• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A."

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Masjid merupakan pusat kegiatan kaum muslimin, bukan sahaja ianya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai tempat berlakunya perkongsian ilmu pengetahuan, pusat pembangunan dan khidmat terhadap komuniti sekitarnya.

Fenomena kini, dapat dilihat pertumbuhan masjid yang banyak disebabkan oleh pesatnya pembukaan kawasan taman perumahan yang baru. Sekiranya taman peumahan yang baru dihuni oleh majoriti komuniti Islam, maka akan wujud satu masjid di kawasan tersebut. Sejauh mana makmur atau sepi keadaan masjid itu bergantung pada pengurusan masjid tersebut dalam merangka program untuk mengimarahkannya. Mewujudkan masjid dan memakmurkan masjid adalah bergantung kepada komuniti dan ahli jawatankuasa yang bertanggungjawab dalam pengurusan masjid. Peranan masjid dapat diperluaskan dengan mengadakan programprogram keagamaan seperti kelas mengaji, kelas Bahasa Arab, aktiviti kemasyarakatan dan sebagainya. Dengan cara ini, akan berlaku proses pengimarahan masjid dan dapat juga mengoptimumkan fasiliti yang terdapat di masjid.

Umat Islam juga dinasihatkan untuk memakmurkan dan meramaikan masjid dan menjalankan peranan serta fungsi masjid melalui maksud firman Allah SWT Qs. Surah At-Taubah: 9:18.

(2)

َماَقَأ َو ِر ِخ ْلْا ِم ْوَيْلا َو ِهَّللاِب َنَمآ ْنَم ِهَّللا َد ِجاَسَم ُرُمْعَي اَمَّنِإ ْنَأ َكِئ َٰلوُأ ٰىَسَعَف ۖ َه َّللا َّلَِّإ َش ْخَي ْمَل َو َةاَك َّزلا ىَتآ َو َة َلََّصلا َني ِدَت ْهُمْلا َن ِم اوُنوُكَي

Artinya: “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”(Al-Taubah, 9 :18) 1

Dalam sejarah Islam, masjid merupakan satu institusi yang amat penting.

Masjid bukan hanya sekadar tempat umat Islam melakukan amal ibadat khusus tertentu seperti mendirikan solat, membaca Al-Quran, berzikir dan seumpamanya, bahkan ia telah dijadikan pusat pembangunan masyarakat Islam yang lebih menyeluruh bukan hanya tempat menghubungkan umat dengan Penciptanya, tetapi juga sebagai pusat untuk menjalinkan hubungan sosial dan merapatkan ukhuwah sesama Islam disamping menjadi tempat rujukan dan perkongsian ilmu.

Pembinaan masjid di setiap daerah atau di setiap kawasan perumahan adalah untuk melengkapkan keperluan ibadat untuk umat Islam dalam menunaikan solat berjemaah secara asasnya. Seringkali terdengar perbuatan antara komuniti dan jemaah masjid dan mushola akan isu kecenderungan masyarakat setempat dalam mengikuti pengajian masjid. Ada kalanya program masjid yang dianjurkan kurang mendapat sambutan masyarakat setempat. Kesadaran untuk

1Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, Asy-Syifa, Semarang, 2000, hlm.

149

(3)

memakmurkan masjid adalah penting dan pengurusan masjid perlu mengetahui apakah faktor yang dapat menarik minat masyarakat dalam menghadiri dan memakmurkan program-program yang dianjurkan oleh pihak masjid.

Islam merupakan agama dakwah, yaitu agama yang menugaskan umatnya untuk menyebarkan dan menyiarkan Islam kepada seluruh umat manusia sebagai rahmat bagi seluruh alam. Islam adalah untuk sebutan agama, pengertiannya adalah semua agama Allah (wahyu Allah) yang diturunkan kepada para rasul (utusan) Allah sejak utusan yang pertama (Adam) sampai yang terakhir (Muhammad saw) penutup semua Nabi dan Rasul. Lebih jelasnya terdapat dalam Alquran Surat Ali Imran ayat 83

َّللا ِنيِد َرْيَغَفَأ َو اًع ْوَط ِض ْرَ ْلْا َو ِتا َواَمَّسلا يِف ْنَم َمَلْسَأ ُهَل َو َنوُغْبَي ِه

اًً ْرَك

َنوُعَج ْرُي ِهْيَلِإ َو

Artinya: “Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?”(QS. Ali Imran (3): 83)2

Hanya Islamlah yang berhak disebut agama Allah. Agama Islam yang dibawa sebelum Rasul Muhammad adalah untuk umat tertentu di zaman Nabi itu, sedangkan Islam yang dibawa Muhammad adalah untuk seluruh umat manusia (universal) berlaku sepanjang masa (zaman) dengan penyempurnaan serta meneruskan agama Islam yang dibawa oleh Rasul sebelumnya.

2Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, Asy-Syifa, Semarang, 2000, hlm.

hlm. 60

(4)

ُم َلَْسِ ْلْا ِهَّللا َدْنِع َنيِ دلا َّنِإ

Artinya: “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam….

(QS. Ali Imran (3): 19)3

Agama Islam tidak lepas dari cara penyebaran itu sendiri, antara lain dengan berdakwah. Dakwah Islamiyah adalah risalah terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai wahyu dari Allah dalam bentuk kitab yang tidak ada kebatilan padaNya, baik di depan atau di belakang, dengan kalamnya yang bernilai mu’jizat dan yang ditulis dalam mushaf yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad Saw dengan sanad yang mutawatir yang membacanya bernilai ibadah. Dakwah ke jalan Allah SWT merupakan risalah para Nabi dan Rasul, jalan para penunjuk dan para pelopor kebaikan, Allah telah memilih para

Du’ah dan penunjuk untuk menyampaikan risalah-Nya serta menjelaskan Dakwahnya, Firman Allah :

ِةَكِئ َلََمْلا َنِم يِفَطْصَي ُهَّللا ٌري ِصَب ٌعيِمَس َهَّللا َّنِإ ۚ ِساَّنلا َنِم َو ًلَُس ُر

Artinya: “Allah memilih dari Malaikat untuk utusan dan dari manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”. (QS. Al-Hajj (22):

75)

Dalam hadist Rasulullah bersabda: Artinya: “Allah selalu mengutus untuk ummat ini pada permulaan tiap abad, orang-orang pembaharuan untuk segala urusan keagamaan mereka”.

