• Tidak ada hasil yang ditemukan

PIAGAM KOMITE AUDIT PT KLIRING PENJAMINAN EFEK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PIAGAM KOMITE AUDIT PT KLIRING PENJAMINAN EFEK INDONESIA"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

PIAGAM KOMITE AUDIT

PT KLIRING PENJAMINAN EFEK INDONESIA

(2)

VERSI 3.0

Tahun 2021

(3)

i DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang. ... 1

1.2 Maksud dan Tujuan. ... 1

1.3 Dasar Hukum. ... 1

BAB 2 ORGANISASI DAN MASA JABATAN KOMITE AUDIT ... 3

2.1 Organisasi. ... 3

2.1.1 Komposisi Keanggotaan KA. ... 3

2.1.2 Kriteria Keanggotaan Komite Audit ... 3

2.1.3 Rangkap Jabatan Anggota Komite Audit. ... 4

2.1.4 Pengangkatan Anggota Komite Audit. ... 4

2.1.5 Program Orientasi dan Peningkatan Kapabilitas Anggota Komite Audit. ... 5

2.1.6 Pemberhentian dan Pengunduran Diri Anggota Komite Audit ... 5

2.2 Masa Jabatan Anggota Komite Audit ... 6

BAB 3 TUGAS, TANGGUNG JAWAB, DAN KEWENANGAN KOMITE AUDIT. ... 7

3.1 Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit. ... 7

3.1.1 Tugas dan Tanggung Jawab terkait Kegiatan Operasional dan Pelaporan Informasi Keuangan. 7 3.1.2 Tugas dan Tanggung Jawab terkait Audit Internal. ... 7

3.1.3 Tugas dan Tanggung Jawab terkait Manajemen Risiko. ... 8

3.1.4 Tugas dan Tanggung Jawab terkait Pengendalian Internal. ... 8

3.1.5 Tugas dan Tanggung Jawab terkait Audit Eksternal. ... 8

3.1.6 Tugas dan Tanggung Jawab terkait Kepatuhan terhadap Peraturan Perundangan-undangan. . 9

3.1.7 Tugas dan Tanggung Jawab terkait Benturan Kepentingan dan Pelaporan Pelanggaran (Whistleblowing System)... 9

3.1.8 Tugas Menjaga Praktik Tata Kelola Perusahaan. ... 10

3.1.9 Tugas Khusus. ... 10

3.2 Kewenangan Komite Audit. ... 10

BAB 4 MEKANISME KERJA KOMITE AUDIT ... 12

4.1 Rapat Komite Audit. ... 12

4.1.1 Pelaksanaan Rapat Komite Audit. ... 12

4.1.2 Pengambilan Keputusan Komite Audit. ... 13

4.1.3 Risalah Rapat Komite Audit ... 13

4.2 Hubungan Kerja Komite Audit dengan Pihak-pihak Terkait... 14

4.2.1 Hubungan Kerja Komite Audit dengan Dewan Komisaris. ... 14

(4)

ii

4.2.2 Hubungan Kerja Komite Audit dengan Dewan Direksi. ... 14

4.2.3 Hubungan Kerja Komite Audit dengan SPI. ... 14

4.2.4 Hubungan Kerja Komite Audit dengan Unit Manajemen Risiko Korporasi. ... 15

4.2.5 Hubungan Kerja Komite Audit dengan Akuntan Publik. ... 15

4.3 Penilaian Kinerja Komite Audit ... 15

4.3.1 Pelaksanaan Penilaian ... 15

4.3.2 Kriteria Penilaian. ... 16

4.4 Pelaporan dan Pertanggungjawaban Komite Audit ... 16

4.5 Gaji/Honorarium dan Biaya Kegiatan ... 16

BAB 5 ETIKA KERJA KOMITE AUDIT ... 17

BAB 6 PENUTUP ... 18

6.1 Masa Berlaku... 18

6.2 Evaluasi dan Penyempurnaan ... 18

LEMBAR PESETUJUAN KOMISARIS ... 19

(5)

1 BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.

Sebagai perusahaan yang memiliki peran menjalankan fungsi kliring dan penjaminan penyelesaian transaksi bursa, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (selanjutnya disebut “KPEI” atau "Perusahaan") harus dikelola secara profesional dan wajib menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (selanjutnya disebut GCG). Prinsip-prinsip GCG yang dianut oleh Perusahaan adalah prinsip tentang peran perusahaan di pasar modal, perlindungan terhadap pemakai jasa, perlindungan terhadap pemegang saham, perlindungan terhadap pemangku kepentingan lainnya, pengungkapan dan transparansi, serta peran Dewan Komisaris dan Direksi. Prinsip-prinsip GCG tersebut dilaksanakan berdasarkan asas Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, dan Fairness (TARIF).

Untuk mendorong agar Perusahaan dikelola dengan prinsip-prinsip GCG yang dilaksanakan secara konsisten serta patuh pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka Perusahaan berupaya selalu meningkatkan kinerja organ Perusahaan termasuk kinerja Komite Audit. Komite Audit merupakan organ Perusahaan yang memiliki wewenang dan tanggung jawab secara penuh untuk membantu Dewan Komisaris dalam menjalankan fungsi pengawasan dalam rangka :

a. Menjaga kualitas pelaporan keuangan, agar dapat diandalkan.

b. Memastikan efektivitas pengendalian internal.

c. Memastikan proses audit internal dan eksternal telah berjalan sesuai dengan prosedur dan ketentuan.

d. Menjaga kepatuhan Perusahaan terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Piagam ini merupakan pedoman bagi Komite Audit dalam melaksanakan tugas, tanggung jawab, dan wewenangnya untuk memenuhi kepentingan pemakai jasa, pemegang saham, dan pemangku kepentingan lainnya. Piagam Komite Audit ini merupakan penjabaran Pedoman Tata Kelola Perusahaan.

Dengan adanya piagam ini, Komite Audit dalam melaksanakan tugasnya setiap saat akan bertindak dan bersikap berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketentuan Anggaran Dasar, peraturan yang berlaku di Perusahaan, kode etik, serta praktik-praktik terbaik (best practices) GCG.

1.2 Maksud dan Tujuan.

Piagam Komite Audit ini disusun sebagai pedoman agar Komite Audit dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara efisien, efektif, transparan, kompeten, independen, dan dapat dipertanggung- jawabkan serta sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

1.3 Dasar Hukum.

Segala hal yang tertuang dalam Piagam ini mengacu pada dasar hukum berikut ini:

1. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

2. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 59/POJK.04/2016 tentang Direksi dan Dewan Komisaris Lembaga Kliring dan Penjaminan.

3. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 55/POJK.04/2015 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit.

4. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 3/POJK.04/2021 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal.

5. Anggaran Dasar PT KPEI.

6. Pedoman Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance Guidelines) PT KPEI.

(6)

2 7. Pedoman Perilaku PT KPEI.

8. Principles of Corporate Governance from Organization for Economic Co-operation and Development (OECD).

9. Association of South East Asia Nations ASEAN CG Scorecard.

10. International Corporate Governance Network (ICGN) Principles.

11. Pedoman Umum GCG Indonesia dari Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (CG) 2006.

12. Praktik-praktik terbaik terkait tata kelola perusahaan.

(7)

3 BAB 2

ORGANISASI DAN MASA JABATAN KOMITE AUDIT

2.1 Organisasi.

2.1.1 Komposisi Keanggotaan KA.

Komposisi anggota Komite Audit adalah sebagai berikut:

1. Jumlah anggota Komite Audit terdiri dari sekurang-kurangnya dua orang anggota Dewan Komisaris dan 2 (dua) orang anggota yang bukan pihak yang terafiliasi dengan Perusahaan.

2. Ketua Komite Audit berasal dari anggota Dewan Komisaris. Dalam hal anggota Dewan Komisaris yang menjadi anggota Komite Audit lebih dari 1 (satu) orang, maka salah satunya bertindak sebagai Ketua Komite Audit. Penetapan Ketua Komite Audit tersebut dilakukan dalam rapat Dewan Komisaris sesegera mungkin setelah Dewan Komisaris ditetapkan.

3. Komite Audit dapat dibantu oleh sekretaris Komite Audit, yang dapat berasal dari internal maupun eksternal Perusahaan, jika diperlukan. Anggota Komite Audit juga dapat merangkap jabatan sebagai sekretaris Komite Audit.

2.1.2 Kriteria Keanggotaan Komite Audit

Kriteria anggota Komite Audit adalah sebagai berikut:

1. Anggota Komite Audit yang juga merupakan anggota Dewan Komisaris mengikuti ketentuan yang sudah diatur dalam Peraturan OJK tentang Komisaris.

2. Anggota Komite Audit yang bukan merupakan anggota Dewan Komisaris, kualifikasinya adalah sebagai berikut :

a. Persyaratan Integritas.

Memiliki akhlak, moral yang baik, tanggung jawab profesi yang tinggi, memiliki komitmen waktu dan tenaga untuk melaksanakan tugas serta tanggung jawab secara optimal.

b. Persyaratan lndependensi :

i. Komite Audit harus bebas dari pengaruh Direksi maupun pihak lain, bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris.

ii. Bukan merupakan orang dalam Kantor Akuntan Publik (KAP), Kantor Konsultan Hukum, atau pihak lain yang memberikan jasa audit, jasa non audit, dan/atau jasa konsultasi lain kepada Perusahaan dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir sebelum diangkat oleh Dewan Komisaris.

iii. Bukan merupakan orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, atau mengendalikan kegiatan Perusahaan dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir sebelum diangkat oleh Dewan Komisaris.

iv. Tidak mempunyai hubungan afiliasi termasuk hubungan keluarga karena perkawinan dan keturunan sampai derajat kedua, baik secara horizontal maupun vertikal dengan anggota Dewan Komisaris, Direksi, atau pemegang saham utama.

v. Tidak mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung di KPEI atau di perusahaan lain yang dapat menimbulkan benturan kepentingan. Dalam hal anggota Komite Audit

(8)

4 memperoleh saham akibat suatu peristiwa hukum, maka dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan setelah diperolehnya saham tersebut, anggota Komite Audit wajib mengalihkan pada pihak lain.

vi. Tidak keberatan dan bersedia membuat dan menandatangani pernyataan tertulis berkaitan dengan persyaratan independensi.

c. Persyaratan Kompetensi :

i. Sekurang-kurangnya 1 (satu) orang anggota Komite Audit memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman dalam bidang hukum bisnis, akuntansi atau keuangan.

ii. Memiliki pengalaman kerja minimal 10 (sepuluh) tahun di bidang pengawasan atau pemeriksaan dan atau pengalaman praktis pada tingkat manajerial di entitas usaha yang memungkinkan fungsinya sebagai Komite Audit dilaksanakan dengan optimal.

iii. Memiliki pengetahuan yang cukup untuk memahami dan menginterpretasikan laporan keuangan.

iv. Memiliki pengetahuan yang memadai tentang Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP), Peraturan Perundang-Undangan di bidang Pasar Modal dan Peraturan Perundang-undangan yang berkaitan dengan operasi Perseroan.

v. Memiliki pengetahuan mengenai proses bisnis, konsep audit, konsep manajemen risiko, pengendalian internal terkait Perseroan dan tata kelola perusahaan yang baik.

vi. Mampu mempelajari kegiatan Perusahaan secara cepat sehingga dapat memperoleh pengetahuan yang memadai tentang kegiatan Perusahaan dan keterkaitannya dengan audit.

vii. Memiliki pemahaman terhadap tugas, tanggung jawab dan wewenang Komite Audit.

viii. Memiliki pemahaman yang memadai mengenai Tata Kelola Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).

ix. Memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk menyampaikan pendapat dan rekomendasi.

x. Bersedia meningkatkan kompetensi secara terus-menerus melalui pendidikan dan pelatihan.

2.1.3 Rangkap Jabatan Anggota Komite Audit.

Ketentuan rangkap jabatan anggota Komite Audit adalah sebagai berikut :

Anggota Komite Audit yang bukan berasal dari Dewan Komisaris tidak boleh merangkap sebagai anggota komite lain di lingkungan Perusahaan pada periode yang sama.

2.1.4 Pengangkatan Anggota Komite Audit.

Ketentuan pengangkatan anggota Komite Audit adalah sebagai berikut:

1. Anggota Komite Audit diangkat oleh Dewan Komisaris dan dilaporkan kepada pemegang saham.

2. Pengangkatan anggota Komite Audit paling lambat adalah 6 (enam) bulan setelah pengangkatan Dewan Komisaris.

3. Anggota Komite Audit yang bukan anggota Dewan Komisaris diangkat melalui Surat Keputusan Dewan Komisaris.

4. Informasi mengenai pengangkatan sebagaimana dimaksud di atas dimuat dalam laman (website) Perusahaan.

(9)

5 2.1.5 Program Orientasi dan Peningkatan Kapabilitas Anggota Komite Audit.

