• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pesatnya perkembangan ilmu komunikasi dimulai pada abad ke-20 di Amerika Serikat dengan digambarkan sebagai sebuah temuan yang revolusioner, cikal bakal dari munculnya teknologi komunikasi massa seperti radio, televisi, telephone, dan satelit(Karman, 2014). Dijelaskan oleh (Biagi, 2010), hadirnya perkembangan teknologi mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia.

Manusia saat ini dapat dikategorikan sebagai masyarkaat urban yang di dalam setiap aspek kehidupannya selalu berdampingan dengan dinamisasi teknologi komunikasi massa.

Sejarah teknologi komunikasi massa melibatkan tiga revolusi informasi.

Pertama, penulisan fonetik pada tahun 3.500 sebelum masehi dengan pictograph yaitu simbol dari suatu objek digunakan untuk menyampaikan sebuah ide. Kedua percetakan, dimulai pada tahun 1445 ketika Johanes Gutenberg mencetak Alkitab diatas lempengan yang menggunakan mesin cetak bergerak. Ketiga yaitu teknologi komputer, era ini menggunakan komputer untuk mengolah dan mengirim informasi baik berupa penyiaran satelit, rekaman digital, dan jaringan komputer internasional yang disebut internet. Revolusi informasi tersebut menunjukan bagaimana proses komunikasi berkembang dari zaman dahulu hingga era modern saat ini.

Di era perkembangan digital, masyarakat dapat berbagi dan mengakses informasi dari berbagai belahan dunia hal tersebut menjadi bukti bahwa komunikasi massa saat ini sudahlah berkembang cukup pesat. Alvin Toffler menyatakan bahwa masayarakat saat ini merupakan masyarakat informasi atau disebut dengan information society. Dengan demikian, masyarakat kita tidak akan bisa hidup tanpa adanya akses informasi yang bisa didapatkan secara cepat dan efektif (Dewi, 2001).

Perkembangan teknologi dan akses informasi diera modern yang bebas dan terbuka, membuat interaksi antar warga seluruh dunia seolah-olah menjadi sempit (Kaparang, 2013). Produk dari hasil berkembangnya teknologi komunikasi massa adalah hadirnya media massa yang mempunyai peranan masing-masing commit to user commit to user

(2)

2

dikehidupan masyarakat. Masyarakat merupakan komunitas yang memiliki tata sosial dan budaya yang berbeda dan dalam penggunaan media masyarakat dikategorikan sebagai audien.

McQuail (1987) dalam salah satu konsepnya mendifinisakan audien sebagai kumpulan penonton, pembaca, pendengar, dan pemirsa. Dalam komunikasi massa audien merupakan penerima pesan-pesan yang berjumlah banyak, heterogen dan posisi diberbagai tempat diartikan sebagai penerima pesan-pesan, yang keberadaannya tersebar, heterogen, dan berjumlah banyak. Rata-rata orang dewasa setiap hari menghabiskan waktunya untuk mengakses informasi melalui media massa. Selain itu implikasi penggunaan media massa bagi masyarakat salah satunya sebagai bentuk pemenuhan dari berbagai aspek seperti aspek sosial, ekonomi, dan budaya. (Biagi, 2010). George Gerbner dalam Littlejohn & Foss (2010), sesuatu hal yang penting dalam sebuah media massa adalah kapasitas media untuk menciptakan pengguna media massa, kemampuan dalam menarasikan masalah yang terjadi, memvisualisasikan referensi umum dan mencari perhatian sekaligus sebagai bentuk perhatian kekuasaan.

