• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN DAN LAJU EKSPLOITASI IKAN PARI TUKA-TUKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERTUMBUHAN DAN LAJU EKSPLOITASI IKAN PARI TUKA-TUKA"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

PERTUMBUHAN DAN LAJU EKSPLOITASI IKAN PARI TUKA-TUKA (Brevitrygon heterura) YANG DIDARATKAN DI TEMPAT

PELELANGAN IKAN (TPI) TANJUNG BERINGIN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

PROVINSI SUMATERA UTARA

SKRIPSI

OLEH :

MARGARETTA NABABAN 170302029

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2022

(2)

PERTUMBUHAN DAN LAJU EKSPLOITASI IKAN PARI TUKA-TUKA (Brevitrygon heterura) YANG DIDARATKAN DI TEMPAT

PELELANGAN IKAN (TPI) TANJUNG BERINGIN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

PROVINSI SUMATERA UTARA

SKRIPSI

OLEH :

MARGARETTA NABABAN 170302029

Skripsi Sebagai Salah Satu Diantara Beberapa Syarat untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan,

Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2022

(3)
(4)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Margaretta Nababan

NIM : 170302029

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pertumbuhan dan Laju Eksploitasi Ikan Pari Tuka-Tuka (Brevitrygon heterura) yang Didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara” adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada Perguruan Tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dan tidak diterbitkan dari penulis lain dan telah disebutkan dalam teks serta dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Medan, Januari 2022

Margaretta Nababan

(5)

i

ABSTRAK

MARGARETTA NABABAN. Pertumbuhan dan Laju Eksploitasi Ikan Pari Tuka- Tuka (Brevitrygon heterura) yang Didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara. Dibawah Bimbingan DESRITA.

TPI Tanjung Beringin adalah salah satu TPI yang ada di Kabupaten serdang Bedagai. Salah satu komoditas ikan yang didaratkan di TPI Tanjung Beringin adalah Family Dasyatidae atau ikan pari. Jenis ikan pari yang dominan didaratkan di TPI Tanjung Beringin adalah ikan pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura) atau yang biasa disebut tuka-tuka oleh masyarakat sekitar. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai Oktober di TPI Tanjung Beringin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan laju eksploitasi ikan pari tuka-tuka.

Ikan pari tuka-tuka yang diperoleh adalah sebanyak 112 ekor yang kemudian diukur panjang dan bobotnya. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ikan pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura) yang didaratkan di TPI Tanjung Beringin memiliki pola pertumbuhan yang bersifat allometrik negatif yaitu pertumbuhan panjang lebih besar daripada pertumbuhan bobot. Laju eksploitasi ikan pari tuka- tuka adalah sebesar 0,701 per tahun dimana status eksploitasi ikan pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura) di Perairan Selat Malaka tergolong overfishing atau tangkap lebih.

Kata Kunci : Ikan Pari Tuka-Tuka (Brevitrygon heterura), Pertumbuhan, Laju Eksploitasi, TPI Tanjung Beringin

(6)

ii

ABSTRACT

MARGARETTA NABABAN. Growth and Exploitation Rate of Dwarf Whipray (Brevitrygon heterura) Landed at TPI Tanjung Beringin Serdang Bedagai Regency North Sumatera Province. Under the Guidance of DESRITA.

TPI Tanjung Beringin is one of the TPI in Serdang Bedagai Regency. One of the fish commodities that landed at TPI Tanjung Beringin is Family Dasyatidae or stingrays. The dominant type of stingray that landed at TPI Tanjung Beringin is the dwarf whipray (Brevitrygon heterura) or commonly called the tuka-tuka by the local community. This research was conducted from July to October at TPI Tanjung Beringin. This study aims to determine the growth and exploitation rate of the dwarf whipray. There were 112 dwarf whipray, which were then measured for length and weight. The results of the study concluded that the dwarf whipray (Brevitrygon heterura) which landed at TPI Tanjung Beringin had a negative allometric growth pattern, namely length growth was greater than weight growth.

The exploitation rate of the dwarf whipray is 0.701 per year which the exploitation status of the dwarf whipray (Brevitrygon heterura) in the waters of the Malacca Strait is classified as overfishing.

Keywords : Dwarf whipray (Brevitrygon heterura), Growth, Exploitation Rate TPI Tanjung Beringin

(7)

iii

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Simarimbun, kota Pematangsiantar pada tanggal 19 September 1999.

Anak dari pasangan Bapak Jonson H. Nababan dan Ibu Ida Hasibuan, yang merupakan anak kedua dari 4 bersaudara.

Pendidikan formal pertama diawali di SD Swasta HKI Simarimbun pada tahun 2005-2011.

Bersamaan dengan berakhirnya pendidikan dasar, penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 5 Pematangsiantar dan selesai tahun 2014. Kemudian pada tahun yang sama, penulis melanjutkan pendidikan di SMA Swasta Teladan Pematangsiantar dan selesai pada tahun 2017. Pada tahun 2017, penulis melanjutkan pendidikan S-1 di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur SBMPTN.

Pada tahun 2020, penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sei Kama II, Kecamatan Sei Dadap, Kabupaten Asahan dan selanjutnya penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Balai Benih dan Budidaya Ikan Kota Medan. Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah menjadi asisten Laboratorium Planktonologi di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara

(8)

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul

“Pertumbuhan dan Laju Eksploitasi Ikan Pari Tuka-Tuka (Brevitrygon heterura) yang Didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara“.

Skripsi ini disusun sebagai satu dari beberapa syarat untuk menddapatkan gelar sarjana pada Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Kedua orangtua tercinta, Bapak Jonson H. Nababan dan Ibu Ida Hasibuan yang telah merawat, membesarkan, serta yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan kepada penulis.

2. Kakak dan adik-adik terkasih, Ros Febrina S.E, Andre Kristian Nababan, dan Amelia Nababan yang selalu memberikan doa dan dukungan kepada penulis.

3. Keluarga besar Nababan dan Hasibuan khususnya Bapauda Juliven Nababan dan Nanguda Minar Siahaan yang selalu memberi dukungan berupa moril maupun materiil kepada penulis.

4. Ibu Desrita, S.Pi, M,Si selaku Ketua Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan dan sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan banyak masukan, ilmu, arahan, dan bimbingan kepada penulis.

(9)

v

5. Ibu Dr. Eri Yusni, M.Sc dan Ibu Ipanna Enggar Susetya, S.Kel, M.Si selaku dosen penguji yang telah memberikan banyak masukan dan bimbingan kepada penulis.

6. Ibu Astrid Fauzia Dewinta, S.St.Pi, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan dan dosen pembimbing akademik penulis beserta Bapak/Ibu dosen dan pegawai tata usaha Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan.

7. Tim penelitian Talenta 2021, Ibu Vindy Rilani Manurung S.Pi, M.P dan Syahnaz Friska Putri Nasution beserta semua pihak yang telah membantu penulis selama penelitian di TPI Tanjung Beringin.