3 Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), hlm.

52

(5)

Dakwah adalah aktivitas untuk mengajak manusia menuju suatu tujuan.

Islam tidak mungkin dikenal dan dipahami serta dianut tanpa adanya proses dakwah Rasul. Kegiatan dakwah dalam perkembangannya ditradisikan oleh para ulama’ dari satu generasi ke generasi hingga sekarang. Kewajiban berdakwah terletak pada setiap persoalan atau individu seorang muslim berdasarkan kemapuan maupun profesi masing-masing beserta cara maupun media yang dimilikinya. Inilah yang dimaksud dengan khalifatullah fil ardhi. Sedangakn materi dakwah itu mencakup segala aspek kehidupan manusia dengan berlandaskan kepada ajaran agama Islam. Sebagai contoh adalah seseorang yang makan di rumah makan (kedai, restoran) sebelum makan dia membaca doa terlebih dahulu, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya mendengar doa tersebut dan mengikuti langkahnya.4

Sebagaimana yang telah dimaklumi bahwa dakwah merupakan suatu usaha yang sadar dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan kepada Allah swt., di dalam merubah situasi kepada situasi yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah swt., untuk mencapai apa yang dimaksud dalam usaha dakwah tersebut tersebut, banyak cara yang dapat ditempuh sesuai dengan relevansi kemampuan, kepentingan subyek dan obyek atau dengan faktor- faktor lainnya. Dakwah dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk kegiatan, antara lain dalam kegiatan pengajian-pengajian, pendidikan, forum-forum ilmiyah, kegiatan sosial, pencerminan pribadi atau kelompok untuk menjadi contoh yang meliputi watak, sikap, sifat dan tingkah lakunya.

4 Ibid., hlm, 12

(6)

Bentuk-bentuk kegiatan tersebut diharapkan memberikan pengaruh yang positif dalam rangka menuju perubahan situasi yang dimaksud dalam usaha dakwah. Majelis taklim, di tengah arus besar globalisasi yang melanda seluruh pelosok dunia seperti saat ini, tampak seperti sebuah fenomena. Betapa tidak, dalam khazanah pembahasan, salah satu arti dari “majelis” adalah pertemuan (kumpulan) orang banyak. Sementara itu, “taklim” berarti “pengajaran agama (Islam)” atau “pengajian”5

Salah satu kegiatan dakwah yang saat ini dijalankan adalah kegiatan pengajian rutin di Masjid-masjid. Dalam pengajian rutin tersebut para jamaahnya adalah warga masyarakat Medan kota yang di kenal sebagai Masyarakat yang aktip melaksanakan ibadah dimesjid dan menghadiri pengajian-pengajian dimesjid-mesjid sekitar medan, karena Masjid ini juga dibangun di daerah kota Medan dan menjadi Masjid kebanggaan Masyarakat. Jadi segala sesuatu yang bersangkutan dengan Masjid-mesjid ini menjadi hak dan tanggung jawab Masyarakat dan pemerintah kota Medan.

Masjid yang ada disekitar kota Medan semuanya memberikan warna keagamaan yang sangat khas dan kental di kalangan masyarakat Medan kota,khususnya di dalam penyiaran Agama Islam. Penyiaran Agama Islam di sini benar-benar sesuai dan mengikuti ajaran dan sunah-sunah yang pernah dilakukan dan dikerjakan Rasulullah sebagai perintah dari Allah SWT yang diwahyukan kepada RasulNya. Masjid-mesjid yang ada diwilayah kota Medan ini di dalam setiap minggunya itu tidak kosong dari pengajian-pengajian agama atau Majelis

5 Tutty Alawiyah, Strategi Dakwah di Lingkungan Majelis Taklim, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 5

(7)

Ta’lim. Majelis Ta’lim ini disampaikan oleh ulama-ulama,kiyai dan para ustadz besar yang ada di Kota Medan dan khususnya, para Ustadz-Ustadz yang memberikan ceramah di sini memang sangat dipercaya masyarakat untuk memberikan suatu pengajaran-pengajaran tentang syariat-syariat Islam yang dibawakan oleh Rasulullah.

Berdasarkan permasalahan yang dibincangkan ini, pengkaji merasakan satu pengkajian perlu dijalankan bagi mengenal pasti faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan masyarakat dalam mengimarahkan masjid. Maka, faktor-faktor seperti pengurusan fasilitas, keberbagai aktivitas dakwah dan pengurusan masjid telah dipilih dan sama ada mempunyai hubungan yang signifikan atau tidak terhadap kecenderungan masyarakat dalam memakmurkan dan menghadiri setiap pengajian-pengajian dimasjid.

Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk meneliti lebih dalam bagaimana pelaksanaan pengajian rutin serta faktor yang Mempengaruhi minat masyarakat dalam menghadiri pengajian dimesjid-mesjid.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana kegiatan pelaksanaan pengajian yang ada di setiap Mesjid Kota Medan?

2. Bagaimana minat masyarakat terhadap kegiatan pengajian yang ada dimesjid Kota Medan?

(8)

3. Apa Faktor-Faktor yang menumbuhkan minat masyarakat terhadap kegiatan pengajian yang ada di Kota Medan?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang diatas dan rumusan masalah tersebut di atas serta dari pribadi penulis, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui bentuk kegiatan pengajian yang ada di setiap Mesjid Kota Medan.

2. Mengetahui minat masyarakat terhadap kegiatan pengajian yang ada dimesjid Kota Medan.

3. Mengetahui Faktor-Faktor yang menumbuhkan minat masyarakat terhadap kegiatan pengajian yang ada di Kota Medan.

D. Batasan Istilah

Untuk memudahkan memahami dalam pembahasan ini, kiranya perlu lebih dahulu dijelaskan mengenai istilah yang akan dipakai untuk skripsi yang berjudul

“Faktor yang mempengaruhi minat masyarakat dalam menghadiri pengajian dimesjid” sebagai berikut:

1. Penegasan Konseptual

a. Masyarakat adalah sekelompok manusia yang terjalin erat karena sistem tertentu, tradisi tertentu, konvensi dan hukum tertentu yang sama, serta mengarah pada kehidupan kolektif.

Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang karena tuntutan

(9)

kebutuhan dan pengaruh keyakinan, pikiran, serta ambisi tertentu dipersatukan dalam kehidupan kolektif. Sistem dan hukum yang terdapat dalam suatu masyarakat mencerminkan perilaku- perilaku individu karena individu-indivu tersebut terikat dengan hukum dan sistem tersebut.6

b. Pengajian dalam bahasa Arab disebut at-ta’llimu asal kata ta’allama yata’allamu ta’liiman yang artinya belajar, pengertian dari makna pengajian atau ta’liim mempunyai nilai ibadah tersendiri, hadir dalam belajar ilmu agama bersama seorang Aalim atau orang yang berilmu merupakan bentuk ibadah yang wajib setiap muslim.Di dalam pengajian terdapat manfaat yang begitu besar positifnya, didalam pengajian-pengajian manfaat yang dapat diambinya menambah dari salah satu orang yang biasa berbuat negatif dengan memanfaatkannya menjadi positif. Hal seperti ini pada masyarakat muslim pada umumnya dapat memanfatkan pengajian untuk mengubah diri atau memperbaiki diri dari perbuatan yang keji dan mungkar.

c. Minat

Minat dapat diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, keinginan.5 Adapun minat yang

6 Sulfan dan Mahmud, A. (2018). "Konsep Masyarakat Menurut Murtadha Muthahhari (Sebuah Kajian Filsafat Sosial), 2018, hlm. 273

(10)

dimaksud dalam tulisan ini adalah kecenderungan hati masyarakat dalam mengikuti pengajian-pengajian agama dalam berbagai majelis taklim.

E. Sitematika Pembahasan

Sistematika pembahasan disini bertujuan untuk memudahkan jalannya pembahasan terhadap suatu maksud terkandung. Sehingga uraian-uraian dapat diikuti dan dapat dipahami secara teratur dan sistematis. Adapun sistematika pembahasan dalam skripsi ini terdiri dari 3 bagian yaitu bagian awal, bagian utama, dan bagian akhir.

1. Bagian Awal Bagian awal terdiri dari

halaman sampul depan, halaman judul, halaman persetujuan, lembar pengesahan, pernyataan keaslian tulisan , motto, halaman persembahan, kata pengantar, daftar lampiran, abstrak, daftar isi.

2. Bagian Inti Pada bagian inti ini memuat uraian sebagai berikut :

a. Bab I adalah pendahuluan yang mencakup: konteks penelitian, Fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan hasil penelitian, penegasan istilah, sistematika penulisan.

b. Bab II adalah Landasan Teori yang mencakup pengertian minat, macammacam minat, dan faktor-faktor yang mempengaruhi minat, pengertian dan bentuk Pengajian, fungsi Pengajian, ruang lingkup kegiatan Pengajian, tujuan Pengajian dan kerangka berfikir.

(11)

c. Bab III adalah metodologi penelitian, yang mencakup Waktu dan Lokasi Penelitian, Jenis Penelitian, Jenis Data, Sumber Data, Instrumen Pengumpulan Data, serta Analisis Data.

d. Bab IV adalah hasil penelitian yang mencakup bagaimana pelaksanaan kegiatan Pengajian di Kota Medan, bagaimana minat masyarakat terhadap Pengajian di kota medan, apa saja faktor-faktor yang menumbuhkan minat masyarakat terhadap kegiatan Pengajian di Kota Medan.

e. Bagian Akhir yaitu Bab V memuat uraian tentang daftar rujukan, lampiran-lampiran dan daftar riwayat hidup.

(12)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. LANDASAN TEORI 1. Minat

a. Pengertian Minat

Minat adalah suatu yang timbul dari pada diri seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, keinginan.7

Menurut Jersid dan Tasch, bahwa minat atau interest menyangkut aktivitas-aktivitas yang dipilih secara bebas oleh individu. Pendapat lain, Wayan Nurkancana mengemukakan bahwa minat adalah gejala psikis yang berkaitan dengan obyek atau aktivitas yang menstimulir perasaan senang pada individu.8

Pendapat Abdul Rahman Shaleh dalam bukunya mengatakan bahwa: “Minat diartikan sebagai suatu kecenderungan untuk memberikan perhatian dan bertindak terhadap orang, aktivitas atau situasi yang menjadi objek dari minat tersebut dengan disertai perasaan senang”.9

7 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), hlm. 656

8 Wayan Nurkancana, Evaluasi Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hlm. 229.

9 Abdul Rahman Shaleh, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, (Jakarta:

Kencana, 2004), hlm. 202-263..

(13)

Adapun pendapat Zakiah Daradjat bahwa; “minat adalah kecenderungan jiwa yang tetap kejurusan sesuatu hal yang berharga bagi orang. Sesuatu yang berharga bagi seseorang adalah yang sesuai dengan kebutuhannya.10 Menurut Decroly, “minat itu ialah pernyataan suatu kebutuhan yang tidak terpenuhi. Kebutuhan itu timbul dari dorongan hendak memberi kepuasan kepada suatu instink.11

Demikian pula menurut H.C Witherington bahwa minat adalah kesadaran seseorang bahwa suatu obyek, seseorang, suatu soal atau suatu situasi mengandung sangkut paut dengan dirinya.

Dalam ensiklopedi Indonesia, minat adalah kecenderungan bertingkah laku yang terarah terhadap obyek, kegiatan atau pengalaman tertentu. Minat juga dapat timbul karena daya tarik dari luar dan juga datang dari hati sanubari. Minat yang besar terhadap sesuatu merupakan modal yang besar artinya untuk mencapai atau memperoleh benda atau tujuan yang diminati itu.12 Menurut Muhibbin Syah, minat atau interest berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber, minat tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena kerergantungannya yang

10 Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hlm. 133.

11 Ibid, 133.

12 Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), hlm. 56

(14)

banyak pada faktor-faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingin tahuan, motivasi, dan kebutuhan.13

Selanjutnya Slameto mengemukakan bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.14

Dari pengertian minat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa seseorang lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat dimanisfestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas.

Seseorang yang memiliki minat terhadap subyek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut.

Melalui minat ini akan melahirkan perhatian spontan.

Perhatian spontan memunkingkan terciptanya konsentrasi untuk waktu yang lama. Dengan demikian, minat merupakan landasan bagi konsentrasi, ibarat pembuatan sebuah bangunan, minat

13 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hlm.

151.

