• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi deskriptif tentang Need pada anak tunggal.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi deskriptif tentang Need pada anak tunggal."

Copied!
182
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI DESKRIPTIF TENTANG NEED PADA ANAK TUNGGAL Leonhard Krista Pratama

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebutuhan atau need yang dimiliki oleh seorang anak tunggal. Data penelitian menggunakan data dokumen laporan praktikum CAT mahasiswa/i Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma tahun 2012. Data yang didapatkan berjumlah 9, yang terdiri dari 1 data subjek laki-laki dan 8 subjek perempuan, berusia antara 6 sampai 10 tahun. Analisis data dilakukan dengan menginterpretasi secara tematik kesepuluh cerita pada tiap-tiap subjek. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki anak tunggal relatif sama seperti yang dimiliki anak-anak pada umumnya. Pada beberapa kebutuhan dapat dijelaskan dengan latar belakang anak tunggal, sehingga menunjukkan ke-khas-an kebutuhan pada anak tunggal. Selain itu, kebutuhan yang muncul berkaitan dengan perihal penerimaan, interaksi dengan orang lain, penghargaan, kenyamanan, dan kesenangan.

(2)

DESCRIPTIVE STUDY IN NEED OF ONLY CHILD Leonhard Krista Pratama

ABSTRACT

This research aimed to know the need’s description of a only child. The research used

document data from CAT Laboratory report of Psychology students in Sanata Dharma University. There were 9 data consists of a man and 8 women between 6-10 years old. From the data gathering, the data analysis was conducted by thematically interpreting the 10thstories of each subject. The result of the research showed that a only child’s needs are relatively same with

common children. In several needs, it can be explained by the background of a only child, and it shows the unique needs of a only child. Besides, the needs appeared are dealing with the receiving, the interaction with others, reward, comfort, and enjoyment.

(3)

STUDI DESKRIPTIF TENTANG NEED PADA ANAK

TUNGGAL

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh:

Leonhard Krista Pratama NIM : 099114033

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(4)
(5)
(6)

iv

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Bekerja keraslah dengan pintar,

karena tidak cukup hanya bekerja keras atau

bekerja dengan pintar saja.

Dengan bangga, ku

persembahkan skripsi ini untuk

Bapak, Ibu, Ardo, Lia

Rinda dan keluarga kos-ku

(7)
(8)

vi

STUDI DESKRIPTIF TENTANG NEED PADA ANAK TUNGGAL Leonhard Krista Pratama

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebutuhan atau need yang dimiliki oleh seorang anak tunggal. Data penelitian menggunakan data dokumen laporan praktikum CAT mahasiswa/i Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma tahun 2012. Data yang didapatkan berjumlah 9, yang terdiri dari 1 data subjek laki-laki dan 8 subjek perempuan, berusia antara 6 sampai 10 tahun. Analisis data dilakukan dengan menginterpretasi secara tematik kesepuluh cerita pada tiap-tiap subjek. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki anak tunggal relatif sama seperti yang dimiliki anak-anak pada umumnya. Pada beberapa kebutuhan dapat dijelaskan dengan latar belakang anak tunggal, sehingga menunjukkan ke-khas-an kebutuhan pada anak tunggal. Selain itu, kebutuhan yang muncul berkaitan dengan perihal penerimaan, interaksi dengan orang lain, penghargaan, kenyamanan, dan kesenangan.

(9)

vii

DESCRIPTIVE STUDY IN NEED OF ONLY CHILD Leonhard Krista Pratama

ABSTRACT

This research aimed to know the need’s description of a only child. The research used document data from CAT Laboratory report of Psychology students in Sanata Dharma University. There were 9 data consists of a man and 8 women between 6-10 years old. From the data gathering, the data analysis was conducted by thematically interpreting the 10thstories of each subject. The result of the research showed that a only child’s needs are relatively same with common children. In several needs, it can be explained by the background of a only child, and it shows the unique needs of a only child. Besides, the needs appeared are dealing with the receiving, the interaction with others, reward, comfort, and enjoyment.

(10)
(11)

ix

KATA PENGANTAR

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat bagi mahasiswa untuk

memperoleh gelar Sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta.

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus karena telah

mencurahkan berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan baik. Dalam penulisan skripsi ini, banyak pula pihak yang telah

membantu dan telah mendukung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak

terima kasih kepada :

1. Bapak Cornelius Siswa Widyatmoko M.Psi. selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Ibu Ratri Sunar Astuti, M.Si., selaku Kaprodi Psikologi.

3. Ibu Dr. Tjipto Susana, M.Si. selaku dosen pembimbing akademik yang telah

membimbing dalam kelancaran akademik.

4. Ibu Agnes Indar Etikawati, M.Psi., Psi. selaku dosen pembimbing skripsi

yang telah membimbing dalam pengerjaan skripsi ini.

5. Bapak Victorius Didik Suryo Hartoko, M.Si. dan Ibu P.H. Puji Dwi Astuti

Dian Sabbati, M.A selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan

pengetahuan guna menjadikan skripsi ini menjadi lebih baik.

6. Segenap staff dan karyawan Fakultas Psikologi yang telah membantu dan

bekerjasama dengan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Mas Muji, Mas

(12)

x

7. Kedua orang tua dan adik-adikku atas dukungan, motivasi dan doanya.

8. Kekasih dan teman-teman kos-ku atas dukungan, perhatian, dan motivasi

yang tiada henti.

9. Kawan-kawan seperjuangan angkatan 2009 Fakultas Psikologi, terutama

kelas A. Terimakasih atas semangat dan kerjasamanya selama ini.

10. Teman-teman bimbingan asistensi tes kognitif, inventori, dan TAT.

Terimakasih atas kerjasama dan pengalamannya yang sangat berharga.

11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas semua dukungan

yang telah diberikan dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu, penulis mengharapkan masukan, kritik dan saran yang membangun

agar skripsi ini menjadi lebih baik.

Yogyakarta, 5 November 2013

Penulis,

(13)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

BAB I. PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

1. Manfaat Teoritis ... 5

2. Manfaat Praktis ... 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7

A. Anak Tunggal... 7

(14)

xii

2. Anak Tunggal...………. 11

B. Need (Kebutuhan)………... 13

1. Pengertian Need ...………. 13

2. Ragam Kebutuhan...………. 14

C. Tes Proyektif (CAT) ...………. 18

D. Kebutuhan pada Anak Tunggal...………. 21

E. Pertanyaan Penelitian ...………. 25

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 26

A. Jenis Penelitian...………. 26

B. Fokus Penelitian...………. 27

C. Subjek Penelitian ... 27

D. Metode Pengumpulan Data... 27

1. Data Utama: Respon CAT ... 28

2. Data Pelengkap: Latar Belakang Subjek... 29

E. Metode Analisis Data ...………. 29

1. Tema Deskriptif ... 29

2. Tema Interpretif ... 30

3. Tema Diagnostik ... 30

F. Pemeriksaan Keabsahan Data...………. 30

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 32

A. Pelaksanaan Penelitian ... 32

1. Proses Pengumpulan Data... 32

(15)

xiii

B. Hasil Penelitian ... 33

1. Deskripsi Subjek ... 33

2. Kebutuhan pada Masing-masing Subjek... 34

3. Katergorisasi Kebutuhan Semua Subjek... 40

C. Pembahasan... 44

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 50

A. Kesimpulan ... 50

B. Saran... 50

1. Bagi Peneliti Selanjutnya ... 50

2. Bagi Orang Tua yang Memiliki Anak Tunggal ... 51

3. Bagi Masyarakat dan Lingkungan Sekitar ... 51

DAFTAR PUSTAKA ... 52

(16)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian ... 33

Tabel 2. Ringkasan Kebutuhan Tiap Subjek... 38

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tidak sedikit keluarga yang hanya memiliki satu orang anak atau yang

biasa disebut sebagai anak tunggal. Ada beberapa versi atau pendapat yang

berkembang dalam masyarakat mengenai sifat atau karakteristik yang melekat

pada anak yang berstatus sebagai anak tunggal. Ada anggapan atau stereotip

bahwa anak tunggal berbeda dengan anak dengan saudara, maupun anggapan

bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan antara anak tunggal dengan anak pada

umumnya yang memiliki saudara.

Banyak stereotip atau pandangan mengenai anak tunggal di masyarakat,

seperti misalnya bahwa anak tunggal itu manja, agresif, diktator, dan tidak

dewasa (Golda, 2010). Salah satu konsepsi yang popular adalah anak tunggal

merupakan “anak nakal yang manja” dengan karakteristik yang kurang baik, seperti kurang kendali diri, egois dan sangat tergantung (Santrock, 2006).

Selain itu, penelitian yang dilakukan Shulan Jiao (1986) di China

mengungkapkan bahwa anak tunggal lebih egosentris dibandingkan dengan

anak dengan saudara kandung.

