PREVALENSI MIKROORGANISME PENYEBAB MENINGITIS BAKTERIAL PADA PASIEN DI RS. H. ADAM MALIK PERIODE 2016-2019
Oleh : Oscar Dirgantara
130100413
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2020
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan YME, berkat, dan rahmat- Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Prevalensi Mikroorganisme Pada Penderita Meningitis Bakterial di RSUPHAM”, sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program Sarjana (S1) jurusan Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa adanya bantuan, dukungan, bimbingan, dan nasihat dari berbagai pihak selama penyusunan skripsi ini. Pada kesempeatan ini penulis menyampaikan terimakasih setulus-tulusnya kepada :
1.
dr. Sri Amelia, M.Kes selaku staff pengajar Universitas Sumatera Utara dan dosen pembimbing.
2.
Dra. Merina Pangabean, M.Sc., dan dr. Adelina Sinambela, MKT.
selaku staff pengajar Universitas Utara dan dosen penguji.
3.
Prof. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah membantu menasihati saya.
4.
Seluru staff pengajar Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang tak ternilai selama proses pembelajaran dan Pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
5.
Kedua orang tua penulis, Theodorus Elli yang tak henti hentinya memberikan dukungan moral dan materil.
6.
Kakak penulis yang terkasih, Nicholas Tanzil, terimakasih atas dukungan moral dan doanya.
7.
Teman Teman sejawat Fakultas Kedokteran yang membantu
mendukung secara moral, kepada Yohandri Purba, Kristian
Sembiring, Peter Obrian Ginting, Okky Fernando Manurung,
Erwin Simangunsong, Erwin Togatorop, Natan Simajuntak, Diko
Saragih, Sugama Ginting, Jonathan, Joshua Christian, Genio
Mustamin, Willy Sunjaya, Irianto
8.
Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, karena itu segala kritik dan saran yang membangun akan menyempurnakan penulisan skripsi ini serta bermanfaat bagi penulis dan para pembaca
Medan, 22 Oktober 2021 Penulis,
Oscar Dirgantara
ABSTRAK
Pendahuluan. Meningitis adalah keadaan infeksi dimana mikroorganisme tinggal di lapisan darah-otak, yang kemudian menimbulkan inflamasi pada lapisan selaput otak.
Berdasarkan mikroorganisme penyebab infeksi, meningitis dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu meningitis bakterial, meningitis viral, dan meningitis fungal. Penyakit ini dapat menimbulkan gangguan neurologis hingga yang terparah adalah kematian.
Tujuan penelitian ini adalah menentukan prevalensi mikroorganisme penyebab, pada penderita meningitis bakterial di RS H. Adam Malik, sehingga klinisi dapat memilih antimikroba yang tepat secara empiris, sebelum hasil laboratorium mikrobiologi keluar. Selain itu penulis juga ingin melihat data demografi dari penderita meningitis tersebut berdasarkan beberapa karakter yang sudah ditentukan. Metode. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data rekam medis di RS H. Adam Malik Medan. Data yang diperoleh kemudian disusun dengan metode analisis deskriptif.
Hasil. Dari hasil analisis data rekam medis, maka penulis menyimpulkan bahwa meningitis bakterial di RS H. Adam Malik, disebabkan paling banyak oleh bakteri Staphylococcus aureus, kemudian diikuti kelompok bakteri gram negatif yaitu Klebsiela pneumoniae. Berdasarkan usia, kelompok umur yang paling banyak terinfeksi adalah usia 5-18 tahun dengan perbandingan antara laki laki dan perempuan hampir sama, yaitu 15 pria dan 16 wanita. Sementara untuk asal tempat tinggal, kebanyakan kasus berasal dari daerah dengan tingkat kesejahteraan level menengah.
Kesimpulan. Bakteri penyebab meningitis bakterial di RS H. Adam Malik yg dominan adalah Staphylococcus aureus dan Klebsiella pneumonia, dengan kelompok umur terbanyak penderita meningitis bakterial adalah 5-18 tahun, dengan jenis kelamin wanita yang paling dominan, dan daerah asal penderita umumnya berasal dari daerah dengan tingkat kesejahteraan menengah.
Kata Kunci : bakteri, meningitis, rekam medis
ABSTRACT
Introductory. Meningitis is an infection state here microorganism lives at the blood- brain barrier which then causes inflammation on the brain membrane. According to the leading cause of meningitis infection, meningitis can be split into 3 groups, which is meningitis bakterial, viral, dan meningitis fungal. This disease can cause neurological disorders to the worst, death. The goal of this study is to determine which microorganism is the leading cause in Haji Adam Malik Hospital, so clinician can choose the right antimicrobial that is precise empiricaly Before the microbiology laboratorium result came out. On the other hand, author want to see the demographic data from meningitis related patient with some boundaries aset.
Method, The data collection method in this study is using medical record taken from Haji Adam Malik Hospital medical record. Result, The data then gathered and then compiled with analytic descriptive method and results from medical record data analytic. Furthermore, author concludes that the most cause for bacterial meningitis in Haji Adam Malik Hospital is Staphylococcus aureus which then followed by another gram- negative bacteria Klebsiela pneumoniae. According to the age of group, 5-18 years old is the most common group with the ratio in man and women almost the same, 15 man and 16 woman. Meanwhile for the place of residence, most cases comes from the place which has the middle level of walfare. Conclusion, the most dominant cause for meningitis bacterial infection in Haji Adam Malik is Staphylococcus aureus and Klebsiella pneumonia. With the group age of 5-18 years old. woman as the most dominant, and the place of residence usually came from middle level of welfare.
Keywords : bacteria, medical record, meningitis
DAFTAR ISI
Halaman Persetujuan……….………...……….. i
Kata Pengantar………...ii
ABSTRAK……….……….…..iii
Daftar isi……….….... iv
Daftar Tabel……….……….. v
Daftar Gambar……….………..………... vi
1.1 BAB 1 PENDAHULUAN……….………. 1
1.1.Latar Belakang……….………..………….. 2
1.2.Rumusan Masalah……….………… 2
1.3.Tujuan Penelitian……….………..………….. 2
1.4.Manfaat Penelitian……….………...………… 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA……….………. 4
2.1 Definisi Meningitis ……….……….…………... 4
2.2 Mikroorganisme Penyebab Meningitis Bakterial……….……..…………. 4
2.3 Epidemiologi Meningitis……….……….………... 8
2.4 Patofisiologi Meningitis……….………..………...…….….. 10
2.5 Gejala dan Tanda Klinis Meningitis……….………..……... 12
2.6 Tatalaksana……….………..………. 14
2.7 Komplikasi……….……….... 16
2.8 Kerangka Teori……….………..... 17
2.9 Kerangka Konsep……….……….. 18
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian……….………...………. 19
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian……….………..…………. 19
3.3 Populasi dan Sampel……….……….….…………... 19
3.4 Kriteria Rekam Medis……….……….…………..... 20
3.5 Metode Pengumpulan Data……….………... 20
3.6 Metode Analisis Data……….……….……….. 20
3.7 Definisi Operasional……….………. 21
BAB 4 JADWAL PENELITIAN DAN BIAYA PENELITIAN 4.1 Jadwal Penelitian……….……….……. 23
4.2 Biaya Penelitian……….………..….. 24 BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian……….………..... 25
5.2 Pembahasan ……….……….…….... 30
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan……….……….……….. 33
6.2 Saran……….………...…….………. 33
DAFTAR PUSTAKA……….……….... 34
Lampiran 1.... 38
Lampiran 2....…….…….….... 40
Lampiran 3……….….….... 43
Daftar Tabel
Tabel 2.1 Tanda dan gejala meningitis bakteri……….………..…………. 13 Tabel 2.2 Perbandingan temuan cairan serebrospinal pada meningitis yang berbeda 14 Tabel 2.3 terapi empirik meningitis bakterial……….………. 15 Tabel 4.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian……….………... 23 Tabel 4.2 Rincian Rencana Anggaran Dana Penelitian……….……….. 24 Tabel 5.1 Prevalensi mikroorganisme pada penderita meningitis bakterial……….... 26 Tabel 5.2 Prevalensi bakteri Gram positif dan negatif……….………... 26 Tabel 5.3 Prevalensi bakteri berdasarkan umur penderita……….……….. 27 Tabel 5.4 Frekuensi bakteri penyebab meningitis berdasarkan jenis kelamin…….... 27 Tabel 5.5 Prevalensi bakteri penyebab meningitis pada tempat tinggal……….. 28
Daftar Gambar
Gambar 1 Meningitis Bakterial……….……….... 5 Gambar 2 Area dengan kondisi epidemic meningitis meningokokal……….……..... 10 Gambar 3 Tempat penyebaran kuman penyebab meningitis……….……….…. 11 Gambar 4 Algoritma tatalaksana meningitis bakterial……….……….. .16
BAB I
Infeksi adalah suatu keadaan agen patogen menginvasi dan berkembang di dalam tubuh pejamu. Adanya infeksi ini dapat memicu timbulnya proses peradangan.