8. Sahabat-sahabat terkasih, Blackpink Squad: Valencia Hutajulu, Windi Fanni Nopelita Sinaga, dan Domintan Nainggolan yang telah menemani dan mendukung penulis selama masa kuliah.

9. Teman-teman seperjuangan MSP Angkatan 2017.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih jauh dari sempurna.

Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih. Penulis mengharapkan skripsi ini dapat bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan dan kiranya Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada kita.

Medan, Januari 2022

Penulis

(10)

vi

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Rumusan Masalah ... 2

Tujuan Penelitian ... 3

Manfaat Penelitian ... 3

Kerangka Pemikiran ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Ikan Pari Tuka-Tuka (Brevitrygon heterura)... 5

Morfologi Ikan Pari Tuka-Tuka (Brevitrygon heterura) ... 6

Habitat dan Penyebaran Pari Tuka-Tuka (Brevitrygon heterura) .... 8

Pertumbuhan ... 8

Hubungan Panjang Bobot ... 10

Faktor Kondisi ... 11

Mortalitas dan Laju Eksploitasi ... 12

METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat ... 14

Alat dan Bahan ... 14

Prosedur Penelitian... 15

Analisis Data ... 15

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Rasio Kelamin ... 21

Sebaran Frekuensi Panjang ... 22

Hubungan Panjang ... 23

Faktor Kondisi ... 25

Mortalitas dan Laju Eksploitasi ... 26

Pembahasan Morfologi Ikan Pari Tuka-Tuka (Brevitrygon heterura) ... 27

Rasio Kelamin ... 28

Sebaran Frekuensi Panjang ... 30

(11)

vii

Hubungan Panjang Bobot ... 31

Faktor Kondisi ... 32

Mortalitas dan Laju Eksploitasi ... 33

Rekomendasi Pengelolaan ... 34

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 36

Saran ... 36 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(12)

viii

DAFTAR GAMBAR

No. Teks Halaman

1. Kerangka Pemikiran ... 3

2. Ikan Pari Tuka-Tuka (Brevitrygon heterura) ... 4

3. Lokasi Penelitian ... 10

4. Histogram Sebaran Frekuensi Panjang Ikan Pari Tuka - Tuka Jantan dan Betina Selama Penelitian ... 22

5. Histogram Sebaran Frekuensi Panjang Ikan Pari Tuka - Tuka Berdasarkan Bulan Pengamatan ... 23

6. Grafik Hubungan Panjang dan Bobot Ikan Pari Tuka - Tuka Jantan dan Betina ... 24

7. Grafik Hubungan Panjang dan Bobot Ikan Pari Tuka-Tuka Jantan ... 25

8. Grafik Hubungan Panjang dan Bobot Ikan Pari Tuka-Tuka Betina .. 25

9. Morfologi Ikan Pari Tuka-Tuka ... 27

10. Alat Kelamin Ikan Pari Tuka-Tuka Jantan dan Betina ... 28

(13)

ix

DAFTAR TABEL

No. Teks Halaman

1. Rasio Kelamin Ikan Pari Tuka-Tuka... 21

2. Hubungan Panjang dan Bobot Ikan Pari Tuka-Tuka ... 25

3. Nilai Faktor Kondisi Ikan Pari Tuka-Tuka ... 26

4. Mortalitas dan Laju Eksploitasi Ikan Pari Tuka-Tuka ... 26

(14)

x

DAFTAR LAMPIRAN

No. Teks Halaman

1. Alat dan Bahan ... 41

2. Kegiatan Penelitian ... 42

3. Sebaran Panjang Ikan Pari Tuka-Tuka ... 43

3. Analisis Regresi Ikan pari Tuka-Tuka ... 44

4. Mortalitas dan Laju Eksploitasi ... 46

5. Suhu Permukaan Laut ... 47

(15)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sektor perikanan dan kelautan merupakan salah satu sektor ekonomi yang memiliki peranan dalam pembangunan ekonomi nasional, khususnya dalam penyediaan bahan pangan protein, perolehan devisa, dan penyediaan lapangan kerja (Nurlina, 2018). Perikanan dan kelautan adalah sektor penting bagi masyarakat pesisir di Kabupaten Serdang Bedagai. Kabupaten ini memiliki potensi cukup besar di bidang perikanan, seperti perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan perairan umum.

Salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Serdang Bedagai adalah Kecamatan Tanjung Beringin. Kecamatan ini berbatasan dengan Selat Malaka serta merupakan sentra produksi perikanan di Kabupaten Serdang Bedagai.

Terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) untuk mendukung produksi perikanan di daerah tersebut. TPI merupakan salah satu fungsi utama dalam kegiatan perikanan dan juga merupakan salah satu faktor yang menggerakkan dan meningkatkan usaha dan kesejahteraan. Peranan TPI ini adalah sebagai tempat untuk mendaratkan hasil tangkapan nelayan serta untuk melelang atau menjual berbagai jenis ikan dan biota laut yang ditangkap oleh nelayan yang diadakan setiap hari.

Salah satu kelompok ikan yang memiliki potensi ekonomi tinggi yang didaratkan di TPI Tanjung beringin adalah ikan-ikan anggota Famili Dasyatidae.

Menurut data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi ikan pari di provinsi Sumatera Utara tergolong tinggi jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia. Data produksi pada tahun 2016 menunjukkan bahwa hasil tangkapan ikan pari adalah sebesar 6.359 ton, kemudian mengalami penurunan di

(16)

2

tahun 2017 menjadi 536,81 ton. Kemudian, tahun 2018 terjadi peningkatan produksi hasil tangkapan ikan pari yang cukup drastis yaitu sebesar 22.868,47 ton.

Pada tahun 2019 dan 2020, produksi ikan pari kembali mengalami penurunan yaitu masing-masing sebesar 17.357,87 ton dan 6.351,39 ton.

Jenis ikan pari yang dominan didaratkan di TPI Tanjung Beringin adalah ikan pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura) atau yang biasa disebut tuka-tuka oleh masyarakat sekitar. Tuka-tuka merupakan salah satu ikan yang diminati oleh masyarakat di daerah tersebut. Hal ini dikarenakan cita rasa ikan ini yang enak serta harganya yang terjangkau yaitu Rp20.000,00/kg. Permintaan terhadap ikan ini yang selalu tinggi mengakibatkan nelayan terus-menerus melakukan penangkapan untuk memenuhi permintaan pasar.

Aktivitas penangkapan ikan pari tuka-tuka yang terus menerus dikhawatirkan akan menyebabkan penurunan stok ikan pari tuka-tuka di perairan.

Kajian mengenai hubungan panjang bobot perlu dilakukan untuk menduga pertumbuhan dan laju eksploitasi ikan pari tuka-tuka di perairan Selat Malaka.