Seorang tokoh psikologi ternama, Alfred Adler (dalam Alwisol, 2009)

memiliki pendapat yang terkesan mendukung stereotip yang berkembang di

masyarakat mengenai anak tunggal. Ia berpendapat bahwa karakteristik anak

(18)

selalu merasa dirinya benar, perasaan diri yang rendah, serta memiliki gaya

hidup yang manja. Walaupun ia juga berpendapat bahwa anak tunggal adalah

anak yang matang secara sosial.

Namun, pembicaraan mengenai anak tunggal masih dapat dikatakan

kontroversial. Ini dibuktikan dari berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa

tidak ada perbedaan karakteristik kepribadian yang esensial antara seorang

anak tunggal dan anak yang memiliki saudara kandung (Mellor dalam Wong,

2009). Hasil penelitian yang dilakukan Toni Falbo (1977) menyebutkan bahwa

konsepsi popular bahwa anak tunggal itu egois, kesepian dan maladjusted tidak

didukung oleh penelitian-penelitian yang relevan. Hal ini diperkuat dengan

penelitian kembali oleh Toni Falbo (1987), yang melakukan meta-analisis

kualitatif dari 115 penelitian mengenai karakteristik anak tunggal, dimana

hasilnya gagal untuk mendukung stereotip negatif pada anak tunggal,

dikarenakan tidak adanya perbedaan yang signifikan antarkelompok anak

tunggal dan anak dengan saudara.

Sebenarnya perspektif atau pandangan yang negatif bisa berdampak

buruk pada anak. Walaupun banyak penelitian yang menepis segala stereotip

mengenai anak tunggal, namun seorang anak tunggal harus tetap hidup dengan

label atau kesan negatif. Pandangan atau stereotip masyarakat mengenai anak

tunggal akan berpengaruh pada bagaimana mereka akan berperilaku atau

bertindak, baik secara langsung maupun tidak langsung pada anak tunggal

(19)

psikologis anak. Bagi anak-anak, pengalaman mendapatkan label tertentu,

terutama negatif, dapat memicu pemikiran bahwa dirinya ditolak. Label negatif

yang diberikan pada anak secara berulang-ulang pun akan mengusik

kepercayaan diri, harga diri dan konsep diri anak (Gustiana, 2012).

Adanya perbedaan pandangan, baik yang memandang berbeda atau

tidak berbeda antara sifat dan karakteristik yang melekat pada anak yang

berstatus sebagai anak tunggal dengan anak yang memiliki saudara, membuat

wacana atau perbincangan mengenai karakteristik atau kondisi psikologis anak

tunggal bisa dikatakan masih membingungkan. Untuk itu, penelitian ini

dilakukan guna mengetahui kondisi psikologis anak tunggal.

Dalam assesmen psikologi dengan teknik proyektif, kondisi psikologis

seseorang seringkali dipahami dan dipelajari dengan mengetahui need orang

tersebut. Menurut beberapa ahli (Muray dalam Alwisol, 2009; Bellack, 1997;

Rotter dalam Jess&Gregory Feist, 2010), need inilah yang sering memainkan

peran yang penting dalam kemunculan tindakan seorang individu. Tingkah

laku individu akan mengarah pada usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan

yang muncul. Oleh karena itu, dengan mengetahui need yang dimiliki anak

tunggal, diharapkan bisa mengetahui apa yang mendasari anak tunggal dalam

setiap perilakunya dan menjadi salah satu dasar untuk memprediksi perilaku

maupun tindakan yang muncul. Dari need-need yang ditemukan dapat

diketahui apakah need-need yang dimiliki anak tunggal tersebut sejalan dengan

(20)

anak tunggal yang dianggap berbeda dengan anak pada umumnya, yaitu

tergantung dengan orang lain, egosentris, dan lain-lain.

Need atau kebutuhan merupakan suatu konstrak yang abstrak dan

hipotesis, berkaitan dengan proses fisiologis yang terjadi di otak. Need dapat

muncul karena dorongan dari dalam atau rangsangan dari luar. Menurut

Murray (dalam Hartini, 2000), need adalah sebuah konstruk yang mengatur

berbagai proses seperti persepsi, pikiran, dan tindakan dengan maksud untuk

mengubah kondisi yang ada dan tidak memuaskan. Secara umum, need

merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh perasaan kekurangan dan ingin

diwujudkan melalui suatu usaha atau tindakan.

Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk

mengetahui dan menjabarkan need apa saja yang dimiliki oleh seorang anak

tunggal. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan analisis

interpretif. Tujuan dari pendekatan ini adalah mengungkapkan bagaimana

individu memaknai dunia personal dan sosialnya berdasarkan pengalaman,

peristiwa, dan status yang dimiliki masing-masing individu tersebut (Smith,

2009).

Data penelitian menggunakan data dari hasil analisis CAT (Children

Apperception Test). Melalui CAT, anak diminta bercerita mengenai gambar

yang berupa stimulus dengan situasi ambigu. Penggunaan CAT ini dapat

mengungkapkan atau memproyeksikan berbagai macam kebutuhan, dorongan,

(21)

CAT memiliki kelebihan dibandingkan alat assessment lain, seperti

wawancara, atau observasi, karena dapat menggali atau mengekspresikan

ide-ide ataupun gagasan yang terlalu mengancam bagi anak untuk diutarakan

secara langsung (Wenar & Kerig, 2000).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan, maka

muncul pertanyaan apa saja need atau kebutuhan pada anak tunggal?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja need atau kebutuhan

yang dimiliki oleh seorang anak tunggal.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan

teoritis di bidang psikologi perkembangan anak dan psikologi kepribadian,

khususnya mengenai need atau kebutuhan yang dimiliki anak tunggal.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi atau

(22)

tunggal pada keluarga-keluarga, khususnya yang memiliki anak tunggal,

psikolog, maupun praktisi anak yang akan bermanfaat dalam pengasuhan

(23)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anak Tunggal 1. Anak

Periode perkembangan anak-anak di masa pertengahan anak-anak

(middle childhood) atau masa sekolah berada pada usia 6 hingga 12 tahun

(Hurlock, 1990). Pada usia ini, anak menerima suatu peran baru,

bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang dan kelompok yang baru, dan

mulai mengembangkan standar-standar baru dalam menilai diri mereka

sendiri (Santrock, 2006).

Anak-anak memasuki periode operasional konkret (anak usia 7-12

tahun), berdasarkan tahap perkembangan kognitif Piaget. Anak-anak dapat

melakukan operasi, dan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif

sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam contoh-contoh yang spesifik

atau konkret (Santrock, 2006).

Pada tahap psikoseksual menurut Freud, anak-anak memasuki

tahap laten, dimana pada tahap ini dorongan seksual belum terlalu

menonjol. Anak-anak banyak menyalurkan energi libido dalam

bentuk-bentuk pengembangan keterampilan seksual dan intelektual (Santrock,

2011). Aktivitas ini mengarahkan banyak energi anak ke dalam bidang

(24)

Pada tahap psikososial menurut Erikson, anak-anak masuk di tahap

industry vs inferiority (tekun vs rasa rendah diri). Ketika anak-anak

memasuki tahun-tahun sekolah dasar, mereka mengerahkan energi mereka

pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual (Santrock,

2006). Anak yang berhasil menyelesaikan tugas perkembangannya dengan

baik akan menjadi anak yang memiliki rasa percaya dan rasa aman yang

tinggi dan memiliki inisiatif yang tinggi. Anak seperti itu akan lebih

mudah untuk mengembangkan perasaan mampu. Sedangkan anak yang

pemalu dan penuh rasa bersalah akan mengembangkan perasaan inferior

atau kurang berharga.

Pada tahap ini, anak-anak harus menghadapi tugas-tugas

perkembangannya, untuk menentukan apakah anak mengalami

perkembangan dengan baik. Menurut Gunarsa (1997), tugas-tugas

perkembangan anak usia 6 sampai 12 tahun adalah:

1. Belajar kemampuan-kemampuan fisik yang diperlukan agar bisa

melaksanakan permainan atau olahraga

2. Membentuk sikap-sikap tertentu terhadap dirinya sebagai pribadi

yang sedang tumbuh dan berkembang

3. Belajar bergaul dengan teman-teman seumurannya

4. Mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar dalam mebaca,

menulis, dan menghitung

5. Mengembangkan nurani, moralitas dan skala nilai

(25)

7. Membentuk sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan

institusi

Hurlock (1990), menyusun tugas perkembangan anak berdasarkan

teori Havighurst mengenai teori tugas berkembangan, yaitu:

1. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk

permainan-permainan yang umum dilakukan anak-anak

2. Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai

individu yang sedang tumbuh

3. Menyesuaikan diri dengan teman sebaya

4. Mengembangkan peran sosial pria dan wanita secara tepat

5. Mengembangkan keterampilan dasar dalam membaca, menulis,

berhitung

6. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk

kehidupan sehari-hari

7. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata nilai

8. Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial di

lingkungan

9. Mencapai kebebasan pribadi

Tidak jauh berbeda dengan Hurlock, ahli psikologi lain, Collins,

juga mengungkapkan pandangannya tentang tugas perkembangan yang

(26)

1. Aspek fisik: meningkatkan kekuatan dan koordinasi otot, yaitu

meningkatkan kemampuan beberapa aktivitas dan tugas fisik.

