• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyelesaian persamaan gelombang air dangkal dengan beberapa metode numeris.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penyelesaian persamaan gelombang air dangkal dengan beberapa metode numeris."

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Persamaan gelombang air dangkal adalah persamaan yang memodelkan aliran air di tempat terbuka. Persamaan gelombang air dangkal seringkali disebut sistem Saint-Venant yang diturunkan dari hukum kekekalan massa dan momentum.

Dalam skripsi ini, persamaan gelombang air dangkal diselesaikan menggunakan beberapa metode, yaitu metode volume hingga, metode beda hingga grid kolokasi dan metode beda hingga grid selang-seling. Metode volume hingga bekerja dengan cara membagi domain ruang menjadi sebanyak berhingga sel, kemudian dihitung rata-rata kuantitas untuk masing-masing sel. Metode beda hingga grid kolokasi dikerjakan secara implisit yaitu membagi domain ruang menjadi sebanyak berhingga titik, kemudian persamaan gelombang air dangkal didiskretkan dan membentuk sebuah sistem persamaan linear. Terakhir, metode beda hingga grid selang-seling bekerja dengan cara membagi domain perhitungan ruang secara selang-seling. Kedalaman air dihitung pada grid dengan indeks bilangan bulat dan kecepatan air dihitung pada grid dengan indeks pecahan. Penggunaan metode yang tepat akan menghasilkan solusi yang akurat untuk persamaan gelombang air dangkal.

(2)

ABSTRACT

The shallow water wave equations model water flows in an open channel. The shallow water wave equations are often called the Saint-Venant system derived from the conservations of mass and momentum.

In this thesis, the shallow water wave equations are solved using several methods, the Lax-Friedrichs finite volume method, collocation grid finite difference method and staggered grid finite difference method. The finite volume method works by dividing the spatial domain into a finite number of cells, then calculating the average quantity for each cell. The collocation grid finite difference method divides the spatial domain into a finite number of computational points for the shallow water equation discretization and forms a linear system of equations. Finally, the staggered grid finite difference method works by discretising the computational domain into staggered spatial partitions. The staggered finite diference means that we approximate the quantities of interest of the shallow water equations on different cells. In the staggered formulation, water depth is calculated at full grid points and water velocity is calculated at half grid points. The appropriate method will produce an accurate solution for the shallow water wave equations.

(3)

PENYELESAIAN PERSAMAAN GELOMBANG AIR

DANGKAL DENGAN BEBERAPA METODE NUMERIS

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Matematika

Program Studi Matematika

Disusun oleh: Ilga Purnama Sari

NIM: 123114023

PROGRAM STUDI MATEMATIKA JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(4)

i

PENYELESAIAN PERSAMAAN GELOMBANG AIR

DANGKAL DENGAN BEBERAPA METODE NUMERIS

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Matematika

Program Studi Matematika

Disusun oleh: Ilga Purnama Sari

NIM: 123114023

PROGRAM STUDI MATEMATIKA JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(5)

ii

SOLUTION TO THE SHALLOW WATER WAVE

EQUATIONS WITH SOME NUMERICAL METHODS

A THESIS

Presented as Partial Fulfillment of the

Requirements to Obtain the Degree of Sarjana Matematika Mathematics Study Program

Written by: Ilga Purnama Sari Student ID: 123114023

MATHEMATICS STUDY PROGRAM DEPARTMENT OF MATHEMATICS FACULTY OF SCIENCE AND TECHNOLOGY

SANATA DHARMA UNIVERSITY YOGYAKARTA

(6)
(7)
(8)
(9)
(10)

vii

ABSTRAK

Persamaan gelombang air dangkal adalah persamaan yang memodelkan aliran air di tempat terbuka. Persamaan gelombang air dangkal seringkali disebut sistem Saint-Venant yang diturunkan dari hukum kekekalan massa dan momentum.

Dalam skripsi ini, persamaan gelombang air dangkal diselesaikan menggunakan beberapa metode, yaitu metode volume hingga, metode beda hingga grid kolokasi dan metode beda hingga grid selang-seling. Metode volume hingga bekerja dengan cara membagi domain ruang menjadi sebanyak berhingga sel, kemudian dihitung rata-rata kuantitas untuk masing-masing sel. Metode beda hingga grid kolokasi dikerjakan secara implisit yaitu membagi domain ruang menjadi sebanyak berhingga titik, kemudian persamaan gelombang air dangkal didiskretkan dan membentuk sebuah sistem persamaan linear. Terakhir, metode beda hingga grid selang-seling bekerja dengan cara membagi domain perhitungan ruang secara selang-seling. Kedalaman air dihitung pada grid dengan indeks bilangan bulat dan kecepatan air dihitung pada grid dengan indeks pecahan. Penggunaan metode yang tepat akan menghasilkan solusi yang akurat untuk persamaan gelombang air dangkal.

(11)

viii

ABSTRACT

The shallow water wave equations model water flows in an open channel. The shallow water wave equations are often called the Saint-Venant system derived from the conservations of mass and momentum.

In this thesis, the shallow water wave equations are solved using several methods, the Lax-Friedrichs finite volume method, collocation grid finite difference method and staggered grid finite difference method. The finite volume method works by dividing the spatial domain into a finite number of cells, then calculating the average quantity for each cell. The collocation grid finite difference method divides the spatial domain into a finite number of computational points for the shallow water equation discretization and forms a linear system of equations. Finally, the staggered grid finite difference method works by discretising the computational domain into staggered spatial partitions. The staggered finite diference means that we approximate the quantities of interest of the shallow water equations on different cells. In the staggered formulation, water depth is calculated at full grid points and water velocity is calculated at half grid points. The appropriate method will produce an accurate solution for the shallow water wave equations.

(12)

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN JUDUL DALAM BAHASA INGGRIS ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRAK DALAM BAHASA INGGRIS ... viii

DAFTAR ISI ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Pembatasan Masalah ... 5

D. Tujuan Penulisan ... 5

E. Metode Penulisan ... 5

F. Manfaat Penulisan ... 6

G. Sistematika Penulisan ... 6

(13)

x

A. Integral ... 8

B. Klasifikasi Persamaan Diferensial ... 11

C. Nilai Eigen dan Vektor Eigen ... 15

D. Persamaan Diferensial Hiperbolik ... 16

E. Penurunan Numeris ... 18

F. Karakteristik Persamaan Gelombang Air Dangkal ... 25

BAB III METODE NUMERIS UNTUK PERSAMAAN GELOMBANG AIR DANGKAL ... 28

A. Solusi Eksak Persamaan Gelombang Air Dangkal ... 28

B. Penurunan Persamaan Gelombang Air Dangkal Satu Dimensi ... 29

C. Masalah Bendungan Bobol ... 35

D. Metode Volume Hingga Lax-Friedrichs ... 37

E. Metode Beda Hingga Grid Kolokasi ... 44

F. Metode Beda Hingga Grid Selang-Seling ... 53

BAB IV PERBANDINGAN BEBERAPA METODE NUMERIS DALAM PENYELESAIAN MODEL GELOMBANG AIR DANGKAL ... 57

A. Metode Volume Hingga Lax-Friedrichs ... 58

B. Metode Beda Hingga Grid Kolokasi ... 62

C. Metode Beda Hingga Grid Selang-Seling ... 66

(14)

xi

A. Kesimpulan ... 71

B. Saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 73

(15)

1

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini akan dijelaskan latar belakang, rumusan dan pembatasan

masalah, tujuan dan manfaat penulisan, juga akan disertakan sistematika penulisan.

A. Latar Belakang

Persamaan diferensial merupakan persamaan yang menghubungkan suatu

fungsi beserta turunan-turunannya. Banyak masalah fisis yang dapat diselesaikan

dengan persamaan diferensial. Masalah fisis merupakan masalah yang

berhubungan dengan hukum alam yang dibahas dalam ilmu fisika. Masalah fisis

seperti fluida dapat diselesaikan dengan menggunakan persamaan diferensial

parsial.

Fluida merupakan zat yang dapat mengalir. Zat itu dapat berupa gas atau

cairan. Aliran fluida merupakan salah satu masalah fisis yang sering dijumpai

dalam kehidupan sehari-hari. Masalah yang sudah pernah ada adalah terjadinya

bencana alam seperti bobolnya bendungan air atau tsunami. Bencana alam tersebut

disebabkan oleh aliran air dalam skala besar. Aliran tersebut dapat dimodelkan

secara matematis (Crowhurst, 2013; Crowhurst dan Li, 2013).

