• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN ALAUDDIN MAKASSAR 2022

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN ALAUDDIN MAKASSAR 2022"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

ii

PENGARUH KEMAMPUAN PUBLIC SPEAKING GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

KELAS XI JURUSAN ADMINISTRASI PERKANTORAN DI SMK NASIONAL MAKASSAR

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Jurusan Pendidikan Agama Islam

Pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar

Oleh:

Fitri Sona Purnama NIM: 20100118006

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2022

(2)

iii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Mahasiswa yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Fitri Sona Purnama

Nim : 20100118006

Tempat, Tanggal Lahir : Sumbawa, 30 Agustus 2000 Jurusan : Pendidikan Agama Islam Fakultas : Tarbiyah dan Keguruan

Alamat : Samata, Kab. Gowa

Judul : Pengaruh Kemampuan Public Speaking Guru Pendidikan Agama Islam terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas XI Jurusan Administrasi Perkantoran di SMK Nasional Makassar

Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya sendiri. Jika di kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat oleh orang lain, sebagian atau seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.

Samata, 04 Maret 2022 Penulis,

Fitri Sona Purnama NIM: 20100118006

(3)

iv

(4)

v

KATA PENGANTAR ِمي ِحهرلا ِنَمْحهرلا ِ هاللَّ ِمْسِب

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan karunianya kepada kita semua dan khususnya bagi penyusun atas kesehatan dan kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul: “Pengaruh Kemampuan Public Speaking Guru Pendidikan Agama Islam Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas XI Jurusan Administrasi Perkantoran Di SMK Nasional Makassar”. Salawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kira Rasulullah saw sebagai suri teladan yang merupakan sumber inspirasi dan motivator dalam berbagai aspek kehidupan setiap insan termasuk penulis.

Melalui tulisan ini, penulis menyadari bahwa di skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritikan yang bersifat membangun sangat diharapkan penulis menyempurnakan skripsi ini. Dengan segala keredahan hati, penyusun ucapkan terima kasih yang tulus, teristimewa kepada orang tua tercinta, ayahanda Kusan S.Pd dan ibunda Hadimolah, serta segenap keluarga besar kedua belah pihak yang membimbing dan membiayai penyusun selama dalam pendidikan sampai selesainya skripsi ini, penyusun senantiasa memanjatkan doa semoga Allah swt. mengasihi dan mengampuni dosa mereka.

Dengan tersusunnya skripsi ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada berbagai pihak, terutama kepada:

1. Prof. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., selaku Rektor UIN Alauddin Makassar beserta Wakil Rektor I Prof. Dr. H. Mardan, M.Ag., Wakil Rektor II Dr. H.

Wahyuddin Naro, M.Pd., Wakil Rektor III Prof. Dr. H. Darussalam Syamsuddin, M.Ag., yang telah membina dan memimpin UIN Alauddin

(5)

vi

Makassar menjadi tempat bagi peneliti untuk memperoleh ilmu baik dari seki akademik maupun ekstrakurikuler.

2. Dr. H. Marjuni, S.Ag., M.Pd.I., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan keguruan UIN Alauddin Makassar beserta Wakil Dekan I Dr. M. Shabir U, M.Ag., Wakil Dekan II Dr. M. Rusdi, M.Ag., dan Wakil Dekan III Dr. H. Ilyas, M.Pd., M.Si., yang telah membina penulis selama kuliah.

3. Dr. H. Syamsuri, S.S., M.A. dan Dr. Muhammad Rusmin B, M.Pd.I. Ketua dan Sekertaris Jurusan Pendidikan Agama Islam beserta staf yang selalu memberikan fasilitas, layanan, dan Izin dan kesempatan yang diberikan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

4. Drs. Muhammad Yusuf Hidayat, M.Pd. dan Nur Khalisah L., S.Ag.,M.Pd.

pembimbing I dan II yang selalu siap meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan kepada penulis.

5. Dr. M. Yusuf T., M.Ag dan Ahmad Afif, S.Ag.,M.Si. Validator I dan II dalam penyusunan instrumen penelitian ini.

6. Dr. Saprin, M.Pd.I dan Dr. Muhammad Rusmin B.,M.Pd.I. penguji I dan II yang telah meluangkan waktunya untuk menguji dan memberi masukan demi perbaikan skripsi ini.

7. Para dosen yang telah mendidik dan memberikan kami ilmu yang bermanfaat, sekaligus menjadi orang tua kami selama menempuh pendidikan di UIN Alauddin Makassar.

8. Terkhusus sahabat-sahabatku tercinta, Qurrata A‟yun Anwar, Selfa Afia, Siti Rahmiah, Dzulfadilah, Rahmawati S, Group TR, Group Haccok, Group Putry

(6)

vii

Three yang senantiasa memberikan motivasi serta dukungan selama penulis menempuh pendidikan

9. Seluruh dewan senior jurusan Pendidikan Agama Islam angakatan 2016 dan 2014 terkhusus pada ayunda Rizqy Mutmainnah Amin, S.Pd dan Haeril, S.Pd.

yang telah membantu penulis dalam pengolahan data sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

10. Rekan-rekan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam angkatan 018 terkhusus kelas PAI 1-2 atas dukungan, semangat dan kerja samanya selama menempuh proses study.

11. Kepala sekolah, guru-guru dan peserta didik SMK Nasional Makassar yang telah memberikan izin mengadakan penelitian dan membantu dalam proses pengumpulan data.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis berharap akan saran dan kritik demi kesempurnaan skripsi ini. Sekali lagi penulis mengucapkan terima kasih sebanyak- banyaknya untuk semua pihak yang telah membantu, semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk semua orang. Aamiin.

Samata, 04 Maret 2022 Penulis

Fitri Sona Purnama NIM: 20100118006

(7)

viii DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

KATA PENGANTAR ... v-vii DAFTAR ISI ... viii-ix DAFTAR TABEL DAN GAMBAR ... x

ABSTRAK ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1-16 A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah... 7

C. Hipotesis Penelitian ... 7

D. Defenisi Operasional ... 8

E. Kajian Pustaka ... 9

F. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian ... 15

BAB II TINJAUAN TEORETIS ... 17-37 A. Public speaking ... 17

1. Sejarah Public Speaking ... 17

2. Pengertian Public Speaking... 18

3. Public Speaking Guru ... 21

4. Teknik Dasar Public Speaking ... 23

5. Manfaat Dalam Public Speaking ... 25

B. Guru Pendidikan Agama Islam ... 27

1. Pengertian guru ... 27

2. Pengertian Agama Islam ... 28

3. Guru Pendidikan Agama Islam ... 29

C. Motivasi belajar ... 31

1. Pengertian motivasi belajar ... 31

2. Macam-macam motivasi belajar ... 33

3. Aspek-aspek motivasi belajar ... 34

4. Fungsi motivasi belajar ... 35

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar ... 36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 38-54 A. Jenis lokasi penelitian ... 38

B. Variabel dan desain penelitian ... 39

C. Populasi dan sampel ... 40

D. Metode pengumpulan data ... 42

E. Instrumen penelitian ... 43

F. Validitas dan reabilitas ... 46

G. Prosedur penelitian ... 48

H. Teknik pengolahan dan analisis data ... 49

(8)

ix

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 55-72 A. Deskripsi dan hasil penelitian ... 55 B. Pembahasan ... 68 BAB V PENUTUP ... 73-74

A. Kesimpulan ... 73 B. Implikasi penelitian ... 74 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

(9)

x

DAFTAR TABEL DAN GAMBAR

3.1 Tabel Jumlah populasi peserta didik kelas XI SMK Nasional Makassar ... 39

3.2 Tabel Jumlah sampel peserta didik kelas XI jurusan administrasi perkantoran SMK Nasional Makassar ... 40

3.3 Tabel Alternatif Jawaban ... 42

3.4 Tabel Kisi-kisi Instrumen Penelitian Angket public speaking ... 42

3.5 Tabel Kisi-kisi Instrumen Penelitian Angket Motivasi Belajar ... 43

4.1 Tabel Statistik Deskriptif Kemampuan public speaking Guru PAI ... 55

4.2 Tabel Kategorisasi Kemampuan public speaking guru PAI ... 56

4.3 Tabel Statistik deskriptif motivasi belajar peserta didik kelas XI jurusan administrasi perkantoran di SMK Nasional Makassar ... 60