14 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm. 180.

(15)

merupakan dasar atau pondasi bagi bangunan konsentrasi yang harus diciptakan. Pondasi itu akan semakin kokoh kalau minat semakin besar dengan terus menerus dikembangkan. Oleh Karen itu, setiap orang harus secara mandiri menumbuhkan minat dalam batinnya dan terus menerus dikembangkan dalam aktivitasnya.

Berdasarkan pengertian minat yang telah dikemukakan di atas, jelaslah bahwa dalam melakukan segala kegiatan individu akan sangat dipengaruhi oleh minatnya. Karena dalam kehidupan ini kita akan selalu berkomunikasi atau berhubungan dengan orang lain, benda, situasi, dan aktivitas-aktivitas yang terdapat di sekitar kita. Dalam berhubungan tersebut kita mungkin bersikap menerima, membiarkan atau menolaknya. Apabila kita menaruh minat, itu berarti kita menyambut atau bersikap positif dalam berhubungan dengan objek atau lingkungan, dan akan cenderung untuk memberi perhatian dan melalukan tindakan lebih lanjut. jelas bahwa ada pemusatan perhatian subjek, ada usaha untuk mendekati, mengetahui, memiliki, menguasai,dan berhubungan dari subyek yang dilakukan dengan perasaan senang, ada daya penarik dari objek.

b. . Macam-macam Minat

Minat dapat digolongkan menjadi beberapa macam, ini sangat tergantung pada sudut dan cara penggolongannya. Menurut Abdul Rahman Sholeh minat terbagi atas tiga macam yaitu:

(16)

1) Berdasarkan timbulnya, minat dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:

a. Minat Primitif, adalah minat yang timbul karena kebutuhan biologis atau jaringan-jaringan tubuh, misalnya kebutuhan akan makanan, perasaan enak atau nyaman, kebebasan beraktivitas, seks, dan lainlain. Hal itu meliputi kesadaran serta kebutuhan yang terasa akan sesuatu yang langsung dapat memuaskan dorongan untuk mempertahankan organisme. Tetapi dalam masyarakat kita, banyak terdapat hal-hal yang meskipun secara langsung tidak ada sangkut pautnya dengan diri kita.

b. Minat Kultural atau minat sosial, adalah minat yang timbul karena proses belajar, minat ini tidak secara langsung berhubungan dengan diri kita misalnya keinginan untuk memiliki mobil, pakaian mewah, kekayaan dan lain-lain. Contoh yang lain misalnya minat belajar, individu punya pengalaman bahwa masyarakat akan lebih menghargai orang-orang terpelajar dan pendidikan tinggi, sehingga hal ini akan menimbulkan minat individu untuk belajar dan

(17)

berprestasi agar mendapat penghargaan dari masyarakat.15

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa minat primitif adalah minat yang timbul karena kebutuhan biologis. Minat kultural atau minat social juga merupakan minat dari taraf tinggi dengan hasil pendidikan yang penting. Orang yang benar-benar terdidik ditandai oleh adanya minat yang benar-benar luas serta benarbenar dalam terhadap hal-hal yang bernilai. Secara singkat, seluruh pandangan hidup seseorang atau seluruh perbendaharaan norma seseorang ditentukan oleh minatnya, artinya apa yang dianggapnya ada sangkut pautya dengan dirinya.

2) Berdasarkan arahnya, minat dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:

a. Minat Intrinsik, adalah minat yang langsung berhubungan dengan aktivitas itu sendiri, ini merupakan minat yang lebih mendasar atau minat asli. Misalnya seseorang belajar memang senang pada ilmu pengetahuan atau karena memang senang membaca, bukan karena ingin mendapat pujian atau penghargaan.

15 Abdul Rahman Shaleh, Op.Cit, hlm. 265.

(18)

b. Minat Ekstrinsik adalah minat yang berhubungan dengan tujuan akhir dari kegiatan tersebut, apabila tujuannya sudah tercapai ada kemungkinan minat tersebut hilang, misalnya seseorang yang giat belajar dengan tujuan agar mendapat juara kelas.16

3) Berdasarkan cara mengungkapkan minat dapat dibedakan menjadi empat yaitu:

a. Expressed interest, adalah minat yang diungkapkan dengan cara meminta kepada subyek untuk menyatakan atau menuliskan kegiatan- kegiatan yang disenangi dan paling tidak disenangi dari jawabannya dapatlah diketahui minatnya.

b. Manifest interest, adalah minat yang diungkapkan dengan cara mengobservasi atau melakukan pengamatan secara langsung terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan subyek.

c. Tested interest, adalah minat yang diungkapkan dengan cara menyimpulkan hasil jawaban tes obyektif yang diberikan, nilai-nilai yang tinggi pada suatu objek atau masalah biasanya menunjukkan minat yang tinggi pula tehadap hal tersebut.

16 Ibid, hlm. 266.

(19)

d. Inventoriat interest, adalah minat yang diungkapkan dengan menggunakan alat-alat yang sudah distandardisasikan, dimana biasanya berisi petanyaan- pertanyaan yang ditujukan kepada subjek apakah ia senang atau tidak senang terhadap sejumlah aktivitas atau sesuatu objek yang ditanyakan.17

c. . Faktor-faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Minat masyarakat Secara garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya minat dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Faktor yang bersumber dari dalam diri individu yang bersangkutan misalnya: bobot, umur, jenis kelamin, pengalaman, perasaan mampu, kepribadian.

2. Faktor yang bersumber dari luar diri individu mencakup:

lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.18

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, faktor yang mempengaruhi minat seseorang sebagaimana yang diuraikan di atas saling berhubungan antara yang satu dengan lainnya.

Keselarasan dan keterpaduan antara faktor tersebut memberikan pengaruh yang positif terhadap aktivitas seseorang.

Adapun menurut Crow and Crow yang dikutip dalam buku Abdul Rahman Shaleh ada tiga faktor yang menjadi timbulnya minat, yaitu:

17 Ibid, hlm. 267.

18 Ibid, hlm. 263.

(20)

1. Dorongan dari dalam diri individu, misalnya dorongan untuk makan, ingin tahu seks. Dorongan ingin tahu atau rasa ingin tahu akan membangkitkan minat untuk membaca, belajar, menuntut ilmu, melakukan penelitian dan lain-lain.