Hubungan panjang bobot ikan merupakan pengetahuan yang signifikan dipelajari, terutama untuk kepentingan pengelolaan perikanan. Pentingnya pengetahuan ini sehingga Bayliff (1966) yang diacu oleh Manik (2009) menegaskan, hubungan panjang bobot ikan dan distribusi panjangnya perlu diketahui, terutama untuk mengkonversi statistik hasil tangkapan, menduga besarnya populasi, laju mortalitas serta laju eksploitasinya. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian mengenai pertumbuhan serta laju eksploitasi ikan pari tuka-tuka yang didaratkan di TPI Tanjung Beringin kabupaten Serdang Bedagai provinsi Sumatera Utara agar diperoleh informasi yang menjadi dasar pengelolaan ikan pari tuka-tuka.

(17)

3

Rumusan Masalah

Salah satu ikan pari yang dominan didaratkan di TPI Tanjung Beringin adalah ikan pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura). Banyaknya permintaan pasar terhadap ikan pari membuat para nelayan terus melakukan penangkapan terhadap ikan tersebut. Penangkapaan yang dilakukan terus-menerus dikhawatirkan dapat menyebabkan menurunnya populasi ikan di perairan. Oleh karena itu, untuk menjaga ketersediaan sumberdaya ikan pari tuka di Perairan Selat Malaka perlu dilakukan kajian pertumbuhan untuk mengetahui pola pertumbuhan serta laju eksploitasi ikan tersebut agar tidak merusak kelestarian dari populasinya.

Berdasarkan deskripsi di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana pola pertumbuhan ikan pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura) yang didaratkan di TPI Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai?

2. Bagaimana status eksploitasi ikan pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura) yang didaratkan di TPI Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai?

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura) yang didaratkan di TPI Tanjung Beringin Kabupaten

Serdang Bedagai.

2. Untuk mengetahui laju eksploitasi dan status eksploitasi ikan pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura) yang didaratkan di TPI Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai.

(18)

4

Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah hasil penelitian dapat dijadikan sebagai rekomendasi pengelolaan penangkapan ikan pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura) yang didaratkan di TPI Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara.

Kerangka Pemikiran

Ikan pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura) dominan didaratkan di TPI Tanjung Beringin dan terus menerus ditangkap untuk memenuhi permintaan konsumen. Untuk mempertahankan keberadaannya di perairan, perlu dilakukan pengelolaan sumberdaya ikan pari tuka agar tetap lestari. Oleh karena itu diperlukan suatu kajian mengenai pertumbuhan yang mencakup hubungan panjang dan bobot, pola pertumbuhan, faktor kondisi, serta laju eksploitasi ikan pari tuka sehingga dapat dilakukan pengelolaan yang tepat. Secara ringkas kerangka pemikiran penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

Usaha Penangkapan Ikan Pari Tuka

Hasil Tangkapan Ikan Pari Tuka

Pertumbuhan Ikan Pari tuka- tuka (Brevitrygon heterura)

Laju Eksploitasi

1. Distribusi Sebaran Panjang 2. Hubungan Panjang Bobot 3. Pola Pertumbuhan

4. Faktor Kondisi

Data Hasil Tangkapan

Rekomendasi Pengelolaan Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Jenis Ikan Pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura)

1. Morfologi Ikan Pari Tuka 2. Kelamin Ikan Pari Tuka

(19)

5

TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi Ikan Pari Tuka-Tuka (Brevitrygon heterura)

Klasifikasi ikan pari tuka-tuka menurut Last et al. (2016) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Elasmobranchii Ordo : Myliobatiformes Famili : Dasyatidae Genus : Brevitrygon

Spesies : Brevitrygon heterura

(Sumber : Fishbase)

Gambar 2. Ikan Pari Tuka-Tuka (Brevitrygon heterura)

Ikan pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura) merupakan salah satu jenis ikan pari yang termasuk ke dalam famili Dasyatidae. Ikan ini juga disebut dengan dwarf whipray yang dapat diartikan sebagai ikan pari yang berukuran kecil atau kerdil. Ikan ini tergolong dalam ikan pari yang hidup di perairan pantai yang sebelumnya ditempatkan di genus Himantura. Spesies ini mirip dengan spesies

(20)

6

Javan Whipray (Brevitrygon javaensis), tetapi memiliki perbedaan dimana dwarf whipray memiliki deretan duri berbentuk tombak pada ekor (Last et al., 2016).

Ikan pari tuka-tuka merupakan hewan vivipar dengan kecenderungan histotrofi yang melahirkan 1–2 ekor anak dengan lama kandungan yang tidak diketahui. Makanannya terdiri dari krustasea kecil dan juga ikan-ikan kecil.

Tertangkap dalam jumlah yang besar sebagai hasil tangkapan sampingan oleh

jaring trawl dan pukat udang. Bagian tubuh yang dimanfaatkan adalah dagingnya (White et al., 2006).

Morfologi Ikan Pari Tuka-Tuka (Brevitrygon heterura)

Ikan pari merupakan salah satu jenis ikan yang termasuk kelas Elasmobranchii. Ikan ini dikenal sebagai ikan batoid, yaitu sekelompok ikan bertulang rawan yang mempunyai ekor seperti cambuk. Ikan pari memiliki celah insang yang terletak disisi ventral kepala. Sirip dada ikan ini melebar menyerupai sayap, dengan sisi bagian depan bergabung dengan kepala. Bagian tubuh sangat pipih sehingga memungkinkan untuk hidup di dasar laut. Bentuk ekor seperti cambuk pada beberapa spesies dengan sebuah atau lebih duri tajam di bagian ventral dan dorsal (Utami et al., 2014).

Secara umum ikan pari mempunyai bentuk tubuh sangat pipih, gepeng melebar (depressed) sehingga menyerupai piringan cakram yang lebarnya ditambah sirip dada yang lebar seperti sayap yang bergabung dengan bagian depan kepala. Apabila dilihat dari bagian atas (anterior) dan bawah (posterior), tubuh pari tampak oval atau membundar. Lebar atau luasan piringan cakram tersebut dapat mencapai 1,2 kali dari panjangnya dan umumnya diduga dapat

(21)

7

untuk melihat pola pertumbuhan serta ukuran pada saat pari ikan matang gonad (Kinakesti dan Wahyudewantoro, 2017).

Ikan pari dalam Genus Brevitrygon merupakan jenis ikan Dasyatidae yang berukuran kecil, dimana ikan dewasa biasanya memiliki lebar tubuh yang mencapai 23-32 cm. Genus Brevitrygon ditandai dengan cakram oval hingga suboval dengan puncak sirip dada membulat lebar, moncongnya sangat bersudut dan memanjang serta mata kecil dan sedikit menonjol. Ikan pari jenis ini memiliki mulut berukuran sedang dengan 2–4 papila oral, ekor agak pendek dan semi kaku dengan panjang 1-2,2 kali lebar tubuh. Warna punggung polos dan permukaan perut berwarna putih dengan tepi cakram berwarna gelap (Last et al., 2016).

