PENGANTAR KARYA TUGAS AKHIR
PERANCANGAN
VERNACULAR TYPOGRAPHY STREET
BECAK – SOLO
MELALUI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
Diajukan untuk menempuh Ujian Tugas Akhir guna Mencapai gelar Sarjana Seni Rupa
Jurusan Desain Komunikasi Visual
Oleh :
DYAH ARUM KUSUMASTUTI C 0705010
commit to user
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah.
Tipografi merupakan bagian dari disiplin ilmu desain komunikasi visual. Di masa
urban, bentuk – bentuk tipografi mengalami perkembangan secara variatif yang
sebagian besar dapat di temui di sepanjang jalan bahkan hingga disetiap gang – gang.
Dimana sebagian bentuk tipografi tersebut bukanlah jenis tipografi yang dihasilkan
melalui proses komputerisasi atau berasal dari jenis huruf (font) yang sudah ada
melainkan bentuk tipografi yang dihasilkan oleh masyarakat sekitar dengan cara
manual. Bentuk tipografi semacam ini disebut dengan tipografi vernacular. Para
pembuat tipografi vernacular tersebut bukan dari akademisi seni rupa desain
melainkan belajar secara otodidak. Tipografi – tipografi vernacular yang dibuat oleh
pembuat tipografi otodidak memiliki keunikan tersendiri, juga dapat
mempresentasikan kekayaan budaya suatu wilayah. Pada kenyataannya jenis tipografi
semacam ini kadang hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat, karena
masyarakat menilai dari segi informasinya saja, padahal bentuk – bentuk tipografi
semacam ini merupakan kekayaan intelektual yang harus dihargai dan dilindungi.
Di kota Solo, dimana dikenal sebagai kota yang memiliki latar belakang budaya
dan seni yang sangat kental, sering ditemui pula jenis tipografi vernacular dan yang
paling terlihat secara spesifik adalah jenis tipografi yang ada pada becak di Surakarta.
Dimana becak di Surakarta adalah jenis transportasi tradisional yang masih
dipertahankan keberadaannya. Tipografi pada becak ini sangat unik dan tidak ditemui
Bentuk tipografi vernacular seperti bentuk tipografi pada becak – becak di kota
Solo memiliki berbagai kelemahan. Melihat permasalahan tersebut, maka penulis
bertujuan untuk merancang dan mendesain kembali jenis Vernacular Typography
Street tersebut dalam bentuk visual dengan tujuan untuk semakin memperkenalkan
becak Solo kepada masyarakat melalui tipografi dan untuk memperkaya bentuk
typeface di Indonesia
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana merancang kembali bentuk typeface baru dari Vernacular Typhograpy
Street becak Solo melalui kaidah – kaidah dalam tipografi.
2. Bagaimana mengaplikasi bentuk typeface baru Vernacular Typhograpy Street
becak Solo melalui media Desain Komunikasi Visual.
3. Bagaimana merancang media publikasi yang tepat dari bentuk typeface baru
Vernacular Typhograpy Street becak Solo melalui media Desain Komunikasi
Visual.
C. Tujuan Perancangan.
1. Merancang kembali bentuk typeface dari Vernacular Typhograpy Street becak
Solo melalui kaidah – kaidah dalam tipografi.
commit to user
3. Merancang bentuk media publikasi yang tepat dalam mempublikasikan bentuk
typeface baru Vernacular Typhograpy Street becak Solo melalui media Desain
Komunikasi Visual.
D
. Target Market
dan
Target Audience
.
Segmentasi pasar perancangan Vernacular Typography Street becak Solo melalui
Desain Komunikasi Visual meliputi :
1. Target market.
a. Demografis.
Masyarakat : Masyarakat Indonesia.
Jenis kelamin : Laki – laki dan Perempuan.
Usia : 20 tahun – 50 tahun.
Sosial ekonomi : Semua lapisan ekonomi.
Pendidikan : Desain terutama Desain Komunikasi Visual.
b. Geografis : Daerah perkotaan
2. Target audience.
Target audience berdasarkan faktor psikografis yaitu mereka yang bekerja dibidang
kreatif dan memiliki jiwa muda, mengapresiasi dan mengikuti dengan baik
perkembangn dunia kreatif serta mengerti dan memahami aspek – aspek desain
terutama desain komunikasi visual dan memiliki pemahaman terhadap seni pemilihan
huruf dalam tipografi serta tidak menganggap bahwa huruf hanyalah pembentuk
kalimat biasanya saja yang hanya bersifat informatif tapi tipografi merupakan bagian
untuk memvisualkan suatu komunikasi dalan rancangan desain yang baik. Para
desainer inipun selalu bersifat terbuka terhadap perkembangan bentuk desain
yang ada dan selalu mencoba untuk bereksperimen dengan berbagai bentuk
BAB II
KAJIAN TEORI
A.
Desain Komunikasi Visual.
1. Pengertian.
Desain komunikasi visual merupakan disiplin ilmu yang bertujuan mempelajari
konsep – konsep komunikasi serta ungkapan kreatif melalui berbagai media untuk
menyampaikan pesan dan gagasan secara visual termasuk audio dengan mengelola
elemen – elemen grafis yang berupa bentuk dan gambar, tatanan huruf (tipografi),
serta komposisi warna serta layout sehingga gagasan dan pesan dapat diterima oleh
sasaran (Adi Kusrianto, 2007 : 2).
2. Prinsip – prinsip Desain Komunikasi Visual . a. Keseimbangan (Balance).
Setiap obyek yang kita temui di muka bumi ini mempunyai unsur
keseimbangan baik simetris maupun asimetris.
b. Kontras(Contrast).
Kontras adalah hal yang penting dalam prinsip-prinsip desain. Kontras
menciptakan keindahan pada setiap obyek publikasi. Kontras dapat
diwujudkan dalam segi bentuk, ukuran, garis, warna, ruang dan tata letak.
c. Keselarasan(Harmony).
Harmoni mungkin sedikit bertolak belakang dengan kontras, yaitu
menyatukan semua unsur dalam publikasi secara visual sehingga menjadi satu
d. Kesatuan Bentuk(Proximity).
Dalam sebuah karya desain harus ada sebuah kesatuan bentuk akhir yang
dapat dijadikan identitas dari sebuah karya desain.
e. Pengulangan(Repetition).
Merupakan ikatan konsistensi yang harus dipegang dalam sebuah karya
desain, sehingga mudah untuk dikenali oleh publik. Misalnya : logo
perusahaan.
f. Penekanan(Emphasis).
Dalam sebuah karya desain, harus ada penekanan pada suatu bentuk atau
obyek desain. Perlu adanya penekanan supaya publik/khalayak tahu mana
yang harus dibaca terlebih dahulu atau yang harus diingat dalam keseluruhan
obyek desain tersebut. Dengan adanya penekanan kita juga dapat mengenali
ciri khas atau identitas desain.
3. Unsur – unsur Desain Komunikasi Visual. a. Garis (Line).
Garis merupakan unsur desain yang menghubungkan antara satu titik poin
dengan titik poin yang lain sehingga bisa berbentuk gambar garis lengkung
(curve) atau lurus (straight). Garis adalah unsur dasar untuk membangun
bentuk atau konstruksi desain.
b. Bentuk (Shape).
segitiga (triangle). Berdasarkan sifatnya, bentuk dikategorikan menjadi
tiga,yaitu:
1) Huruf (Character) yang direpresentasikan dalam bentuk visual yang dapat
digunakan untuk membentuk tulisan seperti A, B, C, dsb.
2) Simbol (Symbol) yang direpresentasikan dalam bentuk visual yang
mewakili bentuk benda secara sederhana dan dapat dipahami secara umum
sebagai simbol atau lambang untuk menggambarkan suatu bentuk benda
nyata, misalnya gambar orang, bintang, matahari dalam bentuk sederhana
(simbol), bukan dalam bentuk nyata (dengan detail).
3) Bentuk Nyata (Form) bentuk ini betul-betul mencerminkan kondisi fisik
dari suatu obyek. Seperti gambar manusia secara detail, hewan atau benda
lainnya.
c. Tekstur (Texture).
