1 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pekerja cenderung mengalami kondisi buruk ketika tuntutan pekerjaan melebihi kapasitas kemampuan sehingga perlu diciptakan keadaan aman dan nyaman di lingkungan kerja guna mencegah keluhan akibat kerja serta risiko ergonomi terhadap postur tubuh saat bekerja (Wulandari, et al. 2017). Pada pekerja penjahit yang bekerja dengan jam waktu tidak teratur cenderung buruk, seperti industri busana, memiliki pekerja dibagian jahit dengan berbagai jenis sehingga postur tubuh saat melakukan pekerjaan menjadi buruk (Markanen, 2004).
Menjahit merupakan salah satu profesi yang ditekuni oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia, baik secara individu maupun pekerja industri konveksi, kelompok pekerja tersebut seringkali mengalami keadaan postur kerja yang kaku dan beban otot yang statis akibat dari pekerjaan yang berulang-ulang dilakukan dengan kecepatan tinggi dan produksi yang besar (Prihati & Simanjuntak, 2013), dimana hal tersebut dapat menimbulkan masalah pada muskuloskeletal. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Tallez et al. (2016) yang mengalami gangguan neck pain sekitar 79% menggalami gangguan pada otot upper trapezius sisanya didaerah otot levator scapula dan scaleni, dan masalah muskuloskeletal yang sering dialami adalah myofascial pain syndrome. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmad (2004) dapat disimpulkan bahwa dari 58 responden yang bekerja di industri konveksi mengalami sakit bahu 83%, kaku leher 74%, dan nyeri pinggang 72 %.
Sebanyak 6-67% nyeri leher yang sering dialami oleh pekerja, diantara 49%
yang dialami oleh pekerja penjahit di garment yang lebih banyak mengalami keluhan nyeri bahu dan leher adalah wanita.
Prevalensi myofascial pain syndrome sangat bervariasi. Pada klinik ortopedi terdapat 21-30% pada praktek umum, dan 55-95% di pusat menejemen nyeri tertentu (Lugo et al. 2016). Menurut Fleckenstein et al.
(2010) berpendapat bahwa myofascial pain syndrome mempengaruhi hingga 85% dari populasi umum. Nyeri muskuloskeletal di daerah leher memiliki prevalensi 60-76% pada pekerja selama 1 tahuan dan wanita lebih tinggi terkena daripada pria (Pratama, 2013). Menurut Kharismawan et al. (2015) menunjukan usia 20-50 tahun adalah usia yang sering terkena myofascial pain syndrome.
Myofascial pain syndrome adalah kondisi nyeri atau fascia, bisa akut maupun kronik yang bersangkutan pada fungsi sensorik, mototrik maupun otonom yang berhugungan dengan nyeri myofascial trigger point (Geber, et al. 2011). Tanda dan gejalanya adalah terdapat tringger point yakni regio otot yang mengalami hiperiritasi dan menjadi hipersensitif pada taut band yang mengalami myofascial pain syndrome, dan akan terasa nyeri ketika dilakukan penekanan, ciri-ciri khas pada gejala ini adalah referred pain (nyeri menjalar), motor dysfuction (gangguan gerak), dan autonomic phenomena (fenomena otonomi) (McPartlnd & Simons, 2006).
Aktivitas menjahit disebuah konveksi membutuhkan konsentrasi dan stamina yang baik karena harus melakukan aktivitas yang sama dalam waktu yang lama untuk menyelesaikan banyak pesanan. Tidak sedikit penjahit yang
mengeluh kaku, pegal hingga sakit pada leher dan pundak karena kepala yang terlalu lama dalam posisi menunduk (Febriana, 2012). Pada umumnya keluhan-keluhan yang dirasakan penjahit tidak tertangani secara medis karena penjahit menganggap bahwa keluhan itu biasa terjadi, sehingga berisiko pada menurunya kekuatan otot leher dan kepala cenderung condong kedepan dalam jangka waktu yang lama. Myofascial syndrome merupakan masalah yang sering dikeluhkan terutama pada pekerja melakukan aktivitas monoton dan berulang, keluhan yang dirasakan bersifat subjektif seperti rasa pegal pada bahu, kekakuan, rasa tertuduk dan nyeri menjalar daat ditekan (Tulaar, 2008)
Kemampuan fungsional leher adalah kemapuan setiap individu dalam melakukan setiap aktivitas sehari-hari misalnya dalam kegiatan membaca, mengangkat, berkendara, tidur, rekreasi, dan bekerja (Howell, 2011). Pada pekerja penjahit kemungkinan besar terjadi adalah myofascial pain syndrome otot upper trapezius yang dapat menimbulkan gangguan fungsional disamping menimbulkan kerusakan pada jaringan spesifiknya. Gangguan fungsional yang ditimbulkan oleh myofascial pain syndrome otot upper trapezius ini dapat berupa nyeri gerak dan keterbatasan dalam gerakan pada daerah cervical dengan gerakan lateral fleksi dan depresi bahu. Aktivitas sehari-hari juga dapat terganggu apabila seseorang mengalami penyakit ini (Tulaar, 2014).
