanaman kopi di Kecamatan Kintamani, Jumlah petani kopi, jumlah produksi kopi, dan perbandingan pendapatan petani kopi arabika dan petani jeruk.. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan/narasumber yang dipilih adalah ketua I Ketut Jati sebagai ketua organisasi MPIG (Masyarakat Perwakilan Indikasi Geografis) Kintamani dan juga Kocong Neca yang merupakan petani kopi di Desa

(11)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

298

Catur. Teknik analisis data yang digunakan penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif, yaitu dengan proses mengatur urutan data, mengorganisasikasnnya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar (Moleong, 2000, dalam Utama dan Mahadewi, 2012).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Paralayang Gunung Banyak

4.1.1. Profil Desa Catur

Desa Catur terletak di sebelah utara Kabupaten Bangli pada ketinggian 1.200 Meter diatas permukaan laut dan memiliki luas wilayah sebesar 746 Ha. Desa Catur memiliki suhu rata-rata harian berkisaran antara 21-30 derajat Celcius. Secara geografis, wilayah Desa Catur berada pada area pegunungan dengan warna tanah rata- rata hitam dan umumnya sangat subur.

Sehingga sangat cocok digunakan sebagai cocok tanam.

Berdasarkan tata guna tanah, Desa Catur terbagi menjadi: tanah perkebunan

dan pertanian (300 Ha),

pemukiman/pekarangan (8 Ha), perkantoran (1 ha), sekolah (80 are), pustu (5 are), kuburan (5 Ha), pasar (1Ha), Pura (2 ha), tempat umum lainnya 60 are, hutan negara (60 Ha) dan sisanya adalah tanah yang dipergunakan untuk infrastuktur desa (Data Desa Catur, 2017).

Letak geografis dan kondisi tanah yang subur membuat wilayah Desa Catur sangat cocok dijadikan lahan perkebunan dan holtikultura berbagai jenis sayuran, seperti kol, wortel, bawang prei dan tomat. Namun, komoditas yang paling terkenal di Desa Catur yaitu tanaman jeruk dan kopi, yang mana telah menjadi ikon di desa ini. Jeruk dan kopi arabika merupakan tanaman perkebunan yang paling dominan ditanam diantara jenis tanaman yang lainnya. Maka dari itu, masyarakat Desa Catur menggunakan hasil perkebunan buah jeruk dan hasil olahan kopi sebagai oleh-oleh khas wilayah ini. Perkebunan kopi di Desa Catur telah mendapatkan pengakuan baik nasional dan internasional, salah satunya yaitu telah mengantongi Sertifikat Indikasi Geografis (SGI). Sertifikasi tersebut mampu membawa

kopi hasil Desa Catur ke dalam kategori kopi berkualitas.

Desa Catur berada pada jalur pariwisata, yang merupakan jalur konektivitas antar daya tarik wisata (DTW) di Bali antara DTW yang ada di Kabupaten Badung dengan DTW yang ada di kawasan wisata Kintamani. Sehingga desa ini juga menjadi salah satu alternatif bagi wisatawan yang ingin merasakan kehidupan desa yang masih memegang erat budaya nya.

4.1.2. Kondisi Ekonomi Desa Catur

Berdasarkan mata pencahariannya, petani merupakan jenis pekerjaan yang paling dominan di Desa Catur, yaitu sebanyak 934 jiwa . Selanjutnya terdapat ibu rumah tangga sebagai jenis pekerjaan terbanayak kedua setelah petani yaitu sebanyak 425 jiwa. Kemudian terdapat pelajar/mahasiswa sebagai jenis pekerjaan terbanyak ketiga yaitu sebanyak 400 jiwa.

Sebagaian besar lahan yang ada di Desa Catur dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

Tanaman yang dibudidayakan yaitu tanaman buah (kopi arabika dan jeruk), tanaman holtikultura (tomat, bawang, kol) tanaman pangan (jagung, ketela pohon, talas).