4.4 Tabel Kategorisasi motivasi belajar peserta didik ... 61

4.5 Tabel Hasil Uji Regresi Linear Sederhana ... 65

4.6 Tabel Uji Signifikansi Persamaan Regresi ... 66

4.7 Tabel Hasil Uji Korelasi... 66

4.2 Gambar Histogram Kemampuan public speaking Guru PAI ... 58

4.4 Gambar Histogram Motivasi Belajar Peserta Didik... 63

(10)

xi ABSTRAK Nama : Fitri Sona Purnama

Jurusan/Fakultas : Pendidikan Agama Islam/Tarbiyah dan Keguruan

NIM : 20100118006

Judul : Pengaruh Kemampuan Public Speaking Guru Pendidikan Agama Islam terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas XI Jurusan Administrasi Perkantoran di SMK Nasional Makassar

Skripsi ini bertujuan untuk; 1) Mendeskripsikan kemampuan public speaking guru Pendidikan Agama Islam kelas XI jurusan administrasi perkantoran di SMK Nasional Makassar; 2) Mendeskripsikan motivasi belajar peserta didik kelas XI jurusan administrasi perkantoran di SMK Nasional Makassar; 3) Mendeskripsikan pengaruh kemampuan public speaking guru Pendidikan Agama Islam terhadap motivasi belajar peserta didik kelas XI jurusan administrasi perkantoran di SMK Nasional Makassar.

Jenis penelitian ini merupakan kuantitatif ex post facto dengan desain penelitian regresi linear sederhana. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Nasional Makassar. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI jurusan administrasi perkantoran di SMK Nasional Makassar sebanyak 90 orang. Sedangkan sampel dalam penelitian ini sebanyak 90 orang dengan menggunakan metode Sampling Jenuh. Data diperiloh melalui instrumen angket, teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dan analisis inferensial.

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif diperoleh hasil penelitian kemampuan public speaking guru Pendidikan Agama Islam kelas XI jurusan administrasi perkantoran di SMK Nasional Makassar berada pada kategori sedang, yaitu 54,66 %, sedangkan motivasi belajar peserta didik kelas XI jurusan administrasi perkantoran di SMK Nasional Makassar berada di kategori sedang, yaitu 50,22 %.

Dari hasil perhitungan diperoleh = 6,585 sementara = untuk taraf signifikan 0,05 %. Karena lebih besar dari maka dapat disimpulkan di tolak dan di terima. Artinya ada pengaruh kemampuan public speaking guru Pendidikan Agama Islam terhadap motivasi belajar peserta didik kelas XI jurusan administrasi perkantoran di SMK Nasional Makassar.

Implikasi dari penelitian ini yaitu Bagi Kepala Sekolah hendaknya memberikan pelatihan yang mampu meningkatkan kemampuan guru dalam berkreasi menyampaikan materi sehingga guru tidak monoton. Bagi guru pendidikan agama Islam. Kemampuan public speaking guru Pendidikan Agama Islam sangat penting untuk di kembangkan sehingga dapat melatih dan meningkatkan soft skill terutama dalam bidang public speaking serta menambah wawasan baru tentang bagaimana cara menjadi guru yang menyenangkan bagi peserta didik dan mampu membuat kelas lebih efektif. Bagi peneliti lainnya, Jika ingin melakukan penelitian yang serupa hendaknya melakukan penelitian yang berbeda terkait dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi motivasi belajar peserta didik.

(11)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Sebab pendidikan jauh lebih tua dari ilmu pendidikan, karena pendidikan telah ada sejak adanya manusia.

Pendidikan menjadi salah satu bantuan kepada peserta didik untuk belajar dengan penuh kesadaran dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu. Adapun tempat untuk mengembangkan kemampuan tersebut salah satunya di sekolah dan lingkungan. sekolah dapat membantu peserta didik dalam bertutur kata yang baik serta mampu berbicara di depan publik.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.1

Pendidikan adalah komunikasi manusia dengan manusia sebagai upaya mengembangkan kualitas pribadi manusia dan membangun karakter bangsa yang dilandasi nilai-nilai agama, filsafat, psikologi, social-budaya, dan ipteks yang bermuara pada pembentukan pribadi manusia yang bermoral, berakhlak mulia dan

1Republik Indonesia, "Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional" Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Cet. IV; Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2011), h. 3.

(12)

berbudi luhur.2 Salah satu faktor keberhasilan dalam melakukan perubahan sikap adalah bagaimana pendidik mampu berkomunikasi dengan peserta didik.

Komunikasi adalah sesuatu yang memiliki peran penting dalam kehidupan karena sebagian aktifitas baik secara individu, kelompok, budaya, agama, ekonomi, politik, hubungan antar bangsa dilakukan secara berkomunikasi terutama komunikasi lisan. Komunikasi memiliki peran penting dalam kehidupan manusia dan manusia yang tidak berkomunikasi akan sulit berkembang dan bertahan. Tempat pengembangan potensi diri adalah sekolah. Oleh karena itu, sekolah membutuhkan seorang pendidik yang memiliki kemampuan berbicara yang dapat memberikan motivasi belajar kepada peserta didik.3

Kemampuan berbicara adalah salah satu anugrah dari Tuhan yang luar biasa.

Namun banyak orang yang berpendapat bahwa berbicara adalah hal yang alamiah yang akan berkembang seiring dengan bertambahnya usia. Sehingga mereka beranggapan tidak perlu belajar dan melatih keterampilan dalam berbicara.4

Kemampuan public speaking mempunyai andil yang sangat besar dalam perubahan karakter seseorang. Sebagai guru harus mahir dalam menyampaikan pembelajaran sehingga mudah dimengerti oleh peserta didik. Semudah apapun suatu materi jika seorang guru tidak lihai dalam menyampaikan materi dengan teknik komunikasi yang kurang menarik, maka materi pelajaran tersebut akan sulit dipahami oleh peserta didik.

2Nofrion, Komunikasi Pendidikan Penerapan Teori Dan Konsep Komunikasi Dalam Pembelajaran (Jakarta :Kencana, 2016), h. 40.

3Ibnu Hamad, Komunikasi Untuk Kehidupan Kata Pengantar Dalam Komunikasi Dan Prilaku Manusia (Jakarta :Raja Grafindo), h. 11.

4Nofrion, Komunikasi Pendidikan Penerapan Teori Dan Konsep Komunikasi Dalam Pembelajaran, h. 176.

(13)

3

Dalam UU tentang guru dan dosen pasal 1 ayat (1) tahun 2005:

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, memimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, pendidikan menengah.5

Dengan demikian setiap guru mampu menciptakan pembelajaran yang kondusif agar peserta didik dapat menerima pembelajaran secara baik agar tercipta potensi pada dirinya. Pada dasarnya hal ini dikhususkan kepada guru Pendidikan Agama Islam dimana diharapkan berperan aktif dalam pembelajaran, mempunyai tugas dan tanggung jawab ganda selain mengajar dan pembelajaran pengetahuan agama Islam kepada peserta didik serta menjadikan peserta didik menjadi anak yang bertaqwa, berkepribadian luhur dan sopan santun dengan cara penyampaian yang baik.

Guru merupakan komponen pengajaran yang sangat penting dan utama karena keberhasilan proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh faktor guru. Tugas guru adalah menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik serta dapat memberikan motivasi kepada peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Selain menyampaikan materi pembelajaran, guru juga mempunyai tugas utama yaitu menjadikan peserta didik sebagai manusia yang berhak menjadi subjek pendidikan baik bagi sesama ataupun bagi makhluk ciptaan Allah yang lainnya.