2. Aspek kognisi: pada taraf operasional konkret, berfokus pada

kejadian ‘saat ini’, menambah pengetahuan dan keterampilan baru,

mengembangkan perasaan mampu (self efficacy).

3. Aspek sosial: (a) mencapai bentuk relasi yang tepat dengan

keluarga, teman, dan lingkungan; (b) mempertahankan harga diri

yang sudah dicapai; (c) mampu mengkompromikan antara tuntutan

individualitasnya dengan tuntutan konformitas; dan (d) mencapai

identitas diri yang memadai atau adekuat.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli mengenai tugas-tugas

perkembangan anak tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tugas

perkembangan anak usia 6-12 tahun meliputi:

1. Aspek fisik: yang meliputi meningkatkan kekuatan dan

koordinasi otot dalam rangka mempelajari keterampilan fisik

yang diperlukan untuk permainan-permainan anak.

2. Aspek kogitif: memasuki periode operasional konkret;

menambah pengetahuan dan keterampilan baru,

mengembangkan perasaan mampu, mengembangkan

keterampilan dasar dalam membaca, menulis, berhitung serta

pengertian-pengertian yang diperlukan dalam kehiduapan

(27)

3. Aspek sosial: Menyesuaikan diri dengan teman sebaya,

mengembangkan peran sosial pria dan wanita secara tepat,

mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial di

lingkungan, mengikuti aturan-aturan sosial, hingga mencapai

bentuk relasi yang tepat dengan keluarga, teman, dan

lingkungan

4. Aspek moral: Mengembangkan hati nurani, pengertian moral,

dan tata nilai; anak hendaknya dapat mengontrol tingkah laku

sesuai dengan nilai dan moral yang berlaku.

5. Aspek mental: Membangun sikap yang sehat mengenai diri

sendiri sebagai individu yang sedang tumbuh, mencapai

kebebasan pribadi

2. Anak Tunggal

Sebuah keluarga dapat dikatakan sebagai keluarga dengan anak

tunggal jika didalamnya terdiri dari orang tua (ayah dan ibu) dengan satu

orang anak (Landis, 1997). Demikian pula yang dikemukakan oleh

Gunarsa (2003), bahwa anak tunggal dalam suatu keluarga diartikan jika

dalam suatu keluarga yang terdiri dari suami dan istri hanya memiliki

seorang anak saja.

Terdapat beberapa faktor penyebab orang tua memiliki anak

tunggal yakni, (1) faktor kesehatan, (2) faktor pilihan dari orang tua yang

(28)

pada kebudayaan tertentu ada anggapan bahwa memiliki satu anak saja

merupakan hal yang sangat baik dan (4) faktor lainnya yang merupakan

anggapan dari orang tua bahwa bulan-bulan pertama masa perkembangan

bayi mereka merupakan masa yang tidak menyenangkan sehingga mereka

tidak ingin mengulanginya lagi (Laybourn dalam Sujata, 2012).

Anak tunggal bisa menikmati kasih sayang dari orang tua secara

penuh tanpa harus berbagi dengan saudara kandung yang lain. Orang tua

yang memiliki anak tunggal dapat mencurahkan lebih banyak waktu dan

memusatkan lebih banyak perhatian padanya. Anak tunggal lebih banyak

bercakap-cakap dengan orang tua mereka, serta lebih banyak

menghabiskan waktu berdua dengan orang tua mereka (Papalia & Olds

2007). Namun demikian, anak tunggal juga dapat diberi tekanan lebih

besar dari orang tua untuk memperoleh pencapaian dan perilaku matang di

usia muda (Wong, 2009).

Menurut Adler (dalam Jess&Gregory Feist, 2010), anak tunggal

berada pada posisi yang unik dalam hal daya saing, dimana mereka tidak

bersaing dengan saudara-saudaranya untuk mendapat perhatian, namun

terhadap ayah dan ibunya. Menurutnya, anak tunggal sering membentuk

rasa superioritas yang tinggi dan konsep diri yang besar. Adler

menyatakan bahwa anak tunggal bisa saja kurang memiliki sifat kerja

sama dan minat sosial, bersikap parasit, serta mengharapkan orang lain

(29)

B. Need (Kebutuhan) 1. Pengertian Need

Kebutuhan manusia dibedakan menjadi dua yaitu kebutuhan

biologis dan kebutuhan psikologis. Kebutuhan biologis diperlukan agar

manusia dapat bertahan hidup, sedangkan kebutuhan psikologis diperlukan

agar orang lebih bahagia hidupnya dan dapat mengaktualiasikan dirinya.

(Prihantono, 2003).

Beberapa ahli memiliki beberapa deskripsi mengenai need. Chaplin

(2001) menyebutkan need adalah sembarang kekurangan, ketiadaan, atau

ketidaksempurnaan yang dirasakan seseorang sehingga merusak

kesejahteraannya. Murray (dalam Hartini, 2000) mendefinisikan

kebutuhan sebagai suatu keadaan yang ditandai oleh perasaan kekurangan

dan ingin diwujudkan melalui suatu usaha atau tindakan. Lebih lanjut,

Murray mendefinisikan kebutuhan sebagai kekuatan atau dorongan dari

dalam diri individu yang mengatur dan mengorganisasi persepsi, apersepsi,

kehendak serta perilaku untuk mencapai tujuan tertentu (Hall&Lindzey,

1993).

Berdasarkan deskripsi-deskripsi tersebut, maka dapat disimpulkan

bahwa kebutuhan adalah perasaan kekurangan atau dorongan dari dalam

diri inidvidu yang dapat menggerakkan individu ke suatu tujuan tertentu

dengan mengatur dan mengorganisasi persepsi, apersepsi, kehendak serta

(30)

Need bisa terbentuk oleh proses internal, namun lebih sering

dirangsang oleh faktor lingkungan (Alwisol, 2009). Ada beberapa faktor

internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi need individu. Faktor

internal yang berpengaruh terhadap kemunculan need adalah tahap

perkembangan usia maupun psikososial individu (Kusumaningtyas, 2008).

Faktor yang berasal dari luaar atau lingkungan adalah penerimaan dan

perlakuan orang tua, teman, guru, dan orang-orang yang berada di sekitar

individu (Widyaningrum, 2010).

Kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi akan membuat individu

merasa kecewa atau sakit hingga mengalami tekanan. (Hall dan Lindzey,

1993). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Maisyarah (2013), tidak

terpenuhinya kebutuhan menyebabkan timbulnya kecemasan dapat

menjadi suatu pengalaman yang mengganggu kemampuan kognitif dan

motorik individu.

2. Ragam Kebutuhan

Ada enam kriteria untuk dapat menyimpulkan adanya kebutuhan,

dimana lima kriteria merupakan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti,

sedangkan sisanya membutuhkan pasrtisipasi orang yang diamati (Alwisol,

2009), yakni: (1) Hasil dari tingkah laku, (2) Pola-pola khusus dari

tinggkah laku, (3) Perhatian dan respon yang terjadi terhadap kelompok

(31)

kepuasan atau ketidakpuasan pada hasil akhir, (6) Ungkapan atau laporan

subjektif mengenai perasaan, maksud dan tujuan.

Berdasarkan kriteria tersebut, Murray menyimpulkan ada

need-need yang penting, dimana semua need-need tersebut saling berhubungan satu

dengan lainnya dengan berbagai cara. Adapun need-need tersebut adalah

(Murray, 1998):

1. n. Abasment (Kebutuhan untuk mengalah / menyerah)

Tunduk pada paksaan atau pengekangan untuk menghindari tuduhan,

hukuman, dan penderitaan. Rela menanggung tekanan yang tidak

mengenakkan tanpa berusaha melawan.

2. n. Achievement (Kebutuhan berprestasi)

Mengerjakan sesuatu yang penting dengan tekun dan bersemangat.

Berusaha keras menyelesaikan sesuatu yang berarti.

3. n. Agression (Dorongan Agresif)

• Emosional dan verbal. Membenci, marah, terlibat dalam

pertengkaran verbal

• Fisik, sosial. Berkelahi demi mempertahankan diri atau membela

sesuatu atau seseorang yang dicintai

• Fisik, asocial. Menodong, menyerang, melukai orang lain secara

melanggar hukum. Terlibat dalam suatu pertikaian tanpa alasan

yang semestinya.

