STUDI DESKRIPTIF TENTANG NEED PADA ANAK TUNGGAL Leonhard Krista Pratama
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebutuhan atau need yang dimiliki oleh seorang anak tunggal. Data penelitian menggunakan data dokumen laporan praktikum CAT mahasiswa/i Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma tahun 2012. Data yang didapatkan berjumlah 9, yang terdiri dari 1 data subjek laki-laki dan 8 subjek perempuan, berusia antara 6 sampai 10 tahun. Analisis data dilakukan dengan menginterpretasi secara tematik kesepuluh cerita pada tiap-tiap subjek. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki anak tunggal relatif sama seperti yang dimiliki anak-anak pada umumnya. Pada beberapa kebutuhan dapat dijelaskan dengan latar belakang anak tunggal, sehingga menunjukkan ke-khas-an kebutuhan pada anak tunggal. Selain itu, kebutuhan yang muncul berkaitan dengan perihal penerimaan, interaksi dengan orang lain, penghargaan, kenyamanan, dan kesenangan.
DESCRIPTIVE STUDY IN NEED OF ONLY CHILD Leonhard Krista Pratama
ABSTRACT
This research aimed to know the need’s description of a only child. The research used
document data from CAT Laboratory report of Psychology students in Sanata Dharma University. There were 9 data consists of a man and 8 women between 6-10 years old. From the data gathering, the data analysis was conducted by thematically interpreting the 10thstories of each subject. The result of the research showed that a only child’s needs are relatively same with
common children. In several needs, it can be explained by the background of a only child, and it shows the unique needs of a only child. Besides, the needs appeared are dealing with the receiving, the interaction with others, reward, comfort, and enjoyment.
STUDI DESKRIPTIF TENTANG NEED PADA ANAK
TUNGGAL
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh:
Leonhard Krista Pratama NIM : 099114033
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
iv
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Bekerja keraslah dengan pintar,
karena tidak cukup hanya bekerja keras atau
bekerja dengan pintar saja.
Dengan bangga, ku
persembahkan skripsi ini untuk
…
Bapak, Ibu, Ardo, Lia
Rinda dan keluarga kos-ku
vi
STUDI DESKRIPTIF TENTANG NEED PADA ANAK TUNGGAL Leonhard Krista Pratama
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebutuhan atau need yang dimiliki oleh seorang anak tunggal. Data penelitian menggunakan data dokumen laporan praktikum CAT mahasiswa/i Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma tahun 2012. Data yang didapatkan berjumlah 9, yang terdiri dari 1 data subjek laki-laki dan 8 subjek perempuan, berusia antara 6 sampai 10 tahun. Analisis data dilakukan dengan menginterpretasi secara tematik kesepuluh cerita pada tiap-tiap subjek. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki anak tunggal relatif sama seperti yang dimiliki anak-anak pada umumnya. Pada beberapa kebutuhan dapat dijelaskan dengan latar belakang anak tunggal, sehingga menunjukkan ke-khas-an kebutuhan pada anak tunggal. Selain itu, kebutuhan yang muncul berkaitan dengan perihal penerimaan, interaksi dengan orang lain, penghargaan, kenyamanan, dan kesenangan.
vii
DESCRIPTIVE STUDY IN NEED OF ONLY CHILD Leonhard Krista Pratama
ABSTRACT
This research aimed to know the need’s description of a only child. The research used document data from CAT Laboratory report of Psychology students in Sanata Dharma University. There were 9 data consists of a man and 8 women between 6-10 years old. From the data gathering, the data analysis was conducted by thematically interpreting the 10thstories of each subject. The result of the research showed that a only child’s needs are relatively same with common children. In several needs, it can be explained by the background of a only child, and it shows the unique needs of a only child. Besides, the needs appeared are dealing with the receiving, the interaction with others, reward, comfort, and enjoyment.
ix
KATA PENGANTAR
Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat bagi mahasiswa untuk
memperoleh gelar Sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Sanata
Dharma Yogyakarta.
Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus karena telah
mencurahkan berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini dengan baik. Dalam penulisan skripsi ini, banyak pula pihak yang telah
membantu dan telah mendukung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak
terima kasih kepada :
1. Bapak Cornelius Siswa Widyatmoko M.Psi. selaku Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
2. Ibu Ratri Sunar Astuti, M.Si., selaku Kaprodi Psikologi.
3. Ibu Dr. Tjipto Susana, M.Si. selaku dosen pembimbing akademik yang telah
membimbing dalam kelancaran akademik.
4. Ibu Agnes Indar Etikawati, M.Psi., Psi. selaku dosen pembimbing skripsi
yang telah membimbing dalam pengerjaan skripsi ini.
5. Bapak Victorius Didik Suryo Hartoko, M.Si. dan Ibu P.H. Puji Dwi Astuti
Dian Sabbati, M.A selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan
pengetahuan guna menjadikan skripsi ini menjadi lebih baik.
6. Segenap staff dan karyawan Fakultas Psikologi yang telah membantu dan
bekerjasama dengan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Mas Muji, Mas
x
7. Kedua orang tua dan adik-adikku atas dukungan, motivasi dan doanya.
8. Kekasih dan teman-teman kos-ku atas dukungan, perhatian, dan motivasi
yang tiada henti.
9. Kawan-kawan seperjuangan angkatan 2009 Fakultas Psikologi, terutama
kelas A. Terimakasih atas semangat dan kerjasamanya selama ini.
10. Teman-teman bimbingan asistensi tes kognitif, inventori, dan TAT.
Terimakasih atas kerjasama dan pengalamannya yang sangat berharga.
11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas semua dukungan
yang telah diberikan dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan masukan, kritik dan saran yang membangun
agar skripsi ini menjadi lebih baik.
Yogyakarta, 5 November 2013
Penulis,
xi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI... xi
DAFTAR TABEL ... xiv
BAB I. PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
1. Manfaat Teoritis ... 5
2. Manfaat Praktis ... 5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7
A. Anak Tunggal... 7
xii
2. Anak Tunggal...………. 11
B. Need (Kebutuhan)………... 13
1. Pengertian Need ...………. 13
2. Ragam Kebutuhan...………. 14
C. Tes Proyektif (CAT) ...………. 18
D. Kebutuhan pada Anak Tunggal...………. 21
E. Pertanyaan Penelitian ...………. 25
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 26
A. Jenis Penelitian...………. 26
B. Fokus Penelitian...………. 27
C. Subjek Penelitian ... 27
D. Metode Pengumpulan Data... 27
1. Data Utama: Respon CAT ... 28
2. Data Pelengkap: Latar Belakang Subjek... 29
E. Metode Analisis Data ...………. 29
1. Tema Deskriptif ... 29
2. Tema Interpretif ... 30
3. Tema Diagnostik ... 30
F. Pemeriksaan Keabsahan Data...………. 30
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 32
A. Pelaksanaan Penelitian ... 32
1. Proses Pengumpulan Data... 32
xiii
B. Hasil Penelitian ... 33
1. Deskripsi Subjek ... 33
2. Kebutuhan pada Masing-masing Subjek... 34
3. Katergorisasi Kebutuhan Semua Subjek... 40
C. Pembahasan... 44
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 50
A. Kesimpulan ... 50
B. Saran... 50
1. Bagi Peneliti Selanjutnya ... 50
2. Bagi Orang Tua yang Memiliki Anak Tunggal ... 51
3. Bagi Masyarakat dan Lingkungan Sekitar ... 51
DAFTAR PUSTAKA ... 52
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian ... 33
Tabel 2. Ringkasan Kebutuhan Tiap Subjek... 38
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tidak sedikit keluarga yang hanya memiliki satu orang anak atau yang
biasa disebut sebagai anak tunggal. Ada beberapa versi atau pendapat yang
berkembang dalam masyarakat mengenai sifat atau karakteristik yang melekat
pada anak yang berstatus sebagai anak tunggal. Ada anggapan atau stereotip
bahwa anak tunggal berbeda dengan anak dengan saudara, maupun anggapan
bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan antara anak tunggal dengan anak pada
umumnya yang memiliki saudara.
Banyak stereotip atau pandangan mengenai anak tunggal di masyarakat,
seperti misalnya bahwa anak tunggal itu manja, agresif, diktator, dan tidak
dewasa (Golda, 2010). Salah satu konsepsi yang popular adalah anak tunggal
merupakan “anak nakal yang manja” dengan karakteristik yang kurang baik, seperti kurang kendali diri, egois dan sangat tergantung (Santrock, 2006).