Ketentuan mengenai program orientasi dan peningkatan kapabilitas anggota Komite Audit adalah sebagai berikut:

1. Anggota Komite Audit yang baru diangkat mengikuti program pengenalan terkait visi, misi, dan nilai- nilai Perusahaan, yang diselenggarakan oleh Perusahaan.

2. Program peningkatan kapabilitas dilakukan dalam rangka meningkatkan efektivitas kinerja Komite Audit.

3. Program peningkatan kapabilitas merupakan program pendidikan profesi berkelanjutan yang perlu dilakukan agar anggota Komite Audit dapat selalu memperbaharui informasi tentang perkembangan terkini dari aktivitas bisnis Perusahaan dan pengetahuan-pengetahuan lain yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Komite Audit.

4. Perencanaan program peningkatan kapabilitas harus diperhitungkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan Perusahaan.

5. Setiap anggota Komite Audit dapat berpartisipasi dalam berbagai program peningkatan kapabilitas, misalnya seminar atau pelatihan dan presentasi dari anggota Komite Audit kepada anggota lainnya mengenai informasi, pengetahuan, dan pengalaman.

6. Setiap anggota Komite Audit menyampaikan informasi keikutsertaan program peningkatan kapabilitas yang diikuti. Informasi tersebut disampaikan kepada Direksi sebagai penanggung jawab program peningkatan kapabilitas organ pendukung Dewan Komisaris.

7. Program peningkatan kapabilitas yang diikuti oleh setiap anggota Komite Audit dicantumkan dalam laporan tahunan sebagai bagian dari Profil Komite Audit.

2.1.6 Pemberhentian dan Pengunduran Diri Anggota Komite Audit

Ketentuan pemberhentian dan pengunduran diri anggota Komite Audit adalah sebagai berikut:

1. Dewan Komisaris berhak untuk memberhentikan anggota Komite Audit apabila yang bersangkutan dinilai tidak dapat melaksanakan tugas atau melanggar standar etika sebagai anggota komite.

2. Apabila anggota Dewan Komisaris yang menjadi Ketua Komite Audit berhenti sebelum masa tugasnya sebagai anggota Dewan Komisaris Perusahaan, maka Ketua Komite Audit digantikan oleh anggota Komite Audit lainnya yang menjabat sebagai anggota Dewan Komisaris Perusahaan.

3. Seorang anggota Komite Audit dapat mengundurkan diri dengan menyampaikan surat pemberitahuan kepada Dewan Komisaris paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sebelum efektifnya pengunduran diri tersebut.

4. Bila terdapat anggota Komite Audit yang diberhentikan atau mengundurkan diri sebelum masa jabatannya berakhir dan pemberhentian atau pengunduran diri ini mengakibatkan jumlah anggota Komite Audit menjadi kurang dari 3 (tiga) orang, maka Dewan Komisaris harus merekrut atau memilih anggota Komite Audit yang baru dalam waktu tidak lebih dari 7 (tujuh) hari kerja setelah anggota lama diberhentikan secara efektif.

5. Ketua Komite Audit berhak mengusulkan penggantian anggota Komite Audit yang bukan anggota Dewan Komisaris kepada Dewan Komisaris, jika anggota Komite Audit tersebut berakhir masa tugasnya, mengundurkan diri, atau tidak kompeten dalam melaksanakan tugasnya.

6. Informasi mengenai pemberhentian sebagaimana dimaksud di atas dimuat dalam laman (website) Perusahaan.

(10)

6 2.2 Masa Jabatan Anggota Komite Audit

Masa jabatan anggota Komite Audit adalah:

1. Masa jabatan anggota Komite Audit ditentukan untuk jangka waktu 4 (empat) tahun, yaitu terhitung sejak tanggal pengangkatan. Setelah masa jabatannya berakhir, anggota Komite Audit dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.

2. Masa jabatan anggota Dewan Komisaris yang merangkap sebagai Ketua dan/atau anggota Komite Audit adalah sesuai dengan masa jabatan anggota Dewan Komisaris yang ditentukan oleh RUPS.

3. Berakhirnya masa jabatan anggota Komite Audit yang bukan anggota Dewan Komisaris paling lambat adalah 6 (enam) bulan setelah masa jabatan Komisaris berakhir. Hal ini dimaksudkan agar tetap ada kesinambungan pada saat masa kerja Komisaris lama berakhir dengan Komisaris yang baru ditunjuk.

4. Masa jabatan anggota Komite Audit yang diangkat sebagai pengganti anggota Komite Audit yang berhenti sebelum masa jabatannya berakhir, berlaku selama sisa masa jabatan anggota Komite Audit yang digantikannya.

5. Masa jabatan anggota Komite Audit belum diperhitungkan sebagai 1 (satu) periode apabila belum melewati 3 (tiga) tahun.

6. Apabila masa jabatan anggota Komite Audit telah berakhir dan berdasarkan ketentuan tidak memungkinkan untuk diangkat kembali, sementara pada saat yang bersamaan, Dewan Komisaris belum dapat menunjuk anggota Komite Audit yang baru, maka keanggotaan Komite Audit yang lama diperpanjang sampai Dewan Komisaris menunjuk anggota Komite Audit yang baru.

(11)

7 BAB 3

TUGAS, TANGGUNG JAWAB, DAN KEWENANGAN KOMITE AUDIT.

3.1 Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit.

Dalam rangka terselenggaranya GCG, Komite Audit bertugas dan bertanggung jawab mendorong secara berkelanjutan diterapkannya prinsip-prinsip GCG dalam pengelolaan Perusahaan. Dalam menjalankan fungsinya, Komite Audit bertugas untuk memberikan pendapat profesional yang independen kepada Dewan Komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang disampaikan oleh Direksi kepada Dewan Komisaris, mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Dewan Komisaris, dan melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan tugas Dewan Komisaris.

3.1.1 Tugas dan Tanggung Jawab terkait Kegiatan Operasional dan Pelaporan Informasi Keuangan.

1. Melakukan diskusi dengan manajemen mengenai:

a. Pengendalian internal (internal control) terkait penyusunan laporan keuangan;

b. Kesesuaian kebijakan akuntansi Perusahaan dengan standar akuntansi yang berlaku umum;

c. Menelaah transaksi yang besarnya signifikan/material yang dilakukan oleh Perusahaan dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa atau yang terafiliasi dengan Perusahaan (jika ada).

d. Meningkatkan kualitas keterbukaan pelaporan keuangan dan/atau non keuangan.

2. Melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan Perseroan seperti :

a. Melakukan penelaahan dan memberikan rekomendasi atas Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan Perusahaan (RKAT).

b. Laporan keuangan : Tengah Tahunan dan Tahunan.

c. Laporan Triwulanan Realisasi Anggaran dan Penggunaan Laba.

d. Informasi keuangan lainnya.

3. Menelaah pengaduan yang berkaitan dengan proses akuntansi dan pelaporan keuangan Perusahaan.

4. Meningkatkan kualitas keterbukaan pelaporan keuangan dan/atau non-keuangan.

3.1.2 Tugas dan Tanggung Jawab terkait Audit Internal.

1. Melakukan diskusi dengan SPI mengenai temuan-temuan dan isu-isu pengendalian internal dalam proses penyusunan laporan keuangan maupun hasil kajian mereka terhadap laporan keuangan Perseroan.

2. Mengawasi proses audit untuk memastikan bahwa tidak terjadi pembatasan terhadap lingkup audit.

3. Menelaah temuan audit dan tanggapan manajemen terhadap temuan tersebut, dan mengawasi proses tindak lanjut atas hasil temuan tersebut.

4. Dalam hal temuan audit tidak ditindaklanjuti, Komite Audit harus menanyakan alasan keputusan tersebut dan menilai risiko atas tidak ditindaklanjutinya temuan tersebut untuk dikomunikasikan kepada Dewan Komisaris.

5. Melakukan evaluasi kualitas dan kecukupan sumber daya audit internal.

6. Melakukan penilaian kinerja dan efektivitas audit internal, antara lain melalui diskusi dengan manajemen dan Satuan Pemeriksa Internal mengenai temuan-temuan dan isu-isu pengendalian internal dalam proses penyusunan laporan keuangan, maupun hasil kajian Komite Audit terhadap Laporan Keuangan.

(12)

8 7. Mengkaji dan menyetujui rencana, fungsi internal audit, termasuk memberikan rekomendasi

perubahan terhadap rencana audit jika memang diperlukan.

8. Menelaah isi Piagam SPI dan Pedoman GCG.

3.1.3 Tugas dan Tanggung Jawab terkait Manajemen Risiko.

1. Memahami seluruh risiko utama perusahaan, khususnya risiko proses pelaporan keuangan,

2. Mengevaluasi efekfivitas kebijakan dan pelaksanaan manajemen risiko yang telah ditetapkan dan dilaksanakan oleh manajemen,

3. Dalam pelaksanaan proses evaluasi tersebut, Komite Audit:

a. Berhak memperoleh laporan manajemen risiko Perseroan secara berkala.

b. Melakukan diskusi dalam bentuk rapat berkala terkait: identifikasi risiko, pengukuran risiko, pengendalian untuk memitigasi risiko, pemantauan terhadap pelaksanaan pengendalian risiko.

4. Memastikan kepada ERM apakah Prosedur Operasional Standar (POS) dan kebijakan Perseroan telah mengacu pada pedoman manajemen risiko.

3.1.4 Tugas dan Tanggung Jawab terkait Pengendalian Internal.

1. Mengevaluasi kecukupan usaha manajemen dalam menjaga efektivitas pengendalian internal agar informasi keuangan dan operasional dapat diandalkan, proses operasi dapat dilakukan secara efisien dan sesuai tujuan, aset Perseroan dapat dilindungi, dan memastikan tindakan dan keputusan Perseroan telah sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku.

Dalam pelaksanaan proses evaluasi tersebut, Komite Audit :

a. Berhak memperoleh laporan audit internal secara berkala dari SPI untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya kelemahan pengendalian internal.

b. Melakukan diskusi dengan SPI terkait temuan-temuan audit yang berhubungan dengan pengendalian internal Perseroan, termasuk indikasi mengenai kelemahan pengendalian internal, inefisiensi operasi Perseroan, dan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Dalam melakukan tanggungjawab evaluasi pengendalian internal, Komite Audit terlebih dahulu melakukan evaluasi terhadap hal-hal berikut :

a. Pedoman dan arahan yang telah disetujui oleh Direksi mengenai bagaimana aktivitas pengendalian internal di Perseroan harus dilakukan.

b. Perencanaan audit SPI telah menggunakan pendekatan risk based audit

3.1.5 Tugas dan Tanggung Jawab terkait Audit Eksternal.

1. Melakukan seleksi dan memberikan rekomendasi/usulan calon Kantor Akuntan Publik (KAP) sebagai Auditor Eksternal untuk melakukan audit atas laporan keuangan Perseroan.

2. Dalam melakukan seleksi guna memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai Auditor Eksternal, Komite Audit menelaah kompetensi, integritas dan independensi calon Auditor Eksternal.

3. Memberikan usulan mengenai harga jasa Auditor Eksternal.

4. Memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai Auditor Eksternal yang akan diusulkan pada RUPS. Dalam hal penunjukan akuntan publik mengikuti Bursa Efek Indonesia, Komite Audit turut melakukan seleksi dan berkoordinasi dengan Bursa Efek Indonesia. Dalam hal penunjukan akuntan publik tidak mengikuti Bursa Efek Indonesia, maka Komite Audit menyeleksi dan memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai penunjukan calon akuntan publik yang akan

(13)

9 mengaudit laporan keuangan Perusahaan, yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan mengenai ruang lingkup penugasan, imbalan jasa, kompetensi, integritas, dan independensi akuntan publik yang berlaku di Indonesia.

5. Melakukan pertemuan dengan Auditor Eksternal untuk membahas : a. Perencanaan dan lingkup audit.

b. Kejadian-kejadian yang mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan (significant events) yang terjadi selama periode audit, termasuk tuntutan hukum apabila ada.

c. Perubahan penggunaan standar kuntansi yang sifatnya kritikal (berdampak material) yang diterapkan Perseroan.

d. Salah saji yang tidak dikoreksi manajemen dalam laporan keuangan dengan alasan tidak material.

e. Dugaan kecurangan dan penyimpangan peraturan perundangan yang dilakukan oleh manajemen atau karyawan yang berdampak salah saji material dalam laporan keuangan.

f. Hambatan dalam pelaksanaan audit.

g. Koreksi audit yang signifikan.

h. Temuan-temuan audit yang terangkum dalam management letter.