Proses peradangan dapat terjadi di berbagai organ tubuh. Salah satu jenis radang yang sering terjadi yaitu meningitis. Meningitis merupakan peradangan pada lapisan arakhnoid, piamater dan juga dapat melibatkan cairan serebrospinal (Liwang et al, 2014). Meningitis sering disebabkan oleh infeksi bakteri dan virus, sedangkan kasus meningitis akibat infeksi jamur dan parasit jarang dijumpai.
Beberapa bakteri memiliki peranan dalam mencetuskan meningitis bakterial diantaranya Streptococcus pneumoniae, grup B Streptococcus, Neisseria meningitidis, Haemophilus influenzae, and Listeria monocytogenes. Dari suatu studi meta analisis, secara global bakteri patogen yang dominan menginfeksi di segala usia adalah S. pneumoniae dan N. meningitidis yang secara berurutan berkisar 25,1- 41,2% dan 9,1- 36,2% dari kasus meningitis bakterial.Infeksi S. pneumoniae pada usia anak-anak berkisar dari 22,5% (wilayah Eropa) hingga 41,1% (wilayah Afrika), dan pada orang dewasa berkisar dari 9,6% (wilayah Pasifik Barat) hingga 75,2%
(wilayah Afrika)(Oordt-Speets et al 2018).
Meningitis bakterial merupakan bentuk infeksi sistem saraf pusat supuratif yang paling sering terjadi. Secara global, insiden kejadian meningitis meningkat dari 2,5 juta kasus pada tahun 1990 menjadi 2,82 juta kasus pada tahun 2016. Dari segi tingkat kematian akibat meningitis mengalami penurunan sebesar 21% dari 403.012 kematian menjadi 318.400 kematian dari tahun 1990-2016 (Kassebaum, 2018). Di Amerika Serikat, setiap tahunnya insiden meningitis bakterial sekitar 2,5 kasus per 100.000 penduduk (Roos et al, 2013). Sebagai perbandingan, di Indonesia setiap tahunnya jumlah kasus sangkaan meningitis bakterial berkisar 158 kasus per 100.000 penduduk (Alam, 2011).
Angka kejadian meningitis bakterial yang masih cukup tinggi di Indonesia, menarik minat penulis untuk mengetahui prevalensi mikroorganisme penyebab
meningitis bakterial pada pasien yang dirawat di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan pada periode 2016-2019.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah prevalensi mikroorganisme penyebab meningitis bakterial pada pasien di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan periode 2016-2019.
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui prevalensi mikroorganisme penyebab meningitis bakterial pada pasien di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan periode 2016-2019.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui distribusi umur pasien meningitis bakterial di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan.
b. Untuk mengetahui distribusi jenis kelamin pasien meningitis bakterial di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan.
c. Untuk mengetahui distribusi tempat tinggal pasien meningitis bakterial di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan.
d. Untuk mengetahui pola distribusi bakteri pasien meningitis bakterial di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan.
1.4 Manfaat Penelitian
a. Bagi pihak Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan dan klinisi, untuk memberikan informasi mikroorganisme yang sering sebagai penyebab meningitis bakterial sehingga dapat menentukan terapi empiris yang tepat dalam pengobatan meningitis tersebut.
b. Bagi penulis dapat menjadi sarana pembelajaran dalam pembuatan karya tulis ilmiah dan sebagai penambah kekayaan pengetahuan penulis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Meningitis Bakterial
Meningitis merupakan peradangan pada lapisan arakhnoid, piamater dan juga dapat melibatkan cairan serebrospinal akibat infeksi bakteri (gambar 1)(Liwang et al, 2014). Penularan setiap jenis bakteri penyebab meningitis bakterial berbeda-beda.
Kuman L. monocytogenes dan E. coli menyebar melalui produk makanan yang telah terkontaminasi. Selain itu penyebaran dari satu orang ke orang lainnya merupakan bentuk lain transmisi meningitis bakterial. Sebagai contoh, bakteri grup B Streptococcus dan E. coli dapat ditularkan dari ibu ke bayinya melalui proses persalinan. Bakteri S. pneumoniae dan H. influenza tipe B ditularkan melalui batuk ataupun bersin dari seseorang yang terinfeksi bakteri tersebut. Bakteri N. meningitidis menyebar melalui kontak dekat (seperti batuk, ciuman) maupun kontak lama(CDC, 2019). Bahkan sekitar 1 dari 10 orang membawa bakteri N. meningitidis di area hidung dan tenggorokan dan orang tersebut tidak mengalami sakit. Perlu diketahui juga bahwa penularan bakteri tersebut dapat melalui seseorang yang carrier. Seorang carrier membawa kuman penyakit namun orang tersebut tidak mengalami sakit akibat adanya kuman tersebut (CDC, 2019).
Gambar 1. Meningitis Bakterial (Misulis et al, 2020)
2.2 Mikroorganisme Penyebab Meningitis Bakterial
Mikroorganisme seperti Streptococcus pneumoniae (pneumococcus), Neisseria meningitidis (meningococcus), Haemophilus influenzae, grup B Streptococcus dan Listeria monocytogenes adalah 5 penyebab terbanyak dari meningitis bakterial (Roos et al, 2013). Masing-masing bakteri memiliki ciri-ciri tersendiri dalam hal morfologinya.
2.2.1 Streptococcus pneumoniae
Streptococcus pneumoniae adalah bakteri berkapsul, gram positif berbentuk bulat dan tersusun seperti rantai dengan diameter 0,5-1,2 µm (Carroll et al, 2016).
Pneumokokus membentuk koloni bulat kecil, yang awalnya berbentuk seperti kubah dan kelamaan pada bagian tengah akan tampak tertekan. Pneumokokus yang dibiakkan dalam agar darah akan melisiskan sebagian sel eritrosit dan membentuk
pigmen kehijauan. Gambaran ini disebut sebagai α-hemolisis. Sekitar 5 - 40% orang membawa bakteri S. pneumoniae di saluran napas atas. Pneumokokus dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti pneumonia, sinusitis, otitis,meningitis, bakteremia, peritonitis dan sebagainya (Mook-Kanamori et al, 2011).