Tekstur adalah tampilan permukaan (corak) dari suatu benda yang dapat
dinilai dengan cara dilihat atau diraba. Tekstur dapat dibagi menjadi dua
diantaranya tekstur nyata dan tekstur semu. Yang pada prakteknya, tekstur
sering dikategorikan sebagai corak dari suatu permukaan benda, misalnya
permukaan karpet, baju, kulit kayu, dan lain sebagainya.
d. Ruang (Space).
Ruang merupakan jarak antara suatu bentuk dengan bentuk lainnya yang pada
praktek desain dapat dijadikan unsur untuk memberi efek estetika desain.
Ruang digolongkan menjadi dua unsur, yaitu obyek (figure) dan latar
e. Ukuran (Size).
Ukuran adalah unsur lain dalam desain yang mendefinisikan besar kecilnya
suatu obyek. Dengan menggunakan unsur ini dapat menciptakan kontras dan
penekanan (emphasis) pada obyek desain yang akan dilihat atau dibaca
terlebih dahulu.
f. Warna (Color).
Warna merupakan unsur penting dalam obyek desain yang berfungsi
merepresentasikan identitas dan pembeda sifat dari bentuk-bentuk bentuk
visual secara jelas. Warna dibedakan menjadi dua: yaitu warna yang
ditimbulkan karena sinar (Additive color/RGB) yang biasanya digunakan pada
warna lampu, monitor, TV dan sebagainya, dan warna yang dibuat dengan
unsur-unsur tinta atau cat (Substractive color/CMYK) yang biasanya
digunakan dalam proses pencetakan gambar ke permukaan benda padat
seperti kertas, logam, kain atau plastik.
A.
Tipografi
1. Pengertian.
Tipografi berasal dari bahasa Yunani typos yang berarti bentuk dan graphein yang
berarti menulis. Tipografi didefinisikan sebagai seni dan teknik mengatur, serta
memilih jenis huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang
tersedia, untuk menciptakan kesan khusus, sehingga akan menolong pembaca
pandu dan jarak antar baris( Adi Kusrianto,2007 : 79 ). Dalam tipografi dikenal
istilah typeface dan font. Typeface yaitu sekumpulan karakteryang memiliki
kesamaan ciri – ciri visual. Walaupun tidak sama persis, ada bagian anatomi pada
huruf yang satu, dipakai lagi pada huruf yang lain juga yang memberikan kesan
kesatuan atau unity (Huruf Font Tipografi : 32). Font yaitu bentuk fisik/karakter yang
dimaksudkan guna membentuk sebuah typeface ( Ebook The Fundamental Of
Typography : 56 ).
2. Klasifikasi typefaces.
a. Huruf tanpa kait ( Sans Serif ).
Kata sans berasal dari bahasa Perancis yang artinya tanpa. Sans serif dapat
diartikan tanpa serif / kait. Karakter huruf sans serif hanya berbentuk batang
dan tangkainya saja. Contoh : Arial, Avant Garde, Tahoma dsb.
b. Huruf berkait ( Serif )
Huruf Serif merupakan huruf berkait atau memiliki kait pada ujungnya.
Contoh : Times New Roman, Garamound dsb.
c. Egyptian
Yaitu, jenis huruf yang memiliki ciri serif yang berbentuk persegi seperti
papan dengan ketebalan yang sama atau hampir sama. Kesan yang
ditimbulkan adalah kokoh, kuat, kekar dan stabil. Contoh : Century Expended.
d. Huruf tulis ( Script ).
Hurufnya saling terkait seperti tulisan tangan. Contoh : Brushscript, Mistral,
e. Huruf dekoratif.
Huruf jenis ini merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk yang sudah ada.
Ditambah hiasan dan ornamen, atau garis-garis dekoratif. Kesan yang dimiliki
adalah dekoratif dan ornamental. Contoh : Augsburger Initial dll.
f. Karakter huruf (Character Fonts)
Karekter fonts yaitu secara luas merupakan bentuk kesatuan karakter atau
kode yang dikemas sebagai font. Contoh : Wingdings dan Dingbats.
3. Sejarah tipografi.
Sejarah perkembangan tipografi di dunia diawali dari penggunaan pictograph
oleh bangsa Viking Norwegia dan hieroglipth oleh bangsa Mesir pada abad 1300 SM.
Berkembang pada masa kejayaan Romawi yaitu dengan ditakhlukkannya bangsa
Yunani oleh kekaisaran Roma yang membawa peradaban baru dalam sejarah barat
dengan diadaptasikannya kesusastraan, kesenian, agama, serta sistem alfabet dari
Yunani. Alfabet Yunani awalnya hanya terdiri dari 21 huruf yaitu A, B, C, D, E, F,
G, H, I, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, V, dan X, kemudian huruf Y dan Z ditambahkan
dalam alfabet latin untuk mengakomodasi kata yang berasal dari bahasa Yunani. Tiga
huruf tambahan J, U, dan W dimasukkan pada abad pertengahan sehingga jumlahnya
menjadi 26( www.google/Tipografi dan Sejarahnya.htm : 29 Maret 2009).
Sistem huruf dan penulisan berkembang setelah terjadi revolusi industri, dengan
diketemukannya tekhnologi mesin cetak pertama kali oleh Johan Gensflesch Zum
belakangi munculnya sistem tipografi modern yang lebih sempurna dan variatif
dibandingkan awal ditemukannya sistem alfabet( Dantong Sihombing, 2001 : 6 ).
4. Sejarah perkembangan tipografi dalam desain grafis.
Dalam perkembangannya tipografi memberikan konstribusi yang sangat penting
terhadap perkembangan desain grafis. Tipografi berperan sebagai unsur pendukung
dalam desain serta menjadi pembeda antara desain grafis dengan seni murni pada
umumnya.
Awal ditemukannya sistem penulisan modern, huruf hanya dipakai untuk sistem
penulisan dalam Al - Kitab serta buku – buku keagamaan dan buku – buku perguruan
tinggi. Pada tahun 1836 – 1933 di paris muncul istilah commercial art yang
dipelopori oleh Jules Cheret dengan memproduksi berbagai poster ilustrasi dan cover
buku berwarna secara massa menggunakan tehnik lithography (Ebook The
Fundamental Of Typography : 35). Pekembangan cetak tersebut dimanfaatkan pula pada awal perang dunia pertama pada tahun 1914 untuk memproduksi poster – poster
Contoh commercial art
Ilustrasi cover majalah satirical Jerman Simplicissimus
Sumber : Ebook The fundamental of typography.
Contoh Poster propaganda Amerika
‘I Want You For U.S Army ‘
Sumber : foto dari Concept vol 05.
Istilah desain grafis sendiri baru muncul pada tahun 1950an, diikuti terjadinya perang
photosetting pada era ini juga memberikan dampak terhadap perkembangan
tipografi, salah satunya Herman Zapf dengan huruf Palatino (Ebook The Fundamental
Of Typography : 42).
Tahun 1960an tipografi dan desain banyak dipengaruhi oleh budaya pop art yang
popular saat itu terutama dalam musik, seni, dan desain. Kemudian diikuti pada tahun
1970an dimana tipografi berlanjut menjadi lebih dekoratif, kasar, dan berlebihan yang
berlangsung hingga masa pertengahan ketika budaya punk muncul (Ebook The
Fundamental Of Typography : 44 - 46).
Tahun 1973 terjadi perambahan tekhnologi digital dalam dunia tipografi.
Perusahann URW dari Hamburg, Jerman, dengan produknya yang bernama IKARUS.
Tekhnologi ini berfungsi untuk membuat huruf digital sehingga dapat digunakan
dalam sistem komputer. Kemajuan tekhnologi selanjutnya terjadi pada tahun 1984
ketika Adobe System merilis postscript font dan ditahun 1991 Apple Computer dan
Microsoft Corporation mengeluarkan True Type Font. Postscript font dan true type
font adalah berupa font elektronik. (Danton Sihombing, 2001 : 8 – 9).
