KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan pada Tuhan Yang M aha Esa, atas segala rahmat dan berkatNya yang memberikan kesehatan dan hikmat kepada penulis sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang direncanakan.
Skripsi ini berjudul ” Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika siswa melalui model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR) pada materi operasi pecahan di kelas V S d negeri no. 115479 Aek Tapa. Kab. Labuhan Batu Utara T.A 2011/2012.” disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan M atematika, Fakultas M atematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri M edan.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Prof.Dr. Syawal Gultom,M .Pd selaku Rektor Universitas Negeri M edan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Prof.Drs. M anihar Situmorang,M .Sc.,Ph.D selaku Dekan Fakultas M atematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri M edan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Prof.Dr. M ukhtar,M .Pd sebagai Ketua Jurusan M atematika Universitas Negeri M edan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Drs. M . Panjaitan,M .Pd selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah banyak memberikan bimbingan dan saran-saran kepada penulis sejak awal penelitian sampai dengan selesainya penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih
juga disampaikan kepada Bapak Prof.Dr. M ukhtar,M .Pd, Bapak Drs. Syafari,M .Pd, dan Bapak Drs. H. Yasifati Hia,M .Si selaku Dosen Penguji
yang telah memberikan masukan dan saran-saran dalam penyusunan skripsi ini. Kepada Bapak Drs. Yasifati Hia,M .Pd selaku Dosen Pembimbing Akademik dan kepada Bapak dan Ibu Dosen beserta Staf Pegawai Jurusan M atematika FM IPA UNIM ED yang telah membantu penulis juga disampaikan terima kasih.
Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih kepada ayahanda Edi Sihaloho, Ibunda Pesta Sitanggang, kakak Lina P. Sihaloho, adik Parsaoran Sihaloho, Parlindungan Sihaloho, M ariana F Sihaloho, M ariani C Sihaloho yang telah memberikan dukungan material, spritual, memberikan doa yang tulus dan nasehat yang menjadi motivasi penulis untuk menyelesaikan penelitian ini. Begitu juga penulis ucapkan terima kasih teristimewa kepada kekasih hati Paian Siahaan yang telah memberikan masukan dan semangat serta doa yang tulus kepada penulis, serta para sahabat Surya Kartini, Dina, Aai. Indah, Lenni, Ester dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam penyelesaian penelitian ini, namun penulis menyadari masih banyak kelemahan. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca demi kesempurnaan penelitian ini. Kiranya penelitian ini bermanfaat dalam memperkaya khasanah ilmu pendidikan.
M edan, September 2012 Penulis,
UPAYA MEN INGKATKAN HAS IL BELAJAR MATEMATIKA S IS WA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN AUDITORY
INTELECTUALLY REPETITION (AIR) PAD A MATERI OPERAS I PECAHAN DI KELAS V S D NEGERI
NO.115479 AEK TAPA KAB. LABUHAN BATU UTARA T.A. 2011/2012
Trisna Mardina (NIM. 071244110014) ABS TRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan upaya – upaya yang dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pada materi operasi pecahan di kela V Sd Negeri No.115479 Aek Tapa Kab. Labuhan Batu Utara T.A. 2011/2012.
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V Sd Negeri No.115479 aek tapa yang berjumlah 37 orang siswa, yang terdiri dari 15 orang siswa laki-laki dan 22 orang siswa perempuan sedangkan objek dalam penelitian ini adalah pembelajaran menggunakan model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR) pada materi pertidaksamaan
Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data adalah tes dan lembar observasi dan wawancara. Tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR), lembar observasi digunakan untuk melihat proses pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR), dan keaktifan siswa selama proses penerapan model pembelajaran dan wawancara digunakan untuk mengetahui apa saja kesulitan belajar siswa.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pada tes hasil belajar I yaitu dari 37 siswa terdapat 26 siswa (70,27%) yang mencapai skor 65 dan 11 siswa (29,72%) yang mencapai skor < 65 serta terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas pada tes hasil belajar II dengan 37 siswa terdapat 32 siswa (86,49%) yang mencapai skor ≥65 dan 5 orang siswa (13,51%) yang mencapai skor < 65. Dan dari hasil tes belajar I dan II diperoleh peningkatan nilai rata-rata siswa yaitu dari 66,2162 menjadi 73,1081. Hasil observasi proses pembelajaran berjalan dengan baik yaitu dari hasil observasi di siklus I mencapai 2,87 dengan kategori baik dan mengalami peningkatan di siklus II menjadi 3,12 dengan kategori baik.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR).
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1a : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I 65 Lampiran 1b : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran II 68 Lampiran 2a : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran III 71 Lampiran 2b : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran IV 74
Lampiran 3a : Soal Pre Test 77
Lampiran 3b : Soal Post Test I 80
Lampiran 3c : Soal Post Test II 83
Lampiran 4 : Kunci Jawaban 86
Lampiran 5a : Lembar Validasi Tes 87
Lampiran 5b : Lembar Validasi Tes 88
Lampiran 5c : Lembar Validasi Tes 89
Lampiran 6 : Daftar Nama Validator 90
Lampiran 7a : Nilai Pre Test Siswa 91
Lampiran 7b : Nilai Post Test I Siswa 92
Lampiran 7c : Nilai Post Test II Siswa 93
Lampiran 8a : Lembar Observasi 94
Lampiran 8b : Lembar Observasi 98
Lampiran 8c : Lembar Observasi 102
Lampiran 8d : Lembar Observasi 104
Lampiran 9a : Lembar Jawaban Post Test I Siswa 110 Lampiran 9b : Lembar Jawaban Post Test II Siswa 112 Lampiran 10 : Lembar Kegiatan Penelitian 114
Lampiran 11 : Dokumentasi Penelitian 115
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Kemajuan suatu negara tidak terlepas dari sistem pendidikan di negara itu, sebab pendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas setiap individu. Setiap individu secara langsung ataupun tidak langsung dipersiapkan untuk mampu mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan mampu sebagai Sumber Daya M anusia (SDM ) untuk menangani pembangunan yang senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan kebutuhan zaman. Untuk mensukseskan pembangunan bangsa dan negara dibutuhkan SDM yang menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki keterampilan. Untuk itu peranan lembaga pendidikan sangat besar untuk menghasilkan SDM yang potensial guna menyokong pelaksanaan pembangunan bangsa dan negara. Dengan kata lain pendidikan merupakan suatu titik sentral dalam pembangunan.
Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang memiliki peran sangat penting dalam usaha membina dan membentuk manusia yang berkualitas. Pada dasarnya peserta didik telah memiliki potensi yang baik. Untuk itu guru seharusnya berupaya untuk mengarahkan dan mengembangkan potensi–potensi itu kearah yang diharapkan melalui pendidikan dan pengajaran. Pemerintah dan masyarakat yang berada dalam pendayagunaan sumber daya pendidikan juga tidak henti–hentinya mengadakan pembenahan terhadap lembaga penentu kemajuan pendidikan.
Hasil belajar siswa melalui kegiatan pembelajaran, tidak dapat dicapai seluruhnya secara langsung dan tidak dapat diukur dengan mudah seperti yang dikemukakan oleh Suryabrata (2005:26) bahwa
tinggi dan dipadukan dengan strategi pembelajaran yang dapat membuat siswa tersebut aktif maka hasil belajar yang akan dicapainya akan juga baik.”
Suatu permasalahan dalam proses belajar mengajar yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah rendahnya motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa, kejenuhan siswa dalam belajar, suasana belajar yang pasif dan situasi belajar yang berpusat pada guru. Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat Ekspositori dan tidak menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu bagaimana sebenarnya belajar itu (belajar untuk belajar). Dalam arti yang lebih substansial, proses pembelajaran hingga dewasa ini masih memberikan dominasi guru dan tidak memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dan proses berpikirnya.
Selain faktor strategi dalam proses pembelajaran di sekolah, juga perlu diperhatikan faktor dari dalam diri siswa yang turut mempengaruhi hasil belajar siswa tersebut. Salah satunya adalah motivasi belajar siswa, seperti yang dikemukakan oleh Uno (2008 : 23) bahwa:
“ motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar merupakan perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu sedangkan motivasi diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat.”
M otivasi belajar adalah dorongan internal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku yang pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. M otivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Adapun faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif dan kegiatan belajar yang menarik. Akan tetapi harus diingat, kedua faktor tersebut disebabkan oleh rangsangan tertentu sehingga seseorang berkeinginan untuk melakukan aktivitas belajar yang lebih giat dan semangat.
lebih suka menerapkan model tersebut, sebab tidak memerlukan alat dan bahan praktek, cukup menjelaskan konsep-konsep yang ada pada buku ajar atau referensi lain. M asalah ini banyak dijumpai dalam kegiatan proses belajar mengajar di kelas, oleh karena itu, perlu menerapkan suatu strategi belajar yang dapat membantu siswa untuk memahami materi ajar dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa dapat lebih termotivasi.
Satu inovasi yang dapat mengubah paradigma pembelajaran yang semula berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered) beralih berpusat pada murid (student centered); metodologi yang semula lebih didominasi ekspositori berganti ke partisipatori; dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi kontekstual. Semua perubahan tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki mutu pendidikan, baik dari segi proses maupun pendidikan. Berdasarkan alasan tersebut, maka sangatlah penting bagi para pendidik khususnya guru memahami karakteristik materi, peserta didik dan metodologi pembelajaran dalam proses pembelajaran terutama berkaitan pemilihan terhadap strategi-strategi pembelajaran. Dengan demikian proses pembelajaran akan lebih variatif, inovatif dan konstruktif dalam merekonstruksi wawasan pengetahuan dan implementasinya sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
Dari beberapa hal yang dipaparkan di atas, salah satu hal penting yang dihadapi pendidik adalah minimnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir seperti yang dijelaskan oleh John W. Santrock bahwa untuk menjadi guru yang mampu mengajar secara efektifitas dibutuhkan dua hal yaitu (1) pengetahuan dan keahlian profesional, dan (2) komitmen dan motivasi.
“banyak faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika peserta didik salah satunya adalah ketidaktepatan penggunaan model pembelajaran yang digunakan guru di kelas. Kenyataannya menunjukkan selama ini kebanyakan guru menggunakan model pembelajaran yang bersifat konvensional dan banyak didominasi oleh guru.”
Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika adalah sebagaimana yang diungkapkan Abdurrahman (1999:252) bahwa : “Dari berbagai bidang studi yang diajarkan di sekolah matematika merupakan bidang studi yang dianggap paling sulit oleh para siswa.” SM A Negeri 1 Galang merupakan salah satu sekolah yang juga harus memperhatikan kualitas siswanya untuk dapat bersaing dengan sekolah lainnya di dunia pada umumnya dan di Indonesia khususnya. Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah tersebut adalah M atematika. M ata pelajaran ini merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang diujiannasionalkan dan merupakan salah satu syarat utama kelulusan. Oleh sebab itu perlu diterapkan strategi belajar yang efektif dan efisien agar diperoleh motivasi belajar siswa yang baik.
E.T. Ruseffendi (1993:37) menyatakan bahwa:
”M atematika merupakan suatu ilmu yang berhubungan dengan penelaahan bentuk atau struktur yang abstrak untuk dapat memenuhi struktur-struktur, hubungan-hubungan diperlukan pemahaman tentang konsep-konsep yang terdapat di dalam matematika itu. Hal ini berarti belajar matematika adalah belajar tentang konsep dan struktur-struktur yang terdapat dalam bahasa yang dipelajari serta mencari hubungan antara konsep dan struktur tersebut.”
Oleh karena itu dalam mendesain kegiatan belajar yang optimal diperlukan kecermatan guru dalam memilih strategi yang akan diterapkan. Begitu juga dalam pembelajaran M atematika yang diajarkan kepada peserta didik hendaknya selalu langsung dihadapkan dengan situasi nyata dalam kehidupan. Keberhasilan belajar M atematika dapat dipengaruhi berbagai faktor agar dapat mencapai hasil belajar yang maksimal yaitu dengan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar. Hal tersebut dapat dilihat dari faktor pelaksana pembelajaran yaitu guru dan peserta didik.
kepada siswa dan kurangnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran M atematika tersebut. M atematika bagi sebagian peserta didik dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang sangat rumit dan menjenuhkan. Selain itu kegiatan belajar mengajar yang kurang variatif misalnya hanya menggunakan metode ceramah saja dalam kegiatan pembelajaran, yang menyebabkan kurangnya efektifitas belajar.
Faktor lain yang menyebabkan peserta didik tidak suka belajar M atematika adalah kurangnya pengetahuan peserta didik akan manfaat M atematika dalam kehidupan sehari-hari(dunia nyata), sikap yang kurang baik terhadap M atematika dapat tumbuh akibat strategi pembelajaran yang tidak relevan dengan tahap berpikir peserta didik dan tidak dikaitkan dengan kehidupan peserta didik. Kondisi yang demikian menyebabkan merosotnya motivasi belajar M atematika peserta didik.
Pelajaran matematika lebih banyak jam pelajarannya jika dibandingkan dengan pelajaran lain. Walaupun demikian, hasil belajar matematika siswa di Indonesia masih rendah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Trends in International Mathematics and Science Study (TIMM S) yang mengatakan bahwa hasil belajar matematika siswa di Indonesia masih rendah dibanding M alaysia dan Singapura, yang jumlah jam pelajaran matematikanya setiap tahun lebih sedikit dibanding Indonesia(http://zainure.wordpress.com/2007/05/14/pakar-matematika-pendidikan). Artinya, waktu yang dihabiskan siswa Indonesia di sekolah tidak
sebanding dengan hasil belajar yang diraih. Hal ini sesuai dengan data UNESCO (http://zainurie.wordpress.com): “Data UNESCO menunjukkan bahwa peringkat matematika Indonesia berada di deretan 34 dari 38 negara. Sejarah ini, Indonesia masih belum mampu lepas dari deretan penghuni papan bawah.” Hasil nilai matematika pada ujian nasional, pada semua tingkat dan jenjang pendidikan selalu terpaku pada angka yang rendah. M enurut Zaki (http://zaki.web.ugm.ac.id) menyatakan bahwa:
Guru merupakan tokoh sentral dalam menentukan keberhasilan siswa dalam menerima pelajaran yang disampaikan. Selama ini kegiatan belajar mengajar yang dilakukan hanya terfokus pada guru. Ketika guru mengajar hanya menggunakan metode ceramah dan memberikan contoh tanpa melibatkan siswa dalam kegiatan belajar, maka siswa cenderung pasif, kemudian siswa lebih banyak menunggu sajian yang diberikan guru.
Kondisi ini terkadang menjadikan siswa enggan untuk belajar, kemudian merasakan kejenuhan dan keinginan agar proses belajar mengajar cepat selesai. Bahkan terkadang sebelum proses belajar selesai siswa cenderung mencari-cari alasan agar bisa keluar dari kelas untuk menghilangkan kejenuhan misalnya permisi ke toilet, yang akhirnya berdampak pada rendahnya motivasi belajar siswa.
Oleh karena keadaan seperti inilah timbul kemalasan dan kejenuhan dalam diri siswa, sehingga tidak ada keinginan dalam diri mereka untuk belajar selama kegiatan belajar masih seperti itu, akhirnya berdampak pada rendahnya hasil belajar mereka yang bisa dilihat dari data ulangan siswa pada mata pelajaran M atematika di kelas X SM A Negeri 1 Galang pada saat penulis melakukan observasi di sekolah tersebut. Dari 42 siswa di kelas X hanya 16 orang (sekitar 38,09%) yang nilainya diatas 70. Dan hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di kelas X-2 SM A Negeri 1 Galang dengan memberikan tes kepada siswa mengenai pertidaksamaan kuadrat. Berikut tes yang diberikan oleh peneliti kepada siswa pada pokok bahasan pertidaksamaan kuadrat.
1. Carilah himpunan penyelesaian dari pertidaksamaan berikut: a. 5y 3y + 8
b. 2x + 3 7
2. Tentukan penyelesaian pertidaksamaan 1 1
7 2
≤ − + x
x
Jawaban siswa: 1. a. 5y 3y + 8
2y 8 y 4 b. 2x + 3 7
2x 7 – 3 2x 4 x 2
2. 1
1 7 2
≤ − + x
x
2x + 7 1 – 1 + x 2x – x 0 – 7 x -7
Berdasarkan tes yang telah dilakukan ternyata hanya 30% siswa yang dapat menjawab dengan benar dan 30% siswa yang mengarah kepada jawaban yang benar, sedangkan 40% siswa sama sekali tidak dapat menyelesaikan soal tersebut.
Disamping itu, Ibu Berniwanta Girsang juga mengatakan bahwa bukan hanya dari faktor siswanya saja, tetapi dari faktor gurunya juga terlibat dalam perkembangan hasil belajar matematika siswa khususnya pada materi pertidaksamaan yaitu sebagian dari guru hanya menerangkan penjelasan materi serta memberikan contoh – contoh sesuai yang ada dibuku (tidak berkembang). Jadi, ketika siswa diberikan soal yang sedikit saja berbeda dari contoh yang diberikan, siswa langsung mengalami kesulitan. Selama ini metode yang digunakan oleh kebanyakan guru tidak mengalami perubahan selalu sama sehingga kesulitan yang dihadapi siswa dalam mempelajari Pertidaksamaan tetap ada, dengan kata lain kurang efektif.
Berdasarkan informasi diatas dapat dilihat bahwa proses pembelajaran kurang berkualitas dan prestasi belajar yang dicapai siswa dalam pembelajaran matematika masih memprihatinkan. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran matematika perlu diperbaiki guna meningkatkan motivasi, perhatian, pemahaman dan prestasi belajar siswa.
model pembelajaran yang bisa digunakan dalam pembelajaran matematika yang memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar mandiri, kreatif, dan lebih aktif adalah dengan model pembelajaran Auditory Intellectualy Repetition (AIR) dari kata Auditory, Intellectualy dan Repetition. Auditory bermakna bahwa belajar haruslah dengan melalui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat dan menanggapi. Intellectualy bermakna bahwa belajar haruslah menggunakan kemampuan berfikir (mind-on), harus dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah dan menerapkan. Sedangkan Repetition adalah pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara siswa di latih melalui pemberian tugas atau kuis.
(http://pedidikan.infogue.com/model pembelajaran inovatif ).
M elalui pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Auditory Intellectualy Repetition (AIR), diharapkan siswa akan lebih baik dalam memahami materi Pertidaksamaan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan Pertidaksamaan, karena didalam model pembelajaran Auditory Intellectualy Repetition (AIR) terdapat repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau kuis sehingga siswa diharapkan dapat lebih mudah memahami materi pertidaksamaan.
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, ada banyak masalah yang mempengaruhi motivasi belajar siswa pada materi pelajaran Pertidaksamaan. M asalah – masalah yang teridentifikasi mencakup :
1. Prestasi belajar matematika yang dicapai siswa masih rendah. 2. Siswa kurang tertarik dalam pembelajaran M atematika
3. Pemakaian metode guru masih menggunakan metode ceramah dalam belajar M atematika
4. Pembelajaran matematika yang kurang bermakna dikarenakan pembelajaran berpusat pada guru
5. Kurangnya ketidaktahuan peserta didik akan manfaat M atematika dalam kehidupan sehari-hari(dunia nyata)
6. Rendahnya kemampuan siswa dalam memahami mata pelajaran matematika tentang Pertidaksamaan.
1.3. Batasan Masalah
M engingat luasnya cakupan masalah dan keterbatasan peniliti, maka masalah yang disebutkan dalam identifikasi masalah diatas dibatasi pada hasil belajar siswa pokok bahasan pertidaksamaan serta upaya meningkatkan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran AIR (auditori intellectually repetition).
1.4. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi, dan batasan masalah di atas maka rumusan masalah dalam hal ini yaitu :
1. Apakah dengan menerapkan model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR) dapat meningkatkan hasil belajar pada pokok bahasan sistem pertidaksamaan dikelas X SM A Negeri 1 Galang Tahun Ajaran 2011/2012?
1.5. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan sebagai berikut, yaitu :
1. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada pokok bahasan sistem pertidaksamaan dikelas X SMA Negeri 1 Galang Tahun Ajaran 2011/2012 model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR).
2. Untuk mengetahui upaya – upaya apa yang dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan pertidaksamaan melalui model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR)
1.6. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi siswa untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada pokok bahasan pertidaksamaan.
2. Bagi guru, dapat digunakan sebagai bahan masukan tentang suatu alternatif pembelajaran matematika dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa melalui Auditory Intellectually Repetition. (AIR).
3. Bagi peneliti, untuk mengetahui gambaran kemampuan dan kesulitan siswa yang diajarkan melalui Auditory Intellectually Repetition (AIR). 4. Bagi sekolah, sebagai salah satu alternatif pengajaran untuk meningkatkan
hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika melalui Auditory Intellectually Repetition (AIR).
BAB V
KES IMPULAN DAN S ARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan terhadap hasil belajar siswa dan pembahasan hasil penelitian, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Penerapan model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari tes hasil belajar II siswa, diperoleh hasil sebanyak 32 siswa (86,49%) mendapat nilai tuntas dan 5 siswa (13,51%) tidak tuntas, dengan peningkatan sebasar 16,22% dari hasil tes hasil belajar siklus I .