Hingga saat ini hal yang terus dikembangkan di Desa Catur sebagai salah satu pendapatan utama bagi petani disana, antara lain adalah sektor perkebunan dengan kopi arabika dan jeruk, sedangkan untuk mendukung peningkatan hasil usaha dibidang pertanian dan usaha penyelamatan lingkungan di masing-masing banjar dinas di Desa Catur sudah ada subak-subak abian.

4.1.3. Demografis Desa Catur

Desa Catur merupakan desa yang memiliki jumlah penduduk sebesar 2.005 jiwa. Dari kesemuanya tersebar di masing- masing dusun yang ada di Desa Catur yakni Dusun Catur, Dusun Lampu dan Dusun Mungsengan (Data BPS Kab. Bangli, 2017).

Desa Catur juga memiliki sebuah pasar tradisional yang terdapat di wilayah Dusun Lampu, maka dari itu tidak sedikit penduduk yang bekerja sebagai pedagang dengan banyak yaitu 53 jiwa. Setelah itu terdapat pegawai swasta sebanyak 67 jiwa, pensiunan sebanyak 32 jiwa, sebagai dosen sebanyak 1 jiwa, sebagai TNI (Tentara Nasional Indonesia) sebanyak 6 jiwa, sebagai buruh tani /buruh harian lepas sebanyak 75 jiwa

(12)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

299

dan sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) sebanyak 12 jiwa (Data BPS Kab. Bangli, 2017).

4.2. Penurunan Jumlah Lahan Perkebunan Kopi Kintamani Bali

Pertumbuhan perkebunan Kopi Kintamani Bali kian mengalami penurunan dan isu-isu pun terus terdengar akan terancamnya perkebunan Kopi Kintamani Bali, salah satunya yang terjadi di Desa Catur

Contohnya petani kopi dan pelaku usaha di Desa Catur yang mengkhawatirkan bila hal ini terus dibiarkan maka lahan perekebunan kopi akan semakin berkurang dan pada akhirnya semua lahan perkebunan kopi beralih fungsi menjadi fungsi-fungsi lainnya tergantung kebutuhan masyarakat disana. Bahkan hal ini juga membuat resah pariwisata Bali, karena dirasa Kopi Kintamani Bali merupakan sebuah potensi pariwisata dan telah menjadi permintaan sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Bali, khususnya para penggemar kopi dari seluruh nusantara dan mancanegara yang telah mengakui bahwa Kopi Kintamani Bali salah satu kopi yang memiliki cita rasa unik.

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa pada dua tahun terakhir telah mengalami penurunan luas areal tanaman dan juga jumlah produksi Kopi Kintamani Bali yang cukup signifikan. Hingga tahun 2016 telah mengalami penurunan areal tanaman kopi 24,7% yaitu seluas 1563 Ha dan juga penurunan jumlah produksi 11,6% yaitu sebanyak 268,39 Ton. Hal ini merupakan masalah yang serius terutama bagi petani kopi yang hanya memiliki perkebunan skala kecil.

Dampak ekonomi akan jelas terlihat dengan adanya penurunan tersebut dan banyak yang mencoba beralih untuk menanam tanaman lain yang dirasa lebih menjanjikan. Sehingga seperti yang bisa dilihat di tabel 1 sejak dua tahun terakhir terus terjadi penurunan jumlah petani kopi dan hal ini tentu saja memiliki penyebab- penyebab tertentu yang membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahuinya.

Dengan adanya penurunan lahan perkebunan Kopi Kintamani Bali di Kecamatan Kintamani berdasarkan tabel diatas, maka hal ini akan berdampak besar bagi pariwisata di Bali.

(13)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

300

Kare na diras a Kopi Kinta mani Bali meru paka

n sebuah potensi pariwisata dan telah menjadi permintaan sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Bali, khususnya para penggemar kopi dari seluruh nusantara dan mancanegara yang telah mengakui bahwa Kopi Kintamani Bali

salah satu kopi yang memiliki cita rasa unik.