Sebagaimana firman-Nya dalam QS Ar-Rahman/55: 3-4













5Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2005, tentang Guru Dan Dosen (Jakarta,2005), h. 2.

(14)

Terjemahnya:

Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara.6

Ayat diatas dijelaskan dalam tafsir al-Qurtubi bahwa “Allah mengajarkan kepada setiap kaum bahasa kepada mereka, yang mereka gunakan untuk berkomunikasi.”7

Guru merupakan motivator, sebagai guru yang profesional perlu memiliki keterampilan dalam mengajar yang dapat mendorong motivasi belajar peserta didik.

Kompetensi profesional merupakan salah satu keterampilan atau kemampuan yang harus dan perlu dimiliki oleh seorang guru dan dapat dipraktikkan dengan baik dalam proses pembelajaran karena penelitian telah menyelidiki bagaimana praktik pengajaran mempengaruhi motivasi peserta didik.

Motivasi belajar sangat penting untuk dimiliki oleh peserta didik, sebab dengan motivasi yang dimiliki oleh peserta didik maka hal tersebut dapat membantu dalam meningkatkan semangat belajar peserta didik. Islam memberikan balasan bagi orang-orang yang menuntut ilmu, sehingga Allah swt. memberikan penggalan ayat yang dapat dijadikan sebagai motivasi belajar. Berkaitan dengan hal tersebut Allah swt. berfirman dalam QS. Al-Mujadilah/58: 11.































































6Kementerian Agama RI, Al-qura‟an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro,2014), h. 531.

7Syaikh Imam Al-Qurtubi, Diterjemah Oleh Fathurrahman: Tafsir Al-Qurthubi (Jakarta:

Pustaka Azzam, 2009), h. 515-517.

(15)

5

Terjemahnya:

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,”

maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.8

Berdasarkan dengan ayat di atas, maka dapat diketahui bahwa dengan janji Allah swt. yakni meninggikan derajat orang-orang yang menuntut ilmu, sehingga hal ini merupakan sebuah hal yang dapat dijadikan motivasi oleh setiap manusia terkhusus kepada peserta didik sebagai penuntut ilmu.

Motivasi sangat berperan penting dalam proses pembelajaran dengan adanya motivasi peserta didik akan lebih tekun dalam proses belajar. Tinggi rendahnya motivasi belajar peserta didik berbeda-beda. Oleh karena itu, tindakan seorang guru harus disesuaikan dengan peserta didik sehingga tercapai tujuan pembelajaran.

Guru sebaiknya memberikan motivasi belajar kepada peserta didik karena pada dasarnya cara guru mengajarlah yang paling berpengaruh terhadap motivasi belajar peserta didik khususnya dalam bidang kemampuan berkomunikasi guru. Guru yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik akan mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Komunikasi yang baik bagi seorang guru ditandai dengan penggunaan bahasa yang relevan, suara yang jelas, tulisan yang mudah dibaca, serta penambahan komunikasi nonverbal seperti acungan jempol ataupun tepukan pada pundak sehingga memicu semangat peserta didik serta membangun kesan yang bersahabat.

8Kementerian Agama RI, Al-qura‟an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro,2014), h. 531.

(16)

Berdasarkan hasil observasi awal penulis di SMK Nasional Makassar, jurusan administrasi perkantoran pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada tanggal 12 februari 2020, motivasi belajar peserta didik masih terlihat sangat rendah. Adapun masalah yang ditemukan oleh peneliti dalam melakukan observasi awal yaitu peserta didik cendrung malas-malasan dan kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran serta keadaan kelas yang kurang kondusif sehingga proses pembelajaran guru terkesan kurang trampil dalam memberikan variasi penyampaian materi pembelajaran.

Salah satu faktor yang mengakibatkan motivasi belajar peserta didik rendah dikarenakan, motivasi belajar yang muncul dari dalam diri peserta didik belum memunculkan motivasi yang tinggi, dilihat pula dari sikap peserta didik yang relatif kurang responsif terhadap materi yang diajarkan oleh guru. Sebagai guru yang profesional tentu dapat memberikan motivasi kepada peserta didik dengan memiliki public speaking yang baik. Untuk menciptakan gairah belajar peserta didik maka guru harus mengubah gaya pembelajaran menjadi lebih menarik atau guru dapat merubah suasana ruang kelas yang membosankan menjadi kelas yang lebih segar. Hal ini, tentu membutuhkan keahlian yang didapat berdasarkan pengalaman. Seorang guru tentu bisa menggunakan terknik artikulasi ketika berbicara karena ketika berbicara di depan peserta didik seorang guru harus mampu menyampaikan materi dengan sebaik mungkin sehingga peserta didik dapat memahami materi tersebut. Ketika seorang guru menyampaikan materi dengan public speaking yang baik tentu peserta didik akan termotivasi dan semangat dalam menerima pelajaran dan peserta didik dapat memahami materi pelajaran tersebut.

(17)

7

Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pendidik yang professional. Atas dasar inilah penulis terdorong mengadakan penelitian untuk penulisan skripsi dengan judul; Pengaruh Kemampuan Public Speaking Guru Pendidikan Agama Islam terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik di SMK Nasional Makassar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana kemampuan public speaking guru Pendidikan Agama Islam di SMK Nasional Makassar?

2. Bagaimana motivasi belajar peserta didik kelas XI jurusan administrasi perkantoran di SMK Nasional Makassar?

3. Apakah terdapat pengaruh kemampuan public spaking Guru Pendidikan Agama Islam terhadap motivasi belajar peserta didik kelas XI jurusan administrasi perkantoran di SMK Nasional Makassar?

C. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan dugaan sementara terhadap jawaban atas sub masalah yang membutuhkannya. Tujuannya adalah untuk memberikan arah yang jelas bagi peneliti yang berupaya melakukan verifikasi terhadap kesahihan dan kesalahan teori.

Hipotesis dibedakan atas hipotesis penelitian dan hipotesis statistik. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, sedangkan hipotesis statistik yang akan diuji dinamakan hipotesis kerja.9

9Sugiyono, Metodologi Penelitian Kombinasi (Cet. XIII; Bandung: Alfabeta, 2012), h.99.

(18)

Melalui perumusan masalah yang telah peneliti kemukakan diatas, maka peneliti mengajukan hipotesis “Terdapat pengaruh kemampuan public speaking guru Pendidikan Agama Islam terhadap motivasi belajar peserta didik di SMK Nasional Makassar”

D. Definisi Operasional Variabel

Seni mengajar membutuhkan keterampilan, waktu dan kesabaran. Sehingga membutuhkan guru yang menentukan kapan harus memotivasi, kapan harus memberi konsekuensi, kapan harus membantu dan kapan untuk mundur (hanya memperhatikan dari jauh). Hal tersebut tentu seorang guru yang memiliki jiwa seni yang tinggi dan dipadukan dengan tingkat pemahaman yang mendalam terhadap materi akan memberikan peserta didik impresi lebih dalam mengajar. Oleh karena itu, seorang guru Pendidikan Agama Islam harus memiliki kemampuan public speaking yang baik. Maka peneliti dapat mengemukakan pengertian yang sesuai dengan variabel judul skripsi ini.

Definisi operasional variabel dimaksud untuk memberikan gambaran yang jelas tentang variabel-variabel yang diperhatikan seperti:

1. Public Speaking

Public speaking adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru Pendidikan Agama Islam untuk dapat memberikan motivasi kepada peserta didik dan tidak hanya terfokus pada kata-kata yang diucapkan tetapi juga bisa menggunakan bahasa tubuh atau sering disebut bahasa non-verbal. Menurut Albert Al Mahrabain ada 3 hal yang harus diperhatikan dan dioptimalkan dalam public speaking yaitu (1) Visual, indikatornya Guru mampu berpenampilan secara baik, Guru mampu berekspresi dengan tepat, Guru menyelaraskan gesture dengan meteri yang

(19)

9

disampaikan. (2) Vocal, Guru mempunyai karakter suara, Memberikan materi secara jelas dan diperhatikan oleh siswa, Menggunakan vocal yang berbeda. (3) Verbal, Guru memiliki pembendaharaan kata yang banyak, Guru mampu menyelaraskan verbal dan gesture, Guru mampu berkomunikasi secara baik dihadapan murid-murid.