6. Memastikan akuntan publik Perusahaan menerapkan standar audit sesuai ketentuan yang berlaku.

7. Menganalisis kecukupan pemeriksaan yang dilakukan oleh akuntan publik untuk memastikan semua risiko penting telah dipertimbangkan.

8. Menelaah laporan keuangan yang telah diaudit oleh Auditor Eksternal sebelum laporan keuangan.

9. Memfasilitasi keterbukaan komunikasi antara Auditor Eksternal, Manajemen, SPI dan Direksi.

10. Melakukan kajian (bersama dengan Auditor Eksternal) terhadap permasalahan yang terjadi selama pelaksanaan audit. Termasuk juga memfasilitasi pemecahan masalah antara Auditor Eksternal dengan Manajemen jika terjadi perbedaan pendapat selama pelaksanaan audit. Perbedaan pendapat yang terjadi bisa berupa: penerapan standar akuntansi, lingkup audit, pengungkapan dalam laporan keuangan dan redaksi yang digunakan auditor dalam laporan audit.

11. Memastikan bahwa temuan-temuan audit ditindaklanjuti dan terdapat mekanisme yang efektif dalam menindaklanjuti temuan tersebut.

12. Dalam hal temuan audit tidak ditindak- lanjuti, Komite Audit harus meminta alasan keputusan tersebut dan menilai risiko atas tidak ditindaklanjutinya temuan tersebut untuk disampaikan kepada Dewan Komisaris.

13. Melakukan evaluasi terhadap kinerja Auditor eksternal dan melaporkan kepada Dewan Komisaris.

14. Memberikan masukan kepada Direksi dan/atau Dewan Komisaris atas penggunaan jasa non-audit yang akan ditugaskan kepada Auditor Eksternal.

15. Memberikan usulan terkait dengan pemberhentian Auditor Eksternal apabila Auditor Eksternal tersebut dalam pelaksanaan tugasnya tidak memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku.

3.1.6 Tugas dan Tanggung Jawab terkait Kepatuhan terhadap Peraturan Perundangan-undangan.

1. Komite Audit melakukan pengawasan kepatuhan terhadap peraturan dan perundangan yang berhubungan dengan penyampaian laporan keuangan.

2. Melakukan penelaahan atas pengaduan mengenai pelaporan keuangan.

3.1.7 Tugas dan Tanggung Jawab terkait Benturan Kepentingan dan Pelaporan Pelanggaran (Whistleblowing System).

1. Melakukan penelaahan pengaduan mengenai pelaporan keuangan.

(14)

10 2. Menelaah dan memberikan saran kepada Dewan Komisaris terkait dengan adanya potensi benturan

kepentingan.

3. Jika diminta oleh Dewan Komisaris, melakukan investigasi lanjutan terkait dengan pengaduan dan keluhan yang ditujukan ke Perusahaan.

3.1.8 Tugas Menjaga Praktik Tata Kelola Perusahaan.

1. Berkoordinasi dengan SPI untuk mengetahui bahwa kebijakan, ketentuan, sistem, dan prosedur serta kegiatan usaha yang dilakukan telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Berkoordinasi dengan SPI untuk mengetahui terlaksananya budaya kepatuhan (compliance culture) pada semua tingkatan organisasi dan kegiatan usaha.

3. Berkoordinasi dengan SPI untuk mengetahui praktik-praktik tata kelola yang telah berjalan di Perusahaan berdasarkan Pedoman Tata Kelola Perusahaan dan GCG Implementation Roadmap, serta memantau kemajuan pencapaiannya.

3.1.9 Tugas Khusus.

1. Melaksanakan tugas khusus yang diberikan oleh Dewan Komisaris berdasarkan peraturan perundang- undangan yang berlaku.

2. Pelaksanaan tugas khusus Komite Audit antara lain dapat dilakukan melalui :

a. Melakukan penelaahan terhadap semua pencatatan, dokumen, dan informasi lainnya yang diperlukan, termasuk risalah rapat Direksi dan Dewan Komisaris.

b. Mengajukan pertanyaan kepada Direksi dan stafnya yang hasilnya dituangkan dalam risalah rapat tanya jawab yang ditandatangani oleh pihak terkait.

c. Jika dianggap perlu, melakukan audit investigasi yang dilaksanakan melalui kerjasama dengan SPI dan/atau dengan akuntan publik.

3.2 Kewenangan Komite Audit.

1. Memperoleh akses secara penuh, bebas dan tidak terbatas terhadap catatan atau informasi mengenai karyawan, dana, aset serta sumber daya Perseroan lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan tugasnya.

2. Memperoleh data, laporan, rangkuman laporan, dokumen, dan informasi keuangan serta informasi operasional Perusahaan lainnya atas nama Dewan Komisaris secara berkala yang berkaitan dengan pengawasan pengendalian internal dan manajemen risiko, bekerja sama dengan fungsi internal audit dan manajemen risiko.

3. Dalam melaksanakan tugasnya yang berkaitan dengan pengawasan pengendalian internal dan manajemen risiko, Komite Audit bekerja sama dengan fungsi internal audit dan manajemen risiko.

4. Komite Audit atas nama Dewan Komisaris menerima rangkuman laporan yang diterbitkan oleh SPI.

5. Berkomunikasi langsung dengan karyawan, termasuk Direksi dan pihak yang menjalankan fungsi audit internal, manajemen risiko, dan akuntan publik terkait tugas dan tanggung jawab Komite Audit.

6. Apabila diperlukan, dengan persetujuan tertulis Dewan Komisaris, Komite Audit dapat membentuk suatu tim yang bersifat adhoc. Kriteria dan periode penugasannya disesuaikan dengan jenis pekerjaannya.

(15)

11 7. Menelaah dan mengusulkan revisi isi Piagam Komite Audit untuk kemudian disetujui oleh Dewan

Komisaris.

8. Memberikan persetujuan awal (pre-approval) terhadap jasa non audit laporan keuangan yang akan ditugaskan kepada kantor akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan perusahaan sepanjang tidak memengaruhi independensi kantor akuntan publik tersebut.

9. Apabila diperlukan, dengan persetujuan tertulis Dewan Komisaris, Komite Audit dapat memperkerjakan tenaga ahli dan/ atau konsultan untuk membantu Komite Audit.