Kopi Kintamani Bali juga telah membuka peluang bagi jenis pariwisata yang berbeda di Bali, yaitu agrowisata Kopi Kintamani Bali yang

memang banyak bermunculan di Kecamatan Kintamani. Oleh karena itu pertumbuhan perkebunan Kopi Kintamani Bali, yang persentase nya telah turun sekitar 11,5% dari tahun 2014 ke tahun 2016, harus dijaga jangan sampai terus mengalami penurunan dan terancam punah, yang pada akhirnya akan merugikan para petani dan juga pariwisata Bali.

4.3. Penyebab Terjadinya Penurunan Jumlah Lahan Perkebunan Kopi Kintamani Bali

4.3.1. Alih Fungsi Lahan

Alih fungsi lahan merupakan penyebab terbesar terjadinya penurunan luas areal perkebunan Kopi Kintamani Bali di Desa Catur. Menurut UU No 26 2007 Tentang Penataan Ruang, “alih fungsi lahan adalah Pemanfaatan ruang mengacu pada fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang dilaksanakan dengan mengembangkan penatagunaan tanah, penatagunaan air, penatagunaan udara, dan penatagunaan sumber daya alam lain”. Petani berbondong-

bond ong mela kuka n alih

fungs i lahan menj

adi tana man jeruk.

Sehin gga hany

a tersis

a sedikit tanaman kopi yang masih bertahan dan itupun menurut petani tidak memiliki kualitas sebagus seperti sediakala.

Menurut petani kopi bernama Kocong Neca, Tren ini diyakini bermula karena :

“Diawali dengan pembelian lahan yang dilakukan di Desa Catur oleh petani dari desa sebelah untuk menanam jeruk, hal ini pada akhirnya mendapat perhatian petani-petani

Tabel 1

Data Banyaknya Petani, Luas Areal dan Produksi Tanaman Kopi Di Kintamani 2010-2016

Tahun Jumlah Petani (Orang)

Luas Areal Tanaman (Ha)

Jumlah Produksi (Ton)

2010 6.430 3.752 1.703,46

2011 6.420 3.775 1.756,26

2012 7.143 4.503 2.008

2013 7.392 5.346 2.353,28

2014 7.291 6.335 2.314,39

2015 1.774 5.918 2.165,23

2016 1.634 4.772 2.046

Sumber: Dinas Pertanian Perkebunan dan Perhutanan Bangli, 2017

(14)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

301

kopi di Desa Catur setelah mengetahui penghasilan yang didapat sangat tinggi dibandingkan menanam kopi, yang pada akhirnya membuat banyak petani kopi ikut- ikutan mencoba menanam jeruk” (Wawancara dengan Kocong Neca (Petani Kopi Desa Catur, 2017)

Namun kenyataannya untuk mendapatkan hasil yang banyak dari menanam jeruk membutuhkan pula modal yang banyak, yang dimana tidak disadari sejak awal oleh petani-petani yang termakan tren tersebut dan tidak sedikit petani yang hanya memiliki modal pas-pasan mencoba mengikuti tren ini. Hal ini terjadi menurut I Ketut Jati (Ketua MPIG Kintamani) karena:

“Kualitas SDM yang dimiliki oleh perkebunan kopi dinilai rendah, sehingga mereka tidak menggunakan ilmu manajemen dalam memperhitungkan biaya-biaya yang diperlukan terlebih dahulu untuk menanam jeruk dan juga hal ini membuat petani cepat berubah pikiran untuk berganti menanam tanaman yang dirasa sedang naik harganya”

(I Ketut Jati, Ketua MPIG Kintamani)

Namun bagi petani yang memiliki modal besar tentu saja mereka telah sukses mendapatkan penghasilan yang besar dari menanam jeruk dan pada akhirnya mereka mengganti seluruh perkebunan kopi nya dengan menanam jeruk. Hingga sekarang trend ini masih berlanjut walaupun beberapa petani mulai menyadari bahwa menanam kopi sebenarnya lebih menjanjikan.