2. Motivasi Belajar

Motivasi adalah sejumlah proses yang bersifat internal atau eksternal bagi seorang individu serta kekuatan, dorongan, dan semangat yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Adapun indikator motivasi belajar yaitu, Kesenangan kenikmatan untuk belajar, Orientasi terhadap penguasaan materi, Hasrat ingin tahu, Keuletan dalam mengerjakan tugas, Keterlibatan yang tinggi pada tugas, Orientasi terhadap tugas-tugas.

E. Kajian Pustaka

Berdasarkan hasil penelusuran keputusan yang telah dilakukan, ditemukan beberapa penelitian yang berhubungan dengan objek atau metode pendekatan yang sama dengan penelitian ini, diantaranya:

1. Maryam Meiriza dengan judul penelitian, “kemampuan public speaking guru dalam pembelajaran PAI di SMP Islam At-Taqwa Pamulang”. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan public speaking guru dalam pembelajaran PAI di SMP Islam at-Taqwa pamulan. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti ialah metode kualitati dengan pendekatan dekritif analysis atau penelitian yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang keadaan nyata yang terjadi.

Penelitian ini lebih menitik beratkan pada pengumpulan data dan informasi dari

(20)

berbagai sumber yang relevan yang terkait dengan judul. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah kemampuan public speaking sangat berpengaruh terhadap semangat dan antusias siswa dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. Guru PAI menggunakan kemampuannya dengan baik, khususnya pada kemampuan public speaking untuk mempengaruhi siswa dalam proses pembelajaran PAI.10

Penjelasan ini menunjukkan bahwa penelitian sebelumnya belum ada membahas motivasi belajar. Perbedaan terletak pada jenis penelitian yang digunakan.

Penelitian sebelumnya menggunakan jenis penelitian kualitatif. Sedangkan penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Selain itu perbedaan terletak pada tempat dan waktu pelaksanaan dalam penelitian. Adapun persamaannya terletak pada angket atau kuesioner.

2. Dwi Setyaningrum dengan judul “pengaruh kemampuan guru dalam berkomunikasi dan pengelolaan kelas terhadap motivasi belajar akuntansi siswa kelas xi ips di sma negeri 8 semarang”. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa uji hipotesis uji Hasil uji F diperoleh F hitung = 33,625 dan nilai p value = 0,000 dengan demikian maka ada pengaruh yang signifikan secara simultan kemampuan guru dalam berkomunikasi, pengelolaan kelas dan motivasi belajar Akuntansi, memberikan kontribusi terhadap motivasi belajar 42,30%, selebihnya dari faktor lain di luar kedua variabel tersebut. Sedangkan, koefisien regresi pada pengaruh kemampuan guru dalam berkomunikasi

10Maryam Meiriza, Kemampuan Public Speaking Guru Dalam Pembelajaran PAI Di SMP Islam At-Taqwa Pamulang, Skripsi (Jakarta: Fakultas Imu Tarbiyah Dan Keguruan Uin Syarif Hidayatullah, 2019), h. 55.

(21)

11

terhadap motivasi belajar diterima. Besarnya kontribusi kemampuan guru dalam berkomunikasi terhadap motivasi belajar sebesar 6,30% Sedangkan pengaruh pengelolaan kelas terhadap motivasi belajar diterima. Besarnya kontribusi pengaruh pengelolaan kelas terhadap motivasi belajar sebesar 17,0%

Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam berkomunikasi di SMA N 8 Semarang tinggi (61,65%) danpengelolaan kelas tergolong tinggi (45,26%),kemampuan guru dalam berkomunikasi berpengaruh positif terhadap motivasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS di SMA N 8 Semarang (6,30%), pengelolaan kelas berpengaruh positif terhadap motivasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS di SMA N 8 Semarang (17,0%) , kemampuan guru dalam berkomunikasi dan pengelolaan kelas secara bersama- sama berpengaruh terhadap motivasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS di SMA N 8 Semarang (42,30%).11

Penjelasan ini menunjukkan bahwa penelitian sebelumnya belum ada membahas public speaking guru Pendidikan Agama Islam. Perbedaan teletak pada sampel yang digunakan. Penelitian sebelumnya menggunakan sampel random sampling sedangkan penelitian ini menggunakan sampel sampling jenuh. Selain itu perbedaan terletak pada tempat dan waktu pelaksanaan dalam penelitian. Adapun persamaannya terletak pada angket atau kuesioner.

3. Rizki Yanti dengan judul “peningkatan kemampuan public speaking melalui metode pelatihan kader pada organisasi iskada”. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa

11Dwi Setyaningrum, Pengaruh Kemampuan Guru Dalam Berkomunikasi Dan Pengelolaan Kelas Terhadap Motivasi Belajar Akuntansi Siswa Kelas Xi Ips Di Sma Negeri 8 Semarang, Skripsi (Semarang: Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang, 2012), h. 105.

(22)

kegiatan pelatihan public speaking yang dilakukan oleh kader organisasi ISKADA merupakan salah satu proses peningkatan kemampuan kader saat berbicara di depan publik seperti berdakwah. Pada kegiatan tersebut mereka menggunakan ke empat metode yang terdapat dalam public speaking, yaitu:

metode menghafal (memoriter), metode manuskrip, metode menjabarkan kerangka, dan metode impromptu tapi disesuaikan dengan waktu tertentu. Pada kegiatan tersebut juga terdapat hambatan-hambatan yang menjadi kendala saat kegiatan berlangsung. Yaitu kurangnnya peserta pelatihan dan dana serta materi pulic speaking pada kegiatan pelatihan tersebut, sehingga kader masih tertinggal pengetahuan tentang bagaimana menjadi seorang public speaker yang baik.12

Penjelasan ini menunjukkan bahwa penelitian sebelumnya belum ada membahas motivasi belajar. Perbedaan terletak pada jenis penelitian yang digunakan.

Penelitian sebelumnya menggunakan jenis penelitian kualitatif sedangkan penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Selain itu perbedaan terletak pada tempat dan waktu pelaksanaan dalam penelitian. Adapun persamaannya terletak pada teknik sampel yang digunakan yaitu sampel sampling jenuh.

4. Asma dengan judul, “Pegaruh Kepemimpinan Guru Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Di Smp Negeri 5 Enrekang”. Berdasarkan hasil Penelitian bertujuan untuk Mengetahui kepemimpinan guru di SMP Negeri 5 Enrekang, untuk mengetahui motivasi belajar peserta didik di SMP Negeri 5 Enrekang, Untuk mengetahui kepemimpinan guru terhadap motivasi belajar peserta didik

12Rizki Yanti, Peningkatan Kemampuan Public Speaking Melalui Metode Pelatihan Kader Pada Organisasi Iskada, Skripsi (Banda Aceh: Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh,2017), h. 65.

(23)

13

di SMP Negeri 5 Enrekang. Jenis penelitian adalah kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah semua peserta didik di SMP Negeri 5 Enrekang yang berjumlah 280 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Random Sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala kepemimpinan guru dan skala motivasi belajar. Teknik pengolahan dan analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial. Berdasarkan teknik analisis data statistik deskriptif, kepemimpinan guru di SMP Negeri 5 Enrekang berada pada kategori sedang, dan motivasi belajar di SMP Negeri 5 Enrekang juga berada di kategori sedang. Berdasarkan teknik analisis data statistik inferensial diperoleh nilai p = 0.000 (p < 0.005). Ini berarti terdapat pengaruh kepemimpinan guru terhadap motivasi belajar peserta didik di SMP Negeri 5 Enrekang.13

Penjelasan ini menunjukkan bahwa penelitian sebelumnya belum ada membahas public speaking guru Pendidikan Agama Islam. Perbedaan terletak pada sampel yang digunakan. Penelitian sebelumnya menggunakan sampel random sampling sedangkan penelitian ini menggunakan sampling jenuh. Selain itu perbedaan terletak pada tempat dan waktu pelaksanaan dalam penelitian. Adapun persamaannya terletak pada angket atau kuesioner.

