1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Korean cover dance merupakan sebuah fenomena yang dihasilkan dari tersebarnya budaya populer Korea. Cover dance sendiri adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang meniru gerakan tari dari seorang atau sekelompok idol. Sementara, pelaku Korean cover dance meniru gerakan tari boyband dan girlband yang berasal dari negeri ginseng. Korean dance cover sudah menjadi tren yang sangat sering dilakukan, terbukti di negeri ginseng sendiri diadakan kompetisi cover dance yang bernama K-pop Cover Dance Festival dimana kompetisi tersebut dapat diikuti oleh peserta dari seluruh dunia. Hal tersebut menunjukkan bahwa cover dance ini sudah menjadi tren yang booming di banyak negara.
Gambar 1. 1 2019 K-pop Cover Dance Festival
Sumber: http://coverdance.seoul.co.kr/
Di Indonesia sendiri, kompetisi cover dance juga telah banyak diadakan dan beberapa diantara kompetisi tersebut didukung oleh Korea itu sendiri. “Korean Festival 2019” merupakan salah satu kompetisi dance dan sing cover yang diadakan oleh KCCI atau Korean Cultural Centre Indonesia. Peserta yang mengikuti kompetisi cover dance biasanya berasal dari grup cover dance. Grup cover dance yang dibentuk dapat berdiri sendiri atau independent ataupun berdiri dibawah naungan sebuah entertainment atau sebuah agensi, seperti halnya boyband dan girlband Korea.
Berbicara mengenai cover dance, tentunya tidak akan jauh dari fenomena Korean Wave atau Hallyu. Budaya populer yang berasal dari negeri ginseng ini mulanya booming karena ditayangkannya drama Korea di stasiun televisi Indonesia. Drama
2 Endless Love atau dikenal juga dengan judul Autumn in My Heart yang tayang di Indonesia pada tahun 2001, tepat setahun setelah tayang di Korea yang mengawali tersebarnya budaya populer Korea. Di tahun-tahun selanjutnya, drama Korea lainnya yang juga tayang di stasiun televisi Indonesia, seperti Winter Sonata (2002), Jewel in The Palace (2003), Full House (2004) dan seterusnya hingga saat ini banyak drama Korea yang tayang di Indonesia.
Kepopuleran drama Korea adalah salah satu bentuk keberhasilan tersebarnya budaya populer Korea di Indonesia. Selain drama Korea, fenomena Korean Wave juga menghasilkan produk-produk lainnya seperti film, fashion, kuliner, make up, manhwa (komik dan kartun berbahasa Korea) dan musik. Produk-produk Korean Wave memiliki peminat yang tidak sedikit di Indonesia ini, artinya Korea mampu meng-“ekspor”
budaya populer mereka ke luar negeri.
Salah satu produk yang sangat banyak peminatnya yaitu musik korea atau lebih dikenal dengan sebutan K-pop. Kekhasan dari musik bergenre dance pop ini adalah pembawa lagu tersebut yang berformasi atau terbentuk dalam boyband dan girlband yang menyanyikan lagu berbahasa Korea tersebut dengan gaya rap atau lagu remaja diikuti dengan gerakan tari modern. Terlebih, setiap grup boyband dan girlband memiliki konsep yang berbeda sehingga menjadi ciri khasnya sendiri mulai dari pakaian, lagu yang dibawakan, juga penampilan fisik yang rupawan dan beberapa member memiliki darah keturunan selain Korea.
Fenomena K-pop di Indonesia diawali dengan kedatangan boyband SHINee di tahun 2010, lalu disusul oleh Super Junior pada tahun 2011, girlband SNSD atau Girls Generation dan Bigbang di tahun 2012. Pada awal kedatangannya di Indonesia, tiket SHINee telah habis terjual sebanyak 2500 tiket dari banyaknya 1500 permintaan. Hal tersebut menjadi salah satu bukti bahwa K-pop di Indonesia memiliki tempat. Selain itu di tanggal 4 Juni 2011 juga diadakan festival yang cukup besar bernama „KIMCHI K- POP‟ (Korean Idols Music Concert Hosted in Indonesia) yang diadakan di Istora Senayan Jakarta. Artis K-pop yang tampil di acara tersebut adalah Super Junior, Park Jung Min, The Boss, Girl‟s Day dan X-5.
3 Korean Wave adalah salah satu bentuk globalisasi budaya yang mewabah ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Hal tersebut juga didukung dengan peran media. Seperti yang telah dijelaskan, K-pop masuk ke Indonesia diawali dengan drama Korea yang mulai ditayangkan di stasiun televisi Indonesia, televisi sebagai media juga memiliki peran dalam penyebaran budaya populer tersebut. Selain drama Korea, musik dan film juga menjadi produk yang banyak disebarkan. Media lainnya yang turut berperan seperti majalah, tabloid, koran, VCD, DVD, dan internet.