Umumnya masyarakat mendapatkan informasi melalui media cetak, media elektronik dan internet. Media cetak menyampaikan sebuah informasi melalui gambar dan sebuah tulisan, sedangkan media elektronik menggabungkan antara suara dan gambar bergerak. kemunculan internet sebagai media baru menjadi angin segar bagi penggunanya, karena media ini dapat penggabungkan tulisan, suara, dan gambar bergerak dalam satu media. Di Indonesia, penggunaan media elektronik dan internet menjadi primadona dikalangan masyarakat. Produk yang paling populer dari kedua media tersebut adalah televisi dan YouTube. Perkembangan teknologi memiliki peranan penting dalam arus produksi, konsumsi dan penyebaran informasi. Terdapat suatu keadaan dimana peranan teknologi mengubah pola komunikasi yang terbatas menjadi pola komunikasi informasi tanpa batas. Pada dasarnya teknologi bersifat mempermudah penggunanya, sehingga tidak dapat dipungkiri jika terjadi perubahan pola penggunaan medi massa dari media konvensional ke media baru (Haqqu, Hastjarjo, & Slamet, 2018).

commit to user commit to user

(3)

3

Sebuah survei tetang konsumsi media dibeberapa kota seluruh Indonesia terutama di Jawa menunjukkan bahwa televisi masih mendominasi, adapun data prosentasi seperti berikut; Televisi (95%), lalu Internet (33%), Radio (20%), Suratkabar (12%), Tabloid (6%) dan Majalah (5%) (Lubis, Nielsen, 2017). Dari hasil survei tersebut dapat kita lihat bahwa media internet mendapatkan prosentase 33% mengungguli media-media pendahulunya. Dikutip dari portal Berita Satu.TV, Penetrasi Televisi menurut lembaga survei Nielsen pada tahun 2017 masih unggul 96%, sedangkan penggunaan internet mengalami peningkatan 44% (beritasatu.tv, 2017).

Gambar 1. Penetrasi Media di Indonesia

Sumber: Berita Satu.TV

Sedangkan hasil survei terbaru yang dilakukan oleh Consumer Barometer with Google pada tahun 2017 tentang perangkat yang sering digunakan orang di Indonesia, menunjukan penggunaan media televisi masih mendominasi dengan perolehan 95% (Barometer, 2017). Televisi adalah media konvensional berbasis audiovisual yang sudah akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Televisi adalah sistem penceritaan yang terpusat. Sistem ini merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Beberapa program seperti drama, iklan, berita, dan program lainnya menghadirkan sebuah dunia tentang gambaran yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari (Littlejohn & Foss, 2010). Stasiun Televisi yang pertama kali mengudara di Indonesia adalah Televisi Republik Indonesia (TVRI) yaitu pada tanggal 24 Agustus 1962, bertepatan dengan peringatan ke-17 HUT kemerdekaan RI dan berlangsungnya rangkaian kegiatan olah raga Asian Games commit to user commit to user

(4)

4

yang disiarkan secara langsung melalui siaran televisi(Susanto & Alatas, 2015).

Setelah munculnya Keputusan Menteri Penerangan Nomor 111 Tahun 1991, maka mulailah muncul stasiun televisi swasta dan lokal yang ikut meramaikan tayangan televisi di Indonesia hingga sekarang. Semakin berkembangnya media digital pada era internet, tidak lantas menggerus keberadaan media konvensional.

Televisi sebagai media konvensional di Indonesia masih tetap eksis melawan gempuran media baru. Dari hasil survei yang telah dilakukan Nielsen bahwa televisi masih pada posisi pertama media yang sering diakses. Bertambahnya stasiun televisi baik nasional maupun lokak dari tahun ke tahun diikuti dengan meningkatnya kualitas dan kuantitas siaran menjadi bukti eksistensi media penyiaran televisi. Berbagai program televisi seperti berita, pendidikan, informasi, serta hiburan yang dikemas secara atraktif, kreatif, dan menarik menunjukan kualitas tayangan yang semakin beragam. Jumlah program hiburan menunjukkan adanya penambahan jam tayang yang cukup signifikan. Dulu televisi hanya dapat dinikmati pada malam hari, sekarang televisi dapat dinikmati siang dan malam hari (Baksin, 2006). Hasil survei litbang kompas menyebutkan, survei yang melibatkan 1.436 warga jakarta berusia diatas 13 tahun, lebih dari separuh responden menonton televisi dua jam perhari (kompas.com, 2017)

Bersamaan dengan berkembangnya televisi di Indonesia, keberadaan internet mulai berkembang pada awal tahun 1990-an. Vivian (2008) menjelaskan, bahwa Internet merupakan jaringan kabel, telepon, dan satelit yang terhubung ke perangkat komputer. Internet secara fungsi dapat menyampaikan berbagai macam media seperti gambar, audio, film, dan rekaman menggunakan sistem tanpa batas.