Perkembangan tipografi dan desain secara komputerisasi tersebut memudahkan
desainer untuk bereksperimen dan bermain – main dengan jenis font sehingga sifat
tipografi menjadi lebih halus dan ekspresif sebagai bagian dari pesan dibandingkan
Contoh eksperimen tipografi secara komputerisasi
Stefan Sagmeister ‘Poster for the American institute of graphic arts’
Sumber : Ebook The Fundamental Of Typography.
Tahun 2000, dengan adanya tekhnologi digital printing dan perkembangan sistem
aplikasi media dalam desain memberikan banyak kebebasan dan tantangan serta
menciptakan permintaan baru dalam jenis huruf. Sehingga tipografi tidak hanya
muncul dalam media- media grafis namun juga media – media komunikasi visual
lainnya yang bergerak. Perkembangan tipografi yang menjadi lebih beranekaragam
juga tidak lepas dari peranan berbagai perusahaan type foundry dunia seperti Linotype
GmBh, Émigré, Font Bureu, ITC, dan Scan Graphic yang terus bereksperimen untuk
menciptakan berbagai macam jenis dan bentuk typeface baru
5. Sejarah perkembangan tipografi di Indonesia. a. Sebelum penjajahan Belanda.
Sejarah tipografi di Indonesia sebelum kedatangan bangsa barat di mulai
dari penggunaan berbagai aksara di masing – masing daerah di Indonesia,
seperti : Aksara Jawa, Bali, Bugis (Makasar) dan Batak.
1) Aksara Jawa.
Aksara Jawa Hanacaraka termasuk ke dalam kelompok turunan aksara
Sansekerta yang berasal dari Hindustan. Huruf ini dibawa oleh Raja Aji
Saka yang datang ke Jawa pada tahun 78 Masehi. Huruf yang
diperkenalkan pada waktu itu sebenarnya bukan huruf tetapi suku kata,
yang terdiri atas suku kata: Ha, na, ca, ra, ka, ga, ta, ma, nga, ba, sa, wa, la,
pa, da, ja, ya, nya. Kedelapan belas aksara ini dapat dirangkaikan menjadi
suatu kalimat untuk memudahkan menghafalkannya.
Contoh Aksara Jawa.
Sumber : www.google/images/aksara-jawa.htm (2 September 2009).
2) Aksara Bali.
Aksara Bali berkembang dari huruf Pallawa yang dikenal dengan nama
huruf Bali Kuno. Huruf ini berkembang pada sekitar abad ke-9 sampai
tanda mewakili satu suku kata yang diambil dari huruf awal suku kata
yang diambil dari huruf awal suku kata dimaksud. Tiap suku kata dibentuk
dari satu konsonan dan satu vokal.
Contoh Aksara Bali
Sumber : www.google/images/aksara-bali.htm (2 September 2009 ).
3) Aksara Bugis.
Suku bugis merupakan salah satu suku yang terdapat di sumatera selatan.
Suku bugis menggunakan dialek yang dikenal dengan "Bahasa Ugi" dan
mempunyai tulisan huruf bugis yang disebut dengan "Aksara Lontara
Bugis". Aksara ini telah ada sejak abad ke-12 sejak melebarnya pengaruh
Hindu di Indonesia.Aksara bugis berjumlah 23 huruf yang semuanya
disusun berdasarkan aturan tersendiri. Kata Lontara berasal dari bahasa
Bugis yang berarti Daun Lontar karena awalnya ditulis dalam daun lontar
Contoh Aksara Bugis.
Sumber : www.google/images/aksara-bugis.htm (2 September 2009 ).
4) Aksara Batak.
Suku Batak merupakan salah satu suku yang berada di kawasan tanah
tinggi sumatera utara dan berpusat di danau toba. Sistem penulisan aksara
Batak Toba telah ada sejak abad ke-13, diperkirakan aksara tersebut
berasal dari aksara Jawa Kuna, melalui aksara Sumatera Kuna. Aksara ini
bersifat silabis artinya tanda untuk menggambarkan satu suku kata/silaba
Contoh Aksara Batak Toba.
Sumber : www.google/aksara-bataktoba.htm(2 September 2009 ).
Setiap aksara – aksara tersebut digunakan untuk masing – masing daerah
asalnya saja, sehingga untuk sistem penulisan dalam komunikasi mengalami
kendala antara daerah satu dengan daerah lainnya.
b. Masa penjajahan Belanda.
Masuknya bangsa Belanda ke Indonesia membawa banyak perubahan
dalam sistem penulisan huruf. Bangsa Belanda memperkenalkan sistem
penulisan huruf sesuai dengan sistem huruf Roman. Sistem huruf Roman
tersebut dapat mudah diterima oleh masyarakat Indonesia sebagai sistem
penulisan yang baru karena sifatnya lebih general, dan dapat di pakai sebagai
sarana komunikasi secara luas.
Tipografi pada masa penjajahan Belanda awal mulanya digunakan
Ambon dengan judul Memorie De Nouvelles. Surat tersebut ditulis dengan
tulisan tangan yang indah dengan merefleksikan naluri bersaing antara
pemerintah Belanda dengan Portugis. Pada tahun 1744 surat tersebut
diterbitkan dalam surat kabar Bataviaasche Nouvelles, sebuah surat kabar
yang diperuntukkan untuk mengiklankan produk (Persatuan Perusahaan
Periklanan Indonesia, 2003 : 1).
Contoh tipografi dalam iklan produk pada masa penjajahan Belanda.
Iklan cetak kompor gas PHILIPS
Sumber : foto, Cakap kecap.
Di era perang bangsa Indonesia melawan penjajah tipografi banyak juga
digunakan dalam iklan – iklan propaganda namun keberadaannya dalam
desain saat itu masih menggunakan bentuk - bentuk yang sederhana karena
lebih menitik beratkan pada fungsinya sebagai informasi dan propaganda
Contoh tipografi dalam iklan propaganda pada masa penjajahan Belanda
Affandi ‘ Boeng Ayo Boeng ‘ Poster Circa 1940an
Sumber : foto Versus.
c. Era komputer grafis.
Perkembangan tipografi setelah era penggunaan komputer grafis tidak
jauh beda dengan perkembangan tipografi modern di dunia. Perkembangan
tipografi modern di Indonesia didukung oleh kesadaran desainer untuk
memakai desain font secara eklusif dalam desainnya. Sehingga tipografinya
tidak asal mengambil dari komputer atau font yang sudah ada. Meskipun
sampai sekarang belum ada perusahaan di Indonesia yang mengkhususkan diri
dalam pembuatan font namun banyak perusahaan – perusahaan desain lokal
Indonesia maupun desainer secara pribadi yang membuat sendiri font-nya
secara eklusif . Berikut adalah contoh dari perusahaan, studio grafis dan
1) UNKLE347
Unkle347 merupakan perusahaan distro yang kreatif merancang font-nya
sendiri dalam setiap desain produk – produk distronya. Contohnya adalah
font Unklply yang didesain oleh Ucok Homicide salah satu desainer Unkle
pada tahun 2008. Font Unklply terinspirasi dari bentuk geometris standar
dari papan skate dan juga merombak dari inti font bold Neubau.
Contoh tipografi kreasi dari desainer distro Unkle
Font Unklply, desain huruf seri t-shirt Unkle
Sumber : foto Still Loving Youth.
2) Inkara desain.
Inkara desain didirikan oleh Danton Sihombing sebagai perusahaan yang
bergerak dalam jasa desain grafis dan digital type foundry. Salah satu font
yang pernah dibuat oleh Inkara desain adalah font Pandhito pada tahun
coretan aksara hanacaraka, namun dalam proses pengembangan desain
huruf timbul pemadupadanan bentuk yang berorientasi kepada citra
modern.
Contoh font Pandhito
Sumber : foto Still Loving Youth.
3) Thinking Room.
Thinking room adalah studio grafis yang berlokasi di Jakarta. Thinking
room tidak hanya fokus kepada desain namun juga berkonsep kreatif
secara menyeluruh termasuk dalam eksperimen mendesain font. Salah satu
eksperimennya yaitu yang diberi judul Duality, yaitu proyek dengan
tujuan menampilkan dua esensi kehidupan yang diterjemahkan ke dalam
Contoh desain instalasi tipografi Duality.
Sumber : foto Concept vol 6.
C.
Vernacular Typography Street.
1. Pengertian.
Vernacular is the everyday language spoken by a group of people that includes
slang and regional phrasing. It is the language of the street, no matter where that
street is. To a certain extent, the textures of vernacular can be communicated in text
through the use of typography(Ebook The Fundamental Of Typography : 162 ).
Vernacular merupakan bahasa lisan sehari – hari dari sekelompok orang atau
masyarakat yang meliputi logat dan frase kedaerahan. Hingga taraf tertentu, bentuk
vernacular dikomunikasikan dalam bentuk teks yang keseluruhannya menggunakan
tipografi.
Typography street merupakan salah satu bentuk dari pengaruh budaya urban.
Typography street terdiri dari beberapa elemen tipografi yang dapat ditemukan di
tipografi pada becak, desain tipografi pada tenda – tenda pedagang kaki lima dan
tulisan – tulisan sederhana lainnya yang telah menjadi bagian dari rutinitas keseharian
masyarakat.
Menurut praktisi desain grafis Sumbo Tinarbuko, desain grafis Vernacular adalah
gaya desain grafis yang crafmanship-nya dikerjakan secara manual deangan
memanfaatkan ketrampilan tangan (Concept Edisi 40, 2011 : 07).
Riama Maslan Sihombing, mendefinisikan pengertian Vernacular Typography
Street yaitu bentuk tipografi yang dibuat dengan spontan secara manual oleh ‘
kalangan bawah(Facebook/inbox/message. 15 Mei 2009). Dari definisi tersebut dapat
disimpulkan bahwa bentuk Vernacular Typography Street merupakan bentuk karya
tipografi eksperimental dari masyarakat kalangan bawah yang sama sekali bukan dari
kalangan desain atau praktisi yang bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan
desain secara akademisi. Walaupun tanpa didukung oleh latar belakang pendidikan
desain, kalangan masyarakat tersebut memiliki apresiasi yang tinggi dalam
mengaplikasikan ilmu – ilmu desain dalam kehidupan sehari – hari. Meski tipografi
yang dihasilkan bersifat tidak terstruktur namun untuk beberapa macam diantaranya
sangat memasyarakat dan memiliki semacam kesepakatan tidak tertulis untuk
menggunakan bentuk visual type yang serupa dalam satu wilayah untuk satu macam
usaha(Concept Edisi 26, 2008 : 3).
2. Perkembangan Vernacular Typography Street.
Perkembangan Vernacular Typography Street di awali oleh pergerakan seni
grafiti pada tahun 1800an. Perkembangan Vernacular Typography Street dapat
dilihat diluar negeri dan didalam negeri (Indonesia), diantaranya:
a. Luar negeri.
Perkembangan Vernacular Typography Street di luar negeri diantaranya dapat
dilihat di Lebanon dan India.
1) Lebanon.
Lebanon merupakan Negara yang cukup padat penduduk dengan kepercayaan,
agama, budaya dan bahasa yang berbeda – beda. Vernacular Typography
Street di Lebanon kemungkinan dipengaruhi oleh perang sipil selama tujuh
belas tahun. Di setiap jalanan di Beirut ibukota Lebanon dapat ditemui
berbagai desain vernacular berupa slogan – slogan dan signs yang
mengekspresikan gaya hidup dan aspirasi masyarakat sekitar. Desainer dan
tipografer dari desain tersebut merupakan desainer dan tipografer yang tak
terdidik. Mereka menggunakan typefaces berupa tulisan tangan dengan gaya
kaligrafi untuk mengekspresikan isi dari pesan yang ingin mereka sampaikan.
Contoh vernacular typography street pada desain parking sign di Beirut .
2) India.
India merupakan Negara dengan jumlah penduduk padat. Vernacular
Typography Street di India berupa grafis jalanan yang berkembang di
masyarakat yang dilatar belakangi oleh kebutuhan akan informasi, keindahan
dan desain meski desainer dan tipografernya tidak mendapatkan pengetahuan
desain dan tipografi secara akademis. Desain vernacular di India dipengaruhi
oleh unsur keagamaan dan budaya yang sangat kuat.
Contoh vernacular typography street pada desain Shop Sign di India
Sumber : www.google/images/typography-street/India.htm (27 Februari 2009).
b. Indonesia.
Vernacular Typography Street di Indonesia telah ada sejak sekitar tahun
70-an sebagai jawab70-an lokal terhadap kebutuh70-an tipografi pada desain jal70-an70-an.
negeri dan biasanya hanya dipakai oleh kalangan desainer professional dan
perusahaan cetak kelas atas. Perkembangan Vernacular Typography Street di
Indonesia berkembang di daerah urban perkotaan dimana terjadi pertemuan dan
percampuran berbagai kelas sosial dan budaya. Munculnya Vernacular
Typography Street di latar belakangi oleh tradisi masyarakat dan kebutuhan akan
informasi dan desain dalam kehidupan perkotaan masyarakat kalangan bawah
yang tak tersentuh oleh gaya desain high art. Sehingga desain – desain tersebut
sering hanya dilihat dari segi informasinya saja. Desain Vernacular Typography
Street dapat ditemui di sepanjang jalan perkotaan berupa desain tipografi pada
desain – desain warung – warung tenda, becak, gerobak asongan dsb.
Contoh desain Vernacular typography street pada desain warung tenda di Solo.
Sumber : foto warung tenda Solo (12 Oktober 2009).
3. Perkembangan Vernacular Typography Street dalam desain grafis.
Vernacular Typography Street memberikan banyak masukan dan pengaruh
desainer hingga studio grafis yang terinspirasi untuk menciptakan bentuk font dari
desain Vernacular Typography Street. Diantaranya yaitu :
a. Luar negeri.
1) Gerry Powell (1938).
Gerry Powell adalah seorang tipografer yang menciptakan font Stencil
pada tahun 1938.Fonttersebut terinspirasi dari bentuk huruf jalanan yang
biasa terdapat dalam desain Vernacular Typography Street pada tembok –
tembok kota. Sifat dari bentuk font Stencil adalah terlihat industrial, kuat,
dan memungkinkan untuk diproduksi secara massa serta memiliki tingkat
keterbacaan tinggi.
Contoh desain Font Stencil
Sumber : Ebook The Fundamental Of Typography.
2) Pablo A Medina.
Pablo A Medina adalah tipografer dan desainer grafis yang mendirikan
Cubanica, Cubanica merupakan sebuah studio grafis di New York yang
banyak mengerjakan pembuatan font. Pablo A Medina dikenal sebagai
seorang desainer yang sangat aktif mengaplikasikan Vernacular
Typography Street dalam kehidupan nyata. Salah satu font rancangannya
yang terinspirasi dari Vernacular Typography Street yaitu font 1 st Ave
Contoh desain aplikasi dari font 1 st Ave.
Sumber : www.Cubanica/1stAve.htm (14 Desember 2009)
3) Yodane.
Yodane adalah seorang tipografer dan desainer grafis yang berasal dari
Jerman. Pada tahun 2009 Yodane bekerjasama dengan agensi desain
SYNTAX , salah satu agensi desain terbesar di Jordania untuk merancang
desain branding peringatan 100 tahun kota Amman. Dalam desain
branding tersebut, Yodane mendesain font Amman yang merupakan hasil
pengembangan dari font latin dan Arabic yang terinspirasi dari desain
Vernacular Typography Street yang ada kota Amman.
Contoh aplikasi font Amman pada desain branding 100 tahun kota Amman.
b. Indonesia.
Munculnya Vernacular Typography Street menjadi daya tarik dan inspirasi
tersendiri bagi para desainer grafis dan tipografer Indonesia untuk
mengadaptasikannya dalam bentuk desain yang lebih modern. Diantara
desainer – desainer tersebut antara lain :
1) Rudy Farid.
Rudy farid adalah praktisi desain dan staf pengajar untuk jurusan desain
komunikasi visual Universitas Widyatama Bandung. Pada tahun 2005
Rudy farid merancang font Shouts yang dikhususkan untuk keperluan
desain majalah Shouts, sebuah majalah seni jalanan yang dibuat oleh
Charlie Hobbies. Font shouts bukanlah font yang seluruhnya diambil dari
desain Vernacular Typography Street melainkan font modern Clarendon
Bold yang di reka ulang dan di desain kembali menggunakan prinsip dari
desain Vernacular Typography Street yang biasa terdapat pada tipografi
2) Irvandy Syafruddin.
Irvandy Syafruddin adalah freelance desain grafis dan tipografer yang
aktif mengerjakan proyek – proyek desain pada agensi – agensi desain di
kota Munich dan Berlin. Di Indonesia Irvandy Syafruddin merupakan
pendiri dari perhimpunan tipografi Indonesia
www.tipografi-indonesia.com yang merupakan wadah komunikasi dan informassi
mengenai perkembangan dunia tipografi Indonesia dan internasional.
Banyak dari karya – karya tipografinya yang terinspirasi dari lingkungan
sekitar. Salah satunya adalah font Kenari yang berbasis pada seni lukis
huruf yang sering terlihat pada desain Vernacular Typography Street
papan – papan iklan di pasar – pasar tradisional di Indonesia dan juga pada
papan – papan nama penginapan di daerah pariwisata terutama di Bali dan
Jogjakarta.
Contoh font Kenari
3) Riama Maslan Sihombing dan Naomi Haswanto.
Riama Maslan Sihombing dan Naomi Haswanto merupakan staf pengajar
program studi Desain Komunikasi Visual Institut Tekhnologi Bandung.
Sejak tahun 2005 mereka tertarik pada desain Vernacular Typography
Street di Indonesia. Dibantu oleh para mahasiswa Desain KomunIkasi
Visual Institut Tekhnologi Bandung mereka bersama – sama mengadakan
penelitian tentang Vernacular Typography Street di bandung. Dari hasil
penelitian tersebut menghasilkan beberapa desain tipografi eksperimen
baru yang berhasil dipresentasikan dalam ajang 3rd International
Conference on Typography and Visual Communication (ICTVC) di
Thessaloniki Yunani pada tahun 2007 (Concept Edisi 26, 2008 :23 - 24).
Beberapa karya tipografi dari desain Vernacular Typography Street antara
lain typeface bubur ayam yang diadaptasi dari bentuk Vernacular
Typography Street pada gerobak penjual penjual bubur ayam dan juga
typeface cendol yang diadaptasi pula dari Vernacular Typography Street
pada gerobak es cendol, yang kesemua desain typeface baru itu di
Contoh aplikasi dan desain typeface bubur ayam
Sumber : desain grafis-Indonesai.com ( 14 Desember 2009).
Contoh desain poster typeface cendol.
Sumber : desain grafis-Indonesia.com(14 Desember 2009).
Berdasarkan dari penelitian dan karya – karya para praktisi dan desainer yang
mengangkat desain Vernacular Typography Street sedikit banyak telah memacu
perkembangan dalam dunia desain terutama tipografi. Hal itu membuktikan bahwa
Vernacular Typography Street dapat pula dipakai sebagai inspirasi untuk
Bentuk desain Vernacular Typography Street mulai dari tebal tipis font,
kemiringan, jarak antar font, penebalan pada font – font tertentu dan hiasan pada awal
kata merupakan efek dari pembawa perasaan para perancang desain Vernacular.
Yang mencerminkan pengalaman latar belakang sosial dan budaya visual lingkungan
sekitar mereka yang terus berputar dan saling berbagi. Ekspresi rupa desain
Vernacular dari desain – desain warung tenda pedagang kaki lima, ahli kunci, becak
dan sebagainya adalah inspirasi dalam mendesain huruf. Kenaifan para perancang
desain Vernacular dalam bereksperimen untuk menarik perhatian khalayak di
lingkungan masyarakat dengan mobilitas padat tersebut yang tidak didapatkan dari
buku dan referensi tipografi dari barat dan seni kelas atas (Still Loving Youth, 2009
:20).
Contoh layout desain alfhabet dari beberapa desain Vernacular di Indonesia.
BAB III
IDENTIFIKASI DATA
A.
Vernacular Typography Street
pada Becak di Solo
1. Monografi Solo.
Kota Solo didirikan pertama kali oleh Paku Buwono II pada tahun 1745 dari
perpindahan pemerintahan kerajaan Mataram di Kartasura. Secara geografis kota Solo
terletak diantara : 110 45' 15"- 110 45'35" Bujur Timur, 70 36' - 70 56' Lintang Selatan.
Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali.
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo. Sebelah Barat berbatasan
dengan Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar. Kota Solo memiliki letak
yang strategis dan merupakan titik persimpangan jalur transportasi regional yaitu
diantara jalur kota – kota besar seperti Yogyakarta, Semarang dan Jawa Timur. Selain
itu kota Solo mempunyai fasilitas – fasilitas transportasi yang memadai baik jalur darat
maupun udara sehingga dapat mudah dijangkau baik dari segala arah.
Pada tahun 2009 jumlah penduduk kota Solo diperkirakan berjumlah kurang lebih
525.505 orang dengan latar belakang mata pencaharian yang berbeda – beda
diantaranya Pedagang, PNS, Pekerja swasta, Petani dan sebagainya. Kota Solo sendiri
merupakan salah satu kota yang masih menjunjung tinggi kebudayaan ditengah
perkembangan budaya modern. Salah satu buktinya yaitu masih eksistensinya keraton
dalam kehidupan masyarakat serta keberadaan batik, pagelaran wayang orang, serta
Contoh gambar peta Solo.
Sumber : www.google/images/peta-surakarta.co.id (18 Desember 2009).
2. Becak di Solo.
Kata becak berasal dari bahasa Hokkien be chia yang berarti kereta kuda. Becak
sendiri merupakan transformasi bentuk dari becak tandu (sedan chair) dan becak tarik
(pull rickshaw) yang ditemukan pada tahun 1870 di Jepang. Bentuk becak saat ini
merupakan hasil modifikasi dari pengkombinasian tekhnis antara kekuatan tenaga
manusia dan teknik sepeda. Bentuk becak yang lazim di kota Solo yaitu berupa becak
kayuh yang menggunakan sepeda sebagai kemudi dengan pengemudi di belakang
dengan kapasitas penumpang dua orang.
Becak muncul pertama kali di Jakarta pada tahun 1930an dan mengalami
penyebaran di seluruh Indonesia termasuk Yogya dan Solo pada masa perang dunia
kedua (Sartono Kartodirdjo, 1981). Hingga saat ini becak merupakan alat transportasi
tradisional yang masih bertahan ditengah berkembangnya alat transportasi modern di
dalam berbagai peguyuban dan kelompok para pengemudi dan pemilik becak.
Diantara paguyuban – paguyuban dan kelompok becak tersebut antara lain Paguyuban
Pengemudi Becak Solo Raya (PPBSR) yang didirikan pada tahun 1996 dan berlokasi di
Purwosari, Solidaritas Pengemudi Becak Pasar Gede yang berlokasi di Pasar Gede, dan
Solidaritas Pengemudi Becak Pasar Klewer yang berlokasi di Pasar Klewer.
3. Seniman lukis Becak di Solo.
Munculnya desain Vernacular Typography Street pada becak atau disebut dengan
becak lukis didorong karena adanya permintaan dari para pengusaha dan pemilik becak
untuk memberikan lukisan dan tulisan pada becaknya sebagai identitas dan daya tarik
bagi calon penumpang. Desainer VernacularTypography Street becak di Solo disebut
dengan seniman lukis becak, mereka adalah para seniman kalangan bawah yang tidak
pernah mendapatkan pengetahuan seni dan desain secara akademis namun mampu
menghasilkan karya yang bersifat vernacular yang mampu bertahan hingga sekarang.
Seiring perkembangan zaman keberadaan seniman lukis becak di Solo mulai
menyurut. Salah satu seniman lukis becak yang masih bertahan adalah Bapak Narto
yang beralamat di Jln Saharjo No 80 Solo. Bapak Narto sebelumnya berprofesi sebagai
seniman dan pengrajin payung kertas namun karena permintaan payung kertas mulai
sepi maka ia mencoba profesi lain sebagai seniman becak sekitar tahun 1970an.