2. Motif sosial, dapat menjadi faktor yang membangkitkan minat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Misalnya, minat untuk menuntut ilmu pengetahuan timbul karena ingin mendapatkan kedudukan yang tinggi dan terpandang dalam masyarakat.

3. Faktor emosional, minat mempunyai hubungan yang erat dengan emosi. Bila seseorang mendapatkan kesuksesan pada aktivitas akan menimbulkan perasaan senang, dan hal tersebut akan memperkuat minat terhadap aktivitas tersebut, sebaliknya suatu kegagalan akan menghilangkan minat terhadap hal tersebut.19

Dari ketiga faktor di atas tidak berdiri sendiri, melainkan suatu perpaduan dari ketiga faktor tersebut. Karena kepribadian manusia itu bersifat kompleks, maka agak sulit bagi kita untuk menentukan faktor manakah yang menjadi awal penyebab timbulnya suatu minat. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya minat seseorang terdiri dari faktor yang berasal dari dalam diri atau intern dan dari faktor yang berasal dari luar diri atau ekstren.

19 Ibid, hlm. 264.

(21)

Menurut Bernard, minat timbul tidak secara tiba-tiba atau spontan, melainkan timbul akibat dari partisipasi, pengalaman, kebiasaan kebiasaan pada waktu melakukan sesuatu.20Sedangkan menurut M. Dalyono, minat itu timbul karena daya tarik dari luar dan juga datang dari hati sanubari, karena kenginan yang kuat untuk menaikkan martabat atau memperoleh pekerjaan yang baik serta ingin hidup senang dan bahagia.21 Jadi, minat seseorang itu timbul dari berbagai sumber antara lain perkembangan instink dan hasrat, fungsifungsi intelektual, pengaruh lingkungan, pengalaman, kebiasaan, pendidikan dan sebagainya.

Ada beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk membangkitkan minat yaitu:

1. Membangkitkan kebutuhan pada diri seseorang seperti kebutuhan rohani, jasmani, sosial, dan sebagainya. Rasa kebutuhan ini akan menimbulkan keadaan labil, ketidak puasan yang memerlukan kepuasan.

2. Pengalaman-pengalaman yang ingin ditanamkan pada seseorang hendaknya di dasari oleh pengalaman-pengalaman yang sudah dimiliki. 3. Memberikan kesempatan berpartisifasi untuk mencapai hasil yang diinginkan.

4. Menggunakan alat-alat peraga dan berbagai metode mengajar.22

20 sardiman AM. Log. Cit..

21 M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 56.

22 ibid, hlm. 143-144.

(22)

Jadi jelaslah bahwa soal minat akan selalu berkaitan dengan soal kebutuhan atau keinginan. Jika kita memiliki minat yang besar terhadap sesuatu namun tidak melakukan usaha untuk meraih, mendapatkan atau memilikinya maka minat itu tak ada gunanya.

Dan betapapun minat yang dimiliki seseorang besar, namun jika hal tersebut tidak dimanfaatkan dengan berusaha mengaktualisasikannya dalam wujud kongkrit maka minat tersebut akan menipis dan tidak menghasilkan apa-apa.

Adapun ciri-ciri orang yang berminat terhadap kegiatan majelis taklim berupa pengajian dimesjid, yaitu :

1. Adanya keinginan untuk mengikuti kegiatan majelis taklim 2. Merasa senang ketika mengikuti kegiatan majelis taklim 3. Lebih sering mengikuti kegiatan majelis taklim

4. Senang terhadap yang diminatii itu 5. Lebih sering bertanya

6. Melakukan sesuatu terbit dari lubuk hati 7. Melaksanakan sesuatu tanpa ada paksaan 8. Melakukan sesuatu dengan senang hati

9. Ada rasa suka dan senang terhadap yang diminati itu

(23)

B. PENGAJIAN

1. Pengertian Pengajian

menurut bahasa berasal dari kata “Kaji” yang berarti membaca, menderas, atau mengaji berarti memba c a Al-Qur’an.23 Mengkaji berasal dari kata aji yang berarti belajar, mempelajari, memeriksa, memikirkan, mempertimbangkan.24 Pada umumnya pengajian terbentuk seperti kuliah terbuka dimana nara sumber(ulama)

memberikan ceramah kemudian jama’ah mendengarkan, menyimak, mencatat pelajaran yang diberikan nara sumber.

dilihat dari metode pengajian mempunyai cara (metode) wetonan,bandungan, musyawarah, takror, mudaqosah, jam’iayah, dan sebagainya.25

Melalui perkembangan, pengajian yang bertujuan untuk mengajarkan agama Islam kepada masyarakat dimodifikasi kedalam bentuk yang lain seperti dialog, diskusi dan sebagainya. Bentuk dialog atau diskusi inilah yang kemudian berkembang menjadi pembahasan masalah (bahts al-masa’il).

Pengertian dialog menurut bahasa artinya percakapan, sandiwara. Dialogis artinya bersifat komunikatif dan terbuka,

23 Purwo Darminto WJS, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka, 1999)hlm.22

24 Daryanto, SS, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Surabaya : Apollo, 1997) hlm. 316

25 Lihat: dawan raharjo (ed),pesantren dan pembaharuan (jakarta : LP3S,1995),h.56

(24)

atau dialog berarti tulisan yang dihasilkan dari hasil wawanc ara – tanya jawab (tehnik perc akapan sandiwara). 26

Pengajian dialogis merupakan diskusi yang mengarah pada forum (ceramah) dengan bentuk forum dialog “Forum dialog merupakan penggunaan kombinasi antara dukungan dan pertanyaan sehingga menjadi struktur dua arah atau tiga arah yang melahirkan dialog ”.27 Jadi pengajian adalah “Bentuk atau cara (metode) pengajian yang dikombinasi dengan tanya jawab dan bersifat komunikatif – terbuka, dengan struktur dua atau tiga arah dengan susunan tempat yang berhadap- hadapan antara nara sumber dengan audien

(pendengar) dan diantara keduanya dipandu oleh moderator, dan pengajian tersebut dilaksanakan pada waktu tertentu yang sudah ditetapkan oleh kepengurusan masjid.