• Destruksi atau perusakan. Memecah, merusak, membakar, atau

(32)

4. n. Dominance (Pengusaan)

Mencoba mempengaruhi perilaku, perasaan, atau pikiran orang lain.

Memimpin, mengelola, memaksa, memerintah.

5. n. Intraggression (Agresi yang ditujukan pada diri sendiri)

Menyelahkan, mengkritik, memarahi, melecehkan diri sendiri karena

kesalahan, kebodohan, atau kegagalan yang telah dilakukan.

6. n. Nurturance (Reksa pada sesama)

Mengungkapkan simpati dengan tindakan. Baik hati dan penuh

perhatian pada perasaan orang lain. Menolong, melindungi orang lain.

7. n. Passivity (Sikap pasif)

Menikmati keheningan, merasa lelah atau menjadi malas setelah

bekerja atau berusaha tak seberapa. Menyerah pada orang lain karena

sikap apatis dan inersia atau rasa malas.

8. n. Sex

Mencari dan menyukai kebersamaan dengan lawan jenis

9. n. Succorance (Kebutuhan untuk dilindungi)

Mencari pertolongan, meminta atau menggantungkan diri pada orang

lain untuk mendapat dorongan semangat, pengampunan, perlindungan,

perhatian.

10. n. Intranurturance

Menghibur diri sendiri, kasian pada diri sendiri. Mencari kegembiraan

(33)

11. n. Acquisition (Kebutuhan memburu harta benda)

12. n. Affiliation (Kebutuhan menjalin persahabatan)

13. n. Autonomy (Kebutuhan untuk bebas menentukan pilihan)

14. n. Blameavoidance (Kebutuhan menghindari tudingan, kekangan, dan

penolakan dari orang lain)

15. n. Cognizance (kebutuhan untuk memuaskan rasa ingin tahu)

16. n. Creation (Kebutuhan untuk berkreasi)

17. n. Deference (Kebutuhan untuk mengikuti/melayani atasan/pemimpin)

18. n. Excitance (Kebutuhan akan rangsangan)

19. n. Exposition (Kebutuhan menjelaskan/menggurui)

20. n. Harmavoidance (Kebutuhan untuk menghindar dari sakit/bahaya)

Menurut Rotter (dalam Jess&Gregory Feist, 2010), kebutuhan

merupakan indikator dari tujuan perilaku. Perbedaan antara kebutuhan dan

tujuan bersifat sematik. Rotter membuat enam kategori umum dari

kebutuhan, yang setiap kategorinya merepresentasikan sekelompok

perilaku yang berkaitan secara fungsional, yaitu: (1) Pengakuan status,

merupakan kebutuhan untuk diakui oleh orang lain dan untuk

mendapatkan status di mata orang lain; (2) Dominasi, kebutuhan untuk

mengendalikan perilaku orang lain; (3) Kemandirian, kebutuhan untuk

bebas dari dominasi orang lain; (4) Perlindungan-ketergantungan,

kebutuhan untuk diperhatikan oleh orang lain; (5) Cinta dan afeksi; dan (6)

(34)

C. Tes Proyektif (CAT)

CAT(Children’s Apperception Test)merupakan metode proyeksi untuk

mengamati kepribadian dengan mempelajari dinamika dari respon individu

dalam mempersepsi stimulus-stimulus gambar. CAT merupakan penurunan

langsung dari TAT (Thematic Apperception Test), dimana CAT merupakan alat

tes yang digunakan pada anak usia 3-10 tahun.

CAT digunakan untuk memahami hubungan anak dengan figur-figur

penting dan dorongan-dorongannya. Gambar-gambar didesain untuk

mengamati masalah persaingan dengan saudara, sikap dan hubungan anak

terhadap figur orang tua, maupun fantasi anak mengenai orang tua yang buruk.

Melalui CAT, diharapkan dapat mengeluarkan fantasi anak tentang agresi,

penerimaan terhadap dunia orang dewasa, mempelajari mekanisme pertahanan

diri anak dan membantu mengatasi masalah perkembangannya (Bellack, 1997).

Secara klinis, CAT digunakan untuk mengamati faktor-faktor dinamis yang

terkait dengan tingkah laku anak dan kelompok, sekolah atau di rumah.

Versi yang pertama dari CAT menggunakan gambar-gambar hewan

sebagai stimulusnya (CAT-animal). Namun kemudian dikembangkan versi

CAT dengan menggunakan figur manusia pada gambar-gambarnya, yang juga

dikenal sebagai CAT-H (Children Apperception Test-Human). CAT-animal

biasa digunakan pada anak usia prasekolah (3-5 tahun), sedangkan CAT-H

biasa digunakan pada anak yang lebih besar (5-10 tahun) serta untuk anak yang

(35)

Setiap set CAT terdiri dari 10 kartu yang masing-masing kartunya

memiliki tema dan kegunaan masing-masing untuk mengungkap kondisi

psikologis anak.

1. Kartu 1 menampilkan gambar anak-anak ayam duduk mengitari meja yang

di atasnya terdapat mangkuk berisi makanan. Pada sisi kiri, ada seekor

ayam besar yang tergambar samar; mengungkap persaingan antar

saudara, situasi pemberian hadiah atau pemberian hukuman, serta masalah

umum yang berkaitan dengan oralitas.

2. Kartu 2 menampilkan gambar seekor beruang menarik tambang pada satu

ujung, sementara beruang lain dengan seekor anak beruang menarik

ujung tambang yang lain; mengungkap permainan, ketakutan akan agresi,

sikap agresi anak.

3. Kartu 3 menampilkan gambar seekor singa dengan pipa dan tongkat

duduk di kursi; di sudut kanan bawah, seekor tikus muncul dari lubang;

mengungkap kebingunan akan peran, konflik antara pemenuhan kebutuhan

dan otonomi.

4. Kartu 4 menampilkan gambar seekor kangguru memakai topi, membawa

keranjang berisi botol susu; di kantongnya ada anak kangguru yang

sedang memegang balon; sedangkan anak kangguru yang lebih besar

sedang mengendarai sepeda; mengungkap persaingan antar saudara,

hubungan antara ibu dan anak, serta keinginan untuk mandiri dan

(36)

5. Kartu 5 menampilkan gambar sebuah kamar yang gelap dengan tempat

tidur besar pada latar belakang; di depan terdapat tempat tidur bayi

dengan 2 bayi beruang di dalamnya; mengungkap keterlibatan emosi pada

anak, pengamatan, kebingungan.

6. Kartu 6 menampilkan gambar suatu gua yang gelap dengan gambaran

yang samar dari 2 ekor beruang di latar belakang; seekor bayi beruang

sedang berbaring di latar depan; merefleksikan perasaan cemburu.

7. Kartu 7 menampilkan gambar seekor harimau menunjukkan taring dan

cakarnya, menerkam seekor kera yang sedang melompat ke udara;

mengungkap tingkap kecemasan anak yang berkaitan dengan agresi.

8. Kartu 8 menampilkan gambar dua ekor kera dewasa duduk di sofa, minum

dari cangkir teh. Di depan, seekor kera dewasa tengah bicara dengan

anak kera; mengungkap peran anak dalam keluarga, konsep anak

mengenai kehidupan sosial orang dewasa.

9. Kartu 9 menampilkan gambar sebuah kamar yang gelap terlihat melalui

pintu terbuka dari kamar yang terang. Dalam kamar gelap terdapat

tempat tidur anak-anak yang di dalamnya berdiri seekor kelinci yang

memandang melalui pintu; mengungkap ketakutan akan ditinggal sendiri,

dipisahkan oleh orang tua, rasa ingin tahu.

10. Kartu 10 menampilkan gambar seekor anak anjing telungkup di atas lutut

anjing dewasa dengan latar belakang situasi kamar mandi;

(37)

D. Kebutuhan pada Anak Tunggal

Anak-anak usia sekolah bisa dikatakan merupakan periode kritis yang

harus dilalui individu. Setiap anak haruslah dapat menyelesaikan setiap

tugas-tugas perkembangannya, agar dapat bertumbuh menjadi remaja yang matang

serta memiliki harga diri yang tinggi. Untuk dapat menyelesaikan tugas

perkembangan tersebut, tentu saja bukan hanya anak yang berperan, tetapi

faktor eksternal, misalnya orang tua, keluarga, maupun masyarakat juga

berpengaruh.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli, dapat disimpulkan bahwa tugas

perkembangan anak usia 6-12 tahun (usia sekolah) dapat meliputi beberapa

aspek, yaitu: (1) fisik, meliputi meningkatkan kekuatan dan koordinasi otot; (2)

kogitif, meliputi mengembangkan perasaan mampu, keterampilan dasar dalam

membaca, menulis, berhitung; (3) sosial, meliputi menyesuaikan diri dengan

teman sebaya, mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial di

lingkungan, mengikuti aturan-aturan sosial; (4) moral, meliputi

mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata nilai; (5) mental,

meliputi membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai individu

yang sedang tumbuh, serta mencapai kebebasan pribadi.