Model gelombang air yang sudah ada salah satunya adalah model gelombang

air dangkal atau Shallow Water Wave Equations. Dangkal dalam arti matematis

(16)

Dengan demikian, nilai perbandingan antara amplitudo gelombang dengan

panjang gelombang � ditulis

�≪ .

Penyelesaian persamaan gelombang air dangkal memiliki dua komponen

penting yang tidak diketahui yaitu kedalaman dan kecepatan air, dengan ℎ ,

adalah kedalaman air dan , adalah kecepatan air. Di sini, adalah variabel

yang menyatakan waktu dan adalah variabel yang menyatakan ruang satu

dimensi. Persamaan gelombang air dangkal dalam bentuk sistem persamaan

diferensial parsial dinyatakan oleh dua persamaan simultan, yaitu

ℎ + ℎ = (1.1)

dan

ℎ + ℎ + ℎ = − ℎ (1.2)

dengan adalah ketinggian tanah, dan adalah konstanta percepatan gravitasi.

Ilustrasi gelombang air dangkal ditunjukkan dalam Gambar 1.1.

Gambar 1.1: Gelombang air dangkal dan variabel-variabel terkait dalam

persamaan gelombang air dangkal. �

x y

(17)

Pada skripsi ini akan diselesaikan persamaan gelombang air dangkal terkait

dengan masalah bendungan bobol. Masalah bendungan bobol memiliki beberapa

asumsi, syarat awal dan syarat batas yang akan dibahas lebih lanjut pada Bab III.

Ilustrasi bendungan air dapat dilihat pada Gambar 1.2.

Gambar 1.2: Bendungan air

Secara umum, solusi persamaan gelombang air dangkal tersebut cukup sulit

untuk dicari secara analitis, sehingga diperlukan cara lain untuk memecahkannya.

Metode numeris adalah salah satu cara untuk memperoleh solusi persamaan

gelombang air dangkal tersebut. Banyak metode numeris yang telah dikembangkan

sebelumnya untuk memecahkan solusi persamaan tersebut, mulai dari metode

karakteristik, metode beda hingga, metode elemen hingga, metode volume hingga

dan sebagainya. Metode beda hingga dikembangkan berdasarkan diskritisasi

langsung dari persamaan diferensial yang dipandang (LeVeque, 1992). Metode

beda hingga unggul dalam kemudahan komputasi. Dalam tugas akhir ini akan

dibahas penyelesaian persamaan gelombang air dangkal dengan metode beda

hingga dan metode volume hingga, karena perumusan kedua metode tersebut

(18)

Metode beda hingga terbagi atas dua model yaitu model grid kolokasi dan

model grid selang-seling. Pada grid kolokasi ditentukan nilai pendekatan untuk

semua variabel ℎ dan yang tidak diketahui secara bersamaan. Pada grid

selang-seling ditentukan pendekatan variabel ℎ dan secara selang-seling. Salah satu

referensi tentang grid kolokasi adalah LeVeque (1992). Salah satu referensi tentang

grid selang-seling adalah Stelling dan Duinmeijer (2003).

Penelitian ini akan membandingkan hasil perhitungan terbaik antara metode

volume hingga, metode beda hingga grid kolokasi dan metode beda hingga grid

selang-seling. Dari ketiga metode tersebut diperoleh hasil perhitungan terbaik yang

dapat memperbaiki metode beda hingga dengan tidak ada getaran semu (artificial

oscillation) pada hasil simulasi aliran air. Fokus penelitian ini adalah

mengembangkan metode numeris dengan metode beda hingga dan volume hingga

untuk menyimulasikan aliran air.

B. Rumusan Masalah

Permasalahan yang dirumuskan dalam skripsi ini ada empat, yaitu:

1. Bagaimana memodelkan gelombang air dangkal?

2. Bagaimana menyelesaikan dan menyimulasikan persamaan gelombang air

dangkal dengan menggunakan metode volume hingga?

3. Bagaimana menyelesaikan dan menyimulasikan persamaan gelombang air

dangkal dengan menggunakan metode beda hingga grid kolokasi?

4. Bagaimana menyelesaikan dan menyimulasikan persamaan gelombang air

(19)

C. Pembatasan Masalah

Pembahasan masalah dalam skripsi ini akan dibatasi pada memodelkan

gelombang air dangkal satu dimensi dan mencari penyelesaian persamaan

gelombang air dangkal dengan metode beda hingga dan volume hingga.

D. Tujuan Penulisan

Skripsi ini mempunyai dua tujuan, yaitu:

1. Merumuskan dan menyelesaikan persamaan gelombang air dangkal dengan

beberapa metode numeris, yaitu metode volume hingga Lax-Friedrichs, metode

beda hingga grid kolokasi dan metode beda hingga grid selang-seling.

2. Membandingkan beberapa hasil simulasi numeris menggunakan metode volume

hingga Lax-Friedrichs, metode beda hingga grid kolokasi dan metode beda

hingga grid selang-seling. Dari hasil simulasi tersebut kemudian dipilih hasil

yang terbaik yang memuat galat yang paling kecil.

3. Menyimulasikan metode volume hingga Lax-Friedrichs, metode beda hingga

grid kolokasi dan metode beda hingga grid selang-seling untuk masalah

bendungan bobol.

E. Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan adalah studi pustaka dari buku-buku dan

(20)

F. Manfaat Penulisan

Dengan memodelkan persamaan gelombang air, kita dapat

1. Menyimulasikan terjadinya banjir.

2. Memperkirakan daerah mana saja yang akan tenggelam.

3. Memperkirakan kecepatan dan kedalaman air pada daerah tersebut.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Rumusan Masalah

C. Batasan Masalah

D. Metode Penulisan

E. Tujuan Penulisan

F. Manfaat Penulisan

BAB II PERSAMAAN DIFERENSIAL

A. Integral

B. Klasifikasi Persamaan Diferensial

C. Nilai eigen dan vektor eigen

D. Persamaan Diferensial Hiperbolik

E. Penurunan Numeris

F. Karakteristik Persamaan Gelombang Air Dangkal

BAB III METODE NUMERIS UNTUK PERSAMAAN GELOMBANG

AIR DANGKAL

A. Solusi Eksak Persamaan Gelombang Air Dangkal

B. Penurunan Persamaan Gelombang Air Dangkal Satu Dimensi

C. Masalah Bendungan Bobol

(21)

E. Metode Beda Hingga Grid Kolokasi

F. Metode Beda Hingga Grid Selang-Seling

BAB IV PERBANDINGAN BEBERAPA METODE NUMERIS DALAM

PENYELESAIAN MODEL GELOMBANG AIR DANGKAL

A. Metode Volume Hingga Lax-Friedrichs

B. Metode Beda Hingga Grid Kolokasi

C. Metode Beda Hingga Grid Selang-Seling

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

(22)

8

BAB II

PERSAMAAN DIFERENSIAL

Landasan teori skripsi ditulis dalam bab ini. Landasan teori tersebut meliputi:

integral, klasifikasi persamaan diferensial, nilai eigen dan vektor eigen, persamaan

diferensial hiperbolik, penurunan numeris, dan karakteristik persamaan gelombang

air dangkal.

A.Integral

Pada bagian ini dibahas mengenai integral yang meliputi definisi dan contoh

dari integral tentu dan aturan Leibniz.

Definisi 2.1

Jika diberikan suatu fungsi pada suatu interval � dan berlaku ′ =

, untuk suatu , maka adalah anti turunan dari . Dengan kata lain

= .

Contoh 2.1

Carilah suatu anti turunan dari = pada −∞, ∞ .

Penyelesaian:

Fungsi = bukan anti turunannya karena turunan adalah . Tetapi

hal ini menyarankan = , yang memenuhi ′ = = . Dengan

(23)

Anti turunan dinotasikan dengan ∫ … . Notasi tersebut menunjukkan anti

turunan terhadap . Anti turunan biasanya disebut integral tak tentu.

Integral Tentu

Perhatikan Gambar 2.1 berikut ini.

Gambar 2.1: Ilustrasi fungsi satu variabel

Untuk menghitung luasan dibawah kurva = pada interval [ , ], dapat

dihitung dengan cara aproksimasi yaitu dengan membagi interval [ , ] menjadi

subinterval. Subinterval tersebut memiliki panjang yang sama yaitu −

� untuk >

. Setelah membagi interval menjadi subinterval kemudian menghitung total

jumlah luasan dari masing persegi panjang yang dibentuk oleh

masing-masing subinterval tersebut. Hal ini diperoleh dengan memilih , , … , dengan

= , = �, dan

− − = −

(24)

untuk � = , , … , . Andaikan panjang masing-masing subinterval yaitu −

dinotasikan dengan

∆ = − − .