Ikan pari tuka-tuka memiliki tubuh yang kecil dimana bentuk lempengan tubuhnya agak bulat telur. Sisi atas tubuhnya berwarna kecoklatan tanpa pola dan sisi bawah berwarna keputih-putihan. Ikan pari jenis ini memiliki lebar badan yang mencapai 24 cm, dimana ikan pari tuka-tuka jantan pada ukuran 16-17 cm.

Sedangkan saat lahir, ikan pari tuka-tuka memiliki lebar tubuh 8-10 cm. Ikan pari ini memiliki ekor yang pendek tidak seperti cambuk dengan ujung yang membesar dan tumpul pada ikan pari tuka-tuka betina dewasa. Ikan pari tuka-tuka tidak memiliki selaput atau lipatan kulit pada bagian bawah ekor. Terdapat duri-duri kecil di sisi pangkal ekor serta terdapat duri sengat yang terletak di sisi atas ekor bagian depan (White et al., 2006).

Habitat dan Penyebaran Ikan Pari Tuka-Tuka (Brevitrygon heterura)

Ikan pari mendiami perairan pesisir tropis dan subtropis yang hangat dan beberapa diantaranya dapat dijumpai di perairan tawar. Seringkali pari dijumpai berenang di perairan dangkal atau bahkan berdiam diri di dalam pasir. Habitat

(22)

8

yang disenangi ikan pari adalah dasar perairan pantai yang dangkal dengan substrat pasir dan lumpur, dekat rataan terumbu karang (reef flat), laguna, teluk, muara sungai dan air tawar. Ada beberapa jenis yang hidup di laut lepas dekat permukaan sampai kedalaman lebih dari 2000 m (Kinakesti dan Wahyudewantoro, 2017).

Sebaran dan kelimpahan ikan pari mempunyai variasi habitat yang sangat luas dengan pola sebaran yang unik. Daerah sebaran ikan pari adalah perairan pantai dan kadang masuk ke daerah pasang surut, di perairan laut tropis, yakni mulai dari Asia Tenggara (Thailand; Indonesia; Papua Nugini) sampai Amerika Selatan. Beberapa spesies ikan pari bermigrasi dari perairan laut ke perairan tawar (Utami et al., 2014).

Seperti halnya ikan pari pada umumnya, ikan pari tuka-tuka juga merupakan ikan demersal yang hidup di dasar perairan. Ikan pari tuka-tuka hidup di perairan dangkal dan paparan benua hingga kedalaman 50 m, kadang-kadang ditemukan di daerah pantai perairan teluk. Spesies pari Brevitrygon heterura menyebar di perairan laut tropis, biasanya ditemukan di Kepulauan Indo- Malaysia, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, serta di Thailand bagian barat (Last et al., 2016).

Pertumbuhan

Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu waktu tertentu dalam cakupan individu, sedangkan pertumbuhan populasi adalah pertambahan jumlah individu. Pertumbuhan dapat diestimasi menggunakan model pertumbuhan Von Bertalanffy. Pola pertumbuhan terbagi atas dua yaitu isometrik dan allometrik. Dikatakan isometrik apabila nilai b=3 dimana pola pertumbuhan berat sebanding dengan pola pertumbuhan panjang. Sedangkan ketika nilai b≠3

(23)

9

menunjukan pola pertumbuhan allometrik dimana pola pertumbuhan berat tidak sebanding dengan pola pertumbuhan panjang (Sarfila et al., 2018).

Pola pertumbuhan dapat memberikan informasi tentang hubungan panjang bobot dan faktor kondisi ikan, merupakan langkah utama yang penting dalam upaya pengelolaan sumberdaya perikanan di perairan. Pola pertumbuhan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan sangat bermanfaat dalam penentuan selektivitas alat tangkap agar ikan-ikan yang tertangkap hanya yang berukuran layak tangkap. Pola pertumbuhan ikan dapat diketahui dengan melakukan analisis hubungan panjang bobotnya (Aisyah et al., 2017).

Pertumbuhan sebagai salah satu aspek biologi ikan adalah suatu indikator yang baik untuk melihat kesehatan individu, populasi, dan lingkungan.

Pertumbuhan yang cepat dapat mengindikasikan kelimpahan makanan dan kondisi lingkungan yang sesuai. Selain itu, pengetahuan tentang struktur populasi dapat menjadi dasar pengelolaan yang lebih baik. Pengetahuan yang tepat tentang umur ikan merupakan hal penting untuk mengungkap permasalahan daur hidup ikan, seperti ketahanan hidup, laju pertumbuhan, dan umur ikan saat matang gonad (Syahrir, 2013).

Hubungan Panjang dan Bobot

Hubungan panjang bobot merupakan suatu model matematika yang dapat mendeskripsikan pertumbuhan ikan dan sering digunakan dalam penelitan tentang pendugaan stok ikan. Hubungan panjang bobot merupakan data yang diperoleh untuk mengetahui pertumbuhan dan kondisi ikan baik itu secara individu maupun kelompok. Hubungan panjang-bobot digunakan untuk membandingkan dan menggambarkan karakteristik dari suatu populasi ikan antar jenis kelamin dan 9

(24)

10

antar musim, serta merupakan suatu instrumen yang efisien dalam mengetahui perubahan kondisi ikan sepanjang tahun (Gani et al., 2020).

Hubungan panjang bobot ikan merupakan salah satu informasi pelengkap yang perlu diketahui dalam kaitan pengelolaan sumberdaya perikanan, misalnya dalam penentuan selektifitas alat tangkap agar ikan–ikan yang tertangkap hanya yang berukuran layak tangkap. Lebih lanjut pengukuran panjang bobot ikan bertujuan untuk mengetahui variasi bobot dan panjang tertentu dari ikan secara individual atau kelompok–kelompok individu sebagai suatu petunjuk tentang kegemukan, kesehatan, produktifitas dan kondisi fisiologis termasuk perkembangan gonad (Mulfizar et al., 2012).

Hubungan panjang dan bobot hampir mengikuti hukum kubik, yaitu bobot ikan merupakan hasil pangkat tiga dari panjangnya, nilai pangkat (b) dari analisis tersebut dapat menjelaskan pola pertumbuhan. Nilai b yang lebih besar dari 3 menunjukkan bahwa tipe petumbuhan ikan tersebut bersifat allometrik positif, artinya pertumbuhan bobot lebih besar dibandingkan petumbuhan panjang. Nilai b lebih kecil dari 3 menunjukkan bahwa tipe pertumbuhan ikan bersifat allometrik negatif, yakni pertumbuhan panjang lebih besar dari pada pertumbuhan bobot.

Jika nila b sama dengan 3, tipe pertumbuhan ikan bersifat isometrik yang artinya pertumbuhan panjang sama dengan petumbuhan bobot. Tipe pertumbuhan memberikan informasi mengenai baik atau buruknya pertumbuhan ikan yang hidup di lokasi pengamatan, sehingga akan ada gambaran mengenai ekosistem yang sesuai atau tidak untuk tempat ikan tersebut (Effendie, 2002).