2. Latar Belakang pengajian

Dari sejarah kelahirannya majelis taklim berupa pengajian merupakan lembaga Pendidikan Islam tertua dalam islam sebab sudah dilaksanakan sejak jaman Rasulullah Saw. Meskipun tidak

26 Daryanto. SS, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Surabaya : Apollo,1997)hlm. 98

27 Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2000), cet. 15 hlm.182

(25)

disebut dengan majelis taklim namun pengajian nabi Muhammad Saw.Yang berlangsung secara sembunyi-sembunyi di rumah Arqam bin Abil Arqam dapat dianggap sebagai majelis taklim dalam konteks pengertian sekarang. Kemudian setelah adanya perintah Allah Swt untuk menyiarkan islam secara terang-terangan, pengajian seperti itu segera berkembang di tempat-tempat lain yang diselenggarakan secara terbuka dan tidak lagi diselenggarakan secara sembunyi-sembunyi.28 Maka dari itu majelis taklim seperti pengajian berkembang sampai sekarang ini, dan sudah menjadi pengajian yang di organisasikan.Semantara itu di indosesia terutama disaat-saat penyiaran Islam oleh parawali dahulu, juga mempergunakan pengajian atau majelis taklim untuk menyampaikan dakwahnya.

3. Fungsi Pengajian

Pengajian atau Majlis taklim mempunyai kedudukan dan ketentuan tersendiri dalam mengatur pelaksanaan pendidikan atau dakwah islamiah, disamping lembaga-lembaga lainnya yang mempunyai tujuan yang sama. Memang pendidikan nonformal dengan sifatnya yang tidak terlalu mengikat dengan aturan yang ketat dan tetap, merupakan pendidikan yang efektif dan efesien,

28 Hasbullah.Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: P.T Raja Grafindo Persada, 1996), hlm.

95

(26)

cepat mmenghasilkan, dan sangat baik untuk mengembangkan tenaga kerja atau potensi umat, karena ia digemari masyarakat luas.

Efektivitas dan efisiensi system pendidikan ini sudah banyak di buktikan melalui pengajianpengajian Islam atau majelis taklim yang sekarang banyak tumbuh dan berkembang baik di desa-desa maupun di kota-kota besar.

Oleh karena itu, secara strategis pengajian atau majelis taklim tersebut adalah menjadi sarana dakwah dan tabligh, yang bercorak Islami, yang berperan sentral pada pembinaan dan peningkatan kualitas hidup ummat Islam sesuai tuntutan ajaran agama.

Karena itu sangat jelas betapa pentingnya pendidikan dan dakwah Islam. Sebagai lembaga pendidikan non formal, pengajian atau majelis taklim berfungsi sebagai berikut:

a. Membina dan mengembangkan ajaran Islam dalam rangka membentuk masyarakat yang bertakwa kepada Allah Swt.

b. Sebagi taman rekreasi rohaniah karena penyelenggaraannya bersifat santai.

c. Sebagi ajang berlangsunggya silaturrahmi masal yang dapat menghidup suburkan dakwah dan ukhuwah islamiah.

d. Sebagai saran dialok berkesinambungan antara ulama, umara

(27)

dan umat.

e. Sebagai media penyampaian gagasan yang bermanfaat bagi pembagunan umat dan bangsa pada umumnya.29

4. Tujuan Pengajian

Dalam kitab suci al-Qur’an di jelaskan bahwa dakwah memiliki tujuan untuk menciptakan masyarakat khaira ummah yaitu masyarakat yang senantiasa menyerah kepada kebajikan dan mencegah adanya kemungkaran.hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat AlImran ayat 110 yang berbunyi:

َن ْوَهْنَت َو ِفو ُرْعَمْلٱِب َنو ُرُمْأَت ِساَّنلِل ْتَج ِرْخُأ ٍةَّمُأ َرْيَخ ْمُتن ُُ ك

ُهْنِ م ۚ مُهَّل ا ًرْيَخ َناَكَل ِبَٰتِكْلٱ ُلًَْأ َنَماَء ْوَل َو ِهَّللٱِب َنوُنِمْؤُت َو ِرَكنُمْلٱ ِنَع ُم

َٰفْلٱ ُمًُ ُرَثْكَأ َو َنوُنِمْؤُمْلٱ َنوُقِس

Artinya:kamu adalah umat terbaik yang di lahirkan untuk manusia,menyuruh kepada yang makruf,dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada allah…..″30

Dari arti ayat di atas dapat di pahami bahwa semua umat islam memiliki kewajiban yang sama dalam hal yang mengingatkan kepada yang benar dan mencegah kebatilan serta dalam hal

29 Ibid., hlm. 99-101

30 Departemen Agama RI Al-Qur’an Dan Terjamahannya (Semarang: Toha Putra,1989), hlm,94

(28)

beriman,untuk sampai kepada keimanan.Sudah pasti umat islam harus banyak menuntut ilmu agama dari berbagai sumber, salah satunya adalah majelis taklim baik kaum ibu, kaum bapak, dan kaum remaja.

Tujuan pengajian secara khusus bertujuan untuk memasyarakatkan ajaran islam, dengan kata lain pengajian dilaksanakan untuk mengenal ajaran–ajaran Isalam kepada masyarakat dapat memahami serta mengamalkan ajaran islam dalam kehidupannya.

Tujuan pengajian secara umum yaitu pengajian memiliki suatu umum dalam pelaksanaanya,dalam hal ini pengajian bertujuan untuk membina dan membangun hubungan yang santun dan serasi antara manusia dengan allah,hubungan manusia dengan manusia, sertahubungan manusia dengan lingkungannya dalam membina masyarakat yang bertakwa kepada Allah Swt.

5. Materi-Materi pengajian

Materi dalam pemngajian mencakup seluruh materi pokok pengetahuan agama, aqidah, syariah dan akhlak.

1). Aqidah

Aqidah adalah salah satu materi yang mendalam Islam, karena

(29)

itu Islam menghadapkan kepada setiap orang untuk beriman kepada Allah Swt, yakni meyakini sepenuh hati bahwa tiada tuahan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah keyakinan yang demikian merupakan aqidah dalam Islam, keyakinan dan keimanan di jelaskan dalam firman Allah Swt dalam Surah Al- Ikhlas:

ࣖ ٌدَحَا ا ًوُفُك ٗهَّل ْنُكَي ْمَل َوْْۙدَل ْوُي ْمَل َو ْدِلَي ْمَلُۚدَمَّصلا ُهّٰللَاٌۚدَحَا ُهّٰللا َوًُ ْل

ق

Artinya: Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.31

Berdasarkan ayat diatas, maka aqidah islam di muali dari iman kepada Allah, yaitu kepada keesaan allah tempat bergantung segala sesuat, yang tidak beranak dan tidak pula di peranakkan. Iman kepada Allah tersebut mengharuskan.23Iman akan kesempurnaan sifat-sifatnya, kitabkitabnya, rasul-rasulnya serta berita ghaib yang di beritakannya.