Luas daerah dibawah kurva diaproksimasikan dengan total luas daerah yang

dibentuk oleh masing-masing subinterval, aproksimasi luas di bawah kurva adalah

� + � + ⋯ + ��. Artinya total luas tersebut yang dapat ditulis

∆ + ∆ + ⋯ + � ∆ = ∑ ∆

=

yang disebut jumlahan Riemann fungsi pada interval [ , ], sebagai pendekatan

luas daerah di bawah kurva = dan diatas sumbu . Di sini, ∈ [ , ].

Semakin banyak subinterval yang digunakan, artinya ∆ → maka semakin

baik pula aproksimasi luasan tersebut dan semakin dekat dengan luasan yang

sebenarnya. Dengan demikian,

Luas daerah = lim∆ → ∑ ∆ .

Definisi 2.2

Andaikan fungsi yang terdefinisi pada [ , ]. Integral tentu dari sampai

dinotasikan ∫ , adalah

(25)

Aturan Leibniz

Teorema 2.1

Aturan Leibniz untuk satu variabel:

Jika adalah fungsi kontinu pada interval [ , ] dan jika dan adalah

fungsi yang dapat diturunkan terhadap yang nilainya terletak di interval [ , ],

maka

∫ = ( ) − ( )

Teorema 2.2

Aturan Leibniz untuk dua variabel:

Jika , adalah fungsi sedemikian sehingga turunan parsial dari terhadap

ada dan kontinu, maka

∫ , = ∫ � + , − , .

Bukti dapat dilihat pada buku karangan David. B dan George. C yang berjudul

Basic Partial Differential Equations.

B. Klasifikasi Persamaan Diferensial

Berikut ini dibahas tentang klasifikasi persamaan diferensial. Klasifikasi

(26)

diferensial, persamaan diferensial biasa, persamaan diferensial parsial, orde

persamaan diferensial dan kelinearan suatu persamaan diferensial.

Definisi 2.3

Persamaan diferensial adalah persamaan yang melibatkan variabel-variabel

tak bebas dan turunan-turunannya terhadap variabel-variabel bebas.

Contoh 2.2

Persamaan di bawah ini merupakan contoh persamaan diferensial:

+ ( ) = (2.1)

Persamaan diferensial biasa adalah persamaan diferensial yang melibatkan

turunan biasa beserta satu atau lebih variabel tak bebas terhadap satu variabel bebas.

Contoh 2.3

Persamaan (2.1) dan (2.2) adalah persamaan diferensial biasa. Pada

persamaan (2.1) variabel adalah suatu variabel bebas, dan variabel adalah

variabel tak bebas. Pada persamaan (2.2), variabel adalah variabel bebas, dengan

(27)

Definisi 2.5

Persamaan diferensial parsial adalah persamaan diferensial yang melibatkan

turunan parsial dari satu atau lebih variabel tak bebas terhadap lebih dari satu

variabel bebas.

Contoh 2.4

Persamaan (2.3) dan (2.4) adalah persamaan diferensial parsial. Pada

persamaan (2.3), variabel dan adalah variabel bebas dan adalah variabel tak

bebasnya. Pada persaman (2.4) terdapat tiga variabel bebas yaitu , , dan . Pada

persamaan (2.4) variabel tak bebasnya adalah .

Definisi 2.6

Orde dari persamaan diferensial adalah tingkat tertinggi dari turunan yang

terkandung dalam persamaan diferensial.

Contoh 2.5

Persamaan diferensial biasa (2.1) adalah persamaan diferensial orde kedua,

karena tingkat tertinggi dari turunan pada persamaan tersebut adalah dua.

Persamaan (2.2) adalah persamaan diferensial biasa orde keempat. Persamaan (2.3)

termasuk persamaan diferensial parsial orde pertama. Persamaan (2.4) merupakan

persamaan diferensial parsial orde kedua.

Definisi 2.7

Suatu persamaan diferensial biasa orde ke-

(28)

dikatakan linear jika merupakan suatu fungsi linear dari variabel

, ′, ′′, … ,; definisi yang sama juga berlaku untuk persamaan diferensial

parsial. Secara umum persamaan diferensial biasa linear orde dituliskan sebagai

+ �− + ⋯ +

� = (2.5)

dengan tidak sama dengan nol.

Contoh 2.6

Persamaan diferensial biasa berikut keduanya linear. Pada kedua persamaan

berikut, variabel adalah variabel tak bebas. Perhatikan bahwa dan

turunan-turunannya terjadi dengan pangkat satu saja dan tidak ada perkalian dari dan/ atau

turunan dari .

+ + = (2.6)

+ + = . (2.7)

Definisi 2.8

Suatu persamaan diferensial biasa yang tidak memiliki bentuk (2.5)

dinamakan persamaan diferensial biasa tak linear.

Contoh 2.7

Persamaan diferensial biasa berikut semuanya tak linear:

(29)

+ ( ) + = (2.9)

+ + = (2.10)

Persamaan (2.8) tak linear karena variabel tak bebas terdapat pada pangkat

kedua dalam bentuk . Persamaan (2.9) juga tak linear karena terdapat bentuk

� yang melibatkan pangkat tiga pada turunan pertama. Persamaan (2.10) tak

linear karena pada bentuk �

� melibatkan perkalian terhadap variabel tak bebas

dan turunan pertamanya.

C. Nilai Eigen dan Vektor Eigen

Berikut dibahas mengenai definisi dan contoh dari nilai eigen dan vektor

eigen.

Definisi 2.9

Jika � adalah matriks × , maka vektor tak nol � di ℝ� disebut vektor eigen

dari � jika �� merupakan perkalian skalar dengan � atau dapat ditulis

�� = ��

untuk suatu skalar �. Skalar � disebut nilai eigen dari � dan � disebut vektor eigen

yang bersesuaian dengan .

Contoh 2.8

(30)

� = [ − ]

yang bersesuaian dengan nilai eigen � = , karena

�� = [ − ] [ ] = [ ] = �.

Secara geometri, perkalian matriks � dengan vektor � memiliki kelipatan 3

terhadap vektor �. Ilustrasi secara geometri ditunjukkan dalam Gambar 2.2.

Gambar 2.2: Ilustrasi geometri vektor eigen.

D. Persamaan Diferensial Hiperbolik

Persamaan diferensial hiperbolik dapat digunakan untuk memodelkan banyak

fenomena yang melibatkan pergerakan gelombang. Perhatikan bentuk persamaan

diferensial berikut

, + � , = , (2.11)

Di sini = ��

(31)

Dalam kasus yang paling sederhana yaitu koefisien konstan dan linear. Dalam

hal ini ∶ ℝ × ℝ → ℝ� adalah vektor dengan komponen yang menyatakan fungsi

yang tidak diketahui (tekanan, kecepatan, dan sebagainya) yang ingin ditentukan,

dan � suatu konstan merupakan matriks real berukuran × n. Andaikan � = ̅

suatu konstan yang menyatakan kecepatan perambatan (aliran pada pipa satu

dimensi misalnya), maka persamaan (2.11) menjadi

, + ̅ , = , (2.12)

persamaan ini disebut persamaan adveksi.

Persamaan , + � , = adalah persamaan hiperbolik, jika

matriks � memiliki nilai eigen real dan berkorespondensi dengan vektor eigen

yang bebas linear. Artinya, semua vektor dalam ℝ� dapat secara tunggal diuraikan

sebagai kombinasi linear dari nilai-nilai eigen tersebut. Secara formal definisi

persamaan diferensial hiperbolik sebagai berikut.

Definisi 2.10

Suatu sistem linear dengan bentuk

+ � =

dikatakan hiperbolik jika matriks � yang berukuran × n dapat didiagonalkan

dengan nilai eigen real.

Secara khusus untuk persamaan adveksi, diketahui bahwa � = ̅, yang

merupakan suatu konstanta real. Jadi � dapat didiagonalkan oleh nilai � itu sendiri

dan nilai eigen dari � adalah � itu sendiri. Dengan demikian, persamaan adveksi

(32)

persamaan diferensial hiperbolik dapat ditemukan dalam buku karangan LeVeque

(2004).

E.Penurunan Numeris

Pada subbab ini dibahas mengenai penurunan numeris beserta contohnya dan

penjelasan mengenai tiga hampiran dalam menghitung turunan numerik yaitu

hampiran beda maju, hampiran beda mundur dan hampiran beda pusat.

Definisi 2.11

Suatu turunan fungsi didefinisikan dengan

= lim

∆ →

+ ∆ −

∆ .

Seringkali fungsi tidak diketahui secara eksplisit, tetapi hanya diketahui

beberapa titik data saja. Seringkali diketahui secara eksplisit tetapi karena

bentuknya yang sangat rumit sehingga untuk menentukan fungsi turunannya juga

sulit, misalnya pada fungsi-fungsi berikut ini:

a . =√cos + tan

sin + − cos ,

b . = + ln .

Perhitungan nilai turunan pada fungsi (a) dan (b) dapat dikerjakan secara numerik.

Nilai turunan yang diperoleh merupakan nilai hampiran dan diharapkan nilai

(33)

Tiga Hampiran dalam Menghitung Turunan Numerik

Turunan adalah limit dari hasil bagi pengurangan dua buah nilai yang besar

+ ∆ − dan membaginya dengan bilangan yang kecil ∆ . Misal

diberikan nilai-nilai di − ∆ , , dan + ∆ , serta nilai fungsi untuk

nilai-nilai tersebut. Titik-titik yang diperoleh adalah , , , , dan

, , yang dalam hal ini = − ∆ dan = + ∆ . Terdapat tiga

hampiran dalam menghitung nilai ′ :

1. Hampiran Beda Maju

Diketahui fungsi = . Akan ditunjukkan ′ dengan hampiran beda

2. Hampiran Beda Mundur

Diketahui fungsi = . Akan ditunjukkan ′ dengan hampiran beda

(34)

3. Hampiran Beda Pusat

Tafsiran geometri dari ketiga pendekatan di atas diperlihatkan pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3: Tiga pendekatan dalam perhitungan numeris; (a) Hampiran beda

maju, (b) Hampiran beda mundur, dan (c) Hampiran beda pusat.

(35)

Penurunan Rumus Turunan dengan Deret Taylor

ketiga pendekatan yang disebutkan di atas (maju, mundur, pusat).

1. Hampiran Beda Maju

Uraikan + di sekitar :

atau dapat ditulis

∆ ′= + − −∆ ′′− ⋯

kedua ruas dibagi dengan ∆ sehingga diperoleh

= + −

∆ −

′′

− ⋯

karena ∆ ′′− ⋯ merupakan bilangan yang sangat kecil dan tidak begitu

(36)

= + −

∆ + ∆

yang dalam hal ini, ∆ =∆ ′′ , < < + .

Untuk nilai-nilai di dan persamaan rumusnya menjadi:

=

∆ + ∆ .

Dalam hal ini ∆ =∆ ′′ , < < + menyatakan penurunan numeris

secara beda maju memiliki tingkat keakuratan tingkat satu atau ditulis ∆ .

2. Hampiran Beda Mundur

Uraikan di sekitar :

kedua ruas dibagi dengan ∆ sehingga diperoleh

= − −

∆ −

′′

+ ⋯

karena ∆ ′′− ⋯ merupakan bilangan yang sangat kecil dan tidak begitu

(37)

= − −

secara beda mundur memiliki tingkat keakuratan tingkat satu atau ditulis ∆ .

3. Hampiran Beda Pusat

Kurangkan persamaan (2.13) dengan persamaan (2.14) diperoleh:

+ − − = + ∆ ′+∆ ′′+ ⋯ − − ∆ ′+∆ ′′− ⋯

dengan menggunakan operasi penjumlahan dan pengurangan diperoleh

+ − − = ∆ ′+∆ ′′′+ ⋯

atau dapat ditulis

∆ ′= + − − −∆ ′′′− ⋯

Kedua ruas dibagi dengan ∆ sehingga diperoleh

= + − −

mempengaruhi nilai ′ sehingga dapat ditulis

= + − −

(38)

yang dalam hal ini, ∆ = −∆

numeris secara beda pusat yang memiliki tingkat keakuratan tingkat dua atau ditulis

∆ . Perhatikan bahwa hampiran beda pusat lebih baik daripada dua hampiran

sebelumnya, sebab orde galatnya adalah ∆ .

Menentukan Orde Galat

Pada penurunan rumus turunan numeris dengan deret Taylor, rumus galat

dalam penurunan rumus turunan numeris tersebut dapat langsung diperoleh. Tetapi

dengan polinom interpolasi harus dicari rumus galat tersebut dengan bantuan deret

Taylor.

Contoh 2.9

Tentukan rumus galat dan orde dari rumus turunan numeris hampiran beda pusat:

= − −

∆ +

Nyatakan (galat) sebagai ruas kiri persamaan, lalu ekspansi rusa kanan dengan

deret Taylor di sekitar :

= ′ − −

(39)

= ′

F. Karakteristik Persamaan Gelombang Air Dangkal

Dipandang persamaan gelombang air dangkal

ℎ + ℎ = (2.15)

ℎ + ℎ + ℎ = . (2.16)

Gabungan persamaan (2.15) dan (2.16) dalam suatu sistem persamaan gelombang

air dangkal yaitu

[ ℎℎ ] + [ℎ +ℎ ] = (2.17)

Jika diasumsikan ℎ dan halus (smooth), maka persamaan (2.16) dapat

(40)

untuk menggantikan bentuk ℎ . Kemudian dengan menghilangkan beberapa

bentuk, persamaan (2.16) menjadi

+ [ + ℎ] = . (2.18)

Pada persamaan (2.15) dan (2.18) memiliki bentuk yang bergantung dengan

konstanta . Bentuk tersebut dapat disubtitusi dengan variabel � = ℎ. Sehingga

sistem persamaan air dangkal menjadi

[�] + [ + � ] = (2.19)

Sistem persamaan tersebut ekuivalen dengan sistem persamaan (2.17) untuk solusi

yang halus. Namun ada catatan penting bahwa manipulasi yang dilakukan di atas

bergantung pada kehalusan pada masalah. Kedua sistem dari hukum konservasi

tidak ekuivalen dalam menghitung shock waves. Sistem yang tepat untuk digunakan

adalah sistem persamaan (2.17) yang berasal dari persamaan integral asli. Untuk

mempelajari shock waves digunakan persamaan (2.17) dan diambil

, = [ ℎℎ ] = [ ] , = [ℎ +ℎ ] = [ + ].

Untuk solusi halus (smooth), persamaan tersebut dapat ditulis secara ekuivalen

dalam bentuk quasilinear

+ ′ =

(41)

= [

+ ] = [− + ℎ ].

(2.20)

Nilai eigen dari ′ adalah

� = − √ ℎ, � = + √ ℎ (2.21)

Dengan vektor eigen

= [ − √ ℎ], = [ + √ ℎ]. (2.22)

Nilai eigen dan vektor eigen adalah fungsi untuk sistem nonlinear. Jika diinginkan

gelombang dengan amplitudo yang sangat kecil, maka persamaan (2.17) dapat

dilinearkan terlebih dahulu untuk mendapatkan sistem yang linear. Keterangan

lengkap tentang karakteristik persamaan air dangkal dapat ditemukan dalam buku

(42)

28

BAB III

METODE NUMERIS UNTUK PERSAMAAN GELOMBANG AIR DANGKAL

Dalam bab ini akan dijelaskan metode volume hingga, metode beda hingga

grid kolokasi dan metode beda hingga grid selang-seling. Metode tersebut

digunakan untuk menyelesaikan masalah bendungan air bobol, terkait dengan

persamaan gelombang air dangkal.

A. Solusi Eksak Persamaan Gelombang Air Dangkal

Galat perhitungan pada penurunan numeris diperoleh dengan mengurangkan

solusi numeris dengan solusi eksak. Berikut adalah solusi eksak yang akan

digunakan dalam perhitungan simulasi numeris pada MATLAB:

ℎ =

{

ℎ , jika − √ ℎ

ℎ = √ ℎ − , jika − √ ℎ < − √ ℎ

ℎ =ℎ √ + �̇ℎ − , jika − √ ℎ < < �̇

ℎ , jika �̇

(43)

=

dengan ℎ adalah kedalaman air pada titik dan adalah kecepatan air pada

titik . Notasi �̇ adalah konstanta kecepatan shock untuk > , yaitu

�̇ = √ ℎ + ℎ

Volume Methods for the One Dimensional Shallow Water Equations (2008).

B. Penurunan Persamaan Gelombang Air Dangkal Satu Dimensi

Persamaan gelombang air dangkal dideskripsikan dari gerak fluida. Ada dua

jenis gerak fluida yang dideskripsikan, yaitu Langrangian dan Eulerian. Deskripsi

Langrangian berpusat pada partikel individu, dan pergerakannya diamati sebagai

fungsi dari waktu. Posisi, kecepatan dan percepatan setiap partikel dinotasikan

dengan , , , , dan , , kemudian kuantitasnya misalnya massa,

momentum dan energi dapat dihitung. Pada kasus ini merupakan titik awal atau

penamaan partikel.

Deskripsi Eulerian merupakan sebuah alternatif yang dapat diikuti setiap

partikel fluida secara terpisah. Kemudian dilakukan pengamatan untuk kecepatan

(44)

Laju perubahan kecepatan ketika partikel melewati setiap titik dapat diamati dengan

� ,

� , dan perubahan kecepatan terhadap waktu pada setiap titik tertentu dapat

diamati oleh � ,

� . Dalam deskripsi Eulerian, sifat aliran (seperti kecepatan)

merupakan fungsi dari ruang dan waktu.

Persamaan air dangkal ini terdiri dari dua persamaan. Persamaan pertama

diturunkan dari hukum konservasi massa dan persamaan kedua diturunkan dari

hukum konservasi momentum. Berikut ini akan diuraikan penurunan persamaan

gelombang air dangkal atau biasa disebut Shallow Water Wave Equations.

a. Hukum Kekekalan Massa

Hukum kekekalan massa berarti massa tersebut tidak dapat diciptakan atau

dimusnahkan. Hal ini berarti massa total pada keseluruhan sistem sama setiap saat.

Terdapat beberapa asumsi yang terlibat dalam penurunan persamaan hukum

kekekalan massa. Pertama, aliran air diasumsikan tenang artinya tidak ada

gangguan dari luar dan kecepatannya diabaikan. Kedua, densitas � air pada setiap

titik adalah konstan sehingga air mampat. Selain itu diasumsikan bahwa tempat air

kedap atau tertutup rapat karena massa adalah kekal. Oleh karena itu, massa pada

setiap volume kontrol (yaitu volume tertentu atau kolam air yang diamati) hanya

dapat berubah ketika aliran melintasi batas-batas volume kontrol.

Secara umum, aliran air dapat diilustrasikan pada Gambar 1.1. Notasi yang

digunakan yaitu menyatakan variabel jarak sepanjang aliran air, menyatakan

variabel waktu, adalah topografi tanah, ℎ , adalah kedalaman air di titik

(45)

stage, dan , adalah kecepatan aliran air di titik dan pada waktu . Massa

total pada air di setiap volume kontrol [ , ] ditentukan oleh

= ∫ �ℎ , (3.1)

Pernyataan ini dapat diperoleh sebagai berikut. Kepadatan massa terhadap

kedalaman �̅ di sebarang titik , adalah �ℎ , yang dapat dihitung dengan

mengintegralkan � dari ke , , yaitu

�̅ , = ∫ , �

= �ℎ , .

Akibatnya, pengintegralan �ℎ , dari ke mengarah ke massa total di

volume kontrol seperti yang dinyatakan dalam (3.1). Tingkatan aliran air yang

melewati setiap titik , terhadap kedalaman air disebut flux massa , yaitu

= �̅ , , (3.2)

= �ℎ , ,

Dengan menggunakan (3.2) dan asumsi bahwa massa dapat berubah hanya karena

aliran yang melewati batas volume kontrol, dapat ditentukan bahwa

∫ �ℎ , + ∆ = ∫ �ℎ ,

+ ∫ +∆ �ℎ , , −∫+∆ �ℎ , ,

(3.3)

berlaku untuk setiap volume kontrol. Hal ini berarti bahwa massa pada setiap

(46)

yang masuk dan dikurangi dengan flux yang keluar dari volume kontrol selama

periode ∆ . Ilustrasi dari kontinuitas massa ditunjukkan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1: Aliran air yang masuk dan keluar dari volume kontrol.

Misalkan ∆ dan ∆ adalah kuantitas yang sangat kecil, yaitu ∆ = − .

Dengan menggunakan perluasan Taylor, persamaan (3.3) dapat ditulis

�ℎ , + ∆ ∆

= �ℎ , ∆ + �ℎ ( −∆ , ) ( −∆ , ) ∆

− �ℎ ( +∆ , ) ( +∆ , ) ∆ + ∆ + ∆ .

Dengan mengabaikan bentuk ∆ dan ∆ persamaan terakhir di atas

ekuivalen dengan

�ℎ , + ∆ − �ℎ ,

∆ = −

�ℎ | +∆ , − �ℎ | −∆ ,

(3.4)

Persamaan (3.4) dibagi dengan � kemudian ∆ dan ∆ diaproksimasikan menuju

nol sehingga persamaan (3.4) menjadi

ℎ + ℎ = . (3.5)

Persamaan (3.5) disebut persamaan hukum kekekalan massa.

(47)

b. Hukum Kekekalan Momentum

Hukum kedua Newton menyatakan bahwa perubahan momentum dari suatu

sistem sama dengan total gaya yang bekerja. Berdasarkan hukum Newton tersebut,

maka dapat ditulis

= .

Gaya didefinisikan sebagai laju perubahan momentum terhadap waktu .

Momentum total dari perpindahan air pada volume kontrol dari ke pada waktu

dinotasikan dengan , yaitu

= ∫ �ℎ , , (3.6)

Dengan mengasumsikan tekanan hidrostatik, gaya pada titik dan di atas

kedalaman air pada waktu adalah

= � ℎ ,

= − � ℎ ,

Dengan > adalah konstanta yang menyatakan percepatan gravitasi. Lebih

lanjut, gaya pada ∆ seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.2, yaitu

∆ = −� ℎ , ∆

Atau dapat ditulis dengan

(48)

Dan karena gaya melalui dasar volume kontrol maka

= ∫ −� ℎ , .

Oleh karena itu, gaya total di atas volume kontrol dinyatakan dengan yang

merupakan jumlahan dari , , dan , yaitu

= � ℎ , − � ℎ , − ∫ � ℎ , (3.7)

Turunan pertama dari terhadap adalah

= ∫ �ℎ , ,

Dengan menggunakan aturan Leibniz, turunan hasil integral pada persamaan

terakhir di atas dapat ditulis

= ∫ � �ℎ ,� , + �ℎ , ,

− �ℎ , ,

(3.8)

Menurut hukum kedua Newton tentang gerak, hasil dari persamaan (3.8) sama

(49)

∫ +∆ ∫ �ℎ + ∫ +∆ �ℎ , ,

− ∫ +∆ �ℎ , ,

= ∫ +∆ � ℎ , ∫+∆ � ℎ ,

− ∫ +∆ ∫ � ℎ ,

(3.9)

Dengan cara yang sama seperti (3.3), persamaan (3.9) dapat ditulis

ℎ + (ℎ + ℎ ) = − ℎ

Yang biasa disebut dengan persamaan kekekalan momentum.

Dengan demikian, persamaan gelombang air dangkal seringkali disebut

sistem Saint-Venant. Persamaan tersebut dapat ditulis sebagai dua persamaan

simultan

{ + (ℎ +ℎ + ℎ =ℎ ) = − ℎ

(3.10)

di sini variabel x menyatakan arah aliran air.

C. Masalah Bendungan Bobol

Diketahui persamaan gelombang air dangkal dengan topografi horizontal

+ = (3.11)

(50)

= [ ℎℎ] dan = [ ℎ + ℎ ]

dengan adalah variabel ruang, adalah variabel waktu, ℎ = ℎ , adalah

kedalaman air, = , adalah kecepatan air dan = , adalah percepatan

gravitasi. Semua kuantitas diasumsikan dalam satuan SI.

Akan disimulasikan solusi masalah bendungan bobol dengan metode volume

hingga Lax-Friedrics, metode beda hingga grid kolokasi dan metode beda hingga

grid selang-seling dengan menggunakan MATLAB (kondisi awal adalah "air yang

tenang" seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.2). Pada kasus ini dianggap

dinding bendungan ditarik ke atas secara instan.

Gambar 3.2: Bendungan air

Dinding bendungan air berada di titik = dan kedalaman awal air adalah

ℎ , = {ℎ , jika <ℎ , jika >

dan kecepatan awal aliran air adalah

Bendungan air Permukaan air

Permukaan air

ℎ =

(51)

, = , untuk semua .

Diambil domain ruang [− , ]. Simulasi pada program dihentikan pada = . .

Pada kasus ini diasumsikan massa jenis konstan, tidak ada turbulen dan fluida ideal.

D. Metode Volume Hingga Lax-Friedrichs

Pada bagian ini dibahas mengenai skema metode volume hingga, perhitungan

flux secara numeris dalam metode volume hingga dan solusi numeris metode

volume hingga Lax-Friedrichs.

1.1. Skema Metode Volume Hingga

Persamaan diferensial parsial hukum kekekalan yang bersifat hiperbolik

adalah

Misalkan domain pada ruang didiskretkan menjadi sebanyak berhingga kontrol

volume (interval) atau sel sebagai berikut:

dengan ∆ = − atau ∆ = + .

Domain waktu didiskretkan menjadi

= ∙ ∆

− +

(52)

dengan = , , , , …

Selanjutnya misalkan � adalah pendekatan dari rata-rata volume kuantitas ,

dalam interval ruang ke- � di waktu �, yaitu

adalah pendekatan dari rata-rata debit material (flux) ,

di titik + dalam interval waktu [ �, �+ ], yaitu

Dari hukum kekekalan, laju perubahan kuantitas (massa) dinyatakan oleh

∫ �+ , �

�−

= − [ ( + , ) − ( , ) ].

Dengan nilai-nilai pendekatan diperoleh

�+

Persamaan tersebut merupakan skema volume hingga untuk + = .

Skema metode volume hingga tersebut konsisten dengan skema metode beda

(53)

�+

1.2. Perhitungan Flux Secara Numeris dalam Metode Volume Hingga

Dipandang persamaan diferensial parsial berbentuk hukum kekekalan

+ = .

Misalkan � ≈ , � dan

+

= (

+ , �) .

Skema metode volume hingga untuk persamaan diferensial parsial di atas adalah

�+ =

Oleh karena itu, flux di titik pada waktu � juga diketahui, yaitu

≈ ( ,)

(54)

Metode Stabil dan Tidak Stabil

Metode numeris dikatakan stabil artinya bahwa galat yang muncul pada setiap

iterasi tidak membesar terlalu cepat pada iterasi-iterasi berikutnya. Jika galat yang

muncul pada suatu iterasi membesar menuju tak terhingga pada iterasi-iterasi

berikutnya maka metodenya disebut tidak stabil. Teori kestabilan tidak dibahas

lebih lanjut dalam skripsi ini. Teori kestabilan dapat dilihat dalam buku-buku

referensi misalnya LeVeque (1992, 2004).

Di setiap titik + , flux dapat dihitung menggunakan beberapa pendekatan.

1. Flux tak stabil

+

≈ [+

+

]

Sehingga skema metode volume hingga menjadi

�+ =

∆ � + �+ − �− − �

�+ =

∆ ( �+ − �− )

Namun, skema metode volume hingga ini tidak stabil.

2. Flux Lax-Friedrichs

Skema Lax-Friedrichs memodifikasi skema metode volume hingga tak stabil di

(55)

�+ =

Skema Lax-Friedrichs ini stabil untuk ∆ yang cukup kecil.

3. Flux Upwind

Metode upwind cocok untuk metode yang sudah diketahui arah rambatan

gelombangnya. Contoh jika akan diselesaikan persamaan diferensial parsial

+ =

dengan konstan positif (arah rambat gelombang ke kanan)

+

Dengan demikian skema upwind adalah

�+ =

Solusi Numeris Metode Volume Hingga Lax-Friedrichs

Masalah persamaan gelombang air dangkal dapat diselesaikan dengan

menggunakan metode volume hingga. Dipandang sistem persamaan air dangkal

(56)

ℎ + [ ℎ] = (3.12)

dan

[ ℎ] + [ ℎ + ℎ ] = . (3.13)

Persamaan (3.12) mempunyai skema metode volume hingga sebagai berikut:

�+ =

∆ +

− �

Dengan menggunakan flux Lax-Friedrichs diperoleh

+

=

dengan asumsi solusi dan kecepatannya positif. Jadi, jika diketahui persamaan

(3.12) maka dalam metode volume hingga diperoleh = ℎ dan = ℎ.

Sekarang dari persamaan (3.12) dicari flux

(57)

= �

+

∆ ℎ� − ℎ�− .

Persamaan (3.13) memiliki skema metode volume hingga sebagai berikut

�+ =

∆ +

− �

Dengan menggunakan flux Lax-Friedrichs diperoleh

+

=

dengan asumsi solusi dan kecepatannya positif. Jadi, jika diketahui persamaan

(3.13) maka dalam metode volume hingga diperoleh = ℎ dan

= ℎ + ℎ .

Sekarang dari persamaan (3.13) dicari flux

(58)

= [( �

+

) + (+ )]

− ∆ �ℎ� − �− ℎ�− .

Hasil simulasi penyelesaian model gelombang air dangkal dengan metode

volume hingga dengan menggunakan program MATLAB ditunjukkan dalam

Gambar 3.3. Pada hasil simulasi persamaan air dangkal, program simulasi berhenti

pada saat = . . Kedalaman awal air pada program ini adalah ℎ = ,ℎ = .

Gambar 3.3: Hasil simulasi penyelesaian model gelombang air dangkal

(59)

E. Metode Beda Hingga Grid Kolokasi

Metode beda hingga digunakan dalam masalah komputasi numerik. Metode

beda hingga dibagi menjadi tiga bagian, yaitu beda maju, beda mundur, dan beda

pusat.

Solusi Numeris Metode Beda Hingga Grid Kolokasi

Diketahui nilai awal kedalaman air ℎ = dan ℎ = , kecepatan air =

= , dan percepatan gravitasi = . .

Banyaknya langkah untuk ruang adalah dengan ∈ ℤ+ dan index � untuk

menunjukkan ruang yaitu � + . Langkah ukuran dilambangkan dengan

∆= − . Jadi, = + � − ∆, = dan �+ = , dan banyaknya

interval kecil adalah − simpul (node).

Begitu juga untuk waktu, jumlah langkah untuk waktu adalah dengan ∈

ℤ+. Untuk waktu, ∈ ℤ+: − < . Berikut akan dihitung persamaan

beda yaitu beda mundur untuk waktu dan beda pusat untuk ruang.

Beda mundur untuk variabel waktu

Dipandang persamaan (3.12) dan (3.13). Kedua persamaan tersebut ditulis

secara sistematis dan diasumsikan nilai ℎ , dan , pada waktu �−

kemudian dicari nilai pada waktu �.

� ℎ , ≈

ℎ , � − ℎ , �−

(60)

≈ ℎ�− ℎ �− .

dengan melakukan diskritisasi lengkap diperoleh

≈ ℎ�− �− �−

∆ + �−

ℎ�− ℎ�−

∆ .

Beda pusat untuk variabel ruang

Dipandang persamaan (3.12) dan (3.13). Kedua persamaan tersebut ditulis

secara sistematis dan diasumsikan nilai ℎ , dan , pada ruang

kemudian dicari nilai pada waktu .

(61)

dan untuk bentuk kedua

Jadi, persamaan beda dari (3.12) dan (3.13) menjadi

[

(62)

ℎ�− ℎ�−

dan konservasi momentum dalam bentuk diskrit

ℎ�− �− �− + �− ℎ�− ℎ �− + ℎ�− �− �+ − �−

+ �− ℎ�+ − �− + ℎ�− ℎ�+ − ℎ �− =

(3.17)

Persamaan (3.16) dikali dengan �− diperoleh

�− ℎ�− ℎ�−

Persamaan (3.17) dikurang (3.18) diperoleh

ℎ�− � − �−

Sehingga diperoleh dua persamaan

�− ℎ�− ℎ�−

Persamaan konservasi massa pada persamaan (3.19) dibagi dengan �− , diperoleh

(63)

Persamaan (3.20) dikali dengan ∆ ∆ diperoleh

Dengan menggunakan sifat distributif pada perkalian, persamaan (3.21) menjadi

∆ ℎ�− ∆ ℎ�− + ∆ �− ℎ�+ − ∆ �− ℎ�− + ∆ ℎ�− �+ − ∆ ℎ�− �−

=

∆ ℎ�− � − ∆ ℎ�− �− + ∆ ℎ�− �− �+ − ∆ ℎ�− �− �−

+ ∆ ℎ�− ℎ�+ − ∆ ℎ�− ℎ�− =

Sehingga persamaan (3.16) menjadi

(64)
(65)

∆ ℎ�+ ∆ �− + ∆ ℎ�− �− ∆ ℎ�− � = ∆ ℎ�− +

Jika diketahui syarat batas kecepatan awal , = , = , dan ketinggian

(66)

[

Dalam program MATLAB digunakan syarat batas untuk kedalaman awal air

(67)

metode beda hingga grid kolokasi dengan menggunakan program MATLAB

ditunjukkan dalam Gambar 3.4. Hasil simulasi program berhenti pada waktu

= . .

Gambar 3.4: Hasil simulasi penyelesaian model gelombang air dangkal

dengan metode beda hingga grid kolokasi.

F. Metode Beda Hingga Grid Selang-Seling

Sekarang persamaan air dangkal akan diselesaikan dengan metode beda

hingga grid selang-seling kemudian solusi numerisnya dibandingkan dengan

metode volume hingga dan metode beda hingga grid kolokasi yang sudah dilakukan

di atas.

(68)

[ ℎℎ ] + [ℎ +ℎ ] = .

Perhitungan domain < < �, > dengan grid selang-seling pada domain

ruang = , , … , , , + , … ,

�+ = �. Metode beda hingga

selang-seling adalah pendekatan dua persamaan (3.12) dan (3.13) pada grid berbeda. Pada

rumus selang-seling, nilai variabel ℎ dihitung pada grid bilangan bulat , � =

, … , dan dihitung pada grid pecahan + , � = , … , . Selanjutnya, hukum

kekekalan massa pada persamaan (3.12) dihitung dengan pendekatan pada grid

[ , + ] dan hukum kekekalan momentum pada persamaan (3.13) dihitung

dengan pendekatan pada grid [ , + ].

Solusi Numeris Metode Beda Hingga Grid Selang-Seling

Pendekatan konsisten terhadap ruang dari (3.12) dan (3.13) adalah

∆ℎ

Dengan menggunakan metode upwind orde satu, pendekatan nilai dari

ℎ̂+ = { ℎ , jika +

+ , jika + <

(3.39)

(69)

̂ = { − , jika

(3.36) dan (3.37) menjadi

ℎ�+ − ℎ�

Persamaan (3.41) dan (3.42) dihitung dengan menggunakan program MATLAB.

Hasil simulasi gelombang air dangkal dengan metode beda hingga grid

selang-seling ditunjukkan dalam Gambar 3.5. Pada simulasi penyelesaian persamaan

gelombang air dangkal berikut, program berhenti pada saat = . dengan

(70)

Gambar 3.5: Hasil simulasi model gelombang air dangkal dengan metode beda

(71)

57

BAB IV

PERBANDINGAN BEBERAPA METODE NUMERIS DALAM PENYELESAIAN MODEL GELOMBANG AIR DANGKAL

Pada bagian ini akan dibahas hasil-hasil simulasi numeris untuk tiga metode,

yaitu metode volume hingga, metode beda hingga grid kolokasi dan metode beda

hingga grid selang-seling.

Simulasi numeris untuk masing-masing metode dilakukan menggunakan

program MATLAB dengan konsidi awal ditunjukkan pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1: Bendungan air dengan kondisi awal adalah air yang tenang.

Kedalaman air di sebelah kiri bendungan adalah ℎ = dan di sebelah kanan bendungan adalah ℎ = .

Bendungan air Permukaan air

Permukaan air

ℎ =

(72)

Galat solusi perhitungan dan ℎ dihitung dengan menggunakan rumus

A. Metode Volume Hingga Lax-Friedrichs

Pada Bab III dibahas mengenai solusi numeris dari persamaan gelombang air

dangkal dengan metode volume hingga. Dalam Bab IV ini dibahas mengenai hasil

simulasi solusi numeris persamaan gelombang air dangkal dengan menggunakan

MATLAB. Simulasi ini dilakukan untuk beberapa nilai , yaitu 100, 200, 400, 800,

1600, dan 3200.

Berikut merupakan hasil simulasi numeris untuk persamaan gelombang air

dangkal menggunakan metode volume hingga Lax-Friedrichs. Grafik simulasi

(73)

Gambar 4.2: Grafik simulasi numeris dengan metode volume hingga

Lax-Friedrichs untuk = , = . detik, ∆ = . , dan ∆ = . ∆ .

Gambar 4.2 memberikan ilustrasi geometris mengenai simulasi yang telah

dilakukan. Terlihat pada gambar bahwa selisih solusi numeris dan eksaknya kecil.

Dengan kata lain, solusi numerisnya hampir mendekati solusi eksak. Simulasi ini

menggunakan nilai = , ∆ = . , dan ∆ = . ∆ . Simulasi berhenti

pada saat = . .

Tabel 4.1. Hasil simulasi numeris menggunakan metode volume hingga

Lax-Friedrichs pada = .

Galat pada

(74)

3200 0.0198 0.0166 Rata-rata

galat 0.1084 0.0877

Dari Tabel 4.1 tampak bahwa semakin kecil yang diambil, semakin besar

galat (error) yang dihasilkan. Ketika diambil nilai yang cukup besar maka galat

simulasi akan semakin kecil karena banyaknya partisi pada ruang di sumbu yang

semakin banyak dan mendekati solusi eksaknya. Artinya ketika besar solusi yang

diperoleh akan lebih akurat. Dapat dilihat juga pada grafik bahwa solusi eksak dan

numerisnya berhimpit. Namun pada ujung-ujung grafik, kedua grafik terlihat tidak

berhimpit. Artinya masih ada galat perhitungan pada penggunaan metode ini.

Ilustrasi galat secara geometris ditunjukkan pada Gambar 4.3.

(75)

Gambar 4.4: Grafik log galat kecepatan aliran air dan log galat kedalaman aliran air ℎ menggunakan metode volume hingga Lax-Friedrichs

Gambar 4.4 menunjukkan nilai log galat , ℎ , , ℎ , ∞ dan

ℎ ∞. Rumus galat tidak tepat digunakan sebagai alat untuk mengukur

keakuratan metode volume hingga Lax-Friedrichs untuk persamaan gelombang air

dangkal. Rumus galat ∞ tidak dapat menunjukkan bahwa semakin banyak titik,

komputasi errornya akan semakin kecil. Sedangkan rumus galat dan

merupakan rumus yang tepat untuk digunakan sebagai alat untuk mengukur

keakuratan metode ini untuk persamaan gelombang air dangkal karena dan

dapat menunjukkan bahwa semakin banyak titik, komputasi errornya akan semakin

(76)

Kelebihan dari metode ini adalah skema numeriknya sederhana dan

perhitungan komputasinya juga sangat mudah. Kekurangan metode ini adalah

ketika diambil ∆ cukup besar metode volume hingga Lax-Friedrichs tidak stabil.

B. Metode Beda Hingga Grid Kolokasi

Selanjutnya akan dipaparkan hasil simulasi numeris penyelesaian gelombang

air dangkal menggunakan metode beda hingga grid koloksi. Pada Bab III telah

dibahas solusi numeris untuk model gelombang air dangkal dengan metode beda

hingga grid kolokasi. Solusi numeris yang diperoleh disimulasikan dengan

menggunakan MATLAB. Kondisi awal yang digunakan adalah sama dengan pada

simulasi sebelumnya.

Grafik simulasi numeris ditunjukkan pada Gambar 4.5. Grafik yang

dihasilkan tidak mulus karena banyak getaran semu pada grafik. Simulasi ini

menggunakan nilai = , ∆ = . , dan ∆ = . ∆ . Simulasi berhenti

(77)

Gambar 4.5: Grafik simulasi numeris dengan metode beda hingga grid kolokasi

untuk = , = . detik, ∆ = . , dan ∆ = . .

Tampak pada gambar bahwa selisih solusi numeris dengan solusi eksak

sangat besar. Hal ini mengakibatkan solusi numeris yang dihasilkan tidak akurat.

Berikut merupakan hasil simulasi numeris untuk persamaan gelombang air dangkal

menggunakan metode beda hingga grid kolokasi.

Tabel 4.2. Hasil simulasi numeris metode beda hingga grid kolokasi pada = .

Galat pada

(78)

Rata-rata

galat 1.2113 0.9731

Dari Tabel 4.2 terlihat bahwa tidak ada perbedaan galat yang signifikan.

Misalnya pada = dan = , di mana galat yang dihasilkan hampir

sama. Nilai galat cukup besar yaitu berkisar 1.2 sedangkan nilai galat ℎ berkisar

0.9, hal ini tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ilustrasi galat secara geometris

ditunjukkan pada gambar 4.6.

(79)

Gambar 4.7: Grafik galat kecepatan aliran air dan kedalaman air ℎ menggunakan metode beda hingga gris kolokasi

Gambar 4.7 menunjukkan nilai log galat , ℎ , , ℎ , ∞ dan

ℎ ∞. Rumus galat , , dan tidak tepat digunakan sebagai alat untuk

mengukur keakuratan metode beda hingga grid kolokasi untuk persamaan

gelombang air dangkal. Rumus galat , , dan ∞ tidak dapat menunjukkan

bahwa semakin banyak titik, komputasi errornya akan semakin kecil.