Infeksi pneumokokus yang menyerang sistem saraf pusat dapat berasal dari komplikasi penyebaran penyakit lain seperti otitis, sinusitis, trauma kepala maupun bakteremia (Carroll et al, 2016). Komponen dinding sel bakteri berupa lipopolisakarida, asam teikoat, dan peptidoglikan, dapat memicu peradangan selaput otak dengan merangsang produksi sitokin inflamasi dan kemokin oleh mikroglia, astrosit, monosit dan leukosit di cairan serebrospinal (Roos et al, 2013). Meskipun sistem pengobatan telah lebih maju, mortalitas meningitis pneumokokal tetap tinggi yakni sekitar 16-37% dan defisit neurologis seperti tuli, gangguan bicara, gangguan kognitif diperkirakan terjadi 30-52% pasien yang telah sembuh (Coureuil et al, 2012).
2.2.2 Neisseria meningitidis
Neisseria meningitidis adalah bakteri gram negatif berbentuk kokus, Pada umumnya N. meningitidis ditemukan dalam bentuk diplokokus berbentuk seperti biji kopi dengan diameter 0,8 µm. Bakteri ini bersifat aerob, yang berarti membutuhkan oksigen untuk proses metabolismenya. Semua spesies Neisseria memproduksi katalase dan oksidase positif.9,10 Mortalitas hampir 100% pada pasien yang tidak terobati sedangkan pasien yang mendapat terapi dini dan adekuat mortalitas sekitar 10% (Carrol et al, 2012).
Sekitar 63% kondisi meningokoksemia (adanya bakteri N. meningitidis di dalam darah) akan berakibat meningitis. Invasi bakteri ke meningen sebagai akibat interaksi bakteri dengan sel endotel di otak. Interaksi ini dibantu oleh adanya pili tipe IV, yang berperan dalam pembentukan mikrokoloni di bagian ujung sel endotel.
Faktor virulensi utama N. meningitidis adalah kapsul yang mencegah fagositosis bakteri. Ketika bakteri mencapai cairan serebrospinal, akan terjadi kenaikan leukosit
polimornuklear yang dipicu sebagai akibat respon inflamasi lokal sehingga memicu peradangan (Parisi et al, 2012).
2.2.3 Haemophilus influenzae
Haemophilus influenzae adalah bakteri gram negatif kecil berbentuk kokobasil berukuran 1,5 µm. Dalam membiakkan bakteri Haemophilus membutuhkan tambahan faktor pertumbuhan yaitu hemin (disebut juga faktor X) dan nicotinamide adenine dinucleotide (NAD, disebut juga faktor V). Meskipun kedua faktor tersebut terdapat pada media agar darah, agar darah harus dipanaskan untuk menghancurkan inhibitor faktor V. Oleh karena itulah agar coklat (berasal dari darah yang dipanaskan) digunakan untuk isolasi Haemophilus (Carrol et al, 2012).
Infeksi awal H. influenzae dimulai dari saluran pernapasan, tempat bakteri tersebut menempel di sel epitel dan berkolonisasi di permukaan mukosa. Semakin lama perjalanan penyakit, bakteri tersebut mencapai aliran darah dan menyebar ke sistem saraf pusat. Sekitar dua pertiga anak-anak dengan infeksi H. influenzae tipe B akan mengalami meningitis dan 4% kasus akan berakibat fatal serta meninggalkan defisit neurologis pada 15-30% pasien yang sembuh (Bundy et al, 2019).
2.2.4 Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif dengan bentuk kokus yang berkumpul seperti membentuk kumpulan anggur. Mikroorganisme ini jika dikembang biakkan di media manitol memiliki ciri menghemolisa darah dan koloni yang berwarna kuning keemasan (Parisi et al, 2014). Bakteri yang masuk dan mereplikasi di cairan serebrospinal, inflamasi dari rongga lapisan subaraknoid terjadi karena komponen bakteri dan komponen pejamu bertemu. Alterasi dari permabilitas selaput darah-otak berujung ke edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.
meningitis juga memodifikasi aliran darah melalui rongga subarakhnoid, menghasilkan vaskulitis dan iskemik (Lohia et al, 2012).
2.2.5 Mycobacterium tuberculosis
Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri yang bersifat tahan asam. Bakteri ini berbentuk batang panjang dan memiliki konten lipid yang tinggi pada dinding selnya. Mycobacterium tuberculosis membutuhkan media khusus untuk perkembangbiakannya, seperti Löwenstein-Jensen dan Ogawa. Dalam hal pewarnaan pun Mycobacterium tuberculosis memikili kekhususan yaitu dengan menggunakan pewarnaan Ziehl-Neelsen (Bundy et al, 2019).
Mikroorganisme masuk ke dalam badan pejamu melalui jalur respiratorik, kemudian berkembang biak dan masuk ke pembuluh darah. Setelah masuk ke dalam pembuluh darah dan sampai di selaput darah-otak, mikroorganisme ini berkembang dan mengganggu fungsi astrosit, mikrolgia, dan neuron yang menyebabkan gangguan metabolik, dan respon imun tubuh yang menimbulkan inflamasi di otak yang dapat menyebabkan strok, vaskulitis, tuberkolomas, dan hidrosefalus (Gondim et al, 2018).
2.3 Epidemiologi meningitis 2.3.1 Umur
Hampir 0,6% kematian di semua usia dan 3% anak-anak dengan usia dibawah 5 tahun dikarenakan meningitis. Insiden meningitis mencapai puncak pada periode neonatus dan kematian tertinggi akibat meningitis terjadi pada anak usia dibawah 5 tahun (Kassebaum et al, 2018). Pada negara berkembang, insiden neonatal meningitis mencapai 0,8-6,1 kasus per 1000 kelahiran dengan mortalitas mencapai 58%.
Neonatus rentan mengalami meningitis disebabkan imunitas yang belum terbentuk sempurna. Umumnya meningitis pada neonatus disebabkan oleh bakteri grup B Streptococcus dan Escherichia coli yang didapatkan ketika proses persalinan. Sekitar 15-20% perempuan pada masa kehamilan membawa bakteri grup B Streptococcus di area vagina (CDC, 2019).
2.3.2 Jenis Kelamin
Infeksi meningitis bakterial di Amerika Serikat lebih banyak dijumpai pada pria dibandingkan wanita dengan rasio berturut-turut 3,3 dan 2,6 kasus per 100.000 penduduk (Brouwer et al, 2010).
2.3.3 Tempat Tinggal
Umumnya kasus meningitis banyak terjadi di daerah yang padat penduduknya seperti kemah militer, asrama kampus dan asrama haji. Pernah dilaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) meningitis meningokokal pada asrama kampus. Selain itu, risiko mengalami meningitis juga meningkat pada pelancong yang bepergian ke luar negeri seperti untuk ibadah haji dan umrah di Mekkah dan daerah Sub Sahara Afrika (Leonard et al, 2019).