Selain itu, penelitian yang dilakukan Shulan Jiao (1986) di China
mengungkapkan bahwa anak tunggal lebih egosentris dibandingkan dengan
anak dengan saudara kandung.
Seorang tokoh psikologi ternama, Alfred Adler (dalam Alwisol, 2009)
memiliki pendapat yang terkesan mendukung stereotip yang berkembang di
masyarakat mengenai anak tunggal. Ia berpendapat bahwa karakteristik anak
selalu merasa dirinya benar, perasaan diri yang rendah, serta memiliki gaya
hidup yang manja. Walaupun ia juga berpendapat bahwa anak tunggal adalah
anak yang matang secara sosial.
Namun, pembicaraan mengenai anak tunggal masih dapat dikatakan
kontroversial. Ini dibuktikan dari berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa
tidak ada perbedaan karakteristik kepribadian yang esensial antara seorang
anak tunggal dan anak yang memiliki saudara kandung (Mellor dalam Wong,
2009). Hasil penelitian yang dilakukan Toni Falbo (1977) menyebutkan bahwa
konsepsi popular bahwa anak tunggal itu egois, kesepian dan maladjusted tidak
didukung oleh penelitian-penelitian yang relevan. Hal ini diperkuat dengan
penelitian kembali oleh Toni Falbo (1987), yang melakukan meta-analisis
kualitatif dari 115 penelitian mengenai karakteristik anak tunggal, dimana
hasilnya gagal untuk mendukung stereotip negatif pada anak tunggal,
dikarenakan tidak adanya perbedaan yang signifikan antarkelompok anak
tunggal dan anak dengan saudara.
Sebenarnya perspektif atau pandangan yang negatif bisa berdampak
buruk pada anak. Walaupun banyak penelitian yang menepis segala stereotip
mengenai anak tunggal, namun seorang anak tunggal harus tetap hidup dengan
label atau kesan negatif. Pandangan atau stereotip masyarakat mengenai anak
tunggal akan berpengaruh pada bagaimana mereka akan berperilaku atau
bertindak, baik secara langsung maupun tidak langsung pada anak tunggal
psikologis anak. Bagi anak-anak, pengalaman mendapatkan label tertentu,
terutama negatif, dapat memicu pemikiran bahwa dirinya ditolak. Label negatif
yang diberikan pada anak secara berulang-ulang pun akan mengusik
kepercayaan diri, harga diri dan konsep diri anak (Gustiana, 2012).
Adanya perbedaan pandangan, baik yang memandang berbeda atau
tidak berbeda antara sifat dan karakteristik yang melekat pada anak yang
berstatus sebagai anak tunggal dengan anak yang memiliki saudara, membuat
wacana atau perbincangan mengenai karakteristik atau kondisi psikologis anak
tunggal bisa dikatakan masih membingungkan. Untuk itu, penelitian ini
dilakukan guna mengetahui kondisi psikologis anak tunggal.
Dalam assesmen psikologi dengan teknik proyektif, kondisi psikologis
seseorang seringkali dipahami dan dipelajari dengan mengetahui need orang
tersebut. Menurut beberapa ahli (Muray dalam Alwisol, 2009; Bellack, 1997;
Rotter dalam Jess&Gregory Feist, 2010), need inilah yang sering memainkan
peran yang penting dalam kemunculan tindakan seorang individu. Tingkah
laku individu akan mengarah pada usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan
yang muncul. Oleh karena itu, dengan mengetahui need yang dimiliki anak
tunggal, diharapkan bisa mengetahui apa yang mendasari anak tunggal dalam
setiap perilakunya dan menjadi salah satu dasar untuk memprediksi perilaku
maupun tindakan yang muncul. Dari need-need yang ditemukan dapat
diketahui apakah need-need yang dimiliki anak tunggal tersebut sejalan dengan
anak tunggal yang dianggap berbeda dengan anak pada umumnya, yaitu
tergantung dengan orang lain, egosentris, dan lain-lain.
Need atau kebutuhan merupakan suatu konstrak yang abstrak dan
hipotesis, berkaitan dengan proses fisiologis yang terjadi di otak. Need dapat
muncul karena dorongan dari dalam atau rangsangan dari luar. Menurut
Murray (dalam Hartini, 2000), need adalah sebuah konstruk yang mengatur
berbagai proses seperti persepsi, pikiran, dan tindakan dengan maksud untuk
mengubah kondisi yang ada dan tidak memuaskan. Secara umum, need
merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh perasaan kekurangan dan ingin
diwujudkan melalui suatu usaha atau tindakan.
Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui dan menjabarkan need apa saja yang dimiliki oleh seorang anak
tunggal. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan analisis
interpretif. Tujuan dari pendekatan ini adalah mengungkapkan bagaimana
individu memaknai dunia personal dan sosialnya berdasarkan pengalaman,
peristiwa, dan status yang dimiliki masing-masing individu tersebut (Smith,
2009).
Data penelitian menggunakan data dari hasil analisis CAT (Children
Apperception Test). Melalui CAT, anak diminta bercerita mengenai gambar
yang berupa stimulus dengan situasi ambigu. Penggunaan CAT ini dapat
mengungkapkan atau memproyeksikan berbagai macam kebutuhan, dorongan,
CAT memiliki kelebihan dibandingkan alat assessment lain, seperti
wawancara, atau observasi, karena dapat menggali atau mengekspresikan
ide-ide ataupun gagasan yang terlalu mengancam bagi anak untuk diutarakan
secara langsung (Wenar & Kerig, 2000).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan, maka
muncul pertanyaan apa saja need atau kebutuhan pada anak tunggal?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja need atau kebutuhan
yang dimiliki oleh seorang anak tunggal.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan
teoritis di bidang psikologi perkembangan anak dan psikologi kepribadian,
khususnya mengenai need atau kebutuhan yang dimiliki anak tunggal.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi atau
tunggal pada keluarga-keluarga, khususnya yang memiliki anak tunggal,
psikolog, maupun praktisi anak yang akan bermanfaat dalam pengasuhan
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anak Tunggal 1. Anak
Periode perkembangan anak-anak di masa pertengahan anak-anak
(middle childhood) atau masa sekolah berada pada usia 6 hingga 12 tahun
(Hurlock, 1990). Pada usia ini, anak menerima suatu peran baru,
bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang dan kelompok yang baru, dan
mulai mengembangkan standar-standar baru dalam menilai diri mereka
sendiri (Santrock, 2006).
Anak-anak memasuki periode operasional konkret (anak usia 7-12
tahun), berdasarkan tahap perkembangan kognitif Piaget. Anak-anak dapat
melakukan operasi, dan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif
sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam contoh-contoh yang spesifik
atau konkret (Santrock, 2006).
Pada tahap psikoseksual menurut Freud, anak-anak memasuki
tahap laten, dimana pada tahap ini dorongan seksual belum terlalu
menonjol. Anak-anak banyak menyalurkan energi libido dalam
bentuk-bentuk pengembangan keterampilan seksual dan intelektual (Santrock,
2011). Aktivitas ini mengarahkan banyak energi anak ke dalam bidang
Pada tahap psikososial menurut Erikson, anak-anak masuk di tahap
industry vs inferiority (tekun vs rasa rendah diri). Ketika anak-anak
memasuki tahun-tahun sekolah dasar, mereka mengerahkan energi mereka
pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual (Santrock,
2006). Anak yang berhasil menyelesaikan tugas perkembangannya dengan
baik akan menjadi anak yang memiliki rasa percaya dan rasa aman yang
tinggi dan memiliki inisiatif yang tinggi. Anak seperti itu akan lebih
mudah untuk mengembangkan perasaan mampu. Sedangkan anak yang
pemalu dan penuh rasa bersalah akan mengembangkan perasaan inferior
atau kurang berharga.
Pada tahap ini, anak-anak harus menghadapi tugas-tugas
perkembangannya, untuk menentukan apakah anak mengalami
perkembangan dengan baik. Menurut Gunarsa (1997), tugas-tugas
perkembangan anak usia 6 sampai 12 tahun adalah:
1. Belajar kemampuan-kemampuan fisik yang diperlukan agar bisa
melaksanakan permainan atau olahraga
2. Membentuk sikap-sikap tertentu terhadap dirinya sebagai pribadi
yang sedang tumbuh dan berkembang
3. Belajar bergaul dengan teman-teman seumurannya
4. Mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar dalam mebaca,
menulis, dan menghitung
5. Mengembangkan nurani, moralitas dan skala nilai
7. Membentuk sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan
institusi
Hurlock (1990), menyusun tugas perkembangan anak berdasarkan
teori Havighurst mengenai teori tugas berkembangan, yaitu:
1. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk
permainan-permainan yang umum dilakukan anak-anak
2. Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai
individu yang sedang tumbuh
3. Menyesuaikan diri dengan teman sebaya
4. Mengembangkan peran sosial pria dan wanita secara tepat
5. Mengembangkan keterampilan dasar dalam membaca, menulis,
berhitung
6. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk
kehidupan sehari-hari
7. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata nilai
8. Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial di
lingkungan
9. Mencapai kebebasan pribadi
Tidak jauh berbeda dengan Hurlock, ahli psikologi lain, Collins,
juga mengungkapkan pandangannya tentang tugas perkembangan yang
1. Aspek fisik: meningkatkan kekuatan dan koordinasi otot, yaitu
meningkatkan kemampuan beberapa aktivitas dan tugas fisik.