Sedangkan menanam kopi hanya memerlukan setengah biaya dari jeruk dan tidak memerlukan perawatan khusus seperti menyemprot obat-obatan. Tetapi tetap saja petani menemukan kendala-kendala dalam menanam kopi. tanaman kopi memerlukan tanaman perindang yang ditanam bersebelahan agar rimbun, bila kurang rimbun akan memepengaruhi hasil panen kopi Sehingga jika petani ingin menanam kopi harus menanam tanaman perindang dahulu dan membuat petani sering berganti-ganti tanaman. Terlebih lagi jika petani hanya menanam kopi harus menunggu kurang lebih 4 tahun untuk mendapatkan hasil panen, hal itu tidak memberikan pilihan kepada petani

untuk menanam tanaman lain agar mendapatkan hasil yang cepat seperti umbi- umbian dan sayur-sayuran yang rata-rata dalam hitungan bulanan dapat dipanen sehingga menggunakan sistem tumpang sari.

4.3.2. Perbandingan Pendapatan Petani Kopi dengan Jeruk

Perbedaan jumlah pendapatan tentu saja mempengaruhi petani untuk berganti dari menanam kopi, maka diperlukannya perbandingan pendapatan petani kopi dengan jeruk. Untuk mengetahui perbandingan biaya pendapatan petani dari membudidayakan tanaman kopi dan tanaman jeruk, yaitu dengan menggunakan analisis pendapatan.

Rumus analisis pendapatan kopi dan tanaman jeruk diperoleh dari total revenue (total penerimaan) – total cost (total biaya), sehingga dapat dilihat seberapa besar pendapatan usahatani dan produksi yang dihasilkan petani (Budiono, 2002).

Pendapatan budidaya tanaman jeruk lebih tinggi yaitu Rp. 134.945.000 per 50 are, dibandingkan dengan tanaman kopi yaitu Rp.

56.780.000 per 50 are. Hasil pendapatan tersebut merupakan faktor petani beralih untuk membudidayakan tanaman jeruk daripada tanaman kopi karena pendapatan tanaman jeruk lebih tinggi.

Tanaman jeruk membutuhkan biaya pemeliharaan yang lebih tinggi, yaitu sebesar Rp 25.055.000 dibandingkan dengan tanaman kopi arabika yang sebesar Rp 15.220.000.

Tanaman jeruk juga memiliki pendapatan lebih tinggi, yaitu sebesar Rp 134.945.000 dibandingkan tanaman kopi arabika yang sebesar Rp 56.780.000. Hal ini lah yang melatar belakangi para petani Kopi Kintamani Bali mulai beralih untuk menanam jeruk karena dirasa mampu menghasilkan banyak keuntungan dalam sekali panen. Padahal perlu digarisbawahi untuk menanam jeruk memerlukan jumlah modal yang besar agar mendapatkan hasil yang besar juga, sehingga bagi petani yang mulai mengikuti tren ini tanpa mempersiapkan modal yang besar hanya akan mendapatkan hasil yang kurang mencukupi atau bahkan gagal panen dan hal ini lah yang banyak terjadi di Kintamani, petani cenderung hanya mengikuti tren harga

(15)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

302

komoditas yang sedang naik tanpa berpikir panjang dan melakukan perhitungan

Sehingga lahan perkebunan Kopi Kintamani Bali perlahan akan terus menurun dan akan sangat merugikan bagi petani apabila hal ini terus dibiarkan. Hal ini juga akan mengancam pariwisata Bali bila lahan perkebunan tanaman Kopi Kintamani Bali terus mengalami penurunan dan akhirnya tidak mampu lagi memenuhi permintaan dari wisatawan.

4.3.3. Kerentanan Tanaman Terserang Penyakit Parasit Nematoda

Penyakit parasit Nematoda merupakan penyebab petani kopi di Desa Catur sering mengalamai gagal panen. Penyakit Nematoda mengakibatkan petani harus berganti-ganti tanaman dan akhirnya kesuburan lahan pun terus berkurang. Hal ini yang mengakibatkan terus berkurangnya lahan perkebunan kopi karena rentan terserang penyakit parasit Nematoda.