(25)

11

Faktor Kondisi

Faktor kondisi dapat diartikan sebagai indeks yang mencerminkan interaksi antara faktor biotik dan abiotik terhadap kondisi fisiologis ikan dan merupakan suatu angka yang menunjukkan kegemukan ikan. Faktor kondisi merupakan kondisi fisiologis pada ikan yang memberikan pengaruh yang sifatnya tidak langsung yang dipengaruhi berbagai faktor, baik intristik maupun ekstristik yang dijadikan nilai dalam menentukan angka kegemukan pada ikan. Variasi faktor kondisi pada ikan sangat dipengaruhi oleh ukuran tubuh, umur, jenis kelamin, kematangan gonad dan tingkah laku sebelum dan sesudah pemijahan (Gani et al., 2020).

Hubungan panjang dan bobot dapat digunakan untuk menentukan estimasi faktor kondisi atau sering disebut dengan index of plumpless, yang merupakan salah satu derivat penting dari pertumbuhan untuk membandingkan kondisi atau keadaan kesehatan relatif populasi atau keadaan kesehatan relatif populasi ikan atau individu tertentu. Faktor kondisi dapat menunjukkan keadaan baik atau tidaknya panjang berat ikan yang dinyatakan dalam angka dan dilihat dari segi kapasitas fisik untuk survival dan reproduksi (Agustina et al., 2018).

Faktor kondisi dari suatu jenis ikan tidak tetap sifatnya. Apabila dalam suatu perairan terjadi perubahan yang mendadak dari kondisi ikan dapat mempengaruhi ikan tersebut. Bila kondisinya kurang baik, mungkin disebabkan populasi ikan terlalu padat dan sebaliknya bila kondisinya baik, maka kemungkinan terjadi pengurangan populasi atau ketersediaan makanan di perairan cukup melimpah sehingga populasinya menyebar (Salim et al., 2019).

(26)

12

Mortalitas dan Laju Eksploitasi

Penurunan terhadap jumlah stok ikan disebabkan oleh dua faktor yaitu mortalitas alami dan eksploitasi spesies berupa mortalitas penangkapan.

Mortalitas alami disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya pemangsaan, penyakit, stress, pemijahan, umur, dan ketersediaan makanan. Mortalitas penangkapan merupakan fungsi dari upaya penangkapan (fishing effort) yang mencakup jumlah dan jenis ikan, efektivitas dari alat tangkap dan waktu yang digunakan untuk melakukan penangkapan (Kartini et al., 2017).

Laju mortalitas total (Z) adalah penjumlahan laju mortalitas penangkapan (F) dan laju mortalitas alami (M). Beverton & Holt (1957) menduga bahwa predasi merupakan faktor eksternal yang umum sebagai penyebab mortalitas alami. Nilai laju mortalitas alami berkaitan dengan nilai parameter pertumbuhan von Bertalanffy K dan L∞. Ikan yang pertumbuhannya cepat (nilai K tinggi) mempunyai M tinggi dan sebaliknya. Nilai M berkaitan dengan nilai L∞ karena pemangsa ikan besar lebih sedikit dari ikan kecil. Menurut Pauly (1980) dalam Sparre & Venema (1999) berdasarkan penelitiannya terhadap 175 stok ikan yang berbeda, faktor lingkungan yang mempengaruhi nilai M adalah suhu rata-rata perairan selain faktor panjang maksimum (L∞) dan laju pertumbuhan. Sedangkan mortalitas penangkapan adalah mortalitas yang terjadi akibat adanya aktivitas penangkapan. Semakin besar upaya penangkapan dan jumlah alat tangkap yang beroperasi, maka semakin besar pula mortalitas ikan karena penangkapan.

Tingginya laju mortalitas penangkapan dan menurunnya laju mortalitas alami juga dapat menunjukkan dugaan terjadinya kondisi growth overfishing yaitu sedikitnya jumlah ikan tua(Sparre & Venema, 1999).

(27)

13

Laju eksploitasi (E) merupakan bagian dari populasi ikan yang ditangkap selama periode waktu tertentu (1 tahun), sehingga laju eksploitasi juga didefinisikan sebagai jumlah ikan yang ditangkap dibandingkan dengan jumlah total ikan yang mati karena semua faktor, baik faktor alami maupun faktor penangkapan. Laju eksploitasi (E) sangat dipengaruhi oleh laju mortalitas penangkapan (F). Semakin tinggi tingkat laju mortalitas penangkapan (F) maka akan semakin tinggi pula laju eksploitasi (E). Eksploitasi optimal dicapai jika laju mortalitas penangkapan (F) sama dengan laju mortalitas alami (M), yaitu 0.5 (Pauly, 1984).

Eksploitasi ikan akan berdampak pada tereduksinya ikan-ikan dewasa sehingga ikan ikan dewasa tersebut lebih dulu ditangkap oleh aktivitas penangkapan sebelum sempat untuk melakukan pemijahan minimal sekali dalam siklus hidupnya. Hal tersebut mengakibatkan tidak adanya rekrutmen yang masuk ke dalam stok dan pada akhirnya stok akan menipis. Terjadinya tekanan penangkapan terhadap spesies ikan dapat menurunkan keragaan reproduksi yang diawali dengan penurunan ukuran pertama kali ikan matang gonad. Pada ikan betina, kondisi ini akan menurunkan fekunditas sehingga dapat mengurangi keberhasilan rekrutmen ikan di alam. Kegiatan eksploitasi yang dilakukan terhadap sumber daya ikan seharusnya memperhatikan tata cara penangkapan yang ramah lingkungan, seperti tidak menggunakan bahan peledak dan racun ikan, menggunakan mata jaring dengan ukuran tertentu (Kartini et al., 2017).

(28)

14

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Sampel ikan diperoleh dari hasil penangkapan ikan pari tuka-tuka di Selat Malaka yang didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. Waktu pengambilan sampel ikan dilakukan selama 3 bulan yaitu dari bulan sampai Juli sampai Oktober 2021.

Gambar 3. Lokasi Penelitian Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam pengambilan data primer antara lain alat tulis, meteran gulung dengan tingkat ketelitian 1 mm, kamera, timbangan analitik, Microsoft excel 2010 dan program FISAT II (Lampiran 1).

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan pari tuka-tuka sebagai objek penelitian (Lampiran 1).

(29)

15

Prosedur Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei yaitu metode dengan mencari berbagai informasi dan berbagai fakta mengenai aspek biologi spesies ikan (Anindhita et al., 2014). Pengambilan sampel ikan pari tuka dilakukan di TPI Tanjung Beringin. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan pengambilan ikan contoh secara langsung di TPI Tanjung Beringin sebagai hasil dari tangkapan nelayan yang dilakukan sekali dalam sebulan. Sedangkan data sekunder berupa data rata-rata suhu permukaan air yang diperoleh dari aplikasi SEADAS. Ikan yang diambil tergantung kelimpahan ikan pada tiap waktu pengambilan. Ikan yang telah diambil kemudian diukur panjang total dan ditimbang bobot basahnya (Lampiran 2). Pengukuran panjang total dilakukan dengan cara mengukur jarak antara ujung kepala terdepan (ujung rahang terdepan) sampai dengan ujung sirip ekor yang paling belakang (Sharif et al., 2018).