Secara umum, berkaitan tugas-tugas perkembangannya tersebut, anak

usia 6-12 tahun memiliki kebutuhan akan pemenuhan kebutuhan fisik atau

jasmani dan kebutuhan akan kasih sayang yang akan terwujud pada hubungan

relasi dengan orang tua, saudara, maupun pertemanan. Anak juga memiliki

(38)

dan ditanamkan. Selain itu anak juga memiliki kebutuhan akan aktualisasi diri

yang ditunjukkan dengan mengembangkan berbagai aspek kehidupannya.

Seorang anak tunggal merupakan satu-satunya anak dalam sebuah

keluarga. Hal ini menimbulkan situasi yang unik dalam kehidupan anak

tunggal dibandingkan anak lain yang memiliki saudara. Ia tidak perlu bersaing

dengan saudara-saudaranya, namun terhadap ayah atau ibunya (Jess&Gregory

Feist, 2010). Segala perhatian dan waktu orang tua pun otomatis akan tertuju

dan diberikan padanya (Falbo & Polit, dalam Papalia & Olds 2007). Namun di

sisi lain, seorang anak tunggal harus menerima kenyataan bahwa ia tidak

memiliki teman untuk bermain serta berbagi di dalam rumah.

Anak tunggal memiliki kemungkinan yang besar untuk dibesarkan

dengan pola asuh yang dimanjakan oleh orang tua. Orang tua terkadang

melakukan terlalu banyak untuk anaknya dan memperlakukan mereka seperti

seolah-olah mereka tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Hal ini

akan berdampak buruk jika anak kemudian tumbuh menjadi manja. Orang

yang manja akan mengharapkan orang lain untuk merawat, melindungi dan

memuaskan kebutuhan mereka. Karakteristik yang bisa terbentuk adalah putus

asa yang berlebihan, kebimbangan, tidak sabar, dan emosi yang berlebihan

(Adler dalam Jess&Gregory Feist, 2010). Hal tersebut tentu akan menghambat

seorang anak dalam menyelesaikan tugas perkembangannya, terutama di aspek

sosial, yang menuntut mereka untuk dapat menyesuaikan diri, berelasi dengan

(39)

Selain pola asuh, seorang anak tunggal juga harus hidup di masyarakat

yang sebagaian besar memiliki pandangan negatif terhadap mereka. Pandangan

negatif ini tentu akan mempengaruhi bagaimana secara langsung maupun tidak

langsung masyarakat akan memperlakukan mereka. Perbedaan perlakuan anak

tunggal dengan anak lain ini tentu akan berdampak pada kondisi psikologis

anak. Terlebih jika pandangan atau steriotip yang berkembang itu lebih

melekat kearah negatif, tentu akan menghambat anak dalam menjalankan

tugas-tugas perkembangan seperti yang seharusnya.

Segala situasi-situasi yang sedang dan harus dihadapi oleh anak tunggal

tersebut, memunculkan perilaku atau karakteristik tertentu anak tunggal, yang

juga coba dijabarkan oleh Adler. Menurut Adler (dalam Jess&Gregory Feist,

2010), seorang anak tunggal sering membentuk rasa superioritas dan harga diri

yang tinggi. Adler menyatakan bahwa anak tunggal bisa saja kurang memiliki

sifat kerja sama dan minat sosial, serta berharap orang lain untuk memanjakan

dan melindungi mereka. Walaupun demikian, Adler berpendapat bahwa anak

tunggal merupakan anak yang matang secara sosial.

Stereotip yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa anak

tunggal adalah anak nakal yang manja. Penelitian yang sudah dilakukan juga

mengungkapkan bahwa anak tunggal lebih egosentris dibandingkan dengan

anak dengan saudara kandung

Penelitian ini dilakukan guna mengetahui kondisi psikologis anak

tunggal, dimana kondisi psikologis seseorang seringkali dipahami dan

(40)

ditemukan juga dapat diketahui apakah need-need yang dimiliki anak tunggal

tersebut sejalan dengan stereotip masyarakat maupun pendapat Adler mengenai

sifat dan karakteristik anak tunggal yang dianggap berbeda dengan anak pada

(41)

Skema Kerangka Penelitian: Gambaran Pembentukan Karakteristik Anak Tunggal

E. Pertanyaan Penelitian

Apa saja need atau kebutuhan yang dimiliki oleh seorang anak tunggal?

- Tanpa saudara kandung

- Pola asuh orang tua yang memanjakan

- Pandangan / steriotip masyarakat

Kondisi psikologis yaitu need

Apa saja need atau kebutuhan

yang dimiliki oleh seorang anak

tunggal?

Perilaku atau karakteristik anak

tunggal:

- rasa superioritas yang

tinggi

- egosentris

- mengharapkan orang lain

memanjakan dan

melindungi

(42)

26

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan

pendekatan interpretatif dengan metode proyektif. Jenis penelitian kualitatif

memiliki beberapa kelebihan atau keuntungan, diantaranya meneliti manusia

dalam latar sewajarnya, penekanan pada interpretasi dan mencari makna, dan

mendapatkan pemahaman mendalam tentang dunia responden. Selain itu

metode kualitatif juga memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi, serta

menggambarkan pandangan dunia yang lebih realistik. (Pramono, 2010).

Melalui pendekatan interpretatif, dapat diketahui bagaimana individu

atau responden mempersepsi situasi-situasi tertentu yang dihadapi, serta

bagaimana mereka membuat pemahaman terhadap dunia personal dan

sosialnya (Smith, 2009). Penggunaan metode proyektif diharapkan dapat

menggali aspek psikologis yang ada di dalam diri subjek. Tradisi dalam teknik

proyektif adalah menggunakan stimulus yang tidak terstruktur dan lebih

ambigu, dan individu bebas untuk mengekspresikan perasaan batin

terdalamnya (keinginan, kecemasan, dan konflik) dan mengungkapkan

(43)

B. Fokus Penelitian

Penelitian ini berfokus pada mengetahui need atau kebutuhan yang

dimiliki oleh seorang anak tunggal. Data yang akan diolah merupakan hasil

dari analisis tematik CAT. Berdasarkan hasil analisis tematik masing-masing

kartu yang diolah, akan ditemukan keberagaman need atau kebutuhan seorang

anak tunggal tersebut.

C. Subjek Penelitian

Pemilihan subjek dilakukan dengan berdasarkan pada kriteria-kriteria

yang telah ditentukan sebelumnya oleh peneliti. Penentuan kriteria atau

karakteristik subjek tersebut didasarkan pada kajian teoritik, serta tujuan dari

penelitian. Adapun kriteria subjek dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Subjek merupakan anak-anak, dengan kisaran usia antara 6 hingga 11

tahun

b. Subjek merupakan anak tunggal

c. Subjek merupakan anak satu-satunya yang diasuh di dalam rumah

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dengan menggunakan teknik dokumen. Metode dokumentasi dapat diartikan

sebagai suatu cara pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen

yang ada atau catatan-catatan yang tersimpan. Dokumen yang dimaksud adalah

(44)

2012). Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data CAT,

yang meliputi respon CAT sebagai data utama dan data latar belakang subjek

sebagai data pelengkapnya.

1. Data Utama: Respon CAT

CAT (Children’s Apperception Test) merupakan metode proyeksi

untuk mengamati kepribadian dengan mempelajari dinamika dari respon

individu dalam mempersepsi stimulus-stimulus gambar. Gambar-gambar

dalam CAT didesain untuk memahami hubungan anak dengan figur-figur

penting dan dorongan-dorongannya, mengamati masalah persaingan

dengan saudara, sikap dan hubungan anak terhadap figur orang tua,

maupun fantasi anak mengenai orang tua yang buruk. Melalui CAT,

diharapkan dapat mengeluarkan fantasi anak tentang agresi, penerimaan

terhadap dunia orang dewasa, mempelajari mekanisme pertahanan diri

anak dan membantu mengatasi masalah perkembangannya (Bellack,

1997).

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui gambaran need yang

dimiliki seorang anak tunggal ini, menggunakan data respon atau cerita

responden atau subjek yang relevan. Need dalam cerita dapat ditemukan

pada tindakan yang dilakukan oleh tokoh, pikiran serta perasaan tokoh,

pola pikir serta pandangan tokoh, objek atau figur yang ditambahkan atau

diabaikan oleh tokoh, maupun bagaimana relasi atau hubungan tokoh

(45)

2. Data Pelengkap: Latar Belakang Subjek

Data pelengkap yang digunakan dalam metode dokumen ini adalah

latar belakang subjek. Latar belakang subjek tersedia pada bagian

pendahuluan laporan, digali melalui wawancara dan observasi. Wawancara

dilakukan pada subjek sendiri dan pada significant person subjek,

misalnya orangtua atau pengasuhnya. Dalam penelitian ini, latar belakang

yang relevan dengan tujuan penelitian, yaitu mengetahui gambaran need,

berada pada lingkup area keluarga, teman sebaya, konsep diri subjek, serta

area vitalitas subjek yang terlihat dari cara subjek belajar atau mengerjakan

tugas.