Insidensi tertinggi meningitis terjadi di daerah yang disebut dengan the African Meningitis belt, yang membentang dari Senegal (bagian barat) hingga ke Ethiopia (bagian timur) yang terdiri dari 26 negara (gambar 2). Diperkirakan 30.000 kasus meningitis meningokokal dilaporkan setiap tahunnya dari area tersebut. Di area meningitis belt, kasus tertinggi ditemukan pada anak dengan usia 5-14 tahun kemudian diikuti pada orang dewasa dengan usia diatas 30 tahun. Meningitis meningokokal pada area ini tergolong epidemik selama periode musim kering (dari bulan Desember-Juni) dengan jumlah kasus mencapai 1000 kasus per 100.000 penduduk (Mbaeyi et al, 2019).
Selama musim kering tersebut, sering terjadi angin yang membawa pasir, malam yang dingin dan infeksi saluran nafas atas. Kombinasi ini akan merusak mukosa nasofaring sehingga meningkatkan risiko meningitis meningokokal. Selain itu, kondisi yang padat penduduk meningkatkan risiko penularan. Hal inilah mungkin yang menjadi dasar timbulnya epidemik yang besar pada area meningitis belt selama musim kering (Mbaeyi et al, 2019).
Gambar 2. Area dengan kondisi epidemik meningitis meningokokal (Mbaeyi et al, 2019).
2.4 Pat ofisiologi Meningitis
Kebanyakan kasus meningitis disebabkan oleh kuman infeksius yang berkolonisasi atau menyebabkan infeksi lokal di tempat lain (selain sistem saraf pusat). Tempat yang berpotensi untuk kolonisasi kuman tersebut dapat berasal dari kulit, nasofaring, saluran napas, saluran cerna, dan saluran kemih (Hasbun, 2019).
Kuman tersebut dapat menginvasi meninges dengan beberapa rute, (1) secara hematogen, (2) jalur masuk melalui saluran pernapasan atas atau melalui trauma kulit (seperti fraktur kepala, meningokel), (3) masuk kedalam intrakranial melalui venula di nasofaring, (4) melalui fokus infeksi yang berdekatan (seperti sinusitis, abses otak) (gambar 3). Invasi melalui penyebaran hematogen (aliran darah) merupakan cara paling sering terjadinya meningitis (Nath et al, 2020).
Otak memiliki mekanisme perlindungan berupa lapisan meningen. Biasanya perlindungan ini merupakan sebuah keuntungan karena barrier ini mencegah sistem
kekebalan tubuh menyerang otak. Namun pada meningitis, fungsi sawar darah otak dapat terganggu, sehingga apabila bakteri atau organisme lain telah masuk ke otak, dapat terisolasi dari sistem kekebalan tubuh dan dapat menyebar (Nath et al, 2020).
Ketika tubuh mencoba untuk melawan infeksi, terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga memungkinkan cairan, leukosit dan partikel yang membantu melawan infeksi lainnya untuk memasuki meningens dan otak.
Proses ini selanjutnya menyebabkan edema otak dan akhirnya dapat mengakibatkan penurunan aliran darah ke bagian otak dan memperburuk gejala infeksi (Nath et al, 2020).
Gambar 3. Tempat penyebaran kuman penyebab meningitis (Misulis et al, 2020)
2.5 Gejala dan Tanda Klinis Meningitis
Tiga gejala klasik pada meningitis ialah demam, sakit kepala dan kaku kuduk.
Namun hanya sekitar 44% pasien meningitis yang akan mengalami tiga gejala ini.
Gejala tersebut dapat berlangsung dalam beberapa jam atau 1-2 hari. Dalam suatu studi pada 696 kasus meningitis bacterial pada pasien dewasa, dilaporkan 95% pasien mengalami dua dari empat gejala berikut yaitu demam, sakit kepala, kaku kuduk dan penurunan kesadaran. Selain itu keluhan mual, muntah, fotofobia, gangguan tidur, iritabilitas juga sering dilaporkan (Hasbun et al, 2019).
Kejang umumnya terjadi pada saat awal fase meningitis bakterial. Umumnya sebanyak 20-40% pasien mengalami kejang. Peningkatan tekanan intrakranial diperkirakan terjadi sebagai akibat komplikasi meningitis bakterial dan penyebab utama koma pada penyakit ini. Sekitar lebih dari 90% pasien memiliki tekanan terbuka cairan serebrospinal > 180 mmH2O dan 20% pasien dengan tekanan > 400 mmH2O. Tanda peningkatan tekanan intrakranial berupa penurunan kesadaran, papilledema, palsi nervus keenam, deserebrasi dan reflex Cushing (bradikardi, hipertensi, dan nafas tidak teratur). Komplikasi yang ditakuti akibat peningkatan tekanan intrakranial ini adalah herniasi serebral. Insidensi herniasi serebral diperkirakan sebanyak 1-8% kasus meningitis bakterial (Roos et al, 2013).
Dalam hal membuat diagnosis meningitis bakterial membutuhkan pemeriksaan cairan serebrospinal. Kultur cairan serebrospinal merupakan baku emas dalam menegakkan diagnosis meningitis bakterial dan pemberian antimikroba yang masih sensitif terhadap bakteri penyebab meningitis (Brouwer et al, 2010). Sebelum dilakukannya punksi lumbal, pasien harus dilakukan pencitraan untuk mengeksklusi kontraindikasi punksi lumbal seperti edema serebri, lesi massa dan punksi lumbal tidak dilakukan pada pasien yang mengalami kondisi imunokompromais, papilledema, bangkitan awitan baru (Meisadona et al, 2015). Hasil pemeriksaan cairan serebrospinal dapat membantu menemukan mikroorganisme penyebab infeksi pada pasien meningitis (tabel 2.2).
Tabel 2.1 Tanda dan gejala meningitis bakteri (Nath et al, 2020)
Karakteristik Episode meningitis
Durasi gejala <24 jam 48%
Kondisi predisposisi - Otitis atau sinusitis - Pneumonia
- Imunokompromais
25%
12%
16%
Gejala saat pemeriksaan awal - Sakit kepala
- Mual - Kaku kuduk
87%
74%
83%
Tiga gejala klasik: demam, sakit kepala, kaku kuduk 44%
Defisit fokal neurologis 33%
Afasia 23%
Hemiparesis 7%
Penunjuk inflamasi - Hitung leukosit
Rata-rata (sel/µL)
<100/µL 100-999/µL
>999/µL - Protein (g/dL) - Rasio CSF/glukosa
7753±14.736 7%
14%
78%
4,9±4,5 0,2±0,2
Positif pada kultur darah 66%
Tes darah
- LED (mm/jam) - Protein CRP (g/dL) - Hitung trombosit (/µL)
46±37 225±132
198.000±100.000
Tabel 2.2 Perbandingan temuan cairan serebrospinal pada meningitis yang berbeda(Hersi et al, 2020)
Makroskopis Tekanan (mmHg) Leukosit (sel/µL) Protein (mg/dL) Glukosa (mg/dL)
Normal Jernih 90-180 <8 15-45 50-80
Meningitis
bakterial Keruh Meningkat >1000-2000 >200 <40 Meningitis
viral Jernih Normal <300, limfosit
dominan <200 Normal
Meningitis
fungal Jernih Normal atau
meningkat <500 >200 Normal-rendah
2.6 Tatalaksana
Dalam hal tatalaksana, kasus meningitis bakterial harus segera dilakukan. Kasus meningitis bakterial termasuk ke dalam kasus kegawatdaruratan medik. Pemberian antibiotik empirik harus segera dalam waktu 1 jam paska sampai di rumah sakit.
Pemberian antibiotik empirik dimulai pada pasien yang diduga mengalami meningitis bakterial sebelum hasil pemeriksaan cairan serebrospinal keluar (Roos et al, 2013).