5. Abd.Rahman yang berjudul “Pengaruh Kreativitas Guru Dalam Penggunakan Media Pembelajaran Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas V Mi Ddi Baru Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar”. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil perhitungan statistik deskriptif

13Asma, Pegaruh Kepemimpinan Guru Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Di Smp Negeri 5 Enrekang, Skripsi (Makassar: Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Alauddin, 2017), h. 58.

(24)

tentang kreativitas guru dalam menggunakan media pembelajaran kelas V MI DDI Baru Kec. Wonomulyo Kab. Polewali Mandar berada pada kategori tinggi dengan persentase 89,7%. Hasil perhitungan statistik deskriptif tentang motivasi belajar peserta didik kelas V MI DDI Baru Kec. Wonomulyo Kab.

Polewali Mandar berada pada kategori tinggi dengan persentase 92,3%.

Berdasarkan hasil analisis statistik regresi linear sederhana maka diperoleh nilai 0,004 terbukti bahwa antara kreativitas guru dalam mengunakan media pembelajaran terhadap motivasi belajar peserta didik terdapat pengaruh yang signifikan terbukti dari nilai yang didapatkan ˂0,05(0,004˂0,05). Implikasi penelitian ini adalah kreativitas guru dalam menggunakan media pembelajaran berada pada kriteria sedang. Karena hasil penelitian menunjukkan frekuensi dari 39 orang 29 orang berada pada kategori sedang. Motivasi belajar peserta didik Kelas V MI DDI Baru Kec. Wonomulyo Kab. Polewali Mandar juga berada pada kategori sedang. Karena hasil penelitian menunjukkan frekuensi dari 39 orang 31 orang berada pada kategori sedang. Dan hasil analisis regresi menunjukkan bahwa apabila kreativitas guru dalam menggunakan media pembelajaran ditingkatkan, maka motivasi belajar peserta didik akan meningkat. Karena itu, motivasi belajar peserta didik kelas V MI DDI Baru Kec. Wonomulyo Kab. Polewali Mandar dapat ditingkatkan melalui kreativitas guru dalam menggunakan media pembelajaran.14

14Abd.Rahman, Pengaruh Kreativitas Guru Dalam Penggunakan Media Pembelajaran Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas V Mi Ddi Baru Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Posebagai kolewali Mandar, Skripsi, (Makassar: Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Alauddin, 2017), h. 75.

(25)

15

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa penelitian sebelumnya telah melakukan penelitian tentang pengaruh motivasi belajar siswa di SD. Sedangkan pada penelitian ini motivasi belajar di ukur pada peserta didik di SMK Perbedaannya juga terletak pada tempat dan waktu pelaksanaan penelitian. Adapun persamaannya terletak pada teknik sampel yang digunakan yaitu sampel sampling jenuh. Selain itu, persamaannya terletak pada angket atau kuesioner.

F. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Dari rumusan masalah tersebut diatas maka penelitian mempunyai tujuan dan kegunaan yang hendak di capai dalam penelitian ini. Adapun tujuan dan kegunaan dari penelitian ini agar memperoleh gambaran yang jelas dan tepat serta terhindar dari adanya interpretasi dan meluasnya masalah dalam memahami isi skripsi. Tujuan penelitian ini adalah:

1. Tujuan penelitian

a. Untuk mengetahui kemampuan public speaking guru Pendidikan Agama Islam di SMK Nasional Makassar.

b. Untuk mengetahui motivasi belajar peserta didik kelas XI jurusan administrasi perkantoran di SMK Nasional Makassar.

c. Untuk mengetahui pengaruh kemampuan public speaking guru Pendidikan Agama Islam terhadap motivasi belajar peserta didik kelas XI jurusan administrasi perkantoran di SMK Nasional Makassar.

2. Kegunaan penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini antara lain:

a. Teoritis

(26)

1) Untuk menambah wawasan bagi peneliti mengenai kemampuan public speaking guru Pendidikan Agama Islam yang berkaitan erat dengan motivasi belajar peserta didik.

2) Dapat menjadi sebuah referensi terhadap penelitian yang akan dating 3) Menjadi wawasan baru

b. Praktis

1) Bagi peneliti, meningkatkan kepercayaan diri mengenai guru yang memiliki kemampuan public speaking

2) Bagi guru, dapat menyampai materi pelajaran secara jelas dan tepat serta menjadi motivator bagi peserta didik.

3) Bagi masyarakat, sebagai kontribusi berupa peningkatan kualitas guru Pendidikan Agama Islam, sehingga tercapai pendidikan yang berkualitas.

(27)

17 BAB II

TINJAUAN TEORETIS A. Public Speaking

1. Sejarah Public Speaking

Public speaking adalah istilah yang digunakan untuk keahlian dimana usia sebanarnya sudah setua usia manusia itu sendiri. Menurut Jalaluddin Rakhmat, bahasan dan kajian retorika setua kehidupan manusia. Belakangan, bahasan retorika mengalami perkembangan seiring dinamika masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.1 Namun, keahlian ini diyakini baru muncul di Yunani pada era sebelum lahirnya Isa Almasih. Jadi bisa dikatakan era sebelum masehi.

Istilahnya saat itu bukan public speaking, melainkan retorika yang berarti keahlian berbicara atau berpidato.

Pada abad ke-20 retorika memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan modern, khususnya ilmu-ilmu prilaku seperti psikologi dan sosiologi. Istilah retorika mulai digeser menjadi speech communication atau oral communication, atau lebih dikenal dengan public speaking. Retorika berkembang menjadi sebuah cabang ilmu pengetahuan dengan berkembangnya pengajaran tentang komunikasi public dan retorika di sekolah-sekolah menengah dan universitas-universitas pertama di Eropa, kemudian meluas hingga kawasan-kawasan lain di dunia. Harvard sebagai universitas pertama di Amerika serikat misalnya, telah lama memasukkan retorika sebagai salah

1Fitriana Utami Dewi, Public Speaking Kunci Sukses Bicara Di Depan Publik (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2016), h. 61.

(28)

satu mata kuliah dasarnya. Dengan berkembangnya ilmu komunikasi, pembelajaran retorika lebih meluas lagi.2

Retorika (public speaking) telah dipelajari secara lebih luas diberbagai bidang, seperti politik, komunikasi, pemasaran, dan linguistic. Di bidang politik, yang erat kaitannya dengan propaganda, retorika menjadi hal yang unik dan menarik karena di sini, banyak orang secara sadar dan antusias merangkai kata-kata bombastis untuk mempengaruhi orang sebanyak mungkin. Hal ini menunjukkan betapa retorika dan public speaking telah menjadi bagian dari komunikasi.

Dari penjelasan di atas maka penulis dapat simpulkan bahwa public speaking telah ada setua usia manusia itu sendiri. Tetapi istilahnya saat itu bukan public speaking, melainkan retorika yang berarti keahlian berbicara atau berpidato. Retorika ini sudah dipelajari lebih luas diberbagai bidang seperti politik, pemasaran, linguistic, dan komunikasi yang paling penting.

2. Pengertian Public Speaking

Secara bahasa, public speaking berasal dari dua kata dalam bahasa inggris, public speaking. Dalam kamus bahasa inggris Indonesia, John Echols dan Hassan Sadily mengartikan public speaking adalah umum, publik, dan masyarakat. Speaking bermakna „bicara‟ atau „pembicara‟. Bila digabungkan, public speaking bisa diartikan bicara publik atau pembicaraan di depan pablik.3

Istilah public speaking bukan hanya diartikan dengan berbicara di depan umum saja, akan tetapi bagaimana anda berbicara menyampaikan pesan atau gagasan yang ingin di ketahui audiens.