E. Metode Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian dengan metode proyektif

ini adalah analisis tematik. Analisis tematik dalam CAT terdiri dari 3 tahapan,

yaitu analisis tema deksriptif, tema interpretif, dan tema diagnostik (Bellack,

1997).

1. Tema Deskriptif

Tema deskriptif merupakan ringkasan cerita, yang berisi

unsur-unsur cerita, yang memiliki sumbangan arti untuk menjelaskan

psikodinamika subjek. Tema deskriptif berfungsi untuk mengetahui isi

cerita, memilih bagian-bagian cerita yang memiliki arti agar tidak

(46)

bertele-tele. Selain itu fungsi lainnya adalah agar tidak ada bagian cerita

yang penting yang terlewat.

2. Tema Interpretif

Tema interpretif merupakan tema yang dinyatakan dalam kalimat

yang bersifat hipotesis, dan dinyatakan dengan general meaning dari

cerita. Fungsi tema interpretif ini adalah membantu interpreter dalam

menangkap atau mengidentifikasi arti dari cerita subjek.

3. Tema Diagnostik

Pada tema diagnosis, sifat hipotesis dalam tema interpretif

sebelumnya dihilangkan, dan diungkapkan dengan pernyataan yang

bersifat definitif. Tahapan analisis diagnosis ini merupakan tahapan

dimana interpreter mulai mendeteksi psychological problem pada diri

subjek.

Berdasarkan fokus penelitian yang telah ditentukan sebelumnya, maka

analisis di tema diagnostik pada penelitian ini akan dibatasi pada kebutuhan

(need) yang dimiliki subjek.

F. Pemeriksaan Keabsahan Data

Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dalam rangka meningkatkan

derajat kepercayaan penelitian. Salah satu cara yang dilakukan guna memeriksa

keabsahan data tersebut adalah melalui dependabilitas. Dependabilitas

(47)

rencana penelitian, pengumpulan data, inteprestasi temuan, dan pelaporan hasil

penelitian (Moleong, 2007). Dependabilitas dalam penelitian ini akan

dilakukan dengan diskursus. Menurut Sarantakos (dalam Poerwandari, 2005),

diskursus adalah sejauh mana dan sesensitif apa peneliti mau mendiskusikan

temuan dan analisisnya pada orang lain. Dalam hal ini, peneliti mendiskusikan

(48)

32

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

1. Proses Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik

dokumen. Data diambil dari Laboratorium Psikologi Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta yang merupakan data-data dokumen laporan

praktikum CAT mahasiswa/i Fakultas Psikologi Universitas Sanata

Dharma tahun 2012.

Pada penelitian ini, peneliti menentukan bahwa jumlah data yang

akan diolah harus lebih dari lima data, agar diharapkan bisa mewakili atau

merepresentatifkan subjek anak tunggal. Peneliti mencari dan menyeleksi

data dari angkatan mahasiswa 2009 yang berjumlah 105 data. Penyeleksian

dilakukan dengan kriteria subjek merupakan anak tunggal yang berusia

antara 6 hingga 11 tahun, serta merupakan anak satu-satunya yang diasuh

dalam rumah.

Awalnya didapatkan sepuluh data anak tunggal, namun subjek

kesepuluh gugur, karena bukan anak satu-satunya yang di asuh dalam

rumah. Maka, data yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah

sembilan data, yang terdiri dari satu subjek laki-laki dan delapan subjek

perempuan. Subjek berusia antara 6 sampai 10 tahun dan seluruhnya

(49)

2. Proses Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menginterpretasi secara tematik

kesepuluh cerita pada tiap-tiap subjek. Tahap pertama analisis tematik

adalah menganalisis tema deskriptif. Analisis tema deskriptif dilakukan

dengan meringkas cerita sehingga menghasilkan unsur-unsur cerita yang

bertujuan untuk mempermudah peneliti menangkap bagian-bagian cerita

yang penting. Tahapan kedua yaitu analisis interpretif, yang berbentuk

kalimat hipotesis, bertujuan untuk menangkap dan mengidentifikasi arti

dari cerita subjek. Tahapan terakhir dalam analisis tematik adalah analisis

tema diagnostik. Tema diaogsitk ini bersifat hipotesis yang merupakan

tahapan dimana peneliti mendeteksi psychological problem pada subjek.

Dalam hal ini, sesuai dengan tujuan penelitian, analisis tema diagnostik

hanya terbatas pada kebutuhan (need) subjek.

B. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Subjek

Subjek dalam penelitian ini berjumlah 9 orang, yang masing-masing

memiliki deskripsi sebagai berikut:

Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian

No. Nama

Jenis Kelamin

Usia

Ayah Ibu

Usia Pekerjaan Usia Pekerjaan

1. AN Perempuan 7 th 59 th Wiraswasta 36 th Wiraswasta

(50)

3. FFE Perempuan 10 th 47 th Pegawai swasta 37 th Bidan

4. GIR Permpuan 8 th 45 th Kepala sekolah 34 th Perawat

5. NF Laki-laki 10 th 44 th Wiraswasta 38 th Wiraswasta

6. RAPT Perempuan 6 th 32 th Wiraswasta 31 th Ibu RmhTngga

7. SW Perempuan 7 th 32 th Petani 36 th Petani

8. TEPR Perempuan 10 th 39 th Pegawai swasta 32 th Pegawai swasta

9. ZR Perempuan 7 th 31 th Pegawai swasta 30 th Pegawai swasta

2. Kebutuhan pada Masing-masing Subjek a. Subjek 1 (AN)

Kebutuhan yang paling banyak muncul pada Subjek 1 (AN)

adalah kebutuhan berafiliasi yang meliputi afiliasi dengan ibu, teman,

keluarga dan saudara. Selain itu, AN memiliki kebutuhan untuk

mendapat pertolongan dan bantuan, serta rasa aman.

Kebutuhan-kebutuhan lain meliputi Kebutuhan-kebutuhan akan keadilan, agresifitas, dan

lain-lain.

b. Subjek 2 (DCRZ)

Pada Subjek 2 (DCRZ), sebagian besar kebutuhan berkaitan

dengan figur ibu, meliputi kebutuhan berafiliasi dengan ibu, kebutuhan

mematuhi ibu, kebutuhan terpenuhinya kebutuhan oleh ibu. DCRZ juga

(51)

mengulangi kesalahan. Selain itu, DCRZ memiliki kebutuhan akan

prestasi dan persaingan, serta kebutuhan-kebutuhan lain.

c. Subjek 3 (FFE)

Kebutuhan yang dimiliki oleh FFE terkait dengan afiliasi

meliputi figur ibu, saudara, teman dan keluarga. Ada beberapa

kebutuhan FFE terkait dengan figur ibu yang muncul, seperti kebutuhan

tergantung dan dibantu, serta kebutuhan membantu ibu. Kebutuhan

untuk menaati atau menjalankan aturan dan kebutuhan akan kepatuhan

pada orangtua juga dimiliki FFE. Kebutuhan-kebutuhan lain yang

muncul pada diri FFE, seperti kebutuhan untuk dibanggakan atau

diakui, kebutuhan untuk otonom, dan lain-lain.

d. Subjek 4 (GIR)

Subjek 4 (GIR) memiliki kebutuhan cukup banyak mucul

berkaitan dengan figur ayah, meliputi kebutuhan akan perhatian ayah

serta kebutuhan untuk tergantung dan dibantu oleh ayah. Subjek juga

memiliki kebutuhan berafiliasi dengan ibu, keluarga dan dengan teman.