Sampai sekarang ± sudah 30 tahun dan merupakan generasi kedua dari usaha becak
lukis. Awal mulanya ia menjadi pelukis becak karena mengikuti jejak ayahnya yang
yang ia buatpun mengikuti dari desain dan tipografi yang dibuat ayahnya beserta
seniman lukis becak lainnya pada masa itu.
Media yang Bapak Narto gunakan untuk melukis pada becak adalah cat minyak dan
cat besi. Untuk sekali melukis becak biayanya sekitar Rp 50.000. Para pelanggan dan
pengguna jasa lukis becak diantaranya datang dari daerah Solo, Klaten, Delanggu,
Sragen, Salatiga, Jogjakarta, dan Ngawi. Mereka meliputi pengusaha becak maupun
pemilik becak secara perorangan. Di musim – musim tertentu pesanan juga datang dari
para turis mancanegara terutama dari Jerman yang sering memesan becak beserta
desain lukisanya untuk sekedar dikoleksi.
4. Ragam visual Vernacular Typography Street pada Becak di Solo.
Tipografi yang dipakai dalam desain Vernacular Typography Street becak Solo
adalah ‘huruf kembang’. Tipografi tersebut dinamakan huruf kembang karena memiliki
motif meliuk – liuk yang diperumpamakan seperti bunga atau kembang dalam bahasa
Jawa. Tipografi tersebut dibuat secara manual dan spontan dengan cara dilukis tanpa
menggunakan letterset atau alat cetak huruf. Bentuk huruf kembang juga telah ada
secara turun temurun semenjak adanya becak lukis dan bertahan hingga sekarang.
Proporsi dan karakter yang menonjol dari bentuk tipografi Vernacular Typography
Street becak Solo terdiri dari :
a. Huruf dekoratif.
b. Bentuk huruf yang terdiri dari uppercase (huruf kapital).
d. Bentuk huruf cenderung bergelombang sesuai motif dekoratif bunga dengan
berbagai sudut kelengkungan yang variatif.
e. Stroke bentuk Vernacular Typography Street becak Solo relatif tebal dan
ketebalannya konstan.
Bentuk tipografi dalam desain Vernacular Typography Street becak Solo didukung
oleh berbagai ragam visual pendukung yang memiliki keterkaitan erat dengan
kebudayaan Jawa, Solo dan akulturasi kebudayaan Cina yang berkembang di Surakarta.
Hal itu dapat dilihat dari segi tema desain lukisannya yang bertemakan ajaran – ajaran
filosofis kehidupan kosmologis masyarakat Jawa – Solo, sedangkan bentuk akulturasi
kebudayaan Cina dapat dilihat dari segi pewarnaan yang menggunakan warna dominan
merah pada desain becak. Warna merah dalam filosofi Cina mengandung arti
mendatangkan keberuntungan. Latar belakang dari terjadinya akulturasi ini dikarenakan
keberadaan becak diawal mula perkembanganya di kota Solo dipakai sebagai alat
transportasi dalam perdagangan masyarakat etnis Cina di Solo. Ragam desain visual
tersebut merupakan hasil peniruan dari bentuk – bentuk alam sekitar seperti bentuk
pemandangan, binatang hingga tokoh dalam pewayangan. Di dalam ragam desain visual
Vernacular Typography Street becak Solo mengandung beberapa ungkapan kata tentang
ajaran hidup Jawa seperti Nrimo Wae, Ojo Dumeh, Kadung Tresno, Gotong – royong,
Sumber Urip, Lumintu, Gemah Ripah dan Prihatin. Dikarenakan sifat desain dari seni
jalanan yang kurang teratur dan dikerjakan oleh desiner jalanan yang tidak terdidik maka
meskipun mengandung filosofi – filosofi Jawa dan karakter desain yang unik serta berciri
khas namun diantara desain – desain vernacular tersebut terdapat beberapa yang tidak
tipografinya. Serta sering hanya memenuhi dari permintaan pemilik becak untuk
diberi tulisan apa.
Diantaranya ragam visual desain Vernacular Typography Street becak Solo antara
lain :
a. Nrimo Wae.
Nrimo Wae dalam bahasa Indonesia artinya menerima saja. Memiliki arti
filosofi dalam kehidupan kosmologi masyarakat Jawa bahwa apapun yang
terjadi di dunia ini merupakan kehendak ilahi dan kita sebagai manusia
hendaknya pasrah dan berserah diri kepada-NYA. Dalam desain Nrimo Wae
digambarkan berupa desain pemandangan alam yang merupakan hasil peniruan
dan imajinasi dari pemandangan alam yang ada dalam benak seniman lukis
becak saat melukisnya. Tulisan tipografi wajah baru juga merupakan unsur
pelengkap dalam desain yang merupakan semacam celoteh dari senimannya.
Hal ini menunjukkan bahwa antara desain, tulisan dan tema dari desain tidak
memiliki kesatuan keterikatan yang khusus karena desain tidak sesuai dengan
tema. Ini merupakan sebuah ciri dari desain yang berasal dari seniman atau
b. Ojo Dumeh.
Pengertian Ojo Dumeh dari segi bahasa yaitu Ojo yang berarti jangan atau tidak
boleh. Kata Ojo dinyatakan untuk manusia secara tegas dan lugas. Dumeh yang
berarti mentang – mentang. Jadi Ojo Dumeh bisa diartikan jangan mentang –
mentang. Secara filosofis memiliki makna bahwa manusia itu tempat
bersemayamnya lupa. Baik lupa diri, lupa daratan, lupa asal – usul, lupa
sejarahnya atau lupa yang lain. Disamping itu pula manusia merupakan
makhluk yang cenderung tergoda oleh hawa nafsu duniawi. Maka Ojo Dumeh
adalah ikon pengendali agar manusia itu tidak larut dalam ranah duniawi yang
dilingkungi oleh nafsu – nafsu yang buruk. Dalam desain vernacular Ojo
Dumeh digambarkan seekor banteng yang kuat. Gambar Banteng mewakili dari
karakte manusia, dimaksudkan bahwa manusia jangan mentang – mentang kuat
maka menjadi semena – mena terhadap orang lain. Sedangkan tipografi dalam
desainnya berupa tulisan berseri. Tipografi dengan tulisan berseri merupakan
motto dari kota Solo.
Contoh desain Vernacular becak Solo ‘Ojo Dumeh’.
c. Kadung Tresno.
Kadung Tresno dalam bahasa Indonesia memiliki arti terlanjur cinta. Memiliki
arti filosofi bahwa jika manusia sudah terlanjur cinta maka mereka akan buta
terhadap segala perbedaan dan tidak memperdulikan apa kata orang sekitarnya.
Dalam desain Kadung Tresno di wakili oleh gambar seekor gajah dan harimau
yang melambangkan segala perbedaan tersebut tapi mereka tetap bisa hidup
rukun tanpa memperdulikan segala bentuk perbedaan mereka. Tipografi pada
desain vernacular kadung tresno berupa tulisan inisial dari identitas pemilik
becak.
Contoh desain vernacular becak Solo ‘Kadung tresno’.
Sumber : foto ( 6 Desember 2009).
d. Gotong royong.
Gotong royong adalah kerja sosial yang besar dan berat tetapi terasa ringan dan
riang karena ditangani oraang banyak secara ramai – ramai. Kehidupan
masyarakat tradisional biasanya semangat gotong royong terasa lebih kuat.
Hubungan individu tidak dilandassi semata – mata oleh karena untung rugi
masyarakat tanpa melihat dari segi perbedaan sosial dan golongan. Dalam
desain vernacular gotong royong digambarkan seekor rusa dan seekor harimau
dengan disertai desain tipografi bertuliskan gotong royong. Gambar harimau
dan rusa menggambarkan dua makhluk yang berbeda baik dari segi ukuran,
bentuk, kebiasaan dan tabiat. Seperti manusia pula yang tak pernah sama antara
satu sama lain namun terikat oleh satu konsep nilai estetika budaya yang sama
seperti diungkapkan oleh Prof. Koentjaraningrat, yaitu :
1) Manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini, tetapi dikelilingi oleh
komunitasnya, masyarakatnya, dan alam semesta sekitarnya. Di dalam
sisitem makro kosmos tersebut ia merasakan dirinya hanya sebagai suatu
unsur kecil saja yang ikut terbawa oleh proses peredaran alam semesta yang
Maha Besar itu.