Pemberian antibiotik haruslah yang bersifat bakterisidal pada bakteri yang dicurigai dan mampu menembus cairan serebrospinal dalam kadar yang efektif (Meisadona et al, 2015). Pilihan terapi antibiotik empirik didasarkan pada epidemiologi lokal, usia serta karakter pasien dan adanya penyakit penyerta (tabel 2.3)(Sirait et al, 2011).
Tabel 2.3 Terapi empirik meningitis bakterial
Karakter pasien Jenis bakteri Antibiotik empiris
Neonatus (< 1 bulan) S.agalactiae, E.coli,
L.monocytogenes Ampisilin + sefotaksim Usia 1-23 bulan S.agalactiae, E.coli,
S.pneumoniae, N.meningitidis
Vancomisin + sefalosporin generasi ketiga
Usia 2-50 tahun S.pneumoniae, N.meningitidis Vancomisin + sefalosporin generasi ketiga
Usia > 50 tahun
S.pneumoniae, L.monocytogenes, N.meningitidis
Vancomisin + sefalosporin generasi ketiga + ampisilin
Kondisi imunokompromais S.pneumoniae, N.meningitidis, Salmonella spp., S.aureus
Vancomisin + ampisilin + cefepime/meropenem
Rekuren S.pneumoniae, H.influenzae,
N.meningitidis
Vancomisin + sefalosporin generasi ketiga
Fraktur basis cranii
S.pneumoniae, H.influenzae, Streptococcus grup A beta- hemolitikus
Vancomisin + sefalosporin generasi ketiga
Trauma kepala Staphylococcus spp., basil Gram negatif aerob
Vancomisin +
ceftazidime/cefepim/meropenem
Gambar 4. Algoritma tatalaksana meningitis bakterial
2.7 Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada meningitis dapat berupa komplikasi segera seperti syok sepsis, koma, kejang, edema serebri, artritis septik dan komplikasi lambat seperti menurun fungsi pendengaran, disfungsi saraf kranial, paralisis fokal, efusi subdural, hidrosefalus,ataxia, gangren perifer (Hasbun et al, 2019).
2.8 Kerangka Teori
a. Haemophilus
influenzae type b (Hib), b. Neisseria meningitidis, c. Streptococcus
pneumoniae
Menembus Blood Brain Barrier
Gejala Klinis : a. demam b. sakit kepala c. kaku kuduk d. kejang Faktor resiko
a. umur
b. jenis kelamin c. tempat tinggal
Meningitis Bakterial
Komplikasi : a. koma
b.disfungsi saraf kranial
c. sepsis d. kematian
2.9 Kerangka Konsep
Karakteristik berdasarkan:
- Umur
- Jenis Kelamin - Tempat Tinggal Pasien Meningitis
Bakterial di RS HAM
Mikroorganisme penyebab meningitis bakterial
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui pola distribusi bakteri penyebab pada pasien meningitis bakterial di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan. Pendekatan yang digunakan pada desain penelitian ini adalah Cross Sectional Study dimana pengambilan data dilakukan hanya sekali saja pada setiap pasien.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Haji Adam Malik Kota Medan yang merupakan rumah sakit rujukan, data diambil dari bagian pencatatan rekam medis pasien.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari 2016 sampai dengan bulan Januari 2020.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang terdiagnosis meningitis yang tercantum dalam rekam medis di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan periode awal Januari 2016 hingga akhir Januari 2020.
3.3.2 Sampel
Sampel penelitian ini diambil dengan cara total sampling yang berasal dari pasien yang terdiagnosis meningitis bakterial di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan selama periode Januari 2016 - Januari 2020.
3.4 Kriteria Rekam Medis
Pada penelitian ini rekam medis yang digunakan adalah yang memuat informasi mengenai jenis bakteri penyebab pada pasien meningitis bakterial. Selain itu, data rekam medis yang akan diambil berupa data demografi pasien yang didiagnosis meningitis bakterial, data tersebut antara lain jenis kelamin, usia dan daerah asal penderita.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Data sekunder adalah data yang didapatkan dari pihak Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan melalui data rekam medik.
3.6 Metode Analisis Data
Data kemudian dimasukkan ke dalam komputer oleh peneliti. Analisis data yang diperoleh dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan program SPSS.
3.7 Definisi Operasional No
.
Variabel Definisi Operasional
Alat Ukur
Cara Ukur Hasil Ukur Skala
1 Pasien Meningitis Bakterial
Pasien yang terdiagnosis meningitis bakterial, serta dirawat di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan pada periode Januari 2016- Desember 2019.
Rekam Medik
Observasi 1 Ya 0 Tidak
Nominal
2 Umur Lamanya pasien hidup dari sejak dilahirkan sampai terdiagnosis meningitis.
Rekam Medik
Observasi -Muda :5-18 tahun
- Dewasa : 18-50 tahun
- Lanjut usia : >
50 tahun
Ordinal
3 Jenis Kelamin
Jenis kelamin dalam penelitian ini dibagi menjadi pria dan wanita
Rekam Medik
Observasi - Pria - Wanita
Nominal
4 Tempat Tinggal
Tempat tinggal dalam penelitian ini adalah tempat tinggal pasien yang dibagi
berdasarkan tingkat kabupaten.
Rekam Medik
Observasi - Kemampuan rendah a. Asahan b. Bangun c. Tigapanah d. Dairi - Kemampuan
sedang a. Binjai b. Humbang
Hasundutan c. Labuhan
Batu d. Padang
Lawas Utara e. Simalungun f. Serdang
Bedagai g. Tanjung
Balai h. Tobasa - Kemampuan
tinggi
A. Bengkalis B. Batubara C. Deli
Serdang
Nominal
D. NAD E. Tapanuli
Selatan 5 Jenis
Bakteri
Bakteri penyebab meningitis pada pasien yang tercantum dalam data rekam medis
Rekam Medik
Observasi Jenis-jenis bakteri
Nominal
BAB IV
JADWAL PENELITIAN DAN BIAYA PENELITIAN
4.1 Jadwal Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Maret 2020 – Juni 2020. Adapun jadwal kegiatan pokok adalah sebagai berikut :
Tabel 4.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian
No Kegiatan Waktu : Bulan ke ... Indikator
penyelesaian
1 2 3
1. Pengajuan kelayakan etik ke
komisi etik FK USU
Surat persetjuan komisi etik untuk pelaksanaan penelitian
2. Pengumpulan data rekam medis di instalasi RSHAM
Terkumpulnya data
rekam medis di instalasi rekam medis RSHAM
3.
Analisis Hasil penelitian dan perbaikan dan pembuatan
skripsi
Hasil penelitian untuk diujikan pada ujian hasil
4. Ujian hasil penelitian Menyelesaikan siding
ujian hasil
5.
Perbaikan, penyerahan skripsi kepada dosen pembimbing, penguji, sekertariat MEU, dan
perpustakan USU.
Skripsi dan
terpenuhinya syarat administrasi untuk wisuda
4.2 Biaya Penelitian
Biaya Yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sebesar Rp. 2.500.000 (Dua juta lima ratus ribu rupiah). Sumber dana penelitian adalah dana mandiri.