2Aba Mehmed Agha, Lancar Public Speaking (Yogyakarta: 2021), h. 4.

3Fitriana Utami Dewi, Public Speaking Kunci Sukses Bicara Di Depan Publik, h. 14.

(29)

19

Public Speaking penting untuk mempermudah berkomunikasi dengan orang lain. Public Speaking yang terbatas (tidak terampil) akan menggangu kelangsungan proses berkomunikasi antara pemberi pesan dan penyimak (orang yang menerima informasi). Dengan berbicara yang baik dan benar maka maksud pesan yang ingin disampaikan pemberi pesan dapat diterima dengan baik oleh penyimak.

Sebagaimana firman-Nya dalam QS Thaha/20:25-28





































Terjemahnya:

Berkata Musa, "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.4

Ayat-ayat ini memuat keterangan tentang Nabi Musa a.s. yang memohon, berdoa, kepada Allah agar dia diberi kekuatan dalam berdakwah. Di antara doanya itu

“…dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku” (QS. Thaha ayat 27) yang menyiratkan makna “berilah hamba-Mu ini kemampuan berbicara‟ agar mereka mengerti perkataanku” (QS. Thaha ayat 28) yang mengandung makna „agar komunikasiku dengan mereka berjalan lancar. Ayat ini menerangkan bahwa peran berbicara secara jelas sangat diperlukan dalam mengomunikasikan sesuatu kepada orang lain. Secara implisit dalam ayat ini menyatakan bahwa salah satu ranah berbahasa, yaitu kemampuan berbiacara sangat besar perannya dalam berkomunikasi

Oleh karena itu, keterampilan public speaking mutlak diperlukan oleh siapa pun yang akan berbicara di depan orang lain baik dalam forum kecil apalagi forum besar dan formal. Baik siswa/ mahasiswa, guru/ dosen/ pendidik, instruktur

4Kementerian Agama RI, Al-qura‟an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro,2014), h. 453.

(30)

narasumber, pembawa acara, master of ceremony moderator, presenter, penyiar, pengurus organisasi, LSM/ NGO/ partai politik termasuk orang tua sekalipun.

Kemampuan berbicara adalah salah satu anugerah dari Tuhan yang luar biasa.

Namun banyak orang berpendapat bahwa berbicara adalah hal alamiah yang akan berkembang seiring bertambahnya usia. Sehingga mereka beranggapan tidak perlu belajar dan melatih keterampilan dalam berbicara. Akibatnya, banyak kita temui orang yang berbicara dengan seenaknya tanpa memikirkan apa isi, tujuan, maksud, dan dampak dari pembicaraannya tersebut.5

Menurut Aristoteles, dalam retorika terdapat tiga jenis pendekatan yang dapat mempengaruhi orang lain, yaitu:

a. Logos, yaitu strategi untuk meyakinkan dengan menggunakan wacana yang mengedepankan pengetahuan dan rasionalitas.

b. Pathos, yaitu pendekatan yang mengutamakan emosi atau menyentuh perasaan.

c. Ethos, yaitu pendekatan moral-menggunakan nilai-nilai yang berkaitan dengan keyakinan pendengar (hadirin).

Menurut Sirait, mendeskripsikan pengertian public speaking sebagai berikut:

public speaking adalah rangkaian cara berfikir yang didasarkan dari seluruh talenta manusia atas pengalaman masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang dan dipadukan dengan etika, pola perilaku, ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, analisis keadaan dan faktor lainnya.6

Dari beberapa pengertian di atas maka penulis dapat simpulkan bahwa public speaking adalah berbicara di depan umum dengan cara berfikir yang luar biasa agar

5Nofrion, Komunikasi Pendidikan Penerapan Teori Dan Konsep Komunikasi Dalam Pembelajaran, h. 176.

6Charles Bonar Sirait, The Power Of Public Speaking (Jakarta: Gramedia, 2003), h. 54.

(31)

21

para pendengar mengerti apa yang disampaikan. Namun disisi lain public speaking juga merupakan hal alamiah yang akan berkembang seiring bertambahnya usia.

Sehingga mereka beranggapan tidak perlu belajar dan melatih keterampilan dalam berbicara.

3. Public Speaking Guru

Public speaking merupakan keterampilan yang sangat berguna bagi seorang guru. Seorang guru harus memiliki dan menguasainya. Jika seorang guru menderita demam panggung jika berbicara didepan umum, tubuh bergetar, keringat dingin keluar, dan bicara pun tergagap-gagap. Maka dia perlu mempelajari dan latihan agar dapat memiliki keterampilan berbicara di depan umum.

Berbicara sering sekali dianggap sebagai persoalan yang sepele. Akan tetapi, kita jarang sekali dapat berbicara sesuai etika yang baik. Berbicara yang enak didengar dan mudah dipahami serta tidak melebar keluar topic pembicaraan, dengan kemampuan tersebut kita akan terlihat lebih memikat. Cara berbicara seseorang dapat menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Seorang guru harus memiliki kemampuan ini, yaitu cara berbicara yang dapat memikat peserta didik.

Prinsip dari public speaking adalah tersampaikannya gagasan sehingga dapat diterima orang lain. Ketika kita berkomunikasi dengan peserta didik sejujurnya mereka tidak berharap kita memperdebatkan apa yang disampaikannya. Mereka berharap, kita dapat menerima ide dan gagasan yang dia ajukan kepada kita. Dalam berinteraksi dengan peserta didik, guru harus bisa menghindari perdebatan. Agar hubungan tetap terjalin untuk mendapatkan pemahaman bersama.

Peran guru sangat penting dalam hal menjelaskan, mengarahkan, mengamati serta memfasilitasi peserta didik untuk belajar. Peran tersebut akan berjalan lebih

(32)

efektif jika pendidik memiliki keterampilan berkomunikasi dan public speaking yang baik. Guru yang terampil berkomunikasi akan mampu menjelaskan dengan baik, akan mampu mengarahkan dengan tepat serta petunjuk dan intruksinya mudah dipahami.

Tidak hanya itu, guru yang terampil berkomunikasi akan mampu memudahkan sesuatu yang sulit, mengkonkritkan sesuatu yang abstrak serta menyederhanakan yang rumit.

Dalam public speaking, kita tidak bisa lepas dari usaha untuk menatap mata lawan bicara kita, yaitu peserta didik. Padangan mata merupakan salah satu bentuk perhatian kepada peserta didik. Oleh sebab itu, sebagai guru harus bisa melatih kemampuan menatap mata peserta didik yang akan menjadi lawan bicara. Tidak hanya itu, dalam public speaking yang baik juga sebaiknya memberikan senyum kepada peserta didik, jadi berilakanlah mereka senyuman yang sangat menawan dan sewajarnya. Jangan terlalu sering dan jangan juga terlalu berlebihan sesuaikan dengan apa yang menjadi topic pembicaraan. Dengan melemparkan senyum peserta didik akan sangat merasa nyaman dan dihormati, walaupun mungkin baru saja kenal dengan mereka. Memberikan senyum disamping mendapatkan pahala juga memberikan kenyamanan bagi peserta didik.7

Kenyataanya public speaking sangat penting bagi guru untuk dimiliki dan dikuasai agar guru tidak menderita demam panggung. Hal ini diperlukan agar para pendengar atau peserta didik bisa memahami apa yang disampaikan oleh guru dan juga agar pembelajaran berjalan lebih efektif. public speaking yang baik juga

7Silviana Mardiani, Ilmu Public Speaking Untuk Guru (Cet. I; Yogyakarta: Araska,2019), h.

190

(33)

23

sebaiknya memberikan senyum kepada peserta didik, jadi berikan mereka senyuman yang sangat menawan dan sewajarnya.