Myofascial pain syndrome bila tidak ditangani dengan tepat dapat berdampak pada penurunan otot leher yang dapat mengganggu kerja otot stabilisator leher dalam mempertahankan kepala pada posisi tegak (Buana,
2016). Kondisi myofascial pain syndrome adalah salah satu penyebab dari disfungsi muskuloskeletal yang menyebabkan penurunan dari kualitas hidup dan suatu penyebab utama seseorang kehilangan waktu dalam bekerja (Novina, 2011). Ada beberapa latihan yang bisa dilakukan salah satu latihan yang bisa diberikan adalah relaksasi otot progresif (Anshori, 2017)
Terapi relaksasi otot progresif yaitu terapi dengan cara peregangan otot kemudian dilakukan relaksasi otot (Rihiantoro, 2019). Relaksasi otot progresif dilakukan dengan cara pasien menegangkan dan melemaskan sekelompok otot secara berurutan dan memfokuskan perhatian pada perbedaan perasaan yang dialami antara saat kelompok relaks dan saat otot tersebut tegang (Kozier, 2011). Tujuan dari relaksasi otot progresif adalah untuk menurunkan keregangan otot, kecemasan, nyeri leher dan punggung, hipertensi, mengatasi stress, insomnia, depresi, kelelahan (Setyoadi &
Kushariyadi, 2011). Ketika tubuh dalam keadaan rileks, secara ototmatis ketegangan yang sering kali membuat otot-otot mengencang akan diabaikan sehingga nyeri yang dirasakan akan menurun, dari nyeri itu bisa menyebabkan penurunan kemampuan fungsional leher (Ramadhani & Putra, 2008).
Penelitian sebelumnya hanya ada membahas tentang relaksasi otot progresif terhadap penurunan nyeri dan belum ada penelitian yang membahas tentang efek dari relakasasi otot progresif terhadap kemampuan fungsional leher. Teknik yang pernah dilakukan pada penelitian sebelumnya adalah menggunakan muscle energy tecnique dan myofascial release technique terhadap kemampuan fungsional leher. Hingga sekarang belum ada yang
meneliti tentang teknik relaksasi otot progresif terhadanp kemampuan fungsional leher. Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “pengaruh relaksasi otot progresif terhadap peningkatan fungsional leher pada kasus myofascial pain syndrome otot upper trapezius pada penjahit”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan, maka permasalahandirumuskan sebagai berikut :
Bagaimana pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kemampuan fungsional leher pada kasus myofascial pain syndrome otot upper trapezius pada penjahit ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kemampuan fungsional leher kasus myofascial pain syndrome otot upper trapezius pada penjahit.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi kemampuan fungsional leher sebelum diberikan latihan relaksasi otot progresif pada otot uper trapezuis pada penjahit.
b. Mengidentifikasi kemampuan fungsional leher sesudah diberikan latihan relaksasi otot progresif pada otot upper trapezius pada penjahit.
c. Menganalisis perbandingan kemampuan fungsional leher sebelum dan sesudah diberikan latihan relaksasi otot progresif pada otot upper trapezius pada penjahit.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan fisioterapi yang akan datang.
b. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar teori bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan penelitian tentang myofascial pain syndrome maupun tentang latihan relaksasi otot progresif
2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapan memberikan pengetahuan dan wawasan yang luas bagi peneliti tentang pengaruh pemberian relaksasi otot progresif terhadap kemampun fungsional leher pada kasus myofascial pain syndrome upper trapezius pada penjahit.
b. Bagi Instansi Pendidikan
Hasil yang didapatkan setelah penelitian ini diharapkan mampu diterapkan sebagai referensi ilmu pengetahuan kepada mahasiswa dibidang ilmu pengetahuan fisioterapi tentang pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kemampuan fungsional leher pada kasus myofascial pain syndrome otot upper trapezius pada penjahit.
c. Bagi Fisioterapi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan baru yang dapat diterapkan bagi tenaga fisioterapis dalam penanganan myofascial pain syndrome otot upper trapezius dengan pemberian relaksasi otot progresif.
d. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan edukasi pada masyarakat tentang penanganan pada kasus myofascial pain syndrome upper trapezius dengan pemberian relaksasi otot progresif.