2. Aspek kognisi: pada taraf operasional konkret, berfokus pada
kejadian ‘saat ini’, menambah pengetahuan dan keterampilan baru,
mengembangkan perasaan mampu (self efficacy).
3. Aspek sosial: (a) mencapai bentuk relasi yang tepat dengan
keluarga, teman, dan lingkungan; (b) mempertahankan harga diri
yang sudah dicapai; (c) mampu mengkompromikan antara tuntutan
individualitasnya dengan tuntutan konformitas; dan (d) mencapai
identitas diri yang memadai atau adekuat.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli mengenai tugas-tugas
perkembangan anak tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tugas
perkembangan anak usia 6-12 tahun meliputi:
1. Aspek fisik: yang meliputi meningkatkan kekuatan dan
koordinasi otot dalam rangka mempelajari keterampilan fisik
yang diperlukan untuk permainan-permainan anak.
2. Aspek kogitif: memasuki periode operasional konkret;
menambah pengetahuan dan keterampilan baru,
mengembangkan perasaan mampu, mengembangkan
keterampilan dasar dalam membaca, menulis, berhitung serta
pengertian-pengertian yang diperlukan dalam kehiduapan
3. Aspek sosial: Menyesuaikan diri dengan teman sebaya,
mengembangkan peran sosial pria dan wanita secara tepat,
mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial di
lingkungan, mengikuti aturan-aturan sosial, hingga mencapai
bentuk relasi yang tepat dengan keluarga, teman, dan
lingkungan
4. Aspek moral: Mengembangkan hati nurani, pengertian moral,
dan tata nilai; anak hendaknya dapat mengontrol tingkah laku
sesuai dengan nilai dan moral yang berlaku.
5. Aspek mental: Membangun sikap yang sehat mengenai diri
sendiri sebagai individu yang sedang tumbuh, mencapai
kebebasan pribadi
2. Anak Tunggal
Sebuah keluarga dapat dikatakan sebagai keluarga dengan anak
tunggal jika didalamnya terdiri dari orang tua (ayah dan ibu) dengan satu
orang anak (Landis, 1997). Demikian pula yang dikemukakan oleh
Gunarsa (2003), bahwa anak tunggal dalam suatu keluarga diartikan jika
dalam suatu keluarga yang terdiri dari suami dan istri hanya memiliki
seorang anak saja.
Terdapat beberapa faktor penyebab orang tua memiliki anak
tunggal yakni, (1) faktor kesehatan, (2) faktor pilihan dari orang tua yang
pada kebudayaan tertentu ada anggapan bahwa memiliki satu anak saja
merupakan hal yang sangat baik dan (4) faktor lainnya yang merupakan
anggapan dari orang tua bahwa bulan-bulan pertama masa perkembangan
bayi mereka merupakan masa yang tidak menyenangkan sehingga mereka
tidak ingin mengulanginya lagi (Laybourn dalam Sujata, 2012).
Anak tunggal bisa menikmati kasih sayang dari orang tua secara
penuh tanpa harus berbagi dengan saudara kandung yang lain. Orang tua
yang memiliki anak tunggal dapat mencurahkan lebih banyak waktu dan
memusatkan lebih banyak perhatian padanya. Anak tunggal lebih banyak
bercakap-cakap dengan orang tua mereka, serta lebih banyak
menghabiskan waktu berdua dengan orang tua mereka (Papalia & Olds
2007). Namun demikian, anak tunggal juga dapat diberi tekanan lebih
besar dari orang tua untuk memperoleh pencapaian dan perilaku matang di
usia muda (Wong, 2009).
Menurut Adler (dalam Jess&Gregory Feist, 2010), anak tunggal
berada pada posisi yang unik dalam hal daya saing, dimana mereka tidak
bersaing dengan saudara-saudaranya untuk mendapat perhatian, namun
terhadap ayah dan ibunya. Menurutnya, anak tunggal sering membentuk
rasa superioritas yang tinggi dan konsep diri yang besar. Adler
menyatakan bahwa anak tunggal bisa saja kurang memiliki sifat kerja
sama dan minat sosial, bersikap parasit, serta mengharapkan orang lain
B. Need (Kebutuhan) 1. Pengertian Need
Kebutuhan manusia dibedakan menjadi dua yaitu kebutuhan
biologis dan kebutuhan psikologis. Kebutuhan biologis diperlukan agar
manusia dapat bertahan hidup, sedangkan kebutuhan psikologis diperlukan
agar orang lebih bahagia hidupnya dan dapat mengaktualiasikan dirinya.
(Prihantono, 2003).
Beberapa ahli memiliki beberapa deskripsi mengenai need. Chaplin
(2001) menyebutkan need adalah sembarang kekurangan, ketiadaan, atau
ketidaksempurnaan yang dirasakan seseorang sehingga merusak
kesejahteraannya. Murray (dalam Hartini, 2000) mendefinisikan
kebutuhan sebagai suatu keadaan yang ditandai oleh perasaan kekurangan
dan ingin diwujudkan melalui suatu usaha atau tindakan. Lebih lanjut,
Murray mendefinisikan kebutuhan sebagai kekuatan atau dorongan dari
dalam diri individu yang mengatur dan mengorganisasi persepsi, apersepsi,
kehendak serta perilaku untuk mencapai tujuan tertentu (Hall&Lindzey,
1993).
Berdasarkan deskripsi-deskripsi tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa kebutuhan adalah perasaan kekurangan atau dorongan dari dalam
diri inidvidu yang dapat menggerakkan individu ke suatu tujuan tertentu
dengan mengatur dan mengorganisasi persepsi, apersepsi, kehendak serta
Need bisa terbentuk oleh proses internal, namun lebih sering
dirangsang oleh faktor lingkungan (Alwisol, 2009). Ada beberapa faktor
internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi need individu. Faktor
internal yang berpengaruh terhadap kemunculan need adalah tahap
perkembangan usia maupun psikososial individu (Kusumaningtyas, 2008).
Faktor yang berasal dari luaar atau lingkungan adalah penerimaan dan
perlakuan orang tua, teman, guru, dan orang-orang yang berada di sekitar
individu (Widyaningrum, 2010).
Kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi akan membuat individu
merasa kecewa atau sakit hingga mengalami tekanan. (Hall dan Lindzey,
1993). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Maisyarah (2013), tidak
terpenuhinya kebutuhan menyebabkan timbulnya kecemasan dapat
menjadi suatu pengalaman yang mengganggu kemampuan kognitif dan
motorik individu.
2. Ragam Kebutuhan
Ada enam kriteria untuk dapat menyimpulkan adanya kebutuhan,
dimana lima kriteria merupakan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti,
sedangkan sisanya membutuhkan pasrtisipasi orang yang diamati (Alwisol,
2009), yakni: (1) Hasil dari tingkah laku, (2) Pola-pola khusus dari
tinggkah laku, (3) Perhatian dan respon yang terjadi terhadap kelompok
kepuasan atau ketidakpuasan pada hasil akhir, (6) Ungkapan atau laporan
subjektif mengenai perasaan, maksud dan tujuan.
Berdasarkan kriteria tersebut, Murray menyimpulkan ada
need-need yang penting, dimana semua need-need tersebut saling berhubungan satu
dengan lainnya dengan berbagai cara. Adapun need-need tersebut adalah
(Murray, 1998):
1. n. Abasment (Kebutuhan untuk mengalah / menyerah)
Tunduk pada paksaan atau pengekangan untuk menghindari tuduhan,
hukuman, dan penderitaan. Rela menanggung tekanan yang tidak
mengenakkan tanpa berusaha melawan.
2. n. Achievement (Kebutuhan berprestasi)
Mengerjakan sesuatu yang penting dengan tekun dan bersemangat.