Analisis Data Rasio Kelamin

Menurut Sari et al. (2019) rasio kelamin merupakan perbandingan antara jenis kelamin ikan yang ada di perairan. Konsep rasio pada statistika adalah proporsi populasi tertentu terhadap total populasi dengan rumus rasio kelamin ialah :

p = Keterangan :

p = Rasio Kelamin (%).

A = Jumlah ikan jantan / betina.

B = Total individu ikan jantan dan betina (ekor).

(30)

16

Sebaran Frekuensi Panjang

Dalam metode sebaran frekuensi panjang data yang digunakan adalah data panjang total dari ikan pari tuka. Dilakukan pengukuran ikan pari tuka dengan menggunakan meteran gulung yang memiliki ketelitian 1 mm. Adapun langkah- langkah untuk membuat sebaran frekuensi panjang adalah sebagai berikut (Walpole, 1992) :

1. Menentukan banyaknya selang kelas yang diperlukan dengan rumus:

n = 1+3,32 Log N Keterangan :

n = Jumlah kelompok ukuran N = Jumlah ikan pengamatan 2. Menentukan wilayah data tersebut

3. Bagilah wilayah tersebut dengan banyaknya kelas untuk menduga lebar selang kelasnya.

4. Menentukan limit bawah kelas bagi selang yang pertama dan kemudian batas bawah kelasnya, kemudian tambahkan lebar kelas pada batas bawah kelas untuk mendapatkan batas atas kelasnya.

5. Mendaftarkan semua limit kelas dan batas kelas dengan cara menambahkan lebar kelas pada limit dan batas selang sebelumnya.

6. Menentukan titik tengah kelas bagi masing-masing selang dengan merata- ratakan limit kelas atau batas kelasnya.

7. Menentukan frekuensi bagi masing-masing kelas.

8. Menjumlahkan kolom frekuensi kemudian periksa apakah hasilnya sama dengan banyaknya total pengamatan (Lampiran 3).

(31)

17

Hubungan Panjang Bobot

Bobot dapat dianggap sebagai suatu fungsi dari panjang. Hubungan panjang dan bobot dapat diketahui dengan rumus (Effendie, 2002):

W = a L b Keterangan:

W = Bobot (gram) L = Panjang (mm) a dan b = Konstanta

Pola pertumbuhan ditentukan dari nilai konstanta b (slope) yang diperoleh dari perhitungan panjang dan bobot melalui hipotesis sebagai berikut:

H0 : bila nilai b=3, pola pertumbuhan bersifat isometrik (pertumbuhan panjang sama dengan pertumbuhan bobot).

H1 : bila nilai b≠3, pola pertumbuhan bersifat allometrik. yaitu:

a) bila nilai b>3, allometrik positif (pertumbuhan bobot lebih dominan).

b) bila nilai b<3, allometrik negatif (pertumbuhan panjang lebih dominan).

Untuk mengkaji dalam penentuan nilai b maka dilakukan uji T, dimana terdapat usaha untuk melakukan penolakan atau penerimaan hipotesis yang dibuat. Uji T dapat dilakukan dengan mencari nilai Thitung sebagai berikut (Ibrahim et al., 2017):

Thitung [

]

(32)

18

Keterangan:

Sb = Simpangan baku

b1 = Slope (hubungan dari panjang bobot) b0 = nilai dari parameter hipotesis (3)

Setelah itu, nilai Thitung dibandingkan dengan nilai Ttabel sehingga keputusan yang dapat diambil adalah sebagai berikut :

Thitung > Ttabel, maka tolak H0

Thitung < Ttabel, maka gagal tolak H0

Faktor Kondisi

Faktor kondisi yaitu keadaan atau kemontokan ikan yang dinyatakan dalam angka-angka untuk menunjukkan keadaan ikan dari segi kapasitas fisik untuk bertahan hidup dan melakukan reproduksi. Perhitungan faktor kondisi didasarkan pada panjang dan bobot ikan. Faktor kondisi dapat dihitung dengan rumus (Effendie, 2002) sebagai berikut :

Jika nilai b ≠ 3 (allometrik), Jika nilai b = 3 (isometrik), maka faktor kondisi ditentukan dengan rumus:

Keterangan:

FK = Faktor kondisi

L = Panjang total ikan (mm) W = Bobot ikan (gram) a dan b = Konstanta

(33)

19

Mortalitas dan Laju Eksploitasi

Laju mortalitas total (Z) diduga dengan menggunakan metode Jones dan Van Zalinge yang dikemas dalam program FISAT II. Sedangkan untuk menduga laju mortalitas alami (M) menggunakan rumus empiris Pauly (1984). Laju mortalitas alami (M) diduga dengan menggunakan rumus empiris Pauly dalam Sparre dan Venema (1999) sebagai berikut :

Log M = -0.0066 – 0.279 * Log (L∞) + 0.6543 * Log(K) + 0.4634 * Log(T) Keterangan :

M = Mortalitas alami

L∞= Panjang asimtotik pada persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy K = Koefisien pertumbuhan pada persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy T = Rata-rata suhu permukaan air (0C)

Laju mortalitas penangkapan (F) dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

F = Z- M

Laju mortalitas total (Z) diduga dengan menggunakan metode Jones dan Van Zalinge yang dikemas dalam program FISAT II. Laju eksploitasi (E) ditentukan dengan membandingkan mortalitas penangkapan (F) terhadap mortalitas total (Z). Perhitungan laju eksploitasi digunakan untuk menduga jumlah ikan yang ditangkap dibandingkan dengan jumlah total ikan yang mati karena semua faktor baik faktor alami maupun faktor penangkapan (Pauly, 1984):

(34)

20

Laju mortalitas penangkapan (F) atau laju eksploitasi optimum menurut Gulland dalam Sparre dan Venema (1999) adalah:

Foptimum = M dan Eoptimum = 0,5

Pauly (1984) menyatakan bahwa nilai Eksploitasi optimum adalah 0,5.

Sehingga jika nilai eksploitasi lebih dari 0,5 maka dapat dikatakan indikasi dari kondisi lebih tangkap terutama akibat penangkapan.

(35)

36

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian mengenai pertumbuhan dan laju eksploitasi ikan pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura) di TPI Tanjung Beringin adalah sebagai berikut:

1. Ikan pari tuka-tuka (Brevitrygon heterura) yang didaratkan di TPI Tanjung Beringin memiliki pertumbuhan yang bersifat allometrik negatif dimana pertambahan panjang lebih dominan daripada pertambahan bobot.

2. Laju eksploitasi ikan pari tuka-tuka yang didaratkan di TPI Tanjung Beringin adalah sebesar 0,7. Status eksploitasi ikan pari tuka-tuka adalah overfishing atau tangkapan lebih.