2). Fikih

Materi fiqih dalam hal ini yang terdiri dari ibadah, muamalah,

31 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, (Semarang: Toha Putra, 1989),hlm.118

(30)

jinayah, mawaris dan munakahat Fikih ialah mengetahui hukuk- hukum syara yang amaliah (mengenai perbuatan, perilaku) dengan melalui dali-dalilnya yang terperinci. Fikih adalah ilmu yang di hasilkan oleh pikiran serta ijtihad (penelitian) serta memerlukan wawasan serta perenungan. Sebagai mana di jelaskan dalam surat at-taubah ayat 122.

ِذْنُيِل َو ِنْيِ دلا ىِف ا ْوُهَّقَفَتَي ِل ٌةَفِٕىۤاَط ْمُهْنِ م ٍةَق ْرِف ِ لُك ْنِم َرَفَن َلَّ ْوَلَف اََِا ْمُهَم ْوَق ا ْو ُر

ِهْيَلِا ا ْْٓوُعَج َر

ࣖ َن ْو ُرَذْحَي ْمُهَّلَعَل ْم

Artinya: ″Hendaklah dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya″32

Dari ayat di atas dapat ditarik satu pengertian bahwa fikih itu berarti mengetahui, memahami, dan mendalami ajaran-ajaran agama secara keseluruhan. Jadi pengertian fiqih dalam arti sangat luas sama dengan pengertian syari’ah dalam arti yang sangat luas.

3). Ibadah

Secara terminology ibadah berasal dari bahasa arab yaitu abada

32 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, (Semarang: Toha Putra, 1989),Hlm 149

(31)

yang berarti menyembah, mengabdi, menghinakan diri kepada allah swt.33 Sedangkan secara terminology adalah “segala bentuk hubungan pengabdian kepada allah swt untuk menjalankan segala suruhan dan menghindarkan segala larangannya”. Dengan demikian ibadah adalah segala bentukpengabdian kepada Allah Swt.

Menurut lugat, ibadah berarti taat, mengikuti, dan tunduk.Ibadah dapat diartikan dengan tunduk yang setinggi- tingginya dan berdoa. Ibadah yang berarti taat yang sesuai dengan firman Allah Swt dalam surat yaasiin ayat 60 yang berbunyi:

ٌنْيِبُّم ٌّوُدَع ْمُكَل ٗهَّنِا َۚنٰطْيَّشلا اوُدُبْعَت َّلَّ ْنَا َمَدٰا ْْٓيِنَبٰي ْمُكْيَلِا ْدَهْعَا ْمَل َُ

Artinya: Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu".34

Ibadah juga dapat pula di bedakan kepada ibadah Mahdhoh dan ibadah Ghaira Mahdhah.Ibadah Mahdhohyang dibatasi kadarnya oleh syara’ seperti shalat fardhu dan zakat.sedangakan Ghaira Mahdhahadalah ibadah yang tidak di batasi kadarnya oleh syara’

34 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, (Semarang: Toha Putra, 1989),hlm 351

(32)

seperti mengeluarkan harta di jalan allah swt, memberi makan orang lapar dan memberi pakaian kepada orang yang tidak berpakaian.35 4). Muamalat

Muamalah adalah hukum-hukum yang dibuat untuk mengatur hubungan manusia dalam bidang kekayaan, harta dandalam hal ini termasuk diantaranya jual beli, sewa menyewa, hutang piutang, gadai, pemindahan hak, perwalian, pinjam meminjam dan sebaginya.36

Muamalat itu hanya membahas tentang ketentuan-ketentuan hukum mengenai hubungan perekonomian yang dilakukan anggota masyarakat dan bertendesikan kepentingan material yang saling mengentungkan satu sama lain.

5). Jinayah

Jinayah adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan penyelenggaraan jenazah, yaitu ketentuan-ketentuan tentang

″memandikan jenazah, mengkapani jenazah, menshalatkan jenazah dan menguburkan jenazah″.37Demikian dalam kitab jinayah di bahas tentang ketentuan yang wajib dan yang sunah yang dilakukan oleh orang yang masih hidup kepada orang yang meninggal dunia.

6). Munakahat

Nikah dapat dimaknai sebagai akad yang menghalalkan pergaulan atau persetubuhan laki-laki dan prempuan. Nikah dilakukan dengan

35 Rahman Ritonga Dan Zainuddin, Fikih Ibadah, ( Jakarta: Media Pratama, 1982),

36 Tengku Muhammad Hasby Ash-Syidieqy, Pengantar Ilmu Fikih, (Semarang Pustaka Rizki putra, 1999), hlm. 25

37 Rahman Ritonga Dan Zainuddin. Fikih Ibadah, (Jakarta: Media Pratama, 1982), Hlm.

12

(33)

kalimatkalimat yang ditentukan, dan dengan perrnikahan maka di batasi hak dan kewajiban keduanya, sesuai dengan ajaran Islam.38

Munakahat adalah hukum-hukum yang membahas tentang pernikahan. Pada kitab ini di bahas tentang perkawinan, ikatan perkawinan dalam Islam, poligami, bentuk-bentuk perkawinan yang haram, mas kawin/mahar thalak, iddah dan biaya hidup.

7). Mawaris

Mawaris adalah ″hukum-hukum yang berhubungan dengan warisan orang yang meninggal dunia″.39hal-hal yang di bicarakan dalam kitab mawaris diantaranya adalah wasiat, hal-hal yang mencegah hak-hak kewarisan, pembagian harta warisan dan sebagainya. hal-hal yang di bicarakan dalam kitab mawaris diantaranya adalah wasiat, hal-hal yang mencegah hak-hak kewarisan, pembagian harta warisan dan sebagainya.