Berusaha keras menyelesaikan sesuatu yang berarti.
3. n. Agression (Dorongan Agresif)
• Emosional dan verbal. Membenci, marah, terlibat dalam
pertengkaran verbal
• Fisik, sosial. Berkelahi demi mempertahankan diri atau membela
sesuatu atau seseorang yang dicintai
• Fisik, asocial. Menodong, menyerang, melukai orang lain secara
melanggar hukum. Terlibat dalam suatu pertikaian tanpa alasan
yang semestinya.
• Destruksi atau perusakan. Memecah, merusak, membakar, atau
4. n. Dominance (Pengusaan)
Mencoba mempengaruhi perilaku, perasaan, atau pikiran orang lain.
Memimpin, mengelola, memaksa, memerintah.
5. n. Intraggression (Agresi yang ditujukan pada diri sendiri)
Menyelahkan, mengkritik, memarahi, melecehkan diri sendiri karena
kesalahan, kebodohan, atau kegagalan yang telah dilakukan.
6. n. Nurturance (Reksa pada sesama)
Mengungkapkan simpati dengan tindakan. Baik hati dan penuh
perhatian pada perasaan orang lain. Menolong, melindungi orang lain.
7. n. Passivity (Sikap pasif)
Menikmati keheningan, merasa lelah atau menjadi malas setelah
bekerja atau berusaha tak seberapa. Menyerah pada orang lain karena
sikap apatis dan inersia atau rasa malas.
8. n. Sex
Mencari dan menyukai kebersamaan dengan lawan jenis
9. n. Succorance (Kebutuhan untuk dilindungi)
Mencari pertolongan, meminta atau menggantungkan diri pada orang
lain untuk mendapat dorongan semangat, pengampunan, perlindungan,
perhatian.
10. n. Intranurturance
Menghibur diri sendiri, kasian pada diri sendiri. Mencari kegembiraan
11. n. Acquisition (Kebutuhan memburu harta benda)
12. n. Affiliation (Kebutuhan menjalin persahabatan)
13. n. Autonomy (Kebutuhan untuk bebas menentukan pilihan)
14. n. Blameavoidance (Kebutuhan menghindari tudingan, kekangan, dan
penolakan dari orang lain)
15. n. Cognizance (kebutuhan untuk memuaskan rasa ingin tahu)
16. n. Creation (Kebutuhan untuk berkreasi)
17. n. Deference (Kebutuhan untuk mengikuti/melayani atasan/pemimpin)
18. n. Excitance (Kebutuhan akan rangsangan)
19. n. Exposition (Kebutuhan menjelaskan/menggurui)
20. n. Harmavoidance (Kebutuhan untuk menghindar dari sakit/bahaya)
Menurut Rotter (dalam Jess&Gregory Feist, 2010), kebutuhan
merupakan indikator dari tujuan perilaku. Perbedaan antara kebutuhan dan
tujuan bersifat sematik. Rotter membuat enam kategori umum dari
kebutuhan, yang setiap kategorinya merepresentasikan sekelompok
perilaku yang berkaitan secara fungsional, yaitu: (1) Pengakuan status,
merupakan kebutuhan untuk diakui oleh orang lain dan untuk
mendapatkan status di mata orang lain; (2) Dominasi, kebutuhan untuk
mengendalikan perilaku orang lain; (3) Kemandirian, kebutuhan untuk
bebas dari dominasi orang lain; (4) Perlindungan-ketergantungan,
kebutuhan untuk diperhatikan oleh orang lain; (5) Cinta dan afeksi; dan (6)
C. Tes Proyektif (CAT)
CAT(Children’s Apperception Test)merupakan metode proyeksi untuk
mengamati kepribadian dengan mempelajari dinamika dari respon individu
dalam mempersepsi stimulus-stimulus gambar. CAT merupakan penurunan
langsung dari TAT (Thematic Apperception Test), dimana CAT merupakan alat
tes yang digunakan pada anak usia 3-10 tahun.
CAT digunakan untuk memahami hubungan anak dengan figur-figur
penting dan dorongan-dorongannya. Gambar-gambar didesain untuk
mengamati masalah persaingan dengan saudara, sikap dan hubungan anak
terhadap figur orang tua, maupun fantasi anak mengenai orang tua yang buruk.
Melalui CAT, diharapkan dapat mengeluarkan fantasi anak tentang agresi,
penerimaan terhadap dunia orang dewasa, mempelajari mekanisme pertahanan
diri anak dan membantu mengatasi masalah perkembangannya (Bellack, 1997).
Secara klinis, CAT digunakan untuk mengamati faktor-faktor dinamis yang
terkait dengan tingkah laku anak dan kelompok, sekolah atau di rumah.
Versi yang pertama dari CAT menggunakan gambar-gambar hewan
sebagai stimulusnya (CAT-animal). Namun kemudian dikembangkan versi
CAT dengan menggunakan figur manusia pada gambar-gambarnya, yang juga
dikenal sebagai CAT-H (Children Apperception Test-Human). CAT-animal
biasa digunakan pada anak usia prasekolah (3-5 tahun), sedangkan CAT-H
biasa digunakan pada anak yang lebih besar (5-10 tahun) serta untuk anak yang
Setiap set CAT terdiri dari 10 kartu yang masing-masing kartunya
memiliki tema dan kegunaan masing-masing untuk mengungkap kondisi
psikologis anak.
1. Kartu 1 menampilkan gambar anak-anak ayam duduk mengitari meja yang
di atasnya terdapat mangkuk berisi makanan. Pada sisi kiri, ada seekor
ayam besar yang tergambar samar; mengungkap persaingan antar
saudara, situasi pemberian hadiah atau pemberian hukuman, serta masalah
umum yang berkaitan dengan oralitas.
2. Kartu 2 menampilkan gambar seekor beruang menarik tambang pada satu
ujung, sementara beruang lain dengan seekor anak beruang menarik
ujung tambang yang lain; mengungkap permainan, ketakutan akan agresi,
sikap agresi anak.
3. Kartu 3 menampilkan gambar seekor singa dengan pipa dan tongkat
duduk di kursi; di sudut kanan bawah, seekor tikus muncul dari lubang;
mengungkap kebingunan akan peran, konflik antara pemenuhan kebutuhan
dan otonomi.
4. Kartu 4 menampilkan gambar seekor kangguru memakai topi, membawa
keranjang berisi botol susu; di kantongnya ada anak kangguru yang
sedang memegang balon; sedangkan anak kangguru yang lebih besar
sedang mengendarai sepeda; mengungkap persaingan antar saudara,
hubungan antara ibu dan anak, serta keinginan untuk mandiri dan
5. Kartu 5 menampilkan gambar sebuah kamar yang gelap dengan tempat
tidur besar pada latar belakang; di depan terdapat tempat tidur bayi
dengan 2 bayi beruang di dalamnya; mengungkap keterlibatan emosi pada
anak, pengamatan, kebingungan.
6. Kartu 6 menampilkan gambar suatu gua yang gelap dengan gambaran
yang samar dari 2 ekor beruang di latar belakang; seekor bayi beruang
sedang berbaring di latar depan; merefleksikan perasaan cemburu.
7. Kartu 7 menampilkan gambar seekor harimau menunjukkan taring dan
cakarnya, menerkam seekor kera yang sedang melompat ke udara;
mengungkap tingkap kecemasan anak yang berkaitan dengan agresi.
8. Kartu 8 menampilkan gambar dua ekor kera dewasa duduk di sofa, minum
dari cangkir teh. Di depan, seekor kera dewasa tengah bicara dengan
anak kera; mengungkap peran anak dalam keluarga, konsep anak
mengenai kehidupan sosial orang dewasa.
9. Kartu 9 menampilkan gambar sebuah kamar yang gelap terlihat melalui
pintu terbuka dari kamar yang terang. Dalam kamar gelap terdapat
tempat tidur anak-anak yang di dalamnya berdiri seekor kelinci yang
memandang melalui pintu; mengungkap ketakutan akan ditinggal sendiri,
dipisahkan oleh orang tua, rasa ingin tahu.