2) Dengan demikian dalam segala aspek kehidupannya manusia pada
hakikatnya tergantung kepada sesamanya.
3) Karena itu ia harus selalu berusaha untuk sedapat mungkin memelihara
hubungan baik dengan sesamanya, terdorong oleh jiwa sama rata, sama rasa
meskipun ditengah segala perbedaan yang ada.
4) Selalu berusaha untuk sedapat mungkin bersifat konform, berbuat sama dan
bersama dalam komunikasi, terdorong oleh jiwa sama tinggi dan sama
Contoh desain Vernacular becak Solo ‘Gotong Royong’.
Sumber : foto ( 6 Desember 2009).
e. Sumber urip.
Sumber urip dalam bahasa Indonesia berarti sumber hidup. Sedangkan secara
filosofi kosmologis kehidupan Jawa arti Sumber Urip merupakan salah satu
syarat prinsip dari hakekat hidup manusia di dunia yang terdiri dari :
1) Berusaha dengan cara bekerja untuk mencapai suatu kedudukan yang layak
sesuai dengan kemampuan dan kemauan dalam bekerja yang berakibat pada
penghasilan sebagai sumber hidup.
2) Berusaha memperoleh uang secara halal, sebagai sumber hidup.
3) Berusaha memperoleh atau mendapatkan suatu kepandaian, baik berupa
ketrampilan yang dapat menghasilkan sumber penghidupan.
Dalam desain Vernacular Typography Street sumber urip digambarkan dengan
landscape gambar pemandangan dengan hamparan sawahnya yang luas dan
subur disertai dengan tipografi bertuliskan Rahardjo yang memiliki arti makmur
atau kemakmuran. Arti dari lukisan pemandangan tersebut yaitu bagi
Contoh desain Vernacular becak Solo ‘Sumber Urip’.
Sumber : foto ( 6 Desember 2009).
f. Lumintu.
Lumintu dalam bahasa Indonesia memiliki arti tidak terputus atau terus menerus
tanpa henti. Diartikan secara filosofis berdasarkan ajaran kosmologis
masyarakat Jawa bahwa dalam berusaha harus secara terus menerus dan
berkesinambungan dan tidak terputus sebagai keinginan untuk menjalankan
suatu usaha seterusnya dan bisa berjalan langgeng atau selamanya. Seperti yang
dilukiskan dalam desain yang digambarkan dengan dua ekor sapi yang bekerja
menarik gerobak. Sapi dalam kehidupan masyarakat jawa merupakan lambang
pekerja keras. Disertai tipografi berseri sebagai motto dari kota Solo.
Contoh desain Vernacular becak Solo ‘Lumintu’.
g. Gemah ripah.
Gemah ripah dalam bahasa Indonesia memiliki arti subur makmur. Dalam
desain digambarkan dengan lukisan area pedesaan dan persawahan yang subur
dengan tipografi bertuliskan Margo Tentrem. Lukisan tersebut merupakan hasil
dari peniruan dan imajinasi seniman becak yang berasal dari pemandangan
lingkungan pedesaan. Mengandung makna secara filosofis dalam kosmologis
masyarakat jawa bahwa hidup itu bergantung pada alam. Sehingga tingkat
kesuburan suatu daerah dapat dilihat dari tanaman dan tumbuhan yang tumbuh
subur diarea tersebut, dan jika suatu daerah subur maka dapat menjamin tingkat
kemakmuran dan ketentraman suatu wilayah.
Contoh desain Vernacular becak Solo ‘Gemah Ripah’.
Sumber : foto ( 6 Desember 2009).
h. Prihatin.
Prihatin memiliki makna secara filosofis dalam ajaran kehidupan kosmologis
masyarakat Jawa sebagai sikap dimana kita mencoba memposisikan diri pada
posisi sulit yang dialami oleh orang lain supaya kita dapat merasakan dan
tipografi bertuliskan kata Prihatin yang merupakan ajakan untuk kita hidup
prehatin dan secukupnya tanpa berlebih – lebihan.
Contoh desain Vernacular becak Solo ‘Prihatin’.
Sumber : foto ( 6 Desember 2009).
B.
Pembanding.
1. Vernacular Typography Street becak Yogya.
Sejarah keberadaan becak di Yogya diperkirakan berkembang pada masa perang
dunia kedua. Salah satu seniman lukis becak yang terkenal di Yogya adalah Bapak
Sucipto yang beralamat di Ketanggunan, Wirobrajan, Yogyakarta. Bapak Sucipto
melukis becak sejak tahun 1970an dengan ongkos sekali lukis berkisar Rp 40.000.
Warna yang dominan dari desain becak Yogya adalah merah, kuning, hijau, biru dan
lebih cenderung pada suka – suka seniman yang melukisnya.
Karakter desain Vernacular Typography Street becak yogya sangat khas yaitu
berupa lukisan pemandangan alam di kaki gunung berapi dikarenakan lokasi Yogya
yang berada tidak jauh dari lokasi gunung berapi. Difilosofikan bahwa gunung
merupakan sumber kehidupan dalam kepercayaaan dan kosmologi manusia Jawa.
Bentuk tipografi dalam desain Vernacular Typography Street becak Yogya terdiri dari
Migunani dan Waton urip. Menurut pakar budaya Sindhunata kata – kata tersebut
menyiratkan filosofi atau pandangan hidup tukang becak. Seperti Mbanyu Mili yang
memiliki arti secara filosofi bahwa pendapatan tetap mengalir meskipun sedikit dari
hasil menarik becak. Migunani yang berarti berguna atau bermanfaat dalam hidup
sebagai sumber pandapatan bagi tukang becak. Waton Urip yang berarti berani hidup
tanpa tanpa takut terhadap segala cobaan yang ada. Kesemua desain tipografi pada
desain Vernacular Typography Street becak Yogya tersebut ditulis dengan
menggunakan bentuk tipografi modern dengan semacam letterset atau alat cetak
tipografi sederhana sehingga tidak dibuat spontan dengan cara manual lukis tangan.
Contoh desain Vernacular Typography Sstreet becak Yogya
Sumber : www.google/images-becak/harianjogja.com (10 januari 2010).
2. Vernacular Typography Street becak Bandung.
Keberadaan becak di kota Bandung berkembang pesat sejak diberlakukannya
peraturan daerah di Jakarta yang melarang beroperasinya becak dikota tersebut pada
Desain vernacular yang terdapat pada becak Bandung sangat beraneka ragam dari
segi warna karena dalam satu desain becak tampak sangat colorfull dengan warna –
warna yang mencolok dibandingkan pada desain becak di kota – kota lain seperti Solo
dan Yogya. Namun dari segi tulisan yang tercantum pada becakpun masih sama
mengandung arti kata filosofis seperti sabar yang mengajarkan bahwa hidup itu harus
sabar sebagaimanapun cobaan yang dihadapi. Desain tipografi pada desain Vernacular
Typography Street becak Bandung memiliki desain yang sudah lebih teratur dan
konstan dari segi bentuk dan ukuran serta memiliki desain kesatuan.
Contoh desain vernacular typography street becak di Bandung
Sumber : www.desaingrafis-indonesia.com (2 April 2009).
Desain vernacular becak Bandung ini pun pernah menjadi sumber inspirasi dalam
perancangan tipografi yang diberi tajuk perancangan Vernacular Typography Street Baca
Becak. Di rancang oleh Asih Nurul yang merupakan mahasiswa Desain komunikasi
visual Institut Tekhnologi Bandung. Hasil rancangan dari desain Vernacular Typography
Street becak diaplikasikan dalam desain poster yang di presentasikan dalam tajuk ‘
Typeface Design ; Case Study Bandung, Indonesia dalam ajang 3rd International
Conference on Typography and Visual Communication (ICTVC) di Thessaloniki
Yunani pada tahun 2007. 3rd International Conference on Typography and Visual
Communication (ICTVC) merupakan ajang konferensi tipografi tingkat internasional
yang diselenggarakan oleh Universitas Macedonia setiap dua tahun sekali dengan tema
tertentu yang selalu berbeda. Untuk ajang 3rdInternational Conference on Typography
and Visual Communication (ICTVC) ketiga pada tahun 2007 tersebut mengangkat tema
From Verbal to Graphic yang dimaksudkan untuk mengembangkan pendidikan dan
riset di bidang tipografi. Presentasi dari desain Vernacular Typography Street ini
banyak mendapat tanggapan positif dari berbagai desainer dan tipografer dunia peserta
ICTV.