Hingga saat ini petani di Desa Catur belum menemukan cara untuk menyembuhkan tanaman yang terserang oleh penyakit ini dan dikhawatirkan akan terus menggerogoti seluruh perkebunan kopi yang ada di Desa Catur. Hal ini tentu merugikan petani karena mereka perlu mengganti tanaman yang sudah terkena penyakit sesegera mungkin dan pada akhirnya mereka mengalami kerugian. Belum ada peran pemerintah akan penyakit parasit Nematoda dengan memberikan bantuan ataupun melakukan penanganan. Sehingga petani sedang mencari akal untuk menyiasati hal ini dengan tidak menggunakan terasering karena akan membuat air tergenang dan mudah tersrang penyakit.

IV. PENUTUP 5.1. Simpulan

Penurunan lahan perkebunan Kopi Kintamani Bali sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan dan dapat mengancam pariwisata di Bali. Hal ini ditinjau dari aspek yang sudah dipaparkan oleh penulis, yaitu:

1. Pada dua tahun 2014 hingga 2016 perkebunan Kopi Kintmani Bali di Kecamatan Bali telah mengalami penurunan luas areal tanaman dan jumlah produksi Kopi Kintamani Bali yang cukup signifikan. Hingga tahun 2016 telah mengalami penurunan areal tanaman kopi

seluas 1563 Ha dan juga penurunan jumlah produksi sebanyak 268,39 Ton. Hal ini merupakan masalah yang serius terutama bagi petani kopi yang hanya memiliki perkebunan skala kecil. Dampak ekonomi akan jelas terlihat dengan adanya penurunan tersebut dan banyak yang mencoba beralih untuk menanam tanaman lain yang dirasa lebih menjanjikan.

2. Penurunan lahan perekebunan Kopi Kintamani Bali sebagian besar disebabkkan oleh alih fungsi lahan, yaitu beralih fungsi menjadi tanaman jeruk. Hal ini dilatar belakangi petani-petani yang termakan trend menanam jeruk dan tidak sedikit petani yang hanya memiliki modal pas-pasan mencoba mengikuti trend ini.

Hal ini didasari karena SDM yang dimiliki oleh para petani dinilai rendah, sehingga mereka tidak menggunakan ilmu manajemen dalam memperhitungkan biaya-biaya yang diperlukan terlebih dahulu untuk menanam jeruk

3. Perbedaan jumlah pendapatan mempengaruhi petani untuk berganti dari menanam kopi menjadi menanam jeruk.

Pendapatan budidaya tanaman jeruk lebih tinggi yaitu Rp. 134.945.000 per 50 are, dibandingkan dengan tanaman kopi yaitu Rp. 56.780.000 per 50 are. Hasil pendapatan tersebut merupakan faktor petani beralih untuk membudidayakan tanaman jeruk daripada tanaman kopi karena pendapatan tanaman jeruk lebih tinggi.

4. Penyakit parasit Nematoda juga merupakan penyebab penurunan lahan perkebunan Kopi Kintamani Bali karena memberi dampak kepada petani kopi di Desa Catur sering mengalamai gagal panen. Parasit Nematoda yang menyerang pada tanaman kopi seringkali berasal dari spesies Pratylenchus coffeae dan Radopholus similis. Keduanya merupakan nematoda yang menyerang jaringan akar tumbuhan kopi. Hal ini yang mengakibatkan terus berkurangnya lahan perkebunan kopi karena rentan terserang penyakit parasit Nematoda. Hingga saat ini petani di Desa Catur belum menemukan cara untuk menyembuhkan tanaman yang terserang oleh penyakit ini dan dikhawatirkan akan terus menggerogoti

(16)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

303

seluruh perkebunan kopi yang ada di Desa Catur. Hal ini tentu merugikan petani karena mereka perlu mengganti tanaman yang sudah terkena penyakit sesegera mungkin dan pada akhirnya mereka mengalami kerugian.

5.2 Saran

Dari pembahasan sebelumnya adapun saran yang dapat diberikan adalah :

1. Dinas Pertanian Perkebunan dan Perhutanan Bangli diharapkan terus memonitor jumlah lahan perkebunan Kopi Kintamani Bali di Kecamatan Kintamani dan berkordinasi dengan petani untuk menghindari adanya penurunan secara terus-menerus. Selain itu diharapkan untuk menangani permasalahan penyakit parasit Nematoda serta memberikan bantuan obat bagi perkebunan Kopi Kintamani Bali di Kecamatan Kintamani agar terhindar dari gagal panen.