10. Jika diperlukan, dapat mengundang pihak lain sebagai narasumber dalam rapat Komite Audit.

11. Melakukan kewenangan lain yang diberikan oleh Dewan Komisaris.

(16)

12 BAB 4

MEKANISME KERJA KOMITE AUDIT

4.1 Rapat Komite Audit.

4.1.1 Pelaksanaan Rapat Komite Audit.

Tata cara pelaksanaan rapat Komite Audit adalah sebagai berikut:

1. Komite Audit menjadwalkan rapat untuk tahun berikutnya sebelum berakhirnya tahun buku berjalan atau pada awal periode tahun buku berikutnya.

2. Rapat diselenggarakan secara berkala paling sedikit sekali dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan. Selain rapat berkala tersebut, Komite Audit dapat menyelenggarakan rapat lain bilamana dipandang perlu.

3. Rapat khusus diselenggarakan berdasarkan undangan dan agenda yang sudah disepakati sebelum rapat dilakukan.

4. Rapat dapat dilangsungkan jika dihadiri sekurang-kurangnya lebih dari ½ (satu per dua) jumlah anggota Komite.

5. Rapat diselenggarakan di tempat kegiatan usaha Perusahaan atau tempat yang disepakati bersama.

6. Setiap rapat dikoordinir oleh Ketua Komite Audit atau anggota Komite Audit lain yang ditunjuk oleh Ketua Komite Audit.

7. Pemanggilan rapat dilakukan oleh Ketua Komite Audit atau anggota Komite Audit lainnya jika Ketua Komite Audit berhalangan.

8. Pemanggilan rapat dilakukan sebelum rapat diadakan dan disampaikan kepada anggota Komite Audit secara tertulis.

9. Pemanggilan rapat mencantumkan agenda, tanggal, waktu, dan tempat rapat.

10. Bahan rapat diupayakan untuk disampaikan kepada peserta rapat sebelum rapat diselenggarakan.

11. Dalam hal terdapat rapat yang diselenggarakan diluar jadwal yang telah disusun, bahan rapat disampaikan kepada peserta rapat paling lambat pada saat rapat diselenggarakan.

12. Rapat dihadiri oleh anggota Komite Audit dan peserta rapat lainnya yang diundang oleh Komite Audit dan disesuaikan berdasarkan agenda rapat.

13. Jika dipandang perlu, rapat Komite Audit dapat dihadiri oleh Dewan Komisaris.

14. Setiap anggota Komite Audit diberi kebebasan seluas-luasnya untuk menyampaikan pendapat profesionalnya dalam pembahasan setiap agenda rapat tanpa intervensi siapapun.

15. Pertemuan antara Komite Audit dan akuntan publik tanpa kehadiran Direksi dilaksanakan paling sedikit sekali dalam 1 (satu) tahun.

16. Pertemuan antara Komite Audit dan Satuan Pemeriksa Internal (SPI) tanpa kehadiran manajemen dilaksanakan paling sedikit sekali dalam 1 (satu) tahun.

17. Anggota Dewan Komisaris yang bukan anggota Komite Audit dapat menghadiri rapat komite sebagai peninjau yang tidak memiliki hak suara pengambilan keputusan dalam rapat.

18. Rapat dipimpin oleh Ketua Komite Audit. Apabila Ketua Komite Audit berhalangan hadir maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang ditunjuk. Untuk rapat dengan Dewan Komisaris dipimpin oleh Komisaris Utama atau pihak yang telah ditunjuk.

19. Anggota Komite Audit yang tidak dapat hadir dalam rapat memberitahukan alasan ketidakhadirannya secara tertulis kepada Ketua Komite Audit atau anggota Komite Audit lainnya yang berperan sebagai pimpinan rapat.

(17)

13 20. Apabila semua anggota Komite Audit hadir atau diwakili, pemanggilan terlebih dahulu tidak disyaratkan dan rapat komite dapat diselenggarakan dimanapun juga dan berhak mengambil keputusan yang sah dan mengikat.

21. Rapat dapat diselenggarakan secara fisik atau virtual melalui media teleconference, video conference, atau sarana media elektronik lainnya yang memungkinkan semua peserta rapat saling melihat dan/atau mendengar secara langsung serta berpartisipasi dalam rapat. Jumlah anggota Komite Audit yang ikut serta dianggap telah hadir dengan tetap memperhatikan terpenuhinya persyaratan kuorum dalam pemungutan suara atau keputusan.

4.1.2 Pengambilan Keputusan Komite Audit.

Tata cara pengambilan keputusan pada rapat Komite Audit adalah sebagai berikut:

1. Keputusan rapat diambil melalui musyawarah mufakat. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah mufakat tidak tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak.

2. Dalam hal keputusan rapat diambil melalui mekanisme pengambilan suara terbanyak (voting), keputusan dianggap sah apabila disetujui oleh lebih dari ½ (satu per dua) jumlah anggota komite yang hadir.

3. Keputusan yang diambil berdasarkan suara terbanyak didasarkan pada prinsip 1 (satu) orang 1 (satu) suara. Dalam hal anggota komite tidak memberikan suara (abstain), maka yang bersangkutan mengikuti dan turut bertanggungjawab atas hasil keputusan rapat.

4. Suara blangko dan suara yang tidak sah dianggap tidak dikeluarkan secara sah dan dianggap tidak ada serta tidak dihitung dalam menentukan jumlah suara yang dikeluarkan.

5. Komite Audit dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan rapat, dengan ketentuan semua anggota komite memberikan persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis serta menandatangani persetujuan tersebut. Keputusan yang diambil dengan cara demikian mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil dengan sah dalam rapat.

6. Hasil rapat mengikat seluruh anggota komite.

4.1.3 Risalah Rapat Komite Audit

Ketentuan mengenai risalah rapat Komite Audit adalah sebagai berikut:

1. Setiap rapat dibuatkan risalah rapat. Setiap pengambilan keputusan harus dituangkan dalam Berita Acara yang ditandatangani oleh seluruh peserta rapat yang hadir. Dalam keadaan yang bersifat segera (urgent), risalah rapat dapat disampaikan dan disetujui melalui media elektronik.

2. Risalah rapat dibuat oleh salah seorang yang hadir dalam rapat yang ditunjuk oleh ketua rapat dan risalah rapat tersebut disampaikan kepada Dewan Komisaris.

3. Risalah rapat dan Berita Acara keputusan rapat yang diselenggarakan dengan menggunakan media teleconference, video conference, atau sarana media elektronik lainnya dibuat secara tertulis dan diedarkan kepada seluruh anggota komite untuk diperiksa dan disetujui.