10. Kartu 10 menampilkan gambar seekor anak anjing telungkup di atas lutut
anjing dewasa dengan latar belakang situasi kamar mandi;
D. Kebutuhan pada Anak Tunggal
Anak-anak usia sekolah bisa dikatakan merupakan periode kritis yang
harus dilalui individu. Setiap anak haruslah dapat menyelesaikan setiap
tugas-tugas perkembangannya, agar dapat bertumbuh menjadi remaja yang matang
serta memiliki harga diri yang tinggi. Untuk dapat menyelesaikan tugas
perkembangan tersebut, tentu saja bukan hanya anak yang berperan, tetapi
faktor eksternal, misalnya orang tua, keluarga, maupun masyarakat juga
berpengaruh.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli, dapat disimpulkan bahwa tugas
perkembangan anak usia 6-12 tahun (usia sekolah) dapat meliputi beberapa
aspek, yaitu: (1) fisik, meliputi meningkatkan kekuatan dan koordinasi otot; (2)
kogitif, meliputi mengembangkan perasaan mampu, keterampilan dasar dalam
membaca, menulis, berhitung; (3) sosial, meliputi menyesuaikan diri dengan
teman sebaya, mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial di
lingkungan, mengikuti aturan-aturan sosial; (4) moral, meliputi
mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata nilai; (5) mental,
meliputi membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai individu
yang sedang tumbuh, serta mencapai kebebasan pribadi.
Secara umum, berkaitan tugas-tugas perkembangannya tersebut, anak
usia 6-12 tahun memiliki kebutuhan akan pemenuhan kebutuhan fisik atau
jasmani dan kebutuhan akan kasih sayang yang akan terwujud pada hubungan
relasi dengan orang tua, saudara, maupun pertemanan. Anak juga memiliki
dan ditanamkan. Selain itu anak juga memiliki kebutuhan akan aktualisasi diri
yang ditunjukkan dengan mengembangkan berbagai aspek kehidupannya.
Seorang anak tunggal merupakan satu-satunya anak dalam sebuah
keluarga. Hal ini menimbulkan situasi yang unik dalam kehidupan anak
tunggal dibandingkan anak lain yang memiliki saudara. Ia tidak perlu bersaing
dengan saudara-saudaranya, namun terhadap ayah atau ibunya (Jess&Gregory
Feist, 2010). Segala perhatian dan waktu orang tua pun otomatis akan tertuju
dan diberikan padanya (Falbo & Polit, dalam Papalia & Olds 2007). Namun di
sisi lain, seorang anak tunggal harus menerima kenyataan bahwa ia tidak
memiliki teman untuk bermain serta berbagi di dalam rumah.
Anak tunggal memiliki kemungkinan yang besar untuk dibesarkan
dengan pola asuh yang dimanjakan oleh orang tua. Orang tua terkadang
melakukan terlalu banyak untuk anaknya dan memperlakukan mereka seperti
seolah-olah mereka tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Hal ini
akan berdampak buruk jika anak kemudian tumbuh menjadi manja. Orang
yang manja akan mengharapkan orang lain untuk merawat, melindungi dan
memuaskan kebutuhan mereka. Karakteristik yang bisa terbentuk adalah putus
asa yang berlebihan, kebimbangan, tidak sabar, dan emosi yang berlebihan
(Adler dalam Jess&Gregory Feist, 2010). Hal tersebut tentu akan menghambat
seorang anak dalam menyelesaikan tugas perkembangannya, terutama di aspek
sosial, yang menuntut mereka untuk dapat menyesuaikan diri, berelasi dengan
Selain pola asuh, seorang anak tunggal juga harus hidup di masyarakat
yang sebagaian besar memiliki pandangan negatif terhadap mereka. Pandangan
negatif ini tentu akan mempengaruhi bagaimana secara langsung maupun tidak
langsung masyarakat akan memperlakukan mereka. Perbedaan perlakuan anak
tunggal dengan anak lain ini tentu akan berdampak pada kondisi psikologis
anak. Terlebih jika pandangan atau steriotip yang berkembang itu lebih
melekat kearah negatif, tentu akan menghambat anak dalam menjalankan
tugas-tugas perkembangan seperti yang seharusnya.
Segala situasi-situasi yang sedang dan harus dihadapi oleh anak tunggal
tersebut, memunculkan perilaku atau karakteristik tertentu anak tunggal, yang
juga coba dijabarkan oleh Adler. Menurut Adler (dalam Jess&Gregory Feist,
2010), seorang anak tunggal sering membentuk rasa superioritas dan harga diri
yang tinggi. Adler menyatakan bahwa anak tunggal bisa saja kurang memiliki
sifat kerja sama dan minat sosial, serta berharap orang lain untuk memanjakan
dan melindungi mereka. Walaupun demikian, Adler berpendapat bahwa anak
tunggal merupakan anak yang matang secara sosial.
Stereotip yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa anak
tunggal adalah anak nakal yang manja. Penelitian yang sudah dilakukan juga
mengungkapkan bahwa anak tunggal lebih egosentris dibandingkan dengan
anak dengan saudara kandung
Penelitian ini dilakukan guna mengetahui kondisi psikologis anak
tunggal, dimana kondisi psikologis seseorang seringkali dipahami dan
ditemukan juga dapat diketahui apakah need-need yang dimiliki anak tunggal
tersebut sejalan dengan stereotip masyarakat maupun pendapat Adler mengenai
sifat dan karakteristik anak tunggal yang dianggap berbeda dengan anak pada
Skema Kerangka Penelitian: Gambaran Pembentukan Karakteristik Anak Tunggal
E. Pertanyaan Penelitian
Apa saja need atau kebutuhan yang dimiliki oleh seorang anak tunggal?
- Tanpa saudara kandung
- Pola asuh orang tua yang memanjakan
- Pandangan / steriotip masyarakat
Kondisi psikologis yaitu need
Apa saja need atau kebutuhan
yang dimiliki oleh seorang anak
tunggal?
Perilaku atau karakteristik anak
tunggal:
- rasa superioritas yang
tinggi
- egosentris
- mengharapkan orang lain
memanjakan dan
melindungi
26
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan
pendekatan interpretatif dengan metode proyektif. Jenis penelitian kualitatif
memiliki beberapa kelebihan atau keuntungan, diantaranya meneliti manusia
dalam latar sewajarnya, penekanan pada interpretasi dan mencari makna, dan
mendapatkan pemahaman mendalam tentang dunia responden. Selain itu
metode kualitatif juga memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi, serta
menggambarkan pandangan dunia yang lebih realistik. (Pramono, 2010).
Melalui pendekatan interpretatif, dapat diketahui bagaimana individu
atau responden mempersepsi situasi-situasi tertentu yang dihadapi, serta
bagaimana mereka membuat pemahaman terhadap dunia personal dan
sosialnya (Smith, 2009). Penggunaan metode proyektif diharapkan dapat
menggali aspek psikologis yang ada di dalam diri subjek. Tradisi dalam teknik
proyektif adalah menggunakan stimulus yang tidak terstruktur dan lebih
ambigu, dan individu bebas untuk mengekspresikan perasaan batin
terdalamnya (keinginan, kecemasan, dan konflik) dan mengungkapkan
B. Fokus Penelitian
Penelitian ini berfokus pada mengetahui need atau kebutuhan yang
dimiliki oleh seorang anak tunggal. Data yang akan diolah merupakan hasil
dari analisis tematik CAT. Berdasarkan hasil analisis tematik masing-masing
kartu yang diolah, akan ditemukan keberagaman need atau kebutuhan seorang
anak tunggal tersebut.
C. Subjek Penelitian
Pemilihan subjek dilakukan dengan berdasarkan pada kriteria-kriteria
yang telah ditentukan sebelumnya oleh peneliti. Penentuan kriteria atau
karakteristik subjek tersebut didasarkan pada kajian teoritik, serta tujuan dari
penelitian. Adapun kriteria subjek dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Subjek merupakan anak-anak, dengan kisaran usia antara 6 hingga 11
tahun
b. Subjek merupakan anak tunggal
c. Subjek merupakan anak satu-satunya yang diasuh di dalam rumah
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan teknik dokumen. Metode dokumentasi dapat diartikan
sebagai suatu cara pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen
yang ada atau catatan-catatan yang tersimpan. Dokumen yang dimaksud adalah
2012). Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data CAT,
yang meliputi respon CAT sebagai data utama dan data latar belakang subjek
sebagai data pelengkapnya.
1. Data Utama: Respon CAT
CAT (Children’s Apperception Test) merupakan metode proyeksi
untuk mengamati kepribadian dengan mempelajari dinamika dari respon
individu dalam mempersepsi stimulus-stimulus gambar. Gambar-gambar
dalam CAT didesain untuk memahami hubungan anak dengan figur-figur
penting dan dorongan-dorongannya, mengamati masalah persaingan
dengan saudara, sikap dan hubungan anak terhadap figur orang tua,
maupun fantasi anak mengenai orang tua yang buruk. Melalui CAT,
diharapkan dapat mengeluarkan fantasi anak tentang agresi, penerimaan
terhadap dunia orang dewasa, mempelajari mekanisme pertahanan diri
anak dan membantu mengatasi masalah perkembangannya (Bellack,
1997).
Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui gambaran need yang
dimiliki seorang anak tunggal ini, menggunakan data respon atau cerita
responden atau subjek yang relevan. Need dalam cerita dapat ditemukan
pada tindakan yang dilakukan oleh tokoh, pikiran serta perasaan tokoh,
pola pikir serta pandangan tokoh, objek atau figur yang ditambahkan atau
diabaikan oleh tokoh, maupun bagaimana relasi atau hubungan tokoh
2. Data Pelengkap: Latar Belakang Subjek
Data pelengkap yang digunakan dalam metode dokumen ini adalah
latar belakang subjek. Latar belakang subjek tersedia pada bagian
pendahuluan laporan, digali melalui wawancara dan observasi. Wawancara
dilakukan pada subjek sendiri dan pada significant person subjek,
misalnya orangtua atau pengasuhnya. Dalam penelitian ini, latar belakang
yang relevan dengan tujuan penelitian, yaitu mengetahui gambaran need,
berada pada lingkup area keluarga, teman sebaya, konsep diri subjek, serta
area vitalitas subjek yang terlihat dari cara subjek belajar atau mengerjakan
tugas.
E. Metode Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian dengan metode proyektif
ini adalah analisis tematik. Analisis tematik dalam CAT terdiri dari 3 tahapan,
yaitu analisis tema deksriptif, tema interpretif, dan tema diagnostik (Bellack,
1997).
1. Tema Deskriptif
Tema deskriptif merupakan ringkasan cerita, yang berisi
unsur-unsur cerita, yang memiliki sumbangan arti untuk menjelaskan
psikodinamika subjek. Tema deskriptif berfungsi untuk mengetahui isi
cerita, memilih bagian-bagian cerita yang memiliki arti agar tidak
bertele-tele. Selain itu fungsi lainnya adalah agar tidak ada bagian cerita
yang penting yang terlewat.
2. Tema Interpretif
Tema interpretif merupakan tema yang dinyatakan dalam kalimat
yang bersifat hipotesis, dan dinyatakan dengan general meaning dari
cerita. Fungsi tema interpretif ini adalah membantu interpreter dalam
menangkap atau mengidentifikasi arti dari cerita subjek.
3. Tema Diagnostik
Pada tema diagnosis, sifat hipotesis dalam tema interpretif
sebelumnya dihilangkan, dan diungkapkan dengan pernyataan yang
bersifat definitif. Tahapan analisis diagnosis ini merupakan tahapan
dimana interpreter mulai mendeteksi psychological problem pada diri
subjek.
Berdasarkan fokus penelitian yang telah ditentukan sebelumnya, maka
analisis di tema diagnostik pada penelitian ini akan dibatasi pada kebutuhan
(need) yang dimiliki subjek.
F. Pemeriksaan Keabsahan Data
Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dalam rangka meningkatkan
derajat kepercayaan penelitian. Salah satu cara yang dilakukan guna memeriksa
keabsahan data tersebut adalah melalui dependabilitas. Dependabilitas
rencana penelitian, pengumpulan data, inteprestasi temuan, dan pelaporan hasil
penelitian (Moleong, 2007). Dependabilitas dalam penelitian ini akan
dilakukan dengan diskursus. Menurut Sarantakos (dalam Poerwandari, 2005),
diskursus adalah sejauh mana dan sesensitif apa peneliti mau mendiskusikan
temuan dan analisisnya pada orang lain. Dalam hal ini, peneliti mendiskusikan
32
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Penelitian
1. Proses Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik
dokumen. Data diambil dari Laboratorium Psikologi Universitas Sanata
Dharma Yogyakarta yang merupakan data-data dokumen laporan
praktikum CAT mahasiswa/i Fakultas Psikologi Universitas Sanata
Dharma tahun 2012.
Pada penelitian ini, peneliti menentukan bahwa jumlah data yang
akan diolah harus lebih dari lima data, agar diharapkan bisa mewakili atau
merepresentatifkan subjek anak tunggal. Peneliti mencari dan menyeleksi
data dari angkatan mahasiswa 2009 yang berjumlah 105 data. Penyeleksian
dilakukan dengan kriteria subjek merupakan anak tunggal yang berusia
antara 6 hingga 11 tahun, serta merupakan anak satu-satunya yang diasuh
dalam rumah.
Awalnya didapatkan sepuluh data anak tunggal, namun subjek
kesepuluh gugur, karena bukan anak satu-satunya yang di asuh dalam
rumah. Maka, data yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah
sembilan data, yang terdiri dari satu subjek laki-laki dan delapan subjek
perempuan. Subjek berusia antara 6 sampai 10 tahun dan seluruhnya
2. Proses Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menginterpretasi secara tematik
kesepuluh cerita pada tiap-tiap subjek. Tahap pertama analisis tematik
adalah menganalisis tema deskriptif. Analisis tema deskriptif dilakukan
dengan meringkas cerita sehingga menghasilkan unsur-unsur cerita yang
bertujuan untuk mempermudah peneliti menangkap bagian-bagian cerita
yang penting. Tahapan kedua yaitu analisis interpretif, yang berbentuk
kalimat hipotesis, bertujuan untuk menangkap dan mengidentifikasi arti
dari cerita subjek. Tahapan terakhir dalam analisis tematik adalah analisis
tema diagnostik. Tema diaogsitk ini bersifat hipotesis yang merupakan
tahapan dimana peneliti mendeteksi psychological problem pada subjek.
Dalam hal ini, sesuai dengan tujuan penelitian, analisis tema diagnostik
hanya terbatas pada kebutuhan (need) subjek.
B. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Subjek
Subjek dalam penelitian ini berjumlah 9 orang, yang masing-masing
memiliki deskripsi sebagai berikut:
Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian
No. Nama
Jenis Kelamin
Usia
Ayah Ibu
Usia Pekerjaan Usia Pekerjaan
1. AN Perempuan 7 th 59 th Wiraswasta 36 th Wiraswasta
3. FFE Perempuan 10 th 47 th Pegawai swasta 37 th Bidan
4. GIR Permpuan 8 th 45 th Kepala sekolah 34 th Perawat
5. NF Laki-laki 10 th 44 th Wiraswasta 38 th Wiraswasta
6. RAPT Perempuan 6 th 32 th Wiraswasta 31 th Ibu RmhTngga
7. SW Perempuan 7 th 32 th Petani 36 th Petani
8. TEPR Perempuan 10 th 39 th Pegawai swasta 32 th Pegawai swasta
9. ZR Perempuan 7 th 31 th Pegawai swasta 30 th Pegawai swasta
2. Kebutuhan pada Masing-masing Subjek a. Subjek 1 (AN)
Kebutuhan yang paling banyak muncul pada Subjek 1 (AN)
adalah kebutuhan berafiliasi yang meliputi afiliasi dengan ibu, teman,
keluarga dan saudara. Selain itu, AN memiliki kebutuhan untuk
mendapat pertolongan dan bantuan, serta rasa aman.
Kebutuhan-kebutuhan lain meliputi Kebutuhan-kebutuhan akan keadilan, agresifitas, dan
lain-lain.
b. Subjek 2 (DCRZ)
Pada Subjek 2 (DCRZ), sebagian besar kebutuhan berkaitan
dengan figur ibu, meliputi kebutuhan berafiliasi dengan ibu, kebutuhan
mematuhi ibu, kebutuhan terpenuhinya kebutuhan oleh ibu. DCRZ juga
mengulangi kesalahan. Selain itu, DCRZ memiliki kebutuhan akan
prestasi dan persaingan, serta kebutuhan-kebutuhan lain.
c. Subjek 3 (FFE)
Kebutuhan yang dimiliki oleh FFE terkait dengan afiliasi
meliputi figur ibu, saudara, teman dan keluarga. Ada beberapa
kebutuhan FFE terkait dengan figur ibu yang muncul, seperti kebutuhan
tergantung dan dibantu, serta kebutuhan membantu ibu. Kebutuhan
untuk menaati atau menjalankan aturan dan kebutuhan akan kepatuhan
pada orangtua juga dimiliki FFE. Kebutuhan-kebutuhan lain yang
muncul pada diri FFE, seperti kebutuhan untuk dibanggakan atau
diakui, kebutuhan untuk otonom, dan lain-lain.
d. Subjek 4 (GIR)
Subjek 4 (GIR) memiliki kebutuhan cukup banyak mucul
berkaitan dengan figur ayah, meliputi kebutuhan akan perhatian ayah
serta kebutuhan untuk tergantung dan dibantu oleh ayah. Subjek juga
memiliki kebutuhan berafiliasi dengan ibu, keluarga dan dengan teman.
GIR memiliki kebutuhan akan kepatuhan dan kebutuhan akan
e. Subjek 5 (NF)
Kebutuhan yang paling banyak muncul pada NF adalah
kebutuhan bermain, kebutuhan akan otonomi, serta kebutuhan
berafiliasi dengan ibu dan dengan figur saudara. Kebutuhan NF
berkaitan dengan figur ayah meliputi kebutuhan untuk tergantung dan
dibantu ayah, serta adanya kebutuhan untuk menolak perilaku ayah
yang buruk. NF juga memiliki kebutuhan yang berkaitan dengan
kepatuhan dan kehadiran orangtua, dan lain-lain.
f. Subjek 6 (RAPT)
Subjek 6 (RAPT) memiliki kebutuhan yang cukup banyak
muncul terkait dengan figur orang tua, meliputi kebutuhan akan kasih
sayang, kehadiran, dan kebutuhan untuk mematuhi orangtua. RAPT
juga memiliki beberapa kebutuhan yang terkait dengan figur ayah,
seperti kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian ayah, dan kebutuhan
menyenangkan ayah. Selain itu juga ada kebutuhan akan berafiliasi dan
kebutuhan memiliki hubungan pertemanan, serta kebutuhan-kebutuhan
lain.
g. Subjek 7 (SW)
Kebutuhan yang paling sering mucul pada SW adalah kebutuhan
terkait dengan kepatuhan, yaitu kebutuhan untuk menaati peraturan dan
dengan ibu, saudara dan keluarga. Walaupun SW memiliki kebutuhan
untuk dibantu dan dirawat, SW juga memiliki kebutuhan untuk
membantu orang tua. Kebutuhan-kebutuhan lain yang ada pada diri SW
seperti kebutuhan untuk bermain, kebutuhan untuk bersaing, dan
lain-lain.
h. Subjek 8 (TEPR)
Pada TEPR, kebutuhan yang cukup banyak muncul adalah
kebutuhan untuk berafiliasi dengan saudara, orangtua dan teman, serta
kebutuhan untuk menaati peraturan dan bermain. Pada diri TEPR juga
muncul kebutuhan akan kehadiran ayah dan juga kebutuhan untuk
menolak perilaku ayah yang buruk. Selain itu, muncul
kebutuhan-kebutuhan terkait dengan keluarga, kebutuhan didengarkan
pendapatnya dan kebutuhan-kebutuhan lain.
i. Subjek 9 (ZR)
Kebutuhan-kebutuhan terkait figur ayah cukup banyak muncul
pada Subjek 9 (ZR), diantaranya kebutuhan berafiliasi dengan ayah,
kebutuhan akan perhatian dari ayah, dan kebutuhan untuk dibantu ayah.
Selain itu, subjek juga memiliki kebutuhan berafiliasi dengan ibu dan
keluarga, serta kebutuhan untuk merasa bersalah dan kebutuhan untuk
Tabel 2. Ringkasan Kebutuhan Tiap Subjek
(Lampiran kebutuhan subjek lengkap ada pada Lampiran.10)
No. Subjek Jenis Kelamin / Usia
Kebutuhan yang muncul
1. AN Perempuan / 7
tahun
- Kebutuhan rasa aman
- Kebutuhan berafiliasi dengan ibu - Kebutuhan berafiliasi dengan saudara - Kebutuhan berafiliasi dengan teman - Kebutuhan berafiliasi dengan keluarga - Kebutuhan untuk ditolong / mendapat
pertolongan
- Kebutuhan akan keadilan - Kebutuhan agresifitas 2. DCRZ Perempuan / 9
tahun
- Kebutuhan akan prestasi
- Kebutuhan berafiliasi dan beraktivitas dengan ibu
- Kebutuhan terpenuhi kebutuhannya oleh ibu
- Kebutuhan mematuhi ibu
- Kebutuhan untuk tidak mengulangi kesalahan
- Kebutuhan persaingan - Kebutuhan merasa bersalah
3. FFE Perempuan /
10 tahun
- Kebutuhan berafiliasi dengan ibu - Kebutuhan berafiliasi dengan saudara - Kebutuhan berafiliasi dengan keluarga - Kebutuhan berafiliasi dengan teman - Kebutuhan tergantung, dibantu oleh ibu - Kebutuhan membantu ibu
- Kebutuhan menjalankan aturan - Kebutuhan menaati peraturan - Kebutuhan akan kepatuhan pada
orangtua
- Kebutuhan untuk dibanggakan / diakui - Kebutuhan untuk otonom
4. GIR Perempuan / 8
tahun
- Kebutuhan berafiliasi dengan ibu - Kebutuhan untuk berafiliasi /
mempunyai teman
- Kebutuhan berafliasi dengan keluarga - Kebutuhan kehadiran orangtua
- Kebutuhan akan perhatian ayah - Kebutuhan untuk tergantung, dibantu
ayah
orangtua 5. NF Laki-laki / 10
tahun
- Kebutuhan bermain (n. Play) - Kebutuhan afiliasi dengan ibu
- Kebutuhan berafiliasi dengan saudara - Kebutuhan kehadiran orangtua - Kebutuhan untuk tergantung, dibantu
ayah
- Kebutuhan kepatuhan pada ibu - Kebutuhan kepatuhan pada ayah
- Kebutuhan untuk menolak perilaku ayah yang buruk
- Kebutuhan untuk otonom 6. RAPT Perempuan / 6
tahun
- Kebutuhan berafiliasi dengan teman - Kebutuhan berafiliasi dengan orangtua - Kebutuhan akan kehadiran orangtua - Kebutuhan akan pertemanan / memiliki
teman
- Kebutuhan kasih sayang orang tua - Kebutuhan akan perhatian ayah - Kebutuhan menyenangkan ayah
(memberi kejutan)
- Kebutuhan untuk memiliki barang (mainan)
7. SW Perempuan / 7
tahun
- Kebutuhan bermain
- Kebutuhan berafiliasi dengan ibu Kebutuhan berafiliasi dengan keluarga - Kebutuhan berafiliasi dengan saudara - Kebutuhan untuk dibantu / dirawat
keluarga
- Kebutuhan akan ditolong ibu
- Kebutuhan untuk membantu orang tua/ ibu
- Kebutuhan akan kepatuhan pada orangtua
- Kebutuhan menaati peraturan - Kebutuhan untuk persaingan 8. TEPR Perempuan /
10 tahun
- Kebutuhan berafiliasi dengan orangtua - Kebutuhan berafiliasi dengan teman - Kebutuhan berafiliasi dengan saudara - Kebutuhan akan kehadiran ayah - Kebutuhan mematuhi peraturan - Kebutuhan untuk didengarkan
pendapatnya
- Kebutuhan untuk berperan dalam keluarga
yang buruk
9. ZR Perempuan / 7
tahun
- Kebutuhan berafiliasi dengan ayah - Kebutuhan berafiliasi dengan ibu - Kebutuhan berafiliasi dengan keluarga - Kebutuhan dibantu ayah
- Kebutuhan akan perhatian ayah - Kebutuhan merasa bersalah - Kebutuhan mematuhi peraturan
3. Kategorisasi Kebutuhan Semua Subjek
Berdasarkan hasil analisis data secara tematik pada 9 subjek anak
tunggal, didapatkan berbagai macam kebutuhan-kebutuhan.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut kemudian dikategorisasikan, dan didapatkan hasil
sebagai berikut:
Tabel 3. Kategori Kebutuhan Anak Tunggal
Ragam Kebutuhan Jumlah - Kebutuhan berafiliasi dengan ibu 7 1,2,3,4,5,7,9 Kebutuhan
berafiliasi dengan orangtua atau keluarga - Kebutuhan berafiliasi dengan
keluarga
6 1,3,4,7,8,9
- Kebutuhan berafilasi dengan orangtua
2 6,8
- Kebutuhan berafiliasi dengan ayah 1 9 - Kebutuhan akan hubungan
keluarga yang harmonis
1 7
- Kebutuhan menjalin relasi yang baik dengan ayah
1 9
- Kebutuhan berafiliasi dengan teman
5 1,2,4,6,8 Kebutuhan berafiliasi dengan figur sebaya - Kebutuhan memiliki teman
(pertemanan)
3 4,6,8
- Kebutuhan menjalin relasi yang harmonis dengan teman
- Kebutuhan berafiliasi dengan - Kebutuhan menjalin relasi yang
akrab / harmonis dengan saudara
1 1