2. Diperlukannya peningkatan kapasitas SDM bagi petani kopi di Kecamatan Kintamani Bali sehingga mampu menggunakan ilmu manajemen dalam menanam tanaman dan akan tersadar bahwa menanam tanaman kopi lebih menjanjikan dan hanya membutuhkan modal lebih sedikit dari jeruk. Sehingga alih fungsi lahan dari kopi ke jeruk akan berkurang.

3. Diharapkan petani tidak mudah tergiur dengan hasil yang besar dari tanaman jeruk karena membutuhkan modal dua kali lipat dari perkebunan kopi terutama bagi petani bermodal kecil.

DAFTAR PUSTAKA

Amdani, S. 2008. Analisis Potensi Obyek Wisata Alam Pantai di Kabupaten Gunungkidul. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Budiono, 2002. Pengantar Ilmu Ekonomi, No.1 (Ekonomi Mikro). BPFE, Yogyakarta.

Heryana, I Putu Ajus. 2016. Perbandingan Pendapatan antara Usahatani Kopi dan Usahatani Jeruk di Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli. Jurnal:

Fakultas Pertanian, Universitas Udayana.

Moleong. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:

Remaja Rosdakarya.

Prabandari, Wijayanti Dewi. 2012. Analisis Pengembangan Potensi Agrowisata Kopi Luwak di Daerah Kintamani, Bangli, Bali. Jurnal: Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti.

Sudiarta, Made. 2006. Ekowisata Hutan Mangrove : Wahana Pelestarian Alam Dan Pendidikan Lingkungan. Jurnal: Politeknik Negeri Bali.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

Utama, Rai dan Eka, Mahadewi. 2012. Metodologi Penelitian Pariwisata dan Perhotelan. Yogyakarta:

Andi Offset.

SUMBER LAIN :

https://banglikab.bps.go.id/ (diakses pada tanggal 7 Maret 2017 Pukul 15.25)

http://www.cikopi.com/2010/08/agrowisata-kopi-di- bali/ (diakses pada tanggal 16 Maret 2017 Pukul 19.30)

http://lembahilmu.com/kopi-bali-kintamani/ (diakses pada tanggal 16 maret 2017 Pukul 20.00)

https://bbppketindan.bppsdmp.pertanian.go.id/blog/sert ifikasi-indikator-geografis-kopi-kintamani-sebagai- upaya-peningkatan-daya-saing-dan (diakses pada tanggal 22 July 2019 Pukul 18.00)

(17)

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan pariwisata sangat besar memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan negara sehingga menjadi salah satu sektor industri yang gencar dikembangkan. Sebagai

Desa Pinge adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Marga yang cukup terkenal karena memiliki pemandangan yang indah dan jalur wisata menuju Jatiluwih, adapun

Tanaman kopi merupakan salah satu komoditas utama yang ditanam petani di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan.. Produksi kopi terbesar yang dihasilkan adalah kopi

Tanaman perkebunan yang banyak dikembangkan petani di kawasan gunung sinabung ini hanya tanaman kopi. Jenis tanaman kopi yang ditanam, petani banyak menyebut dengan nama

Dalam tahapan pengawasan ini, segala kegiatan yang telah dilaksanakan oleh pokdarwis, dilaporkan secara rutin kepada Kepala Desa Kaba – Kaba, dengan melakukan rapat

Sektor pertanian khususnya sebsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor yang memberikan sumbangan yang besar dalam peningkatan devisa, tenaga kerja, peningkatan pendapatan petani

Strategi Pemasaran Usaha Tani Kopi Terhadap Upaya Penguatan Pasar Produk Perkebunan Yang Berintegrasi Dengan Sektor Pariwisata Di Desa Gombengsari Setiap petani dan pelaku usaha

Selanjutanya adapun peran dari elit desa untuk pengembangan wellness tourism, yakni: 1 Peran dalam pengembangan potensi seperti mengkemas pengobatan tradisional menjadi daya tarik