Uraian penggunaan dana penelitian dapat dilihat di tabel 4.2 Tabel 4.2 Rincian Rencana Anggaran Dana Penelitian
No Uraian Jumlah (Rupiah)
1 Pengumpulan kepustakaan 500.000
2 Pembuatan proposal 500.000
3 Biaya perjalanan 500.000
4 Biaya tak terduga lainnya 1.000.000
Total 2.500.000
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.1.1 Deskripsi Data Penelitian
Data penelitian yang digunakan adalah data sekunder dimana data yang diambil adalah data rekam medik pasien dengan meningitis bakterial, di Departemen Neurologi. Data yang diambil adalah data pasien dari tahun Januari 2016 sampai Januari 2020. Total kasus meningitis bakterial di kurun waktu tersebut adalah 47 orang pasien namun yang memiliki kriteria yang lengkap sesuai data yang akan diambil hanya 31 orang, sehingga jumlah sampel penelitian ini berjumlah 31 orang.
Tabel 5.1 Prevalensi bakteri berdasarkan pewarnaan Gram
Jenis Bakteri N %
Bakteri Gram Negatif 19 61.3 Bakteri Gram Positif 12 38.7
Total 31 100
Berdasarkan tabel diatas, bakteri Gram negatif merupakan jenis bakteri dengan jumlah terbanyak yang ditemukan pada penelitian ini yakni pada 19 orang pasien (61.3%).
Tabel 5.2 Distribusi jenis bakteri pada penderita meningitis bakterial
Jenis Bakteri N %
Acinetobacter baumannii 2 6.5
Aeromonas hydrophila 2 6.5
Burkholderia cepacia 1 3.2
Enterobacter cloacae 2 6.5
Enterococcus faecalis 1 3.2
Escherichia coli 1 3.2
Klebsiela pneumonia 8 25.8
Pseudomonas stutzeri 1 3.2
Serratia marcescens 1 3.2
Sphingomonas paucimobilis 1 3.2
Staphylococcus aureus 9 29,0
Staphylococcus epidermidis 2 6.5
Total 31 100
Berdasarkan tabel 5.2, spesies bakteri yang terbanyak yang ditemukan pada penelitian ini adalah kelompok bakteri kokus Gram positif yaitu Staphylococcus aureus pada 9 orang pasien (29%), diikuti Klebsiella pneumoniae pada 8 pasien (25,8%) yang merupakan kelompok bakteri Gram negatif.
Tabel 5.3 Prevalensi bakteri berdasarkan umur penderita
Jenis Bakteri Umur (tahun)
5-18 18-50 >50
N % N % N %
Bakteri Gram negatif 11 68.75 6 54.55 2 50 Bakteri Gram positif 5 31.25 5 45.45 2 50
Total 16 100 11 100 4 100
Berdasarkan tabel 5.3, didapatkan bahwa infeksi meningitis bakterial paling banyak didapati pada usia 5-18 tahun, sebanyak 16 orang pasien (51.61%) dan 11 orang diantaranya (68,75%) menderita meningitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Gram negatif.
Tabel 5.4 Frekuensi bakteri penyebab meningitis berdasarkan jenis kelamin
Jenis Bakteri Jenis Kelamin
Laki-Laki Perempuan
N % N %
Bakteri Gram negatif 9 60 10 62.5 Bakteri Gram positif 6 40 6 37.5
Total 15 100 16 100
Dari penelitian ini didapatkan pasien yang mengalami meningitis bakterial paling banyak terjadi pada pasien perempuan sebanyak 16 pasien dengan infeksi terbanyak disebabkan oleh bakteri Gram negatif sebanyak 10 pasien perempuan.
Tabel 5.5 Prevalensi bakteri penyebab meningitis berdasarkan tempat tinggal
Tempat Tinggal Jenis Bakteri
Gram Negatif Gram Positif
Rendah 5 16.12 2 6.44
Menengah 10 32.25 5 16.12
Tinggi 4 12.9 5 16.12
Total 19 100 12 100
Berdasarkan Tabel 5.5 menunjukkan bahwa daerah tempat tinggal yang dikelompokkan ke dalam 3 kriteria dari segi kemampuan keuangan daerahnya, daerah dengan level menengah merupakan penyumbang terbanyak meningitis bakterial
sebanyak 15 orang (48.38%) dan 10 (66.66%) diantaranya adalah bakteri gram negatif.
5.2 Pembahasan
5.2.1 Distribusi Data Penelitian
5.2.1.1 Prevalensi Mikroorganisme Penyebab Meningitis Bakterial
Dari data penelitian yang ditampilkan di tabel 5.1, dari 31 sampel penelitian ditemukan bahwa bakteri terbanyak sebagai penyebab meningitis bakterial adalah kelompok bakteri Gram negatif sebanyak 19 orang pasien (61.3%) , sedang bakteri Gram positif berjumlah 12 orang pasien (38.7%). Berdasarkan tabel 5.2, jenis spesies yang terbanyak sebagai penyebab meningitis bakterial adalah Staphylococcus aureus sebanyak 9 orang pasien (29%), diikuti dengan Klebsiella pneumoniae berjumlah 8 orang pasien (25,8%). Hal ini tidak sejalan dengan studi meta-analisis Oordt-Speets et al (2018), dimana secara global penyebab meningitis bakterial yang paling banyak disebabkan oleh S. pneumoniae dan N. meningitidis. Kasus meningitis akibat infeksi Klebsiella pneumoniae umumnya hanya mencakup kurang dari 3% kasus yang didapat dari komunitas. Infeksi Klebsiella pneumoniae umumnya sering terjadi akibat infeksi nosokomial pada pasien paska operasi saraf (Lee et al, 2018). Menurut penulis, hal ini dapat terjadi akibat kurang kehigienisnya lingkungan di RS Haji Adam Malik. (Pangaribuan, J. 2014)
5.2.1.2 Prevalensi Mikroorganisme Berdasarkan Umur Pasien
Dari penelitian ini sebanyak 31 sampel penelitian, didapatkan infeksi meningitis terbanyak terjadi pada kelompok pasien usia 5-18 tahun, tercatat infeksi meningitis bakterial dengan jumlah sebanyak 16 pasien (51.61%), dan 11 pasien (68.75%) diantaranya terinfeksi oleh bakteri Gram negatif. Pada kelompok > 50 terdapat kasus meningitis bakterial sebanyak 4 kasus (12.90%) dan 2 kasus (50.00%) diantaranya akibat terinfeksi bakteri Gram negatif. Berdasarkan Centers for Diseases Control and Prevention bahwa usia yang memiliki kasus meningitis terbanyak berada di usia neonatus dan orang yang rentan status imunnya. Dalam kasus ini, kelompok usia 5-18
tahun diketahui belum punya imun tubuh yang lengkap, serta ada kemungkinan bahwa sang pasien belum pernah mendapatkan imunisasi untuk setiap infeksi yang terkait (CDC, 2019).
5.2.1.3 Prevalensi Mikroorganisme Berdasarkan Jenis Kelamin Pasien
Berdasarkan tabel 5.4 kelompok pasien laki laki berjumlah 15 (48.38%) pasien, yang sebanyak 9 pasien (60%) diantaranya terinfeksi dengan bakteri Gram negatif.
Sedangkan kelompok pasien perempuan berjumlah 16 (51.61%) dan 10 (62.5%) pasien diantaranya terinfeksi bakteri Gram negatif. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Benin pada tahun 2016-2018, dimana didapatkan hasil lebih banyak pada laki-laki dengan n = 1661 (55,5%) dari 2992 pasien (Godjedo et al, 2020).