Saran

Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai aspek reproduksi dan pola rekrutmen terhadap ikan pari tuka-tuka agar diketahui alternatif pengelolaan demi keberlanjutan sumberdaya ikan pari tuka-tuka.

(36)

37

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, M., I. Jatmiko, dan R. K. Sulistyaningsih. 2018. Pola Pertumbuhan dan Faktor Kondisi Tongkol Komo Euthynnus affinis (Cantor, 1849) di Perairan Tanjung Luar Nusa Tenggara Barat. Bawal. 10 (3): 179-185.

Aisyah, S., D. Bakti, dan Desrita. 2017. Pola pertumbuhan dan faktor kondisi ikan lemeduk (Barbodes schwanenfeldii) di Sungai Belumai Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Acta Aqutica. 4 (1): 8-12.

Anindhita, G. K., S. W. Saputra, dan A. Ghofar. 2014. Beberapa Aspek Biologi Ikan Swanggi (Priancanthus tayenus) Berdasarkan Hasil Tangkapan yang Didaratkan di PPP Morodemak. Diponegoro Journal of Maquares. 3 (3):

144-152.

Beverton, R. J. H. dan S. J. Holt. 1957. On the Dynamics of Exploited Fish Population. Series 2. Her Majesty’s Stationary Office, London.

Effendie, M. I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Bogor, 163 hlm.

Gani, A., A. A. Bakri, dan D. T. Adriany. 2020. Hubungan Panjang-Bobot dan Faktor Kondisi Ikan Sicyopus zosterophorum (Bleeker, 1856) di Sungai Bohi, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Prosiding Simposium Nasional VII Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Ibrahim, P. S., I. Setyobudiandi, dan Sulistiono. 2017. Hubungan Panjang Bobot dan faktor Kondisi Ikan Selar Kuning Selaroides leptolepis di Perairan Selat Sunda. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 9 (2): 577-584.

Kantun, W., L. Darris, dan W. S. Arsana. 2018. Komposisi Jenis dan Ukuran Ikan yang Ditangkap pada Rumpon dengan Pancing Ulur di selat Makassar.

Marine Fisheries. 9 (2): 157-167.

Kartini, M., Boer. M, dan Affandi, R. 2017. Pola Rekrutmen, Mortalitas, dan Laju Eksploitasi Ikan Lemuru (Amblygaster sirm, Walbaum 1792) di Perairan Selat Sunda. 10 (1): 11-16.

Kinakesti, S. M. dan G. Wahyudewantoro. 2017. Kajuan Jenis Ikan Pari (Dasyatidae) di Indonesia. Fauna Indonesisa. 16 (2): 17-25.

Last, P. R., G. J. P. Naylor, B. M. M. Matsumoto. 2016. A Revised Classification of The Family Dasyatidae (Chondrichthyes: Myliobatiformes) Based on New Morphological and Molecular Insights. Zootaxa. 4139 (3): 345-368.

Last, P. R., W. T. White, M. R. de Carvalho, B. Seret, M. F. W. Stehmann, dan G.

J. P. Naylor. 2016. Rays of The World. Cornell University Press, USA.

(37)

38

Manik, N. 2009. Hubungan Panjang-Berat dan Faktor Kondisi Ikan Layang (Decapterus ruselli) dari Perairan Sekitar Teluk Likupang Sulawesi Utara.

Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. 35 (1): 65-74.

Monika, D., Arlius, dan Masrizal. 2020. Kajian Laju Eksploitasi Hasil Tangkapan di Sekitar Kawasan Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Pieh. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Perairan. 4 (2): 134-143.

Mulfizar., A. Zainal., Muchlisin dan D. Irma. 2012. Hubungan panjang berat dan faktor kondisi tiga jenis ikan yang tertangkap di perairan Kuala Gigieng, Aceh Besar, Provinsi Aceh. Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Aceh.

Jurnal Depik. 1 (1) : 1-9.

Novariani, H. Lubis, dan Fahmi. 2014. Biologi Reproduksi Ikan Pari Toka-Toka (Himantura walga Muller dan Henle 1984) yang Tertangkap dan Didaratkan di Cilincing. Bioma. 10 (1): 1-7.

Nurlina. 2018. Analisis Keterkaitan Sub Sektor perikanan dengan Sektor Lain pada Perekonomian di Provinsi Aceh. Jurnal Samudra Ekonomika. 2 (1):

20-29.

Pauly, D. 1984. Fish Population Dynamics in Tropical Waters: a Manual for Use Programmable Calculators. International Center for Living Aquatic Resources Management. ICLARM Studies and Reviews 8, Manila. 325 hlm.

Putri, R. M. dan A. Nurlita. 2012. Aspek Reproduksi Ikan Kerapu Macan (Epinephelus sexfasciatus) di Perairan Glondonggede Tuban. Jurnal Sains dan Seni. 1 (1): 27-31.

Salim, G., M. Firdaus, dan Heriyana. 2019. Analisis Hubungan Panjang, Berat, dan Faktor Kondisi Ikan Tempakul (Periopthalmus barbarus) di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan. Jurnal Harpodon Borneo. 12 (1): 19-32.

Sangadji, M. 2016. Hubungan Panjang-Bobot dan Faktor Kondisi Ikan Momar Putih (Decapterus macrosoma Bleeker, 1851) di Perairan Pantai Selatan Pulau Haruku Maluku tengah. Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan.

9 (2): 1-6.

Sarfila, Halili, dan H, Arami. 2018. Pertumbuhan dan Hubungan Panjang Berat Ikan Kapas-Kapas (Gerres oyena) di Perairan Tondonggeu Kecamatan Abeli Kota Kendari. Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan, 3(2):

135-142.

Sari, N., O. Supratman, E. Utami. 2019. Aspek Reproduksi dan Umur Ikan Ekor Kuning (Caesio cuning) yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Sungailiat Kabupaten Bangka. Jurnal Enggano. 4 (2): 193-207.

(38)

39

Sharif, T.A., Yonvitner, dan A. Fahrudin. 2018. Biologi Reproduksi Ikan Peperek (Gazza minuta Bloch, 1795) yang Didaratkan di PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat. Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis. 2 (2): 1-8.

Sparre, P., dan S. C. Venema. 1999. Introduksi pengkajian stok ikan tropis bukuimanual (Edisi Terjemahan). Kerjasama Organisasi Pangan, Perserikata Bangsa-Bangsa dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. [Buku]. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta. 438 hlm.

Syahrir, M. 2013. Kajian Pertumbuhan Beberapa Jenis Ikan di Perairan Pesisir Kabupaten Kutai Timur. Jurnal Ilmu Perikanan Tropis. 19 (1): 8-13.

Utami, M. N. S., S. Redjeki, dan N. Taufiq. 2014. Studi Biologi Ikan Pari (Dasyatis sp.) di TPI Tasik Agung Rembang. Journal of Marine Research.

2 (3): 79-85.