Media internet merupakan media yang paling efektif dalam proses penyebaran K-pop, salah satunya adalah YouTube. Media sharing satu ini tidak membutuhkan biaya yang banyak, mudah untuk digunakan, dan memiliki jangkauan luas. YouTube yang tergolong sebagai new media memililki peranan terhadap perkembangan budaya Pop Korea. Seperti halnya saat agensi SM Entertainment mengunggah video terbaru Girls‟
Generation yang berjudul “Gee” di YouTube pada awal tahun 2009, video tersebut ditonton oleh lebih dari satu juta penonton sejak hari pertama. Lalu di tahun yang sama, girlband 2NE1 yang berada dibawah naungan YG Entertainment juga memperoleh lebih dari satu juta penonton pada video single pertama mereka. Dua tahun selanjutnya, boyband Bigbang juga memperoleh lebih dari dua juta penonton video mereka di Youtube yang bertajuk “Love Song”. Selain itu, video “Gangnam Style” yang dibawakan oleh PSY rilis di YouTube pada tahun 2012 menjadi No.1 YouTube‟s Most Viewed Video. Dari sejumlah artis-artis K-pop di atas, mereka telah mencetak sejarah dalam budaya K-pop yang dibantu oleh peran media, khususnya YouTube.
Penggunaan media YouTube dalam mempublikasikan budaya populer tersebut memberikan saluran untuk penyebaran budaya mereka. Dilansir dari kinibisa (Nursyiwan, 2018) penggemar K-pop yang kian lama semakin bertambah membuat adanya fenomena baru yang mempengaruhi generasi muda Indonesia. Fenomena tersebut muncul dari keinginan para penggemar yang cenderung mengikuti dan meniru setiap tren atau hal yang berkenaan dengan idolanya.
Seperti halnya girlband dan boyband Korea yang memproduksi sebuah karya berbentuk music video kemudian mengunggahnya ke platform YouTube, hal serupa dilakukan oleh komunitas K-pop cover dance Exral Production. Sekumpulan penggemar
4 budaya populer Korea ini mengunggah video cover dance mereka di YouTube. Dalam memproduksi video cover dance, mereka mendapatkan peran yang telah ditentukan.
Mulai dari make up, kostum, latar tempat, mimik wajah, dan teknik pengambilan footage pun dibuat semirip mungkin dengan music video girlband dan boyband asli Korea.
Selain Exral Production, komunitas cover dance yang terdiri dari sejumlah grup cover dance di Bandung diantaranya adalah Invinity Official, QF Entertainment, Fox Crew, Sister Dance Crew, Amazone Family, dan Cupcake. Komunitas-komunitas tersebut memiliki jumlah anggota yang banyak atau talent dan membentuk beberapa grup cover dance di dalamnya. Sejumlah komunitas tersebut sama-sama membentuk beberapa grup cover dance yang nantinya akan memproduksi gerakan tarian yang mengikuti boyband atau girlband yang diidolakan.
Dibandingkan dengan komunitas lainnya, Exral Production adalah komunitas yang paling unggul dalam jumlah subscriber kanal YouTube. Exral Production juga sudah meng-cover lebih dari 30 girlband ataupun boyband Korea melalui kanal YouTubenya. Komunitas asal Bandung yang terbentuk sejak tahun 2014 ini sudah banyak dikenal oleh para penikmat musik Kpop, selain dari jumlah subscriber yang tinggi yaitu sebanyak kurang lebih 338.000. Berikut ini adalah tabel perbandingan komunitas cover dance yang menggunakan media YouTube di Bandung.
Tabel 1. 1 Perbandingan Kanal YouTube Cover Dance No. Nama Kanal
YouTube
Jadwal tayang
Jumlah subscriber
Jumlah Video
Jumlah Views 1. Exral Production 4-8x/ bulan 338.000 197 45,351,978 2. Invinity Official 1 x/ bulan 19.600 84 1,244,629
3. FOXCREW 1 x/ bulan 224 103 65,783
4. Sister Dance Crew 4 x/ bulan 1,620 28 221,089
5. Amazone Family 4 x/ bulan 368 33 57,375
6. Cupcake Channel 4 x/ bulan 61,900 30 5,766,288 Sumber: Olahan Peneliti
5 Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa Exral Production merupakan kanal YouTube yang paling unggul. Selain dari jumlah subscriber yang paling tinggi diantara komunitas sejenis lainnya, Exral Production juga memiliki jadwal tayang terbanyak.