5.2.1.4 Prevalensi Mikroorganisme dengan Tempat Tinggal
Pada penelitian ini ditampilkan di tabel 5.5, dengan jumlah pasien terbanyak berasal dari daerah dengan kemampuan keuangan menengah, dengan n = 15 (66,67%). Akan tetapi, daerah spesifik yang paling banyak untuk jumlah pasien adalah provinsi NAD, dimana n = 4 (12.9%) pasien dimana daerah NAD adalah daerah dengan kemampuan keuangan tinggi. Sementara daerah dengan prevalensi terendah dalam kasus ini adalah daerah dengan kemampuan keuangan rendah, yaitu n
= 7 (22,58%) pasien. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Benin pada tahun 2016-2018 yang menyatakan kejadian di daerah pinggiran lebih tinggi dengan jumlah 2290 pasien (78.2%) dari 2992 pasien yang terdaftar. Hal ini mungkin terjadi karena kesenjangan sosial dan kesenjangan material penduduk sumatera utara sangat bercampur dan kaya akan perbedaan dan toleransi, sehingga penyakit ini tidak memandang status sosial maupun materi serta kemampuan adaptasi serta perbedaan kemampuan keuangan antar daerah yang berbeda, sehingga menimbulkan perbedaan asupan makanan yang menghasilkan kemampuan daya tahan tubuh yang berbeda satu sama lain.
Bab VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dan data yang diperoleh, maka kesimpulan yang peneliti dapat simpulkan adalah sebagai berikut :
1. Mikroorganisme penyebab meningitis bakterial tertinggi adalah bakteri Gram negatif sebanyak 19 (61.3%) orang pasien dari keseluruhan dan spesies bakteri penyebab terbanyak adalah Staphylococcus aureus pada 9 orang pasien (29%).
2. Prevalensi meningitis bakterial berdasarkan umur, kelompok umur terbanyak yang dijumpai menderita meningitis bakterial adalah kelompok umur 5-18 tahun sebanyak 16 orang pasien (51,61%) dari keseluruhan.
3. Berdasarkan jenis kelamin, kasus meningitis bakterial paling banyak dijumpai pada pasien perempuan yakni sebanyak 16 orang pasien (51,61%).
4. Berdasarkan tempat tinggal pasien, penderita meningitis bakterial umumnya berasal dari daerah dengan tingkat keuangan daerahnya menengah, sebanyak 15 orang (48.38%).
6.2 Saran
Pencatatan rekam medik diharapkan dapat lebih dilengkapi. Pencatatan rekam medik yang lengkap dapat membantu untuk memberikan gambaran suatu kasus penyakit yang terjadi pada suatu wilayah.
DAFTAR PUSTAKA
1. Abdelkader, M; Aboshanab, K. (2017). Prevalence of MDR pathogens of bacterial meningitis in Egypt and new synergistic antibiotic combinations.
Available from :
https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0171349
2. Alam A. (2011). Kejadian Meningitis Bakterial pada Anak Usia 6-18 bulan yang Menderita Kejang Demam Pertama. Sari Pediatri. 2011. 13(4)
3. Ataee,R; Tavana, A; Izadi, M; Hosseini, S; and Ataeea. M; (2011). Bacterial meningitis: a new risk factor. Available from : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3214305/#
4. Biol, J. (2019). The Pathogenesis of Tuberculous Meningitis. Available From : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6355360/
5. Brouwer MC, Tunkel AR, van de Beek D. (2010). Epidemiology, diagnosis, and Antimicrobial Treatment of Acute Bacterial Meningitis. Clin Microbiol Rev.
2010; 23(3):467-492. Doi: 10.1128/CMR.00070-09
6. Brouwer, MC. (2006). Community-Acquired Listeria monocytogenes Meningitis in Adults. Available from :
https://academic.oup.com/cid/article/43/10/1233/514671
7. Bundy LM, Noor A. (2019). Neonatal Meningitis. In: StatPearls [Internet].
Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan-
8. Carroll KC, Hobden JA, Miller S, Morse SA, Mietzner TA, Detrick B, et al.
(2016). Jawetz, Melnick, & Adelberg’s Medical Microbiology. 27th ed. New York: McGraw-Hill Education
9. Casselbrandt, M; Mandel, E. (2020). Acute Otitis Media and Otitis Media with Effusion. Available From : https://www.clinicalkey.com/#!/content/book/3-s2.0- B9781455746965001950?scrollTo=%23hl0001113
10. Centers for Disease Control and Prevention. (2019). Meningococcal Disease.
Available from: https://www.cdc.gov/meningococcal/about/causes- transmission.html
11. Coureuil M, Join-Lambert O, Lecuyer H, Bourdoulous S, Marullo S, Nassif X.
(2012). Mechanism of Meningeal Invasion by Neisseria meningitides. Virulence.
2012; 3(2):164-172. Doi: 10.4161/viru.18639
12. Gondim, F. MD, PhD, MSc, FAAN. (2018). Overview of Meningitis Tubercolosis. Available from : http://emedicine.medscape.com/article/1165557- overview
13. HansN, (2016). Staphylococcus Aureus. available from : http://www.bacteriainphotos.com/staphylococcus%20aureus%20staphyloxanthin.
html
14. Hasbun, R. (2019). Meningitis, Available from:
https://emedicine.medscape.com/article/232915-overview#a3
15. Hasbun, R. MD, (2019). Pathophysiology of Meningitis. available from : http://emedicine.medscape.com/article/232915-overview#a3
16. Hersi K, Gonzalez FJ, Kondamudi NP, (2020). Meningitis. StatPearls : Treasure Island (FL), Figure, Expected CSF Findings in Bacterial. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459360/figure/article-24962.image.f1/
17. Kanamori, B;; Geldhoff, M; Poll, T; Beek, D. (2011) Pathogenesis and Pathophysiology of Pneumococcal Meningitis. Available From : https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21734248/
18. Kassebaum NJ. (2013). Global, Regional, and National Burden of Meningitis, 1990-2016: A Systematic Analysis for the Global Burden of Disease Study 2016.
Lancet Neurol. 2018; 17:1061-82
19. Levinson W. (2016) Review of Medical Microbiology and Immunology. 14th ed.
New York: McGraw-Hill Education;
20. Liwang F, Estiasari R. (2013). Infeksi Sistem Saraf Pusat. Dalam: Tanto C, Liwang F, Hanifati S, Pradipta EA (eds). Kapita Selekta Kedokteran. 4th ed.