4. Teknik dasar public speaking

Dalam public speaking kemampuan berbicara untuk di terima di depan audience sangat berperan penting dalam kesuksesan berbicara. Public speaking harus memiliki kemampuan persuasi yang baik sehingga audience tidak merasa langsung usaha “menghypnosis” yang sedang dilakukan, tetapi mereka mau mendengar dan menerima.8

Menurut Albert Al Mahrabain dalam 3v of communication menjelaskan dalam public speaking minimal ada tiga hal yang harus diperhatikan dan dioptimalkan, yaitu verbal/kalimat, Guru memiliki pembendaharaan kata yang banyak, Guru mampu menyelaraskan verbal dan gesture, Guru mampu berkomunikasi secara baik dihadapan murid-murid. Kemudian voice/ suara/ vocal yaitu, Guru mempunyai karakter suara, Memberikan materi secara jelas dan diperhatikan oleh siswa, Menggunakan vocal yang berbeda. Dan visual/ penampilan/

yaitu, Guru mampu berpenampilan secara baik, Guru memanfaatkan fasilitas di kelas secara baik, Guru mampu luwes saat berkomunikasi, Guru mampu berekspresi dengan tepat, Guru menyelaraskan gesture dengan meteri yang yang disampaikan.

Adapun poin-poin penting dari teknik dasar public speaking sebagai berikut:

a. Teknik vocal

Voice, bagaimana seorang public speaking mampu mengeluarkan sesuai dengan komoditas pesannya yang akan disampaikan.9

8Hibran Dunar, My Public Speaking (Jakarta: Gramedia, 2015), h. 41.

9Tubagus Wahyudi, The Secret Of Public Speaking Era Konseptual (Jakarta: BBC Publisher,2013), h. 180.

(34)

Suara seseorang memang sangat berpengaruh pada cara berkomunikasi.

Terkadang seorang merasa tidak percaya diri karena suaranya tidak bisa diatur.

Artikulasi dan penekanan dalam suara sangat dibutuhkan agar pendengar bisa

“terpengaruh” oleh anda. Karakter suara seseorang yang cukup kuat, bisa mempengaruhi orang hingga sebesar 38%.

Vocal yang baik pasti otomatis hasil latihan pernafasan, olah vocal dan yang terpenting penguasaan materi saat berhadapan dengan lawan bicara (audience). Oleh karena itu, audience lebih suka dengan hal yang baru. Ketika berbicara hindarilah kondisi seperti orang loyo dan gunakanlah vocal yang tidak menoton maka audience akan lebih betah mendengarkan apa yang di sampaikan.

b. Teknik visual

Visual yaitu bagaimana seorang pembicara mampu menghadirkan mimic, gesture, dan body language-nya.10

Dalam public speaking tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi visual atau penampilan seseorang sangat berpengaruh daya tariknya di depan audiens. Bahasa tubuh, kontak mata, dan kesan pertama, harus diperhatikan oleh seorang pembicara.11 Dalam sebuah penelitian visual atau penampilan memengaruhi 55% melalui mimic muka/ ekspresi serta bahasa tubuh. Oleh karena itu, dalam konteks pembelajaran sebagai proses komunikasi, pendidik dan peserta didik harus mulai memperhatikan teknik visual ketika tampil dalam pembelajaran. Bagi pendidik hal tersebut sangat penting karena guru adalah orang pertama yang berdiri di depan kelas, orang pertama yang akan menjadi sorotan dan sasaran pandangan serta penilaian peserta didik.

10Tubagus Wahyudi, The Secret Of Public Speaking Era Konseptual, h. 180.

11Fitriana Utami Dewi, Public Speaking Kunci Sukses Bicara Di Depan Publik, h. 20.

(35)

25

c. Teknik verbal

Verbal, yaitu bagaimana seorang pembicara memilih kata-kata yang tepat sesuai dengan konsep esensi, maksud dan tujuan kita berbicara di depan umum.12

Dalam hal komunikasi verbal dibutuhkan untuk menunjang pembicaraan anda, seperti kertas-kertas berisi materi presentasi, atau ide-ide yang akan dituangkan dalam presentasi anda. Namun, kebutuhan verbal berperan sebesar 7% saja. Hal tersebut di perkuat oleh teori Prof. Albert Mehrabian, verbal akan memberikan kesan terhadap audience dengan di dukung dengan vocal dan visual yang baik.

Dari penjelasan maka penulis dapat simpulkan bahwa terdapat tiga poin penting dari teknik dasar public speaking yaitu teknik vocal artinya bagaimana seorang public speaking mampu mengeluarkan sesuai dengan komoditas pesannya yang akan disampaikan, teknik visual artinya bagaimana seorang pembicara mampu menghadirkan mimic, gesture, dan body language-nya, dan teknik verbal artinya bagaimana seorang pembicara memilih kata-kata yang tepat sesuai dengan konsep esensi, maksud dan tujuan kita berbicara di depan umum.

5. Manfaat dalam Public Speaking

Manfaat dalam public speaking sangat banyak untuk manusia yang antara lain adalah:

a. Kemampuan public speaking adalah tuntutan hampir semua profesi (guru, dosen, manajer, pendakwah, instruktur, narasumber, penyiar, presenter, MC/pembawa acara, politikus, tenaga penjual, dan lain-lain).

12Tubagus Wahyudi, The Secret Of Public Speaking Era Konseptual, h. 180.

(36)

b. Melalui public speaking kita bisa menyampaikan ide atau pemikiran kepada orang banyak dengan efektif dan respektif.

c. Dengan menguasai public speaking kita memiliki kesempatan luas mengaktualisasikan segala potensi di hadapan siapa pun. Ini kesempatan untuk mempromosikan diri. Bukan siapa yang anda kenal, tapi siapa yang mengenal andalah yang akan membuat kehidupan anda berubah.

d. Kemampuan public speaking mendukung kepemimpinan.

e. Kemampuan public speaking menumbuhkan kepercayaan diri.

f. Kemampuan public speaking berkontribusi dalam melejitkan prestasi.

g. Kemampuan public speaking akan mendukung dan mempermudah sampainya informasi, pesan, materi, pelajaran, serta dakwa dan komunikator kepada komunikasi secara lebih efektif dan efisien.

h. Public speaking adalah profesi dengan bayaran termahal di Indonesia dan dunia.13 Mengenai penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa manfaat dari public speaking banyak sekali yang dimana kemampuan public speaking merupakan tuntutan hampir semua profesi, bisa menyampaikan ide atau pemikiran kepada orang banyak, memiliki kesempatan yang luas mengaktualisasi segala potensi, mendukung kepemimpinan, menumbuhkan kepercayaan diri, berkontribusi dalam melejitkan prestasi, serta dapat mendukung dan mempermudah sampainya informasi, pesan, materi, pelajaran, serta dakwa dan komunikator kepada komunikasi secara lebih efektif dan efisien.

13Fajarianto, Public Speaking Mastery (Cet. XVI, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2020), h. 22.

(37)

27

B. Guru Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian guru

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Di dalam al- Qur‟an dan as-Sunnah yang merupakan sumber utama ilmu pendidikan Islam, terdapat sejumlah istilah yang mengaju kepada pengertian pendidik. Istilah tersebut antara lain al-murabbi, al-muallim, al-muzakki, al-ulama, al-rasikhun fi al-„ilm, ahl- al-dzikr, al-muaddib, al-mursyid, al-ustadz, ulul al-bab, ulu al-nuha, al-faqih, dan al- muwai‟id.14

Guru adalah suatu kedudukan atau jabatan terhormat yang mempunyai tanggung jawab yang berat dan tulang punggung atau kekuatan yang diandalkan.

Secara umum guru berarti orang yang dapat menjadi panutan serta memberikan jalan yang baik demi kemajuan bangsa dan Negara.