GIR memiliki kebutuhan akan kepatuhan dan kebutuhan akan

(52)

e. Subjek 5 (NF)

Kebutuhan yang paling banyak muncul pada NF adalah

kebutuhan bermain, kebutuhan akan otonomi, serta kebutuhan

berafiliasi dengan ibu dan dengan figur saudara. Kebutuhan NF

berkaitan dengan figur ayah meliputi kebutuhan untuk tergantung dan

dibantu ayah, serta adanya kebutuhan untuk menolak perilaku ayah

yang buruk. NF juga memiliki kebutuhan yang berkaitan dengan

kepatuhan dan kehadiran orangtua, dan lain-lain.

f. Subjek 6 (RAPT)

Subjek 6 (RAPT) memiliki kebutuhan yang cukup banyak

muncul terkait dengan figur orang tua, meliputi kebutuhan akan kasih

sayang, kehadiran, dan kebutuhan untuk mematuhi orangtua. RAPT

juga memiliki beberapa kebutuhan yang terkait dengan figur ayah,

seperti kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian ayah, dan kebutuhan

menyenangkan ayah. Selain itu juga ada kebutuhan akan berafiliasi dan

kebutuhan memiliki hubungan pertemanan, serta kebutuhan-kebutuhan

lain.

g. Subjek 7 (SW)

Kebutuhan yang paling sering mucul pada SW adalah kebutuhan

terkait dengan kepatuhan, yaitu kebutuhan untuk menaati peraturan dan

(53)

dengan ibu, saudara dan keluarga. Walaupun SW memiliki kebutuhan

untuk dibantu dan dirawat, SW juga memiliki kebutuhan untuk

membantu orang tua. Kebutuhan-kebutuhan lain yang ada pada diri SW

seperti kebutuhan untuk bermain, kebutuhan untuk bersaing, dan

lain-lain.

h. Subjek 8 (TEPR)

Pada TEPR, kebutuhan yang cukup banyak muncul adalah

kebutuhan untuk berafiliasi dengan saudara, orangtua dan teman, serta

kebutuhan untuk menaati peraturan dan bermain. Pada diri TEPR juga

muncul kebutuhan akan kehadiran ayah dan juga kebutuhan untuk

menolak perilaku ayah yang buruk. Selain itu, muncul

kebutuhan-kebutuhan terkait dengan keluarga, kebutuhan didengarkan

pendapatnya dan kebutuhan-kebutuhan lain.

i. Subjek 9 (ZR)

Kebutuhan-kebutuhan terkait figur ayah cukup banyak muncul

pada Subjek 9 (ZR), diantaranya kebutuhan berafiliasi dengan ayah,

kebutuhan akan perhatian dari ayah, dan kebutuhan untuk dibantu ayah.

Selain itu, subjek juga memiliki kebutuhan berafiliasi dengan ibu dan

keluarga, serta kebutuhan untuk merasa bersalah dan kebutuhan untuk

(54)

Tabel 2. Ringkasan Kebutuhan Tiap Subjek

(Lampiran kebutuhan subjek lengkap ada pada Lampiran.10)

No. Subjek Jenis Kelamin / Usia

Kebutuhan yang muncul

1. AN Perempuan / 7

tahun

- Kebutuhan rasa aman

- Kebutuhan berafiliasi dengan ibu - Kebutuhan berafiliasi dengan saudara - Kebutuhan berafiliasi dengan teman - Kebutuhan berafiliasi dengan keluarga - Kebutuhan untuk ditolong / mendapat

pertolongan

- Kebutuhan akan keadilan - Kebutuhan agresifitas 2. DCRZ Perempuan / 9

tahun

- Kebutuhan akan prestasi

- Kebutuhan berafiliasi dan beraktivitas dengan ibu

- Kebutuhan terpenuhi kebutuhannya oleh ibu

- Kebutuhan mematuhi ibu

- Kebutuhan untuk tidak mengulangi kesalahan

- Kebutuhan persaingan - Kebutuhan merasa bersalah

3. FFE Perempuan /

10 tahun

- Kebutuhan berafiliasi dengan ibu - Kebutuhan berafiliasi dengan saudara - Kebutuhan berafiliasi dengan keluarga - Kebutuhan berafiliasi dengan teman - Kebutuhan tergantung, dibantu oleh ibu - Kebutuhan membantu ibu

- Kebutuhan menjalankan aturan - Kebutuhan menaati peraturan - Kebutuhan akan kepatuhan pada

orangtua

- Kebutuhan untuk dibanggakan / diakui - Kebutuhan untuk otonom

4. GIR Perempuan / 8

tahun

- Kebutuhan berafiliasi dengan ibu - Kebutuhan untuk berafiliasi /

mempunyai teman

- Kebutuhan berafliasi dengan keluarga - Kebutuhan kehadiran orangtua

- Kebutuhan akan perhatian ayah - Kebutuhan untuk tergantung, dibantu

ayah

(55)

orangtua 5. NF Laki-laki / 10

tahun

- Kebutuhan bermain (n. Play) - Kebutuhan afiliasi dengan ibu

- Kebutuhan berafiliasi dengan saudara - Kebutuhan kehadiran orangtua - Kebutuhan untuk tergantung, dibantu

ayah

- Kebutuhan kepatuhan pada ibu - Kebutuhan kepatuhan pada ayah

- Kebutuhan untuk menolak perilaku ayah yang buruk

- Kebutuhan untuk otonom 6. RAPT Perempuan / 6

tahun

- Kebutuhan berafiliasi dengan teman - Kebutuhan berafiliasi dengan orangtua - Kebutuhan akan kehadiran orangtua - Kebutuhan akan pertemanan / memiliki

teman

- Kebutuhan kasih sayang orang tua - Kebutuhan akan perhatian ayah - Kebutuhan menyenangkan ayah

(memberi kejutan)

- Kebutuhan untuk memiliki barang (mainan)

7. SW Perempuan / 7

tahun

- Kebutuhan bermain

- Kebutuhan berafiliasi dengan ibu Kebutuhan berafiliasi dengan keluarga - Kebutuhan berafiliasi dengan saudara - Kebutuhan untuk dibantu / dirawat

keluarga

- Kebutuhan akan ditolong ibu

- Kebutuhan untuk membantu orang tua/ ibu

- Kebutuhan akan kepatuhan pada orangtua

- Kebutuhan menaati peraturan - Kebutuhan untuk persaingan 8. TEPR Perempuan /

10 tahun

- Kebutuhan berafiliasi dengan orangtua - Kebutuhan berafiliasi dengan teman - Kebutuhan berafiliasi dengan saudara - Kebutuhan akan kehadiran ayah - Kebutuhan mematuhi peraturan - Kebutuhan untuk didengarkan

pendapatnya

- Kebutuhan untuk berperan dalam keluarga

(56)

yang buruk

9. ZR Perempuan / 7

tahun

- Kebutuhan berafiliasi dengan ayah - Kebutuhan berafiliasi dengan ibu - Kebutuhan berafiliasi dengan keluarga - Kebutuhan dibantu ayah

- Kebutuhan akan perhatian ayah - Kebutuhan merasa bersalah - Kebutuhan mematuhi peraturan

3. Kategorisasi Kebutuhan Semua Subjek

Berdasarkan hasil analisis data secara tematik pada 9 subjek anak

tunggal, didapatkan berbagai macam kebutuhan-kebutuhan.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut kemudian dikategorisasikan, dan didapatkan hasil

sebagai berikut:

Tabel 3. Kategori Kebutuhan Anak Tunggal

Ragam Kebutuhan Jumlah - Kebutuhan berafiliasi dengan ibu 7 1,2,3,4,5,7,9 Kebutuhan

berafiliasi dengan orangtua atau keluarga - Kebutuhan berafiliasi dengan

keluarga

6 1,3,4,7,8,9

- Kebutuhan berafilasi dengan orangtua

2 6,8

- Kebutuhan berafiliasi dengan ayah 1 9 - Kebutuhan akan hubungan

keluarga yang harmonis

1 7

- Kebutuhan menjalin relasi yang baik dengan ayah

1 9

- Kebutuhan berafiliasi dengan teman

5 1,2,4,6,8 Kebutuhan berafiliasi dengan figur sebaya - Kebutuhan memiliki teman

(pertemanan)

3 4,6,8

- Kebutuhan menjalin relasi yang harmonis dengan teman

(57)

- Kebutuhan berafiliasi dengan - Kebutuhan menjalin relasi yang

akrab / harmonis dengan saudara

1 1

- Kebutuhan menjalankan peraturan 6 1,2,3,7,8,9 Kebutuhan akan kepatuhan (deference) - Kebutuhan kepatuhan pada orangtua 5 3,4,6,7,8

- Kebutuhan mematuhi ibu 4 2,3,5,8

- Kebutuhan mentaati / mematuhi ayah 2 2,5 - Kebutuhan untuk memenuhi harapan

dalam hubungan pertemanan (agar berperilaku baik)

1 8

- Kebutuhan makan / oral 8 1,2,3,4,5,7,8

,9

Kebutuhan fisik / fisiologis

- Kebutuhan beristirahat 4 1,3,7,9

- Kebutuhan akan kenyamanan fisik 1 1

- Kebutuhan bermain 8 1,2,3,4,5,6,7

,8

Kebutuhan bermain - Kebutuhan akan hiburan / rekreasi 2 4,6

- Kebutuhan bersenang-senang 1 1

- Kebutuhan akan rasa aman dari bahaya

8 1,2,3,4,5,6 ,8,9

Kebutuhan akan rasa aman

- Kebutuhan rasa aman 2 1,7

- Kebutuhan menghindari bahaya (sakit)

1 8

- Kebutuhan tergantung, dibantu ibu 4 3,6,7,8 Kebutuhan untuk dibantu (succorance) - Kebutuhan tergantung, dibantu ayah 3 4,5,9