Internet merupakan kombinasi dari berbagai jaringan komputer yang mengirim dan menerima data dari seluruh belahan dunia (Biagi, 2010). Internet sekarang telah menjelma menjadi media baru untuk mendapatkan berbagai informasi yang diinginkan. Di era saat ini komputer dan smartphone merupakan perangkat yang dapat dimiliki oleh semua orang. Dengan sistem jaringan yang terhubung dengan komputer, dengan beberapa kali mengklik tombol, maka pengguna akan dapat masuk ke lautan informasi dan hiburan yang ada diseluruh penjuru dunia (Vivian, 2008). commit to user commit to user

(5)

5

Akses informasi yang tergolong cepat dan mudah menjadikan internet sebagai media baru sangat diperhitungkan keberadaannya. Media baru mampu memudahkan dalam mengetahui berbagai informasi yang jauh, sehinga kita dapat berkomunikasi secara tatap muka dengan sebuah teknologi. Melalui media baru kita dapat mengetahui berbagai informasi dari seluruh penjuru dunia. Internet generasi kedua atau Web 2.0 dikembangkan pada tahun 2004, suatu sistem agar para pengguna internet berkolaborasi mengunggah data, dan mendistribusikan satu sama lain atau biasa disebut user generated content (UGC). UGC mencakup seluruh bentuk, dari data teks, visual, audiovisual yang keseluruhan data tersebut tersedia pada platform seperti blog, media sosial dan video platform (Putri, 2014).

Selain televisi, keberadaan intenet sebagai media baru juga menghadirkan berbagai situs video sharing yang menyajikan hal serupa. Melalui video platform di web, pengguna internet dapat menonton video dimanapun melalui mobile device yang didukung dengan adanya teknologi streaming. Salah satu situs tempat berbagi video yang menyajikan berbagai jenis program dan konten video adalah YouTube.

Munculnya media baru berimplikasi terjadinya pergeseran dari pengirim ke penerima, sehingga para pemakai dan pemilih dapat memperoleh beraneka ragam pilihan isi, tanpa harus tergantung pada sistem mediasi dan pengendalian komunikasi massa (McQuail, 1996).

YouTube merupakan salah satu situs yang menyediakan berbagai informasi dari penjuru dunia dengan menggunakan fasilitas video share. Situs ini difungsikan bagi pengguna yang ingin mencari berbagai informasi berbasis video dan menontonnya langsung. Pengguna juga dapat mengunggah video ke server YouTube dan membaginya ke berbagai sosial media(Sianipar, 2013). Kemudahan dalam share video yang menjadikan konten video pada situs YouTube sangat beragam, seperti program acara televisi, viedo kreatif, vlog, tutorial, unboxing dan masih banyak lagi konten lainnya. YouTube memang sangat populer dikalangan masyarakat, baik orang tua, remaja, dan anak kecil sekarang menggunakan YouTube sebagai media baru dalam mencari dan menyebarkan informasi video.

Namun penggunaan YouTube terbatas pada ketersediaan gadget, komputer, dan jaringan internet untuk dapat mengakses situs YouTube. commit to user commit to user

(6)

6

Bedasarkan hasil survei yang telah dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Pengguna Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016, konten media sosial yang sering dikunjungi pengguna internet di Indonesia adalah facebook yang menempati urutan pertama dengan 54% atau 71,6 juta akses disusul instagram pada urutan kedua 15% dengan 19,9 juta akses, dan YouTube pada peringkat ke tiga dengan prosentase 11% atau 14,5 juta akses (APJII, 2016). Survei dari sumber www.globalwebindex.net yang dijelaskan Hootsuitedengan tema most active social media plartforms pada Januari 2018, memperlihatkan YouTubemengalami peningkatan akses yaitu 49% (Hootsuite, 2017),

Gambar 2. Peringkat Penggunaan Sosial Media

Sumber: Hootsuite tahun 2017

Tidak hanya di Indonesia, di Amerika, remaja menghabiskan waktu 2 kali lipat lebih lama untuk menonton Netflix dari pada TV, yaitu mencapai 1.500 kalangan anak muda Amerika Serikat.Menurut riset yang dilakukan oleh Trendera atas permintaan AwesomenessTV ini, kalangan anak muda bahkan menghabiskan waktu lebih banyak untuk menonton YouTube(Metronews, 2017). Dari beberapa hasil survei diatas menujukan penggunaan media berbasis audiovisual atau biasa disebut video sangat diminati di manca negara, terutama indonesia.