Tugas guru ada tiga hal; Pertama, mentransfer ilmu, memberikan ilmu kepada peserta didiknya dalam bentuk proses pengajaran. Kedua, menamakan nilai-nilai yang baik dalam hal ini menanamkan value (nilai), disinilah letak pembentukan akhlakul karimah, membentuk karakter. Ketiga, melatih mereka untuk memiliki ketrampilan dan amal yang baik.15

Dalam perspektif Islam, seorang guru bukan hanya sekedar tenaga pengajar, tetapi sekaligus pendidik. Karena itu, seorang dapat menjadi guru bukan hanya karena ia telah memenuhi kualifikasi keilmuan dan akademis saja, tetapi lebih penting lagi ia

14Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam ( Jakarta: Prenada Media Group, 2012), h. 160.

15Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat (Jakarta: Prenadamedia Group,2014), h. 103.

(38)

harus terpuji akhlaknya. Dengan demikian, seorang guru bukan hanya mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih penting pula membentuk watak dan pribadi anak didiknya dengan akhlak dan ajaran islam.

Guru sebagai pendidik berarti guru siap memberikan bantuan kepada peserta didik mengenai hal-hal yang belum diketahui oleh peserta didik hingga ia mengerti dan menguasai materi yang di sampaikan. Bukan hanya sampai disitu tetapi juga guru sebagai pendidik mampu memberikan pertolongan terhadap anak didik agar hal yang sulit dapat di mengerti dan berarti.

Dari beberapa penjelasan di atas maka dapat disimpulkan guru adalah pendidik yang profesional yang memiliki tugas utama untuk membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Guru juga adalah orang yang dapat menjadi panutan serta memberikan jalan yang baik demi kemajuan bangsa dan Negara.

2. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan berasal dari kata didik yang artinya bina, mendapat awalan “pen”

dan akhiran “an” yang maknanya sifat dari perbuatan membina, melatih, mengajar dan mendidik. Oleh karena itu, pendidikan merupakan pembinaan, pelatihan, pengajaran, dan semua hal yang berkaitan dengan bagian dari usaha manusia untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilannya.16

Menurut Ahmad Tafsir, Pendidikan Agama Islam sebuah bimbingan yang diberikan oleh seorang kepada seorang sehingga ia bisa berkembang secara maksimal

16Dahwadin, Motivasi Dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta: Mangku Bumi Media,2019), h. 1.

(39)

29

sesuai dengan ajaran islam atau bisa di singkat dengan bimbingan terhadap seseorang agar ia menjadi muslim semaksimal mungkin.17

Pendidikan dalam wacana keislaman lebih populer dengan istilah tarbiyah, ta‟lim, ta‟dib riyadhah, irsyad, dan tadris. Akan tetapi yang lebih populer dan sering digunakan dalam praktik pendidikan Islam ialah istilah at-tarbiyah. Term tarbiyah berasal dari kata rabb yang memiliki makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.

Disini pendidikan Agama Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seorang kepada seorang sehingga ia bisa berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam atau bisa disingkat dengan bimbingan terhadap seseorang agar ia menjadi muslim yang baik.

3. Guru Pendidikan Agama Islam

Guru Pendidikan Agama Islam merupakan guru yang memiliki kriteria sebagai pendakwah Islam, sebagai pelaksanaan nilai-nilai ajaran Islam dan juga sebagai contoh atau model umat beragama yang baik dan benar. Guru Pendidikan Agama Islam yang profesional setidaknya memiliki 3 misi yaitu; pertama, misi dakwah Islam. Islam harus bisa dijelaskan dan ditunjukkan dengan sikap, kepribadian dan perilaku yang menarik bagi semua manusia tanpa melihat asal usulnya. Kedua, misi pedagogiek. Pembelajaran memiliki peran peran yang sangat besar dalam merubah atau menanamkan keyakinan peserta didik. Guru yang profesional adalah guru yang dapat mewujudkan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Ketiga, misi pendidikan. Guru selain bertugas dalam realitas pembelajaran juga memiliki

17Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam (Cet. XII; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2015), h. 32.

(40)

tugas membimbing dan membina etika dan kepribadian peserta didik saat disekolah maupun diluar sekolah.18

Guru Pendidikan Agama Islam merupakan guru yang mengajarkan mata pelajaran Fiqih, Akidah Akhlak, Al-Qur‟an Hadis, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah. Peran guru Pendidikan Agama Islam mempunyai peranan yang sangat berat dibandingkan dengan guru mata pelajaran lain karena guru Pendidikan Agama Islam mengajarkan bagaimana berakhlak yang baik.

Jadi guru Pendidikan Agama Islam harus memahami secara tepat tentang karakteristik pendidikan agama islam. Jika Pendidikan Agama Islam disamakan dengan pelajaran non Pendidikan Agama Islam maka selama itu juga tidak akan mampu menjawab tantangan dan masalah masyrakat. Pelajaran Pendidikan Agama Islam memiliki karakteristik yang bersifat integral, lintas sector, zig zag. Artinya pelajaran Pendidikan Agama Islam berkaitan dengan ilmu-ilmu lain dari luar Pendidikan Agama Islam misalnya berkaitan dengan ilmu psikologi, sosiologi, geografi dan ilmu lainnya. Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa guru bertugas dalam realitas pembelajaran juga memiliki tugas membimbing dan menbina etika dan kepribadian peserta didik saat di sekolah maupun di luar sekolah.

sedangkan uru pendidikan Agama Islam adalah pendidik yang mengajar nilai-nilai islami atau mengajarkan bagaimana berakhlak yang baik kepada peserta didiknya.

18Alex Yusron Al Mufti, “Soft Skill Bagi Guru Dalam Pendidikan Agama Islam”, Jurnal Tarbawi 13, no. 1 (Januari-Juni 2016), h. 64.

(41)

31

C. Motivas Belajar

1. Pengertian motivasi belajar

Secara umum motivasi adalah serangkaian usaha yang menyediakan kondisi- kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu serta motivasi juga dapat di rangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu adalah tumbuh didalam diri seseorang. Dalam kegiaran belajar, motivasi belajar yaitu daya penggerak dari dalam diri peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.19

Dalam Islam, belajar (menuntut ilmu) merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Pendidikan merupakan realisasi dari kewajiban menuntut ilmu yang diperintahkan Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana hadits Nabi yang berbunyi:

Artinya:

“Mencari ilmu wajib terhadap setiap orang Islam….”.(H.R. Ibnu Majah dari Anas bin Malik).20

Motivasi belajar dalam proses pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilannya. Namun motivasi belajar dapat menjadi lemah, lemahnya motivasi akan melemahkan aktivitas dan kegiatan

19Sudirman, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Rajawali,2016), h.75.

20 Abu, Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Mâjah Al-Quzwaini, Sunan Ibnu Mâjah, (Kairo: Dâr Al-Kutub Al-„Arabiyyah, 1996) h.81.

Referensi

Dokumen terkait

Kebijakan teknis : meningkatkan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan berkelanjutan melalui pengembangan komoditas, SDM, kelembagaan dan kemitraan usaha,

Komunikasi hasil penelitian mempunyai arti tersendiri, karena bagaimanapun baiknya suatu penelitian yang telah dilakukan, tapi tanpa dilakukan komunikasi kepada orang

Nusantara Compnet Integrator memiliki manajemen sumber daya manusia yang mengatur sumber daya manusia di dalamnya dan di dalam perusahaannya, perusahaan menempatkan

Buku ini, khususnya yang menyangkut biografi Syekh Ahmad al-Tijani kami yakin belum dapat menggambarkan secara

Syarat tersebut menjamin adanya evolusi vorteks di dalam SQUID, berapapun besarnya medan magnet eksternal yang akan diukur, ketika padanya dialirkan rapat arus eksternal

Konfigurasi Schlumberger dapat menampilkan dengan jelas penampang resistivitas pada formasi air secara vertikal sehingga konfigurasi Schlumberger sebaiknya digunakan dalam

(3) Dalam hal dilakukan pemutusan Kontrak secara sepihak oleh PPK karena kesalahan Penyedia Barang/ Jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kelompok Kerja ULP dapat

Dengan demikian diketahui bahwa tanah dibawah steel pile masih mampu mendukung beban maksimum yang terjadi.. 4.9.3