Jakarta: Media Aesculapius; 2014
21. Lohia, P. MD, MHA. (2002). Background of Haemophylus Influenzae Meningitis, Available from : http://emedicine.medscape.com/article/1164916- overview
22. Mayer, L. (2019). Bacterial Meningitis. Available from:
https://www.cdc.gov/meningitis/bacterial.html
23. Mayer, L. (2011). Chapter 2: Epidemiology of Meningitis Caused by Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae, and Haemophilus influenza. Available From : https://www.cdc.gov/meningitis/lab-manual/chpt02-epi.html
24. Mbaeyi, S; McNamara, L. (2019). Centers for Disease Control and Prevention.
Travelers’ Health. Meningococcal Disease. Available from:
https://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2020/travel-related-infectious- diseases/meningococcal-disease
25. Meisadona, G; Soebroto AD; R, Estiasari. (2015). Diagnosis dan Tatalaksana Meningitis Bakterialis. CDK. 2015; 42(1)
26. Misulis KE, Head TC. (2017). Netter’s Concise Neurology – Updated Edition.
Philadelphia: Elsevier;
27. Mook-Kanamori BB, Geldhoff M, van der Poll T, van de Beek D. (2011).
Pathogenesis and Pathophysiology of Pneumococcal Meningitis. Clin Microbiol Rev. 2011; 24(3):557-591. Doi: 10.1128/CMR.00008-11
28. Murray PR, Rosenthal KS, Pfaller MA. (2020). Medical Microbiology. 9th ed.
Philadelphia: Elsevier;
29. Mycobacterium tuberculosis [Internet], cited 1 June 2016, available from : http://www.microbiologyinpictures.com/mycobacterium%20tuberculosis.html 30. Nath A. (2020). Meningitis: Bacterial, Viral and Other. In: Goldman L, Schafer
AI. Goldman-Cecil Medicine. 26th ed. Philadelphia: Elsevier
31. NICE, (2010). Meningitis (bacterial) and meningococcal septicaemia in under 16s: recognition, diagnosis and management (CG102). Available from : https://www.clinicalkey.com/#!/content/nice_guidelines/65-s2.0-CG102
32. Nguyen, T. (2008). Streptococcus suis Meningitis in Adults in Vietnam.
Available from : https://academic.oup.com/cid/article/46/5/659/286421
33. Oordt-Speets AM, Bolijn R, van Hoorn RC, Bhavsar A, Kyaw MH. (2013).
Global Etiology of Bacterial Meningitis: A Systematic Review and Meta- Analysis. PLoS One. 2018; 13(6): e0198772. Doi: 10.1371/journal.pone.0198772 34. Pangaribuan, J. 2014. Mortalitas Penderita Sepsis Berat Yang Dirawat Di Unit
Perawatan Intensif RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Juli 2012 – Juni 2013. Available from : http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/39924
35. Parisi DN, Martinez LR. (2014). Intracellular Haemophilus influenza Invades the Brain: Is Zyxin a Critical Blood Brain Barrier Component Regulated by TNF-α?.
Virulence. 2014; 5(6): 645-647. Doi: 10.4161/viru.36086
36. Ramachandran, T. MBBS, MBA, MPH, FAAN, FACP, FAHA, FRCP, FRCPC, FRS, LRCP, MRCP, MRCS. (2017). Tubercolosis Meningitis, Available from : http://emedicine.medscape.com/article/1166190-overview
37. Roos KL, Tyler KL. (2013). Meningitis, Encephalitis, Brain Abscess and Empyema. Longo DL, Kasper DL, Jameson JL, Fauci AS, Hauser SL, Loscalzo J (eds). Harrison’s Neurology in Clinical Medicine. 3rd ed. New York: McGraw- Hill Education;
38. Shaban, L; Siam. R. (2009). Prevalence and antimicrobial resistance pattern of bacterial meningitis in Egypt. Availabe From : http://ann- clinmicrob.biomedcentral.com/articles/10.1186/1476-0711-8-26
39. Sirait, M. (2011). Karakteristik Penderita Meningitis Rawat Inap di RSUP H.
Adam Malik Medan Tahun 2005-2008. Available from : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23705/4/Chapter%20II.pdf
40. Tim UJDIH BPK Perwakilan Provinsi Papua. (2018). Available from : https://jayapura.bpk.go.id/wp-content/uploads/2019/03/2-Tulisan-
Hukum_Pengelompokan-Keuangan-Daerah_Pelaksanaan-Pertanggungjawaban- DO_.pdf
41. Todar, K; (2016). Haemophilus influenzae and Hib Meningitis. Available From : http://textbookofbacteriology.net/haemophilus_2.html
42. Todar, K. PhD. (2008). Streptococcus pneumonia. Available from : http://textbookofbacteriology.net/S.pneumoniae.html
43. World Health Organization. (2018). Meningococcal Meningitis. Available from:https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/meningococcal-
meningitis
44. Zumo, L. (2018). Staphylococccal Meningitis. Available From : https://emedicine.medscape.com/article/1165941-overview#a4
Lampiran 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. Data Pribadi
Nama : Oscar Dirgantara
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 5 Oktober 1995 Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Katholik
Alamat : Jl. Ngumban Surbakti, Perumahan
Sejahtera indah 1 no. 58
Telepon : 08118808585
II. Riwayat Pelatihan
1. Tahun 1999-2002 : TK A/B RICCI I 2. Tahun 2002-2008 : SD RICCI I 3. Tahun 2008-2011 : SMP RICCI I 4. Tahun 2011-2013 : SMA RICCI I
III. Riwayat Kepanitiaan
1. Koordinator Transport Baksos KMK tahun 2012 2. Koordinator Peralatan dan Tempat acara Natal 2013
3. Koordinator Publikasi dan Dokumentasi Pemilihan Gubernur USU tahun 2012
Lampiran 2
NamaBakteri
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Acinobacter baumanii 2 6.5 6.5 6.5
Aeromonas hydrophilia 2 6.5 6.5 12.9
Burkholderia cepacia 1 3.2 3.2 16.1
Enterobacter cloacae 2 6.5 6.5 22.6
Enterococcus faecal 1 3.2 3.2 25.8
Escherichia Coli 1 3.2 3.2 29.0
Klebsiella pneumonia 8 25.8 25.8 54.8
Pseudomonas Stutzeri 1 3.2 3.2 58.1
Serratia marcescens 1 3.2 3.2 61.3
Sphingomonas paucimo 1 3.2 3.2 64.5
Staphylococcus Aureus 2 6.5 6.5 71.0
Staphylococcus epidermidis 2 6.5 6.5 77.4
Staphylococcus haemoliticus 7 22.6 22.6 100.0
Total 31 100.0 100.0
JenisBakteri
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Gram Negatif 19 61.3 61.3 61.3
Gram Positif 12 38.7 38.7 100.0
Total 31 100.0 100.0
NamaBakteri * JenisKelamin Crosstabulation
Count
JenisKelamin
Total
Lk Pr
NamaBakteri Haemophylus Influenzae B 4 4 8
Lysteria Monocytogenes 1 1 2
Neisseria Meningitidis 3 1 4
Pseudomonas Aeruginosa 1 3 4
Staphylococcus Aureus 6 6 12
Staphylococcus Epidermidis 0 2 2
Streptococcus Pneumoniae 10 5 15
Total 25 22 47
JenisBakteri * KelompokUsia Crosstabulation
Count
KelompokUsia
Total
>50 18-50 5-18
JenisBakteri Gram Negatif 2 6 11 19
Gram Positif 2 5 5 12
Total 4 11 16 31
TempatTinggal * JenisBakteri Crosstabulation
Count
JenisBakteri
Total Gram Negatif Gram Positif
TempatTinggal Menengah 10 5 15
Rendah 5 2 7
Tinggi 4 5 9
Total 19 12 31
TempatTinggal * JenisBakteri Crosstabulation
Count
JenisBakteri
Total Gram Negatif Gram Positif
TempatTinggal Asahan 1 2 3
Bangun 2 0 2
Batubara 1 0 1
Bengkalis 0 1 1
Binjai 1 1 2
Dairi 1 0 1
Deli Serdang 1 1 2
Humbang Hasundutan 1 1 2
Labuhan Batu 2 1 3
NAD 2 2 4
Padang Lawas Utara 0 1 1
Serdang Bedagai 1 0 1
Simalungun 2 0 2
Tanjung Balai 2 1 3
Tapanuli Selatan 0 1 1
Tigapanah 1 0 1
Tobasa 1 0 1
Total 19 12 31
Lampiran 3