Keberadaan internet dalam perkembangan media konvensional menunjukan adanya pola perkembangan media. Kebutuhan akses informasi yang cepat, tepat, akurat, dan murah memberikan sinyal kepada industri pertelevisian di Indonedia untuk berbenah dan mengikuti perkembangan zaman. Tidak ingin kehilangan pangsa pasarnya, stasiun televisi di Indonesia melakukan strategi pemasaran commit to user commit to user

(7)

7

dengan membuat siaran streaming di internet, salah satunya dengan membuat channel resmi YouTube yang didalamnya terdapat berbagai jenis-jenis program siaran serta informasi resmi terkait stasiun televisi tersebut. Keberagaman program dan konten video tersebut semakin memanjakan audien dalam menggunakan konten video sebagai sumber informasi. Gross, Fetter, & Paul-Stueve (2008) dan Manjoo (2015) menjelaskan Secara khusus, penyiaran telah menggunakan platform media sosial untuk mempromosikan acara mereka, menjaga perhatian pemirsa, memberikan pengalaman menonton kelompok secara virtual, dan memanfaatkan percakapan real-time diseputar acara mereka, taktik yang diterapkan untuk membantu mempertahankan dan meningkatkan keterlibatan pemirsa dan peringkat drive on air( Lin, Chen, & Sung, 2018).

Terdapat berbagai jenis program acara yang ditayangkan pada televisi maupun YouTube. Program acara tersebut meliputi berita, Talk show, komedi, FTV, infotaiment dan beberapa jenis prorgam lain. Sebuah hasil studi di Amerika, mahasiswi lebih menyukai film komedi romantis, sedangkan para mahasiswa lebih senang menonton komedi gelap. Adapun alasan tersebut dikarenakan berbagai alasan budaya yang kompleks serta cara penyebaran film yang cenderung bernuansa gender, bahkan anak-anak pun dapat memahami judul film yang ditujukan khusus untuk penonton laki-laki atau perempuan (Quick, 2017). Hasil survei pada tahun 2015 menyatakan bahwa dalam dekade terakhir program serial tidak lagi mendominasi, namun saat ini sebagaian besar sudah banyak didominasi oleh program olahraga seperti pertandingan sepak bola. Dalam surveinya program serial meraih rata-rata 1,7 poin rating, sedangkan program acara spesial mendapatkan 1,2 poin rating, untuk program Film dan program Anak-anak meraih 1,1 poin rating dan program hiburan mencapai 1,0 poin rating. Untuk genre program lainnya seperti Informasi, Berita, Agama dan Olahraga hanya mencapai rata-rata dibawah 1 poin rating (Room, 2015). Dikutip dari detik.com, hasil survei yang dilakukan oleh KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) memaparkan program televisi yang dianggap memiliki kualitas selama periode 2017 antara lain program berita dengan nilai standar 3.00, program Talk show 3.04, program religi 3.11, dan program wisata budaya 3.25, sedangkan yang mendapatkan penilaian rendah adalah commit to user commit to user

(8)

8

infotaimen dengan nilai 2.51, program anak-anak dengan nilai 2.98, variety show 2.61, dan sinetron 2.55 (Komara, 2017).

Hasil survei KPI menjelaskan bahwa program Talk show merupakan salah satu program acara yang memiliki kualitas penilaian tinggi selama periode 2017.

Antusias serta frekuensi menonton tayangan ini sangat tinggi dimasyarakat. Talk show dibentuk dalam berbagai macam konsep yang berbeda. Di beberapa stasiun televisi program Talk show biasa dikemas dengan santai dan informatif dan ada pula yang dikemas dengan pembahasan yang lebih tajam, aktual, dan informatif.