- Kebutuhan menjalankan peraturan 6 1,2,3,7,8,9 Kebutuhan akan kepatuhan (deference) - Kebutuhan kepatuhan pada orangtua 5 3,4,6,7,8
- Kebutuhan mematuhi ibu 4 2,3,5,8
- Kebutuhan mentaati / mematuhi ayah 2 2,5 - Kebutuhan untuk memenuhi harapan
dalam hubungan pertemanan (agar berperilaku baik)
1 8
- Kebutuhan makan / oral 8 1,2,3,4,5,7,8
,9
Kebutuhan fisik / fisiologis
- Kebutuhan beristirahat 4 1,3,7,9
- Kebutuhan akan kenyamanan fisik 1 1
- Kebutuhan bermain 8 1,2,3,4,5,6,7
,8
Kebutuhan bermain - Kebutuhan akan hiburan / rekreasi 2 4,6
- Kebutuhan bersenang-senang 1 1
- Kebutuhan akan rasa aman dari bahaya
8 1,2,3,4,5,6 ,8,9
Kebutuhan akan rasa aman
- Kebutuhan rasa aman 2 1,7
- Kebutuhan menghindari bahaya (sakit)
1 8
- Kebutuhan tergantung, dibantu ibu 4 3,6,7,8 Kebutuhan untuk dibantu (succorance) - Kebutuhan tergantung, dibantu ayah 3 4,5,9
- Kebutuhan untuk ditolong / mendapat pertolongan
1 1
- Kebutuhan dibantu / dirawat keluarga 1 7
- Kebutuhan berprestasi (sekolah) 4 1,2,3,9 Kebutuhan prestasi / persaingan - Kebutuhan akan prestasi / menang
(persaingan)
2 6,7
- Perasaan sedih karena kalah 1 1
- Kebutuhan kehadiran orangtua 6 1,4,5,6,7,8 Kebutuhan akan kehadiran / keberadaan orang lain - Kebutuhan akan kehadiran ayah 1 8
- Kebutuhan kehadiran teman 1 8
- Kebutuhan diperhatikan ayah (perhatihan dari ayah)
3 4,6,9 Kebutuhan
akan perhatian dan kasih sayang
- Kebutuhan kasih sayang ayah 1 6
- Kebutuhan diperhatikan ibu 1 6
- Kebutuhan merasa bersalah 3 2,6,9 Kebutuhan
merasa bersalah (abasement) - Kebutuhan untuk tidak mengulangi
kesalahan
1 2
- Kebutuhan untuk diakui / dihargai atas kepatuhan
1 6 Kebutuhan
akan pengakuan - Kebutuhan untuk didengarkan
pendapatnya
1 8
- Kebutuhan untuk berperan dalam keluarga
1 8
- Kebutuhan untuk dibanggakan / diakui
1 3
- Kebutuhan untuk otonom 2 3,5 Kebutuhan
kemandirian
- Kebutuhan otonom dari ayah 1 1
- Kebutuhan membantu orangtua 2 3,7 Kebutuhan
untuk membantu (nurturance)
- Kebutuhan akan keadilan 2 1,5
(Kebutuhan-kebutuhan lain)
- Kebutuhan agresifitas 2 1,9
- Kebutuhan akan pemenuhan kebutuhan keluarga
2 3,8
- Kebutuhan untuk menolak perilaku ayah yang buruk
Berdasarkan hasil kategorisasi, didapatkan 13 macam kategori
kebutuhan dan satu gabungan dari kebutuhan-kebutuhan yang tidak dapat
dikategorikan. Beragam kebutuhan itu antara lain, kebutuhan berafiliasi
(figur orang tua / keluarga dan figur sebaya), kebutuhan akan kepatuhan,
kebutuhan fisiologis, kebutuhan bermain, kebutuhan akan rasa aman,
kebutuhan untuk dibantu, kebutuhan akan prestasi atau persaingan,
kebutuhan akan kehadiran / keberadaan orang lain, kebutuhan akan
perhatian dan kasih sayang, kebutuhan merasa bersalah, kebutuhan akan
pengakuan, kebutuhan akan kemandirian, dan kebutuhan untuk
membantu. Adapun kebutuhan lain yang tidak dapat dikategorikan
meliputi kebutuhan akan keadilan, kebutuhan agresifitas, kebutuhan akan
pemenuhan kebutuhan keluarga, kebutuhan untuk menolak perilaku ayah
yang buruk, kebutuhan terpenuhinya kebutuhan oleh ibu dan ayah,
kebutuhan berfantasi, kebutuhan mendapat perlakuan baik dari ibu,
kebutuhan menyenangkan ayah, dan kebutuhan untuk memiliki barang. - Kebutuhan terpenuhi kebutuhannya
oleh ibu
2 2,5
- Kebutuhan terpenuhi kebutuhannya oleh ayah
1 6
- Kebutuhan berfantasi 1 5
- Kebutuhan mendapat perlakuan baik dari ibu
1 2
- Kebutuhan menyenangkan ayah (memberi kejutan)
1 6
Dari tabel kategorisasi kebutuhan-kebutuhan yang merupakan
hasil analisis pada ke-sembilan subjek anak tunggal, dapat diketahui
bahwa kebutuhan yang paling banyak muncul adalah kebutuhan
berafiliasi, yang mencakup figur orang tua / keluarga dan figur sebaya.
Kebutuhan berikutnya yang cukup banyak muncul adalah kebutuhan
akan kepatuhan. Kebutuhan yang paling sedikit muncul adalah kebutuhan
kemandirian dan kebutuhan untuk membantu.
C. Pembahasan
Stereotip masyarakat yang berkembang bahwa anak yang berstatus
sebagai anak tunggal itu berbeda tidak didukung oleh hasil penelitian ini.
Dimana need-need yang ditemukan tidak menunjukkan sifat-sifat yang menjadi
pandangan tersebut, yaitu egosentris, superioritas yang tinggi, maupun
mengharapkan orang lain memanjakan dan melindungi. Kebutuhan-kebutuhan
seperti agresi, intragresi, maupun mendominasi tidak muncul secara signifikan
dalam penelitian ini. Adapun kebutuhan untuk dibantu masih muncul dalam
intensitas yang normal. Namun pandangan bahwa anak tunggal itu matang
secara sosial bisa didukung oleh hasil penelitian ini, karena ditemukan bahwa
kebutuhan akan berafiliasi merupakan kebutuhan yang paling banyak muncul.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian besar
kebutuhan yang dimiliki anak tunggal, jika dilihat secara umum tidak berbeda
atau bisa dikatakan sama dengan kebutuhan anak pada umumnya.
dengan orang tua, keluarga dan teman sebaya, kebutuhan akan kepatuhan,
kebutuhan berprestasi, kebutuhan bermain, kebutuhan akan pengakuan maupun
kebutuhan kemandirian juga muncul pada subjek-subjek anak tunggal. Hal ini
dikarenakan adanya karakteristik dan tugas-tugas perkembangan yang dihadapi
memang atau berlaku relatif sama untuk setiap individu pada anak-anak pada
umumnya.
Karakteristik dan tugas-tugas perkembangan dijelaskan dalam
teori-teori yang sudah ada sebelumnya, salah satunya adalah teori-teori psikososial Erik
Erikson. Teori psikososial Erikson berpendapat bahwa tiap individu harus
melewati krisis yang ada sesuai dengan tahapan usia perkembangannya
(Santrock, 2011). Tahapan pertama yang harus dilalui individu adalah
kepercayaan versus ketidakpercayaan. Rasa percaya meliputi rasa nyaman
secara fisik dan tidak ada rasa takut atau kecemasan akan masa depan.
Munculnya kebutuhan akan otonom atau kemandirian dimulai dari
tahapan kedua psikososial. Tahapan kedua adalah otonomi versus rasa malu
dan ragu-ragu, yang merupakan tahapan yang harus dilalui untuk anak usia
(1-3 tahun). Tahapan ini adalah tahapan dimana bagaimana kebutuhan akan
otonom atau kemandirian mulai dapat berkembang. Pada tahap ini, individu
mulai menyadari kemandirian mereka (otonomi) dan menyadari keinginan
mereka. Jika anak terlalu dibatasi atau dihukum dengan keras, mereka mungkin
memunculkan rasa malu dan ragu-ragu. Tahapan ketiga adalah krisis antara
inisiatif dengan rasa bersalah, yang terjadi pada masa prasekolah. Anak