2. Upaya peneliti untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR) adalah :
a. M engganti anggota kelompok diskusi siswa pada siklus II berdasarkan tes hasil belajar I dimana kelompok pada siklus I berdasarkan nilai formatif dari guru matematika dikarenakan anggota kelompok sebelumnya kurang aktif dalam disikusi.
b. Pada siklus I pembelajaran menggunakan LK S yang digunakan siswa di sekolah kemudian peneliti mengganti menggunakan LAS yang dibuat oleh peneliti. Pada LAS peneliti membuat langkah – langkah untuk menyelesaikan soal sehingga siswa lebih mudah untuk mengerti menyelesaikan soal.
c. Peneliti lebih mendekatkan diri kepada siswa pada saat pembelajaran berlangsung dan membantu kelompok yang kurang mengerti serta memberikan arahan kepada siswa sehubungan dengan kondisi dalam kelompok, kerja sama kelompok dan keikutsertaan siswa dalam kelompok.
5.2 S aran
Adapun saran-saran yang diajukan berdasarkan pembahasan dan kesimpulan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Kepada guru matematika hendaknya selalu berupaya meningkatkan hasil belajar siswa dan mempertimbangkan model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR).
2. Kepada guru matematika yang hendak akan menggunakan model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR) dalam pembelajaran hendaknya melakukan tahap – tahap yang ada pada model pembelajaran AIR agar tujuan pembelajaran tercapai dengan baik. M emperhatikan keaktifan setiap anggota kelompok dan memotivasi siswa agar berani mengemukakan pendapatnya dimuka umum, memberikan tugas akhir pada setiap pembelajaran pada siswa secara individual.
3. Kepada peneliti yang berminat melakukan penelitian dengan objek yang sama dengan penelitian ini disarankan sebagai berikut :
- Perhatikan lebih akurat peningkatan hasil belajar yang terjadi apakah signifikan atau tidak.
- Dalam membagi kelompok, sebaiknya tidak hanya berdasarkan kemampuan siswa yang dilihat dari tes namun juga dilihat dari jenis kelamin dan kecocokan antar anggota kelompok
DAFTAR PUS TAKA
Abdurrahman, M ., (2003), Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Arikunto, Suhardjono & Supardi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara
Balitbang. Depniknas: http:// www.Depdiknas.go.id/go,hpp?a=1&to=f599-29k
Sumanto, YD, dkk. 2008. Gemar Matematika 5. M edan: PT. M adju M edan Cipta
Fakulatas M atematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri M edan, (2009), Buku Pedoman Penulisan Skripsi dan Proposal Mahasiswa Program Studi Pendidikan, FM IPA, Unimed, M edan
Herdian. 2008. Model Pembelajaran Auditory Intellectually repetition (AIR) .
(http://pedidikan.infogue.com/model pembelajaran inovatif ) Diakses 7
February 2011
Kurnianingsih Sri, Kuntarti, dan Sulistiyono, (2006), Matematika SMA untuk kelas X, Penerbit Esis, Jakarta
Noormandiri, B.K., dan Sucipto, E. , (2004), Matematika SMA untuk kelas X, Penerbit Erlangga, Jakarta
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada M edia Group.kam
Slameto. 2003. Belajar Dan Faktor – Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Trianto, (2007), Model- model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivisme. Penerbit Prestasi Pustaka, Jakarta
Uno, Hamzah B. 2008. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta : Penerbit Bumi Aksara
Wartono.2009.Strategi pembelajaran.http://pendidikanmatematika.blogsport.com. Diakses 9 Januari 2011.
Yamin, M artinis dan Bansu I. Ansari. 2008. Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa. Jakarta: Penerbit Gaung Persada Press
RIWAYAT HID UP
Syahreini Chandra adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Lahir di M erbau
tanggal 3 Agustus 1988. Ayah bernama M ardianto dan Ibu bernama Bahnina
Siregar. Jenjang pendidikan dimulai pada SD Negeri 115482 Pekan M arbau pada
tahun 1995 dan lulus tahun 2011. Pada tahun 2011 melanjutkan pendidikan ke
SM P Negeri 1 M erbau dan lulus pada tahun 2004. Kemudian pada tahun 2004
melanjutkan pendidikan ke SM A Negeri 1 M erbau dan lulus pada tahun 2007,
kemudian mengikuti Seleksi Penerimaan M ahasiswa Baru (SPM B) tahun 2007
dan diterima pada Program Studi Pendidikan M atematika, Jurusan M atematika,
Fakultas M atematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri M edan dan