- Kebutuhan untuk ditolong / mendapat pertolongan

1 1

- Kebutuhan dibantu / dirawat keluarga 1 7

- Kebutuhan berprestasi (sekolah) 4 1,2,3,9 Kebutuhan prestasi / persaingan - Kebutuhan akan prestasi / menang

(persaingan)

2 6,7

(58)

- Perasaan sedih karena kalah 1 1

- Kebutuhan kehadiran orangtua 6 1,4,5,6,7,8 Kebutuhan akan kehadiran / keberadaan orang lain - Kebutuhan akan kehadiran ayah 1 8

- Kebutuhan kehadiran teman 1 8

- Kebutuhan diperhatikan ayah (perhatihan dari ayah)

3 4,6,9 Kebutuhan

akan perhatian dan kasih sayang

- Kebutuhan kasih sayang ayah 1 6

- Kebutuhan diperhatikan ibu 1 6

- Kebutuhan merasa bersalah 3 2,6,9 Kebutuhan

merasa bersalah (abasement) - Kebutuhan untuk tidak mengulangi

kesalahan

1 2

- Kebutuhan untuk diakui / dihargai atas kepatuhan

1 6 Kebutuhan

akan pengakuan - Kebutuhan untuk didengarkan

pendapatnya

1 8

- Kebutuhan untuk berperan dalam keluarga

1 8

- Kebutuhan untuk dibanggakan / diakui

1 3

- Kebutuhan untuk otonom 2 3,5 Kebutuhan

kemandirian

- Kebutuhan otonom dari ayah 1 1

- Kebutuhan membantu orangtua 2 3,7 Kebutuhan

untuk membantu (nurturance)

- Kebutuhan akan keadilan 2 1,5

(Kebutuhan-kebutuhan lain)

- Kebutuhan agresifitas 2 1,9

- Kebutuhan akan pemenuhan kebutuhan keluarga

2 3,8

- Kebutuhan untuk menolak perilaku ayah yang buruk

(59)

Berdasarkan hasil kategorisasi, didapatkan 13 macam kategori

kebutuhan dan satu gabungan dari kebutuhan-kebutuhan yang tidak dapat

dikategorikan. Beragam kebutuhan itu antara lain, kebutuhan berafiliasi

(figur orang tua / keluarga dan figur sebaya), kebutuhan akan kepatuhan,

kebutuhan fisiologis, kebutuhan bermain, kebutuhan akan rasa aman,

kebutuhan untuk dibantu, kebutuhan akan prestasi atau persaingan,

kebutuhan akan kehadiran / keberadaan orang lain, kebutuhan akan

perhatian dan kasih sayang, kebutuhan merasa bersalah, kebutuhan akan

pengakuan, kebutuhan akan kemandirian, dan kebutuhan untuk

membantu. Adapun kebutuhan lain yang tidak dapat dikategorikan

meliputi kebutuhan akan keadilan, kebutuhan agresifitas, kebutuhan akan

pemenuhan kebutuhan keluarga, kebutuhan untuk menolak perilaku ayah

yang buruk, kebutuhan terpenuhinya kebutuhan oleh ibu dan ayah,

kebutuhan berfantasi, kebutuhan mendapat perlakuan baik dari ibu,

kebutuhan menyenangkan ayah, dan kebutuhan untuk memiliki barang. - Kebutuhan terpenuhi kebutuhannya

oleh ibu

2 2,5

- Kebutuhan terpenuhi kebutuhannya oleh ayah

1 6

- Kebutuhan berfantasi 1 5

- Kebutuhan mendapat perlakuan baik dari ibu

1 2

- Kebutuhan menyenangkan ayah (memberi kejutan)

1 6

(60)

Dari tabel kategorisasi kebutuhan-kebutuhan yang merupakan

hasil analisis pada ke-sembilan subjek anak tunggal, dapat diketahui

bahwa kebutuhan yang paling banyak muncul adalah kebutuhan

berafiliasi, yang mencakup figur orang tua / keluarga dan figur sebaya.

Kebutuhan berikutnya yang cukup banyak muncul adalah kebutuhan

akan kepatuhan. Kebutuhan yang paling sedikit muncul adalah kebutuhan

kemandirian dan kebutuhan untuk membantu.

C. Pembahasan

Stereotip masyarakat yang berkembang bahwa anak yang berstatus

sebagai anak tunggal itu berbeda tidak didukung oleh hasil penelitian ini.

Dimana need-need yang ditemukan tidak menunjukkan sifat-sifat yang menjadi

pandangan tersebut, yaitu egosentris, superioritas yang tinggi, maupun

mengharapkan orang lain memanjakan dan melindungi. Kebutuhan-kebutuhan

seperti agresi, intragresi, maupun mendominasi tidak muncul secara signifikan

dalam penelitian ini. Adapun kebutuhan untuk dibantu masih muncul dalam

intensitas yang normal. Namun pandangan bahwa anak tunggal itu matang

secara sosial bisa didukung oleh hasil penelitian ini, karena ditemukan bahwa

kebutuhan akan berafiliasi merupakan kebutuhan yang paling banyak muncul.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian besar

kebutuhan yang dimiliki anak tunggal, jika dilihat secara umum tidak berbeda

atau bisa dikatakan sama dengan kebutuhan anak pada umumnya.

(61)

dengan orang tua, keluarga dan teman sebaya, kebutuhan akan kepatuhan,

kebutuhan berprestasi, kebutuhan bermain, kebutuhan akan pengakuan maupun

kebutuhan kemandirian juga muncul pada subjek-subjek anak tunggal. Hal ini

dikarenakan adanya karakteristik dan tugas-tugas perkembangan yang dihadapi

memang atau berlaku relatif sama untuk setiap individu pada anak-anak pada

umumnya.

Karakteristik dan tugas-tugas perkembangan dijelaskan dalam

teori-teori yang sudah ada sebelumnya, salah satunya adalah teori-teori psikososial Erik

Erikson. Teori psikososial Erikson berpendapat bahwa tiap individu harus

melewati krisis yang ada sesuai dengan tahapan usia perkembangannya

(Santrock, 2011). Tahapan pertama yang harus dilalui individu adalah

kepercayaan versus ketidakpercayaan. Rasa percaya meliputi rasa nyaman

secara fisik dan tidak ada rasa takut atau kecemasan akan masa depan.

Munculnya kebutuhan akan otonom atau kemandirian dimulai dari

tahapan kedua psikososial. Tahapan kedua adalah otonomi versus rasa malu

dan ragu-ragu, yang merupakan tahapan yang harus dilalui untuk anak usia

(1-3 tahun). Tahapan ini adalah tahapan dimana bagaimana kebutuhan akan

otonom atau kemandirian mulai dapat berkembang. Pada tahap ini, individu

mulai menyadari kemandirian mereka (otonomi) dan menyadari keinginan

mereka. Jika anak terlalu dibatasi atau dihukum dengan keras, mereka mungkin

memunculkan rasa malu dan ragu-ragu. Tahapan ketiga adalah krisis antara

inisiatif dengan rasa bersalah, yang terjadi pada masa prasekolah. Anak

Gambar

Tabel 3. Kategori Kebutuhan Anak Tunggal..................................................
Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian
Tabel 2. Ringkasan Kebutuhan Tiap Subjek
Tabel 3. Kategori Kebutuhan Anak Tunggal
+5

Referensi

Dokumen terkait

Dari data yang ditunjukkan di atas dapat dikatakan bahwa kegiatan bernyanyidapat meningkatkan kemampuan anak dalam penguasaan kosa kata bahasaInggris jika kegiatan bernyanyi

DAF"TAR RINCIAN NILAI PENAMBAHAN PENYERTAAN MODAL DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA KE DALAM MODAL SAHAM PERSEROAN TERBATAS (PT). PERKEBUNAN SUMATERA UTARA YANG

Implikasi hukum administrasi dalam hubungan hukum rumah sakit-pasien adalah menyangkut kebijakan-kebijakan (policy) atau ketentuan-ketentuan yang merupakan syarat

[r]

milik daerah (BUMD) dan pemerintah kota bima mendapatkan deviden dari penyertaan modal tersebut yang masuk menjadi hasil pengelolaan kekayaan daerah yang di

Untuk memulai pembelajaran, hal yang dilakukan adalah mengakses web perkuliahan virtual classroom atau pembelajaran online, anda dapat mengetikkan alamat web

1. Menjelaskan proses jilid sampul lunak secara manual 2. Menebutkan jenis Cjenis pelipatan secara manual %. Menebutkan proses penjilidan sampul lunak secara manual 8.

Undur-undur laut yang ditemukan di pantai Pagak hidup pada jenis sedimen pasir, dan paling banyak ditemukan pada pasir dengan diameter butiran 0,25 – 1 mm.. Jenis