Metode ini memiliki kelebihan yaitu ketika diambil ∆ cukup besar metode

ini tetap stabil. Adapun kekurangan dari metode ini yaitu memiliki skema

perhitungan numerik yang cukup rumit jika dibandingkan dengan skema eksplisit

metode volume hingga Lax-Friedrichs. Metode ini memiliki sifat stabil tanpa

syarat. Selain itu, kekurangan pada model ini adalah memiliki galat yang besar pada

perhitungan numeriknya karena hanya dipandang satu grid saja untuk menghitung

(80)

bukan pilihan yang tepat untuk menyelesaikan persamaan gelombang air dangkal

terkait dengan masalah bendungan bobol.

C. Metode Beda Hingga Grid Selang-Seling

Pada bagian sebelumnya telah dilihat hasil simulasi menggunakan metode

volume hingga dan metode beda hingga grid kolokasi. Pada metode beda hingga

grid kolokasi masih terdapat getaran semu dalam hasil grafik yang dapat dilihat

pada Gambar 4.8. Sehingga diperlukan model grid selang-seling untuk

memperbaiki model grid kolokasi agar tidak ada getaran semu dalam hasil simulasi

persamaan gelombang air dangkal. Hasil simulasi numeris menggunakan model

grid selang-seling ditunjukkan pada Gambar 4.8.

Gambar 4.8: Grafik simulasi numeris dengan metode beda hingga grid

(81)

Tampak pada Gambar 4.8 bahwa grafik kedalaman dan kecepatan aliran air

terlihat lebih halus dari simulasi-simulasi sebelumnya. Grafik solusi numeris

terlihat berhimpit dengan grafik solusi eksak. Namun pada ujung kiri grafik

kecepatan aliran air tampak tidak berhimpit. Artinya, galat yang dihasilkan sangat

kecil.

Dibandingkan dengan kedua metode yang sudah dibahas diatas, metode beda

hingga grid selang-seling memberikan hasil yang lebih akurat. Secara grafis terlihat

bahwa solusi numeris tampak berhimpit dengan solusi eksaknya. Dengan kata lain,

solusi numeris sudah sangat dekat dengan solusi eksaknya.

Sekarang akan dilihat hasil simulasi numeris menggunakan metode beda

hingga grid selang-seling.

Tabel 4.3. Hasil simulasi numeris menggunakan metode beda hingga grid

selang-seling pada = .

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa semakin besar nilai yang diambil, semakin

kecil galat yang dihasilkan. Galat yang dihasilkan dengan metode beda hingga

(82)

sebelumnya. Misalnya pada = diperoleh galat = . dan galat ℎ =

. . Kemudian diuji untuk nilai = diperoleh galat = . dan galat

ℎ = . . Artinya, galat pada = adalah setengah kalinya galat pada =

. Ilustrasi galat secara geometris ditunjukkan pada Gambar 4.9.

Gambar 4.9: Grafik galat kecepatan aliran air dan kedalaman air ℎ menggunakan metode beda hingga grid selang-seling

Galat yang dihasilkan pada metode beda hingga grid selang-seling lebih kecil

jika dibandingkan dengan metode beda volume hingga dan metode beda hingga

kolokasi. Metode beda hingga grid kolokasi memiliki galat yang lebih besar dari

(83)

Gambar 4.10: Grafik galat kecepatan aliran air dan kedalaman air ℎ menggunakan beda hingga grid selang-seling

Gambar 4.10 menunjukkan nilai log galat , ℎ , , ℎ , ∞ dan

ℎ ∞. Rumus galat tidak tepat digunakan sebagai alat untuk mengukur

keakuratan metode beda hingga grid selang-seling untuk persamaan gelombang air

dangkal. Rumus galat ∞ tidak dapat menunjukkan bahwa semakin banyak titik,

komputasi errornya akan semakin kecil.

Sedangkan rumus galat dan merupakan rumus yang tepat untuk

digunakan sebagai alat untuk mengukur keakuratan metode ini untuk persamaan

gelombang air dangkal karena dan dapat menunjukkan bahwa semakin

banyak titik, komputasi errornya akan semakin kecil.

Model grid selang-seling memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari

(84)

metode beda hingga grid kolokasi dan metode volume hingga Lax-Friedrichs.

Kekurangan metode ini yaitu skema untuk menyelesaikan persamaan lebih rumit

dibandingkan dengan skema grid kolokasi karena dalam perhitungan dipandang dua

grid untuk menghitung setiap variabel yang berbeda. Jadi, setiap variabel yang tidak

diketahui dihitung pada grid yang berbeda. Sehingga menghasilkan galat yang

kecil.

Dengan demikian, untuk menyelesaikan persamaan gelombang air dangkal

secara numeris terkait dengan masalah bendungan bobol, penulis menyarankan

penggunaan skema beda hingga grid selang-seling.

Hasil-hasil pada bab ini telah diseminarkan pada The 2016 International

Conference on Information Systems and Applied Mathematics (Mungkasi dan Ilga

(85)

71

BAB V

PENUTUP

Pada bab ini diberikan kesimpulan atas pembahasan bab-bab sebelumnya

serta saran untuk penelitian selanjutnya.

A. Kesimpulan

Telah dilihat bahwa untuk menyelesaikan model gelombang air dangkal

secara numeris dapat diselesaikan dengan berbagai metode numeris. Pada bab-bab

sebelumnya telah diuji beberapa metode yaitu metode volume hingga, metode beda

hingga grid kolokasi dan metode beda hingga grid selang-seling. Berdasarkan hasil

simulasi numeris didapatkan penyelesaian yang terbaik dan sesuai yang diharapkan.

Nilai rata-rata galat dari ketiga metode yang sudah dibahas pada Bab IV

adalah sebagai berikut

Metode Numeris Rata-rata galat Rata-rata galat ℎ Metode volume hingga

Lax-Friedrichs 0.1084 0.0877

Metode beda hingga grid

kolokasi 1.2113 0.9731

Metode beda hingga grid

selang-seling 0.0605 0.0448

Dari ketiga metode tersebut dapat dilihat bahwa metode beda hingga grid

selang-seling memiliki rata-rata galat dan ℎ yang paling kecil dibandingkan dengan

kedua metode lainnya. Metode beda hingga grid selang-seling adalah metode yang

terbaik berdasarkan hasil simulasi numeris yang dilakukan, apabila dibandingkan

(86)

Dengan demikian, untuk menyelesaikan model gelombang air dangkal

terkait dengan masalah bendungan bobol, penulis menyarankan untuk

menggunakan metode beda hingga grid selang-seling.

B. Saran

Penulis sadar bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan.

Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kelak akan ada yang melanjutkan penelitian

ini. Tulisan ini hanya membahas model gelombang air dangkal satu dimensi.

Penulis berharap kelak akan ada yang melanjutkan penelitian ini di ruang dimensi

yang lebih tinggi dan jika dimungkinkan menggunakan model yang lain yang

Gambar

Gambar 1.1: Gelombang air dangkal dan variabel-variabel terkait dalam persamaan gelombang air dangkal
Gambar 1.2: Bendungan air
Gambar 2.1: Ilustrasi fungsi satu variabel
Gambar 2.2: Ilustrasi geometri vektor eigen.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari solusi permasalahan terkait fenomena gelombang air dangkal serta gelombang elastisitas yang direpresentasikan dengan

Metode beda hing- ga dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah Sturm-Liouville dari persa- maan gelombang suara di bawah

Solusi numeris yang menggunakan metode beda hingga grid kolokasi dan metode beda hingga grid selang-seling menghasilkan solusi yang tidak stabil, sedangkan solusi numeris

Pada subbab sebelumnya telah diketahui hasil penyelesaian numerik dari persamaan gelombang dua dimensi dengan metode beda hingga skema eksplisit CTCS Central Time Central Space..

Simulasi syarat batas serap untuk persamaan air dangkal linier 2D yang didiskritisasi menggunakan metode Godunov dengan syarat awal berupa plane wave yang ampli- tudonya sama

Pada perairan yang sangat dangkal, kecepatan vertikal dalam air dapat diabaikan dan gelombangnya dinamakan sebagai gelombang panjang, profile dari gelombang dan penyebarannya dapat

Selanjutnya persamaan tersebut diselesaikan menggunakan metode beda hingga implisit forward-time centered space (FTCS). Dalam menyelesaikan masalah tersebut, digunakan kondisi

Dengan mensubstitusikan nilai awal diperoleh persamaan khusus dari persamaan gelombang yang disebut sebagai penyelesaian D’alembert yaitu:.. Kata Kunci : Metode