4. Risalah rapat setidaknya memuat:

a. Tempat dan tanggal rapat;

b. Agenda rapat;

c. Peserta rapat yang hadir;

d. Pokok-pokok permasalahan yang dibahas pada rapat (jika ada);

e. Proses pengambilan keputusan terhadap permasalahan yang dibahas (jika ada);

(18)

14 f. Pendapat-pendapat yang berkembang dalam rapat, perbedaan pendapat (dissenting opinion) yang terjadi pada saat proses pengambilan keputusan serta alasan perbedaan pendapatnya, keputusan/kesimpulan rapat, serta alasan ketidakhadiran anggota komite (jika ada);

g. Keputusan-keputusan yang diambil; dan h. Tanda tangan peserta rapat.

5. Risalah rapat adalah dokumen rahasia Perusahaan. Dokumen ini dipelihara dan disimpan oleh Komite Audit. Risalah tersebut harus tersedia bila diminta oleh setiap anggota komite. Pihak lain dapat memperoleh risalah rapat hanya jika mendapat persetujuan tertulis dari Ketua Komite Audit.

6. Risalah rapat disampaikan kepada seluruh peserta rapat sebelum pelaksanaan rapat berikutnya untuk mendapatkan persetujuan atau penolakan dan pengajuan revisi (jika ada). Apabila tidak terdapat penolakan dan pengajuan revisi dalam waktu yang telah ditentukan, yakni 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak tanggal pengiriman Risalah Rapat, dapat disimpulkan tidak terdapat penolakan atas risalah rapat tersebut. Komite Audit yang tidak hadir tidak dapat merubah risalah rapat.

7. Risalah rapat yang telah disetujui paling lambat ditandatangani oleh seluruh peserta rapat dan dibagikan kepada seluruh anggota komite pada penyelenggaraan rapat berikutnya.

8. Setiap anggota komite berhak mendapatkan salinan risalah rapat, meskipun yang bersangkutan tidak hadir dalam rapat tersebut.

9. Apabila terdapat Anggota Komite Audit yang tidak hadir dan tidak setuju atau keberatan atas Risalah Rapat sebelumnya, dapat disampaikan dalam rapat Komite Audit berikutnya.

4.2 Hubungan Kerja Komite Audit dengan Pihak-pihak Terkait.

4.2.1 Hubungan Kerja Komite Audit dengan Dewan Komisaris.

Hubungan kerja Komite Audit dengan Dewan Komisaris adalah sebagai berikut:

1. Komite Audit sebagai perangkat Komisaris mempunyai hubungan langsung dengan Dewan Komisaris, baik dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab maupun kewenangannya.

2. Komite Audit melakukan pertemuan rutin dengan Dewan Komisaris paling sedikit sekali dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan untuk membahas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Komite Audit.

3. Komite Audit dapat melakukan pertemuan maupun berkomunikasi dengan Dewan Komisaris di luar jadwal rutin, bila diperlukan, untuk membahas mengenai hal-hal yang penting yang membutuhkan perhatian Dewan Komisaris.

4.2.2 Hubungan Kerja Komite Audit dengan Dewan Direksi.

Hubungan kerja Komite Audit dengan Direksi adalah sebagai berikut:

1. Hubungan kerja Direksi dengan Komite Audit bersifa1t tidak langsung karena Komite Audit dibentuk oleh Dewan Komisaris.

2. Komite Audit memperoleh dukungan Direksi melalui pemberian arahan, perintah, serta koordinasi dengan organ-organ dibawahnya untuk mendukung efektivitas dan kelancaran tugas dan tanggung jawab Komite Audit terutama dalam hal menyediakan dan mempersiapkan berbagai data serta informasi yang diperlukan.

4.2.3 Hubungan Kerja Komite Audit dengan SPI.

Hubungan kerja Komite Audit dengan SPI adalah sebagai berikut:

1. Komite Audit dan SPI merupakan komponen struktur pengawas sistem pengendalian internal Perusahaan.

(19)

15 2. Komite Audit berkoordinasi dengan SPI mengenai rencana kerja masing-masing sehingga tidak terjadi

duplikasi tugas pengawasan.

3. Komite Audit melakukan pertemuan paling sedikit sekali dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan dengan SPI untuk membahas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab SPI termasuk temuan dan rekomendasi yang dihasilkan serta tindaklanjutnya, bila ada. Serta isu terkini yang berdampak pada Perusahaan antara lain terkait standar akuntansi keuangan, audit internal, dan manajemen risiko. … KOLABORASI 3 & 5.

4. Komite Audit dapat melakukan pertemuan maupun berkomunikasi dengan Kepala SPI di luar jadwal yang telah ditetapkan, bila terdapat permasalahan penting yang perlu segera didiskusikan dengan Kepala SPI.

5. Komite Audit menerima dan menindaklanjuti pelaporan dari SPI yang mencakup:

a. Penyampaian Piagam SPI dan perubahannya jika ada.

b. Penyampaian informasi tentang status kasus yang sedang diinvestigasi.

c. Pelanggaran atau indikasi pelanggaran yang material atas sistem operasional dan pengendalian internal Perusahaan.

6. Komite Audit memberikan dukungan penuh kepada SPI agar SPI mempunyai tingkat independensi yang penuh terhadap divisi yang diperiksa dengan cara melindungi penugasan audit internal dari campur tangan dan/atau pembatasan ruang lingkup audit internal oleh divisi maupun manajemen divisi yang diperiksa.

7. Komite Audit menindaklanjuti laporan dari Direksi mengenai pengangkatan dan pemberhentian kepala SPI.

4.2.4 Hubungan Kerja Komite Audit dengan Unit Manajemen Risiko Korporasi.

1. Komite Audit melakukan pertemuan paling sedikit sekali dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan dengan Divisi Managemen Risiko Korporasi (MRK) untuk membahas rekomendasi serta pelaksanaan tugas dan tanggung jawab MRK sehubungan dengan identifikasi risiko, pengukuran risiko, pengendalian untuk memitigasi risiko, dan pemantauan terhadap pelaksanaan pengendalian risiko.

2. Komite Audit dapat melakukan pertemuan maupun berkomunikasi dengan MRK diluar jadwal yang telah ditetapkan, bila terdapat permasalahan penting yang ingin segera ditanyakan.

4.2.5 Hubungan Kerja Komite Audit dengan Akuntan Publik.

Hubungan kerja Komite Audit dengan akuntan publik adalah sebagai berikut:

1. Hubungan Komite Audit dengan akuntan publik terwujud melalui rapat-rapat dan diskusi selama masa penugasan audit berlangsung.