C. Analisis SWOT.
SWOT Venacular Typography
Street becak Solo.
Vernacular Typography
Street becak Yogya.
Venacular Typography
Street
becak Bandung
Strength Bentuk desain
tipografinya tidak
ditemui pada bentuk
desain tipografi
modern buatan
desainer grafis dan
typographer.
Bentuk desain
tipografinya bermacam –
macam, sebagian besar
merupakan bentuk huruf
roman.
Bentuk desain
tipografinya berwarna –
warni dan indah,
sehingga dapat dengan
mudah menarik
perhatian khalayak.
Bentuk desain
tipografinya yang
mampu bertahan
selama lebih dari 30
tahun sebagai tipografi
pada becak Solo.
Bentuk desain
tipografinya telah
diadaptasi ke dalam
desain Venacular
Typography Street Baca
Becak melalui media
desain komunikasi
visual.
Satu – satunya desain
yang dilukis tangan
secara manual.
Weakness Dibuat secara manual
dengan dilukis
sehingga kurang
adanya kekonstanan
dalam desain
Bentuk desain
tipografinya berbeda
antara becak satu dengan
becak lainnya di Yogya.
Desain tipografinya
hanya terdiri dari huruf
kapital sehingga
terbatas penggunaanya
dalam desain atau
hanya untuk keperluan
headline.
Desain tipografinya
hanya terdiri dari huruf
kapital sehingga
terbatas penggunaanya
dalam desain atau
hanya untuk keperluan
headline.
Desain tipografinya
hanya terdiri dari huruf
kapital sehingga terbatas
penggunaanya dalam
desain atau hanya untuk
keperluan headline.
Oppurtunity Bentuk desain
tipografinya unik dan
seragam dipakai pada
desain tipografi becak
di Solo.
Bentuk desain
tipografinya telah
diperkenalkan dalam
konferensi tipografi
ICTV di Yunani.
Treath Penggunaan tekhnologi
komputerisasi dan print
Penggunaan tekhnologi
komputerisasi dan print
Penggunaan tekhnologi
out yang diaplikasikan
pada becak
mengancam hilangnya
bentuk tipografi
vernacular.
out yang diaplikasikan
pada becak mengancam
hilangnya bentuk
tipografi vernacular.
out yang diaplikasikan
pada becak mengancam
hilangnya bentuk
tipografi vernacular.
A.
Positioning
.
Desain tipografi pada desain Vernacular Typography Street becak di kota Solo
mempunyai positioning sebagai bentuk tipografi yang mengambil dasar bentuk
tipografi pada becak di kota Solo, yang dibuat dengan cara di lukis secara spontan.
B.
USP (
Unique, Selling, Prepositioning
).
Vernacular Typography Street becak Solo merupakan bentuk tipografi pada becak
di Solo yang memiliki karakteristik khas di bandingkan bentuk tipografi –pada becak
dikota di Indonesia. Bentuk tipografinya merupakan hasil kreasi dari seniman lukis
becak yang mampu bertahan selama lebih dari 30 tahun. Bentuk tipografinya tetap
dibuat secara manual dan spontan, walaupun tekhnologi dalam desain grafis telah
berkembang pesat. Sehingga disetiap guratan tipografinya menampakkan emosi dari
sang seniman ketika melukis. Namun tetap memiliki karakteristik kesatuan bentuk
yang konsisten dan tidak berubah dalam tiap karyanya. Dikarenakan bentuk karakter
tipografinya sering dipakai pada desain tipografi becak di Solo sehingga mempunnyai
ciri khas diantara bentuk tipografi jalanan yang ada,. Masyarakatpun dapat mengenali
BAB IV
KONSEP PEMIKIRAN DESAIN
A.
Metode Perancangan.
Metode perancangan bentuk tipografi dari desain Vernacular Typography Street
becak Solo ditujukan untuk menghasilkan bentuk typeface baru secara digital dengan
menggunakan metode eksperimental yang lebih kearah bentuk tipografi dekoratif
namun tanpa bentuk ornament yang berlebih dan tetap sesuai dengan bentuk dasar
tipografi pada desain becak Solo.
Perancangan bentuk typeface baru dari desain Vernacular Typography Street
becak Solo ini meliputi bentuk desain typeface lengkap secara alphabet, numeral dan
symbol dalam bentuk uppercase bold (kapital tebal). Typeface dengan bentuk
dekoratif uppercase bold memiliki limitasi dalam penggunaan tidak seperti bentuk
typeface – typeface lainnya yang memiliki kompatibilitas untuk digunakan dalam
berbagai tujuan. Bentuk typeface dekoratif uppercase bold penggunaanya diterapkan
untuk keperluan atau tujuan – tujuan tertentu seperti dalam headline, desain logo,
label maupun judul buku. Sehingga bentuk dekoratif uppercase bold tidak sesuai
untuk kebutuhan desain dalam teks yang panjang. Di karenakan akan sulit terbaca
dalam ukuran teks poin.
Perancangan bentuk typeface baru ini ditujukan sebagai bentuk identitas visual
becak Solo, selain itu dalam dunia desain typeface baru ini ditujukan untuk semakin
bentuk publisitas yang dipilih sangat terbatas pada kalangan tertentu melalui
media lini bawah (Bellow The Line/BTL).
B.
Konsep Kreatif.
1. Konsep kreatif perancangan typeface baru dari desain Vernacular Typography Street becak Solo.
Konsep kreatif perancangan bentuk typeface baru dari desain Vernacular
Typography Street becak Solo dirancang menggunakan prinsip – prinsip tipografi
dalam desain komunikasi visual yang meliputi :
a. Readibility.
Readibility dalam hal ini mengacu pada sebagaimana baik sebuah text yang
tertulis memudahkan dalam membaca. Readibility dipengaruhi beberapa
faktor antara lain :
1) Type size.
Type size merupakan ukuran tinggi vertikal di setiap poin huruf. Sebagai
contoh kira – kira 72 poin dalam ukuran satu inchi, sehingga huruf dengan
ukuran 72 poin adalah sekitar satu inchi tingginya dalam sebuah halaman
tercetak. Ukuran 36 poin huruf berarti sekitar ½ inchi tingginya dan 18
poin huruf berarti sekitar ¼ inchi tingginya. Huruf dalam teks biasanya
dicetak minimal dengan ukuran 10 sampai 12 poin karena ukuran huruf
2) Weight
Weight mengacu pada kepadatan huruf, keringanan atau berat garis
(stroke) yang menyusun sebuah typeface. Perubahan berat dari struktur
bentuk dasar huruf terletak pada perbandingan antara tinggi dari huruf
yang tercetak dengan lebar stroke. Bila ditinjau dari berat huruf, maka
terdiri atas : light, regular, dan bold. Light, regular dan bold memiliki
kesamaan ciri fisik, namun dengan tampilnya perbedaan berat dapat
memberikan dampak visual yang berbeda. Diskripsi dari berat huruf
(weight) digunakan dalam penamaan huruf untuk menguraikan ketebalan
garis masing – masing huruf tersebut. Light fonts tersusun dari garis –
garis tipis dan extra bold fonts tersusun dari garis – garis tebal, namun
tidak semua berat huruf (weight) sesuai untuk semua bentuk typeface dan
dalam rangkaian kesatuannya adakalanya berubah – ubah atau berbeda –
beda dalam beberapa typeface.
3) Style.
Style berkenaan pada pilihan meliputi bold, italic, dan underline. Yang
dapat dipilih sebagai bagian dari spesifikasi huruf.
4) Leading.