Exral Production juga cukup dikenal bagi penikmat musik Kpop, terlihat dari jumlah views yang tertera di tabel di atas. Hingga saat ini, Exral Production rutin mengunggah video cover dance di kanal YouTubenya sebanyak satu atau dua kali setiap minggunya.
Dalam memproduksi video cover dance, performer cover dance mempersiapkan dirinya terlebih dahulu sebelum melakukan proses shooting yang nantinya video tersebut akan melewati proses editing hingga tayang di kanal YouTube Exral Production
Gambar 1. 2Video XP Team cover dance ITZY
Sumber: ( youtube.com/exralvio )
Gambar 1. 3 Kanal Youtube Exral Production
sumber: (youtube.com/exralvio )
Di dalam videonya, team cover dance Exral Production yaitu XP Team memerankan idola girlband atau boyband semirip mungkin dengan idola yang mereka tiru. Posisi yang didapatkan pun dipilih berdasarkan kemiripan fisik ataupun sikap dari anggota tersebut. Selain menirukan penampilan riasan wajah, kostum, dan aksesoris,
6 mereka mengatur sikap atau gestur tubuh dan mimik wajah yang ditampilkan seolah- olah mereka adalah penyanyi aslinya. Sehingga menunjukkan bahwa cover dance team Exral Production membentuk identitas baru diluar identitas asli mereka. Identitas baru yang dibentuk oleh Exral Production dalam video-video K-pop cover dance mereka di YouTube, menandakan bahwa mereka ingin menunjukkan kesan terbaik mereka, terutama di media YouTube. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, maka Exral Production mempersiapkan segala sesuatunya untuk mempresentasikan diri mereka sebagai K-pop cover dance yang mereka publikasikan di media YouTube dengan semaksimal mungkin. Presentasi diri dilakukan untuk membentuk kesan yang baik di depan audiens. Biasanya presentasi diri ini dilakukan oleh seorang performer yang memiliki dua kehidupan yaitu di depan panggung atau front stage dimana ia memerankan orang lain dan di depan audiens, sedangkan panggung belakang atau back stage dimana ia menjadi dirinya sendiri tanpa adanya audiens. Dalam melakukan presentasi diri, seseorang melakukan teknik yang disebut pengelolaan kesan atau Impression Management.
Pengelolaan kesan atau impression management, seperti yang dikatakan Ervin Goffman dalam bukunya yang berjudul “The Presentation of Self in Everyday Life”
(1959) merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain, yang mana dalam interaksi tersebut orang tersebut ingin menunjukkan gambaran diri yang diharapkan diterima oleh orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang berinteraksi untuk menunjukkan maksud tertentu dan menghasilkan respon yang sesuai dengan yang diharapkan.
Asumsi Goffman mengenai Impression Management tersebut tidak jauh dari kajian teori Dramaturgi. Dalam teori ini Goffman menjelaskan bahwa seseorang yang memainkan perannya di atas panggung sandiwara telah memilih sesuai peran yang diinginkan. Dimana di atas panggung tersebut ia berusaha untuk mengendalikan kesan yang ingin disampaikan kepada audiens yang disajikan selama pertunjukkan. Goffman membagi dua kehidupan sosial yaitu front stage dan back stage. (Mulyana, 2013:38).
Terdapat tiga elemen khusus pada front stage yaitu panggung (setting), penampilan
7 (appearance), dan sikap (manner). Sementara, back stage merujuk pada persiapan yang dilakukan oleh seorang aktor untuk mempersiapkan penampilannya di panggung depan.
Adapun sejumlah penelitian sejenis yang membahas presentasi diri dengan menggunakan personal front pada panggung offline seperti penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Kenzy & Sugandi, 2018), adapun personal front pada panggung online yaitu (Perdana, Salmiyah, Ali, & Si, 2017), (Safira, Putri, & Wattimena, 2019). Adapun yang berfokus pada pembentukan konsep diri suatu komunitas seperti penelitian yang dilakukan oleh (Hayati, & Sugandi, 2017). Adapun penelitian yang membahas tentang presentasi diri pada media baru dengan menggunakan fitur-fitur yang terdapat pada media tersebut seperti yang dilakukan pada media sosial oleh (Riccio, 2013), media baru instagram oleh (Adhiatma, 2018), (Sekarwangi, 2018), (Pamungkas & Lailiyah 2018).
Selain instagram adapun media sosial twitter oleh (Nuruddiniyah, 2017), aplikasi snapchat oleh (Saraswati, 2017), media sosial LINE oleh (Audini, 2017), (Kivan, 2013).
Jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu sejenis, pada penelitian ini, peneliti ingin membahas presentasi diri yang ditunjukkan oleh komunitas K-pop cover dance. Melalui kanal YouTube Exral Production sebagai front stage, XP Team melakukan pengelolaan kesan untuk mencapai presentasi diri sebagai sebuah komunitas K-pop cover dance. Dalam mempresentasikan dirinya sebagai suatu grup cover dance tentunya dibutuhkan teknik atau strategi yang dipersiapkan terlebih dahulu sebelum diperlihatkan di panggung depan. Dalam mempersiapkan strateginya atau disebut pengelolaan kesan, para performer cover dance juga memperhatikan elemen-elemen panggung depan, seperti appearance yang meliputi kostum, penataan rambut, dan make up. Lalu manner atau perilaku yang meliputi ekspresi atau mimik wajah, gesture tubuh, serta lypsinc. Dalam mempresentasikan diri sebagai idol, maka Exral Production mempersiapkan personal front tersebut yaitu appearance dan manner sesuai dengan gaya dan ciri khas dari idol yang diperankan. Selain itu, dalam pengelolaan kesannya pun dibutuhkan kerja sama dari setiap anggotanya. Selain mempersiapkan strategi tersebut di panggung belakang, para performer cover dance juga mempunyai kehidupan mereka yang sebenarnya. Dalam menjalani kegiatan sehari-harinya mereka memiliki pekerjaan dan kepribadian yang berbeda dengan yang ditampilkan pada saat mereka
8 membawakan cover dance grup tertentu. Dalam kehidupannya, mereka dapat memerankan dua peran yang berbeda yaitu pada saat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan profesinya dan juga dengan penampilan dan kepribadian yang sebenarnya dan saat menjalankan peran tertentu dengan penampilan dan kepribadian yang berbeda pula.
Maka dari itu, peneliti ingin mengetahui bagaimana presentasi diri yang dilakukan dengan pengelolaan kesan oleh performer cover dance di media YouTube sebagai panggung depan dan panggung belakang yang meliputi persiapan juga kesehariannya.Berdasarkan penjabaran tersebut, peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian dengan menggunakan studi dramaturgi dengan judul “Presentasi Diri Komunitas K-Pop Cover Dance di Media YouTube (Studi Dramaturgi pada Komunitas Cover Dance yang Menggunakan YouTube di Kota Bandung).”
1.2 Fokus Penelitian
Berdasarkan penjelasan latar belakang di atas, maka penelitian ini berfokus pada presentasi diri komunitas K-pop Cover Dance di Bandung yang menunjukkan identitas mereka sebagai performer K-pop Cover Dance melalui media YouTube.
1.3 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagaimana presentasi diri komunitas Kpop cover dance Exral Production di media sosial YouTube sebagai panggung depan (front stage)?
b. Bagaimana presentasi diri komunitas Kpop cover dance Exral di panggung belakang (back stage)?
1.4 Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui presentasi diri komunitas cover dance Exral Production di media sosial YouTube sebagai panggung depan (front stage).
b. Untuk mengetahui presentasi diri komunitas cover dance Exral Production di panggung belakang (back stage).
9 1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoritis
Bagi mahasiswa diharapkan penelitian ini dapat menjadi sumber kajian atau referensi untuk memperkaya atau memperluas pengetahuan bidang keilmuan tentang presentasi diri di media sosial khususnya media sosial YouTube dengan menggunakan pendekatan dramaturgi untuk penelitian yang akan dilakukan selanjutnya.
1.5.2 Manfaat Praktis a. Untuk Peneliti
Memberikan pengetahuan dan pemahaman secara mendalam mengenai kajian presentasi diri yang dilakukan oleh sebagai performer khususnya komunitas K- pop Cover Dance.
b. Untuk Akademi
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan, referensi atau bahan ilmu tambahan untuk akademisi, terutama akademisi Ilmu Komunikasi Telkom University yang melakukan penelitian mengenai kajian serupa di masa mendatang.
c. Untuk Masyarakat
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai pemahaman bagi masyarakat agar tidak memandang sebelah mata penikmat music Korea, khususnya performer K-pop Cover Dance.
1.6 Waktu dan Periode Penelitian
Tabel 1.2 Waktu dan Periode Penelitian
No. Kegiatan Bulan
SEP OKT NOV DES JAN FEB MAR 1. Penyusunan Proposal
2. Pengajuan Proposal 3. Pengumpulan Data 4. Analisis Data 5. Penyusunan Hasil
Penelitian
Sumber: Olahan Peneliti