2. Komite Audit melakukan pembahasan bersama akuntan publik terkait ruang lingkup kerja akuntan publik, program audit, pelaksanaan audit, dan temuan audit.

3. Komite Audit melakukan penelaahan terhadap laporan hasil audit yang disampaikan oleh akuntan publik.

4. Apabila diminta atau diperlukan oleh Komite Audit, akuntan publik dapat memberikan bantuan untuk melaksanakan audit investigasi.

4.3 Penilaian Kinerja Komite Audit 4.3.1 Pelaksanaan Penilaian

1. Komite Audit melakukan self assessment pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya menjelang setiap akhir tahun.

(20)

16 2. Dewan Komisaris melakukan penilaian kinerja Komite Audit sekurang– kurangnya menjelang masa kerja Komite berakhir, baik secara kolektif maupun individu. Hasil penilaian kinerja Komite merupakan salah satu masukan dalam pemilihan anggota - anggota Komite Audit di periode berikutnya.

3. Hasil penilaian kinerja Komite Audit dapat menjadi salah satu dasar masukan dalam pemilihan anggota-anggota Komite Audit di periode berikutnya

4.3.2 Kriteria Penilaian.

Dewan Komisaris mengembangkan kriteria penilaian kinerja, baik secara kolektif maupun individual, dengan mengacu pada tugas dan tanggung jawab Komite Audit yang diatur dalam Piagam ini

4.4 Pelaporan dan Pertanggungjawaban Komite Audit

Ketentuan atas pelaporan dan pertanggungjawaban Komite Audit adalah sebagai berikut:

1. Komite Audit bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris.

2. Komite Audit wajib menyampaikan laporan hasil penelaahan kepada Dewan Komisaris dengan segera.

Laporan hasil penelaahan tersebut berisi penelaahan atas laporan/pengaduan yang berkaitan dengan proses akuntansi dan pelaporan keuangan, potensi benturan kepentingan, dan pelaksanaan tugas khusus. Laporan tersebuat memuat setidaknya temuan, analisis, kesimpulan, dan saran/rekomendasi.

3. Komite Audit wajib membuat laporan tahunan pelaksanaan kegiatan Komite Audit yang merupakan bagian dari implementasi Good Corporate Governance (GCG) dalam laporan tahunan Perusahaan. Isi laporan tahunan tersebut merupakan laporan kegiatan Komite Audit sesuai dengan Piagam ini.

4. Seluruh laporan yang dibuat oleh Komite Audit harus ditandatangani oleh Ketua Komite Audit.

4.5 Gaji/Honorarium dan Biaya Kegiatan

Ketentuan mengenai gaji/honorarium dan biaya kegiatan Komite Audit adalah sebagai berikut:

1. Gaji/honorarium, tunjangan, dan fasilitas anggota Komite Audit yang bukan merupakan anggota Dewan Komisaris ditetapkan oleh Dewan Komisaris dengan mempertimbangkan usulan Komite Remunerasi (jika ada).

2. Biaya-biaya yang timbul berkenaan dengan kegiatan Komite Audit, antara lain biaya administrasi dan umum dan biaya pelatihan dibebankan pada anggaran Perusahaan.

(21)

17 BAB 5

ETIKA KERJA KOMITE AUDIT

Anggota Komite Audit wajib mentaati standar etika sebagai berikut : 1. Integritas.

Komite Audit diharuskan memiliki komitmen dalam melaksanakan tugasnya yang didasarkan pada iktikad baik, tegas, dan jujur.

2. Objektivitas.

a. Komite Audit wajib menghindari adanya, atau hal-hal yang dapat mengakibatkan benturan kepentingan dalam melaksanakan tugasnya.

b. Komite Audit harus bersikap tidak memihak dalam setiap pengambilan keputusan.

3. Kompetensi Profesional.

Komite Audit wajib memelihara pengetahuan dan keahlian profesional secara berkesinambungan agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

4. Keseksamaan.

Komite Audit wajib melaksanakan tugasnya dengan penuh kehati-hatian dan tanggung jawab 5. Kerahasiaan.

Komite Audit wajib menjaga kerahasiaan dokumen, data dan informasi Perusahaan yang diperoleh sewaktu melaksanakan tugasnya, yang bukan untuk konsumsi publik.

6. Perilaku profesional.

a. Komite Audit dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dilarang mengambil keuntungan pribadi baik secara langsung maupun tidak langsung dari kegiatan Perseroan selain honorarium berikut tunjangan dan fasilitas lainnya.

b. Komite Audit harus mematuhi peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugasnya, serta menghindari setiap tindakan yang diketahui atau seharusnya diketahui, yang akan mendiskreditkan citra sebagai Komite Audit.

(22)

18 BAB 6

PENUTUP 6.1 Masa Berlaku

Piagam Komite Audit ini ditetapkan di Jakarta dan berlaku efektif sejak tanggal penandatanganannya.

6.2 Evaluasi dan Penyempurnaan

Piagam Komite Audit ini akan dievaluasi secara periodik dan dilakukan revisi untuk penyempurnaan agar fungsi Komite Audit dapat berjalan secara optimal, serta selalu mencerminkan praktik tata kelola perusahaan yang baik dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(23)

19 LEMBAR PESETUJUAN KOMISARIS

Disahkan di : Jakarta Tanggal : 20 Desember 2021

PT KLIRING PENJAMINAN EFEK INDONESIA

Ronald Waas Komisaris Utama

Abraham Bastari Komisaris

Margeret M Tang Komisaris

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perkuatan taha pasir dengan membandingkan daya dukung tanah pasir tanpa perkuatan dibandingkan tanah pasir

Dari hasil perhitungan angket terdapat responden yang penggunaan handphone selain untuk bekomunikasi yaitu digunakan untuk komunikasi dan mengerjakan

Penutur bertanya “ you buat apa kat sini?” kepada pendengar, namun dia secara tidak langsung telah menyatakan perasaannya kepada penutur “saya rindu sama kamu”. Namun,

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA

Pembelajaran dimulai dengan penyajian masalah yang bersifat open open open----ended open ended ended ended (atau illillillill----structured structured structured structured

Data primer dalam penelitian ini meliputi identitas responden (nama, umur, istri, jumlah anak); biaya; penerimaan dan keuntungan dari usahatani carica dalam proses

Profitability index atau Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) adalah perbandingan antara nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang

Hasil penelitian setelah dilakukan perancangan ulang alat parut kelapa sistem engkol menunjukkan bahwa rancangan alat parut kelapa sistem engkol yang berbasis