Pilihan program Talk show yang akan ditonton tidak terlepas dari motif-motif yang mendasari sebuah keinginan. Dari keinginan yang terpenuhi maka akan tercapai sebuah kepuasan, dimana tingkat kepuasan yang didapatkan oleh khalayak beragam. Berdasarkan penjelasan tersebut, diketahui bahwa kedudukan khalayak sebagai pengguna media dapat dikatakan aktif. Littlejohn, Foss, & Oetzel, (2017) menjelaskan bahwa khalayak media termotivasi oleh kebutuhan mereka dan memilih jenis media untuk memuaskan kebutuhannya.

Berkembangnya media baru yaitu YouTube tidak terlepas dari hadirnya internet sebagai bukti perkembangan teknologi yang semakin memanjakan penggunanya. Audien dapat mengakses program televisi melalui internet dan bebas memilih konten yang ingin di tonton, bahkan dalam satu waktu mereka dapat mengakses kedua media tersebut secara bersamaan guna memuaskan kebutuhan akan sebuah informasi yang diinginkan. Dari hasil studi yang dilakukan oleh Nielsen pada tahun 2017 menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi menonton televisi dan menggunakan internet dalam waktu yang bersamaan dual-screen yang rutin dilakukan setiap hari dapat ditemukan di semua kelompok usia, yaitu meningkat dari 7% ditahun 2015 menjadi 48% di tahun 2017 (Lubis, Nielsen, 2017).

IAB dalam Lin, Chen, & Sung (2018) menjelaskan Proliferasi platform digital dan perangkat portabel telah mengubah pengalaman menonton TV tradisional. Menurut Nielsen (2016), sekitar 60% pengguna smartphone dan tablet beralih ke perangkat mereka sebagai layar kedua saat menonton TV beberapa kali dalam seminggu atau lebih. Hampir seperempat aktivitas perangkat multiscreeners commit to user commit to user

(9)

9

terkait dengan program, termasuk mensosialisasikan atau melakukan pencarian yang berkaitan dengan program, menonton atau berbagi video klip terkait program, dan berpartisipasi dalam kegiatan dan diskusi terkait program di media sosial.

Dikemukakan oleh Pilotta dan Shultz, 'penonton menentukan eksposur media, bukan sistem pengiriman media. Konsumen memilih media yang akan mereka akses dan gunakan untuk menentukan jumlah waktu yang akan mereka habiskan.

Dengan demikian, konsumen dapat memilih untuk melakukan multitasking dengan menonton program televisi sambil menggunakan media sosial (Robinson, 2017)

Pada tataran penggunaan media, faktor demografi tentunya mempengaruhi pola pemilihan konten serta penggunaan media. Menurut teori Anderson, status demogrfi dapat mempengaruhi kepuasan seseorang, misalnya umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan(Budiman, Suhat, & Herlina, 2010).

Pengertian tersebut juga dijelaskan oleh Sumarwan (2011) yang menyatakan bahwa macam-macam karakteristik untuk memahami perilaku seseorang yang ada misalnya usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, dan lain-lain.

Komposisi penggunaan internet berdasarkan usia pada tahun 2017 menunjukan bahwa pengguna internet dikalangan dewasa dan remaja lebih mendominasi penggunaan media dengan prosentase sebesar 74,23% dan 75,50% (APJII, 2017).

Penetrasi penggunaan internet berdasarkan tingkat pendidikan menunjukan mahasiswa menjadi khlayak yang aktif dalam menggunakan internet dengan populasi sebesar 88,24%, 79,23%, dan 70,54% (APJII, 2017).

Gambar 3. Peringkat Penggunaan Internet Berdasarkaan Tingkat Pendidikan Terakhir.

Sumber: Asosiasi Penyelenggara Jasa Pengguna Internet Indonesia Tahun 2017 commit to user commit to user

(10)

10

Sedangkan penetrasi pengguna internet berdasarkan jenis kelamin menunjukan dominasi kaum laki-laki lebih sering menggunakan internet dengan prosentase 51,43% dibandingkan dengan kaum perempuan 48,57%. Dari hasil survei tersebut dapat diasumsikan bahwa penggunaan media internet maupun media konvensional baik dari tingkat pendidikan, jenis kelamin dan umur sangat mendominasi dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan media (media use) diasumsikan sebagai kebiasaan menggunakan media (media habit) atau menggunakan media berulang kali atau dalam situasi yang sama setiap waktu (Naab

& Schnauber, 2014).

Terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi seseorang dalam proses penggunaan media. Sebagai contohnya yang paling terlihat asosiasi dalam menggunakan media adalah antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan penggunaan media berdasarkan jenis kelamin telah lama diketahui, dan jenis media tertentu spesifik dibuat untuk khalayak wania dan khalayak pria(McQuail D. , 2011). Hasil riset MarkPlus Insight yang melibatkan 1300 responden perempuan di 8 kota besar di Indonesia dilakukan oleh pada bulan Mei - Juni 2010 mengungkap, motivasi perempuan suka menonton tayangan sinetron dikarena alur cerita yang dibangun selalu berkaitan dengan konflik, lengkap dengan permainan emosi di dalamnya, berbagai visualisasi terkait dengan realitas ideal seperti mimpi-mimpi yang diceritakan dalam kehidupan nyata, realitas hidup yang seringkali dilebih-lebihkan dan perwujudan mimpi (yang biasanya ditokohkan oleh perempuan) menjadi perhatian bagi perempuan-perempuan yang senang menonton sinetron (kompas.com, 2010).

Riset mengenai media dikalangan masyarakat memang selalu menarik untuk dikaji. Beberapa penelitian media menggunakan pendekatan Uses and gratificationuntuk mengungkap peran khalayak dalam menggunakan media. Teori Uses and gratification berangkat dari teori media, dimana media massa menyebarluaskan informasi yang dapat mempengaruhi masyarakat; dan masyarakat sebagai audien memilih media serta informasi tertentu untuk memenuhi kebutuhannya. Mark Poster dalam bukunya The second Media age, menjelaskan bahwa teknologi interaktif dan komunikasi jaringan, semua akan terkoneksi, commit to user commit to user

(11)

11

khususnya dalam dunia maya akan mengubah perilaku masyarakat (Littlejohn &

Foss, 2010). Penggunaan media didasari oleh adanya kebutuhan informasi. Akan tetapi sebuah informasi tidak dapat mempengaruhi audien secara langsung.

Sedangkan dalam teori media baru, Joseph Klapper menulis bahwa komunikasi massa tidak langsung menyebabkan pengaruh kepada audien, tetapi termediasi oleh variabel-variabel lain (Littlejohn & Foss, 2010).

Teori Uses and gratification menganggap media massa tidak memiliki kekuatan untuk mempengaruhi audiens, melainkan khalayak menggunakan media massa tentunya berdasarkan atas keperluan dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Herber Blumler dan Elihu Katz mengemukakan bahwa pengguna media memiliki otoritas dala memilih media (Hetharia, 2013). Sebagai bentuk kepuasaan, khalayak tentunya dapat menetukan media mana yang dipilih untuk memuaskan kebutuhannya. Dalam pandangan ini, media dianggap sebagai satu-satunya faktor yang mendukung kebutuhan terpenuhi, dan audien dianggap sebagai perantara yang besar: mereka tahu kebutuhan mereka dan bagaimana memenuhi kebutuhan tersebut (Littlejohn, Foss, & Oetzel, 2017).

Uses and gratificationlebih menspesifikasikan pada pendekatan manusiawi dalam melihat media massa. Dengan demikian, manusia itu miliki otonomi, wewenang untuk memperlakukan media (Sianipar, 2012). Kepuasan khalayak dalam menggunakan media didasari oleh beberapa motif tertentu. Media selalu berusaha memenuhi motif audiens. Jika motif tersebut terpenuhi maka kebutuhan audiens akan terpenuhi pula (Wardani, 2015). McQuail memaparkan bahwa motif konsumsi media terbagi menjadi empat yaitu, motif informasi, motif identitas pribadi, motif integrasi dan interaksi sosial, dan motif hiburan (Hetharia, 2013).