8). Akhlak

Akhlak merupakan materi yang kala pentingya dengan aqidah dan fikih. Menurut Al-Ghazali pengertian ahklak adalah sebagai berikut yang artinya: Ahklak adalah sifat yang tenteram dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan yang mudah tanpa memerlukan pertimbangan dan pemikiran.40

38 Ali Imron Sinaga. Fikih Bagian Kedua,(Bandung : Media Perintis 2011), Hlm 1-21

39 Ahmad Hanafi. Pengantar Dan Sejarah Hokum Islam,(Jakarta: Bulan Bintang,1989), hlm

40 Imam Al-Ghazali, Ihya Ulum Ad-din, Jilid III ( Beirut: dar Al-Fikr, t.t), hlm 56

(34)

Akhlak yang di ajarkan dalam islam adalah akhlak yang sesuai dengan akhlak Rasulullah Saw, materi akhlak sngat penting dan menjaga harkat dan martabat manusia sebagai manusia makhluk yang terhormat dan mulia, ajaran akhlak islam di peruntukkan bagi manusia yang merindukan kebahagiaan dalam arti hakiki bukan kebahagiaan semu, akhlak islam adalah akhlak yang benar-benar memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat sesuaidengan fitrahnya.

C. USTADZ PENGAJIAN

Dalam pengajian atau majelis taklim terdapat da’i yang merupakan nara sumber yang menyampaikan materi pengajian kepada masyarakat yang mendengarkannya. Seorang dai’ di tuntut memiliki kepribadian yang baik, dalam hal ini Asmuni Syukri menjelaskan bahwa sifat-sifat yang wajib dimiliki oleh dai’ adalah sebagai berikut:

1. Iman dan takwa kepada allah

2. Tulus dan ikhlas dan tidak mementingkan diri pribadi 3. Ramah dan penuh pengertian

4. Tawadu’

5. Sederhana dan jujur

6. Tidak memiliki sifat egoism 7. Sifat antusias (semangat) 8. Sabar dan tawakkal

9. Memiliki jiwa toleransi 10. Sifat terbuka (demokratis)

(35)

11. Tidak memiliki penyakit hati.41

Iman dan takwa merupakan sifat yang paling penting karena, hal itu merupakan dasar dalam perbuatan manusia.Iman dan takwa dapat menuntun manusia dalam berbuat sekaligus dapat mengendalikan manusia dari perbuatan yang tidak baik. Dalam al-Qur’an Surat al-baqarah (2:44) Allah SWT berpirman sebagai berikut:

َفَا ؕ َبٰتِک ۡلا َن ۡوُلۡتَت ۡمُتۡنَا َو ۡمُکَسُفۡنَا َن ۡوَسۡنَت َو ِ رِبۡلاِب َساَّنلا َن ۡو ُرُمۡاَتَاا ِق ۡعَت َلَ

َن ۡوُل

Artinya: mengapa kamu suruh orang lain (mengedak-an) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca alkitab,maka tidakkah kamu berpikir.42

Dari ayat di atas dapat di pahami bahwa seorang da’i harus memulai kebaikan dari dirinya sendiri sebelum mengajak orang lain berbuat baik.dalam hal ini termasuk iman dan takwa kepada Allah SWT.

Tulus dan ikhlas adalah sebagai sifat kedua yang harus dimiliki seorang da’i merupakan syarat mutlak dalam melaksanakan pendidikan agama non formal. Pada bagian lain ″niat yang tulus tanpa pamrih duniawiyah belaka, harus di miliki seorang dai. Sebab dakwah adalah pekerjaan yang bersipat ubudiyah atau terkenal dengan istilah hablum minallah, yakni amal perbuatan yang berhubungan dengan Allah.43

41 Asumsi Syukri. Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas,1983), hlm.

35- 43

42 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, (Semarang: Toha Putra, 1989),Hlm 3

43 Asmuni Syukir. Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas,1983) Hlm 37-

(36)

Niat yang tulus ikhlas dalam melaksanakan pendidikan agama non formal akan mendorong dai melaksanakan kegiatan tersebut tanpa di pengruhi oleh kepentingen-kepentingan duniawi. Keramah-tamahan juga mempunyai peran penting dalam mencapai keberhasilan dakwah sebagaimana di jelaskan bahwa: ″Jika seorang dai mempunyai kepribadian yang menarik, karena keramahan, kesopanan dan keringanan tangan insya Allah akan berhasil dakwahnya.sebaliknya jika dai memiliki kepribadian yang membosankan (tidak menarik), maka kemungkinan besar tidak akan berhasil″.44

Jadi Ustadz atau seorang da’i harus bisa menarik perhatian jamaah supaya tidak bosan dengan penyampaian ceramah tersebut.karna keramahan juga sangat penting untuk menarik simpati peserta pengajian atau majelis taklim. Dalam rangka mencapai keberhasilan dari pendidikan non formal yang di laksanakan. Sifat tawadu’ penting dimiliki seorang da’i agar ia tidak merasa sombong, atau tidak merasa lebih dari orang lain. kesederhanaan dan kejujuran merupakan pangkal dari keberhasilan dakwah. Sifat yang sederhana yang dimiliki seorang da’i akan mendorong peserta majelis taklim tidak merasa takut kepada da’i.mereka juga akan akan merasa dekat dengan dai sehingga materi yang di sampaikan da’i tersebut lebih mudah diterima masyarakat yang menjadi peserta pengajian.

Semangat berjuang dan pantang putus asa dan pengajian

44 Ibid, hlm 39

Referensi

Dokumen terkait

5 Soerjono Soekanto, 1984, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Penerbit UI, hlm. 6 Burhan Ashshofa, 2004, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Rineka Cipta, hlm.. 16 penggarap, para

Arikunto, S. 2003.  Manajemen Penelitian

Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, ( Jakarta.: Bina aksara, 2003), h.. menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi

siswa dalam belajar dan untuk mengetahui pemahaman terhadap materi. “ Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya”. Jakarta: Rineka Cipta. “ Peran Disiplin pada Perilaku dan

Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, ( Jakarta.: Bina aksara, 2003), h.. menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi

Harjanto, Perencanaan Pengajaran, Rineka Cipta, Jakarta, 2011, hlm.. simpulkan bahwa model Glasser merupakan sebuah model perencanaan, dalam arti perencanaan

Gunawan, Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis tentang Pelbagai Problem Pendidikan, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2000), hlm.. Bab II Kajian Pustaka, terdiri dari : a)

Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2004), hlm.. datang di tempat kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan