1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Pasar modal memiliki peran sebagai sarana mendapatkan modal bagi emiten dan saran investasi bagi para investor. Sebelum melakukan investasi saham, sebagai investor perlu melakukan analisis agar return yang diperoleh sesuai dengan harapannya. Return merupakan keuntungan berupa tingkat pengembalian atas suatu sekuritas yang dimiliki oleh investor. Besarnya return menjadi pertimbangan utama bagi investor dalam berinvestasi pada sekuritas suatu perusahaan. Menurut (Jogiyanto; 2015:263) bahwa Return merupakan hasil yang diperoleh melalui kegiatan berinvestasi yang dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi atau return ekspektasi yang belum terjadi namun diharapkanakan terjadi di masa mendatang. Apabila seorang investor menginginkan return rendah maka resiko yang akan ditanggung juga rendah, begitu pula sebaliknya. Mengingat pentingnya harga saham dalam menentukan besarnya Return Saham karena memiliki kaitan yang sangat erat. (Ang: 2010)
Pada persaingan indutri bisnis yang semakin ketat perusahaan-perusahaan di Indonesia berlomba dalam meningkatkan kinerjanya agar dapat menarik perhatian investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan, seperti halnya pada perusahaan pada sektor tambang. Perusahaan tambang terus menunjukkan peningkatan kinerja hal ini dapat terbukti dengan menjadi perusahaan yang tercatat memimpin peningkatan kinerja yang cukup tinggi. Saham sektor pertambangan mencatatkan pertumbuhan tertinggi pada tahun 2018. Indeks sektor pertambangan naik sebesar 21,56% year to date hingga 9 Oktober 2018. Mino, analis Indo Premier Sekuritas, mengatakan, kenaikan harga saham sektor tambang dikarenakan kondisi fundamental perusahaan. Kinerja keuangan perusahaan sektor tambang di semester I-2018 menunjukkan hasil yang baik. Pada bulan Juni 2018, PT Bayan Resources berhasil membukukan kenaikan pendapatan sebesar 97% year on year (yoy) menjadi US$ 837 juta dan memiliki Laba bersih yang cukup melonjak yaitu sebesar 123% (US$ 121,48 juta). Selain itu, pendapatan PT Bukit Asam juga mengalami kenaikan yaitu sebesar 17% (Rp 10,53 triliun) dan
memiliki laba yang juga naik sebesar 33% (Rp 2,57 triliun). (Mino, Analis Indo Premier Sekuritas : 2018)
Ketua Umum Indonesian Mining Association (IMA), Ido Hutabarat sektor pertambangan mengalami kebangkitan seiring tingginya permintaan akan batubara sebagai sumber energi premier pembangkit tenaga listrik. Maraknya pembangunan dan perubahan pola hidup di masyarakat mendorong naiknya angka konsumsi listrik di dalam negeri. Oleh karena itu, geliat pasar komoditas yang membaik dan meningkatnya permintaan pasar akan produk tambang mendorong kebangkitan industri pertambangan di Indonesia. (Ido Hutabarat, Ketua Umum Indonesian Mining Association (IMA) : 2019)
Disamping itu, Dirjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan sektor pertambangan menyumbang kontribusi besar bagi pemerintah Indonesia. Hingga 16 November 2018, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batubara (minerba) sudah melebihi target dalam APBN 2018, yaitu sebesar Rp 41,77 triliun. Angka itu lebih tinggi 23,1 persen dibandingkan target yang dibebankan sebanyak Rp 32,1 triliun. (Dirjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyon : 2018)
Dengan kondisi tersebut tidak heran masa depan perusahaan tambang Indonesia memilki potensi sangat besar mendorong para investor untuk menanamkan dana yang dimilikinya pada perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan di Indonesia dengan harapan dapat memberikan keuntungan (return) dari jumlah dana yang diinvestasikan.
Pada penelitian ini terdapat 9 perusahaan yang akan teliti diantaranya PT Adaro Energy Tbk (ADRO) , PT Aneka Tambang Persero Tbk (ANTM), PT Citatah Tbk (CTTH), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI), PT Samindo Resources Tbk (MYOH), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Radiant Utama Interinco Tbk (RUIS). Perusahaan- perusahaan tambang ini telah cukup lama go public menerbitkan sahamnya.
Saham dari perusahaan-perusahaan tersebut setiap tahunnya memiliki nilai return yang berbeda-beda. Berikut adalah data return saham pada perusa haan tambangyang listing di BEI selama tahun 2010 hingga 2017 sebagai berikut:
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Return Saham 83 39 46 -11 7 -39 104 4
-50 0 50 100 150
Rata-rata Return Saham Perusahaan Tambang 2010-2017
Grafik 1.1
Rata-rata Return Saham Perusahaan Tambang di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2017
Sumber: www.sahamok.com (data diolah)
Data hasil pengolahan Return Saham di atas bahwa secara keseluruhan dari 26 perusahaan dari tahun 2010 hingga 2017 Return Saham menunjukkan trend yang menurun terutama pada tahun 2015 yang mengalami penurunan yang cukup drastis. Menurut Sacha Winzenried, Lead Adviser for Energy, Utilities &
Mining PwC Indonesia penurunan sektor tambang pada tahun 2015 terjadi dikarenakan adanya perlambatan ekonomi dunia telah membuat permintaan komoditas barang tambang menurun. Sehingga harga jual komoditas pun ikut mengalami penurunan. Anjloknya harga komoditas tambang dan menurunnya permintaan bahan tambang dari China, berdampak buruk bagi kinerja keuangan perusahaan pertambangan dalam negeri. Dengan hal tersebut mendorong perusahaan pertambangan berupaya keras meningkatkan produktivitas sehingga mengakibatkan kenaikan pada beban usaha pada perusahaan. (Sacha Winzenried, Lead Adviser for Energy, Utilities & Mining PwC Indonesia : 2016). Selain itu, hambatan juga terjadi lewat perubahan peraturan seperti larangan ekspor dan biaya royalti yang lebih tinggi. Analis DBS Vickers Securities William Simadiputra mengatakan mengatakan Sektor batubara diatur oleh pemerintah.
Potensi perubahan kebijakan seperti larangan ekspor, biaya royalti yang lebih
tinggi dan pengendalian produksi bisa merugikan pendapatan penambang batubara. (William Simadiputra , Analis DBS Vickers Securities : 2016)
Data diatas menunjukkan bahwa perkembangan Return Saham perusahaan tambang menunjukkan pergerakan fluktuatif dari tahun ke tahun. Dapat dilihat pula fenomena tersebut menyebabkan terjadinya gap (kesenjangan) dimana pada teori empiris bahwa perusahaan yang memiliki peningkatan pada laba menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik dan para pemegang saham akan mendapatkan keuntungan dari dividen yang diterima semakin meningkat, atau semakin meningkatnya harga maupun Return Saham (Sudarsono &
Sudiyatno, 2016 : 31). Namun dalam kenyataannya teori tersebut tidak sepenuhnya didukung seperti halnya pada perusahaan tambang ini, dimana laba perusahaan meningkat tetapi Return Saham menunjukkan trend berfluktuatif yang cenderung menurun. Dan dengan adanya Ketidakpastian ini tentunya akan membuat kekhawatiran tersendiri bagi calon investor yang akan berinvestasi saham pada perusahaan tambang ini.
Sebagai Investor dalam pengambilan keputusan dalam berinvestasi maka hal terpenting dalam pengambilan keputusan yaitu penilaian dengan cermat terhadap perusahaan yang akan ditanamkan modalnya. (Sudarsono & Sudiyatno, 2016 : 31) Untuk memutuskan perusahaan yang memiliki kualitas yang baik maka penilaian yang dapat dijadikan acuan untuk melihat perusahaan tersebut memiliki manajemen yang baik salah satunya adalah dengan melihat kinerja keuangan perusahaan yang diukur dari laporan keuangan perusahaan.
Untuk mengukur kinerja suatu perusahaan, investor dapat melihat kinerja keuangan yang tercermin dari berbagai macam rasio keuangan. Namun penggunaan analisis rasio keuangan sebagai alat pengukuran kinerja keuangan memiliki kelemahan-kelemahan, salah satu kelemahan dari rasio keuangan yaitu kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk kepentingan stakeholder (Ratnasari,2013). Pengukuran kinerja keuangan dengan menggunakan rasio keuangan hanya berorientasi pada profit oriented (Erica,2018). Untuk mengatasi kelemahan dari analisis rasio keuangan tersebut, maka dikembangkan konsep pengukuran kinerja keuangan berdasarkan nilai
tambah (value added) yaitu Market value added (MVA) dan Refined Economic value added (REVA)
Pengukuran kinerja keuangan lain berdasarkan nilai tambah adalah MVA.
Menurut Brigham & Houston (2014:111) MVA adalah perbedaan antara nilai pasar yang dibandingkan dengan nilai bukunya. Perusahaan dengan nilai MVA positif mencerminkan prospek yang menguntungkan atas investasi modal yang ditanamkannya di masa yang akan datang. Banyaknya Investor untuk melakukan investasi seharusnya mampu menaikkan jumlah permintaan terhadap saham sehingga mampu menaikkan harga saham. Dengan naiknya harga saham akan membawa pengaruh positif terhadap return. Selain itu menurut Hanafi (2016:55) Nilai MVA yang tinggi berarti perusahaan telah mampu memaksimalkan kekayaan pemegang sagam sebagai hasil kinerja perusahaan yang baik dan mendapat respon yang tinggi dari pasar. Sebagai hasilnya, kepercayaan investor terhadap perusahaan semakin meningkat sehingga tidak menutup kemungkinan akan meningkatkan permintaan terhadap harga saham perusahaan. Permintaan saham yang tinggi akan membuat harga saham juga tinggi, jika harga saham tinggi maka capital gain juga meningkat. Semakin tinggi capital gain, maka Return Saham yang diperoleh pemegang saham juga akan meningkat, karena capital gain termasuk dalam kompenen perhitungan Return Saham.
Menurut (Barcidore:1997) Refined Economic Value Added (REVA) bermanfaat sebagai penilai kinerja yang berfokus pada penciptaan nilai (value creation), membuat perusahaan lebih memperhatikan struktur modal, dan dapat digunakan untuk mengidentifikasikan kegiatan atau proyek yang memberikan pengembalian lebih tinggi daripada biaya modal (cost of capital).. Perusahaan yang mampu menciptakan nilai REVA yang positif maka perusahaan mampu menciptakan nilai tambah bagi para investor atau pemegang saham. Dengan REVA yang meningkat atau bernilai positif, investor akan tertarik untuk menanamkan modalnya sehingga akan mengakibatkan harga saham meningkat.
Naiknya harga saham tersebut akan diikuti dengan meningkatnya Return Saham yang diterima.
Dengan menggunakan pengukuran kinerja yang berbasis pada nilai tambah (valueadded based) pada perusahaan tambang diharapkan didapat hasil pengukuran kinerja perusahaan yang realistis dan mendukung penyajian laporan keuangan yang membuat Return Saham perusahaan-perusahaan tersebut bergerak tidak stabil, bahkan sempat mengalami kerugian. Oleh karena itu penulis tertarik untuk menganalisis bagaimana kinerja keuangan yang diukur metode nilai tambah dengan menggunakan pertumbuhan Market value added (MVA) dan Refined Economic value added (REVA) memberikan pengaruh terhadap Return Saham perusahaan tambang yang listing di Bursa Efek Indonesia. Maka dari itu peneliti mengambil judul untuk penelitian ini yaitu: “PENGARUH PERTUMBUHAN MARKET VALUE ADDED (MVA) DAN REFINED ECONOMIC VALUE ADDED (REVA) TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN TAMBANG YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) PERIODE 2010-2017”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, dapat diidentifikasikan adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pertumbuhan Market Value Added (MVA) dan Refined Economic Value Added (REVA) dan Return Saham pada perusahaan tambang yang terdaftar di BEI periode 2010-2017?
2. Apakah pertumbuhan Market Value Added (MVA) dan Refined Economic Value Added (REVA) berpengaruh terhadap Return Saham pada perusahaan tambang yang terdaftar di BEI periode 2010-2017?
3. Apakah pertumbuhan Market Value Added (MVA) berpengaruh terhadap Return Saham pada perusahaan tambang yang terdaftar di BEI periode 2010-2017?
4. Apakah pengaruh pertumbuhan Refined Economic Value Added (REVA) berpengaruh terhadap Return Saham pada perusahaan tambang yang terdaftar di BEI periode 2010-2017?
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pertumbuhan Market Value Added (MVA) dan Refined Economic Value Added (REVA) dan Return Saham pada perusahaan tambang yang terdaftar di BEI periode 2010-2017
2. Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan Market Value Added (MVA) dan Refined Economic Value Added (REVA) terhadap Return Saham pada perusahaan tambang yang terdaftar di BEI periode 2010-2017.
3. Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan Market Value Added (MVA) terhadap Return Saham pada perusahaan tambang yang terdaftar di BEI periode 2010-2017.
4. Untuk mengetahui pengaruh Refined Economic Value Added (REVA) terhadap Return Saham pada perusahaan tambang yang terdaftar di BEI periode 2010-2017.
1.4 Kegunaan Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari hasil penelitian ini antara lain:
1. Kegunaan Pengembangan Ilmu
Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu keuangan khususnya kinerja keuangan dengan menggunakan metode nilai tambah (value added) melalui pengujian secara empiris mengenai pengaruh Market Value Added (MVA) dan Refined Economic Value Added (REVA) terhadap Return Saham
2. Kegunaan Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemecahan masalah terkait Return Saham melalui pengujian secara empiris mengenai pengaruh Market Value Added (MVA) dan Refined Economic Value Added (REVA) terhadap Return Saham
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan terhadap perusahaan-perusahan tambang yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2010-2017. Lokasi penelitian di Perpustakaan Universitas Widyatama Bandung jalan Cikutra 204 A Bandung, dirumah peneliti melalui internet, dan ditempat lainnya yang dapat memungkinkan peneliti melaksanakan penelitian. Waktu penelitian ini terhitung dari bulan November 2018 hingga penelitian ini selasi dilaksanakan.