Hetharia (2013) melakukan sebuah penelitian tentang komunikasi massa terkait dengan kepuasan penggunaan media. Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Pascasarjana UNS Jurusan Komunikasi angkatan 2013 menjelasakan tentang penggunaan Blackberry dikalangan warga SESKOAU, dimana media tersebut mampu memuaskan penggunanya, tetapi media tidak memuaskan dalam hal pemenuhan kebutuhan kognitif dan pelepasan, dan kesimpulan yang didapatkan menjelaskan bahwa media Blackberry dapat memenuhi berbagai kebutuhan yang commit to user commit to user

(12)

12

diinginkan audiens, namun tidak maksimal. Penelitian model uses and gratification yang dilakukan oleh Sianipar (2012) menjelaskan menjelaskan bahwa situs YouTube dapat memberikan alternatif jawaban atas pertanyaan para responden dan terjawab melalui informasi yang terdapat didalam situs tersebut. Sedangkan dalam penelitian tentang peralihan penggunaan media konvensional ke media online yang dilakukan oleh mahasiswa FISIP USU, diketahui bahwa penggunaan surat kabar lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan berita online (Siregar, Ellanda Amdarini, 2017). Pola penggunaan media cetak ke media online di Indonesia memang sudah mengalami pergeseran, hal ini dapat dilihat penggunaan media cetak dengan prosentase dibawah 12%. Akan tetapi pada tataran penggunaan media konvensional berbasis audiovisual belum mengalami pergeseran yang signifikan.

Berdasarkan penelitian terdahulu yang telah dipaparkan diketahui bahwa penggunaan media didasari oleh faktor-faktor tertentu. Sehingga khalayak sebagai pengguna media mempunyai kendali penuh dalam menggunakan dan memilih media. Melihat fenomena tersebut, peneliti ingin melakukan sebuah penelitian baru menggunakan model Uses and gratification dengan melihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penggunaan media dikalangan remaja. Seperti yang telah dijelaskan, pendekatan Uses and gratification digunakan untuk menjelaskan bagaimana khalayak memperlakukan media berdasarkan kebutuhannya, dengan kata lain audien mempunyai kendali penuh atas penggunaan media yang didasari atas kebutuhannya berdasarkan faktor psikologi sosial masing-masing individu.

Pada penelitian ini peneliti memfokuskan kepada khalayak yang pernah atau sering menonton program acara Talk show baik melalui televisi dan YouTube dikalangan remaja dengan ruang lingkup mahasiswa komunikasi.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi sebuah perguruan tinggi dipilih menjadi populasi penelitian karena menurut data dari penelitian terdahulu yang telah dipaparkan diatas. Mahasiswa diposisikan sebagai pihak yang aktif dalam menggunakan media yang dikendalikan oleh psikologis masing-masing individu.

Program studi Ilmu Komunikasi telah banyak membahas bagaimana proses penyampaian pesan hingga implikasi pesan kepada orang lain, dan membahas kontak sosial yang dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi media massa. commit to user commit to user

(13)

13

Berdasarkan pengertian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi selalu berusaha meningkatkan kemampuan akademis sesuai dengan disiplin ilmunya (Sianipar, 2013). Dari latar belakang yang telah dipaparkan, peneliti ingin melalukan sebuah penelitian media dengan judul

“PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA TERHADAP HUBUNGAN ANTARA MOTIF DENGAN KEPUASAN MENONTON PROGRAM ACARA TALK SHOW MELALUI TELEVISI DAN YOUTUBE(Studi Korelasi dan Asosiasi di Kalangan Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret Angkatan 2015 Sampai 2017)”.

2.1 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan diatas maka peneliti merumuskan permasalahan, sebagai berikut:

1. Apakah ada asosiasi motif pada media televisi dan YouTube, dikalangan mahasiswa S1 Komunikasi Universitas Sebelas Maret angkatan 2015 sampai 2017.

2. Apakah ada asosiasi penggunaan media pada media televisi dan YouTube, dikalangan mahasiswa S1 Komunikasi Universitas Sebelas Maret angkatan 2015 sampai 2017.