Walpole, R. E. 1992. Pengantar Statistik, Edisi-3. Sumantri B (penerjemah). PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

White, W. T., P. R. Last, J. D. Stevens, G. K. Yearsley, Fahmi, dan Dharmadi.

2006. Economically Important Sharks and Rays of Indonesia. Australian Center of International Agricultural Research, Australia.

Wijayanti, F., M. P. Abrari, dan N. Fitriana. Keanekaragaman Spesies dan Status Konservasi Ikan Pari di Tempat Pelelangan Ikan Muara Angke Jakarta Utara. Jurnal Biodjati. 3 (1): 23-35.

Statistik.kkp.go.id [Diakses Juli 2021]

www.fishbase.se [Diakses November 2021]

www.iucnredlist.org [Diakses Oktober 2021]

(39)

40

LAMPIRAN

(40)

41

Lampiran 1. Alat dan Bahan

Timbangan Meteran Gulung

Alat Tulis Kamera

Sampel Penelitian

(41)

42

Lampiran 2. Kegiatan Penelitian

Lokasi Penelitian Pengamatan Morfologi

Pengukuran Panjang Pengukuran Berat

Kelimpahan Ikan Pari Tuka-Tuka

(42)

43

Lampiran 3. Sebaran Panjang Ikan Pari Tuka-Tuka (Brevitrygon heterura) Selang Kelas

Batas Bawah Batas Atas Frekuensi

Total Jantan Betina 244-273

243,5 273,5 5 3 2

274-303

273,5 303,5 9 4 5

304-333

303,5 333,5 13 2 11

334-363

333,5 363,5 22 6 16

364-393 363,5 393,5 29 15 14

394-423

393,5 423,5 16 16 0

424-453

423,5 453,5 12 12 0

454-483

453,5 483,5 6 6 0

Bulan Juli = 16 Ekor Bulan Agustus = 34 Ekor Bulan September = 32 Ekor Bulan Oktober = 30 Ekor

Total Keseluruhan = 16+34+32+30 = 112 Ekor

(43)

44

Lampiran 4. Analisis Regresi Ikan Pari Tuka-Tuka Total

SUMMARY OUTPUT Regression Statistics Multiple R 0,64724149 R Square 0,41892155 Adjusted R

Square 0,41363902

Standard Error 0,30709271

Observations 112

ANOVA

df SS MS F Significance

F Regression 1 7,478761 7,478761 79,30318 1,25E-14 Residual 110 10,37365 0,094306

Total 111 17,85241

Coefficients

Standard

Error t Stat P-value

Lower 95%

Upper 95%

Lower 95,0%

Upper 95,0%

Intercept -4,9351223 1,158967 -4,25821 4,36E-05 -7,23192 -2,63832 -7,23192 -2,63832 X Variable 1 1,74865159 0,196362 8,905233 1,25E-14 1,359508 2,137795 1,359508 2,137795

Thitung = ABS (1,7487-3)/0,196362 = 6,372653 Ttabel = TINV (0,05;110) = 1,981765

Thitung > Ttabel Jantan

SUMMARY OUTPUT Regression Statistics Multiple R 0,788101 R Square 0,621104 Adjusted R

Square 0,614993

Standard Error 0,247386

Observations 64

ANOVA

df SS MS F Significance

F Regression 1 6,219934 6,219934 101,6332 1,09E-14 Residual 62 3,794388 0,0612

Total 63 10,01432

(44)

45

Coefficients

Standard

Error t Stat P-value

Lower 95%

Upper 95%

Lower 95,0%

Upper 95,0%

Intercept -6,85036 1,212908 -5,64789 4,34E-07 -9,27493 -4,4258 -9,27493 -4,4258 X Variable 1 2,051459 0,203491 10,08133 1,09E-14 1,644687 2,458232 1,644687 2,458232

Thitung = ABS (2,0515-3)/0,203491 = 4,66134 Ttabel = TINV (0,05;62) = 1,998972

Thitung > Ttabel

Betina

SUMMARY OUTPUT Regression Statistics Multiple R 0,696752 R Square 0,485464 Adjusted R

Square 0,474278

Standard Error 0,295862

Observations 48

ANOVA

df SS MS F Significance

F Regression 1 3,799 3,799066792 43,40094 3,79E-08 Residual 46 4,027 0,087534211

Total 47 7,826

Coefficients

Standard

Error t Stat P-value

Lower 95%

Upper 95%

Lower 95,0%

Upper 95,0%

Intercept -11,309 2,536 4,459639 5,25E-05 -16,4134 -6,20458 -16,4134 -6,20458 X Variable 1 2,868714 0,0567 6,587939 3,79E-08 1,9922 3,745228 1,9922 3,745228

Thitung = ABS (2,8687-3)/0,0567 = 2,31545 Ttabel = TINV (0,05;46) = 2,0129

Thitung > Ttabel

(45)

46

Lampiran 5. Mortalitas dan Laju eksploitasi

Mortalitas Total (Z) = 1,615 Mortalitas Alami (M) = 0,483 Mortalitas Penangkapan (F) = Z - M

= 1,615 – 0,483

= 1,132

Laju Ekploitasi =

=

= 0,701

(46)

47

Lampiran 6. Suhu Permukaan Laut (Seadas, 2021)

Juli = 30,9 0C Agustus = 30,3 0C September = 29,8 0C Oktober = 29,4 0C Rata-Rata = 30,1 0C

Gambar

Gambar 2. Ikan Pari Tuka-Tuka (Brevitrygon heterura)
Gambar 3. Lokasi Penelitian  Alat dan Bahan

Referensi

Dokumen terkait

Dari perairan Indonesia, jenis-jenis ikan pari ditangkap oleh delapan jenis alat, yaitu jaring liongbun, jaring insang dasar mata kecil, jaring trammel, jaring arad, jaring

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh konsentrasi logam merkuri (Hg) terhadap organ ginjal ikan pari kembang ( Dasyatis kuhlii ), yang

A: kulit ikan pari utuh, B: pola kulit ikan pari untuk produk utama yang hanya memanfaatkan bagian mutiara terbesar, C: limbah kulit ikan pari setelah pemanfaatan

Hasil tersebut menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan Pari jantan dan betina adalah alometris negatif, dimana pertumbuhan panjang tubuh lebih cepat daripada pertambahan bobot

Penelitian tentang keanekaragaman spesies dan status konservasi ikan pari di TPI Muara Angke menjadi penting dilakukan karena status konservasi ikan pari yang

Ikan Kembung, terutama di Perairan Selat Malaka Belawan Sumatera Utara. Pengelolaan yang sesuai ditujukan agar sumberdaya Ikan Kembung

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan informasi bagi pengelolaan sumberdaya ikan pari (D. kuhlii Muller &amp; Henle, 1841), yang meliputi informasi

excel mengenai sebaran kondisi morfologis ikan pari hasil tangkapan nelayan di Pulau Bintan jenis Dasyatis centroura diperoleh hasil sebaran panjang tubuh ikan