E. Keaslian Penelitian
Tabel 1.1 Daftar Penelitian Terkait No. Nama
Peneliti
Judul Peneliti
Variabel Penelitian
Insrumen &
Metode Penelitian
Perbedaan Penelitian 1 Puspa
Kirana Dewi, Siti Patimah, Ir Ir Khairiyah.
2018
Pengaruh Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Nyeri Punggung Bagian Bawah Ibu Hamil Trimester III
Variabel bebas : Relaksasi Otot Progresif Variabel terkait : Penururnan nyeri punggung bagian bawah ibu hamil trimester III
Insrumen :
Numeric rate scale (NRS)
Metode : Desain quasi experiment one group pretest posttest
Tempat penelitian ini di
Puskesmas Cibeureum sedangkan penelitian yang akan dilakukan tempatnya di Pasar
Garuda Barabai.
2 Hemi Fitriani, Achmad.
2017
Perbedaan Efektivitas Relaksasi Otot Progresif dan
Hipnoterapi Terhadap Disminore Primer Pada Remaja
Variabel bebas : Relaksasi Otot Progresif dan
Hipnoterapi Variabel terkait : Disminore primer pada remaja
Instrumen : Numeric Rating Scale (NRS) Metode : Desain quasi exsperiment non-equivalent control group
Tempat penelitian ini di SMA Negeri 4 Cimahi sedangkan penelitian yang akan dilakukan tempatnya di Pasar
Garuda Barabai.
3 Indriana Bil Resti.
2014
Teknik Relaksasi Otot Progresif Untuk
Mengurangi Stress Pada Penderita Asma
Variabel bebas : Relaksasi Otot Progresif Variabel terkait : Stress pada
penderita asma
Instrumen : Self report gejala stres Metode : Single- case exsperimental designs
Tempat penelitian ini di Rumah Sakit Tamar Medical Center Pariaman sedangkan penelitian yang akan dilakukan tempatnya di Pasar
Garuda Barabai.
4 Novina santoso, joudy gessal.
2014
Efek Terapi Spray and Stretch Terhadap Nyeri Pada Sindrom Nyeri Miofasial Otot Trapezius Atas
Variabel bebas : Terapi Spray And Stretch Variabel terkait : Nyeri Pada Sindrom Nyeri Miofasial Otot Trapezius Atas
Instrumen : Visual analoge scale (VAS)
Metode : Desain quasi exsperiment one grup pretest postest
Tempat penelitian ini di Instalasi Rehabilitasi Medik BLU RSU Prof.
Dr. R. D.
Kandou Manado sedangkan penelitian yang akan dilakukan tempatnya di Pasar
Garuda Barabai.
5 Ari Wibawa, Ni Luh Nopi Andayani, Anak Ayu Nyoman Trisna Natra Dewi.
2019
Intervensi Ultrasound dan Muscle Energy Tecnique Lebih Menurunkan Disabilitas Leher Daripada Intervensi Ultrasound
Variabel bebas : -Ultrasound dan Muscle Energy Technique -Ultrasound dan
Myofascial Release Technique
Instrumen : Neck Disability Index (NDI)
Metode : Exsperiment randomized pretest dan posttest control group desain
Tempat penelitian ini di praktik Fisioterapi Ketut Darmayasa dan I Made Niko Winaya di Denpasar sedangkan penelitian
dan
Myofascial Release Technique Pada Kasus Myofascial Pain Syndrome Otot Upper Trapezius Di Denpasar
Variabel terkait : myofascial pain
syndrome otot upper
trapezius
yang akan dilakukan tempatnya di Pasar
Garuda Barabai.
6 Ni Made Intansari Tri Buana, Susy Purnawati, Sugijanto, Komang Satriyasa, Nengah Sandi, M.
Ali Imron.
2017
Perbedaan Kombinasi Myofascial Release Technique Dengan Ultrasound dan
Kombinasi Ischemic Compession Technique Dengan Ultrasound Dalam
Meningkatkan Kekuatan Otot Leher Akibat Sindroma Miofasial Pada Penjahit Pakaian Di Kabupaten Gianyar
Variabel bebas:
- Kombinasi Myofascial Release Technique dengan Ultrasound - Kombinasi Ischemic Compression Technique dengan Ultrasound Variabel terkait:
Meningkatkan Kekuatan Otot Leher Akibat Sindroma Miofasial
Instrumen : Spigmomanomerer (mmHg)
Metode : Exsperiment
ramdomized pretest dan post test
control group desain
Tempat penelitian ini di Saraswati Konveksi Desa Guwang Gianyar sedangkan penelitian yang akan dilakukan tempatnya di Pasar
Garuda Barabai.