3. Apakah ada asosiasi kepuasan pada media televisi dan YouTube, dikalangan mahasiswa S1 Komunikasi Universitas Sebelas Maret angkatan 2015 sampai 2017.

4. Apakah ada pengaruh penggunaan media terhadap korelasi antara motif dengan kepuasan menonton program acara talk show pada media televisi dan YouTube dikalangan mahasiswa S1 Komunikasi Universitas Sebelas Maret angkatan 2015 sampai 2017.

commit to user commit to user

(14)

14 3.1 TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah ada asosiasi motif dalam hal menonton program acara talk show pada media televisi dan YouTube, dikalangan mahasiswa S1 Komunikasi Universitas Sebelas Maret angkatan 2015 sampai 2017.

2. Untuk mengetahui apakah ada asosiasi penggunaan media dalam hal menonton program acara talk show pada media televisi dan YouTube, dikalangan mahasiswa S1 Komunikasi Universitas Sebelas Maret angkatan 2015 sampai 2017.

3. Untuk mengetahui apakah ada asosiasi kepuasan dalam hal menonton program acara talk show pada media televisi dan YouTube, dikalangan mahasiswa S1 Komunikasi Universitas Sebelas Maret angkatan 2015 sampai 2017.

4. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh penggunaan media terhadap korelasi antara motif dengan kepuasan menonton program acara talk show pada media televisi dan YouTube dikalangan mahasiswa S1 Komunikasi Universitas Sebelas Maret angkatan 2015 sampai 2017.

4.1 MANFAAT PENELITIAN

Adapun Manfaat dalam Penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi dalam penambahan kajian teoritis serta metodologis dan dapat memberikan pemahaman terkait ilmu komunikasi khususnya dalam bidang komunikasi massa, dan dapat menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya dengan bidang yang sama.

2. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik, ide, serta pemikiran yang tentunya dapat bermanfaat oleh masyarakat dan industri.

commit to user commit to user

(15)

15

b. Hasil temuan penelitian dengan menerapkan teori Uses and gratification dan metodologi kuantitaif diharapakan dapat digunakan sebagai bahan penelitian selanjutnya

commit to user commit to user

Gambar

Gambar 1. Penetrasi Media di Indonesia
Gambar 2. Peringkat Penggunaan Sosial Media
Gambar 3. Peringkat Penggunaan Internet Berdasarkaan Tingkat  Pendidikan Terakhir.

Referensi

Dokumen terkait

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan FGD pada orang tua atau keluarga korban, anak yang menjadi korban, tokoh masyarakat, tokoh agama dan pejabat dari instansi terkait,

Secara parsial, variabel kualitas layanan yang terdiri dari: dimensi variabel bukti fisik (tangibles) dan empati (emphaty) berpengaruh secara signifikan dan

Berbagai dikotomi antara ilmu – ilmu agama Islam dan ilmu – ilmu umum pada kenyataannya tidak mampu diselesaikan dengan pendekatan modernisasi sebagimana dilakukan Abduh dan

Sekolah harus melakukan evaluasi secara berkala dengan menggunakan suatu instrumen khusus yang dapat menilai tingkat kerentanan dan kapasitas murid sekolah untuk

BILLY TANG ENTERPRISE PT 15944, BATU 7, JALAN BESAR KEPONG 52100 KUALA LUMPUR WILAYAH PERSEKUTUAN CENTRAL EZ JET STATION LOT PT 6559, SECTOR C7/R13, BANDAR BARU WANGSA MAJU 51750

Penelitian ini difokuskan pada karakteristik berupa lirik, laras/ tangganada, lagu serta dongkari/ ornamentasi yang digunakan dalam pupuh Kinanti Kawali dengan pendekatan

Dari hasil perhitungan back testing pada tabel tersebut tampak bahwa nilai LR lebih kecil dari critical value sehingga dapat disimpulkan bahwa model perhitungan OpVaR

Berdasarkan related research pada bab sebelumnya, nilai akurasi prediksi data rentet waktu menggunakan metode Evolving Neural Network (ENN) dinyatakan lebih akurat sehingga metode